Momentary Happiness

Title : Momentary Happiness [Oneshot]

Author : Shineelover14

Rating : PG-15

Lenght : Oneshot

Genre : Romance, Sad

Main Cast :

• Lee Donghae

• Im Yoona

Disclaimer : FF ini murni buatan saya. Dilarang mengcopas tanpa izin!!

Note : Annyeong !! Author GeJe kembali. Setelah sekian lama dalam masa-masa semi hiatus, akhirnya aku masih bisa menghasilkan satu karya dengan susah payah. Ada yang rindu dengan tulisan ku?? Angkat kaki !! Ehh salah .. Angkat tangan maksudnya. Hehehe .. Oke deh gak panjang-panjang. FF ini aku dedikasikan buat pecinta tulisanku. Maaf buat yang nunggu LOVE LIGHT Part 5, mohon bersabar. Oke langsung aja Chek This Out!!

Invite yaaa : 2975FF9D

***

Berjalan ia meraih sebuah buku diatas meja. Lama isinya tak pernah terbaca, bahkan ia pun sudah lupa kapan terakhir kali buku itu dibuka. Di tatapnya penuh makna buku berwarna coklat tua itu. Buku yang menyimpan segala kenangannya bersama seseorang yang dulu ia cinta. Bahkan hari-harinya ia lewati bersama pria itu dulu.

Yoona tersenyum kecil. Tulisan rapi pria itu membuat memori indahnya terputar kembali. Mengingat masa-masa dimana dunianya hanya diisi oleh pria itu.

Gerakan tangannya terhenti, dihirupnya dalam oksigen itu hingga memenuhi rongga dadanya. Ia mempersiapkan nyali besar untuk mengulang kisahnya dulu. Kisah dimana si pungguk meraih bulannya.

12 November 2009

Hari ini aku tak melihatnya. Kemana ia? Apa kelopak itu telah meninggalkan tangkainya? Aku seperti kehilangan arah. Menatapnya, hanya keberanian itu yang ku punya. Aku tak mampu meraih rembulan yang bersinar.

Derap langkahnya terdengar tenang. Ditangannya, tumpukan buku tersusun dengan rapi. Matanya yang bercahaya memancarkan aura anggun, kentara sekali bagi siapa saja yang melihatnya akan jatuh hati. Dan aku? Aku hanya duduk disini bersama kesunyian dunia ku. Selalu, bahkan setiap pagi aku melihatnya melewati jalan itu. Jalan dimana aku dapat melihatnya dari taman sunyi ini.

Ia mengenakan gaun berwarna kuning muda, cocok sekali dengan kulit bersihnya. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai bergelombang. Sungguh sebuah karya Tuhan yang paling sempurna. Senyum kecil selalu mengiringi langkahnya.

Im Yoona, seorang mahasiswi fakultas kedokteran. Ia lah yang kini selalu membuat detak jantung ku berpacu cepat. Dialah sang dewi yang selalu bersinar.

Aku mengikutinya dari belakang. Membayangi langkahnya, berharap agar aku dapat selalu melihatnya. Ia berada didepan sana, tertawa riang bersama teman-teman wanitanya. Beberapa diantaranya memanggil nama kecilnya.

“Yoong, boleh aku pinjam buku mu?” tanya salah seorang temannya.

Yoona menyunggingkan senyum. “Ini,” ucapnya singkat kemudian kembali berjalan bersama teman-temannya. Aku masih dengan setia mengikutinya dari belakang, mengamatinya, memperhatikannya itu yang selalu ku lakukan.

***

25 November 2009

Cahayanya semakin bersinar terang. Kemana pun langkahnya, disitulah tempat ku mengarah. Ingin sekali pungguk ini meraih bulannya, namun apalah daya seorang buruk rupa.

Selalu seperti biasanya, aku membayanginya. Mengacai setiap gerak geriknya. Dan ia, ia tak menyadari bahwa ada sebuah hati yang selalu menyebut-nyebut namanya. Memujanya lebih dari sebuah hasrat ingin memiliki.

Ku lihat selembar kertas yang baru saja dijatuhkannya. Ia berlalu tanpa menghiraukan secarik kertas itu. Ku pungut dan ku simpan dengan baik. Berharap suatu saat nanti kertas itulah yang dibutuhkannya.

Ku baca goresan pena lembutnya. Sungguh indah pemilik tulisan ini. Membaca tiap bait yang ia tulis seperti merasakan hadirnya yang begitu dekat.

Disini ku bermimpi …

Lembut sayu terdengar langkahnya memudar …

Hanya bayangnya yang selalu datang …

Berpikir, itukah dia …

Atau seseorang yang lain?

Entahlah, tapi dirinya begitu nyata

Hasrat ingin bersamanya pun semakin menggunung …

Harus kah aku berlari untuk menggapai semunya?

Atau berdiam disini menantinya?

Terdiam sejenak, memaknai arti goresan itu. Adakah seseorang yang diinginkannya? Nyali ku ciut seketika.

Ku lipat rapi kertas itu dan menyimpan sepotong hatinya dengan aman. Semoga datang keajaiban dalam hidupku dan yang kuharapkan hanyalah dia.

***

Pagi ini kutemukan ia dalam kegusaran. Ia seorang diri disana, duduk gelisah tanpa tau apa yang sedang mengganggunya. Sayang sekali, aku tak punya keberanian yang cukup untuk menyapanya. Atau sekedar memberi rasa tenang padanya.

Ia berdiri mencari-cari sesuatu, hingga ia menemukan ku dalam sunyi. Aku tak dapat membaca hatinya. Ia menatap ku sekarang. Keringat dingin mengucur sempurna. Detak jantung ku pun tak sestabil biasanya. Ia mendekat, berjalan ke arah ku. Ku pererat pegangan buku ditangan, berusaha bersikap tenang walau hati ku kalut.

“Annyeonghaseo,” sapanya lembut. Untuk beberapa saat aku terbuai. Benarkah ini mimpi, atau khayal ku yang begitu tinggi padanya.

Ia tersenyum manis, namun ku tau masih ada kegusaran dihatinya. Aku hanya mampu tersenyum dengan bibir yang tertutup rapat.

“Maaf jika aku mengganggu mu, apakah kau melihat sebuah kertas tercecer di perpustakaan ini?” tanyanya. Kini aku tahu, apa yang sedang dicarinya. Ya, secarik kertas goresan penanya.

Aku membuka tas ku, mengambil kertas putih itu lalu menyerahkan padanya.

“Ini yang kau cari?” tanya ku kaku.

Ia mengamati kertas itu lalu mengambilnya. Wajahnya berbinar ceria. Akhirnya ia menemukan sepotong hatinya yang tercecer. Aku mengulum senyum, mengandaikan bahwa hati ku lah yang sedang dicari-carinya.

“Terima kasih,” ucapnya kemudian.

Aku mengangguk pelan, dan masih mengamati wajahnya. Ia menarik sebuah kursi dan duduk dihadapan ku.

“Boleh aku duduk bersama mu? Bukankah menyendiri tidaklah menyenangkan?” tanyanya.

Ya, tentu saja tidak menyenangkan. Hidup hanya untuk dunia ku, dan mencintaimu pun hanya pada dunia ku. Tak seorang pun tau termasuk kau. Menyendiri, kata itu pantas untuk ku yang hanya seorang pungguk.

“Kau tidak senang aku duduk disini?” tanyanya lagi. Aku baru sadar, bahwa aku mengabaikannya tadi. Mengabaikan dewi ku. Mengabaikan separuh hati ku.

“Maafkan aku,” pinta ku segera.

“Tidak apa,” jawabnya singkat.

Kembali aku terserang kebisuan. Bibir ku terkunci rapat. Apa yang harus ku lakukan? Nyali mu begitu kecil Lee Donghae.

Haruskah ku tanyakan namanya, seperti orang berkenalan pada umumnya? Bukankah aku sudah tau ia. Haruskan aku berdusta?

“Boleh aku tau nama mu, tuan berkaca mata?” tanyanya tiba-tiba.

Aku membulatkan mata, akhirnya ia yang memulai perkenalan ini. Dimana arti kelaki-lakian mu Lee Donghae.

“Tentu saja. Nama ku Lee Donghae,” jawab ku segera. “Lalu, boleh aku tahu nama mu?”

Ia tersenyum, sangat manis. “Tentu. Nama ku Im Yoona. Tapi panggil saja aku Yoona,” jawabnya. Aku mengangguk setuju.

“Aku sering melihat mu seorang diri di sini. Apa kau selalu berada di perpustakaan?” tanyanya memulai pembicaraan.

“Aku?” belum ku jawab sempurna pertanyaannya, memikirkan alasan terbaik yang akan ku berikan padanya. “Ya, aku selalu disini.”

“Sepanjang hari?” timpalnya.

Aku tertawa kecil, “Tentu saja tidak. Hanya jika aku memiliki waktu luang.” Ia pun ikut tertawa mendengar ucapan ku.

“Aku kuliah di fakultas kedokteran, dan kau?”

“Sastra,” jawab ku singkat.

“Benarkah? Kau pasti pandai sekali menulis, boleh aku melihat tulisan mu?”

“Tulisan?” Aku berpikir sejenak. Aku hanya menulis tentang mu. Apa itu yang harus ku katakan padanya?

“Tidak sepandai yang kau kira,” canda ku.

Ia tertawa. Dan satu hal yang baru kusadari ia tak tertawa sendiri, ia mengajak ku untuk tertawa bersamanya. Membuat rasa percaya diri ku bangkit dan tak bersembunyi lagi dalam sunyi.

“Kau pasti membaca tulisan ku,” ucapnya di sisa tawa. Aku mengerutkan dahi. Ya, aku tahu maksudnya.

“Tulisan ku buruk,” tegasnya. Aku menggeleng cepat, “Tidak ada tulisan yang buruk, jika menulisnya dari hati.” Ia terdiam sejenak kemudian tersenyum. Ia tahu apa yang ku maksud.

***

15 Juli 2010

Buku ini telah usang. Jutaan kata telah ku tulis dan memenuhi setiap lembarnya. Hanya dia yang mampu membuatku menciptakan jutaan kata indah. Hanya dia yang mampu.

Tak bosan ku ulang dan ku baca kembali kenangan yang pernah ia ciptakan. Bahagia? Tentu saja. Dialah sumber bahagia ku. Tak tahu apa yang akan terjadi jika waktu itu tak kutemukan separuh hatinya yang tercecer, mungkin aku tetap ada di dunia ku yang sunyi. Mungkin aku semakin tenggelam dalam lara kepahitan.

Ia membawa ku serta padanya. Mengajak ku melangkah keluar dari tempat persembunyian. Menumbuhkan rasa bahwa aku pantas untuk menjadi berharga. Dan lebih berharga lagi, bahwa kini aku telah berada di sampingnya. Selalu berada di sisi kanannya dan menjadi orang yang paling dibutuhkannya.

Disinilah tempat ku melihatnya. Menantinya dengan setia ketika pagi datang dan mengantarkannya kembali ketika gelaplah yang berkuasa.

Sebuah keajaiban pernah terjadi dalam hidup ku, dan aku ingin keajaiban itu hadir kembali suatu saat nanti.

“Oppaa ….”

Aku tersenyum, panggilan sayang itu yang selalu kudengar setiap hari dari bibir mungilnya. Ia berlari kecil kearah ku, membawa tas tangan dan juga sesuatu ditangan kirinya.

Ia duduk di sebelah ku. Menatap mata ku dalam lalu tersenyum. “Oppa, bagaimana kalau kita pergi berkencan,” ajaknya.

“Bukankah sekarang kita sedang berkencan?” ucap ku padanya.

Ia menyipitkan mata lalu tersenyum kembali, “Aku ingin kita pergi kesuatu tempat.”

“Kemana?”

“Ketempat dimana hanya ada aku dan oppa saja,”

“Baiklah.”

***

Tuhan tahu bagaimana caranya ia ciptakan kebahagiaan. Dan ia juga tahu bagaimana caranya membuat kesedihan. Tapi pernahkah terpikir bahwa bahagia yang ia ciptakan itu tak sekekal dirinya yang berkuasa. Tak seabadi dirinya yang selalu memberikan pertolongan pada umatnya?

Dan disinilah aku. Berada pada titik puncak kebahagiaan, merasakan indahnya cinta karnanya. Dapatkah bahagia ini kekal?

Ku usap lembut rambut coklatnya. Ia tertidur di pundak ku. Hela nafas teraturnya mengalun tenang. Angin pun bertiup tak terlalu kencang.

Langit siang mulai menjingga. Hampir separuh hari kami lewati bersama. Pandang ku lurus kedepan, menikmati hamparan rumput hijau dari atas bukit.

“Oppa,” ucapnya pelan. Aku tahu ia masih mengantuk.

“Ada apa?” tanya ku.

“Mengapa waktu terasa begitu singkat?” tanyanya membuat dahi ku berkerut.

“Apa separuh hari ini tidak cukup bagi mu untuk kita bersama?”

“Entahlah,” jawabnya singkat. Aku tahu ia resah. Apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya?

“Lalu, mengapa kau bertanya seperti itu?”

“Aku hanya merasa waktu berganti begitu cepat.” Kata nya terputus. Aku memilih diam, menanti lanjutannya. “Dan oppa tahu, waktu yang terganti itu selalu memakna bagi ku.”

“Kau takut kebahagiaan ini akan berakhir?”

Ia mengangguk pelan. Kini aku tahu keresahannya. Hati ku seakan terpaut padanya. Ia dapat merasakan resah ku. Merasakan gusar yang tiada akhir.

Ku bawa ia dalam pelukkan. Menghirup aroma wanginya membuat ku merasa sedikit tenang. Ku kecup lembut puncak kepalanya, tanda rasa sayang ku.

Ia tersenyum, buliran kecil muncul dari sudut matanya, “Tenanglah dewi ku. Bahagia ini tidak akan pernah ada akhirnya. Percaya pada ku.”

Ku seka air matanya dan ia kembali kuat. Karna mu aku bisa seperti ini Im Yoona. Karna mu aku menjadi seorang yang berarti.

***

Jam telah menunjukkan pukul 01.00 pagi. Mata ini masih belum terpejam. Hati ku masih merasa resah, akankah sesuatu terjadi? Aku tidak tahu. Mungkin Tuhan punya rencana lain.

Kenangan, mungkin setelah kita rasakan dan kita maknai hal itulah yang membuatnya terlihat berkesan. Namun ketika kenangan itu tak berarti lagi, maka sia-sialah semua hal yang pernah dilewati pada masa itu.

Aku tidak tahu apa yang seharusnya aku lakukan saat ini. Berlari menemuinya sekarang juga, atau tetap menahan diri untuk melihatnya.

Dewi ku, tahukah kau kegelisahan ku? Resah ini mengapa tak berakhir? Jauh lebih resah ketika aku masih menjadi bayangan mu.

Ku tarik selimut untuk menutupi sebagian tubuh ku. Dirinya pun masih memenuhi pikiran ku. Langit-langit kamarlah yang menjadi pusaranya. Jauh anganku menerawang, membayangkan senyumnya, tawanya, suaranya. Demi Tuhan aku merindukannya.

Ku raih ponsel ku segera, mencari sebuah nama yang ku cinta. Aku harus mendengar suaranya. Hanya ia yang dapat mengobati gusar ku.

Ku biarkan nada tunggu itu berbunyi hingga beberapa saat kemudian suaranyalah yang ku dengar.

“Oppa ..” panggilnya.

Aku tersenyum kecil. Nada bicaranya masih terdengar bersemangat.

“Belum tidur?” tanya ku segera.

“Belum. Ada apa oppa?”

“Aniy. Aku merindukan mu.”

Ia tertawa kecil, “Segelisah itukah? Hingga oppa harus menelpon ku selarut ini?” candanya.

Aku tersenyum, “Ne, kau selalu membuat ku resah hingga aku sulit tidur.”

“Benarkah? Kalau begitu, aku akan mengganggu oppa hingga oppa tidak tidur,” jawabnya sambil tertawa.

Aku pun tertawa. Dugaan ku benar, hanya dia yang mampu mengobati resah ku.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya ku tiba-tiba. Ia tak langsung menjawab pertanyaan ku. Ia terdiam beberapa saat, dan aku terus menunggunya.

“Yoong ..” panggil ku.

“Ne?” jawabnya.

“Apa kau tertidur?” tanya ku lagi.

“Aniy. Aku baik-baik saja oppa,” jawabnya.

“Syukurlah jika kau baik-baik saja. Aku selalu memikirkan mu. Jika terjadi sesuatu, katakanlah pada ku.”

“Baiklah oppa. Oppa tidak perlu khawatir,” ucapnya meyakinkan ku.

“Ne, aku tahu kau akan baik-baik saja. Baiklah, segera tidur.”

“Oppa juga tidurlah.”

Ku akhiri panggilan itu dan kembali kuletakkan ponsel di atas meja. Pandangan ku mengawang. Perlahan langit-langit kamar ku memudar hingga akhirnya mata ku tertutup rapat dan aku mulai beralih ke alam mimpi.

***

09 Agustus 2010

Aku mencarinya sosoknya. Ia menghilang dan tak kutemukan dimana pun. Kemana sinarnya. Mengapa begitu redup hingga tak kutemukan kilasannya?

Berkali-kali ku lihat jam di tangan. Tak biasanya ia seterlambat ini. Sudah hampir satu jam aku menunggu nya ditaman tempat biasa kami bertemu sebelum jam kuliah atau setelahnya. Mata ku mencari-cari sosoknya, namun tak kutemukan sedikit pun bayangnya. Ini sungguh tak biasa.

Aku bangkit dari bangku taman itu, mencarinya kemana pun yang aku bisa. Dimana dewi ku? Ku tanya pada beberapa teman dekatnya, namun tak satu pun yang melihatnya hari ini. Apa terjadi sesuatu? Tanpa pikir panjang segera aku pergi kerumahnya, untuk memastikan apakah ia baik-baik saja.

Halaman rumahnya tampak sepi. Adakah seseorang didalam sana? Ragu-ragu ku ketuk pintu berwarna putih itu dan tak menunggu waktu lama muncul lah ibunya dari balik pintu.

“Donghae-aa ..” sapa ibunya. Wanita itu tersenyum ramah pada ku.

Aku membungkuk memberi salam sebagai tanda rasa hormat ku. “Apakah Yoong ada dirumah?” tanya ku.

“Ne. Ia ada dikamar. Yoong sedang sakit,” jawab ibunya sembari mempersilahkan ku masuk.

“Benarkah? Boleh aku menemuinya?” pinta ku segera.

“Tentu saja.”

Segera aku berlari menuju lantai dua dan mengetuk pintu kamarnya. Terdengar samar-samar suaranya yang serak. “Masuklah.” Aku membuka pintu itu dan melihatnya terbaring lemah disana.

“Oppa,” sapanya. Ia tersenyum ringan. Aku berjalan mendekatinya. Duduk di pinggiran tempat tidurnya dan menggenggam tangannya erat.

“Mengapa tidak memberi tahu ku? Aku begitu khawatir, Yoong.” Ku tatap matanya dalam. Khawatir jika terjadi sesuatu padanya.

“Aku baik-baik saja oppa. Aku hanya sedang flu. Tidak perlu khawatir,” ucapnya berusaha meyakinkan ku.

Ku usap puncak kepalanya lembut lalu mengecupnya. Aku sungguh menyayanginya melebihi nyawaku sendiri. Tuhan tolong lindungi ia. Apa pun yang terjadi, jangan pernah buat ia menderita.

“Tidurlah Yoong. Kau harus banyak istirahat.” Ia mengangguk dan menurut. Mata sayunya perlahan tertutup. Sedikit rasa tenang ketika aku masih dapat melihat senyumnya tadi. Masih mendengar suaranya yang selalu membuat ku rindu.

***

Sungai itu tampak tenang mengalir. Hanya desiran angin yang terdengar. Ku palingkan pandangan ku padanya. Disinilah kami sekarang , menghabiskan sisa siang yang hampir usai.

“Oppa, apa setelah ini ada kehidupan setelahnya?” tanyanya tiba-tiba.

Aku masih terdiam sejenak memaknai maksudnya. Entah mengapa ia selalu berbicara tentang kematian dan kehidupan berikutnya kelak. Apa ada sesuatu yang ia sembunyikan? Ku baca siratan matanya yang teduh. Resah ku mulai menggundah.

“Ada apa? Mengapa kau bertanya seperti itu?” tanya ku ragu.

Ia terdiam. Matanya mengawang jauh. Aku tak tau apa yang sedang ia pikirkan namun aku tau, ada sesuatu yang sedang menganggunya.

“Katakan pada ku Yoong, apa yang sebenarnya terjadi?” Ia semakin membuat ku khawatir.

Pandangannya mengalih pada ku. Ia menatap manik mata ku dalam, berusaha menyejukkan hati ku. Ku cari-cari sesuatu yang meresahkan dimatanya. Namun tidak kutemukan.

“Tidak ada yang terjadi, hanya saja aku ingin selalu terus bersama oppa.” Ia tersenyum kemudian memeluk ku.

“Aku akan selalu bersama mu, Yoong.” Ia mengendurkan sedikit pelukannya dan membisikkan sesuatu ditelinga ku.

“Aku mencintaimu oppa.” Ya, aku tahu itu.

***

Ada banyak cerita yang pernah kita lewati dan itu semua sudah menjadi ketentuannya. Aku hanya pemain dalam ceritanya, dan menikmati hari-hari bersamanya sungguh itu yang kuinginkan. Apa lagi hingga masa tua menjelang dan mautlah yang memisahkan kami nantinya.

Sudah berkali-kali ku ganti siaran TV, namun tak satu pun acaranya ada yang menarik. Ku lirik sekilas, jam telah menunjukkan pukul 19.00 malam. Aku masih menunggunya dengan setia.

Malam ini, ia mengundang ku untuk makan malam bersamanya. Tepatnya hanya kami berdua. Entah alasan apa yang membuatnya ingin memasakkan ku sesuatu yang spesial. Aku tahu sekali, Yoong tidak pandai memasak. Namun ia berusaha dengan keras agar bisa membuatkan ku sesuatu yang enak.

Sementara ia memasak, ia sengaja menyuruh ku menunggunya di ruang TV. Ia tidak ingin aku melihatnya memasak. Aku hanya tertawa mendengar ucapannya itu.

Menit telah bergulir, dan suara dari dalam perut ku mulai memberontak. Apa yang sebenarnya sedang ia lakukan. Hasratku untuk ingin tahu memuncak. Perlahan aku berjalan mengendap-endap menuju dapur. Dan tiba-tiba terdengar sesuatu yang pecah menghantam lantai. Aku segera berlari untuk memastikan apa yang terjadi.

“Yoong,” panggil ku khawatir.

Ku cari-cari sosoknya, namun tak terlihat. Aku mulai panik. Dimana dewi ku? Aku mencarinya keseluruh sudut ruangan dan ku temukan tubuhnya terbaring disana bersama serpihan gelas kaca. Apa yang terjadi pada Yoona ku?

***

Aku menunggu dalam gelisah. Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Pertanyaan itu yang terus mencul dalam benak ku.

Ku remas rambut ku kasar. Sudah hampir satu jam aku menunggu, dan dokter yang menanganinya belum juga mencul dari balik pintu itu.

Berharap adakah jalan untuk menemuinya sekarang? Aku benar-benar ingin menemuinya. Melihat tawanya lagi. Mencium aroma tubuhnya yang selalu membuat ku tenang. Merindukan masa-masa indah kami.

***

Cerita cinta ini seperti air yang mengalir tenang. Kadang ada riak yang muncul, kadang pula ada bebatuan kecil yang menghadang. Namun kami tetap mengalir pada arah yang sama. Menyatukan hati untuk saling tetap mengisi hari-hari yang indah.

Beberapa orang mengira bahwa takdirlah yang mempersatukan kami. Tidak, aku menentang hal itu. Aku tahu bahwa kami bersama karena keinginan kami yang satu. Kami bersama karena sebuah keajaiban yang tercipta. Aku tahu Tuhan mengetahui isi hati kami.

Waktu terasa singkat. Padahal hampir dua tahun aku mengenalnya dan bersamanya hingga pengujung tahun ini. Benar kata dewi ku. Semua yang kami lewati sungguhlah membekas indah. Tak satu pun dari masa yang kami lalui dengan sia-sia.

***

Aku terbangun. Entah sudah berapa lama aku tertidur. Rasanya aku melewati waktu yang panjang. Kepala ku sedikit pusing, namun aku berusaha keras untuk bangkit. Dimana ia? Mengapa aku tak melihatnya? Aku merindukannya.

Tak lama pintu itu terbuka dan muncul lah seseorang dari baliknya. Ibu ku, ia berjalan menghampiri ku. Lalu dimana ia?

“Bagaimana perasaan mu? Apa sudah membaik?” tanyanya sembari duduk di tepian tempat tidur ku.

“Aku merasa baik-baik saja,” jawab ku yakin. ”Eomma, mana Donghae Oppa?”

“Ia sedang pergi sebentar. Ada sesuatu yang sedang diselesaikannya.”

“Benarkah? Jika ia kembali katakan padanya eomma, aku ingin bertemu.” Ibu ku mengangguk mengiya-kan.

Aku kembali beringsut dan beristirahat. Ku sentuh dada ku yang masih terasa sakit. Dapat ku rasakan detakan jantung ku yang terhenti dan mencengkram begitu erat. Aku bersyukur bahwa Tuhan masih memberi ku kesempatan untuk hidup. Memberiku kesempatan untuk melihatnya lagi.

“Eomma, apa jantung ku baik-baik saja?” tanya ku tiba-tiba.

“Tentu saja. Kau sudah menjalani operasi pencangkokkan jantung. Kau akan baik-baik saja, Yoong,” jawab Eomma tersenyum.

“Benarkah? Siapa pendonornya?” tanya ku sumringah. Aku senang sekali mendengar kabar itu. Aku senang karena masih diberi kesempatan untuk terus bersama-sama dengannya. Bahagia melewati hari-hari yang indah.

“Eomma tidak tahu. Dokter merahasiakannya.”

“Siapa pun orangnya, aku sangat berterima kasih.” Ibu ku tersenyum haru kemudian memelukku hangat.

***

Suaramu masih dapat ku dengar dengan jelas meskipun hingga ujung dunia aku berada. Teringat ketika pertemuan pertama ku. Hati ku telah terpaut pada mu. Membayangkan mu. Mengharapkan bahwa hadir mu begitu nyata.

Namun semuanya tak seindah yang kuharap kan. Menghilang dan lenyap tanpa tau harus kemana langkah ku beranjak. Dapatkah semua yang pernah kita lalui dulu terulang kembali? Aku masih menunggu mu disini. Menanti mu hingga tak ku ketahui sudah berapa masa yang ku lewati.

1 tahun kemudian …

Kaca jendela itu berembun. Dari sana tampak pantulan bayangan ku yang membias. Lama lamunan ku usai membayangkan hadirnya. Setahun telah berlalu sejak hari itu. Dan sejak itu pula aku tak melihatnya. Eomma berkata bahwa ia akan segera kembali. Namun aku tahu Eomma berbohong. Entah mengapa aku merasa dia tidak akan pernah kembali pada ku.

Setiap hari ku melewati jalanan itu. Melihat pekarangan rumahnya yang kini telah banyak ditumbuhi rerumputan liar. Rumahnya terlihat tak terurus.

Selalu ku berharap setiap kali melewati jalan itu, ia berdiri di depan pekarangannya untuk menanti ku. Dimana harus ku cari ia? Kemana harus ku temukan keberadaannya?

Terhenti langkah ku di depan pekarangannya. Nyali ku begitu ciut tiap kali ingin mengetuk pintu rumahnya. Takut jika pintu itu tak akan pernah terbuka kembali untuk selamanya.

Ku pejamkan mata, menahan haru. Rindu ini sudah tak terbendungkan lagi. Selalu membayangkan hadirnya, hanya itu yang dapat ku lakukan.

Segera ku langkahkan kaki menjauhi tempat itu, namun terhenti ketika dari kejauhan pintu rumahnya terbuka perlahan.

Diakah? Hati ku bertanya-tanya. “Oppa …” panggil ku pelan. Aku menanti sosok nya muncul dalam gelap. Dan yang kulihat hanyalah seorang wanita paruh baya yang menatap ku heran dengan beberapa kantung sampah ditangannya. Kecewa.

Aku berjalan mendekatinya, menyapanya ramah dan berharap aku mendapatkan jawaban yang ku inginkan. “Annyeonghaseo.”

“Ne. Ada yang bisa ku bantu?” tanyanya sedikit heran.

“Aku ingin tahu, kemana perginya pemilik rumah ini?”

“Aku tidak tahu. Aku hanya diminta untuk membersihkan rumah ini. Karena rumah ini akan segera dijual,” jawabnya.

“Dijual?” gumam ku.

“Ne. Ada lagi yang ingin kau tanyakan?”

Aku tak tahu harus mencari mu kemana lagi oppa. Ada dimana kau sekarang? Menangis. Hanya itu yang sanggup ku lakukan. Setahun sudah aku mencari mu, dan ini lebih sulit ketika kita sedang bermain petak umpat bersama.

Wanita paruh baya itu berlalu dengan kantung sampahnya. Kantung sampah?

“Bibi,” panggil ku. Wanita paruh baya itu berhenti dan menoleh.

“Ada apa nona?” tanyanya.

“Boleh aku membawa pulang semua kantung sampah itu?” Ia terliat ragu. Namun pada akhirnya ia mau menyerahkan semua kantung sampah yang dibawanya.

***

Ku temukan buku hariannya. Buku coklat tua yang selalu dibawanya kemana pun. Aku tahu, disanalah ia mencurahkan isi hatinya. Disana lah ia menceritakan segala hidupnya.

Ku buka lembar terakhir dari buku itu, dan disana goresan tangannya ia rangkai indah. Rindu ku memuncak, tak tahan membendung rindu untuknya.

Ternyata masih banyak sisa waktu yang ku punya untuk menemuinya nanti. Mungkin tidak sekarang, karena aku tahu ia sangat membutuhkan sebagian hidup ku. Bukankah aku berjanji bahwa nyawalah taruhannya.

Ingin tertawa rasanya mengetahui seperti inilah jalan cerita yang telah aku mainkan. Dan berakhir sempurna. Adakah rasa penyesalan itu datang? Tidak, tentu saja tidak. Apa yang kini telah kulalui, itulah pilihan ku. Dan memberikan nyawaku padanya pun adalah pilihan ku.

Akhir dari kisah ini, bahwa aku kembali pada tempat asal ku semula. Kembali pada kesendirian bersama mu. Aku tahu Tuhan, bahwa kau punya rencana lain setelah ini.

Melihatnya bahagia dari tempat mu pun telah membuatku senang. Karena kebahagiaannya lah sumber kehidupan ku.

Dewi ku, percayalah bahwa aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu seutuhnya, karena disetiap debaran yang kau miliki adalah debaran ku juga. Hidup ku ada pada diri mu. Dan jangan kau ragu bahwa aku selalu bersama mu selamanya. Aku akan tetap menanti mu dengan setia ditempat dimana hidup kita akan abadi selamanya.

***

Kulihat tubuhnya yang membujur kaku. Seseorang berkata bahwa ia tidak akan bisa bertahan karena jantungnya yang begitu lemah. Aku tak bisa membiarkannya terbaring lemah disana. Menutup matanya sepanjang hari dan pergi begitu saja.

Air mata ku mengalir. Ku sentuh pipinya yang putih bersih. Aku yakin inilah pilihannya. Ku kecup puncak kepalanya lama. Aku mencintainya melebihi apa pun. Mungkin ini terakhir kali aku melihatnya. Merelakan hidup ku deminya. Ia akan baik-baik saja nanti. Aku yakin itu.

“Jangan khawatir Yoong. Kau tidak akan kehilangan kebahagiaan karena aku akan selalu bersama mu.”

Ku raih tangannya dan menggenggam nya erat. Mata ku tak lepas dari wajahnya yang pucat. Akan selalu ku ingat tawa manis mu, bidadariku. Datangah pada ku jika sudah saatnya nanti.

***

Tangis ku tak terbendung. Dan aku tahu dimana ia sekarang. Kutekan bagian dada ku dalam, meresapi debaran jantungnya yang ku miliki. Ku usap berkali-kali linangannya namun tak jua berhenti.

Sesak jika membayangkan hidup ku harus berjalan tanpa hadirnya. Meraih semua angan yang kami inginkan bersama. Namun semua itu pupus sudah.

Tahun-tahun yang berarti telah kau tinggalkan untuk ku. “Terima kasih oppa, karena telah memberikan hari-hari yang indah.”

Aku yakin kebahagiaan itu tak terhenti sampai disini. Masih ada kebahagiaan yang akan menantiku dikehidupan setelah ini bersamanya.

FIN

21 thoughts on “Momentary Happiness

  1. eumm, sad ending.. tp crtanya bagus,sungguh. feelnya dpet bgt, katakatanya juga tertata rapi. menarikkk.sangtt beb^^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s