[FF Freelance] I Wish I Were You (Part 4)

Tittle                : I Wish I Were You

Author             : Hyukkie44bee

Main Cast        : Lee Hyuk Jae (a.k.a Hyukkie – HaJe)

                          Lee Seung Hyun (a.k.a Seungri)

                          Park Gyuri

                          Lee Cae Rin (a.k.a Cae Cae)

Cameo             : Max Fernandes

                          Hwang Joon Ki

                         And many others

Genre              : Romance

Length             : {4/..} Continue.

Rate                 : PG 15+

Previous part: Part 1, Part 2, Part 3

a/n                   : Hi readers!! Aku kembali dengan chapter yang mungkin sedikit membosankan… (maaf). Tugas kuliah lagi banyak and numpuk segunung. Ide di kepala tiba-tiba aja menghilang. Hihihihi……  tapi aku tetep semangat nulis kok. Thanks berat untuk para reader yang udah koment di coretan aku ini. (skali lagi terimakasih *bow). Karna ini karya pertama aku beneran butuh kritik dan saran dalam penulisan. Oya… hemmm, aku minta maaf apabila kata-kata yang aku tulis di chapter ini sedikit ‘nakal’. Tapi aku yakin masih dalam tahap wajar kok (hehe.. *maksa). Maaf juga jika masih banyak typo bertebaran di mana-mana. Skali lagi Jeongmal Gomawo.

 

Happy Reading ^^

 

–o0o

Lee’s Apartement

Seungri yang sedang dibakar api kekesalan terhadap kakaknya langsung membanting handphone yang ada di genggamannya. Tiba-tiba saja sambungan telephone-nya terputus, mungkin karna batreynya habis atau pulsa milik Hyuk Jae habis.

“apa kau sudah melacak dimana keberadaan kakakku?”

Seungri duduk di samping Max yang terlihat sedang mengoprasikan alat pelacak yang menyerupai pelacak GPS rakitan tangan Seungri. Dengan alat itu mereka bisa mengetahui dimana Hyuk Jae berada dengan melacak sinyal handphone yang tertangkap oleh alat pelacak Seungri. Dia sangat ahli di bidang ini, sejak kecil Seungri memang memiliki kemampuan luar biasa dalam hal melacak dan pembobolan. Dia bahkan pernah membobol brankas milik ayahnya yang berisi sejumlah uang. Dia mengambil uang milik ayahnya tersebut kemudian mempergunakan sebagian uangnya untuk membeli sebuah café sebagai hadiah untuk  Cae Rin saat mereka masih berusia14 tahun.

Itu sebabnya Hyuk Jae dengan sengaja membuang handponenya pada benda berjalan, karna itu mungkin akan sedikit mengecoh Seungri karna arah truck dan tempat tujuan Hyuk Jae itu berlawanan arah.

“sinyal pertama hanphone Hyukkie hyung menunjukkan bahwa dia ada di Daejon, tapi beberapa menit kemudian sinyalnya terus bergerak menuju Seoul dan menghilang…”

“arrggghhhhhhh….. laki-laki bodoh itu benar-benar merepotkan!! Hyung, suruh anak buahmu mencari dia sampai ketemu. Kim Tae Pyung beraksi lagi, aku tidak ingin kakakku jadi target mereka selanjutnya untuk menjatuhkanku….”

“baiklah. Kau tenang saja, aku yakin Hyukkie hyung pasti aman.”

Seungri sangat frustasi, dia tak tau apa yang harus ia lakukan. Tak pernah terfikirkan olehnya kakaknya akan kabur disaat situasi dan keadaannya tidak baik.

Dilihatnya jaket dan syal yang biasa Hyuk Jae kenakan masih ada di sofa kamar Hyuk Jae. Kasur yang biasa Hyuk Jae tiduri masih dalam keadaan berantakan setelah ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya. Kantung infuse yang sudah tak berisi itu masih tergantung di tempatnya, setelah sebelumnya si pemakai melepaskan dengan paksa tube yang tersambung dengan tubuhnya itu. Seungri terdiam, dia merasa sangat bodoh. Bahkan puluhan penjaga yang bertugas di apartement mereka bisa dengan mudah dikelabuhi oleh orang sakit seperti Hyuk Jae. peralatan canggih yang ia miliki juga tak sanggup melecak keberadaan Hyuk Jae saat ini. Tak ada yang dapat Seungri lakukan selain duduk di lantai sambil memandangi jendela luar, berharap kakaknya segera kembali ke apartement mereka dalam keadaan baik-baik saja.

“oppa……..”

Cae Rin baru saja sampai di apartement mereka langsung menemui Seungri, dia tau kekasihnya sedang sangat frustasi sekarang.

“maafkan aku.. aku teledor. Aku tidak becus menjaganya!!”

Tangisan Cae Rin pecah, dia merasa sangat bersalah pada Seungri karna telah meninggalkan Hyuk Jae hingga akhirnya dia kabur dari apartement mereka.

“ini bukan salahmu. Mungkin kita terlalu mengekangnya beberapa hari ini. Ia hanya ingin jalan-jalan, sebentar lagi pasti dia kembali.”

Seungri menjawab permintaan maaf Cae Rin tanpa membalikkan badannya atau sekedar menoleh untuk melihat keadaan Cae Rin sekarang.

“kemarilah…” pinta Seungri.

Tanpa berfikir panjang Cae Rin langsung mendekat ke arah Seungri lalu memeluknya. Dia tumpahkan rasa penyesalannya dan rasa khawatirnya dalam suara tangisan yang sama sekali tak indah saat sampai di telinga.

“suruh Woon untuk mencari hyungku juga. Kita harus menemukannya malam ini. Kim Tae Pyung beraksi lagi. Aku takut hyung dijadikan alat untuk menghancurkan kita..”

Seungri mengeratkan pelukannya, dia usap kepala Cae Rin pelan, sesekali dia cium pucuk kepala Cae Rin yang sudah basah karna keringat. Cae Rin hanya mengangguk atas perintah yang dilontarkan Seungri. Pikirannya kembali melayang, teringat kejadian yang ia lihat saat di mall ketika dia berniat akan pulang ke perusahaan mereka.

“apa kau melihat nuna? Dia pasti juga sedih sekarang. Dialah orang yang berada di rumah saat kejadian itu berlangsung. Tadi nuna menelephoneku menceritakan kelakuan aneh hyung, dia memintaku pulang. Saat aku sampai di rumah, nuna langsung bersujud padaku memohon ampun karna hyung berhasil kabur dari apartement. Aku ingin kau menghiburnya,,, dia pasti sangat sedih sekarang, dan kau juga.. jangan terlalu merasa bersalah. Ini bukan salahmu, Ok.!!”

Sekali lagi Seungri mencium pucuk kepala Cae  Rin sebelum ia memutuskan untuk berdiri dan meninggalkan Cae Rin.

“kau mau ke mana?”

“ada 1 tempat yang mungkin disinggahi hyungku. Aku akan ke sana bersama Max, kau istirahat di rumah saja. Ok.!”

“aku ingin ikut..”

“tidak.. kau tunggu di sini saja, awasi keadaan rumah kita dan perusahaan kita. Semoga semuanya baik-baik saja.”

Seungri meneruskan langkahnya yang hanya mendapat hantaran tatapan  miris Cae Rin. Tak ada yang dapat Cae Rin lakukan selain menuruti perintah Seungri. Perasaan bersalah yang teramat besar membutnya tak dapat menolak perintah Seungri, sekalipun ia ingin ikut pergi membantu menemukan oppanya kembali.

–o0o

Hamyang-gun

“akhirya kau datang….”

Sepasang tangan melingkar erat di perut Hyuk Jae, membuat sang pemilik kaget karena pelukan erat itu sedikit membuatnya merasakan sakit.

“kau masih setia di tempat ini?”

Hyuk Jae tau betul siapa pemilik tangan kekar yang memeluk perutnya. Sore itu Hyuk Jae sedang berdiri tepat di sebuah Gereja dimana dia, Seungri, dan juga teman-teman baiknya selalu berkumpul dan berdoa bersama.

“tentu… kami menunggumu.”

Lelaki bertubuh tinggi dan berperawakan sedang itu terus saja memeluk tubuh kurus Hyuk Jae, membuat pemilik tubuh itu tak nyaman, namun ia biarkan. Bagaimanapun juga dia juga merindukan salah satu teman kecilnya itu. Mereka berdua terdiam cukup lama. Hyuk Jae bergeming sambil terus mengawasi sekitar Gereja yang memang terlihat lebih bersih dan indah dibandingkan keadaan 5 tahun yang lalu.

“Jin Ki-ah.. sampai kapan kau akan memelukku? Aku masih waras, seleraku terhadap gadis masih tinggi, jadi segera lepaskan pelukanmu !! Ini menjijikkan!!”

“sebentarr lagi, OK!”

Jin Ki tak melepas pelukannya, ia justru mempererat pelukannya pada namja kurus itu sambil membenamkan wajahnya pada tengkuk Hyuk Jae.

“aww… kau membuatku sakit Jin Ki bodohh!!!”

Akhirnya Hyuk Jae melepaskan tangan yang melingkar di perutnya secara paksa. Tangan kanannya reflek memukul kepala Jin Ki.

“aw…. Kau juga melukai kepalaku Hyukkie bodoh!!!”

Jin Ki pura-pura kesakitan sambil mengusap permukaan kepalanya. Namun kegiatannya itu tak berlangsung lama saat ia melihat keadaan Hyuk Jae secara jelas dengan kedua matanya.

“kenapa kau seperti ini?”

“………………………………”

“apa kau sakit?”

Hyuk Jae tetap tak menjawab pertanyaan Jin Ki, dia lebih memilih diam, menahan rasa sakitnya. Jin Ki lalu mendekati Hyuk Jae dan memeluknya lagi, kali ini pelukannya terasa seperti pelukan seorang kakak terhadap adiknya.

“aku baik-baik saja, hanya lelah. Beri aku makanan…!!”

Jin Ki belum mau melepaskan pelukannya, dia hanya mengangguk pelan.

“ayo duduk, kakiku pegal!!”

Kali ini Hyuk Jae harus melepas pelukan Jin Ki lagi, dia berusaha tenang, sebisa mungkin terlihat baik-baik saja di hadapan semua orang yang ia temui hari itu.

“ayo kita ke rumah… akan aku siapkan makanan di sana..”

“baiklah.”

Mereka berdua berjalan menelusuri jalan setapak disamping kiri Gereja. Jalan itu menuju ke sebuah jalan yang cukup besar namun hanya  cukup untuk dilewati satu mobil saja. Kira – kira setelah 5 menit bangunan besar bercat warna warni tampak di hadapan mereka. Di sana ada beberapa anak kecil yang sedang bermain. Beberapa diantara mereka sedang membuat kerajinan tangan. Hyuk Jae merasa sedikit takjub dengan keadaan rumah yang Jin Ki tinggali. Bangunan besar ini memang tidak mewah seperti rumah yang biasa ia tinggali, namun semua perabotan ditata secara rapi dan indah. Semuanya bersih dan memiliki nilai seni. Banyak foto yang bergantungan di dinding. Ruangan yang ada di dalamnya tampak tak bersekat. Beberapa diantaranya dibiarkan terbuka sehingga dalam ruangan nampak sangat luas.

“duduklah di sini… tunggu sebentar aku akan ambilkan makanan untukmu..”

Jin Ki mempersilahkan duduk di sebuah sofa kecil yang ukurannya pun tak sepanjang sofa yang biasa ia duduki. Namun sofa ini cukup nyaman bagi seorang perfectionist seperti Lee Hyuk Jae. matanya tak berhenti menjelajahi isi ruangan, hingga ia menemukan foto berukuran cukup besar tergantung di atas tembok yang letaknya cukup tinggi untuk dijangkau tanpa bantuan tangga. Di foto itu ada Seungri dan Cae Rin yang sedang dikelilingi oleh banyak anak kecil, Seungri tampak sangat bahagia dengan seorang bayi laki-laki tampan di gendongannya.

“foto itu diambil 3 tahun yang lalu…..” Jin Ki datang dengan sebuah piring berisi toast dengan selai strawberry yang ditemani segelas susu strawberry juga. “makanlah…”

“Kau juga menyimpan susu dan selai strawberry?? Sangat manis… hahaha..”

“Seungri selalu mengirimkan makanan yang berbau strawberry tiap minggunya. Tapi itu tak masalah, sudah seperti tradisi, anak-anak merasa ada yang kurang jika sehari saja mereka tak memakan makanan yang berbau strawberry, bagiku jika anak-anak bahagia, aku juga ikut bahagia.”

“kau merawat anak-anak ini sendirian?”

Hyuk Jae memulai percakapan mereka sambil melahap roti yang disiapkan Jin Ki, sebenarnya perutnya tak benar-benar lapar. Tapi dia pikir dia juga butuh tenaga, hari ini, esok, dan seterusnya ia tak boleh sakit lagi, jadi makan mungkin salah satu jalan keluar untuk membuatnya bertahan mengingat dia juga lupa tak membawa pain killer ataupun obat untuk lukanya.

“tentu saja tidak… 3 tahun yang lalu, panti asuhan yang aku tempati tiba-tiba akan di gusur, padahal anak-anak yang tinggal di panti asuhan cukup banyak. Aku belum mendapatkan pekerjaan tetap saat itu, bingung dan emosi yang menguasai pikiranku. Aku pikir jika saat itu kau ada, pasti kaulah orang pertama yang akan membantu kami. Tapi kau menghilang, dan itu membuatku semakin bingung.. akhirnya aku putuskan untuk menemui Seungri, kau tau kan saat itu Seungri bahkan baru berumur 17 tahun, dia masih sangat muda. Aku sempat ragu apakah dia bisa membantuku atau tidak… “

“lalu…”

“saat aku menceritakan semuanya, Seungri langsung bertindak, ia membeli tanah dan bangunan untuk kami tempati lagi. Seungri adalah pahlawan kami, berkat dia aku dan anak-anak bisa tinggal di sini dengan tenang.”

“apa ia sering ke sini..”

“tentu saja. Setelah tanah ini resmi dimiliki oleh keluarga Lee, Seungri mulai membangun rumah ini. Seungri sendiri yang mendisain rumah baru kami ini, sedangkan Cae Rin yang menata semua perabotan di rumah ini. tidak hanya itu, Seungri dan Cae Rin juga kursus berbagai macam hal agar bisa diajarkan kembali kepada anak-anak… kau bisa lihat dinding kami penuh dengan kerajinan yang dibuat sendiri oleh anak-anak. Perabotan di rumah ini juga mereka yang menghias. Dan kau tau Hyukkie? Panda kesayanganmu itu bahkan belajar menjahit agar dia bisa menjahit baju untuk anak-anak panti sendiri… hahaha…”

Hyuk Jae menyimak cerita yang disampaikan Jin Ki dengan seksama. Ia tak habis pikir ternyata banyak sekali perubahan yang ada pada diri Seungri.

“hey… kau makan apa?? Kenapa aku tidak kau beri!!! Yang ini tidak enak!!”

Hyuk Jae melempar sisa toast strawberry-nya yang tinggal sedikit itu ke atas meja. Dengan kasar dia merebut gelas yang Jin Ki pegang.

“itu milikku!! Kau tidak sopan merebut tanpa ijin dariku..!!”

“sejak kapan kau membicarakan masalah sopan santun denganku? Ha…!!!”

“eum…uhukk…….” Hyuk Jae terbatuk di suapan pertamanya. “Jin Ki-ah.. sejak kapan kau makan makanan seperti ini? dingin sekali… dan.. eumnnss…. Manis. Ahhhh….. gigiku…!!!”

“itu akibatnya merebut makanan orang tanpa ijin. Rasakan!!!”

“sejak kapan kau makan makanan manis?? Bukankan kau paling anti manis?? Ehemm….. ahhhh…… sakit”

Hyuk Jae terus saja mengeluh. Rasa manis yang terlanjur menyerang gigi sensitive-nya membuatnya sedikit tersiksa.

“hahahhaha………. Itu ice cream coklat kesukaan Seungri. Dan sekarang aku juga suka. Hahaha…. Rasakan!! Minum susumu, agar rasa manisnya berkurang!!”

“bagian mana di rumah ini yang tidak berbau Seungri dan Cae Rin??”

Tanya Hyuk Jae disela-sela acaranya menikmati susu strawberry-nya.

“rumah ini hanya ada tiga rasa, Lee Cae Rin, Lee Seung Hyun, dan Lee Hyuk Jae.”

“aku serius!!”

“aku juga serius!! Ayo ikut aku!!”

Jin Ki bangkit dari singgasananya kemudian menuju sebuah ruangan berukuran cukup luas di dekat kolam renang. Suasana rumah ini sangat jauh dari suasana panti asuhan pada umumnya. Sangat hangat, seperti rumah yang biasa ia tempati. Walaupun tidak semewah rumahnya, namun keadaan rumah yang terstruktur dengan rapi dan indah ini membuat nyaman para penghuninya. Tak ada dinding yang dicat polos sepolos anak-anak yang sedang bermain-main di sudut ruangan rumah. Semuanya berwarna-warni dengan cat tangan anak-anak panti. Kerajinan tangan yang mereka buat tertata dengan rapi di dalam almari kayu yang dilapisi kaca yang Hyuk Jae yakini pasti product dari perusahaan mabel Cae Rin. Foto-foto anak-anak dan juga keluarga Lee lainnya tergantung rapi di lorong kecil yang menuju taman belakang. Hyuk Jae takjub, tak pernah ia bayangkan campur tangan Seungri sungguh besar dalam kehidupan anak-anak di panti asuhan ini.

“masuklah…….”  Jin Ki mempersilahkan Hyuk Jae masuk ke dalam sebuah ruangan di samping kolam renang.

“…………………………..” tak ada jawaban dari Hyuk Jae. Mulutnya terkunci, tak sepatah katapun yang lolos dari bibir tipisnya.

“ini kamar Lee Hyuk Jae kecil, anak laki-laki yang berada di gendongan Seungri di foto yang kau tanyakan tadi”

“Lee Hyuk Jae??”

Hyuk Jae tampak sedikit kaget, Seungri sudah bertindak terlalu jauh dengan memberi nama seorang anak dengan nama aslinya. Hyuk Jae terus mencerna apa yang sedang ia dengar dan ia lihat sekarang. Berapa besar kadar rasa sayang seorang Seungri terhadap Lee Hyuk Jae, mengapa Seungri melakukan banyak hal tak terduga hanya untuk sekedar terus membuat seolah-olah Lee Hyuk Jae itu selalu ada di sampingnya?

“Seungri memberi nama bayi kecil yang ia temukan di depan pintu rumah ini Lee Hyuk Jae… apa kau keberatan?”

“……………………….” Masih bingung. Itu yang Hyuk Jae rasakan, ia tak menjawab pertanyaan Jin Ki, hanya gelengan kecil yang Hyuk Jae berikan. Bukan jawaban yang berarti ‘tidak’, hanya saja gelengan kepala dirasa hal yang cocok untuk dilakukan Hyuk Jae saat ini.

“Hyuk Jae kecil sangat tampan dan pandai. Seungri sangat menyayanginya…………………..”

Hyuk Jae sama sekali tak menanggapi cerita Jin Ki, ia lebih memilih menelusuri isi kamar Hyuk Jae kecil. Dilihatnya sebuah figora foto dimana ada wajah Seungri yang terlihat sangat bahagia saat bermain dengan Hyuk Jae kecil di kolam renang. Ada juga foto lain, kali ini foto Seungri, Cae Rin, dan Hyuk Jae kecil yang sedang piknik di taman. Dinding kamar Hyuk Jae kecil dicat dengan gambar macam-macam buah, sayuran, hewan, tumbuhan, huruf, dan juga angka. Langit-langit kamarnya ada berbagai macam hiasan berbentuk matahari, bulan, bintang, pelangi dan juga awan. Hyuk Jae tersenyum saat melihat sheet kasur mungil Hyuk Jae kecil yang bermotif strawberry, ia juga baru menyadari bahwa warna dasar cat dinding Hyuk Jae kecil adalah biru muda, warna kesukaannya. Di sudut ruangan ada boneka panda besar yang sedang memegang sebuah Barbie, ia tau pasti yang ini adalah ulah Cae Rin.

“kau tau.. Hyuk Jae kecil juga minum susu strawberry setiap pagi? Hahaha….. menurutku ini aneh.”

“apanya yang aneh?”

“kenapa ada anak laki-laki penyuka susu strawberry..?? kau tau, ini lucu sekali… hahahaha….!”

“kau sedang mentertawai aku atau Hyuk Jae kecil haaa!!!!!!”

“keduanya…!! Hahhaha….. eumm…… baiklah, jangan marah.!” Pinta Jin Ki, dilihatnya perubahan wajah Hyuk Jae berubah menjadi kusut, seperti kulit jeruk yang sudah layu.

“eummm.. Hyukkie-ah, lihat ini….”

Jin Ki mengeluarkan kotak mainan milik Hyuk Jae kecil yang ditata dengan rapi di dalam kardus. Jin Ki duduk di lantai sambil mengeluarkan satu per satu isi kardus mainan tersebut.

“ini Ferrari, ini Ferrari, ini Ferrari, ini Ferrari, dan ini juga Ferrari……… Seungri sudah meracuni otak Hyuk Jae kecil dengan semua kebiasaan dan kesenanganmu…..” Jin Ki tiba-tiba saja tak meneruskan perkataannya. Dilihatnya punggung Hyuk Jae yang tiba-tiba berbalik kearahnya. Sang pemilik punggung itu tampak menitihkan air matanya. “aku senang Hyuk Jae kecil mirip sepertimu…”

“Hentikan Jin Ki-ah… aku ingin kau menyiapkan kamar untukku. Malam ini aku tidur di sini. Besok pagi kau antar aku ke Yeongnam. Arasso!!”

“ne…. aeum ap—“

“cepat kerjakan! Sejak kapan kau banyak bicara seperti ini Jin Ki-ah… cepat kerjakan!!!”

“dan sejak kapan kau jadi mudah marah seperti ini Hyuk Jae-ah!! Baiklah, aku tidak ingin membuatmu tidak nyaman di sini. Bagaimanapun juga anak-anak di sini sangat merindukanmu, begitu juga aku.. kau tunggu saja di sini, atau kau juga bisa berkeliling rumah, setelah selesai aku akan memberi taumu…”

–o0o

Hari berlalu sangat cepat, anak-anak sudah kembali pulang setelah melakukan tour ke Poppy Garden, Simhak Mountain, Paju. Mereka tampak bersuka cita menceritakan pengalaman mereka berwisata kepada teman-teman mereka yang tidak ikut tour hari ini. Makan malam sudah di siapkan oleh beberapa orang biarawati yang memang bertugas membantu menjaga anak-anak di panti asuhan itu. Jin Ki sedang membantu menyiapkan makanan, sedangkan beberapa orang laki-laki dan perempuan berumur sekitar 18tahunan membantu anak-anak untuk mengambil makanan mereka dengan tertib.

Semua anak tampak menikmati makan malam mereka, tapi tidak dengan Hyuk Jae. sedari tadi dia lebih memilih menyendiri di dalam Gereja. Setelah berdoa, dia memilih untuk tinggal di sana sendirian. Tempat yang dirasa cukup nyaman sekarang untuk melepaskan penat. Alunan lagu gereja yang dinyanyikan oleh kelompok paduan suara gereja terdengar merdu di telinga Hyuk Jae, dia tersenyum mengingat kenangan masa kecilnya saat dia dan Seungri juga pernah tergabung di kelompok paduan suara gereja yang selalu tampil di hari Minggu pagi. Sepasang kakak adik yang selalu kompak itu selalu datang dengan setelan pakaian putih dan hitam nan mewah yang membuat banyak orang iri. Namun karna sifat mereka yang baik hati, membuat banyak orang mengagumi sifat mereka juga. Sesekali bibir tipis Hyuk Jae bergerak, mengikuti lagu yang terdengan dari speaker gereja, matanya terpejam mengingat kenangan-kenangan manis masa kecilnya.

“emm… apa aku mengganggu?” si gadis kecil berbaju merah muda itu berjalan ragu mendekati Hyuk Jae. “apa aku boleh masuk?” Tanya si gadis ragu.

“tentu saja,,,,, kemarilah.!!” Perintah Hyuk Jae dengan memberikan aba-aba dengan tangan kanannya.

“eum… oppa, ini sudah waktunya makan malam. Ayo makan malam bersama kami..”

“kau manis sekali, siapa namamu?”

“Jang Min Ji imnida..” jawab Min Ji sambil membungkukkan badan. “oppa.. ayo cepat pulang, Jin Ki oppa dan teman-temanku sudah menunggumu di dalam.”

“oppa belum lapar Min Ji, kau pulanglah dulu. Beri tau Jin Ki oppa dan teman-temanmu untuk makan duluan, nanti aku akan menyusul, OK!”

Hyuk Jae mengacak-acak poni Min Ji pelan. Min Ji tidak pergi meninggalkan Hyuk Jae sendiri di gereja, dia justru mendekat kemudian duduk di pangkuan Hyuk Jae.

“owh……..” Hyuk Jae sedikit kaget dengan apa yang baru dilakukan Min Ji padanya. Selama 5 tahun ini dia jarang sekali berinteraksi dengan banyak orang, termasuk dengan anak kecil seperti Min Ji. Semua kebutuhannya selalu diurus oleh Jinnie dan Keanny. Dia lebih sering menghabiskan waktunya menyendiri di dalam apartemennya.

“Oppa, kau yang ada di foto di kamarku kan? Lee Hyuk Jae!!”

Gadis kecil berumur 8 tahun itu rupanya sangat pandai dan berani. Dia bahkan dengan nekat duduk di pangkuan Hyuk Jae, orang yang belum pernah ia temui selama dia berada di panti.

“Bagaimana kau tau namaku?”

“Seungri Oppa yang memberi tauku, aku baru tinggal di sini selama 1 tahun. Saat aku masuk kamarku, ada sebuah poto berukuran besar yang tergantung di kamarku. Aku menanyakan pada Seungri Oppa..”

“lalu Seungri oppa menjawab apa?”

“oppa bilang, yang ada di foto itu adalah hyungku, Lee Hyuk Jae. oppa seorang pembalap kan?”

“eeummm…!!” jawab Hyuk Jae sambil mengangguk.

“di foto itu Hyuk Jae oppa memakai baju balap sambil membawa piala. Oppa sangat keren… hehehe…!!” kata Min Ji sambil tersipu malu. “dulu Seungri oppa sering sekali datang ke rumah kami, tapi sekarang dia jarang datang. Mungkin karena sibuk, atau mungkin karena Hyuk Jae kecil sudah tidak ada..”

“memangnya Hyuk Jae kecil di mana?”

Hyuk Jae merasa ada yang aneh. Bukankan tadi sore Jin Ki dengan semangat menceritakan tentang Hyuk Jae kecil padanya, lalu mengapa dia tidak menceritakan masalah ini, dimana sebenarnya Hyuk Jae kecil?

“Hyuk Jae kecil meninggal 6 bulan yang lalu karena ada kelainan pada sel-sel darahnya. Seungri oppa pasti sangat sedih, sehingga dia tidak mau datang lagi ke mari..”

Hyuk Jae memutar tubuh kecil Min Ji sehingga mereka berdua sekarang saling berhadapan. Dia peluk tubuh kecil Min Ji sambil mengusap lembut punggungnya. Min Ji sesenggukan, dia menangis teringat kejadian yang tentu sangat menyedihkan itu.

“kau jangan menangis sayang. Sekarang Hyuk Jae kecil pasti sudah hidup bahagia di surga. Kau tau kan surga itu tempat yang sangat indah? Jadi Hyuk Jae kecil pasti bahagia di sana..”

“eumm…..” masih dalam keadaan menangis Min Ji memberanikan diri menatap mata indah Hyuk Jae. “ aku tau oppa, appa dan eomma ku juga berada di surga sekarang. Hyuk Jae kecil pasti tidak kesepian di sana, karna ada appa dan eommaku…oppa…….“

Min Ji mengeratkan pelukannya pada tubuh kurus Hyuk Jae. tangisan kecilnya mereda, bagaimanapun Min Ji bukanlah gadis kecil yang cengeng. Dia adalah gadis yang sangat kuat dan tegar di usianya yang masih sangat muda itu. Hyuk Jae tersenyum getir, mengingat kata-kata yang keluar dari bibir kecil Min Ji. Ternyata dalam kurun waktu 5 tahun ini, Seungri mengalami banyak ujian dan cobaan. Dia merasa sangat bersalah telah meninggalkan Seungri sendirian.

“eum… Min Ji-ya, ayo kita makan. Perut oppa sudah sangat lapar sekarang. Jebbal, hapus air matamu. Kau tidak mau melihat Jin Ki oppa khawatir denganmu kan??”

Min Ji melepas pelukannya pada Hyuk Jae. dia mengangguk dengan semangatnya sambil mengusap air mata yang telah membasahi pipi cubby-nya. Hyuk Jae menurunkan Min Ji dari pangkuannya. Lalu mereka berjalan keluar dari gereja untuk menuju rumah mereka.

“kau anak pintar Min Ji. Pintar dan cantik. Berjanjilah pada oppa jangan pernah menangis lagi, OK!!”

Tangan kecil Min Ji bertaut secara manis pada jemari dingin Hyuk Jae. Mereka berdua memasuki ruang makan bersama-sama sambil tersenyum.

“kau ke mana saja anak manis?”

Jin Ki menyambut kedatangan mereka berdua. Tangan kanannya sibuk memegang mangkuk bubur untuk Hyuk Jae.

“aku berhasil membawa Hyuk Jae oppa pulang… hihihi… aku hebat kan??” kata Min Ji bangga.

“kau memang pintar. Sangat pintar dan cantik. Segeralah makan, nanti cacing di perutmu akan segera berontak jika tidak segera kau beri makanan..”

“eum.. baiklah oppa. Hyuk Jae oppa, aku makan dulu….”

Kata Min Ji pada Hyuk Jae. gadis kecil ini memang pintar dan ramah. Dia sangat sopan dan menggemaskan.

“ini makanlah…!!!”

Jin Ki menyodorkan mangkuk yang berisi bubur buatannya pada Hyuk Jae.

“apa”

“kau tidak tau? Ini namanya bubur!!”

“aku tidak bodoh Jin Ki!!”

“aku tau!!”

“kenapa kau memberiku makanan bayi??”

“ini bukan makanan bayi. Bocah tua sepertimu juga boleh makan makanan ini!!”

“aku ingin makan apa yang dimakan anak-anak itu juga, jadi berhentilah memaksaku untuk makan makanan ini!!”

Hyuk Jae meletakkan mangkuk buburnya sembarangan di meja. Dia bermaksud menyusul Min Ji untuk ikut makan bersama anak-anak panti lainnya.

“Seungri menelephone-ku!!”

Seketika itu Hyuk Jae diam, kakinya tiba-tiba kaku tak mau bergerak. Jantungnya berdetak cepat karna khawatir Seungri akan menemukannya malam ini.

“dia mencarimu dan dia mengatakan padaku jika kau sakit…..”

Hyuk Jae sama sekali tak menjawab, dia sedang menyusun rencana untuk segera pergi dari tempat ini sebelum Seungri menemukannya.

“Aku tak memberi taunya jika kau di sini. Segera makan buburmu, aku sudah membeli obat untuk mengobati lukamu. Segera lakukan perintahku sebelum aku berubah pikiran dan melaporkan keberadaanmu di sini pada Seungri.!!”

Kali ini Jin Ki berbicara dengan nada yang cukup tinggi. Gertakan Jin Ki sepertinya berhasil. Perlahan Hyuk Jae kembali ke meja di mana letak mangkuk buburnya kemudian ia raih mangkuknya dengan terpaksa. Sedikit demi sedikit dia masukkan bubur yang dibuatkan  Jin Ki pada mulutnya. Hambar, seumur hidupnya dia paling benci makanan ini, namun untuk ke sekian kalinya ia terpaksa harus memakan makanan itu.

“makanlah dengan benar!!! Apa kau tidak tau cara makan yang benar seperti apa?”

“tidak”

Hyuk Jae kesal, kenapa Jin Ki terus saja memaksanya memakan makanan ini. kekesalan Hyuk Jae bertambah mengingat pertambahan orang yang akan memperlakukannya seperti orang sakit. Dan ini hal yang paling dibenci dan dihindarinya.

“aku sudah selesai makan!!”

Hyuk Jae meletakkan sendoknya di atas meja. Kemudian dia beranjak pergi menuju kamar yang sudah disiapkan Jin Ki untuknya. Tak lama kemudian Jin Ki masuk tanpa permisi ke dalam kamar Hyuk Jae. Dilihatnya Hyuk Jae sedang berbaring membelakangi pintu kamarnya. Jin Ki mendekati tubuh Hyuk Jae. Dia letakkan kotak obat yang ia bawa di atas meja kecil dekat ranjang. Perlahan Jin Ki merubah posisi tidur Hyuk Jae dari miring menjadi terlentang. Dia buka perlahan kancing baju Hyuk Jae, tak ada penolakan dari sang pemilik tubuh kurus itu. Matanya terus terpejam, tapi Jin Ki tau sahabat kecilnya itu tidak sedang tidur.

“apa rasanya sangat sakit?”

Jin Ki menghentikan acara membersihkan luka Hyuk Jae yang sudah mulai mengering ketika dia melihat Hyuk Jae sedikit mengernyit ketika obat luka yang dioleskan Jin Ki melekat pada lukanya.

“tidak lagi…. Aku baik-baik saja.”

“kalau begitu buka matamu!! Lihat aku!!”

“aku mengantuk!!”

“jangan bohong…!!”

“aw….. lakukan dengan benar Jin Ki bodoh…!!”

Akhirnya Hyuk Jae membuka matanya karna Jin Ki menekan luka pada rusuknya dengan kasar.

“kau bilang sudah tidak sakit!!”

“tapi kau menekannya dengan keras!! Menurutmu rasanya akan seperti apa ha…!!!”

“kenapa bisa seperti ini?”

Jin Ki kembali meneruskan kegiatannya merawat luka Hyuk Jae, kali ini dia mengoleskan obat pada luka Hyuk Jae agar cepat kering.

“aku seorang pahlawan, jadi sudah biasa dengan luka seperti ini…” Jawab Hyuk Jae sambil memamerkan senyum gusinya.

“tchhh….. kau pahlawan kesiangan tau!!” Jin Ki telah selesai memasang perban untuk menutup luka Hyuk Jae. Dia juga membantu mengancingkan baju Hyuk Jae yang tadi dia buka. “sudah selesai. Kau bisa tidur sekarang!!”

Jin Ki membereskan peralatan pengobatannya. Kemudian dia menyalakan lampu kecil di dekat ranjang Hyuk Jae. Dia bersiap-siap untuk keluar meninggalkan Hyuk Jae agar Hyuk Jae bisa segera tidur.

“jangan keluar.. temani aku sebentar.” Pinta Hyuk Jae. Wajahnya terlihat sangat lelah dan pucat, Jin Ki tak tega menolak permintaan sahabat kecilnya itu. “duduklah…!!” perintah Hyuk Jae, dan Jin Ki dengan senang  hati mematuhi mandat yang dikeluarkan oleh Hyuk Jae itu. “ceritakan padaku apa yang teradi pada Hyuk Jae kecil!!”

Tiba-tiba saja kaki Jin Ki lemas. Dia tau malam ini akan jadi malam yang panjang bagi mereka berdua. Cepat atau lambat perbincangan ini pasti akan terjadi. Jin Ki sedang bingung, harus dari mana dia menceritakan semuanya pada Hyuk Jae. takut jikalau perkataannya akan menumbuhkan masalah dikemudian hari.

“apa kau bisu sekarang, Jin Ki-ah??”

“Seungri……” ragu Jin Ki menceritakan semuanya pada Hyuk Jae. Tapi Jin Ki sudah memutuskan untuk menceritakan semuanya.

“Seungri menemukan Hyuk Jae kecil di depan pintu gereja. Hari itu salju turun untuk yang pertama kalinya, rumah ini baru saja selesai dibenahi. Kami bersuka cita merayakan rumah baru kami, tiba-tiba saja Seungri datang dengan sebuah keranjang bayi ditangannya. Bayi laki-laki yang tampan namun malang. Kulitnya pucat mungkin karna kedinginan. Seungri memanggil dokter untuk memeriksa bayi kecil itu. Beberapa hari setelah itu, bayi laki-laki kecil itu mulai membaik. Seungri senang sekali. Dia merawat bayi itu dengan penuh kasih sayang………….”

“lalu.. ?? ceritakan semuanya. Yang tidak aku ketahui selama 5 tahun ini. Jangan sampai ada yang kau sembunyikan Jin Ki-ah!!”

“……………………….”

“Cae Rin juga sangat senang dengan bayi kecil itu, mereka memutuskan untuk mengangkat bayi itu menjadi anak mereka dan memberi nama Lee Hyuk Jae, nama favorit Seungri. Hari-hari mereka lewati dengan bahagia. Seungri sering sekali berkunjung ke tempat ini untuk bermain bersama Hyuk Jae kecil, sedangkan Cae Rin sering sekali menginap di sini untuk menemani Hyuk Jae kecil tidur. Se—“

Tiba-tiba saja Hyuk Jae menyela pembicaraan Jin Ki, dia mencoba bangun dari tidurnya, hingga memaksa Jin Ki untuk berhenti sejenak dan membantu Hyuk Jae hanya untuk sekedar bangkit dari posisinya.

“tunggu Jin Ki-ah, kenapa mereka menitipkan Hyuk Jae kecil di sini? Bukankah kau bilang mereka sepakat menjadikan dia sebagai anak mereka??”

“kau benar, 1 tahun mereka membwa Hyuk Jae kecil tinggal bersama mereka. Namun masalah perusahaan keluarga Lee mulai bermunculan. Perusahaan appamu sedikit demi sedikit mengalami kemajuan. Banyak teman appamu yang berubah menjadi lawannya. Pikiran Seungri terpecah, ia dan Cae Rin tak dapat merawat Hyuk Jae kecil sendirian. Jadi mereka mengirimkan Hyuk Jae kecil ke mari untuk kami rawat. Cae Rin dan Seungri terlalu disibukkan dengan perusahaan, namun mereka tidak lupa untuk terus mengawasi Hyuk Jae kecil, sesekali mereka juga pergi untuk rekreasi bersama.”

Tiba-tiba Jin Ki menghentikan ceritanya, bagian ini mungkin adalah bagian yang paling berat untuk diceritakan kepada siapapun juga. Bagian yang ingin segera dihapus dari ingatan Jin Ki.

“Hari itu Hyuk Jae kecil tiba-tiba terserang demam. Kami membawanya ke klinik terdekat, Seungri dan Cae Rin sedang berada di luar negeri…..”

Air mata Jin Ki mulai menetes, sesungguhnya ia tak kuasa menceritakan kejadian kelam yang sebenarnya sudah mulai ia lupakan ini. Tapi Jin Ki terus memaksakan diri. Dia harus menguatkan dirinya, cepat atau lambat cerita ini harus sampai di telinga Hyuk Jae.

“dokter klinik berkata ada yang aneh dengan keadaan Hyuk Jae kecil, dan kami harus membawanya ke rumah sakit. Dokter di rumah sakit segera memberikan pertolongan, beberapa tes dilalui anak kecil itu.” Sedikit isakan keluar dari mulut Jin Ki disela-sela ceritanya.

“Hyuk Jae kecil harus berjuang sendiri saat itu karna memang tak ada yang bisa kami lakukan. Setelah hasil penyakit Hyuk Jae keluar aku segera menghubungi Seungri, dan dia langsung pulang. Seungri tentu saja sangat terpukul. Baik dia maupun Cae Rin melakukan tes kecocokan sum-sum tulang mereka dengan Hyuk Jae, begitu juga dengan kami. Namun hasilnya nol… waktu terus berlalu, Seungri dibantu oleh Cae Rin dan anak buahnya mencari donor yang cocok untuk Hyuk Jae. Namun itu tidak mudah. Hyuk Jae kecil nampaknya sudah tak kuat lagi berjuang melawan penyakitnya. 6 bulan setelah mendapatkan perawatan dia meninggal dipelukan Seungri…”

“Jin Ki-ah….” Hyuk Jae merasa bersalah karna harus memaksa Jin Ki menceritakan kejadian pahit di kehidupannya. Namun ia tak punya pilihan lain. Ia sangat penasaran dan merasa perlu untuk mengetahui cerita tersebut.

“mianhae….” Hanya itu yang dapat Hyuk Jae ucapkan atas apa yang ia dengar. Hyuk Jae merasa sangat sedih juga tentunya. Anak yang Seungri banggakan dan sayangi harus pergi diusianya yang masih sangat kecil.

“Hyukkie-ah, aku mohon jangan siksa Seungri lagi. Berhentilah membalap. Kau terlalu bermain-main dengan nyawamu. Seungri akan sangat gila jika dia harus kehilangan orang yang sangat ia sayangi lagi…”

“permintaanmu ini juga berat bagiku Jin Ki-ah. Aku tau dan aku juga bisa merasakan kesedihan dan penderitaan yang dialami Seungri dan juga kau. Tapi aku tidak dapat memutar waktu kembali, saat aku berhenti membalap, Hyuk Jae kecil tak akan hidup lagi kan? Semuanya sudah digariskan oleh Tuhan Jin Ki-ah…”

“berhentilah bersikap egois. Kau harus tau bagaimana perasaan orang-orang di sekitarmu saat kau terus saja bermain-main tanpa memikirkan keselamatanmu!!”

“aku melakukan semua ini bukan tanpa perhitungan Jin Ki-ah. Aku akan baik-baik saja, dan jika aku mati karna kecelakaan, itu bukan karna balapan itu adalah permainan berbahaya, atau bukan karna aku ceroboh, tapi itu memang takdir Tuhan yang harus aku terima Jin Ki-ah….”

“baiklah. Terserah kau saja. Aku tak akan memaksamu. Tapi saat terjadi sesuatu padamu saat balapan musim ini digelar, percayalah Seungri dapat melakukan apapun untuk membuatmu berhenti membalap selamanya..”

Jin Ki bangkit dari posisinya. Dia ambil kotak pengobatannya dan mematikan saklar lampu kamar Hyuk Jae. tak ada kata perpisahan yang terucap dari kedua mulut mereka. Jin Ki meninggalkan kamar Hyuk Jae tanpa kata-kata. Seketika itu suasana kamar terasa sangat dingin. Udara malam Hamyang-Gun begitu menusuk hingga ke tulang rusuk Hyuk Jae. Dia meringis kesakitan saat dia mencoba membenarkan posisi tidurnya. Malam hari ini terasa lebih panjang dari biasanya. Pikirannya melayang, matanya enggan untuk terkatup. Lelah ia rasakan pada seluruh tubuhnya, namun rasa kantuk tak kunjung datang. Ingatannya berputar-putar menyerupai roll film yang memutar kejadian-kejadian yang dia alami selama 5 tahun terakhir ini. semakin lama dia merasakan tusukan-tusukan di kepalanya. Hyuk Jae mencoba melupakan, namun tak bisa. Kenangan-kenangan itu datang semau mereka dan enggan untuk pergi.

“Ya Tuhan……. Jangan sekarang!!”

Tak ada yang bisa Hyuk Jae lakukan selain berdoa tentunya. Cairan bening itu turun dengan deras dari sudut mata Hyuk Jae. Menahan sakit luar biasa yang ia rasakan, yang kali ini datang bukan dari tulang rusuknya, tapi dari kepalanya. Rasa sakit yang sudah lama tidak ia rasakan, namun kali ini datang lagi.

“jejjj—jene—enn.”

Mulut itu seperti kaku ketika akan mengeluarkan kata-kata. Hyuk Jae terus bergerak kesakitan. Ia lupa membawa obat-obatnya. Ia juga tak dapat menghubungi siapapun karna handphone-nya telah ia lempar sembarangan siang tadi. Dia terus berusaha memanggil Jin Ki yang telah pergi meninggalkannya sendirian malam itu. Namun sayang, tubuh itu tak lagi kuat menahan rasa sakit hingga kegelapan datang mengantarkan tidurnya malam itu.

–o0o

Lee’s Apartement

“eonnie-ya, sudahlah.. semuanya akan baik-baik saja. Seungri akan segera membawa oppa pulang. Percayalah.”

Cae Rin mencoba menenangkan Gyuri. Bagaimanapun juga, Gyuri merasa sangat bersalah pada Seungri karna tak dapat menjaga Hyuk Jae dengan baik. Gyuri takut terjadi sesuatu pada Hyuk Jae. Walaupun kesehatannya mulai membaik, tapi tetap saja Gyuri merasa kawatir dengannya.

“Cae Rin-ah.. bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Jik—“

“eonni-ya, kita harus berfikir positif. Ini bukan salahmu eonni. Oppa mungkin memang sedang bermain-main dengan kita. Sifat manjanya sedang menguasai dirinya. Sekarang kita berdoa saja, semoga oppa selalu dalam lindungan Tuhan..”

“dimana Seungri?”

“dia pergi ke suatu tempat. Aku tak tau dimana, Seungri bilang itu adalah tempat yang mungkin saja dikunjungi oppa saat ini.”

“Cae Rin-ah… bisakah aku tau sedikit tentang keluarga Lee? Maafkan aku jika permintaanku terlalu berlebihan. Aku hanya ingin lebih dekat dengan keluarga ini. Aku merasa bodoh dan tak tau arah jika tidak tau apa-apa seperti ini.”

Gyuri memohon pada Cae Rin,.. apa yang diucapkan Gyuri memang masuk akal. Seungri memintanya berperan sebagai seorang teman untuk Hyuk Jae, bukan sebagai pengasuh bayi yang tak perlu tau silsilah atau cerita tentang bayi yang dia asuh. Cae Rin masih diam, dia sedang berfikir apakah hari ini adalah waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya pada Gyuri.

“eonnie ingin tau tentang apa?”

“semua, yang bisa kau ceritakan……………..”

–o0o

Dongsan Medical Center – Keimyung

Jam dinding yang tergantung di ruangan serba putih sederhana itu menunjukkan pukul 2 dini hari. Seungri masih dalam keadaan terjaga di samping sebuah bangsal yang ditiduri kakaknya. 1 jam setelah Jin Ki meninggalkan kamar Hyuk Jae, Seungri tiba di Hamyang ditemani Max dan beberapa bodyguard-nya. Beruntung Seungri segera datang dan memasuki kamar kakaknya dengan paksa. Seungri menemukan sosok yang sangat ia khawatirkan malam itu tergeletak dengan posisi tengkurap di lantai kamar. Seungri tentu saja sangat panic, ia segera membawa kakaknya ke rumah sakit terdekat dari panti asuhan itu.

“Joon, apa kata dokter?”

Seungri menyambut kedatangan Joon yang baru saja berkonsultasi dengan dokter yang memeriksa Hyuk Jae saat itu.

“Dia baik-baik saja, lukanya juga sudah membaik. Mungkin Hyukkie sedang banyak pikiran, karna dokter menyimpulkan bahwa penyebab dia pingsan bukan karna tulang rusuknya. Lukanya bahkan sudah 80% sembuh..”

“lalu? Apa sebabnya?” Tanya Seungri bingung.

“Rumah sakit ini tidak begitu canggih jika dibandingkan dengan rumah sakit lain, jadi alat-alat untuk mendeteksi penyakit lainnya tidak ada. Namun dokter menduga ia sedang banyak pikiran dan tertekan. Kita tidak boleh membiarkannya berfikir terlalu berat untuk saat ini.”

“………………………..” tak ada jawaban dari Seungri. Dia masih bingung dengan apa yang dikatakan Joon. ‘tertekan’ kata-kata itu terus berputar diingatan Seungri. Apa yang harus ia lakukan setelah ini?

“jaga emosimu juga Seungri-ya. Sementara ini biarkan dia melakukan apa yang ingin dia lakukan. Dekati dia, agar dia mau menceritakan semuanya padamu…”

“……………………………….”

“kau mendengarku?”

“baiklah………….” Jawab Seungri singkat.

Seungri membenarkan posisi selimut yang menutupi separuh tubuh Hyuk Jae. Dia genggam tangan Hyuk Jae yang masih terasa dingin. Untuk yang kesekian kalinya pertemuan mereka harus dilakukan di rumah sakit. Tempat yang Seungri dan Hyuk Jae paling benci di dunia ini….

“cepatlah bangun!! Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu Hyung……!!” bisik Seungri di telinga Hyuk Jae yang diakhiri ciuman hangat di telinga kiri kakaknya itu.

Tok tok tok…..

Suara ketukan pintu tak membuat Seungri menghentikan acara temu kangennya dengan Hyuk Jae.

“maafkan saya Tuan Muda, apakah saya mengganggu?” Tanya Min Woo hati-hati saat melihat Seungri dalam posisi sedikit memeluk tubuh Hyuk Jae.

“ya! Tunggulah sebentar di luar!!” perintah Joon.

“baiklah…” Min Woo membungkukkan badan tanda permohonan maaf dan bersiap untuk keluar ruangan.

“tunggu!!” Seungri menghentikan langkah Min Woo yang hampir mendekati pintu kamar Hyuk Jae. “katakan….!!!”

“Tuan Muda, saya sudah menemukan dalang dibalik kerusuhan yang terjadi di Hiroshima minggu lalu. Dia adalah orang yang sama dibalik matinya ratusan sapi kita di New Zealand….”

“lalu..”

“polisi sudah menangkapnya saat dia mencoba kabur ke LA. Kasus korupsi, pengeroyokan, dan penganiayaan di Hiroshima tampaknya membuatnya takut hingga dia mencoba kabur hingga ke LA. Beruntung ayah nona Cae Rin sedang melebarkan usahanya di sana, jadi kita mudah mencarinya karna dibantu oleh anak buah Tuan Lee dan juga teman-teman bisnisnya di sana.”

“siapa dia?”

“Jimmy Tan, dia adalah rekan kerja mendiang Tuan Besar saat beliau baru merintis usahanya di Busan. Kami sudah bekerjasama dengan pihak kepolisian untuk penyelidikan lebih lanjut, Tuan Muda.”

“rekan kerja appa saat di Busan?”

“benar Tuan Muda.. saat itu Tuan Besar meminjam sejumlah uang pada Jimmy Tan untuk mendirikan sebuah pabrik tekstil di sana, bidang yang sama yang juga digeluti oleh Jimmy Tan. Usaha appa Anda untuk memajukan pabriknya tidaklah mudah, beliau sering kali menderita kerugian saat akan mengembangkan usahanya itu. Jimmy Tan lah yang membantu Tuan Besar dalam segi keuangan. Hingga suatu hari, saat Tuan Besar menemukan trobosan baru dalam membuat kain sutra dengan cara sederhana dan biaya produksi yang sedikit namun dapat menghasilkan kain yang berkualitas bagus, Jimmy Tan diduga iri terhadap Tuan Besar, hingga dia melakukan ini semua untuk balas dendam..”

“apakah yang kau maksud adalah pabrik tekstil pertama appaku di busan?”

“iya Tuan Muda..”

“bukankah pabrik itu didirikan appa kurang lebih 40 tahun yang lalu? Pabrik itu mengalami kemajuan diumurnya yang menginnjak 4 tahun? Alasan Jimmy Tan balas dendam itu sama sekali tidak masuk akal. Kenapa dia baru melakukan balas dendamnya sekarang, saat appa sudah meninggal? Terlebih lagi, bukankah pabrik tekstil kita di Busan itu sudah resmi ditutup sejak 6 tahun yang lalu dan dialihkan ke Seoul?!!”

“itu sebabnya kami terus mencari informasi dan bukti-bukti yang mendukung alasan yang dilontarkan Jimmy Tan saat di kantor polisi tadi Tuan. Kami menduga masih ada dalang yang berada di balik kasus yang dilakukan oleh Jimmy Tan pada perusahaan kita Tuan Muda…”

“cepat cari siapa dalang di balik kekacauan ini..! jangan sampai dendam pribadi mereka membuat para pegawai kita merasa tidak nyaman bekerja dengan kita…!!”

“tentu saja Tuan, kami berjanji akan segera mencari mereka!”

“terimakasih Min Woo atas kerja kerasmu!!”

“ini sudah jadi kewajibanku Tuan Muda.. baiklah, saya permisi dulu, semoga Tuan Muda Hyuk Jae segera sembuh.”

Min Woo membungkukkan badan kepada Joon dan Seungri, dia bersiap untuk meninggalkan mereka dan pergi bertugas kembali. Shin Min Woo adalah putra dari Shin Il Woo yang merupakan orang kepercayaan Lee Seung Jo, ayah dari Seungri dan Hyuk Jae. Baik Min Woo maupun Il Woo sangat berjasa terhadap keluarga Lee pada eranya masing-masing. Merekalah yang bertugas menangani masalah interen Lee Corporation. Min Woo mengetahui semua rahasia perusahaan, kepercayaan Seungri terhadapnya hampir sama dengan kepercayaan yang ia berikan pada Max.

“Joon Hyung….”

“eumm….?”

“apa yang harus aku lakukan? Aku lelah?”

“kemarilah…. Duduklah disampingku!!” Joon memberi aba-aba pada Seungri untuk mendekatinya. Seungri patuh pada apa yang diminta Joon. Kali ini sepertinya dia benar-benar lelah, hingga tak ada lagi ocehan-ocehan nakal yang biasanya Seungri lontarkan.

“Hyung, bisakah sehari saja kita bertukar tempat?”

“untuk apa?” Seungri duduk merapat pada Joon, kemudian kepalanya ia letakkan pada bahu Joon. Joon juga sangat menyayangi Seungri, di elus pelan dan lembut punggung dan sesekali kepala Seungri.

“apakah jadi dokter itu menyenangkan?”

“ehemm.. kadang-kadang.”

“kenapa begitu?”

“saat kau melihat orang-orang menangis karna kesakitan, atau karna keluarga mereka yang sedang sakit, terlebih lagi mereka yang sedang kehilangan orang yang mereka cintai… percayalah.. itu sangat sakit. Lebih sakit dari pada pukulan keras di kepalamu… namun saat kau melihat mereka tertawa karna berhasil sembuh dari penyakitnya, itu adalah hal indah yang selalu ingin kuulangi tiap harinya.”

“benarkah?? Bukankah dokter itu pekerjaan yang mulia?”

“Seungri-ah, semua pekerjaan itu mulia. Setiap orang diciptakan Tuhan beserta bakat masing-masing yang mereka miliki. Aku membantu orang menyembuhkan penyakit mereka, dan kau juga membantu orang dengan memberi mereka pekerjaan yang layak dan halal. Bukankah kau juga mulia??”

“eum… kau benar hyung!! Aku mulia!! Hahhaaha……”

“…………………………..” tawa Seungri yang terlihat sekali dibuat-buat menjadi akhir dari perbincangan mereka waktu itu. 20 menit berlalu tanpa ada satu katapun yang keluar dari mulut mereka. Hanya suara jarum jam yang menghiasi ruangan putih sederhana itu.

“tidurlah jika kau lelah..” Joon mengelus punggung Seungri halus, kemudian sedikit merangkulnya dengan satu tangannya. Seungri hanya menggeleng mendengar tawaran dari Joon.

“aku akan menemaninya malam ini, aku janji!”

“terlalu banyak orang yang berbohong padaku. Aku tidak percaya!!”

“denganku juga?”

Seungri menganggukan kepalanya, namun matanya perlahan terpejam.

“kakakmu akan bangun esok, dokter memberinya obat penenang agar dia bisa istirahat malam ini. Jadi kau tidak perlu menunggunya, besok saat dia bangun, aku akan membangunkanmu.”

“tidak, kita akan menunggunya bersama…!!” Seungri kembali membuka matanya, kali ini dia benarkan posisinya. Tak lagi bersandar pada bahu Joon, Seungri lebih memilih duduk tegap sambil memandang lurus ke arah dimana Hyuk Jae berada.

“dasar anak nakal! Kakakmu baik-baik saja, dia hanya sedang tidur apa yang kau khawatirkan hemmm!?”

“hyung!! Berhentilah mengataiku seperti itu. Aku bukan anak-anak lagi!!”

“itu kenyataan! Kau nakal dan sulit diatur!!”

“yak….!!!!!”

Seungri pura-pura mengepalkan tangannya, namun ia tidak memukul Joon dia malah memeluk Joon sambil tertawa riang. Joon hanya diam sambil tersenyum. Ia bangga pada Seungri, walaupun dia manja, tapi dia tetaplah laki-laki kuat yang telah melewati banyak ujian dan rintangan berat yang tentu saja tidak mudah bagi orang kebanyakan.

“ayolah….!! Sudah kukatakan kau tidur saja. Besok aku akan membangunkanmu lebih awal, agar saat Hyukkie sadar, kaulah yang jadi orang pertama yang dilihatnya.”

“janji..!!”

“ehemm….” Joon mengangguk. Dia benarkan posisi Seungri yang setengah memeluk tubuhnya. Dia rebahkan paksa tubuh Seungri kedalam pangkuannya. Tangan kanannya menari lembut di kepala Seungri.

“Hyung..”

“hemm?”

“gomawo!!”

“cepat tidur!!”

Joon tersenyum, dia seperti seorang ayah yang sedang menidurkan anak bayinya. Sedikit bujukan dan paksaan harus dia keluarkan hanya demi membuat Seungri menurut untuk tidur. Perlahan namun pasti Seungri memejamkan matanya. Nafasnya mulai teratur, dia mulai menjelajahi alam mimpinya. Sementara Joon, berusaha terus terjaga walau dirinya juga merasakan rasa kantuk yang luar biasa. Letak mereka berdua duduk tidak kurang dari 3 meter, sehingga memudahkan Joon untuk tetap mengawasi Hyuk Jae tanpa harus berpindah tempat dan mengganggu tidur Seungri.

Mata Joon terus berputar, dia tidak sendiri saat itu, namun dia tetap merasa kesepian. Hanya suara tetesan infus dan suara detik jarum jam yang menemani malamnya. Matanya mulai menjelajah ke seluruh ruangan putih sederhana itu. Dia melihat teman yang sudah ia anggap saudara itu sedang tertidur di atas ranjang, ada rasa penyesalan yang teramat dalam yang Joon rasakan. Sebagai seorang dokter dia sama sekali tak dapat membantu sahabatnya itu. Bukannya tidak mau, hanya saja keahlian Joon bukanlah pada kesehatan tulang atau luka-luka akibat kecelakaan. Namun dia adalah dokter spesialis kangker yang memang membuatnya terpaksa hanya dapat berdiam diri saat melihat sahabatnya itu terluka.

Setelah tidur selama beberapa jam, akhirnya mata itu terbuka. Sepasang mata indah yang terlihat sayu itu berusaha mengerjap-erjapkan kelopaknya, mencoba menyesuaikan diri dengan kesadaran yang ia miliki sekarang. Dia lihat dua orang yang sangat ia kenal itu sedang tertidur di atas sofa. Bibirnya tertarik ke atas, pemandangan itu menurutnya sangat lucu. Keadaanya jauh lebih baik sekarang, dia fikir tubuhnya sudah dapat diajak bekerja sesegera mungkin. Dia mencoba untuk bangun dari posisinya, dan ternyata berhasil. Rasa nyeri yang biasa ia rasakan saat bangun tidur sudah jauh berkurang.

“eummm……. Kau sudah bangun?”

Hyuk Jae hanya mengangguk saat Seungri menyapanya. Joon masih belum sepenuhnya tersadar dari tidurnya, sedangkan Seungri sedang asyik menggeliat sambil menguap tanpa merubah posisinya yang berada di pangkuan Joon.

“cepat bangun bodoh!!! Kakiku pegal!!”

“tunggu sebentar, hyung tidak lihat aku sedang mengumpulkan tenaga?”

“mengumpulkan tenaga?” Joon mulai bercanda dengan Seungri yang hanya dibalas anggukan oleh Seungri. “harusnya aku yang berkata seperti itu padamu!!”

“ya sudahlah, dari pada merepotkanmu aku wakilkan saja hyung..!!”

“ara..ara..!! cepat bangun sekarang!!! Ya Tuhan, pukul 7 pagi, aku harus segera ke rumah sakit sekarang!!”

“setidaknya cuci mukamu dulu hyung!!”

Joon mengangkat kepala Seungri paksa karna ia harus segera pergi ke rumah sakit. Sesibuk apapun Joon, dia tidak boleh lupa akan tanggung jawabnya sebagai seorang dokter. Setelah merapikan baju kusutnya dan juga rambutnya yang sedikit berantakan Joon menghampiri Hyuk Jae yang juga sudah tersadar lebih dulu saat itu.

“aku harus pergi. Saat aku kembali, aku ingin kau dalam keadaan baik, tidak kurang sesuatu apapun, mengerti!!”

Hyuk Jae tak menjawab nasehat Joon, ia hanya mengangguk dan menutup rapat mulutnya.

“Seungri-ah, segera panggil dokter!!”

“baik hyung!!” Setelah mendengar perintah Joon, Seungri meringsat ke arah pintu kamar. Dia sama sekali tidak keluar, hanya kepalanya saja yang sengaja dikeluarkan, karna perintah memanggil dokter sudah beralih kepada Max yang dengan setia menunggunya di dekat pintu. Saat itu Seungri tersenyum melihat orang-orang yang ada di luar rungan rawat inap kakaknya itu.

“Hyukkie-ya, aku pergi dulu!” lagi-lagi Hyuk Jae tak menjawab, Joon memeluk singkat tubuh kurus Hyuk Jae, kemudian dia bergegas pergi meninggalkan Hyuk Jae dan Seungri menuju rumah sakit tempatnya bekerja.

Tak berapa lama setelah itu dokter dan juga dua orang suster datang untuk memeriksa keadaan Hyuk Jae. Dokter menjelaskan pada Seungri bahwa keadaan Hyuk Jae baik-baik saja. Hanya perlu berhati-hati menjaga pergerakannya dan juga kinerja otaknya. Setiap orang sakit biasanya selalu mengalami yang namanya bosan atau putus asa. Itu sebabnya Hyuk Jae diminta untuk mengontrol emosinya sendiri agar pikirannya tidak terganggu sehingga menimbulkan sakit kepala seperti yang ia rasakan tadi malam.

“ini…..!!”  Setelah dokter dan 2 orang suster itu pergi, Seungri kembali mendekati kakaknya dan memposisikan diri duduk diranjang samping Hyuk Jae.

Dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya, benda yang ia bawa dari apartement saat Seungri memutuskan untuk pergi mencari kakaknya sendiri.

“pakailah!Bagaimana bisa kau seceroboh ini. Paling tidak kau harus memakai masker dan juga kaca matamu saat ingin pergi jalan-jalan!”

“gomawo!” Hyuk Jae mengenakan kacamata minus yang sengaja dibawakan Seungri untuknya.

“kau tau, aku berusaha mati-matian agar kabar sakitnya seorang Lee Hyuk Jae tidak sampai bocor ke media? Aishhhhhh…. Tapi kau malah kabur seenaknya. Bagaimana kalau fansmu mengenalimu di jalan?”

“aku akan lari!”

“tidak mungkin!! Kau pasti akan segera jadi kimbab yang siap dilahap habis oleh fansmu!!”

“kau berlebihan! Imajinasimu terlalu tinggi!”

“aku serius. Aku pernah terjebak macet gara-gara ada seorang idola yang mengadakan fans meeting di jalan karna dia dengan sengaja berjalan-jalan tanpa menggunakan atribut penyamaran dan tanpa membawa anak buah satu pun!”

“tapi aku bukan idola! Aku seorang pembalap!”

“aishhh…. Dasar keras kepala!!”

“tapi itu benar!”

“baiklah…!! Berdebat denganmu itu menyebalkan. Lidahmu semakin licin dan tidak mudah dikendalikan. Sebaiknya aku berhenti sebelum terjadi pertumpahan darah di sini!”

Hyuk Jae tersenyum, perasaannya sedikit nyaman sekarang. Dia pikir mungkin Seungri akan marah padanya karna dia pergi tanpa ijin dari Seungri. Tapi ternyata tidak, semuanya berjalan lebih baik dari yang ia duga.

“kemarilah!!” Hyuk Jae menepuk permukaan kanan kasur yang ia tempati. “mendekatlah!”

Tanpa pikir panjang Seungri menuruti perintah kakaknya. Dia duduk tepat dihadapan samping kanan kakaknya. Hyuk Jae memeluk Seungri kemudian dia biarkan kepalanya terkulai di bahu sang adik.

“bagian mana yang sakit?” Hyuk Jae hanya menggeleng di bahu Seungri.

“harusnya kau berkata sakit jika itu memang sakit, dan berkata tidak jika itu memang tidak sakit. Kau tidak pernah mengajariku berbohong selama ini, tapi sekarang kau langsung memberiku contoh di dalam kehidupan nyata, apa aku perlu mempelajari dan menirunya?”

“kau tadi juga mendengar penjelasan dokter kan? Aku tidak perlu menjelaskan lagi padamu. Aku lelah, biarkan seperti ini dulu.!”

“dokter hanya dapat memprediksi hyung, yang bisa merasakan keadaan tubuh kita hanya diri kita sendiri, bukan orang lain..”

“aku tau. Diamlah!”

Hyuk Jae masih dalam posisi memeluk Seungri. Dia sangat menikmati posisinya sekarang. Aroma tubuh Seungri mengingatkannya pada masa kecil mereka. Setiap malam Seungri akan dengan paksa minta ditemani tidur olehnya. Semuanya bukan tanpa sebab. Hyuk Jae dan Seungri tumbuh dikeluarga kaya raya. Ayah dan ibu mereka sibuk bekerja, walau nyonya Lee lebih sering mengurus perusahaan mereka yang ada di Korea, namun waktu kerjanya jauh lebih banyak dari pada waktu yang diberikan untuk anak-anaknya. Itu sebabnya Seungri dikenal sebagai replica Hyuk Jae, karna sebagian besar waktunya dihabiskan bersama sang kakak, Lee Hyuk Jae.

“hyung!”

“hemmm?”

“aku lapar!!”

“lalu..?”

“aku ingin tidur!!!”

Hyuk Jae hanya terkekeh dengan jawaban Seungri. Dia tau Seungri selalu kesal jika kalah bedebat dengannya.

“hyung….waktu itu aku membongkar semua isi apartemenmu! Kau tidak keberatan kan?”

“apa kau puas?” Seungri mengangguk.

“baju-bajumu semuanya bermerk! Kau punya banyak uang rupanya!” lagi-lagi Hyuk Jae hanya terkekeh. “kau mengoleksi banyak kaca mata!”

“kau boleh mengambil satu diantaranya! Tapi ingat, hanya satu!”

“tidak perlu! Semua kaca matamu berlensa minus, hanya bentuk frame-nya saja yang berbeda, aku tidak sudi memakainya!”

“syukurlah jika kau tidak mau…”

“tapi semua kaca mata hitammu sudah berpindah tempat ke almariku. Kau bisa membelinya lagi… hihihi”

“kau bilang tidak sudi, kenapa tetap mengambilnya?”

“karna semua kaca mata selain warna hitam adalah kaca mata minus, jadi aku pikir kau tidak memerlukan kaca mata hitam lagi. Mata rabunmu tidak akan bisa menembus lensa yang berwarna gelap kan Hyung?”

“aishhhh!! Kau sedang menghinaku hahh!!!”

“itu kenyataan!!”

“yak!!!! Berhenti bicara Seungri-ah!!” reflek Hyuk Jae memukul kepala Seungri pelan. Seungri hanya tertawa saat sebuah pukulan halus mendarat di kepalanya.

“satu lagi! Tidak ada satupun foto seorang gadis di rumahmu. Apakah itu artinya seorang Lee Hyuk Jae sudah tidak menarik lagi di mata perempuan? Sehingga tidak ada satu orang gadis pun yang mau kau kencani? Hahhaha……”

“Ya Tuhan..!! Cae Rin pasti sudah rabun karna memilihmu menjadi kekasihnya! Kasihan sekali dia….!! Hahahha…”

“yang rabun itu Kau! Aku juga tidak habis pikir, bagaimana team-mu mau menerima pembalap rabun sepertimu sebagai pembalap utama mereka!”

“tentu saja karna aku hebat!”

Kali ini Hyuk Jae merubah posisinya. Dia tak lagi memeluk Seungri, punggungnya ia sandarkan pada kepala bangsal tempatnya tidur.

“race pertama musim ini dimulai 2 minggu lagi kan? Apa semuanya baik-baik saja?”

“sejak kapan kau memperhatikan urusan balapku?”

“memangnya kenapa? Tidak boleh!!”

“emmm… buka—“

“aku akan mengijinkan kau melakukan apapun yang kau mau dengan 1 syarat!” belum selesai Hyuk Jae bicara, Seungri sudah memutusnya.

“aishhh….. sekarang kau bahkan pandai bernegosiasi rupanya!”

“musim ini kau harus juara, atau paling tidak lakukan seri demi seri dengan aman. Sekali kau jatuh, aku akan memutuskan hubungan kerjamu dengan mereka. Kau harus kembali ke perusahaan arasso!!”

Hyuk Jae tersenyum. Dia senang Seungri akhirnya mau merelakannya untuk melakukan race musim ini. Sebelumnya dia pikir akan sangat sulit merubah pemikiran Seungri tentang dunia balap. Namun ternyata tidak pada kenyataannya. Ya.. Seungri mengijinkan, walau dengan syarat-syarat yang dia ajukan.

“baiklah! Aku akan menjuarai musim ini lagi.!”

“bagus!”

“kalau begitu setelah ini antar aku ke Yeongnam. Hari ini biarkan aku ke sana, kami harus mengepas jok dan juga kokpit. Aku janji hanya itu!”

Wajah Hyuk Jae berbinar senang. Seungri hanya menjawab dengan anggukan.

“setidaknya habiskan dulu infuse-nya, tinggal sedikit lagi. Setelah sarapan kita akan pergi bersama!”

“kalau begitu bantu aku ke kamar mandi dulu, sambil menunggu infuse habis aku akan bersiap-siap.”

“kau ingin aku memandikanmu?” Hyuk Jae mengangguk sambil tersenyum semangat.

“tidak mau! Temanmu akan melakukannya untukmu!”

“teman?” Hyuk Jae merasa asing dengan sebutan ‘teman’ yang diucapkan Seungri. Siapa teman yang dimaksud Seungri, Jinnie, Keanny, Jin Ki atau Hoya?

“Gyuri nuna! Dia temanmu kan!? Aku akan pergi ke hotel, tenang saja Woon akan menjagamu. Kau bisa minta tolong Gyuri nuna untuk membantumu mandi. Sedangkan aku dan Cae Rin akan bersiap-siap di Hotel. Ok!”

“ini tidak adil!”

“apa yang tidak adil?”

“kau mandi di hotel dan aku mandi di rumah sakit! Kau juga mandi di temani gadis cantik, enak sekali kau!!”

“pertama, kau tidak mungkin aku seret keluar hanya untuk sekedar mandi di hotel. Kedua, bukankan Gyuri nuna juga cantik? Dia ssa—“

“kalau begitu aku mandi nanti saja! Sekarang pergilah!”

“sebaiknya kau segera mandi jika kau ingin segera pergi ke Yeongnam. Jangan buang-buang waktu. Aku tau race-mu tinggal sebentar lagi, kau harus segera mencoba mobilmu, jangan sampai membuat popularitasku jatuh saat kau kalah di race pertama! Kau tau kan tau aku sangat popular di dunia sekarang, popularitas kita hampir sama hyung!”

“aishhhh.. kau banyak bicara!!”

Seungri tak menjawab ocehan Hyuk Jae, jemarinya sedang sibuk menekan tombol pada handphone-nya. Dia tampak sangat serius.

“hyung, siapkan semuanya, hari ini kita akan ke Yeongnam, sebelumnya aku akan pergi ke hotel dulu, tolong segera siapkan 1 kamar di hotel terdekat. Satu lagi, suruh nuna dan Cae Rin masuk!”

–bip—

Tak lama setelah itu pintu kamar terbuka, Cae Rin dan Gyuri masuk bergantian. Cae Rin langsung berlari menuju oppanya. Dia senang Hyuk Jae baik-baik saja. Sedangkan Gyuri masih menundukkan kepalanya, sedikit malu pada Seungri karna tak bisa menjaga kakaknya dengan baik.

“oppa lain kali jika ingin jalan-jalan katakana saja padaku, aku akan menemanimu kemanapun!!”

“eits… kau pikir kau siapa?  Lepaskan pelukanmu nona Cae Rin! Kita harus pergi ke hotel sekarang, aku ingin mandi!” Seungri menarik tangan Cae Rin yang sedang melingkar di pinggang Hyuk Jae.

“aishhhh…!! Tunggu sebentar panda bodoh!! Kau akan melukai tanganku jika kau menarikku dengan cara seperti itu!”

“biarkan saja! Aku akan memotong tanganmu jika kau berani memeluk bayi tua itu tanpa persetujuan dariku!”

“aigoo… CaeCae-ya, kau pasti tak sengaja minum racun serangga waktu itu? Kau bahkan tidak bisa membedakan laki-laki normal dan laki-laki setengah normal seperti dia!!”

“yakkk…..!!! siapa yang kau sebut tidak normal haa!!!!” Seungri pura-pura marah karna bahkan kekasihnya itu tak mau membelanya sedikitpun saat dia mendapat ejekan dari kakaknya. “Chagiya, ayo pergi! Badanku sudah lengket karna dari kemarin aku tidak mandi. Oya, nuana tolong kau bantu hyung-ku mandi oke!”

“aku akan mandi nanti!” jawab Hyuk Jae ketus.

“sekarang atau nanti sama saja oppa, eonni pasti akan membantumu. Lukamu belum sepenuhnya kering, jadi jangan sampai terkena air. Biar nuna membantumu melakukan semuanya, ok!”

“nuna, jangan hiraukan omelan bayi tua itu. Aku pergi dulu sebentar, aku akan segera kembali.” Seungri mengelus permukaan lengan atas Gyuri, kemudian dilanjutkan dengan menarik paksa tangan Cae Rin agar segera pergi meninggalkan ruangan itu menuju hotel yang telah disiapkan Max untuknya.

“eonni, oppa kami pergi dulu” teriak Cae Rin sesat sebelum dia menghilang dari balik pintu.

Suasana kamar tiba-tiba saja sepi setelah Cae Rin dan Seungri keluar dari kamar itu. Baik Gyuri maupun Hyuk Jae tak ada yang mau memulai pembicaraan terlebih dulu. Hyuk Jae masih dalam posisinya duduk dengan menyandarkan punggungnya di kepala bangsal. Sedangkan Gyuri masih berdiri mematung di samping kiri bangsal dengan jarak kurang lebih 3 meter dari Hyuk Jae. Setelah 10 menit berlalu, tampaknya Gyuri telah mendapatkan energy dan keberaniannya. Dia mendekat ke arah Hyuk Jae, pelan tapi pasti. Tak ada kata yang terucap, bibir Gyuri bahkan tak mengucap ‘permisi’ saat jemari-jemari lentiknya mulai melepas satu demi satu kancing baju Hyuk Jae. Diam, begitu juga dengan Hyuk Jae. Dia juga sama sekali tak menolak dengan apa yang dilakukan Gyuri, sesuatu yang memang selalu dilakukannya selama 2 minggu terakhir di apartemen baru mereka tersebut.

“Gyuri-shi…..” tangan Hyuk Jae menghentikan laju jemari Gyuri tepat di kancing baju terakhirnya. “kenapa kau seperti ini?”

“ini tugasku Hyuk Jae-shi”  jawab Gyuri singkat.

“setidaknya kau bisa menolak saat Seungri terus menekanmu untuk merawatku!” Gyuri melanjutkan kegiatannya melepas kancing baju Hyuk Jae diteruskan dengan melepaskan kain khas rumah sakit itu dari badan atas Hyuk Jae.

“Seungri tidak pernah menekanku. Aku sendiri yang menginginkannya!”

“kau—-“

“aku bukan gadis murahan! Aku melakukannya karna kau seperti ini saat menyelamatkan nyawaku. Kau mungkin tidak nyaman dengan keberadaanku di sisimu. Tidak seperti Seungri dan juga Cae Rin yang memiliki Max dan Woon untuk menjaga mereka, kau justru mendapatkan teman sepertiku yang hanya dapat menyusahkanmu!”

“teman! Kau menyebut dirimu teman!”

“kau keberatan? Kau bisa menganggapku pelayanmu jika itu membuatmu senang!”

“Gyuri-shi, jika kau melakukan semua ini hanya demi balas budi sebaiknya kau segera akhiri saja. Aku tidak apa-apa dan kau tidak perlu melakukan apapun untuk membalas budi padaku!”

Perdebatan mereka terus berjalan, sedangkan Gyuri masih sibuk dengan beberapa peralatan yang ia bawa dari apartemen mereka. Segulung plastic wrap dan juga plester untuk menutupi luka Hyuk Jae agar tidak terkena air dia siapkan di meja. Dengan telaten Gyuri menutup luka Hyuk Jae, dia sudah belajar banyak dengan 2 orang susuter yang berada di apartemen mereka, sehingga Gyuri terlihat cekatan dan lihai saat menutup luka Hyuk Jae dengan plastic yang ia bawa. Tak ada tanggapan yang keluar atas pernyataan terakhir Hyuk Jae, Gyuri terlalu konsentrasi dengan pekerjaanya. Setelah selesai, Gyuri berjalan ke luar kamar. Rupanya Gyuri memanggil Woon yang sedang berjaga di luar.

“Dong Woon-shi, tolong bantu dia mandi. Aku akan menunggu kalian di sini. Panggil aku jika perlu bantuan, Ok!”

“baik…”

Hyuk Jae tecengang, dia tak menyangka gadis yang baru saja menyentuh tubuhnya bisa berubah sikap secara cepat. Bahkan kemarin saat dia memutuskan untuk pergi, dia masih melihat rasa takut dari dalam mata Gyuri. Tapi sekarang semuanya sirna, Gyuri lebih berani dan dia sudah dapat menguasai keadaan dengan baik. Sorot matanya lebih tajam dan bersinar dari biasanya, langkah kakinya lebih mantap dari biasanya yang terkesan lemah tak bergairan. Suaranya tak lagi bergetar saat berbicara, dan.. penampilannya berubah 1800. Hari itu dia mengenakan blouse merah dengan pants biru yang terlihat sexy di tubuh Gyuri. Kakinya dibalut sepatu flat kuning baru pemberian Cae Rin. Rambutnya diikat sedikit tinggi memperlihatkan sedikit tengkuknya. Wajahnya dihiasi make up tipis yang membuatnya terlihat anggun. Gyuri tampak menarik.

“Aku tidak ingin Woon, aku ingin Kau….!!”

–o0o

TBC

20 thoughts on “[FF Freelance] I Wish I Were You (Part 4)

  1. ow.ow,, klimat terakhr sngguh mnggoda.. Haha..
    next part bnyakin hyuk-gyuri moment part dong thor.. aq suka kopel ini.. n lnjutanny jgn lama2.. msh pnasaran dgn khdpn si hyuk jae yg kras kpala ini..

    • aku juga suka ma couple ini..
      hihihihi..ternyata kita sama 🙂
      eummmm…
      aku juga lagi kegirangan nih bikin cerita romantis..
      moga aja ntar next part bagus n enak d baca..
      gomawo.. udah jadi reader pertama yg comment ^^

  2. hahahahha…hyuk jae mulai suka gyuri nih kayanya.

    part ini ga ada jinie dan kenny,kapan perselingkuhan mrk kebongkar??
    oiya,hyuk jae kan sakit kepala ya,knp sih thor asal mula sakitnya?apa hyu jae pernah kevelakaan atw mang dia sakit????
    ditunggu lanjutannya ya 🙂

    • sebenernya si HyukJae mulai suka ma aku,
      bukannya ma Gyuri..
      *plakkkkkkkkkkkkk*ngawur..
      hahahahaha
      kecelakaan? di part sebelumnya kan udah d ceritain sekilas tuh..
      pasti kamu kelewatan.
      btw, makasii udah koment ^^

  3. kalimat terakhir penuh makna. hahahaha
    ini hyuk kapan mulai suka sm gyurinya sih? jgn lama2 /plakk/

    ditunggu next part 😉

  4. Hyukjae manjaaa..sama aja kyk adeknyaaa…huwah :3

    makin seru..! Pas lil hyuk jae nya taunya udh meninggal,feel nya dpt bgt thor…sedih T__T
    hari ni tepat ‘real’ panda manja ulang tahuuun~ aaaa happy b’day uri cutest maknae 😉 dont grow up ok! Tetep manja dn cool kyk sekarang yaaa love ❤ #121212VIday
    *cus ke next part..keep writing thor! Yeah ^^9

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s