[FF Freelance] My Lovely Noona (Part 3)

MY LOVELY NOONA (PART 3)

Author: Summer

Title: My Lovely Noona

Main cast:

  • EXO-K’s Byun Baekhyun
  • SNSD’s Kim Taeyeon

Support cast:

  • EXO-K’s Oh Sehun
  • SNSD’s Tiffany Hwang

Rating: PG-13

Genre: Romance, Friendship, and School Life

Length: Chapter

Disclaimer: Terinspirasi dari beberapa novel dan film

Poster by BabyJung

Previous part: Prolog, Part 1, Part 2

Warning Typo !

Anyyeong readers ! Akhirnya saya ngepost My Lovely Noona yang part 3. Alasannya karna saya mau piknik dan ga mau ngegantungin reader dengan hanya ngepost sampai part 2. Saya mau minta maaf dengan ke abal-abalan saya dalam menulis part 2. Gara-gara saya pergi, saya jadi agak lupa sama ceritanya, dan itu bikin feelnya kurang dapet. Dan moga-moga part 3 yang saya post ini, ga se abal-abal kemarin.  Buat para reader yang bingung kok, Sehun sama Baekhyun belum ada konfliknya sih ? Santai aja, konfliknya udah siap di part 4, saya terpaksa ngasih di part 4, karna kalau digabungin dengan part 3, ff ini jadi kepanjangan banget. So, bagi para reader dimohon untuk sabar menunggu part 4 nya. Saya akan ngepost part 4, mungkin minggu depan. Pokoknya setelah saya selesai piknik. Kekekeke 😀

Komen, kritik, usul, dan saran tetap saya nantikan. Boleh di komen langsung di ff saya atau di twitter saya @kumalakartika. Bagi yang follow saya pasti saya follback. Tapi tolong mention, biar saya tahu kalau reader udah follow saya. Dan nanti ada paragraph yang isinya kalau lagu home-Michael Buble itu ada iringan saxophone, padahal sebenarnya enggak. Itu cuman tambahan. Tapi saya tetep cinta Dave Koz dan Michael Buble, hohoho. Dan untuk semua ke abal-abalan saya, saya minta maaf yang sebesar-besarnya.

Sekian.

DON’T BE A PLAGIATOR !

DON’T BASHING PLEASE !

 

Taeyeon mendesah, “Kalau itu aku tahu, tapi yang ku maksud adalah bagaimana caranya ?, sungut Taeyeon.

            “Ehmmm . . “, Baekhyun berfikir sejenak, “Menyanyilah dengan hatimu”, ujarnya memberikan jawaban.

            Langkah Taeyeon terhenti karena jawaban Baekhyun. Matanya melebar dan ia terpatung.

*********************************

Taeyeon membawa bukunya dengan mata kosong. Fikirannya masih melayang di sore kemarin saat Baekhyun memberikan jawaban atas semua keresahan Taeyeon saat ini.

Menyanyilah dengan hatimu.

           

Menyanyilah dengan hatimu.

Entah kenapa kata-kata Baekhyun waktu itu seperti mantra yang memepengaruhi fikiran Taeyeon. Kini Taeyeon sadar, bahwa Baekhyun tidaklah seperti yang ia fikirkan. Baekhyun punya fikiran yang unik dan berbeda. Ia mampu melihat masalah dari sudut pandang yang Taeyeon tak bisa lihat.

Bukk.

Taeyeon terjungkal ke lantai dan mengaduh kesakitan. Tangannya mengusap-usap pantatnya yang harus puas mencium lantai. Tayeon sampai lupa untuk mengetahui siapa yang menabraknya. Buku-buku yang ia pegang pun jatuh berserakan.

“Mian, aku benar-benar tak sengaja”, ujar orang yang menabrak Taeyeon.

Taeyeon mengibaskan tangannya tanpa memandang orang yang menabraknya. Taeyeon mencoba bangkit berdiri, namun tubuhnya masih shock dan enggan untuk mematuhi perintah Taeyeon.

“Butuh bantuan ?”, ujar orang itu sambil mengulurkan tangannya pada Taeyeon.

“Taeyeon menerima uluran tangan itu dan mendongak. Sontak, Taeyeon merasakan sesuatu yang aneh. Ia seperti pernah merasa bertemu dengan orang yang menolongnya saat ini.

Orang yang menolong Taeyeon mengangkatnya dengan sekali sentakan, dan itu membuat Taeyeon hampir saja terjatuh lagi. Taeyeon merapikan kemeja yang kusut dan ikut membantu Sehun yang sudah duluan merapikan bukunya yang terjatuh.

“Khamsahamnida”, ujar Taeyeon sambil membungkuk cepat.

“Kenalkan, namaku Oh Sehun”, kata Sehun sambil mengulurkan tangannya pada Taeyeon.

Taeyeon mengerutkan keningnya, Oh Sehun ? Dimana ia pernah mendengar nama itu ? Rasanya ia familiar dengan laki-laki bernama Oh Sehun tersebut. Samar-samar, Taeyeon teringat dengan percakapannya bersama Tiffany sebulan yang lalu.

Flashback

            “Ini foto siapa ?”, tanya Taeyeon saat melihat beberapa foto yang ditempel Tiffany di dinding kamarnya.

            Tiffany berhenti dari kegiatannya memakai eyeliner dan berjalan menghampiri Taeyeon, mencari tahu apa yang dimaksud olehnya.

            “Oh. Itu, Chaenyeol, Kris, Luhan, Sehun, Suho, Kai, Lay, Minho, Onew, dan Baekhyun”, jawab Tiffany sambil menyebut nama orang yang berada di foto tersebut satu perstu.

            “Siapa mereka ? Aku tak mengenal satupun nama yang kau sebutkan tadi”, tanya Taeyeon sambil mengerutkan keningnya bingung.

            “Oh My Gosh Taeyeon-ah !”, erang Tiffany frustasi. “Kau benar-benar tak tahu siapa mereka ?”

            Taeyeon menggelangkan kepalanya sebagai jawaban.

            Tiffany menarik nafas dalam, berusaha sabar dalam menghadapi kecuekkan Taeyeon dengan lingkungan sekitar. “They are The Most Eligible Bachelor in our collage !”

            “Oh . .”, jawab Taeyeon sambil mengangguk paham.Walau dalam hati ia heran darimana Tiffany bisa tahu hal seperti itu. Dan ia baru saja ingat, kalau Tiffany dekat dengan Jessica yang notabene-nya adalah ketua redaksi majalah kampus. Pasti Jessica yang memberi tahu Tiffany, tebak Taeyeon dalam hati.

            Tiffany meninggalkan Taeyeon yang masih sibuk dengan dirinya sendiri dan berjalan menuju meja riasnya untuk menyelesaikan kembali riasannya yang sempat terganggu.

            “Lalu kenapa kau menyimpan foto-foto mereka ?”, tanya Taeyeon sambil mendekati Tiffany yang sedang memulas bulu matanya dengan maskara

            “Karena mereka semua tampan”.

            “Hanya karena mereka tampan, kau menyimpan fotonya?!” ujar Taeyeon tak percaya.

            Tiffany menolehkan kepalnya dan memandang Taeyeon dengan tatapan tak percaya,“Oh Taeyeon mereka tak hanya tampan, tapi mereka SA-NGAT-TAM-PAN !” erang Tiffany sambil memberi penekanan.

            Taeyeon memutar bola matanya mendengar alasan tak logis Tiffany.”Dan aku yakin, kau pasti mendapatkan foto itu dari Sulli, iya kan ?”, tebak Taeyeon.

            “Tentu saja! Siapa lagi kalau bukan dia ? Dia kan papparazi idola kampus”.

Taeyeon menggeleng-gelengkan kepalanya heran dengan ulah aneh para mahasisiwi termasuk Tiffany. Ia kembali berjalan mendekati dinding kamar Tiffany dan memandang foto-foto itu  dengan seksama.

            “Yah, mungkin kau benar, mereka semua memang tampan”, gumam Taeyeon pelan.

            Flashback End

            Dan sekarang Taeyeon ingat. Dimana ia pernah melihat dan mendengar nama Oh Sehun. Pantas, Taeyeon merasa familiar dengan nama tersebut. Dan sekarang untuk pertama kalinya ia melihat Oh Sehun secara langsung.

Taeyeon memandang Sehun dan menilai penampilannya. Yah, Taeyeon tak bisa menyalahkan Tiffany yang begitu tergila-gila dengan Sehun. Uh, siapa yang tak akan terpesona dengannya. Perwarakan yang tinggi tegap nan atletis, disempurnakan dengan wajah yang dingin namun menggoda iman, dan belum lagi kedua bola matanya yang sewarna pohon mahoni seakan menyelami pikiran tiap orang yang memandangnya.

Taeyeon bisa membayangkan betapa histerisnya Tiffany, jika ia tadi mau ikut bersamanya.

“Ngomong-omong, siapa namamu ?”, tanya Sehun yang tangannya masih terulur dan belum dijabat oleh Taeyeon.

Taeyeon berpikir cepat. Haruskah ia memberitahukan namanya kepada orang Sehun ini ? Ia tak suka dengan orang asing.

“Siapa namamu ?”, tanya Sehun sekali lagi.

“Ehm, Taeyeon. Kim Taeyeon.” Taeyeon memeluk bukunya di dada dan menunggu Sehun yang tak kunjung menyerahkan bukunya.

“Kau mau pergi kemana ?”, tanya Sehun.

“Perpustakaan”, ujar Taeyeon pendek.

“Kubantu kau membawanya”, sahut Sehun mengambil separuh dari buku yang dibawa Taeyeon.

“Tak usah, aku bisa membawanya sendiri.”, larang Taeyeon sambil mencoba mengambil buku yang dibawa Sehun. “Terimakasih atas tawaranmu”.

“Kalau kau tak mau, buku ini tetap akan kubawa ”, ujar Sehun sambil mengedip nakal dan  berjalan cepat di depan Taeyeon.

Taeyeon menggerutu kesal. Ia benci dengan orang asing yang sok kenal dan sok dekat. Ia bisa melakukannya sendiri dan tak butuh bantuan Sehun.

Taeyeon berniat untuk bergegas pergi setelah mengembalikan bukunya di perpustakaan. Tapi sepertinya Tuhan berkehandak lain. Taeyeon melewati Sehun yang menunggunya di depan perpustakaan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Apa kau tak berencana untuk mengatakan terimakasih pada ku ?”.

Taeyeon berhenti dan berbalik menghadap Sehun. “Aku tak pernah memintamu untuk menolongku. Itu adalah kemauanmu sendiri. “

“Attitude mu buruk sekali “, keluh Sehun.

“Terserah”.

“Karna aku sudah tak ada urusan denganmu, aku pergi dulu”, ujar Taeyeon sambil membungkuk cepat.

Tapi sebelum Taeyeon pergi, Sehun lebih cepat menahan tangan Taeyeon.

“Mau pergi makan siang bersamaku ?”

******************************

Taeyeon memandang sekeliling ruangan restoran yang menjual berbagai makanan Eropa ini . Entah bagaimana, Taeyeon yang biasanya sulit untuk dekat dengan orang asing, bisa dengan mudah menerima ajakan Sehun untuk makan siang bersama.

Ah sudahlah ! Sudah terlanjur. Aku tak mungkin pergi. Lagipula aku bisa menghemat uang makan siangku. Aku juga tak akan bertemu dengannya lagi’ ujar Taeyeon dalam hati

Taeyeon memotong daging steaknya dengan susah payah. Entah dagingnya yang keras atau memang karna pisaunya yang tak tajam. “Dagingnya benar-benar mencari masalah denganku !”, sungut Taeyeon sambil meletakkan pisau dan garpunya, menyerah.

“Mau kubantu memotong dagingnya ?”, ucap Sehun yang langsung mengambil alih pisau dan garpu Taeyeon.

Taeyeon memandang Sehun dengan tatapan aneh. Ia sekarang sadar kenapa banyak gadis yang tergila-gila dengan Sehun. Dia tampan, atletis, dan juga gentleman. Jackpot !

“Nah makanlah”, ucap Sehun sambil menyerahkan kembali pisau dan garpu Taeyeon.

“Kau seharusnya tak perlu melakukan itu.”, ujar Taeyeon datar.

Sehun mengerutkan keningnya. Dari sekian banyak wanita yang berhasil ia kencani, baru kali ini ada yang tak terpesona dengan attitude nya. Menarik. Sekaligus menyebalkan.

“Tapi bagaimanapun, terimakasih.”

“Aku jadi canggung kalau kau memakai bahasa formal, biasa saja,  kita kan teman.”

Taeyeon menaikkan sebelah alisnya, satu lagi point untuk Oh Sehun, dia orang yang TER-LA-LU MU-DAH bergaul . Dan orang seperti itu terkadang berbahaya.

“Kau aneh”.

“Aku ? Kenapa ?”, tanya Sehun sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Aku adalah orang asing bagimu, dan kau adalah orang asing bagiku. Tapi dengan mudah kau mengatakan kita ini teman. Bagaimana kalau sendainya salah satu dari kita adalah orang jahat. Who knows ?”

Sehun mengulum senyum. Satu lagi perbedaan Taeyeon dengan gadis lainnya. Dia gadis yang tangguh dan sepertinya sedikit sulit untuk ditlakukkan.

“Aku tak tahu kau orang jahat atau tidak. Tapi seandainya, aku adalah orang jahat, aku tak mungkin mentraktirmu makan siang, bukan ?”

Taeyeon mengangkat bahunya. Ia tak peduli.

Jadi, kenapa tadi kau membawa buku begitu banyak ? kau tak mungkin meminjam itu semua kan ?”, tanya Sehun sambil menggulung spaghetinya dengan garpu.

“Tentu saja tidak .”

“Lalu ?”

“Profesor Kim sedang berupaya membunuhku pelan-pelan”, jawab Taeyeon datar. Ia menusuk-nusuk daging steaknya dengan garpu. Sepertinya Taeyeon benar-benar berharap bahwa yang ia tusuk adalah Profesor Kim.

“Hey, Hey ! Jangan kau tusuk-tusuk terus dagingnya. Bisa-bisa kau dianggap psikopat oleh orang-orang”

Taeyeon hanya menyeringai lebar mendengarnya.

“Memang apa yang kau lakukan, hingga Profesor Kim sebegitunya padamu ?, tanya Sehun penasaran.

Taeyeon meneguk jus jeruknya, dan kembali melanjutkan makannya. “Bukan masalah besar, aku hanya tertidur di kelasnya dan lupa mengerjakan tugas yang ia berikan sebelumnya”.

“Mwo ?! Kau berani berbuat itu di kelas Profesor Kim ?”, tanya Sehun tak percaya. Ia bahkan sampai menghentikan makannya.

Taeyeon mengangguk sambil mengunyah dagingnya, “memangnya kenapa ?

“Kau benar-benar gila Taeyeon-ah. Di kelasku bahkan tak ada yang berani melawannya. Tapi kau ? Ckckckc”.

“Benarkah ?”, ucap Taeyeon sedikit antusias.

“Kau benar-benar hebat, Taeyeon-ah !”

Taeyeon hanya tersenyum mendengarnya.

****************************

Tiffany memegang ujung roknya erat. Ia masih bisa melihat Chenyeol yang berjalan disampingnya. Uh, Tiffany tak yakin, apa ia bisa pulang selamat malam ini. Bisa-bisa ia harus masuk rumah sakit, karena jantungnya berdetak terlalu cepat.

Ia jadi teringat sesuatu, jika bukan karna Baekhyun,  mungkin ia tak akan pulang dengan Chaenyeol hari ini. Ia tadi datang menemui Baekhyun yang sedang berada di kantin, dan Baekhyun dengan sangat bijaksana meminta Chaenyeol untuk menemani Tiffany pulang. Tiffany berjanji setelah sampai dirumah nanti, ia akan berterimakasih pada Baekhyun.

“Ngomong-ngomong kau tinggal dimana ?”

Tiffany mendongak dengan tiba-tiba. Ia tak tahu harus menjawab apa. Wajah Chaenyeol seakan mengalihkan semua pikirannya. “Ehmm, a…aku tinggal di kawasan Dongdaemun”, jwab Tiffany gugup.

Chaenyeol tertawa kecil, perempuan disampingnya ini lucu sekali. Ia hanya bertanya dimana rumahnya, dan itu bisa membuat perempuan disebelahnya itu sangat gugup.

Tiffany menundukkan kepalanya. Dia malu sekali. Chaenyeol pasti berpikir dia adalah perempuan yang konyol.

“Kuantarkan kau pulang”.

Tiffany mendongak tak percaya, “Kau mau mengantarkanku pulang ?”

Chaenyeol hanya mengangguk sebagai jawabannya. Ia mengambil kunci mobilnya yang ada di dalam kantong celananya.

“Apakah tidak merepotkan ?”, tanya Tiffany sangsi. Jujur, ia tak mau terlihat memalukan lagi di depan Chaenyeol.

“Tidak. Kebetulan aku berencana untuku membeli sesuatu disitu.”

“Baiklah”, Tiffany memindahkan tasnya dibahu sebelah kanan. Ia mengikuti Chaenyeol yang berjalan ke parkiran mobil yang diperuntukkan bagi para mahasiswa.

Chaenyeol membukakan pintu mobilnya untuk Tiffany. Bukan apa-apa, ia hanya beruasaha bersikap sopan kepada wanita.

Tiffany menolehkan kepalanya, “Gomawoyo, Chaenyeol-ah”, ucapnya dengan senyum yang sangat manis. Bahkan matanya pun ikut tersenyum. Rambutnya yang panjang dan indah, bergerak tertiup angin sore yang lembut.

Chaenyeol menutup pintu mobilnya pelan, dan berjalan menuju kemudinya sambil berupaya menenangkan detak jantungnya. Shit ! She is so beautiful ! Her fucking smile eyes makes me crazy ! Dan ini pertama kalinya bagi Chaenyeol melihat seorang wanita yang tersenyum begitu indah dan menawan.

****************************

Taeyeon membaca buku Angels & Demons nya sambil mendengarkan musik dari i-pod putih kesayangannya. Ia sedang ada di kamarnya sekarang. Dan tak ada tugas yang menantinya, jadi ia bisa santai sambil membaca buku dari pengarang favoritnya, Dan Brown, yang baru saja ia beli beberapa hari yang lalu.

Drrt.Drrt.

Taeyeon memandang i-phone nya yang sekarang bergetar karna ada sms masuk. Ia melepas earphone dan meletakkan bukunya di meja. Siapa yang mengirimiku pesan malam-malam begini ?, kata Taeyeon dalam hati. Ia merangkak ke tempat tidur untuk mengambil i-phone dan membaca sms yang baru saja masuk.

From   : My Lovely Baekhyun

Noona, mian aku besok tak bisa berangkat naik sepeda seperti biasanya. Aku akan naik bus. Bisakah kau datang ke halte di depan supermarket ? Kita bisa berangkat bersama.

~Byun Baekhyun~

Tunggu, bagaimana bisa nomor Baekhyun sialan itu ada di kontak i-phone ku ?, guman Taeyeon bingung. “dan, My Lovely Baekhyun ? Orang bodoh macam apa yang yang berani memberikan nama menjijikan seperti itu ?, erang Taeyeon frustasi. Seandainya Taeyeon tahu siapa yang menyimpan nomor Bekhyun di i-phone nya, ia pasti akan menjambak rambut orang itu sekeras-kerasnya. Kekekekekeke.

Sedangkan Baekhyun yang sekarang ada di kamarnya, berharap-harap cemas dengan balasan Taeyeon.

Drrt. Drrt.

Baekhyun mengambil i-phone hitamnya dan bergegas membaca pesan yang masuk.

From : My Lovely Noona

Tidak ! Aku akan naik sepedaku ! SEN-DIRI-AN !

~Taeyeon~

“Oh tajam sekali kata-katanya”, erang Baekhyun. “Bisakah Noona bersikap manis setidaknya dalam sms ?”

Baekhyun mengetik balasannya dengan cepat. Ia bisa membayangkan reaksi Taeyeon ketika menenerima balasannya nanti. Hohohohohoho.

Disisi lain, meski Taeyeon sebal dengan Baekhyun, tapi mau tak mau ia juga senang. Entah kenapa saat bertengkar dengan Baekhyun, ada sesuatu di dalam dirinya yang ikut melonjak gembira. Dan ia tak tahu apa itu.

Drrt. Drrt.

Taeyeon membuka sms yang masuk dan membacanya sambil mengerutkan kening. Kesal ?

From   : My Lovely Baekhyun.

Baiklah kutunggu noona di depan halte supermarket. Bye 😀

~Baekhyun~

Sekarang Taeyeon mengambil bantal di kasurnya dan melemparnya sekeras yang ia bisa. Issh menyebalkan! Kenapa sih dia itu pemaksa sekali ? Dan satu hal yang sekarang Taeyeon ketahui tentang Baekhyun adalah,  jika Baekhyun sudah memaksakan sesuatu, maka tak seorangpun yang dapat menghentikannya.

Taeyeon mengetik balasanny secepat yang ia bisa dan melemparkan i-phone nya sembarangan. Untung saja , i-phone itu jatuh kembali di kasur. Bagaimana kelau seandainya jatuh ke lantai ? Oh Taeyeon, kau itu ceroboh sekali !

Drrt. Drrt.

Byun Baekhyun menaikkan alisnya, heran. Ternyata noona-nya itu masih mau membalas sms nya.

From : My Lovely Noona

Terserah ! -_-

~Taeyeon~

“Hahahahahahaha”, sekarang Baekhyun tak dapat menyembunyikan lagi tawanya. Dia bahkan sampai memegangi perutnya yang sekarang terasa sakit. Dia bisa merasakan betapa kesalnya saat ini. Baiklah dia tak akan membalas. Ia ingin Taeyeon penasaran. Hahahahaha.

Baekhyun masih tertawa walau tak sekeras tadi. Ia menyukai segala sesuatu yang ada pada Taeyeon, termasuk sikap Taeyeon yang dingin dan sedikit menyebalkan. Tapi itulah daya tarik dari seorang Taeyeon. Baekhyun beranjak dari kursinya dan mengambil gitar cokelat yang tersandar di dinding. Ia memetik senar gitar sambil menyanyikan lagu ciptaannya sendiri yang ia buat khusus untuk Taeyeon.

*************************

Taeyeon mengaduk-aduk serealnya tanpa selera. Ia sedang tak berminat untuk sarapan dengan sesuatu yang membosankan.

“Dear, sepertinya kau harus naik bus hari ini”, ujar Ayah Taeyeon sambil meletakkan gelasnya yang berisi jus jeruk.

Taeyeon menghentikkan adukannya dan mendongak, “kenapa aku harus naik bus ? Aku bisa naik sepedaku, Dad”.

“Maaf, sayang, tapi hari ini sepertinya kau tak bisa naik sepedamu”, kata Ayahnya dengan ekspresi meminta maaf.

Taeyeon memandang ayahnya sambil seolah-olah berkata, ‘kenapa?’

“Atasan Daddy menyuruh semua pegawainnya untuk naik sepeda hari ini.”

“Oh Dad, please aku tak mau naik bus !”, erang Taeyeon kesal.

“Just today dear, setelah itu kau boleh naik sepedamu lagi.”

“Tak bisakah, daddy mengantarkanku dengan mobil ?”, pinta Taeyeon setelah selesai meminum susu hangatnya.

“Sory Taeyeon”, ucap Ayahnya menyesal.

Oh Sial ! Kenapa pagi-pagi aku harus berurusan dengan masalah seperti ini ? Ia benci berdesak-desakkan dalam bus. Dan lagi ia pasti bertemu dengan Baekhyun sialan itu ! Oh Gosh !

Taeyeon tak punya solusi kali ini. Ia tak mungkin meminta Tiffany menjemputnya. Rumah mereka berbeda arah dan jaraknya jauh sekali.

“Baiklah, aku akan naik bus”, ucap Taeyeon mengalah. Ia menaruh mangkuk yang masih berisi separuh sereal ke tempat cuci piring. Taeyeon mendengar suara gelegar petir di luar, satu lagi masalah bertambah, hujan. Taeyeon benci hujan.

“Thank’s my dear, and have a nice day”, pinta Ayahnya sambil menerima kecupan Taeyeon di pipinya.

Taeyeon hanya manggut-manggut mengiyakan. Ia sedang mengenakan duffle hoodie nya berwarna cokelat muda dan mengambil tasnya.

“Jangan lupa bawa payung dan sepatu bootmu, hujan deras sekali”.

Taeyeon menepuk keningnya dan bergegas mengambil payung dan sepatu bootnya di rak paling belakang. Pantas ia merasa ada sesuatu yang ia lupakan, namun ia tak bisa menemukan apa itu. Ternyata payung !

Taeyeon memakai sepatu boot cokelat tua miliknya dan menaruh sepatu kets-nya di didalam tas.

“Bye dad”, pamit Taeyeon yang dibalas lambaian tangan oleh ayahnya.

Taeyeon menutup pintu putih rumahnya pelan. “Oh dingin sekali !”, desis Taeyeon sambil menghentak-hentakkan kakinya, berharap dingin dapat berkurang. Ia merapatkan duffle hoodienya dan mempercepat langkahnya. Ia ingin segera ada di dalam bus yang hangat dan nyaman dan jika sempat, ia ingin membeli segelas capuchino panas di supermarket.

Taeyeon semakin dekat dengan halte. Ia bisa melihat Baekhyun yang sedang menunggu bus dari sebrang jalan. 1, 2, 3 , . .

“Taeyeon Noona !”

Benar kan ! Taeyeon meniup poninya kesal. Oh, kenapa rasanya semua orang ingin aku berangkat dengan bocah itu ? Bahkan Daddy juga, gumam Taeyeon sebal.

Taeyeon mendekat sambil menggosok-gosok tangannya, berharap tubuhnya akan menghangat.

“Noona kedinginan ?”, tanya Baekhyun ketika Taeyeon sampai di halte

Taeyeon hanya mengangguk cepat sebagai balasannya. Ia tak mau menggerakkan bibirnya, karena itu hanya akan membuat tubuhnya semakin bertambah dingin. Taeyeon mengutuk bulan Oktober kali ini yang terasa sangat dingin dan suram, karena berhari-hari hujan turun dengan derasnya.

“Tunggu disini, dan jangan kemana-mana”, ujar Baekhyun sambil melesat entah pergi kemana.

Taeyeon duduk di bangku halte, sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Oh, seharusnya tadi ia bawa sarung tangan. Dia tak tahu bahwa hujan hari ini akan begitu kejam.

“Ini minumlah”, ucap Baekhyun yang tiba- tiba sudah kembali  dan  menyerahkan segelas capuchino pada Taeyeon.

Taeyeon memegang gelas Capuchino-nya yang terasa hangat di jemarinya. Nyaman. Dengan pelan ia meminum capuchino-nya dan merasakan cairan panas berwarna cokelat itu mengalir cepat di kerongkongannya. Sekarang ia merasa bisa bernafas kembali.

“Gomawo”, ucap Taeyeon pada Baekhyun yang sekarang duduk di sebelahnya sambil meneguk sesuatu yang mengebul mengeluarkan asap,  dari gelas yang bentuknya sama dengan Taeyeon.

Baekhyun tak menjawab, ia masih sibuk dengan minumannya. Dan itu membuat Taeyeon memandang Baekhyun dengan seksama. Ia baru menyadari bahwa Baekhyun itu sebenarnya tampan.

Rambutnya yang berwarna cokelat tua tampak berkilauan terkena air hujan. Kulit putihnya yang memerah karena dingin, tertutup sempurna oleh celana jeans panjang berwarna biru tua dan  sweater tebal tangan panjang yang hari ini serasi sekali dengan duffle hoodie Taeyeon.

Ia tak kalah tampan dengan Sehun. Bahkan mungkin lebih tampan. Ia punya pesona. Taeyeon secara tak sadar bergumam seperti itu dalam hatinya. Hohoho Taeyeon, kau bahkan mengakui bahwa Baekhyun itu tampan.

Baekhyun menoleh dan melihat Taeyeon yang sedang memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan. “Noona kenapa?”

Taeyeon tersadar dari pikirannya. Ia memejamkan matanya untuk menyadarkan dirinya kembali. Ia merasa sangat bodoh, tak seharusnya ia mengagumi Baekhyun yang sangat ia benci.

“Kau sakit ?”, ujar Baekhyun yang sekarang menempalkan telapak tangannya di kening Taeyeon.

“Aku baik-baik saja”, sahut Taeyeon sambil melepaskan tangan Baekhyun dari keningnya.

Bessshhhh.

Baekhyun dan Taeyeon sama-sama menoleh dan mendapati bahwa bus berwarna hijau yang mereka tunggu, telah tiba. Taeyeon langsung bangkit  dan meninggalkan Baekhyun yang sedang memakai tasnya.

Taeyeon mengeluarkan dompet birunya dan mengarahkan  T-Money Cardnya di mesin pembaca yang diletakkan di dekat pintu bus. Taeyeon bisa merasakan nafas Baekhyun yang sekarang berdiri di belakangnya menunggu giliran.

Taeyeon menyimpan kembali dompetnya di dalam tas dan berkata, “Aku yang mentraktirmu kali ini, anggap saja ini bayaran capuchino hangat yang kau belikan tadi”.

“Oh baiklah. Terimakasih.” Baekhyun tersenyum senang, setidaknya kali ini ia tak perlu mengeluarkan uang. Ia mengikuti Taeyeon yang duduk sendirian di bangku ketiga dari depan. Baekhyun duduk disebelah Taeyeon dan menaruh tasnya di bawah bangku.

“Apa yang kau lakukan disini ?”, desis Taeyeon pelan.

“Duduk. Apa lagi ?”, jawab Baekhuyun dengan wajah tanpa dosa.

“Ada banyak kursi kosong, dibelakang. Kenapa kau harus duduk disini ?”, erang Taeyeon kesal.

“Kau yang mentraktirku tadi, maka dari itu aku akan mengikutimu kemanapun”.

Taeyeon membuang muka berusaha menahan amarah. Ia menyesal telah mentraktir Baekhyun hari ini. Harusnya ia  tak usah bersikap baik hari ini.

Baekhyun mengambil i-pod merahnya dan mencari-cari dimana playlist yang baru saja ia buat. Ia menekan lagu jazz kesukaanya dan  memakai sebelah earphone-nya, lalu menaruh yang sebelahnya lagi di telinga Taeyeon yang sekarang sedang duduk memunggunginya.

Taeyeon tersentak dengan perilaku Baekhyun. Ia tadi memang kesal dengan Baekhyun dan duduk sambil menghadap jendela. Ia tak mau memandang Baekhyun hari ini. Tapi seperti biasa, Baekhyun selalu punya cara untuk membuat Taeyeon memperhatikan dirinya.

Taeyeon berusaha melepas earphone yang menempel di telinganya, tapi Baekhyun lebih cepat menahan tangan Taeyeon.

“Dengarkan dulu lagunya, kalau kau memang tak suka, kau boleh melepasnya”

Taeyeon terdiam. Ia berusaha menghargai Baekhyun yang sedang berusaha membuatnya tak kembali marah. Taeyeon merubah sikap duduknya dan mencoba menebak lagu apa yang ingin Baekhyun mainkan sekarang.

Tak lama alunan gitar yang bercampur dengan dentingan piano mengawali lagu itu. Taeyeon mendengar suara merdu seorang pria yang menyanyikan lagu tersebut.

Maybe surrounded by a million people I


Still feel all alone, I just wanna go home

Taeyeon memejamkan matanya, menikmati lagu tersebut. Alunan saxophonenya begitu lembut dan menenangkan.Dan lagi, saxophone adalah salah satu alat musik favorinya.  Ia menyukai alat musik itu, saat melihat Dave Koz membawakan lagu Careless Whisper bersama Montell Jordan di televisi.

Taeyeon membuka matanya, dan melihat Baekhyun yang sedang menikmati lagu ini sambil mengetuk-ketuk pembatas bangku mengikuti tempo.

Taeyeon berdeham dan berbicara, “Apa judul lagu ini ?”

Baekhyun menoleh dan melihat Taeyeon yang sekarang memandangnya, “Ini lagu yang dinyanyikan Michael Buble, judulnya Home”. Baekhyun berhenti sejenak dan melihat Taeyeon yang sekarang mengangguk mengerti.

“Kau menyukainya ?”

Taeyeon mengangguk sambil tersenyum, “Lagunya indah dan lembut sekali. Seakan . . “, Taeyeon menggantungkan kalimatnya mencoba mendengarkan isi liriknya, “Ia berada di tempat yang jauh dan rindu untuk pulang. Ada seseorang yang ia rindukan”, ucap Taeyeon dengan nada sayang.

Baekhyun tersenyum mendengan ucapan Taeyeon. Sekarang ia bisa melihat Taeyeon dari sisi yang berbeda. Taeyeon yang biasanya berwajah dingin dan ketus sekarang terlihat lembut dengan senyum yang menawan.

Bus semakin melaju bersama hujan yang mengirinya dan dua orang yang saling memuja di dalamnya.

**************************

Hari ini, cuaca begitu cerah. Tak ada lagi awan mendung yang menghiasi langit sepert beberapa hari kemarin. Yang ada hanya langit bersih yang terkadang diselingi angin musim gugur. Nyaman.

Taeyeon merapikan kaosnya yang terlipat karena tertindih saat ia duduk. Ia mengambil novelnya yang kemarin belum sempat selesai ia baca. Baru saja, ia akan membuka lembar pertama . .

“Taeyeon-ah !”

“Gosh !”, teriak Taeyeon terkejut. Ia menoleh ke belakang dan melihat Tiffany yang sedang berdiri sambil tersenyum tanpa dosa

“Kau sudah tak waras ya ?! Bagaimana kalau aku jantungan ?”

“Tinggal bawa saja ke rumah sakit”, ujar Tiffany enteng. “Lagi pula setahuku kau tak punya riwayat penyakit jantung”, jawab nya sambil terkekeh pelan.

“Ya bawa saja aku ke rumah sakit. Dan setelah itu kupastikan aku akan menjambak rambutmu !”, jawab Taeyeon sarkastik.

“Woy, woy, calm down dear. Just kidding”, kata Tiffany sambil duduk di sebelah Taeyeon.

“Buku apa yang sedang kau baca ?”, tanya Tiffany sambil mengintip isi buku Taeyeon.

“Angel and Demons”, desah Taeyeon merasa terganggu.

Tiffany mengernyitkan keningnya, dengan cepat ia menutup novel Taeyeon dan menyitanya sebelum Taeyeon sempat merebutnya kembali.

“Hyyaa ! Kembalikan buku ku !”, pinta Taeyeon mencoba mengambilnya dari tangan Tiffany.

“Tak akan. Kau sudah cukup terlihat tua tanpa harus membaca buku yang membuat mata pembacanya pusing hanya karna melihat tebal bukunya saja”, ujar Tiffany sambil mengangkat buku itu tinggi-tinggi.

“Itu kan kau !”, sanggah Taeyeon masih berusaha untuk merebutnya. Tapi apa daya, Tiffany bertubuh tinggi sedangkan Taeyeon harus puas dengan tubuh pendeknya dan ia tak mungkin merebut buku itu dari tangan Tiffany.

Tiffany memasukkan buku Taeyeon ke dalam tasnya. “Ayo ikut aku !”, ajak Tiffany sambil berusaha menyeret tangan Taeyeon.

Tapi Taeyeon masih terdiam di tempatnya. “Kita mau kemana ?”. Ia merasa curiga dengan Tiffany.

Tiffany berbalik, “Ke suatu tempat yang seru dan menyenangkan. Pokoknya kau tak akan bertambah tua disana”, jawab Tiffany sambil mengedipkan matanya.

“Aku tak mau”, jawab Taeyeon pendek.

“Oh ayolah, sekali ini saja “, erang Tiffany sambil memohon-mohon layaknya anak kecil yang ingin dibelikan es krim.

“Okey okey”, ujar Taeyeon menyerah. Ia tak tahan melihat Tiffany yang sok melakukan aegyo. Itu menjijikan sekali.

“C’mon. Let’s Go !”, teriak Tiffany bersemangat. Sedangkan Taeyeon hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, malu dengan tingkah Tiffany.

TBC

58 thoughts on “[FF Freelance] My Lovely Noona (Part 3)

  1. Ya ampuuun baekyeon couple sweet abis… Dengerin musik berdua di dalam bus yg diluarnya hujan deras.. So romantic

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s