[FF Freelance] My Lovely Noona (Part 2)

MY LOVELY NOONA (PART 2)

Author: Summer

Title: My Lovely Noona

Main cast:

  • EXO-K’s Byun Baekhyun
  • SNSD’s Kim Taeyeon

Support cast:

  • EXO-K’s Oh Sehun
  • SNSD’s Tiffany Hwang

Rating: PG-13

Genre: Romance, Friendship, and School Life

Length: Chapter

Disclaimer: Terinspirasi dari beberapa novel dan film

Poster by BabyJung

Previous part: Prolog, Part 1

Warning Typo !

Anyyeong readers ! Sesuai janji saya, saya  akan ngepost ff ini lebih panjang. Ada sekitar 3600 word di ff ini. Dan saya mencoba memasukkan cerita yang ada Tiffany dan Chaenyeol. Padahal pada awalnya, ga ada niatan untuk nulis part tentang mereka. Tapi ada seorang reader yang usul dan minta untuk diadakan. Jadi maaf kalau bagiannya Chaenyeol Tiffany masih sangat sedikit dan parah sekali.

Saya minta maaf kalau ff saya semakin abal-abal. Komen, kritik, dan saran dari para reader sangat berarti untuk saya. Dan saya menerima komen melalui twitter @kumalakartika. Bagi para reader yang follow saya, pasti saya follback.  Dan saya ga tahu akan ngepost part 3 nya kapan. Kalau saya sempet mungkin minggu ini juga, kalau nggak  ya mungkin minggu depan. Karena saya harus siap-siap untuk piknik hari Senin besok. So, happy reading !

DON’T BE A PLAGIATOR !

DON’T BASHING PLEASE !

Taeyeon berjalan cepat menuju ke parkiran, dimana sepedanya ia taruh. Langkah Taeyeon terhenti ketika ia menemukan hal ganjil di tempat parkiran sepedanya.

            Ada dua sepeda putih yang sama persis terparkir bersebelahan disana.

            “Oh Sial ! Byun Baekhyun kubunuh kau !”

                                                **********************

Sementara itu disaat yang bersamaan, Baekhyun merasa telinganya tiba-tiba berdenging, lalu dengingan itu hilang secara tiba-tiba juga.

“Awww !” jerit Baekhyun kesakitan.

Chaenyel menoleh, “Kau kenapa ? Kau sakit ?”

“Entahlah, tiba-tiba telingaku berdenging”

“Mungkin ada orang yang sedang membicarakanmu”

“Oh, jangan bilang kau percaya pada mitos-mitos tak jelas seperti itu”, erang Baekhyun.

Sementara itu Chaenyeol hanya mengangkat bahunya sekilas dan kembali menekuni PSP nya.

Untung saja, hanya Taeyeon seorang yang berada di parkiran,sehingga tak ada yang merasa terganggu dengan teriakan Taeyeon.

Taeyeon berusaha untuk mencari perbedaan diantara kedua sepeda tersebut. Namun hasilnya nihil ! Kedua sepeda itu tampak serupa dihadapan Taeyeon.

Gosh! Apa yang harus aku lakukan ?, erang Taeyeon sambil mengacak-acak rambutnya frustasi. Taeyeon harus mencari orang yang bertanggung jawab atas masalah ini. Dan orang yang bertanggung jawab atas hal ini adalah, Byun-Baekhyun !

“Sudah satu jam berlalu, tapi mengapa ia tak keluar juga ?, desah Taeyeon kesal karena lelah menunggu. Tanpa sadar Taeyeon mengetuk-etuk kakinya ke tanah , itu adalah kebiasaannya ketika ia sedang berdiri .

“Noona !”

Taeyeon menoleh mencari sumber suara tersebut. Dan sumber suara tersebut berasal dari orang yang ditunggu Taeyeon dari tadi. Akhirnya ia datang juga, desah Taeyeon lega.

Baekhyun yang sedari tadi ditunggu oleh Taeyeon, bergegas mendekat. “Tak biasanya noona menungguku”, ujar Baekhyun takjub dengan perubahan sikap Taeyeon.

Taeyeon menyentil kepala Baekhyun dengan jarinya. “Jangan sembarangan bicara, aku tak mungkin menunggumu kalau tak ada masalah yang harus diselesaikan”, cibir Taeyeon.

“Memangnya ada masalah apa?”, ujar Baekhyun sambil mengusap-usap kepalanya yang disentil oleh Taeyeon.

“Lihat !” ujar Taeyeon sambil menunjuk kedua sepeda yang ia permasalahkan. “Aku tak bisa pulang, karena tak tahu yang mana sepedaku”.

“Oh itu”, ujar Baekhyun sambil mengangguk mengerti. “Mudah saja membedakannya”, ujar Baekhyun sambil mendekati kedua sepeda tersebut.

“Punyaku yang ini”, jawab Baekhyun dengan yakin sambil menunjuk sepeda yang terletak di sebelah kiri sepeda satunya.

“Dariman kau tahu ?, tanya Taeyeon sangsi dengan jawaban Baekhyun.

“Punyaku masih baru, karena aku baru saja membelinya agar serupa denganmu. Dan perasaanku mengatakan ini adalah sepedaku “

“Kenapa kau begitu yakin dengan perasaamu ?”

Baekhyun menoleh, “bukankah perasaan adalah hal yang paling jujur di dunia ini ?”

Taeyeon mengerjapkan matanya. Untuk beberap saat Baekhyun tampak terlihat dewasa di matanya.

“Uh-oh, kalau begitu aku pulang dulu”, ujar Taeyeon sambil mengambil sepeda yang menurut Baekhyun adalah miliknya.

“Aku akan pulang bersama noona”, sahut Baekhyun sambil cepat-cepat mengambil sepedanya.

“Aku tak mau !” , jawab Taeyeon ketus.

“Terlanjur”, ujar Baekhyun sambil menyeringai lebar.

Taeyeon memutar bola matanya, Oh sudahlah !

*******************

“Taeyeon !”

Taeyeon menolehkan kepalanya menuju asal sumber suara tersebut. Ternyata Luna yang memenggilnya. Dengan berlari, Luna menghampiri Taeyeon yang berdiri di koridor kampus.

“Ada apa ?”, tanya Taeyeon setelah Luna mendekat.

Luna memegang dadanya sejenak untuk mengatur nafas. “Kau ditunggu Profesor Lee di Ruang Musik sekarang. “

“Ruang Musik ? Sekarang ?”

Luna mengangguk cepat, meyakinkan Taeyeon.

“Baiklah”, ujar Taeyeon sambil memasukkan map yang tadi ia pegang kedalam tas. “Gomawo Luna”

“Okey” ujar Luna sambil mengedipkan sebelah matanya, berlagak imut. “Aku pulang dulu, kalau begitu”, ujar Luna sambil beranjak pergi.

Taeyeon pun juga ikut beranjak pergi menuju ke Ruang Musik yang  terletak di lantai 2, Faskultas Seni. Profesor Lee mencariku ?, ajaib sekali, gumam Taeyeon dalam hati. Ah sudahlah !

**************************

“Ahh, akhirnya datang juga Taeyeon”, ujar Profesor Lee ketika melihat Taeyeon membungkuk padanya dan segera mencari tempat duduk.

“Baiklah, karena semuanya sudah lengkap, saya akan memulai pertemuan kita ini”, ucap Profesor Lee sambil menepuk tangan semangat.

Taeyeon menoleh ke samping kanan dan kirinya, mencari tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi disini. Dia merasa tolol, karena tak menanyakan pada Luna kenapa ia dipanggil oleh Profesor Lee. Taeyeon melihat ada sekitar sepuluh orang yang berkumpul disini. Dan dari semuanya, hanya Seohyun, mahasiswa kedokteran yang ia kenal.

“Noona”, bisik seseorang dari belakang.

Taeyeon menolehkan kepalanya dan ia sangat terkejut begitu melihat Baekhyun yang sedang tersenyum lebar padanya. Ini benar-benar gila ! Kenapa diamanapun aku berada selalu ada bocah sialan itu !”, rutuk Taeyeon tak mengerti. Taeyeon tak mau ambil pusing dengan kehadiran Baekhyun dan mencoba fokus dengan Profesor Lee yang sedang berbicara.

“Saya, mengumpulkan kalian disini, untuk mencari vokal solo yang akan ditampilkan dalam pentas Thaksgiving dua minggu lagi.

Sontak, hampir semua orang manggut-manggut mengerti. Ternyata banyak yang berkumpul disitu dan tak tahu alasan kenapa mereka dipanggil ke Ruang Musik.

“Sebelumnya, saya akan memeperkenalkan seorang mahasiswa yang akan menjadi pengiring kalian dalam menyanyi”. Profesor Lee menolehkan kepalanya dan berkata, “Miss Amanda, perkenalkan dirimu”.

Gadis yang dipanggil Miss Amanda oleh Profesor Lee itu, berdiri dari kursinya dan membungkuk memperkenalkan diri.

“Annyeonghaseyo, chonun, Jung Amanda imnida. Banggaeutsimnida. “

Amanda kembali duduk, dan menata kembali map berisi lembaran partitur yang terbuka dihadapannya.

“Kalau begitu kita mulai saja, yang saya panggil silahkan maju ke depan”.

Secara tak langsung semua orang langsung merubah cara duduk mereka dan menerka-nerka siapakah yang akan dipanggil duluan.

“Hwang Seul Byul !”

Seorang laki-laki, dengan rambut berwarna hitam pekat maju perlahan mendekati Profesor Lee.

“Miss Jung akan memainkan intro lagu ini, dan kau nyanyikanlah sesuai not nya”, ucap Profesor Lee sambil menyerahkan selembar partitur .

Laki-laki itu tampak gugup menerima kertas partitur itu. Ia memandang Pianist yang akan mengiringinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Tapi sayangnya pianist itu tak memandangnya dan sibuk dengan partiturnya sendiri.

Dan tak lama dentingan tuts-tuts piano mengalun indah, memenuhi ruangan. Semua orang menatap was-was ketika dentingan piano mulai berhenti.

How can I just let you walk away
Just let you leave without a trace

…………

Dan selebihnya, Taeyeon tak lagi berniat untuk mendengar laki laki yang bermarga Hwang itu bernyanyi. Taeyeon menilai, bahwa banyak sekali nada-nada yang fals, saat laki-laki itu bernyanyi. Dan fals adalah kesalahan fatal bagi para penyanyi.

Mungkin kalian menilai bahwa Taeyeon sombong dan sok mengerti tentang musik. Tapi jangan salah, Taeyeon adalah anak yang hidup dari keluarga musisi. Almarhum Eomma Taeyeon adalah seorang penyanyi terkenal pada jamannya. Almarhum Kakek Taeyeon adalah seorang pengarang lagu dan pemain biola terkemuka. Hal itu ternyata diturunkan pada Paman Taeyeon yang juga seorang pemain biola.

Setelah laki-laki itu selesai bernyanyi, Taeyeon hanya memberikan tepuk tangan pelan. Sekedar memberikan sikap sopan, tak lebih. Taeyeon menyangga pipinya dengan sebelah tangan, bosan menunggu.

“Selanjutnya, Kim Taeyeon !”

Taeyeon tergagap, dan hampir saja ia jatuh dari kursinya. Taeyeon menaruh tasnya di kursi dan maju ke depan dengan tenang. Baekhyun langsung mengubah cara duduknya begitu melihat Teyeon maju ke depan. Persetan dengan penampilan peserta lain. Yang terpenting adalah penampilan Taeyeon, noona kesayangannya.

Profesor Lee menyerahkan partitur yang sama dan memberi kode pada Taeyeon dan  sang pianis untuk memulainya. Taeyeon membaca sebentar not-not dari partitur itu dan mencoba memahaminya. Tak lama dentingan piano mulai mengalun, sama indahnya dengan alunan pertama.

Taeyeon mengambil nafas dalam dan menghembuskan perlahan. Dentingan piano mulai melambat dan akhirnya berhenti.

How can I just let you walk away

 

Just let you leave without a trace

 

Beberapa orang yang awalnya duduk dengan tatapan bosan, mulai memandang Taeyeon begitu mendengar ia bernyanyi. Semua mulai menilai Taeyeon bahwa perempuan ini memang berbakat dalam bernyanyi. Pitch controlnya, ketepatan nada, kecepatan tempo, semuanya sempurna !

When I stand here taking every breath with you

 

You’re the only one who really knew me at all

Kini Baekhyun tak dapat mengalihkan pandangannya dari Taeyeon. Taeyeon menyanyi dengan sangat indah. Suaranya mengalun lembut namun enak di dengar. Dan meski Taeyeon tak bernyanyi pun, Baekhyun juga tak dapat mengalihkan pandangannya dari Taeyeon.

So take a look at me now
‘Cause there’s just an empty space

 

Kini semua orang tak hanya memandang Taeyeon, beberapa bahkan ikut menyanyi dan menepuk tangannya. Semua menikmati lantunan suara Taeyeon.

            So Take a look at me now . . .

Dan Taeyeon mengakhiri lagu Againts All Odds-nya dengan sempurna dan indah. Spontan, Baekhyun langsung berdiri dan memberikan tepuk tangannya yang paling keras. Dan itu tak luput dari pandangan Taeyeon. “Cih, kampungan sekali !”, desisnya pelan, sangat pelan malah. Orang-orang tak ada yang menyalahkan Baekhyun yang bertepuk tangan sangat meriah, semuanya mengakui bahwa Taeyeon punya bakat untuk menjadi seorang penyanyi yang hebat.

Profesor Lee tersenyum bangga dengan penampilan Taeyeon. “Bagus sekali, Taeyeon !”, pujinya dengan senyum yang merekah.

“Kamshahamnida”, ujar Taeyeon rendah hati dan membungkuk sopan, lalu kembali ke bangkunya dengan senyum kecil menghias bibirnya.

“Noona, kau keren sekali”, puji Baekhyun sambil mengacungkan dua ibu jarinya pada Taeyeon.

Taeyeon yang saat ini suasana hatinya sedang baik, memberikan senyumnya pada Baekhyun sambil menggerakkan bibirnya tanpa suara berkata ‘Gomawo’.

“Byun Baekhyun !”, panggil Profesor Lee.

Baekhyun terkejut dengan panggilan tiba-tiba tersebut. “Saya Profesor ?” tanya Baekhyun sambil menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya.

“Tentu saja, siapa lagi yang bernama Byun Baekhyun di ruangan ini ?”, sahut Profesor Lee gemas dengan kelambatan Baekhyun dalam merespon. Sedangkan Taeyeon hanya melirik Baekhyun sekilas.

“Uh, okey”, ujar Baekhyun sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Baekhyun maju ke depan dan menerima partitur dari Profesor Lee yang menggelengkan-nggelengkan kepalanya heran.

Baekhyun memandang sebentar partitur itu dan mengangguk pada Amanda , sang pianis, menandakan bahwa ia sudah siap. Tak lama jari-jari dengan lincah bergerak memainkan tuts-tuts piano.

Taeyeon melipat tangannya dan membuang muka bersikap seolah-olah tak peduli dengan penampilan Baekhyun. Padahal sudut matanya selalu memandang Baekhyun. Dan Taeyeon sangat enggan untuk mengakui itu.

Baekhyun memulai nyanyiannya, ketika jari-jari Amanda berhenti memainkan tuts piano. Suara bass Baekhyun mengawali lagu tersebut dengan sangat lembut.

Tanpa sadar, Taeyeon memandang Baekhyun dengan seksama. Suara Baekhyun seakan menarik semua orang dari kesibukannya dan memaksa mereka memandang Baekhyun tanpa mereka sadari, tak terkecuali Taeyeon.

So take a look at me now
‘Cause there’s just an empty space

Taeyeon tahu, ada beberapa nada Baekhyun yang meleset. Tapi entah kenapa cara Baekhyun bernyanyi seolah menutupi semua kekurangannya tersebut. Ekspresi Baekhyun ikut menceritakan lagu tersebut dengan sangat sempurna. Seolah Baekhyun benar-benar merasakan kehilangan orang yang ia sayangi. Seolah Baekhyunlah yang berada dalam lagu tersebut.

There’s nothing left here to remind me

 

Just the memory of your face

Dan tanpa sadar, Taeyeon ikut larut dalam lagu tersebut dan ikut menyanyikan lagu tanpa suara. Taeyeon benar-benar tersihir dengan aura Baekhyun yang memenuhi hati semua orang.

Dan ketika Baekhyun selesai menyanyikan lagu, semua orang, termasuk Taeyeon masih terdiam, seolah enggan keluar dari lamunan mereka. Baekhyun membungkuk memberi hormat dan mengerutkan keningnya bingung dengan orang-orang yang terdiam saat ia menyanyi. Baekhyun kembali ke bangkunya dengan sedih, mengira semua orang tak menyukai suaranya.

Dan ketika Baekhyun kembali ke kursinya, Taeyeon menengok ke belakang dan memandang dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada tatapan bangga, heran, namun juga cemburu dalam tatapan Taeyeon.

********************

And you comin’ back to me

 

Is against all odds, It’s the chance I’ve gotta take . . .

Taeyeon kembali memutar lagu itu untuk yang ketiga kalinya. Hari ini ipod dan headset putihnya tak pernah lepas dari tangan Taeyeon. Ada hal yang mengganggu fikirannya.

Taeyeon memjamkan matanya, mencoba menyelami cerita dibalik lagu tersebut. Ada hal yang berbeda saat Taeyeon mendengar Mariah Carey menyanyikan lagu itu. Ada kesakitan yang ia rasakan.

Taeyeon menyentuh tombol stop dan melepaskan headset dari telinganya. Dilemparnya ipod dan headset itu dengan kasar ke kasur kecilnya.

Taeyeon memandangi pantulan dirinya di cermin rias panjang di kamarnya. Ia mengambil nafas sejenak dan mulai menyanyikan lagu yang sama saat ia audisi. Taeyeon menyanyi sambil mengamati ekspresinya yang terpantul melalui cermin. Taeyeon menyanyikannya masih sesempurna biasanya, namun lagu itu terasa hambar, seolah-olah ceritanya tiba-tiba menghilang.

Taeyeon tiba-tiba berhenti bernyanyi. Dan berteriak histeris, “Apa yang salah ?”. Ia melemparkan kotak tisunya dan mengenai lapisan cermin tersebut. Ia beranjak dari tempatnya berdiri dan melemparkan bantal yang bisa ia raih dan melemparkannya ke dinding. “Aku bisa gila kalau seperti ini terus”, erang Taeyeon frustasi.

Ia harus mencari jawabannya. Jawaban dari rasa penasarannya. Harus !

*********************

Tiffany mengambil blackberry yang sekarang berkedip-kedip, karena ada panggilan masuk.

“Halo ”, ujar Tiffany sambil menempelkan blackberry nya di telinga sebelah kiri.

“ . . . . . “

“Ada apa kau menelponku ?”

“. . . . “

“Kau gila ?!, Ini jam dua siang bodoh !”

“. . . . . “

“Aku tak akan kesana, titik !”, Tiffany menghela napas sebentar. Ia frustasi dengan orang yang menelponnya sekarang. “Lagipula, kenapa aku harus menuruti permintaanmu ?”

“. . . . “

“Tunggu !, benarkah ? Kau tak berbohong kan ?”

“ . . . . “

“Baiklah, aku akan kesana. Kalau sampai kau berbohong, akan kucakar wajahmu yang menyebalkan itu !”

“. . . . “

“Bye !”. Tiffany mengunci kembali blackberry nya dan menaruhnya dalam tas. Ia mengambil botol air putihnya dan meneguknya sambil berdiri. Ia harus terlihat segar, karena ia akan bertemu orang penting disana.

*********************

“Taeyeon !”

Taeyeon menoleh dan melihat bahwa Profesor Lee lah yang memanggilnya. Taeyeon berjalan mendekat, “Profesor memanggil saya ?”

Profesor Lee mengangguk cepat, “Jam berapa jadwalmu hari ini selesai ?”

Tanpa berfikir Taeyeon langsung menjawab, “Jadwal saya selesai jam 3 sore, Profesor”.

Profesor Lee manggut-manggut mengerti. “Setelah jadwalmu selesai, datanglah ke ruang musik untuk latihan.”

Taeyeon menaikkan alisnya tak mengerti, “latihan ?”

“Iya. Kau terpilih sebagai vokal solo yang akan tampil untuk Thanksgiving dua minggu lagi “.

Bola mata Taeyeon melebar, terkejut senang. “Baiklah, saya akan datang Profesor”

Profesor Lee mengangguk dan kembali sibuk melihat tumpukan kertasnya yang sudah tak beraturan. “Kau boleh pergi sekarang”.

“Kalau begitu saya pamit pergi”, ucapnya sambil membungkuk memberi hormat. Taeyeon keluar dari dalam kelas dan berjalan keluar sambil tersenyum senang dan berniat merayakannya dengan membeli Sandwich daging panggang kesukaannya.

“Oh, aku harus memberitahu Tiffany !” , serunya sambil mengambil iphone putihnya dan mengetikkan pesan dengan cepat.

*******************

Tiffany berjalan menuju ke bangku penonton dan melihat Baekhyun yang sedang merebut bola dengan temannya. Tiffany mengipas-ngipaskan tangannya, suasana begitu panas dan Baekhyun dengan tega memaksanya datang.

Baekhyun menoleh dan melambaikan tangannya pada Tiffany, akhirnya orang yang ia tunggu datang juga. Baekhyun tak sadar, bahwa temannya sekarang memanfaatkannya yang sedang tak fokus dan merebut bolanya dengan cepat.

“Hap !”

Baekhyun yang baru sadar bolanya sudah tak lagi berada di tangannya, menoleh dan melihat bola itu sekarang meluncur masuk ke dalam ring.

“5-4. Kau kalah, sekarang ayo kembalikan game PS 3 ku yang kemarin kau ambil”. Ujar teman Baekhyun sambil mengulurkan tangannya.

“Shit ! Kau curang ! Kau tahu kan aku sedang melambaikan tangan pada  seseorang”, sungut Baekhyun sebal.

“Tak ada peraturan, bahwa kalau kau melambaikan tangan, permainan harus berhenti. Sekarang mana game ku ?”

Baekhyun berbalik mengambil tasnya dan berkata pada Tiffany untuk menunggunya sebentar.

“Bawa pulang game kesayanganmu itu !”, ujar Baekhyun sambil meneyerahkan kaset game yang dimaksud pada temannya itu.

Teman Baekhyun terkekeh pelan. Ia menaruh kaset gamenya di tas, dan melihat Tiffany yang sekarang sedang duduk di bangku penonton. “Siapa dia ?”, tanyanya sambil menunjuk Tiffany.

Baekhyun mengikuti arah pandang temannya itu, “Ohh. Itu Tiffany”.

Teman Baekhyun menaikkan alisnya heran, darimana Baekhyun kenal dengan perempuan bernama Tiffany itu ? Aneh.

“Tiffany !”, panggil Baekhyun dengan suara keras.

Tiffany yang mendengar namanya dipanggil, berdiri dan bertanya pada Baekhyun tanpa suara.  Baekhyun tak menjawab, hanya menyuruhnya mendekat. Tiffany mendesah, ia mengambil tas coklatnya dan berjalan menghampiri Baekhyun.

“Ada apa ?”, tanyaTiffany sambil mendekat. Ia memicingkan matanya, berusaha mengetahui laki-laki disebelah Baekhyun yang sekarang sedang mengelap wajahnya dengan handuk  memunggunginya.

“Kenalkan ia temanku”, ujar Baekhyun sambil menyuruh temannya berbalik untuk berkenalan dengan Tiffany.

Tiffany manggut-manggut. Ia mengulurkan tangannya untuk berkenalan. “Tiffany. Hwang Tiffany”.

Teman Baekhyun berbalik, “Chaenyeol. Park Chaenyeol”, ujarnya sambil membalas uluran tangan Tiffany.

Bola mata Tiffany membesar. Ternyata Baekhyun tak berbohong. Ia tak menyangka bahwa yang sekarang berdiri di hadapannya adalah Park Chaenyeol, pemain basket yang ia sukai. “Senang berkenalan denganmu”, cicit Tiffany pelan. Jantungnya sekarang berdebar kencang. Saking kencangnya ia sampai merasakan sakit di dadanya.

Baekhyun hampir saja meledakkan tawanya, kalau saja ia tak menutup mulutnya. Ia benar-benar heran dengan sikap Tiffany yang angkuh, tiba-tiba langsung berubah hanya dengan bersalaman dengan si Chaenyeol.

“Ehem “

Tiffany dan Chenyeol langsung melepaskan jabat tangan mereka dan memandang Baekhyun. Baekhyun tersenyum lebar ketika melihat Tiffany yang sekarang menatapnya tajam seolah-olah berkata, ‘kau mau mati ya ?’.

“Aku mau menaruh bola basket dulu di gudang”, ujar Chaenyeol sambil membawa dua buah bola basket dengan kedua tangannya.

Baekhyun mengangguk dan  mengambil botol minumya. Ia berkata pada Tiffany, “Kau tak bertanya, kenapa aku memintamu kesini ?”.

Tiffany menepuk keningnya pelan. Gara-gara bersalaman dengan Chaenyeol, ia jadi lupa tujuannya kesini. “Jadi, ada apa ?”

Baekhyun meneguk air minumnya sebelum menjawab pertanyaan Tiffany. “Minggu depan, ada pertandingan street basketball di lapangan belakang kampus.”

“Lalu ?”ujar Tiffany sambil meiringkan kepalanya, bingung.

“Aku ingin kau mengajak Taeyeon noona untuk ikut menonton”, ujar Baekhyun menjelaskan.

“Oh-okey”, kata Tiffany sambil mengacungkan ibu jarinya. “Apakah Chaenyeol juga ikut ?”

Baekhyun tetawa terbahak-bahak. “Kau benar-benar menyukainya ya ?”

“Apakah begitu kelihatan ?”

“Sangat. Aku bahkan sampai geli kalau mengingatnya”, goda Baekhyun pada Tiffany.

“Dasar menyebalkan !”, seru Tiffany sambil memukul Baekhyun dengan dua tangannya. Ia benci digoda oleh Baekhyun. Kalau sampai Chaenyeol tahu, bisa malau dia nanti.

“Oh ya satu lagi, bisakah kau memberiku nomor handphone Taeyeon noona ?”, tanya Baekhyun sambil mengusap-usap bahunya yang sakit dipukul Tiffany.

“Kenapa aku harus memberimu ?”, sungut Tiffany yang masih kesal.

“Karena kalau tidak, aku tak mau memberikan nomer si Chaenyeol bodoh itu padamu”, ancam Baekhyun.

Tiffany memutar bola matanya, sebal. “Baiklah, kau menang. Akan kukirim nomernya nanti malam”.

Baekhyun tersenyum manis. “Terimkasih Tiffany, kau yang terbaik !”

Tiffany bergidik. “Jangan sok imut dihadapanku !”, bentak Tiffany sambil mendorong Baekhyun menjauhinya. Baekhyun  tertawa melihat Tiffany yang sedang marah-marah.

“Apa yang kalian tertawakan ?”, tanya Chaenyeol sambil mendekat.

“Bukan apa-apa”. Ucap Baekhyun dan Tiffany bersamaan.

“Oh ya dimana Sehun ? Bukankah kalian biasanya bertiga ?”, tanya Tiffany berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Entahlah”, jawab Baekhyun sambil menggerakkan bahunya.

“Beberapa hari ini, ia aneh sekali. Sepertinya Ia sedang mengincar seseorang”, ujar Chaenyeol.

“Dasar Playboy ! Bisa-bisanya dia masih mengincar seseorang, padahal dia baru saja punya pacar. “

Tiffany membulatkan matanya bingung dengan ucapan Baekhyun barusan.

***************

“Hyung, siapa dia ?”, tanya Sehun sambil menunjukkan selembar foto pada laki-laki bernama Suho yang ia panggil hyung itu.

Suho menolehkan kepalanya enggan, ia sedang membaca laporan acara Thanksgiving yang akan diadakan dua minggu lagi. “Ohh, dia Kim Taeyeon”.

“Kim Taeyeon ?” Sehun mengerutkan keningnya berusaha mengingat-ingat nama itu. “Kenapa kau menyimpan fotonya ?”

“Dia yang dipilih Profesor Lee untuk solo vokal acara Thanksgiving besok dan fotonya harus ada untuk laporan. Kenapa ? Kau berniat mengincarnya ?”

Sehun tersenyum, “Dia menarik”, ujarnya ambigu.

Suho mendecakkan lidahnya. “Kau benar-benar berbahaya. Aku kasihan dengan Kim Taeyeon, apabila kau benar-benar mengincarnya”.

Sehun menyeringai lebar.

***********************

Dentingan piano mengalun indah membungkus suara Taeyeon yang sedang menyanyikan lagu berjudul Against All Odd tersebut. Amanda, sang pianis menarikan jari-jarinya dengan lincah tanpa cela.

Plok.  Plok.

Suara tepuk tangan Profesor Lee menutup penampilan Taeyeon. “Bagus sekali, Taeyeon !”, ujarnya sambil menepuk bahu Taeyeon, bangga. “Kau juga tak kalah hebat, Amanda”, ujar Profesor Lee yang dibalas senyuman sopan dari Amanda.

“Baiklah Taeyeon kau tak perlu berlatih setiap hari. Kita akan berlatih lagi tiga hari sebelum Thansgiving datang. Dan kau boleh pulang sekarang.” Ujar Profesor Lee sumringah.

Taeyeon memberesi kertas-kertas partiturnya dan memasukkan kedalam tasnya dengan kasar.

“Kau kesal karena belum bisa mengekspresikan lagu itu ?”, ujar Amanda yang sekarang tiba-tiba berada di depan Taeyeon.

“Taeyeon terkejut namun juga heran. Selama bertemu dengan Amanda, ini adalah pertama kalinya Taeyeon mendengar Amanda berbicara. Karena biasanya Amanda lebih banyak diam. Dan yang lebih mengherankan, Amanda bisa menebak dengan tepat pikiran Taeyeon saat ini.

Taeyeon menarik resleting tasnya dan berkata, “Tidak”, ucapnya datar.

Amanda menyeringai lebar, “Terserah kalau kau tak mau mengakuinya. Tapi yang jelas segera selesaikan masalahmu sebelum Thanksgiving dimulai. Karena aku tak mau mengiringi penyanyi yang tak berkompeten”, ujarnya sambil berlalu pergi.

Taeyeon memejamkan matanya untuk menahan amarah. Ia menyesal kenapa ia harus berangkat latihan dan bertemu orang macam Amanda.

Taeyeon menyampirkan tasnya dengan kasar dan berjalan keluar ruangan dengan cepat. Taeyeon menutup pintu ruangan dan betapa terkejutnya ia ketika melihat Baekhyun menunggunya sambil tersenyum lebar.

“Hai “, sapa Baekhyun menghampiri Taeyeon.

“Hai”, balas Taeyeon datar.

“Ini !”, ujar Baekhyun smabil menyerahkan sekaleng cola dingin dan kantong kertas berisi sandwich daging panggang.

“Terimakasih”, ucap Taeyeon sambil membuka colanya dan meneguknya dengan cepat.

Baekhyun tak menjawab dan memandang Taeyeon sebagai gantinya.

“Apa yang kau lakukan disini ?”, tanya Taeyeon sambil melirik Baekhyun.

“Menunggumu selesai latihan. Aku ingin pulang bersamamu”

Taeyeon memutar bola matanya, dan tak berniat membantah. Dia sudah cukup lelah tanpa harus berdebat dengan Baekhyun hari ini. Taeyeon berjalan mendahului Baekhyun, dan mendengar suara langkah Baekhyun yang mengikutinya di belakang.

“Bagaimana latihanmu hari ini ?” tanya Baekhyun yang sekarang berjalan di samping Taeyeon.

“Biasa saja”, ucap Taeyeon sambil menggigit sandwichnya.

“Oh.”

Kini mereka berdua berjalan dalam suasana diam. Tak ada satupun yang mau membuka suara, sampai Tayeon teringat dengan masalahnya.

“Baekhyun”, panggil Taeyeon pelan.

Baekhyun menoleh sambil memasukkan tangannya ke kantong celana, “Apa ?”

Taeyeon menggigit bibir bawahnya, ia bimbang harus bertanya atau tidak pada Baekhyun. “Ehmm, menurutmu, penyanyi yang hebat itu seperti apa ?

Baekhyun menaikkan alisnya heran. “Apa kau mendapatkan masalah saat latihan tadi ?”

“Tidak ! Tentu saja tidak”, ujar Taeyeon buru-buru menyanggah. Baekhyun tersenyum kecil melihat reaksi Taeyeon yang berlebihan. “Aku hanya bertanya saja”, ujar Taeyeon pelan. “Tapi kalau kau tak mau menjawab, ya sudah”, tambah Taeyeon cepat-cepat.

“Aku tak begitu paham dengan musik. Tapi yang kutahu adalah, penyanyi yang hebat tak sekedar menyanyikan lirik lagunya, yang terpenting adalah ia menyampaikan pesan lagu itu pada semua orang”.

Taeyeon mendesah, “Kalau itu aku tahu, tapi yang ku maksud adalah bagaimana caranya ?, sungut Taeyeon.

Ehmmm . . “, Baekhyun berfikir sejenak, “Menyanyilah dengan hatimu”, ujarnya memberikan jawaban.

Langkah Taeyeon terhenti karena jawaban Baekhyun. Matanya melebar dan ia terpatung.

            TBC

66 thoughts on “[FF Freelance] My Lovely Noona (Part 2)

  1. mianhe baru sempet RCL . . . 😦
    salahkan internet yang beberapa hari ini tak bisa diajak kompromi #alibi #buagh

    uhm . . . . makin menarik dari chap satu ke chap yang laen. . . .
    LANJUT . . . . HWAITING ^^! #seperti coment dichap sebelumnya . . . . #males ketik #jduaaagh

    • Bener chingu, author juga setuju keekeke
      Hahaha makasih ya , saya seneng bgt kalau para reader mau baca dan komen ff saya 😀

  2. Suara taeyeon pasti bagus banget tuh thor…apalagi tambah suaranya baekhyun
    Taeyeon aja sampe kayak gtu…lanjut…

  3. mereka cocok bgt gk di ff gk di dunia nyata mereka cocok bangetttttttt
    BaekYeon it`s ok !
    thor buat lgi yg lebih seru aku mendukung mu

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s