[FF Freelance] The Truth (Oneshot)

Title: The Truth

Author: Mythantik

Rating: General

Length: One Shot

Genre: Romance

Casts:

  • Yoon Eunhye
  • Lee Hyukjae

 

Ruang tamu di rumah besar itu nampak sangat berantakan, seperti telah berhari-hari ditinggalkan oleh si empunya rumah. Beberapa kertas penuh coretan berserakan disana-sini, ada pula beberapa botol bekas minuman ringan diantaranya, berserakan di dekat anak tangga. Keadaan rumah itu sungguh seperti sebuah rumah yang baru saja terserang badai Katrina.

Sementara di salah satu sudut lain di rumah itu, Yoon Eunhye, sang gadis penghuni rumah itu baru saja terbangun dari tidurnya. Wajahnya terlihat sangat kusut dan loyo. Wajar memang, sebab Eunhye baru berhasil memejamkan matanya sekitar pukul 3 dini hari dan sekarang ia sudah terbangun lagi padahal jam digital di meja yang terletak di samping tempat tidurnya masih menunjukkan pukul 6:45, itu artinya ia baru mengistirahatkan tubuhnya selama kurang dari 4 jam saja.

“Aishhhh…!!!” Eunhye menggerutu pada dirinya sendiri ketika menuruni anak tangga menuju ruang tamu dan langsung disambut dengan sebuah pemandangan katastrofik di depan matanya. Dengan masih menggaruk-garuk kepalanya – yang semakin membuat rambut-bangun-tidur-nya tambah berantakan – gadis itu bergerak memunguti barang-barang yang berserakan di ruangan itu dengan malas. Ia berjalan terseok sambil mengumpulkan kesadarannya dan berusaha mengingat apa yang telah terjadi di rumahnya semalam hingga bagian depan rumahnya bisa sekacau seperti sekarang ini.

 

“Kalau bukan karena pria sialan itu, tentu aku tidak akan sefrustasi sekarang!”

Semalam, ia bertengkar hebat lewat telepon dengan si ‘pria sialan’. Dan pertengkaran itu berakhir dengan Eunhye mengacak-acak rumahnya sendiri, melempar dan membanting segala benda yang terjangkau tangannya guna melampiaskan kekesalan dan kemarahan yang memuncak di dalam dirinya. Ya, itulah salah satu kebiasaan terburuk yang dimiliki gadis itu, tidak bisa mengontrol emosinya jika sudah merasa terlampau marah ataupun sedih. Dan malam tadi, kedua perasaan itu dirasakannya langsung secara bersamaan, ia merasa marah dan sedih karena perbuatan si ‘pria sialan’ itu.

“Dia benar-benar keterlaluan! I really hate him!!!”

Eunhye masih bermonolog di dalam hatinya sendiri dengan nada gusar sekaligus geram di saat bersamaan. Ia sedang merutuki orang yang disebutnya sebagai si ‘pria sialan’. Gadis itu bahkan tidak lagi sudi mengingat nama pria yg dianggapnya telah mengacaukan hidupnya saat ini. Hatinya terlalu sakit mengingat apa yang telah diperbuat pria itu padanya. Baginya, pria itu tak lebih dari sekadar mimpi buruk yang menghampiri tidur panjangnya.

Selesai membenahi ruangan yang tadinya kacau itu, Eunhye bergegas ke kamar mandi di dalam kamarnya. Ia menyalakan kran dan mengisi bathtub dengan air hangat. Ia ingin melepas kepenatan yang menggunung di dadanya semalaman tadi dengan berendam, barangkali dengan begitu ia bisa menenggelamkan segala kekesalan dan kesedihannya ke dalam bathtub. Tak lupa ia pun menyiapkan beberapa lilin aromatherapy yang ia susun di tepiannya untuk lebih merelakskan otot dan pikirannya.

 

—0O0—

 

Lee Hyukjae, adalah nama si ‘pria sialan’ yang kini sangat Eunhye benci dengan segenap hatinya. Gadis itu sungguh sangat membencinya sampai-sampai ia merasa muak dengan dirinya sendiri tiap kali nama ataupun wajah pria itu kembali berkelebat di ruang memorinya. Ia tidak mau lagi mengingat-ingat, apalagi bila sampai harus berurusan lagi dengan pria itu. Sampai kapanpun.

Pria berperawakan kurus dengan rahang tirus itu adalah teman Eunhye di kampus, sekaligus … (mantan) kekasihnya. Ya, Hyukjae dan Eunhye pernah menjadi pasangan kekasih yang selalu terlihat kompak dan romantis di setiap kesempatan. Setidaknya, begitulah penilaian teman-teman mereka. Dimana ada Eunhye, disitulah Hyukjae berada, disampingnya. Pria itu selalu setia mendampinginya. Eunhye dan Hyukjae adalah tipikal pasangan serasi seperti yang sering terlihat di film-film drama televisi. Si pria tampan, sementara gadisnya jelita, kurang apa? Segalanya nampak begitu indah dan sempurna, sampai suatu hari Lee Hyukjae menghancurkan semuanya hingga berkeping-keping tanpa sisa.

~

Eunhye membenamkan tubuhnya dibalik buih di dalam bathtub-nya. Ia membiarkan pori-pori tubuh letihnya dialiri cairan harum sabun hanya untuk sekadar memberi sugesti yang lebih baik untuk tubuh dan pikirannya yang amburadul kini. Gadis itu merasa sangat kacau balau. Diantara akal sehat dan harga dirinya yang lantang mengutuk si ‘pria sialan’ itu, ia masih bisa mendengar sayup parau lubuk hati terdalamnya yang menangis pilu memanggil nama Lee Hyukjae karena sesungguhnya ia sangat merindukan sosok pria itu. Biar bagaimanapun juga pria itu pernah menjadi bagian hidupnya, pernah mengisi hari-harinya dengan canda tawa ceria. Meskipun memang hal itu sudah ia putuskan untuk hanya menjadi cerita lalu di kehidupannya saja dan tidak akan dikenangnya. Tidak, ia tak akan membiarkan bagian hatinya yang lemah memenangkan perang batin yang berkecamuk di dadanya. Ia membiarkan logikanya membawanya ke titik kesadaran dunia nyata. Dunia yang membuka matanya bahwa Hyukjae telah menduakan cintanya dan meluluhlantakkan kepercayaan yang diberikannya selama ini.

Gadis bernama Eunhye ini bukanlah gadis biasa. Ia tidak seperti gadis pada umumnya yang mungkin hanya bisa menangis meraung-raung dan mengurung diri di kamar berhari-hari ketika memiliki masalah asmara. Namun, diperlakukan begitu buruk oleh orang yang pernah sangat dicintainya tak urung membuatnya terpuruk juga. Air matanya meleleh diantara buih yang menyelimuti setiap inci bagian tubuhnya. Eunhye sebenarnya sangat benci harus mengeluarkan air mata untuk pria pengecut itu, namun ia tak kuasa juga menahan pedih di hatinya. Perlahan gadis itu menyeka pipinya, menghapus tetesan air mata terakhirnya seraya berjanji di dalam hati untuk tidak lagi menangisi Lee Hyukjae, si ‘pria sialan’ itu.

Bangkit dari bathtub, Eunhye masuk ke bilik kaca untuk membilas sisa sabun yang melekat di tubuhnya. Setelah itu, ia meraih handuknya yang terselampir di hanger yang ia letakkan tak jauh dari wastafel. Ia melilitkan handuk itu ke tubuhnya seraya menyeret kakinya kembali ke kamar. Eunhye kini merasakan tubuhnya lebih segar dari sebelumnya, tentu saja itu pasti efek dari sabun aromatherapy yang dipakainya untuk berendam tadi. Gadis itu lalu beranjak menuju lemari pakaiannya yang besar. Ia mengambil pakaian sekenanya, sebuah kaus oblong dan celana piyama kedodoran. Ia memang tak berniat kemana-mana hari itu, ia hanya ingin menghabiskan waktunya dengan dirinya sendiri. Tidak, sampai ia mendapati ada sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya.

 

From: Monkey

Eunhye ah, mianhae… Aku tahu mungkin kini kau sangat membenciku, tapi setidaknya dengarkanlah dulu penjelasanku, baru kau putuskan apa yang akan kau lakukan padaku. Kutunggu kau di café Heaven pukul 10. Aku akan terus menunggu sampai kau datang.

Eunhye menghempaskan ponselnya ke tempat tidurnya. Sungguh ia tidak ingin menghiraukan SMS dari Lee Hyukjae itu. Namun sebagian dirinya yang lain memberi bisikan padanya agar ia menemui pria itu sehingga ia bisa tahu alasan sebenarnya mengapa sampai pria itu memperlakukannya seperti ini.

Jam dinding di kamar Eunhye telah menunjukkan pukul 11 lebih 15 menit. Sudah lewat 1 jam lebih 15 menit dari waktu yang Hyukjae tentukan. Eunhye masih belum berniat untuk menemui pria itu, meski sejatinya sangat ingin melakukannya. Hati kecilnya terus saja merengek padanya agar ia mau menemui Hyukjae yang sudah sedang menunggunya itu. Eunhye jengah, hingga akhirnya ia menyerah dan mengalah pada permohonan yang dibuat oleh hati kecilnya yang sungguh manja itu.

—0O0—

“Permisi, Tuan…apakah anda sudah siap memesan sesuatu sekarang?” Suara waiter café Heaven di depannya seketika menyadarkan Hyukjae dari lamunan. Ada jeda sebelum akhirnya ia menjawab “Tidak, belum…aku masih menunggu temanku…tolong berikan saja aku segelas air putih lagi. Terima kasih ya…” sahutnya ramah.

Lalu pelayan itu beranjak meninggalkan Hyukjae sendirian. Ia meneguk air dari gelas ke lima yang telah dihabiskannya sebelum kemudian kembali terpekur dalam kegelisahan mendalam. Pria itu sangat khawatir jika Eunhye benar-benar menghukumnya dengan tidak akan pernah muncul di café ini. Sebab, dua jam lebih sudah berlalu dari pukul 10 dan hingga kini Hyukjae belum menangkap kehadiran Eunhye disini. Pria itu duduk di kursinya dengan gelisah sambil terus menerus melihat ke arah jam tangannya.

Sejurus kemudian, retina matanya menangkap bayang sosok gadis yang sangat dikenalnya dari booth tempatnya duduk sejak hampir 3 jam lalu. Gadis itu tak lain adalah Eunhye. Ia mematung di atas kakinya, tampak ragu apakah ia benar-benar harus memasuki area café berkonsep alam terbuka itu atau tidak. Tanpa membuang waktu, Hyukjae bergegas menghampiri gadis itu. Hampir saja Eunhye membalikkan tubuhnya urung menemui Hyukjae disana jika saja tangan pria itu tidak dengan tangkas meraih lengan Eunhye tepat waktu. Gadis itu terperanjat mendapati lengannya diraih dengan cepat begitu. Ia pun terlihat agak terkejut melihat sebentuk wajah yang diliputi perasaan bersalah yang ada di hadapannya kini. Hatinya kebat-kebit, karena biar bagaimanapun juga, jauh di lubuk hati terdalamnya ia masih sangat mencintai pria itu, bahkan hingga detik ini.

“Eunhye ah, mari ikut aku…kita harus membicarakan ini, kumohon…” pinta Hyukjae. Eunhye masih membisu tanpa ekspresi, namun ia membiarkan pria itu membimbing langkahnya menuju booth. Selama beberapa saat, keduanya masih saling diam tanpa ada yang berniat memulai percakapan. Hyukjae tampak ragu dan sangat berhati-hati untuk memulai pembicaraan ini, melihat raut wajah dingin yang ditampakkan Eunhye semenjak menjejakkan kakinya di halaman café tadi.

“Aku…” ucap Hyukjae menggantung kata-katanya, ragu. Ia kembali menunduk di kursinya, sambil menyusun kembali kata-kata yang hendak disampaikannya pada gadis itu. Sementara yang diajak bicara tak memberi perhatian sedikitpun, malah melepaskan pandangannya ke sekitar café.

“Jeongmal mianhaeyo, Eunhye ah… Demi Tuhan, ini tidak seperti yang kau pikirkan,” kata Hyukjae pada akhirnya. Mendengar ucapan yang terlontar dari bibir pria itu membuat gadis itu menoleh untuk merespon “Tidak seperti yang kupikirkan bagaimana maksudmu? Semua yang kulihat sore itu sudah cukup menjelaskan segalanya, Hyukjae ah!” jawab Eunhye agak kesal.

“Aniya…tidak, bukan seperti itu… Sore itu aku memang pergi berdua dengan seorang gadis, tapi ia bukan siapa-siapa melainkan sepupu jauhku yang baru saja pulang dari Jerman,” kata Hyukjae menjelaskan. Eunhye hanya mendengus sinis. Gadis itu tak percaya dengan apa yang diucapkan Hyukjae. Jelas-jelas saat itu ia melihat Hyukjae dan gadis yang dikatakannya sebagai sepupunya itu berjalan memasuki salah satu butik pakaian wanita di Hyundai Department Store dengan begitu mesranya. Sore itu, secara kebetulan Eunhye sedang berada di mal yang sama ketika ia baru saja akan pulang setelah membeli beberapa kosmetik yang ia perlukan.

“Lalu, mengapa hari itu kau tidak memberitahuku jika kau memang berencana untuk pergi dengan sepupumu?” tuntut Eunhye penuh dominasi. Hyukjae sendiri nampak kikuk mendengar pertanyaan gadis itu.

“Itu karena… Aku… Aku ingin memberi kejutan untukmu, Eunhye ah…” sahut Hyukjae terbata-bata.

Apa katanya? Kejutan? Memberiku kejutan dengan berselingkuh di belakangku, begitu? Eunhye berseru dalam hati, namun pada Hyukjae ia berkata, “Mwo? Kejutan? Baguslah kalau begitu, kau memang sudah berhasil membuatku terkejut atas kelakuanmu itu. Jadi, sepertinya sudah tidak ada lagi yang perlu kudengar, kan? Dan kuulangi sekali lagi, hubungan kita berakhir sampai disini!” cerocos Eunhye penuh emosi sambil bersiap bangkit dari kursinya. Namun, belum lagi Eunhye membalikkan tubuhnya untuk meninggalkan tempat itu, tangan Hyukjae sudah terjulur menahan lengan gadis itu. “Kajima…jebal, kajima…” pintanya dengan wajah memelas. Eunhye membuang pandangannya ke arah lain, ia tak ingin hatinya goyah. Gadis itu tahu jika ia memandang wajah memelas Hyukjae lebih lama lagi, ia pasti sudah akan mengubah pikirannya dan dengan mudah memaafkan pria itu. Sementara itu, Hyukjae masih tetap berada pada posisinya, tak bergeming. Pria itu nampak sangat frustasi dengan respon dingin yang diberikan Eunhye atas penjelasan dan permohonan maafnya.

Setelah cukup lama mematung di tempatnya, Eunhye akhirnya melirik ke arah pria disampingnya yang masih saja menunjukkan tampang putus asa tanda penyesalannya itu. Gadis itu akhirnya bersuara, “Lepaskan tanganmu dariku…”

Hyukjae lalu melepaskan tangannya dari lengan Eunhye lalu ia menengadahkan kepalanya, mencoba menatap gadis itu lekat-lekat untuk mencari maaf dari sorot mata gadis itu. Eunhye menarik napas sejenak lalu menghembuskannya perlahan sebelum ia mulai bicara lagi.

“Kupikir dengan hubungan yang telah kita jalin selama ini kau sudah memahami sifat dan tabiatku. Bukankah kau tahu aku sangat membenci segala bentuk kebohongan, sekecil dan seremeh apapun itu. Kau tahu itu, kan?!!” ucap Eunhye ketus.

Hyukjae hanya bisa menunduk untuk menunjukkan betapa dalam penyesalannya atas semua ini. Ia sepenuhnya sadar bahwa ini semua, kesalahpahaman ini, adalah kesalahannya yang dengan begitu cerobohnya melukai kepercayaan yang selama ini diberikan Eunhye kepadanya. Saat ini, yang ia ingin lakukan adalah menyampaikan pada gadis itu apa yang telah ia rencanakan sebenarnya. To show her what the truth is.

“Ne, arrayo…tapi peristiwa kemarin itu sungguh di luar kendaliku, Eunhye. Sesaat setelah aku menjemputnya, Hyewon sepupuku itu memintaku untuk menemaninya membeli beberapa pakaian. Aku sempat menolaknya, tapi ia terus saja memaksa, jadilah aku menuruti keinginannya,” jawab Hyukjae memberi penjelasan serinci mungkin.

“Geundae, kenapa kau tak menghubungiku saat itu? Sepertinya aku bukan lagi prioritasmu sehingga menghubungiku untuk sekadar memberi tahu dimana dan bersama siapa kau saat itu menjadi sangat sulit bagimu, benarkah begitu? sahut Eunhye dengan nada penuh tuduhan sekaligus sedih.

Hyukjae menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajahnya. Pria itu nampak lebih putus asa dari sebelumnya. Ia mulai kehabisan kata-kata untuk membela diri karena memang semua ini adalah kebodohannya. “Tidak, bukan begitu. Sungguh, tak pernah sekalipun aku bermaksud untuk mengabaikanmu, Eunhye. Percayalah padaku. Jebal,” sahutnya penuh rasa sesal.

Dari tempat duduknya, Hyukjae bisa melihat perubahan raut wajah Eunhye yang saat ini mulai terlihat lebih lunak. Sepertinya gadis itu kini sudah mulai mencerna segala ucapannya dengan hatinya yang sebenarnya sangat lembut.

“Aku tak tahu harus berkata apa lagi untuk menunjukkan kesungguhanku dan untuk meyakinkanmu bahwa aku tidak berbohong padamu dan aku benar-benar menyesali perbuatanku tempo hari itu. Aku tidak ingin kita berakhir hanya karena kesalahpahaman ini. Kumohon, Eunhye…aku masih sangat mencintaimu dan akan selalu begitu.” Hyukjae melanjutkan kata-katanya dengan penuh kesungguhan. Mendengar itu, hati Eunhye mau tak mau luluh juga karenanya. Ia memandangi Hyukjae dengan mata berkaca-kaca. “Begitukah? Benarkah semua yang kau katakan itu, Hyukjae ah?” Hyukjae hanya mengangguk lalu menatap intens mata gadis itu seraya mengulas senyum lega. “Kemari, biar kutunjukkan kejutan apa yang sudah kupersiapkan untukmu.”

Pria itu kemudian mengeluarkan dompetnya untuk mengambil uang tip lalu menaruhnya di atas meja, setelah itu tangannya menggenggam jemari Eunhye seraya membimbing langkah gadis itu menuju ke mobilnya yang terpakir di halaman depan café itu. “Masuklah…” katanya setelah membukakan pintu mobil untuk gadis itu.

Setelah keduanya berada di dalam mobil, Hyukjae mengambil sesuatu dari jok belakang mobilnya. Sebuah kotak. Lalu pria itu mengulurkannya pada Eunhye. “Ini untukmu. Bukalah,” ucapnya sambil tersenyum tulus. Eunhye menerimanya dengan agak ragu. Lalu ia melepaskan kertas pembungkus kotak itu.Ia sempat agak tercekat setelah melihat apa isi kotak itu. Disana, di dalam kotak itu, ia melihat sepasang sepatu yang sangat cantik. Sepatu itu adalah salah satu seri limited edition keluaran Marc Jacobs untuk musim semi lalu.

Aku sudah lama ingin membelikan sesuatu untukmu, hanya saja aku takut kau tidak suka dengan pilihan benda pilihanku maka aku meminta pendapat Hyewon saat menemaninya berbelanja sore itu. Kupikir selera kalian tidak terlalu berbeda jauh, jadi aku setuju saja saat ia memilihkan sepatu ini,” jelas Hyukjae tanpa diminta. Sementara gadis di hadapannya masih menatap benda cantik di hadapannya itu dengan tatapan tak percaya, karena Hyukjae baru saja menghadiahinya sepasang sepatu yang telah lama diidamkannya.

“Ya, Hyukjae ah…tega sekali kau melakukan ini padaku hanya demi untuk memberiku sepasang sepatu?” rengek Eunhye sembari mencubiti lengan pria itu karena kesal sekaligus salah tingkah karena sempat menuduh yang tidak-tidak pada pria yang jelas-jelas sangat menyayanginya itu. Hyukjae hanya tersenyum saat mendengar kata-kata gadis yang sangat ia sayangi itu. Pria itu lega karena akhirnya kesalahpahaman diantara mereka telah berakhir manis.

“Jadi, kau masih ingin kita putus?” goda Hyukjae pada Eunhye. Gadis itu membalas pertanyaan kekasih-yang-hampir-saja-benar-benar-diputuskan nya itu dengan sebuah pelukan erat di pinggang pria itu. “Kurasa, kau sudah tahu apa jawabanku…” jawabnya ringan seraya memamerkan senyuman termanisnya kepada pria itu.

 

—–00O00—–

4 thoughts on “[FF Freelance] The Truth (Oneshot)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s