[FF Freelance] Finding Love (Part 2 – End)

FINDING LOVE chap II -end-

 

Author             : @fabiola_lina

 

Main Cast        :

Lee Donghae          Super Junior

Lee Hyukjae           Super Junior

Cho Hyura              Other Cast

Cameo               :

Cho Kyuhyun          Super Junior

Diclaimer         : cerita ini milik saya dan saya harap kalian suka. Semua pemain di dalam fanfic ini adalah milik Tuhan, orang tuanya, ELF, dan milik agency mereka tercinta, SMent ^^

Warning          : Typo meraja lela.

Previous part: Part 1

%%%

Donghae berdiri di depan taksi dan kini ia berada di antara puluhan orang yang tengah berjalan melewati dirinya. Sesekali ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari seseorang yang tengah dinantinya. Pandangan Donghae teralih pada seorang yeoja yang tengah mengenakan kaos polos berwarna hijau tosca dengan celana skinny berwarna hitam, tak lupa jaket berwarna hitam senada dengan tas yang ia kenakan, rambut sebahunya sengaja ia ikat ekor kuda. Terlihat simple dan tomboy. Donghae tersenyum memandang yeoja itu yang perlahan berjalan mendekat ke arahnya. Yeoja itu tampak melambaikan tangannya pada Donghae.

Mian. Kau pasti sudah menunggu lama.” kata Hyura –yeoja itu– sembari membenarkan jaket yang ia kenakan.

Donghae menggeleng “Tidak, aku baru saja menunggumu 30 menit.”

“Donghae-ya, menunggu 30 menit itu adalah waktu yang cukup lama arra.” balas Hyura terkekeh.

Donghae tersenyum ‘Aku sudah terbiasa untuk menunggumu, Hyura-ya. Hingga 12 tahun pun, aku bersedia menunggumu, apalagi hanya menunggumu 30 menit’

“Donghae-ya, apakah aku merepotkanmu?” tanya Hyura pada Donghae yang tengah memandangnya. Donghae tertegun lalu menggeleng lagi.

Ani, kau sama sekali tidak merepotkanku.”

“Seharusnya Hyuk yang menjemputku tapi karena dia ada meeting mendadak jadi malah kau yang menjemputku. Aku tidak menyangka Hyuk menyuruhmu untuk menjemputku.”

Gwaenchana, aku malah senang bisa menjemputmu seperti ini. Hyura-ya, kau sudah makan?” tanya Donghae pada Hyura.

Hyura menggeleng pelan “Belum.”

“Baiklah, aku akan mentraktirmu makan. Kajja.”

Donghae segera membukakan pintu taksi untuk Hyura, Hyura dengan cepat masuk ke dalam taksi disusul Donghae.

Setelah menempuh waktu 15 menit, Donghae dan Hyura sudah sampai di tempat tujuan mereka. Mereka memasuki sebuah cafe roti yang cukup unik.

“Kau tahu tempat ini, Donghae-ya? Tempat ini sangat unik.” kata Hyura setelah duduk di meja pelanggan.

Donghae mengangkat menu yang berada di atas meja lalu membaca menu itu satu per satu.

“Kau mau pesan apa, Hyura-ya?” tanya Donghae pada Hyura.

Strawberry cake.” jawab Hyura yang masih memandang setiap sudut cafe tersebut.

Cafe tersebut bisa dibilang cukup unik, hiasan berbagai macam boneka teddybear terdapat di setiap sudut cafe tersebut. Mulai dari yang berukuran besar sampai yang mungil. Warna dinding yang dominan berwarna merah muda soft yang dipadukan warna merah dan putih sehingga terkesan menarik. Tak hanya itu, meja dan kursi yang kini Hyura duduki pun berwarna merah muda soft.

“Kau menyukai tempat ini?” tanya Donghae yang sedari tadi melihat wajah Hyura yang kagum dengan tempat yang sedang ia kunjungi sekarang. Pesanan Donghae sudah ia berikan pada pelayan cafe tersebut.

“Hmm..tempatnya indah. Menarik. Aku bisa sangat betah berada di sini.” jawab Hyura yang membuat Donghae tersenyum. Sesaat keheningan menyelimuti kedua manusia tersebut.

“Cho Hyura..” Donghae berusaha untuk memulai pembicaraan di antara mereka. Hyura menolehkan kepalanya memandang Donghae yang tengah memandangnya.

Ne?”

“Aku ingin berbicara sesuatu padamu.”

“Baiklah. Katakan.”

Donghae menghela nafas lalu pandangan Donghae teralih pada ponsel Hyura yang terletak di atas meja. Ponsel dengan gantungan lumba-lumba berwarna biru muda. Nafas Donghae mulai menipis, rasanya ia tak sanggup untuk bernafas dengan benar sekarang.

“Donghae-ya, apa yang ingin kau katakan?”

Donghae tertegun, ia kembali menatap mata Hyura. Hyura pun tak segan-segan membalas tatapan Donghae.

“Aku…aku..”

Seorang pelayan datang membawa pesanan Donghae dan Hyura. Donghae merutuki dirinya, lagi-lagi ucapannya terpotong. Setelah pesanan mereka berada di hadapan mereka masing-masing, dengan cepat Hyura mengambil pisau serta garpu dari atas meja, dengan telaten ia memotong strawberry cake miliknya.

“Aku ingin bercerita sedikit padamu.” kata Donghae sembari ikut mengambil sendok kecil lalu menyendokkan cake vanilla ke dalam mulutnya.

Hyura yang masih menikmati cake strawberry miliknya hanya mengangguk tanda ia mempersilahkan Donghae untuk bercerita. Donghae meletakkan sendoknya tersebut lalu kembali memandang Hyura yang masih sibuk dengan cake-nya.

“Saat aku masih berumur 14 tahun, aku pernah bertemu seorang gadis kecil. Aku tidak tahu saat itu dia berumur berapa namun kesanku saat bertemu dengan dia, dia adalah gadis kecil manis pertama yang pernah aku temui.”

Perlahan kecepatan tangan Hyura mulai memelan, ia merasa pernah tahu tentang kisah ini sebelumnya. Ia kembali membuka telinganya lebar-lebar dan memperhatikan tiap kata yang keluar dari mulut Donghae.

“Aku menemukan gadis kecil itu tengah menangis di pinggir pantai, awalnya aku kasihan melihatnya hingga aku berniat untuk menyapanya hanya sekedar untuk berbincang-bincang dengannya. Setelah aku menyapa dan akhirnya aku mengenalnya, aku baru tahu bahwa ia memang gadis kecil yang sangat manis dan polos.”

Nafas Hyura memburu, garpu dan pisau yang ada di tangannya kini sudah terjatuh di atas piring. Tangan Hyura terlalu lemas untuk mengangkat kedua alat makan tersebut.

“Aku sadar, setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan dan itu yang terjadi pada kami. Akhirnya kami berpisah setelah cukup lama kami meluangkan waktu untuk bersama, dan pada saat itu juga aku memberikannya sebuah benda. Benda yang mungkin sama sekali tidak berharga bagi siapa pun yang melihatnya tapi bagiku benda tersebut sangatlah berharga.”

Kedua mata Hyura sudah memanas, ia merasa sesuatu sudah ingin keluar dari pelupuk matanya. Hyura menunduk, tidak berani menatap Donghae yang berada di depannya. Dadanya benar-benar sesak, badannya terlalu lemas untuk menampung berat tubuhnya sendiri.

“Aku memberikan dia sebuah gantungan, gantungan berbentuk lumba-lumba kecil berwarna biru muda. Dia mengatakan padaku bahwa aku harus menyusulnya ke Seoul untuk bertemu dengan gadis kecilku itu lagi. Hingga pada akhirnya aku memiliki tekad dalam hidupku bahwa aku akan menemuinya di Seoul. Dan ternyata sekarang ini pun aku sudah menemu–“

“Ikan oppa.”

Donghae tersentak mendengar suara Hyura yang begitu lirih. Masih dalam posisi yang sama, Donghae masih memandangi Hyura dengan tatapan nanar hingga akhirnya ia melihat Hyura mulai menegakkan kepalanya sehingga Hyura dapat memandang wajahnya. Mata Donghae kembali menangkap setetes air mata jatuh membasahi pipi Hyura saat Hyura tengah memandangnya. Bibir Hyura bergetar, pundaknya terlihat naik turun menahan isakan yang keluar dari mulutnya, semakin lama air mata Hyura semakin deras membasahi pipinya.

“Kukira kau melupakanku.” kata Donghae singkat.

Hyura menggeleng “Sudah lama aku menantikan kedatangan oppa untuk menemuiku.”

Donghae berdiri, sungguh untuk saat ini ia sudah tidak dapat menahan rasa rindunya pada gadis kecil-nya itu. Dengan cepat Donghae menarik tangan Hyura untuk berdiri dan segera merengkuh tubuh Hyura ke dalam pelukkan kekarnya. Ia dekap tubuh Hyura erat.

Hyura sendiri tak mampu membendung air matanya, tangisannya pecah ketika berada di pelukkan seseorang yang sangat ia rindukan selama ini, ikan oppa-nya. 12 tahun tidak bertemu membuat Hyura benar-benar merasa lega ketika dapat melihat wajah ikan oppa-nya kembali. Jika bisa diputar kembali memori yang dulu, sangat mustahil bagi Hyura dan Donghae jika mereka bisa kembali bertemu di Seoul. Kemungkinan itu sangatlah kecl untuk terjadi.

Kedua tangan Hyura ia lingkarkan pada pinggang Donghae, wajahnya ia benamkan pada dada bidang Donghae. Isakan demi isakan keluar dari bibir Hyura. Donghae pun tak segan mengeratkan pelukkannya. Tangan kirinya ia gunakan untuk mengusap kepala belakang Hyura dengan lembut sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk mengeratkan pelukkannya pada punggung Hyura.

Cafe saat itu masih sepi karena memang cafe tersebut baru saja buka. Cafe ini milik teman Donghae yang pernah berteman dengannya ketika masih di Seoul dulu.

“Aku sangat merindukanmu, gadis kecil-ku.” bisik Donghae tepat di samping telinga Hyura.

Hyura sendiri tak sanggup menyahuti apa yang dikatakan Donghae, ia hanya bisa mengeratkan pelukkannya pada pinggang Donghae. Donghae tersenyum, ia menganggap pelukkan erat yang Hyura berikan itu adalah jawaban ‘iya’.

Perlahan Hyura mulai melepaskan pelukkannya, kedua matanya terlihat memerah dan bengkak. Donghae menangkupkan kedua tangannya pada pipi chubby Hyura, lalu mengusap pelan air mata Hyura dengan ibu jarinya.

“Aku..aku..tidak menyangka kita bisa bertemu, oppa.” kata Hyura sesenggukkan sambil berusaha menghapus air matanya dari pipinya.

Nado. Aku juga tidak menyangka kita bisa bertemu setelah 12 tahun kita tidak bertemu.”

“Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku adalah gadis kecil-mu?” tanya Hyura seraya menatap mata Donghae. Donghae tersenyum dan ikut membalas tatapan Hyura.

“Gantungan lumba-lumba itu. Tapi sebelum aku melihat gantungan itu pun, aku sudah menduga sejak awal bahwa kau adalah gadis kecil-ku saat pertama kali kita bertemu karena aku melihat dari senyumanmu.” jawab Donghae yang membuat Hyura menganggukkan kepalanya.

“Aku tidak menyangka ternyata kau adalah ikan oppa yang selama ini aku nanti-nantikan.”

“Mungkin takdir sudah menuliskan tentang pertemuan kita ini, Hyura-ya.”

Donghae maupun Hyura kini tersenyum dan saling memandang satu sama lain. Ada kelegaan yang luar biasa di hati mereka saat ini.

***

Donghae dan Hyura terlihat baru saja turun dari taksi yang kini sudah berhenti di depan rumah Hyura. Senyuman dari wajah keduanya mengiringi langkah mereka sedari tadi. Donghae akan mengantarkan Hyura sampai ke depan rumahnya. Genggaman tangan sedari tadi masih terkait satu sama lain. Tangan Donghae dan Hyura masih terpaut sampai mereka sudah berada di depan pintu rumah Hyura. Donghae masih enggan untuk melepaskan tautan tangan mereka. Donghae kini menatap Hyura yang sudah berada di hadapannya.

“Ini sudah malam, lebih baik kau mandi dan langsung istirahat arra.” pinta Donghae sambil memainkan poni samping Hyura.

Hyura mengangguk lalu tersenyum “Dwaesseo, lebih baik oppa pulang.”

Donghae masih menggenggam tangan Hyura erat, sepertinya seharian bersama belum cukup untuk mereka berdua. Tiba-tiba pintu rumah Hyura terbuka lebar, dari dalam pintu tersebut muncul Hyukjae dan Kyuhyun yang masih saling bercanda satu sama lain. Donghae dan Hyura pun segera melepas tautan tangan mereka. Mereka terdiam, dan berdiri berjejer sambil menundukkan kepala mereka.

“Ra-ya.” pekik Hyukjae sambil tersenyum lebar. Dengan cepat direngkuh tubuh Hyura ke dalam pelukkan Hyukjae.

Bogoshipoyo Cho Hyura.” desah Hyukjae yang masih memeluk Hyura erat.

Dengan ragu-ragu, Hyura membalas pelukkan Hyukjae dengan mengeratkan tangannya pada pinggang Hyukjae. Hyukjae pun segera melepaskan pelukkannya lalu menelungkupkan kedua telapak tangannya pada pipi Hyura.

“Kau kemana saja hmm? Kenapa tidak memberi kabar padaku? Kenapa kau sulit untuk dihubungi? Kau tahu aku sangat mengkhawatirkanmu.” tanya Hyukjae yang membuat Hyura sulit untuk menjawab. Dada Hyura kembali diliputi kebimbangan. Sesaat ia melirik Donghae dari ekor matanya, Donghae terlihat menunduk, enggan untuk melihat kemesraan yang dilakukan Hyukjae dan Hyura.

Mianhae Hyuk-ah. Tadi aku mengajak Donghae untuk membeli buku, karena terlalu asyik mencari buku, kami jadi lupa waktu. Soal aku tidak bisa dihubungi, mian ponselku lowbatt.”

Hyura merasa terlalu bodoh melakukan kebohongan seperti ini. Hyukjae terlalu baik padanya. Bukan ini seharusnya yang Hyukjae dapatkan darinya.

“Begitu. Kukira Donghae menculikmu dan membawamu kabur agar bisa bersamamu selamanya karena dia sudah terlanjur mencintaimu.”

Hyukjae dan Kyuhyun tertawa mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Hyukjae. Donghae hanya tertawa hambar, begitu pula dengan Hyura. Entah apa yang ada di pikiran Donghae saat ini, ia merasa ucapan Hyukjae barusan merupakan sindiran halus bagi dirinya.

“Yak hyung, kau ini jangan bergurau seperti itu, lihat nuka Donghae sampai pucat seperti itu.” sela Kyuhyun yang masih berusaha menahan tawa agar tidak meledak sewaktu-waktu.

Hyukjae memperhatikan Donghae lalu merangkul pundak Donghae erat.

“Yak! Aku hanya bercanda, ikan.”

Hyura tersentak ketika Hyukjae juga memanggil Donghae ‘ikan’ seperti dirinya memanggil Donghae ’ikan oppa’.

“Karena Hyura sudah pulang sampai rumah dengan selamat, aku ijin untuk pulang. Sepertinya Donghae terlalu lelah sehingga ia pucat seperti ini. Kyuhyun-ah, terima kasih atas kekalahanku tadi.”

Kyuhyun tersenyum smirk sambil menunjukkan jempolnya pada Hyukjae.

“Dan untukmu, Ra-ya. Istirahat yang cukup eo. Malam ini tidak usah menghubungiku dulu kalau kau benar-benar kelelahan. Jaga kesehatan, jangan sampai sakit.”

Wajah Hyukjae mulai mendekat ke wajah Hyura. Hyura terdiam dan memejamkan matanya, ia menahan rasa sesak yang tengah meliputi dadanya saat ini. Hyura merasakan sebuah kecupan hangat mendarat di keningnya cukup lama. Hyukjae pun mulai menjauhkan wajahnya dari wajah Hyura. Ia usap pipi Hyura dengan ibu jarinya dengan lembut.

Saranghae.” Kalimat tersebut membuat nafas Hyura terhenti untuk beberapa detik. Ia masih menunduk, tidak berani menatap mata Hyukjae. Sekilas ia melihat Donghae yang masih menunduk.

“Pergilah hyung, aku sangat muak melihat kemesraan kalian di depanku sekarang.”

“Pengusiranmu terhadapku kejam sekali, Kyuhyun-ah. Baiklah, aku akan pulang sekarang. Ra-ya, aku pulang dulu ne. Annyeong.

Hyukjae segera pergi dari hadapan Hyura dan Kyuhyun diikuti Donghae di belakangnya. Donghae masih diam, ia sendiri tak sanggup harus berkata apalagi. Mulutnya seakan terkunci, terlalu banyak yang ingin ia katakan sehingga ia sendiri bingung harus memulai itu semua dari mana. Hyura memandang Donghae yang perlahan menjauh dari dirinya. Donghae meninggalkannya tanpa berpamitan sedikitpun padanya. Tatapan Hyura masih memandang Donghae yang sudah masuk ke dalam mobil audi silver milik Hyukjae. Perlahan mobil itu mulai berjalan dan mulai meninggalkan perkarangan halaman rumah Hyura. Hyura mulai mengatur nafasnya yang mulai sesak. Kyuhyun yang berada di samping Hyura mulai bisa melihat perubahan sikap Hyura pada Hyukjae tadi.

“Kau terlihat bingung untuk menempatkan hatimu, Hyura-ya.”

Hyura menoleh ke arah Kyuhyun yang kini berada di sampingnya. Kyuhyun pun menoleh dan memandang wajah Hyura.

“Aku tahu dia ‘ikan oppa’ yang selama ini kau ceritakan padaku bukan.”

Mulut Hyura seakan terkunci, ia sungguh tidak tahu harus membalas apa pada ucapan oppa-nya itu karena itu semua benar. Apa yang dikatakan Kyuhyun tentang Donghae memang benar adanya.

“Aku tahu kau bisa menempatkan hatimu, Hyura-ya. Pilihlah hati yang sangat pas untukmu berlabuh, aku percaya kau pasti bisa menempatkan hatimu kepada hati yang paling tepat.”

Hyura tak mampu berkata-kata sekarang, matanya ia pejamkan sejenak meresapi setiap perkataan yang keluar dari mulut Kyuhyun tadi.

“Ahh sepertinya aku harus melanjutkan bermain game. Tanganku sudah gatal untuk melanjutkan yang tadi sempat terpotong. Aku kembali ke kamar dulu, Hyura-ya. Jangan lupa kalau kau mau masuk tutup pintunya. Bye..”

Hyura menahan rasa sesak itu lagi. Rasa sesak yang kembali datang menyinggapi dadanya. Ucapan Kyuhyun barusan membuat Hyura berpikir keras. Mungkin kah ia belum bisa menempatkan hatinya sekarang ini?

***

Sinar matahari pagi membuat Hyura mulai membuka matanya perlahan. Hari ini hari libur, seperti biasa, Hyura mematenkan hari libur adalah hari bagi dirinya untuk bermalas-malasan. Seketika kesadarannya pulih ketika mendengar suara pintu terbuka dari kamarnya. Hyura mengerjapkan matanya lalu memperhatikan seseorang yang mulai masuk ke dalam kamarnya dan segera menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur Hyura.

“Syukurlah kau sudah bangun, kalau kau belum bangun tadinya aku berniat membangunmu dengan cara menyirammu dengan air kamar mandi agar ketika kau sudah bangun kau tidak perlu untuk mandi.” kata Kyuhyun yang membuat Hyura mendelik.

Wae kau membangunkanku? Kau tahu bukan, hari ini hari libur. Kau tahu kebiasaanku bukan kalau hari libur aku gunakan hari ini dengan bermalas-malasan.”

Kyuhyun memukul kepala Hyura dengan tangan kirinya. Hyura meringis sambil melempar bedcover-nya pada Kyuhyun.

“Aku tidak akan repot-repot membangunkanmu jika tidak ada seseorang yang sedang mencarimu di bawah sekarang.”

Hyura membulatkan matanya.

“Siapa yang mencariku?”

“Lebih baik kau mandi dan turun. Lihat sendiri siapa yang datang mencarimu di bawah. Anggap saja ini merupakan kejutan dariku di pagi hari yang cerah ini.”

Hyura memutar bola matanya kemudian menatap Kyuhyun tajam.

“Tch.. jauh lebih baik jika kau keluar dari kamarku sekarang. Cho. Kyuhyun. Aku. Mengusirmu. Sekarang.”

***

Donghae sudah berdiri di depan pintu rumah Hyura, setelah berbicara singkat dengan Kyuhyun tadi, Donghae kembali berpikir untuk yang kesekian kalinya. Ia sadar, ia hadir di kehidupan Hyura dalam waktu yang tidak tepat. Ia masuk begitu saja dengan mudahnya namun walau ia masuk dengan mudah, apakah ia juga bisa keluar dari kehidupan Hyura dengan mudah. Setelah merenungi semua yang Kyuhyun katakan padanya, ia menyadari sesuatu, bahwa ia harus benar-benar melupakan gadis kecil-nya dan meninggalkan kenangannya dulu bersama gadis kecil-nya itu, seperti apa yang pernah Hyukjae katakan padanya dulu.

Sebenarnya niat awal Donghae datang ke rumah Hyura hanya sekedar ingin mengembalikan dompet Hyura yang sempat tertinggal di taksi kemarin. Donghae menghela nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Matanya terasa panas, dadanya terasa sesak, nafasnya tersendat.

“Ikan oppa.”

Donghae menoleh ke asal suara, dari dalam rumah muncul Hyura yang sudah mengenakan celana pendek selutut dengan kaos polos berwarna putih. Donghae tersenyum simpul melihat Hyura yang mulai berjalan menuju ke tempat ia berdiri.

“Kenapa kau menunggu di luar, oppa? Aishh pasti Cho Kyuhyun tidak membiarkanmu masuk ke dalam bukan. Dasar iblis neraka, lain kali aku akan memberi dia pelajaran.”

Donghae tersenyum samar, entah apa yang ia rasakan, ingin rasanya ia tertawa tapi hatinya tidak bisa.

“Aku ingin mengembalikan dompet ini padamu.”

Donghae tampak menyerahkan sebuah dompet berwarna coklat tua kepada Hyura. Tangan Hyura segera mengambil alih dompet itu dari tangan Donghae.

Aigoo oppa, aku malah tidak tahu jika dompetku ini berada di tanganmu. Gomawo oppa.”

Hyura tersenyum kemudian kembali menatap wajah Donghae yang terlihat nanar. Hyura menyipitkan matanya sejenak lalu memandang Donghae.

Oppa, apa ada yang sedang kau pikirkan?”

Hyura memperhatikan wajah Donghae dengan tatapan penuh tanya. Donghae mendengus, sepertinya ia harus berbicara soal ini semua pada Hyura.

“Hyura-ya, sepertinya aku harus mengatakan hal ini padamu.”

“Masalah?”

Donghae menundukkan kepalanya sejenak, perlahan Donghae menghela nafas untuk mengisi paru-parunya yang terasa kosong, hembusan nafas sedikit demi sedikit Donghae keluarkan melalui hidungnya.

Oppa–”

“Sejak awal hubungan kita ini salah, Hyura-ya.”

Hyura tersentak, matanya melebar ketika mendengar Donghae mengucapkan kalimat itu.

“Maksud oppa?”

“Aku salah masuk ke dalam kehidupanmu, Hyura-ya. Aku merasa tidak tepat untuk masuk ke dalam lingkaran kisah cintamu.”

Oppa..”

“Aku siap, Hyura-ya. Aku siap. Aku sangat siap untuk…untuk melupakan semua masa lalu kita, aku siap meninggalkan masa lalu kita, dan aku siap melupakan Cho Hyura sebagai gadis kecil-ku.”

Mata Hyura memerah, dadanya terasa sesak. Ia sungguh tidak sanggup mendengarkan ini semua.

“Mulai hari ini, lupakan masa lalu kita dan lupakan janji kita dahulu. Aku akan melupakanmu sebagai gadis kecil-ku dan kau harus melupakanku sebagai ikan oppa-mu.”

Donghae merasa sesak teramat sangat di hatinya “Aku yakin kita bisa melakukan ini semua, Hyura-ya. Hyukjae terlalu baik padaku dan dia terlihat sangat menyayangimu. Setidaknya aku mempercayakan dirimu pada orang yang sangat tepat.”

Setetes air mata jatuh membasahi pipi Hyura. Bagi Hyura, kisah dia dan Donghae terlalu singkat untuk diakhiri. Di dalam lubuk hatinya, ia masih ingin bersama dengan Donghae, menjalani hari-hari berdua dengan Donghae. Walaupun dia sendiri sadar, dirinya sudah memiliki kekasih yang begitu mencintainya.

“Aku mempunyai satu permintaan padamu. Permintaan terakhir sebagai ikan oppa-mu.”

Dada Hyura kembali sakit ketika ia mendengar kata ‘terakhir’ di dalam kalimat yang baru saja Donghae katakan. Pipi Hyura kini sudah terlihat benar-benar basah karena air mata yang sedari tadi jatuh membasahi pipinya.

“Aku hanya ingin, sehari ini saja. Ijinkan aku untuk menjadikanmu milikku. Hanya sehari ini saja, ijinkan aku menjadikanmu gadis kecil-ku.”

Donghae berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh sewaktu-waktu. Hyura mendongakkan kepalanya menatap Donghae dengan pandangan nanar.

Oppa..”

“Tidak boleh ada air mata selama kita bersama dalam waktu sehari ini. Jebal.”

Hyura segera menghapus air matanya cepat dan memandang Donghae lagi. Dengan mata memerah dan sembab, Hyura segera mengangguk lalu tersenyum tipis memperlihatkan lesung pipit yang amat Donghae sukai.

***

“Kau tidak perlu menyewa supir untuk mengantar kita pergi seharian ini kan, oppa. Kau terlalu merepotkan Jung ahjussi.” kata Hyura yang kini sedang duduk di samping Donghae.

Donghae menyewa sebuah mobil beserta supir untuk menemani ia dan Hyura berjalan-jalan seharian penuh ini. Sebenarnya Hyura sempat menolak, namun dengan alasan Donghae sama sekali belum mahir menyetir membuat Hyura harus menyetujui usulan Donghae itu.

“Kalau bukan dengan seperti ini, aku tidak akan pernah bisa pergi denganmu bukan.” balas Donghae yang membuat Hyura terkekeh.

“Tenang saja, ahjussi sama sekali tidak merasa di repotkan oleh Tuan Muda Lee Donghae.” sela Jung ahjussi yang mendapat anggukkan dari Donghae.

Dwaesseo, aku menyerah jika kalian sudah satu pemikiran seperti ini.”

Hyura mengarahkan pandangannya menuju ke luar jendela, Hyura tertegun ketika melihat jalanan yang ia lewati saat ini.

Oppa, bukan kah ini jalan keluar Seoul.”

Hyura menoleh pada Donghae, Donghae hanya tersenyum penuh arti lalu kembali memalingkan wajahnya dari Hyura yang masih menatapnya penuh tanya.

“Kau akan tahu nanti.”

***

Mobil yang Donghae dan Hyura tumpangi sudah berhenti di sebuah pantai yang cukup indah. Setelah menempuh kurang lebih satu setengah jam, rasa lelah yang Hyura rasakan mendadak lenyap seketika ketika melihat hamparan pasir putih di hadapannya dengan ombak kecil yang dengan lihainya bergulir ke sana kemari.

“Ikan oppa, cepatlah kemari.”

Hyura sudah mendahului Donghae keluar mobil dan berlari menuju bibir pantai. Tangannya ia rentangkan lebar-lebar merasakan hempasan angin pantai yang menerpa tubuhnya.

“Bagaimana? Apa kau suka?” tanya Donghae yang kini sudah berdiri di samping Hyura.

Hyura menatap Donghae dengan senyuman yang sangat lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya.

“Aku sangaaaaaaaaaat menyukainya. Oppa, kau sangat mengerti apa yang aku mau.” kata Hyura tersenyum kecil.

Donghae tertawa lepas, ia rangkul pundak Hyura untuk lebih mendekat padanya.

“Aku hanya bisa memberikanmu ini sebagai kenangan terakhir kita.” gumam Donghae kecil namun dapat didengar jelas oleh Hyura.

Hyura sempat menunduk ketika mendengar gumaman Donghae tersebut. Rasa akan kehilangan sesuatu begitu terasa di hati Hyura saat ini. Namun dengan cepat Hyura segera melupakan rasa itu, ia menegakkan kepalanya memandang Donghae.

Kajja kita buat istana, oppa. Aku ingin membuat kastil yang besar dengan pasir-pasir ini.”

Hyura menarik tangan Donghae dan membawa Donghae sedikit mendekati bibir pantai. Hyura segera mendudukkan dirinya kemudian mengambil sebongkah pasir di tangannya. Mencampurkan sedikit dengan air dan mulai membentuk pasir yang sedikit basah itu menjadi dinding istana. Donghae dengan telaten mengikuti cara Hyura bekerja.

“Gadis kecil.”

Hyura menoleh sejenak lalu memandang wajah Donghae yang masih serius dengan kastil yang ada di hadapan mereka.

Ne?”

“Apa kau sangat senang bertemu denganku?” tanya Donghae tanpa memandang Htura sama sekali.

Hyura tersenyum lalu melanjutkan membuat benteng kastil di hadapannya.

“Aku merasa sangat senang bisa bertemu denganmu lagi, oppa. Dan aku sangat mensyukurinya.”

Jawaban Hyura yang seharusnya bisa membuat Donghae tersenyum malah membuat Donghae merasakan sesak di hatinya. Ia berpikir, bagaimana dengan dirinya jika ia harus meninggalkan dan melupakan Hyura. Nafas Donghae tercekat membuat dirinya merasa memiliki beban teramat berat di pundaknya.

Oppa, aku tidak akan pernah melupakanmu.” kata Hyura yang membuat Donghae kembali merasakan sakit yang amat luar biasa di dadanya.

Hening.. begitulah yang terjadi di antara Donghae dan Hyura saat ini. Mereka berdua terlalu sibuk membuat kastil yang sudah setengah jadi.

Jja..setidaknya ini sudah bisa disebut kastil bukan.”

Hyura segera membersihkan kedua tangannya dengan air laut lalu melihat hasil kastil pasir yang baru saja dibuatnya bersama Donghae.

“Walaupun hanya setengah tapi kastil pasir ini sudah mirip seperti kastil sungguhan.” ucap Donghae yang membuat Hyura tersenyum.

“Huh?! Aku bosan..” desah Hyura seraya melepaskan kedua sepatunya dan berlari kecil menuju ke deburan ombak yang sedang bergulir kecil ke pinggir pantai.

Hyura terlihat sangat senang, sesekali ia melompati ombak kecil itu.

Donghae masih duduk di samping kastil pasir yang ia buat bersama Hyura, ia memperhatikan setiap tingkah yang dibuat oleh gadis kecil-nya. Terkadang ia ikut terkekeh melihat tingkah Hyura yang menurutnya sangat kekanak-kanakkan tersebut.

Oppa, kau tidak ingin bermain bersamaku.”

Donghae mendengar Hyura meneriakkan sebuah kalimat kepada dirinya. Donghae tersenyum lalu berdiri, ia melepas juga sepatunya dan menaruhnya di samping kastil pasir. Ia berjalan mendekati Hyura yang sedang asyik bermain dengan ombak-ombak kecil.

“Ikan oppa.

Donghae segera menoleh ketika namanya dipanggil oleh Hyura, namun ketika ia menoleh bukan mendapatkan senyuman yang biasanya Hyura berikan malahan Donghae mendapatkan percikan air yang Hyura berikan padanya. Wajah Donghae kini sudah basah dengan air pantai tersebut.

“Kau mengajakku bermain-main eo?” tanya Donghae dengan wajah menggoda.

Perlahan-lahan Hyura mulai berjalan mundur dan mulai menjauh dari Donghae, dengan cepat Donghae mengejar Hyura hingga ia dapat menangkap tubuh Hyura dan mulai membasahi tubuh Hyura dengan air pantai. Donghae dan Hyura mulai menikmati hari mereka, mereka terlihat bercanda satu sama lain. Sesekali Donghae memeluk tubuh Hyura dari belakang, mengangkat tubuh Hyura, dan memutar tubuh Hyura kemudian menjatuhkannya ke air pantai sehingga membuat tubuh Hyura kini basah kuyup.

Sesaat setelah mereka bermain dengan air pantai, Donghae dan Hyura memutuskan untuk berjalan-jalan di pinggir pantai menikmati angin dingin sore hari yang perlahan mulai menerpa tubuh mereka berdua.

“Kau kedinginan?” tanya Donghae pada Hyura.

Hyura yang berada di samping Hyura hanya mengangguk kecil sesekali meniup-niupkan telapak tangannya yang kedinginan. Donghae yang saat itu membawa jaket berwarna biru tua segera melingkarkan jaket tersebut pada tubuh Hyura.

“Pakailah, aku takut kau akan sakit nanti.” kata Donghae sembari diikuti senyuman dari Hyura.

Baju Hyura memang masih basah setelah bermain air tadi bersama Donghae, tak terkecuali dengan Donghae. Namun jaket Donghae aman dari kata basah karena memang sebelum ikut Hyura bermain di pinggir pantai, Donghae sudah melepas jaketnya terlebih dahulu.

Donghae mendesah kecewa ketika melihat matahari yang semakin lama semakin menurun ke ufuk barat. Ingin rasanya ia menghentikan gerakkan matahari tersebut agar waktunya bersama Hyura semakin lama.

Langit yang tadinya biru cerah berubah menjadi berwarna jingga. Pergantian warna langit itu menandakan bahwa sore hari sudah akan berlalu. Donghae kembali harus menelan rasa kekecewaannya lagi untuk kesekian kalinya.

“Kita harus pulang, oppa.”

Suara lirih Hyura membuat Donghae kembali mendengus. Ya, mereka memang harus pulang. Meninggalkan semua kenangan mereka di sini, di pantai ini. Melupakan semua kenangan mereka bersamaan dengan angin pantai yang akan membawa kenangan mereka pergi jauh. Donghae maupun Hyura hanya bisa terdiam.

“Gadis kecil.”

Hyura mendongakkan wajahnya sambil merapatkan jaketnya. Ia mendapati Donghae tengah menatap wajahnya dengan sendu. Perlahan wajah Donghae mendekat ke wajahnya, Hyura bisa merasakan deru nafas Donghae yang terdengar begitu cepat. Nafas itu begitu hangat menerpa wajah Hyura saat ini. Hyura memilih untuk memejamkan matanya hingga terasa sentuhan basah dan hangat di bibirnya untuk beberapa detik. Donghae hanya menempelkan bibirnya pada bibir Hyura. Setelah dirasa cukup, Donghae segera melepaskan kecupan singkat itu. Hyura segera membuka matanya pelan, ia melihat wajah Donghae yang kini terukir senyuman tipis di wajahnya.

Saranghae.” Satu kalimat yang terucap dari bibir Donghae dapat membuat Hyura ingin terbang dari tempatnya berdiri sekarang juga. Darahnya seakan berdesir cepat, pipinya mendadak panas, tubuhnya membeku.

Kajja kita pulang.”

Donghae segera menarik pergelangan tangan Hyura dan membawa Hyura kembali ke mobil untuk kembali ke Seoul, di mana rumah Hyura berada. Hyura sendiri hanya bisa diam, terlalu sulit untuk mengeluarkan dan merangkai kata-kata.

***

Mobil hitam sudah berhenti di depan rumah Hyura. Donghae menoleh ke samping, ia mendapati Hyura tengah tertidur lelap di pundaknya. Dengan hati-hati Donghae mengangkat kepala Hyura.

“Hyura-ya, bangunlah.”

Hyura menggeliat pelan lalu mulai membuka matanya perlahan. Ia dapat melihat rumah besar berbentuk klasik di hadapannya. Dalam hati ia mendengus, mengapa harus secepat ini ia menyudahi hari ini?

Kajja aku akan mengantarkanmu masuk ke dalam rumah.”

Hyura mengangguk. Pintu mobil dibuka oleh Donghae dan ia segera turun dari mobilnya. Namun bukannya ia beranjak berjalan, Donghae malah berjongkok di hadapan Hyura yang masih berusaha untuk menyadarkan dirinya dari mimpi indahnya tadi.

“Naiklah, aku yakin kesadaranmu belum pulih bukan?”

Dengan sedikit ragu, Hyura segera mengalungkan tangannya pada leher Donghae dan mulai menjatuhkan tubuhnya pada punggung Donghae.

Donghae mulai mangangkat tubuh mungil Hyura ke dalam gendongannya. Satu demi satu langkah Donghae mulai diayunkan menuju ke pintu rumah Hyura. Hyura sendiri menyandarkan kepalanya pada pundak Donghae dari belakang. Ia sangat berharap pundak ini akan selalu ada untuknya namun semuanya hanya tinggal harapan Hyura saja.

Sesampainya di depan pintu rumah Hyura, Donghae mulai menurunkan tubuh Hyura. Hyura memandang Donghae dengan tatapan nanarnya.

“Mulai sekarang, kita lupakan semua kenangan kita eo.  Lupakan aku sebagai ikan oppa-mu dan tatap aku sebagai Lee Donghae, seperti aku akan melupakanmu sebagai gadis kecil-ku dan akan menatapmu sebagai Cho Hyura, kekasih dari Lee Hyukjae.” kata Donghae yang mampu membuat Hyura kembali terdiam.

Hyura menundukkan kepalanya, ia tak sanggup dengan ini semuanya. Ingin rasanya ia terbebas dari segala beban yang dirasa terlalu berat ini. Hyura sudah tak mampu menahan beban ini, ia terlalu terbuai dengan apa yang Donghae berikan pada hari ini.

“Gadis kecil-ku, aku melepasmu.”

Setetes air mata jatuh membasahi pipi Hyura setelah kalimat itu terucap dari bibir Donghae. ia berharap alat pendengarannya sekarang tengah bermasalah dan berharap tidak dapat mendengar kalimat tersebut, namun percuma, Hyura tetap bisa mendengarnya –dengan jelas.

Hyura masih tidak bergeming, ia menundukkan kepalanya, tangannya ia remas untuk menahan rasa sakit di hatinya saat itu. Ternyata beginilah rasanya kehilangan, begitu menyakitkan dan begitu menyesakkan. Sedetik kemudian, Hyura merasakan tubuhnya direngkuh oleh sesuatu yang hangat. Tubuh kekar Donghae dengan erat tengah merengkuh tubuh mungil Hyura. Hyura tak mampu menahan tangisnya lagi, tangisnya mulai pecah ketika berada di pelukkan Donghae.

Jebal! Uljima Cho Hyura.”

Hyura masih sesenggukan di dada Donghae. wajahnya sengaja ia benamkan pada dada bidang Donghae, merasakan kedamaian yang tercipta di antara mereka saat itu.

“Ra-ya.” pelukkan itu segera terlepas ketika Hyura maupun Donghae mendengar panggilan tersebut. Hyura menatap Hyukjae dengan tatapan bingung, bingung harus menjelaskan apa yang baru saja dilihatnya dengan Donghae. Begitu pula dengan Donghae.

“Apa yang sedang kalian lakukan, Ra-ya?”

Baik Donghae maupun Hyura sama sekali tak mampu berbicara. Hyura menunduk, tak mampu memandang mata Hyukjae yang memancarkan amarah.

“Hyukjae-ah, aku bisa–“

“Dan kau Donghae-ya, kau seharusnya sadar siapa Hyura ini. Kau sudah benar-benar mengecewakanku, Donghae-ya.”

Donghae menggeleng cepat “Kau salah paham, Hyukjae-ah. Aku dan Hyura–“

“Kau ingin mengatakan apa hah? Kau ingin mengatakan bahwa sebenarnya Hyura adalah gadis kecil yang kau cari-cari selama ini. Wae? Kalian bingung aku bisa tahu ini semua dari mana? Cho Kyuhyun menceritakan semuanya padaku. Awalnya dia menceritakan padaku dengan niat agar aku tidak salah paham dengan hubungan kalian tapi setelah aku melihat dengan kedua mataku sendiri, aku menjadi curiga dengan kalian.”

“Kau salah paham, Hyukjae-ah. Aku tidak akan merebut Hyura dari pelukkanmu. Aku sudah berjanji pada diriku bahwa aku akan melupakan kenangan masa laluku dulu bersama gadis kecil-ku.”

“Bagus. Amat sangat bagus jika kau benar-benar melakukan hal tersebut, Donghae-ya. Kau jangan pernah mempunyai niat untuk merebut Hyura dari tanganku karena itu semua tidak akan mungkin dan aku sendiri tidak akan pernah melepaskan Hyura dari tanganku.”

Tangan Hyura segera Hyukjae tarik untuk mendekatinya –menjauhkannya dari Donghae.

“Donghae-ya, lebih baik kau pergi dan segera pulang.”

Hyukjae masih menggenggam tangan Hyura dengan erat. Perlahan Hyura mulai mengangkat wajahnya memandang Hyukjae yang masih memperlihatkan wajah mengerikan.

“Hyuk-ah..” desis Hyura lirih.

Hyukjae sama sekali menghiraukan panggilan Hyura, ia masih menatap Donghae dengan pandangan penuh amarah.

Dwaesseo. Lebih baik aku pergi dari sini. Annyeong, Hyukjae-ah. Annyeong….Hyura-ya.”

Perlahan Donghae melangkahkan kakinya yang berat menuju ke mobilnya berada. Hyura maupun Hyukjae menatap kepergian Donghae yang perlahan mulai menjauh dari mereka.

Oppa..” Ingin rasanya Hyura menyusul Donghae saat itu namun tangan Hyura sudah tertahan oleh genggaman Hyukjae. Hyukjae menggenggam pergelangan tangan Hyura dengan erat.

“Donghae adalah masa lalumu, Hyura-ya. Kau harus ingat satu hal itu.”

Air mata Hyura tumpah begitu melihat Donghae sudah menghilang dari pandangannya. Hyura terduduk dengan tangan yang masih digenggam oleh Hyukjae. Kakinya terasa lemas untuk menahan beban tubuhnya. Ia terlalu lelah menghadapi kehidupannya yang rumit ini. Andai beban ini dapat dibagi. Andai beban ini dapat cepat dihilangkan. Dan andai beban ini dapat dimusnahkan dengan mudah.

***

Hyura mulai membuka matanya yang berat secara perlahan. Detik kemudian ia mulai mengerjapkan kedua matanya. Ia merasakan matanya terasa sangat berat saat ini. Dengan langkah gontai, ia menjalankan tubuhnya yang kaku menuju ke kamar mandi. Sesampainya di depan kaca wastafel kamar mandi, ia memperhatikan wajahnya sejenak.

“Kau benar-benar seperti mayat hidup, Cho Hyura.” desis Hyura seraya memutar kran dan mulai membersihkan wajahnya agar sedikit terlihat lebih baik.

Hyura kembali memperhatikan wajahnya ketika selesai membasuh wajah pucatnya. Sungguh wajah Hyura benar-benar sangat berantakkan saat ini. Mata memerah, kantung mata membengkak dan berwarna hitam, wajahnya benar-benar lusuh. Hyura mendengus kecil lalu kembali memutar kran air dan segera membasuh kembali wajahnya berkali-kali dengan air kran tersebut.

“Kau basuh berkali-kali pun wajahmu itu akan tetap terlihat seperti itu, Hyura-ya.”

Hyura menghentikan kegiatan membasuh mukanya, ia membalikkan wajahnya menuju ke pintu kamar mandi yang sengaja Hyura buka. Kyuhyun tengah menyenderkan tubuhnya pada daun pintu sambil meletakkan kedua tangan di dadanya.

“Aku benci padamu, Cho Kyuhyun.” kata Hyura pedas. Hyura segera mengambil sikat giginya dan mulai menyikatkan giginya dengan kasar.

Wae? Soal aku memberitahu Hyukjae hyung tentang Donghae.” balas Kyuhyun terkekeh.

“Lebih baik Hyukjae hyung tahu sekarang bukan dari pada nantinya ia tahu dengan sendirinya. Itu terlalu menyakitkan baginya, Hyura-ya.”

Hyura mulai mengumurkan mulutnya dengan air kran lalu membuangnya. Ia menatap tajam Kyuhyun dari kaca yang memantulkan wajah menyebalkan Kyuhyun itu.

Arraseo tapi kau salah paham. Aku dan Donghae berencana akan saling melupakan kisah kita dulu. Melupakan kenangan masa lalu kita.”

“Apa kau yakin mampu melakukannya hah?”

Kali ini giliran Hyura membeku, ia tak mampu membalas ucapan oppa-nya itu saat ini. Benar apa yang dikatakan Kyuhyun padanya, apakah ia mampu melakukan hal tersebut? Melupakan kenangan masa lalu.

“Aku sama sekali tidak berniat untuk membela siapa pun. Aku tidak berpihak pada siapa pun dalam masalah ini tapi aku yakin, amat sangat yakin semua keputusan ada di tanganmu, Hyura-ya.”

Hyura terkekeh lalu tersenyum tipis “Ani, tidak ada keputusan. Semuanya sudah berakhir dan aku sama sekali tidak memilih, oppa.” kata Hyura.

“Aku akan membiarkanmu mulai memilih. Sekarang kau mandi dan turunlah, Hyukjae hyung sedang menunggumu di bawah.”

***

“Untuk apa kau datang sepagi ini ke rumahku, Hyuk-ah? Bukannya kau harus bekerja sekarang.” tanya Hyura setelah masuk ke dalam mobil audi silver milik Hyukjae.

“Aku ini direktur di perusahaanku. Seorang direktur bisa kapan saja datang ke kantor. Lagi pula ini masih jam 9 pagi bukan.” sahut Hyukjae yang membuat Hyura memutar bola matanya.

“Apa kau tahu Donghae kembali ke Mokpo jam 10 pagi ini?”

Tubuh Hyura seakan tersetrum sengatan yang sangat mematikan saat mendengar kabar tersebut. Tubuhnya menegang, ia tak sanggup lagi untuk tidak menolehkan wajahnya pada Hyukjae yang ada di sampingnya.

“Kau–“

“Donghae yang memintaku agar tidak mengatakan hal ini padamu.”

Nafas Hyura memburu, rasa sakit yang sangat luar biasa kini tengah dirasakan oleh Hyura. Rasa sakit yang bertubi-tubi.

“Aku tidak tahu harus mengatakan apa padamu tapi kenyataannya kau harus menerima bahwa Donghae sudah pergi meninggalkanmu.”

Hyura masih terdiam, sesuatu sudah mulai menggantung di pelupuknya. Rasanya ia ingin mengeluarkannya cepat-cepat agar ia merasakan kelegaan di hatinya.

Perlahan mobil audi silver Hyukjae berjalan, Hyura sendiri tak tahu dirinya akan dibawa ke mana oleh Hyukjae. Lidahnya terlalu kelu untuk berbicara.

Aku tidak percaya kisah kita berakhir sampai di sini ikan oppa. Sungguh aku tidak percaya kau meninggalkanku dengan cara seperti ini.

***

Mobil audi silver itu berhenti di sebuah tempat yang begitu ramai. Hyukjae segera memarkirkan mobilnya, ia menatap Hyura yang masih diam menunduk. Dengan hati-hati, Hyukjae mulai membuka pintu mobilnya dan berjalan ke arah pintu mobil di mana Hyura duduk. Pintu mobil Hyura terbuka sehingga membuat Hyura tersadar dari lamunannya.

“Kita ada di–“

“Stasiun. Ne, kita berada di stasiun sekarang.”

Hyura mengerjapkan matanya sekali lagi. Ia menatap Hyukjae yang ada di hadapannya dengan tatapan tidak percaya.

Wae? Ada yang salah?”

“Kenapa kau membawaku kemari, Hyuk-ah?”

“Aku hanya ingin kau mendapatkan cinta sejatimu, Ra-ya. Bukan aku cinta sejatimu melainkan Lee Donghae, ikan oppa-mu selama ini.”

Hyura mulai terisak mendengar ucapan Hyukjae. Bibirnya mulai bergetar.

“Aku sudah menjadi manusia paling kejam karena aku sudah memisahkan hati manusia yang sudah lama terjalin. Aku merasa bodoh saat ini, Ra-ya.”

Hyukjae terkekeh sejenak “Setelah aku memikirkan lagi tentang hal ini matang-matang, aku baru paham bahwa kalian memang saling mencintai. Aku bisa melihat dari mata kalian, bagaimana kalian saling memandang satu sama lain. Sungguh aku merasa iri pada kalian.”

“Hyuk-ah..”

“Aku tidak tahu, tapi aku hanya bisa berkata aku sangat kagum dengan penantian yang kalian lakukan. Kalian benar-benar sangat setia terlebih Donghae.”

“Hyuk-ah..”

“Cara ini adalah cara yang terbaik untuk kita. Cho Hyura, aku melepasmu. Kejarlah cinta sejatimu. Aku yakin cinta sejatimu masih setia menunggumu di sana.”

“Hyuk-ah..

“Ahh, jangan pikirkan bagaimana aku akan melupakanmu. Aku akan berusaha melupakan perasaanku ini padamu.”

“Hyuk-ah, kau tidak seharusnya melakukan ini padaku.”

“Ahh dan satu lagi, soal pertunangan kita, aku akan mengatakan kepada kedua orang tuaku dan juga kedua orang tuamu. Tenang saja, semua akan beres di tanganku.”

Hyura tak mampu berkata-kata lagi, dengan cepat dilingkarkannya kedua tangannya pada leher Hyukjae. Hyukjae menyambut pelukkan Hyura dengan erat.

Gomawo, oppa.” Lirih Hyura yang membuat Hyukjae tersenyum.

“Sudah lama aku menginginkan kau untuk bisa memanggilku seperti itu. Gomawo, Ra-ya.”

Hyura segera melepas pelukkannya, dengan cepat ia kecup kening Hyukjae sekilas.

“Terima kasih karena kau sudah hadir di dalam hidupku.”

Kecupan Hyura pun beralih pada pipi kanan Hyukjae.

“Terima kasih karena kau sudah pernah menempati posisi terpenting di dalam hidupku.”

Kecupan Hyura kembali beralih pada pipi kiri Hyukjae.

“Terima kasih karena kau selalu membuat hari-hariku selama ini berwarna.”

Terakhir, kecupan Hyura pun beralih pada bibir merah Hyukjae.

“Dan terima kasih karena kau pernah mencintaiku.”

Hyukjae terdiam, ia sendiri malah bingung untuk melakukan hal apa untuk Hyura. Ia terlalu terkejut dengan apa yang Hyura lakukan hari ini untuknya.

“Ahh dan satu lagi.”

Hyura kembali memeluk tubuh Hyukjae yang ada di hadapannya dengan erat.

“Aku akan selalu menyayangimu, Hyuk oppa.” bisik Hyura tepat di telinga Hyukjae.

Hyukjae tersenyum lalu melepas pelukkan Hyura.

“Kejarlah Donghae sekarang. Dia menunggumu.” pinta Hyukjae tersenyum.

Hyura mengangguk lalu mulai melangkahkan kakinya menaiki tiap anak tangga yang akan membawanya ke dalam stasiun.

Hyukjae memperhatikan punggung Hyura yang semakin lama semakin menjauh dan mulai menghilang dari pandangannya. Sesaat Hyukjae mendengus lalu menunduk.

“Tenang Hyukjae-ah, setidaknya kau sudah melakukan hal yang sangat tepat dan sangat terpuji.” gumam Hyukjae menyemangati dirinya sendiri.

“Kau melakukan hal yang sangat baik, agasshi.”

Hyukjae mendongakkan kepalanya sejenak lalu memperhatikan sosok wanita tengah berdiri di depannya sambil membawa koper besar berwarna merah. Wanita itu tengah mengenakan baju berwarna putih polos dengan cardigan berwarna merah muda. Rok jins selututnya terlihat menghiasi kaki jenjang wanita itu.

Hyukjae menyipitkan matanya lalu menatap wanita yang tidak dikenalnya itu baik-baik.

“Keputusan yang kau ambil sangatlah gentleman. Aku sangat menyukai itu.”

Hyukjae masih menatap wanita itu dengan tatapan penasaran.

“Ahh aku sampai lupa, perkenalkan namaku Song Eunhye. Kau bisa memanggilku Eunhye.” kata Eunhye –wanita itu– dengan senyuman tipisnya.

Eunhye mengulurkan tangan kanannya pada Hyukjae. Dengan sedikit keraguan Hyukjae membalas jabatan tangan dari Eunhye.

Choneun Lee Hyukjae imnida. Kau bisa memanggilku Hyuk–“

“Eunhyuk. Aku akan memanggilmu Eunhyuk. Karena kau sudah melakukan hal yang sangat gentleman maka aku akan memanggilmu Eunhyuk. ‘Eun’ yang berarti permata. Seperti namaku. Bagaimana?”

Hyukjae mengangguk sambil tersenyum.

“Baiklah, senang bisa mengenalmu Eunhyuk-ah.”

***

Donghae tengah terduduk di ruang tunggu stasiun, di sinilah tempat pertama kali dirinya bertemu dengan Hyura. Ia menghela nafas yang cukup panjang lalu menghembuskannya pelan.

“Kau bisa melupakannya, Lee Donghae. Kau pasti bisa melupakannya.” bisik Donghae pada dirinya sendiri.

Donghae kembali membuka matanya, matanya kembali beralih pada jam tangan yang terpasang di pergelangan tangan kirinya. Sebentar lagi kereta dari Mokpo akan datang. Donghae benar-benar sudah tidak sabar. Suara kereta dengan kecepatan cukup cepat menggema di telinga Donghae, Donghae dapat memastikan bahwa itu adalah kereta dari Mokpo, tempat asalnya.

Tubuh Donghae mulai bangkit dari tempat duduknya tadi. Ia segera berjalan mendekati kereta tersebut, namun ketika Donghae akan melangkahkan kakinya, sebuah pelukkan dari belakang membuat langkah Donghae terhenti.

Oppa ku mohon jangan pergi. Kajima oppa. Jebal!

Donghae amat sangat mengenali suara itu, dengan cepat ia membalikkan badannya dan mendapati Hyura tengah menatap wajahnya.

Kajima. Jebal!” ucap Hyura sekali lagi.

Donghae menghiraukan ucapan Hyura, ia segera memeluk tubuh gadis yang sangat ia cintai ini ke dalam pelukkan hangatnya. Hyura sangat menikmati berada di pelukkan Donghae saat ini.

“Hyukjae bersedia melepasku, oppa.” kata Hyura yang membuat Donghae segera melepas pelukkannya.

“Hyukjae mengantarkanku ke sini untuk menemuimu. Ku mohon kau jangan pergi dari sisiku, oppa. Jangan pergi untuk meninggalkanku lagi.”

Donghae mengerutkan keningnya. Pergi?

“Pergi?”

Ne, kata Hyukjae kau akan kembali ke Mokpo dan akan meninggalkan Seoul.”

Donghae terkekeh lalu kembali memeluk tubuh Hyura lagi.

“Aku tidak akan kembali ke Mokpo. Dan aku tidak akan meninggalkan Seoul dan juga dirimu.” jawab Donghae masih memeluk tubuh Hyura.

Hyura mulai melepaskan pelukkannya lalu menatap Donghae penasaran.

“Jadi Hyukjae mengerjaiku.”

“Sepertinya, dan itu berhasil bukan.” kata Donghae yang disambut ketukan kepala dari Hyura untuknya.

“Lalu kau datang kemari untuk apa?” tanya Hyura yang masih penasaran.

“Menjemput Eomma-ku.”

“Donghae-ya.” seorang wanita yang kurang lebih berusia 50 tahun-an tengah berjalan ke arah di mana Donghae dan Hyura berdiri.

Eomma, bogoshipoyo.”

Donghae segera merengkuh tubuh wanita berumur itu ke dalam pelukkannya. Wanita itu menyambut pelukkan Donghae dengan erat.

“Bagaimana perjalanan dari Mokpo, Eomma?” tanya Donghae seraya mengambil alih tas yang tengah dibawa Eomma-nya ke tangannya.

“Melelahkan tapi rasa lelah itu menghilang setelah melihat wajah tampan putra Eomma yang satu ini.”

Donghae merasa tersanjung dengan pujian yang Eomma-nya berikan padanya.

Pandangan wanita berumur itu teralih pada seorang gadis yang tengah berdiri di samping Donghae.

Nuguya?” tanya wanita berumur pada Donghae.

Annyeong haseyo Nyonya Lee. Choneun Cho Hyura imnida.”

Hyura mulai membungkukkan badannya, menyapa Eomma Donghae yang begitu cantik itu.

Eomma, dia Cho Hyura. Calon menantu Eomma nanti.”

Hyura mendelik lalu memandang Donghae tajam.

“YAK!!!”

5 thoughts on “[FF Freelance] Finding Love (Part 2 – End)

  1. Hwaa (˘̩̩̩.˘̩ƪ)(⌣̩_⌣ )(˘̩̩̩^˘̩̩̩ƪ)(º̩̩́⌣º̩̩̀)(-̩̩̩-͡ ̗–̩̩̩͡ )
    ‎​(-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩___-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)
    Ceritanya bikin terharu banget sampe gk tau mw koomenn apa,,, pokoknymh daebakkk!! : ҉*\(ˆ▽ˆ)/*҉

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s