He’s Out of My League (Part 2)

A Story by Pseudonymous

Title: He’s Out of My League| Main Cast: 15&’s Yerin & JJ Project’s JB | Support Cast: 2PM’s Taecyeon & T-ara’s Jiyeon | Genre: Romance & Life | Length: Chapter | Rating: PG-11 | Disclaimer: Inspired by “She’s Out Of My League”, “That’s What I Am” & Miss D.D’s “Have A Good Life” | Previous part: Part 1

***

He’s Out of My League – Part 2

Dapat diprediksi dengan mudah, bahwa kejadiannya akan menjadi serumit ini. Jiyeon yang tidak terima soal tugas berpasangan itu—dia dipasangkan bersama Chansung, pemuda jangkung tukang tidur—melangkah tergesa-gesa menuju ruang guru. Dia mungkin masih bisa menerima Chansung menjadi pasangannya, tapi Jaebum dan Yerin? Sungguh sebuah lelucon untuknya.

Diikuti oleh kerumunan kawan-kawan lainnya, Jiyeon mengetuk pintu ruang guru dan beberapa saat kemudian, seorang guru muncul. Nichkhun, guru Matematika, membelalak terkejut saat menyambut wajah kusut Jiyeon dan para “sekutunya” di belakang.

“Ada apa ini?”

“Aku ingin bertemu dengan Guru Ok,” tukas Jiyeon.

Nichkhun melirik kerumunan di belakang Jiyeon. “Hanya kau saja?”

Jiyeon terlihat tidak sabar. “Di mana Guru Ok? Aku ingin bertemu dengannya.”

“Dia ada di..” Nichkhun menoleh ke belakang, tapi Jiyeon sudah berjalan melewatinya. “Hei!”

Jiyeon berjalan dengan tak acuh, menyeberangi beberapa meja guru yang kosong, menuju meja Guru Ok yang berada di pojok ruangan, tepat bersebelahan dengan jendela. Pria itu sedang menunduk, memeriksa tugas-tugas dari kelas lain.

“Guru Ok!” panggil Jiyeon dengan nada kesal yang tertahan.

Guru Ok mendongak. Pupil matanya melebar mendapati Jiyeon berdiri di hadapannya dengan raut muka tidak senang. Dia melirik Nichkhun yang berdiri tidak jauh di depan pintu, dan Nichkhun hanya mengedikkan bahu.

“Ada apa kau kemari?”

“Aku sudah melihat kertas pengumuman yang kau tempel di depan pintu kelas,” kata Jiyeon, melipat kedua lengannya di atas dada.

Guru Ok mengangkat alis dan melepas kacamatanya. “Dan?”

“Aku ingin protes.”

“Soal apa?”

“Soal nama-nama pasangan yang sudah kau tentukan.”

Guru Ok menggeram dan mengangguk. Dia menarik laci meja gurunya dan mengambil secarik kertas dari dalam. Kertas itu berisi nama-nama pasangan yang sudah dia tulis untuk tugas menulis itu. Guru Ok mencari-cari nama Jiyeon dan melihat nama gadis itu berada pada nomor urut sebelas bersama Chansung.

Okay,” kata Guru Ok, mendongak kearah Jiyeon. “Kau tidak suka berpasangan dengan Chansung?”

Jiyeon memutar bola matanya. “Ya, aku tidak suka. Tapi, aku lebih tidak setuju soal nama pasangan yang berada pada nomor urut sembilan.”

Guru Ok mengerutkan alis dan membaca daftar nama itu sekali lagi. “Jaebum dan Yerin?” Dia menatap Jiyeon selidik. “Memangnya ada apa?”

“Demi Tuhan,” erang Jiyeon, kesal. “Jaebum dan Yerin berpasangan? Mereka sama sekali tidak cocok, Guru Ok! Mereka itu..” Jiyeon terdiam. Wajahnya meringis, tengah berpikir akan mengatakannya saja atau tidak.

“Mereka kenapa?” desak Guru Ok.

“Mereka tidak pantas berpasangan!” kata Jiyeon. “Yerin tidak pantas berpasangan dengan Jaebum.”

Guru Ok mendesah dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Diam sejenak, lalu mencondongkan tubuhnya sekali lagi. “Okay, atas dasar apa kau sampai mengatakan hal ini, Nona Park? Mengapa kau mengatakan bahwa Yerin tidak pantas untuk berpasangan dengan Jaebum?”

Jiyeon meringis. “Yerin itu.. jelek.”

Wajah Guru Ok menegang. Rahangnya mengeras hingga garis dagunya kini terlihat jelas. “Lalu, jika dia jelek, apakah ini ada hubungannya dengan tugas menulis ini, Nona Park?”

“Memang tidak, tapi..” Jiyeon terlihat kewalahan.

“Sekali lagi kutegaskan padamu, Jiyeon,” tukas Guru Ok. “Ini tugas menulis, bukan kontes kecantikan atau pasangan untuk prom. Aku tidak peduli apakah pasanganmu tampan, cantik, atau jelek, jika tulisan kalian memuaskan, aku bisa memberikan kalian nilai ‘A’.”

“Tapi—”

“Jika kau berkenan, Nona Park,” desah Guru Ok dengan lelah. “Aku mempersilahkanmu untuk meninggalkan ruangan ini sekarang, karena aku masih punya banyak hal untuk diurus.”

Bibir Jiyeo berkedut dengan emosi. Dia menghentakkan sebelah kakinya, lalu berjalan meninggalkan ruangan. Eunjung, Sohee, dan yang lainnya sudah menanti di depan ruang guru dengan cemas.

“Bagaimana? Apa kata Guru Ok?” desak Eunjung, tidak sabar.

Jiyeon mengamati satu per satu wajah teman-temannya dan menggeleng. “Dia bilang tidak bisa diubah lagi. Sudah fix.”

Sohee menarik napas dengan tercekat. “Astaga, itu berarti Yerin dan Jaebum akan tetap..”

Hening. Untuk kesekian kalinya, kepala-kepala itu menoleh ke belakang, memerhatikan Yerin yang berdiri dengan canggung di barisan paling belakang. Bibirnya gemetar, terlihat ketakutan.

“Ya, benar,” sahut Jiyeon, tajam dan dingin. Matanya menyorot Yerin dengan sinis. “Mereka akan tetap berpasangan.”

Terdengar suara sahutan, “Wow” dan “Uh” dari kerumunan. Jiyeon mengerutkan bibirnya kearah Yerin dengan lagak mengancam. Bibirnya bergerak, membisikkan sesuatu ke udara. Awas saja kalau kau sampai macam-macam dengan Jaebum-ku.

***

Ketika bel pulang berdentang nyaring, Yerin berlari-lari kecil keluar kelas, mengejar sosok Guru Ok yang berjalan menyusuri koridor.

“Guru Ok!” serunya, di antara napas tersengal. “Guru Ok, tunggu!”

Pria itu membalikkan badan dan berhenti. “Ada apa?”

Yerin mengatur napasnya sebentar dan menghela napas panjang sebagai penutup. “Aku ingin bicara soal tugas menulis itu.”

Guru Ok mendesah, lalu mengedikkan bahu. “Apa kau juga ingin protes seperti Jiyeon?”

Yerin terlihat ragu, tapi akhirnya mengangguk dengan perasaan bersalah. “Maafkan aku, tapi aku sungguh tidak bermaksud untuk menolak berpasangan dengan Jaebum, hanya saja..”

Guru Ok mengangkat alisnya dengan antusias, menunggu Yerin menyelesaikan kalimatnya. Tapi, Yerin tidak melakukannya, melainkan hanya menundukkan kepala dalam-dalam. “Yerin?”

Yerin merengut dan menggeleng. “Maafkan aku, Guru Ok, tapi aku sungguh tidak bisa berpasangan dengan Jaebum.”

Guru Ok mendesah. “Bisakah kau jelaskan padaku, alasan kenapa kau menolak berpasangan dengan Jaebum?” tanyanya, lembut. “Apakah.. Jiyeon mengatakan sesuatu padamu? Apakah ini ada hubungannya dengan Jiyeon?”

Yerin menggigit bibirnya dengan ragu dan mengangguk perlahan. “Tapi, ini lebih dari sekedar itu,” tambahnya cepat. “Aku juga memang tidak ingin berpasangan dengan Jaebum. Aku merasa tidak yakin bisa bekerjasama dengannya.”

“Bagaimana kau bisa tahu jika kalian belum melakukannya?”

“Ya, tapi—”

“Dengarkan aku, Yerin,” kata Guru Ok seraya meletakkan kedua tangannya di pundak lusuh gadis itu. “Aku memasangkan bersama Jaebum untuk suatu alasan. Aku yakin kalian bisa bekerjasama, maka dari itu aku membiarkanmu berpasangan dengannya. Dan soal Jiyeon, jangan dengarkan dia. Aku sudah menegurnya dengan keras tadi, akan kupastikan dia tidak akan mengganggu kau dan Jaebum dalam tugas ini. Mengerti?”

Yerin masih belum mau mengangkat wajahnya, tapi dengan lembut Guru Ok mengangkat dagu gadis itu dan menatap matanya langsung. “Kau percaya padaku, kan, Yerin?”

Yerin memaksakan sebuah senyum. “Ya, Guru Ok.”

Okay.” Guru Ok menegapkan tubuhnya dan tersenyum lebar. “Aku harus pulang sekarang. Sebaiknya kau juga pulang sebelum kakekmu mengkhawatirkanmu. Okay?”

Yerin mengangguk samar dan mendesah panjang. Guru Ok berjalan meninggalkannya dan berjalan menuju luar gedung. Namun, begitu Guru Ok nyaris berhasil keluar dari gedung sekolah, Jaebum tahu-tahu muncul dari arah lain dan mencegatnya. Yerin mengamati wajah Jaebum yang terlihat lelah dan penuh oleh kerut merut akan rasa cemas. Jaebum berbicara sesuatu pada Guru Ok. Guru Ok sempat melirik Yerin sekilas, lalu kembali ke Jaebum. Dan saat itu, Yerin dapat dengan mudah menebak bahwa mereka pasti sedang membicarakan dirinya.

“Jaebum pasti juga sedang mengeluhkan pasangannya—aku,” gumamnya sedih.

***

Tuan Baek melirik Yerin yang duduk berseberangan dengannya di meja makan. Sedari tadi, Yerin hanya menggaruk-garuk nasinya dengan sumpit, tanpa berniat menyuapkannya ke dalam mulut. Pasti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, pikir Tuan Baek.

“Yerin?” panggil Tuan Baek, ragu.

“Hm?” Yerin hanya menggeram, tanpa memandang kakeknya.

Tuan Baek menundukkan kepalanya, menyetarakan garis matanya dengan Yerin. “Apa yang terjadi? Kau terlihat berbeda sejak pulang sekolah tadi.”

Yerin kali ini mendongak, meletakkan sumpitnya di atas meja, dan tersenyum kecil. “Tidak ada apa-apa.”

Tuan Baek mengerutkan alis. “Kau pikir kakek ini idiot, huh? Aku bisa melihat semuanya pada sikapmu,” keluh kakeknya. “Pasti terjadi sesuatu di sekolah. Ada apa? Ceritakan padaku.”

Yerin melipat kedua lengannya di atas meja dan mengerutkan bibirnya. “Kami mendapat tugas menulis dari Guru Ok hari ini,” ujarnya dengan suara lemah.

“Ah, Ok Taecyeon? Pria berbadan besar yang selalu bersikap baik padamu itu?”

Yerin mengangguk. “Dia memberi kami tugas berpasangan.”

“Lalu?”

Yerin menghela napas. Wajahnya terlihat lelah. “Aku dipasangkan bersama murid baru itu.”

“Oh, Changmin?” tebak kakeknya dengan asal.

“Bukan,” sungut Yerin. “Tapi Jaebum. Ingat? Murid baru yang berasal dari Amerika?”

“Ah, Jaebum!” seru kakeknya sambil mengangguk. “Ya, aku ingat. Lalu, kenapa jika kau dipasangkan bersama Jaebum? Apakah ada masalah?”

“Ya, masalah besar,” tukas Yerin dengan mata melotot. “Kakek tidak tahu bagaimana Jiyeon kembali menerorku karena aku berpasangan dengan Jaebum.”

“Eh?” Kakeknya menarik sudut bibirnya hingga menyimpulkan sebuah senyum yang aneh. “Ada urusan apa sampai Jiyeon harus menerormu seperti itu?”

“Karena dia menyukai Jaebum, Kek!”

Kakeknya mengedikkan bahu dan menggaruk-garuk makan siangnya dengan garpu. “Ya, kakek rasa dia hanya iri karena Jaebum lebih menyukaimu daripada dia.”

“Tidak, tidak,” Yerin menggeleng dengan wajah merah padam. “Jaebum tidak menyukaiku. Jiyeon hanya tidak senang karena Jaebum, pemuda yang dia taksir, berpasangan dengan gadis yang paling dia benci.”

Okay, okay,” kata kakeknya dengan nada lelah. “Jadi, bagaimana? Apakah kau akan protes soal ini kepada Taecyeon?”

“Aku sudah melakukannya, tapi dia bilang keputusan itu sudah tidak bisa dirubah,” lirih Yerin. “Guru Ok bilang dia yakin Jaebum adalah pasangan yang tepat untukku.”

Tuan Baek mengangkat kedua alisnya dan menghela napas. “Mungkin Taecyeon benar,” ujarnya dengan suara berat. “Mungkin Jaebum memang orang yang tepat untukmu.”

***

“Yerin, bisa kau bantu buangkan sampah ini untukku?” pinta kakeknya, menarik sebuah kantung hitam besar berbau amis dari arah dapur.

Okay.”

Yerin yang sedang bermalas-malasan di depan toko, dengan tanggap menghampiri kakeknya dan mengambil alih kantung sampah itu dari pria tua itu. Dia membawa kantung sampah itu dengan langkah terseret-seret menuju pembuangan sampah yang ada di luar toko. Begitu dia sampai di luar, seorang pria muncul dari dalam rumah sebelah—si tetangga baru. Pria itu ikut membeku di tempat saat matanya bertemu dengan Yerin.

“Hai,” sapanya ramah.

Yerin tersenyum canggung. “Hai.”

Pria itu meletakkan dua kantung sampah kecil yang dibawanya bergabung bersama kantung-kantung sampah lain di tempat sampah. Yerin ikut menyeret kantung sampahnya bersama kantung sampah pria itu dan berdiri menunggu.

Pria itu menepukkan kedua tangannya pada paha dan berkata lagi, “Kau tinggal di mana?”

“Aku?” Yerin mengetuk dadanya dengan jari telunjuk dan melanjutkan, “Aku tinggal di sana.” Dia menunjuk toko antik kakeknya.

“Ah,” Pria itu mengangguk dan senyumnya melebar. “Berarti aku adalah tetangga barumu, bukan begitu..” Pria itu berdeham.

Yerin tersenyum. “Yerin,” sambungnya.

“Ah, Yerin. Bukan begitu, Yerin?” Pria itu terkekeh. “Nama yang bagus.”

Yerin tercekat, merasa pernah mendengar kalimat itu sebelumnya.

“Namaku Seulong,” lanjut pria itu, mengacaukan pikiran Yerin yang sedang berusaha mengingat-ingat sesuatu. “Kau masih bersekolah, Yerin? Atau..”

“Ya, aku masih bersekolah,” sahut Yerin, cepat. “Aku masih duduk di bangku sekolah menengah, tahun terakhir.”

Pupil mata Seulong membesar dengan sorot antusias. “Oh yah? Kalau begitu umurmu tidak jauh berbeda dengan adik laki-lakiku.”

Yerin terkekeh. “Kau punya adik laki-laki?”

“Ya,” Seulong menoleh kearah rumahnya dan melanjutkan, “Tapi dia sedang keluar sekarang. Pergi bersama temannya, kurasa. Nanti akan kuperkenalkan dia denganmu.”

Yerin tersenyum. “Okay.”

Well,” Seulong menepuk tangannya. “Sepertinya aku harus masuk sekarang. Jika kau punya waktu, datanglah berkunjung ke rumah kami untuk minum teh.”

“Aku pasti akan berkunjung,” sahut Yerin, yakin.

Seulong tertawa kecil. “Okay. Sampai bertemu lagi, Yerin.”

Yerin melambai dengan malu-malu kearah Seulong dan memerhatikan wajah pria itu sekali lagi sebelum sosok jangkung itu menghilang di balik pagar yang menutup. Wajah Seulong, sekilas mengingatkannya pada seorang.

***

“Kau sudah bicara dengan Guru Ok?” tanya Jinwoon pada sosok Jaebum yang sedang duduk di lantai dengan gitar di pangkuannya.

Jaebum mendongak. “Soal apa?”

“Itu, soal pasanganmu. ‘Gadis Berkacamata’. Kau sudah protes?”

Jaebum memetik senar gitar milik Jinwoon. “Ya, sudah.”

Jinwoon memperbaiki posisi duduknya di atas tempat tidur dan bertanya, “Lalu, apa yang dikatakan Guru Ok? Apakah dia setuju jika kau mengganti pasanganmu?”

Jaebum menggeleng. Tidak terlihat kecewa dan sedih, tidak juga bahagia. “Guru Ok tidak mengizinkannya.”

Jinwoon mengerutkan sudut matanya dengan kecewa. “Ah, Guru Ok benar-benar tidak adil padamu.”

Jaebum melirik Jinwoon sekilas, mengedikkan bahu dan kembali memetik senar gitarnya. Jinwoon memandangi wajah Jaebum yang datar, tak acuh.

Ya, apa kau tidak peduli dengan tugas menulis ini?” hardik Jinwoon, agak kesal.

Jaebum mengerutkan alis. “Apa maksudmu?”

“Lihat, lihat!” Jinwoon menggerak-gerakkan telunjuknya di depan wajah Jaebum. “Kau cuek sekali dan tidak peduli soal tugas menulis ini. Kau seharusnya melakukan sesuatu.”

Jaebum mendesah, meletakkan gitarnya di lantai dan memandang Jinwoon dengan sorot mata lelah. “Memangnya kau ingin aku melakukan apa? Bukankah sudah kukatakan bahwa aku sudah meminta pada Guru Ok untuk mengganti pasanganku? Tapi, Guru Ok memang tidak menyetujuinya dan aku bisa apa?”

Jinwoon mendesah. Dia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan dan menggigit bibirnya. “Aku yakin seratus persen bahwa ‘Gadis Berkacamata’ itu sengaja mengatur semua ini,” gumamnya.

Jaebum mengangkat alisnya. “Sengaja mengatur semua ini?” ulangnya, tidak percaya.

“Tentu saja,” seru Jinwoon, berapi-api. “Apa kau tidak tahu bahwa Guru Ok sangat dekat dengan ‘Gadis Berkacamata’ itu? Mereka itu seperti ayah dan anak. Guru Ok selalu membela ‘Gadis Berkacamata’ itu. Dan sekarang,” Jinwoon mengusap-usap dagunya, matanya menyipit curiga. “Aku yakin bahwa ‘Gadis Berkacamata’ itu pasti yang meminta Guru Ok untuk bisa berpasangan denganmu.”

“Omong kosong!” tukas Jaebum. “Yerin tidak mungkin sepicik itu. Lagipula, untuk apa dia mengatur semua ini?”

“Astaga, Jaebum!” erang Jinwoon, mengutuk kebodohan Jaebum. “Apa kau tidak sadar bahwa kau sudah menjadi idola di sekolah? Gadis-gadis mengejarmu dan pria-pria iri padamu. Sementara ‘Gadis Berkacamata’ itu, dia tidak pernah dipedulikan oleh orang lain. Apakah kau tidak merasa bahwa dia hanya ingin memanfaatkan kepopuleranmu untuk membuat orang-orang menaruh perhatian padanya?”

Jaebum terdiam sejenak. Matanya bergerak gelisah, bergantian menatap gitar yang berbaring di lantai dan raut Jinwoon yang berusaha meyakinkannya. Wajah Yerin melintas sekilas di kepalanya. Apakah benar gadis sepertinya akan melakukan hal seperti itu?

“Tidak,” tegas Jaebum. “Tidak mungkin Yerin melakukannya. Dia bukan orang seperti itu.”

Jinwoon tertawa remeh. “Bukan orang seperti itu? Memangnya kau tahu apa tentang ‘Gadis Berkacamata’ itu? Apa kau sudah pernah bicara banyak dengannya? Aku saja yang sudah dua tahun ini sekelas dengannya tidak pernah melihatnya banyak bicara, selain duduk diam saja dengan buku-buku bodohnya itu.”

“Dia tidak membaca ‘buku-buku bodoh’, Jinwoon,” tegur Jaebum, agak kesal. “Dia membaca novel.”

“Ya, ya,” Jinwoon mengibaskan tangannya ke udara. “Terserahlah apa namanya.”

“Tapi aku tetap tidak percaya,” kata Jaebum, yakin. “Walau aku belum mengenalnya dengan baik, aku punya firasat bahwa Yerin bukan orang seperti itu.”

Jinwoon menghela napas. “Terserah kau sajalah.”

Jaebum mengedikkan bahu dan beranjak berdiri menuju pintu. Begitu dia ingin menekan gagang pintu, Jinwoon memanggilnya.

“Kau mau kemana?”

“Mengambil air,” sahut Jaebum.

“Tolong, ambilkan untukku juga, yah?”

Jaebum mengangguk. Dia menarik daun pintu dan berjalan selangkah keluar dari kamar. Tepat di ambang pintu, dia berhenti dan dengan ragu menoleh kearah Jinwoon.

“Jinwoon-ah!”

Kepala Jinwoon yang tadi tertunduk, membaca majalah otomotif, mendongak dengan cepat. “Apa?”

Jaebum menatap Jinwoon tajam dan berkata dengan suara dalam dan dingin, “Ngomong-ngomong, namanya Baek Yerin, Yerin. Bukan ‘Gadis Berkacamata’.”

***

Jaebum kesulitan mencari Yerin begitu dentang bel istirahat berbunyi. Begitu semua orang berbondong-bondong keluar kelas, Yerin menghilang begitu saja, entah kemana. Jaebum menunggu di depan toilet wanita dengan ragu, mondar-mandir di sana, tapi Yerin sepertinya tidak ada di sana. Dia mengitari kantin-kantin, namun juga tidak dapat menemukan gadis itu di mana-mana. Satu-satunya jalan keluar untuk menemukan Yerin adalah dengan bertanya. Jaebum mencegat tiga sekawan—Jiyeon, Eunjung dan Sohee—yang menyusuri koridor sekolah dengan terburu-buru.

“Apa kalian lihat Yerin?”

“Yerin?” Ketiganya mengerutkan alis. “Untuk apa kau mencarinya?” selidik Jiyeon.

“Ada yang ingin kubicarakan dengannya, soal tugas menulis ini.”

Ketiganya memutar bola mata dengan lagak berlebihan. “Brengsek, ‘Gadis Berkacamata’ itu,” bisik Jiyeon, lebih kepada dirinya sendiri. “Dia pasti puas bisa berpasangan dengan Jaebum.”

Jaebum memicingkan mata kearah Jiyeon. “Apa yang kau katakan barusan?”

“Ah, bukan apa-apa,” sanggah Jiyeon, cepat. “Kau mencari Yerin, kan? Kurasa dia berada di geek corner sekarang.”

Jaebum mengernyit. “Geek corner?”

“Tempat di mana orang-orang ‘terbuang’ berada,” jelas Eunjung. “Dia biasanya berada di sana, bersama teman-temannya yang aneh.”

Hati Jaebum mencelos saat mendengar perkataan sinis Eunjung. Jahat sekali, batinnya.

Geek corner berada di belakang gedung sekolah,” tambah Sohee. “Kau bisa menemui Yerin di sana.”

Okay,” kata Jaebum, ingin cepat-cepat mengakhiri obrolan mereka bertiga. “Terimakasih.”

Begitu Jaebum hendak berlari, Jiyeon menarik tangannya, mencegat pemuda itu untuk pergi. “Jaebum,” panggilnya.

“Ada apa?” tanyanya, berusaha terdengar tidak kesal.

“Jika kau memang terpaksa harus bertemu dengan Yerin, satu hal yang kuminta darimu,” ujar Jiyeon.

“Apa itu?”

“Jangan pernah melangkahkan kakimu masuk ke dalam wilayah geek corner atau.. orang-orang juga akan menganggapmu aneh.”

***

Jaebum mengikuti arah yang ditunjukkan Sohee, menuju gedung belakang sekolah. Dia berhenti melangkah saat melihat sebuah taman kecil dengan beberapa bangku kayu nyaris lapuk di tengah-tengah taman, sesak oleh para ‘orang-orang aneh’ yang disebut oleh Eunjung. Jaebum menelan ludah dengan suara keras, dan beranjak maju dengan ragu. Dia memandangi satu per satu wajah-wajah berkacamata di hadapannya dengan kerutan di alis.

Orang-orang di sana tidak benar-benar terlihat aneh. Hanya ada beberapa orang yang terlihat lebih tinggi daripada anak-anak seusianya, orang-orang bertubuh gemuk, sisanya adalah orang-orang berkacamata tebal dengan rambut disisir klimis. Jaebum mendongak, mencari-cari sosok Yerin di antara mereka. Gadis itu rupanya sedang duduk di bangku kayu lainnya, memunggungi Jaebum dan menunduk membaca buku. Jaebum melangkah lagi, namun secara naluriah berhenti saat ujung sepatunya menyentuh batas antara rumput taman dan teras gedung sekolah.

“Yerin!” panggilnya. “Yerin!”

Saking terhanyutnya dalam cerita, Yerin sampai-sampai tidak sempat menoleh kearah Jaebum. Dia hanya menunduk dan terus membaca. Jaebum mengerang kecewa. Dia menggertakkan kakinya dengan gemas.

“Yerin!” panggilnya, lebih keras.

Semua pasang mata yang berada di geek corner menoleh kearahnya. Mata-mata itu memandang Jaebum curiga, takjub, juga heran. Bisikan-bisikan kecil mulai terdengar. Jaebum memandangi sekelilingnya dengan perasaan horor. Yerin yang tidak sengaja mendengar bisikan-bisikan di sekitarnya, mengangkat kepala dan menoleh. Dan begitu Jaebum melihat kearahnya, gadis itu terperanjat saat pemuda itu melambai riang kearahnya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Yerin, menghampiri Jaebum.

Jaebum mendesah lega, terlihat santai setelah orang-orang di geek corner itu berhenti berbisik-bisik dan memandanginya saat Yerin mendatanginya. “Aku ingin bicara denganmu, soal tugas menulis itu.”

Hati Yerin berubah panik. Dia nyaris lupa punya masalah dengan tugas menulis itu. Yerin mengerutkan bibir, berusaha tidak menunjukkan rasa tegang dan panik yang tengah mengerubungi hatinya. “Soal itu..”

“Apa kau punya waktu saat pulang sekolah nanti?”

“Hm..” Yerin menggumam lama. Dia seharusnya tidak perlu berpikir lama, karena dia tahu sepulang sekolah dia hanya akan membantu kakeknya menjaga toko, selebihnya adalah tidur siang.

“Apa kau sangat sibuk?” tanya Jaebum.

“Begitulah,” sahut Yerin, berbohong.

Hening. Yerin memandangi Jaebum lamat-lamat dan menunduk menatap ujung sepatu Jaebum, lalu beralih lagi menatap wajah pemuda itu. Jaebum ikut menatap ujung sepatunya dan mendongak menatap Yerin yang menatapnya tajam. Jaebum mengerjap ketakutan saat melihat Yerin menyorotnya dengan tajam. Satu tatapan yang membuat nyalinya langsung menciut.

“Karena aku tidak punya cukup waktu untuk berdiskusi denganmu,” kata Yerin, akhirnya—mencoba mencari-cari alasan. “Biarkan aku mengerjakan tugas menulis ini, sementara kau tinggal mengumpulkannya saja.”

Jaebum mengernyit. “Kau ingin mengerjakannya seorang diri?”

Yerin mengangguk. “Ya, tapi tenang saja, akan kujelaskan pada Guru Ok bahwa kita mengerjakannya bersama.”

“Tidak,” tukas Jaebum. “Aku tidak mau seperti itu. Aku ingin kita bisa bekerjasama. Ini tugas berpasangan.”

Bekerjasama? Kau ingin kita bekerjasama?” Yerin meringis. Dia menunduk menatap ujung sepatu Jaebum lagi dan mendesah. “Sebaiknya kau bertanya kepada dirimu sekali lagi, apakah kau memang benar-benar ingin bekerjasama denganku atau tidak?”

Darah Jaebum berdesir. Dia mengerti betul apa yang sedang dibicarakan Yerin. Dia ingin membela diri, ingin mengatakan bahwa dia bukan orang-orang seperti Jiyeon dan yang lain. Tapi, mulutnya kaku, lidahnya keluh. Dia ingin memberontak, tapi tubuhnya tidak mengizinkan. Dan saat Yerin memandanginya penuh harap, dan menunggu, Jaebum tetap tidak mengatakan apa-apa.

“Aku harus kembali,” kata Yerin, mendesah. Terlihat kecewa. Dia membalikkan badan, lalu kembali bergabung bersama teman-temannya, meninggalkan Jaebum dengan setumpuk rasa bersalah.

***

Guru Ok melintas di depan koridor sekolah yang telah sepi dan mendapati Jaebum duduk di bangku panjang yang ada di koridor, seorang diri. Pemuda itu terlihat frustasi, putus asa, dan kosong. Di tangannya ada sekaleng Coke. Jaebum meringis, mencoba menarik keras sirip kaleng dengan tenaga yang ada, tapi pemuda itu memang merasa sedang tidak bertenaga. Dia menghela napas dan membanting kaleng Coke-nya di bangku dengan kesal.

Guru Ok tersenyum samar, dan menghampiri Jaebum. Dia duduk bersama pemuda itu dan meraih kaleng Coke yang belum terbuka. Ditariknya sirip kaleng itu dalam satu sentakan dan suara mendesis dari soda menguar ke udara. Jaebum memandangi Guru Ok dengan takjub.

“Terimakasih,” ucapnya saat Guru Ok mengembalikan Coke itu padanya.

“Sama-sama.”

Jaebum memandangi kaleng itu beberapa saat, lalu meneguk sodanya dengan cepat. Mata terpejam rapat saat cairan soda itu menusuk-nusuk tenggorokannya. Guru Ok memerhatikan tingkah Jaebum dengan selidik.

“Apa yang terjadi?” tanyanya. “Kau terlihat tidak bersemangat hari ini.”

Jaebum mendesah panjang, menggoyang-goyang Coke-nya untuk mengecek sisanya, dan terdiam.

“Apakah terjadi sesuatu?” desak Guru Ok, terdengar tidak sabar.

Jaebum memicingkan mata, meletakkan Coke­-nya ke bangku dan menggaruk tengkuknya. “Soal tugas menulis itu..”

“Yerin?”

“Hm,” Jaebum mengangguk.

“Kau sudah mengajaknya bicara?”

“Sudah,” lirih Jaebum. “Tapi, dia sepertinya tidak ingin bekerjasama denganku.”

Guru Ok mengangguk-angguk, seolah sudah bisa menebak bahwa akan seperti ini kejadiannya.

Jaebum melirik Guru Ok yang tidak kunjung berkomentar dan meringis kecewa. Jaebum menyambar Coke-nya lagi, dan meneguknya dengan cepat hingga tandas. Setelah isinya habis, Jaebum mencengkeram kaleng itu hingga berderak dan melemparnya ke tempat sampah terdekat. Lalu, suasana kembali hening.

“Guru Ok,” panggil Jaebum dengan suara pelan.

“Hm?”

“Kenapa Tuhan melakukan hal ini pada Yerin?”

Guru Ok beralih menatap Jaebum. “Melakukan apa?”

Jaebum meringis lagi dan mengedikkan bahu. “Semua hal ini. Bagaimana orang-orang lebih mengenalnya sebagai ‘Gadis Berkacamata’, geek corner, orang-orang aneh..” Jaebum mendesah. Dia mendongak kearah Guru Ok dan mengulang pertanyaannya, “Kenapa Tuhan melakukan hal ini pada Yerin?”

Guru Ok mengangkat kedua alisnya dan menghela napas. Guru Ok menjilati bibirnya dan menggumam dengan mata memicing, “Mungkin karena Tuhan memang merasa tidak ada yang salah dengannya.”

Jaebum mengerutkan alis. “Apa maksudnya?”

Guru Ok mengedikkan bahu. “Tuhan tidak melihat kekurangan apa pun pada Yerin dan orang-orang sepertinya. Mereka semua sama saja di mata Tuhan dengan orang-orang seperti Jiyeon dan dirimu.”

Pupil mata Jaebum melebar dengan antusias. Guru Ok bangkit berdiri, tersenyum hangat kearah Jaebum, dan menepuk pundak pemuda itu beberapa kali.

“Untuk itulah aku membiarkanmu berpasangan dengan Yerin,” ujar Guru Ok. “Karena aku tahu bahwa kau punya sudut pandang yang sama dengan Tuhan.”

To be continued…

31 thoughts on “He’s Out of My League (Part 2)

  1. Akhirnya part 2 keluar ^0^
    Masih pengen tau kenapa JB semacem ga mau pasangan sama Yerin, terus di akhir”nya mau ngerjain tugas bareng gitu ._.
    Suka banget sama yang diomongin Taecyeon pas terakhir”an ><
    Ngerasa kasian juga sih sama Yerin, semacem diintimidasi sama Jiyeon dkk..
    Ditunggu next partnya Eonnie!

    • masalah kenapa JB di awal terkesan nggak mau dipasangin sama Yerin, tapi ujung-ujungnya ngajakin Yerin duluan ngerjain tugas, itu emang disengaja & nanti akan terungkap pada part-part terakhir. 🙂 tungguin aja yah hehe.

  2. aq seneng biarpun yerin srng d bully sm tman2ny, tp dy msh pnya malaikat plindung dskolahanny, sang guru ok.. tmbah lg,, jaebum ikut2an ngebelain yerin skrg.. aq suka kalimat trakhr dr guru ok.. moga jaebum gk trmakan ma omongan buruk tmn2ny..

    Jd mrk bneran ttanggaan,, gmn jd nya klo mrka tau y?? Makin dkt aj ntr pasti.. Pnasaran, lanjt dong.. Jgn lma2..

  3. ini.. semacem.. emosi sendiri bacanya–Jiyeon apa banget lah -__-
    Cepet Nextnya ya Un.
    ntar ceritanya ketemuan gitu deh didepan rumah. haha

  4. Hoo maksudnya JB itu sudut pandangnya sama ke semua orang..ga ada si jelek ato si cantik..
    kekekeke~ tapi tu anak kenapa galau juga di pasangin sama Yerin??Karena bujukan si Jinwoon yah??ato karena susah dideketin? Ah masa nyerah duluan ><

    Lah pake acara ada Geek Corner segala..kayaknya kesenjangan sosialnya kerasa banget yah disini…ckckckckckck

  5. Lol part ini banyak diskriminasi nih wuahahahhahahahaha
    Chansung pemuda jangkung kurang tidur, taecyeon guru berbadan besar o.O, trio jiyeon-eunjung-sohee para bermuka judes hahahah

    Erggh Ong mukanya kaya sapa hayo twin? ih twin kepoo deh 😛 Blushing banget pas di geek corner itu, semacam kata-katanya Yerin itu telak banget buat JB ❤
    "Jaebum mengerjap ketakutan saat melihat Yerin menyorotnya dengan tajam. Satu tatapan yang membuat nyalinya langsung menciut." Ciee kayak tatapannya Yerin berhargaaa banget gitu buat JB awwwwww

    Baru nyadar juga di twitter-real life Yerin sama Taecyeon dekkeeett banget gitu ❤ ❤ dan Taecyeon ada bakatlah dengan muka dan fisikmu untuk jadi guru idaman :")

    Oke, janji dukung terus OTP baru yang unyuuu iniii ❤

    • ah, Ong nggak mirip emang sama JB, tapi aku jadiin mereka kakak-adik gara-gara punya marga yang sama 😀 haha jadi anggap aja deh yah mereka mukanya rada-rada mirip hehe.

      bener banget! Taec sisi kebapakkannya (?) lagi keluar akhir-akhir ini, semenjak JYPE ngebrojolin (?) dua bayi baru, Ayeon sama 15&. Taec perhatian banget sama mereka XD ah, pokoknya suka gemes sendiri kalo Taec udah ngeluarin tweet-tweet perhatiannya sama dua baby barunya JYPE hehe.

      • Sama-sama Im gitukah? wahahahaha bakal sulit ._.)9

        Iya abang ini kek rajiin banget mention mereka >,,,< unyu banget gitu liatnya aww
        eonni, tag nya tambahin 2PM sama Taecyeon dong, part dia kan juga
        banyak. alesannya sih, sebenernya yg mau baca ff eonni itu banyak dan taunya eonni ini langganan 2PM, pasti mereka page pertama yg dikunjungi "2PM" dan banyak yang gak merhatiin home dengan seksama. Hahaha semoga komentnya buanyaakk ya. INGAT AKU SETIA MENUNGGU

      • wah, nggak bisa, saeng. 🙂
        yang boleh ditag hanya main cast aja. kalo ntar support castnya ditag, terus ada readers yang baca & pas buka, dia kecewa karena ternyata biasnya cuma jadi support cast, bukannya main cast hehe. jadi mending main cast aja yang ditag hehe.

  6. wow, scene terakhir paling okeeeh!!
    hadeh, jiyeon and the gang kok kejem bgt sih?! -___-
    kenapa ngebayangin tuan Baek yg terlintas JYP appa?? hahaha

    lanjtin thor~ ditunggu~

  7. jadi makin naksir sama jaebum .______. Jiyeon dpt bgt lah jutek dan antagonisnya. Tapi eunjung bukannya agak ketuaan kalo jd temennya jiyeon? But it’s ok sih hehe ceritanya bagus. waiting for the next chapt~

  8. Hua~~~
    Jaebum n Yerin .. Kapan ngerjain tugas nya yah??
    Oh ya jaebum itu tetangga nya yerin dong? Soalnya im seulong kan kakak nya jaebum!
    Arrgghh!!!!
    Next Part ditunggu!
    Cpetan ya thor penasaran nih *maksa*

  9. Awalnya saya agak bingung kenapa author memasangkan Jaebum&Seulong jadi kakak adik karena wajah mereka sama sekali gak mirip. Dan saya baru sadar kalo marganya sama.__.v

    Saya ketawa sendiri ngebayangin wajah Jiyeon yang kebingungan mencari-cari alasan di depan guru Ok dan yang keluar malah kalimat “Yerin itu… jelek.” Disini rasa penasaran saya makin menjadi, kenapa sih guru Ok perhatian banget sama Yerin dan terlihat marah waktu Jiyeon bilang Yerin jelek?

    Lanjut ke chapter selanjutnya, ah~

  10. guru OK deket banget ya ama yerin? oke oke, aku udh mulai paham di part yang ini, haha, lucu juga ya jiyeon protes ke Taecyon tentang yerin, memangnya Yerin jelek ya? menurut aku nggak kok, lanjuut part selanju]tnya

  11. huaa, mau tau dong itu jb ngomong ke guru ok nya gmn yg ttg protes tugas pasangan itu. “Geek corner” baca kalimat itu serasa kya baca novel terjemahan haha, jiyeon emg cocok jadi peran antagonis, dari mukanya aja udh mendukung. aku nggak bisa coment kritik soalnya ini udh seperti baca novel yg ratingnya udh mendunia hehe. klu misalnya author bikin novel bisa aja novelnya author bakal melejit, lanjut part selanjutnya 😀

  12. unn nama couple yerin dan JB apa? mereka terliat cocok dalam FF ini dan aku menyukai tokoh tokohnya. walaupun ada yg nggak aku suka.. -___- dan sohee jngn jadi org jahat.. 😥 mukanya terlalu polos… hahha tpi semuanya keren alur, kata katanya aku suka… simple tapi menakjubkan :))

    • nama couple JB & Yerin? wah, belum ada haha.
      ini juga murni random pairing kok, dipairing hanya karena mereka sama-sama dari duo & sama-sama punya sifat pemalu hehe.
      haha, maaf yah, aku juga nggak mau Sohee jadi antagonis, tapi karena butuh tokoh antagonis, jadi milih Sohee jadi peran antagonis soalnya mukanya rada judes gitu wkwk *digampar*

  13. yah….meski bukan JJ couple yg jadi main castnya tapi karena ini kebanyakan artis JYPN,jadi suka aja sama alurnya…bang Taec jadi guru ?? cocok juga kok…

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s