[Part 4] Because I Love You (Love is Dillema)

 

Author: Kim Key94 (Keyindra)

Genre: Romance, Angst, Sad

Cast:              

Park Jiyeon ‘T-ara’

Baek Suzy ‘Miss A’

Kim Myung Soo ‘Infinite’

Kim Yesung ‘Super Junior’

 

Lenght: chapter

Rating: PG 16

Disclaimer: FF ini aku terinsiprasi dari seorang Elfishsparkyu. Jeongmal gomawo untuk Elfishysparkyu yang telah menciptakan karya yang menginspirasi ini karena idenya bisa tercipta FF ini. Tokoh dan lain – lainnya murni milik Tuhan Yang Maha Esa. Jadi jangan heran kalau ada readers yang pernah baca.

NB: Bwt comment-nya makasih semuanya. Author ga tahu sampai kapan FF ini akan berlanjut. Dan mianhae baru bisa post sekarang..

Gak usah banyak intro langsung aja Cekidotttt….

#mian masih banyak Typo

#mian certanya gak dapat feel and gak jelas arahnya..

 

SILAHKAN MEMBACA GRATIS!!!!!…

*****

Kehidupan itu harus memilih, meski berat jika menjalani dengan apa yang kita telah pilih…….

Jiyeon melangkahkan kakinya dengan cukup tergesa. Pikirannya kembali mencuat tentang tentang apa yang pernah dikatakan Jungsoo. Bagaimana ia mencari kedekatan terhadap Jisoo agar bisa dianggap sebagai eomma kandungnya?.

Kini semua sudah diputuskan oleh Jiyeon, meskipun keputusan itu hanya sepihak dan mungkin akan menyiksa batin Myungsoo.

“sudah kuputuskan aku akan mengambil Jisoo dari Kim Myungsoo!. Akan kutempuh berbagai cara agar Jisoo bisa berada disampingku meski harus kepengadilan sekalipun akan kulakukan!.”

Jungsoo dan Yesung yang sedari tadi fokus berkutat dengan tablet android serta laptop mereka masing – masing  lekas menghentikan aktivitasnya sejenak mendengar pernyataan Jiyeon yang tiba – tiba mendadak seperti itu.

“kau serius?.” Tanya Jungsoo memastikan. Ia terlihat begitu sangsi dengan pernyataan Jiyeon baru saja.

“tentu saja oppa, aku dan Yesung oppa akan membawa Jisoo ke London. Memulai kehidupan baru yang lebih baik dengan Jisoo berada disampingku selaku eomma kandungnya.”

“Jiyeon-ah. kau tahu itu tak semudah yang kau bayangkan. Apa Kim Myungsoo mau menyerahkan begitu saja Jisoo padamu?.” Imbuh Yesung yang berjalan menghampirinya.. Ia paham tentang situasi yang tengah dihadapi Jiyeon seperti ini. Jiyeon tengah berada dalam puncak emosinya meski emosi itu harus tertahan.

Jiyeon menggeleng lemah. “aku baru saja bertemu dengan Suzy selaku istri dari Myungsoo dan dia mengatakan menolak untuk memberikan Jisoo dalam asuhanku. Aku tahu pasti jika Myungsoo pasti akan melakukan hal yang sama pula dengan apa yang Suzy lakukan padaku. Dan hanya pengadilan-lah yang bisa kujadikan jalan terakhir untuk bisa mengambil hak asuh Jisoo dari tangan Myungsoo.”

“Hyung-bagaimana menurutmu?. Apa kau bisa membantu menangani masalah Jiyeon ini?.” Yesung menatap Jungsoo untuk mencari sebuah kepastian tentang penanganan yang selanjutnya.”

“aku akan membantu semampu yang aku bisa lakukan untuk Jiyeon.” Lanjut Jungsoo. “tapi aku tak yakin.” Jungsoo melipat tangan didadanya berusaha mencari jalan keluar yang terbaik.

“Hyung kau seorang pengacara pasti kau tahu bagaimana menyelesaikan kasus yang seperti ini.” Imbuh Yesung menepuk pelan bahu Jungsoo.

“Posisimu Sulit Jiyeon-ah. Mengingat kau dan Myungsoo hanya menikah secara agama tanpa didaftarkan catatan sipil dan itu membuatmu tak pernah terikat pernikahan dengan Kim Myungsoo dilihat dari negara. Jadi itu sulit untukmu mengambil Jisoo dari tangan Myungsoo. Memang kau bisa melakukan tes DNA untuk membuktikan bahwa kau adalah ibu kandung dari Jisoo, tapi itu tak cukup Jiyeon-ah. Kau tahu jika Jisoo mempunyai kekuatan hukum sebagai putri kandung yang sah Myungsoo dengan Bae SuJi. Mereka berdua adalah orang tua Jisoo, jelas mereka berdua pasti akan mempertahankan Jisoo sebagai putri mereka dan bisa saja mereka berdua akan menggugat balik dirimu. Serta, apa Jisoo mau ikut denganmu?. Ini pun tak akan cukup untuk menjadi pertimbangkan hakim dipengadilan.”

“lalu apa yang harus kulakuan?. Aku sudah memiliki keluarga bersama Yesung oppa apa itu tak cukup untuk bisa mendapat hak asuh dari Jisoo untuk bersamaku, apa itu kurang?.”

Yesung menggeleng pelan. “ semua pasti ada jalannya. Kita selesaikan dan bicarakan baik – baik dengan Kim Myungsoo.” Yesung kemudian beralih memandang wajah Jungsoo yang terlihat bingung.

“Kita bicarakan dulu baik – baik dengan Myungsoo. Pengadilan adalah jalan terakhir untuk masalah ini.” ucap Jungsoo bijak.

Yesung mengangguk. “ aku sependapat denganmu. Pengadilan itu prosesnya akan rumit. Iya jika kita menang, kalau kalah?. Itu akan membuatmu jauh menyakitkan lagi Jiyeon-ah.”

“terserah kalian saja.” Jiyeon melangkah lemas. Meski sesulit ini, apapun ia akan lakukan demi Jisoo berada disampingnya. Meski harus merebutnya dari Kim Myungsoo.

*****

“Aku hanya ingin bersama Jisoo Suzy-ah. aku tak serakah dan masih mengharapkan Myungsoo. Tolong berikan Jisoo padaku. Aku dapatkan Jisoo dan kau mendapat Kim Myungsoo, adil kan?.”

 

Kata demi kata itu masih terngiang – ngiang dalam benak dan pikiran Suzy. Ia masih berpikir ulang tentang apa yang dikatakan oleh Jiyeon. Ia yang tengah menikmati sarapannya menjadi tak berselera dengan pikiran yang masih berpusat pad Jiyeon dan Jisoo.

“eomma, lihatlah!. Selaimu banyak sekali dan kenapa eomma melamun?.” Celoteh Jisoo, barulah itu membuat Suzy tersadar.

Buru – buru Suzy meletakkan rotinya dan menatap Myungsoo seksama. “ Myungsoo oppa, bagaimana jika Jisoo tinggal bersama Jiyeon?. Jiyeon begitu menginginkan Jisoo berada disisinya.” Ucapnya hati – hati.

“mwo?.” Myungso kemudian beralih menatao Suzy yang tiba – tiba saja berbicara seperti itu.

“aku pikir Jisoo lebih berhak untuk tinggal dengan Jiyeon selaku ibu kandungnya.”

“Jiyeon boleh setiap hari bertemu dengan Jisoo. Tapi tidak untuk tinggal dengannya.” Tegas Myungsoo.

Suzy tahu pasti itu adalah jawaban yang akan terlontar dari mulut Myungsoo. Ia tahu persis jika Jisoo adalah segalanya bagi Myungsoo. Ataukah ada alasan lain?.

“kenapa oppa?. Oppa taku jika kehilangan Jisoo?. Atau oppa masih ingin setiap hari bertemu dengan Jiyeon?.” Suzy lekas mengalihkan pandangannya terhadap Myungsoo. Berusaha menutupi perasaan sakit saat dirinya mendapati Jiyeon adalah orang yang tak akan pernah dilupakan oleh Myungsoo. Ia tahu jika kini Myungsoo tengah menatapnya tajam.

Mungkin ada benarnya juga. Meski itu bukan alasan yang utama. Apakah salah jika ia ingin memiliki dan mencintai Myungsoo secara utuh?. Tidak bisakah ia menjadi pengganti Jiyeon dihatinya?.

“apa Jiyeon yang meminta Jisoo untuk tinggal bersamanya?. Jika ia ingin selalu berada didekat Jisoo aku akan mempertimbangkan ia untuk berada dirumah ini meski hanya beberapa hari. Tapi tidak untuk selamanya.”

“tapi Jiyeon berniat akan membawa Jisoo ke London bersama dengan suaminya.”

“jangan asal bicara Bae Su Ji?.” Sentak Myungsoo. “apa dia berpikir untuk mengambil Jisoo dariku?. Selamanya itu tak akan pernah terjadi!.”

“kurasa Jiyeon juga berhak mengasuh Jisoo karena Jiyeon adalah eomma kandungnya. Apa kau masih mengharap Jiyeon untuk kembali disisimu?.”

Suzy seakan sudah tak kuat lagi dengan beban hidupnya. Ia tahu jika ia tak pantas jika berbicara seperti ini. tapi inilah kenyataan yang tak dapat diindahkannya. Jika Myungsoo masih mempunyai perasaan dengan Jiyeon. Sakit memang rasanya mencintai seseorang tapi tak pernah dilihat.

“kau ini bicara apa Suzy –ah?.” apa kau sudah tak mau lagi menjadi eomma dari Jisoo?. Apa kau tak menyayangi Jisoo sebagai putrimu?.” Cecar Myungsoo bertubi – tubi seakan memojokkan dirinya. “ selamanya Jisoo akan bersamaku.” Tekan Myungsoo sekali lagi yang membuat semakin miris hati Suzy.

“aku tahu jika sampai saat ini kau masih mencintai Jiyeon dan berharap ia akan kembali lagi padamu.” Gumam Suzy getir menahan sesak dadanya akan sakitnya karena cinta. “Apa aku salah jika aku taut kehilanganmu?. Biarkan saja Jisoo bersama dengan Jiyeon. Kau masih bisa punya anak lagi dariku kan?.”

“kau picik sekali!.” Ucap Myungsoo menunjuk Suzy dengan jari telunjuk tepat didepan wajahnya. Suzy mematung seketika, bulir air matanya tak dapat dibendung lagi dan perlahan turun. Menangis karena cinta, merasakan sakitnya cinta sepihak. Itulah yang tengah kini ia rasakan.

Myungsoo lekas menghampiri Jisoo yang tampak ketakutan melihat pertengkaran kedua orang tuanya. “Jisoo, kau pergi kesekolah bersama appa saja ya?.” Kata – kata Myungsoo seakan menyayat kembali hati Suzy yang terluka, bahkan kini ia sudah tak mengerti dengan sikap Myungsoo yang sekarang ini.

Jisoo mengangguk patuh lalu menerima gandengan tangan Myungsoo dan lekas berjalan beriringan dengan sang appa. Suzy yang melihatnya masih mematung kaku tan pa berucap. Lidahnya seakan kelu dan tertahan untuk mengatakan ‘kajima’ pada mereka berdua. Perlahan air matanya mengalir pelan, ia kuasa membendung tangisnya. Menangisi kehidupan pilu ini yang ia jalani bersama Myungsoo.

“Apakah aku pantas menjadi istrimu Kim Myungsoo?.” Desis Suzy pelan tertunduk menangis.

*****

Seorang Yeoja cantik melangkah terburu sambil sesekali melirik jam yang berda di pergelangan tangannya.. ini mungkin hari keberuntungannya jadi untuk itu ia tak boleh terlambat. Tidak boleh terlambat untuk menjemput Jisoo.

Pikiran Jiyeon kembali meyeruak. Aneh memang ketika Myungsoo menelponnya dan menyuruhnya untuk menjemput Jisoo disekolah taman kanak – kanaknya. Bukankah itu tugas Suzy setiap harinya?. Tapi senuym lebar kembali ditampakkannya. Sebentar lagi ia akan bertemu Jisoo. Hal itu yang terus Jiyeon pikirkan.

Jiyeon tersenyum lega ketika melihat putri kecilnya tengah berdiri manis didepan pintu gerbang sekolahnya.

“Jisoo-ya. Apa kau menunggu lama?. Mianhae ahjumma menjemputmu terlambat.” Sesal Jiyeon.”

“ahjumma.” Panggil Jisoo singkat. Jisoo tak menyangka jika kini yang menjemputnya adalah Jiyeon. Tak seperti biasanya Suzy-lah yang menjemput Jisoo. “ dimana eomma?.” Tanya Jisoo sedikit merundukkan kepala. Jiyeon merasakan ada sesuatu yang aneh terjadi pada Jisoo. Kemudian ia mengangkat dagu Jisoo dan mencoba tersenyum menatap manik matanya.

“ahjumma tidak tahu Jisoo-ya. Appamu tadi meminta ahjumma yang menjemputmu.” Jisoo mendesah pelan. Terlihat kekecewaan yang tergambar dari raut wajahnya itu.

Jiyeon tahu sebenarnya penyebab Jisoo mendadak seperti itu. Ia tahu, bahkan tahu betul apa yang  Jisoo  harapkan. Ia menginginkan Suzy-lah yang menjemputnya, tapi ia segera menepis semua pikirannya itu. Ia tahu jika Jisoo hanya anak berumur 6 tahun. Jisoo belum mengerti tentang keadaan yang sebenarnya antara dirinya, Myungsoo, dan Suzy. Yang ia tahu adalah Suzy adalah eomma satu – satunya yang Jisoo miliki sekarang.

“kajja kita pulang Jisoo.” Ajak Jiyeon akhirny.

Tapi diluar dugaan justru Jisoo menggeleng tidak mau. “aku mau eomma yang menjemputku, bukan ahjumma.”

Hati Jiyeon seketika itu kembali dihantam sebuah batu besar yang menyesakkan, raut wajahnya kembali nanar melambangkan kepedihan yang dalam. Terasa meyesakkan kembali saat Jisoo lebih memilih Suzy sebagi ibu kandungnya. Dan dia hanya sebagai apa?. Tak ada arti yang berlebih dalam hidup Jisoo untuk Jiyeon selain orang yang melindunginya.

“Jisoo ikut ahjumma dulu ya?. Eomma pasti akan menjemputmu.” Bujuk Jiyeon sabar.

“ahjumma jangan bohong. Aku hanya ingin eomma buka ahjumma.” Kekeuh Jisoo.

“ne, Suzy eomma sudah menunggu kita berdua.”

“jinja?.” Jiyeon mengangguk yakin mencoba menenangkan putri kecilnya itu.

Kali ini Jisoo mengangguk menyetujuinya.. meski tampak malas, Jisoo akhirnya mau menurut pada Jiyeon dan menerima gengaman tangan dari Jiyeon.

Baru beberapa langkah berjalan Jisoo melontarkan sebuah pertanyaan yang mencengankan bagi Jiyeon. “ahjumma apa benar kau adalah ibu kandungku?.”

Seketika itu langkah Jiyeon terhenti dan memandang putrinya kembali. “siapa yang mengataknnya Jisoo?.” Tanya Jiyeon tercekat.

“tidak ada.” Geleng Jisoo. “ aku hanya mendengar pembicaraan Appa dan Eomma. Appa selalu menyebut nama ahjumma setiap kali bebicara dengan Eomma. Orang dewasa sulit dimengerti. Teman – temanku hanya punya satu eomma mana mungkin aku punya 2 eomma. Eommaku hanya ada satu yaitu Suzy eomma.”

Jiyeon hanya mampu tersenyum miris melihat putrinya kini tengah menanyakan hal yang selalu diharapkannya. Haruskah ia menjawabnya sekarang?.

“Jisoo-ya. Bukankah bagus punya dua eomma?. Berarti Jisoo semakin banyak yang menyayangi. Justru seharusnya Jisoo harus bahagia.”

“aku tidak mau!.” Jawab Jisoo ketus melepas secara kasar genggaman tangan Jiyeon.

“Jisoo-ya. Kenapa kau bersikap seperti ini.” tanya Jiyeon mengernyitkan dahinya bingung.

“aku tak mau eomma dan appa bertengkar setiap hari. Jisoo tak mau jika Jisoo selalu melihat Appa marah dan eomma menangis. Suzy eomma adalah eomma Jisoo satu – satunya. Setiap hari eomma selalu menangis ketika akan menidurkan Jisoo. Jisoo tak sanggup jika melihat eomma menangis.” Kini Jisoo mulai terisak pelan.

“Jisoo-ya.” Desisi Jiyeon lirih namun seakan tertahan. Jiyeon hanya mampu mengusap kepala Jisoo pelan. Ternyata bayangan keluarga bahagia yang ada dalam bayangan pikiran Jisoo itu tanpa kehadirannya. Hanya ada Suzy dan Myungsoo serta Jisoo beada ditengah – tengah mereka. Hanya Suzy dan Myungsoo tanpa dirinya selaku ibu kandung yang melahirkan Jisoo.

“ahjumma jebal. Setiap hari eomma menangis setelah bertengkar dengan appa hanya karena menyebut nama ahjumma. Aku hanya ingin eomma ahjumma, Jisoo tak mau eomma sedih.”

Tercengang seketika mendengar perkataan dari Jisoo. Diumurnya yang seerti ini ia bisa kritis dengan semua keadaan yang tengah Myungsoo, Suzy dan ia kini. Jiyeon lekas menghapus air matanya kini yang mengalir tanpa instruksi. Ia tak boleh menangis. Inilah kehidupan tak selamanya manis untuk menjalaninya. Tapi jika kehidupan itu pahit bahkan sepahit apapun akan terasa manis jika mampu menghadapinya.

“jisoo ingin pulang tanpa ahjumma yang mengantar. Jisoo akan menunggu hingga eomma menjemput Jisoo.”

Jisoo lekas berlari meninggalkan Jiyeon. Jiyeon mencoba berteriak memangil nama Jisoo berulangkali. Namun seakan tak mendengarnya Jisoo berlari untuk menyebrangi jalan.

“Jisoo-ya. Awas!!!.” Jiyeon melihat kearah berlawanan dari Jisoo dan mendapati sebuah mobil kini tengah melaju kencang yang akan menghantam Jisoo.

Untuk bebrapa saat Jiyeon mematung, tak bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Ia melihat kejadian itu. Saat Jisoo ditarik oleh seorang laki – laki agar menjauh dari mobil. Hati Jiyeon bergetar hebat meilhat pemandangan didepan matanya. Ternyata Tuhan masih baik padanya membiarkan Jisoo selamat dari kecelakaan melalui tangan orang lain.

“Jisoo.” Ucap Jiyeon bergetar hebat ketika melihat Jisoo tengah berada dipelukan namja itu. Jiyeon mengenal namja itu bahkan namja itu menghampirinya dengan menggendong Jisoo kearahnya.

“op..pa. Yesung oppa.” Jiyeon kembali tak kuasa membendung airmatanya yang keluar dengan sendirinya. Suaminya-lah yang menyelamatkan putri kecilnya. Ibu macam apa ia ini tak becus menjaga anaknya sendiri.

Air mata Jiyeon kembali menngis tanpa instruksi. Air mata itu terus saja terjatuh seiring dengan perihnya hati Jiyeon. Pantas saja jika Jisoo memilih Suzy eommanya, bahkan ia pun tak bisa menjadi eomma yang baik bagi Jisoo.

“Jiyeon-ah. gwenchana.” Tanya Yesung yang mencoba menenangkan yeoja yang paling dicintainya itu.

“ahjumma mianhae.” Isak Jisoo.  Jiyeon terlalu bingung meluapkan perasaanya. Ia hanya mampu memeluk erat Jisoo yang berada dalam gendongan Yesung.

“ahjumma jangan menangis. Jisoo tahu jika Jisoo salah.”

Jiyeon menggeleng pelan. “aniyo Jisoo.” Sangkalnya

“jangan menangis ahjumma. Aku sudah tidak menangis.” Jisoo lekas menghapus air matanya itu lalu mulai tersenyum ceria. “ lihatlah ahjumma, Jisoo sudah tak menangis lagi.” Pamernya.

“Jiyeon-ah. lihatlah putrimu. Dia sudah tak menangis. Tolong berhentilah menangis, Jisoo tak mau melihatmu seperti ini.” Kali ini Jiyeon mengangguk. Yesung kemudian menarikanya dalam pelukan bersama dengan Jisoo.

“aku sangat  menyayangimu ahjumma. Karena kau adalah bidadari pelindungku.” Gumaman terakhir Jisoo itu mu tak mau membuat sedikit kelegaan dihati Jiyeon yang kini tengah menangis pilu.

*****

“ini hari ulang tahun Jisoo yang keenam. Jungsoo hyung bilang jika ia lahir satu hari sebelum tanggal ulang tahunmu. Tanggal 5 juni. Aku tak menyangka jika Jisoo sungguh beruntung bisa lahir sehari sebelum ulang tahunmu.”

Myungsoo tersenyum sendiri sambil terus mengemudikan mobilnya pelan. Sesekali melirik Jisoo yang tertidur pulas di jok belakang mobil. Sementara Jiyeon hanya bisa diam mematung kaku. Ia tak mengatakan pada Yesung jika hari ini ia pergi bersama mantan suami dan putri kecilnya untuk merayakan ulang tahun Jisoo.

Terlalu nekat ia saat menerima ajakan Myungsoo untuk merayakan ulang tahun Jisoo degan dirinya yang hanya selang waktu sehari.

Malam semakin larut ketika mereka bertiga telah sampai disebuah resort kecil di Jeju. Suasananya sangat sejuk dan menenangkan.

Perlahan Myungsoo merebahkan putri kecilnya itu diatas ranjang dan berjalan menghampiri Jiyeon yang berbincang dengan seseorang melalui ponsel dibalkon kamar.

“Jiyeon-ah.” panggil Myungsoo pelan. Jiyeon menoleh setelah ia mematikan ponselnya yang menerima panggilan.

“tidurlah, kau pasti sangat lelah.” Perintah Myungsoo.

Jiyeon menggeleng. “ aku tahu jika ini tak benar.” Gumamnya. “aku hanya ingin bersama Jisoo. Aku lelah dengan semua ini. Aku tak ingin menyakiti hati Suzy begirupun Yesung oppa. Suzy adalah sahabat baikku sedangkan Jongwoon oppa adalah suamiku. Tolong izinkan aku membawa Jisoo.”

“Jiyeon-ah. jika aku bertanya apakah kau mencintai orang yang bernama Kim Jongwoon itu?.”

“apa hak-mu mencampuri perasaanku kembali. Aku mencintainya kim Myungsoo-sshi.”

“berhenti memanggiku dengan sebutan formaal itu.”  Sela Myungsoo tegas. “ aku sakit mendengar ucapanmu yang seperti itu jiyeon-ah.”

“kau tahu Park Jiyeon. 6 tahun bukan waktu yang singkat untuk merindukanmu. 6 tahun pula aku terkatung – katung menunggu kedatanganmu kembali. Bagaimana rasanya kehilangan harapan bahwa aku tak bisa lagi melihatmu?. Dan setelah kembali kau telah menemukan penggantiku. Aku sakit Jiyeon-ah melihat pemandangan didepan mataku antara kau dengan Kim Jongwoon.”

Kembali Jiyeon meneteskan air mata. ia tak memungkiri jika hatinya masih ada puing – puing cinta yang ditinggalkan oleh Myungsoo. “jebal. Jangan terus menyiksa perasaanku seperti ini.” isaknya lirih.

Bersama dengan itu pula Myungsoo lekas mendekap dan memeluk erat Jiyeon. Menyalurkan rasa rindu yang selama 6 tahun ini menyiksa mereka berdua.

“kenapa harus seperti ini. 6 tahun bukan waktu yang singkat untuk bisa melupakanmu. Tapi aku tak bisa melakukan itu.” Jiyeon menangis semakin menjadi – jadi.

Lama mereka berdiam dari posisi seperti itu. Membuat mereka terhanyut akan suasana. Suasana 6 tahaun lalu menjadi sedikit penawar ketika ia sangat merindukan sosok seorang Myungsoo yang dulu pernah mengisi hatinya.

“serahkan Jisoo padaku, aku akan membesarkan Jisoo dengan baik dan akan menjauh dari kehidupanmu bersama dengan Suzy.”

“anii. Aku tak akan melepas Jisoo begitupun dengan dirimu Park Jiyeon.

“micheosseo?.” Apa kau gila atau bodoh Kim Myungsoo?.” Sentak Jiyeon sedikit meninggi dan menatapnya tajam. Ia segera melepas secara kasar dari rengkuhan Myungsoo. “ kau sudah menikah Kim Myungsoo dengan Suzy, apa kau lupa itu?.”

“kau tahu bahkan aku pernah hampir gila karena kehilanganmu. Apa kau tahu itu Park Jiyeon!.” Balas Myungsoo tak kalah tajam dan sengit. “ sekarang aku memang tak bisa memakai akal sehatku. Karena apa?. Karena aku terlalu buta untuk mencintaimu. Kembalilah padaku kita jalani hidup bersama – sam dengan Jisoo.” Tegasnya.

Jiyeon terus menggeleng lirih. “ aku tak sepicik itu. Kau punya kehidupan sendiri dan aku sudah punya Jongwoon oppa disampingku. Aku mencintainya Kim Myungsoo!. Dan kau tahu jika Suzy mendengar semua perkataanmu, apa kau tega melukai hati seorang yeoja yang telah mencintai dan membesarkan Jisoo untukmu?!.”

“aku masih mencintaimu, sangat mencintaimu dan akan terus mencintaimu.”

“aku tak peduli!. Yang kuinginkan hanya Jisoo berada disampingku. Aku bisa membesarkan Jisoo bersama dengan Jongwoon oppa.”

“Park Jiyeon!!.” Sentak Myungsoo sedikit menahan amarahnya.

“eomma. Jisoo sayang pada eomma.” Igauan dari Jisoo spontan menghentikan pertengkaran dua sejoli yang pernah saling mencintai ini. kini mereka terdiam sendu memahami perasaan masing – masing.

“aku tak tahu harus bagaimana. Aku lelah dengan semua ini. semua ini terlalu sulit untuk kuhadapi.” Desah Jiyeon pelan. Lalu merebahkan diri disamping Jisoo. Memeluknya erat seakan tak mau kehilangannya.

“andai waktu dapat diputar kembali. Lebih baik aku tak dilahirkan didunia ini jika hanya untuk saling menyakiti perasaan orang – orang disekitarku.” Ucap Jiyeon terakhir kalinya sebelum memjamkan mata. mengistirahatkan dirinya dari lelahnya kehidupa yang dijalaninya.

–TBC­­–

Silahkan tinggalkan komentar untuk menghargai karya kami.

Mian kalo kependekan and gak dapet feel. Ide author dadakan and cukup sampai disini.

Gamsha chingundeul……

32 thoughts on “[Part 4] Because I Love You (Love is Dillema)

  1. Anyeong haseyo.
    q readers br dsni,slm knal chingu..,:)
    ffny keren bgt eonnie,hadeuh dhti trllu mnyakitkn kisahnya.hehehe…
    Suzy yg sbar…lbh baik smntra km prgi dr rmh dl biar myung menydari bhwa dy sangt mmbthkn mu. Klo myung bkn jdoh u,moga u dpt yg lbh baik dr dy.(hahahay.,sok tau ni gw,mf y author)
    Myungso… ingt cnta sjti ta hrs mmiliki(sok tau lg..:D), km trllu kjam skali ma suzy,dy yg dah brkorbn sgalanya tuk km hngga bs mrwat n mbsarkn jiso.

  2. Wuaah.. Daebak!! Jeongmal!! Daebak ff chingu~ya!! Suzy sih cmbru buta dan cr nya mendesak gt ya myungpa marah dong y.. Ayo thor buat myungyeon couple balikan ♌ suzy sm yesung oppa aja deh y.. . =)) ‎​​‎​‎​‎​‎​‎​‎​‎

    _/ \_ ᴴªᴴªᴴª ayo lnjt cpt y chingu.. Ga sbr tggu lnjtnx nih!!

  3. pengen kesian sama suzy tapi juga kesian sama jiyeon
    kesian suzy cinta sama myungsoo tapi myungsoo nya cinta sama jiyeon
    kesian sama jiyeon karena jiyeon di tipu kalo anaknya sudah meninggal eh ternyata masih hidup kesian banget sama jiyeon,
    akhir nanti pasti jisoo lah yang akan tersakiti karena keegoisan orang tuanya
    Myungsoo keras kepala gk penrah engerti perasaan suzy yang 6 tahun suka sma dia bahkan sampai engerawat jisoo dan menganap sebagai anak nya sendiri
    sumpah sedih banget nih ff

    Hiks Hiks Hiks

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s