[FF Freelance] Young Woman With Blue Umbrella (Part 1)

Young woman with Blue Umbrella

Nama              : Dindon

Rating             : NC – 17

Length                        : Chapter

Genre              : Romance, drama, hurt

Main Cast                   : Lee Junho, Ahn Sohee, Choi Seunghyun

Support Cast              : Wooyoung, Min Jun, Chansung

Disclaimer                   : 100% hasil karya sendiri, plagiat big no…. terinspirasi dari banyak hal, maaf kalo ceritanya agak geje dan benar – benar ga banget. Main castnya pake abang Junho dan mbak Sohee, bener – bener gag umum tapi aku suka ma dua – duanya. Dan nyempil ucapan terima kasih buat authornya yang uda ngepost

 

Aku tak pernah menyangka bahwa sebuah payung bisa mengikat hatiku, seperti ketika hujan membasahi tubuhku. Aku merasa dingin, hatiku benar – benar merasa dingin.

 

Seorang pria terlihat tergeletak tak berdaya di sebuah ruangan kecil yang cukup gelap, tak ada satupun jendela di tiap sisi dindingnya. Hanya sebuah pintu besi dengan lantai yang sedikit tergenang air. Juga sebuah AC yang terlihat tak cukup baik pula, sunyi.. hanya tetesan air yang secara berkala menetes dari sebuah AC yang terletak di sisi kiri atas dinding. Tubuhnya basah, percampuran antara darah, keringat juga genangan air di lantai. Kelopak matanya terlihat bengkak dan pelipis kirinya robek, cairan merah kental masih mengalir dari belakang kepalanya. Kilasan – kilasan bayangan masa lalunya seakan terekam pelan di otaknya diantara usahanya menghirup udara pengap masuk ke paru – paru yang entah berapa kali terkena pukulan. Seharusnya sekarang ia berdiri diantara para penumpang kereta api seperti rutinitasnya. Memegang ubi panas dan segelas kopi pahit di tangannya. Apa yang telah di lakukanya?? Kenapa ia harus seperti ini?? iapun tak tahu pasti.

Seorang pria membuka satu – satunya pintu tempat pria bernama Lee Junho itu tergeletak tak berdaya, diiringi masukkan cahaya lampu yang menyinari sebagian kecil ruangan gelap itu. pria itu menyeret tubuh Junho begitu saja dan memasukkannya ke dalam bagasi sebuah mobil.

Bukk…. pria itu melempar tubuh Junho di tempat sampah, ia menoleh ke kanan dan  ke kiri memastikan tak ada seorangpun yang melihatnya lalu segera melesatkan mobilnya pergi begitu saja.

 

 

Junho

Apakah aku masih hidup??? Ataukah aku hanya bermimpi??? Aku bahkan tak merasakkan apapun sekarang. Rasanya seakan sama saja, semua terlihat gelap dan samar – samar. Aku bahkan bisa menghirup aroma kopi yang sering kuhirup tiap pagi sebelum berangkat kerja. Aku hanya mengingat percakapan terakhirku dengan Wooyoung sebelum aku berangkat kerja. Aku juga hanya mengingat senyum seorang gadis yang keluar dari toko roti tiap pagi di ujung jalan, ia selalu memakai payung birunya menunggu sebuah mobil menjemputnya. Aku masih sanggup menggerakkan ujung jemariku sebelum sebuah awan gelap seakan benar – benar menelan keberadaanku.

Sebuah mobil berhenti tak jauh dari tempat Junho tak sadarkan diri, seorang gadis dengan mantel hitam keluar dari mobilnya. Ia mengangkat tubuh Junho ke dalam mobil dengan sekuat tenaga, beberapa kali ia mengusap air matanya ketika menatap namja yang ada di depannya begitu sangat menyedihkan. Ia buru – buru masuk ke mobil dan memutar kemudinya dan melesat pergi.

 

 

Sehari sebelumnya.

 

Junho menatap kaca kecil yang ada di meja kamarnya, ia terlihat menyisir rambutnya sebentar kemudian menatap kaca lagi sebelum akhirnya membiarkan rambut coklatnya berantakan. junho keluar dari gedung apartemannya sambil menenteng segelas kopi panas di tanggannya, sesekali ia menyesapnya sambil berjalan pelan di trotoar. Mengamati kesibukan pagi kota Seoul, Junho merogoh ponsel di saku mantelnya. Sebuah pesan dari Wooyoung terpampang di layar ponsel miliknya, tak lama ia menelpon Wooyoung sambil memandang toko roti tempat gadis itu biasanya berdiri di depan toko dengan payung biru miliknya. Tak terlihat, tak seperti biasanya. Raut wajah Junho terlihat sedikit kecewa.

“yeobboseo” ucap Wooyoung membuyarkan lamunan Junho.

“yeobboseo, Wooyoung ah aku….” ucapan Junho terhenti ketika sebuah mobil mendekatinya, dua orang pria keluar dan langsung memukulnya. Ponselnya terjatuh begitu saja, sedang Junho dibawa ke dalam mobil sambil wajahnya ditutup kain hitam.

 

 

Junho

 

Yang aku ingat adalah senyumannya dari balik payung biru yang selalu ia gunakan, ketika semilir angin membelai rambut panjang hitam miliknya. Entah sejak kapan dia menjadi pelanggan tetap toko roti itu, lima bulan lalu aku melihatnya. Hujan di pagi hari yang membuatnya membuka payung yang ia bawa, hujan pagi yang membawa detak jantungku begitu cepat ketika melihatnya.

 

 

Sohee menghentikan mobilnya di sebuah rumah kecil bergaya eropa, ia menekan bel rumah beberapa kali dengan cemas. Tak lama kemudian seorang namja setengah telanjang membuka pintu itu. ia terlihat marah tapi sejurus itu raut mukanya berubah kaget ketika melihat Sohee sudah berdiri di hadapannya.

“oppa tolong aku” ucap Sohee, membuat pria bernama Min Jun itu menautkan ujung alisnya.

“kita harus membawanya ke rumah sakit” ucap Min Jun ketika mengecek tekanan darah Junho lalu meletakkan stethoscope miliknya di meja.

“kenapa kau masih berdiri di situ?? Pergilah biar aku yang mengurusnya” perintah Min Jun sambil mengambilkan mantel hitam milik Sohee.

“oppa, aku percaya padamu” gumam Sohee pelan,

“ne” sahut Min Jun lalu mendorong Sohee pelan keluar.

“jaga dirimu, berhati – hatilah” lanjut Min Jun, Min Jun menatap mobil Sohee yang berlalu kemudian ia menekan beberapa nomor di layar ponselnya.

“bisakah kalian siapkan kamar sekarang, sepuluh menit lagi aku membawa pasien cukup gawat ke sana” ucap Min Jun langsung menutup telponnya.

 

 

Sohee mengetuk – ngetukkan jarinya di stir mobil sebelum akhirnya memantapkan hatinya untuk keluar dari mobil. Beberapa orang berjas hitam dengan tubuh tegap terlihat memandangnya sebentar kemudian membungkuk hormat padanya. Ia menghela nafas pelan memasuki sebuah rumah besar, ia menapakkan kakinya pelan ketiap anak tangga yang akan di laluinya di ruang tengah yang cukup gelap.

“darimana saja kau??” tanya seorang pria yang duduk santai di sebuah kursi besar, meski gelap masih terlihat samar – samar ia memainkan gelas di tangannya. Menggoyang – goyangkan cairan merah di dalam gelas itu dengan pelan. sohee menghentikkan langkahnya menoleh ke arah namja yang duduk di ruang tengah.

“aku jalan – jalan sebentar, udara di sini sangat menyesakkan” jawab Sohee ketus lalu melanjutkan langkahnya.

“kau dari dokter pribadimu itu?? apa yang kau lakukan malam – malam begini dari sana??” tanya namja itu keras membuat Sohee mencengkram pegangan tangga, wajahnya berubah cemas.

“aku tak bisa tidur, aku hanya mengobrol dengannya” jawab Sohee setenang mungkin berusaha menutupi kekhawatirnya.

“mulai sekarang berhenti menemuinya” perintah namja itu. prankkk…. namja itu melempar gelas yang ia pegang lalu beranjak mendekat ke arah Sohee.

“malam ini aku tak bisa menemanimu” lanjut namja bernama Seunghyun itu memainkan ujung rambut Sohee. Sohee hanya diam, ia memejamkan matanya dengan kesal. Ia benar – benar merasa jijik dengan Seunghyun. Pria itu tersenyum tipis memandang ekspresi wajah jijik Sohee lalu beranjak pergi.

“cepat tidur dan jangan kemana – mana, aku tak ingin kau sakit” ucap namja itu pada Sohee sebelum benar – benar pergi. Sohee hanya mendengus kesal menapaki anak tangga lagi dengan marah.

 

6 bulan kemudian

 

Angin pagi membelai pelan sebuah tirai putih, tak jauh dari situ sebuah vas penuh dengan mawar putih bertengger rapi di meja. Aromanya merebak memenuhi ruangan yang terlihat sepi, hanya helaan nafas Junho yang terlihat duduk di tempat tidurnya. Beberapa bulan lalu selang oksigen masih bertengger rapi mencoba membantu kemampuannya menghirup udara, tapi sekarang ia terlihat lebih baik. Seorang wanita mengenakan setelan baju putih terlihat memasukki kamar rawat Junho diikuti dokter Min Jun.

“selamat pagi” sapa dokter Min Jun, Junho yang sedari tadi melamun menoleh kaget menatap namja yang telah menolongnya-kata perawat – perawat yang tiap hari mengunjunginya.

“pagi dok” jawab Junho tersenyum menatap pria berjas putih di depannya.

“kau masih belum mengingat apapun???” tanya Min Jun sambil mengecek medical recap yang di berikan perawat yang mengantarnya. Junho tersenyum tipis.

“aku tak ingat apapun yang terjadi sebelum aku berada di sini, tapi aku sepertinya mengingat temanku” jawab Junho.

“jangan terlalu memaksakan diri” ucap Min jun sebelum beranjak pergi.

“terima kasih dokter telah menolongku waktu itu” ucap Junho menghentikan langkah Min Jun, Min jun menoleh dan tersenyum menatap Junho lalu melanjutkan langkahnya.

 

 

“kami sudah mengeceknya berulangkali, tak ada ciri – ciri korban kecelakan yang kau sebutkan itu” protes seorang polisi pada Wooyoung.

“dia tiba – tiba saja menghilang ketika menelponku, mungkin saja dia mengalami kecelakaan” ujar Wooyoung pada polisi yang duduk di depannya.

“ini sudah 6 bulan lebih dan kau datang kesini terus untuk berdebat denganku” ucap polisi itu mulai kehilangan kesabarannya.

“sudahlah, dia itu sudah besar ketika dia mengingatmu dia pasti mengunjungimu” lanjut polisi itu meninggalkan Wooyoung yang terlihat kecewa.

 

Ddrrtt ddrrtt ddrrrttt

Ponsel Wooyoung berbunyi.

“ya…..apa kau bilang??? Di rumah sakit?? Apa yang terjadi???” tanya Wooyoung panik,

“iya.. iya… aku kesana” lanjut Wooyoung meninggalkan kantor polisi.

 

 

“aaawwww hyung sakit” teriak Chansung saat Wooyoung menarik telinganya. Wooyoung mendesah kesal menatap sepupunya ini lalu beranjak pergi meninggalkannya.

“mianhe hyung, mianhee.. mianhee hyung” teriak Chansung menghentikan langkah Wooyoung lalu melempar jaketnya ke arah Chansung.

“kau pikir kau ini siapa?? Ha..?? untung saja mereka tak membawamu ke kantor polisi, kenapa kau rebutan pisang dengan anak kecil dan membuatnya terjatuh??” wooyoung memukul lengan Chansung kesal

“dia yang merebutnya dariku hyung” bela Chansung sambil berlari menghindari pukulan  Wooyoung. Wooyoung mendesah pelan dan terus mencoba memukul Chansung, ia bahkan terlihat tak perduli orang – orang tertawa melihat kelakuannya yang seperti anak kecil.

“hyung, kau kenapa???” tanya Chansung yang heran tiba – tiba Wooyoung berhenti mengejarnya. Wooyoung memandang seorang pria yang terlihat duduk nyaman di bangku taman dengan troli infus di dekatnya. Ia seakan tak memperdulikan panggilan Chansung, apa ia bermimpi sekarang??? Atau Apakah ia mulai mengalami rabun???

“Junho hyung!!!” seru Chansung senang ketika benar – benar sudah berdiri di dekat Junho yang terlihat memandangnya heran.

“Junho ya” panggil Wooyoung pelan. Wooyoung seakan tak percaya ia bisa menemukan sahabatnya itu dengan cara tak terduga seperti ini.

 

“pergi” perintah Seunghyun pada gadis yang bergelayutan di pundaknya ketika melihat Sohee menikmati steak di meja makan.

“oppa” rajuk gadis itu manja tak ingin pergi, ia malah terlihat erat memegang lengan kokoh Seunghyun. Sohee mendengarnya tapi ia lebih memilih menikmati apa yang ada di mejanya sekarang. Seunghyun menatap Sohee lama, berharap gadis itu menoleh dan menatapnya dengan cemburu. Ia selalu ingin untuk sedetik saja gadis itu menatapnya, cemburu padanya, atau tersenyum tulus padanya. Semakin ia menatap Sohee yang tenang memainkan garpu dan sendoknya, semakin Seunghyun merasa ini sungguh sangat tidak adil.

“pergi!!!!” bentak Seunghyun marah pada yeoja yang ada di dekatnya. Seunghyun menatap gadis itu penuh kebencian membuat gadis itu perlahan melepas pelukkannya karena takut. Ia kembali menatap Sohee yang seakan tak terganggu dengan keributan yang ada di dekatnya. Seunghyun metapa Sohee marah, ia marah kenapa hanya ia yang merasa cemburu, ia marah kenapa hanya ia yang merasa mencintai begitu dalam. Seunghyun menghela nafas dalam seakan mulai mengontrol emosi dan perasaannya. Ia mendekat ke arah Sohee dan duduk di depan gadis itu, ia menatap Sohee lekat yang seakan tak memperdulikannya.

“kau menikmati steaknya???” tanya Seunghyun pelan.

“ne” jawab Sohee mengangkat wajahnya menatap Seunghyun yang ada di hadapannya lalu berkonsentrasi lagi dengan potongan daging di depannya yang mulai habis. Seunghyun menyadarkan tubuhnya di kursi menatap lekat gadis yang ada di depannya. Membuatnya mengingat bagaimana gadis ini berhasil menaklukan hatinya.

 

Flashback

 

“apa yang kau lakukan pada appaku?? lepaskan appaku, pergi kau dari appaku, jangan sentuh appaku” teriak Sohee sambil beberapa kali melayangkan pukulannya pada beberapa pria berjas hitam yang memukuli appanya.

“lepaskan!!!” teriak Sohee lagi yang saat itu masih mengenakan seragam sekolahnya. Salah satu pria yang di pukul Sohee terlihat menatap Sohee kesal hanya dengan sekali tamparan ia berhasil menjatuhkan Sohee hingga punggungnya terantuk pinggir meja.

“Sohee ya” rintih appa Sohee pelan menatap putrinya yang meringis kesakitan.

“hentikan” perintah Seunghyun pada anak buahnya, ia yang sedari tadi menatap Sohee berjalan mendekat ke arah keributan. Ia duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari tempat itu, Sohee mengusap punggungnya pelan lalu beranjak berdiri menatap marah ke arah Seunghyun.

“apa aku bossnya??? Kenapa kau lakukan ini pada appaku??” bentak Sohee marah, membuat Seunghyun menyunggingkan senyum ketertarikkannya pada Sohee.

“karena ayahmu berhutang padaku” jawab Seunghyun datar.

“ap…apa??” tanya Sohee tak percaya lalu menatap ke arah appanya yang terlihat menghindari tatapan Sohee.

“dia kalah berjudi” tambah Seunghyun. Membuat Sohee menoleh menatap Seunghyun yang duduk tak jauh darinya, mencoba menelaah kata – kata yang baru saja ia dengar.

“dia bahkan memberikan sertifikat tanah sebagai jaminan” lanjut Seunghyun mencoba menambah luka di hati Sohee. Mata Sohee terlihat berkaca – kaca, ia pikir dengan kematian oemmanya dua tahun yang lalu akan membuat appanya sadar dan berhenti berjudi. Sohee menatap appanya marah, ia berjalan pelan mendekat ke arah appanya. Ia bahkan sudah tak merasakan lagi pipinya yang memerah karena tamparan tadi juga sudut bibirnya yang mulai berdarah.

“appa” panggil Sohee, appanya hanya menunduk sedih penuh penyesalan yang sudah terlambat.

“appa” panggil Sohee lagi tapi appanya masih tak ingin menatap putrinya itu.

“appa!!!!” bentak Sohee marah, ia terduduk tepat di hadapan appanya. Perlahan buliran air bening membasahi pipinya yang putih.

“kau bukan appaku, kau bukan appaku, kau benar – benar bukan appaku” isak Sohee sambil memukul punggung appanya.

“kau bukan appaku!!!!” teriak Sohee lagi mencoba menutupi tangisanya.

“bawa dia” perintah Seunghyun pada anak buahnya, tak lama anak buah Seunghyun menarik tubuh appa Sohee dan membawanya pergi.

“apa yang akan kau lakukan?? Apa yang kau lakukan pada appaku??” tanya Sohee panik menatap kepergian appanya.

“kau bilang dia bukan appamukan??” tanya Seunghyun tenang.

“dia appaku, kau mau membawanya kemana??” tanya Sohee marah, Seunghyun tersenyum kemudian beranjak berdiri dari duduknya.

“lempar dia keluar” perintah Seunghyun menatap keluar jendela, hujan turun begitu deras dengan kilat beberapa kali menyambar.

“mwo??? Kau??? Apa yang kau lakukan???” bentak Sohee marah sambil mencoba berontak, tapi sepertinya itu sia – sia.

“jadilah gadisku” ucap Seunghyun tiba – tiba membuat anak buahnya menghentikan langkahnya. Sohee terdiam sejenak dan menoleh menatap namja di belakangnya dengan tatapan tajam.

“kau gila!!!!” bentak Sohee membuat Seunghyun tersenyum.

“aku akan membebaskan ayahmu dan kau tak akan menderita lebih lama lagi di luar, bagiku nyawa ayahmu itu tak berharga” ucap Seunghyun membuat Sohee terdiam.

Sohee terduduk di luar rumahnya, ia terlihat meringkuk di tengah hujan menumpahkan semua airmatanya. Berharap tak ada satupun orang yang melihatnya, ia menangis, ia menyadari betapa menyedihkannya ia sekarang. Ia terisak pelan di tengah rintik hujan yang semakin deras, seakan tak memperdulikan dirinya yang mulai kedinginan. Di dunia ini memang hanya appanya yang ia punya, seburuk apapun orang tua itu ia tetap appanya. Mobil Seunghyun berhenti di dekat Sohee meringkuk, ia menyalakan rokoknya dan mendesah pelan.

“aku tak suka menunggu lama” ucap Seunghyun kemudian berlalu dari hadapan Sohee, Sohee mengangkat kepalanya menatap marah pada mobil yang terlihat mulai menjauh darinya.

Seunghyun memainkan lighternya ketika seorang gadis yang basah kuyup dengan sebuah payung biru digengamannya melangkah melewati ruang tengah miliknya. Gadis dengan pipi kanan merah dan sudut bibir masih menyisakkan darah yang tergerus air hujan itu menunduk di depan Seunghyun. Seunghyun tertawa senang dan beranjak dari duduknya, ia menggerakkan ujung jarinya pada anak buahnya.

“aku akan membebaskan ayahmu dan memenuhi kehidupannya dengan baik” ucap Seunghyun mendekat ke arah gadis di hadapannya.

“aku tak akan pernah mencintaimu, tak akan” ujar Sohee mantap ketika seorang pelayan wanita menyelimuti tubuhnya yang basah. Seunghyun terdiam sejenak untuk berfikir, ia menatap Sohee sebenatar.

“setahun lagi kau akan lulus, aku akan menikahimu” sahut Seunghyun beranjak pergi membuat Sohee menatapnya kaget.

 

Flashback End.

 

 

Sohee meletakkan garpu dan pisau lalu mengelap ujung bibirnya dengan serbet putih yang sudah di siapkan di atas meja. Seunghyun beranjak berdiri mendekat ke arah Sohee lalu memberikan tangan kanannya pada istrinya. Sohee menatap tangan Seunghyun dingin tapi mau tidak mau ia harus menerimanya. Ia menghela nafas pelan ketika Seunghyun mulai melingkarkan tangannya di pinggul Sohee. Perlahan Seunghyun mendekatkan tubuh Sohee ke dalam pelukkannya, tangannya membelai pelan punggung Sohee. Sohee hanya diam dengan tatapan dingin dan tak nyaman atas perlakuan Seunghyun.

“di sini, di sini aku pernah mengoleskan obat pengurang rasa sakit padamu” ujar Senghyun pelan ketika jemarinya meraba punggung Sohee.

“saat itu aku merasakan ada aliran listrik yang mengalir di tubuhku dan jantungku berdetak tak karuan” lanjut Seunghyun, tapi Sohee hanya diam tak menanggapi ucapan Seunghyun. Berlahan Seunghyun melepas pelukkannya dan meraih wajah Sohee, membiarkan telunjuknya menjelajahi tiap inci wajah wanita yang ada di hadapannya. Telunjukkanya berhenti di bibir bawah Sohee perlahan ia mengecup bibir Sohee dengan lembut. Ia menikmatinya, mengulum pelan bibir bawah istrinya. Sohee hanya mampu memejamkan matanya pelan, merasakan ada pemberontakan di hatinya. Ia hanya merasa betapa menyedihkannya ia sekarang, ia tak mampu berbuat apa – apa untuk hatinya. Seunghyun menghentikan ciumannya, kata – kata itu selalu saja menghantuinya ketika memeluk, mencium atau bercinta dengan istrinya. ‘aku tak akan pernah mencintaimu, tak akan’ kata – kata itu seperti racun yang selalu membebani hati dan pikirannya.

Ia menatap wajah Sohee dalam diam, ekspresi yang selalu sama sejak empat tahun yang lalu. Sebuah wajah dingin meski ia memperlakukan gadis di depannya ini dengan lembut dan hangat sekalipun. Hal yang sangat ia benci tapi ia tak mampu berbuat apapun, pria itu kenapa pria itu masih selalu mengisi hati istrinya. Ia ingin marah tapi untuk apa ia marah??? Apa yang harus ia benci??? Membenci dirinya sendiri yang tak mampu hidup tanpa gadis kecil ini??

Seunghyun menarik tangan Sohee lalu mengangkat tubuhnya ketika akan menaikki tangga, sedang gadis itu hanya diam seperti sudah mengerti apa yang akan terjadi padanya. Ia meneteskan buliran air bening di sudut matanya, Seunghyun lebih memilih tak memperdulikan gadis di gendongannya itu. tentang airmata itu, tentang wajah sedih itu, ia tak perduli atau lebih tepatnya mencoba untuk tidak perduli. Seunghyun membuka pintu kamarnya, membatingnya dengan kesal lalu melempar tubuh istrinya di atas tempat tidur. Ia membuka Jas miliknya lalu melemparnya begitu saja, membuka tiap kancing kemeja miliknya satu per satu dengan marah.

“kau masih mencintainya??????” bentak Seunghyun pada Sohee.

“ne” jawab Sohee yakin membuat Seunghyun naik pitam dan menarik Sohee hingga terjatuh dari tempat tidur.

“katakan apa kau masih mencintainya?????” tanya Seunghyun marah sambil menodongkan pistol yang baru ia ambil dari laci ke arah kepala Sohee. Sohee tersenyum kecut mensejajarkan matanya dengan Seunghyun.

“ne” jawab Sohee yakin. Seunghyun memegang pistol dengan gemetar, untuk pertama kalinya dia seperti ini. memegang pistol, melihat orang terbunuh, bahkan membunuh orang ia tak pernah takut ataupun gemetar. Yeoja ini, ya… yeoja ini berhasil membuatnya kembali ke masa pertama kali memegang pistol. Begitu menakutkan, begitu dinginnya potongan besi di genggaman tangannya itu dan begitu menakutkanya membunuh orang.

Dor..dor dor dor dor dor….

Seunghyun menembakkan pelurunya ke seluruh ruangan kamar dengan marah. Kaca, vas bunga, tembok, bantal semuanya terlihat berantakan. sohee membuka matanya perlahan, mencoba merasakan timah panas di sela – sela dagingnya. Tak ada tak ada satupun timah panas di tubuhnya, ia menatap Seunghyun yang terengah – engah dengan keringat membanjiri tubuhnya. Seunghyun menghela nafas berat kemudian beranjak pergi meninggalkan Sohee.

 

TBC

46 thoughts on “[FF Freelance] Young Woman With Blue Umbrella (Part 1)

  1. wah saya baru menemukan ff ini. klo dilhat dr tgl posnya sih udah cukup lama hiks ketinggalan jaman nih saya :”
    semoga bisa baca sampe end, krna saya liat chap terakhirnya diprotect~ semoga pass nya msh bisa saya minta. semoga..
    ff ini tuh keren bgt. jarang nemu pairing sohee junho. dan ada seunghyun jg aaah keren. konfliknya dapet. ga sabar baca selanjutnya ><

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s