KyuRin Tale : Missing You is Annoying

Author : Iefabings

Poster by : AltRiseSilver

Cast :

  • Cho Kyuhyun (SJ)
  • Song Hyerin (oc)
  • Song Eunchae (oc) *nongol Cuma bentar sih*

Genre : Romance, comedy(?) *entah*

Rating : PG-13 lah, gatau cukup apa nggak *plak*

P.S : Hai, saya bawa couple dari alam gaib nih *tebar KyuRin* yang satu hantu, yang satu setan. Masih adakah yang berminat menyimak kisah abal-abal mereka? *krik krik krik lalu hening, hening sehening-heningnya* entah sudah berapa abad saya gak update ini cerita. Part ini sangat pendek, iya sangat sangat pendek dan bisa dibilang ini hanya selingan seperti halnya sexy free and (not) single. Huft… saya juga peringatkan part ini sangat sangat membosankan jadi siap-siap kresek yang banyak ya(?). Karena saya sangat kangen momen dengan suami pertama saya ini *plak lagi* jadi saya pusatkan castnya sebatas KyuRin saja walau terakhir ada Eunchae nyempil sebentar. Okelah, entah nanti apa jadinya, silakan readers nilai sendiri dan jangan lupa jejaknya di bawah sana, pake cap bibir Luhan juga gapapa. Enjoy reading’.’)9

^0^

Hyerin pov

Seratus tiga puluh satu, seratus tiga puluh dua, seratus tiga puluh tiga….

Sudah lama aku tidak berhitung kan? Kalian juga pasti sangat merindukan hitunganku *plak* oke, aku tahu jawabannya tidak. Sekarang aku berhitung lagi, sudah mencapai ratusan. Tapi bukan karena aku sedang gugup. Bukan karena aku sedang ketakutan. Bukan juga karena aku kesal pada si setan jahat. Ah, jangan bahas dia, apa lagi menyebut namanya. Aku berhitung karena aku tidak bisa tidur u.u

Ya, akhir-akhir ini aku terserang insomnia. Dan sekarang aku tidak menghitung domba yang melompati pagar, tapi menghitung setan-setan jahat yang gentayangan. Ah, jangan ingat setan itu lagi. Baiklah, lebih baik aku menghitung domba yang melompati pagar saja. Tapi bukannya mengantuk, kenapa aku malah semakin semangat berhitung? Katanya dengan menghitung domba bisa membuat kita terlelap. Sial, itu semua pasti tidak benar. Hapus pernyataan itu, selamatkan diri kalian dari rekayasa yang tidak patut dibenarkan, aku saksinya’.’)/ *mending Hyerin aja yang dimusnahkan yaaaa? Sesujuuuuu?*krik krik krik.*skip bagian terakhir.

Bagiku ini sangat buruk karena keadaanku jadi semakin berantakan. Semakin kurus, malas melakukakan apapun, dan lihat mata pandaku ini. Aish, aku sendiri bahkan takut menatap wajahku di cermin. Serasa melihat hantu. Jadi sekarang panggilan si setan jahat itu benar-benar menjadi kenyataan. Cho Setan mungkin ada benarnya… ah, kenapa ingat dia lagi? Buang buang buang! Aaaaahhh tidak bisa. Baik, aku mengaku! Aku merindukannya. Aku merindukan Cho Kyuhyun si setan yang menyebalkan! Dan itu membuatku membenci diriku sendiri!

Merindukan seseorang yang tidak merindukan kita itu rasanya… </3 remuk! Ya, aku sudah berusaha membiasakan diri karena memang kita jarang bersama kan? Tapi aku selalu tidak bisa menahan keinginanku sendiri untuk tidak mengirim pesan singkat atau menelponnya. Padahal setelah ku lakukan itu, pada akhirnya sakit dan galau. Dia pasti hanya membalas pesanku sekali dua kali, dan saat ku telpon pasti waktunya tidak tepat. Atau memang dia selalu mencari alasan untuk menghindar? Dia pasti mengatakan, “manager hyung memanggilku” atau “aku harus segera bersiap” atau “nanti ku telpon” tapi tidak pernah terealisasikan. Tak ada panggilan, pesan saja tidak.

Karena itu aku selalu menghindar untuk mengingatnya, menghindari rasa rindu yang membuatku insomnia. Sial sial sial, menceritakan semua ini hanya semakin membuatku kepanasan di sini. Lalu aku harus bagaimana? Ok, sebenarnya sudah banyak cara ku lakukan untuk menghindar. Seperti menerima ajakan Luhan jalan-jalan seminggu yang lalu. Tidak berdua, ada Sehun dan Kai juga. Kami jadi akrab setelah minum buble tea bersama, dan alasan lain karena kami seumuran. Kadang aku berpikir seharusnya aku kencan dengan salah satu dari mereka. Bukan dengan ahjusshi berwajah setan macam Kyuhyun yang dengan tidak wajarnya selalu ku rindukan. Huft, ya aku tahu itu berlebihan.

Aku sudah berusaha tidak egois, sampai saat ini pun masih berusaha tidak egois. Memang sudah seharusnya aku mengerti bahwa hal-hal semacam ini pasti terjadi. Saat aku mengatakan nado saranghae malam itu di rooftop stasiun TV, aku secara tidak langsung juga sudah menyanggupi untuk selalu memahami pekerjaannya. Memahami kesibukannya yang pasti akan sangat jarang menemaniku. Dan entah mengapa akhir-akhir ini aku seolah ingin mengingkari persetujuan itu. Aku mungkin sudah sangat, ani, terlalu merindukannya. Neomu baboya!

“Belum tidur?” tanya Harin eonnie yang baru saja keluar dari kamar mandi, saat aku membuka pintu kamar. Tampaknya dia terbangun karena masih mengenakan piyama dan menguap sesekali dengan wajah mengantuk.

“Tidak bisa tidur,” sungutku.

“Tidak bisa tidur kenapa mengeluh padaku? Begadang saja sesuka hatimu,” ditepuknya pundakku beberapa kali sebelum masuk kembali ke kamarnya.

Cih, eonnie macam apa dia? Saengnya terkena insomnia malah tenang-tenang saja. Harusnya kan dia mengkhawatirkanku. Setidaknya memaksaku tidur karena takut aku sakit. Dasar aneh, dia malah mendukungku begadang semalaman. Eomma, lihat kelakuan putri sulungmu ini.

Dengan putus asanya ku nyalakan TV. Tapi ayolah, jam segini mana ada acara yang menarik? Pasti acara talkshow, berita criminal, intinya tidak ada yang bisa membuat moodku lebih baik. Ku banting remote sembarangan. Untung karpen di ruang TV cukup tebal dan empuk, kalau tidak pasti sudah hancur berkeping-keping dan bisa dipastikan ada petir menyambar apartemen kami setelahnya.

Secara tiba-tiba, aku merasakan lidahku ingin menyentuh sesuatu. Kira-kira apa? Yang pasti sesuatu yang bisa dimakan. Hum… berpikir bagaimana rasanya. Lembut dan tidak perlu banyak tenaga untuk mengunyah. Ya, itu enak untuk saat-saat seperti ini. Manis agar moodku juga menjadi manis. Itu benar, aku butuh sesuatu yang manis. Lalu… dingin? Ya, aku merasa tenggorokanku sedikit panas dan kering. Jadi apa yang lembut, tidak perlu dikunyah, rasanya manis, dan dingin? Tring! *emot bohlam menyala* Es krim. Kau jenius, Song Hyerin. Tanpa menunggu lama lagi, aku segera ke dapur dan membuka lemari pendingin. Mungkin saja masih ada jatah es krim untuk minggu ini. Dan kalian tahu apa yang ku dapat saat membuka lemari pendingin?

“Sayuran?” lalu ku tutup kembali dengan wajah lemas selemas-lemasnya. Sungguh miris nasib yeoja cantik yang baik hati ini. Insomnia, tidak dipedulikan eonnienya, kehabisan es krim, dan merindukan kekasihnya yang sekarang entah di mana. *hoek* Yang terakhir itu bisa diskip atau didelete saja. Membuat malam ini semakin terasa sesak saja. “Na eotthoke what should I do?” bisikku. Seingatku itu lirik lagu salah girl grup. Jangan tanya apa nama grupnya dan apa judulnya karena aku lupa sama sekali dan hanya ingat lirik itu. Dan kurasa kalian pasti lebih tahu dariku. *benaaaar*

Lalu sekarang bagaimana? Tidak mungkin aku melewati malam ini dengan keadaan miris. Tubuhku merosot ke lantai, terduduk dengan posisi bersandar lemari pendingin membenamkan dagu di kedua lututku. Sungguh layaknya adegan di drama-drama ketika yeoja baik ditindas oleh peran antagonis. Aaaahhh kenapa dari tadi aku jadi seperti pemain drama? Bangun Hyerin, ini dunia nyata, bukan drama. Mungkin tidak ada salahnya aku keluar dan membeli satu cup es krim. Di dekat sini ada supermarket yang buka 24 jam kan?

Aku pun mengenakan sweater abu-abu berkupluk karena cuaca benar-benar dingin malam ini dan keluar dari apartemen. Sepi? Tentu saja, sudah hampir tengah malam, penghuni gedung raksasa ini pasti sudah tidur semua. Ya aku tahu, kecuali aku. Jadi aku berjalan perlahan namun tetap santai. Sebenarnya suasana saat ini sedikit horror dan dinginnya malam membuatku agak merinding. Hiiiyyy jangan sampai aku bertemu sesuatu yang aneh apa lagi menakutkan.

Ting! Pintu lift terbuka. Nah, di sini aku berpikir. Sendirian di dalam lift saat tengah malam. Apa tidak mengerikan? Kalau tiba-tiba mati lampu? Atau liftnya terhenti seperti di film-film? Aku menelan ludah. Ku raba saku sweaterku memastikan ponsel tidak tertinggal. Kalau aku terjebak di dalam sana, setidaknya masih ada harapan untuk meminta pertolongan. Hahaha, lihat, aku berhalusinasi lagi. Tidak ada hantu Hyerin, yang ada setan jahat berkelakuan buruk yang membuatmu rindu setengah sadar(?)

“Sial, ingat dia lagi!” rutukku dalam hati.

Akhirnya ku putuskan untuk meninggalkan lift dan memilih naik tangga. Kasihan, sungguh kasihan. Dari lantai 12 ke lantai dasar? Tiba di puncak tangga aku kembali berpikir. Dari lantai 12 ke lantai dasar, dengan susasana sepi mencekam dan menakutkan, sendirian. Hiiiyyy bukankah di film-film horror justru tempat yang strategis bagi hantu adalah di belokan tangga? Ini bahkan lebih menakutkan daripada terjebak dalam lift. Kalau tiba-tiba muncul sehantu *bingung mau bilang seorang atau sebuah hantu(?)* berarti aku harus lari melewati tangga-tangga keramat ini? Oh, tidak. Lebih baik naik lift saja kalau begitu. Tapi bagaimana kalau? Astaga. Aku lagi-lagi berhalusinasi yang bukan bukan. Hyerin sadarlah, tidak ada hantu. Yang ada hanya setan jahat berwajah tampan yang selalu membuatmu memikirkannya. Apa? Apa yang baru saja ku katakan? *shhh jangan bilang sama Hyerin*

“Yak!”

Deg! Jdeerr! Jlebb! Grompyang! Trakdungcess! Plak! *author butuh pencerahan dari Baekhyun(?)*

Siapa? Itu suara apa? Huaaaaa eomma aku takuuuut. Apa itu suara hantu? Begitukah suaranya? Terdengar begitu familiar dan sedikit menyebalkan. Suaranya sedikit berat tapi indah. Indah? Huaaaa apa itu hantu penyanyi? Eomma apa yang harus putri kesayanganmu ini lakukan? Satu, dua, tiga, empat, lima, enam….

“Kau tidak dengar? Song Hyerin!”

Mwoya? Hantunya tahu namaku. Aaaaaa bagaimana kalau dia terus mengikuti setiap waktu? Bagaimana kalau dia terus memburuku? Eomma… putrimu yang cantik sedang dalam bahaya. Aku memjamkan mata, tubuhku mengeluarkan keringat dingin dan gemetar hebat. Aku mengaku sekarang, aku memang penakut akut. Dan sekarang si penakut ini malah harus berhadapan dengan hantu?

“Aish, kau ini kenapa? Aku tahu itu kau Song Hyerin,” hantu itu bersuara lagi dan sekarang dia bahkan mencengkeram bahuku.

“Aaaaaammmpuuuunnn…. Aku anak baik. Jangan bunuh aku. Aku memang suka mengusili eonnie dan saengku tapi itu hanya candaan. Ampuuun tuan hantu,” aku langsung menyembah-nyembah pada hantu itu saat tangannya memblikkan tubuhku paksa. Mataku masih terpejam. Siapa yang berani melihat rupa sehantu?

“Mwo? Hantu?” suara hantu itu terdengar penuh tanda tanya dan baru sekarang aku sadar bahwa suaranya itu tidak menakutkan sama sekali. “Hahaha… aku? Hantu? Tidak salah? Berkacalah, Hyerin. Yang hantu itu kau sendiri,” dan selanjutnya suara yang ku anggap suara hantu itu malah tertawa.

Aku membuka mataku sedikit demi sedikit. Pertama buram, aku bisa menangkap kalau itu adalah sosok manusia. Baiklah, aku salah, dia bukan hantu. Kedua, aku bisa menebak gendernya adalah namja. Dari suara dan lekuk tubuhnya. Lalu aku mengerjap-ngerjapkan mataku, dan sekarang sudah jelas wujudnya. Sial, dia setan jahat berwajah tampan yang membuatku insomnia beberapa hari terakhir. Ya, Cho Kyuhyun. Dan dia dengan jahatnya menertawakanku setelah membuatku ketakutan setengah mati.

“Diam kau,” ku tarik kupluk agar menutupi wajahku yang pasti sudah merah karena malu.

“Aku heran saja, ada hantu takut hantu. Hahaha,” tawanya semakin keras. Ingin sekali ku jejalkan sekarung besar sayuran agar dia berhenti tertawa.

“Aaaahhh, minggir sana!” ku dorong tubuhnya agar tidak menghalangi jalanku. Ya, ku putuskan untuk naik lift. Tidak peduli sendirian dan sepi, aku akan memberanikan diri naik lift.

“Yak, kau mau kemana malam-malam begini?”

“Bukan urusanmu,” tandasku dan segera masuk lift. Tapi sebelum pintu menutup, si setan menyebalkan berwajah tampan ini menahannya. Apa-apaan ini? Aku selalu menyebutnya setan menyebalkan berwajah tampan. Diam, author, berhenti membuatku mengatakan Kyuhyun adalah setan menyebalkan berwajah tampan. Aaarrrggghh aku tidak mau menyebutnya setan menyebalkan berwajah tampan. Aaaaarrrrgggghhh *tiba-tiba Hyerin keluar scene dan jambakin rambut author* *tragis sangat, tolongin author coba u.u* krik krik krik, ga ada yang mau ternyata.#skip

“Jadi urusanku karena ini sudah hampir tengah malam.”

“Lalu?”

“Asataga,” dia mengacak rambutnya sendiri dengan putus asa. “Bukankah kau seharusnya tidur dengan nyaman di kamarmu?”

Cih, seenaknya mengatakan itu setelah membuatku insomnia. “Aku ingin keluar, jadi minggir sana. Kau membuat liftnya tidak jalan,” ku kibaskan tanganku sebagai isyarat untuk mengusirnya.

“Sebenarnya kau mau kemana?”

“Sepertinya aku sudah mengatakan dengan jelas kalau ini bukan urusanmu.”

“Babo!” dan dia malah menyentil dahiku. Apa tidak salah? Harusnya aku memukul kepalanya keras-keras setelah apa yang dia lakukan selama berminggu-minggu.

“Yak, kau…” dan dengan bodohnya aku malah menangis? Aigoo, Hyerin ada apa denganmu?

“Mworago? Kau menangis? Yak, Hyerin-ah, kau kenapa? Apa terjadi sesuatu? Sentilanku terlalu keras?” dia ikut masuk ke dalam lift dan… memelukku. Hangat, hangat sekali. Mungkin terasa begitu hangat karena aku begitu merindukannya.

“Hiks… hiks… ani, nan gwenchana… hiks,” aku hanya bisa mengatakan itu di sela-sela tangisku. Aku tidak bisa mengakuinya. Tidak bisa mengatakan, “Cho Kyuhyun, aku merindukanmu… sangat.” Tidak, aku tidak bisa. Dan tidak mau mengakuinya. Bahkan hingga lift tertutup dan membawa kami ke lantai dasar, aku masih menangis tanpa bisa mengatakannya. Kyuhyun masih memelukku, mengusap-usap rambutku, yang semakin mebuatku nyaman.

“Sekarang katakan, kau kenapa?” tanyanya saat tangisku reda.

Aku menggigit bibirku kuat-kuat. Apa yang harus ku katakan? Ayo, beri aku inspirasi untuk mengarang bebas. Apa saja asal aku bisa membuat alasan yang membuatnya berhenti bertanya.

“Hum…” apa apa apa? Eskrim aku butuh eskriiiim. Eh? Benar juga. Aku kan ingin eskrim. Itu alasanku keluar tengah malam. “Aku ingin eskrim,” jawabku setengah merengek.

“Mwo?”

“Neeee, aku ingin es krim.”

“Malam-malam begini? Kau bisa kena flu atau radang tenggorokan,” tolaknya.

“Aku bisa beli sendiri. Siapa juga yang minta dibelikan.”

“Siapa juga yang mau membelikan.”

Sial, orang ini mulai rajin mengasah lidah rupanya. Hoft, dosa apa yang ku perbuat hingga mendapatkan namja yang begitu menyebalkan tapi tampan ini ya Tuhan.

“Geurae, aku pergi sekarang. Dan jangan halangi aku,” ku lepas pelukannya dan melenggang pergi.

“Silakan,” jawabnya tanpa rasa berdosa.

Cho Setan, di saat seperti ini kau semakin membuat moodku memburuk. Aku harus kuat, aku harus kuat, tidak boleh berbalik, aku bisa pergi sendiri. Tidaaaak aku tidak bisa tidak berbalik dan memakinya. Aaaaahhhh aku bisa gila. Dan semakin gila karena aku sudah berbalik menghadapnya yang ternyata sekarang sudah berjalan menuju lift yang artinya benar-benar akan membiarkanku pergi sendirian. DIA BENAR-BENAR MENYEBALKAN!

Plak!

“Aish!”

“CHO SETAN MATILAH KAU DI TANGANKU!”

^0^

Kyuhyun pov

“Hmmm yummy….”

Demi apa pun yang bersemayam di bumi bahkan jagad raya. Sekarang aku sedang duduk bersedekap di dapur apartemen Song menatap cengo yeoja kurus yang sedang makan eskrim dengan brutalnya. Apa dia sedang kesetanan? Masa bodoh. Kalian tidak akan percaya apa yang terjadi sebelum ini.

Pertama, dia bergidik ketakutan karena mengira aku hantu. Lucu bukan? Bukannya dia sendiri yang hantu. Seperti biasa saat aku menertawakannya dia marah-marah lalu menerobos masuk lift. Aish, apa yang dia pikirkan? Keluar saat jam sudah menunjukkan hampir tengah malam? Mana bisa ku biarkan dia pergi. Jadi ku sentil saja saat dia tetap ngotot ingin pergi. Nah, ini berimbas pada peristiwa kedua. Dia menangis? Bayangkan betapa paniknya aku saat menyentil yeojaku sendiri lalu dia menangis. Rasanya ingin sekali tertelan octopus. Buruk.

Ketiga, saat ku tanya mengapa menangis aku kembali harus dihadapkan dengan tingkah anehnya. Dia menjawab eskrim? Ingin eskrim? Apa sebaiknya aku bawa dia ke psikiater? Lalu yang keempat, paling parah. Sebenarnya aku tidak serius saat mengatakan tidak mau menemaninya membeli eskrim. Namja macam apa yang seenaknya membiarkan yeojanya berjalan tengah malam sendirian hanya demi satu cup eskrim. Lama tidak bertemu membuatku ingin menggodanya sedikit, jadi aku pura-pura berbalik agar dia semakin kesal. Tapi di luar dugaan, dia tidak hanya kesal. Tapi MURKA. Entah mendapat kekuatan dari mana dia melemparkan sepatunya dan tepat mengenai bagian belakang kepalaku. Cukup keras, aku sampai heran dia bisa sekuat itu. Ternyata memang benar, saat yeoja marah dia akan menjadi brutal. Hiiiiyyy.

Jadi setelah mengusap-usap kepalaku yang terkena lemparan brutalnya, kami pun pergi ke minimarket dekat apartemen. Beruntung masih ada yang buka, kalau tidak entah kebrutalan apa yang akan Hyerin lakukan. Dia hanya minta satu cup, tapi aku berinisiatif membeli empat cup lagi untuk persediaan di hari-hari berikutnya agar kejadian seperti tadi tidak terulang kembali. Dia pun hanya mengangkat bahu dan menurut saja.

Tadinya aku hanya berniat membelikan dan segera kembali ke dorm. Tapi… hum… entah sudah berapa minggu kami tidak bersama. Dan mungkin hari-hari berikutnya juga akan sulit untuk bertemu walau kami tinggal di satu gedung apartemen. Kalau boleh jujur, aku sangat merindukannya. Jadi tidak apa-apa kan kalau menawarkan diri menemaninya makan eskrim? Song Hyerin, aku mengaku kalah. Kau mendapatkannya. Aku jelas gila karena masih bisa merindukan yeoja kurus bersifat hantu dan brutal sepertimu. Parahnya, aku benar-benar tidak ada waktu senggang yang cukup untuk menghubunginya. Lima menit sepuluh menit saja tentu tidak cukup. Karena itu aku tidak berani menelponnya, takut tidak bisa melepaskan ponselku saat mendengar suaranya. Tapi dia seperti sengaja menyiksaku dengan mengirim pesan dan sesekali menelpon. Tidakkah dia tahu, aku hampir saja mengacaukan perform Super Junior saat harus… dengan sangat terpaksa… mengakhiri percakapan kami. Song Hyerin, lihat betapa kacaunya aku.

Dan sekarang aku sedang memandangimu yang makan eskrim seperti anak kecil. Seolah aku tidak ada di sana, seolah eskrimlah namjachingunya, bukan aku.

“Waeyo? Kau juga mau? Tidak boleh, ini jatahku,” ucapnya sambil menggeser cup eskrim itu lebih jauh dariku.

“Aniya,” jawabku singkat.

“Lalu kenapa dari tadi menatapku makan eskrim?”

“Takjub melihat hantu makan eskrim dengan beringas.”

“Mwo?” sepertinya jawabanku cukup telak. Kini matanya membulat.

“Perlu ku ulang? Aku takjub melihat hantu makan eskrim dengan beringas,” tekanku setiap kata agar dia semakin panas. Hahaha, lama sekali adegan semacam ini tidak ku lakukan. Itu pembalasan dariku karena kau telah membuatku kacau karena merindukanmu.

“Kau bosan hidup eoh? Aaaaaaahhh kenapa kau selalu menyebalkan?” dia tampak gusar dan menendang-nendang kaki meja.

“Tapi kau selalu merindukan namja yang menyebalkan ini kan?” godaku, walau faktanya justru aku yang selalu merindukannya. Pasti jawabannya “mana mungkin” atau “teruslah bermimpi” atau bisa saja “tidak akan pernah”. Hoft….

Tapi aku sedikit heran dengan responnya sekarang. Dia terlihat sedikit aneh setelah aku mengucapkan itu lalu menelan kasar eskrim di mulutnya. Dia hanya diam tidak menjawab sengit seperti biasa. Aneh. Apa aku salah bicara lagi? Iseng ku dekati saja dia dengan menarik kursiku lebih dekat. Tapi dia malah menarik kursinya juga agar lebih jauh dariku. Pantang menyerah, aku geser posisiku lagi, kali ini hingga cukup dekat. Dia melirikku sesaat lalu pindah ke kursi lain. Di tempat makan apartemen Song tersedia 4 kursi, jadi aku pindah ke kursi yang letaknya tepat di sebelah Hyerin.

“Kau mau apa eoh?” tanyanya ketus lalu menyendokkan eskrim banyak-banyak ke mulutnya hingga pipinya menggembung. Gila, bagaimana bisa dia bertahan dengan dinginnya eskrim. Ck, ck, ck….

“Kau sendiri ingin aku melakukan apa?” tanyaku balik.

“Babo,” umpatnya lirih lalu kembali makan eskrim.

“Yeoppeo,” jawabku tepat di telinganya.

Blush! Yes berhasil. Wajahnya memerah, bahkan sekarang dia tersedak eskrimnya. Hahaha, lucu sekali dia. Ku tepuk-tepuk punggungnya perlahan sebagai pertolongan. Tapi dia malah bergeser lebih jauh dariku dan menghadap ke arah yang berlawanan. Tapi bukan Kyuhyun namanya kalau kehabisan akal. Aku beranjak dari kursiku dan melangkah ke hadapannya. Kini aku berlutut mensejajarkan wajahku dengan Hyerin. Bwahahaha rasanya ingin ku abadikan wajah kacaunya saat ini.

“Pergi kau! Ini sudah malam, kau tidak ingin istirahat?” dia mendorong tubuhku pelan.

“Sekarang ini aku sedang istirahat denganmu,” jawabku polos.

“Aish, ku bilang pergi,” desaknya setengah merengek. Kelihatannya dia benar-benar gusar.

“Kau tidak suka aku berlama-lama denganmu?” tanyaku, pura-pura kecewa dan siap dengan wajah murung terbaikku.

“Eh, bukan begitu Kyu. Hanya saja…”

“Geurae, aku pulang. Padahal aku masih ingin di sini bersamamu. Kau tahu, selama berminggu-minggu aku menunggu waktu untuk bisa bertemu denganmu tiba. Tidak, aku bahkan tak mampu menunggu. Rasanya aku ingin membawamu kemana pun aku pergi. Karena aku tak pernah bisa tahan jika sehari… ah, tidak, semenit, entahlah, sekejap saja tidak merasakan keberadaanmu. Walau itu hanya sepatah kata, hembusan nafas, atau sentuhanmu, selama itu kau, aku akan baik-baik saja,” aku berdiri, dia pun mendongak masih dengan tatapan tak percayanya. Ku usap lembut rambutnya. “Sleep well,” lalu ku cium puncak kepala Hyerin.

Sepertinya dia masih linglung dan speechless. Tidak ada gerakan. Aku melangkah perlahan menuju pintu dapur. Kita lihat seberapa kuat pertahananmu sekarang Hyerin. Masih bisakah kau berpura-pura tidak merasakan apa-apa? Aku tahu pasti kau….

GREP!

“Jangan pergi,” tangan Hyerin kini melingkar di pinggangku. Omo, ini bahkan lebih baik dari dugaan awal. Dia memelukku. Hahaha.

“Waeyo? Kau yang memintaku pergi agar aku istirahat kan?”

“Babo. Lalu kau benar-benar akan pergi setelah membuatku insomnia selama berminggu-minggu? Kau pikir hanya kau saja yang kacau? Aku lebih kacau lagi. Lihat saja aku. Semakin kurus, bermata panda, apa kau masih belum bisa mengerti kalau aku juga…” dia menggantungkan kalimatnya. Seperti biasa, gengsimu itu terlalu besar Hyerin.

“Juga apa?” sengaja ku beri pancingan agar dia bisa menangkap ikannya, eh, maksudku agar dia melanjutkan kalimatnya. Tapi dia masih diam. “Yak, kau masih hidup kan?”

“Aku juga merindukanmu Cho Setan babo!” dengusnya sambil memukul-mukul punggungku.

Dia tidak sadar tingkahnya itu membuatku semakin gemas dan ingin… er… lupakan. Kalian masih di bawah umur. *readers : yahhhhh (kecewa)* Dengan cekatan aku berbalik lalu menangkap kedua tangannya agar dia berhenti dan menatapku. Dia menunduk, tapi segera ku tarik dagunya agar kembali melihatku.

“Aku sudah tahu. Maaf, sudah membuatmu kacau,” lalu ku bawa dia dalam dekapanku. Hal yang paling ingin ku lakukan sejak keluar dari lift dan melihat punggungnya menuju tangga tadi. Ya, ingin sekali saat itu aku mendekat lalu mendekap punggungnya erat karena aku tahu itu adalah Hyerin.

“Lalu kenapa kau selalu menyebalkan, Cho Kyuhyun? Kau selalu membuatku bingung. Sebentar-sebentar jahat padaku, sebenatar-sebentar bersikap manis, lalu sebenarnya bagaimana perasaanmu padaku? Apa berubah-ubah juga? Aku bingung….”

“Bingung?” ku longgarkan pelukanku agar bisa melihat wajahnya.

“Ya, kau selalu menaikturunkan moodku dan itu menjengkelkan.”

Aku tersenyum. “Kau tidak sadar semua itu karena ulahmu sendiri?”

“Eh?”

“Kau selalu membuatku ketakutan. Aku takut kau bosan padaku, takut perasaanmu berubah sewaktu-waktu, lalu perlahan menjauh dan akhirnya pergi. Karena itu aku selalu berusaha menjadi yang berbeda, agar kau hanya melihatku dan hanya menyukaiku. Walau aku tak tahu caranya dan justru membuatmu selalu kesal, setidaknya dengan cara itu aku bisa membuatmu selalu mengingatku dan menyukaiku.”

Dia terdiam. Sudah, sepertinya penjelasanku mencapai sasaran yang seharusnya. Sekarang kau sudah mengerti bagaimana perasaanku kan Hyerin? Giliranku sekarang.

“Boleh aku menanyakan sesuatu?”

Alisnya terangkat. “Hum… apa?”

“Mengapa kau memutuskan untuk meninggalkanku…”

“Jangan bahas, itu sudah berlalu,” potongnya.

“Tapi aku ingin tahu. Alasanmu masih ambigu. Saat itu aku hanya tidak berani menanyakannya padamu karena aku tahu kau tidak akan mengatakannya. Tapi sekarang, kau harus,” tegasku.

“Aish, sudahlah itu tidak penting. Lupakan saja,” tolaknya.

“Hyerin-ah,” ku usap pipinya. “Jika memang itu adalah kesalahanku…”

“Ani, bukan kau. Sungguh, aku saja yang terlalu egois.”

“Egois?”

“Aku memang bodoh. Tidak pernah bisa tahan melihatmu berdekatan dengan yeoja lain yang lebih hebat dariku. Mungkin aku terlalu takut kau akan berpaling. Karena itu ku pikir lebih baik kau bebas… eh, apa yang ku bicarakan?” sepertinya dia tidak sadar sudah mengaku banyak padaku.

“Bwahahaha, katanya tidak mau bilang. Sekarang aku sudah tahu. Kau cemburu pada Qiannie kan? Kenapa dia lagi, Hyerin-ah? Sekali-kali ganti bisa kan?” godaku.

“Diam kau!” dia menjitakku lalu duduk di kursi makan dan kembali melahap eskrimnya.

“Aku serius, kau tidak bosan? Coba sesekali kau cemburu pada yeoja lain,” dia tidak menjawab, tapi berdeath glare sempurna. “Bwahahaha…. Kemarilah,” pintaku.

“Andwe,” tolaknya lalu memunggungiku.

Aku mendesah pelan, lalu berpindah duduk ke hadapannya. Pipinya menggembung dan berusaha menghindari tatapanku dengan menyibukkan diri makan eskrim.

“Ehem.”

Can you listen to my words, don’t say anything yet

Actually I’m so insecure, without you how do I live each day?

I know you haven’t ended yet,

But don’t cry over the empty space that I left

 

My heart only has you, your heart only has me.

Similar sentiments, the proof of our love

The same sky, different place.

We’re separated for now

for this instant, something to never forget

Please remember

 

I will remember the love you gave me

No one can take over you

That only love, I will keep in the bottom of my heart

Making you wait so long, I’m sorry

In my life only you are most special

 

My heart only has you, your heart only has me.

Similar sentiments, the proof of our love

The same sky, different place.

We’re separated for now

for this instant, something to never forget

Please remember

 

Actually you understand right

Without you i can’t live, without me you can’t live

An almost torn heart, take a deep breath

Who said that hurt will slowly heal is empty words

I love you, I love you, I love you, even if you can’t hear

Sorry Sorry Sorry I have regrets

F.O.R.E.V.E.R I will hold your hand tight

Just like when we first met, we will be back together

 

Be my love, I need you girl.

To me there is only you, you know that right

the sharpness of cold wind, like it’s beating me to be by your side

 

The you that grasps my hand

The you that follows my steps

Until the day that we meet again, I won’t let go of your hand

 

My heart only has you, your heart only has me.

Similar sentiments, the proof of our love

The same sky, different place.

We’re separated for now

for this instant, something to never forget

Please remember

(Super Junior – Only U lyrics from SPY 6jib Repackage)

Berhasilkah? Ku harap begitu karena saat ini dia tampak membeku dengan sendok yang masih di dalam mulutnya dan melirikku.

“Apa maksudnya itu?”

“Belum paham? Aku akan sangat jarang menemanimu, jadi kau harus baik-baik di sini. Ingat, jangan berbuat macam-macam atau aku akan mengacaukan showku karena ngotot pulang ke Korea…”

“Kalau begitu aku akan macam-macam saja,” godanya.

“Hyerin….”

“Just a joke, aku tidak akan sejahat itu. Lanjutkan.”

“Apa pun yang kau lihat dan kau dengar, tetaplah percaya bahwa kau satu-satunya yang ada di sini,” ku raih tangannya dan meletakkannya di dada. “Kau satu-satunya. Jadi sebenarnya kau tidak perlu cemburu pada siapa pun karena itu hanya membuang banyak lemak di tubuhmu saja.”

“Aish, masih saja membahas itu,” dia menarik kembali tangannya.

“Hahaha, kau memang butuh lebih banyak makan ya,” ku acak rambutnya pelan.

“Geurae, aku tidak akan merasa cemburu lagi.”

“Siapa yang menyuruhmu berhenti cemburu? Itu tidak masalah, aku menyukainya. Hahaha,” godaku lagi.

“Jadi kalau kita berpisah lagi kau juga suka?”

“Awas saja kalau sampai terjadi,” ancamku.

“Waeyo?”

“Aku akan langsung menikahimu.”

“Yak, itu sungguh mengerikan,” dia bergidik.

“Benarkah? Kau tidak ingin menikah denganku?” ku sipitkan mataku. Ini pertanyaan serius.

“Mimpi buruk.”

“Kau serius?” sekarang aku memegang tangannya kuat dan menatap dalam matanya. Dia tampak sedikit kaget.

“Kenapa melihatku begitu?” tanyanya polos. Sepertinya dia menganggap ini hanya candaan. Sialan kau, Hyerin.

“Aku serius.”

“Sejak kapan kau belajar serius eoh?” dipukulnya lenganku pelan sambil tersenyum mengejek.

“Sekarang aku tidak belajar serius, tapi benar-benar berkata serius,” tegasku.

“Eh?” ekspresinya berubah. “Kau bicara apa? Kenapa jadi seperti ini? Yak, kau membuatku jadi salah tingkah.”

“Kau mau menikah denganku tidak?”

“Apa… aku… aku tidak tahu. Jangan tanya sekarang, aku belum siap,” tampak wajahnya bersemu merah dan sedikit gugup saat mengatakannya. Aish, apa yang ku lakukan? Sepertinya aku sudah gila.

“Bwahahaha… kau kena lagi. Siapa juga yang mau menikah dengan hantu kurus. Weeee,” aku beralibi. Lihat, betapa pintarnya aku mengelak pada pernyataanku sendiri.

“Yak, kau sungguh menyebalkan,” dia mempoutkan bibirnya lalu kembali melahap eskrimnya.

Hangat. Begitu yang ku rasakan sekarang. Tidak hanya sekarang. Setiap bersama Hyerin aku selalu merasa hangat. Dia memang selalu bisa membuatku tak ingin melewatkan momen berharga bersamanya. Aku mencintai Hyerinku. *eaaaaaaak basi deh thor*

“Hyerin-ah,” lirihku.

“Apa?” sahutnya ketus.

Aku tersenyum, lalu menarik dagunya agar menghadapku. Sedikit tersentak pada awalnya, tapi dia diam saja saat wajahku mulai mendekat. Bahkan saat aku berbisik pelan di telinganya, “ada eskrim di bibirmu,” hingga selanjutnya ku sentuhkan bibirku pada bibirnya, melumatnya lembut, menyalurkan rasa cinta dan rinduku yang sudah kusimpan berminggu-minggu, dia hanya diam saja. Dan aku menyukainya. *ohok*

^0^

Author pov

Eunchae terbangun tepat tengah malam. Sepertinya dia kehausan. Pandangannya beredar ke seluruh sudut kamar, memastikan sudah pagi atau belum. Dan saat dilihatnya kamarnya terang benderang karena cahaya lampu, bukan cahaya matahari dari jendela kamarnya, dia pun menarik kesimpulan bahwa ini masih malam. Jadi dengan sedikit mengantuk dia bangun dan memakai sandalnya.

Sudah sering terjadi hal seperti ini. Kalau dia kehausan pasti terbangun sendiri dan tidak pernah membangunkan eonnienya. Dia akan berjalan sendiri ke dapur lalu minum dan kembali lagi ke kamarnya. Tidak seperti anak kecil kebanyakan yang takut hantu, dia tidak takut sama sekali. Malam ini pun sama, dengan berani dia berjalan ke dapur sambil sesekali mengucek matanya. Tapi langkahnya harus terhenti saat dia tiba di pintu dapur. Ada suatu pemandangan aneh yang menghalangi matanya. Bukan sosok hantu mengerikan yang menakutinya, bukan. Atau monster yang tersesat di apartemennya, itu juga bukan. Godzilla mungkin, ah, mustahil Godzilla muat masuk dapurnya. *author yang ngaco* Yang membuatnya berhenti melangkah adalah dua sosok manusia yang melakukan sesuatu yang bagi Eunchae itu sangat ganjil. Dua orang itu tampak saling menyentuhkan bibirnya dengan mata terpejam. Eunchae memiringkan kepalanya, mencoba menerka apa yang mereka lakukan. Itu berlangsung dalam beberapa menit, dan Eunchae terus diam sambil berpikir apa nama kegiatan itu. Setelah kira-kira lima menit Eunchae menonton, akhirnya dua orang itu melepaskan diri mereka masing-masing, dan Eunchae langsung tahu kalau itu adalah Hyerin eonnienya dan Kyuhyun oppa Super Junior. Tanpa menunggu lama lagi, segera dia bertanya pada mereka apa yang menjadi uneg-unegnya sejak tadi.

“Eonnie, oppa, tadi kalian melakukan apa? Kenapa menyentuhkan bibir kalian?”

Serentak Hyerin dan Kyuhyun menoleh dengan wajah panik.

“Eunchae-ah, sejak kapan kau berdiri di situ?” tanya mereka bersamaan dengan volume kepanikan luar biasa.

^0^

P.P.S : ahahahaha…. Pendek ya? Kasian *plak* maaf kalau rada membosankan, saya membuatnya hanya agar kalian tidak melupakan couple abal ini. Sebenarnya juga agar saya sendiri juga tidak lupa sih *plak*. Maaf kalau banyak typo lagi *wks* saya bikinnya ngebut dan ini ide datang tiba-tiba pas tadi sore dengerin lagunya SJ yang Only U, aduuuh suara suami author kece badai ya di sana *dibacok jamaah*. Belum ada event atau hari special yang asyik diangkat cerita sih, kayak hari Valentine, ulang tahun, anniversary, saya jadi bingung. Malah sampe ada wacana untuk bikin KyuRin Tale versi wedding. Kira-kira readers mau baca gak ya? Silakan komen dan beri pendapat ya. Gamsae, see you next part *kalau ada*.

53 thoughts on “KyuRin Tale : Missing You is Annoying

  1. kyurin bnr2 yaa.. ngasih liat adegan *sensor* ke eunchae… wkwk tp berharap eunchae keceplosan nanya ke oppadeul sj…. wkwk pasti hyukkie oppa jd semangat.. wkwk
    ditunggu kyurin tale selanjutanya.. hwaiting!~^^

  2. Hahaha ciumannya ketahuan sama eunchae..
    Kasian ih eunchae itu masih polos bgt tauuu huhu…
    Kyurin makin so sweet 🙂

  3. astaga…adegan yg dilarang malah ditonton sama eunchae..5 menit pula..hehehe..harin eonni pasti bakal ngamuk2 kalo tw…

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s