[Part 2] Because I Love You (Love Is Really Hurt)

Title:  [Part 2] Because I Love You (Love Is Really Hurt)

Author: Kim Key94 (Keyindra)

Genre: Romance, Angst, Sad

Cast:              

Park Jiyeon ‘T-ara’

Baek Suzy ‘Miss A’

Kim Myung Soo ‘Infinite’

Kim Yesung ‘Super Junior’

 

Lenght: chapter

Rating: PG 16

Disclaimer: FF ini aku terinsiprasi dari seorang Elfishsparkyu. Jeongmal gomawo untuk Elfishsparkyu karena idenya bisa tercipta FF ini. Tokoh dan lain – lainnya murni milik Tuhan Yang Maha Esa. Jadi jangan heran kalau ada readers yang pernah baca.

NB: Bwt comment-nya makasih semuanya. Author ga tahu sampai kapan FF ini akan berlanjut.

Gak usah banyak intro langsung aja cap Cekidotttt….

#mian masih banyak Typo

#mian certanya gak dapat feel and gak jelas jluntrungannya..

 

SILAHKAN MEMBACA GRATIS!!!!!…
Part sebelumnya: ||Part 1||

*****

Aku tahu ini cinta, meski cinta ini terasa menyakitkan……

 

Jiyeon berjalan pelan menggandeng Jisoo menuju kesebuah taman ditengah kota dimana ia akan kembali bertemu dengan Suzy. Hatinya terasa perih mengingat sekarang ini ia seperti orang bodoh. Ia melupakan anak yang dilahirkannya sendiri dan pergi meninggalkannya tanpa pernah melihat wajahnya sekalipun.

“Jisoo-ya. Apa kau bahagia bersama appa dan Suzy eomma?.” Jiyeon memangku sejenak putri kecilnya itu dan duduk disebuah bangku taman.

“ne. Tentu saja ahjumma. Eomma adalah eomma yang terbaik yang Jisoo miliki. Jisoo ingin selamanya bersama Suzy eomma.” Celoteh Jisoo riang dengan mimik muka polosnya.

Hati Jiyeon kembali merasakan sakit. Putri kandungnya bahkan tak mengenali dirinya sebagai eomma kandungnya sendiri. Bahkan ia menganggap Suzy adalah segalanya dihidup Jisoo. Jiyeon kembali mengeluarkan air mata, tapi dengan cepat ia seka air mata itu agar Jisoo tak melihatnya ketika ia tengah menangis.

“ahjumma. Jangan menangis, nanti ahjumma tambah jelek.” Ucap Jisoo meraba wajah Jiyeon yang terlihat menangis.

Jiyeon tesenyum dan mengangguk dan kembali mendekap putri kecilnya itu seakan tak mau untuk melepasnya.

“ahjumma, namamu Jiyeon kan?. Apa kau adalah bidadari cantik yang selalu appa ceritakan saat aku akan tidur. Jiyeon adalah bidadari yang berada disampingku. Bidadari itu selalu menjagaku meskipun aku tak pernah bisa melihatnya. Bidadari itu juga akan selalu menjaga hatiku agar aku tak sedih.”

“Jisoo-ya?..” Jiyeon mengernyit bingung pada pertanyaan dan cerita Jisoo. Ia menghela napas sejenak dan tersenyum menatap raut muka polos Jisoo. “ apa maksudmu Jisoo?.”

“appa selalu mengatakan bahwa Jisoo punya bidadari pelindung, bidadari itu bernama Jiyeon. Dan bidadari itu selalu dihati Jisoo.” Jawab Jisoo polos.

“appamu bilang seperti itu?.”

“ne.” Jisoo mengangguk mengiyakan jawabannya. “saat aku akan tidur, appa selalu menceritakan bidadari itu. Bidadari itu sangat cantik dan suka melindungiku dari seseorang yang jahat. Saat Jisoo bertanya siapa bidadari itu, appa menjawab bahwa bidadari cantik itu bernama Jiyeon.”

Jiyeon terkekeh pelan mendengar cerita dari Jisoo. “apa appamu selalu menceritakan bidadari cantik itu hingga kini?.”

Jisoo menggeleng pelan yang melambangkan sebuah kekecewaan.

“gwenchana. Kita tunggu Suzy eomma disini. Sebentar lagi ia akan menjemputmu?.” Jiyeon semakin memperat pelukannya terhadap Jisoo.

Drttt….drrtttt…

Sebuah panggilan masuk terpampang jelas dari layar ponselnya. Jiyeon tersenyum seketika melihat nama Yesung tertera dilayar ponselnya. Ia mengangkat sebentar ponselnya sambil memainkan jemari tangan Jisoo.

“yeoboseo.. Oppa.. Ne, sebentar lagi aku akan pulang..Aku ada sedikit urusan dengan teman lamaku.. nado saranghae Kim Jongwoon..

Klikk…Jiyeon memutus sambungan teleponnya.

“siapa dia ahjumma?.” Tanya Jisoo sambil memainkan ujung rambutnya dengan jemari lentiknya, sesekali ia memlintir kecil rambutnya dan tertawa ringan.

“dia suami ahjumma. Hari ini ia berulang tahun, jadi ahjumma ingin memberinya sebuah kejutan.” Jiyeon merasa gemas sendiri dengan tingkah laku Jisoo saat melihatnya.

“Jisoo. Kim Jisoo.”

*****

“Jisoo.. Kim Jisoo.” Suara panggilan pelan itu mengagetkan Jiyeon yang tengah bercerita pada Jisoo dan spontan membuat keduanya menoleh menuju sumber suara itu.

Deg..seketika itu waktu terasa berhenti degan sendirinya. Hati Jiyeon merasakan sesuatu yang bergemuruh dari dalam dirinya. Nafasnya tercekat untuk beberapa detik.

“appa.”

Teriakan panggilan Jisoo pun tak ia pedulikan . Hingga akhirnya Jisoo beranjak dari sisinya dan beralih pada sesosok namja yang kini tengah berada didepan matanya, Jiyeon masih mematung seketika.

“appa, aku bertemu dengan bidadari pelindungku. Bidadari itu ternyata cantik appa, sama seperti Jisoo.” Ujar Jisoo riang yang berhambur memeluk appa-nya.

Tapi Myungsoo tetap terdiam tak kalah mematung dan kelu untuk mengeluarkan kata – kata pertama untuk hanya sekedar menyapa Jiyeon. Mata sipit nan teduhnya memandang sayu pada sosok Jiyeon dihadapannya. Orang yang sejujurnya hingga kini ia masih sangat rindukan kehadirannya. Sosok yang pernah melanglang buana dalam hati dan pikirannya, sosok yang hingga kini ia masih cintai.

Jiyeon orang yang 6 tahun lalu harus terpisah dengannya hanya karena permainan dan rencana takdir Tuhan. Tapi apa bisa Myungsoo menyalahkan takdir. Tidak, takdir memang seperti inilah yang sudah digariskan Tuhan untuk dirinya dan Jiyeon. Orang yang masih ia cintai hingga kini.

“sudah lama kita tak bertemu. Park Jiyeon kau darimana saja?.” Tanya Myungsoo akhirnya yang memulai untuk membuka sebuah pembicaraan. Myungsoo tersenyum miris seiring dengan rasa yang kini menyesakki dadanya. Terlalu bingung untuk harus bagaimana ia bersikap. Ada rasa rindu yang terpendam sekian lama yang membuatnya membuncah ingin meluapkannya pada sosok seorang Park Jiyeon.

Jiyeon memejamkan mata sejenak merasakan sutu kepedihan yang dalam. Ingin sekali Jiyeon berlari memeluk dua insan didepannya itu. Tapi apa daya keadaan kini sudah berbeda dengan keadaan yang dulu. Ia sadar siapa kini Myungsoo.

*****

“Appa tahu Jiyeon ahjumma?. Benarkah Jiyeon ahjumma adalah bidadari pelindung Jisoo?. Benarkah appa?. Kalau begitu Jisoo bertemu dengan bidadari itu.” Jisoo lekas menurunkan dirinya dari gendongan Myungsoo. Myungsoo hanya menatap nanar penuh kebingungan putri kecilnya itu.

“Jiyeon ahjumma. Kau adalah bidadari Jisoo!!.” Teriakan Jisoo spontan membuat Jiyeon tersadar dari pikirannya.

Myungsoo lekas menunduk mensejajarkan dirinya dengan Jisoo lalu mengusap kepala Jisoo lembut. “ ikutlah dengan eomma dulu ya sayang?.” Pintanya. Ia melirik Suzy yang sedari tadi berdiri kaku tak bergerak dari tempatnya yang berdiri agak jauh dibelakang Myungsoo.

“Suzy –ah.” mendengar panggilan Myungsoo Suzy segera melangkah mendekat dan mengambil alih Jisoo dari sang appa. Suzy hanya menyunggingkan bibirnya, tersenyum kaku seakan melambangkan hatinya yang perih karena cinta. Ia tahu jika kini posisinya sekarang hanyalah sebagai wanita pengganti Jiyeon untuk Jisoo.

Tuhan, hati Jiyeon semakin teriris sakit melihat keharmonisan mereka bertiga. Keluarga yang harmonis, Jisoo sudah mempunyai appa dan eomma yang menyayanginya. Inikah jalan takdir Tuhan yang telah digariskan untuknya?. Apakah pantas ia hadir ditengah – tengah kebahagiaan Jisoo?, putri kecilnya bersama Myungsoo?.

“eomma. Ternyata Jiyeon ahjumma adalah bidadari itu. Jisoo bertemu dengannya eomma.” Celoteh Jisoo riang. Suzy kemudian melirik Jiyeon yang tengah berdiri diseberangnya seolah meminta izin untuk membawa Jisoo pergi menjauh.

Jiyeon yang melihatnya hanya tersenyum getir mengizinkannya. Mengetahui bahwa Suzy adalah eomma Jisoo.

*****

Suasana taman yang hening membuat dua insan yang saling duduk berjauhan dalam sebuah bangku taman terdiam pilu meresapi perasaan mereka masing – masing. Jiyeon dan Myungsoo, keputusan mereka berdua untuk berbicara empat mata dinilai salah untuk keduanya. Karena sedari tadi mereka berdua hanya terdiam membisu tanpa mengucap satu patah katapun untuk membuka pembicaraan.

Enam tahun berlalu, rasanya tak akan pernah menghapus segala cerita cinta maupun kisah perjuangan cinta mereka yang pernah mereka torehkan. Cinta yang belum terkikis sempurna dan tak lekang oleh waktu. Rasa ini masih ada dihati mereka berdua, meski kini keduanya telah memiliki kehidupan masing – masing.

“bagaimana kabarmu?.” Tanya Jiyeon pelan membuka pembicaraan berusaha mencairkan suasana hening diantara keduanya. Matanya tak mampu untuk sekedar melirik Myungsoo yang berada disampingnya. Ia takut jika perasaan itu muncul kembali.

“baik, bagaimana denganmu?. Kemana saja kau selama ini?.” Myungsoo menjawabnya pun tak kalah hampa dan pilu.

“seperti yang kau lihat. Itu tak penting kemana saja aku selama ini.”

“mianhae.” Gumam Myungsoo lirih. “jeongmal mianhae untuk semua yang pernah terjadi diantara kita. Kau pasti menyesal dengan pernikahan tanpa restu yang pernah kita lakukan.”

“untuk apa kau meminta maaf? Kau tak salah, aku juga tak salah. Semua telah berlalu, lalu apa bisa kita memutar balikkan waktu seperti semula. Ini semua sudah menjadi rahasia dan takdir Tuhan yang digariskan untuk kita lewat keegoisan kedua orang tuaku.”

Myungsoo mengangguk pelan. “bagaimana kabar orangtuamu?.”

“mereka berdua sudah meninggal karena kecelakaan di London setahun lalu.”

“mianhae.” Sesal Myungsoo.

“tak apa – apa.” Jiyeon meraik napas dalam – dalam kemudian menghembuskannya perlahan “mengenai Jisoo…” ucap Jiyeon tertahan.

“ne, putri kita.” Potong Myungsoo cepat. “dia sangat mirip denganmu. Ia adalah jelmaan sosok dirimu, Park Jiyeon.”

Jiyeon mengulum senyumnya, seakan dirinya kini dihargai sebagai ibu kandung Jisoo. “aku bahkan tak tahu jika aku punya seorang putri cantik seperti Kim Jisoo. Bertahun – tahun aku seperti orang bodoh yang mengira anak yang kulahirkan telah meninggal saat itu juga.”

“justru akulah yang bodoh. Aku tak tahu jika kau hamil setelah appamu mengobrak – abrik apartemen kecil kita dulu untuk mengambilmu pulang secara paksa. Sampai Jungsoo Hyung datang tengah malam membawa seorang bayi perempuan mungil padaku.” Myungsoo menerawang menatap langit yang gelap kemudian mendesah pelan. “kau pasti sangat menderita, tak bisa bertemu dengan Jisoo setelah bertahun – tahun.”

“semua penderitaanku rasanya hilang semua setelah aku melihat wajah Jisoo. Putri kandungku. Tapi sayangnya ia tak bisa memanggilku eomma. Ia lebih menyayangi Suzy sebagai eomma-nya.

“Suzy yang membantuku merawat Jisoo sejak ia bayi. Akhirnya aku memutuskan menikah dengannya karena Jisoo butuh seorang eomma. Maaf jika keputusanku itu menyakitimu.”

“aniyo, aku tak apa – apa. Suzy adalah sahabat baikku. Aku percaya sekali padanya.”

“dan kau apa kau sudah menemukan pendamping hidup kembali?.” Tanya Myungsoo hati – hati. Ia tahu jika terlalu lancang untuk menanyakan hal seperti ini. Mengingat ia dan Jiyeon belum pernah bercerai, tapi orang tua Jiyeon memutuskan begitu saja perceraian diantara mereka berdua.

Jiyeon mencoba untuk tersenyum menaggapinya, ia tahu jika kini Yesung sudah mengisi hidupnya. “aku sudah menikah. Kami menikah karena perjodohan, tapi aku bahagia bisa menikah dengan-nya. Dia yang kini menjadi alasan untuk aku bahagia selain Jisoo. Dia orang yang baik.”

Sedikit tercengang Myungsoo dengan kalimat yang dilontarkan Jiyeon. Ternyata lepas darinya, Jiyeon menemukan penggantinya. Ia tahu kini jika ia tak berhak lagi mencintai Jiyeon. Jiyeon sudah menikah, Jiyeon sudah bahagia.

Hening. Mereka kembali pada pikiran mereka masing – masing. Berusaha memahami isi hati mereka berdua, tapi masih juga rasanya terlalu sulit.

“aku ingin dekat dengan Jisoo.” Pinta Jiyeon pelan melihat Myungsoo sekilas.

“kau boleh melakukannya jika kau mau. Bagaimanapun juga Jisoo adalah putri kandungmu.”

“benarkah?.” Tanya Jiyeon antusias.

“ne, Jisoo butuh kedekatan dengan eomma kandungnya.”

“gomawo. Sejujurnya aku ingin Jisoo melihat dan mengakui keberadaanku sebagai ibu kandungnya, tapi itu tak mungkin kupaksakan. Aku terlalu egois jika Jisoo harus memanggilku eomma juga. Tapi itu tak apa, Jisoo lebih bahagia jika bersama Suzy selaku eomma saat ini dan jika Jisoo bahagia aku ikut bahagia meski hanya melihatnya tersenyum.

Myungsoo mengulum senyum bahagia mendengar pengertian Jiyeon. Ia bisa menempatkan dirinya dimana meski ia harus rela jika Jisoo tak memanggilnya eomma. Melihat Jiyeon yang seperti itu Myungsoo turut bahagia. Karena sampai kapanpun lelaki itu tak dapat menghilangkan rasa yang pernah mereka berdua rasakan, sampai kini perasaannya masih sama.

*****

Malam yang larut menambah sepi hati Jiyeon. Ia berdiri menatap langit malam dibalkon apartemen Jungsoo, kakak laki – lakinya. Ia merasakan luka yang mendalam saat mengingat Jisoo lebih memilih Suzy sebagai eommanya. Tapi segera ia usap air mata yang kini akan keluar lagi. Tapi ia bahagia bisa bertemu Jisoo meski bukan sebagai ibu kandungnya. Jisoo putri kandungnya yang ia anggap telah tiada.

Sleet…..

Sebuah tangan merengkuh pinggangnya erat dari belakang. Kontan ia pun sedikit terkejut atas perlakuan mendadak yang ia dapatkan. Namja itu menyenderkan dagunya dibahu kanan Jiyeon.

“ini sudah malam, masuklah!!. Angin malam membuatmu bisa sakit.”

Jiyeon tertahan sejenak melihat namja yang bernama Yesung itu sebagai suaminya. Ia tahu jika Yesung sangatlah mencintainya. Tapi apa sanggup Yesung menerima keadaannya yang seperti ini. mengetahui bahwa kini ia mempunyai seorang putri dengan orang yang pernah membuat Jiyeon jatuh atas sebuah keterpurukan yang dalam.

Yesung. Namja itu adalah orang yang membangkitkan kehidupan suramnya setelah jatuh atas keterpurukan 6 tahun lalu akibat ia terlalu mencintai Myungsoo.

“ne.  Sebentar lagi aku akan masuk.”

“oppa.” Panggilnya lagi. “saengil Chukkae hamnida. Mian aku baru mengucapkannya.” Jiyeon menunduk merasakan sedikit. Perlahan ia memeluk Yesung erat. Jiyeon tak tahu entah apa yang dirasakannya kini. Yang ia bisa lakukan adalah bagaimana ia bisa melakukan yang terbaik bagi keduanya. Yesung dan Jisoo.

“gomawo.” Desah Yesung pelan mengeratkan pelukkannya pada Jiyeon.

*****

“Hyunggg!!!.. jangan kau ambil kkoming kecilku. Aku baru saja membelinya kemarin!!!.” Teriakan membahana antara dua orang laki – laki itu menyambut kedatangan Jiyeon yang baru saja membuka pintu apartemennya. Dibelakangnya turut serta Jisoo yang berusaja pulang dari taman kanak – kanak tempat sekolahnya.

“oppa. Wae kau tak kerja hari ini?.” Tanya Jiyeon bingung melihat dua orang namja yang bersikap seperti anak kecil itu.

Yesung lekas tersenyum kecil menanggapinya. “ jadi kau tak suka jika suamimu yang tampan ini berada diapartemen untuk melihatmu seharian?.” Tanyanya dengan nada setengah bercanda.

Jiyeon tersenyum dan menanggapinya dengan candaan pula. “tapi aku lebih suka jika kau pergi bekerja.” Gelengnya yang membalas perkataanya dengan candaan pula.

“baiklah aku tahu. Aku hanya merindukanmu karena terlalu sibuk dengan project baruku di Korea. Sudahlah lupakan saja. Gadis kecil yang cantik ini pasti Jisoo putri kecilmu kan?.” Yesung segera beralih lalu berjongkok didepan Jisoo melihatnya sekilas. “hey Kim Jisoo. Kau tahu margaku juga Kim. Kim Jongwoon. Kau bisa memanggilku Jongwoon atau Yesung appa.”

Jiyeon terhenti beberapa saat dan menatap Yesung yang tengah berbicara pada Jisoo. Ia tak mengetahui dan tak menyangka jika Yesung tahu bahwa ia telah memiliki putri yang masih hidup. Perasaan teriris kembali menghinggapi Jiyeon, Yesung bisa menerima keadaanya yang seperti ini dengan Jisoo berada ditengah – tengahnya. Sesempurnakah namja ini?.

“aniyo Jisoo. Panggil dia ahjusshi.” Potong Jiyeon cepat.

“yak! Park Jiyeon kau ini!.” protes Yesung yang tak terima. “baiklah, kajja bermain bersama ahjussi yang tampan ini.”

“oppa. Biarkanlah!. Ia belum tahu tentang semuanya.” Suara Jiyeon melemah seakan memperingatkan Yesung jika Jisoo belum mengetahui dirinya sebagai ibu kandung dari Jisoo.

“main bersama ahjussi saja.” Sahut Jungsoo tiba – tiba berusaha menenangkan suasana. Ia segera mengambil alih tangan Jisoo yang berada digenggaman Jiyeon.

*****

“lebih baik ia tak mengetahuiku sebagai ibu kandungnya daripada itu akan menjauhkanku dari putri kandungku sendiri.”

“Jiyeon –ah..” Ucap Yesung pelan.

“miahae oppa. Aku mengecewakanmu. Aku tak tahu jika kini aku sudah memiliki putri…” sebelum perkataanya lebih jauh Yesung meletakan jari telunjukknya didepan bibir Jiyeon.

“tak perlu dilanjutkan. Ini takdir yang sudah digariskan. Jungsoo Hyung sudah menceritakan semunya. Aku tak pernah menyesali sedikitpun. Jika takdir mengatakan seperti itu, apa kau bisa merubahnya?. Tidak Jiyeon –ah, Jadi tolonglah jalani hidupmu sesuai apa yang digariskan takdir.

Jiyeon terharu mendengar perkataan orang yang bernama Yesung itu. Haruskah ia egois dan masih mengharapkan cinta Myungsoo kembali sedangkan disampingnya ada seorang yang begitu mencintainya. Ia tahu jika masih ada sebagian perasaan untuk mencintai Myungsoo. Tapi semua sudah berakhir.

“jadilah eomma yang terbaik untuk putri kecilmu. Aku akan berusaha menjadi appa-nya.” Yesung berbicara pelan memeluk istrinya yang kini hampir menangis. Menangis karena ia merasa bodoh terhadap dirinya sendiri.

“Jiyeon-ah, sampai kapan kau akan seperti ini?.” Tanya Yesung lagi yang sedari tadi merasakan Jiyeon tengah menangis pilu.

“apa maksudmu oppa?.”

“kau pikirlah sendiri Park Jiyeon.” Suara Jungsoo mendadak memotong pembicaraan antara mereka berdua.

“maksudmu oppa?.” Jiyeon masih tak mengerti dengan ucapan dua orang laki – laki dihadapnnya itu.

“menjemput Jisoo lalu mengantarnya pulang lagi. Dan itu hampir kau lakukan selama seminggu ini bahkan setiap hari. Apa itu tak menyakiti diri dan menyiksa batinmu sendiri?.”

Jiyeon terdiam sebentar. Ia berpikir sejenak, sejujurnya apa yang dikatakan oleh Jungsoo ada benarnya juga. Apalagi setiap saat mengantar Jisoo ia selalu menemui Suzy dan Myungsoo untuk melihat kehidupan bahagia mereka bertiga seolah – olah dirinya hanyalah benalu yang menghalangi keharmonisan rumah tangga mereka bertiga. Keluarga bahagia Suzy – Myungsoo bersama Jisoo selaku putri kandungnya. Tapi saat ini yang terpenting dalam hidupnya adalah bersama Jisoo, melihat senyumannya, mendekapnya hangat dan melengkapi hidup Jisoo.

“Jungsoo Hyung ada benarnya juga. Apa kau tak berpikir untuk mengambil Jisoo dari Kim Myungsoo?.” Imbuh Yesung.

“ne, Jiyeon-ah. itu pasti membahagiakan bagi kita semua kalau bisa memiliki Jisoo seutuhnya dalam hak asuh sebagai putri kandungmu.” Jungsoo ikut menimpali perkataan dari Yesung.

Untuk beberapa menit ia mencoba berpikir. Jiyeon terlihat bimbang dan gamang tentang apa yang kini ada dipikirannya. Tak terbesit sekecil apapun dalam pemikirannya akan hal itu, yang ia pikirkan kini adalah bagaimana ia bisa dekat dengan Jisoo. Melihat Jisoo bahagia, itu sudah cukup. Tapi sekarang tampaknya pemikirannya mulai bimbang untuk berubah.

Jauh didalam lubuk hatinya ia ingin Jisoo memanggilnya eomma dan mengakuinya sebagai ibu kandung seutuhnya. Meskipun ini tak adil bagi Myungsoo selaku appa kandungnya dan Suzy selaku eomma yang dianggap segalanya oleh Jisoo.

–TBC­­–

Silahkan tinggalkan komentar untuk menghargai karya kami.

Mian kalo kependekan and gak dapet feel. Ide author dadakan and cukup sampai disini.

Gamsha chingundeul……

28 thoughts on “[Part 2] Because I Love You (Love Is Really Hurt)

  1. apa yg terjadi dgn mereka yh.. ?? apa jisoo mau ikut sm jiyeon ..??
    apa myungsoo suzy rela melepasnya.
    jd penasaran chingu..

  2. Lebih baik Jisoo sama myungso & suzy aja.
    secara suzy kan yang membesarkannya, pasti jisoo sangat menyanyanginya.
    Jika sama jiyeon, jisoo pasti akan merasa kehilangan ibunya dan batinnya akan tertekan jika mengetahui suzy bukan ibu kandungnya.

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s