He’s Out of My League (Part 4)

A Story by Pseudonymous

Title: He’s Out of My League| Main Cast: 15&’s Yerin & JJ Project’s JB | Support Cast: 2PM’s Taecyeon & T-ara’s Jiyeon | Genre: Romance & Life | Length: Chapter | Rating: PG-11 | Disclaimer: Inspired by “She’s Out Of My League”, “That’s What I Am” & Miss D.D’s “Have A Good Life” | Previous part: Part 1, Part 2, Part 3

***

He’s Out of My League – Part 4

Jaebum menyeret-nyeret bagian bawah sepatunya pada jalan aspal hingga menimbulkan bunyi derak butir-butir pasir yang berisik. Anehnya, Yerin terus berjalan beberapa langkah lebih awal di hadapannya, diam, tidak terusik oleh gemerisik itu. Jaebum mendesah, berhenti bersikap konyol, lalu mengejar gadis itu. Mereka berjalan berdampingan, menuju rumah.

“Terimakasih,” ucap Yerin, begitu mereka akhirnya sampai di depan toko antik Tuan Baek. “Terimakasih sudah membantuku dan mengantarku pulang hari ini.”

Jaebum terkekeh. “Terimakasih juga sudah mengantarku pulang,” katanya sambil mengedikkan dagu kearah pagar rumahnya yang tertutup.

Yerin mengulum senyum, tapi tidak lama. Wajahnya meringis, berusaha menahan rasa perih yang menyayat saat kulit bibirnya yang robek tertarik. Jaebum memandangnya penuh khawatir.

“Kau baik-baik saja?” Jaebum mengulurkan tangan, mengangkatnya ke depan luka kering itu. “Apakah perlu kuantar ke dokter?”

Yerin cepat-cepat menggeleng. “Tidak, tidak usah,” sanggahnya. Dia mencoba tersenyum lagi, menahan ringisan itu keluar dari bibirnya. “Aku akan baik-baik saja. Sungguh.”

O-okay,” sahut Jaebum, tidak yakin.

“Kalau begitu,” Yerin berkata dengan suara tercekat. “Aku akan masuk duluan sekarang.”

Jaebum hanya diam, mengerjapkan matanya. Yerin memandangnya sekilas, menunggu pemuda itu bereaksi, tapi tidak kunjung terjadi apa-apa. Gadis itu memutar langkahnya, melangkah dua langkah dengan lambat. Tapi, belum sampai langkah yang ketiga, Yerin merasakan tangannya sudah ditarik.

“Yerin,” panggil Jaebum.

Yerin menoleh, mengangkat alisnya dan menunggu. “Hm?”

“Soal tugas itu,” kata Jaebum. “Apakah.. kita tidak bisa mengerjakannya bersama-sama? Apa kau sungguh tidak ingin bekerjasama denganku?”

Yerin menatap pergelangan tangannya yang kini masih dipegang erat oleh Jaebum, lalu beralih menatap sepasang manik cokelat gelap di balik lensa kacamata Jaebum. “Aku rasa..” Yerin berkata setelah jeda yang agak panjang. “..kita bisa bekerjasama. Asal..”

Pundak Jaebum naik beberapa derajat. “Asal?”

Yerin memutar tubuhnya, menghampiri Jaebum, menjinjit kearah pemuda itu, dan menarik lepas kacamata yang digunakan Jaebum. Jaebum memerhatikan Yerin saat melipat gagang kacamatanya, lalu menyelipkannya di dalam saku kemeja sekolah miliknya.

“..asal..” Yerin mendongak, menatap Jaebum. “..berhentilah menjadi orang bodoh.”

Jaebum menyeringai dengan wajah bersemburat merah. “Okay.”

Yerin tersenyum samar. “Datanglah ke rumahku besok siang, sepulang sekolah,” ujarnya, kembali melanjutkan sisa-sisa langkahnya yang sempat dicegat oleh Jaebum dengan berjalan mundur. Yerin membuka pintu toko kakeknya tanpa melihat, berdiri di ambang pintu, dan melanjutkan, “Kita akan mulai mendiskusikan temanya besok. Mengerti?”

Jaebum mengangguk. “Okay. Sepulang sekolah.”

Yerin mengangguk, lalu akhirnya perlahan mundur, menghilang dari balik cahaya gelap toko dan pintu itu pun tertutup. Jaebum menyeringai, menggigit bibirnya, menjerit dengan suara tertahan dan mengepalkan tangannya ke udara. Berhasil!

***

“Siapa pemuda yang mengantarkanmu tadi?”

Yerin menatap refleksi kakeknya melalui cermin. “Siapa?”

“Itu,” Tuan Baek yang sedang duduk di depan kardus-kardus berisi barang-barang antik kesayangannya mendongak. “Pemuda yang mengantarmu saat pulang sekolah tadi. Dia temanmu, kan?”

“Oh,” Yerin mengangguk. “Itu Jaebum.”

“Jaebum?”

Yerin mengangguk tanpa mengalihkan konsentrasinya dari kapas yang telah basah oleh obat merah. “Jaebum, murid baru dari Amerika itu dan..” Yerin mendesah. “..aku baru tahu bahwa dia ternyata adalah tetangga baru kita.”

“Oh yah?” Tuan Baek tertawa heboh. “Bukankah itu bagus? Itu artinya kalian bisa semakin sering bertemu.”

Yerin meringis kearah kakeknya—entah karena merasa kesakitan karena obat merah itu meresap masuk ke dalam lukanya atau justru karena merasa risih dengan ucapan Tuan Baek. “Jangan bicara yang aneh-aneh, Kek.”

“Aku tidak bicara yang aneh-aneh,” gerutu Tuan Baek. “Aku hanya mengatakan apa yang ada di pikiranku, bahwa tidak lama lagi..” Tuan Baek terkikik geli di balik kacamata tebalnya. Yerin menatapnya, menunggu.

“Tidak lama lagi.. apa?” desak Yerin.

“Tidak lama lagi,” Tuan Baek mengangkat wajahnya dan tersenyum bangga. “Cucuku akan jatuh cinta.”

Wajah Yerin sontak bersemu merah. Dia meletakkan cermin di atas meja dan memutar tubuh kearah kakeknya. “Kakek, hentikan!”

“Apa?” Tuan Baek masih tertawa, terlihat menikmatinya.

“Oh, demi Tuhan.” Yerin bangkit berdiri, merapikan kotak obatnya. “Aku tidak akan pernah mengalami hal-hal semacam itu—seperti jatuh cinta. Itu terdengar menggelikan.”

“Memang menggelikan,” sambung Tuan Baek, berlagak innocent. “Apa kau tahu bahwa jatuh cinta memang rasanya menggelikan? Aku pernah mendengar satu ungkapan manis tentang jatuh cinta.”

“Ya, dan aku tidak mau mendengarnya,” keluh Yerin, berpura-pura cuek dengan terus membereskan kotak obatnya.

“Begini ungkapannya,” lanjut Tuan Baek, tidak peduli dengan komentar Yerin. Pria tua itu mendongak ke udara dengan lagak dramatis dan melanjutkan, “When I fallin’ in love with someone, my stomach fills up with butterflies.” Tuan Baek tersenyum bangga. “Romantis sekali, bukan?”

Yerin tertawa mencemooh. “Apanya yang romantis dengan ‘kupu-kupu di dalam perut’?”

Tuan Baek mengedikkan bahu. “Orang yang tidak pernah jatuh cinta memang kesulitan untuk mengerti keromantisan dari sensasi ‘kupu-kupu-di-dalam-perut’ itu.”

Yerin mengerutkan bibirnya, merasa agak tersinggung. Dia tidak berkomentar lagi setelah itu, melainkan segera masuk ke dalam kamar dan melanjutkan kegiatannya untuk mengobati bibirnya.

***

“Mana jatah makan siang untukku?”

Punggung Ahyeon yang merapat pada dinding koridor sekolah mulai basah karena keringat. Gadis malang itu menggeleng kearah Jiyeon. “Aku tidak membawa makan siang hari ini, Jiyeon. Ibuku sedang keluar kota untuk menghadiri pemakaman keluargaku, jadi dia tidak bisa membuatkan makan siang untukku seperti biasanya.”

“Oh yah?” Jiyeon mengangkat sebelah alisnya dengan sinis. “Lalu, bagaimana sekarang? Kau mau membiarkanku kelaparan?”

Ahyeon meringis ketakutan dan menggeleng. “Aku.. Aku..”

Jiyeon menampar dinding koridor dengan telapak tangannya hingga membuat Ahyeon terlonjak kaget. Jiyeon lalu dengan kasar menggamit pergelangan tangan Ahyeon dan memelintirnya kuat-kuat. Ahyeon mulai terisak dengan memohon.

“Jangan lakukan apa pun padaku, Jiyeon. Maafkan aku tidak membawakan makan siang untukmu,” ringis gadis malang itu. “Aku berjanji akan membuatkan makan siang untukmu tapi tolong jangan lakukan sesuatu yang buruk padaku.”

“Tidak bisa,” desis Jiyeon. “Aku sudah terlanjur kesal hari ini.”

“Aku mohon,” Ahyeon menangis dengan suara lebih keras. “Aku akan memberimu uang.”

Cengkeraman tangan Jiyeon pada pergelangan tangan Ahyeon mengendur. “Uang?”

“Ya, aku akan memberikanmu uangku hari ini,” isak Ahyeon.

Okay.” Jiyeon melepas tangannya. “Mana uangmu?”

Dengan tangan gemetar, Ahyeon mengeluarkan uang dari saku jasnya dan menyerahkannya pada Jiyeon. “Ini.”

Jiyeon setengah merampas uang itu dari tangan Ahyeon dan mulai menghitungnya. Eunjung dan Sohee menatap uang di tangan Jiyeon dengan penasaran dan sorot rakus.

Tidak berapa lama kemudian, bel berbunyi, menandakan jam pelajaran pertama segera dimulai. Jiyeon dan dua kawannya melepaskan Ahyeon dari siksaan mereka, lalu berjalan kembali menuju kelas. Tepat saat itu juga, Jaebum muncul dari arah lain bersama Guru Ok. Keduanya nampak sedang mendiskusikan sesuatu. Sesuatu yang sangat penting, sampai-sampai ketika Jiyeon tersenyum kearah Jaebum, pemuda itu hanya menatapnya dingin, lalu berjalan melewati bangkunya dan memilih duduk di bangku kosong milik Yerin.

Jiyeon merengutkan alis kearah Jaebum, namun pemuda itu hanya berlagak tidak peduli. Kenapa, sih, dia itu?

“Aku sudah mendengar kabar ini,” kata Guru Ok, berdiri di depan kelas dengan gagah, membuka kelas pagi itu. Wajahnya terlihat murung.

Semua murid terdiam. Mereka menunggu, menduga-duga, dan mengamati sikap Guru Ok pagi itu.

“Jiyeon,” Eunjung mencondongkan tubuhnya ke depan dan berbisik, “Hari ini Gadis Berkacamata itu tidak masuk.”

“Ah,” Jiyeon mengangguk, baru menyadarinya. “Benar juga.”

“Aku..” Guru Ok melanjutkan lagi, menyita perhatian Jiyeon dan Eunjung untuk tetap fokus. “..sangat kecewa setelah mendengar berita ini.”

Jiyeon memicingkan mata saat Guru Ok menatap sedih kearahnya.

“Hari ini, aku mendapat telepon dari Tuan Baek bahwa Yerin tidak bisa bersekolah hari ini karena sedang sakit,” lanjut Guru Ok. “Dia dikabarkan mendapatkan perlakukan kekerasan dari seseorang sehingga mengakibatkan bibirnya terluka.”

Adegan di toilet kemarin melintas dengan cepat di benak Jiyeon. Eunjung dan Sohee membelalak ketakutan. Jiyeon mengalihkan wajahnya dari pandangan Guru Ok dan menunduk dalam.

Guru Ok mendesah dan matanya mulai berkaca-kaca. Dia memijat pelan pangkal hidungnya dan berkata dengan suara lirih, “Aku sungguh tidak mengerti mengapa ada seseorang yang melakukan hal setega itu. Itu sungguh sebuah perilaku yang sangat jahat, menyiksa seseorang.”

Satu per satu, kepala-kepala itu menoleh pelan kearah tiga gadis itu—Jiyeon, Eunjung dan Sohee—yang membuktikan bahwa kabar mengenai mereka yang menyiksa Yerin di toilet itu telah tersebar ke seluruh sekolah.

Guru Ok mengusap matanya yang mulai basah dan duduk di kursi yang berada di balik meja guru. “Maafkan aku,” lirihnya. “Aku rasa, aku tidak bisa mengajar untuk pagi ini.”

Semua saling bertukar pandang satu sama lain. Mereka tahu, ini bukanlah sebuah keadaan yang tepat untuk merasa senang karena tidak ada pelajaran Bahasa Inggris untuk pagi itu. Seluruh pasang mata menyorot Guru Ok dengan khawatir dan sedih, turut berduka. Sementara itu, Guru Ok menarik buku absen dari salah satu tumpukan buku lainnya di atas meja dan menyembunyikan wajahnya yang telah basah oleh air mata di baliknya.

***

Jiyeon telah berada di depan meja Guru Ok di ruang guru sepulang sekolah. Dia berdiri di sana dengan kepala tertunduk, merasa malu dan terhina. Guru Ok memandangi wajah gadis itu dengan dingin. Sementara itu, Jaebum diam-diam berdiri di depan pintu ruang guru yang memberinya kesempatan dan cela untuk mengintip.

“Jadi..” Guru Ok berdeham. “..apa kau merasa perlu menjelaskan sesuatu kepadaku, Nona Park?”

Jiyeon mengangkat wajahnya dengan pelan dan ketakutan. “Aku.. ingin minta maaf.”

Guru Ok memicingkan mata. “Soal apa?”

“Soal..” Jiyeon menelan ludah. “..soal itu.. Yerin..”

Guru Ok mendesah. “Jadi, kau mengakui bahwa kau memang melakukan hal itu padanya?”

Jiyeon diam saja. Brengsek! Dasar gadis tukang adu!

“Jiyeon!” Guru Ok melabrak meja gurunya dengan keras, membuat Jiyeon merinding ketakutan.

“Maafkan aku, Guru Ok,” ringis Jiyeon, refleks. “Maafkan aku. Aku sungguh di luar kontrol saat itu. Sungguh. Maafkan aku.”

Guru Ok menghela napas dan menggelengkan kepalanya dengan lelah. Dia mengusap wajahnya dan menyandarkan punggungnya pada kursi. “Mengapa kau melakukan hal itu padanya?” tanya Guru Ok dengan suara lebih pelan.

“Aku..”

Guru Ok mendelik kearah gadis itu. “Jangan katakan padaku ini karena persoalan tugas itu lagi?”

Jiyeon memilih untuk diam. Dia tidak bisa menjatuhkan harga dirinya lebih dari ini.

“Jiyeon,” kata Guru Ok dengan suara bass-nya yang khas. “Aku akan memaafkan perbuatanmu kali ini, tapi..”

Jiyeon mengangkat wajahnya.

“..tapi,” lanjut Guru Ok. “Jika aku sampai mendengar bahwa kau melakukan hal ini pada Yerin sekali lagi, aku tidak akan segan-segan menghubungi orangtuamu dan mengembalikanmu kepada mereka.”

Jiyeon membelalak. “A-apa?”

“Ya,” Guru Ok mengangguk. “Jika kau melakukan hal ini sekali lagi pada Yerin, aku akan meminta kepala sekolah untuk mengurus surat kepindahanmu ke sekolah lain. Singkat kata, kau akan dikeluarkan dari sekolah ini. Mengerti, Park Jiyeon?”

Jiyeon mengepalkan tinjunya. Bibirnya berkedut. Seluruh otot di tubuhnya tertarik dialiri amarah yang membara. “Ya, Guru Ok,” sahutnya, dingin.

***

Tuan Baek berdiri di antara rak-rak barang antik di tokonya sambil sesekali mencuri-curi pandang kearah Yerin yang sedang duduk di depan toko dengan gelisah. Tidak henti-hentinya, Yerin bergantian menoleh kearah ujung jalan, lalu kearah jam dinding.

“Kau ini kenapa, sih?” keluh Tuan Baek, ikut merasa gelisah memerhatikan sikap aneh Yerin siang itu.

“Tidak apa-apa,” sahut Yerin, singkat.

“Sedang menunggu seseorang?”

“Siapa? Jaebum? Aku tidak menunggu Jaebum!” tukasnya. “Cih. Siapa juga yang menunggu Jaebum? Aku bahkan tidak peduli jika dia benar-benar ingin datang atau tidak!”

“Wow,” kata Tuan Baek dengan mulut ternganga. Tidak percaya bahwa Yerin akan bereaksi seperti itu. “Aku kan tidak mengatakan bahwa kau sedang menunggu Jaebum?”

“Eh,” Yerin tercekat. “Iya, yah?” Gadis itu terkekeh dengan wajah bersemburat merah.

***

Ketika bel toko berbunyi—biasanya berbunyi hanya saat seorang pelanggan datang—Yerin berlari secepat kilat dari kamar tidurnya menuju toko antik kakeknya di depan. Begitu dia sampai di sana, dilihatnya kakeknya sedang berjalan menuju pintu, menyambut seseorang. Jaebum? Tapi, langkah Yerin berhenti seketika saat mendapati Guru Ok berdiri di ambang pintu.

“Guru Ok?”

Pria itu tersenyum kearah Yerin. “Bagaimana keadaanmu? Sudah merasa lebih baik?”

“Hm, aku..” Alih-alih menjawab pertanyaan Guru Ok, gadis itu menjulurkan kepalanya ke belakang punggung Guru Ok, mencari-cari. “Kau datang sendiri?”

Guru Ok memicingkan matanya dengan curiga. “Kenapa? Kau berharap aku datang bersama seseorang?”

“Hm,” Yerin menggumam cukup lama, lalu akhirnya menggeleng dan tersenyum. “Tidak, tidak.”

Guru Ok terkekeh lagi. “Kalau begitu, boleh aku masuk?”

“Tentu saja.”

Yerin mundur selangkah, memberikan ruang untuk tubuh tinggi Guru Ok memenuhi bingkai pintu. Saat Guru Ok masuk, Tuan Baek menyambut pria itu dengan hangat, berpelukan dan saling menepuk bahu, layaknya ayah dan anak yang sudah lama tidak bertemu. Yerin baru saja hendak ingin menutup kembali pintu toko, namun tertahan saat mendengar suara seseorang.

“Menungguku?”

Yerin menelengkan kepala dan tahu-tahu Jaebum sudah berdiri di hadapannya, menahan gagang pintu. Yerin memandangi Jaebum cukup lama, terlalu takjub. Matahari siang saat itu bersinar keemasan, menyinari sosok Jaebum, seperti lampu-lampu panggung. Efek dramatis itu membuat Yerin tidak mengerjapkan matanya, walau hanya sekali. Perut Yerin tiba-tiba bergejolak sakit, namun  anehnya terasa menyenangkan dan riang.

“Hei?” Jaebum melambaikan tangan di depan wajah gadis itu. “Kau baik-baik saja?”

Yerin mengerjap-ngerjapkan matanya dan buru-buru menggeleng. “Eh, aku baik-baik saja,” sahutnya, tergagap.

Jaebum terkekeh. “Maaf, aku terlambat. Aku singgah ke sebuah toko untuk membeli ini.” Jaebum mengangkat sekantung plastik makanan. “Teokkbeokki.”

“Oh,” Yerin mengangguk. “Baiklah, kali ini kau kumaafkan. Ayo, cepat masuk ke dalam. Aku tidak punya banyak waktu untuk bermain-main.”

Okay.”

***

“Aku sudah menegur Jiyeon, Tuan Baek,” kata Guru Ok, sambil meletakkan cangkir tehnya pada tatakan. “Kali ini, aku menjamin dia tidak akan berani melakukan hal ini lagi pada Yerin.”

Tuan Baek mengangguk samar. “Ya, terimakasih, Taecyeon. Aku sungguh merasa beruntung bisa menitipkan cucuku pada orang sepertimu.”

Guru Ok tersenyum hangat, merasa tersanjung. “Aku akan melakukan yang terbaik untuk menjaga Yerin di sekolah.”

“Oh yah,” kata Tuan Baek. “Mereka berdua,” Tuan Baek menuding Jaebum dan Yerin yang sedang berada di ruang tengah, sibuk berdiskusi. “Apakah kau sengaja membiarkan keduanya berpasangan dalam tugas itu?”

Guru Ok mencondongkan tubuhnya kearah pria tua itu dan berbisik, “Mau kuberitahu sesuatu, Tuan Baek?”

Refleks, Tuan Baek ikut mencondongkan tubuhnya. “Ada apa?”

“Jaebum itu..” Guru Ok menahan ucapannya di udara, lalu melanjutkan, “..anak dari Jessica.”

Tuan Baek mundur dengan tiba-tiba. “Jessica? Jaebum adalah putra Jessica?”

Guru Ok mengangguk. “Beberapa hari yang lalu Jaesuk menghubungiku dan mengatakan bahwa dia sedang dalam tahap mediasi dengan Jessica saat ini. Sementara proses mediasi itu sedang berlangsung, keduanya mengirimkan Jaebum dan kakaknya kemari. Jaesuk menghubungiku secara langsung untuk menitip Jaebum.”

Tuan Baek menghela napas berat. “Taecyeon,” kata Tuan Baek. “Apakah kau tidak merasa aneh saat bersama anak itu?”

“Jaebum?” Guru Ok menatap sosok Jaebum dan mengulum senyum. “Dia memiliki senyum yang sangat mirip dengan Jessica, Tuan Baek. Senyum yang pernah membuat hatiku berdebar-debar. Siapa yang akan sanggup membencinya?”

***

“Ini, untukmu.” Yerin menyerahkan sekotak susu kecil dengan sedotan pada Jaebum, lalu ikut duduk bersama pemuda itu di bangku yang ada di depan toko.

“Terimakasih,” ucap Jaebum, singkat, lalu menyeruput susu vanilla-nya dengan antusias.

Hari mulai gelap. Kawanan kelelawar terbang di atas kepala mereka, pergi mencari makan. Suara keramaian jalan di pusat kota terdengar di kejauhan. Jaebum terus menyeruput susu kotaknya tanpa henti, hingga akhirnya suara tarikan napas pada tetes-tetes terakhir terdengar sedikit memalukan.

“Oh, sudah habis,” gumam Jaebum, meremas susu kotaknya, lalu melemparnya masuk ke dalam tempat sampah.

Yerin mengamati pemuda itu sekilas, lalu meletakkan susu kotaknya di bangku. “Perlu kuambilkan yang baru untukmu?”

“Ah, tidak usah,” tolak Jaebum sambil terkekeh malu. “Aku sudah kenyang.”

Kawanan kelelawar lainnya melintas lagi di atas kepala mereka, bercicit-cicit riang.

“Oh yah,” Jaebum berdeham. “Tadi Guru Ok terlihat sangat akrab dengan kakekmu. Apakah dia memang sering datang kemari?”

“Tidak juga,” kata Yerin, menggeleng. “Guru Ok hanya akan datang pada hari-hari perayaan dan sesekali datang berkunjung jika ada sesuatu yang ingin dia bicarakan dengan kakekku. Maka dari itu, aku juga sedikit terkejut saat dia datang siang tadi. Sepertinya dia punya hal penting yang ingin dibicarakan dengan kakekku. Tapi, Guru Ok memang sangat akrab dengan kakekku. Saat kakekku masih bekerja sebagai dosen, Guru Ok sempat menjadi mahasiswanya dulu.”

“Oh yah?” Jaebum mengangkat alisnya. “Pantas saja mereka terlihat begitu nyaman saat berbicara.”

“Hm,” Yerin mengangguk. “Tadi mereka bahkan bicara sangat lama. Aku penasaran, sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan.”

“Pasti soal Jiyeon,” timpal Jaebum, yakin.

“Jiyeon?” Yerin memandangi wajah Jaebum, menelitinya, lalu terlonjak kaget dari kursinya, seolah baru saja menyadari bahwa ada yang salah dengan wajah Jaebum hari itu. “Astaga! Kau mengadukan Jiyeon ke Guru Ok?”

“Ya, memangnya kenapa?”

“Astaga, Jaebum!” Yerin meringis. “Mengapa kau melakukannya? Astaga!”

Jaebum memandangi Yerin yang berjalan mondar-mandir di hadapannya dengan sorot heran. “Mengapa kau terlihat tidak setuju?” tanyanya. “Bukankah itu bagus? Kau harus melihat wajah Jiyeon saat Guru Ok menyinggungnya di depan semua orang tadi. Aku yakin dia tidak akan berani lagi melakukan hal jahat itu padamu.”

“Percuma saja,” pekik Yerin, terdengar sangat kesal. “Walaupun Guru Ok sudah menegurnya, aku yakin Jiyeon tidak akan berhenti menggangguku begitu saja. Dia selalu punya cara untuk menyiksaku, Jaebum. Dan..” Yerin menelan ludah. “..walau kau merasa sudah berhasil menyingkirkan Jiyeon, orang-orang seperti dirinya akan selalu tetap bermunculan.”

Jaebum mengedikkan bahu dengan tak acuh.

Yerin mendesah panjang, terduduk di kursinya dengan raut lelah dan putus asa. Yerin menarik lepas kacamata jangkriknya dan mengusap matanya. Jaebum mengamati perilaku gadis itu dan matanya tidak bisa berkedip begitu melihat Yerin melepas kacamatanya.

“Kau..” Jaebum berkata dengan suara pelan. “..terlihat berbeda tanpa kacamata itu.”

Yerin mengenakan kembali kacamatanya dan menoleh kearah Jaebum. “Apa yang kau katakan barusan?”

Jaebum menepuk lututnya, lalu mengulurkan tangan untuk menarik lepas kacamata Yerin.

“Apa yang kau lakukan?” jerit Yerin, panik. “Kembalikan.”

Jaebum tersenyum mengejek. Tangan Yerin berusaha menggapai kacamatanya. Mata gadis itu menyipit, menyesuaikan cahaya gelap di sekitar mereka dengan bayangan kabur pada matanya. Jaebum tampak seperti sosok tidak jelas yang terus bergerak dan membuat kepala Yerin terasa pusing. Tapi, Jaebum memang pada dasarnya gesit dan jago berkelit. Tangan Yerin ke atas, Jaebum menyingkirkan kacamatanya ke samping. Yerin ke samping, Jaebum meliuk-liuk seperti penari ular.

“Jaebum!” bentak Yerin, frustasi. “Kembalikan sekarang!”

Yerin memeluk pinggang Jaebum, berusaha menahan gerakan-gerakan sigap pemuda itu. Tubuh mereka berhadap-hadapan, Yerin tepat berada di jarak cium Jaebum, hanya saja tidak menyadarinya karena pandangannya yang kabur. Jaebum benar-benar berhenti bergerak saat lengan Yerin melingkar pada pinggangnya. Dia menarik kepalanya mundur, terkejut dengan sikap Yerin. Wajahnya seketika membuncah merah karena rasa malu. Dia tidak pernah sadar bahwa Yerin terlihat begitu cantik dan berbeda dalam jarak sedekat ini.

“Ye-yerin,” Jaebum menelan ludah. Tangannya bergetar dan tanpa disadarinya, melepas kacamata itu hingga jatuh ke atas lantai.

“Suara apa itu?” bisik Yerin, masih memicingkan mata. “Tunggu sebentar, apakah itu kacamataku? Kau menjatuhkannya?”

“Ma-maaf,” Jaebum membungkuk ke atas lantai dan mengambil kacamata itu. Beruntung, lensanya tidak pecah atau tergores. “I-ini.”

Yerin mengenakan kembali kacamatanya dan menggerutu, “Kau ini menyebalkan sekali.”

Jaebum tersenyum kikuk. “Ma-maaf.”

***

Tuan Baek bergerak dalam kegelapan, mengintipi keduanya melalui jendela toko. Jaebum dan Yerin masih bertahan di depan toko, mengobrol dan sesekali tertawa. Tuan Baek nyaris lupa, kapan gadis kecilnya itu tersenyum riang seperti itu. Mungkin sudah lama sekali. Pria tua itu ikut tersenyum dan merasa ikut bahagia untuk cucunya.

“Seperti dugaanku,” gumamnya kepada dirinya sendiri. “Sepertinya ada yang sedang merasakan efek butterflies in stomach.”

***

“Aku harus pulang sekarang,” kata Jaebum. Dia mengamati dirinya sendiri dan tertawa kecil. “Aku sadar bahwa bauku sangat menyengat karena belum mandi sejak pulang sekolah.”

Yerin ikut tertawa. “Ya, aku hampir saja pingsan saat bersamamu karena mencium bau menyengat itu.”

Wajah Jaebum bersemburat merah. Dia menggaruk-garuk tengkuknya lagi—salah satu kebiasaan yang paling sulit dihindari saat dia sedang merasa malu atau gugup. “Yerin, bisakah..”

“Hm?”

Jaebum terbatuk. “..bisakah kita berangkat ke sekolah bersama besok pagi?”

Pupil mata Yerin melebar, agak terkejut. “A-apa?”

“Aku ingin kita berangkat ke sekolah besok. Boleh, kan?”

“Hm..”

“Tenang saja,” kata Jaebum. “Aku yang akan membayar biaya bus besok.”

Yerin tertawa canggung. “Tidak perlu.”

“Apakah ini berarti kau menerima tawaranku untuk berangkat bersama besok?”

“Ya,” Yerin tersenyum. “Jika kau tidak terlambat bangun besok pagi, aku rasa kita bisa berangkat bersama.”

Jaebum tersenyum lebar, menampilkan garis bulan sabit pada matanya yang sipit. Yerin merasakan efek aneh lagi di dalam perutnya itu.

“Kalau begitu, sampai jumpa besok!” kata Jaebum, lalu melambai perlahan kearah Yerin saat berjalan menjauh.

“Ya, sampai jumpa besok.”

***

Guru Ok sedang duduk di balik meja kerjanya di rumah, memilah-milah kertas-kertas tugas dari beberapa kelas untuk diperiksa. Saat berusaha menyingkirkan buku-buku pelajaran dan agenda dari atas meja, selembar foto jatuh dari buku agendanya. Guru Ok meletakkan buku-buku itu ke meja lainnya, lalu membungkuk di atas foto itu untuk memerhatikannya sebentar.

Itu adalah selembar foto lama dari masa lalu. Warnanya sudah agak buram dan ada beberapa bekas lipatan pada beberapa bagian. Foto itu menampilkan seorang gadis cantik, muda, dan penuh aura, berdiri di antara dua orang pria—salah satunya adalah Guru Ok sendiri. Guru Ok tampak mengenakan berlembar-lembar pakaian hangat, rambutnya disisir klimis, dengan kacamata bergagang emas pada hidungnya. Dia terlihat agak kaku di foto tersebut.

Sementara itu, pria lainnya—Jaesuk—berdiri gagah di samping sang gadis. Jaesuk tampak tampan dan bersahaja. Suatu aura yang tidak bisa ditolak oleh para wanita, memancar cerah dari sekujur tubuhnya. Tangan Jaesuk melingkar mesra di pundak sang gadis dan tersenyum lebar kearah kamera. Senyum bangga yang seakan berkata, “Gadis ini milikku dan aku beruntung bisa mendapatkannya”. Pemandangan itu sejenak membuat hati Guru Ok terasa perih dan iri. Tapi, tidak lama kemudian, dia memaksakan sebuah senyum dan meraih foto itu. Dia memandangi foto itu sekali lagi, lalu menyelipkannya kembali ke dalam buku agendanya.

***

Yerin masih terjaga di tempat tidurnya, memasang telinga, dan mendengar suara jam berdetak di atas kepalanya. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi Yerin belum juga bisa tertidur. Ini aneh, dia merasa mengantuk, tapi matanya tidak pernah bertahan terpejam selama lima detik. Jiwanya merasa gelisah.

Bosan, Yerin akhirnya beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju dapur. Dia menyeberangi ruang tengah yang gelap dan melihat kamar kakeknya sudah gelap. Tuan Baek sudah terlelap. Yerin mengambil gelas dari rak dan menuangkan air putih, lalu meneguknya dengan cepat. Dia terlonjak, nyaris tersedak, ketika telepon berbunyi di samping televisi.

“Siapa yang menelepon tengah malam begini?”

Yerin meletakkan gelas di atas meja dan bergerak menuju meja telepon. Dia mengangkat gagangnya dengan ragu dan menyahut, “Halo?”

“Yerin?”

Yerin mengenali suara itu, tapi tidak yakin. “Ja-jaebum?”

“Kau belum tidur?”

“Bagaimana kau bisa tahu nomor telepon rumahku?”

Terdengar suara terkekeh di ujung sana. “Buku telepon.”

“Oh.” Yerin mengangguk. “Ada apa menelepon tengah malam begini?” gerutunya, menahan suaranya agar tidak terdengar senang.

“Aku tidak bisa tidur,” keluh Jaebum.

“Ya, aku tidak peduli,” sahut Yerin, cuek.

“Apa kau tidak bisa tidur juga?”

“Hm..”

“Bagaimana kalau kita bertemu di luar sekarang?”

Yerin membelalak. “A-apa?”

“Temui aku di luar dan kita mengobrol. Okay?”

“T-tapi..”

“Sampai bertemu di luar, Yerin!”

Telepon terputus. Yerin memandangi gagang telepon dengan kesal. “Apa-apaan sih dia ini?”

To be continued…

23 thoughts on “He’s Out of My League (Part 4)

  1. wohh Taec itt mantan pcr eommanya jaebum alias jessica..wkwk udh nyngka sh wkt part kmrn..

    jgn smpe jiyeon mukulin yerin..heu nyebelin..
    blum kluar ya cetarrr menggelegarnya *hoeks* hehehe.ga sbr nunggu konfliknya..

  2. Ok Taecyeon memang cuma supporting cast tapi dialah yang paling bikin penasaran. Mulai dari kenapa dia sangat menyayangi Yerin, dan kenapa dia peduli bangeeet sama Jaebum yang murid baru. Ternyata oh ternyata.

    Tapi, masa sih hubungan Tacyeon sama Yerin cuma sebatas Taecyeon adalah mahasiswa kakeknya Yerin? Tapi kok, akrab bangeeeet. Saya benar-benar kepo sama dia…

    Can’t wait for the next part;)

  3. asiiik, ad yg mulai mrsakan sndrom butterflies in stomach nih.. sneng deh lyat mrk makin dkt.. msh malu2 kucing gt..
    hmm, ap hub guru ok ma mama jaebum y? sptnya, guru ok punya prasaan deh..
    Pnsaran next part ky ap, lanjut yak.

  4. ini masih sekolah kan ya? itu jiyeon jahat banget sumpah-__,-
    taec itu duluu pernah suka sama eommanya JB?
    oh iya… mediasi itu apa maksudnya ya? aku ga tau.__.)a
    sukaaaa deh sama part ini.. kkk~
    yaa tau sendirilah yaa kenapa aku bisa suka part ini.. ❤
    apalagi tadi pas waktu yerin 'meluk' jb.. haha

    • mediasi itu suatu tahap kalo orang lagi dalam proses perceraian gitu.
      istilahnya sih kayak mereka diberi kesempatan sekali lagi untuk berbaikan, tapi kalo emang tahap mediasi itu nggak ada hasil, yah mereka boleh tetep cerai.

  5. Aduh bawa.annya pingin ngelempar Jiyeon dari atas tangga lantai 17.-.
    Bullying banget sih 😐
    Kak, “Gadis malang itu menggeleng kearah Jiyeon.” kearah itu sebenarnya dipisah atau nggak sih *sdkt bingung* ??
    Tapi part ini mulai menguras emosi, sekalipun nggak terlalu ‘wah’ karena ceritanya nggak berat 😀

  6. thor lanjut!!! wajib soalnya author harus bertanggungjawab atas shipperku di dua idol ini.. harus bertanggungjawab! wajib itu. thor lanjut soalnya couple ini lucu. sifat JB mengemaskan dan yerin yg cuek tpi mau.. hahha… ini FF bner bner nyebarin virus yerin-JB shipper -__- tpi bgus bgt bgt bgt bgt…

  7. huaa keren adegan JaeRin nya, envy, trus makin penasaran sama hubungan sih Ok sama Jaebum, emaknya juga sama kakeknya yerin. so untuk part ini nggak ketemu typonya dan kejanggalannya. keren !

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s