[FF Freelance] Finding Love (Part 1)

FINDING LOVE chap I

 

Author             : @fabiola_lina

 

Main Cast        :

Lee Donghae          Super Junior

Lee Hyukjae           Super Junior

Cho Hyura              Other Cast

 

Cameo               :

Cho Kyuhyun          Super Junior

 

Diclaimer         : cerita ini milik saya dan saya harap kalian suka. Semua pemain di dalam fanfic ini adalah milik Tuhan, orang tuanya, ELF, dan milik agency mereka tercinta, SMent ^^

 

Warning          : Typo meraja lela.

%%%

 

Seorang gadis kecil berusia kurang lebih 7 tahun tengah terduduk di tepi pantai. Kaki mungilnya ia lipat di depannya, wajahnya ia benamkan di sela-sela kaki yang tengah ia lipat. Isakan demi isakan keluar dari bibir mungil gadis kecil itu. Angin pantai pada siang hari yang begitu sejuk menerbangkan setiap helai rambut sebahu milik gadis kecil itu.

“Aku ingin pulang ke Seoul.” gumam gadis kecil itu menangis.

“Aku ingin pulang. Aku tidak mau berada di sini.”

Gadis kecil itu terus saja menggumam sambil terisak. Tangan mungilnya mengepal, bibirnya bergetar, air mata dari pelupuknya selalu berdesakan untuk keluar dan membasahi pipi chubby gadis kecil itu.

“Kenapa kau ingin pulang ke Seoul?” suara seorang namja yang terdengar asing di telinga gadis kecil itu membuat ia tersadar. Gadis kecil itu menatap seorang namja yang kira-kira berusia 14 tahun yang kini tengah berdiri di hadapannya.

“Aku tidak suka berada di sini, oppa. Aku ingin pulang ke Seoul. Di sini aku tidak memiliki teman.”

Gadis kecil itu kembali menundukkan kepalanya, setetes air mata jatuh membasahi pipinya lagi. Lelaki itu tersenyum lalu mendudukkan dirinya di samping gadis kecil itu.

“Di mana rumahmu?”

“Aku tidak tinggal di sini, oppa. Hanya saja Appa dan Eomma tengah menghadiri acara di sekitar sini.”

“Aku kira kau tinggal di sini, gadis kecil.”

Gadis kecil itu menggeleng kecil, air matanya sudah tak terlihat lagi di pipi chubby-nya. Ia mendongakkan kepalanya lalu menatap lelaki yang kini berada di sampingnya dengan lekat.

Oppa tinggal di sini?”

Ne, aku tinggal di sini. Di rumah kecil sekitar pantai ini.”

Gadis kecil itu mengangguk, sebenarnya ia sendiri bingung dengan pertanyaan yang terlontar dari bibirnya itu.

“Apa kau merasa bosan berada di Mokpo?” tanya lelaki itu pada si gadis kecil.

Gadis itu mengangguk dengan semangat.

“Ah aku akan membawamu jalan-jalan di sekitar pantai ini. Apa kau mau, gadis kecil?”

Senyuman gadis kecil itu terukir di pipi chubby-nya sehingga membentuk sebuah lesung pipit di pipi sebelah kanannya.

Jinja? Apa oppa benar-benar akan mengajakku bermain?”

Lelaki itu mengangguk sambil membalas senyuman dari gadis kecil itu.

Kajja, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”

Lelaki itu menarik tangan gadis kecil itu dan menggenggam tangan mungil gadis kecil itu ke dalam genggaman hangatnya. Gadis kecil itu sudah tidak sabar dengan apa yang akan diperlihatkan lelaki itu padanya. Lelaki itu membawa gadis kecil itu ke sebuah pondok kecil yang tak jauh dari tempat mereka tadi mengobrol. Gadis itu tersenyum lebar ketika melihat isi di dalam pondok kecil itu.

“Huwaaah ikaaannnn..” seru gadis kecil itu lalu melepas genggaman lelaki itu dan beranjak berlari ke akuarium yang bisa dibilang cukup besar. Di dalam akuarium tersebut terdapat beberapa jenis ikan yang berwarna-warni sehingga membuat gadis kecil iru tersenyum tak henti-hentinya.

Oppa lihatlah! Ikan ini sangat lucu.”

Gadis kecil menunjuk sebuah ikan kecil berwarna hitam bercorak biru. Lelaki itu berjalan menghampiri gadis kecil itu lalu berdiri di samping si gadis kecil.

“Mereka lucu-lucu sekali, oppa. Andai aku bisa memeliharanya di rumah.”

Lelaki itu menoleh sejenak ke samping gadis kecil itu, gadis kecil itu meringis.

“Apa aku salah bicara?” tanyanya polos.

“Apa kau benar-benar menginginkan ikan itu?” tanya lelaki itu yang membuat senyuman gadis kecil itu merekah.

“Kalau kau menginginkan ikan tersebut, aku akan mengambilkannya untukmu.”

Lelaki itu bersiap mengambil jaring dari samping akuarium, namun tangan mungil gadis kecil itu segera menahan tangan lelaki itu.

“Tidak perlu, oppa. Aku tidak ingin memisahkan ikan itu dari keluarganya. Lagi pula kalau aku membawa pulang ikan ini, pasti ikan ini tidak akan bertahan lama dan suatu saat pasti akan mati dan meninggalkanku. Aku tidak mau, oppa.”

Gadis kecil itu merengut lalu memandang ikan yang ia maksud tadi dari balik kaca akuarium. Jari kecilnya ia mainkan mengikuti arah ikan kecil itu berenang.

“Ah kalau begitu aku punya sesuatu untukmu. Tunggu sebentar. Janji padaku kau tidak akan ke mana-mana, ne?”

Gadis kecil itu mengangguk mengerti. Lelaki itu pun dengan cepat segera berlari meninggalkan gadis kecil itu sendiri.

“Jangan lama-lama, oppa.” Teriakan gadis kecil itu hanya disambut dengan acungan ibu jari dari lelaki itu. Gadis kecil itu kembali menatap ikan-ikan yang tengah berenang ke sana kemari dan terlihat seperti kejar-kejaran sehingga membuat gadis kecil itu terkekeh sendiri.

“Ikan, aku sangat senang karena hari ini aku bisa melihat kalian. Kalian sangat lucu. Aku tidak pernah menemukan ikan seperti kalian di Seoul. Aku sangat bangga bisa bertemu dengan kalian, suatu saat aku akan memamerkan kepada teman-temanku bahwa aku pernah bertemu kalian di tempat ini.”

Gadis kecil itu tersenyum lagi ketika melihat salah satu ikan yang berada di dalam akuarium yang tengah ia perhatikan sedang bersembunyi di balik semak-semak kecil berwarna hijau,

“Jja..”

Gadis kecil itu menoleh ke belakang, dilihatnya lelaki tadi sambil memperlihatkan sesuatu di tangannya. Gadis itu nampak mengerutkan keningnya lalu beralih memandang wajah lelaki yang ada di hadapannya.

“Apa itu, oppa?” tanyanya polos.

Lelaki itu tersenyum lalu ia meraih tangan mungil gadis kecil itu dan memberikan sebuah gantungan pada gadis kecil tersebut.

Oppa ini..”

“Aku baru saja pulang ke rumahku dan mengambil benda ini. Karena kau tidak mau aku berikan ikan asli maka aku memberikanmu gantungan ikan ini. Mungkin di Seoul banyak gantungan yang kebih menarik dari pada ini tapi aku harap kau menyukainya, gadis kecil.”

Gadis kecil itu tersenyum kecil.

“Aku akan menyimpannya, oppa. Gantungan ini pasti akan mengingatkan aku padamu jika aku pulang ke Seoul nanti. Gomawo, oppa.” kata gadis kecil itu polos sehingga membuat lelaki itu tersenyum tipis.

Oppa, apa pondok ini milikmu?”

Gadis kecil itu kembali menoleh pada lelaki itu lagi.

Ani, pondok ini milik Appa dan Eomma. Aku biasanya hanya menjaga pondok ini jika ada yang ingin membeli ikan hias ini.”

Gadis itu mengangguk, ia kembali memperhatikan gantungan ikan berwarna biru muda itu. gantungan berbentuk lumba-lumba keci berwarna biru..

“Gadis kecil, apa kau mau kita berjalan-jalan di pesisir pantai ini?”

Mata gadis kecil itu melebar dengan sempurna.

“Aku sangat mau, oppa. Kajja kita jalan-jalan.”

Gadis kecil itu segera menarik tangan lelaki itu. Ia ayunkan kakinya berjalan menyusuri pantai yang cukup sepi. Sinar matahari siang tak membuat semangat gadis kecil itu memudar. Setiap ombak kecil datang menghampirinya, gadis kecil itu selalu berusaha melewati ombak tersebut agar rok berwarna merah yang ia kenakan itu basah.

“Aku sangat suka berada di sini, oppa.” seru gadis kecil itu sembari mengukir sebuah gambar di pasir berwarna putih bersih tersebut.

Lelaki itu hanya duduk memperhatikan setiap tingkah yang dibuat gadis kecil itu. Sesekali ia terkekeh ketika melihat gadis kecil itu seperti akan jatuh ketika sedang menghindari ombak yang datang ke arahnya.

“Setan kecil, kajja kita pulang.”

Suara teriakkan seorang lelaki lain membuat gadis kecil dan lelaki itu menoleh secara bersamaan. Gadis kecil itu tersenyum lebar ketika melihat siapa yang tengah memanggilnya itu.

Oppa…”

Kajja kita pulang ke Seoul.” Sekali lagi lelaki itu berteriak dan membuat gadis kecil itu mengangguk. Gadis kecil itu segera menghampiri lelaki itu yang tengah terduduk di atas pasir pantai.

Oppa, aku akan pulang ke Seoul. Gomawo karena oppa sudah menemaniku hari ini.”

Gadis kecil itu tampak mengulurkan tangan kanannya, lelaki itu menatap tangan mungil gadis kecil itu dengan seksama. Namun selang beberapa lama akhirnya lelaki itu menyambut uluran tangan lelaki itu.

“Aku senang bisa mengenalmu, ikan oppa.”

“Dan aku juga sangat senang bisa mengenalmu, gadis kecil.”

Gadis kecil itu segera melepaskan jabatannya dan segera berlari kecil menuju ke lelaki yang dipanggilnya ‘oppa’ tadi.

“Jangan lupa sesekali kau berkunjung ke Seoul, ikan oppa. Otte?”

Teriakkan gadis kecil itu membuat senyuman lelaki itu mengembang sempurna menciptakan senyuman yang sangat manis. Perlahan sosok gadis kecil itu menghilang dari pandangannya. Lelaki itu kembali memperhatikan tangan kanannya yang baru saja menggenggam tangan gadis kecil itu, senyumannya masih tak lepas dari wajah tampannya.

“Aku berjanji akan ke Seoul, gadis kecilku. Aku akan ke Seoul untuk menemuimu lagi.”

 

***

12 YEARS LATER..

 

“YAK CHO KYUHYUN!! KAU APAKAN KAMARKU HAH??”

Suara teriakkan seorang yeoja terdengar begitu jelas di salah satu rumah elit di Seoul. Seorang namja yang bernama Cho Kyuhyun itu segera berlari menghindari kejaran dari yeodongsaeng-nya yang dikenal begitu evil melebihi dirinya sendiri.

Eomma, tolong aku..” Kyuhyun, begitu sapaannya sehari-hari, terus-terusan berlari memutari ruangan yang berada di rumahnya agar tidak dapat tertangkap oleh yeodongsaeng-nya yang sudah mengeluarkan tatapan maut untuknya.

“Yak Cho Hyura, aku akan membersihkan kamarmu sekarang. Kumohon jangan bunuh aku sekarang. Aku masih ingin hiduuuuuppp..”

Kyuhyun terus-terusan memohon pada Hyura –yeodongsaeng­ itu–­ agar mau memaafkannya dan bersedia melepaskan dirinya dari situasi mengerikan ini. Hyura menggeleng cepat, ia kembali memancarkan tatapan mengerikannya pada Kyuhyun yang kini berada di hadapannya. Jarak mereka hanya terhalang oleh meja makan.

Omo anak-anak Eomma ada apa berkumpul di sini.”

Nyonya Cho datang sembari membawa sepanci ramen buatannya dan akan menaruh panci tersebut ke atas meja dapur.

Eomma lihatlah! Hyura akan membunuhku, Eomma.”

Kyuhyun berusaha untuk meminta bantuan kepada Nyonya Cho, namun Nyonya Cho hanya terkekeh.

“Tidak mungkin Hyura membunuhmu, sayang. Kau ini ada-ada saja. Sudahlah, Eomma akan melanjutkan memasak di dapur.”

Nyonya Cho segera beranjak pergi dari hadapan mereka, Kyuhyun memperhatikan kembali wajah Hyura. Wajah Hyura sudah dipenuhi kemenangan dan senyuman smirk yang membuat Kyuhyun bergidik ngeri.

Dengan langkah pelan, Hyura mendekati Kyuhyun yang perlahan-lahan memundurkan kakinya. Hyura berjalan pelan ke arah Kyuhyun diikuti senyuman smirk yang tak lepas dari wajahnya.

“Yak apa yang akan kau lakukan, Hyura-ya.”

Kyuhyun menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Wajahnya sudah dipenuhi rasa ketakutan yang besar. Dengan cepat Hyura segera menarik tangan Kyuhyun dan memelintir tangan Kyuhyun ke belakang. Kyuhyun meringis kesakitan.

“Cho Hyura, appo.. Yak! Tega sekali kau dengan oppa-mu yang tampan ini.”

Cho Hyura mengindahkan semua perkataan Kyuhyun. Ia pun beralih menarik rambut coklat pendek milik Kyuhyun.

“Cho, appo.. Andwae!! Kau membuat rambutku rontok. Yak Cho Hyuraaaa~”

“Ini peringatan agar kau tidak bermain lagi di kamarku.”

Hyura melepaskan tangannya dari rambut Kyuhyun. Ia kibaskan kedua tangannya lalu beralih menatap Kyuhyun tajam.

“Kau dengar apa yang aku katakan, Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun mengangguk sembari meringis menahan perih di kepalanya karena tarikan Hyura pada rambutnya itu.

Dwaeseo Hyura-ya, lepaskan Kyuhyun. Kasihan dia selalu kau perlakukan seperti mainanmu seperti itu.”

Suara itu membuat Hyura dan Kyuhyun menoleh ke arah ruang tamu secara bersamaan. Senyuman Hyura pun merekah ketika melihat siapa yang datang berkunjung ke rumahnya itu, berbeda dengan Kyuhyun yang mendengus melihat siapa yang kini berada di hadapan mereka.

“Lee Hyukjae..”

Lee Hyukjae merupakan tunangan Hyura. Mereka baru saja menjalani pertunangan 2 minggu yang lalu. Hyukjae dan Hyura sama-sama belum memikirkan tentang pernikahan mereka karena Hyura ingin menyelesaikan kuliahnya dahulu sebelum menikah sedangkan Hyukjae ingin mengembangkan perusahaannya dahulu dan menjadi sukses sebelum menikah, sebenarnya Hyukjae merupakan pengusaha muda yang sangat sukses di Korea Selatan. Brand yang di hasilkan perusahaannya sangatlah terkenal di Korea maka tidak heran banyak orang yang menyebutkan bahwa Hyukjae merupakan pengusaha muda yang sangat sukses.

Pertemuan Hyura dan Hyukjae berlangsung saat perusahaan Hyukjae mengadakan acara dan perusahaan Hyukjae mengundang perusahaan milik Tuan Cho untuk menghadiri acara tersebut. Pada saat itu pula, mata Hyukjae terpikat pada sosok yeoja yang tengah mengenakan dress berwarna merah muda soft dengan rambut yang ia ikat setengah. Yeoja itu tak lain adalah Cho Hyura.

Hyura segera berlari ke arah Lee Hyukjae lalu menggamit lengan Hyukjae.

“Kenapa tidak menghubungi aku dulu, Hyuk-ah?” tanya Hyura yang masih setia menggamitkan tangannya ke lengan Hyukjae.

“Aku hanya ingin memberimu kejutan.” jawab Hyukjae sembari mengacak-acak rambut sebahu milik Hyura.

Hyura tersenyum simpul sambil memandang wajah Hyukjae.

“Aku benci berada di suasana romantis seperti ini.” sindir Kyuhyun pedas.

Kyuhyun yang sedari tadi berdiri hanya menonton adegan yang diperankan oleh sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara tersebut sehingga membuatnya muak. Sudah berapa kali jika dihitung –mulai Hyura dan Hyukjae berpacaran sampai sekarang– Kyuhyun harus menonton adegan mesra seperti ini.

“Lebih baik kau mengurusi saja pacar-pacarmu yang sedang mengantri di kamarmu.” balas Hyura masa bodoh.

“Yak! Kenapa kau tak menceritakan padaku kalau kau sudah memiliki kekasih, Kyuhyun-ah?” tanya Hyukjae yang sekarang berganti merangkul pundak gadisnya.

Hyung, kau ini gampang sekali dibodohi oleh setan kecil satu ini.” jawab Kyuhyun yang membuat mata Hyura melotot lebar.

Wae? Ada yang salah?”

“Hyuk-ah, yang aku maksud pacar-pacar Kyuhyun itu PSP, CD Game, dan segala macamnya. Mana ada yeoja yang mau dengan manusia gila seperti dia.”

Kalimat yang terlontar dari mulut Hyura membuat Kyuhyun ingin memakan Hyura hidup-hidup sekarang. Kyuhyun memancarkan pandangan tidak sukanya pada Hyura sedangkan Hyura malah membalas tatapan Kyuhyun. Dengan perasaan dongkol, Kyuhyun segera meninggalkan Hyura dan Hyukjae yang berada di ruang makan.

“Ucapanmu terlalu tajam, Ra-ya.” kata Hyukjae setelah Kyuhyun sudah tidak terlihat lagi dari pandangannya.

“Biarkan saja, Hyuk. Aku sedang kesal dengannya.” balas Hyura kesal sembari duduk di kursi meja makan dan mengambil sepotong roti yang berada di atas meja makan.

“Kau selalu terlihat manis jika wajahmu menampakkan wajah kesal seperti ini.”

Hyukjae segera mendudukkan dirinya di samping Hyura.

“Kau tidak bekerja? Bukan kau bilang kemarin ada meeting penting pagi ini.” tanya Hyura yang melihat pakaian yang digunakan Hyukjae sangatlah rapi. Kemeja berwarna hitam dengan dasi berwarna putih bersih dan tak lupa jas hitam yang selalu digunakannya.

“Sebelum aku berangkat bekerja, tidak ada salahnya ‘kan aku mendatangi tunanganku ini. Aku sedang sangat merindukannya.” jawab Hyukjae yang membuat wajah Hyura memerah.

“Apa kau sudah makan?”

Nde, sebelum aku berangkat ke sini, Seo ahjumma sudah membuatkan aku sarapan.”

“Jadi sekarang kau mau berangkat bekerja ‘kan. Bukannya kau sudah bertemu denganku sekarang.”

Hyukjae terkekeh lalu beranjak dari duduknya.

“Antarkan aku ke depan rumahmu ‘eo?”

Hyura mengangguk, dengan cepat ia berdiri dan segera menggamit lagi lengan Hyukjae. Mereka berdua berjalan menuju ke depan rumah. Setelah sampai di depan rumah, Hyura segera melepaskan rangkulan tangannya lalu beralih pada dasi putih Hyukjae yang terpasang di lehernya.

“Kalau kau sudah sampai kantor segera hubungi aku ‘eo.” kata Hyura sembari membenarkan dasi yang melilit leher Hyukjae.

Hyukjae tersenyum melihat kekasihnya yang begitu ia cintai itu sangat perhatian padanya.

“Baiklah. Mianhae aku tidak bisa mengantarkanmu kuliah hari ini.” sahut Hyukjae sembari menahan tangan Hyura dan meletakkan kedua tangan Hyura di dadanya. Hyura melepaskan tangan kanannya dari genggaman Hyukjae, tangan kanannya kini beralih pada pipi putih Hyukjae. Hyura menyentuh pipi Hyukjae dengan lembut.

Gwaenchana, Hyuk-ah. Bukan kah meeting-mu lebih penting. Aku bisa mengerti.”

Hyukjae tersenyum mendengar kalimat yang keluar dari mulut Hyura, dengan cepat direngkuhnya tengkuk Hyura dan melumat bibir manis Hyura dengan lembut. Hyura sangat menikmati ciuman yang Hyukjae berikan padanya saat ini. Hyukjae hanya memberi lumatan kecil pada bibir Hyura. Bibir Hyura dapat diartikan sebagai candu untuknya.

“Hyuk-ah..”

Hyura mendesah berusaha melepas ciuman dari Hyukjae. Dengan kekuatan yang Hyura punya, ia menjauhkan tubuh Hyukjae dengan tangannya. Hyukjae pun mengerti dan segera melepas ciumannya itu.

“Ingat kau harus meeting pagi ini. Dan jangan sampai terlambat.” ucap Hyura yang membuat Hyukjae tersenyum.

Tangan Hyukjae pun kembali mengacak-acak rambut sebahu Hyura yang membuat Hyura mendengus.

“Baiklah Nyonya Lee, aku berangkat dulu ‘eo.”

Hyura mengangguk lalu dengan cepat Hyukjae memberikan kecupan singkat di bibir dan di kening Hyura.

Annyeong.”

Hyukjae segera beranjak dari tempatnya tadi berdiri lalu berjalan menuju mobil audi berwarna silver miliknya. Setelah mobil Hyukjae keluar dari pekarangan rumah Hyura dan menghilang dari pandangan Hyura, senyuman Hyura tercipta di bibirnya. Jari tangannya kini tengah meraba bibirnya dengan lembut. Lumatan lembut yang mampu membuat Hyura melayang saat itu juga.

 

***

 

Seorang namja dengan perawakan tinggi tengah berdiri di pinggir pantai. Pandangannya tak lepas menatap lautan lepas di hadapannya. Sesekali ia menutup matanya dan menikmati semilir angin yang menyejukkan.

Aku senang bisa mengenalmu, ikan oppa.”

Kalimat tersebut masih terngiang jelas di telinga namja itu. Sudah 12 tahun lamanya namun suara serta panggilan itu tak pernah dilupakan olehnya. Namja itu membuka matanya lalu memandang langit biru yang begitu cerah. Senyuman terukir jelas di bibirnya.

“Aku akan menepati janjiku padamu, gadis kecil. Aku yakin kau menungguku di Seoul.” gumam namja itu.

Namja itu tampak mengambil sesuatu dari balik jaketnya. Ia menatap selembar kertas yang berbentuk persegi panjang itu dengan seksama. Matanya tampak menyiratkan kepuasan yang amat sangat besar.

“Lusa. Aku akan berusaha mencarimu. Lusa. Aku akan menemuimu. Lusa. Aku akan berusaha untuk mendapatkanmu. Dan lusa. Aku akan menyatakan perasaanku padamu. Gadis kecilku.”

Namja itu kembali mengukir senyuman di bibirnya. Matanya masih menatap sebuah tiket kereta yang akan membawanya ke Seoul lusa.

Angin sejuk itu pun kembali menerpa tubuh namja itu. Namja itu kembali menghela nafasnya dan menghembuskannya secara perlahan. Hingga ia merasakan ponsel yang berada di saku celananya bergetar. Dengan cepat, ia menggerakkan jemarinya menggeser layar touchscreen ponselnya.

Yeoboseyo..”

“Hey brotha, apa lusa kau jadi ke Seoul hmm..? Aku akan menjemputmu di stasiun ‘eo.”

Namja itu terlihat menyunggingkan senyumnya saat mendengar suara seseorang yang dikenalnya itu dari seberang telepon.

“Pasti. Tenang saja, aku akan ke Seoul lusa. Aku akan mengabarimu jika aku sudah berada di Seoul sehingga kau bisa menjemputku otte.”

“Dwaesseo, aku tidak bisa lama-lama menelponmu. Pekerjaanku sedang menantiku. Jangan lupa jika lusa kau sudah berada di Seoul segera hubungi aku. Annyeong..”

Sambungan telepon pun terputus. Namja itu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Pandangan matanya kembali beralih pada hamparan lautan biru yang ada di hadapannya. Sejenak bayangan gadis kecilnya itu kembali mampir di dalam ingatannya.

“Tunggulah, gadis kecilku. Aku akan menemukanmu setelah aku sampai di Seoul nanti.”

 

***

 

Hyura meletakkan ponselnya di atas meja setelah ia mengetikkan sebuah pesan kepada seseorang. Hembusan nafas yang keluar menyiratkan bahwa ia kelelahan menjalani hari-hari yang menurutnya sangat padat. Ia kembali memperhatikan Kim songsaengnim yang tengah menjelaskan mata kuliahnya di depan kelas. Walaupun pandangan Hyura menatap songsaengnim yang berada di depan namun pikiran Hyura tidak berada bersama tubuhnya sekarang. Hyura kembali menghela nafas cukup panjang, tanpa sengaja pandangan Hyura jatuh pada gantungan kecil yang ia gunakan sebagai gantungan ponselnya. Senyuman Hyura melebar ketika melihat gantungan itu. Entah apa yang Hyura rasakan, setiap ia memandang gantungan tersebut, hatinya merasa damai dan tenang. Jemari Hyura beralih menyentuh gantungan berbentuk lumba-lumba berwarna biru tersebut.

‘Apa kau masih mengingatku, ikan oppa.’ pikir Hyura.

Hyura menyunggingkan senyuman lalu beralih menatap langit dati balik jendela kelasnya. Langit berwarna biru muda dengan bentuk-bentuk awan yang menghiasi langit itu membuat Hyura kembali teringat akan masa lalunya bersama kenangannya terdahulu. Hyura masih ingat bagaimana bentuk senyuman namja yang ia panggil ‘ikan oppa’ tersebut. Tak hanya itu, Hyura pun masih ingat suara namja itu. Walaupun Hyura sadar mungkin suara itu sudah berubah karena itu sudah terjadi 12 tahun lalu.

Ada perasaan menusuk di dada Hyura saat ini. Perasaan apa itu sebenarnya? Hyura sendiri tidak dapat mengerti dan memahami perasaannya saat ini. Pandangan Hyura beralih lagi menatap gantungan itu. Seperti yang Hyura katakan dahulu, apakah ikan oppa-nya akan mencarinya, apakah ikan oppa-nya masih mengingatnya, dan apakah ikan oppa-nya juga sedang merindukannya seperti yang tengah ia alami sekarang?

 

***

 

Mobil audi berwarna silver sudah berhenti di depan Kyunghee University. Hyukjae –pemilik mobil itu–, keluar dari mobil dan berdiri di samping mobilnya sembari menyenderkan tubuhnya. Hyukjae yang saat itu masih menggunakan kemeja yang masih lengkap dengan dasi dan jasnya tengah memperhatikan setiap yeoja yang lewat di hadapannya. Hyukjae melempar senyum kepada siapa pun yeoja yang tersenyum padanya walaupun Hyukjae sendiri tak mengenali mereka. Hyukjae sadar, pesonanya memang sangat memikat para yeoja yang berada di kampus ini, tak terkecuali yeoja yang tengah ditunggunya sekarang ini. Kacamata hitam yang ia kenakan sedari tadi menambah daya tarik pesonanya sehingga membuat Hyukjae terkesan menawan dan tampan.

“Sudah puas kau memberikan senyuman konyolmu pada wanita-wanita itu.”

Suara yang sangat Hyukjae kenal membuat Hyukjae memutar tubuhnya ke belakang. Yeoja yang sedari tadi Hyukjae nanti-nantikan ternyata sudah berdiri di belakangnya. Cho Hyura –yeoja itu– tampak memperlihatkan wajah kesalnya. Bibir mungilnya ia majukan sehingga membuat Hyukjae terkekeh geli. Ia memang selalu terkekeh setiap melihat Hyura marah ataupun kesal.

“Sudah berapa lama kau ada di belakangku, nona Cho?” tanya Hyukjae menggoda Hyura.

“Sejak kau berdiri di situ sambil mencari perhatian dari wanita-wanita yang lewat di hadapanmu.” jawab Hyura dingin.

Hyukjae tersenyum lagi, perlahan ia mendekatkan dirinya pada Hyura yang masih berdiri tak jauh darinya. Dengan cepat Hyukjae menarik tubuh Hyura dan memberikan sebuah kecupan pada kening Hyura. Hyura membeku melihat perlakuan Hyukjae padanya, hingga ia merasakan tubuhnya kini sudah berada di dalam pelukkan namja yang selalu mengisi hari-harinya itu.

“Aku senang jika melihatmu cemburu seperti ini.”  bisik Hyukjae tepat di samping telinga Hyura sehingga membuat Hyura tidak berani menatap wajah Hyukjae.

Hyukjae segera melepas pelukkannya, kedua tangannya beralih menyentuh kedua pipi chubby Hyura.

“Kau bisa menjaga setiap perkataan yang keluar dari mulutku saat ini, sebanyak apa pun wanita yang mendekati atau pun tertarik padaku, aku tidak akan pernah menyukai atau pun membalas perasaan mereka karena hatiku saat ini sudah terpaku pada seorang yeoja yang sangat cengeng, sangat cerewet, sangat sensitif, dan sangat pencemburu. Yeoja itu bernama Cho Hyura.”

Hyura memukul lengan Hyukjae dengan cukup keras, ia kembali mengerucutkan bibirnya.

“Yak! Aku tidak seperti itu arraseo.”

Hyukjae terkekeh sekali lagi, kini jemarinya beralih menggenggam jemari tangan Hyura dengan lembut.

Kajja, aku ingin kau ikut denganku.”

Hyukjae menuntun Hyura menuju pintu mobil audi-nya. Setelah pintu terbuka, Hyura tak kunjung masuk namun ia memilih berbalik menatap Hyukjae dengan tatapan bingungnya.

“Kita mau kemana?” tanya Hyura yang membuat Hyukjae tersenyum smirk.

“Ke stasiun…”

 

***

 

Seorang namja tengah turun dari kereta yang baru saja berhenti dari menempuh perjalanan yang cukup jauh. Waktu 3 jam cukup membuat namja itu kelelahan karena terlalu lama duduk di dalam kereta tadi. Namja itu tampak menghirup udara kota Seoul yang kini sudah diinjaknya. Seoul, kota yang sangat ia ingin datangi. Senyuman namja itu terukir jelas di wajahnya. Sudah lama ia ingin berada di kota ini, setidaknya hanya untuk bertemu seseorang yang sudah lama mengganggu pikirannya.

Namja itu menyampirkan tas sport di bahu sebelah kanannya. Ia memang sengaja membawa pakaian sedikit karena ia berpikir bahwa dia memiliki saudara di sini maka dari itu ia tak perlu membawa terlalu banyak pakaian dari Mokpo. Namja itu merapikan topi hitam yang ia kenakan lalu menggerakkan kakinya menyusuri peron stasiun menuju ruang tunggu untuk menunggu jemputan.

Setelah sampai di ruang tunggu, namja itu memilih duduk sembari memainkan ponselnya sekedar memberi kabar kepada Eomma-nya yang berada di Mokpo bahwa dirinya sudah sampai di Seoul dengan selamat.

“Aku harus mencari namja yang dimaksud Hyukitu kemana lagi?”

Perhatian namja itu beralih pada sosok yeoja yang kini tengah duduk di sampingnya. Walaupun mereka terhalang jarak satu kursi namun suara yeoja itu dapat didengar olehnya.

“Seharusnya Hyuk menelepon namja itu terlebih dahulu sebelum dia menjemputnya. Aishh.. kau merepotkanku, Hyuk.”

Namja itu terkekeh mendengar umpatan demi umpatan yang keluar dari mulut yeoja yang ada di sampingnya. Namja itu kembali memperhatikan yeoja itu dengan seksama. Yeoja itu tengah mengenakan hoodie berwarna biru muda dan celana skinny berwarna hitam dengan tas ransel hitam yang ia kenakan di punggungnya.

Jweisonghamnida, apakah kereta dari Mokpo sudah datang?”

Lamunan namja itu tersadar saat yeoja yang tengah ia perhatikan itu kini sudah duduk di sampingnya persis –tanpa terhalang satu kursi–. Namja itu tersenyum.

Ne, agasshi. Apa kau sedang menunggu seseorang dari Mokpo?”

Yeoja itu mengangguk tapi detik berikutnya ia menggeleng.

Ani, bukan aku yang menunggu. Aku hanya membantu temanku mencari temannya yang katanya baru saja datang dari Mokpo siang ini. Kalau begitu, kamsahamnida, agasshi.”

Yeoja itu tersenyum sembari kembali memandang orang-orang yang berlalu lalang di hadapannya. Namja itu tersentak ketika melihat senyuman yeoja itu. Senyuman yeoja itu mengingatkan dirinya akan gadis kecil masa lalunya. Namja itu masih memperhatikan wajah yeoja yang ada di sampingnya dengan tatapan dalamnya. Yeoja yang sedari tadi diperhatikan oleh namja itu kembali menolehkan wajahnya pada namja yang ada di sebelahnya.

“Apa ada yang salah dengan wajahku, agasshi?” tanya yeoja itu polos.

Namja itu kembali tersentak lalu menggeleng. Ia menggaruk kepala belakangnya yang sama sekali tidak gatal untuk menutupi kegugupannya.

Ani. Gwaenchana.Namja itu tersenyum pada yeoja itu sehingga membuat yeoja itu beralih menatap wajah namja yang ada di sebelahnya.

“Senyumannya…” gumaman kecil dari yeoja itu membuat namja itu menoleh lagi padanya.

Ye?

“Senyumanmu mengingatkanku pada–“

“LEE DONGHAE MY BROTHAA!!”

Suara teriakkan itu membuat namja dan yeoja itu menoleh. Lee Donghae –namja itu– terlihat berdiri sambil menyunggingkan senyum ketika melihat siapa yang baru saja memanggil namanya itu.

“Lee Hyukjae?” tanya Donghae pada namja yang membuat Donghae tampak kebingungan menebak siapa yang kini berdiri di hadapannya.

Namja yang disebut Lee Hyukjae itu langsung mengangguk dengan cepat.

“Astaga!! Aku tidak menyangka kau menjadi seperti ini, Hyukjae-ah.” kata Donghae seraya memeluk Hyukjae yang merupakan saudaranya ini.

“Kau juga, Donghae-ah. Kau makin tampan saja. Hmm sepertinya aku kalah tampan dibanding dirimu.”

Donghae terkekeh mendengar ucapan Hyukjae setelah melepaskan pelukkannya.

Hyura sendiri menatap dua namja yang ada di hadapannya dengan tatapan bingung. Bagaimana bisa kebetulan ia bertemu dengan orang yang sedang dicari-carinya ini di sini?

“Ra-ya.. bagaimana kau bisa berada di sini?”

Hyura tersadar dari lamunannya, ia mengerjapkan matanya sejenak lalu beralih pada Hyukjae yang tengah memanggilnya. Hyura ikut berdiri di samping Hyukjae, menghadap Donghae tepatnya.

“Aishh aku sampai lupa. Walaupun ketampananmu melebihi diriku tapi masalah kekasih pasti aku dulu yang memiliki.” Hyukjae tertawa sejenak lalu memandang Hyura dan Donghae secara bergantian.

“Donghae-ya, perkenalkan ini Cho Hyura. Dia kekasihku.”

Donghae menatap Hyura yang kini tengah menatapnya. Hyura tersenyum memperlihatkan lesung pipit di sebelah kanan pipi chubby-nya.

Choneun Cho Hyura imnida.”

Hyura membungkukkan badannya lalu kembali melempar senyum pada Donghae. Donghae membalas senyuman Hyura lalu ikut membungkuk.

Choneun Lee Donghae imnida.”

Hyura terkesiap sekali lagi melihat senyuman Donghae. Senyuman itu terasa sangat familiar untuknya.

Dwaesseo, lebih baik kita pulang. Kajja aku akan mengantarkan Hyura pulang terlebih dahulu sebelum kita pulang ke rumah, Donghae-ya. Gwaenchanayo?” tanya Hyukjae pada Donghae.

Donghae hanya tersenyum dan mengangguk.

Gwaenchana. Lagi pula aku juga tidak lelah sama sekali setelah menempuh perjalanan cukup jauh.” balas Donghae yang disambut tepukkan pada bahu Donghae oleh Hyukjae.

Geurae. Kajja kajja!!”

Hyukjae segera menggenggam tangan kanan Hyura dan membawa Hyura di sisinya. Hyura masih diam, ia tak mampu untuk mengeluarkan sepatah kata pun dari bibirnya. Pikirannya masih dipenuhi oleh senyuman Donghae yang menyerupai seseorang yang akhir-akhir ini sangat dirindukan olehnya. Sedangkan Donghae, kini ia berjalan di belakang Hyukjae dan Hyura. Ia memperhatikan tangan kanan Hyura yang tengah digenggam erat oleh Hyukjae. Ada perasaan aneh yang menjalar di ulu hati Donghae saat ini. Ia merasakan sesak saat melihat genggaman Hyukjae tersebut. Ingatan Donghae kembali beralih pada beberapa menit yang lalu, saat di mana ia melihat senyuman Hyura yang sangat mirip dengan ‘gadis kecil’-nya. Donghae kembali memandang punggung Hyura. Mungkinkah Hyura adalah gadis kecil-nya yang selama ini sedang dicari dan dirindukannya?

 

***

 

Mobil Hyukjae sudah berhenti tepat di sebuah bangunan cukup besar dengan gaya klasik berwarna putih. Hyura segera melepas seltbelt yang ia kenakan lalu beralih menatap Hyukjae yang ada di sampingnya.

Gomawo sudah mengantarkanku pulang, Hyuk-ah.” ucap Hyura manis.

Hyukjae tersenyum sambil mengacak-acak rambut sebahu Hyura dengan lembut.

Ne. Terima kasih juga karena kau sudah menemaniku menjemput saudaraku yang tampan ini.” kata Hyukjae sambil melirik Donghae yang duduk di belakang. Donghae menatap Hyukjae sebentar lalu kembali menatap Hyura yang tengah tersenyum ke arahnya.

“Kau tidak kalah tampan darinya, Hyuk-ah. Baiklah, aku akan masuk. Setelah sampai rumah jangan lupa untuk menghubungiku arra.”

Senyuman Hyukjae kembali terukir di wajahnya. Dengan semangat Hyukjae mengangguk seraya memberi hormat pada Hyura.

“Aku siap melakukannya, nona Cho.”

Hyura terkekeh, dengan cepat ia mengecup pipi Hyukjae. Donghae yang melihat adegan di depannya hanya bisa menunduk.

“Aku masuk dulu ‘eo. Annyeong Hyuk-ah. Annyeong…….Lee Donghae.”

Tanpa menunggu lama, Hyura segera keluar dari mobil Hyukjae. Hyukjae dan Donghae memperhatikan Hyura yang semakin lama semakin menjauh dari pandangan mereka, sebelum masuk ke dalam rumahnya, Hyura sempat melambaikan tangannya pada Hyukjae atau mungkin juga pada Donghae. Hyukjae membalas lambaian tangan Hyura, sedangkan Donghae tetap memperhatikan Hyura yang kini sudah menghilang.

“Kau pindah ke depan.”

Donghae tersentak ketika Hyukjae berbicara padanya.

Mwo?”

“Yak ikan! Aku bilang kau pindah ke depan. Duduk di sampingku. Aku ini bukan supirmu arraseo.”

Donghae terkekeh lalu segera membuka pintu belakang mobil lalu pindah duduk di samping Hyukjae.

“Kau masih saja memanggilku ikan, Hyukjae-ah.” kata Donghae seraya mengenakan seltbelt.

Hyukjae tersenyum lalu mulai mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan rumah Hyura.

“Bukan kah itu panggilan kesayanganku untukmu, Donghae-ya.”

Donghae hanya tersenyum samar lalu memperhatikan jalanan yang terlihat dari kaca jendela mobil.

Bukan hanya kau saja yang memanggilku seperti itu, Hyukjae. Tapi gadis kecil-ku juga memanggilku demikian.’

“Yak Donghae-ya! Menurutmu bagaimana dengan Hyura?” tanya Hyukjae memecahkan keheningan yang sempat mereka buat selama beberapa menit. Donghae tampak mengerutkan keningnya, seperti berpikir.

“Manis, lucu, dan mungkin pendiam.” jawab Donghae kembali mengingat-mengingat sosok Hyura yang baru saja ditemuinya.

“Pendiam? Hah! Kau salah menilai dirinya kalau kau menyebut dia pendiam, Donghae-ya. Kau tahu, bahkan dia lebih cerewet dibanding Eomma-ku. Mungkin kau bisa menilai dia pendiam karena sedari tadi di dalam mobil dia tidak jarang berbicara. Padahal sebetulnya dia sangat cerewet. Sepertinya dia masih canggung denganmu, Donghae-ya.

Donghae menghela nafas lalu kembali memperhatikan jalanan yang ada di sampingnya. Benar apa yang dikata Hyukjae, memang saat di mobil tadi yang mendominan berbicara adalah Hyukjae. Hyura dan Donghae memilih untuk diam dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

“Kau…..sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?” tanya Donghae parau, suaranya seakan tercekat ketika ia akan bersuara untuk menanyakan hal tersebut pada Hyukjae.

Hyukjae tersenyum lagi mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Donghae. Ingatan Hyukjae kembali pada saat pertama kali ia menyatakan perasaannya pada Hyura satu setengah tahun yang lalu. Di mana ia menyatakan perasaannya dengan cara mengumpulkan bunga mawar merah berjumlah 27, angka yang merupakan tanggal ulang tahun Hyura.

“Kami sudah jalan satu setengah tahun, Donghae-ya. Waktu yang cukup lama bukan untuk sepasang kekasih.”

Donghae merasa nafasnya terhenti di pangkal tenggorokkannya. Dadanya terasa sesak dan sakit seperti dihantam oleh palu berukuran super besar. Jantungnya berdetak dengan cepat. Perasaan apa ini sebenarnya?

 

***

 

Hyura terduduk di balkon kamarnya. Matanya memandang gantungan lumba-lumba berwarna biru yang kini berada di genggamannya. Gantungan itu masih setia tergantung di ponselnya sejak ia masih bersekolah dahulu. Hyura tersenyum miris.

“Ikan oppa, aku tidak tahu apa yang terjadi denganku. Mungkin aku terlalu merindukanmu sehingga aku menganggap seseorang yang baru saja bertemu denganku itu adalah dirimu.” gumam Hyura sembari mendesah ringan.

Ia menjatuhkan tubuhnya pada sandaran ayunan yang ada di balkon kamarnya. Ayunan itu bergerak seirama dengan angin yang menerpa tubuh Hyura.

“Tapi aku masih ingat jelas senyumanmu, ikan oppa. Senyuman dia mengingatkanku padamu.”

Mata Hyura terpejam, ia kembali mengingat bagaimana pertama kalinya ia bertemu dengan ‘ikan oppa’-nya.

“12 tahun, oppa. 12 tahun kita terpisah dan selama 12 tahun itu pula aku susah untuk melupakanmu.”

Langit berwarna jingga kini berubah menjadi sedikit berwarna gelap. Dinginnya angin malam kini terasa di kulit sawo matang milik Hyura. Hyura kembali merapatkan cardigan yang tengah menutupi tubuhnya yang hanya ia balut dengan tanktop berwarna hitam.

Oppa, suatu saat aku berharap kita benar-benar bisa bertemu.” kata Hyura tersenyum sambil menyentuh gantungan lumba-lumba itu.

 

***

 

Kebisuan menyelimuti Donghae dan Hyura saat ini. Donghae memilih berjalan di belakang Hyura dan memperhatikan punggung Hyura tanpa melepas pandangannya sedari tadi.

Hyura sendiri hanya bisa bungkam, bibirnya seakan kelu untuk mengatakan sebuah kalimat sebagai mengawali pembicaraan mereka. Hyura menghela nafas sejenak lalu pandangannya beralih pada deretan toko pakaian yang ia lewati.

Langkah Hyura terhenti pada toko pakaian yang sering ia kunjungi. Kaki Hyura ia gerakkan untuk masuk ke dalam, Donghae pun mengikuti ke mana Hyura berjalan hingga akhirnya mereka berdua berhenti pada daerah kemeja, coat, celana, dan kaos untuk para namja. Hyura membalikkan badannya menghadap Donghae yang ada di belakangnya.

“Aku tidak tahu bagaimana selera pakaianmu, Donghae-ssi. Tapi aku sering datang ke sini, setidaknya bersama dengan Hyukjae. Aku berpikir seleramu dan Hyukjae sama, maka dari itu aku memilih tempat ini untuk membelikanmu beberapa pakaian. Hyukjae menyerahkan kau padaku karena sekarang dia sedang sibuk jadi aku bertanggung jawab atasmu sekarang. Aku tidak ingin kau tersesat di Seoul.” kata Hyura panjang lebar yang membuat Donghae kembali menyunggingkan senyumannya.

Hyura menunduk saat Donghae memperlihatkan senyumannya. Entah mengapa ada perasaan lain di hati Hyura tiap ia melihat senyuman Donghae.

Hyura kembali memperhatikan Donghae yang tengah memilih-milih kaos dan kemeja, ia bisa melihat Donghae dari ekor matanya, sedangkan ia sendiri tengah berakting melihat-lihat kaos yang ada di hadapannya.

Kamsahamnida sudah menemaniku, Hyura-ssi.”

Donghae yang masih bergelut dengan pilihannya memulai pembicaraan di antara rasa canggung yang tengah menyelimuti mereka berdua. Hyura sempat tersentak lalu beralih menatap punggung Donghae. Senyuman Hyura tersungging menatap punggung kekar milik Donghae, ia kembali melanjutkan kegiatannya memilih kaos yang akan ia belikan untuk Donghae, mungkin.

“Ini merupakan kewajibanku bukan. Donghae-ssi. Apakah kau sudah menemukan pakaian yang akan kau beli?” tanya Hyura sembari mendekati Donghae.

Donghae mengangguk singkat seraya memperlihatkan 3 potong kaos, 2 potong kemeja, serta 1 potong celana panjang yang sudah berada di kedua tangannya. Hyura mengerutkan keningnya lalu beralih menatap wajah Donghae.

“Kau yakin pakaian ini cukup untuk kebutuhanmu sehari-hari selama berada di Seoul.”

Donghae hanya menganggukkan lagi kepalanya.

“Lagi pula aku sudah membawa beberapa pakainan dari Mokpo dan juga kau ingat satu hal, aku ini punya saudara laki-laki. Aku bisa meminjam Hyukjae bajunya jika suata saat nanti persediaan pakaianku habis. Chakkaman Hyura-ssi, aku akan ke kasir untuk membayar pakaianku ini dulu. Kau bisa menungguku sebentar ‘kan?”

Hyura mengulaskan senyumannya lalu mengangguk. Hyura memperhatikan tubuh Donghae yang perlahan-lahan mulai menjauh menuju ke kasir. Pandangan Hyura beralih pada kaos yang memang sedari tadi sudah menjadi incaran Hyura untuk diberikan pada Donghae. Tanpa menunggu keputusan yang akan diambilnya, Hyura segera mengambil 3 buah kaos dan membawa kaos itu ke kasir yang lain.

 

***

 

Donghae tengah menenteng 2 kantung tas berwarna coklat muda di kedua tangannya sedangkan Hyura juga tengah menenteng 1 kantung tas berwarna sama di tangan kirinya. Kini Hyura dan Donghae tengah berjalan beriringan menuju ke sebuah restaurant yang tak jauh dari toko pakaian yang baru saja mereka kunjungi.

“Kau mau pesan apa, Donghae-ssi?” tanya Hyura sesaat setelah menerima sebuah menu dari pelayan yang mendatangi meja yang Hyura dan Donghae.

“Sama kan saja denganmu.” jawab Donghae yang membuat Hyura mengangguk-ngangguk kecil.

“Aku pesan pancake strawberry dan jus coklat dua.” kata Hyura sembari memberikan menu itu pada pelayan. Pelayan itu mencatat pesanan Hyura dan segera kembali ke belakang untuk melayani pesanan Hyura tadi.

Hening.. begitulah yang terjadi setelah pelayanan itu pergi. Hyura berusaha untuk merangkai kata-kata agar terjadi sebuah perbincangan di antara mereka berdua.

“Hyura-ssi..”

Hyura mendongakkan kepalanya sesaat ia menyadari namanya dipanggil oleh Donghae.

Ye?”

“Hmm apakah aku boleh meminta satu hal padamu?” tanya Donghae ragu-ragu yang membuat Hyura mengerutkan keningnya.

Mwoya?”

“Begini… apa bisa kita berbicara dengan banmal. Sungguh aku merasa jika kita berbicara formal, ada sedikit rasa canggung di antara kita. Aku bisa memanggilmu Hyura-ya dan kau bisa memanggilku Donghae-ya. Bagaimana?”

Ragu-ragu Donghae menoleh sejenak pada Hyura yang tengah tampak berpikir. Tanpa menunggu waktu yang lama akhirnya Donghae melihat sebuah anggukkan. Donghae tersenyum lebar memprlihatkan deretan giginya yang rapi.

Gomawoyo Hyura-ya.” ucap Donghae yang membuat Hyura membalas senyumannya.

“Ah Donghae-ya, aku mempunyai sesuatu untukmu. Tunggu sebentar.”

Hyura menrundukkan badannya sejenak lalu kembali menegakkan tubuhnya. Ia menyodorkan Donghae katung tas coklat yang dibawa Hyura tadi. donghae tampak mengerutkan keningnya.

“Apa ini? Bukannya ini belanjaanmu?”

Ani. Aku membelikan ini untukmu. Ambillah. Anggap saja ini hadiah dariku sebagai awal pertemanan kita.”

Donghae menyambut pemberian Hyura tadi. Detik kemudian, ia membuka isi kantung tas berwarna coklat tersebut.

“Aku hanya bisa memberimu beberapa kaos. Setidaknya itu bisa menambah kebutuhan pakaianmu bukan?”

Kaos yang berada di dalam kantung tas coklat itu Donghae keluarkan satu persatu. Kaos berwarna biru muda, kaos berwarna abu-abu, dan juga kaos berwarna hijau. Donghae menolehkan kepalanya pada Hyura.

Mianhae jika aku terlalu merepotkanmu.” ucap Donghae lirih sambil menunduk.

Hyura menggeleng lalu beralih memandang Donghae.

“Tidak, kau sama sekali tidak merepotkanku, Donghae-ya. Kau jangan khawatir otte.”

Selang setelah Hyura mengatakan kalimat tersebut, pesanan Hyura tadi akhirnya datang. Pelayan itu segera meletakkan pancake serta jus coklat di hadapan Hyura dan Donghae. Mereka pun tersenyum dan membungkukkan badannya pada pelayan yang membawa pesanan mereka sebelum pelayan tersebut kembali ke belakang.

Keheningan kembali menguasai mereka berdua. Mereka sibuk dengan makanan yang ada di hadapan mereka masing-masing. Namun sesekali pandangan Donghae beralih pada Hyura yang tengah menikmati pancake strawberry –nya. Senyuman Donghae sedikit terlihat ketika melihat Hyura sangat bersemangay memakan pancake itu.

Tanpa terasa suara dering ponsel terdengar di telinga Hyura maupun Donghae. Dengan agak kerepotan, Hyura segera mengambil ponselnya dari dalam tas ransel miliknya. Donghae kembali memperhatikan Hyura yang masih sibuk mencari ponselnya yang terselip di antara buku-buku kuliahnya.

“Akhirnya ketemu juga.” gumam Hyura sembari menyentuh layar ponselnya.

Mata Donghae membulat ketika melihat ponsel yang berada di tangan Hyura. Gantungan yang menggantung pada ponsel Hyura sama persis dengan apa yang pernah ia berikan pada gadis kecil-nya. Donghae kembali melebarkan matanya untuk memastikan gantungan tersebut, dan ternyata memang benar, gantungan itu adalah gantungan yang pernah ia berikan pada gadis kecil-nya. Pandangan Donghae beralih menatap wajah Hyura yang masih sibuk dengan layar ponselnya. Jika gantungan berbentuk lumba-lumba berwarna biru itu ada di tangan Hyura sekarang berarti Hyura adalah…

Yeoboseyo Hyuk-ah. Mianhae tadi aku kesulitan mencari ponselku yang terselip di tas maka dari itu aku lama mengangkat teleponmu. Ada apa?”

Kau ada di mana sekarang? Aku sudah berada di depan toko pakaian yang sering kau kunjungi bukannya kau memberitahuku bahwa kau membawa Donghae ke sana.

“Ahh ne, Donghae sedang bersamaku sekarang. Aku sedang berada di restaurant pancake yang selalu kau kunjungi tiap minggu.”

Baiklah, aku akan ke sana.”

Hyura kembali menatap layar ponselnya setelah sambungan telepon dirinya dengan Hyukjae terputus. Ia mendongak dan menatap Donghae yang tengah memperhatikan dirinya dengan pandangan nanar. Alis Hyura terangkat.

“Mengapa kau memandangku seperti itu, Donghae-ya?”

Donghae tersentak lalu menggeleng sambil tersenyum samar. Hyura merasakan perubahan raut wajah Donghae yang membuat dirinya bingung.

“Ada yang salah denganku?” tanya Hyura lagi memastikan.

Donghae kembali memperhatikan wajah Hyura dengan tajam. Matanya menatap mata Hyura dalam. Sejenak, Hyura terdiam melihat apa yang dilakukan Donghae padanya.

“Donghae-ya..”

Donghae menghiraukan panggilan Hyura, tatapannya masih menatap tajam mata Hyura yang membuat Hyura membeku.

Hyura merasakan jantungnya berdetak dengan cepat ketika melihat pandangan Donghae padanya. Nafas Hyura memburu seakan menandakan bahwa dirinya sedang diliput keadaan yang membuat dirinya gugup.

“Cho Hyura, kau tahu, kau sangat mirip dengan seseorang. Seseorang yang amat sangat kurindukan.”

Ucapan Donghae membuat Hyura membisu.

“Dan setelah aku melihatmu berkali-kali ternyata kau ini adalah ga–“

“Ra-ya!!”

Donghae dan Hyura menoleh ke sumber suara di mana terlihat seorang namja tengah berlari kecil menuju ke meja mereka.

Mianhae aku menganggu. Apa kalian sedang membicarakan hal yang penting?”

Hyukjae –namja itu– kini duduk di samping Hyura seraya merangkulkan tangannya pada pundak Hyura.

“Tidak. Kau sama sekali tidak menganggu kami. Yak! Kenapa kau tidak pulang dahulu, Hyuk-ah? Lihatlah kemejamu jadi kotor seperti ini ‘kan.”

Hyura melepaskan jas yang dikenakan Hyukjae dan menyandarkannya pada punggung kursi yang ada di belakang Hyukjae. Hyukjae tersenyum melihat perlakuan kekasihnya itu.

“Aku terlalu merindukanmu sehingga aku tidak menyempatkan diri untuk pulang dan ganti pakaian.” jawab Hyukjae yang membuat Hyura terdiam dan menunduk.

“Kau sudah membeli perlengkapanmu, Donghae-ah?” lanjut Hyukjae yang kini beralih menghadap Donghae yang ada di hadapannya.

“Kurasa cukup untuk beberapa baju ini. Gomawo atas semua yang kau beri untukku, Hyukjae-ah.” kata Donghae tersenyum simpul.

Hyukjae membalas senyuman Donghae, memperlihatkan gummy smile andalannya. Sesaat kemudian ia kembali menolehkan kepalanya ke samping tempat di mana Hyura duduk di sebelahnya.

Gomawo Ra-ya kau mau menemani Donghae untuk jalan-jalan.”

“Aku senang menemani Donghae jalan-jalan, Hyuk-ah. Aku merasa nyaman berada di dekatnya.”

Hyura tersenyum memperlihatkan lesung pipit yang membuat Hyukjae mencubit kedua pipi chubby Hyura. Di sisi lain, Donghae hanya bisa menahan sesak di dadanya saat melihat kemesraan Hyukjae dan Hyura di hadapannya. Ia hanya bisa menunduk untuk menghindari pemandangan yang berada di depannya. Namun senyuman Donghae sempat terukir di wajahnya ketika Hyura mengatakan bahwa ia sangat senang dan merasa nyaman berada didekatnya.

 

***

 

Donghae mengambil satu per satu baju yang baru saja ia beli tadi. Ia lipat baju itu dan segera ia masukkan ke dalam lemari pakaian miliknya. Sesaat terdengar suara pintu terbuka, Donghae membalikkan badannya sejenak lalu tersenyum singkat ketika mengetahui siapa yang membuka pintu kamarnya.

Hyukjae yang sudah mengenakan celana pendek selutut dengan kaos berwarna hitam longgar segera menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur Donghae ketika dirinya berada di dalam kamar Donghae. Terlihat ia tengah memainkan ponsel Donghae yang tadinya berada di atas tempat tidur.

“Donghae-ya, apakah niatmu dari awal untuk ke Seoul sudah kau lakukan?” tanya Hyukjae sambil memandang punggung Donghae.

Donghae membalikkan badannya, baju dan semua yang Donghae beli tadi sudah rapi masuk ke dalam lemari miliknya. Ia segera menyusul Hyukjae dan duduk di samping Hyukjae yang tengah tiduran.

Hyukjae memang sudah tahu dari awal bahwa niat Donghae pertama datang ke Seoul adalah untuk mencari ‘gadis kecil’ Donghae. Hyukjae sempat terkekeh ketika mendengar cerita Donghae soal ini karena bagaimana bisa pada saat itu seorang lelaki remaja berumur 14 tahun bertemu dengan seorang gadis kecil berumur 7 tahun dan pada akhirnya mereka saling jatuh cinta hingga sekarang. Hyukjae pernah berkata pada Donghae bahwa bisa saja suatu saat ‘gadis kecil’-nya itu melupakan semua kenangan yang pernah Donghae buat bersama dengan ‘gadis kecil’-nya. Tapi Donghae sungguh-sungguh yakin bahwa ‘gadis kecil’-nya itu akan tetap menunggu Donghae di Seoul sampai Donghae benar-benar datang untuk menemuinya.

“Tanpa aku mencari pun, aku sudah menemukan ‘gadis kecil’-ku Hyukjae-ah.” jawab Donghae mengingat wajah Hyura –gadis kecilnya–.

Jinjayo? Nuguya?”

“Dia adalah gadis kecil-ku yang tidak pernah berubah sampai sekarang.”

Hyukjae memutar kedua bola matanya lalu melempar Donghae dengan bantal sehingga membuat Donghae meringis.

Arraseo. Terserah kau mau menjawab apa, Donghae-ya. Aku turut berbahagia.”

Hyukjae meletakkan ponsel Donghae di atas meja yang terletak di samping tempat tidur Donghae. Ia mendudukkan dirinya lalu menyandar pada sandaran tempat tidur Donghae.

“Tapi…..dia sudah ada yang memiliki, Hyukjae-ah.”

Gumaman Donghae benar-benar dapat di dengar oleh Hyukjae. Hyukjae mengangkat kepalanya, memandang Donghae yang kini tengah tiduran di sampingnya. Hyukjae dapat melihat mata Donghae mulai berkaca-kaca. Bukan seperti ini yang seharusnya Donghae dapatkan setelah penantiannya bertahun-tahun, begitulah yang Hyukjae pikirkan saat ini.

“Aku tidak tahu harus berkata apa, Donghae-ya. Aku hanya bisa berkata, sudah saatnya kau melupakannya karena semua yang kau lakukan untuknya sia-sia bukan.”

“Entahlah, tapi sepertinya terlalu sulit untukku melupakannya.” desis Donghae lirih.

5 thoughts on “[FF Freelance] Finding Love (Part 1)

  1. wuaahhhh…bakal ada persaingan nih di keluarga lee,antara hyukjae dan donghae???siapa ya yg bakal dipilih hyura nantinya,,thor,part kyuhyun mang dikit ya??

  2. apakah hyura akan kembali pada donghae lg?? akh, semoga itu takh kan trjadi . hyura hanya untuk lee hyukjae kn onnie???
    #maksa,

    ~hyura n hyukjae~ couple forever …

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s