Bleeding Note—Chapter#2

“Jika mencintaimu adalah sebuah kesalahan maka biarkan aku terus mengulangi kesalahan itu…disisa hidupku…”

“Bleeding Note”

Author: AidenTOPCast: Bigbang, Hyena (OC) ||Genre: AU, Mystery, Thriller,Action, Ngaco ||Length: Multichapter ||Rating: PG–17 ||Disclaimer: OC dan alur hak paten&cipta berlaku pada saya. Cast milik Tuhan. Author tidak mengambil keuntungan apapun dari fiksi ini||Warning : Out of Character, Diksi Gaje, Bulepotan Style, Typo masih halal.

Chapter 1

“I won’t ever leave you, even though you’re always leaving me.” ― Audrey NiffeneggerThe Time Traveler’s Wife

◄►

“Tunggu.”

Kaki Jiyong seketika berhenti mendengar perintah yang tidak tahu dari mana itu.

“Aku butuh berbicara denganmu, Kwon Jiyong,” Jiyong mendelik mencari sosok yang mengajaknya berbicara.

“Maaf?”

“Aku …..”

◄►

—Bleeding Note—Chapter#2

“Aku pernah bekerja di rumah keluarga itu,” dengan senang hati Jiyong membawanya masuk ke dalam ruang kerjanya mendengar pengakuan itu.

“Aku sebelumnya bekerja di rumah sakit lalu rumah sakit tempatku bekerja melakukan pemecatan misal sehing…”

“Maaf, Tuan Jung. Bukan maksudku untuk menjadi tidak sopan terhadapmu. Aku hanya ingin mendengar ceritamu yang kau ketahui selama kau bekerja untuknya, bukan perjalanan karirmu,” laki-laki bermarga Jung itu mengangguk mengerti. Peluhnya berjatuhan dan tangannya gemetaran, ketakutan. Dia tidak terlalu ambil pusing dengan sikap Jiyong itu.

“Apa yang kau takutkan, Tuan? Kami akan melakukan perlindungan hukum untukmu jika kau mengatakan yang sebenarnya. Apa ada orang yang mengancammu?”

“Sese…seseorang…ah…tidak…tidak…” dia lagi-lagi terdiam. Menimbang-nimbang apa selanjutnya atau apa yang seharusnya dia katakan.

“Lalu apa motivasimu dengan datang ketempat ini?” tanya Jiyong lebih lanjut.

“Bukan apa-apa. Mungkin apa yang aku katakan nanti juga tidak terlalu penting. Aku hanya ingin bercerita, berbagi lebih tepatnya,” terlihat Tuan Jung kini sudah lebih tenang dan menguasai keadaan.

“Dia…dia gila,” ucapnya akhirnya.

“Siapa maksudmu?”

“Min Ki. Aku tahu kau mengerti maksudku, ‘kan?”

“Gila? Bukannya dia autis?”

“Tidak. Dia gila. Tapi memang gila bukan kata yang tepat untuk menjelaskan semuanya. Dia memang memiliki kelainan pada psikisnya dan cacat tubuh.”

“Lanjutkan,” kata Jiyong, menanggapi tatapan Tuan Jung kepadanya.

“Dia tidak melihat dengan baik sejak lahir, sebelah kakinya pincang dan kaki yang satunya tidak bisa dia gunakan dengan baik. Kupikir dia tidak bisa berbicara karena dia hanya diam tapi pada suatu hari kudengar dia berbicara. Entah berbicara tentang apa,”

“Apa keluarganya…”

“Keluarganya sering menyiksanya. Terutama ayah dan kakak laki-lakinya. Ayahnya seorang yang gila akan namanya mesin dan kakaknya seorang homo. Selalu memuaskan hasrat seks pada Min Ki. Bisa kusebut dia maniak seks,” Jiyong menatap ngeri mendengar cerita yang Tuan Jung ceritakan. Bayangan tentang Min Ki ternyata tidak berbeda jauh dengan pikirannya.

“Ibunya jarang menyiksanya tapi sesekali dia juga melakukannya. Menyiksa Min Ki dengan siksaan emosional dengan mengatakan dia bukan anakknya. Anak iblis, begitu katanya.”

“Lalu apa itu benar?”

“Tidak, itu tidak benar. Min Ki memang anak mereka. Entah kenapa mereka selalu mengabaikannya. Kurasa karena Min Ki itu cacat,” imbuhnya.

“Apa kau tahu Min Ki memiliki mata biru disalah satu matanya?”

“Iya…sama seperti sese…ah bukan, bukan apa-apa,” putus orang itu.

“Sama seperti seseorang maksudmu? Siapa?” Tuan Jung diam saja. Wajahnya semakin gelisah dan ketakutan. Jiyong semakin curiga namun mengabaikannya segera.

“Apa kau tahu mereka punya pabrik narkoba?”

“Ya, aku tahu. Aku pernah melihat Tuan Choi masuk ke suatu tempat seperti tempat rahasia di balik rak kumpulan buku mekaniknya dan seperti yang kau bayangkan, seperti itulah lebih kurangnya.”

“Lalu bagaimana bisa Min Ki yang cacat bisa terdapat morfin di tubuhnya? Apa mereka mencekokinya?”

“Tidak, aku tidak pernah melihat mereka melakukannya selain menyiksanya.”

“Kenapa kau tidak mencegah atau pergi untuk melaporkan mereka.”

“Aku tidak bisa. Kau tahu? Mereka menyiksanya dengan menggunakan senjata tajam, pisau atau apapun itu setelahnya aku membantunya mengobatinya diam-diam. Mereka jarang ada di rumah kurasa karena bisnis narkoba itu,” jawabnya.

“Apa kau tahu dia bisa menulis atau tidak?”

“Sebelumnya dia tidak bisa menulis lalu setelah kedatangannya kembali…”

“Kedatangannya kembali?”

“Ya, Dia pernah dititipkan disana, tempat penitipan anak tapi tak lama kemudian dia kembali. Namun dia berbeda…..”

“Bagaimana dia bisa datang kembali dengan kondisi dia seperti itu?”

“Dia masih cukup kuat dengan satu kaki dan dua tongkat di tangannya.”

“Dan apa maksudmu dengan berbeda itu?”

“Dia jadi bisa berbicara dan aku pernah melihatnya berjalan dengan kedua kakinya itu dengan cara diam-diam karena aku tidak sengaja melihatnya. Satu lagi yaitu Tuan dan Nyonya Choi tidak lagi menyiksanya entah karena apa dan kakaknya jadi takut padanya,” Jiyong masih berusaha mencerna semuanya. Aneh ini aneh. Mana mungkin dia bisa berubah sedrastis itu hanya dalam beberapa bulan.

“Lalu?”

“Aku diam-diam kabur dari rumah mereka terlebih karena mereka tidak pernah membayar gajiku meski mereka kaya raya dan takut melihat perubahan Min Ki yang aneh,” Tuan Jung melirik ke arah buku hitam tergeletak di atas meja Jiyong.

“Buku itu. Aku sering melihat dia menulis dibuku itu. Aku sempat melihatnya tulisannya dipenuhi huruf aneh.”

“Rusia?”

“Aku tidak tahu.”

“Apa yang kau lakukan setelah kabur?”

“Aku ingin melaporkan mereka tapi terlambat karena mereka ternyata sudah mati.”

“Kapan tepatnya kau kabur?”

“Seminggu sebelum kematian mereka

◄►

Bunyi ambulan menggema di tengah tenangnya malam. Sebuah pembunuhan yang ketiga beruntun terjadi dalam waktu rentan seminggu sejak kematian satu Keluarga Choi terjadi kembali terjadi malam ini.

“Lagi-lagi tembakan di dada.”

“Bagaimana kejadiaannya?” tanya Jiyong.

“Sekitar dua jam yang lalu terlihat dari darah yang masih mengalir…” Jiyong sekali lagi menatap tidak percaya melihat tubuh ringkih Tuan Jung yang beberapa jam yang lalu dia wawancarai kini telah terbujur kaku di tempat tidurnya.

Tapi kini berbeda dia seperti tidak melakukan perlawanan saat diserang. Apa…?

FLASHBACK

“Hanya itu yang kutahu. Mungkin ini tidak berguna tapi setidaknya aku sudah merasa lega sebelum aku pergi untuk waktu yang lama,” Tuan Jung tersenyum pada Jiyong. Jiyong seperti merasakan hal yang aneh dengan perkataannya.

“Anda mau kemana Tuan?”

“Ketempat mereka berada…”

“Mereka?”

FLASHBACK END

“Jadi ini maksudmu dengan pergi jauh, Tuan?” Jiyong mengambil sebuah suntikan yang terjatuh tidak jauh dari tempat tidurnya.

“Tapi siapa yang menembaknya?”

“Karena dia telat datang…”

“Apa?” Jiyong pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan salah satu penyidik. Jiyong pergi mencari mobilnya dengan menerobos kerumunan orang-orang yang penasaran dengan pembunuhan kali ini.

Kemudian Jiyong mencari-cari telepon genggamnya yang dia tinggalkan di mobil, “Daesung dan Taeyang, apa mereka sudah kembali? Apa? Belum? Baiklah…”

Jiyong menutup pembicaraan singkat itu. Kemana mereka ini sudah hampir dua puluh empat jam mereka pergi dan belum juga kembali…

Jiyong berputar arah kembali menuju lokasi pembunuhan Tuan Jung. Sekali lagi menerobos kerumunan orang yang masih saja ramai meski malam sudah mulai merambat larut. Lalu mencari-cari ke sekitar tempat tidur Tuan Jung dan…..

“Ini dia…” sebuah kertas dengan catatan didalamnya…..yang dia temukan di balik selimut tempat tidur itu.

“Si burung yang sempat terbebas kini kembali karena lupa akan sesuatu. Sesuatu yang selama ini enggan dilakukannya karena terkurung di dalam tembok ketakutan. Sesuatu yang rasanya tidak puas jika tidak dilakukan. Akan ada penyesalan disana.

“Dua menjadi satu. Saat yang satu mati sisanya akan menuntut balas…balas untuk melakukan yang sama. Dua…”

◄►

Waktu sudah menunjukkan jam satu malam entah apa yang membuatnya kembali ketempat itu. Rumah keluarga Choi yang sudah di pagari tanda polisi.

“Jiyong bisakah kau membantuku untuk mencari keluarga kandungku?”

“Apa kau tahu seseorang yang mengenal keluarga kandungmu?”

“Tidak, aku tidak tahu. Bagaimana aku tahu? Aku belum sempat mencari mereka, orang-orang itu telah menjebloskanku ke tempat ini,” jawab namja pemilik mata elang itu dengan senyum tersungging disana.

“Sejak kapan kau tahu kalau mereka bukan keluarga kandungmu?”

“Sejak aku masuk kedalam keluarga mereka. Tanpa mereka ceritakan pun aku sudah tahu,” betapa Jiyong tidak heran dengan segala kemampuan TOP dalam menyelidiki segala kasus yang dulu pernah dia tangani tapi untuk yang satu ini Jiyong sungguh tidak habis pikir kalau TOP sudah menyimpan hal ini seumur hidupnya.

“Apa karena ini kau membunuh mereka?” tanya Jiyong hati-hati.

“Entahlah. Susah untuk menjelaskannya,” Jiyong menatap lekat-lekat pemilik mata elang itu yang salah satu matanya berwarna biru.

Segelintir percakapan antara dia dan TOP yang tiba-tiba saja terkenang sesaat setelah dia sampai di dalam rumah itu.

Jiyong mencari tempat seperti yang dikatakan Tuan Jung sebelum kematiannya. Lemari yang memiliki ruang rahasia itu.

CEKLEK.

Jiyong seperti mendapat titik terang ketika IQ tingginya dapat dengan mudah menemukan tempat itu walau hanya dengan melihatnya saja. Jiyong menemukan tempat penuh dengan mesin-mesin mekanik, berbagai peralatan mekanik lainnya.

Jiyong melempar pandang ke sekeliling ruangan yang sangat luas itu. mencari lemari yang dimaksud dan Bingo! Dia menemukannya tepat di ujung ruangan.

Jiyong mencari-mencari kunci yang dijadikan kunci masuk untuk memasuki ruangan itu.

KLEK.

Jiyong tak sengaja menekan salah satu buku dan ruangan yang dia cari pun terbuka lebar di hadapannya.

Pabrik narkoba.

“Keluara ini mirip dengan keluargamu…”

Kakinya melenggang masuk sesaat sebelumnya ragu karena dia tahu masuk ke tempat TKP tanpa persetujuan adalah pelanggaran tapi dia tidak pedulikan itu sekarang. Dia memilih untuk bersikap masa bodo.

Jiyong menemukan kliping-kliping tentang kebakaran yang melanda keluarga Choi itu disalah satu ruangan tersembunyi di pabrik.

SALAH SATU ANAK CHOI JUNG MO, ILMUWAN JENIUS KOREA, CACAT SEJAK LAHIR

Jiyong membaca salah satu headline surat kabar bertahun 87-an itu. Salah satu? Jadi inikah alasan dia selalu menyiksa Min Ki?

CHOI JUNG MO, ILMUWAN JENIUS KOREA TELAH GAGAL DALAM PERCOBAANNYA

Dikarenakan deperesi akibat percobaannya yang dia telah teliti sejak lama, Choi Kang Hee, mengundurkan diri dari dunia penelitian yang dipimpin pemerintah Korea Selatan…

Jiyong menyipitkan mata seperti mencoba menyipitkan memorinya mengingat kejadian itu yang meskipun tidak pernah dia lihat secara langsung namun dia telah membaca artikel-artikel ini sejak dia memasuki akademi kepolisian.

Tunggu…Choi Jung Mo? Bukankah namanya Choi Kang Hee? Dan foto ini…foto siapa ini? Bukan seperti wajah Choi Kang Hee. Wajah orang ini kental dengan wajah orang bagian barat. Tidak ada sedikitpun darah Korea terlihat dari wajahnya…apa mungkin? Tapi mengapa dia menggunakan nama korea?

CHOI JUNG MO MENGALAMI KEBANGKRUTAN SETELAH KEMUNDURANNYA

Sungguh ironi ditengah  kemundurannya dia juga mengalami nasib sial lainnya. Jiyong tersenyum sinis melihat nasib sial yang lebih tragis yang Choi kang hee alami. Kematian. Yang direnggut secara tragis.

Jiyong menemukan akta kematian. Atas nama…Choi Seung Hyun? Siapa dia? Anak kedua? Lalu Min Ki?

Mati karena apa? Mengapa tidak ada di data keluarga Choi di kepolisian?

Jiyong kembali menelusuri ruangan itu mencari-mencari kemungkinan yang terjadi untuk menguatkan segala penemuannya malam ini. kakinya tidak sengaja menendang sesuatu hingga terlempar ke dalam bawah kolong meja.

Begitu tangannya meraih benda itu ternyata…..topeng?

Topeng hitam yang hanya setengah itu. Dia begitu sangat mengenalnya…..itu…..

“Darimana kau mendapatkan topeng hitam itu?”

“Aku membuatnya sendiri…”

“Membuatnya sendiri?”

“Dengan logikamu saja semua ini takkan bisa kau bayangkan, Jiyong. Aku membuatnya dengan imajinasiku yang tak terbatas. Nyatanya memang kau tidak akan pernah bisa memahamiku…..”

“Jelas aku tidak mengerti. Karena kau hanya hidup di dunia baru yang kau ciptakan sendiri dan aku gagal untuk memasukinya.”

Lalu mengapa ini bisa sampai ada di tempat yang tidak mungkin ini?

DORR…

ARGGHH…

Jiyong terkesiap. Sensorik pendengarannya mendengar sesuatu yang menggema dan cukup memekakkan telinganya. Jiyong berlari-lari mencari asal suara. Tidak lupa dengan topeng dan buku hitam yang terus berada digenggamannya.

“LEPASKAN AKU!!”

Daesung! Itu suara Daesung!

“Daesung!! Kau dimana? Daesung!!!”

DORR…

“ARGHHH…”

Jiyong terus menerus mencari. Dia meruntuki betapa besarnya pabrik itu. Berapa banyak lagi ruangan rahasia yang tersembunyi di pabrik itu?

Ruang rahasia berbalut ruang rahasia? Ini konyol.

“Sial!” runtuknya.

“ARGHH..”

Lagi-lagi Jiyong mendengar teriakan Daesung. Dia semakin dekat dengan Daesung berada. Telinganya semakin dekat menangkap perkiraan jarak Daesung disekap.

“DIAM!!” Jiyong mendengar suara lagi.

Bukan…ini bukan Daesung!

Kakinya secara otomatis berhenti pada salah satu ruangan dengan pintu yang tidak terlalu tertutup rapat. Dan—lagi—Jiyong tak sengaja menemukan sebuah kertas ketika perjalanannya mencari Daesung. Sebuah kertas dengan tulisan Rusia beserta terjemahan dibawahnya, milik Taeyang dan darah telah menutupi sebagian kata-katanya.

“ARGHH…” Jiyong secara paksa membuka pintu itu…menimbulkan bunyi mendeham cukup memekakkan telinga.

Melihat sosok serba hitam itu membelakanginya dengan pistol yang teracung tepat di depan Daesung.

“BERHENTI!!” sosok serba hitam itu menghentikan kegiatannya, menarik pelatuk pistol.

Seringai licik terukir di wajahnya. Mendengar kedatangan seorang lagi datang dengan sukarela mengantarkan nyawanya.

Jiyong serta merta menarik pistol yang selalu tersampir manis diikat pinggangnya, melempar kertas dan buku itu tanpa pikir panjang.

Tidak…dia tidak takut sekalipun meski orang didepannya tidak punya wajah sekalipun dan hendak membunuhnya. Yang dia takutkan satu…..

Dia mati sebelum semuanya selesai dan…..belum jelas terungkap.

Jiyong tanpa gentar mengacungkan mulut pistolnya mengarah pasti pada orang yang sudah berbalik menghadapnya. Diam.

“Ji…ji…yong…Jiyong…” samar-samar Jiyong mendengar panggilan lirih Daesung yang ambruk penuh dengan darah bahkan dia dapat mendengar hembusan nafas Daesung yang terengah menahan sakit yang juga terdengar sama lirihnya di telinga Daesung.

“Bertahanlah sebentar Daesung…” gumamnya dalam hati.

“Jika ada yang dengan sukarela mengorbankan jiwa-nya padaku saat ini. Aku akan dengan senang hati menerima jiwa itu,” ujar orang itu secara puitis, terdengar berlebihan bagi Jiyong.

Sungguh, Jiyong tidak dapat melihat dengan jelas wajah pemilik suara berat itu. Jiyong meruntuki penerangan yang jauh dari layak di tempat itu di tambah sosok serba hitam itu memakai topi menutupi sebagian wajahnya.

“Siapa kau?” hardik Jiyong menutupi ketakutannya sendiri.

“Apalah arti sebuah nama. Cukup kau mengenalku sebagai manusia ciptaan Tuhan. Kau akan sia-sia saja untuk mengingatnya,” jawabnya dengan nada yang dibuat-buat.

“Aku tidak butuh puisi untuk menjawab pertanyaanku,” balas Jiyong.

Dia tersenyum sinis. Senyum yang hanya Tuhan dan dia sendiri ketahui ditengah kegelapan.

“Kau memang tidak pernah berubah…” katanya sambil mengusapi pistol GSH-18 miliknya. Jiyong mengernyitkan dahinya. Apa…?!

Jiyong menghujam orang didepannya dengan tatapan muak. Berharap dengan begitu dia dapat mati kesakitan karenanya.

Namun itu mustahil karena Jiyong bukan pahlawan dengan kekuatan supranaturalnya.

“Apa maumu? Siapa kau? Apa semua kasus yang terjadi kau pelakunya??” tanya Jiyong lagi. Penyabar bukanlah gayanya. Dia benci itu. Orang di depannya hanya tertawa mengejek menanggapi pertanyaan Jiyong.

“Aku tidak ada kewajiban untuk menjawabnya dan aku mempunyai hak untuk melakukannya,” jawabnya sengit.

“Kau harus!”

DORR…DORR…DORR…

Jiyong menembak orang itu secara membabi buta. Orang itu tidak kalah sengit balas menembak dan menghindar sama seperti Jiyong.

DORR…DORR…DORR…

“Brengsek!” runtuk Jiyong. Lalu Jiyong mengisi kembali pistolnya dengan amunisi baru siap menghadapi orang itu. Bersembunyi dan menembak itu yang mereka lakukan. Tanpa ada yang mau mengalah dan mempertahankan ego masing-masing untuk mencari pemenang duel ini.

Kini Jiyong bersembunyi di balik sebuah meja besar yang sebelumnya penuh buku tapi telah berserakan karena ulah keduanya. Dia mengatur nafasnya yang memburu tak karuan.

“Dimana kau? Bersembunyi dibalik pertahanan diri dengan dalih menutupi ketakutanmu sendiri?” kata orang itu mengejek. Jiyong menguatkan hatinya untuk tidak terpancing dan memegang pistolnya kuat-kuat.

“Aku tidak akan menyakitimu. Aku akan membuatmu tidak akan pernah merasakan sakit itu. Biarkan peluru ini melakukannya,” lanjutnya.

DORR…DORR…DOR…

Jiyong menjawab panggilan orang itu dengan tembakan pistolnya. Orang itu menghindar dan bersembunyi. Jiyong tidak dapat menemukannya di balik lemari-lemari dan meja-meja yang sudah hiruk pikuk memenuhi ruangan itu membuat pergerakannya terhalang.

“Sungguh jawaban yang sangat menarik,” celoteh orang itu. Jiyong tidak peduli. Dia mulai menyusuri tempat itu mencari orang itu alih-alih mendekati Daesung yang tak sadarkan diri.

“Daesung, kumohon bertahanlah,” Jiyong merasakan sebuah getaran disakunya. Panggilan masuk disaat yang tidak tepat. Dengan tergesa Jiyong meraih benda kotak itu dengan nama “Hyena” tertera di layarnya.

DORR…DORR…

Orang itu menembak tangan Jiyong membuat handphonenya terlempar sesaat setelah Jiyong menekan tombol hijau itu.

“JIYONG!!” teriak panik Hyena dari seberang sana. Tidak salah lagi dia mendengar suara tembakan dan suara mengaduh Jiyong. Dengan paniknya Hyena mencoba menghubungi Taeyang dan Daesung.

Tidak ada jawaban.

Hyena semakin panik lalu kembali menelepon yang lain.

“Seungri…!! tolong aku…!!”

 TBC

Maaf ya lama update :D

8 thoughts on “Bleeding Note—Chapter#2

  1. akhirnya ada lanjutannya~
    aaaa, makin penasaran nih sm critanya, susah di tebak. nama terakhir yg muncul bikin.. hmmm.. awalnya kupikir semua ini ulah TOP, tp nm terakhir yg di telpon, seungri, jd mencurigakan entah knp hahaha

    ditunggu next partnya~

  2. Ah aku tau…TOP sama Min Ki itu kembar…Min ki disiksa sama ortunya…terus TOP yang balas dendam..kan katanya Min Ki cacat? tapi nyatanya pas balik dari penitipan malah bisa jalan..pasti tukeran sama TOP *sotoy ga ketulungan*
    hohoho

  3. Aaa aku baru ngerasain feelnya diakhir2, tegang, seru pas tembak2n.. Top dipenjara gitu ? Eh mana part 1 nya san ? Btw, bahasany lebih enak dimengerti dibanding ff yg…lupa..kalo gak salah my immortal.. Tapi yg awal2 aku gak ngeh, *plakkk*

  4. kyaaaa, posting part selanjutnya thoorr, pliiisss
    udh penasaran nih sama kelanjutan ceritanya~~
    Min Ki sama TOP kembar? trus knpa ada nama Choi Seung Hyun lagi?
    kembar 3 gitu ya thor? *sotoy banget* hehehe

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s