Ramen Queen (Ficlet)

 

Ramen Queen by bluemallows

Main Cast: Jang Wooyoung ‘2PM’ & IU || Genre: Romance, Life, Fluff || Rating: PG-13  || Length: Ficlet || Disclaimer: Terinspirasi dari lagu, K-Drama, dan CF yang berhubungan dengan ramen || Credit Poster: erlyRine

 

//

 

Pemilik kedai ramen itu duduk bersembunyi di balik meja kasir kedai ramen Lee. Sorot matanya serius ke arah novel yang baru saja ia pinjam dari perpustakaan umum di dekat rumahnya. Gadis itu menyunggingkan senyum di bibirnya ketika membaca kata-kata manis yang tersusun dengan rapi—selagi menunggu pengunjung yang akan datang.

 

Nyaris semua tetangga menganggap gadis itu sudah tidak waras karena kecelakaan beberapa tahun lalu yang menewaskan kedua orang tuanya. Kedai ramen Lee yang dulunya sudah tidak terawat setelah jatuh di tangan tuan Lee—Ayah Jieun—menjadi semakin kacau balau setelah turun di tangan Lee Jieun.

 

Dan satu hal yang membuat semua orang berpikir Jieun tidak waras karena senyum permanen yang terus menempel di wajahnya yang jelita—ia tidak dapat berhenti melempar senyum. Baiklah, kau boleh menganggap gadis itu tidak waras, tetapi mungkin kau akan berubah pikiran setelah mencoba ramen buatannya.

 

Kita masuk pada masalah utamanya, kedai ramen itu memiliki aura horror yang sangat kental jika dilihat dari luar bangunan. Lampu redup, meja atau kursi yang gempil sudah cukup untuk membuat bulu kuduk beberapa orang berdiri ketika melewatinya.

 

Ah, tapi kau juga harus tau hal ini, Lee Jieun adalah gadis yang sangat luar biasa jika sudah berurusan dengan dawai-dawai gitar. Ia dapat memetik dawai-dawai itu dengan sangat indah, dan bisa dijamin, pasti akan membuat sebagaian orang terhipnotis untuk beberapa saat. Tapi kembali pada masalah tadi, tidak ada yang mendengar permainan gitarnya karena tidak ada yang berani untuk masuk ke dalam kedai reyot itu, kecuali satu orang.

 

Satu orang yang singgah ke dalam kedai ramen itu setiap jam makan malam. Satu-satunya orang yang menjadi pelanggan tetap kedai ramen Lee sejak seminggu lalu.

 

//

 

“Aku pesan,” Ia melirik gitar Jieun di pojok ruangan, “Sama seperti yang kemarin.”

 

Gadis itu menganggukkan kepala dan tersenyum, ia sudah hafal betul apa yang dipesan namja itu kemarin, kemarin, atau kemarinnya lagi—Seporsi ramen lengkap, sedikit merica, dan sedikit potongan ayam.

 

Namja itu duduk di tempat seperti biasanya—di depan meja kasir, persis di samping jendela. Beberapa orang yang lewat di kedai ramen itu pasti menghabiskan waktu beberapa detik untuk menatap pemuda itu dengan terheran-heran. Ternyata masih ada yang mau masuk ke dalam kedai ramen itu—Pikir orang-orang.

 

Hanya beberapa menit berselang, semangkuk ramen dengan uap yang masih mengepul sudah tersedia di hadapan pemuda itu. Tidak ada segaris ekspresi pun yang tergambar pada paras tampan namja dengan balutan kemeja yang rapi dan terlihat pas di badannya.

 

Jieun memasak ramen untuk jatah makan malamnya sendiri, dan melahapnya dengan perlahan. Sesekali ia mencuri-curi pandang pada pemuda yang tampak berusia kurang lebih 20 tahun. Pipinya tambun, dan matanya sipit. Sesekali Jieun menahan tawanya saat menatap pemuda itu.

 

Namun, tidak jarang tatapan mata yang dingin dan tajam dari mata pemuda itu ditujukan pada Jieun. Tatapan mata yang sungguh, sangat tidak bersahabat sama sekali. Meski begitu, api semangatnya berkobar-kobar saat menyeruput kuah ramen masakan Jieun dengan resep rahasia keluarga Lee yang turun temurun.

 

iPhone berwarna hitam yang diletakkan di samping mangkuk ramen pemuda itu bergetar beberapa kali. Satu panggilan masuk. Dengan malas tangan besar pria itu menurunkan sumpit dan mengangkat ponselnya itu.

“Ada apa?!”

“…”

Spontan perhatian Jieun tersita pada pria itu. Wajahnya merah padam, jelas-jelas ia marah. Dengan seseorang di ujung telepon. Penekanan di setiap suku kata terdengar amat jelas.

“Sudah kuberi tahu kan? Jangan hubungi aku jika kau masih ingin membuat masalah!”

“…”

Ia membanting pelan ponselnya, dan melanjutkan menyeduh kuah ramen hingga tandas. Sesekali ia mendesah panjang dengan lirih. Beberapa menit kemudian ia bangkit dan meletakkan beberapa lembar uang pada meja kasir dan pergi berlalu begitu saja.

//

Dia telah lupa bagaimana caranya tersenyum. Setelah sekian minggu, pemuda berusia dua puluh tiga itu tidak pernah mengangkat kedua sudut bibirnya. Sekali pun tidak pernah.

Lain dengan dia yang lainnya, dia yang selalu tersenyum sepanjang waktu. Meski masa depannya tidak terjamin, tapi paling tidak ia masih bisa bekerja, membaca buku, atau memetik dawai-dawai gitar. Dalam lubuk hatinya, gadis itu tersenyum bukan karena semuanya baik-baik saja, namun karena ia tersenyum, semuanya menjadi baik-baik saja.

Bola mata Jieun mengerling ke arah jam dinding yang jarumnya terus berputar, detik demi detik berlalu. Benar jika kau sedang menunggu seseorang, waktu akan terasa lama. 18.57, berarti tiga menit lagi pemuda dengan kemeja itu pasti akan datang.

Tiga, dua, satu. Pukul tujuh malam tepat, tak lebih dan tak juga kurang. Gadis itu menahan senyum, seluruh sorot matanya tercurah pada pintu masuk dari kayu yang sudah sedikit dimakan oleh rayap. Dan akhirnya dia datang.

Jantung gadis itu berdetak melebihi batas normal, ia tak lagi dapa menyembunyikan senyumnya. Pemuda itu memandang Jieun dengan tatapan sinis, “Aku pesan, seperti kemarin.”

Gadis itu mengangguk dan segera meracik bumbu-bumbu rahasia ramen pesanan pemuda dengan perawakan yang cukup ideal itu. Jieun menyuguhkan mangkuk itu dengan senyum terbaiknya pada pria itu.

Tangan Jieun merengkuh gitarnya dan memeluknya. Perlahan buunyi dawai-dawai gitar yang bergetar memenuhi ruangan kecil itu. Perhatian pemuda itu tiba-tiba terpusat pada gitar berwarna coklat kekuning-kuningan, dan juga yang memainkan gitar itu.

Beberapa detik berselang, lagi-lagi ponsel milik pemuda itu bergetar, Jieun segera berhenti memetik senar gitar, “Apa lagi?!”

“…”

“Aku Jang Wooyoung! Bukan Lee Junho!”

“…”

Jieun memandang pemuda itu, dan mulai tersenyum lebar. Ia tau nama namja itu sekarang, Jang Wooyoung. Tetapi nada suara pria itu semakin meninggi, “Cukup! Cukup!” Pekiknya sambil menggebrak meja. Jieun mengerutkan dahinya, dan ia sedikit melorot dari tempat duduknya. Wooyoung menatap Jieun dengan perasaan bersalah.

Tanpa menghabiskan sisa ramennya, Wooyoung meletakkan beberapa lembar won di atas meja Jieun, lalu pergi sambil masih meletakkan ponsel di telinganya.

//

Siang ditelan malam, dan malam ditelan siang. Semuanya tetap sama. Jieun tetap menjadi pemilik kedai ramen Lee, dan Wooyoung tetap menjadi manajer perusahaan ternama. Akan tetapi, sejak kejadian Wooyoung menggebrak salah satu meja di kedai ramen Lee, hingga kini ia belum menampakan batang hidungnya di kedai itu.

Yeoja itu tersenyum samar sambil melihat jam dinding, “Sebentar lagi jam 8.. Pasti dia tidak akan datang,” Gumamnya sambil bangkit berdiri, menuju satu-satunya pintu masuk kedai ramen itu. Tangannya nyaris menyentuh gagang pintu untuk menutupnya. “Tunggu, Jieun-ssi,”

Jemari seseorang menahan tangan Jieun untuk menutup kedai itu, “Boleh, aku masuk?” Tanyanya–Jang Wooyoung. Jieun terpana, mulutnya terbuka sedikit, terkejut ketika Wooyoung memanggil namanya. Rambutnya acak-acakan, dan jasnya tak lagi rapi. Beberapa memar menempel pada sudut bibirnya.

 

Jieun memperbolehkan namja itu masuk sambil duduk di tempat seperti biasanya, lalu mengacak-acak rambutnya sendiri. Ia segera berlari dan mengambil kapas dan obat merah, lalu mengusapkan pada luka-luka di wajah Wooyoung.

 

Gadis itu meletakkan semangkuk ramen di hadapan Wooyoung. Jieun duduk di hadapan Wooyoung yang memakan ramen itu hingga tandas dalam beberapa menit. “Frustasi! Aku Frustasi!” Pekik Wooyoung.

 

“A-Apa yang terjadi?” Tanya Jieun, dengan sedikit gemetar.

 

Wooyoung menatap sekeliling dengan tajam, “Aku selesai berkelahi dengan beberapa orang di kantor, karena mereka duluan yang menyerangku.”

 

Tanpa berkata-kata, tatapan mata Jieun sudah dapat menggambarkan bahwa ia seolah bertanya, Apa yang terjadi hingga kau melakukan itu?

 

“Saat kutagih utangnya, beberapa orang itu malah menyerbuku dan memukulku. Untung saja ada asisten menejerku yang mau menolongku. Habislah aku—jika tidak ada yang menolongku.”

 

Bibir Jieun terkunci rapat, sedangkan Wooyoung menatap dalam manik mata gadis di hadapannya. Ingin rasanya namja itu menembus mata gadis itu, masuk ke dalam otak, lalu menjelajah dalam lubuk hatinya, meski tidak mungkin. Bagaimana ia bisa tersenyum seperti itu, setiap hari?—Pikir Wooyoung.

 

Namja itu mendesah panjang dengan lirih, “A-apa yang kau pikirkan,” Ia melirik ke arah sekelilingnya, “Hingga kau bisa terus tersenyum seperti itu?”

 

Tanpa mengurangi satu millimeter senyumnya, Jieun menjawab, “Kau hanya perlu tertawa,”

 

“Jika kau tertawa, seisi dunia akan tertawa bersamamu. Tapi jika kau sedih? Kau akan sedih sendirian.” Lanjutnya sambil menatap dalam bola mata Wooyoung.

 

Wooyoung terpaku di tempatnya, mencoba mencerna kata-kata Jieun dalam otaknya. “Tapi, hanya karena itu, kau bisa tersenyum setiap saat? Kau tidak takut apa yang akan terjadi besok, lusa, atau minggu depan?”

 

Gadis itu tertawa renyah, “Jika seandainya kau meramalkan bahwa minggu depan kedai ini akan hancur, setidaknya aku akan tetap senang,”

 

Wae?

 

“Karena selagi aku bisa bahagia selama seminggu, aku akan bahagia. Dari pada jika dari sekarang sampai selamanya aku akan bersedih.”

 

Wooyoung mengerutkan dahinya, berusaha berpikir keras. “Jika ingin bahagia, tidak usah berpikir. Tertawa saja, dan kesedihanmu akan menguap,”

 

“Semudah itu?”

 

Jieun mengangguk pelan, ia meletakkan jemarinya pada kedua sudut bibir Wooyoung, dan mengangkatnya perlahan. Membentuk sudut ke atas, sudut yang paling indah di dunia—bagi Jieun. Wooyoung menahan beberapa detik sudut bibirnya terangkat. Jemari Wooyoung memegang tangan Jieun dan tersenyum—setelah sekian lama ia tidak tersenyum.

 

“Maaf jika selama ini aku sering tiba-tiba mengangkat telepon dan berteriak-teriak di kedai ramen ini,” Ucap Wooyoung, penuh penyesalan. “Masalahku dengan pegawai-pegawai di kantorku. Mereka sangat tidak disiplin, dan membuatku emosi.”

 

Gadis itu hanya diam, ia tidak tau harus membalas dengan kata-kata apa, ia merasa kata-katanya tersedot habis oleh sengatan listrik yang berasal dari sentuhan tangan namja di hadapannya.  Tubuhnya tidak bergerak sedikit pun, ia hanya tersenyum-senyum sendiri tidak jelas.

 

Wooyoung tersenyum sambil memandang sekeliling ruangan, “Kedai ini tidak banyak berubah dari beberapa tahun lalu ya,” Gumamnya. Suasana hatinya nampak sudah mulai berangsur berubah.

 

Ne? Kau pernah ke sini sebelumnya?”

 

Ia tertawa, “Tentu saja, saat aku masih kecil aku sering pergi ke sini. Bahkan aku tau namamu, Lee Jieun, kan?”

 

Jieun terpana, ia bahkan baru melihat Wooyoung beberapa pekan terakhir—semenjak namja itu menjadi pelanggan tetap Jieun. “Kau lupa ya? Dulu saat TK, aku sering sekali pergi ke sini, dan bertemu denganmu.” Lee Jieun memutar bola matanya, mencoba mengotak-atik memorinya tentang pria di hadapannya.

 

Tawa renyah dari pria dihadapannya itu pecah. Bak disengat arus listrik, wajahnya tidak lagi menjadi muram, “Kurasa kedai ini perlu di renovasi,”

 

“Untuk apa?”

 

“Ya, supaya kedai ini lebih bagus lagi. Sayang kan, jika penampilan luarnya tidak seenak ramen buatanmu?”

 

Jieun mengulum senyum, ”Kenapa kau mau membantuku?”

 

“Karena aku mencintaimu, sejak pertama kali aku bertemu denganmu.”

 

//

 

Satu pelanggan keluar, dan satu pelanggan lagi masuk. Satu pelanggan keluar, dan satu pelanggan lagi masuk—Begitu seterusnya, perlahan tapi pasti. Kedai Ramen Lee seolah tidak pernah sepi pelanggan lagi sejak dua tahun lalu.  Lampu penerangan yang menarik, kursi dan meja baru, dan tentu saja aroma ramen yang sangat menggoda sudah dapat menarik setiap orang untuk singgah di dalamnya.

 

Sambil terus memandang jam dinding yang nyaris menunjukkan pukul sembilan malam—jam tutup kedai ramen itu—Jieun masih tetap bersemangat untuk melayani satu pengunjung terakhir, mungkin.

 

Gamshahabnida, Jieun-ssi!” Ucap Jiyeon sambil berjalan meninggalkan kedai ramen itu.

 

Jieun tersenyum dan melambaikan tangan pada Jiyeon yang juga melempar senyum terbaiknya. Ia mengambil sapu tangan dan mengusapkan pada wajahnya yang dipenuhi keringat semangat.

 

“Jieun-ah!” Seru seseorang dari luar pintu. Seseorang yang selalu tersenyum sejak kejadian malam itu—dua tahun lalu—Jang Wooyoung. Gadis itu tidak dapat membalas perasaan Wooyoung malam itu, karena ia belum siap—hingga sekarang. Senyuman yang menghangatkan itu dilemparkan untuk Wooyoung yang segera berdiri di hadapan Jieun.

 

“Aku mau pesan-”

 

“Seporsi ramen lengkap, sedikit merica, dan sedikit potongan ayam.” Potong Jieun

 

Wooyoung menggeleng pelan, “Tidak, tidak. Bukan itu.”

 

Dahi Jieun berkerut, “Lalu?”

 

Wooyoung tersenyum—manis sekali, “Boleh kupesan hatimu?” Pipi gadis itu segera menjadi merah layaknya buah tomat.

 

Dan, bibir Wooyoung yang lembab akhirnya mendarat pada bibir gadis yang mulai dewasa itu. Ia tidak mengatakan ‘Ya’ lewat mulut, tapi ia menjawabnya dalam hati, lubuk hati yang paling dalam.

 

Fin.

 

//

 

A/N: Maaf kalau FF ini kacau, konyol, dan aneh. Karena saya dapet ide ini dadakan, dan sempet kena writer’s block di tengah-tengah. Kalau ada yang kurang jelas di fanfiction ini, bisa ditanyain lewat comment 😀

Thanks for reading, ditunggu komentarnya! Don’t be a silent reader!

 

 

 

12 thoughts on “Ramen Queen (Ficlet)

  1. nice story .. apanya yang aneh thor 😀 aku suka, malah kesengsem sendiri pas baca.. kalimat2nya mengalir dengan romantis.. aku suka cara author menggambarkan kedua tokoh ini.. ah so sweet da pokoknya.. wooyoong main ngaku aja kalo suka sama jieun sejak kecil *itu part yang paling kusuka, entah kenapa 🙂 .. kekeke love milky couple ^^

  2. Uwaaaa milky couple~~! DAEBAKK! Senyum terus kayak Ji Eun jga pas baca nih ff >.<
    So Sweet~ XD suka, suka, suka judulnya jg menarik XD
    Good job 'n keep writing chingu 🙂

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s