[FF Freelance] Young Woman With Blue Umbrella (Part 2)

Young woman with Blue Umbrella

 

Nama              : Dindon

Rating             : PG – 17

Length                        : Chapter/part

Genre              : Romance, drama, hurt

Main Cast                   : Lee Junho, Ahn Sohee, Choi Seunghyun

Support Cast              : Wooyoung, Min Jun, Chansung

Disclaimer                   : adakah yang menunggu part 2 dari FF ini???? *tengok kanan – kiri. Berdoa moga – moga aja ada yang mau baca FF saya yang sangat gaje ini. ya sudahlah dari pada saya banyak omong langsung aja di baca, dan berharap para reader yang baca meninggalkan Jejak untuk saya. Coment atau apapun bentuknya adalah wujud penghargaan yang paling berharga bagi yang nulis jadi mohon pengertiannya

Previous part: Part 1

 

 

Sohee masih terduduk di lantai kamar milik Seunghyun, menatap tiap kepingan kaca, keramik,  juga bunga yang terlihat jatuh berantakan di lantai. Kenapa namja itu tak membunuhnya saja?? setidaknya ia bisa mengurangi derita yang Sohee rasakan sekarang. Ini terlihat bukan seperti rasa kasihan Seunghyun padanya, tapi ini adalah sebuah penderitaan yang harus ia tanggung semakin lama. Sohee beranjak dari duduknya melangkahkan kaki telanjangnya keluar kamar, seakan ia tak perduli dengan pecahan – pecahan kaca yang mulai mereobek telapak kakinya. Sohee membiarkan tiap pelayan di sudut rumah menatapnya paling – paling ia menjadi topik pembicaraan di dapur seperti sebelum – sebelumnya. Ia memang wanita bodoh, ia tak pernah merasa bersyukur dicintai Seunghyun begitu dalam. Setiap yeoja di luar sana pasti akan berteriak kegirangan bisa ada didekapan Seunghyun barang semalam saja. Atau akan merasa iri bila membayangankan kehidupan mewah yang Sohee jalani sekarang.

Sohee menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur membiarkan luka yang ada di kakinya begitu saja, mungkin berharap kakinya mengalami infeksi atau apapun itu hingga Seunghyun tak tertarik lagi padanya – sebuah harapan yang terdengar sangat konyol. Tak ada yang mengerti tentang luka yang ia rasakan sekarang, bukan luka luar yang akan dengan mudah sembuh tapi ini lebih pada sebuah tekanan batin. Seunghyun menatap Sohee dari luar setelah ia mulai mengontrol emosi yang benar – benar sudah memuncak di hatinya. Ia menatap kaki gadis itu yang penuh darah, membiarkan sprei putih di tempat tidur yang ia tiduri itu terlihat bercak merah. Seunghyun berjalan masuk ke kamar Sohee mengambil kotak obat yang berada di almari kamar mandi. Seunghyun duduk di pinggiran tempat tidur, meletakkan kotak obat juga baskom berisi air di meja dekat tempat tidur. Ia menggulung lengan kemeja panjangnya lalu mulai mengusap perlahan kaki Sohee dengan handuk basah.

Sohee melirik namja yang ada di sampingnya mencoba menarik kakinya tapi sayang tangan Seunghyun lebih kuat darinya. Ia menatap dingin namja yang terlihat telaten merawat luka di kakinya itu.

“hentikan” tolak Sohee, tapi Seunghyun tak menggubirs dan terus membersihkan darah di kaki Sohee.

“aku bilang hentikan” ulang Sohee lagi, Seunghyun menghela nafas dalam lalu menatap yeoja yang ada di depannya.

“aku akan menceraikanmu” ujar Seunghyun akhirnya lalu beranjak pergi meninggalkan Sohee yang hanya diam.

Aku kembali lagi, setelah hampir satu tahun aku mulai menjejakkan kaki di lantai apartemenku lagi. Terlihat sedikit asing tapi aku yakin perlahan aku akan mengingatnya. Ada sesuatu yang tertinggal, ada hal yang tiba – tiba menghilang dari kenanganku. Ketika Wooyoung menanyakan tentang hari aku menghilang, seperti ada hal yang menyesakkan di dadaku. Aku tak mengingat apapun tentang hal itu, tak sedikitpun membuatku merasa ini lebih menyakitkan.

“sepertinya kita harus mengatur ulang ruangan ini” ujar Wooyoung sambil membersihkan meja tamu milik Juhno, membuat Junho tersadar dari lamunannya.

“uhuk.. uhuk..” Wooyoung terbatuk – batuk ketika debu – debu terlihat beterbangan mengisi ruangan.

“sepertinya kita butuh bantuan Chanana” sahut Juhno lalu membuka semua jendela yang ada di apartemen miliknya.

“ah… kau benar sekali” Wooyoung terlihat mengambil ponsel yang ia selipkan di saku jeans miliknya. Junho tersenyum kecil menyadari kehidupannya telah kembali, setelah sekian lama ia tertidur dan berkutat dengan berbagai selang di tubuhnya. Bukankah ini sebuah keajaiban??? Ketika semua orang mengatakan betapa menyedihkannya ia saat dibawa dokter Min Jun ke rumah sakit. Junho mengirup udara kota Seoul dari jendela apartemennya, merasakan oksigen mengisi tiap ruang kosong paru – paru miliknya yang berfungsi dengan baik lagi. Sesaat kemudian ia menghembusakn karbondioksida seperti mulai menghembusakan beban hatinya perlahan – lahan.

Sohee berdiri di depan pintu apartemen milik Junho, ia menghela nafas pelan lalu meletakkan kotak biru tua yang sedari tadi ia bawa di depan pintu apartemen Junho. Ia tersenyum kecil tapi sejurus kemudian kedua bola matanya berkaca – kaca, cairan bening terlihat meleleh di ujung kedua matanya. Ada banyak sekali hal yang ingin ia sampaikan pada Junho tapi ia sadar itu tak akan mungkin. Namja itu tak mengingatnya, sama sekali tak mengingatnya. Bahkan sebelum namja itu menderita amnesia, namja itu tak akan pernah mengingatnya. Sohee semakin terisak, tapi ia mencoba menahannya. Seperi menahan bongkahan es besar yang mulai meleleh di dalam hatinya. Sohee menghapus airmatanya pelan kemudian tersenyum tipis lalu beranjak dari tempat itu, meninggalkan semua kenangannya di kotak itu.

Chansung menghentikan langkahnya ketika ia berpapasan dengan Sohee, ia menatap yeoja itu lama kemudian menggeleng kepalanya pelan.

“sepertinya dia menangis” gumam Chansung lalu melanjutkan langkahnya lagi. Chansung menahan langkahnya menatap kotak biru tua di depan pintu Junho. Ia membungkuk memungut kotak itu lalu mengocoknya pelan sebelum akhirnya membuka knop pintu di depannya.

“hyung… seseorang meninggalkan ini” teriak Chansung ketika masuk ke dalam apartemen Junho.

Sohee

apa kau mengingatku??? Kurasa kau melupakanku –tertsenyum-

aku mungkin bukan bagian kecil dari masalalumu, tapi kau adalah bagian dari hidupku hingga sekarang.

Masih ingatkah kau dengan gadis yang menangis di ujung jalan ditengah hujan 4 tahun yang lalu??? Saat itu seorang pria dengan senyuman hangatnya menawarkan sebuah payung pada gadis malang itu.

Yeoja  yang sampai detik ini masih mengingat senyuman hangat itu.

Yeoja yang tiap detiknya merasa hangat meski sesulit apapun ia menjalani hidup.

Yeoja yang masih mengingat betul punggung basah namja itu ketika berlari.

 

 

 

Flashback.

Junho setengah berlari menuju minimarket 24 jam ketika rintik hujan mulai turun membasahi bumi yang akhir – akhir ini sedikit panas. Junho membenarkan letak tas miliknya sambil memilih beberapa kaleng minuman ringan di dalam mini market. Tatapannya teralihakan ketika hujan di luar turun semakin deras yang kadang di selingi kilatan petir. Ia berjalan menuju meja kasir sambil sesekali menatap keluar minimarket.

“ semuanya 2500 won” ucap penjaga kasir mengagetkan Junho.

“mau tambah payung??” tawar penjaga itu ketika melihat Junho membuka dompetnya, junho tersenyum kecil lalu mengangguk pelan.

“tambah 1500 won tuan, total semua 4000 won” lanjut penjaga kasir itu di ikuti tangan Junho yang menyodorkan beberapa lembar uang ke arahnya. Penjaga itu memasukkan beberapa barang Junho kekantung plastik lalu menyodorkan kembaliannya ke arah Junho.

“terima kasih” ucap penjaga itu di ikuti anggukkan oleh Junho. Junho membuka payung yang baru saja ia beli. Sebuah payung berwarna biru yang cukup menahan air hujan membasahi tubuhnya. Ia berjalan sedikit cepat tapi langkahnya terhenti ketika melihat seorang gadis terlihat meringkuk di dekat tong sampah. Suara tangis gadis itu tertelan bunyi hujan, ia beberapa kali menengelamkan wajahnya diantara lipatan tangannya. Sudut bibirnya berdarah dengan rambut berantakan yang sudah benar – benar basah oleh air hujan. Junho mendekatinya, menatap gadis yang masih meringkuk itu dengan iba.

“nona, apa kau baik – baik saja??” tanya Junho setengah berteriak di tengah rintik hujan, tapi gadis itu hanya diam.

“nona, sepertinya kau harus berteduh. Kau bisa kena flu nona” lanjut Junho, gadis itu tetap meringkuk dan masih menangis. Junho mendekat ke arah gadis itu, menarik tangan dinginnya membuat gadis itu mengangkat wajahnya.

“sepertinya kau lebih membutuhkan ini” ucap Junho sambil tersenyum ramah lalu meletakkan gagang payung ke tangan gadis itu. Sohee masih diam menatap sebuah senyum hangat penuh ketulusan dari namja yang ada di hadapannya.

“jangan menangis dan cepatlah pulang” lanjut Junho sambil berlari pergi meninggalkan Sohee yang masih menatapnya. Di pertigaan jalan Junho berhenti dan menoleh ke arah sohee ia tersenyum sebelum benar – benar menghilang.

Flasback End.

 

Sohee

Kau tahu ada seorang yeoja yang hampir tiap hari menemuimu, ia selalu menatapmu dari seberang jalan berharap untuk sekali saja kau memperhatikannya.

Memperhatikanmu yang tiap pagi selalu menenteng kopi panas.

Memperhatikan seorang namja yang tiap pagi selalu tersenyum ramah menyambut dunia. Senyuman yang seperti sebuah suplemen bagi yeoja itu.

Pernah yeoja itu mengenakan payung pemberian namja itu ketika hujan pagi tiba – tiba datang, berharap namja itu mengingatnya.

Setiap pagi yeoja itu memakainnya, berharap namja yang tak pernah ia tahu namanya itu sekali saja menatapnya.

 

 

Flashback

Sudah beberapa bulan terakhir Sohee berdiri di toko roti dekat apartemen Junho dengan menenteng beberapa potong roti, sebuah alasan yang selalu ia buat agar Seunghyun mengijinkannya pergi. Ia menatap namja itu yang selalu tersenyum mengawali paginya, ia selalu berharap untuk sekali saja namja itu melihatnya. Sohee menatap langit pagi yang sudah tak bersahabat, ia menunduk menatap payung biru pemberian Junho dulu padanya. Menimang – nimang apakah ia harus memakainya. Rintik hujan benar – benar turun, membuat Sohee akhirnya merentangkan payung yang sekarang ada di tangannya. Ia tersenyum tipis berharap dengan payung ini Junho mengingatnya. Tak lama Junho terlihat keluar dari gedung apartemennya dengan sedikit berlari, langkahnya terhenti ketika melihat seorang yeoja di ujung jalan merentangkan sebuah payung biru. Wajahnya tertutup sedikit tapi jelas Junho melihat senyum hangat gadis itu, ia menyibakkan sedikit rambut panjang hitam miliknya yang terlihat agak basah.

“cantik” gumam Junho tersenyum tipis lalu melanjutkan larinya sebelum hujan turun lebih deras.

Flashback End

Sohee

Payung itu akhirnya aku mengembalikannya, entah kau akan mengingatnya atau tidak.

Aku selalu berharap kita dapat bertemu lagi, meski ini terasa sangat tak pantas ketika aku  telah memberi banyak luka untukmu.

Tuan dengan senyuman hangat, aku menyukaimu sejak hujan 4 tahun yang lalu.

Hatiku berdebar kencang ketika kau menatap lembut mataku.

Hujan malam itu terlalu kencang, hingga mungkin kau takkan mendengarnya.

Suara detak jantungku yang bergemuruh ketika menatap senyumanmu.

Andai saja kita dipertemukan selayaknya yeoja bertemu dengan namja – namja lainnya, mungkin tak akan serumit ini.

Flashback.

Sohee masih meringkuk dengan payung di genggamannya, ia semakin terisak di tengah hujan yang semakin deras. Hujan yang mulai tertahan oleh payung biru yang hampir menutupi sebagian tubuhnya. Ia menangisi hatinya yang masih terus berdetak dengan kencang, kenapa ini sungguh tak adil untuknya??? Cinta pertama yang harusnya ia nikmati dengan senyum malu – malu tapi ia harus menguburnya dalam – dalam. Sohee semakin erat menggengam ganggang payung dengan kedua tangannya yang terlihat gemetar karena kedinginan. Apa yang harus ia pilih??? Ah… ia sadar ia tak punya pilihan apapun sekarang. Sohee beranjak berdiri dengan kaki yang terlihat gemetar. Bukankah appanya lebih penting daripada hatinya??? Lebih penting dari perasaannya. Sohee terisak dan terus terisak, tapi langkah kakinya tak mampu ia tahan dengan alasan seperti apapun.

“tuan dengan senyum hangat, bolehkah aku menyimpan senyumanmu itu dalam hatiku?? Senyuman itu selalu saja mendetakkan jantungku semakin kencang, tuan dengan senyum hangat ijinkan aku menjadikanmu cinta pertamaku” batin Sohee di tengah gerimis hujan yang semakin kencang.

Flasback End

Junho mencengkram gelas kopi yang ada di tangannya pelan, menatap toko roti yang ada di seberang jalan. Junho merindukkannya, ia juga sangat merindukkan senyumannya. Beberapa bulan ini Junho selalu menunggunya, menunggu gadis yang selalu berdiri cantik di seberang jalan. Gadis yang selalu menenteng sekantong roti juga sebuah payung yang sekarang Junho letakkan di dalam tas miliknya.

“apa aku tak boleh merindukanmu lagi?? Apa seperti ini cara kita saling menyampaikan perasaan??? Kau bahkan belum sempat mendengar pengakuanku” batin Junho sebelum beranjak pergi dari tempat ia berdiri.

 

 

TBC.

Nb : maaf kalo masih nyempil kata – kata mutiara, tapi jujur aja saya memang baru dan masih amatir jadi kadang butuh komen yang membangun dari kalian. Apa yang kurang atau apa yang harus di kurangi dari FF saya. Mungkin saya memang author Freelance yang cerewet tapi saya memang butuh banyak belajar dari kalian para Reader. Terima kasih banyak sebelumnya.

46 thoughts on “[FF Freelance] Young Woman With Blue Umbrella (Part 2)

  1. gatau kenapa gue kasian sma seunghyun :’ padahal gue ngarepnya dia bisa luluh mencoba cinta sama seunghyun u.u waks btw ceritanya bagus kok hehe

  2. Bagus kok thor…seruu cerita nya..kata katanya puitis banget.oh iyah si junho nya udah inget ya..waah jadi penasaran gmn merka ketemuan lagi n ngungkapin perasaan nya…

  3. ga tau kenapa aku lebih dapet feel nya sohee ama seunghyun…
    hihihi
    ceritanya seru bgt… walaupun junho baik tapi pengennya sohee ama seunghyun aja kkkk

  4. baca ini bikin aku ngerasa aku ini adalah sohee yg ngeliat senyuman hangat junho *plak* hahaha
    baca ini sedikit mengurangi kerinduan aku sama 2PM yg gak comeback2 :”
    ceritanya beneran bagus..
    tapi tapi kasian sama seughyun jg sih.
    makin ga sabar baca chap selanjutnya

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s