Threesome (Part 7 – End)

A Story by Pseudonymous

Title: Threesome || Main cast: 2PM’s Nichkhun, SNSD’s Tiffany & Super Junior’s Siwon || Genre: Romance, Life, Friendship & Shounen-Ai || Length: Chapter || Rating: PG-15 || Disclaimer: My plot for sure. || Credit poster: Kihyukha || Previous part: Teaser, Part 1, Part 2, Part 3, Part 4, Part 5, Part 6

***

Sebelum Tiffany sempat membela diri dan mengatakan ketidaktahuannya mengenai apa yang sedang dibicarakan Nichkhun, Taecyeon menghampiri keduanya dan mendorong tubuh Tiffany dengan kasar, hingga gadis itu tersungkur jatuh ke sisi lain lapangan.

“Minggir!”

Taecyeon menarik lengan Nichkhun untuk berdiri. Nichkhun dengan langkah tertatih mencoba keras untuk berdiri, dibantu oleh Seulong dan Changmin yang menahan lengannya.

“Teman-teman!” seru Taecyeon, memandang berkeliling kearah lingkaran kecil seluruh mahasiswa dan mahasiswi di lapangan. “Hari ini kalian sudah tahu bahwa pemuda di hadapan kalian ini, Nichkhun, ternyata adalah seorang gay.”

Tiffany membelalak. Bagaimana mereka tahu?

Tawa mencemooh terdengar di lapangan. Taecyeon menikmati tawa itu dan menjadikan tawa-tawa mengejek itu sebagai kekuatannya untuk memamerkan diri. Ia menatap sosok Nichkhun yang bersimbah darah dengan hina, lalu menendang keras pinggul pemuda itu hingga Nichkhun terlempar ke atas tanah. Tiffany berteriak histeris dan hendak menghampiri Nichkhun, namun Seulong menahan tubuhnya.

“Ini urusan para pria, Tiffany,” desisnya. “Kau sebaiknya mundur.”

Sementara Seulong terus mendorong tubuhnya untuk menjauh, Nichkhun sudah mulai dipukuli oleh Taecyeon dan kawan-kawannya. Tiffany menangis, memberontak, dan mengamuk di lengan Seulong.

“Lepaskan! Aku mohon hentikan! Hentikan!”

Tapi Taecyeon dan kawan-kawannya layaknya binatang buas yang kerasukan iblis, terus menghantamkan tinju-tinju keras mereka di sekujur tubuh Nichkhun—pelipis, tulang pipi, rahang dan perut. Nichkhun terus meringis menahan sakit yang ia rasakan, membuat Tiffany tidak sanggup melihatnya. Semua orang hanya diam seperti seorang pengecut, menonton adegan pemukulan itu tanpa bisa melakukan apa-apa.

Pemukulan itu berlangsung selama dua menit. Dan dalam dua menit itu pula Nichkhun berusaha mempertahankan kesadarannya. Namun, ketika tendangan keras Taecyeon mengenai ulu hatinya sekali lagi, ia memuntahkan darah, lalu jatuh pingsan.

“Taecyeon, hentikan! Ia bisa mati jika kita terus memukulinya!” seru Changmin sambil menarik tubuh Taecyeon untuk mundur.

Taecyeon menghela napas dan tersenyum puas. Ia meludahi wajah Nichkhun dan mendesis, “Itu akibatnya jika kau berani macam-macam denganku, Banci.”

Ketika Taecyeon dan kawan-kawannya bubar dari lapangan, kumpulan orang-orang di lapangan juga ikut bubar, menyisakan isak tangis Tiffany yang masih bertahan di lapangan. Tiffany merangkak mendekati Nichkhun yang tak sadarkan diri dan mengangkat kepala pemuda itu ke atas pangkuannya. Ia membersihkan darah yang menutupi hampir setengah wajah Nichkhun dengan tangannya dan memanggil-manggil nama pemuda itu. Tapi, Nichkhun tidak kunjung menyahut.

***

Tiffany berdiri di depan kamar rawat Nichkhun dan mengintip lewat jendela kecil yang ada di pintu. Wajah Nichkhun kini sudah dibersihkan, luka-luka di wajahnya telah diobati dan diperban, dan dokter bilang Nichkhun hanya perlu banyak istirahat. Orangtua Nichkhun berada di dalam kamar, duduk di samping tempat tidur. Nyonya Horvejkul banyak menangis hari ini dan wanita paruh baya itu dengan setia menunggu anaknya sadar sambil memegangi tangan Nichkhun. Sementara Tuan Horvejkul lebih banyak diam dengan raut serius. Entah perasaan macam apa yang sedang dirasakan pria paruh baya itu, sungguh sulit untuk ditebak.

Tiffany mendesah, lalu duduk di kursi tunggu yang ada di luar kamar. Ia mengamati tangannya yang kotor oleh darah kering dan rasa sedih itu naik lagi ke tenggorokannya. Gadis itu mulai menangis dan terisak lagi. Ia merasa bersalah dan tidak becus sebagai seorang sahabat. Ia terlalu sibuk dengan hubungannya bersama Siwon hingga tidak peka dengan perasaan Nichkhun. Pemuda itu membutuhkannya, namun ia tidak ada di sana.

“Tiffany.”

Tuan Horvejkul keluar dari kamar dan duduk bersama gadis itu.

“Oh, Ahjussi.” Tiffany buru-buru menyeka air matanya dan memaksakan sebuah senyum.

“Bagaimana perasaanmu? Apakah kau baik-baik saja?”

Tiffany tidak yakin harus menjawab apa, maka ia hanya mengangguk samar.

Terdengar helaan napas dari Tuan Horvejkul. “Apakah kau sudah mengetahuinya sejak awal?” tanya pria paruh baya itu dengan suara serak.

Tiffany tahu persis apa yang sedang dibicarakan oleh Tuan Horvejkul, maka ia segera mengangguk. “Aku tahu.”

Tuan Horvejkul ikut mengangguk-angguk. “Jadi, karena itu kau memercayakan dirimu padanya ketika kalian sedang bersama—saat kalian tidur sekamar—karena kau tahu ia tidak akan berbuat sesuatu padamu?”

Tiffany menggeleng lemah. “Justru sebaliknya, Ahjussi,” Tiffany menatap Tuan Horvejkul dengan sendu. “Nichkhun yang memercayakan dirinya padaku.”

Tuan Horvejkul mengangkat alisnya.

“Apa kau mengerti, Ahjussi..” Suara Tiffany terdengar serak, hendak ingin menangis lagi. “..betapa sulitnya hidup sebagai seorang gay?”

Tuan Horvejkul menggeleng dan menghela napas. “Ya, tapi kau juga tidak mengerti betapa kecewanya kami ketika Nichkhun mengatakan hal itu.”

“Bukan hanya Anda yang merasa kecewa, Ahjussi, tapi Nichkhun juga,” isak Tiffany. Matanya yang telah berkaca-kaca memandang lurus mata Tuan Horvejkul yang tegas dan keras kepala. “Andai saja Anda tahu betapa tersiksanya Nichkhun selama ini. Ia pernah mengatakan padaku bahwa seandainya saja semua orang bisa seterbuka sepertiku, mungkin hidup akan menjadi lebih mudah. Ia tidak tahan tersiksa dalam keadaan seperti ini, mesti hidup dengan image yang orang-orang inginkan, daripada hidup sebagai dirinya sendiri. Tidak semua orang seberani Nichkhun, Ahjussi.”

Tuan Horvejkul bisu seribu bahasa. Bulu kuduknya merinding, namun sorot matanya masih tetap seperti itu. Tiffany merasa sia-sia dan mengusap air matanya.

“Maaf,” katanya sambil beranjak berdiri. “Aku harus pulang. Aku yakin, Nichkhun tidak ingin melihatku ada di sini ketika ia sadar. Katakan padanya untuk banyak istirahat.”

Tuan Horvejkul mengangguk sekilas, lalu melepas kepergian Tiffany dengan sebuah perasaan bimbang.

***

“Ya Tuhan, Eonnie, kau berdarah!” pekik Jessica panik, melihat tangan dan lengan Tiffany penuh oleh darah kering.

Tiffany menggeleng. “Tidak apa-apa. Ini hanya darah kering.”

Jessica menghela napas. “Astaga, kupikir terjadi sesuatu padamu.”

“Memang,” sahut Tiffany.

“Eh?”

Tiffany diam saja, sedang merasa tidak bertenaga untuk menjelaskan apa pun.

“Apa yang terjadi sebenarnya?” desak Jessica.

Tiffany masuk ke kamar mandi, mencuci tangannya di wastafel dan menyahut, “Nichkhun dipukuli orang hari ini sampai pingsan.”

Jessica bergidik. “Kejam sekali. Memangnya ia melakukan apa?”

Tiffany memutar kran air, menyeka tangannya pada serbet yang digantung di samping wastafel, lalu berjalan menghampiri Jessica yang berbaring telungkup di atas tempat tidur. Gadis itu memandangi adiknya yang menatapnya dengan rasa ingin tahu, lalu menjawab, “Ia dipukuli hanya karena ia ingin menjadi dirinya sendiri.”

Jessica menautkan kedua alisnya. “Apa maksudmu?”

“Semua orang di kampus sudah tahu bahwa Nichkhun adalah gay.”

Terdengar hentakan napas dari tenggorokan Jessica. Gadis itu cepat-cepat beranjak dari tempat tidur dan berdiri. “Bagaimana mereka bisa tahu?”

Tiffany mengedikkan bahu. “Aku tidak tahu. Nichkhun bahkan menuduhku bahwa aku yang mengatakannya pada semua orang soal dirinya.”

“Tapi,” Jessica memicingkan mata. “Bukan kau, kan, yang memang membocorkan hal itu ke semua orang?”

Tiffany melirik sinis kearah Jessica, membuat adiknya terkekeh pelan. “Hanya bercanda.”

“Tidak lucu!”

Jessica mendengus, menanggapi jawaban ketus kakaknya dan kembali duduk di atas tempat tidur. “Entah bagaimana, hal ini agak mengingatkanku pada reaksi pertamamu saat Nichkhun mengaku bahwa ia tidak menyukai seorang wanita.”

Tiffany menatap diri di cermin dan mendesah. “Memangnya reaksiku seperti apa?”

“Hm..” Jessica mengangkat dagunya, mengingat-ingat sebentar, lalu berseru, “Aku ingat, kau bilang seperti ini pada Khun oppa, ‘aku malah lebih lega sudah tahu bahwa siapa kau sebenarnya, jadi aku tidak perlu kebanyakan berkaca lagi’.”

Jessica tertawa saat memparodikan gaya bicara kakaknya saat itu, namun Tiffany tidak ikut berpartisipasi sama sekali. Walau saat itu Tiffany memang mengatakan hal seperti itu dengan seringai di wajahnya, ia diam-diam sedang terluka.

Jessica berhenti tertawa ketika melihat kakaknya hanya diam dan menatap wajahnya di dalam cermin. “Eonnie, apakah perkataanmu saat itu benar-benar serius?” tanya Jessica hati-hati. “Apa kau memang sempat menyimpan perasaan pada Khun oppa?”

Tiffany mendesah dan tersenyum pada bayangan Jessica di cermin. “Selalu.”

***

Nichkhun duduk bersandar pada bantal. Di samping tempat tidurnya ada sepasang tongkat ketiak. Ia memandang wajah-wajah yang mengelilinginya, dan ia merasa ingin lari jauh-jauh.

Pamannya berdeham. “Kau terlihat lebih sehat,” katanya. Yang lain mengangguk-angguk setuju—ada Bibi Nichkhun, sepupu-sepupunya, dan neneknya. Semua datang untuk Nichkhun, yang padahal tidak pernah sebelumnya bersikap seperhatian itu padanya. Mereka hanya ikut-ikut atau berpura-pura bersimpati.

“Bibi membawakan kue kesukaanmu. Muffin,” bisik Bibinya.

“Terimakasih,” kata Nichkhun. Aku tidak pernah suka Muffin.

“Wah, terimakasih,” seru Nyonya Horvejkul berlebihan. “Aku yakin Nichkhun akan menghabiskannya nanti.” Nyonya Horvejkul meraih kotak kue yang dibawa oleh adik iparnya dan melihat berkeliling. “Di mana kita taruh ini?”

Pamannya menarik kursi. Bibinya mengosongkan sebuah meja kecil. Nyonya Horvejkul memindahkan tongkat ketiak Nichkhun. Hanya Tuan Horvejkul yang tidak menyibukkan diri basa-basi. Ia berdiri di dekat dinding, jaketnya terlipat di lengan, memandang luka perban di pelipis Nichkhun.

Nichkhun bertemu mata dengan ayahnya. Ayahnya menunduk dan tangannya menelusuri tepian jendela. Nichkhun menegangkan setiap otot di tubuhnya, dan dengan segenap kemauan dan kemampuannya berusaha menahan air mata.

***

Dua hari setelah keluar dari rumah sakit, keadaan belum banyak berubah. Nichkhun belum bicara dengan ayahnya. Ia hanya bicara dengan ibunya, itu pun hanya sekadar dan selalu ibunya yang memulai percakapan. Nichkhun masih merasa belum siap untuk berbicara lebih banyak dengan mereka. Selain itu, hubungannya dengan Tiffany benar-benar putus setelah hari itu. Tiffany tidak menghubunginya sama sekali atau menjenguknya—mungkin karena takut jika Nichkhun akan marah atau justru memang Tiffany sudah tidak peduli lagi padanya—walau sebenarnya, ia diam-diam mengharapkan kedatangan Tiffany dan ingin berbagi cerita dengan gadis itu. Ah, tidak, batin Nichkhun. Tiffany terlalu sibuk dengan Siwon.

Nichkhun lebih banyak mengurung diri di kamar dan menonton televisi. Tapi, kegiatan itu membuatnya bosan. Diliriknya satu set playstation yang berdebu di bawah rak televisi. Debu tebal itu sudah cukup menunjukkan bagaimana renggangnya hubungan Nichkhun dengan Tiffany akhir-akhir ini. Ritual menginap bersama dan menemani Tiffany bermain playstation sampai pagi tidak lagi dilakukan. Jarang, bahkan hampir tidak pernah lagi.

Nichkhun beranjak duduk di atas karpet dan mengusap bagian karpet yang biasa didudukki Tiffany. Ia membungkuk ke depan untuk memasang kabel playstation pada televisi dan mengambil joystick. Nichkhun memutar permainan Winning Eleven yang selama ini sangat dihindarinya dan memilih tim favorit Tiffany, Inter Milan. Ia bermain dengan penuh emosional dan berjuang keras untuk mencetak gol pada gawang lawan. Namun usahanya gagal. Justru sebaliknya, gawangnya yang kebobolan.

Score kini menjadi kosong-satu untuk Nichkhun. Raut wajah Nichkhun memerah dan ia beberapa kali mengerang kesal karena bolanya terus-terusan berhasil direbut oleh tim lawan. Dan ketika tim lawan mencetak angka kedua, Nichkhun berteriak frustasi, lalu melempar joystick ke lantai hingga bagian ujungnya pecah. Nichkhun menutup wajahnya, melipat lututnya dan menenggelamkan wajahnya di sana, lalu menangis.

***

“Ayahku akan mengadakan dinner bersama pada hari Valentine nanti,” kata Siwon di ujung telepon.

Tiffany bergumam, “Okay, lalu?”

“Aku ingin kau datang bersamaku. Aku ingin memperkenalkanmu pada ayahku. Kau mau, kan?”

Tiffany diam sebentar. Diliriknya majalah edisi Busker Busker yang ada di meja pinggir tempat tidur dan mengingat bahwa Busker Busker akan konser pada hari Valentine nanti. Ia dan Nichkhun sudah berencana sejak sebulan yang lalu bahwa mereka akan nonton bersama, tapi mengingat keadaannya sudah seperti ini, rasanya rencana itu sudah batal sepenuhnya.

“Tiffany?” Siwon memanggilnya lembut. “Ada apa? Apa kau tidak bisa ikut bersamaku?”

“Hm..”

“Memangnya kau sudah punya rencana pada hari Valentine nanti?”

“Tidak,” tukas Tiffany. “Aku akan ikut bersamamu. Kita akan bertemu dengan ayahmu.”

***

Nichkhun turun dari bus dan merapatkan jaketnya begitu sampai di sana. Bangunan itu berlapis batu paras cokelat, berdiri di daerah Yeouido, dua puluh menit dari rumah Nichkhun jika menggunakan bus. Bangunan itu bertangga batu dan bercahaya hangat dan nyaman di dalamnya. Nichkhun tidak yakin apa yang sudah membawanya ke sini. Ia mengeluarkan secarik kertas kusut yang ditemukannya di samping telepon dari saku jaketnya dan menatap alamat itu sekali lagi. Sudah benar.

Nichkhun meniti tangga teras bangunan itu dengan hati berdebar dan melirik sebuah papan nama yang ada di samping bel pintu. “Dr. Kim Taeyeon”. Nichkhun mengetuk pintunya dengan pelan dan seorang wanita muncul dan membukakan pintu untuknya.

“Mencari siapa?” Suara wanita itu terdengar tidak ramah dan ia sedang mengunyah permen karet di mulutnya.

“Aku ingin bertemu dengan Dr. Taeyeon,” sahut Nichkhun. “Apakah ia ada?”

Wanita itu mengangguk. “Sudah buat janji sebelumnya?”

“Aku rasa sudah. Orangtuaku mendaftarkanku ke sini dan sudah menjadwalkan pertemuan kami setiap hari Senin.”

“Jadi, yang perlu berkonsultasi kau atau orangtuamu?”

Nichkhun agak kesal. “Katakan saja, apakah aku bisa bertemu dengan Dr. Taeyeon atau tidak?”

Okay, okay, santai saja, Bung.” Wanita itu membuka pintu lebih lebar. “Masuklah.”

Nichkhun masuk ke dalam dan duduk di sofa cokelat yang sudah kumal di tengah ruangan. Wanita itu berdiri di meja kerjanya, sedang melakukan sesuatu. “Oh yah, siapa namamu?” tanyanya.

“Nichkhun. Nichkhun Horvejkul.”

Wanita itu menulis sesuatu dan berdiri. “Dr. Taeyeon ada di dalam,” Wanita itu menuding sebuah pintu ruangan dengan nama dan gelar Taeyeon yang tertulis di sana. “Masuklah.”

Nichkhun berdiri dan berjalan menghampiri pintu itu dengan lutut gemetar. Entah mengapa ia harus merasa takut dan gugup, seolah ia sedang menuju dan menghadapi kematiannya. Wanita itu cekikikan di balik meja kerjanya dan berseru, “Tenang saja. Dr. Taeyeon tidak menggigit, kok.”

***

Kantor Taeyeon adalah ruangan yang sangat kecil, hanya cukup untuk dua kursi berlengan. Taeyeon tersenyum ramah kepada Nichkhun dan menjabat tangan pemuda itu dengan kencang. Tadinya, Nichkhun mengira Taeyeon adalah seorang wanita paruh baya dengan rambut nyaris putih semua, tapi justru sebaliknya. Ia terlihat mudah dan energetic.

“Aku sudah lama menantikanmu berkunjung ke kantorku, Tuan Horvejkul,” kata Taeyeon sambil mempersilahkan Nichkhun duduk.

Nichkhun mengulum senyum. “Panggil saja Nichkhun.”

Okay, Nichkhun,” ulang Taeyeon dengan nada berlebihan. Perempuan itu tersenyum dan mengambil sebuah buku catatan dari mejanya dan duduk bersama Nichkhun. “Jadi, Nichkhun, aku akan memulai perbincangan kita hari ini. Aku harap kau bisa nyaman menceritakan masalahmu padaku. Okay?”

Nichkhun mengangguk. Taeyeon mulai bertanya dengan hal-hal dasar, seperti berapa umur Nichkhun sekarang, berkuliah dimana dan jurusan apa, apa cita-citanya dan hal-hal umum lainnya, lalu mencatatnya di dalam buku catatannya tersebut. Setelah pertanyaan-pertanyaan umum itu selesai, Taeyeon beralih ke pertanyaan yang lain, menjurus ke persoalan pribadi.

“Orangtuamu meneleponku pertama kali dan mengatakan dugaan mereka kepadamu, lalu telepon kedua yang kuterima dari ayahmu yang bernada marah dan kecewa, mengatakan bahwa kau mengakui dugaan mereka selama ini. Jadi, bisakah kau jelaskan kembali kepadaku, apa yang kau akui pada mereka saat itu?”

Nichkhun tertunduk malu dan tampak tidak yakin, tapi Taeyeon cepat-cepat mengambil alih keadaan. “Tidak apa-apa,” katanya. “Katakan saja.”

“Aku mengaku kepada mereka kalau aku..” Nichkhun terdiam sebentar dan melanjutkan, “..gay.”

Okay.” Taeyeon mengangguk dan mencatat lagi pada buku catatannya. “Sejak kapan kau merasa bahwa kau ini adalah homoseksual?”

Nichkhun menggeleng tidak yakin. “SMP, mungkin?”

Okay. Jadi, apakah sebelumnya ada orang yang tahu bahwa kau adalah homoseksual atau kau menyimpan rahasia ini sendiri?”

“Ada seseorang yang tahu. Sahabatku, Tiffany.”

“Tiffany? Seorang perempuan?” tanya Taeyeon, agak terkejut.

“Ya, seorang perempuan.” Nichkhun tertawa ringan. “Aku sendiri sebenarnya masih tidak percaya masih ada seorang perempuan yang ingin bersahabat denganku walau ia sendiri tahu bahwa aku tidak suka perempuan.”

Taeyeon mengangguk setuju. “Jadi, bisakah kau utarakan alasan mengapa Tiffany masih ingin bersahabat denganmu—jika kau tidak tahu alasannya yang pasti, bisa jelaskan saja dugaanmu mengapa ia mau berteman denganmu.”

“Mungkin karena ia bernasib hampir mirip denganku sehingga kami bisa lebih mudah memahami perasaan kami masing-masing?” ujar Nichkhun tidak yakin.

“Oh yah? Di bagian mananya yang mirip?”

“Kami sama-sama punya hubungan yang tidak cukup baik dengan orangtua masing-masing.”

“Kau begitu?”

Nichkhun menggeleng. “Hanya dengan ayahku.”

Okay.” Taeyeon mencatat lagi. “Sejak kapan hubunganmu dengan ayahmu tidak berjalan dengan baik?”

“Sejak SMP.”

“Apa yang membuat hubungan kalian renggang?”

“Ayahku sedikit keras kepala. Ia selalu memaksaku melakukan sesuatu yang tidak kusukai.”

“Seperti?”

“Sepakbola.”

“Kau tidak suka sepakbola?”

“Aku menaruh minat, tapi tidak ingin menjadi pesepakbola. Ayahku memaksa, dan akhirnya aku membenci sepakbola.”

“Karena sepakbola membuat hubungan dengan ayahmu rusak?”

Nichkhun menggeram, “Mungkin.”

Satu jam terus berlalu. Nichkhun menceritakan seluruh kejadian-kejadian tidak menyenangkan bersama ayahnya. Bagaimana ayahnya bersikap kaku padanya, atau bagaimana ayahnya terus melakukan kekerasan padanya ketika ia masih kecil. Setelah cerita yang panjang itu selesai, mereka berlanjut ke topik yang lain.

Okay, Khun,” Taeyeon memperbaiki posisi duduknya dan menunduk menatap catatannya. “Bisakah kau jelaskan padaku bagaimana awal mula kau merasa bahwa dirimu adalah seorang gay?”

Nichkhun mengedikkan bahu. “Sebenarnya aku tidak begitu yakin.”

Taeyeon mengerutkan alis. “Kau tidak yakin kalau kau gay?”

Nichkhun diam beberapa saat, bergerak-gerak gelisah di kursinya dan berdeham. “Jujur saja, baru-baru ini aku mengalami sebuah transformasi perasaan yang sangat aneh. Kau masih ingat soal sahabatku, Tiffany?—ia menjalin hubungan dengan seorang pria baru-baru ini, namanya Siwon.”

Okay, lalu? Kau jatuh cinta pada pria itu?”

Nichkhun mengedikkan bahu. “Tidak terlalu yakin. Tapi, terkadang aku merasa cemburu, tapi entah kepada siapa.”

Kali ini Taeyeon menunjukkan sebuah senyum—senyum ketika kau merasa sudah menemukan jawaban dari apa yang selama ini kau pertanyakan.

***

Nichkhun menemui Taeyeon tiap hari dan berbicara banyak soal Tiffany dan ayah Nichkhun. Mereka menyempatkan lebih banyak waktu untuk bercerita bahkan di luar jadwal pertemuan Nichkhun. Dan setelah hampir seminggu terakhir ini, Taeyeon sudah bisa menyimpulkan apa yang terjadi pada diri Nichkhun selama ini. Dan ketika mereka mengakhiri pertemuan mereka malam itu, Nichkhun mengeluarkan dua buah tiket Busker Busker dari saku jaketnya dan menunjukkannya pada Taeyeon.

“Ini tiket konser Busker Busker. Sebenarnya kubeli untuk Tiffany dan diriku, kami sudah berencana untuk menontonnya lusa nanti, tepat pada hari Valentine,” kata Nichkhun dengan suara lirih. “Tapi, karena Tiffany sepertinya tidak bisa nonton bersamaku, apakah kau mau menemaniku nonton bersama?”

“Hm, entahlah, Khun.” Taeyeon mengedikkan bahu. “Aku merasa tidak pantas menerima tiket itu.”

“Tapi—”

“Berikan saja kepada orang lain yang lebih pantas nonton bersamamu.”

“Tapi, kepada siapa?”

Taeyeon mengedikkan bahu lagi. “Entahlah. Siapa saja.”

Nichkhun akhirnya mengantongi dua tiket itu dan pulang ke rumah. Setelah Nichkhun pergi, Taeyeon diam-diam menelepon kediaman keluarga Horvejkul dan senang mendengar suara Tuan Horvejkul yang langsung menyambut teleponnya saat itu.

“Ini aku, Taeyeon, Tuan Horvejkul.”

“Oh, senang bisa berbicara denganmu. Bagaimana? Apakah obrolanmu dengan Nichkhun menyenangkan hari ini?”

Taeyeon tersenyum. “Selalu. Oh yah, bisakah kita bicara sebentar agak lama di telepon, Tuan Horvejkul—jika kau merasa tidak begitu sibuk?”

“Tentu saja. Apa yang ingin kau bicarakan?”

***

Semua orangtua merusak anak-anak mereka. Tak bisa dihindari. Anak-anak, seperti gelas cair, mengikuti bentuk yang dibuat oleh pencetak mereka. Sebagian orangtua membuat buram, sebagian membuat retak, sebagian lagi meremukkan masa kecil menjadi pecahan-pecahan yang tak mungkin lagi diperbaiki. Tapi Taeyeon berhasil meyakinkan Tuan Horvejkul bahwa masih ada kesempatan untuk memperbaikinya, jika ia memang benar-benar mau.

Jadi, ketika Nichkhun sampai di rumah dan terkejut mendengar suara playstation bergaung dari kamarnya, ia pikir itu adalah Tiffany dan segera berlari kecil menuju kamarnya, tetapi justri mendapati ayahnya duduk di atas karpet dengan joystick di tangannya.

“Hai, Khun!” Ayahnya tersenyum kearahnya dan menepuk-nepuk karpet. “Duduklah disini. Temani ayah bermain.”

Nichkhun duduk dengan canggung bersama ayahnya dan memandangi joystick baru yang dibeli oleh ayahnya—mengingat yang satu sudah rusak dibanting olehnya. Nichkhun memandangi wajah ayahnya dengan sorot bertanya-tanya—“apakah pria ini benar-benar ayahku?”—mengingat Tuan Horvejkul bersikap lebih ramah daripada biasanya.

“Kau ingin bermain juga?”

“Tidak,” sahut Nichkhun. “Aku tidak suka bermain Winning Eleven.”

Okay,” Terdengar nada kecewa dari ayahnya, tapi itu tidak berlangsung lama, karena setelah itu ayahnya berhenti bermain dan keheningan itu dimulai.

“Khun,” ayahnya mulai lagi. “Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.” Tuan Horvejkul menarik sebuah album foto yang disembunyikan dari belakang punggungnya dan menunjuk sebuah foto pada Nichkhun. Foto keluarga. Ada ayahnya dan satu saudara laki-laki ayahnya yang pernah datang menjenguk Nichkhun di rumah sakit saat itu.

“Apa kau ingat bagaimana raut wajahku di rumah sakit saat itu ketika pamanmu datang menjenguk?”

Nichkhun mengangguk. Ya, dan kupikir itu karena kau masih tidak menyukaiku.

“Aku berani bertaruh bahwa kau pasti mengira aku masih kesal karena perilakumu beberapa hari yang lalu, tapi bukan karena itu,” jelas ayahnya.

“Lalu, karena apa?”

“Karena keberadaan pamanmu di sana.”

Nichkhun mengangkat alis. “Ada apa dengan paman?”

“Kau tahu, Khun,” ayahnya mulai bercerita. “Aku dulu—ketika masih kecil, sangat takut pada kakakku, pamanmu. Ia selalu menindasku dan tidak pernah membiarkanku merasakan kebahagiaanku. Aku menjadi sangat takut padanya dan rasa takut itu kemudian berubah menjadi benci.”

“Kenapa bisa seperti itu?”

Tuan Horvejkul mengedikkan bahu. “Seperti itulah adanya. Ketika kau takut pada seseorang, maka dengan otomatis kau juga akan membencinya. Dan..” Tuan Horvejkul menahan jeda di antara kalimatnya dan melanjutkan dengan suara lirih, “..aku tidak mau hubungan kita juga menjadi seperti itu.”

Nichkhun menelan ludah saat melihat ayahnya mulai menangis dan menariknya ke dalam pelukan yang sudah lama ia rindukan itu. “Setiap orang mencari kebahagiaannya sendiri,” bisik Tuan Horvejkul, mengutip ulang ucapan Taeyeon di telepon. “Dan itu tergantung bagaimana dan cara seperti apa orang itu untuk meraih kebahagiaannya. Dan bagiku,” Tuan Horvejkul melepas pelukannya dan tersenyum. “Aku akan mendukung apa pun yang bisa membuatmu bahagia.”

***

Tiffany duduk di jok mobil memandangi jam tangannya. Hari ini hari Valentine, tanggal empat belas Februari, dan waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lewat empat puluh menit. Dua puluh menit lagi konser Busker Busker akan dimulai. Seharusnya, Tiffany berada di antrian masuk ke gedung konser bersama Nichkhun saat itu, bukannya duduk di dalam mobil dengan dress ungu selutut bersama Siwon.

“Bagaimana keadaan Nichkhun sekarang?” tanya Siwon, membuyarkan lamunan Tiffany soal Busker Busker.

Tiffany menoleh kearahnya dan mengedikkan bahu. “Aku sudah tidak bertemu lagi dengannya sejak kejadian itu.”

Siwon mengangkat alis. “Kejadian itu?”

“Oh, maaf,” kata Tiffany. “Aku lupa menceritakan padamu bahwa Nichkhun sudah mengaku kepada kedua orangtuanya bahwa ia adalah gay.”

Ban mobil berdecit. Siwon menginjak keras-keras pedal rem, hingga nyaris membuat kepala Tiffany menabrak dashboard mobil.

“Ya Tuhan!” Tiffany menjerit ketakutan. “Ada apa denganmu?” pekiknya marah.

Siwon terengah di jok kursinya. Kedua tangannya menggenggam erat stir mobil, sementara keringat dingin membasahi kemejanya.

“Siwon?” Tiffany menatap pemuda itu khawatir. “Kau baik-baik saja?”

Siwon menelengkan kepalanya kearah Tiffany dan menatap gadis itu dengan sorot mata mengiba dan berkaca-kaca. “Tiffany, jika aku mengakui hal ini padamu, maukah kau memaafkanku?”

“A-apa maksudmu?”

“Berjanjilah padaku, bahwa kau tidak akan membenciku.”

Okay,” Tiffany mengangguk kikuk. “Apa yang ingin kau katakan?”

***

“Aku gay.

Tiffany berlari kecil, menuruni jalanan bukit dengan sepatu high heels.

“Maaf, aku membohongimu. Kau tahu, ayahku akan datang dari Inggris dan ia ingin aku memperkenalkan seorang gadis untuknya untuk membuatnya percaya bahwa aku masih seseorang yang normal.”

Tiffany berhenti berlari, bertopang pada kedua lututnya. Napasnya terengah. Gadis itu melepas sepatu high heels-nya dan kembali berlari.

“Aku yakin kau paham bagaimana rasa sakit yang kurasakan selama ini—bersembunyi di balik topeng ini. Aku hanya ingin hidup sebagai diriku sendiri, karena dengan begitu aku merasa bahagia, aku harap kau mengerti.”

Tiffany melirik jam tangannya. Sepuluh menit lagi konser Busker Busker akan dimulai. Aku masih punya kesempatan. Tiffany mempercepat tempo larinya sampai ia akhirnya melihat sebuah halte bus di kejauhan.

“Dan ada satu hal lagi yang perlu kau tahu..”

Tiffany berhasil mengejar satu bus terakhir itu dan masuk ke dalam. Ia duduk di salah satu bangku dekat jendela dan menghadap ke pemandangan luar.

“Saat kejadian di apartemenmu itu, bukan Nichkhun yang duluan menciumku, tapi justru aku duluan yang menciumnya..”

Tiffany memandangi pohon-pohon dan rumah-rumah yang dilewati bus dengan mata berkaca-kaca. Ia memilin-milin jemari tangannya dengan gelisah dan berbisik lirih, “Khun..”

***

Tuan Horvejkul berlari kecil menuju pintu depan ketika bel berbunyi. Dan begitu pintu dibuka, Tiffany muncul dengan wajah sembap.

“Tiffany?”

“Apakah Khun ada?”

Tuan Horvejkul mendongak ke lantai atas dan kembali ke Tiffany. “Tadi kulihat ia keluar. Ia bilang ingin menonton konser Busker Busker.”

“Oh, okay.” Tiffany baru saja ingin kembali berlari dengan kaki telanjang, namun Tuan Horvejkul dengan cepat mencegatnya.

“Tiffany! Biar kuantar.”

Mereka dengan cepat naik ke dalam mobil dan menuju gedung konser Busker Busker di pusat kota. Tuan Horvejkul melirik Tiffany yang duduk dengan gelisah di joknya dan terus-terusan menatap jam digital yang ada di dashboard mobil. Lima menit lagi konser Busker Busker akan dimulai.

“Kita belok ke kiri, kan?” tanya Tuan Horvejkul.

Tiffany menggeleng. “Tidak, terus saja.”

“Bukankah gedung konsernya ada di sana?”

Tiffany menggeleng lagi. “Kita tidak akan ke gedung konser, Ahjussi. Nichkhun memang bilang ia akan pergi menonton konser Busker Busker, tapi kami punya seat khusus untuk menonton konser. Ia tidak pergi ke gedung konser, tapi ke seat khusus untuk kami.”

***

Nichkhun duduk di depan api unggun sambil memandangi dua tiket Busker Busker yang ada di tangannya dengan bimbang. Ia mendongak ke kejauhan dan melihat arena konser Busker Busker yang menyala terang dan sudah dipadati oleh ribuan penggemar. Seharusnya aku bisa berada di sana bersama Tiffany, lirihnya dalam hati.

“Halo, Tampan!”

Nichkhun mengenali suara itu. Pemuda itu berbalik ke belakang dengan pelan dan mendapati Tiffany berdiri tidak jauh dari belakangnya dengan seringai khasnya yang menggemaskan. “Tiffany?”

Tiffany segera menghambur ke dalam pelukan Nichkhun. Nichkhun balas memeluk gadis itu dengan erat dan menghirup aroma tubuh Tiffany yang ia rindukan. Tiffany melepas pelukannya pada Nichkhun dan menatap wajah pemuda itu dalam jarak yang sangat dekat.

“Khun,” bisiknya. “Bolehkah aku memohon satu permintaan darimu pada hari Valentine ini?”

Nichkhun terlihat agak ragu pada awalnya, namun akhirnya mengangguk juga.

“Bisakah kau menjadi seorang laki-laki untukku dalam waktu sepuluh menit? Eh, tidak.” Tiffany menggeleng. “Bagaimana kalau lima menit?” Ia menggeleng lagi. “Tidak, tidak. Bagaimana kalau dua menit?”

Nichkhun tersenyum lembut. “Kau minta apa saja akan aku beri.”

Tiffany tersipu-sipu malu. Ia menjinjit kearah Nichkhun, lalu mengecup bibir pemuda itu. Keduanya terhanyut dalam keintiman yang lebih dalam. Nichkhun balas mencium Tiffany—dalam dan lama, sesuatu yang tidak pernah dialaminya sebelum ini dan rasanya sungguh berbeda dibandingkan saat Siwon menciumnya. Yang ini rasanya lebih.. tulus.

Sementara itu, Tuan Horvejkul melihat pemandangan itu dengan senyum di wajahnya. Pemandangan itu agak mengingatkannya pada perkataan Taeyeon soal Nichkhun di telepon beberapa saat yang lalu:

“Nichkhun tidak benar-benar gay, Tuan Horvejkul. Ia hanya sedang kehilangan dirinya sendiri dan sedang mencari-cari. Andalah yang menjadi sosok yang ia cari-cari, namun Anda tidak mampu memberikan diri Anda sepenuhnya kepada Nichkhun sehingga ia harus mencari cara lain untuk menemukan Anda, yaitu dengan mencari-cari kasih sayang seorang Ayah pada diri pria-pria yang ia temui. Dan menurut apa yang kulihat, lubang di dalam dirinya masih kosong sekarang. Anda masih punya kesempatan untuk mengisi lubang itu dengan diri Anda sebelum lubang itu diisi oleh orang lain.”

***

“Kakiku pegal sekali,” gerutu Tiffany. “Dan semua ini gara-gara kau. Pokoknya kau mesti memijatku saat pulang nanti.”

Nichkhun terkekeh. “Okay. Oh yah, bagaimana dengan Siwon? Bukankah ia ada acara makan bersama keluarganya hari ini?”

Tiffany mengangguk. Wajahnya terlihat tegang untuk beberapa detik, lalu kembali rileks. “Kupikir ia sudah menemukan jalan hidupnya sendiri.”

***

“Kau dimana sekarang? Ayah sangat murka karena kau belum datang juga!” pekik Sunhwa di telepon.

Siwon melepas jasnya dan menyingkirkannya ke jok belakang. “Maaf, katakan saja pada Ayah bahwa aku tidak akan pulang.”

“Tapi, kenapa? Siwon, kau sudah gila, huh? Pulang sekarang juga!”

“Maaf, Noona,” tukas Siwon. “Mulai sekarang aku tidak mau lagi hidup dibawah bayang-bayang kalian,” lanjutnya, lalu segera memutuskan sambungan telepon.

Siwon menyandarkan tubuhnya ke sandaran jok dan menghela napas. Belum pernah ia merasa selega ini. Akhirnya. Siwon membanting stir menuju ke supermarket yang ada di pinggir jalan dan turun untuk membeli botol air mineral. Begitu sampai di kasir, ia melihat seorang pemuda mengantri di belakangnya. Mereka saling berpandangan untuk beberapa saat dan bertukar senyum. Siwon sempat ragu untuk melakukannya atau tidak, namun akhirnya mengulurkan tangan juga kearah pemuda itu.

“Hai!”

Pemuda itu menyambut uluran tangan Siwon dan tersenyum. “Hai.”

the end.

***

A/N: Finally, bagaimana ending-nya? Menggelikan? Nggak jelas? Terlalu cepat? Nggak masuk akal? Kepanjangan? Hehehe😀 Maaf yah, kalau emang ending-nya mudah ditebak & mengecewakan.😦

83 thoughts on “Threesome (Part 7 – End)

  1. halo thor~ aku comen di part awal dan akhir aja gpp ya?
    hehe..
    udah ngeduga nih kalo si siwon gay.. tapi.. yah.. masa ganteng2 gay sih? .-.
    well, akhirnya nikhun ga gay.. :3
    simpel ceritanya, tp ngena deh..
    sayang endingnya agak gantung..
    tp aku suka thor.. :3

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s