[FF Freelance] Chain-Termine (Part 1)

CHAIN-TERMINE

(Tanpa Kuletakkan Peduli dalam Hidupku, untukmu Janjiku Kuucapkan)

.

.

|| Author : sacchiko ||

|| Main Cast : Lee Jinki (SHINee) || Support Casts : Han Seungyeon (KARA), Lilith Yang (OC), Nam Woohyun (INFINITE), Heo Sanmi (OC), Cho Jayoung (DalShabet), Others(mentioned name only) || AU, Drama, Hurt/Comfort || Twoshot || PG-15 ||

Disclaimer      : Casts belong to God, but the story is purely mine. Terinspirasi dari kata ‘konfabulasi’ dan kisah Odysseus-Penelope. FF ini pernah di-publish diIFK.

.

.

first piece

.

.

Jika dihitung, maka sudah lebih dari enam ratus malam jiwa gadis itu berkelana meninggalkan raganya yang kian renta. Rona hitam di bawah sepasang matanya menorehkan kontras yang amat jelas pada kulitnya yang kian pucat. Rambutnya—mahkota yang dulunya terurai indah bak sutera, kini hanya tinggal sebahu karena ia memotongnya paksa sekitar seratus hari lalu—sedikit acak-acakan. Mereka yang memandangnya sekian detik mungkin bilang ia gila, tapi tidak bagiku. Ia hanya kehilangan jiwanya yang berkelana karena diguncang drama.

Namanya Seungyeon. Han Seungyeon. Tahun ini usianya dua puluh empat tahun dan ia sendirian. Sekitar tujuh ratus malam lalu, kekasihnya—yang saat itu dalam kegiatan training sebuah agensi—meninggalkannya dengan alasan debut. Nyatanya lelaki itu menikah dengan putri seorang wali kota yang tengah mengandung anaknya. Beberapa bulan kemudian, Han Seunghoon, kakaknya, dijatuhi hukuman mati karena pembunuhan terhadap lelaki itu. Sejak saat itu, Han Seungyeon yang sudah sebelas tahun kukenal cantik dan anggun menjadi gadis setengah patung.

Ketika mentari hendak kembali ke peraduan, ia pasti memintaku mengantarnya ke bukit—tempat di mana mantan kekasihnya berjanji akan kembali padanya suatu saat nanti, yang buatku hanya bualan belaka. Ia tak akan mengatakan sepatah kata pun kecuali duduk dengan pandangan kosong yang lurus ke depan, seolah menanti sosok itu datang dan menyongsongnya dengan pelukan hangat. Ketika gurat jingga kemerahan mulai hilang ditindas warna-warna gelap, barulah ia mengeluarkan seuntai kalimat. Kalimat yang sama, yang membuat hatiku semakin tersayat, yang memaksaku untuk menangis menunjukkan sisi tegarku yang kian lama kian tergerogoti…

Oppa, apa Kangwoon tidak datang hari ini?” Kalimat itu bahkan tak lebih dari susunan tiga puluh tiga huruf, namun mampu menyulut emosiku.

Dan aku, sebagai pengimbang pertanyaan yang sama, hanya dapat memberikan jawaban yang sama, “Ia tidak akan datang, Seungyeon-ah. Ia sudah pergi. Dan aku… aku Jinki, Lee Jinki yang selalu kau paksa menggendongmu di punggung selama bertahun-tahun. Aku bukan oppa-mu, Han Seunghoon.”

Ia tertawa, menyedihkan dan memaksa.

“Jangan bercanda, Oppa. Aku sudah merelakan dia. Jinki pasti tenang di alam sana.”

Apa yang dapat kuberikan selain senyum pahit? Jika ia masih bisa tersenyum—walaupun tersirat kesedihan dan rasa pahit di dalamnya—apa pun akan kulakukan, meskipun itu dengan membiarkannya menganggapku sebagai kakaknya yang telah meninggal, menganggap kekasihnya masih hidup, dan menganggap diriku sendiri telah meninggal.

Potongan dialog berlatar bukit itu bahkan seperti gulungan film dengan adegan yang sama, yang diputar tiap senja di hidupku sejak lebih dari enam ratus malam lalu.

“Mungkin besok Kangwoon baru datang. Hari sudah malam, ayo kita pulang.” Dulu begitulah aku menjawab pertanyaannya. Namun aku sadar, semakin aku mengikuti skenario dalam pikirannya, semakin lama pula waktu yang dibutuhkannya untuk kembali menjadi Seungyeon yang dulu.

Bukannya aku berharap ia melupakan kekasihnya dan berpaling kepadaku—mungkin memang ada bagian diriku yang menginginkannya, lebih dari itu, Seungyeon yang hidup adalah yang paling kuinginkan saat ini.

Kalian benar, aku mencintainya. Aku mencintainya selama delapan tahun dari kurun waktu sebelas tahun aku mengenalnya. Aku mencintainya selama delapan tahun tanpa pernah mengungkapkannya. Aku mencintainya selama delapan tahun dan ketika ingin kuungkapkan, gadis pujaanku telah kehilangan jiwanya. Aku mencintainya, dan berjanji akan menjaganya selama hidupku.

Karena Seunghoon telah berpesan, “Aku tahu, dari sekian orang yang kukenal di dunia ini, kau adalah salah satu dan satu-satunya yang dapat mengerti dan melindungi Seungyeon. Hari ini adalah hari dimana dia akan membenciku, maka kuserahkan ia padamu. Katakan padanya, Oppa-nya terlalu menyayanginya dan tak rela lelaki itu mencemari lautan hidupnya. Jaga dia, Jinki. Ini permohonan terakhirku.

Aku mungkin bodoh, dungu, mau saja dimanfaatkan, mau saja menggantungkan harapan pada cinta yang sia-sia, menyia-nyiakan kesempatan hidup, dan sebagainya.

Hanya saja yang perlu kutekankan adalah aku tulus mencintainya, aku tulus menjaganya, aku berjanji karena aku ingin…

Tidak apa jika ia tak pernah memandangku, tidak apa jika cintanya tak pernah menyentuh cintaku, tidak apa jika ia tak mengingatku…

Karena bagiku, berjanji menjaganya, berada di sisinya selama hidupku sudahlah cukup…

“Seungyeon, ayo kita pulang,” ajakku padanya yang masih kukuh memandang lurus. Langit telah gelap, sudah saatnya aku membawanya pulang.

“Tapi ia belum datang,” balasnya datar.

“Ia tidak akan datang,” aku mengulurkan tanganku, berharap ia meraihnya.

.

.

.

Aku mengakui jika kisahku rumit. Aku tak bisa menyalahkan kalian bila kalian tak sepenuhnya paham atas cerita ini. Gadis setengah patung itu mengalami sesuatu yang membuat ia memiliki memori yang palsu. Katakanlah kasus ini serumpun dengan konfabulasi. Baek-uisa bilang, ini dikarenakan ia tak mau mengingat apa yang telah terjadi dalam hidupnya. Sederhananya, ia tertekan. Perasaan itu juga-lah yang membuatnya menjadi pendiam, diam seperti patung.

Melihat gadis itu masih memegang angan-angan untuk memiliki kisah yang indah merupakan keterpurukan buatku. Lelakinya telah pergi dengan pengkhianatan, dan lelaki di sampingnya direfleksikan sebagai sosok lain di hidupnya. Sering kutekan keinginan batinku untuk menjerit, meneriakkan segala kenyataan yang akan membangkitkan trauma psikologinya demi keegoisanku. Sudah terlalu lama aku terabaikan di sisinya, dan kenyataan bahwa ia bahkan menganggapku telah tiada adalah luka paling dalam yang pernah dibuatnya. Tapi selalu, selalu saja aku kalah oleh cinta yang merajuk padanya. Bagaikan pohon, cintaku padanya telah tumbuh dan berkembang, besar dan kuat, sejuk nan teduh sejak kutanam delapan tahun lalu.

Odysseus dan Penelope merupakan legenda cinta yang disukai Seungyeon ketimbang Romeo dan Juliet. Kisah mereka merupakan cinta sejati yang melambangkan kesetiaan. Odysseus harus meninggalkan istrinya yang cantik jelita di medan perang. Namun karena sosoknya yang tak kunjung kembali, memancing seratus delapan pria untuk melamar Penelope. Setiap lamaran itu ditolak oleh Penelope, wanita itu percaya bahwa suatu saat suaminya akan kembali. Jauh di sana, Odysseus yang masih hidup tak pernah tergoda akan kecantikan wanita lain. Sepasang insan tersebut akhirnya bertemu kembali setelah dua puluh tahun berpisah.

Karena ini kisah sedih yang berakhir bahagia. Ini kisah tentang kesetiaan yang berbuah manis. Aku percaya, dan aku ingin beginilah kisah cintaku,” begitu jawab Seungyeon saat aku bertanya mengapa ia begitu berharap pada kisah Odysseus dan Penelope.

Namun gadis itu hanya mendapatkan potongan cerita awal Odysseus dan Penelope dalam kehidupannya, tanpa mendapat akhir kisah mereka yang bahagia.

.

.

.

“Chase, kau di dalam?”

Aku segera membuka pintu begitu mendengar ketukan pintu tergesa di rumah Seungyeon. Lihatlah, bahkan yang ditanyakan keberadaannya pertama kali di rumah ini adalah aku, bukan Seungyeon yang notabene pemilik rumah. Tentu, karena jiwa gadis itu telah mati, yang juga membuat seluruh raganya seolah turut mati.

Aku disambut dengan wajah penuh air mata Lilith Yang. Ia memelukku dengan sedikit meraung. “Chase… aku… aku tak sanggup lagi… This pain… it hurts me so much…

Aku menariknya masuk dan mendudukkannya di atas sofa, mengatakan dengan lembut bahwa ia harus mengecilkan suaranya atau Seungyeon akan terbangun.

“Ada apa? What happened to you? Lilith Yang is the one who says ‘I’m okay’ anytime when something bad even worse happened.” Aku mengelus punggungnya, ia masih terisak.

Lita—nickname Lilith—menghirup napas pelan, “Aku tak bisa.. Semua ini, setelah Seunghoon pergi… semuanya terlalu menyakitkan. Melihat Seungyeon, merawatnya setiap kau tak ada, selalu mengingatkanku pada Seunghoon. Kau bahkan tak tahu… aku menangis tiap aku menjaga Seungyeon… tiap kau tak ada di antara kami… Aku lelah, aku lelah mengatakan ‘I’m okay’ seperti Lilith Yang yang dulu. Ini bukanlah masalah yang sama yang dapat kuatasi dengan senyuman dan dua patah kata itu. Ini… ini…” ia kembali menenggelamkan wajahnya di bahuku, tak sanggup melanjutkan ucapannya.

Jemariku bergerak mengelus punggungnya, berharap dapat meringankan sedikit beban batinnya. Lilith pasti lelah dengan semua ini. Ia wanita, dan wanita biasanya bergantung pada emosi dan perasaan.

Setelah tangisnya mereda baru kulanjutkan percakapan—tapi apa pantas disebut percakapan?—kami, “Lalu apa rencanamu, Lita-ya?”

“Mungkin… aku akan kembali ke Kanada—” ia duduk, mencoba menghapus jejak-jejak air matanya. Iris almond-nya menatapku sembab, “—Kau tahu, kan? Kehilangan, sisa-sisa memori, semuanya akan terus terbayang jika aku berada di sini. Mungkin (ia mengatur napasnya sejenak) akan sedikit terobati jika aku kembali. Di Kanada aku bisa menyibukkan diri, atau bahkan… menemukan orang yang dapat menghiburku akan Seunghoon.” Aku bersumpah merasakan kesedihan yang dalam dan ketidakrelaan dalam potongan akhir kalimatnya.

“Haruskah? Maksudku… kita tidak harus lari dari kenyataan—”

“Aku tak lari, Chase! Kau sudah tahu berapa lama aku bertahan di sini setelah kematian Seunghoon! Aku berinteraksi dengan Seungyeon, tapi tetap tak ada yang berubah! Ini… keputusan ini pun… kuambil setelah berpikir selama berbulan-bulan…” nada bicaranya semakin melemah.

Aku merengkuhnya, aku tahu ia pasti menangis lagi. “Maafkan aku. Aku… hanya kau yang dapat menjalani semua ini bersamaku—kita berada dalam lingkup kehidupan yang berhubungan.”

Lilith duduk, ia menatapku.

“Pergilah,” kataku sambil menatapnya. Aku menggenggam jemarinya yang gemetaran, “Pergilah jika memang itu membuatmu lebih baik. Serahkan Seungyeon padaku, aku berjanji akan menjaganya dengan baik.”

Lilith berusaha tersenyum di antara air matanya yang kembali mengalir. Jemari gadis itu terulur menyentuh wajahku. Baru aku sadari aku ikut meneteskan air mata setelah jemari gadis itu mengusap ujung-ujung mataku.

“Giliranmu menangis. You have more pain than me… buanglah sebagian dari mereka malam ini di depanku sebagai hadiah terakhir dari teman yang terikat dalam takdir yang berhubungan sebelum aku juga meninggalkanmu…” Lilith ikut menangis.

Malam itu, Lilith pergi meninggalkanku dengan rasa sakit yang sama seperti miliknya. Malam itu, aku kehilangan satu-satunya kawanku dalam menjalani kisah cintaku yang menyakitkan. Tapi biarlah, di sini ia tak punya tumpuan apa pun untuk menyandarkan jiwanya yang lelah. Sedangkan aku… Seungyeon, ia alasanku tetap di sini—demi hidupku, janjiku, dan cintaku yang merajuk.

.

.

.

Ya, selain aku, Lilith merupakan orang lain yang bertugas menjaga Seungyeon. Lilith Yang adalah nama Western-nya, sedangkan nama Korea-nya adalah Yang Aeyoung. Gadis itu lahir dua puluh enam tahun lalu di Kanada dan menghabiskan sebagian hidupnya di sana.

Kami bertemu ketika aku menjadi siswa di sekolahnya dalam program pertukaran pelajar. Ia adalah teman satu sekolahku, satu-satunya orang keturunan Korea yang kutemui. Gadis itu ogah memanggilku dengan nama Korea-ku, Lee Jinki. Ia selalu memanggilku dengan nama Western-ku, Chase Lee, atau nickname-ku, Chase. Kebiasaan itu bahkan tetap bertahan hingga saat ini. Kami bertemu kembali tiga tahun lalu saat ia mencoba tinggal di Korea, negara kelahiran ibunya. Saat itu statusnya adalah kekasih Han Seunghoon.

Setelah Seunghoon pergi, aku merasa ia dan Seungyeon adalah wanita yang harus kulindungi. Tapi setelah malam ini, aku bahkan tak tahu apakah aku bisa menjaga mereka berdua dengan baik.

Lilith adalah gadis yang tegar, yang selalu mengucapkan ‘I’m okay’ di segala situasi. Ia selalu terlihat baik-baik saja. Ketika aku tak bisa menjaga Seungyeon, ia yang selalu membantuku. Ia hadir di sisi Seungyeon sebagai pengganti Seunghoon. Yang baru aku tahu adalah, ia tak pernah terbiasa di dekat gadis itu karena bayangan Seunghoon selalu muncul di benaknya. Aku bahkan tak tahu jika Lilith sering terduduk, menangis tertahan di samping Seungyeon yang duduk diam dan memandang lurus dari kursi setelah mencoba berkomunikasi dengan gadis itu.

Lilith, sungguh, maafkan aku…

Aku tak tahu jika kau lebih tersiksa dariku atas janji ini…

.

.

.

Hyung, kau tahu tidak kalau aku kasihan melihatmu begini terus?”

Aku melirik Woohyun yang menumpukan wajahnya pada mejaku sementara jariku masih rajin memencet keyboard laptop. “Memangnya ada apa dengaku?”

“Ngg…” melihat Woohyun tampak ragu-ragu melanjutkan kalimatnya, aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. “Ya, hyung!” Aku tertawa melihat ia terkaget-kaget.

“Ish… Aku serius, hyung,” katanya jutek.

Aku menggerakkan daguku, memberi isyarat agar ia melanjutkan kalimatnya.

Saat ini jam kantor sudah berakhir. Kami berdua berada di kafetaria karena ingin menghangatkan badan dengan secangkir teh jahe sementara menunggu hujan yang lumayan deras reda. Sebenarnya aku bisa saja pulang—ada mobil yang setia menungguku di tempat parkir—tapi melihat Woohyun yang sendirian membuatku ingin menemaninya. Tapi malah berakhir dengan aku yang melanjutkan pekerjaanku sementara Woohyun mengamati cara kerjaku.

Woohyun adalah hoobae-ku saat kuliah. Ia satu-satunya hoobae dengan sifat gila yang dekat denganku. Terkadang aku bersyukur bertemu dengannya, karena Woohyun-lah yang paling sering membuatku tertawa di kantor. Well, masalah Seungyeon ditambah pekerjaan kantor bukanlah hal yang enak dinikmati. Jadi, kurasa Woohyun adalah pengimbang kedua masalah ini.

“Ini tentang… Seungyeon-noona,” Woohyun mencicit. Ia meneguk teh jahenya sebentar, menghindari pandanganku yang spontan mengarah padanya.

Aku mematikan laptopku dan menegakkan tubuhku. “Mengapa Seungyeon?”

“Ngg… Kau tahu, hyung. Kau selalu terlihat kacau di kantor. Aduh, bagaimana menjelaskannya, ya? Begini, dalam hidup ini kita bisa menentukan pilihan kita sendiri. Kita tidak diharuskan menunggu sesuatu yang tidak pasti, kita bisa menyerah dan memilih jalan lain—”

Aku merasakan nadi di leherku berdenyut keras, berikut napasku yang tak tentu. “Maksudmu… aku kacau karena Seungyeon?”

Aniyo—” Ia mengibaskan tangannya.

“Aku kacau karena merawat Seungyeon?”

Hyung—” Ia panik.

“Aku kacau karena menunggu Seungyeon?”

Hyung!” Ia berseru.

“Aku kacau karena janjiku pada Seunghoon?”

Hyung! Dengarkan dulu!”

Aku mengalah. Napasku mulai teratur dan aku mencoba duduk santai. Perlahan kuteguk teh jahe dalam cangkirku.

Hyung, aku hanya mengkhawatirkanmu. Tidak, semuanya mengkhawatirkanmu. Sudah berbulan-bulan kau masuk kantor dengan wajah layu seperti itu. Di tengah-tengah jam kantor pun aku sering mendengarmu menghela napas frustasi, mencengkeram kepalamu sambil menatap kosong, atau menutup wajah dengan kedua tanganmu sambil menangis sembunyi-sembunyi. Aku tahu kau begitu memikirkan Seungyeon-noona, tapi tidak bisakah kau juga memikirkan dirimu sendiri? Aku tahu kau berjanji pada Seunghoon-hyung, tapi jangan terlalu memaksakan diri. Hyung… kau masih muda, jalanmu masih panjang. Jika kau menggantungkan hidupmu pada janji untuk menjaga Seungyeon-noona… semuanya akan menjadi sia-sia.” Woohyun mengakhiri kalimatnya dengan menatapku iba.

Beberapa detik kami lalui dengan mendengarkan serbuan air hujan pada kaca besar di samping kami. Sosok Woohyun yang menelan ludahnya dan ekspresi takutnya yang samar-samar tertangkap mataku.

“Baek-uisa bilang Seungyeon akan pulih perlahan-lahan, dan aku bisa melihatnya akhir-akhir ini. Kau mungkin benar—aku kacau—tapi percayalah, itu karena Lilith tidak ada di sampingku lagi. Dan asalkan kau tahu… aku tidak terpaksa atau tertekan dengan janjiku kepada Seunghoon. Aku melakukannya karena aku ingin.”

Kami berdua diam. Aku memperhatikan teh jahe di depanku. Hujan masih turun, namun tidak sederas sebelumnya.

“Apa kau… mencintainya?” Pertanyaan Woohyun membuatku mendongak.

Lagi, keheningan mengambil alih di antara kami berdua. Aku memperhatikan sorot mata Woohyun menyiratkan ketegasan saat menatapku. Dibalik sorot itu tersirat rasa ingin tahu yang cukup dalam.

“Ya. Sangat.” Jawabku tegas.

Woohyun tampak puas.

“Aku harus pulang. Ahjumma pasti sudah kewalahan mengurus Seungyeon. Ikut denganku?” Kataku setelah melihat arloji di pergelangan tangan. Aku berdiri sambil merapikan tas kerjaku.

Sejak kembalinya Lilith ke Kanada, cukup sulit bagiku untuk merawat Seungyeon sendirian. Mengajak ia yang diam untuk mengobrol, mengontrol emosinya yang tiba-tiba mengamuk, menahan diri untuk tidak menangis saat ia menangis merupakan kesulitan yang tak bisa kuhadapi sendirian. Dan sejak kusadari bahwa aku tak mampu merawatnya sendiri, aku menugaskan Sanmi-ahjumma—wanita berumur lima puluh tahunan yang dulunya pegawai kafetaria di kantorku, ia tinggal sendirian—untuk menjaga dan merawat Seungyeon sementara aku bekerja di kantor.

Selama itu pula kuperhatikan Sanmi-ahjumma cukup lihai menangani Seungyeon. Pernah beberapa kali kulihat ia turut meneteskan air mata saat Seungyeon mengamuk dan menangis. Beberapa kali juga kulihat ia menyelimuti Seungyeon, mengelus rambutnya seperti anak perempuannya sendiri. Dan yang membuatku terenyuh adalah saat ia mengajak Seungyeon mengobrol di ujung senja.

“Agassi, apakah anda masih ingat dengan saya? Kini saya-lah yang menjaga anda setiap hari, merawat anda setiap hari, mengoceh setiap hari, dan menenangkan anda setiap hari.”

“Siapa yang menyuruh saya mengerjakan ini semua? Lee Jinki-kwajang. Apakah anda mengenalnya? Ia adalah orang yang selalu berada di samping anda, memayungi anda dengan cintanya, dan menyelimuti anda dengan ketulusannya. Tidakkah anda mengingatnya? Yang selalu menghapus air mata anda, yang berjaga setiap malam demi keselamatan anda.”

Agassi, dengan setulus hati dan tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada anda… saya berharap anda segera sembuh. Betapa saya ingin melihat Kwajang-nim tersenyum dalam tangisnya, bukan menangis dalam senyumnya. Betapa saya ingin melihat anda membalas obrolan saya, bercengkrama dalam balutan senja sambil menunggu Kwajang-nim pulang. Saya.. benar-benar ingin melihat anda bahagia...”

“Tidak usah. Seungyeon-noona pasti sudah menunggumu,” Woohyun membalasku dengan senyumnya.

Aku tersenyum miring. Begitukah? Memangnya Seungyeon mengingatku?

“Kuharap begitu.”

.

.

.

Malam itu aku sedang duduk menghadap jendela besar di ruang tengah, berjaga sepanjang malam sembari membaca buku tebal—berharap tebalnya buku itu dapat menindih perasaanku yang kian kacau. Beginilah rutinitasku tiap malam: begadang, menjaga rumah dan Seungyeon—yang bisa mengamuk kapan saja.

Beberapa hari lalu, Baek-uisa kembali memeriksa Seungyeon. Baek-uisa adalah dokter kepercayaanku. Ia adalah dokter klinik di kantorku.

Anda pernah bilang pada saya, bukan, Lee-kwajangnim? Dalam ingatan Han-agassi, anda digambarkan sebagai kakaknya, kekasihnya masih menjalani trainee, sedangkan anda sendiri mati karena hukuman atas tuduhan pembunuhan kekasihnya. Kenyataannya, kakaknya yang tewas atas tuduhan itu, begitu pun kekasihnya yang menjadi korban. Menurut analisisku barusan, ingatan aslinya sedikit demi sedikit kembali dan membayanginya. Mungkin ia akan sedikit ‘memberontak’ dalam waktu dekat ini karena ia tidak dapat menerima, tidak percaya, dan tidak mau mengakui bayangan-bayangan itu. Katakanlah, ia marah.

Aku tidak tahu harus senang atau sedih saat mendengarnya.

Seungyeon sudah tidur dua jam lalu. Sejak tiga hari lalu ia mulai menunjukkan perilaku memberontaknya, begitu pun tadi.

Kami duduk di dekat jendela besar. Bulan menimpa kami dengan sinarnya.

“Seungyeon, kau ingat ini?” tanyaku sambil mengacungkan topi baseball yang ia kenakan waktu jauh-jauh datang untuk menonton pertandinganku di Kanada. Aku mencoba untuk memancing ingatan aslinya kembali.

Seungyeon membelokkan pandangannya pada topi yang kupegang. Ia tampak mengamati topi itu meskipun pandangannya masih kosong.

Aku mengamati topi yang kupegang, “Kau ingat? Dulu kau datang ke pertandinganku bersama Seunghoon, Lilith, dan…. (aku meneguk ludahku sejenak, terlalu sulit bagiku untuk mengucap nama selanjutnya) Kangwoon. Saat itu aku menang, lalu kau berlari ke arahku dan memelukku tiba-tiba.”

“’Aku tahu kau pasti menang! Saeng-i, kau hebat! Ini topi baseball untuk sang pemenang!’ Begitu katamu, lalu kau memakaikan topi itu di kepalaku.” Selesai kuucapkan kalimat itu, rasa nyeri samar-samar menggerayangi dadaku. Jika kuingat kenangan itu sambil mengamati keadaan Seungyeon sekarang rasanya aku… sakit.

Topi itu lalu kupakaikan di puncak kepalanya, aku tersenyum memandangnya yang memegang topi itu hati-hati. “Tahukah kau? Sebenarnya… kemenangan itu untukmu. Tapi begitu kulihat Kangwoon di sisimu… entahlah, semuanya sirna.” Dan aku merasakan kedutan nyeri itu kembali.

Kulihat ia mulai mencengkeram topi di kepalanya. Wajahnya sedikit mengeras. “Seungyeon, kau tidak apa-apa?”tanyaku cemas.

Tapi ia hanya mencengkeram kuat topinya, kuat dan semakin kuat sambil memejamkan matanya. Aku merasa jantungku berdetak semakin cepat. Tuhan, apakah aku melakukan sesuatu yang salah? Bagaimana jika terjadi apa-apa?

Sepasang matanya terbuka, berkaca-kaca. Ia merintih pelan sambil terengah-engah. Aku segera memegang sepasang lengannya yang masih mencengkeram topi. “Gwaenchana? Seungyeon?”

Sia-sia, ia tidak mendengarkanku. Yang kudengar kemudian adalah jeritannya yang melengking dan penuh rasa frustasi. Tangisnya pecah. Ia berusaha keluar dari ruangan ini.

Aku yang semula hanya berdiri gemetar lalu meraih tubuhnya. Ia memberontak dalam sepasang lenganku yang telah memeluknya, mencegahnya lari dari sini. Aku memeluknya sambil berdiri.

“Seungyeon, tenanglah! Seungyeon!” kataku berusaha mengendalikan situasi. Saat itu aku ikut menangis melihat Seungyeon yang kacau.

“Aaargh! Lepaskan! Lepaskan! Aku ingin bertemu Oppa! Oppa! Jangan bawa Oppa!” Tangisnya dalam pelukanku semakin keras, disertai hidung dan pipinya yang memerah. Bibirnya bergetar dan mengeluarkan gumaman pelan. Beberapa kali ia mencengkeram bajuku.

“Aku mohon… kendalikan dirimu. Seunghoon pasti sedih jika melihatmu seperti ini…” Kataku tersendat sambil mengelus rambutnya.

Tiba-tiba tubuhnya merosot, ambruk di depanku.

 “Noona!”

Kututup buku di pangkuanku, entah mengapa tiba-tiba aku merasa lelah mengingat apa yang terjadi dalam hidupku akhir-akhir ini. Sambil berdiri menatap ke luar jendela, kupijit pangkal hidungku pelan. Bulan bersinar terang didampingi kilau bintang yang bertebaran, seolah mengundang kesan ramai dan ceria. Aku tersenyum pahit sekaligus iri melihatnya—benarkah hidupku begitu berat hingga aku terlihat kacau seperti yang Woohyun katakan?

Mungkin iya, celetuk suara dalam hatiku. Aku tersenyum miris.

Bayangan Seungyeon yang sedang tidur terpantul samar pada kaca jendela di hadapanku. Jemariku bergerak menyentuh bayangan itu. Dingin.

Lihatlah, ia begitu polos dan rapuh dalam wajah tidurnya. Aku mengutuk diriku sendiri, bagaimana mungkin aku berpikiran hidupku begitu berat sementara hidup gadis ini jauh berkali lebih berat dalam hidupku?

Jinki, kau sungguh jahat. Kau mau mengingkari janjimu?

Aku tersentak dalam pikiranku begitu mendapati bayangan Seungyeon bergerak-gerak gelisah. Secepat mungkin kulangkahkan kakiku menuju kamarnya, lalu duduk di samping ranjangnya.

Oppa… Kangwoon… Jinki…” gumamnya parau. Setitik air mata meluncur turun dari celah matanya.

Aku menghapus air matanya. Ia menggeliat pelan, membuatku buru-buru menarik tanganku.

Bogoshipeoyo…” gumamnya lagi.

Ujung bibirku terangkat dengan spontan. Na do bogoshipeo, batinku.

Perlahan kuraih ujung selimutnya, lalu bergerak menyelimutinya hingga sebatas dagu. Ia menggeliat, lalu tersenyum kecil dalam tidurnya. Sinar bulan menyorot wajah polos Seungyeon, membuatku terkesima untuk kesekian kalinya pada pahatan sempurna itu. Aku bergerak mendekatinya, jemariku menyibakkan helai-helai rambut yang jatuh di wajahnya.

Jaljayo.” Sepasang bibirku pun menyentuh keningnya.

.

.

.

—tobecontinued—

| 3317 words in this chapter, story only |

Author’s note:

  • Chain-Termine            : Rantai Janji (Bahasa Jerman)
  • kwajang                      : General Manager
  • Konfabulasi                 : Fantasi yang tidak sadar menggantikan peristiwa dalam ingatan.

Sebenarnya, ini oneshotyang aku potong jadi dua. Jadi, gimana? Suka? Komentar dan Jempol-nya ditungu J Terima kasih sudah mau membaca, silahkan tunggu chapter duaヾ(´・∀・)ノ

Tambahan: buat readers yang pengen nambah list blog FF K-Pop, bisa klik di siniJ

sacchiko.

4 thoughts on “[FF Freelance] Chain-Termine (Part 1)

  1. aishh, kasian seungyeon smpe kaya gitu..uda kebalik2 ingatannya..
    tapi lbh kasian lg jinki, msh idup tapi dianggep kakaknya bahkan dirinya sendiri dianggep uda meninggal ><

  2. huhuhuhu, sungguh aku meler luar biasaa TTTTTT huhuhuhu knp begitu tulus sekali ceritanya? Huhuhuhu daebak!!! Nangis deres pas dibagian Sanmi-ahjumma minta Seungyeon cepet sembuh supaya Onew-Seungyeon bisa sama2 bahagia huhuhu

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s