[Part 3] Because I Love You (Waiting Of Love)

Author: Kim Key94 (Keyindra)

Genre: Romance, Angst, Sad

Cast:              

Park Jiyeon ‘T-ara’

Baek Suzy ‘Miss A’

Kim Myung Soo ‘Infinite’

Kim Yesung ‘Super Junior’

 

Lenght: chapter

Rating: PG 16

Disclaimer: FF ini aku terinsiprasi dari seorang Elfishsparkyu. Jeongmal gomawo untuk Elfishsparkyu yang telah menciptakan karya yang menginspirasi ini karena idenya bisa tercipta FF ini. Tokoh dan lain – lainnya murni milik Tuhan Yang Maha Esa. Jadi jangan heran kalau ada readers yang pernah baca.

SILAHKAN MEMBACA GRATIS!!!!!…

Part sebelumnya: ||Part 1||   ||Part 2||

*****

aku akan menunggu hingga sebisa mungkin aku mencintaimu, walau sangat sakit menantimu…..

Hari mulai memasuki waktu senja. Matahari pun sudah bergeser daritempatnya menyisakan watna kejinggaan diufuk barat langit yang sedikit tertutup oleh awan. Seorang namja tengah resah menunggu kedatangan seseorang. Ia terlihat gusar dan mondar – mandir mengitari taman kecil didepan rumahnya yang bisa dikategorikan sedikit mewah ini.

“Suzy –ah. Apakah kau sudah menghubungi Jiyeon?. Kapan ia akan mengatar Jisoo pulang?. Kenapa mereka tak kunjung datang?.”

suzy yang sedari tadi duduk tenang didepan teras rumahnya hanya bisa menghela napas pelan dan perlahan menhembuskannya. “tunggulah sebentar Myungsoo oppa. Sebentar lagi Jisoo akan pulang.” Ucap Suzy mencoba menangkannya. Suzy tak habis pikir kenapa Myungsoo bisa seresah dan gelisah seperti ini?. karena menunggu Jisoo? Atau menunggu Jiyeon?. Suzy segera menyadarkan pikirannya dan menepis semua pemikiran ketakutannya itu. Mengingat hubungan Jiyeon dan Myungsoo, dua insan yang dulu pernah terikat suatu hubungan yang sakral  rasanya wajar jika ia turut gelisah.

Pikiran Suzy menebak dengan benar. Benarkan?. Tak lama kemudian sebuah mobil audy berwarna hitam tengah melaju secara perlahan dan akhirnya menepi pelan didepan rumahnya. Ia tak heran jika kehidupan Jiyeon bisa semewah itu, jadi pantas saja dulu hubungan mereka tak direstui oleh keluarga Jiyeon hanya karena perbedaan status sosial yang sedikit jauh. Tapi sekarang keadaannya telah berbeda, Myungsoo kini sudah mampu menyamai kehidupan Jiyeon dan tak menjadi pecundang yang bodoh.

Jisoo akhirnya segera turun dari sana diikuti Jiyeon yang turun dibelakangnya serta seorang pria asing yang ada dibalik kemudi.

Myungsoo memincingkan matanya, melihat seksama laki – laki itu. Awalnya ia kira itu adalah Jungsoo Hyung, kakak laki – laki Jiyeon. Ternyata bukan. Lantas siapa?.

“appa..eomma, tadi aku berjalan – jalan bersama Jiyeon ahjumma dan Jongwoon ahjussi. Kami bertiga bermain dan berfoto bersama di Lotte World. Aku senang sekali.” Jisoo berlari  kecil menghampiri Myungsoo dan memeluknya erat. Diikuti Jiyeon yang berjalan bersama Yesung dibelakangnya.

“apa aku telat mengantarnya pulang?. Tadi kami bertiga pergi ke Lotte World hingga lupa waktu. Jiyeon berusaha bersikap sedatar mungkin. “Suzy-ah, tadi baju Jisoo terkena es krim. Maaf kami lancang memberikannya pakaian baru. Karena pakaian Jisoo sudah sangat kotor sekali.” Ujar Jiyeon.

“anii. Gwenchana.” Suzy tersenyum tipis berusaha menutupi rasa perih dihatinya ketika melihat Jiyeon. “Jisoo, kajja masuk kedalam. Kau pasti lelah bermain dengan ahjussi dan ahjumma.” Ajak Suzy.

Sedari tadi Myungsoo diam membisu mengamati Jiyeon dan seorang laki – laki disampingnya. Sepertinya ia mengenal sosok laki – laki itu.

“sajangmin Kim.” Spontan Myungsoo mengeluarkan kata – kata itu. Ia sedikit terkaget mendapati direktur yang tengah bekerja sama kini berada tepat didepan matanya.

Jiyeon beralih menatap Yesung yang sedari tadi menampakkan mimik muka keheranannya terhadap kondisi yang kini berada didepan matanya. Mungkinkah ia mengenal Myungsoo?.

“ne, Myungsoo-sshi. Kita bertemu lagi.” Jawab Yesung datar. Laki – laki ini bahkan tak menampakan sebuah ketidaksukaan terhadap sosok Myungsoo yang ia ketahui adalah mantan suami Jiyeon dan juga ayah kandung putri Jiyeon. Justru ia tersenyum ramah.

Suzy yang melihat bertiga melihatnya dengan tatapan heran. Lantas ia berniat menuntun Jisoo untuk masuk dan menjauh dari mereka bertiga. Namun Myungsoo seakan mencegahnya dengan berucap pelan.

“Jisoo-ya, apa kau tak berpamitan dan berterimakasih pada Jiyeon ahjumma?. Perintah Myungsoo yang merasa sedikit canggung dengan Yesung. Mungkinkah?. Myungsoo mencoba menerka semunya. Yesung adalah suami Jiyeon?.

Jisoo mengangguk lalu melepas genggaman tangannya pada Suzy dan tergesa – gesa menghampiri Jiyeon. “gomawo, ahjumma. Ahjumma adalah bidadari pelindung Jisoo. Aku sayang padamu.” Ucapnya lalu mengecup pipi Jiyeon sekilas. Buru – buru ia kembali pada Suzy lalu berlari masuk kedalam rumah.

Ada rasa pedih nan tersayat dihati Suzy yang coba ia sembunyikan. Rasanya ia wajar jika ia kalut dan takut akan keberadaan Jiyeon. Takut kehilangan apa yang ia miliki saat ini. Ia takut jika apa yang ada dipikrannya selama ini akan terjadi. Akankah Jiyeon kembali pada Myungsoo?.

“Jiyeon-ah. kutunggu kau dimobil. Annyeong Myungsoo-sshi.”

“baiklah aku harus pulang.” Pamit Jiyeon pada Myungsoo yang masih saja sulit untuk menatap matanya, masih saja ada peraaan canggung diantara keduanya.

“tunggu.” Cegah Myungsoo menarik pelan pergelangan tangan Jiyeon. “apakah itu suamimu?. Dan  apakah namanya adalah Kim Jongwoon?.” Tanyanya. Itulah yang kalimat yang ia ingin keluarkan dari mulutnya yang sedari tadi mengganjal hatinya. Mungkin sedikit lancang ia mengusik kehidupan Jiyeon dimasa kini, mengingat ia bukanlah siapa – siapa lagi didalam hidup Jiyeon.

“bisakah kau melepas tanganmu ini. Jongwoon oppa, suamiku.” Jawab Jiyeon sedikit risih namun  tetap lugas.

Seketika hati Myungsoo tak menerima menyergap atas perkataan Jiyeon. Ia tersenyum getir seakan hatinya merasakan sakit itu kembali. Apakah pantas ia cemburu terhadap Jiyeon, Jiyeon bukan siapa – siapa lagi dikehidupannya. Tapi inilah yang terjadi.

“apakah aku berhak untuk cemburu?. Tanyanya. Tapi itu terlihat seperti gumamnnya sendiri. Tapi telinga Jiyeon mendengar jelas apa yang dikatan oleh Myungsoo dan Jiyeon pun langsung menggeleng.

“kau tak pantas cemburu. Cemburumu tidak pada tempatnya dan tanpa alasan yang logis.” Ucapnya memincingkan mata sambil berucap sinis.

“permisi.” Jiyeon lekas berbalik arah lalu pergi.

Jiyeon melangkah tertatih pelan membawa luka hatinya sendiri. Lalu lekas tersenyum menarik kedua ujung bibirnya melengkung tipis walaupun menghadapi kenyataan sepahit ini. Ia sadar jika ini adalah masa depan, dan kini sudah ada laki – laki yang mencintainya sepenuh hati. Dan satu lagi ia bukanlah serorang remaja pada saat itu yang hanya bisa meluapkan emosi dihatinya lewat tangisan yang mengeluarkan air mata. Tapi ia harus tersenyum menghadapi semua kenyataan ini meski hatinya menganga terluka dalam.

*****

Next day….

“apa Suzy tahu jika kita pergi bersam bertiga?.” Tanya Jiyeon memastikan. Tentu saja ia ragu saat ia harus pergi bersama Myungsoo beserta Jisoo. Hanya bertiga layanyaknya sebuah keluarga kecil. Bahagiakan kini mereka berdua melihat ada orang yang tersakiti oleh mereka berdua?.

“aniyo. Suzy tak mengetahui jika kita pergi bertiga.”

“wae?. Dia itu istrimu Myungsoo oppa?.” Jiyeon menekankan kata istri agar ia tahu jika Suzy juga wanita yang layak untuk dicintai.

Myungsoo justru tersenyum tipis menanggapinya. “ aku kira kau sudah lupa untuk mendengarkanmu memanggilku oppa.”

“maaf. Aku terlalu lancang Myungsoo-sshi, tak pantas aku memanggilmu seperti itu.” Ucap Jiyeon sedikit ketus. Ia tak mau terjatuh kembali dalam kenangan masa lalunya kembali setelah bertahun – tahun lamanya ia menguburnya.

“gwenchana.” Myungsoo memperhatikan adegan didepannya, Jiyeon tengah menyuapi cake ke mulut Jisoo. Ia tersenyum penuh arti, inilah ternyata yang selama ini ia inginkan. Sebuah pemandangan keluarga yang harmonis antara dirinya dan Jiyeon serta  Jisoo berada ditengah – tengah mereka berdua. Ini bukan mimpi melainkan kenyataan.

“appa, kenapa melihatku dan Jiyeon ahjumma seperti itu?.” Tanya Jisoo yang tertawa sendiri melihat raut wajah Myungsoo yang sedari tadi tersenyum sendiri.

Merasa ketahuan Myungsoo lekas ikut tertawa pula. “ kau senang Jisoo?. Tanya Myungsoo mengelus kepala Jisoo yang berada dihadapnnya.

Jisoo mengangguk mengiyakan. “ne, andai saja eomma bisa ikut bergabung dengan kita pasti Jisoo lebih senang lagi. Celoteh bocah kecil itu senang.

Jiyeon terdiam seketika. Ia sadar jika kedatangannya ini tak diharapkan oleh Jisoo. Jiyeon tahu persis didalam hati Jisoo, Suzy adalah eomma yang berarti baginya.

“Jisoo-ya, bisakah kau memanggil Jiyeon ahjumma dengan sebutan eomma.” Perintah Myungsoo.

“aniyo appa, Jiyeon ahjumma bukan eommaku. Ia hanya bidadari pelindungku. Eommaku hanya Suzy eomma bukan Jiyeon ahjumma.” Jawab Jisoo cepat

Hati Jiyeon merasakan sakit sekali, ia menunduk pedih. Ia tahu jika Jisoo masih berumur 6 tahun dan masih terlalu polos untuk mengetahui semuanya. Bagaimanapun juga dalam pemahaman Jisoo. Seorang eomma adalah seseorang yang membesarkan dirinya sejak bayi serta seseorang yang selalu ada saat Jisoo membutuhkannya. Dan itu adalah Suzy, Bae Su Ji.

“Jisoo-ya. Dengarkan appa!. Panggil Jiyeon ahjumma eomma.” Ulang Myungsoo lagi. Jiyeon tak percya jika Myungsoo sengotot ini agar Jisoo memanggilnya eomma.

Jisoo menggeleng dan sedikit meninggikan suaranya. “aku tak mau appa!. Eomma Jisoo hanya Suzy eomma. Tak ada yang lain!.” Jisoo pun lalu beralih pada Jiyeon yang sedang menunduk.

“ahjumma. Ahjumma tahu kan jika eomma Jisoo hanya Suzy eomma bukan ahjumma?.”

“ne. Ahjumma tahu. Sudahlah Myumgsoo-sshi, tak apa. Jisoo masih terlalu kecil untuk mengerti keadaan sekarang ini.” sahut Jiyeon. Ia tahu jika posisinya sekarang tak punya ariti dihidup Jisoo.

“mianhae.” Sesal Myungsoo. “saat kita baru saja menikah. Kau pernah berkata jika kau punya impian. Kita berdua mempunyai keluarga kecil yang bahagia. Dan aku pernah berjanji untuk mewujudkan impian itu. Kita berdua dan Jisoo berada ditengah – tengah kita. Tapi takdir berkata lain, sekarang pernikahan kita sudah selesai dan aku tak mewujudkan impian kita berdua.

“aku sudah tak peduli dengan hal itu. Sekarang aku sudah bahagia bersama Yesung oppa meski hampa tak ada Jisoo yang berada disisiku. Jisoo tiba – tiba saja muncul dan memberi kebahagiaan tersendiri dalam hidupku.”

“aku masih berharap kita adalah sebuah keluarga yang utuh dan bahagia.”

“sudahlah. Kita sudah punya jalan masing – masing dan tak bisa bersama lagi. Tolong pikirkan sedikit perasan Suzy yang selama ini berada disampingmu.”

Myungsoo mengangguk pelan. “ ne, tentu saja. Aku terlalu berhutang banyak pada Suzy.”

“jangan karena hutang budi kau bersamnya. Tapi cintai dia. Dia sosok yang pantas kau cintai.”

“sejak dulu hingga kini aku sedang belajar untuk mencintainya. Dan terus berada disisinya, apa itu belum cukup menandakan betapa perhatiannya aku padanya?.”

Jiyeon tersenyum. “ teruslah berada disisinya. Suzy orang yang sangat baik, tolong jangan kecewakan dia hanya karena mencintaimu.” Ucapnya. Sebisa mungkin Jiyeon tegar menyembunyikan hatinya yang menangis pedih.

Suzy adalah sahabat baiknya, sedangkan Myungsoo adalah sosok yang pernah ia cintai dan pernah menjalani kehidupan bersama meski takdir harus mengatakan untuk berpisah. Merelakan cinta demi sahabatnya, rasanya cukup adil dan bijak. Sekarang ia sudah mempunyai suami yang mencintainya dan Myungsoo pun sudah mulai mencintai Suzy meski tak mudah untuk melakukannya.

*****

“eomma, tadi aku pergi bersama appa menemui Jiyeon ahjumma sambil makan bersama.” Ucapan Jisoo seakan menghantam hatinya dan menyesakkan dada Suzy. Ia tahu persis jika Myung sampai saat ini belum bisa melupakan Jiyeon. Jiyeon orang yang akan selalu berada dihati Myungsoo.

“jinja?.” Tanya Suzy. Ia sibuk menyisir rambut Jisoo yang masih berada dipangkuannya. Suzy tak memungkiri jika ia sakit, bahkan terlalu sakit menerima kenyataan sepahit ini. jisoo anak dari Myungsoo dan Jiyeon yang kini ia tengah besarkan sebagai anaknya. Tapi statusnya sebagai istri Myungsoo memaksanya untuk bersikap egois. Ia ingin memiliki Myungsoo sepenuhnya, ia tak mau kehilangan Myungsoo meski kebahagiaanya selama ini hanya semu belaka. Tak pernah menjadi kenyataan.

“kau tak perlu khawatir dan takut Suzy-ah, tidak ada yang berubah. Kau tetaplah eomma dari Jisoo.” Myungsoo muncul tiba – tiba seolah memberinya ketenangan jika ia masih akan berada disisi Suzy.

Suzy tersenyum simpul. Kini ia tengah merasakan getirnya kehidupan. Terlalu pahit saat Myungsoo mengajaknya berbicara tanpa menatapnya. Menatapnya?. Bahkan untuk sekilas melihatnya pun Myungsoo enggan melihat Suzy.

Justru ia segera mengambil Jisoo dari pangkuannya yang sudah selesai rambunya diikat.

“putri appa cantik sekali.” Puji Myungsoo.

“tentu saja appa.”

Lagi – lagi Suzy hanya memandang nanar dan mematung kaku. Miris ia melihat mereka berdua. Jisoo dan Myungsoo. Mereka berdua adalah miliknya. Ia segera menekankan kata – kata itu. Egoiskah jika ia mempertahankan Myungsoo dan Jisoo disisinya?.”

“appa, ayo kita menggambar.” Ajak Jisoo. Jemari tangannya lekas menari – narik tangan Myungsoo.

Tentu saja Myunsoo lantas menuruti permintaan putri kecil kesayangannya itu. Sambil beranjak pergi ia mengelus rambut Suzy pelan.

“tenanglah, aku tak akan meninggalkanmu.” Ucap Myunsoo yakin.

Suzy mengangguk pelan. Ia membatin dalam, apa yang harus ia khawatirkan sekarang?. Bukan Suzy jika ia puas dengan jawaban dari Myungsoo. Ia masih juga belum menemukan kelegaan hatinya. Masih saja ada yang mengganjal hatinya, sesuatu yang pedih dan menyesakkan dada terus menggerogoti pemikirannya. Kenapa ia harus segusar ini dengan kehadiran Jiyeon ditengah – tengah kami?.

*****

Suzy memutuskan untuk menemui Jiyeon ditengah kota. Semakin Suzy menyimpan perasaannya itu maka semakin tersiksa batinnya pula. Ia tak tahu benarkah keputusannya ini menemui Jiyeon adalah hal yang tepat.

“Suzy –ah.” sapa Jiyeon tersenyum ramah. Apakah ia bisa membohongi hatinya jika kini ia sedikit benci dengan wanita didepannya ini. Myungsoo dan Jisoo adalah miliknya. Ia selalu menekankan kata – kata itu kapanpun.

“aku harap kau tak lagi menemui Myungsoo oppa!.” Ucap Suzy halus namun penuh penekanan dan terkesan tegas.

Jiyeon sedikit tertegun atas pernyataan dari Suzy. Ia tahu akan maksud pembicaraan dari Suzy. “Suzy-ah, aku tak menemui Kim Myungsoo melainkan hanya untuk Jisoo.

“tapi aku takut dan terancam akan kehadiranmu kembali lagi.”

“Suzy-ah.” desis Jiyeon pelan. Jiyeon tak hais pikir dengan perubahan ikap Suzy yang tega berkata seperti itu. Tapi ia berpikir ulang, ia  tahu jika berada diposisi Suzy mungkin ia akan melakukan hal yang sama untuk mempertahankan suami.

“aku mencintai Myungsoo oppa. Tapi ia mencintaimu, bahkan hingga saat ini, itu rasanya sakit sekali. Hampir 6 tahun kami menikah, tapi Myungsoo oppa tak pernah mencintaiku. jangankan untuk mencintaiku memandangku sebagai istrinya saja tidak. Apakah salah jika aku memintamu untuk menjauh darinya?.” Tanya Suzy lirih. Tampak ekali ia sedang menahan amarah dan gemuruh didadanya.

Sebagai sesama wanita Jiyeon tahu bahkan mengerti perasaan apa yang kini dirasakan oleh Suzy. Ia berhak mempertahankan apa yang kini menjadi miliknya yaitu Myungsoo karena bagaimapun juga ia adalah istri sah dari Kim Myungsoo.

Tapi untuk Jisoo, Jiyeon enggan untuk menjauh. Ia adalah ibu kandung dari Jisoo, jadi ia berhak untuk egois mempertahankan Jisoo tetap berada disisinya dan memilikinya.

“aku  tahu. Kalau begitu biarkan Jisoo bersamaku. Kupastikan aku tak akan lagi bertemu dengan Kim Myungsoo.

Suzy yang mendengar kalimat itu mendongak tajam menatap Jiyeon dengan air mata yang sudah mulai turun. “apa maksudmu Park Jiyeon?!.” Sentak Suzy terkesan sedikit meninggi.

“aku akan membawa Jisoo ke London bersama dengan Yesung oppa.” Ucap Jiyeon tak kalah nanar.

“mwo?. Kau jangan asal bicara Park Jiyeon. Kau tahu Jisoo adalah segalanya bagi Myungsoo oppa.”

“Jisoo juga segalanya bagiku.” Sambar Jiyeon cepat. “ Kim Myungsoo bisa punya anak lagi darimu Suzy –ah. kumohon berikan Jisoo padaku.”

“tidak semudah itu Park Jiyeon.” Sentak Suzy tajam dan keras. “kau  sudah menikah dan pasti kau bisa melahirkan anak – anak untuk suamimu. ”

Jiyeon menggeleng. “aku pernah keguguran 6 bulan lalu. aku takut Suzy –ah untuk hamil lagi. Aku takut kembali mengecewakan Yesung oppa. Yesung oppa terlalu baik untukku. Aku tak mau mengecewakannya lagi.” Ia mendesah pelan memandang langit sora yang sedikit mendung seperti hatinya yang kini tengah menangis.

Suzy terdiam sejenak. Apa yang dirasakan Jiyeon ternyata hampir sama dengan yang ia rasakan. Ia lebih memilih untuk duduk bersama Jiyeon bersandar pada bangku taman dan terdiam pilu.

“kenapa takdir harus mempermainkan hidup kita seperti ini Suzy –ah. Kurasa ini mungkin ini adalah rahasia Tuhan. Desah Jiyeon pelan. Adakalanya Jiyeon jatuh dan rapuh bahkan untuk bangkit kembali rasanya sangat sulit.

Suzy kemudian menggeleng. “andai saja waktu dapat diputar kembali. Aku ingin kembali kemasa lalu dan tak mau memainkan peran seperti ini. ini terlalu sulit bagiku bahkan aku sekan tak mampu memikul beban yang kini ada dipundakku. Mencintai Myungsoo tapi ia tak pernah menganggapku. Tanpa sadar kita sudah saling menyakiti dalam jalan takdir ini.”

Untuk kali ini Jiyeon setuju. Ia melirik Suzy yang berada disisinya. Ia yakin jika kini perasaan Suzy jauh lebih sakit dari dirinya bahkan ia harus jauh terjun dalam keadaan yang seperti ini. Menyayangi dan Mencintai orang yang sama itu menyakitkan. Setitik air mata keluar dari pelupuk matanya. Suzy menariknya dalam pelukannya, ia merasakan betapa pahit kehidupan yang harus dijalaninya ini bahkan ada yang lebih pedih dan tersiksa menjalani kehidupannya lebih dari ini.

–TBC–

Silahkan tinggalkan komentar untuk menghargai karya kami.

Mian kalo kependekan and gak dapet feel. Ide author dadakan and cukup sampai disini.

Gamsha chingundeul……

35 thoughts on “[Part 3] Because I Love You (Waiting Of Love)

  1. Hualaaaahhh,, ng’batin bgt jd suzy,,

    tryt bnr slma 6 thn myungsoo cmn nganggep suzy sbg baby sitter jisoo doanx, gk prnh nganggep sbg istri…

    hiks…hiks…yg sbar y maknae…:’)

  2. huaa….
    so sad T^T
    berharap bnget myungyeon dpt bersatu kmbali…
    tpi,,kasian sma nasib yesung dan suzy..
    mereka berdua terlalu baik utk disakiti..
    thor,buat semuanya happy ending ya!!^^
    next part palli ya
    hwaiting^^

  3. sedih. . . 😦
    Daebak!!! feelnya dpt bgt,,
    kasihan jiyeon, suzy
    q berharap ini ff MyungYeon… nnt suzy bahagia ama org yg mencintai dia.. bgt jg dg Yesung,, pasti bagus.. hhehe. low kyk gitu jisoo bisa bersatu dg org tua kandung’y
    Keep wraiting thor. Fighting!!!!?? 😉
    Next part ditunggu 🙂 🙂

  4. unnie lanjut dong part 5 gk sabar nunggunya.kasian ya si suzy gk pernah dianggap sama myungsoo.yeppa gmana nnti ni nasibnya? ff nya bgus banget.feelnya dapet.fighting unnie

  5. Aku jadi ikutan dlema nih saeng!!!
    Maw mihak sapa yaa
    2 2 ñƴά samasama tersakiti
    Tp…..inget Ɣåå Saeng…..
    ” Kalo Yesung disakiti….
    Eeiiii…..aku bawa balik lagi ke rumahku…
    Gak bakal eonnie pinjemin lagi
    ((((Wweewwwkkk))))

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s