[FF Freelance] I Wish I Were You (Part 3)

Tittle                : I Wish I Were You

Author             : Hyukkie44bee

Main Cast        : Lee Hyuk Jae (a.k.a Hyukkie – HaJe)

                          Lee Seung Hyun (a.k.a Seungri)

                          Park Gyuri

                          Lee Cae Rin (a.k.a Cae Cae)

Cameo             : Max Fernandes

                          Hwang Joon Ki

                         And many others

Genre              : Romance

Length             : {3/..} Continue.

Rate                 : PG 15+

Previous part: Part 1, Part 2

a/n                   : anyeong……

Maafkan aku karna cerita yang mungkin kalian baca ini membosankan.

Hihihi… maklum aja ini tulisan pertama aku.

Hemmm…. Mo ngomong apa ya?

Terimakasih buat readers yang udah meluangkan waktunya untuk memberi komentar di coretan aku ini. J.

Terimaksih juga untuk admin yang udah mem-publish catatan kecilku ini. Hihihi…..

Maaf ya kalo chapternya kepanjangan? Panjang gak sih??? Hihihihi….

Maaf juga kalo alurnya mungkin amburadul dan gak jelas T_T”

Kedepan semoga tulisanku bisa lebih baik dan menghibur.

Kamsahamnida *bow

HAPPY READING ^^

–o0o

2 days latter – Lee’s New Apartement

“Terlalu tinggi…!! Arahkan sedikit miring ke kanan…!! Stopppp!!!!”

Cae Rin memulai pagi harinya dengan berteriak-teriak bak tukang parker yang sedang mengarahkan laju kendaraan. Cae Rin dan Gyuri ditemani beberapa pekerja sedang membersihkan dan menata apartement baru yang akan ditempati Seungri dan kakaknya.

Cae Rin membagi mereka dalam beberapa kelompok kecil yang tentu saja telah memiliki bagian pekerjaan masing-masing. Menata perabotan rumah adalah salah satu hobby Cae Rin. Baginya dan juga Seungri, menata rumah dengan tangan mereka sendiri membuat suasana rumah menjadi lebih nyaman untuk dihuni.

“baju-baju ini harus aku tata di mana?” Gyuri menarik  koper besar berisi pakaian milik Seungri. Dia tampak kewalahan karna itu adalah koper ke-4 berisi pakaian yang ia tarik pagi itu. “kenapa Seungri bawa baju banyak sekali? Apa ini tidak terlalu berlebihan?” akhirnya Gyuri duduk di atas koper yang ia biarkan ambruk di lantai.

“maaf ya eonni, Seungri dan kakaknya itu memang seorang fashionista, 4 koper yang dibawa Seungri hanyalah sebagian baju yang ia punya di rumah utamanya. Masih ada baju-baju lain yang ada di setiap rumah singgahnya di beberapa kota dan Negara.”

“Seungri pasti bingung menghabiskan uangnya, sehingga ia membelikan uangnya hanya untuk membeli pakaian yang tentu saja tidak mungkin dia pakai semuanya kan?”

Gyuri benar-benar orang yang sangat polos. Cae Rin tersenyum, dia merasa kasihan pada Gyuri. Bila diperhatikan Gyuri sama sekali tidak tergolong dalam golongan wanita yang memiliki selera fashion yang bagus. Hari itu dia bahkan hanya menggunakan celana panjang belel dengan atasan kaos lengan panjang warna pink. Tak ada aksesori yang menghiasi jemari atau pergelangan tangannya. Gyuri bahkan juga tak menggunakan make up, sekalipun hanya lipstick untuk sekedar memberi warna pada bibir pucatnya.

“hahahaha…. Eonni, kau ini bisa saja…. Oya, kopernya taruh di kamar Seungri saja, nanti biar aku yang menatanya. Eonni istirahatlah dulu jika merasa lelah, setelah itu baru lanjutkan lagi menata pakaian Hyukkie oppa ok..!!”

Gyuri mengangguk, dia tarik koper ke-4 berisi pakaian Seungri itu ke dalam kamar Seungri. Dia takjub dengan hasil karya tangan Cae Rin. Kamar dengan nuansa coklat vanilla mendominasi kamar Seungri. Kasur Seungri tepat berada di tengah ruangan, sheet 3 lapis berwarna kuning dilengkapi bed cover dengan motif garis warna coklat dan kuning. Bantal dan guling berwarna senada dengan blanketnya, yaitu vanilla. Sebuah boneka panda besar ada di sudut ruangan dekat meja kerja Seungri. Di samping kiri ruangan ada sebuah almari besar berisi buku-buku bacaan Seungri. Jendela kamar Seungri menghadap langsung sungai Han, tempat favorit Seungri dan juga almarhum ibunya. Beberapa foto masa kecil Seungri dan juga keluarga Lee lainnya tergantung rapi di dinding kamar.

Tiba-tiba saja mata Gyuri tertuju pada sebuah benda. Gyuri menuju ke arah foto dengan ukuran jumbo di samping jendela kamar. Dilihatnya dua orang laki-laki muda sedang duduk di atas Ferari berwarna merah, lelaki muda yang bertubuh kurus itu mengangkat sebuah medali di sebelah tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya sibuk dengan seikat bunga yang ditata dengan indah. Sementara laki-laki muda disebelahnya membawa sebotol wine yang terlihat berbusa akibat kocokan dari sang empunya.

“foto itu diambil 5 tahun yang lalu eonni, tepat 3 hari sebelum Hyukkie oppa meninggalkan Korea” tanpa Gyuri sadari Cae Rin sudah ada di belakangnya.

“mereka kelihatan bahagia……”

“Seungri selalu bahagia di samping kakaknya eonni, begitu juga sebaliknya.. jangan tanyakan padaku apa alasan oppa pergi, kelak biar Seungri atau oppa sendiri yang menceritakan semuanya padamu”

“anio… aku tidak bermaksud seperti itu. Aku tau, ini sama sekali bukan hakku untuk mengetahui sejarah keluarga mereka.”

“bukan begitu eonni, hanya saja…… well, kita bahas yang lain saja ya.. hehe.” Cae Rin tak ingin terus membahas masa lalu keluarga kekasihnya itu. Bukan karna dia tak ingin Gyuri mengetahui semuanya, hanya saja mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk menceritakannya.

“eonnie sebaiknya kau membantuku menata baju Seungri dulu, setelah ini kita tata baju oppa, ok!”

“baiklah.. kajja..!!”

Mereka bekerja dengan penuh semangat hari itu. Cae Rin senang sekali memiliki teman seperti Gyuri. Dia gadis yang baik dan lemah lembut. Sifat dan sikapnya selalu membuat orang merasa nyaman berada di dekatnya. Obrolan-obrolan segar mereka lontarkan satu sama lain. Tak terasa pekerjaan mereka di kamar Seungri telah usai.

“hoahhh…………………. Laparrrr!! Eonni, kau mau makan apa?”

“eum…… bagaimana kalau aku masakkan sesuatu?”

“ jadi eonni pandai memasak juga? Wau…..!! Kalu begitu kapan-kapan aku mau belajar memasak eonni.. hihihi… tapi masaknya lain kali saja eonni. Alat-alat dapur kita kan masih belum lengkap, kita juga belum belanja bahan makanan. Lalu eonni mau masak apa? Angin? Hahhahaha…………..”

Sontak tawa riang menggema di kamar Seungri. Gyuri terlihat sangat bahagia bersama Cae Rin. Rasa takut yang biasa ia alami setiap saat kini sirna. Semua hutang keluarganya telah lunas dibayar Seungri. Kedua orangtua angkatnya juga sudah diberi pekerjaan dan tempat tinggal yang layak di Incheon, sehingga dia tak perlu lagi memikirkan nasib keluarga angkatnya itu. Hanya sedikit gundah yang masih saja tak mau lepas dari fikiran Gyuri. Memikirkan apa yang harus dia lakukan saat Hyuk Jae sampai di apartement mereka nanti.

“baiklah, hari ini kita pesan saja, lain kali aku janji akan membantu eonni memasakkan sesuatu untuk kita makan bersama…”

Cae Rin sibuk menekan-nekan tombol di layar handphone miliknya. Cae Rin mulai berkomat-kamit menyebutkan makanan pesanannya. Tak lupa ia juga memesankan makanan untuk para pegawai yang sedang membantunya hari itu.

“siap…… smuanya sudah aku pesankan. Eonni aku pesankan makanan yang sama denganku, hehe…..” Cae Rin nyengir kuda, Gyuri memang belum memesan apapun untuk makan siangnya, namun Cae Rin dengan lancang memesankan makanan yang sama dengannya.

“tidak masalah… lalu para pekerja??” Gyuri mencoba mengingatkan Cae Rin, takut dia melupakan orang-orang yang sedang membantu mereka pada hari itu.

“tenang saja eonni, semuanya sudah siap. Kita tunggu ½ jam lagi ok!! Eummm… sambil menunggu, ayo kita ke kamar Hyukkie oppa….. kajja…!!”

Cae Rin menarik tangan Gyuri kasar. Ia tak sabar ingin memamerkan hasil karya lainnya pada Gyuri. Letak kamar Hyuk Jae berada tepat di sebelah kamar Seungri. Sengaja mereka menatanya seperti itu, Seungri ingin selalu dekat dengan kakaknya.

“wawww……………….. ini indah… kau berbakat di bidang design interior Cae Rin-ah..” puji Gyuri jujur. Cae Rin memang sangat berbakat di bidang ini. Oleh sebab itu ayah Cae Rin menghadiahkan sebuah toko interior di daerah Busan sebagai hadiah  ulang tahunnya yang ke 14.

“eonnie terlalu memujiku.. aku jadi malu..” Cae Rin menutupi mukanya yang memerah. Dia sungguh gadis yang sangat senang dipuji.

Kamar Hyuk Jae berbeda dengan kamar Seungri yang terkesan dingin dan lembut. Warna biru laut, warna kesukaan Hyuk Jae sengaja dipilih Cae Rin sebagai warna dasar cat dinding kamar. King size bed milik Hyuk Jae berada tepat di dekat jendela. Bantal dan gulingnya berwarna merah bergendi polos senada dengan sheet-nya. Sedangkan bed cover-nya berwarna ungu gelap mempermanis tampilan kasur yang terlihat sangat nyaman itu. Beberapa miniature mobil balap tertata dengan rapi di dalam almari kaca, rupanya itu adalah benda-benda koleksi Hyuk Jae yang ia tinggalkan selama pergi ke luar negeri.

Foto-foto semasa kecil sampai remaja Hyuk Jae tergantung rapi di dinding samping almari. 2 barble kecil tergeletak di bawah meja kerja Hyuk Jae. Botol-botol parfume dengan merk terkenal berbaris rapi di meja rias Hyuk Jae. Topi dan juga kaca mata koleksi Hyuk Jae berdiam manis di almari kaca yang sengaja dipesan khusus Cae Rin untuk oppa-nya ini.

Tak ada yang terlihat special di kamar mewah itu, deretan barang-barang mewah tentu saja bukanlah hal yang asing lagi di keluarga Lee, sehingga Gyuri tak pernah menganggap itu special yang mungkin itu adalah hal yang sangat biasa bagi keluarga Lee tentunya.

Kaki Gyuri menari-nari dari sudut ke sudut ruangan lainnya. Sebuah figora foto kecil terselip diantara miniature-miniature mobil Hyuk Jae. Dipandanginya foto itu lekat. Hyuk Jae tersenyum manis ketika menatap wajah gadis yang ada di sebelahnya. Gadis itu tampak tak asing lagi di ingatan Gyuri.

“eummmmmm…… Cae Rin-ah… ini-“

“itu juga salah satu sejarah besar di keluarga kami. Suatu saat kau pasti mengetahuinya eonni..” Seperti seorang peramal Cae Rin dapat dengan mudah membaca fikiran Gyuri. Pertanyaan klasik nan menarik yang selalu saja dilontarkan setiap gadis saat mulai memperhatikan Hyuk Jae.

“maafkan aku eonni, skali lagi maaf”

“kenapa kau meminta maaf. Tidak ada yang salah diantara kita berdua.. hehe.. mana Panda?” Gyuri segera mengganti topic pembicaraan. Tak ingin merusak hari indah mereka siang itu. “ Sejak kemarin dia sama sekali tak menampakkan hidungnya? Bukankah dia yang paling antusias ingin segera pindah ke sini?”

Sedikit penyesalan Gyuri rasakan. Harusnya dia tidak tergesa-gesa menanyakan sesuatu hal yang memang kurang pantas untuk ditanyakan.

“perusahaan tekstil kami di Hiroshima sedang launching product baru eonni, karna perusahaan ini adalah perusahaan terbesar kami di Jepang, jadi Seungri harus menghadiri acaranya sendiri. Mungkin besok pagi dia baru pulang..”

“begitukah? ? dia sangat sibuk rupanya”

“benar, maka dari itu dia memintamu untuk menjaga kakaknya. Karna walau dia sangat ingin menjaga kakaknya sendiri, tapi itu tidak mungkin terjadi… baiklah.. ayo kita lanjutkan menata pakaian ini eonni. Ruangan yang lain sudah beres.. tinggal memasukkan baju-baju oppa dan selesaii…..”

“baiklah… semangat…!!!” Gyuri mengepalkan tangannya seraya melayangkan genggaman tangannya sendiri ke udara. Berusaha menyemangati dirinya sendiri dan juga Cae Rin tentunya. 2 hari ini mereka bekerja keras menata apartemen baru Seungri dibantu para pekerja tentunya. Namun rasa lelah tentu saja tak dapat dipungkiri oleh Gyuri maupun Cae Rin.

–o0o

Asan Medical Center — International Clinic

“taraaa…………… sempurna!! Kau selalu terlihat tampan dimataku HaJe”

Senyum indah itu merekah di bibir Jinnie. Jinnie baru saja selesai merekatkan kanjing baju terakhir milik Hyuk Jae. Dia membantu Hyuk Jae untuk mengganti pakaian rumah sakitnya dengan pakaian biasa. Aktifitas yang sudah lama tidak ia lakukan pada Hyuk Jae, rupanya hari itu harus ia lakukan lagi. Hari itu Hyuk Jae sudah diperbolehkan pulang, Seungri tetap memaksa membawa pulang kakaknya walau sudah jelas hari itu dia tak dapat menemaninya.

“tunggu dulu.. akan kusisir dulu rambutmu…”

Jinnie memang sangat perhatian pada Hyuk Jae, disisirnya rambut lepek Hyuk Jae dengan halus penuh kasih sayang, takut melukai pemiliknya. Sementara Cae Rin mendengus kesal di pojok ruangan. Dia sama sekali tidak ingin menonton adegan ini. Baginya ini memuakkan. Bukan karna rasa cemburu sebagai seorang gadis yang cemburu pada kekasihnya, hanya saja identitas Jinnie yang sama sekali tidak diketahuinya membuatnya mual tiap kali melihatnya.

“Oppa….”

Panggil Cae Rin manja. Dia memberanikan diri mendekati Hyuk Jae. Tangannya menggelayut manja pada lengan kanan Hyuk Jae. Dipamerkannya aegyo face andalannya saperti saat dia masih kecil dulu.

“hem…”

5 hari berada di rumah sakit membuatnya enggan berbicara. Tak ada satu orang pun yang berhasil membuat lelaki dingin itu mencair seperti sedia kala.

“lihat aku…”

tangan kanan Cae Rin menyambar rahang Hyuk Jae. Mengarahkan wajahnya sehingga Cae Rin bisa dengan leluasa melihat wajah oppa kesayangannya itu.

“kau tidak menyayangiku lagi?” Tanya Cae Rin manja.

“dasar gadis manja! Sudah kubilang jangan terlalu dekat dengan panda bodoh itu. Lihat saja sekarang kau menjadi semakin manja. Ingat usiamu sekarang CaeCae!!”

Hyuk Jae tersenyum. Baru kali ini dia berbicara panjang lebar. Gadis manja yang tumbuh di depan kedua matanya ini sekarang sudah menjadi gadis yang cantik dan pintar. Dia bahkan bisa membuat karang es yang sudah membeku selama 5 hari ini mencair hanya dengan 1 sentuhan.

“lalu kenapa Oppa mengabaikanku?”

Bibir Cae Rin mulai berkomat kamit tak jelas. Kesal dan cemburu bercampur jadi satu. Gadis frontal ini rupanya sudah tak sanggup lagi menahan perasaan untuk meminta penjelasan dari Hyuk Jae.

“sejak kapan aku mengabaikanmu? Kau sendiri yang tak pernah mengunjungiku selama aku di Korea. 5 hari di rumah sakit juga tak ada yang menemuiku, kau dan juga Seungri sepertinya sudah melupakanku!”

“yak… oppa! Kenapa sekarang kau yang marah? Harusnya kan aku yang meminta pertanggung jawabanmu!! lagi pula, aku tidak mengunjungimu karna aku punya alasan yang kuat..!!”

Mata Cae Rin melotot. Tapi Hyuk Jae tersenyum lebar. Mendengar cerita Max tentang Cae Rin yang selalu ada untuk Seungri, membuatnya semakin sayang pada gadis yang sudah ia anggap sebagai adik kandungnya sendiri itu.

“aku tau,,,, kau memang selalu punya alasan untuk membuatku kesal!”

Diacaknya rambut Cae Rin pelan. Cae Rin tersenyum senang. Sedangkan Jinnie dan Keanny memandang ke arah mereka berdua. Tak tau apa yang mereka perbincangkan. Karna selama ini mereka selalu berkomunikasi dalam bahasa Inggris, bukan Spanyol maupun Korea.

“kalau begitu aku ingin dipeluk oppa!!! Sekarang!!!”

Cae Rin sengaja membuat dirinya terlihat manja di depan Hyuk Jae dan juga penghuni lain di kamar Hyuk Jae. Dia ingin pamer pada mereka, betapa dia dan Hyuk Jae saling menyayangi dan tidak ada yang boleh merebut Hyuk Jae tanpa ijin darinya.

Tanpa berkata-kata Hyuk Jae melingkarkan tangan kanannya yang bebas dari selang infuse pada bahu Cae Rin. Kecupan lembut di pucuk kepala Cae Rin menunjukkan betapa Hyuk Jae masih menyayangi adik perempuanya itu.

Adegan antara calon adik dan kakak ipar ini akhirnya terinterupsi dengan suara pintu yang terbuka. Rupanya Joon masuk dengan seorang dokter dan juga 3 orang suster di belakangnya.

“haii Cae Rin sayang!! Kau tidak merasa bau menempel pada oppa jorokmu itu?”

Goda Joon. Hari itu Joon tampak tampan dan menawan. Dia tak mengenakan pakaian dinasnya karna dia mengambil cuti hari ini. Setelan kaos warna hitam v neck dengan Jas semi casual warna biru tua melekat indah pada badan six pack nya. Sedangkan skinny jeans hitam dengan aksen robek di beberapa bagian celananya  berpadu dengan sepasang sepatu kulit warna putih sangat cocok dengan kaki sexy nan panjang itu.

“ehemmmm.. sebenarnya ini sedikit menggangguku. Hehe.. besok aku akan memandikanmu oppa biar wangi,,,, iya kan oppa!!”

Mata Cae Rin berkedip nakal pada Joon dan Hyuk Jae yang membuat mereka berdua tertawa.

“jangan melucu di hadapanku Joon. Aku sedang tidak ingin tertawa!!”

Hyuk Jae melotot sambil meringis ke  arah Joon. Dia menahan sakit akibat perutnya yang berkontraksi saat tertawa.

“ouch… takuuuttttt!!” Joon memasang expresi seakan-akan dia ketakutan yang jelas sekali dibuat-buat.

“kalau tidak ingin tertawa ya sudah, lagi pula aku tidak menyuruhmu untuk menertawaiku!” goda Joon lagi.

“dokter, tolong periksa laki-laki tua manja itu. Apa dia benar-benar bisa pulang hari ini atau mungkin besok? Besok lusa? Minggu depan mungkin dok??”

Dokter Kim mendekat, kemudian disusul 2 suster yang tampak gemetaran karna akan memeriksa pasien tampan dan terkenal seperti Hyuk Jae. 2 orang suster itu secara bergantian mengeluarkan alat untuk memeriksa keadaan Hyuk Jae. Sedangkan 1 orang suster lainnya mencatat semua yang diucapkan dokter Kim. Pemeriksaan berlangsung cukup lama, kira-kira 20 menit waktu yang mereka gunakan untuk meyakinkan diri bahwa Hyuk Jae dapat meninggalkan rumah sakit hari ini.

“tekanan darah nomal, luka-luka memar juga semakin menghilang. Untung saja tulang rusukmu tak mengenai organ fital lainnya Hyuk Jae, sehingga tak menyebabkan luka dalam yang cukup parah” dokter Kim memulai penjelasannya.

“jadi dia bisa kami bawa pulang hari ini dokter Kim?” Tanya Joon antusias.

“tentu. Tapi kalian harus hati-hati. Hyuk Jae, kau tak boleh banyak bergerak! Mengerti? Memang tak ada luka dalam yang parah, namun rasa nyeri yang ditimbulkan akibat patahnya tulang rusuk itu biasanya berangsur lama. Jadi aku mohon kau jaga dirimu baik-baik. Istirahat total lah selama 1 minggu kedepan. Suster Jang dan suster Bong yang akan membantuku mengawasimu di rumah. Jangan lupa obat harus di minum secara rutin dan makanlah dengan benar! Mengerti!!”

Hyuk Jae sama sekali tak mendengarkan petuah yang diberikan dokter Kim. Baginya itu hanyalah sekedar omelan yang tentu saja akan lebih sering lagi ia dengarkan saat tiba di apartemennya nanti. Dia hembuskan nafas berat nan panjang itu. Bosan. Jenuh. Muak. Tak dapat lagi ditahan. Andai kaki dan tubuhnya dapat digunakan dengan normal, dia ingin segera berlari jauh dari tempat menyeramkan ini.

Semua barang-barang sudah dikemas dan diangkat ke mobil. Joon membantu Hyuk Jae dengan mendorong kursi rodanya menuju mobil mereka. Suasana rumah sakit kali ini sedikit lebih sepi dari biasanya. Apa orang-orang yang dirawat di sini sudah pulang? Dan apakah tidak ada orang yang sakit hari ini? Begitu pikir Hyuk Jae dalam hati.

“kau siap?”

Joon memberi aba-aba pada Hyuk Jae dan Keanny yang disambut anggukan oleh keduanya. Joon membopong tubuh tak kurus Hyuk Jae, sedangkan Keanny memegangi infuse Hyuk Jae saat tubuhnya dipindahkan ke dalam mobil.

“aku merasa baru saja mengangkat tas kerjaku yang hanya berisi stetoskop dan jarum suntik. Makanlah dengan benar! Jangan seperti ini!” Joon masih saja sibuk menempatkan tubuh Hyuk Jae agar dia merasa senyaman mungkin di dalam mobil.

Hari itu mereka pulang dengan sebuah Van panjang menyerupai Limo yang sudah dimodifikasi Seungri. Didalamnya ada ranjang tidur Seungri lengkap dengan mini bar dan televisi 32 inc nya. Hyuk Jae memang minta agar disiapkan sebuah mobil untuknya, dia tak ingin pulang dengan naik ambulance rumah sakit lengkap dengan sirine yang selalu sukses memecahkan gendang telinga orang-orang yang mendengarnya.

Ada satu mobil sedan berisi 5 orang bodyguard di depan van seolah siap membukakan jalan untuk mobil di belakangnya. Di belakan van ada 5 mobil sedan hitam yang berisi 4 orang bodyguard di tiap mobilnya. Sedikit berlebihan memang, jarak rumah sakit ke apartemen dapat ditempuh kurang lebih dalam waktu 20 menit saja membuat pengawalan yang sudah disiapkan Max memang terlihat terlalu mencolok di jalan raya.

“Jane, Ken segeralah naik. Aku ingin segera tidur di rumah”

Pinta Hyuk Jae. Ia tak mungkin membiarkan Keanny dan Jinnie terabaikan di rumah sakit. Namun ada yang kurang senang rupanya dengan perintah Hyuk Jae.

“tidak… lain kali saja kalian ikut ke apartement kami. Hari ini oppa harus istirahat, jadi tidak perlu ada banyak tamu yang berkunjug ke rumah kita kan?!!”

“Cae Cae apa yang kau lakukan!! Mereka itu temanku” Hyuk Jae kaget degan apa yang telah di ucapkan Cae Rin. Tak biasanya dia bersikap kekanak-kanakan seperti itu.

Perkataan Cae Rin tadi memang menyakiti hati Keanny dan Jinnie. Namun mereka berdua amat sangat mengerti dengan keadaan keluarga Hyuk Jae yang memang terbilang rumit bagi mereka.

“Tidak apa-apa. Hari ini aku memang sedang sibuk. Aku dan Hoya akan pergi ke circuit untuk melihat sejauh mana persiapan kita. Jinnie juga akan ikut denganku”

Dengan segera Kaeanny meraih tangan Jinnie. Jinnie menganggukkan kepalanya cepat. Tak ingin Hyuk Jae marah dan curiga pada mereka, mereka bersiap-siap untuk segera meninggalkan Hyuk Jae dengan keluarganya.

“benar. Kalau begitu kami pamit dulu. Aku akan menelphonemu ok.!”

Lagi-lagi senyuman itu tercipta dibibir Jinnie. Kecupan hangat kilat dibibir Hyuk Jae menandakan pertemuan mereka hari itu harus segera di akhiri. “jaga dirimu baik-baik honey”

Punggung Jinnie dan Keanny masih terlihat dari kejauhan sampai pintu mobil yang mereka kendarai tertutup. Joon dan Cae Rin duduk di samping ranjang tidur Hyuk Jae yang berada dalam mobil itu. Joon menggenggam tangan kanan Hyuk Jae, sedangkan Cae Rin sibuk dengan pikiran dan perasaannya sendiri karna marah melihat sikap Hyuk Jae terhadap Jinnie dan juga dirinya. Sesekali Hyuk Jae melirik Cae Rin yang enggan melihat ke arah Hyuk Jae walaupun letak duduk mereka berhadapan.

“kau marah padaku?”

Hyuk Jae membuka percakapan terlebih dahulu. Tak ada jawaban dari Cae Rin. Kepalanya masih menghadap jendela luar, menggeleng pelan memberi jawaban ‘tidak’ pada Hyuk Jae.

“lalu”

“lalu… sebaiknya kau pejamkan matamu dulu bodoh!! Bukankah tadi kau bilang sedang mengantuk? Perjalanan kita agak lama. 20 menit, jadi sebaiknya kau diam saja. Jangan banyak bertingkah. Atau aku akan minta anak buahmu untuk membawamu kembali ke rumah sakit. Aku yakin kau pasti suka!” tanpa aba-aba Joon memotong pembicaraan Hyuk Jae. Joon tau betul kehadiran Jinnie di keluarga Lee menambahkan sederet cerita rumit di kehidupan mereka. Hyuk Jae menurut, dia pejamkan matanya walaupun jelas dia tak dapat tidur.

–o0o

Cheongsando – Lee’s Private Villa

Cheongsando. Tempat dimana ayah dan ibu Hyuk Jae dimakamkan. Hari itu Seungri meluangkan waktu berkunjung ke sana sebelum kembali ke Seoul. Seikat lili putih dan sebuah pot anggrek tanah dibawa Seungri khusus untuk kedua orang tuanya. Max dengan setia menemani Seungri berjalan kakaki menuju tempat peristirahatan terakhir tuan besar Lee tersebut.

“appa, eomma, aku datang. Seperti biasa Max menemaniku kemari. Maafkan aku karna sudah lama tak mengunjungi kalian. Aku sedang sibuk,,,,,”

Seungri memberi salam pada abu kedua orang tuanya yang disimpan rapi di sebuah kuil pribadi milik keluarga Lee tak jauh dari villa mereka.

“eummm…. Appa, aku sudah menemukan Hyukkie hyung. Appa tak perlu khawatir dan merasa bersalah lagi. Aku yakin hyungku tetap hyung terbaik sedunia. Dia pasti akan memaafkanmu appa.”

Perkataan Seungri terhenti, matanya mulai berkaca-kaca. Dia merasa terharu karna akhirnya dia dapat berkumpul lagi dengan kakaknya, walaupun ayah dan ibunya telah pergi sekarang. Dia bersihkan sendiri genangan air yang keluar dari matanya. Kemudian berusaha untuk tersenyum, tak ingin terlihat cengeng dan lemah di depan kedua orang tua yang selalu memanjakannya itu.

“eomma,,,, perusahaanku kini maju pesat. Eomma bangga padaku kan? Cae Rin jadi semakin lengket padaku eomma. Eomma tau kenapa? Itu karna aku laki-laki yang hebat” akhirnya tangisan itu pecah. 4 bulan Seungri tak mengunjungi makam orangtuanya membuatnya rindu pada kedua sosok yang sangat ia patuhi dan dia hormati itu.

“eomma… Hyukkie hyung kembali…..aku membawanya kembali…”

Suara tangisan Seungri membuat suasana kuil terasa sangat menyedihkan. Dia bahkan tak sanggup lagi meneruskan kata saat dia teringat semua kejadian yang dia alami selama 5 tahun terakhir ini. Bahagia dan haru bercampur dengan rasa sedih yang mendalam saat dia menyadari bahwa 2 orang yang dia sayangi itu telah tiada. Hanya tersisa 1, Hyuk Jae, kakaknya yang tidak akan pernah ia biarkan lepas sampai kapanpun.

Max merangsut kearah Seungri sambil mengelus pelan punggung Seungri. Mencoba menenangkan.

“Jangan seperti ini Seungri-ah, kau pernah berjanji pada mereka untuk tidak membuang sia-sia air matamu kan.? Kau ceritakan saja betapa bahagianya kau dan hyung akhirnya bisa tinggal bersama.”

Seungri masih diam, menenangkan perasaannya sendiri yang sedikit sensitive akhir-akhir ini.

“ayo kita pulang, hari sudah gelap. Kita harus segera melanjutkan perjalanan sebelum nona Cae Rin mengkhawatirkanmu karna tak kunjung pulang.”

Max memeluk Seungri singkat lalu melepaskannya. Dia memberi hormat pada abu tuan besarnya kemudian menarik tangan Seungri agar dia segera keluar.

“eomma, appa, aku pulang dulu. Aku berjanji akan segera membawa hyung kemari..!!” teriak Seungri saat akan melewati pintu kuil. “Hyung, ayo kita beli sesuatu dulu sebelum pulang, kau pasti lapar setelah perjalanan dari Hiroshima ke sini. Kita sama sekali belum menyentuh makanan apapun.”

“baiklah, kita beli makanan kecil saja agar kita bisa makan di dalam mobil. Jangan sampai kita melakukan perjalanan di tengah malam”

“ apa kau takut? Kita kan bawa cukup banyak pengawal hyung. Kau tidak perlu khawatir!”

“jangan suka meremehkan sesuatu Seungri-ah! Sekarang kau tidak hidup sendiri. Ada nona Cae Rin dan juga kakakmu, ada juga nona Gyuri yang sudah kau seret masuk ke dalam pusaran keluarga kita. Kau harus berhati-hati, jaga diri dengan baik aku tak bisa selalu ada di sisimu kan? Aku tak ingin insiden pengeroyokan Hyukkie hyung terjadi padamu juga.”

“hyung, kau berlebihan. Lagi pula Hyukkie hyung itu tidak diserang. Dia hanya ingin jadi pahlawan kesiangan bagi Gyuri nuna. Jadi tak perlu menyamakan kasus atau kejadian yang sudah jelas berbeda.”  Terang seungri sambil berjaalan menuju mobil mereka.

“ banyak bicara!!”

“kau juga Hyung!! Hahhaha……”

2 kotak kimbab sudah ada pada genggaman tangan Seungri dan Max. mereka kembali melakukan perjalanan setelah sempat berhenti sejenak di sebuah kedai kimbab di daerah Hamyang. Keduanya sibuk dengan makanan msing-masing hingga tak ada suara gaduh pertengkaran antara Tom and Jerry seperti biasanya.

“hyung…!!” Seungri memanggil Max disela-sela acara makannya. “lain kali kita juga harus mampir ke kedai itu lagi, ini enak sekali… benar-benar enak..!!” Max mengangguk mengiyakan, raut muka Seungri kembali berbinar. Malam ini tidak akan gelap seperti biasanya. Dia pasti akan menikmatinya dengan baik.

–o0o

International Korean Circuit — Yeongam

Suasana malam Yeongnam ternyata menarik perhatian Jinnie de Carlos. Dia sedang duduk di atas atap Audi A6 silvernya. Sementara Keanny dan Hoya sedang bercakap-cakap seru di dalam pit. Dari kejauhan Jinnie melambaikan tangannya pada Keanny saat kedua mata mereka tak sengaja bertatapan.

Keanny meminta ijin Hoya untuk menemui Jinnie dan menyuruhnya untuk mengambil kopi dan segera menyusul mereka berdua di sana. Keanny berlari-lari kecil ke arah dimana Jinnie duduk dengan manis menunggunya bekerja.

“I miss you so much darl….”

Keanny mengecup dahi, hidung, kemudian bibir Jinnie. Jinnie menyambutnya dengan senang hati. Kedua tangannya bertengger di bahu Keanny, berusaha mendekatkan jarak mereka agar lebih leluasa untuk menikmati ciuman malam mereka.

“setiap malam kita melakukannya dan kau bilang sekarang kau sangat merindukanku ? benar-benar lucu” tutur Jinnie terang-terangan.

“hari ini kau terlihat sedih saat kau tak dapat mengantarkan HaJe ke apartemennya. Beberapa malam ini kau juga tidak tidur dengan tenang… kau benar-benar menyayanginya heummmm??”

Pertanyaan bodoh itu akhirnya keluar dari mulut Keanny. Suatu pertanyaan yang sudah jelas dia tau pasti jawabannya apa. Sebagai seorang lelaki Keanny tentu saja cemburu melihat Jinnie selalu memanjakan Hyuk Jae dan bersikap tak biasa sekalipun ada dirinya di sana.

“kau tau pasti jawabannya darl…. Kenapa masih saja kau tanyakan. Itu benar-benar menyebalkan” Jinnie pukul dada Keanny pelan, sambil tersenyum. “tenang saja, aku tidak akan kebablasan. Aku pasti bisa menahan diri, kau tidak perlu khawatir, ok!”

“aku tau itu. Hanya saja akhir-akhir ini perasaanku selalu saja tidak nyaman. Aku merasa akan terjadi sesuatu diantara kalian”

Jinnie terkejut dengan pernyataan Keanny. Selama ini mereka selalu baik-baik saja walau waktu Jinnie sering kali habis untuk mengurus Hyuk Jae.

“hahhahahahha….. kau sedang cemburu rupanya. Manis sekali. Aku menunggu moment ini sudah sejak lama. Aku bahkan curiga, apakah Ferrarimu itu benar-benar sangat cantik jika dibandingkan denganku? Kenapa kau seringkali mengacuhkanku walau aku sudah berdandan habis-habisan untuk menggodamu!”

Keduanya tertawa lebar, Keanny teringat saat dia berjanji akan menjemput Jinnie untuk makan malam bersama. Dia melihat Jinnie benar-benar sangat cantik saat itu, namun rencana makan malam mereka harus gagal karna ada masalah dengan Ferrarinya yang akan digunakan untuk race 2 hari kemudian. Tanpa pamit dia meninggalkan Jinnie sendirian di restaurant. Kejadian itu tentu saja membuat Jinnie marah, dia bahkan tak mau berbicara pada Keanny selama satu minggu dan memilih untuk tidur di apartement Hyuk Jae dari pada pulang ke rumah.

“saat itu kau terlihat cantik dan anggun. Maaf waktu itu aku mengacuhkanmu. Aku terpaksa melakukannya, kau tau kan…..?”

“sangat sulit untuk memaafkanmu, apa kau tau?”

“tapi kau pulang dengan bahagia karna puas berada di apartement HaJe dan menghabiskan waktu bersamanya kan?? Itu menyebalkan!!! “ Keanny memonyongkan bibirnya. Sebenarnya ia tak sungguh-sungguh cemburu pada Hyuk Jae, dia hanya sekedar menggoda Jinnie. Ia ingin melihat senyuman Jinnie yang hilang selama 5 hari ini selama Jinnie berada di Korea.

“Berapa lama kita akan di Korea?”

“Aku tidak tau? Bukankah HaJe mu masih sakit? Lagi pula race pertama di Turki baru akan digelar 1 bulan lagi. Apa kau bosan?”

Keanny sekarang duduk di samping kanan Jinnie. Jinnie mengangguk menjawab pertanyaan Keanny.

“Aku ingin segera pulang.. eum.. darl…” sedikit ragu Jinnie akhirnya memberanikan diri untuk menanyakan sesuatu yang memang sudah sangat mengganggu pikirannya itu. “ eum….. bisakah kita bawa HaJe pulang ke Madrid? Atau kita bisa ajak dia ke Alaska, tempat kita pertama kali bertemu dulu dengan HaJe”

Jinnie menunduk lesu, bingung, dan juga sedikit merasa bersalah pada Keanny. Dilain sisi Keanny terkejut dengan apa yang telah dilontarkan Jinnie, namun sedetik kemudian Keanny tersenyum.

“aku juga sedang mempertimbangkan hal itu. Aku pikir mungkin HaJe akan baik-baik saja jika dia bersama kita.” Jinnie tersenyum bahagia, ternyata Keanny punya pemikiran yang sama dengannya.

“tapi darl… kita tidak boleh egois, keluarganya di sini juga sangat membutuhkannya. Kau harus mencoba untuk merelakannya.”  Sambung Keanny.

“aku tau Ken, tapi aku belum bisa merelakannya. Ini tidak mudah…”

Keanny sadar betul apa yang dirasakan Jinnie. Sejujurnya dia juga tak ingin kehilangan Hyuk Jae dalam waktu dekat. Ia juga ingin hari-hari mereka yang indah kembali lagi kesedia kala. Dimana pagi hingga malam harinya selalu sibuk dengan kegiatan menyenangkan yang mereka jalani bersama saat di Spanyol dulu.

“ehemmm… ini kopi kalian!!” Akhirnya Hoya datang dengan kopi dan makanan kecil di tangannya. “sepertinya kalian sedang membicarakan masalah penting. Apa aku mengganggu?” Hoya menyerahkan kopi-kopi yang ada di tray kepada Jinnie dan Keanny. Hoya duduk di  pagar  beton tepat di depan Audi yang diduduki Jinnie dan Keanny.

“tidak… kami hanya sedang membicarakan tempat tinggal kami, Jinnie ingin pindah dari hotel tempat kami tinggal sekarang. Letaknya terlalu jauh dari pusat perbelanjaan, dia jadi bosan.” Tutur Keanny berbohong.

“oww…….hahha…. dasar wanita.” Jawab Hoya, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

“emm.. sejak kapan kau mengenal HaJe?” Jinnie angkat bicara, dia ingin tau cerita tentang Hyuk Jae dari mulut orang lain.

“sejak kami masih duduk di bangku sekolah dasar. Ayahku adalah mechanic pribadinya. Kami bersahabat baik.”

“kau juga seorang pembalap?” Jinnie melanjutkan pertanyaannya. Yang disambut anggukan oleh Hoya.

“dulu kami satu tim. Tim kami selalu menjadi yang terbaik. Keluarga HaJe sangat kaya, dia juga membiayaiku untuk bisa ikut membalap dengannya. Walaupun ayahku bekerja padanya, tapi dia tidak pernah membeda-bedakan status kami. Dia orang yang baik.”

“tapi kenapa sekarang kau malah menjadi seorang mechanic? Kenapa tidak membalap juga?” Tanya Keanny.

“ayah dan ibuku bercerai saat aku menginjak usia 17 tahun. Ibuku melarangku untuk berhubungan dengan apapun dan siapapun yang berbau balapan, karna itu akan mengingatkan ibuku pada ayahku. Aku hanya bisa berlatih secara sembunyi-sembunyi di belakang ibuku. Aku tak ingin mengecewakannya.”

“lalu apa yang membuatmu kembali ke dunia balap? Apa ibumu sudah memaafkan ayahmu?” cerita Hoya tampaknya semakin seru dan membuat Jinnie dan Keanny penasaran.

“HaJe.. dialah alasannya. Entah makanan apa yang dimakan HaJe sebenarnya, hingga semua orang dibuat terpikat olehnya. Termasuk ibuku. Beliau sangat menyayangi HaJe seperti anak kandungnya sendiri. Saat aku mengatakan HaJe memintaku membantunya untuk menjadi mechanic pribadinya, tanpa pikir panjang ibu langsung mengijinkannya. Padahal 2 tahun lalu setelah ayahku meninggal, aku ingin meneruskan usaha ayahku di dunia otomotif tapi ibuku melarangku mati-matian. Tapi saat aku menyebutkan 1 nama itu, beliau dengan mudah berubah pikiran dan merubah pendirian kokohnya selama 9 tahun itu.”

Cerita Hoya diakhiri dengan senyuman yang mengembang di bibir Hoya. Lelaki manis namun terlihat sangat maskulin itu meneguk kopinya yang sudah dingin. sesekali dia pandangi langit Yeongnam yang bertabur bintang malam itu.

“kau… juga menyayanginya?”

Tanya Keanny. Dia penasaran dengan jawaban yang akan segera keluar dari mulut Hoya. Jawaban seperti apa yang akan dia dengar, Hoya adalah seorang lelaki, sama seperti dirinya. Apakah Hoya merasa cemburu atau marah pada Hyuk Jae karna sudah merebut simpati ibunya? Begitu pikir Keanny.

“apa  kau ingin menyamakan perasaanmu dengan perasaanku terhadapnya??” Hoya justru berbalik bertanya pada Keanny.

“aku hanya penasaran, setelah HaJe berhasil merebut perhatian dan kepercayaan ibumu apakah kau masih menyayanginya? sebagai seorang teman tentunya.”

Sedikit lama Hoya berfikir. Mengapa Keanny menanyakan hal ini padanya.

“tentu saja aku menyayanginya. Ibuku sangat menyayangiku, dia tak mungkin menduakanku dengan HaJe. Banyak hal yang ia lakukan untuk keluargaku, bukan hanya satu atau dua kali, tapi sudah berkali-kali. Kami berhutang banyak padanya. Namun HaJe tak pernah mengungkit satu kali pun tentang apa yang sudah ia berikan pada kami. Dia laki-laki yang luar biasa. Perasaannya halus, sikapnya tegas, dia orang yang pemaaf dan memiliki gairah hidup yang tinggi. Aku belajar banyak padanya.”

“kau seperti sedang memuji seorang gadis, Hoya” timpal Jinnie dengan nada menggoda. Mereka bertiga tertawa. Hembusan angin malam itu tak membuat suasana hangat itu menjadi dingin. justru semakin malam mereka merasakan udara semakin menghangatkan tubuh mereka.

“benar, jika HaJe seorang gadis, aku akan segera melamarnya. Aku tak mau orang lain merebutnya dariku.. hahahhaha…”

“ kau berlebihan!”

“itu kenyataan Ken, bukankah kau juga menginginkannya?? Opppssssssss!! Tampaknya aku salah bicara!! Hahahhaha…”

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 1 malam. Kopi yang ada di tangan mereka telah habis, makanan kecil yang dibawa Hoya hanya tersisa bungkusnya saja. Jinnie meringsat masuk kedalam mobilnya. Sementara Keanny dan Hoya kembali ke pit untuk membereskan peralatan kerja mereka. Malam itu mereka sudah bekerja keras. Esok Hoya akan mencoba mobil baru yang akan di gunakan Hyuk Jae untuk race bulan depan. Setelah semuanya selesai, Keanny pergi menemui Jinnie yang sudah menunggunya di dalam mobil untuk kembali ke hotel mereka. Sementara Hoya pulang sendiri mengendarai motor spot gede warna merah combinasi silver rakitannya.

–o0o

Lee’s New Apartement

“ssssssssssssstttttttttttttttt!! Jangan keras-keras bodoh!!” Cae Rin memukul kepala Seungri pelan. Tiba-tiba Seungri muncul di balik pintu apartemen mereka. “ternyata kau masih ingat dimana alamat rumahmu? kenapa kau pulang!! Lebih baik kau habiskan malammu di hotel saja!!”

“jangan marah. Aku tadi mengunjungi eomma dan appa dulu, jadi pulang terlambat.” Jawab Seungri dengan suara pelan seperti bisikan. “apa Hyung sudah tidur?”

Seungri melepaskan jasnya, kemudian Cae Rin membantunya untuk melepaskan dasinya. Mereka kemudian duduk di atas sofa ruang tamu mereka.

“baru saja…. Oppa menunggumu sejak tadi.” Cae Rin beranjak dari sofanya untuk mengambilkan minuman untuk Seungri.

“mau kemana? Di sini saja!!” tangan Seungri mencengkram pergelangan tangan milik Cae Rin. Dia tarik Cae Rin hingga terduduk dipangkuannya. “apa kau tidak tau aku sangat merindukanmu?” Seungri mulai melancarkan serangan ciumannya ke tangan dan leher Cae Rin.

“aku tidak tau!! Sejak kapan kau merindukanku?” Tanya Cae Rin nakal. “aku bahkan tak memikirkanmu hari ini. Jadi aku tidak tau kalau kau merindukanku?” Cae Rin tersenyum geli. Seungri terus menciumi leher kemudian pipi Cae Rin, dia tak mendegar satupun pernyataan dan pertanyaan Cae Rin. “hentikan Panda, ingat kita tidak sendiri di sini, jangan sampai Gyuri eonni menyaksikan adengan seperti ini untuk yang ke dua kalinya lagi!!” tangan Cae Rin mendekap bibir Seungri yang memang sudah lepas control.

“aku merindukanmu, apa tidak boleh?” Seungri melepaskan tangan Cae Rin yang sedang membungkam mulutnya.

“hahaa….. kau lucu sekali oppa.!!” Cae Rin mencubit pipi Seungri pelan. “Ceritakan padaku,,, apa semua masalah terselesaikan?”

“tentu saja, Lee Seung Hyun adalah orang yang sangat hebat. Permasalahan seperti apapun pasti bisa terselesaikan!!” jawab Seungri sombong.

“kau harus berhati-hati. Tampaknya orang yang ‘memperhatikan’ kita jumlahnya bertambah banyak. Kita harus lebih jeli saat melakukan hubungan kerja sama.” Seungri menurunkan Cae Rin dari pangkuannya agar Cae Rin bisa duduk lebih nyaman di sampingnya.

“kau benar, kita harus lebih berhati-hati dan lebih jeli lagi. Untung saja anak buah ayahmu di Osaka lumayan banyak, jadi aku bisa meminta ayahmu untuk mengutus separuh dari mereka untuk berjaga-jaga di Hiroshima.”

“apa kita perlu merekrut pasukan baru di sana?”

“tidak, itu saja sudah cukup. Kita bisa mempercayai kinerja Hatori untuk menjaga perusahaan kita di sana, aku juga sudah bekerjasama dengan pihak kepolisian terdekat di daerah sekitar perusahaan kita. Kepala polisi Kogawa mengatakan padaku bahwa mereka siap membantu kita jika sewaktu-waktu kita mendapatkan masalah. Aku bersyukur, setelah kejadian penyerangan yang terjadi minggu lalu, para pegawai justru terlihat semakin kompak dan lebih kuat. Mereka mulai menyadari bahwa perusahaan yang kita dirikan bukan hanya sekedar perusahaan yang kita ambil untungnya saja, melainkan perusahaan yang sengaja kita bangun untuk menolong mereka yang sedang mengalami kesulitan ekonomi.”

“aku bangga padamu oppa. Di usiamu yang masih muda kau bahkan sudah memikirkan usaha jangka panjang untuk menolong banyak orang. Kau sungguh Daebakkk!!!!!!” Cae Rin mengacungkan 2 jempolnya di depan muka Seungri, membuat Seungri sedikit terkejut.

“kakakku mengajariku banyak hal. Salah satunya ini. Aku juga bangga menjadi adik satu-satunya seorang Lee Hyuk Jae!!.” Jawab Seungri seraya tersenyum.

“benar, kau dan Hyukkie oppa memang hebat. Tapi kau jauh jauh lebih hebat, karna kau memiliki kekasih sepertiku. Kau tidak boleh lupa itu!!”

“hemmm… kau percaya diri sekali Lee Cae Rin..!!” Seungri mengacak-acak rambut Cae Rin pelan.  “gomawo,,,, kau memang wanita yang hebat. Kau juga sangat sabar dan setia menemaniku disaat aku terjatuh sekalipun.” Cae Rin hanya tersenyum menanggapi perlakuan Seungri padanya. “bagaimana keadaan hyung hari ini? Apa dia menanyakan keberadaanku padamu?”

“oppa baik-baik saja, tak banyak kata yang ia ucapkan. Justru Gyuri eonni yang bertanya padaku, karna dia pikir kau lah yang paling antusias dengan kepindahan kita ke apartement ini, tapi kau justru menghilang saat hari pindah tiba.”

“eumm.. lalu kau jawab apa?”

“aku bilang padanya jika perusahaan kita di Hiroshima sedang launching product baru, jadi kau harus hadir di sana, dan eonni percaya begitu saja dengan kata-kataku.”

“syukurlah.. belum saatnya dia mengetahui masalah keluarga kita. Sekarang di mana dia? Apa dia sudah tidur?”

“aku memintanya menemani oppa di dalam. Aku takut mungkin sewaktu-waktu jika oppa memerlukan sesuatu yang tidak dapat ia lakukan sendiri, jadi aku meminta eonni untuk tidur menemaninya.”

“jadi nuna tidur di sofa yang ada di kamar kakak?” Tanya Seungri, dia merasa sedikit kasihan jika melihat seorang gadis tidur sofa. Dia seorang laki-laki yang lembut dan penuh kasih sayang.

“eum.. aku memesan sofa kusus yang terbuat dari bahan yang sama dengan bahan kasur yang kita tiduri. Bentuknya bisa di lipat atau di buat melebar menyerupai kasur, jadi eonni tetap bisa tidur dengan nyaman di sana.”

“ow… kau baik sekali chagiya. Apa dia juga membantumu dengan baik?”

Cae Rin mengganggukkan kepalanya. Dia sangat antusias dan memang sudah tidak sabar lagi ingin menceritakan apa saja yang sudah ia lakukan bersama Gyuri selama Seungri pergi.

“tentu. Dia gadis yang baik oppa. Aku suka. Dengan telaten dia merawat Hyukkie oppa, membantunya makan dan juga mandi. Dia juga belajar pada suster yang bertugas di sini bagaimana cara menyiapkan makanan sehat untuk oppa dan juga cara merawat luka oppa. Sikapnya sungguh lemah lembut, dia juga gadis yang ceria dan pantang menyerah.”

“pantang menyerah?”  Tanya Seungri penuh penekanan.

“iya,, seperti dugaanmu, oppa bersikap dingin padanya, makanan yang eonni bawakan sempat ditolak oppa mentah-mentah. Oppa tadi juga sempat menolak minum obat, tapi eonni sangat sabar menghadapi Hyukkie oppa, hingga dia menuruti semua perintah eonni….. Chagiya, kau tidak salah memilihkan teman untuk oppa. Aku yakin eonni akan jadi teman yang baik untuk Hyukkie oppa.”

“aku tau itu…. “

“kau mau ke mana oppa? Kau tidak ingin melihat Hyukkie Oppa dulu di kamarnya?” Cae Rin bertanya pada Seungri karna tiba-tiba saja Seungri beranjak dari tempat duduknya.

“aku ingin mandi, badanku kotor dan bau. Tidak baik menemui hyung dalam keadaan kotor seperti ini. Tolong siapkan handuk dan baju tidurku, aku akan segera mandi!” pinta Seungri pada Cae Rin.

“Baiklah..”

Cae Rin segera menuju kamar Seungri, menyiapkan pakaian tidurnya dan meletakkannya di kasur. Sementara Seungri sedang mandi, Cae Rin berinisiatif menyiapkan coklat hangat untuk Seungri.  Dia letakkan secangkir coklat panas itu di meja kecil dekat boneka panda raksasa milik Seungri. Dituliskanya sebuah pesan di dekat cangkir coklat panas yang ia siapkan untuk Seungri.

To my Panda.

Minum coklat panasmu, lalu segeralah tidur. Temui Hyukkie oppa besok saja, ok!!  Aku tidur dulu. Bye… Saranghae..

–o0o

Hyuk Jae’s Private Room

Dengan setelan pyama coklatnya Seungri berdiri tepat di depan tempat tidur Hyuk Jae. Tangannya masih menggenggam cangkir coklat yang tak lagi panas yang telah disiapkan Cae Rin untuknya. Sementara Gyuri sedang tidur pulas di atas sofa yang terletak di samping kiri ranjang Hyuk Jae. Dipandanginya pemandangan damai wajah Hyuk Jae yang sedang terlelap. Seungri senang akhirnya malam ini kakak yang ia rindukan telah kembali di sampingnya. Walaupun mereka tidak berada di kediaman asli Keluarga Lee, dia tetap senang setidaknya keadaan sudah selangkah lebih baik dari sebelumnya. Ia yakin suatu saat nanti mereka bisa berkumpul dan hidup bahagia seperti dulu lagi di rumah yang pernah mereka tinggali bersama itu.

“apa yang kau lihat?”

Tiba-tiba Hyuk Jae bersuara, matanya tiba-tiba terbuka sambil memandang ke arah Seungri. Seungri sama sekali tak terkejut dengan tingkah Hyuk Jae, dia tau hal ini mungkin saja terjadi, mengingat Cae Rin yang mengatakan bahwa Hyuk Jae menunggunya, dia pasti akan benar-benar menunggu sampai dia bisa menemui orang yang ditunggunya.

“hanya melihat sheet barumu, ternyata Cae Rin pandai sekali memadu padankan warna. Sangat indah….” Kata Seungri dilanjutkan dengan kegiatan menikmati coklat hangatnya.

“benarkah?” Seungri hanya menjawab dengan anggukan. “aku mengantuk!! Kau mengganggu tidurku!!”

“lalu!!”

“kau harus bertanggung jawab!!”

“tidak mau!!”

“panda babo!!”

“Hyuk Jae jelek!!!”

“Seung Hyun manja!!”

“tuan muda Lee playboy!!”

“……………………”

Tiba-tiba Hyuk Jae diam, tak lagi ia balas ejekan Seungri, kepalanya tiba-tiba berdenyut diiringi rasa nyeri. Tapi dia tetap memaksakan diri untuk tersenyum, tak ingin membuat malamnya berubah jadi menyebalkan lagi ketika suster-suster itu harus menyuntikan pain killer yang jelas membuatnya begidik ngeri.

“aku serius,, cepat tidur!! Aku benar-benar mengantuk. Menunggumu itu membosankan!! Jadi kau harus bertanggung jawab!!”

“berapa lama kau menungguku?”

“kau masih berani bertanya? Aku menunggumu seharian!! Apa Cae Rin tidak mengatakan padamu?”

“aku bahkan menunggumu lebih dari 1.500 hari Hyung, penantianmu itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengaku!!”

Seungri mulai kelepasan, unek-unek yang ia pendam sendiri selama ini sering kali memaksanya untuk segera mengeluarkan mereka ketika sedang terlibat percakapan dengan Hyuk Jae.

“ mianhe…!!” hanya satu kata itu yang terucap dari mulut Hyuk Jae, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk menutup mata karna rasa sakit di kepalanya yang tak kunjung mereda.

Tak ada satupun dari mereka yang angkat bicara. Seungri juga tak memberi tanggapan apapun atas permintaan maaf kakaknya. Setelah coklatnya habis, dia letakkan gelasnya di meja kerja Hyuk Jae. Dia tarik kursi kecil dekat meja Hyuk Jae kemudian dia posisikan dirinya duduk di samping ranjang Hyuk Jae. Dia pandangi wajah kakaknya cukup lama, kemudian dia beranikan diri untuk menggenggam tangan kakaknya. Hyuk Jae tak merespon apa yang dilakukan Seungri, dia pasrah dan lebih memilih untuk segera tidur. Berharap rasa sakit yang ia rasakan bisa hilang saat dia terlelap.

“Hyung.. bogoshippo..!!!”

Seungri mengenggam tangan kakaknya erat. Sesekali dia cium punggung tangan kanan kakanya itu. Seungri terharu dan sedikit menyesal. Mengapa ia dan Hyuk Jae dipertemukan dengan cara seperti ini.

“bisakah kau segera sembuh? Aku benci melihatmu seperti ini?”

Hyuk Jae tak menjawab, ia masih sibuk dengan rasa yang hanya dapat ia rasakan sendiri. Tak ada cerita yang dilontarkan Seungri tentang masa kecil mereka yang terlewatkan dari telinga Hyuk Jae malam itu. Semuanya terdengar jelas. Hanya saja ia tak mempunyai daya untuk membalas atau sekedar merespon ceritanya bahkan dengan gerakan sekecilpun. Tubuhnya mulai kaku, namun tulang-tulangnya lemas. Hyuk Jae mulai khawatir dengan dirinya sendiri. Dalam hatinya dia berdoa, memohon pada Tuhan untuk diberi kesempatan tinggal lebih lama di dunia yang indah ini.

–o0o

Two weeks letter

International Korean Circuit — Yeongam

“Tekanan terhadap bagian atas piston yang berbentuk datar terbuat dari bahan alumunium atau disebut mahkota piston sangat besar ketika bergerak turun naik di dalam silinder dengan kecepatan maksimum 40 meter per detik pada 20.000rpm. Komponen piston juga harus dibuat seringan mungkin untuk mengurangi kelembapan dan memaksimalkan kecepatan mesin. Mesin kita masih mengalami kekurangan di beberapa titik. Kita butuh waktu sekurang-kurangnya 3 hari untuk memperbaiki ini semua.”

Hoya mulai memberi penjelasan pada 2 orang asistenya sesaat setelah dia mencoba Ferrari yang akan digunakan Hyuk Jae untuk race musim ini. Peluh bercucuran deras di pelipis Hoya. Hari ini kinerja mereka sedikit kacau. Banyak kekurangan dan kerusakan di beberapa titik komponen mobil. Hal ini tentu saja membuat Hoya harus berfikir lebih keras untuk menyelesaikan masalahnya. Mengingat race pertama akan dimulai 2 minggu lagi, jadi dia dan juga asistennya tak boleh membuang waktu sedetik pun.

“Alfonso, tolong kau siapkan mesin cadangan kita. Aku akan mencobanya juga, dan kau Jack, tolong kau periksa conrod mobil ini, aku takut ada kerusakan juga. Karna bagian ini juga penting aku takut akan mengakibatkan malapetaka bagi pengendaranya.”

Alfonso dan Jack tak menjawab perintah Hoya, mereka berdua hanya mengangguk paham penjelasan Hoya sekaligus mengangguk mengiyakan perintahnya. Tak hanya Alfonso dan Jack yang bekerja hari itu, mereka ditemani beberapa anak buah lainnya yang juga kompeten dibidangnya. Suasana pit di International Korean Circuit yang terletak di Yeongam hari itu terasa panas. Semua orang bekerja dengan serius, begitu juga dengan Keanny yang juga bingung karna sponsor terbesar keduanya tiba-tiba saja memutuskan kontrak mereka karna alasan yang sama sekali tak masuk akal.

“mobil akan siap 10 menit lagi, bersiap-siaplah!”

Teriak Alfonso. Dia dan 4 orang lainnya saling bahu membahu menyiapkan mobil cadangan yang akan di uji oleh Hoya hari itu. Kualitas mesin mungkin tidak jauh berbeda, namun tentu saja kualitas nomor 2 tidak akan bisa dibandingkan dengan mobil kualitas 1 sesungguhnya. Terlihat Hoya sedang memakai sepatu dan juga hand glove-nya. Bersiap-siap untuk menguji Ferrari cadangan mereka. Tak ada yang boleh bekerja dengan teledor hari itu. Semuanya harus berkosentrasi agar hasil yang mereka peroleh bisa memuaskan.

“ini… minumlah..” Jinnie memberikan gelas berisi juice pada Hoya. “Jangan terlalu serius. Bekerja itu harus dengan kepala dingin, jangan ada emosi dan ketegangan di dalamnya. Itu berbahaya”

“eumm.. kau benar. Tapi hari ini sangat penting. Smuanya harus berjalan dengan baik sesuai dengan apa yang sudah kita jadwalkan. Atau kalau tidak, perjuangan musim ini akan sangat berat bagi kita..”

“tapi pengendara mobil ini juga belum tentu bisa membalap dalam waktu dekat, jadi kau masih punya waktu untuk mempersiapkan semuanya tanpa harus berjuang sangat keras seperti ini Hoya.”

“satu minggu lagi HaJe akan mencoba mobil ini. Kita tak boleh teledor Jinnie. Butuh waktu 3-4 hari untuk merakit dan memperbaiki kerusakan mesin, tapi seorang rider hanya butuh waktu seper sekian detik saja untuk menghancurkannya!!”

Jinnie tersentak dengan apa yang diucapkan Hoya. Dia ingat betapa ia dan Keanny hampir saja kehilangan Hyuk Jae 4 tahun lalu di Laguna Seca. Ia tak ingin kejadian seperti itu terulang lagi.

“jangan membuatku takut Hoya!! Habiskanlah juice-mu sebelum pergi melanjutkan uji coba. Ingat sebentar lagi makan siang. Segeralah selesaikan pekerjaanmu. Jangan sampai terlambat. Aku tunggu di pit okei!!”

Jinnie berlalu meninggalkan Hoya. Sedangkan Hoya sudah sibuk melanjutkan aktivitasnya berbincang-bincang dengan para mechanic yang sedang mempersiapkan Ferrari cadangan mereka.

Uji coba ke dua tampaknya tak lebih buruk dari apa yang dibayangkan Hoya sebelumnya. Dia tersenyum setelah turun dari Ferrarinya.

“bagus, mesin ini justru bekerja lebih baik dari yang aku bayangkan. Hanya saja kokpit dan juga jok-nya sedikit tidak nyaman. Kita harus segera merubahnya.”

Hoya memberi instruksi pada Alfonso agar dia bersiap-siap merenovasi kokpit dan juga jok dari Ferrari cadangan ini. Kokpit adalah bagian penting pada mobil balap, di tempat inilah pembalap berada. Jangan samakan kokpit mobil F1 dengan mobil biasa. Bisa dibilang kokpit mobil F1 adalah kokpit mobil paling tidak nyaman. Selain sempit, pembalap pun menyetir tidak dalam keadaan duduk, melainkan (lebih tepat disebut) berbaring. Bagian inilah bagian terpenting dalam melindungi jiwa pembalap. Terbuat dari bahan serat karbon -sama seperti bagian bodi lainnya ruang kokpit harus mampu menahan benturan hingga 2,4 ton dan mampu melindungi pembalap dari kecelakaan parah. Tak heran bila khusus pada bagian ini bahan yang dipakai terdiri dari tiga lapis campuran serat karbon dan Kevlar dengan ketebalan minimum 3,5 mm.

“eummm… maafkan aku Hoya, tapi HaJe sama sekali belum mencoba mobil ini, kokpit mungkin bisa kita renovasi tanpa dia, tapi tidak dengan Jok. Jok dibuat sesuai dengan keadaan rider, benda ini menyangga badan pembalap, dan turut mempengaruhi keselamatan. Bentuk jok disesuaikan dengan bentuk tubuh pembalap. Oleh karena itu di awal musim atau saat pindah tim, seorang pembalap F1 pasti mengepas jok terlebih dahulu. Yaitu dengan membuat cetakan sebelum jok yang terbuat dari resin bercampur busa itu dipasang di mobil.”

“aku tau. Keanny mengatakan padaku jika mobil ini memang dibuat dengan lebih mengutamakan kualitas mesin dan sedikit mengesampingkan kokpit dan Jok. Mengingat HaJe meninggalkan Madrid saat bagian ini dibuat, jadi para mechanic hanya membuat kokpit dan Jok sesuai dengan ukuran tubuh HaJe musim lalu.”

“kita tidak bisa menyimpulkan bahwa bagian kokpit dan jok ini nyaman atau tidak, karna pengendara asli mobil ini bahkan belum satu kalipun mencobanya.”

Baik Hoya dan Alfonso berfikir keras. Sadar bahwa masalah mesin bukanlah hal satu-satunya yang harus mereka selesaikan, padahal Race pertama akan segera dimulai.

“sebenarnya, bagaimana keadaan HaJe saat ini? Tidak bisakah dia datang ke sini dan mencobanya sekali saja?”

Dengan ragu Alfonso menanyakan keadaan HaJe pada Hoya, dia tau pertanyaannya ini memang sedikit bodoh. Luka di perut HaJe bahkan mungkin saja belum kering. Mana mungkin dia bisa mencoba race ini dengan keadaan seperti itu.

“dia akan datang besok. Jangan beri tau Jinnie. Dia pasti akan melarang HaJe untuk datang kemari. Jangankan datang, berniat datang saja mungkin akan segera dicegah olehnya. Kau harus bisa menutup mulut. Kita harus bekerja dengan hati-hati. Selesaikan saja masalah mesin kita. Masalah kokpit dan juga jok kita pikirkan nanti”

Hoya melepas atribut balapnya. Alfonso dengan setia menemani Hoya menuju pit. Dia orang yang bertanggung jawab dan pintar. Sangat cocok bila menjadi teman kerja Hoya yang memang ber-typical serius dalam bekerja.

“ingat janjimu Alfonso, jang—“

“janji apa??”

Hoya yang sedang meletakkan helm di atas kursi tiba-tiba menoleh ke arah suara. Hoya dan Alfonso kaget karna tiba-tiba Jinnie sudah ada di belakang mereka. Tapi Hoya adalah salah satu pemain teater terbaik di sekolahnya dulu. Hal ini membuatnya lebih mudah merubah mimic wajah yang bahkan sudah  terlihat kaget dan pucat sekalipun.

“Alfonso berjanji padaku akan memberiku wine mahal koleksinya saat kita berhasil menyelesaikan mobil ini tepat pada waktunya. Apa kau mau ikut Jane?? Hahaha….”

Sempurna, bahkan nada tawa yang dikeluarkan Hoya terlihat sangat natural dan sama sekali tidak terlihat dibuat-buat.

“benarkah?? Aku baru tau jika kau juga suka mengoleksi minuman sialan itu Alfonso!!”

“haha… jangan terlalu tegang seperti itu Jane. Aku hanya mengoleksi beberapa. Sebenarnya aku merasa sayang dengan wine-ku. Aku akan memberinya wine pinggiran jalan dan menyimpan wine-ku supaya bisa kunikmati sendiri nanti… haha…”

“tckkk…. Kau pembual ulung rupanya!! Awas jika kau tak bekerja dengan baik, akan ku tending kau dari sini…!!”

Hoya pura-pura marah pada Alfonso, yang kemudian disusul gelak tawa dari mereka berdua. Sementara Jinnie masih terdiam dengan tatapan curiganya. Dalam hati Hoya bersyukur karna Alfonso cukup tanggap dalam menanggapi kebohongan Hoya.

“hentikan lelucon kalian. Ikutlah denganku. Aku sudah menyiapkan makan siang untuk kalian. Yang lain juga sudah makan di sana… cepatlah!!”

“baiklah…!!” jawab Hoya dan Alfonso bersamaan.

Baik Hoya maupun Alfonso, keduanya merasa tenang setelah melihat Jinnie pergi meninggalkan mereka. Guratan senyum dibibir Hoya terlihat jelas. Ia dan Keanny menyimpan rahasia ini dengan susah payah, dan rencana mereka hampir saja terbongkar akibat kecerobohan mulut Hoya sendiri.

“hampir saja….!!”

Ucap Alfonso, dia juga merasa tegang saat Jinnie hampir saja mengetahui rencana mereka.

“kau pandai berbohong juga ternyata….hhahah…”

“aku belajar banyak darimu Hoya!! Ayolah, kita harus bergegas ke sana, sebelum Jinnie mencurigai kita.”

Hoya dan Alfonso kemudian berjalan menuju tempat berkumpulnya para awak untuk makan siang.

–o0o

Lee Corporation

“kenapa tidak kau makan? Jauh-jauh aku membelinya dan kau tidak menghargai usahaku sama sekali!!”

“jangan berlebihan Hyung, kedai ice cream di seberang jalan depan perusahaan kita hanya membutuhkan waktu tempuh kira-kira 10 menit dari sini jika kau berjalan kaki. Apa hal ini bisa dikategorikan ‘jauh’..!!”

“ahjuma penjual ice cream langgananmu itu tidak berjualan hari ini, aku harus berkeliling mencari kedai ice cream yang hampir sama dengan ice cream yang kau makan tiap hari. Kau harusnya berterimakasih padaku, bukannya mengejekku!!”

“aku tidak mengejekmu. Dan satu lagi, ice cream-nya tidak enak. Suruh anak buahmu membelikan ice cream di tempat lain, aku mau rasa strawberry!! Cepat!!”

“tidak mau, aku mengantuk!! Suruh saja mereka sendiri!! Kau juga punya mulut, jadi lakukan semuanya sendiri!!”

Max pergi meninggalkan Seungri sendirian di dalam kantornya. 2 minggu ini Max memang tak menemani Seungri tidur, namun pekerjaannya kali ini sangat banyak. Banyak hal yang harus di urus. Dia hampir tak sempat tidur walau hanya untuk satu jam saja.

“yak.. hyung!! Kau berani membantahku sekarang haaa!!!!!”

Max hanya melambaikan tangan sambil berlalu meninggalkan Ruangan. Sementara Seungri melahap ice cream-nya dengan terpaksa dibumbui seringaian. Kesal dengan sikap Max, namun dia juga senang dengan apa yang telah ia lakukan hari itu.

Acara makan ice cream-nya tiba-tiba terganggu dengan suara handphone-nya yang berdering. Dilihatnya nama kontak yang mendadak familiar 2 minggu ini.

“mmmm… ada apa nuna? Bayi tua itu membuat masalah lagi? Hemm!!?”

Seungri meletakkan sendoknya. Dia sudah bersiap-siap mendengarkan keluh kesah dari nuna barunya ini.

“apa kau sudah makan?”

“kau serius ingin menanyakan hal ini padaku?”

“tentu!”

“kau tidak akan menyesal kan?”

“emm… tidak akan”

“ayolah…!! Banyak orang yang meniru apa yang kakakku lakukan, tapi kau tidak boleh mengikuti kebodohannya. Jadi berhentilah berbohong dan katakan apa maumu!! Aku sedang sibuk!!”

“hari ini kakakmu berubah.. dia memakan semua makanan yang aku siapkan sendiri, tanpa dipaksa, tanpa diminta. Bahkan suster Bong sampai heran, kakakmu juga minum obat sendiri, tanpa ada paksaan sedikitpun dari siapapun.”

“benarkah? Aneh sekali??”

“aku juga merasa begitu!!”

Mereka berdua menghentikan pembicaraan sejenak. Keduanya sedang berfikir apa yang sebenarnya terjadi pada Hyuk Jae, tidak mungkin dia berubah secepat itu. Kemarin dia bahkan masih memecahkan mangkuk yang ke-39 nya, dan hari ini dia tiba-tiba berubah. Sangat berubah.

“lalu..?” akhirnya Seungri memecah keheningan diantara mereka.

“pulanglah!!”

bip— tak ada jawaban dari Seungri. Dia bergegas pulang membiarkan ice cream-nya berdiam diri dengan manis di mangkuknya.

–o0o

6 paper bag besar bergelayutan di tangan indah Cae Rin. Dia berbelanja dengan suka cita hari itu, walau dia harus belanja sendiri, tapi dia tetap menikmati kegiatan yang memang paling digemari kaum wanita ini.

Semua toko baju mewah telah ia jelajahi, hingga akhirnya ia putuskan untuk duduk sejenak melepas rasa lelah di sebuah café yang terdapat pada mall yang ia kunjungi. Hari itu Cae Rin berbelanja beberapa kebutuhan rumah dan banyak baju untuk Gyuri, koleksi baju pribadinya sudah terlampau banyak, jadi dia tak perlu lagi menambah koleksi bajunya dalam waktu dekat. Tapi tidak dengan Gyuri, wanita polos yang sebenarnya ‘mewah’ ini sama sekali tidak tau cara merawat diri. Hidup dan otaknya hanya dipenuhi kerja, kerja, dan kerja.

“huffthhhhh…. Harusnya hari ini kau bersenang-senang denganku eonni..!!”

Cae Rin menggerutu sendiri, tangannya memainkan menu makanan yang biasanya menjadi bahan rebutan saat dia dan Seungri pergi bersama.

“kau juga sibuk sekali Panda jelekkk!!!”

Bughh….

Cae Rin membanting menu yang ada ditangannya dengan kasar ke atas meja. Karna sedang lelah, emosinya tiba-tiba saja memburuk. Tak seharusnya dia marah, tapi lama-lama dia juga merasa bosan jika dia selalu di nomor dua-kan seperti ini.

“Woon, bawa semua barang belanjaanku. Aku ingin ke perusahaan dulu sebelum pulang. Ayo pergi sekarang!! Tiba-tiba nafsu makanku hilang, aku tak ingin makan.!!”

Cae Rin meninggalkan barang belanjaannya begitu saja, tapi Woon segera mengambilnya. Cae Rin berjalan tergesa-gesa menuju pintu luar mall. Tiba-tiba saja dia ingin segera sampai di perusahaan.

Saat dia akan menuju pintu utama untuk keluar mall tiba-tiba saja dia melihat seseorang yang sangat ia kenal sedang berjalan bersama dengan seorang pria. Si gadis itu bahkan bertingkah sangat manja dan terkesan mengumbar kemesraan dengan laki-laki yang juga ia tau pasti siapa dia. Niatnya untuk segera pulang tiba-tiba saja berubah arah. Rasa penasaran yang teramat sangat mendorongnya untuk terus mengikuti kemana 2 orang yang ia kenali itu pergi.

“Woon, kita kecolongan!”

Cae Rin menarik tangan Woon agar ia menundukkan badan tingginya agar 2 orang itu tak mengetahui jika mereka berdua sedang diikuti.

“letakkan saja barang belanjaanku di situ. Pergerakan kita akan mudah diketahui jika membawa barang sebanyak itu.!”

Begitu perintah Cae Rin keluar, Woon segera meletakkan barang belanjaan Cae Rin yang memang tidak sedikit jumlahnya. Jika semuanya dibawa, dalam hitungan detik pun mereka akan segera tertangkap. Beruntung Woon adalah orang hebat yang sengaja dikirim ayah Cae Rin untuk membantunya, Woon baru saja selesai menjalani pelatihan di Jepang sehingga si gadis yang memang sudah akrab dengan situasi keluarga Lee itu tidak tau siapa orang yang sedang mengikutinya.

“kau tau kan apa yang harus kau lakukan?”

Cae Rin yang sedari tadi sedang mengendap-endap di belakang tiang penyangga gedung tiba-tiba saja membalikkan badannya menghadap Woon.

“aku tau nona!! Anak buah kita sudah menunggu di luar, ada 4 orang di setiap mobil yang sedang menunggu mereka. Setiap tikungan dan tempat-tempat ramai dijaga oleh satu mobil. Anak buah kita yang ada di dalam mall ini juga sudah berjaga-jaga. Liam dan Mario sedang mencari tau siapa laki-laki itu sebenarnya, dan apa hubungan diantara mereka berdua.”

“kerjamu bagus. Jangan sampai semuanya terlewat. Kita sudah kecolongan. Jangan sampai gadis sialan itu menghancurkan kita Woon. Aku akan memotong kepalanya dengan tanganku sendiri jika itu terjadi.”

Woon yang melihat dua orang itu berjalan berbalik arah dan sedang menuju ke arah mereka langsung mendekatkan dirinya pada Cae Rin. Dia sedikit membungkikkan badan dan berpura-pura mencium Cae Rin. Cae Rin memang kaget, namun dia tetap harus mengendalikan emosinya. Hingga akhirnya dia mendengar Woon membisikkan sesuatu ke telinganya.

“Jangan bergerak. Teruslah seperti ini. Gadis itu tampaknya lebih licik dari yang ku bayangkan.!”

Cae Rin hanya mengangguk. Tak ada pilihan lain. Dia hanya bisa mengikuti permainan yang sedang berjalan tanpa adanya kepastian kapan dimulai dan kapan diakhiri.

“lepaskan aku bodoh!!” Cae Rin memukul lengan Woon keras. “Min Ah sudah pergi kan!! Kau mau mencuri kesempatan haaa…!!!”

“Kau frontal sekali nona. Tenanglah.. aku tau siapa diriku dan siapa Anda. Jangan khawatir.”

“b-bukan begitu. Selama ini tidak ada laki-laki yang berani menyentuhku selain appaku, Seungri, dan Hyukkie oppa. Jadi aku sedikit kaget saat kau dengan beraninya menyentuhku, kau bahkan hampir menciumku tadi!!”

“ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat. Ayolah…. Kita bisa kehilangan target kita..!!”

Woon menarik tangan Cae Rin, mereka kembali mengikuti Min Ah dan Jae Joong yang sedang menuju sebuah café Italia. Woon dan Cae Rin duduk di kursi dekat pintu masuk. Beruntung target duduk di posisi yang sangat strategis untuk diawasi dari segala sisi.

“shitt… mereka berciuman di tempat umum. Ya Tuhan, jadi selama ini ada ular di dalam kantor kita.”

“jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan nona. Anak buah kita bahkan belum ada yang memberi laporan tentang mereka”

“asal kau tau, Min Ah itu sekretaris pribadi Seungri. Semua kegiatannya dia yang mengatur. Sedangkan Jae Joong, dulu dia adalah pemilik perusahaan tekstil yang lumayan terkenal di daerah Gwang Ju, namun setelah kami mendirikan perusahaan di sana perusahaan Jae Joong bangkrut. Aku yakin perusahaannya bangkrut bukan salah kami, tapi Jae Joong adalah salah satu orang yang ‘perhatian’ pada perusahaan kita Woon. Jadi tentu saja kita harus hati-hati dengan dia. Kejadian di Hiroshima sudah membuatku takut….”

Penjelasan panjang lebar Cae Rin terhenti. Dia memperhatikan gerak-gerik Min Ah yang semakin aneh. Tiba-tiba saja dia mengeluarkan  beberapa dokumen yang langsung disambut tawa bahagia oleh Jae Joong. Cae Rin semakin penasaran pada dua orang yang dia kenali dengan baik itu. Apakah gerangan yang sedang mereka lakukan.? Kenapa Min Ah tega sekali menghianati mereka dari belakang.

Perhatian Cae Rin benar-benar tertuju pada kedua orang yang sekarang tampak sangat menjijikkan di mata Cae Rin. Tiba-tiba saja telepon genggamnya berdering.

“tcihhh…. Siapa sih?!!!!” Cae Rin mengumpat kesal, karna konsentrasinya terganggu. “mwo… eonni? Ada apa??”

Tanpa pikir panjang Cae Rin langsung menekan tombol hijau untuk menerima telephone dari Gyuri.

“yohboseo? Ada apa eonni?”

Tak ada jawaban dari Gyuri. Hanya suara tangisan yang terdengar di telinga Cae Rin.

“eonni!!!! Jawab aku!! Ada apa??!!”

Pak Gyuri terus saja menangis. Cae Rin ikut menangis bingung. Melihat kejadian itu Woon jadi ikut panic, apa yang telah terjadi di keluarga Lee sebenarnya. Kenapa semua masalah begitu rumit untuk dipecahkan.

“nona.. ada apa??” Woon mencoba mencari tau dengan bertanya pada Cae Rin. Tapi Cae Rin terus saja menangis. Dia juga bingung apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Gyuri tidak mengatakan sepatah katapun padanya. Hanya suara isak tangis yang terdengar di telinga Cae Rin.

“cepat jawab aku eonni!! Jangan membuatku takut!!”

“mian…. Mianhae…. H-Hyuk Jae h-hilang…. Eum…sewa—“

Bipp—-bippppp—–

Tak ada jawaban keluar dari mulut Cae Rin. Dia langsung menutup sambungan telephone-nya dan bergegas pergi meninggalkan café.

Pikirannya melayang, apa yang terjadi sebenarnya. Bagaimana bisa orang sakit bisa kabur dari rumah. Air mata Cae Rin kembali turun. Bagaimanapun juga Hyuk Jae juga sangat berarti baginya. Ia tak mau terjadi sesuatu yang buruk pada oppanya.

“Woon, suruh anak buahmu meng-heandle semuanya. Ingat! Jangan sampai kita kehilangan mereka.!!”

Disela-sela langkah kakinya, Cae Rin mencoba menghubungi Seungri. Tak ada jawaban dari sang pemilik telephone. Panggilannya hanya dijawab dengan pesan singkat oleh operator agar meninggalkan pesan setelah bunyi ‘bip’ yang tentu saja segera dihiraukan oleh Cae Rin.

“oppa…..”

Cae Rin terus dan terus mencoba menghubungi Seungri. Tubuhnya lemas sekarang. Seperti orang yang baru saja melakukan perjalanan jauh. Tiba-tiba saja dia merasa seperti mabuk darat, dia sudah tak kuasa lagi menahan berat badannya sendiri.

“nona..”

Woon dengan sigap segera membantu Cae Rin masuk ke dalam mobil.

“pak, tolong jalan sekarang. Kita ke apartemen tuan muda di Seoul….!”

–o0o

On the Way

Angin siang berhembus sedikit kencang, kulit pucat Hyuk Jae bahkan sedikit memerah karna kedinginan. Dia begitu ceroboh karna hanya pakaian tipis yang ia pakai setelah mandi tadi pagi saja yang melekat di tubuh kurusnya. Tak ada jaket, sarung tangan, syal, atau sekedar masker untuk mengurangi rasa dingin yang mulai menyiksa kulitnya.

“tuan… kita akan pergi ke mana? “

“kita berkeliling kota saja dulu pak..”

“baiklah…” Supir taxi itu segera menjalankan taxinya. Pandangannya lurus ke depan, dia terlihat sangat berkonsentrasi saat menyetir. “apa Anda baru sampai di Seoul?”

Tidak, rupanya supir taxi itu diam-diam memperhatikan Hyuk Jae dari kaca spionnya.

“apa sangat terlihat pak?”

“eumm….. anio. Aku hanya sekedar menebak. Anak muda Seoul tidak biasanya berkeliling kota disiang hari seperti ini. Lagipula cuaca sedang tidak bagus, matahari bersinar sangat terik, tetapi angin berhembus dengan kencang. Orang-orang banyak yang terserang penyakit disaat cuaca seperti ini.”

“benarkah?”

“tentu saja. Kau juga terlihat sedang tidak sehat tuan..! apakah akan baik-baik saja jika kita melakukan perjalanan yang jauh dan lama.”

“mungkin apa yang kau katakana itu benar pak, aku terkena flu.. hahahha…..”

Hyuk Jae mencoba mengalihkan perhatian supir taxi ini. Sebenarnya berbincang-bincang dengan supir taxi ini bukanlah pilihan yang buruk, namun niat untuk itu dia urungkan, dia lebih memilih diam menikmati kebebasannya hari itu. Setelah kejadian perkelahian itu Hyuk Jae merasa tidak nyaman di apartement. Selalu banyak orang yang memperlakukannya seperti orang sakit parah yang akan segera mati. Makanan, minuman, bahkan air untuk mandipun mereka siapkan. Well, untuk beraktifitas seperti biasanya memang tak bisa dia lakukan sendiri. Selang-selang menjijikkan yang menempel di tubuhnya juga membuat Hyuk Jae sulit beraktifitas. Hyuk Jae berharap setidaknya mereka memperlakukannya selayaknya manusia normal, bukan seperti seorang pesakitan.

“tuan….!! Anda sedang melamun?”

“ehemm… em, tidak. Aku hanya sedang berfikir, tempat apa yang ingin aku kunjungi.”

Supir itu akhirnya berhasil menyadarkan Hyuk Jae dari lamunan yang sama sekali tidak penting itu. Dalam hati Hyuk Jae bersyukur, hari itu setidaknya dia bisa menghirup udara bebas dengan hidungnya sendiri. Melakukan aktifitas sendiri, tanpa bantuan dan layanan dari orang lain.

“lalu? Apa sudah Anda putuskan?” Hyuk Jae menganggukkan kepala dengan semangat.

“Hamyang-gun…!! Aku ingin ke sana!!”

“baiklah..”

Tanpa dia sadari, mulutnya menyebutkan nama tempat itu. Hamyang-gun. Tempat yang dulu sering ia dan keluarganya kunjungi bersama saat ia dan Seungri liburan sekolah.

Perjalanan dari Seoul menuju Hamyang-gun memakan waktu kurang lebih 1 jam. Mata Hyuk Jae terus berputar bergantian memandangi suasana kota yang memang sudah banyak mengalami perubahan. Semakin indah, itulah kesimpulannya. Namun pikirannya tidak hanya memikirkan perubahan kota saja hari itu. Tiba-tiba saja dia teringat dengan Seungri. Adik laki-lakinya itu mungkin saja hampir bunuh diri karna bingung mencari keberadaan kakak bodohnya ini.

“pak, tolong berhenti sebentar di dekat lampu lalu lintas itu pak…!”

Hyuk Jae meminta supir taxi itu untuk menepi di pinggir jalan saat melewati perempatan lampu lalu lintas yang mereka lewati.

“baiklah..”

Tanpa banyak bertanya sang supir menepikan taxi-nya ketika taxi mereka melewati lampu lalu lintas yang dimaksud Hyuk Jae.

“tunggu sebentar pak, aku harus menelephone seseorang dulu..”

“tentu, saya akan menunggu di sini tuan.”

Hyuk Jae segera keluar dari taxi-nya. Berjalan beberapa langkah dari taxi sambil menekan tombol hanphone yang ada di genggamannya.

“kau ada di mana sekarang brengsekkkk….!!!!!!!”

Tanpa menunggu lama, setelah Hyuk Jae memutuskan untuk meng-aktifkan kembali handphone-nya dan menelephone Seungri, suara bass Seungri langsung terdengar di telinga Hyuk Jae tanpa harus menunggu lama.

“pelankan suaramu, aku tidak tuli!!”

“jawab saja bodoh!!”

Seungri benar-benar panic dan marah. Sungguh dia tak menyangka kakaknya akan kabur dalam keadaan seperti ini.

“aku baik-baik saja. Kau tidak perlu mencariku, aku janji akan pulang dengan selamat………”

“tapi kau sekarang ada di mana??”

Seungri terus saja berteriak.

“Hyung..!!!!”

“…………………..”

“Lee Hyuk Jae….!!!!”

Tanpa basa-basi Hyuk Jae langsung menghentikan pembicaraanya dengan Seungri. Tanpa memutuskan sambungan telephonennya Hyuk Jae melempar hanphonenya pada sebuah truck sayur yang berhenti tepat di hadapannya. Setelah lampu merah berubah menjadi hijau, truck itu berlalu, bersamaan dengan handphone-nya yang sengaja ia biarkan dalam keadaan tersambung dengan handphone Seungri.

“maaf sudah menunggu lama pak. Mari kita lanjutkan perjalanan kita pak..!!”

“baik tuan…”

TBC–

24 thoughts on “[FF Freelance] I Wish I Were You (Part 3)

  1. jinnie selingkuh sama ken nih, ceritnya?
    aigo aigoooo….

    makin rumit aja ini. pake acara sekertaris Seungri berkhianat segala.

    ditunggu next partnya ^^

  2. msh agk bgung n rada kurang ngerti sbnerny dg khdpan kluarga mrka ini.. kok kyakny complicated bgt deh.. Hmm,, lanjut ya..

  3. ahkirnya dtg juga part selanjutnya….thor,hyu jae punya penyakit ya?seorang lee hyuk jae jadi pembalap…kereen ngebanyanginnya,tapi kok sering sakit ya,,,trus di perusaah lee ada penghianat ya?dan jinnie sama kenny jg ternyata tega ya,mereka saling cinta ternyata,terus gmn sm hyukjae??
    pake acara ngabur lagi,bikin seungri kalang kabut aja,,,,

    nunggu lama ff ini gpp deh yg penting tiap muncul ga kependekan,,, 🙂

  4. Thor numpang kaget dulu bentar boleh? CL the baddest female bisa manja2 gitu omoo… o.O
    uaaa riweuh,masalah bermunculan,konfliknya seruuu~ terus konfliknya itu ngalir aja,ga kyk dipaksain masuk dan aku suka banyak konflik gini..hahaha,biar ga flat ceritanya 😉
    ah jennie jahat,feeling aku emang gaenak sm dy dr awal -.-

    panda bodoh,muahaha ri terhina mulu disini..#pukpukri
    cus ke part selanjutnyaaa~

    • rada sulit ya bayangin CL jd manja..???
      hohohoho..
      tp mo gimana lagi,
      aku ngefans aja ma tu cewe..
      keren gt citra-nya..

      emank otak aku bermasalah.
      makannya ff nya ikutan bermasalah..
      #plakkkkk

      Jinnie jahatt?? masak sii??

      nahlo… kalo panda bodoh *mungkinyanginiradabener
      hahahahah….
      tp panda penyayang loh.. ^^
      makasii dah baca + coment 🙂

  5. iiihhhh ini apa ini kok makin kesini rumyem rumit mumet ckckckckkcckkk keluarga Lee emang complicated tingkat max ckckckckckk

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s