Leaving My Dream Part 6

Main Cast:

–         Jiyeon T-Ara As You

–         Mir Mblaq

–         Donghae Suju

–         Bora Sistar

Support Cast:

–         Joon Mblaq

–         Yesung Suju

–         Seungho Mblaq

–         Iu As Queen

||| Genre: Romantic, Friendship, And Amburadul . Lol ||| Length: Chapter ||| Rating: Pg–15 ||| Disclaimer: Oc Dan Alur Hak Cipta Ada Pada Diri Dan Otak Saya. Sekali Lagi Castnya Hanyalah Milik Tuhan Semata Author Hanya Meminjam Nama |||Author : Nasriani Halim (Choi Sangri ~ Park Mirin)||next : part7(end)||prev : chap 1chap2chap 3part4,part5

hai hai 😀 balik lagi nih 😀 setelah sekian lama *plak perasaan baru kemaren deh.

buat yang komen dan yang baca FF mimin terima kasih udah mau nyempetin komen trus baca juga 😀 maap nggak bisa bales sama seperti yg sebelum^^nya pengaruh internet yang super lemot. makasi aja deh pokoknya 😀

sekedar info ini 2 part yang terakhir. maaf kepanjangan 😀

Sontak saja queen yang sedang menelpon keheranan begitu juga dengan manajer yang berlari dari dapur.

“ada apa?”tanya manajer.

jiyeon hanya diam dengan airmata yang mengalir. Menajernya mendekati jiyeon begitu juga dengan queen tapi jiyeon malah masuk ke kamarnya dan menangis sekuat-kuatnya.

“ada apa lagi dengannya?”tanya queen.

“entahlah, sudah jangan ganggu dia”ucap manajer dan kembali kedapur untuk memasak.

“huh, dasar aneh”

Jiyeon menghempaskan tubuhnya ke kasur, menghela nafas panjang dengan penuh emosi menatap cincin yang dipakainya.

“kali ini wanita mana lagi? Mengapa kau selalu membuatku cemburu seperti ini?”teriak jiyeon.

Terdengar isak tangisnya dengan perasaan yang penuh dengan kekecewaan.

“pertama kau memeluk penari wanitamu saat konser, memeluk teman saat MC suatu acara bahkan kau memberinya bunga, lalu sekarang berciuman di dalam acara tv! Apa urat malumu sudah putus! Apa hatimu itu terbuat dari batu!apa tidak memeikirkan hati fansmu?lalu Apa kau tidak pernah berfikir bagaimana jika aku melihatmu? Bagaimana jika aku itu sedih! Ahhhh kau benar-benar menyebalkan!!! Aku benci padamu.. Dan ini cincin ini untuk apa aku masih memakai cincin bodoh ini? Untuk apa?”omel jiyeon di hadapan poster wajah mir yang terpajang di belakang pintunya sambil berusaha mengeluarkan cincin itu dari jari manisnya namun alhasil cincin itu tak mau keluar.

“ahhhhhh kenapa tidak mau lepas”keluhnya. Ia terduduk seperti orang yang terkena sakit jiwa menatapi poster mir dengan penuh amarah.

“ahhhhhhh…..”

jiyeon dengan kesal melemparkan vas bunga yang ada disebelahnya ke arah pintu yang secara otomatis queen dan manajer yang sedang menguping sontak menjauh dari pintu.

“omo, apa dia kerasukan setan?”ucap queen melantur.

“hush, sudah biarkan saja dulu dia. Dia butuh waktu”ucap manajernya bijak dan mengajak queen masuk ke dapur untuk makan bersama.

Karna masalah waktu itu telah mereda beberapa saat jiyeon dan queen masih saja memutuskan untuk vakum dulu dan kembali menata karier mereka yang sempat hancur karna gosip buruk yang menerpa jiyeon.

“oppa, apa kabar?”sapa jiyeon yang melihat donghae berjalan ke arahnya.

“lama tidak bertemu denganmu”

“apa oppa sedang sibuk?”

“ia , sedikit sibuk mempersiapkan tour the white. Soal gosip yang waktu itu maafkan oppa”

“oh, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Aku rasa dengan adanya berita omong kosong itu aku jadi banyak beristirahat belakangan ini”ucap jiyeon tersenyum.

“baguslah, apa kau ingin bertemu dengan oppa-oppa mu?”

“tentu saja, kebetulan aku sedang tidak sibuk hari ini”

saat memasuki ruang latihan mata jiyeon menyoroti tiap sudut seakan mencari sesuatu ya sesuatu yang ia rindukan ‘mir’ dimana dirimu ucapnya sejak tadi ia memasuki ruang pelatihan.

Saat istirahat yesung menghampiri jiyeon.

“jiyeon~ssi, apa kabar? Lama kita tak bertemu”sapa yesung yang duduk di sebelahnya.

“kalian benar-benar semakin sibuk”

“ia, oh iya . Aku akan debut loh”

“oh, benarka? Selamat oppa. Aku turut senang. Oia apa kau bisa menyanyikan sedikit untukku?”

“tentu aku akan menyanyikannya, kau tau ini lagu pertama yang kuciptakan”

yesung pun memulai memaikan piano dan mulai bernyanyi.

Queen yang baru datang tepuk tangan saat yesung selesai menyanyikan lagunya sedangkan jiyeon tampak menitihkan airmatanya.

“ahh, mengapa lagumu begitu sedih”protes jiyeon.

“kau menyukainya?”

“ini sangat bagus, aku sampai terharu mendengarnya”

satu persatu mereka menghibur jiyeon. Mereka seakan sangat mengerti apa yang di rasakan jiyeon saat itu.

Bahkan joon rela menyanyi dan menari lagu bubble pop demi menghibur jiyeon.

“karirmu akan segera kembali, jadi jangan khawatir”ucap seungho.

“bukankah kau pernah ku tinggalkan dan kau mengejarku juga?”ucap queen.

Jiyeon hanya mengangguk dan berterima kasih atas perhatian mereka.

Semua orang telah pulang untuk beristirahat namun jiyeon kembali masuk ke dalam ruangan latihan saat membuka pintu tampak sesosok wanita yang ia kenali sedang menangis memainkan sebuah lagu.

“eonni”ucap jiyeon pelan.

Bora langsung menghentikan permainan pianonya dan sontak menghapus airmatanya.

“oh, jiyeon”

“maaf jika aku menganggu. Aku akan segera pulang jadi teruskanlah”ucap jiyeon membalikkan badanya dan berjalan keluar.

“jiyeon-ssi boleh aku bertanya sesuatu”

“oh,, tentu saja.”

jiyeon duduk disamping bora dan yang mereka lakukan hanya diam. Namun beberapa saat bora pun memulai obrolan mereka.

“hmm, hubunganmu dengan donghae”

“oh, hubunganku dengannya tak lebih hanya hubungan antara adik dan kakak saja”ucap jiyeon memotong perkataan bora.

“eonni jangan salah paham tentang hubungan kami. Donghae oppa sangat menyanyangiku , meghawatirkanku, memperhatikanku itu hanya karna aku sangat mirip dengan adiknya yang telah lama meninggal beberapa tahun lalu”jelas jiyeon.

Bora hanya diam dan tampak penyesalan di wajahnya.

“eonni, di hanya menunggu eonni. Dan eonni tau saat malam aku mengantarnya ke hotel yang ia sebut hanya nama eonni. Dia sangat menyanyangi eonni. Oppa hanya sedikit gengsi untuk mengutarakannya”

“tentang mir, apa kau telah melupakannya?”

“oh, eonni juga mengetahuinya. Bukankah aku telah melanggar?mengapa eonni”

“jawab saja dulu”

“bagaimana bisa aku melupakan orang yang sangat aku sayangi”

“kau sangat menyanyanginya? Bukankah ia sudah meninggalkanmu?”tanya bora.

“ah, aku belum tau mengapa ia meninggalkan ku maka dari itu aku memutuskan untuk tetap bertahan saat ini”

“kau masih menunggunya?”

“ya, seperti donghae oppa menunggu eonni. Eonni jika ingin menangis menangislah bukankah tidak ada orang lain selain aku dan eonni disini? ”

bora hanya diam memaksa agar airmatanya tidak jatuh tapi akhirnya tangisnya pecah dalam diamnya.

“bukan hanya eonni yang suka menangis, aku juga sering sekali menangis. Aku rasa terkadang menangis bisa membuatku lupa sedikit dengan perasaan sakitku. Donghae oppa selalu mengejekku jika aku menangis dan selalu bilang kalau menangis bukanlah penyelesaian yang tepat, tapi haeoppa memang benar tangisan tidak menyelesaikan masalahmu tapi ku rasa dengan menangis dapat meringankan beban kita rasakan saat itu jadi eonni jika berpendapat sama denganku maka menangislah jika itu memang dapat menenangkan eonni”

bora memeluk jiyeon dan terus menangis begitu juga dengan jiyeon yang tak tahan jika tak meneteskan airmatanya.

“maafkan aku telah memisahkan kalian”ucap bora sambil menangis tersenduh-senduh.

Jiyeon hanya tetap menangis tanpa menghiraukan yang dikatakan bora.

Mei memandangi langit-langit kamarnya.

“apa yang ku lakukan tadi? Bukan kah seharusnya aku marah pada wanita menyebalkan itu?”ucapnya kesal.

“lalu untuk apa dia meminta maaf?oh ia untuk apa ya? Bukankah tadi dia bilang begitu? Okh”ucap jiyeon berputar-putar yang semakin membuatnya bingung.

“ahhh, apa ini namanya ikatan batin seorang wanita? Aku tadi sama sekali tidak merasa kesal sedikitpun dengan wanita itu, padahal kemarin aku bisa menangis berguling-guling karna si bodoh itu mencium bora eonni di acara TV. Ahh apa aku ini benar-benar sudah gila?”kata jiyeon mengacak-acak rambutnya menandakan ia bingung dengan dirinya sendiri.

“ada apa denganmu?”kata queen yang sontak membuat jiyeon yang kebingungan sontak terkejut.

“ahh bisa kah kau mengetuk pintu dulu”omel jiyeon melemparkan boneka yang ada di sebelahnya ke arah queen.

Queen melempar balik boneka itu ke arah jiyeon dan duduk di depan laptop jiyeon yang ada di meja.

Beberapa saat kemudian.

“apa kau sudah melihat ini?”tanya queen sambil menunjukkan sebuah situs di internet pada jiyeon.

“kami ingin *jiyeon* kembali”ucap jiyeon membaca yang tertera di blog tersebut.

“disini juga dituliskan *cepatlah menyusul queen kami menunggumu*. Itu berarti semua fansmu sangat berharap kau kembali ke panggung bersamaku lagi. Entah itu masih duet bersamaku atau kau juga akan solo lagi sepertiku”ucapnya memberi semangat pada jiyeon bahwa ia masih punya kesempatan untuk berkarir lagi seperti dulu.

Karena begitu banyak dukungan dari fans yang sangat mengharapkan jiyeon kembali, suatu acara TV pun mengundang jiyeon untuk hadir diacara tersebut, setelah penanyangan acara itu, stasiun TV itu mendapat rating yang cukup tinggi.

‘meski sudah ditinggalkan queen berapa kali, aku senang masih bisa berdiri dipanggung dan bernyanyi untuk fansku meskipun aku harus bernyanyi sendiri sekarang. Terima kasih untuk fansku yang selalu setia mendukungku’ ucap jiyeon saat bernyanyi dalam suatu acara.

Terdengar suara tepuk tangan”wah, adik oppa telah kembali lagi sekarang”ucap donghae yang hadir saat itu.

Jiyeon memeluk donghae

“ini juga berkatmu, terima kasih telah membuat situs dukungan itu untukku”ucap jiyeon.

“apa? Aku tidak pernah membuatnya untukmu”

“apa? Kau yakin itu bukan kau yang membuatnya?”

“bukan, sungguh”

“lalu? Siapa?”

“entahlah. Oia, apa kau sudah makan? Hari ini ku traktir makan ya?”ucap donghae sambil merangkul jiyeon.

Usai makan bersama jiyeon, donghae terburu-buru. Dan memutuskan meninggalkan jiyeon karna harus segera kebandara.

“pesawatnya sebentar lagi akan berangkat, maaf oppa tak bisa mengantarmu pulang. Karna oppa harus mengejar konser the white yang berlangsung besok jadi harap mengerti oppamu ini”

“ia, pergilah aku bisa pulang sendiri. Ucapkan salamku pada oppa-oppa the white katakan aku merindukan mereka dan semoga konsernya berjalan dengan sukses. Oppa terima kasih atas traktirannya”ucap jiyeon sambil memberi salam dan melambaikan tangannya ke arah donghae yang memasuki mobilnya.

Jiyeon berjalan langkah demi langkah, terasa udara malam begitu sangat dingin.  Jiyeon memasukkan tangannya ke dalam kantung jaketnya dan mengeluarkan ipodnya dan mendengarkan musik sambil berjalan menikmati malam di seoul saat itu sesekali menutupi wajahnya Dengan syal yang digunakannya jika ada seseorang melintas di sampingnya.

“andai bisa berjalan bersamamu”ucap jiyeon yang tiba-tiba melihat bayangan mir berdiri disebelahnya dan mengenggam tangannya.

Jiyeon berdiri sendiri menunggu lampu hijau bagi pejalan kaki karna jiyeon hendak menyebrangi jalan.

Lampu hijau jiyeon melangkahkan kakinya berjalan melintasi jalan seorang diri maklumlah saat itu sudah larut malam. Saat berada di tengah jalan terpancar cahaya yang amat terang semakin kencang mendekat ke arah jiyeon.

“ahhhhh”teriak jiyeon menutupi wajahnya dengan tangannya untuk menghindari silaunya cahanya.

Jiyeon terdampar bersimbah darah, hanya bayangan kabur yang terlihat yang semakin lama semakin terlihat tidak jelas dimata jiyeon. Dengan jelas jiyeon masih mendengar suara mobil itu menjauh dan semakin menjauh dari tempat jiyeon berada.

* esok harinya di thailand*

“jiyeon, di rumah sakit”ucap bora yang berdiri tepat dibelakang mir yang sedang duduk merias rambutnya.

“apa?”ucap mir dengan ekspresi datar.

“pergilah, dia pasti membutuhkanmu disampingnya”ucap bora meletakkan tiket di meja rias lalu pergi meninggalkan mir.

“5 menit lagi akan dimulai, bersiaplah”ucap seorang lelaki kepada mir yang berdiri didepan pintu.

Tanpa berpikir panjang lagi mir melepas mic yang telah dipasangnya dan meraih tiket yang ada di atas meja dan segera menuju bandara menuju seoul.

“mana mir?”tanya yesung yang telah bersiap di belakang panggung.

“ia menghilang, tetaplah naik, joon ambil part mir tampillah dengan maksimal”ucap donghae yang terlihat agak kesal dengan kelakuan mir saat ini tanpa tau bahwa jiyeon sedang di rumah sakit saat ini.

Jelas yang terjadi ialah kekecewaan banyak fans karna ketidakhadiran mir para promotor konser juga terlihat kecewa dan meminta ganti rugi atas kekacauan ini.

Usai konser selesai donghae dan member the white kembali ke hotel. Saat di perjalanan ke hotel. Donghae menghidupkan hpnya, karna tau donghae akan menghubungi mir bora pun mulai bicara.

“jiyeon, di rumah sakit sekarang”ucap bora dengan nada datar dan tetap melihat kedepan.

Donghae menatap tajam ke arah bora.

“apa?”ucap donghae.

“oh, benarkah?”ucap seungho, yesung dan joon bersamaan.

“jika kau ingin menelpon mir kurasa itu tidak perlu. Karna mir di rumah sakit sekarang bersama jiyeon”

“apa yang terjadi padanya?”tanya donghae dengan wajah panik.

“dia kecelakaan beberapa jam setelah kau meninggalkannya di restoran itu. Ia banyak kehilangan darah malam itu”

“apa maksudmu ? Bukankah itu dari semalam? Mengapa baru meberitahuku?”

“huh, aku takut kau panik sehingga tak berkonsentrasi pada pekerjaanmu. Sebelum berangkat ke sini tadi pagi aku sudah melihatnya ia akan baik-baik saja ia wanita yang kuat”ucap bora.

“tau apa kau tentang dia? jiyeon itu sangat lemah berbeda dengan yang kau lihat”ucap donghae semakin kesal pada bora itu membuat seungho, yesung dan joon hanya terdiam melihat donghae mengomel pada bora.

Di kamar hotel bora hanya menangis.

“sekhawatir itu kah kau pada jiyeon? Apa jika aku juga di rumah sakit kau juga akan mengkhawatirkanku?”

*flashback saat di depan kamar hotel.

“kau sangat mengkhawatirkannya?”tanya bora.

Langkah donghae terhenti ia menyadari bahwa saat itu bora pasti cemburu karna donghae sangat memperhatikan jiyeon.

“yah, aku sangat mengkhawatirkannya. Apa kau tau rasanya kehilangan seorang adik yang kau sayangi? Tidak kan? Karna mir masih ada di sampingmu sedangkan aku?  Jadi Aku tak ingin merasakan kehilangan lagi untuk kedua kalinya. Aku sangat menyayangi jiyeon.”

bora terdiam. Airmatanya jatuh membasahi pipinya seraya donghae semakin menjauh dari dirinya.

Esok harinya donghae berangkat ke seoul karna ia sangat mengkhawatirkan keadaan jiyeon.

“ah, apa kau tidak bosan sejak aku datang yang kau buat hanya tertidur saja”keluh mir yang duduk dihadapan jiyeon yang sedang terbaring koma.

Mir maraih tangan jiyeon da mengenggamnya. Saat memandangi tangan jiyeon mir tersadar sesuatu ia pun menghebuskan nafasnya.

“masih memakainya?”ucapnya sambil tersenyum tergambar saat itu ia sangat bahagia melihat cincin yang waktu itu diberikannya masih dikenakan oleh jiyeon.

“bangun lah apa kau tidak mau melihat cincin yang ku kenakan ini sama denganmu. Lihatlah”ucap mir sambil menunjukkan cincinnya kepada jiyeon yang masih belum sadarkan diri.

“jiyeon~a bangun la, apa kau mau membiarkanku di bilang orang gila karna bicara sendirian?”ucapnya lagi.

Donghae datang ke rumah sakit untuk melihat jiyeon. Wartawan telah memenuhi rumah sakit sejak di beritakan bahwa jiyeon kecelakaan malam kemarin. Sesampainya di ruangan jiyeon donghae melepas syal dan topi yang di kenakannya. Mir terbangun dari tidurnya.

“appa..”

“pulanglah beristirahat, aku akan menjaganya”

‘apa hubungan kalian sedekat itu? Apa kau telah melupakanku seutuhnya?’ucap mir menatap dalam ke arah donghae yang memegang jiyeon dengan wajah panik dan khawatirnya.

“aku tidak bisa pulang, aku akan menunggu diluar saja”ucap mir yang keluar dari kamar dengan wajah yang lesuh.

mir duduk diluar ruangan sambil merenungkan mengapa dulu ia sebodoh itu meninggalkan jiyeon.

“dia sangat percaya padaku, mengapa aku begitu bodohnya mempercayai kata orang. Mengapa aku tidak menanyakannya lebih dulu sebelumnya pada jiyeon?maafkan aku jiyeon maafkan aku. Sebagai orang yang mencintainya mengapa semudah itu rasa percayaku pada jiyeon luntur dengan mudahnya. Mengapa aku selalu saja menyakiti hatinya?mengapa?”

*flashback

bora meletakkan foto dimejanya.

“apa kau melepaskan impianmu dari kecil hanya karna seorang wanita yang bahkan menghianatimu?”

mir mengambil foto itu dan melihatnya dengan jelas foto itu saat jiyeon memeluk donghae.

“ini tidak mungkin. Jiyeon…”

“apa lagi? Apa kau tak mempercayai nunamu ini? Apa mempercayai orang lain yang baru kau kenal daripada nunamu sendiri?”

“yakh!nuna. Bukan seperti itu”ucap mir dengan mata yang berkaca-kaca.

“dia itu wanita penjilat. Ia haus akan popularitas! ia mendekati donghae karna akan segera debut dan akan meninggalkanmu begitu saja. Apa masuk akal ada orang yang mau mengorbankan impiannya demi kau? itu mustahil!”ucap bora tanpa rasa kasian meskipun ia tau bahwa mir sangat terluka atas ucapan nunanya saat itu.

“aku terlalu bodoh mau termakan oleh ucapan nunaku sendiri. Padahal aku sendiri tau bahwa ia sebenarnya hanya cemburu padamu karna appa begitu sangat menyayangimu. Aku bodoh jiyeon. Aku bodoh!”ucap mir sambil memukuli kepalanya sendiri dengan airmatanya yang menetes.

Esok harinya saat jiyeon mulai sadar dari tidurnya.

‘mengapa begitu gelap?’ucap jiyeon dalam hatinya.

mata jiyeon masih belum bisa melihat dengan jelas sekelilingnya tapi ia terus melihat kesemua sudut kamar berharap orang yang sangat ia harapkan ada disampingnya saat itu.

‘ahh, babo. Mana mungkin dia datang melihatku?bukankah dia masih diluar negeri saat ini?’ucapnya.

“oh, apa kau sudah sadar? Dokterrr”teriak donghae yang baru terbangun dari tidurnya.

Mir terbangun saat dokter berlarian kekamar jiyeon. Terlihat kepanikan di wajah mir saat itu.

“apa hakku untuk masuk?”ucapnya pada dirinya sendiri dan kembali duduk di depan ruangan jiyeon menunggu dokternya keluar dan segera bertanya.

Mir terlihat begitu panik ada apa dengan jiyeon apa dia baik-baik saja? Apa dia sudah sadar dari tidurnya? Apa ia mencariku saat ini? begitu banyak pertanyaan dikepala mir yang tak bisa ia jawab. Saat pintu kamar terbuka mir sontak bangkit dari tempat duduknya.

“dokter apa dia baik-baik saja?”

“ia, dia baik-baik saja. Ia bahkan sadar dengan cepat dari waktu yang kuperkirakan”

“apa ada luka serius?”

“awalnya aku kira kepalanya akan terganggu namun ternyata tidak. Ia akan baik-baik saja. Hanya saja kemarin ia hanya kekurangan darah itu saja”

“oh, baiklah kalau seperti itu. terima kasih”ucap mir memberi salam pada dokter.

Saat menyadari itu adalah mir para suster-suster dengan heboh memotret bahkan berteriak kegirangan saat mir tersenyum ke arah mereka.

mir berdiri di depan pintu kamar sambil melihat keadaan jiyeon dari luar kamarnya.

“syukurlah kau baik-baik saja. Aku tenang sekarang, jiyeon~a ku mohon berhentilah membuatku takut dan khawatir.”ucap mir.

usai itu mir berjalan pergi dari depan pintu kamar jiyeon dirawat.  Queen dan manajer jiyeon yang baru tiba dirumah sakit terlihat berlari-lari dan tergesah-gesah menuju kamar jiyeon setelah mendapat kabar bahwa jiyeon telah sadarkan diri.

“bukankah itu mir oppa”ucap queen yang langkahnya memasuki kamar jiyeon terhenti karna melihat sosok mir yang berjalan lesuh dari kejauhan.

Setiap hari mir akan menyempatkan waktunya untuk datang menjenguk jiyeon di rumah sakit.

“tau kau baik-baik saja itu sudah lebih dari cukup”ucap mir lalu pergi.

Personil the white telah kembali ke seoul, dan beberapa jam setelah mereka kembali mereka langsung menuju ke rumah sakit untuk menjenguk jiyeon.

Saat memasuki ruangan mata jiyeon terus saja memandangi pintu berharap mir akan masuk dari pintu itu tenyata hanya seungho, yesung dan juga joon.

Kesedihan di wajah jiyeon begitu tampak jelas terlihat bagaimana tidak orang yang dinanti-nantikannya tak kunjung juga datang menemuinya.

“segera sembuh, para fansmu pasti sudah tidak sabar menantikanmu kembali”ucap joon memberi semangat pada jiyeon.

“aku baik-baik saja. Besok aku juga pasti sudah bisa pulang”ucap jiyeon dengan menebar tawa khasnya.

“ahh, senangnya kembali ke rumah”ucap jiyeon membuang badannya ke kasur.

“kau itu seharusnya berhati-hati jika bepergian. Kau tau? Kau hampir membuatku jantungan saat tau kau ada di rumah sakit. Kalau ibumu tau kau masuk rumah sakit aku bisa mati kau tau!”omel queen.

“sudahlah jangan memberitaunya, maaf telah menghawatirkan kalian semua”

“untung saja bora eonni mau mendonorkan darahnya untukmu kalau tidak? Kami tidak tau harus bagaimana lagi? Darahku, manajer, asistenku, bahkan supir kita tak ada yang sama”

“bora eonni yang mendonorkannya? Benarkah? Kalau begitu aku harus mengucapkan terima kasih padanya”

“ahh, tentu saja. Tapi jangan sekarang, sekarang kau harus beristirahat sedangkan aku masih ada off air setelah ini jadi tetap lah di rumah jangan kemana-mana. setelah selesai aku pasti akan segera pulang”

jiyeon mengangguk. Dan queen pun keluar setelah meletakkan tas pakaian jiyeon.

“ahh, aku sangat merindukan kamarku ini”ucap jiyeon.

“yakh! Kau!”kata jiyeon menunjuk ke arah poster mir yang ada di balik kamarnya.

“kau benar-benar bukan manusia. Kau bahkan tidak mau menjengukku? Ssi~! Benar-benar ahhhhhh”teriak jiyeon melempari poster mir dengan bantal yang ada disampingnya.

“aduh”teriak menajer yang terkena lemparan bantal oleh jiyeon.

“maaf, aku..”

“sudahlah kau kali ini pasti mengamuk lagi dengan gambar bodoh itu”ucap manajer yang memaklumi kelakuan jiyeon.

“istirahatlah dengan baik seminggu lagi ada showcase yang akan di selenggarakan oleh pihak manajemen. Ini semua demi memenuhi permintaan fans-fansmu. Jadi banyak-banyak lah istirahat karna sebentar lagi kita akan kembali kerutinitas awal”

jiyeon mengangguk.

“oia, jangan selalu marah pada poster itu poster itu tidak bersalah. Jika ada yang harus kau katakan, katakan saja pada orangnya langsung jangan pada gambar bodoh seperti itu karna akan membuang tenagamu saja.”ucap manajernya.

Lagi-lagi jiyeon hanya mengangguk.

“oia, satulagi obatmu minumlah tepat waktu.aku akan menemani queen sekarang jadi beristirahatlah. Jika ada sesuatu segera menghubungiku. Aku akan segera kembali setelah mengantarkan queen”

“manajer?kapan kau akan pergi jika kau masih saja mengomeliku?”protes jiyeon.

“oh, baiklah aku akan berangkat sekarang”

“ya pergilah”ucap jiyeon malambaikan tangannya yang berarti ingin mengusir manajernya dengan segera karna ia belum puas berteriak-teriak di depan poster mir. Manajernya pergi jiyeon mulai beraksi lagi dengan ocehannya.

“benar kata manajer, meneriaki poster bodoh ini takkan mendapatkan hasil apa-apa sebaiknya aku menemuinya saja langsung. Ah benar! Huhh temui saja peduli apa? Terserah dia mau bilang apa? Aku harus mendapatkan kepastian segera”

tanpa mempedulikan kata-kata manajer dan queen yang melarangnya kemana-mana bahkan donghae pun sangat melarangnya tapi jiyeon tetap pergi.

Pertama jiyeon menuju rumah mir atau tepatnya tempat tinggal member The White.

“mana mir?”tanya jiyeon yang menyelinap masuk ke kamar joon.

Sontak joon terkejut karna ia tidak memakai baju hanya mengenakan handuk karna ingin mandi setelah latihan.

“heh, apa yang kau lakukan?”

“oppa, apa tau mir dimana?”tanya jiyeon dengan nada datar bagai tak terjadi apa-apa.

“yakh! Kamarnya disebelah bukan disini carilah di sebelah”

“oh, baiklah”ucap jiyeon lalu pergi.

“ahh, apa ada wanita seperti itu? Masuk kekamar lelaki tanpa mengetuk pintu. Dasar”

“oppa”kata jiyeon yang membuat joon jantungan.

“ada apa lagi?”

“terima kasih”ucap jiyeon dengan menebar senyum lebarnya.

“ahh, ia ia ia”ucap joon yang kesal karna di ganggu terus oleh jiyeon.

Jiyeon membuka kamar mir namun tak ada seorang pun didalamnya. Yang terlihat hanyalah kumpulan komik dimana-mana dikanan kiri depan belakang .

“persis toko buku”keluh jiyeon saat melihatnya.

Jiyeon masuk kedalam kamar mir berharap ada sesuatu yang membuatnya tidak sia-sia kabur dari rumah.

“semua isinya komik, apa ia tidak bosan?”

jiyeon duduk dimeja dekat dengan kasur mir dan terlihat foto mir dan bora berpelukan terpajang di atas meja.

“ahh, menyebalkan sekali. Mengapa memajangnya segala!apa ia mau pamer?”ucap jiyeon kesal dan menjatuhkan foto tersebut.

Ia menghidupkan komputer yang ada di depannya berharap ada sesuatu yang ia ketahui saat melihat-lihat isi komputer.

“ahh, ada passwordnya? Apa ya?”keluh jiyeon.

“apa tanggal lahirku?”ucapnya dengan pede.

“ah, ternyata bukan. Tanggal lahirnya”

“bukan juga. Lalu apa?oh apa nama bora eonni? Atau tanggal lahirnya”ucap jiyeon mulai mengetik.

“bukan juga, lalu apa?namaku?ah bukan juga”

jiyeon kesal dan akhirnya lebih memelih berhenti memikirkannya lagi.

“oh iya mungkin saja hari bebas waktu itu”

jiyeon mulai mengetikkannya dan menekan enter pada keyboard. Pintu terbuka, mir datang dan terkejut melihat jiyeon ada dikamarnya.

“oh, kau sudah pulang”ucapnya agak terkejut dengan kehadiran mir yang tiba-tiba.

Mir melihat ke arah komputer di belakang jiyeon. Passwordnya benar komputernya menyala tampak foto jiyeon yang ada di wallpapernya karna takut jiyeon membalikkan badan dengan sigap mir mencabut aliran listriknya.

“ada apa?”ucap mir dengan kasar.

“aku ingin bicara sesuatu”

“tentang apa?”Ucap mir sambil melepaskan sepatunya.

Jiyeon melirik ke belakang ternyata komputernya telah mati dan jiyeon belum sempat melihat isi didalamnya.

“bicara la sekarang saja”tambah mir.

‘ayolah jiyeon , mengapa sekarang kau malah seperti orang bisu?bicara cepat! Bukankah saat ini yang begitu kau nantikan?’omel jiyeon dalam hati.

Jiyeon menghembuskan nafas lalu mulai bicara.

“aku..”

“cepatlah bicara, aku ingin istirahat”kata mir dengan ketus memotong perkataan jiyeon.

Awalnya jiyeon ingin bertanya dengan baik-baik tapi karna mir hanya memotong perkataannya jiyeon pun jadi naik darah lalu berteriak-teriak seperti yang ia lakukan pada poster dibelakang pintu kamarnya.

“yakh! Apa kau ini masih bisa di sebut manusia? Apa hatimu itu terbuat dari batu hah?bagaimana bisa kau tak memberiku kesempatan bicara sedangkan aku telah memberikan waktu bertahun-tahun agar kau datang padaku dan menjelaskan semuanya. Bagaimana bisa aku yang hanya meminta waktumu sebentar saja kau tidak mau!”teriak jiyeon dengan nada yang bergetar.

Mata mir terbelalak melihat jiyeon yang sedang marah seperti beruang kelaparan dihadapannya.

“yakh!bukankah aku sudah memberi kesempatan untuk bicara? Makanya bicara saja. Jangan bertele-tele lagi”

jiyeon menghela nafas panjang.

“masih tidak mengerti juga? Baiklah. Aku pikir aku hanya membuang-buang waktu kesini”ucap jiyeon memalingkan wajahnya karna airmatanya telah menetes.

Jiyeon pun mengambil tasnya dan lekas pergi.

Seungho, joon, dan yesung yang menempelkan kuping mereka untuk menguping didepan pintu kamar mir sontak berhamburan terjatuh saat jiyeon membuka pintu. Jiyeon hanya diam lalu pergi.

“ahh, payah. Kali ini membuat wanita menangis lagi”ejek yesung.

Jiyeon berjalan sambil menangis karna kejadian tadi sangat menyakitinya.

“dia itu bodoh apa benar-benar bodoh?”keluh jiyeon.

Hp jiyeon berbunyi. Dengan kesal jiyeon mengangkatnya.

“yeoboseyo~”

“jiyeon, ini eonni”

“oh, bora eonni? Ada apa?”

“kau dimana sekarang? Apa kau ada dirumah? Aku ingin bicara sebentar.”

“ah, tidak. Aku sedang diluar sekarang”

“apa kau sibuk?”

“tidak, aku akan ke kantor eonni saja jadi tidak usah kerumah”

“oh, baiklah”

lalu menutup jiyeon menutup telponnya. Ia mengambil tisu di tasnya dan membersihkan matanya dan juga pipinya yang basah karna tangisannya lalu segera menuju ke kantor bora.

“kau sudah datang, tunggu lah disini sebentar. Aku kebawah dulu”

“oh baiklah”ucap jiyeon lalu duduk di sofa diruangan tersebut.

Jiyeon merasa menduduki sesuatu, ia pun berdiri dan mengambilnya yang ternyata sebuah dompet yang ia kenali.

“ini dompet mir, ini yang ku belikan waktu hari bebas”ucap jiyeon tersenyum. Senyumnya buyar ketika harus mengingat kejadian tadi. Ia pun melemparkan dompet mir ke sudut sofa.

Namun entah setan apa yang merasuknya sehingga ia mendekati dompet mir dan membukanya.

“ahh!menyebalkan!”ucap jiyeon saat melihat foto mir lagi dan bora di dompetnya.

ketika hendak akan meletakkannya kembali ia melihat ada foto lain dibelakang foto mir dan bora. Jiyeon pun memberanikan diri untuk membukanya.

‘meskipun bukan aku tapi setidaknya aku tau wanita macam apa yang ada di hatinya’ucapnya dalam hati.

Matanya terbelalak ia tak menyangkah dibalik foto mir dan bora ada fotonya.

“ah ini aku”

terdengar suara pintu terbuka jiyeon bergegas merapikan dompet itu agar tidak terlihat oleh bora namun yang terjadi bora datang lebih cepat dari yang diperkirakan.

“ku rasa ini punya mir tadi aku menemukannya terjatuh di sini”ucap jiyeon memberikan dompet mir pada bora.

“oh, ia itu mungkin miliknya karna sebelum kau kesini , ada dia disini”ucap bora.

“oh iya. Bisa kah kau mengantarkan dompetnya sekalian?”

“apa?oh baiklah”

‘aduuh, mengapa menyuruhku lagi! Aku benci jika bertemu dengan manusia berdarah dingin itu’omel jiyeon dalam hatinya.

“oia, kau sudah tau tentang rencanaku dan pihak agensi pusat?”

“ya? Yang showcase itu bukan?”

“apa manajer sudah bilang padamu?”

“sudah, sebelum ia pergi ia sudah membicarakannya denganku”

“baguslah, 3hari kedepan kau akan bersiap-siap jadi istirahatlah dengan baik. Apa luka dikepalamu itu sakit?”

“ah, tidak. besok mungkin perban ini sudah bisa dilepas”ucap jiyeon memegang kepalanya yang masih diperban.

“bagus kalau begitu. Tentang kostum, pangung, dan tiket aku sudah mengurusnya semua. Aku bukannya kejam padamu baru keluar dari rumah sakit aku sudah menyuruhmu bekerja. Ini sudah kurencanakan jauh sebelum kau masuk ke rumah sakit, bahkan aku sudah mengundurkan tanggalnya. Ini showcase istimewa untukmu, ini semua karna permintaan yang begitu banyak dari fans. Kami sampai mengganti gedung 3kali karna fans yang ingin datang itu sangat banyak”terang bora dengan panjang lebar.

“oh, baiklah. Aku akan berusaha menampilkan yang terbaik nanti”

“tentu saja”

“oia, eonni terima kasih waktu itu.”

“untuk apa?”

“telah mengantarkanku kerumah sakit dan  mendonorkan darahmu untukku, jika eonni tidak mendonorkannya aku pasti akan mati saat itu juga”

“ah, sudahlah itu bukan apa-apa buatku. Cepatlah sembuh hanya itu yang kuharapkan. Karnaa agensi pusat sangat mengandalkan dirimu saat ini”

“oh, tentu saja. Eonni boleh aku bertanya alasan eonni mendirikan website dukungan untukku?”

“apa?”

“eonni kan yang membuatnya?”

“oh, sudahlah itu hanya ku lakukan karna ingin menyelamatkan artis berbakat sepertimu”

jiyeon bingung harus bagaimana lagi mengungkapkan rasa terima kasihnya pada bora. Ia pun memutuskan memeluk bora untuk mengucapkan rasa terima kasihnya.

Seseorang mengetuk pintu.

“masuklah”ucap bora.

“oh, omma”ucap bora berlari memeluk sesosok wanita yang dikenali oleh jiyeon.

‘omma? Bukankah itu ibunya mir?’tanyanya dalam hati.

“annyeong haseyo, aku jiyeon-imnida”ucap jiyeon memberi salam.

“aku ibunya bora”

“apa?bora omma?”

“ne, dia ibuku”ucap bora.

‘ahh, apa mereka sudah menikah sekarang? Mengapa ibunya mir bisa jadi ibunya bora eonni juga?’ucap jiyeon dalam hatinya bingung.

“ah, dia memberikannya padamu ya”ucap ibu-ibu tersebut setelah melihat cincin yang dipakai jiyeon

“apa?”

“kau anak yang manis pantas saja ia memberikannya padamu”

“oh, terima kasih bi. Tapi apa maksud bibi?”

“maksudku cincin itu, itu bukankah mir yang memberikannya?”

“ahh, cincin ini ya? Ia ini pemberian mir pas syuting waktu itu.”

“kepalamu kenapa diperban?”

“oh ini, kemarin terjadi kecelakaan kecil bi, sebentar lagi pasti akan lekas sembuh”ucap jiyeon memegang kepalanya.

“oh, iya tadi ibu menelponnya tapi kenapa ia malah mematikan hpnya?makanya ibu memutuskan kesini saja”ucap ibu mir kepada bora.

“ah, dia mungkin sedang sibuk. Ibu disini saja dulu tinggallah beberapa hari sebelum kembali”

“tentu saja. Oh iya jiyeon jika kau tidak sibuk luangkanlah waktumu datang dan makan malam bersama kami”

“oh, tentu saja bi. Aku senang sekali bisa makan malam bersama bibi. Aku pasti meluangkan waktuku”

jiyeon keluar dari ruangan.

“ah bora eonni adalah kakaknya mir. Mengapa tidak pernah bilang padaku soal iya mempunyai kakak perempuan? Huh ia juga tidak menulis dalam agenda yang ada hanya tentang ibunya”keluh jiyeon sambil berjalan untuk pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah ia langsung di hujani pertanyaan dan omelan dari queen dan juga manajernya.

“yakh! Darimana saja kau? Kenapa berkeliaran? Kau itu seharusnya beristirahat saja dirumah”omel queen.

“aku ada urusan sebentar, bora eonni ingin bertemu jadi aku ketempatnya. Aku juga tadi ke rumah the White”

“ah, mengapa kesana tidak mengajakku?”protes queen.

“yakh!bagaimana mau mengajakmu jika kau masih syuting? dasar. Sudahlah aku ingin istirahat dulu”ucap jiyeon meninggalkan queen dan manajernya memasuki kamarnya.

Jiyeon memandangi poster mir yang lusuh penuh coretan dan terlihat sangat tidak layak lagi untuk dipajang itu dalam-dalam.

“lihat aku, jika tidak peduli padaku mengapa masih menyimpan fotoku didompetmu? Apa kau bisa menjelaskannya sekarang?”

“ah, bodoh. Lagi-lagi kau hanya diam kan? Dasar manusia berhati batu! Aku benci padammu!”

“kau yang bodoh!”ucap queen yang tiba-tiba membuka pintu.

“apa kau bilang”

“kau bodoh! Bodoh. Bagaimana bisa gambar seperti ini kau paksa untuk bicara, apa kau sudah sakit jiwa? Apa dia punya mulut untuk bicara?”omel queen.

“ia, dia punya mulut. Ini bukan kah ini mulut namanya?”ucap jiyeon menunjuk kearah mulut mir.

“ah, kau benar-benar sudah gila! Kalau membencinya seharusnya berhenti saja memikirkannya. Mengapa harus setiap hari berteriak bilang membencinya namun tak juga melupakannya”ucap queen penuh kesal.

“aku kesal padanya! Bagaimana bisa aku hampir mati di rumah sakit ia sama sekali tak datang. Aku tak mengharapkan ia datang karna aku tau dia pasti sibuk tapi setidaknya ia menelpon dan menanyakan apa kau baik-baik saja? Itu saja!bahkan aku menemuinya ia sama sekali tak menanyakan kenapa kepalaku diperban, ia malah bersikap dingin padaku dan mengusirku agar segera pergi. Bagaimana aku tidak kesal coba?”ucap jiyeon merengek pada queen.

“aku mengerti perasaan mu”ucap queen duduk dan memeluk jiyeon yang lagi-lagi menangis.

Queen teringat sesuatu.

“ahh, aku ingat. Waktu kau baru sadar aku melihat mir oppa waktu itu. Ia itu mir oppa aku yakin itu”

jiyeon melepaskan pelukan queen dan berhenti menangis mendengar ucapan queen barusan.

“benarkah? Dia datang?”

“iya, apa mungkin waktu di thailand dia kabur karna menghawatirkanmu?”

“kabur? Maksudmu ia tidak …”

“apa kau tidak tau? Bahwa saat konser akan dimulai mir menghilang dan malah kembali ke seoul?ahh berarti saat sebelum kau sadar oppa la yang menemanimu. Aku yakin itu”

“apa maksudmu! Hanya Donghae oppa yang menemaniku waktu itu, aku sama sekali tidak melihatnya”

“ah, mana bisa kau melihatnya kau kan tidak sadarkan diri saat itu”ucap queen memukul kepala jiyeon.

“ah, entahlah. Aku bingung dengan sikapnya yang plinplan padaku”

“besok undang jiyeon untuk datang”ucap ibu mir pada bora.

“tentu omma aku pasti mengundangnya”ucap bora sambil berjalan sambil merangkul ibunya.

“kuapakan lagi dompet ini”ucap jiyeon didepan jendela kamarnya.

“kukembalikan saja lah sekarang”

jiyeon mengambil hpnya dan membuka kontak yang ada di hapenya.

Menghela nafas panjang dan mulai menghubungi mir. Panggilan pertama di tolak oleh mir.

“ah, benar-benar manusia berhati batu! Mana bisa mematikan telpon begitu saja dasar!”

tak menyerah begitu saja jiyeon menelponnya lagi sampai ke 10 kalinya ia menelpon mir masih saja menolak telpon darinya. Karna merasa sangat kesal jiyeon pun mengambil tasnya dan pergi ke rumah mir.

“oh, kau datang lagi”ucap joon yang melihat jiyeon.

Karna rasa kesal sangat penuh di kepalanya saat itu ia tak menghiraukan ucapa joon sama sekali dan langsung naik ke atas tepatnya ke kamar mir. Jiyeon membuka pintunya tanpe mengetuk pintu terlebih dahulu. Mir yang sedang memakai celananya saat jiyeon membuka pintu panik karna malu di lihat oleh jiyeon.

“apa kau tidak punya sopan santun?”

“masih bertanya tentang sopan santun! Apa itu perlu! Bagaimana denganmu yang mematikan telpon setiap aku menelponmu! Apa itu juga disebut sopan begitu?”omel jiyeon sat itu

“ahh, sudah lah. Ini..”tambah jiyeon sambil mengeluarkan fotonya terlebih dahulu dari dompet mir lalu melemparkan dompet tersebut kelantai.

“apa yang kau ambil hah?”teriak mir saat melihat jiyeon mengambil sesuatu pada dompetnya.

“ini fotoku bukan? Karna ini fotoku aku berhak mengambilnya!”

“heh, itu milikku”teriak mir.

“terserah! Tapi ini di kertas ini adalah aku berarti ini milikku!”ucap jiyeon lalu pergi.

Lagi-lagi joon , yesung dan seungho hanya bisa mengeleng-gelengkan kepalanya melihat pertengkaran antara mir dan jiyeon.

Beberapa saat berlalu jiyeon kembali lagi dan membuat seungho , joon dan juga yesung heran.

“ini, ini milikmu kan? Aku kembalikan!”ucap jiyeon melemparkan cincin yang diberikan mir pada waktu itu.

Esok harinya jiyeon bangun dengan mata bengkak karna menangis semalaman.

Ia mengambil hpnya dan melihat ada pesan dari bora.

‘ibuku mau kau datang malam ini di rumahku. Jangan lupa ya. Kuharap kau bisa datang. Sampai jumpa’

tepat pukul 4 sore jiyeon bersiap-siap untuk pergi.

“aku akan keluar sebentar ibunya bora eonni mengajakku makan malam bersama jadi mungkin aku akan pulang malam hari”ucap jiyeon pada manajernya.

“apa aku harus mengantarkanmu?”

“ah, tidak usah. Aku bisa pergi sendiri”

sebelum pergi ke rumah bora jiyeon memutuskan untuk mampir ke toko bungan dan juga toko buah untuk membeli beberapa buah dan bunga yang akan ia bawa ke rumah bora. Setelah mendapatkan sekeranjang buah dan sebuket bunya jiyeon pun menuju ke rumah bora.

“annyeong haseyo”ucap jiyeon memberi salam saat bora membuka pintu.

“ah, kenapa begitu datang begitu cepat? Lalu mengapa membawa sebanyak ini?”

“ahh, ini bukan apa-apa. Aku pikir kalian pasti sibuk memasak karna di rumah tak ada kerjaan jadi kuputuskan untuk datang cepat siapa tau aku bisa membantu”terang jiyeon sambil berjalan masuk kedalam rumah.

“rumah eonni sangat bagus, pekarangannya juga sangat luas. Apa eonni hanya tinggal sendiri disini?”tanya jiyeon.

“ia, karna mir tidak mau tinggal bersama eonni jadi terpaksa eonni harus tinggal sendiri”

“oh, benarkah?”

“siapa yang datang?”teriak ibu bora yang berada didapur.

“oh, annyeong haseyo”ucap jiyeon memberi salam.

“rupanya kau sudah datang”

“ia bi. Boleh aku membantu bibi?”

“oh tentu saja jika kau menginginkannya”

jiyeon pun memakai celemek dan mulai memasak membantu bora dan juga ibunya.

“kau sangat pandai memasak”puji ibu bora.

“ahh, bibi. Aku hanya membantu saja. Sebenarnya kau tidak begitu pandai dalam hal memasak. Ibuku saja sering mengomeliku karna kemampuan memasakku itu sangat payah”ucap jiyeon sambil tertawa.

Terdengar Seseorang yang sedang berlari menuju dapur.

“ommaaa”teriak orang tersebut yang suaranya terdengar tidak asing bagi jiyeon.

Ternyata mir, mir berlari ke arah ibunya dan langsung memeluknya.

‘ah, mengapa manusia berhati batu ini datang lagi?’ucap jiyeon dalam hatinya sambil melap piring yang dicuci oleh bora.

Mir menatap dingin ke arah jiyeon yang menunduk saat merasa Mir melihat kearahnya.

Makan malam dimulai jiyeon duduk tepat didepan mir dan itu membuat mood jiyeon sempat drop.

Dengan sigap jiyeon mengambilkan nasi untuk semuanya pada malam itu.

“oh iya, cincinmu mengapa tidak memakainya?”tanya ibu mir yang membuat mir otomatis melihat kearah jiyeon.

“ah, itu. Aku menyimpannya bi. Sayang jika dipakai terus, aku takut nanti akan rusak”ucap jiyeon dengan tersenyum bodoh sambil sesekali melirik ke arah mir dan berharap mir akan melihat juga ke arahnya.

Karna merasa canggung dengan kehadirannya jiyeon memutuskan untuk pulang setelah makan malam selesai.

“bi, aku akan pamitan dulu. Sekarang sudah terlalu malam.”

“ah, kau sudah mau pulang ya?pdahal bibi berharap kau bisa menginap hari ini. Ya sudah yongyong antarkan jiyeon pulang”

“ahh tidak usah bi. Aku bisa pulang sendiri”

“ini sudah malam, kalau terjadi apa-apa padamu bibi juga yang menyesal nantinya jadi biar diantar saja ya”bujuk ibunya mir yang masih khawatir setelah tau jiyeon kemarin kecelakaan karna pulang sendirian.

“tidak usah bi. Aku bisa pulang sendiri.”

“sudahlah berhenti membantah, ayo aku akan mengantarkanmu pulang”ucap mir yang langsung berdiri dan mengambil tas jiyeon dan menarik jiyeon keluar.

“terima kasih bi, atas makan malamnya. Bora eonni, aku pamit dulu. Senang bertemu dengan bibi”ucap jiyeon yang berpamitan di depan pintu sementara mir sudah sibuk membunyikan klakson menyuruh jiyeon segera masuk.

“apa tidak bisa menunggu sebentar?”omel jiyeon saat masuk kemobil dan memasang sabuk pengamannya.

Jiyeon hanya diam saat perjalanan. Melihat ke arah mir pun tak pernah sedangkan mir sering curi-curi pandang berharap jiyeon akan memecahkan keheningan namun sejauh mata memandang itu takkan terjadi, jiyeon hanya melihat kearah samping saat perjalanan. Rasa kesal itu jelas masih tergambar di wajah jiyeon saat itu. Saat sampai didepan rumah jiyeon, jiyeon turun dari mobil tanpa berbicara sedikit pun dan pergi begitu saja meninggalkan mir.

“mengucapkan terima kasih saja tidak!”keluh mir ke arah jiyeon yang semakin menjauh dari mobilnya.

“apa dia masih marah ya? Seharusnya aku meminta maaf tadi kenapa ini terasa semakin sulit. Aku semakin berbuat banyak kesalahan”ucap mir yang menyadari kesalahnya terhadap jiyeon saat meninggalkan rumah jiyeon.

Queen yang melihatnya di jendela pulang dengan mir dengan semangat 45 menunggu jiyeon didepan pintu.

“yakh! Apa kau berkencan dengan oppa?”

“apa maksudmu? Dia hanya mengantarku pulang itu saja. Berbicara saja tidak!”

“lalu? Bagaimana bisa pulang bersama? Ayolah jujur saja kalian habis,….”

“huh, sudah ku bilangkan! Dia hanya mengantarku pulang. Tadi aku makan malam dirumah kakaknya bersama ibunya.”potong jiyeon

“ah benarkah? Dengan ibunya oppa begitu? Oh, bukankah kau bilang mau makan di rumah bora eonni?mengapa nyasar dirumah mir oppa?”

jiyeon menghela nafas panjang karna pertanyaan queen begitu berputar-putar, ia pun berjalan memasaki kamarnya dan duduk di kasurnya.

“yakh! Kenapa hanya diam? Jawab pertanyaanku”keluh queen.

“bora eonni itu kakaknya mir”

“apa?benarkah”

jiyeon mengangguk lesuh.

“mengapa aku baru tau sekarang?”

“jangankan kau aku saja baru mengetahuinya kemarin saat berkunjung ke kantornya bora eonni”

“pantas saja sikap arogan oppa sangat mirip dengan bora eonni”

“kau benar”

“lalu? Apa kalian…”

“itu mustahil! Bahkan menatapku saja tidak pernah!sudah lah aku lelah, aku ingin tidur”

“kau? Atau hatimu?”ejek queen lalu keluar dari kamar jiyeon.

Jiyeon hanya memandangi langit-langit kamarnya dengan sesekali menghembuskan nafasnya dengan sedikit rasa kesal.

Ia mengambil hpnya dan memandangi wallpaper hpnya.

“aku bingung, benar-benar bingung. Mengapa begitu sesulit ini ?”ucap jiyeon.

Jiyeon membuka kontak hpnya dan mengubungi seseorang.

“yeoboseyo~”

“oppa, apa oppa sibuk?”

“tidak, ada apa jiyeon?”

“bisakah nyanyikan sebuah lagu untukku?”

“apa?”

“satu saja oppa, aku ingin mendengar oppa bernyanyi”

“ah, baiklah”

orang itu yang tak lain adalah donghae pun mulai bernyanyi untuk jiyeon. Mendengar suara donghae bernyanyi untuknya jiyeon tertidur begitu saja.

“jiyeon~a, apa kau baik-baik saja. Jiyeon jiyeon~a”panggil donghae.

Jiyeon tertidur sangat lelap dengan pipi yang basah akibat menitihkan airmata.

“kau pasti telah tertidur, selamat tidur jiyeon~a semoga bermimpi indah”ucap donghae lalu menutup telponnya.

saja. Aku pikir kami akan sibuk belakangan ini tapi yang terjadi malah kami tak ada kegian sama sekali

4 thoughts on “Leaving My Dream Part 6

  1. Donghae sayang bgt sih ma jiyeon…
    Mir n jiyeon itu gengsi bgt ya..tapi seru juga sih ngeliat mereka berantem 😀

    Udah mau tamat ya thor??? Huaaaaaa…
    Masih pengen baca FF jiyeon…

    Nanti buatin FF jiyeon lagi ya thor..

    😀

  2. donghae aja ddeh yg jadi pacar jiyeon kenapa?
    Mir cueeek abis, coba jujur aja sama perasaannya kan selesai masalah? Hadeeeeeh jiyeon udh rela2 nyamperin mir smpe masuk kekamar joon haduuh kurang apa coba pengorbanan jiyeon untuk kau mir?? Ha??? Lanjutannya ditunggu

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s