[FF Freelance] Unbreak My Heart (Ficlet)

Title                             : UNBREAK MY HEART

Author                                    : Anditia Nurul (@CHOJUNoe_MI)

Rating                         : PG-13

Length                                    : Ficlet / SongFic

Genre                          : Sad

Characters                  : (SHINee) Key & Jung Chaeyeon (OC)

Disclaimer                   : The story is inspirited by lyric of Ratu-Salahkah & Tony Braxton-Unbreak My Heart. Cerita ini hanya fiktif, jika ada kesamaan dengan cerita lain diluar sana, hal itu tidak disengaja. Typo(s) everywhere. OC is mine! FF ini juga pernah di-publish di blog pribadi author.

Summary                    : Key meminta putus pada yeojachingu-nya, Chaeyeon. *Intinya, begitu. Kalo mau tau lebih jelas, baca ja…heheh**digebuk*

@@@@@

-Jung Chaeyeon’s POV-

Kutepikan mobil yang kukemudikan di dekat jalan masuk menuju pantai. Begitu mobilku benar-benar berhenti, kualihkan pandanganku ke arah pantai. Aku mencoba menenangkan diriku yang sejak tadi dihinggapi rasa gugup.

Perasaan ini sama persis dengan yang aku rasakan saat pertama kali aku akan melakukan kencan pertama dengan namja itu, Key. Namun, disisi lain aku juga merasa akan ada hal yang sangat tidak mengenakkan yang akan menimpaku.

Sekitar sebulan terakhir, hubunganku dengan Key bisa dibilang tidak baik. Pertengkaran-pertengakaran kecil hampir selalu terjadi setiap kami bertemu. Puncak dari pertengkaran kecil kami itu adalah 2 hari yang lalu.

Hanya karena suatu alasan yang tidak penting, aku dan Key tetap mempertahankan sifat kami yang keras kepala dan egois. Sejak dua hari itu pula, aku tidak pernah mengabarinya, begitu juga dia. Tidak ada SMS, tidak ada telepon, tidak ada e-mail apalagi video call. Baru tadi pagi dia menghubungiku, memintaku untuk bertemu dengannya di pantai sore ini.

Kubuka pintu mobilku lalu keluar. Perlahan, kulangkahkan kakiku  menuju tepi pantai.

@@@@@

Aku berjalan menyusuri tepi pantai, mencari keberadaan namja itu. Suara gemuruh ombak dan burung-burung mengiringi langkahku. Warna jingga langit pun menemaniku. Dinginnya angin pantai di sore hari, membuatku merapatkan cardigan biru yang menutupi baju kaos biru yang membalut tubuhku di bagian atas.

Dari kejauhan, kulihat namja itu dari samping. Ia tengah duduk bersandar pada batang pohon sambil memandangi pantai. Semakin dekat jarakku dengannya, semakin terlihat jelas lekuk ketampanan wajah yang sampai saat ini membuatku tergila-gila. Belum lagi kemeja kotak-kotak hijau-hitam dengan jeans serta sneakers yang menutupi tubuhnya, sangat cocok dengan dirinya.

Menyadari keberadaanku, ia menoleh sekilas padaku lalu kembali memandang ke arah pantai. Aku benar-benar merasa ada sesuatu yang tidak beres. Sorot matanya saat memandangku tadi begitu dingin. Mimik wajahnya datar tanpa ekspresi sedikit pun. Bibir tipis yang selalu menyunggingkan senyum manis pun dibiarkan merapat begitu saja.

“Aku kira kau tidak akan datang…,” ucapnya seraya berdiri dari duduknya tanpa menoleh padaku—yang berdiri di dekatnya—sedikit pun. Ia lalu menepuk-nepuk bokongnya, membersihkan pasir-pasir yang melengket di celananya.

Mianhaeyo, Oppa. Aku terlambat…,” ucapku lembut.

Ia pun menolehkan kepalanya sehingga dengan jelas aku bisa melihat unsur-unsur wajahnya yang selalu hadir dalam benakku. Namun, saat aku menatap kedua jendela hatinya, ada hal yang menyakitkan yang tersirat dengan jelas disana.

Kutatap dua bola matamu

Tersirat apa yang kan terjadi

Kau ingin pergi dariku

Meninggalkan semua kenangan

Menutup lembaran cerita

Oh sayangku, aku tak mau…

“Apa yang ingin kau bicarakan, Oppa?” tanyaku memberanikan diri.

Detak jantungku semakin tidak karuan melihat mata bersudut tajam ,namun selalu memberi keteduhan setiap aku melihatnya. Keringat pun sedikit demi sedikit keluar dari pori-pori di telapak tanganku saat aku tidak mendapati lengkungan sabit dari bibirnya yang bisa membuat semua yeoja meleleh.

“Chaeyeon-ah, kau tau aku bukan tipe orang yang pandai berbasa-basi…,” ucapnya. Kini ia menghadap padaku. Aku mengangguk pelan.

“Aku… aku ingin hubungan kita berakhir sampai disini….”

Tubuhku bergetar mendengar kata-kata itu keluar dari mulutnya. Ada apa? Mengapa? Mengapa semuanya harus berakhir secepat ini? Aku tidak mengerti!

Kutau semua akan berakhir

Tapi ku tak rela lepaskanmu

Waeyo, Oppa? Apa karena pertengkaran kita?” tanyaku lirih. Ia memalingkan wajahnya ke arah pantai.

Ne. Aku rasa diantara kita sudah tidak ada kecocokan lagi,” jawabnya.

Mwo? Kenapa kau bicara seperti itu, Oppa? Apa kau sudah tidak mencintaiku, hm? Kita bisa memperbaiki hubungan kita…,” kataku. Ia menoleh sekilas padaku lalu memandang pantai lagi. Menandakan bahwa hal yang baru saja keluar dari mulutku adalah hal yang sia-sia.

Sirheo, Oppa! Aku tidak mau hubungan kita berakhir. Sirheoyo!!!” tambahku.

Wae? Apa alasanmu menolak permintaanku, hm!?”

Aku diam. Nada suaranya begitu tegas seolah-olah ia ingin hubungan ini benar-benar berakhir sampai disini. Tak peduli apapun yang akan aku katakan. Tak peduli bagaimana hancurnya hatiku mendengar permintaanya. Dia… dia hanya ingin lepas dariku.

Kau tanya mengapa aku tak ingin pergi darimu

Dan mulutku diam membisu

Kuraih wajahnya dan kutolehkan wajah itu ke arahku. Kubiarkan kedua matanya menelusup masuk ke dalam bola mataku. Berharap ia bisa membaca isi hatiku tanpa harus aku katakan. Berharap ia bisa mengerti dan mencabut permintaanya.

Salahkah bila diriku terlalu mencintaimu

Jangan tanyakan mengapa

Karena aku tak tahu

Aku pun tak ingin bila

Kau pergi tinggalkan aku

Masihkah ada hasratmu tuk mencintaiku lagi?

Tangannya meraih tanganku yang masih menempel di pipinya. Perlahan, ia menurunkan tanganku dari pipinya. Apa aku benar-benar sudah tidak punya kesempatan lagi, Oppa?

Mianhae… Ku harap kau bisa mengerti mengapa aku meminta ini darimu,” ujarnya datar.

Jeongmal, Oppa?”

Kubiarkan kedua mataku menatap matanya sekali lagi. Mencoba mencari jawaban dari pertanyaanku yang tak kunjung keluar dari mulutnya. Ayolah, Oppa. Katakan! Katakan aku harus bagaimana agar kau tetap bersamaku, Oppa! Katakan, Oppa!

Apakah yang harus aku lakukan?

Tuk menarik perhatianmu lagi

Walaupun harus mengiba agar kau tetap disini

Lihat aku, duhai sayangku

Ia menghembuskan nafasnya perlahan.

“Hubungan kita benar-benar harus berakhir disini. Mianhae…,” ucapnya lalu pergi meninggalkanku.

Kubalikkan badanku untuk melihat ia pergi. Aku benar-benar masih berharap ia berbalik ke arahku dan mengatakan bahwa semua ini hanyalah sandiwara. Aku mohon, Oppa. Berbaliklah! Tolong jangan menjauh dariku, Oppa. Jebal….

Take back that sad word good-bye
Bring back the joy to my life
Don’t leave me here with these tears
Come and kiss this pain away
I can’t forget the day you left
Time is so unkind
And life is so cruel without you here beside me

 

Air mata yang sejak tadi sengaja aku tahan, kini tumpah. Kedua kakiku bahkan tak sanggup lagi menopang tubuhku, sehingga aku jatuh terduduk di atas pasir pantai. Kutatap punggungnya yang semakin lama semakin menjauh dari pandanganku.

Kugigit bibir bagian bawahku untuk meredam suara tangisku, tapi percuma. Aku tidak bisa. Aku tidak kuat menahannya. Ini terlalu menyakitkan. Sakit sekali.

“ARRRGGGHHH!!!!”

Kubiarkan air mataku mengalir deras. Kubiarkan mulutku menggumamkan namanya. Hatiku benar-benar sakit. Dada ini begitu sesak. Semua anggota tubuhku melemah. Tidakkah ia sadar betapa berharga dirinya untukku? Tidak bisakah ia merasakan aku masih mencintainya? Sangat mencintainya. Tidak bisakah ia merasakan itu??

Kemana semua kata-kata cinta yang pernah keluar dari mulutnya itu? Kemana semua janji-janji manis yang sempat masuk ke dalam telingaku? Semudah itukah dia mengakhiri hubungan yang sudah terjalin sejak 2 tahun lalu ini, hm?!

-End Of Chaeyeon POV-

-Author’s POV-

Matahari perlahan mulai terbenam. Langit yang jingga kini mulai gelap. Tiupan angin pun semakin kencang, membuat kulit sedikit menggigil. Tapi yeoja itu masih di tempatnya. Hanya kedua tangannya yang bergerak, menyeka air mata yang mengalir di pipinya yang mulus.

Perlahan, ia mencoba berdiri. Ia berjalan gontai menuju mobilnya. Dibukanya pintu depan mobil berwarna putih itu, masuk lalu duduk di joknya. Ia sandarkan kepalanya di stir sehingga membuat rambut panjangnya yang kecoklatan terjuntai. Cairan bening itu pun kembali keluar dari kedua bola matanya.

Un-break my heart
Say you’ll love me again
Un-do this hurt you caused
When you walked out the door
And walked outta my life
Un-cry these tears
I cried so many nights
Un-break my heart, my heart

-THE END \(^.^)/-

2 thoughts on “[FF Freelance] Unbreak My Heart (Ficlet)

  1. kok ngegantung begini sih ceritanya,padahal aku suka bgt sama isi ceritanya,bagus bgt…..ditunggu lanjutannya atw squelnya ya,gomawo.

  2. thor padahal bisa ditambahain sesuatu, emmm yeoja itu kan lagi sedih bisa aja dia kecelakaan pas nyetir, udah gitu key liat dan nyesel /okeinigapenting/

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s