Threesome (Part 5)

A Story by Pseudonymous

Title: Threesome || Main cast: 2PM’s Nichkhun, SNSD’s Tiffany & Super Junior’s Siwon || Genre: Romance, Life, Friendship & Shounen-Ai || Length: Chapter || Rating: PG-15 || Disclaimer: My plot for sure. || Credit poster: Kihyukha || Previous part: Teaser, Part 1, Part 2, Part 3, Part 4

***

“Khun! Berhenti di sana!”

Tuan Horvejkul berlari mengejar anaknya di tangga dan berhasil menggamit lengan pemuda itu. Nichkhun berbalik kearahnya dengan mata yang digenangi oleh air.

“Apa lagi?” tanya Nichkhun, frustasi.

“Minta maaf pada ibumu sekarang juga!” tegas ayahnya. “Dan katakan bahwa yang tadi kau bilang itu tidak benar.”

Nichkhun menggeleng. “Tidak! Itu semua memang benar! Dan lepaskan aku sekarang juga. Aku butuh waktu untuk diriku sendiri.”

Tapi ayahnya bersikeras. Nichkhun merasakan cengkeraman tangan ayahnya semakin menguat di lengannya. Ia sudah bisa membayangkan bekas kemerahan dari cengkeraman itu.

“Sakit!” ringisnya sambil menuding lengannya.

“Aku tidak peduli.” Tuan Horvejkul terlihat geram, sekaligus putus asa. Matanya menyala seperti bola api yang siap meledak.

“Ayah yang bilang sendiri bahwa aku tidak boleh menceritakan kebohongan,” isak Nichkhun. “Sekarang, aku sudah mengatakannya pada kalian. Aku gay, tapi kalian tidak bisa menerima itu!”

“Tentu saja!” Ayahnya berteriak marah. “Tuhan hanya menciptakan dua jenis manusia di muka bumi ini, Khun. Mereka adalah laki-laki dan perempuan. Tuhan tidak pernah menciptakan seorang banci!”

“Persetan dengan kalian dan Tuhan! Bangsat!”

Nichkhun mendorong tubuh ayahnya dan berlari dengan cepat menuju kamar, lalu mengunci pintu. Tuan Horvejkul menyusulnya dan menggedor-gedor pintu.

“Khun, buka pintunya! Buka pintunya, Anak Durhaka!”

Nichkhun mematikan lampu kamar, menutup tirai jendela, dan melempar kunci kamarnya ke atas ranjang, lalu meringkuk di sisi tempat tidur. Kamarnya berubah sangat gelap—persis seperti suasana hatinya saat itu—dan hanya diisi oleh suara isak tangisnya yang mengiba.

“Tinggalkan aku sendiri!” teriaknya.

“Asal kau tahu saja, Khun..” Ayahnya masih juga bertahan di depan pintu. “..kau tidak akan pernah diterima dimanapun. Bahkan, walau kau taat sekali pun, Tuhan tidak akan membiarkanmu masuk ke dalam surga-Nya. Demi Tuhan. Kau benar-benar anak durhaka!”

“Aku tidak peduli!”

Beberapa saat kemudian, suara di luar tidak terdengar lagi. Ayahnya sudah pergi, tapi Nichkhun belum bisa bernapas lega. Masalah belum sepenuhnya selesai. Ia masih harus menghadapi perubahan sikap kedua orangtuanya setelah rahasia itu terungkap. Tapi, bagaimana ia harus menghadapinya? Membayangkan apa yang akan dihadapinya saja membuat tubuhnya menggigil.

Nichkhun mencari-cari telepon seluler di antara barang-barang yang ada di atas meja dan berhasil menemukannya. Masih dengan suara terisak, ia memutar nomor telepon Tiffany. Ia membutuhkan Tiffany di saat-saat seperti ini. Hanya Tiffany. Dering telepon di seberang terus mendengung di telinganya. Telepon itu tidak juga diangkat. Nichkhun mencoba untuk yang kedua kali, dan nampaknya masih sama.

Nichkhun menangis lebih keras dan mengerang, “Tiffany, tolong angkat teleponmu. Aku mohon..”

***

Tiffany merogoh-rogoh saku jeans-nya dan tidak dapat menemukan ponselnya dimana-mana.

“Ada apa?” Siwon memandangnya khawatir.

“Aku melupakan ponselku di kamar,” lirihnya. “Bisakah kita kembali ke apartemenku?”

Siwon mendesah. “Apakah akan ada seseorang yang sangat penting yang akan meneleponmu? Kita sudah cukup jauh dari apartemenmu, kalau berbalik lagi, maka..”

Tiffany menghela napas. Ia menoleh kearah kanan dan melihat arus balik yang cukup ramai. Mereka bisa-bisa terjebak macet jika kembali ke apartemen. Terlebih lagi, ini sudah jauh dari apartemen Tiffany.

Okay. Sebaiknya memang tidak usah,” kata Tiffany, mengalah.

Tapi hati Tiffany tidak bisa benar-benar tenang. Ia terus bergerak gelisah di jok kursinya dan memandang kosong ke luar jendela, seolah sedang memikirkan dan mengkhawatirkan sesuatu.

“Kau baik-baik saja? Apa kau masih merasa tidak enak badan?” tanya Siwon, tanpa menoleh dari jalanan.

Tiffany menggeleng. Jawaban ambigu. Ia tidak sedang yakin dengan perasaannya saat itu. Ada yang sedang ia khawatirkan, tapi ia tidak tahu apa yang sedang dikhawatirkannya—mirip seperti ketika kita meninggalkan rumah, lalu saat dalam perjalanan, kita merasa tidak yakin apakah sudah benar-benar mengunci pintu atau sudah mengecek kompor. Namun, bukan itu masalahnya. Tiffany ingat jelas bahwa ia sudah mengunci pintu apartemen. Kompor juga sudah mati—tadi pagi ia bahkan tidak menyentuh dapur sama sekali karena Siwon datang dengan membawakan sarapan. Lalu, apa yang sedang dikhawatirkannya?

Tiffany berpaling dari pemandangan luar pada sosok di sebelahnya, berharap bisa dengan segera melupakan soal “kekhawatiran” dan “kelupaan”-nya terhadap “sesuatu”.

“Apakah kita tidak terlalu terburu-buru?” tanya Tiffany pada Siwon.

Siwon meliriknya sekilas, lalu berkonsentrasi pada kemudi. “Soal apa?”

“Soal ini—kau tiba-tiba mengajakku berkunjung ke rumahmu dan bertemu dengan keluargamu. Apakah mereka sudah tahu tentangku?”

“Ya, aku sudah cerita tentang kau pada mereka dan mereka terlihat senang.”

“Oh yah? Kau menceritakan apa saja tentangku?”

Siwon diam sejenak, lalu menyahut, “Banyak.”

Tiffany agak kecewa dengan jawaban Siwon yang super singkat itu, padahal ia berharap Siwon akan menceritakan apa saja yang sudah Siwon ceritakan pada keluarganya mengenai hubungannya dengan Tiffany. Dengan begitu, Tiffany bisa tahu apakah Siwon memang benar-benar mencintainya dan mengenalnya dengan baik atau tidak. Bukan bermaksud berpikiran negative, tapi setiap kali Siwon meneleponnya ketika menjelang waktu tidur, Tiffany tidak bisa benar-benar tidur setelahnya. Ia masih memikirkan soal hubungannya dengan Siwon yang tadinya adalah dua orang asing, dan sekarang tahu-tahu sudah duduk bersama sebagai sepasang kekasih. Ini memang masih terlalu dini untuk Tiffany.

***

Tiffany tidak pernah menyangka bahwa sambutan keluarga Choi akan seheboh ini. Nyonya Choi dan kakak perempuan Siwon, Sunhwa, telah berdiri di depan pintu dengan senyum lebar. Begitu keduanya turun dari mobil, Nyonya Choi dan Sunhwa langsung menghambur kearah mereka dan memeluk Tiffany—bak anggota keluarga lama yang baru saja bertemu. Walau itu sedikit membuat Tiffany canggung, tapi ia tahu bahwa tidak akan butuh lama untuk bisa merasa akrab dengan mereka.

“Kau Tiffany, bukan?” tanya Nyonya Choi setelah melepas pelukannya pada Tiffany.

“Y-ya,” sahut Tiffany gugup.

Nyonya Choi melirik Siwon sebentar, lalu berpaling lagi pada Tiffany. “Siwon pernah menunjukkan fotomu padaku dan kau ternyata jauh lebih cantik dari yang ada di foto,” kekehnya.

Tiffany ikut terkekeh dengan wajah merah merona. “Terimakasih, Nyonya Choi.”

“Tidak, tidak!” Nyonya Choi menggeleng. “Jangan memanggilku ‘Nyonya Choi’, Sayang. Panggil saja Bibi, okay?”

Nyonya Choi dan Sunhwa kemudian menyeret Tiffany masuk ke dalam kediaman mereka, diikuti dengan Siwon dari belakang. Nyonya Choi tampak bersemangat memperkenalkan ruangan-ruangan di dalam rumah mereka, membuat Tiffany merasa seperti seorang calon pembeli. Tapi ia mengerti maksud Nyonya Choi. Wanita paruh baya itu hanya tidak ingin Tiffany merasa asing atau canggung lagi dengan mereka di dalam rumah mereka.

“Anggap saja rumah sendiri, yah?” kata Nyonya Choir amah.

Begitu mereka sampai di bagian rumah paling belakang—ada dapur dan meja makan yang sangat besar—Nyonya Choi dan Sunhwa mempersilahkan tamu mereka untuk duduk di meja makan. Di meja makan yang besar itu, sudah tersedia begitu banyak jenis makanan dan pencuci mulut. Jumlahnya mungkin ada belasan jenis makanan dan beberapa pencuci mulut. Beberapa di antaranya adalah menu khas makanan Korea, sementara yang lain, bisa Tiffany tebak, menu dari luar—entah itu Eropa atau Amerika.

“Siwon, tolong ambilkan Tiffany piring dan ambilkan ia makanan,” perintah sang Ibu.

“Tidak usah,” sanggah Tiffany, mulai merasa ini sungguh berlebihan. “Aku bisa mengambilnya sendiri, Bibi.”

“Jangan, Sayang.” Nyonya Choi menahan tangan Tiffany dan menyuruhnya untuk tetap duduk. “Biar Siwon yang melakukannya untukmu.”

Siwon dengan sigap berdiri dari tempat duduknya dan mengambilkan makanan untuk Tiffany. “Kau ingin makan apa?” bisiknya.

Tiffany menatap piring-piring penuh di hadapannya dengan bingung. Semuanya tampak menggiurkan dan menggoda. “Hm, terserah kau saja.”

Acara makan siang mereka terasa begitu nikmat dengan selingan candaan-candaan ringan dari Sunhwa. Tiffany memerhatikan wajah Sunhwa yang begitu dewasa dan mirip dengan Siwon. Sunhwa juga tampak sangat menyayangi Siwon. Kedua kakak-beradik itu bahkan sempat saling bertukar bisik dan tertawa sendiri. Tiffany agak merasa cemburu dengan pemandangan itu.

“Kau masih kuliah, Tiffany?” tanya Nyonya Choi. “Dimana kau kuliah?”

“Universitas Dankook, Bibi. Jurusan akuntansi,” sahut Tiffany, sopan.

“Oh yah? Kalau begitu, kau sepertinya bisa jadi istri yang baik untuk Siwon dan bisa mengatur pengeluarannya, soalnya Siwon agak boros. Benar begitu, bukan, Siwon?”

Yang dituding terbatuk-batuk di mejanya. Sunhwa langsung menyambar segelas air dan memberikannya pada sang adik. Tiffany menaikkan alis melihat reaksi kaget Siwon. Sementara Siwon masih saja terus terbatuk, Sunhwa terus mengusap punggung belakang adiknya dan tersenyum kaku kearah Tiffany dan ibunya.

“Tidak apa-apa, tidak apa-apa,” katanya. “Kalian lanjutkan saja percakapannya.”

***

Setelah sesi makan siang itu selesai, Siwon dan Sunhwa memisahkan diri dari Tiffany dan ibu mereka ke dapur. Mereka mengintip kearah ruang tamu dimana ibu mereka dan Tiffany sedang bercakap-cakap mengenai silsilah keluarga mereka.

“Dimana kau kenal gadis itu?” tanya Sunhwa pada adiknya dengan nada selidik.

Siwon menggaruk-garuk kepalanya dengan bingung. “Sebenarnya kami tidak sengaja bertemu di depan gas station, lalu semuanya berlanjut begitu saja.”

“Oh yah? Lalu, kau memintanya untuk menjadi pacarmu?”

Siwon terdiam.

“Atau kau sebenarnya membayarnya untuk pura-pura menjadi pacarmu?”

Siwon terlihat ragu. “Soal itu—”

“Aku tanya sekarang,” kata Sunhwa, tegas. Ia menyorot tajam kearah Siwon. “Apakah kau mencintainya?”

“Pertanyaan macam apa itu?” gerutu Siwon. Pemuda itu hanya sedang berusaha menghindari pertanyaan Sunhwa.

“Jangan banyak alasan!” tukas Sunhwa, kesal. “Jawab saja. Apakah kau mencintainya atau tidak?”

Sorot mata Siwon meredup. Alisnya menurun. Dan perlahan, kepalanya menggeleng.

Sunhwa menganga dan mendorong kasar dada pemuda itu. “Kau sinting!” bisiknya marah. “Bagaimana jika ia sampai tahu bahwa kau hanya sedang mempermainkannya? Dimana otakmu, Bodoh?”

“Lalu, aku harus bagaimana?” lirih Siwon. “Ayah sebentar lagi akan pulang, jika aku tidak membawa seorang gadis, ia akan benar-benar membunuhku.”

Sunhwa mengusap wajahnya dengan telapak tangan dan menggelengkan kepala. Gadis itu menjulurkan kepala menuju ruang tamu dan melihat Tiffany sedang tertawa bersama ibunya. Gadis yang malang, batinnya. Sunhwa tidak tega. Gadis sebaik Tiffany tidak sepantasnya merasa kecewa pada akhirnya. Namun, Sunhwa juga sangat menyayangi Siwon. Ia tahu perangai ayah mereka seperti apa. Dan kali ini Sunhwa mengalah. Ia tetap harus membantu adiknya untuk memenangkan hati ayah mereka.

“Maafkan kami, Tiffany.”

***

“Ini Siwon ketika masih berumur delapan tahun,” kata Nyonya Choi sambil menunjuk sebuah foto keluarga. “Lucu, bukan?”

Tiffany mengangguk. Siwon kecil ternyata sangat menggemaskan. Gadis itu membuka lembaran foto album yang lainnya dan melihat foto seorang pria menggendong seorang bayi laki-laki. “Apakah ini—”

“Tuan Choi,” sambung Nyonya Choi cepat. “Ayah Siwon.”

Tiffany mengangguk-angguk dan mengangkat wajahnya. “Lalu, dimana beliau? Aku belum melihatnya sampai detik ini. Apakah ia sedang pergi?”

Nyonya Choi menggeleng dan tersenyum lembut. “Ia sekarang tinggal di Inggris, mengurus perusahaannya di sana. Tapi, dalam waktu dekat ini, ia akan pulang dan mengadakan pesta dinner bersama keluarga. Kau akan ikut makan malam bersama kami, kan?”

“A-aku? Tapi..”

“Aku mohon, datanglah,” pinta Nyonya Choi. “Ayah Siwon pasti akan sangat senang bisa bertemu denganmu.”

Tidak ada pilihan lain bagi Tiffany selain mengangguk. Ia mungkin memang bisa meluangkan waktu untuk bertemu Tuan Choi.

“Lihat yang satu ini,” seru Nyonya Choi. Ia menunjuk Siwon kecil—berumur sepuluh tahun—sedang menangis. Mulutnya terbuka lebar, mengeluarkan suara isakan yang memilukan. “Aku ingat, ini saat Siwon baru belajar membawa sepeda. Awalnya ayahnya tidak setuju Siwon membawa sepeda, karena ayahnya bilang ia belum siap untuk mengendarai sepeda. Tapi Siwon memaksa dan bersikeras, lalu keduanya bertengkar dan Siwon mulai menangis,” kenang sang Ibu.

Tiffany menggeleng sedih. “Kasihan sekali.”

Nyonya Choi mengangguk. “Sejak kecil, hubungan Siwon dan ayahnya memang sangat buruk. Mereka selalu saja bertengkar, bahkan untuk hal-hal yang kecil sekali pun.”

Tiffany mengamati wajah Siwon yang menangis dan ikut merasa sedih. Ia pikir, Tuan Choi terlalu keras dalam mendidik putranya.

“Bahkan,” Nyonya Choi berbisik dengan suara lirih. “Suamiku menuduh Siwon itu gay.”

“A-apa?” Tiffany membelalak terkejut di tempat duduknya.

“Ya. Karena selama ini, Siwon tidak pernah membawa seorang gadis. Kau adalah gadis pertama yang pernah diperkenalkannya kepada kami. Maka dari itu aku senang bukan kepalang ketika ia meneleponku dan mengatakan bahwa ia akan mengajakmu datang kemari.”

Tiffany menelan ludah. Rasa dingin menjalar ke seluruh tubuhnya. Dengan gelisah, ia menatap kembali wajah Siwon yang sedang menangis dan mencoba mencari kebenaran dari sana.

***

Karena teleponnya tidak kunjung diangkat oleh Tiffany, Nichkhun mendatangi apartemen gadis itu, tapi hasilnya sama saja. Tiffany juga sedang tidak berada di rumah. Sungguh sial, pikir Nichkhun. Pemuda itu bahkan harus berupaya keras untuk bisa pergi dari rumah, karena takut ayahnya akan menahannya lagi. Tapi, begitu ia berhasil kabur, ternyata Tiffany sedang pergi. Sudah dua jam lebih ia menunggu dan ia merasa bosan setengah mati hanya dengan duduk seperti seorang pengemis di depan pintu apartemen itu.

Beberapa menit berselang, Nichkhun berdiri dengan tersentak saat mendengar bunyi lift di ujung lorong apartemen berbunyi. Itu mungkin Tiffany, duganya. Dugaannya benar, itu Tiffany. Ia bisa mendengar suara Tiffany yang batuk. Nichkhun baru saja ingin berlari kearah gadis itu dan menceritakan seluruh kegundahan hatinya, namun Siwon muncul dari belakang Tiffany dengan dua buah kantung kertas berisi makanan.

“Khun? Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Tiffany.

“Hm, aku..” Nichkhun tidak menyelesaikan kalimatnya ketika matanya beradu pandang dengan Siwon.

Tiffany menatap ransel yang dibawa oleh Nichkhun dan ia bisa memahaminya. Pasti bertengkar lagi dengan ayahnya.

“Masuklah,” kata Tiffany. “Kita bicara saja di dalam.”

Tapi begitu di dalam, Nichkhun tidak benar-benar mendapatkan waktu berdua bersama Tiffany. Siwon terus menginterupsi dengan menawarkan untuk makan malam bersama. Nichkhun benar-benar merasa makan malam itu adalah cobaan besar. Lagi-lagi, Siwon dan Tiffany seperti tidak menganggap dirinya ada, padahal ia duduk tepat di depan kedua orang itu. Bahkan, dengan tidak canggung, Siwon dan Tiffany saling bertukar bisik, menceritakan lelucon rahasia, dan tertawa berdua.

Hebat, gumam Nichkhun pahit. Nichkhun berharap lenyap ditelan bumi, daripada melihat kemesraan mereka berdua sedetik lagi.

“Kau ingin tambah, Siwon?” tawar Tiffany manis.

Siwon menggeleng. “Tidak. Aku sudah kenyang.”

Enough! Nichkhun menggeram dalam hati, membanting sendok dan garpunya hingga menimbulkan suara berdenting yang nyaring di pinggir piring.

“Khun, kau sudah selesai makan?” tanya Siwon, agak bingung.

Nichkhun bahkan tidak menoleh sedikit pun.. Tapi, ia sempat mendengar Tiffany berkomentar santai, “Barangkali sedang sakit perut.”

***

“Kau ini kenapa, sih?” tanya Tiffany defensive saat dilihatnya Nichkhun masih terjaga. Walaupun terlihat sedang menikmati hidup—membaca majalah sambil mendengarkan lagu lewat earphone—muka judes Nichkhun sudah menggambarkan isi hatinya dengan jelas.

“Aku meneleponmu sejak tadi,” kata Nichkhun dengan rahang mengeras. “Tapi kau tidak juga mengangkatnya.”

“Aku lupa membawanya, Khun! Tadi kutinggal di meja dan karena terburu-buru, aku lupa membawanya,” jelas Tiffany.

Ucapan Tiffany justru mengobarkan api kemarahan Nichkhun lebih besar lagi. “Terburu-buru? Terburu-buru karena apa? Karena Siwon?”

“Kau ini posesif sekali, sih! Seperti perempuan saja!”

Nichkhun memalingkan wajah dari Tiffany untuk menutupi kesedihan yang tercetak jelas di sana. Ia tidak bisa menceritakannya sekarang karena Siwon masih ada di luar kamar. Ia menginap di apartemen Tiffany untuk malam ini, dengan alasan ingin menemani Tiffany.

Kau tidak tahu apa yang sudah kulalui akhir-akhir ini, Tiffany, lirih Nichkhun dalam hati.

Tiffany mendesah. Ia mendekati Nichkhun dan membelai kepala pemuda itu penuh sayang. “Okay, aku mengalah. Kau ingin sesuatu? Ingin kubuatkan susu panas?”

Nichkhun masih diam, tetapi matanya bergerak gelisah, tanda-tanda bahwa ia juga ingin berbaikan.

Okay. Aku akan membuatkan susu panas untukmu, asal berhenti menunjukkan wajah itu padaku.”

***

Siwon tersentak bangun saat mendengar suara berisik dari arah dapur. Hantu? Siwon membuka pintu kamar tamu dengan pelan dan melihat Nichkhun berdiri di depan pantry, sedang memasak sesuatu. Suasana di luar kamar begitu gelap, hanya lampu dapur yang masih menyala. Tiffany nampaknya masih terlelap dalam kamarnya. Siwon akhirnya tertarik untuk menghampiri Nichkhun dan menyapanya.

“Hai, kau belum tidur?”

Nichkhun terlonjak kaget mendapati Siwon tahu-tahu sudah berdiri di sampingnya. “Oh, ya. Aku kelaparan,” kekehnya.

Siwon menunduk menatap panci dan sebungkus mie instan dan telur yang sudah siap dimasak.

“Kau juga mau?” tawar Nichkhun.

“Hm, boleh. Tapi, biarkan aku ikut membantumu memasak.”

Okay. Kau bisa masak?”

Siwon tersenyum dan mengedikkan bahu. “Bisa, sih, tapi tidak jago.”

Ternyata Siwon merendah. Ia tidak sekadar bisa-sih-tapi-tidak-jago. Siwon itu masterchef. Telur yang tadinya direncanakan didadar biasa, disulap oleh Siwon menjadi egg roll cheese dengan bahan-bahan yang kebetulan ada di kulkas.

“Wow!” seru Nichkhun. “Kau ternyata sangat jago dalam hal memasak.”

Siwon terkekeh. “Hati-hati dengan tanganmu, Khun!” Pemuda itu menuding garnish yang sedang dipotong-potong oleh Nichkhun. “Begini cara memegang pisau yang benar.”

Siwon mengarahkan tangan Nichkhun. Nichkhun mengikutinya dengan patuh dan melanjutkan membuat garnish untuk masakan mereka. Untuk pertama kalinya, keduanya merasa nyaman dan senang dengan moment itu, tidak lagi canggung seperti biasa.

“Apa kau memang biasa menginap di apartemen Tiffany?” tanya Siwon sambil membalik egg roll-nya di pan.

“Tidak, aku biasanya menginap di rumahnya jika aku sedang dalam masalah dengan orang-orang di rumahku.”

“Oh yah?” Siwon tiba-tiba merasa topik ini menjadi sangat menarik. “Apa yang terjadi? Apa yang membuatmu kabur dari rumah?”

Nichkhun terlihat ragu. Ia belum sempat mengeluarkan kegundahannya pada Tiffany karena takut Siwon mendengarnya. Tapi, entah mengapa, kali ini ia merasa Siwon seolah-olah lebih siap daripada Tiffany untuk mendengar ceritanya.

“Aku bertengkar dengan ayahku,” lirihnya.

Mata Siwon membelalak, lalu matanya berubah sendu. “Aku bisa memahami perasaanmu.”

“Auch!” Nichkhun meringis sambil mengucek matanya yang memerah.

“Ada apa?” tanya Siwon, khawatir.

“Mataku perih karena bawang,” ringisnya.

“Biar kubantu.”

Dengan lembut, Siwon menyingkirkan tangan Nichkhun dan mendekatkan wajahnya. Ia meniupkan udara kearah mata Nichkhun, sekadar untuk membuat pemuda itu merasa lebih baik. Nichkhun bisa mencium aroma mint pasta gigi dari mulut Siwon. Dan setelah merasa lebih baik, Nichkhun mengerjap-ngerjapkan matanya.

“Bagaimana? Sudah merasa lebih baik?” tanya Siwon.

“Ya, lebih baik.”

Nichkhun baru sadar jarak diantara keduanya begitu rapat. Ujung hidung keduanya nyaris bertemu. Pandangan mereka bertemu dan rona pipi mereka berubah merah. Perlahan, Siwon menjulurkan kepalanya mendekat dan mencium Nichkhun. Nichkhun ikut memejamkan mata dan merasakan bibir tipis Siwon menekan lembut bibirnya, sampai ia ingat bahwa bibir Siwon sebelumnya pernah bertemu dengan bibir sahabatnya, Tiffany.

***

Tiffany terbangun oleh rasa sakit yang menekan perut bagian bawah—ingin buang air kecil. Dengan langkah berat, Tiffany berjalan keluar dari kamar menuju kamar mandi yang ada di luar. Ia menoleh kearah dapur saat mendengar suara gelegak air mendidih pada panci dan menemukan dua sosok pemuda dalam jarak yang sangat dekat, bersentuhan, dan berciuman. Tiffany berhenti mengucek-ucek matanya dan membelalak terkejut.

“Nichkhun! Siwon!”

To be continued.

***

A/N: Finally, FF ini sudah mencapai klimaks cerita. Satu part lagi, maka nasib Nichkhun, Siwon, dan Tiffany akan ditentukan *sok mendramatisir* hehe. Well, as usual, part terakhir FF ini akan saya protect, cara meminta password bisa dicek di pagePassword Request”. Pastikan kalian sudah mengikuti persyaratannya. 🙂

Big thanks untuk readers yang udah ngikutin FF ini dan menjadi good readers. Minta maaf juga untuk seluruh fansnya Nichkhun & Siwon karena karakternya saya bikin aneh. 😐 Ini hanya fiksi belaka, jadi jangan marah yah. 🙂 Tidak ada maksud untuk menjelek-jelekkan sama sekali. Well, see you at last part!

131 thoughts on “Threesome (Part 5)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s