He’s Out of My League (Part 1)

A Story by Pseudonymous

Title: He’s Out of My League| Main Cast: 15&’s Yerin & JJ Project’s JB | Support Cast: 2PM’s Taecyeon & T-ara’s Jiyeon | Genre: Romance & Life | Length: Chapter | Rating: PG-11 | Disclaimer: Inspired by “She’s Out Of My League”, “That’s What I Am” & Miss D.D’s “Have A Good Life

***

 “..for people who never been loved”

***

He’s Out of My League – Part 1

 Matahari Februari merambat naik ke peraduan, menyisip masuk ke dalam kelas lewat jendela-jendela yang terbuka. Sisa-sisa musim dingin menghembus masuk ke dalam, membuat murid-murid menarik cardigan mereka lebih rapat. Namanya Baek Yerin, biasa dipanggil Yerin atau “gadis berkacamata”. Dia duduk di pojok kelas, agak terpencil dari keramaian, menyendiri, dan kesepian. Kacamata jangkrik yang nyaris menutupi setengah wajahnya menjadi satu-satunya tameng Yerin untuk melindungi diri dari tatapan-tatapan aneh oleh teman-teman sekelasnya. Yerin lebih berharap bahwa teman-temannya akan lupa bahwa ada seseorang bernama Baek Yerin di kelas itu, daripada menjadi pusat caci maki mereka.

Untungnya, Yerin agak terselamatkan dengan cerita-cerita libur Natal pagi itu. Semua orang menyibukkan diri, duduk berhadapan dengan wajah-wajah cerah, memamerkan kisah-kisah mereka saat menghabiskan libur Natal. Ada Jinyoung dan Jimin, pasangan menggemaskan yang cekikikan di bangku mereka, memamerkan kisah romantis mereka saat menghabiskan malam Natal bersama. Jimin bahkan dengan spesial membuat syal rajutan dengan tulisan “Jimin loves Jinyoung” sebagai hadiah Natal untuk kekasihnya itu.

Di bangku lain, ada kelompok yang paling berisik, membanggakan perjalanan Natal mereka ke Hawaii menggunakan kapal pesiar—ada Jiyeon, Eunjung, dan Sohee. Ketiga gadis itu menjerit-jerit riang saat mengingat-ingat satu kejadian menarik saat mereka pergi ke Hawaii—entah saat mereka bertemu sekelompok pemuda berkewarganegaraan Polandia saat di restoran, atau menghabiskan waktu sepanjang hari untuk berjemur dan mengobrol banyak dengan para turis dari negara lain sambil menikmati ice cream di tangan masing-masing, sementara yang lain, harus terperangkap di Korea, bertahan melawan udara yang menggigit pada musim dingin.

Yerin mendengus. Dia beralih ke bangku lainnya, mendapati sosok jangkung Jinwoon dan Wooyoung yang duduk bermalas-malasan di bangku mereka, mengeluhkan soal liburan Natal mereka yang dihabiskan dengan terjebak di rumah nenek mereka di pinggir kota. Yerin dapat dengan mudah memahami perasaan dua pemuda malang itu, karena nasibnya juga tidak jauh berbeda dengan mereka. Yerin juga menghabiskan libur Natalnya di rumah, membantu kakeknya mengurus toko barang antik. Kedengarannya memang agak membosankan, tapi moment bersama kakeknya itu membuat udara terasa lebih hangat daripada biasanya.

Yerin mendesah, mengeluarkan gumpalan awan hangat melalui mulutnya. Dia menunduk menatap arlojinya. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh tiga puluh. Seharusnya kelas sudah dimulai sejak tiga puluh menit yang lalu. Tapi, Guru Ok—guru bahasa Inggris yang seharusnya mengisi kelas pagi itu—tidak kunjung menampakkan batang hidungnya. Agak aneh memang, mengingat Guru Ok adalah sosok yang disiplin dan tegas soal waktu. Datang terlambat bukanlah kebiasaannya. Yerin menelengkan kepala kearah jendela dan mengintip ke bawah, menduga-duga dalam hati, pasti ada sesuatu yang menahan Guru Ok untuk datang terlambat.

***

Jaebum mendongak menatap tulisan besar yang ada pada gerbang. Kirin High School. Dia merengut kesal, tapi mengakhirinya dengan desah pasrah. Jaebum masuk ke wilayah sekolah dengan langkah malas. Dia menyeberangi lapangan sekolah yang sepi, menyisakan beberapa kelas yang bertahan menahan udara dingin untuk melakukan kelas olahraga, dan sepasang laki-laki serta perempuan berseragam khusus memegang sapu masing-masing, menyingkirkan daun-daun ke tempat pembuangan sampah.

Jaebum masih merasa agak asing dengan keadaan sekitarnya. Ini tidak seperti di Amerika, batinnya. Jaebum masuk ke salah satu gedung dan melewati beberapa kelas. Dia sempat berhenti untuk mengintip ke dalam kelas. Seorang guru laki-laki berkacamata sedang mengajarkan nama-nama Latin untuk tumbuh-tumbuhan kepada murid-muridnya, sementara murid-muridnya diam duduk di bangku masing-masing dengan wajah setengah mengantuk. Jaebum berdecak, lalu meninggalkan kelas itu dengan gelengan kepala.

Jaebum meneruskan perjalanannya, menyusuri koridor untuk mencari ruang guru. Dia merogoh-rogoh saku jasnya dengan wajah merengut. Hatinya masih gondok soal seragam barunya itu. Agak kaku dan canggung. Jaebum lebih senang bersekolah di Amerika. Mereka tidak perlu terjebak dengan alasan omong kosong soal seragam yang menjadi simbol bahwa derajat seluruh murid-murid itu sama. Bullshit, pikir Jaebum. Masih banyak anak-anak berseragam sama, namun diperlakukan berbeda oleh orang-orang. Seragam ini hanya sebagai formalitas, sebuah omong kosong, hanya menghabis-habiskan uang.

Jaebum akhirnya berhenti di sebuah ruangan dengan pintu bercat putih dan jendela kecil berkaca kabur. Ada sebuah papan nama di atas ruangan itu. Ruang Guru. Jaebum mendesah lega, akhirnya berhasil menemukan pencariannya. Dia baru saja ingin masuk ke dalam, namun pintu terbuka dengan tiba-tiba. Seorang pria bertubuh tinggi, atletis, dan tegap memenuhi ambang pintu. Jaebum mundur selangkah dengan mata membelalak dan waspada.

“Apa yang kau lakukan di sini, Anak Muda?” tanya si pria dengan suara bass-nya.

Jaebum menggaruk-garuk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal dan menyahut dengan suara gagap, “Hm, aku, aku.. Hm, aku..”

Pria itu menunduk untuk menatap wajah Jaebum yang berusaha disembunyikannya. “Aku tanya, apa yang kau lakukan di sini? Mengapa kau tidak berada di dalam kelas? Apa kau tidak tahu betapa berat hukuman untuk anak-anak yang suka membolos?”

Jaebum menggeleng ragu. “Aku murid baru di sini.”

“Oh yah?”

Jaebum mengangguk.

Pria itu berdiri dengan tegap dan melipat kedua lengannya di atas dadanya yang bidang. Pria itu mengamati Jaebum dari ujung kaki sampai kepala. Refleks, Jaebum ikut mengamati penampilannya pagi itu, mencari-cari jika ada satu titik yang tidak sesuai dengan penampilannya.

“Kau Im Jaebum?” kata sang pria. “Jaebum yang murid pindahan dari Amerika?”

Jaebum menyeringai bangga. “Bagaimana Anda tahu? Oh yah, tunggu sebentar.” Jaebum merogoh secarik kertas lusuh dari saku jasnya dan membaca tulisannya keras-keras. “Aku mencari seorang guru bernama Ok Taecyeon. Ayahku bilang, aku harus menemuinya saat aku tiba di sekolah. Apakah Anda mengenal seseorang bernama Guru Ok?”

Pria itu tidak langsung menjawab, melainkan hanya mengerutkan bibirnya dengan gerak aneh. “Aku sudah menunggumu sejak tiga puluh menit yang lalu,” katanya. “Darimana saja kau?”

Jaebum mengerjap-ngerjapkan matanya untuk beberapa detik dan menyeringai. “Ah, Anda rupanya Guru Ok. Benar, kan?” serunya riang.

Guru Ok tidak menyahut, tidak juga mengangguk. Wajahnya tertekuk, tidak senang. “Jadi, bisakah kau jelaskan padaku mengapa kau datang terlambat?”

“Oh, maafkan aku, Guru Ok,” kekeh Jaebum, tak acuh. “Aku hanya sedikit belum terbiasa dengan jam sekolah di Korea. Di Amerika biasanya kami baru masuk pukul delapan pagi, sementara di Korea masuk lebih awal, jadi aku terlambat bangun dan—”

Guru Ok mengangkat tangannya dan menggelengkan kepala hingga Jaebum mengerem bicaranya secara mendadak. “Okay, okay. Cukup penjelasannya,” kata Guru Ok, terdengar bosan. “Aku harap kau tidak akan mengulang hal ini lagi, karena aku paling benci melihat ada murid yang terlambat. Asal tahu saja, aku ada kelas mengajar pagi ini dan sudah terlambat setengah jam karena harus menunggumu terlebih dahulu.”

Jaebum meringis dengan wajah bersemu merah. “Maafkan aku, Guru Ok. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi.”

“Baguslah kalau begitu,” Guru Ok mengangguk. “Sekarang, aku akan mengantarmu masuk ke dalam kelas. Mulai sekarang, aku adalah wali kelasmu dan kau akan berada di kelasku di semester terakhir tahun ketiga ini. Aku harap kau akan berbaur dengan baik dengan teman-teman barumu.”

***

“Guru Ok datang! Guru Ok datang!” seru Wooyoung sambil melompat-lompat masuk ke dalam kelas. “Dan Guru Ok datang bersama seseorang! Sepertinya murid baru.”

“Oh yah?”

“Apakah murid baru itu perempuan atau laki-laki?” Jiyeon berdiri dari bangkunya dengan antusias.

“Laki-laki!”

Para murid perempuan berteriak histeris, kecuali Yerin. Gadis itu hanya setengah mengangkat wajahnya untuk menunjukkan keantusiasannya menyambut murid baru di kelasnya. Tak berapa lama kemudian, Guru Ok masuk ke dalam kelas dengan langkah tergesa-gesa. Buku cetak bahasa Inggris dan buku absen diapit di ketiak.

“Maafkan keterlambatanku,” kata Guru Ok, meletakkan buku-bukunya di atas meja guru dan berdiri di depan kelas. “Aku terlambat masuk karena harus menunggu seseorang yang akan menjadi penghuni baru di kelas ini bersama kalian.”

Terdengar cekikikan tak sabar dari seluruh orang di dalam kelas. Bahkan para murid laki-laki sudah melongokkan kepala masing-masing untuk mengintip ke luar pintu.

Guru Ok menoleh kearah pintu masuk dan mengedikkan dagu. “Masuklah, Jaebum.”

Mata-mata membelalak terkesima saat menangkap sosok eksentrik seorang pemuda yang melangkah masuk ke dalam kelas dengan malu-malu. Sosok eksentrik itu bahkan mampu membuat Yerin mendongakkan kepala lebih tinggi daripada yang seharusnya untuk dapat melihat lebih jelas. Pemuda itu bertubuh tinggi, tegap, dengan rambut dicat berwarna putih tulang dan jambul lusuhnya yang diberi sapuan warna oranye. Pemuda itu tersipu-sipu malu di samping Guru Ok. Matanya yang sipit membentuk segaris bulan sabit yang indah ketika dia tersenyum.

“Halo, namaku Im Jaebum,” seru pemuda itu sambil membungkukkan tubuhnya sekilas. “Senang bertemu kalian!”

Murid-murid perempuan menjerit-jerit lagi, sementara murid laki-laki menggumam kagum pada sosok Jaebum. Beberapa kelompok murid laki-laki bahkan sudah saling berbisik-bisik, berencana untuk merekrut Jaebum ke dalam kelompok basket atau sepakbola sekolah.

Jaebum berdiri dengan kaku di depan kelas, tidak terbiasa mendapat sambutan seistimewa itu, namun dia tetap merasa tersanjung. Tapi, ada satu hal begitu kontras dan menarik perhatian Jaebum. Pemuda itu menoleh kearah sudut kelas dan melihat seorang gadis berkacamata yang menatapnya dingin. Jaebum tersenyum ramah kearah gadis itu, namun malangnya, sang gadis hanya mengedikkan bahu dan memalingkan wajah dengan segera.

Senyum Jaebum mengendur dengan kecewa. Gadis itu kenapa, sih?

Okay, cukup sudah teriak-teriaknya,” kata Guru Ok, menengahi keributan yang terjadi. “Sekarang, Jaebum, kau ingin duduk di mana?”

Jiyeon menyikut Eunjung yang duduk di sebelahnya dan berbisik, “Minggir, biarkan Jaebum duduk bersamaku.”

Jaebum mengamati beberapa bangku kosong yang ada di kelas. Ada tiga bangku kosong. Bangku paling depan bersama Jo Kwon, pemuda berwajah feminine itu mengerjap-ngerjapkan matanya penuh harap pada Jaebum. Tidak, tidak. Jangan yang itu. Dia beralih menatap bangku kosong yang ada di sebelah gadis berkacamata itu. Jaebum melirik sekilas kearah si gadis berkacamata, berharap gadis itu akan memandangnya juga. Entah apa yang Jaebum harapkan, dia hanya ingin gadis itu menatapnya penuh harap seperti yang Jo Kwon lakukannya. Maka dengan begitu, Jaebum mungkin saja ingin duduk di dekat gadis itu. Namun, beberapa detik berlalu, gadis berkacamata tidak juga meliriknya, masih bersembunyi di balik tundukannya yang dalam. Jaebum lagi-lagi melengos kecewa.

“Duduk bersamaku saja!” seru Jiyeon, menunjuk bangku yang sudah dikosongkan di sebelahnya. Eunjung kini duduk bersama Sohee di bangku belakang.

Okay,” kata Guru Ok. “Kau sebaiknya duduk bersama Jiyeon.”

“Ah, okay.” Jaebum mengangguk ragu dan beranjak ke bangku kosong bersama Jiyeon.

Jiyeon menyambut Jaebum dengan menarik lengan pemuda itu dan menariknya duduk. “Tidak perlu sungkan denganku,” kata Jiyeon, tersipu-sipu malu.

Jaebum tersenyum samar dan mengangguk. “Okay.”

Sementara Guru Ok melanjutkan kelas yang sempat tertunda itu, Jaebum masih sesekali menoleh ke pojok kelas, tepat di mana gadis berkacamata itu berada. Wajah gadis itu masih bersembunyi di balik kacamata jangkriknya dan rambut hitam panjangnya yang jatuh menutupi sebagian wajahnya.

***

“Kau tidak ingin ke kantin?” tanya Jiyeon, begitu bel istirahat terdengar.

Jaebum masih duduk di bangkunya dan menggeleng. “Tidak, aku tidak lapar.”

Jiyeon mendesah kecewa. “Okay. Kalau begitu, aku akan pergi ke kantin sebentar. Bye.”

Jaebum mengawasi kepergian Jiyeon dan kawan-kawannya dengan anggukan samar.

Setelah ditinggal pergi oleh Jiyeon dan teman-temannya, ruangan kelas menjadi sesepi kuburan. Jaebum memandangi seisi kelas dan mendapati Yerin duduk dengan tenang di pojok kelas, menunduk membaca sebuah buku. Di mejanya terdapat kotak makanan berwarna ungu berisi roti isi. Sementara tangan kiri Yerin sibuk membolak-balik halaman, tangan kanannya meraba-raba isi kotak makanan dan menyuapi mulutnya dengan sepotong kecil roti isi yang dibawanya dari rumah.

Jaebum mendorong kursinya ke belakang sehingga menimbulkan bunyi derak pada lantai kelas dengan agak berisik. Yerin yang terusik melirik pemuda itu sekilas saat Jaebum berjalan kearahnya dan tahu-tahu duduk dengan santai di bangku sebelah milik Yerin.

“Hai,” sapa Jaebum, mencoba ramah sekali lagi.

Yerin hanya menggeram pelan.

Tidak apa-apa, Jaebum, desah Jaebum dalam hati. Tidak apa-apa. Jaebum tersenyum manis dan bertanya, “Buku apa yang sedang kau baca itu?”

Yerin melirik Jaebum sekilas. Pemuda itu menatapnya penuh harap, tapi Yerin terlalu malu. Gadis itu cepat-cepat menunduk menatap bukunya dan menggumam pelan, “Ini novel.”

“Ah, novel,” ulang Jaebum sambil tersenyum. “Kau suka membaca?”

Yerin mengedikkan bahu. “Begitulah.”

Jaebum mengerutkan bibirnya dengan kecewa. Susah juga mengobrol dengan orang yang irit bicara.

“Dan kau..” Yerin berbicara dengan suara parau. “..apakah kau suka membaca juga?”

Jaebum terkekeh. “Tidak. Aku bukan tipe orang yang suka membaca.”

Yerin mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Boleh kutahu siapa namamu?” tanya Jaebum, dengan hati-hati mengulurkan tangannya.

Yerin melirik telapak tangan Jaebum yang besar dan menelan ludah. Dia beralih menatap Jaebum, tidak cukup tega untuk menepis tangan Jaebum. Yerin menyeka tangan kanannya yang kotor akan remah roti pada rok sekolahnya, lalu menyambut tangan Jaebum.

“Namaku Yerin.” Yerin menelan ludah saat tangan Jaebum meremas tangannya dengan lembut.

“Yerin,” ulang Jaebum. “Nama yang bagus.”

Yerin tidak mengatakan apa-apa, selain berusaha menarik kembali tangannya dari jabatan tangan Jaebum.

“Maaf,” kata Jaebum, sopan.

Yerin mengangguk sekilas. “Tidak apa-apa.”

Jaebum kehabisan kata-kata. Dia duduk saja seperti itu seperti orang bodoh, sementara Yerin sudah kembali menyibukkan diri dengan melanjutkan kegiatan membacanya. Yerin sepertinya bukan orang yang tepat untuk diajak mengobrol. Dia terlalu pemalu dan pendiam. Jaebum bangkit berdiri dengan perasaan kecewa menekan bahunya.

“Aku akan pergi ke toilet sebentar,” katanya.

Yerin mengangguk tanpa minat.

Okay.” Jaebum beranjak menuju keluar kelas. Begitu dia sampai ke ambang pintu, diliriknya lagi sosok Yerin yang tertunduk dan telah hanyut kembali bersama bukunya. Jaebum mengerutkan bibir dengan kecewa, mendesah, lalu pergi.

***

“Jaebum itu tampan juga yah,” komentar Sohee sambil menyuapi mulutnya dengan ice cream.

Jiyeon dan Eunjung mengangguk setuju. “Tentu saja, dia dari Amerika dan wajahnya tampan,” imbuh Eunjung. “Menurut kalian, Jaebum itu sudah punya pacar atau belum yah?”

“Tentu saja belum!” tukas Jiyeon, sengit. “Dia sedang sendiri sekarang dan menungguku untuk menjadi pacarnya.”

Eunjung dan Sohee tertawa, diikuti ledakan tawa dari Jiyeon. Setelah tawa mereka reda, Eunjung kembali bertanya, “Tapi, apa kau yakin bisa merebut hati Jaebum? Dia itu terlihat agak..” Eunjung terdiam, mencari kata-kata yang tepat.

“..sulit ditebak,” sambung Sohee.

“Ah, benar!” Eunjung mengangguk. “Dia itu agak sulit ditebak. Bukan tipe pria yang gampang digoda.”

Jiyeon mengedikkan bahu dengan cuek. “Aku tidak peduli. Memangnya pemuda mana di sekolah ini yang tidak akan tertarik denganku?” ujarnya arogan.

Eunjung dan Sohee bertukar pandang sekilas dan mengedikkan bahu. “O..kay,” sahut mereka, ragu.

Jiyeon tersenyum-senyum di tempat duduknya dan menjilati sendok ice cream-nya.

***

Begitu bel pulang berdentang dengan nyaring di koridor sekolah, semua menjerit histeris, bahagia karena akhirnya bisa melepaskan diri dari jeratan kegiatan sekolah yang membosankan. Yerin melirik arlojinya sebentar—sudah pukul dua siang—lalu merapikan seluruh buku-bukunya ke dalam tas.

“Jaebum, rumahmu di mana?”

“Rumahku?”

Yerin mengangkat wajah, memandangi Jiyeon yang sudah bergemelayut mesra pada lengan kokoh Jaebum.

“Bagaimana kalau kita pulang bersama?” lanjut Jiyeon dengan lagak menggemaskan, tapi yang ada justru membuat Jaebum gerah.

“Hm, aku..” Jaebum memalingkan wajahnya kearah Yerin. Begitu mata mereka bertemu, Yerin buru-buru menarik ranselnya dan meninggalkan kelas. Jaebum terus mengikuti bayangan Yerin yang perlahan-lahan menjauh dan pada akhirnya menghilang di balik pintu kelas yang menutup.

“Jaebum!” erang Jiyeon, kesal. Dia menarik dagu Jaebum untuk menghadapkan wajah pemuda itu pada wajahnya. “Kau ini kenapa, sih?”

Jaebum menggeleng dan perlahan melepaskan cengkeraman lengan Jiyeon pada tangannya. “Maaf, aku tidak bisa pulang bersamamu,” katanya, lalu segera berlari keluar kelas dengan terburu-buru.

“Jaebum, kau mau kemana?” teriak Jiyeon, frustasi. “Jaebum!”

***

Kemana dia?

Jaebum mencari-cari sosok Yerin di lapangan sekolah, di antara murid-murid lain yang berjalan keluar gerbang. Dia berlari keluar gerbang, menoleh ke kanan dan kiri untuk mencarinya, tapi gadis itu tidak ada di mana-mana. Jaebum berdecak kesal dan berkacak pinggang.

“Cepat sekali perginya.”

***

Pria tua itu duduk di kursi malas depan toko barang antiknya, mengenakan kaus tanpa lengan berwarna putih dan celana pendek berwarna abu-abu. Rambutnya berwarna abu-abu dan putih, janggut-janggut tipis tumbuh di sekitar pipi, dagu, mulut, dan hidungnya, nampak seperti baru saja ditaburkan garam, agak kasar. Tangan kanannya digunakan untuk mengipasi dirinya menggunakan selembar kotak rokok yang sudah dirobek dan dilipat menjadi bentuk segiempat. Rambut tipisnya yang nyaris botak melambai mengikuti arah angin yang diakibatkan oleh kipasan kertas rokok tersebut.

“Hai, Kek!”

Pria tua itu melonjak dari kursi malasnya saat sosok seseorang berdiri di depannya, menghalangi cahaya matahari menerpanya langsung. “Yerin?”

“Ya, ini aku.”

Pria tua itu merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah kacamata dan mengenakannya. “Kau sudah pulang?”

Yerin mengedikkan bahu. Dia melepas ranselnya dan menarik sebuah kursi plastik terdekat, lalu duduk di samping kakeknya. “Bagaimana hari ini? Banyak pembeli?”

Tuan Baek menoleh ke belakang, memandangi rak-rak barang antiknya dengan lemas, dan mendesah. “Tidak juga.”

Yerin ikut mendesah dan meraih tangan tua kakeknya. “Tidak apa-apa,” katanya sambil tersenyum. “Mungkin bukan hari ini.”

Tuan Baek tersenyum hangat, merasa sedikit bersemangat mendengar suntikan semangat cucu kesayangannya itu. “Lalu, bagaimana harimu di sekolah? Menyenangkan?”

“Hm..” Yerin menggumam sangat lama. “Biasa saja.”

“Apakah Jiyeon dan kawan-kawannya masih mengganggumu?”

“Tidak,” sahut Yerin. “Aku terselamatkan dengan kehadiran murid baru hari ini, jadi mereka tidak perlu repot-repot lagi memerhatikanku.”

Tuan Baek mengangkat alis. “Murid baru?”

“Hm. Dari Amerika, namanya Jaebum.”

Tuan Baek mengangguk. “Apakah dia tampan?”

Yerin memandang kakeknya risih. “Pertanyaan macam apa itu?”

Tuan Baek mengedikkan bahu dan menyandarkan punggungnya ke kursi. “Masih saja bersikap dingin pada laki-laki,” gumamnya, menyindir.

“Aku tidak seperti itu,” kata Yerin, membela diri. “Hanya saja aku..” Gadis itu terdiam. Tuan Baek mendongak kearahnya. “Hanya apa?”

“Hanya ingin lebih berhati-hati,” sambung Yerin dengan suara pelan. “Aku hanya tidak ingin tersakiti, maka dari itu aku ingin lebih berhati-hati.”

Tuan Baek menggeleng dan tersenyum lebar, memahami perasaan cucunya. “Dulu, saat kakek masih menjadi seorang dosen filsafat, kakek pernah membaca sebuah kutipan dari orang-orang Yahudi,” ujarnya, menggurui cucunya yang polos. Yerin mengangguk di kursinya, siap mendengar. “Begini kutipannya, ‘Manusia berencana, Tuhan tertawa’. Jangan salah paham dulu,” serga Tuan Baek cepat-cepat saat melihat alis Yerin berkerut. “Ini lebih pada pemahaman bahwa, walau kau sudah memberikan segalanya, memberi kesempatan terbaik bagi dirimu sendiri, tapi kontrol hanyalah sebuah ilusi. Kau tidak bisa mengatur segalanya sesuai dengan yang kau inginkan, karena patah hati atau sakit hati merupakan bagian dari jatuh cinta. Bagian yang tidak bisa terpisahkan. Seperti antara perbuatan dan risiko. Ketika kau jatuh cinta, kau harus siap untuk merasakan patah hati juga.”

Yerin mengerutkan bibirnya beberapa saat. Apa yang dikatakan kakeknya, harus diakuinya, sangat benar. Dia tidak bisa terus-terusan menutup diri hanya karena terlalu takut. Tapi.. Yerin masih terlihat ragu. Ditatapnya wajah kakeknya. Wajah itu memandangnya lembut. Yerin tidak mengerti mengapa kakeknya mengorbankan pekerjaannya sebagai seorang dosen dan memilih menjebak diri di antara rak-rak barang antik di rumah. Kakeknya adalah orang yang jenius dan berhati lembut. Derajatnya seharusnya lebih tinggi daripada seorang penjaga toko barang antik.

“Bagaimana kalau kita rehat sebentar?” kata kakeknya, lalu berdiri dari kursi malasnya. Kursi mala situ berderit saat Tuan Baek berdiri. “Ganti pakaian sekarang, kakek akan membuatkanmu makan siang yang enak. Oke?”

Yerin mengangguk antusias. “Oke.”

***

Di dapur yang berada di lantai dua, Yerin muncul dengan kaus biru tua, celana pendek, dan rambut dikuncir kuda. Dia mendapati kakeknya sedang mengenakan celemek putih dengan pinggiran bordiran bunga, sedang meletakkan menu makan siang di atas meja makan. Yerin memandangi seluruh menu makan siang itu dengan mata lapar.

“Wah!” serunya, antusias. Yerin mengulurkan tangan ke meja makan, ingin mencomot potongan Korean pancake yang dibuat kakeknya, tapi gagal karena kakeknya buru-buru memukul punggung tangannya.

“Cuci tangan dulu,” kata kakeknya, memperingatkan.

Yerin memasang tampang cemberut, lalu berjalan menuju wastafel dapur. Sembari menggosok-gosok telapak tangannya dengan sabun, Yerin melongok melalui jendela ke lantai bawah. Dilihatnya rumah sebelah yang kosong sudah menemukan pemilik baru. Seorang pria bertubuh jangkung berdiri di depan rumah, memberi komando pada para kuli-kuli untuk mengangkat barang-barang ke dalam rumah.

“Di rumah sebelah ada penghuni baru,” gumam Yerin, masih berkonsentrasi pada pemandangan di bawah. Tangannya masih menggosok-gosok di wastafel.

“Memang,” tukas Tuan Baek, mengatur piring-piring di atas meja. “Kudengar mereka datang dari Amerika.”

“Sebuah keluarga?”

“Tidak. Hanya kakak dan adik.”

“Kemana orangtua mereka?”

Tuan Baek mengedikkan bahu. “Entahlah. Ayo, makan, sebelum makan siang ini dingin.”

Yerin mengucurkan air dari wastafel dan membasuh tangan di bawahnya untuk menyingkirkan busa sabun.

***

Malam itu, Yerin masih terjaga, duduk di dalam kamar, di meja belajar, masih berkutat dengan novelnya. Di bawah lampu duduk, Yerin mengerjap-ngerjapkan matanya, mulai kehilangan konsentrasi. Tidak biasanya dia merasa seperti ini. Biasanya, jika dia sedang membaca, yang dia butuhkan hanyalah suasana tenang dan damai, tanpa suara-suara. Kakeknya sudah tidur dan tidak ada terdengar keributan darimana pun.

Yerin menutup novelnya dan bersandar pada kursi. Dia menghela napas dan melepas kacamata jangkriknya ke atas meja belajar. Dari kacamatanya, Yerin bisa melihat refleksi samar dirinya pada kaca itu. Wajahnya tampak lusuh, seperti kekurangan sesuatu dari dalam hidupnya. Tapi, apa? Yerin merasa lengkap. Dia masih punya rumah sebagai tempat tinggal, dia masih punya kakeknya, dan masih punya dirinya sendiri. Yerin berdecak kesal, lalu melipat kedua lengan ke atas meja dan menenggelamkan wajahnya di sana.

Matanya melirik punggung tangan kanannya dengan dekat. Dia kembali duduk tegak dan mengamati telapak tangannya. Dia masih ingat bagaimana Jaebum meremas tangannya dengan lembut saat mereka berkenalan tadi. Yerin agak terkejut mendapati dirinya mereka ulang kejadian itu di sekolah. Tidak biasanya dia merasa seaneh ini. Mungkin hanya karena cara Jaebum memperlakukanku, pikirnya dalam hati, lalu buru-buru menyingkirkan bayangan itu, beranjak naik ke ranjang, dan tidur.

***

Seulong menepikan mobilnya di seberang Kirin High School dan menekan tombol pembuka kunci pintu otomatis. Jaebum baru saja ingin keluar dari mobil, namun Seulong mencegatnya.

“Jaebum.” Seulong menarik lengan pemuda itu.

“Apa?”

Seulong mengamati wajah adiknya beberapa saat dan tersenyum. “Tidak apa-apa. Hanya ingin mengingatkanmu bahwa aku pulang agak telat hari ini. Aku akan bertemu dengan ayah dan membahas soal pembagian harta keluarga. Tidak apa-apa, kan?”

Jaebum mengangguk. “Okay, tidak apa-apa.”

Begitu sudah mencapai kesepakatan, Jaebum segera turun dari mobil dan berlari menyeberangi jalan. Dia memasuki gerbang dan bergabung bersama murid-murid lainnya yang hendak masuk ke dalam gedung sekolah. Jaebum mendongakkan kepala ke kejauhan, mengenali sosok yang berada tidak jauh di hadapannya. Yerin.

Jaebum mengulum senyum dan berlari menuju gadis itu. Dia baru saja ingin menyapa Yerin, namun tahu-tahu lengannya sudah digamit dan ditarik oleh seseorang. Sosok Yerin akhirnya perlahan kembali menjauh dan menghilang.

“Halo, Jaebum,” sapa Jiyeon, ceria. Tangannya menggamit erat lengan Jaebum dengan mesra.

Jaebum berdecak. “Apa yang kau inginkan?” tanyanya, ketus.

Jiyeon membelalak takut melihat reaksi Jaebum yang tidak biasa. “Aku hanya ingin menyapamu, memangnya tidak boleh?”

“Tapi—”

“Jiyeon!” Eunjung terengah-engah menghampiri keduanya. “Guru Ok memasang sebuah pengumuman di depan kelas!”

“Pengumuman apa?”

Eunjung mengedikkan bahu. “Sepertinya Guru Ok ingin memberikan kita tugas. Tugas berpasangan. Kau harus segera melihatnya sekarang juga.”

“Ayo!”

Jiyeon menarik lengan Jaebum untuk berlari bersamanya. Langkah Jaebum terseret-seret, berusaha menyamai irama lari gadis itu. Keduanya berlari begitu cepat, mengikuti Eunjung yang ada di depan. Mereka meniti tangga dengan tergesa-gesa dan dahi penuh oleh keringat, lalu tiba di depan kelas, disambut oleh kerumunan kecil yang mengelilingi pintu kelas.

“Minggir, minggir!” Jiyeon mendorong kerumunan itu dengan kasar, lalu maju ke depan. Lengannya masih melingkar mesra pada lengan Jaebum.

Jiyeon melihat sebuah kertas ditempelkan di pintu ruang kelas. Di sudut-sudut kertas terlihat bercak lem yang masih basah, artinya Guru Ok belum lama menempelkan kertas pengumuman itu. Beginilah isi pengumuman itu:

Terkait dengan semester terakhir ini yang hanya akan berjalan selama empat bulan sebelum ujian kelulusan, akan ada tugas untuk menentukan nilai akhir untuk mata pelajaran khusus Bahasa Inggris. Tugas ini adalah tugas berpasangan. Kalian akan mengerjakan tugas ini dengan pasangan kalian dalam kurun waktu sebulan dan tugas ini wajib dikumpul tepat waktu. Tugas ini adalah tugas menulis. Tema tulisan ditentukan oleh kalian sendiri, namun harus ditulis menggunakan bahasa Inggris.

Berikut nama-nama pasangan untuk tugas ini:

1). Park Jinyoung dan Park Jimin

2). Jo Kwon dan Lee Changmin

3). Jung Jinwoon dan Jang Wooyoung

4). …

Jiyeon membaca nama-nama pasangan selanjutnya dengan hati berdebar, mengkhawatirkan siapa yang akan menjadi pasangannya. Harapannya adalah dia bisa berpasangan dengan Jaebum. Namun, yang ditemukannya membuatnya sangat tercengang. Tangannya dengan refleks jatuh dari lengan Jaebum. Matanya tidak berkedip melihat nama pasangan yang ada pada nomor sembilan.

“Baek Yerin dan Im Jaebum?” pekik Jiyeon, tidak percaya.

Terdengar suara napas-napas tercekat. Jaebum ikut membaca pengumuman itu untuk memastikan ucapan Jiyeon. Dan ternyata dia memang benar-benar dipasangkan bersama Yerin. Semua mata beralih menatap Jaebum dan Yerin—yang berada pada barisan kerumunan paling belakang. Jaebum dan Yerin saling berpandangan, tak percaya. Terlebih Yerin.

“A-aku.. bersama.. Ja-jaebum?”

To be continued…

***

A/N: Halo, saya kembali membawa FF baru, mudah-mudahan nggak bosan yah lihat saya rajin publish FF haha. Well, karena ini baru part ‘pemanasan’ dan saya maklum banget karena ini cast-nya masih unfamiliar sama readers sekalian, tapi saya mengharapkan minimal ada 15 komentar pada part ini untuk mendukung saya mengerjakan part-nya lebih cepat dan lebih baik lagi. Lebih dari 15 komentar malah lebih bagus hehe. So, please, don’t be a silent reader and leave your comment.

*Note: Saya harap nggak ada lagi komentar berisi “bagus, thor”, “lanjut, thor”, dan semacamnya. Tolong, tunjukkan keantusiasan dan apresiasi kalian terhadap FF ini dengan komentar yang lebih baik daripada contoh komentar di atas. Thanks. 🙂

28 thoughts on “He’s Out of My League (Part 1)

  1. yes satu lagi FF yg main cast nya JB trus ada Jiyeon nya jugaaaa !! kangen sama JJ couple ini !!

    bagus kok thor,meski tema kayak gini udh banyak…tapi karena dibalut sama kata-kata yg keren jadi pengen baca terus..teruss…eh gak taunya udh end aja~~

    aku juga suka sama qoutes nya…bagus banget thorr !!

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s