[FF Freelance] The King’s Property (Oneshot)

Title                 : The King’s Property

Author             : Sora Jang

Main cast         : Cho Kyuhyun

Lee Donghae

Baek Hyun-soo (OC)

Support cast    : Lee Hyuk-jae

Kim Jong-woon

Park Jung-soo

Genre              : Sageuk, Romance

Length             : Oneshot

Rating             : PG-15 (Not sure about it, but seriously, this FF is ‘clear’)

Diclaimer         : The story is mine, all the cast except Super Junior member, Baek Hyun-soo, Soo-ji, Heo Yeom are true exis in the past including the war between Joseon and Manchu. Already published in my own wordpress and superjuniorfanfiction2010. Feel free for visiting my WP, snaildarkcastle.wordpress.com.

***

Tidakkah kau melihat jalinan benang yang terikat sempurna di setiap persendian tubuhku? Benang yang sengaja mereka ikatkan padaku, yang menggerakkan tubuhku. Seperti itulah aku hidup

***

Hanyang, 1628, 5th Years of Seokjong Reign

Kamar milik Cho Kyuhyun, Raja Joseon bergelar Seokjong itu tampak gelap seperti biasa. Sedikit cahaya yang berpendar dari sebatang lilin selalu menjadi penerang yang dirasa cukup oleh Raja Seokjong untuk mengusir kegelapan dari kamarnya. Kebiasaan yang selama lima tahun terakhir tak pernah bisa dipahami oleh setiap orang di dalam istana.

Lilin itu hanya tinggal setengah, hampir terbakar habis sejak satu jam terakhir, menjadi satu-satunya penerang yang membantu Raja Seokjong untuk mencerna barisan kata yang tercetak dalam buku tebal yang sejak tadi menjadi pusat perhatiannya. Sosok dua orang penting Joseon yang kini duduk berhadapan dengannya, terhalang meja baca, tak sedikitpun mampu membuat Raja Seokjong mengalihkan tatapannya dari buku tebal tersebut. Barisan kata itu memesonanya, menyihirnya.

Jeonha, saat ini pasukan Manchu sedang mempersiapkan pasukan perang mereka, kita tidak bisa terus berdiam diri,” Hwang Ryu, Menteri Pertahanan Joseon yang sikap tanpa-belas-kasihnya terpahat sempurna di wajahnya mulai membuka suara setelah selama setengah jam terakhir tak sedikitpun mendapat perhatian dari sosok Raja Seokjong. Kedisiplinan yang telah dipelajarinya dari kehidupan militer membuatnya tak bisa begitu saja membuang waktu dengan percuma. Bagi Hwang Ryu, membuang waktu dengan percuma saat berperang sama saja halnya dengan mengantarkan nyawa dengan suka rela pada musuh, mengobarkankan diri sendiri untuk mati sia-sia.

Fakta bahwa Hwang Ryu mengucapkan kata-kata tersebut dengan suara berat bernada pelannya tak lantas mematahkan fakta lain bahwa Raja Seokjong mendengar dengan jelas setiap kata yang terlontar dari mulut Menteri Pertahanan Joseon itu, namun sama seperti sebelumnya, tak sedikitpun kata-kata itu menarik perhatiannya. Kalimat itu tak mendapat balasan dari Raja Seokjong, hanya bergema pelan lalu hilang.

Kim Yi-gwal, Menteri Aparatur Negara yang duduk di samping Hwang Ryu menghembuskan nafas tanpa suara, menjadi semakin tak sabar dengan sikap Raja Seokjong. Raja muda itu sudah membuat kesabarannya hilang.

Jeonha…”

Suara bernada memohon itu keluar dari mulut Park Jung-soo, Kasim yang selalu melayani Raja Seokjong selama dua puluh lima tahun terakhir.

“Menteri Pertahanan Hwang, apa kau tahu Yoon Seon-do[1]?”

Setelah menolak untuk mengeluarkan sepatah katapun, akhirnya Raja Seokjong membuka mulutnya, melontarkan pertanyaan yang membuat Hwang Ryu tercengang, begitu juga Kim Yi-gwal, Kasim Park, dan Kim Jong-woon, pengawal pribadi Raja Seokjong yang sama-sama berada di dalam kamar tersebut.

Songgwahaomnida Jeonha[2], hamba tidak tahu mengenai Yoon Seon-do,” meskipun wajah Hwang Ryu tertunduk, namun suaranya tidak bergetar sedikitpun, tetap tegas, tak merasa takut pada apa yang akan diucapkan Raja Seokjong selanjutnya.

Bagi Hwang Ryu, tak ada seorangpun yang mampu membuat tubuhnya bergetar ketakutan, meski orang tersebut adalah Raja Seokjong sekalipun. Posisinya sebagai bagian penting dari faksi Barat yang ikut mengusung sosok Raja Seokjong setelah sebelumnya menjatuhkan Raja terdahulu, Pangeran Gwanghae yang kini terasing di pulau Jeju, membuatnya tak perlu merasa takut pada sosok Raja Seokjong. Dia bisa melakukan hal yang sama pada Raja Seokjong kapanpun mengingat fakta bahwa pria muda itu tak lebih dari sekedar boneka politik faksi Barat.

“Bagaimana denganmu Menteri Kim, apa kau tahu?”

Pertanyaan bermakna serupa itu terdengar kembali, kini sosok Menteri Aparatur Negara yang menjadi pusat perhatian Raja Seokjong.

Kim Yi-gwal terdiam sejenak, benaknya memutar semua yang tersimpan di dalam otaknya, berharap nama tersebut terekam dalam memorinya hingga dia bisa menemukan jawaban yang bisa diungkapkannya pada Raja Seokjong. Nihil, tak sedikitpun nama tersebut mampu membawa petunjuk. Dengan nada menyesal pria paruh baya yang juga adalah sosok penting faksi Barat itu menjawab pelan.

“Hamba juga tidak tahu mengenai sosok tersebut Jeonha.”

Raja Seokjong menghela nafas, kini ditutupnya buku tebal yang sempat menjadi perhatiannya. Tatapannya beralih pada sosok Kasim Park dan Kim Jong-woon yang duduk tak jauh di belakang Hwang Ryu dan Kim Yi-gwal.

“Jung-soo, Woon ah, apa kalian tahu Yoon Seon-do?”

Pertanyaan itu terulang kembali, jawaban yang didapatnya dari Hwang Ryu dan Kim Yi-gwal membuat Raja Seokjong merasa perlu untuk kembali menanyakannya pada sosok lain.

Animnida Jeonha,” Kasim Park membungkuk pelan.

“Woon ah?” Kini tatapan Raja Seokjong beralih pada Kim Jong-woon, pria bermata tajam yang jarang sekali membuka mulutnya tersebut.

“Yoon Seon-do adalah seorang penulis puisi Sijo,” suara berat milik Kim Jong-woon itu mengalirkan jawaban yang nyata membuat segaris senyum tergambar jelas di wajah Raja Seokjong.

“Kau bukan hanya pandai menghunus pedang Woon ah, tapi juga pandai melahap buku seni,” Raja Seokjong berucap pelan, bibirnya masih membentuk sebuah lengkungan. Kim Jong-woon hanya mampu tertunduk mendengar ucapan Raja Seokjong, benaknya melayang pada beberapa baris puisi Yoon Seon-do yang pernah dibacanya saat dia masih menjadi murid Sungkyunkwan. Puisi yang diyakini Kim Jong-woon sama dengan puisi yang sejak tadi menyita perhatian Raja Seokjong.

Jeonha, mengapa Jeonha bertanya mengenai sosok penulis puisi tersebut? Apakah puisi yang ditulisnya meresahkan Jeonha?” Kim Yi-gwal yang merasa heran dengan sikap Raja Seokjong memutuskan untuk bertanya, berharap dirinya mendapat penjelasan.

Aniya, sebaliknya, puisi yang ditulisnya mampu membuatku tertegun. Kata-kata yang digunakannya sebagai perumpamaan mampu menggambarkan hidup dengan amat sangat jelas. Aku seolah merasa melihat diriku sendiri,” saat menjawab pertanyaan Kim Yi-gwal, suara Raja Seokjong terdengar pelan, sesuatu yang pahit menyeruak di tenggorokannya.

Hwang Ryu dan Kim Yi-gwal saling melemparkan tatapan heran, semakin tidak mengerti arah pembicaraan Raja Seokjong. Keputusan mereka untuk datang menemui Raja Seokjong dan memberinya pendapat untuk segera mengambil tindakan terhadap Manchu berujung sia-sia.

“Menteri Pertahanan Hwang, apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus memerintahkan prajurit militer Joseon untuk menyerang Manchu? Apa kita harus kembali melawan Manchu seperti tahun lalu?”

Pertanyaan itu akhirnya terucap, membuat Hwang Ryu dan Kim Yi-gwal merasa perlu untuk tetap berada di dalam kamar Raja Seokjong setelah sebelumnya mereka berdua memutuskan untuk bergegas.

Raja Seokjong terdiam, kedua matanya menatap kosong nyala api dari lilin yang menerangi kamarnya. Benaknya melayang pada perang tahun lalu, saat Jenderal Manchu, Jenderal Amin melakukan penyerangan terhadap Joseon. Penyerangan tersebut berawal dari keputusan berani yang dibuat Raja Seokjong, keputusan untuk berhenti menjadi sekutu Manchu dan hanya bekerja sama dengan Dinasti Ming, keputusan yang nyatanya berasal dari semua petinggi faksi Barat yang mengusungnya. Mantan Jenderal Joseon, Kang Hong-rip, yang menjadi pendukung setia Pangeran Gwanghae berada di posisi Manchu saat penyerangan tersebut berlangsung.

“Manchu dan Dinasti Qing sudah tidak lagi menjadi sekutu Joseon Jeonha, tentu kita harus menghadapi mereka. Jika perang berlangsung, pihak Ming akan mengirimkan bantuan militer. Kita harus tetap berjaga-jaga, jika perlu kita bisa mengirimkan pasukan untuk berjaga di sepanjang sungai Yalu yang menjadi batas antara Joseon dan Qing,” Hwang Ryu menjelaskan pendapatnya yang telah disetujui oleh seluruh anggota faksi Barat yang saat ini menguasai pemerintahan kerajaan.

Arata, selama pihak Manchu belum melakukan penyerangan, jangan sampai kita mengambil tindakan terlebih dahulu. Aku tidak ingin kembali membuat rakyat Joseon menjadi cemas.”

Raja Seokjong mendesah, menghela nafas, menghembuskan beban berat yang menghimpit dadanya. Kedua matanya yang terfokus pada nyala api lilin membuatnya tak mampu menatap segaris senyum puas yang tergambar di wajah kedua Menteri Joseon tersebut. Senyum puas karena telah kembali berhasil memperdaya boneka faksi Barat.

***

Jika setiap rakyat Joseon diberikan pertanyaan yang sama tentang siapa pembuat sepatu terbaik seantero Joseon, maka jawaban mereka pastilah sama, bahwa sosok tersebut adalah Lee Dong-hae. Pemuda tampan dengan mata teduh itulah yang selama ini dengan kecakapan kedua tangannya telah berhasil membuat berbagai jenis sepatu indah dan kuat yang kualitasnya diakui oleh seluruh rakyat Joseon.

Keterampilan yang dimiliki pemuda tampan itu bukan semata-mata diperolehnya dari kecakapan kedua tangannya, namun juga latihan tanpa henti yang dijalaninya sejak usia muda dibawah pengawasan ayah dan kakeknya. Keluarga Lee berasal dari pulau Jeju, mereka memutuskan untuk bermukim di Hanyang sejak lima puluh tahun lalu, saat usia kakek Dong-hae, Lee Byung-seok, menginjak dua puluh tahun. Dengan kekayaan yang dimiliknya selama hidup di pulau Jeju, kakek Dong-hae membeli sebuah rumah besar yang digunakannya sebagai tempat tinggal sekaligus tempat untuk membuat sepatu dan mulai memasarkan sepatu buatannya di seluruh pelosok Hanyang, membuat keluarga Lee semakin berkecukupan dan terkenal sebagai keluarga pembuat sepatu terbaik seantero Joseon.

Sebagai satu-satunya cucu laki-laki yang dimilikinya, Lee Byung-seok tak sedikitpun membiarkan Dong-hae luput dari pengawasannya. Pria paruh baya yang kini berusia tujuh puluh tahun itu selalu mengajarkan Dong-hae untuk menjadi pembuat sepatu handal seperti dirinya, terlebih lagi setelah ayah Dong-hae meninggal sepuluh tahun yang lalu. Pria paruh baya itu sudah tak memiliki tempat lagi untuk menggantungkan harapannya selain pada sosok cucunya, Lee Dong-hae. Dan begitu Lee Byung-seok mendapati sosok cucunya yang kini sudah menjelma menjadi apa yang diharapkannya, Lee Byung-seok seolah merasa beban berat telah terangkat sempurna dari pundaknya. Saat ini, di usianya yang baru seperempat abad itu, Dong-hae telah membuktikan pada Lee Byung-seok, bahwa sosoknya mampu menjadi penerus nama keluarga, menjadi pembuat sepatu terbaik seantero Joseon.

Siang ini, seperti siang-siang lainnya, Dong-hae tampak sibuk bekerja di salah satu sudut ruangan Shin[3], salah satu bangunan yang terdapat di sekitar rumah keluarga Lee, yang digunakan sebagai tempat menjajakan sepatu buatannya sekaligus tempat untuk membuat sepatu. Saat ini pria bermata teduh itu tampak sibuk menyelesaikan pembuatan sebuah sepatu yang sudah dikerjakannya selama satu bulan terakhir, hampir memakan waktu yang cukup lama mengingat selama ini pria itu hanya perlu menghabiskan waktu selama dua minggu saat harus membuat sepatu dengan jenis yang sama.

Sepatu yang saat ini sedang diselesaikannya itu berwarna biru, dengan hiasan bunga krisan emas yang tersulam sempurna di sepanjang sisinya. Sepatu sejenis cheong-seok yang biasa dikenakan oleh seorang Ratu. Sepatu itu terbuat dari bahan kulit yang dilapisi kain satin sutera berwarna biru tua.  Sepatu tersebut tidak dibuatnya untuk seorang Ratu, Joseon tidak memiliki Ratu, Raja Seokjong belum memiliki seorang istri meskipun usianya kini telah mencapai tiga puluh tiga tahun.

Sepatu tersebut dibuatnya untuk gadis yangban biasa, puteri Baek Dong-un, pria yang dikenal sebagai ketua Serikat Pedagang Joseon. Bukan tanpa sebab Dong-hae membuat sepatu dengan dua warna tersebut, semuanya terpacu oleh warna hanbok yang sempat dilihatnya dikenakan oleh gadis itu, Baek Hyun-soo, saat dia bertemu dengan gadis tersebut untuk pertama kalinya tepat dua tahun yang lalu di sebuah dermaga begitu Dong-hae bersama beberapa pegawainya menyerahkan kotak barang berisi ratusan sepatu pada Baek Dong-un untuk dipasarkan oleh para pegawainya di pulau Jeju.

Sejak pertama bertemu, Dong-hae tidak pernah berani membayangkan bahwa gadis berwajah seputih salju itu akan menjadi miliknya suatu saat. Sikapnya yang santun layaknya seorang gadis yangban Joseon pada umumnya selalu menjadi alasan ketidak-beranian Dong-hae untuk mendekati gadis tersebut, terlebih lagi dengan kenyataan bahwa Hyun-soo selalu berucap hanya saat gadis itu merasa perlu untuk membuka suara, semua itu menjadi alasan yang cukup untuk membuat Dong-hae berhenti mengharapkan gadis tersebut.

Namun rupanya Langit berkehendak lain, gadis yang selama ini hanya mampu diimpikannya itu kini tak lama lagi akan menjadi istrinya. Tepat tiga bulan yang lalu keluarga Baek menerima lamaran keluarga Lee. Saat melakukan lamaran tersebutlah Dong-hae akhirnya mengetahui dengan jelas bahwa Hyun-soo pun merasakan apa yang selama ini dirasakan oleh dirinya, bahwa Hyun-soo pun mencintainya. Semua itu tergambar nyata dari senyum yang tergurat di wajah Hyun-soo begitu gadis itu menerima lamaran Dong-hae. Dan, dalam waktu tak kurang dari tiga bulan lagi mereka akan melangsungkan upacara pernikahan.

“Hyun-soo ya, tunggulah, aku akan segera menyelesaikan sepatu ini dan memberikannya padamu,” dengan suara pelan Dong-hae berguman sambil menatap sepatu yang hampir selesai tersebut. Sebuah senyuman tergambar di wajah tampannya begitu benaknya melayang pada sosok Hyun-soo yang dicintainya.

Sajangnim, apa kau bisa membuat Jang-hwa[4]?”

Sebuah suara bernada berat yang tiba-tiba terdengar membuat Dong-hae dengan cepat mengalihkan wajahnya, menatap sosok pemilik suara tersebut. Di luar Shin, terhalang oleh meja yang depenuhi oleh berbagai jenis sepatu, seorang pria bertubuh tinggi tampak berdiri dengan po[5] ungu dan gat[6] hitam yang mempertegas status sosialnya. Dong-hae meletakan cheong-seok yang masih belum selesai itu di atas meja kerjanya, dengan cepat dia berjalan ke arah orang tersebut, mempersilahkannya masuk.

Jang-hwa? Tentu saja Daegam, kami bahkan memiliki beberapa jang-hwa yang sudah selesai dibuat. Silahkan Daegam melihat dan mencobanya,” Dong-hae membawa sosok tersebut ke bagian dalam Shin dan menunjukkan beberapa buah jang-hwa yang telah selesai dibuat.

Jang-hwa ini sepertinya kuat sekali, jahitannya pun sangat rapi,” sosok pria tinggi itu mengomentari jang-hwa buatan Dong-hae, memuji hasil kerja pria muda itu. Dong-hae tersenyum ramah mendengarnya.

“Aku tidak yakin ini akan cocok atau tidak, jadi akan lebih baik jika mencobanya terlebih dahulu bukan?” Pria bertubuh tinggi itu menatap Dong-hae dengan sikap ramah.

“Tentu saja Daegam, silahkan Daegam mencobanya,” Dong-hae mempersilahkan.

Aniya, aku tidak membelinya untukku, tapi untuk pengawalku,” ucapan pria berubuh tinggi itu membuat Dong-hae merasa perlu untuk mengerutkan keningnya. Tak paham dengan ucapannya, terlebih lagi sosok tersebut datang ke tempatnya hanya seorang diri, tidak dengan pengawalnya.

“Woon ah, masuklah,” pria itu kembali membuka mulutnya, memanggil nama pengawalnya. Beberapa detik kemudian seorang pria dengan setelah hitam melangkahkan kakinya ke dalam Shin, membuat Dong-hae terkejut.

Dong-hae mengenal pengawal tersebut, dia mengenal Kim Jong-woon. Mereka bersahabat selama masih menjadi murid Sungkyungkwan, keduanya adalah murid terpandai. Sejak ayah Dong-hae meninggal, dia memutuskan untuk berhenti menjadi murid Sungkyunkwan dan lebih memilih untuk menjadi penerus kakeknya. Lima tahun yang lalu hubungan mereka berdua memburuk, lebih tepatnya sejak Kim Jong-woon menjadi pengawal pribadi Raja Seokjong, Raja yang dikenal kejam dan selalu membuat keputusan yang pada akhirnya membuat semua rakyat Joseon menderita.

“Woon ah, cobalah beberapa jang-hwa ini. Kau perlu memakai jang-hwa yang baru untuk menjalankan tugasmu dengan baik sebagai pengawalku di istana,” pria muda itu memberikan sepasang sepatu tersebut pada Kim Jong-woon, membuat Dong-hae kini tersadar dari kebingungan yang sempat menyelimutinya.

Jeonha, songgwahaomnida, hamba tidak mengenali Jeonha,” Dong-hae dengan cepat bersujud. Meskipun dia tahu seberapa buruk sikap Raja Joseon tersebut, sebagai seorang rakyat yang patuh, Dong-hae tetap merasa harus bersikap sopan.

Gwaenchanha, aku memang tidak pernah menunjukkan wajahku, wajar saja jika kau tidak mengenaliku anak muda,” sebuah tawa renyah bergema di ruangan tersebut.

“Bagaimana, apa jang-hwa itu cocok untukmu Woon ah?” Kini tatapan Raja Seokjong kembali teralih pada sosok Kim Jong-woon.

Ye Jeonha,” Kim Jong-woon menjawab denga pelan, wajahnya tetap tertunduk. Dong-hae hanya terdiam begitu mendengar suaranya, dia masih tidak ingin menatap sahabatnya tersebut. Bagi Dong-hae ikatan persahabatan mereka telah terputus sejak lima tahun lalu, sejak Kim Jong-woon memutuskan untuk menjadi pengawal pribadi Raja Seokjong.

“Kalau begitu kau bisa memakainya langsung Woon ah,” kalimat yang terucap dari mulut Raja Seokjong tersebut memang tidak diucapkan dengan nada memerintah, tapi bagi seorang Kim Jong-woon, kalimat tersebut tetap bermakna sebuah titah, dan yang harus dilakukannya saat ini adalah memakai jang-hwa baru tersebut tanpa sebuah penolakan.

“Apa nama sepatu ini?”

Setelah ruangan tersebut hening selama beberapa detik, Raja Seokjong memecah keheningan tersebut dengan sebuah pertanyaan, dia menunjukkan sebuah sepatu pada Dong-hae.

“Sepatu ini dikenal dengan nama jipshin Jeonha. Terbuat dari bahan jerami atau kain rami. Jipshin lebih banyak digunakan saat musim dingin, saat orang-orang sedang tidak pergi ke ladang,” Dong-hae menjelaskan sepatu yang ditanyakan Raja Seokjong padanya.

“Apa orang-orang sering menggunakannya?” Pertanyaan lain kembali meluncur dari mulut Raja Seokjong, jenis sepatu sederhana yang kini berada di tangannya tersebut membuatnya ragu, dia tak yakin apakah sepatu jenis tersebut mampu melindungi kaki dengan baik.

Ye Jeonha, rakyat Joseon sering menggunakannya. Jipshin yang terbuat dari jerami sering digunakan oleh rakyat yang berasal dari kasta sangmin dan cheonmin. Sementara itu para yangban lebih sering menggunakan jipshin dari bahan kain rami, biasanya jenis ini lebih dikenal dengan nama mituri,” dengan nada sabar dan sopan Dong-hae kembali menjelaskan.

“Apa sepatu ini memang sengaja dibuat agak longgar dan hanya menutupi bagian jari? Dibuat hanya sampai pertengahan kaki?”

Ye Jeonha, jipshin memang sengaja dibuat dengan bentuk seperti itu.”

“Bagaimana kau membuatnya?” Masih belum merasa puas, Raja Seokjong kembali melontarkan pertanyaan lain.

Jipshin tergolong sebagai sepatu yang mudah untuk dibuat Jeonha. Bagian atas jipshin dirajut terlebih dahulu, setelah itu prosesnya kembali dilanjutkan dengan merajut bagian pinggirnya,” Dong-hae mengakhiri penjelasannya.

Dari semua pertanyaan yang dilontarkan Raja Seokjong, Dong-hae menyimpulkan bahwa Raja Joseon tersebut belum pernah sekalipun melihat sepatu tersebut.

“Sepatu ini sangat menarik, aku ingin mencobanya,” sebuah senyum terukir di wajah Raja Seokjong, membuat Dong-hae tertegun sekilas, merasa ragu sekaligus muak secara bersamaan. Walau bagaimanapun juga orang yang saat ini berada di hadapannya adalah sosok Raja kejam yang telah membuat berbagai keputusan yang berujung pada kesengsaraan rakyat Joseon.

“Berapa yang harus aku berikan padamu untuk sebuah jipshin dan jang-hwa?”

Setelah jipshin itu melekat sempurna di kedua kakinya, Raja Seokjong meraih kantong uang miliknya yang tersembunyi di dalam saku lengan kiri po ungunya, berniat membayar kedua sepatu tersebut.

Animnida Jeonha, Jeonha tidak perlu membayarnya. Jeonha bisa mengambil sepatu sebanyak yang Jeonha inginkan, hamba merasa terhormat Jeonha bersedia memakai sepatu yang hamba buat,” Dong-hae membungkukkan badannya, pria itu menggelengkan kepalanya sekali, menolak halus keinginan Raja Seokjong untuk membayar kedua sepatu tersebut. Dong-hae melakukan hal tersebut bukan hanya semata-mata sebagai sebuah sikap rendah hati yang dia tunjukkan untuk menghormati Raja Seokjong, tapi juga karena alasan yang sangat prinsipil baginya. Dong-hae tidak ingin menerima uang dari tangan seorang pria kejam seperti Raja Seokjong.

“Apa kau yakin anak muda?” Raja Seokjong memastikan.

Ye Jeonha,” Dong-hae menjawab dengan suara bernada yakin dan santun.

Keurae gomapseo,” Raja Seokjong menepuk pundak Dong-hae dengan lembut. Sebelum memutuskan untuk meninggalkan bangunan tersebut, diedarkannya terlebih dahulu pandangannya untuk mengamati setiap sudut Shin yang hampri seluruhnya di penuhi oleh rak yang memamerkan berbagai jenis sepatu. Dan ekor matanya terhenti begitu dilihatnya sebuah sepatu berwarna biru yang masih belum selesai sepenuhnya dia atas meja kerja Dong-hae. Raja Seokjong tidak bisa memungkiri fakta bahwa dirinya tertarik untuk kembali menanyakan tentang sepatu tersebut, tapi dia sudah terlalu lama meninggalkan istana, dan dia harus segera kembali sebelum semua orang tahu mengenai tindakkannya yang dengan diam-diam menyelinap meninggalkan istana.

“Woon ah, ayo kita kembali ke istana.”

Kim Jong-woon mengangguk pelan dan dengan sikap patuh ikut berjalan dibelakang Raja Seokjong. Begitu langkahnya terayun, matanya dengan lekat menatap jang-hwa yang kini melekat sempurna di kedua kakinya. Sebuah rasa pahit nyata menghampiri tenggorokannya.

Meskipun Kim Jong-woon tidak memiliki mata di belakang kepalanya, tapi pria yang lihai memainkan pedang itu yakin bahwa saat ini kedua mata Dong-hae sedang menatap sosoknya dengan lekat. Menatapnya dengan sorot penuh kebencian.

Kim Jong-woon tidak sepenuhnya menyalahkan sikap Dong-hae, pria itu berhak membencinya, terlebih lagi dengan fakta bahwa dirinya bekerja untuk Raja Seokjong yang dikenal kejam. Tapi Kim Jong-woon juga memiliki alasan lain kenapa dirinya tetap bertahan sebagai pengawal pribadi Raja Seokjong. Kim Jong-woon berharap hubungannya dengan Lee Dong-hae akan kembali membaik, namun saat ini pria itu tidak ingin melakukan apapun untuk memperbaikinya. Tidak untuk saat ini.

“Apa kau tidak apa-apa agasshi?

Suara bernada cemas milik Raja Seokjong itu terdengar, berhasil membuat kesadaran Kim Jong-woon kembali padanya. Dengan gerakan cekat dirinya ikut berjongkok seperti apa yang dilakukan oleh Raja Seokjong, berjongkok di sisinya. Di hadapannya kini sosok lain ikut terduduk dengan posisi yang sama seperti Raja Seokjong dan Kim Jong-woon, sosok seorang gadis. Raja Seokjong secara tidak sengaja bertabrakan dengan gadis tersebut ketika dia berbelok meninggalkan bagian luar rumah keluarga Lee.

Gwaenchanseumnida Daegam,” suara gadis itu terdengar amat sangat lembut, terlihat jelas seberapa santunnya gadis tersebut. Tangannya dengan gerakan lincah mulai mengumpulkan kembali lilin-lilin yang tergeletak di tanah tanpa sedikitpun melupakan sikap anggun seorang wanita. Jari-jari tangannya yang lentik berhasil menyita perhatian Raja Seokjong sehingga membuatnya seolah lupa untuk menatap wajah gadis tersebut yang sebenarnya merupakan daya tarik utama letak kecantikan dan pesona gadis tersebut.

Kini, setelah semua lilin itu tersimpan kembali di dalam keranjang kecil yang dibawanya, gadis itu berdiri. Sementara itu, Raja Seokjong meraih jang-ot[7] warna hijau milik gadis itu yang juga ikut tergeletak di tanah akibat kejadian tersebut.

“Ini milikmu agasshi,” diulurkannya jang-ot tersebut, dan saat itulah kedua mata Raja Seokjong melihat langsung wajah gadis tersebut. Wajah yang membuatnya lebih tertegun daripada saat dia menatap jari-jari lentiknya.

Wajah gadis itu seputih salju, dengan mata sehitam buah zaitun yang membuat sebuah perbedaan kontras tanpa mengurangi kecantikan yang dimilikinya, sebaliknya, perbedaan kontras tersebut semakin membuat wajah gadis itu terlihat amat sangat memesona. Hidungnya yang menjulang serta kedua alis hitamnya yang terukir sempurna, ditambah lagi dengan bibir tipisnya, semua itu membentuk sebuah komposisi yang mempertegas seberapa sempurnanya kecantikan yang terukir di wajah gadis tersebut.

Raja Seokjong pernah merasa tertegun hingga dirinya seolah kehilangan kesadaran, dia pernah mengalamaninya. Pertama saat ayahnya, Pangeran Jeong-won meninggal. Kedua, saat orang-orang faksi Utara membunuh kedua pamannya, Pangeran Im-hae, putera pertama Raja Seonjo dari Selir Gong, serta Pangeran Yeongchan, putera Ratu Inmok. Ketiga, saat orang-orang faksi Barat menurunkan pamannya yang lain, Pangeran Gwanghae dari posisi Raja dan mengusung dirinya sebagai Raja Joseon yang baru. Dan yang terakhir adalah saat ini, saat dimana matanya menatap langsung sosok gadis yang tak dikenalnya tersebut.

***

“Hyun-soo ya…”

Dong-hae menatap sosok Baek Hyun-soo dengan mata terkejut, dengan cepat disembunyikannya cheong-seok yang sempat ingin kembali diselesaikannya tersebut ke dalam tumpukkan kulit yang biasa digunakan untuk bahan membuat sepatu. Baek Hyun-soo tersenyum tipis sambil berjalan memasuki Shin dengan keranjang kecil di tangannya.

“Hyun-soo ya, apa yang membuatmu datang kemari seorang diri? Apa kau tidak meminta Soo-ji untuk menemanimu?” Dong-hae menatap Hyun-soo dengan cemas begitu disadarinya Baek Byun-soo datang tanpa membawa pembantunya.

“Soo-ji sedang membantu eommoni membuat makanan untuk para pegawai yang baru tiba dari Tiongkok, jadi aku datang sendiri,” Hyun-soo menjawab dengan suara lembutnya, menenangkan tunangannya.

“Lalu apa yang membuatmu datang kemari? Apa ayahmu memintaku untuk datang?” Dong-hae kembali bertanya.

Abeoji memintaku untuk mengantarkan lilin lebah ini kepadamu orabeoni. Abeoji berkata bahwa mungkin orabeoni sedang sangat membutuhkannya,” Hyun-soo menjelaskan maksud kedatangannya. Diletakkannya keranjang berisi puluhan lilin lebah yang ukurannya cukup besar tersebut.

“Ah benar, kami sangat membutuhkan lilin lebah ini untuk melapisi namak-shin[8] agar tidak retak. Akhir-akhir ini hujan turun dengan sangat deras sehingga banyak pembeli yang mencari namak-shin sampai kami harus membuat sepatu tersebut dalam jumlah banyak,” Dong-hae berucap sambil menganggukkan-anggukkan kepalanya. Baek Hyun-soo tersenyum begitu mendengar ucapan Dong-hae, gadis itu merasa lega karena telah berbuat sesuatu yang bisa membantu meringankan pekerjaan calon suaminya meskipun itu hanya sekedar mengantarkan sekeranjang lilin lebah.

“Aku harus segera kembali, eommoni membutuhkan bantuanku,” meskipun gadis itu ingin tetap tinggal di dalam Shin lebih lama lagi bersama Dong-hae, namun saat ini ibunya akan sangat membutuhkan bantuannya mempersiapkan jamuan untuk para pegawai ayahnya.

“Aku akan mengantarmu Hyun-soo ya,” dengan suara yang terdengar mantap Dong-hae menjawab, berharap tak mendapat penolakan dari Hyun-soo.

Animnida orabeoni, aku bisa kembali sendiri. Bukankah orabeoni sedang sibuk menyelesaikan pesanan sepatu?” Hyun-soo menolak dengan halus meskipun hatinya merasa sedikit berdebar saat membayangkan bisa berjalan beriringan dengan Dong-hae.

Gwaenchanha Hyun-soo ya, para pegawai bisa menggantikan diriku, lagipula aku sudah lelah bekerja sejak tadi pagi, ini bahkan hampir petang,” Dong-hae meyakinkan Hyun-soo bahwa tawarannya untuk mengantar gadis tersebut benar-benar tulus.

Hyun-soo tidak lagi merasa perlu melontarkan kalimat penolakan pada Dong-hae begitu dia mendengar ucapan pria itu, terlebih lagi begitu Hyun-soo menatap mata teduhnya. Mereka berdua pun akhirnya melangkahkan kaki meninggalkan Shin dan mulai menapaki jalanan kecil menuju rumah keluarga Baek.

Beberapa minggu terakhir Joseon selalu dihiasi oleh hujan deras hingga membuat tanahnya dipenuhi oleh lumpur. Dan Hyun-soo merasa dirinya benar-benar bodoh karena dia lupa membawa payung mengingat fakta bahwa hujan bisa saja turun kapanpun tanpa bisa diduga sebelumnya, sama seperti saat ini. Hujan itu turun tiba-tiba, membuat Hyun-soo dan Dong-hae harus berhenti di bawah sebuah pohon besar untuk berlindung.

Oho, kenapa akhir-akhir ini hujan turun lebih sering?” Dong-hae berujar dengan nada kesal, sementara itu Hyun-soo hanya terdiam di sampingnya, tak tahu harus menimpali ucapan Dong-hae dengan kalimat apa.

Selama sepuluh menit keduanya hanya terdiam, membiarkan kesunyian menyelubungi jiwa mereka. Keduanya hanya menatap kosong tetesan air hujan yang sedikit demi sedikit mulai berhenti hingga kini hanya sebatas gerimis.

“Hyun-soo ya, apa kau ingin kembali melanjutkan perjalanan?” Dong-hae bertanya dengan ragu-ragu, diliriknya Hyun-soo sekilas. Gadis itu lalu mengangguk dengan pasti.

“Baiklah kalau begitu, ayo kita lanjutkan,” Dong-hae berjalan terlebih dahulu, sementara itu Hyun-soo masih terdiam di bawah pohon.

Orabeoni jamshimanyo,” Hyun-soo berlari dengan cepat dan anggun secara bersamaan, berusaha menyejajarkan langkahnya dengan Dong-hae. Begitu mendengar suara Hyun-soo memanggil namanya, Dong-hae seketika tehenti, mereka berdua kini saling berhadapan.

“Sebaiknya kita berdua menggunakan jang-ot ini sebagai pelindung kepala. Gerimis bisa membuat sakit kepala, dengan pekerjaan yang banyak, orabeoni tidak boleh sampai terkena penyakit tersebut,” Hyun-soo menyerahkan jang-ot yang sejak tadi tersampir di lengan kirinya pada Dong-hae. Pria itu tertegun begitu menerima uluran jang-ot berwarna hijau tersebut.

Sejenak dia ragu untuk menerimanya dan memayungkan jang-ot tersebut di atas kepala mereka, namun Dong-hae tidak ingin melihat Hyun-soo mencemaskan kondisinya, terlebih lagi Dong-hae bisa melihat raut wajah cemas terpancar nyata di kedua bola mata Hyun-soo. Maka dengan pelan Dong-hae pun meraih jang-ot tersebut dan mulai memayungkannya di atas kepala mereka.

Mereka seharusnya berjalan dengan langkah cepat agar keduanya bisa segera sampai di rumah keluarga Baek dan tak lagi harus terjebak di bawah rintik gerimis, namun Hyun-soo dan Dong-hae justru merasa langkah mereka semakin pelan, seolah jarak yang harus mereka tempuh masih beratus-ratus mil jauhnya.

Sebagai seorang gadis Joseon yang santun dan mengenal dengan baik mengenai tata krama, Hyun-soo tidak pernah sekalipun memiliki keberanian untuk mencuri pandang terhadap seorang pria, terlebih lagi menatap wajah pria dari jarak dekat seperti saat ini. Entah sejak kapan, bahkan Hyun-soo tidak menyadarinya, gadis itu sudah menatap Dong-hae yang jaraknya hanya beberapa centimeter darinya.

Hyun-soo mengagumi wajah tampan pria lembut itu, mengagumi tulang rahangnya yang kuat dan sempurna. Mengagumi bibir tipis serta hidung menjulangnya, dan kedua alisnya, yang meskipun tidak terlalu tebal, tetap mampu membuat wajahnya semakin terlihat tampan. Namun terlepas dari semua itu, letak keistimewaan sosok Lee Dong-hae justru terletak pada kedua matanya. Matanya istimewa, dan disitulah letak pusat gravitasi pesona Dong-hae. Kedua bola matanya tersebut adalah layar yang mempertontonkan jiwanya yang tulus. Dan kedua bola mata itulah yang selalu membuat detak jantung Hyun-soo tak mampu terkontrol dengan baik.

***

“Apa yang ingin kau tunjukkan padaku Tuan Heo?”

Dari singgasananya, Raja Seokjong bertanya pada pria bernama Heo Yeom. Pria berusia tiga puluh lima tahun itu adalah pedagang kaya yang berasal dari Girinhyeop[9]. Saat ini, diruangan yang dipenuhi oleh semua Menteri dan Pejabat Kerajaan, Heo Yeom akan menunjukkan ketiga barang yang dibawanya untuk diberikan pada Raja Seokjong. Kabar yang didengarnya mengenai kegemaran Raja Seokjong yang selalu mengumpulkan barang-barang berharga membuat Heo Yeom yakin bahwa barang yang dibawanya akan membuat Raja Seokjong tertarik dan menghadiahkannya kotak-kota emas.

Heo Yeom membuka barang pertama yang merupakan dua lukisan. Seluruh pasang mata menatap lukisan tersebut dengan kening berkerut.

“Lukisan pertama,” Heo Yeom memulai ucapannya sambil menunjuk sebuah potret wajah seorang pria.

“Lukisan ini adalah potret An-hyang, dibuat pada tahun 1318 pada saat Dinasti Goryeo. Lalu lukisan yang kedua bernama Daeseongjiseong Munseonwangjeonjwado atau Lukisan Konghuchu dan para Pengikutnya. Dibawa oleh An-hyang dari Qing pada tahun 1303 saat Dinasti Yuan berkuasa,” Heo Yeom menjelaskan kedua lukisan tersebut, membuat Raja Seokjong sesekali menganggukan kepalanya.

“Kedua lukisan ini memiliki nilai sejarah yang menarik Jeonha,” Heo Yeom menambahkan.

“Lalu benda ketiga?” Raja Seokjong bertanya dengan nada tak sabar.

“Benda ketiga yang hamba bawa adalah karakji[10] Jeonha,” Heo Yeom membuka sebuah kotak kecil yang didalamnya terdapat dua buah cincin yang terbuat dari campuran giok putih dan hijau.

“Cincin ini dibuat dari campuran giok putih dan hijau Dinasti Silla dengan kualitas yang sangat tinggi, Jeonha bisa melihat sendiri seberapa sempurnanya kualitas batu giok tersebut,” Heo Yeom mengakhiri penjelasannya.

Raja Seokjong bangkit dari singgasananya, dia berjalan untuk melihat sepasang cincin tersebut. Dipandanginya kedua cincin tersebut dengan cermat, seolah menimbang sesuatu. Para Menteri dan Pejabat Kerajaan melayangkan tatapan tak percaya pada sosok Raja Seokjong. Menatap heran sikap aneh Raja mereka yang memiliki kegemaran mengumpulkan benda-benda berharga yang semuanya tersimpan di dalam Byeol-go[11] dengan penjagaan ketat di sekeliling bangunan tersebut.

“Aku menyukai semua barang yang kau bawa Tuan Heo, aku akan memberimu emas untuk menukar semuanya,” Raja Seokjong tersenyum sekilas, dia lalu memberi isyarat pada Kasim Park untuk membawa sebuah kotak berisi bongkahan emas untuk menukar kedua lukisan dan sepasang cincin tersebut. Jika wajah Heo Yeom dihiasi senyum lebar tanpa henti, maka wajah para Menteri dan Pejabat Kerajaan sebaliknya, wajah mereka seolah terlipat.

***

Byeol-go yang letaknya hanya terhalang oleh beberapa bangunan dari kamar Raja Seokjong tampak sepi seperti biasanya. Puluhan prajurit berjaga di sekeliling tempat tersebut dengan waspada, tak ingin satupun barang berharga milik Raja Seokjong bergeser atau menghilang dari tempatnya.

Byeol-go selalu gelap, kecuali saat sulsi[12] tiba. Setiap orang bisa melihat bangunan tersebut diterangi oleh sebatang lilin saat sulsi tiba, sebatang lilin yang dinyalakan langsung oleh kedua tangan Raja Seokjong. Raja Seokjong selalu menghabiskan sulsi dengan berdiam diri di dalam Byeol-go seorang diri tanpa seorangpun tahu tentang apa yang dilakukan oleh Raja Joseon tersebut. Namun hampir semua orang di dalam istana yakin bahwa Raja tersebut menghabiskan waktunya untuk memandangi setiap harta berharga miliknya serta memeriksanya, memastikan tak ada satupun dari benda tersebut yang menghilang atau bergeser dari tempatnya. Tak seorangpun merasa cukup pantas mendapat kepercayaan dari Raja Seokjong sehingga membuat orang tersebut bisa mendapat kehormatan untuk melihat isi Byeol-go, kecuali dirinya sendiri.

Dan kini, saat sulsi tiba, Raja Seokjong sudah berada di dalam Byeol-go untuk menyalakan sebatang lilin. Cahaya tersebut tak mampu menyinari setiap sudut Byeol-go, hanya mampu membuat ruangan tersebut terlihat sedikit redup, membuat Raja Seokjong merasa aman. Dirinya selalu merasa tak nyaman jika harus berada di dalam ruangan yang terang, itulah mengapa selama lima tahun terakhir, dia selalu merasa perlu untuk hanya menyalakan sebatang lilin di dalam kamarnya.

Meskipun cahaya lilin tersebut tak sepenuhnya membuat semua benda di dalam Byeol-go terlihat, namun Raja Seokjong tahu dengan pasti di mana setiap barang terletak. Lukisan-lukisan yang dimilikinya tergantung di semua sudut dinding, menutup semua cahaya yang mungkin bisa menerobos masuk lewat jendela atau dinding berlapis kertas putih tersebut, membuat ruangan Byeol-go semakin bertambah gelap. Jauh di dalam ruangan, tergantung sebuah topeng bernama Mushin yang digunakan pada Dinasti Silla, bagian mata topeng tersebut dihiasi oleh emas murni. Lalu di sekeliling ruangan terdapat peti-peti yang terbuka berisi batangan emas, mutiara, permata, batu giok, dan perhiasan lainnya yang tak hanya di dapatkan saat periode Joseon, tetapi juga saat Dinasti Silla dan Goryeo berkuasa.

Keramik putih Joseon dengan berbagai corak serta keramik hijau Dinasti Goryeo yang hampir tak lagi bisa ditemukan terjejer rapi di salah satu sudut Byeol-go. Dan tepat di bawah topeng Mushin tergantung, sebuah meja berukuran kecil yang ditutupi oleh kain beludru merah sengaja diletakan oleh Raja Seokjong untuk meletakan kotak kecil tempat garakji giok putih-hijau yang baru saja didapatkannya dari pedagang asal Girinhyeop. Begitu kotak tersebut terbuka dan memperlihatkan sepasang garakji, ingatan Raja Seokjong tiba-tiba saja melayang pada sosok gadis yang ditemuinya satu minggu yang lalu, gadis yang mampu membuat sosoknya tertegun bukan untuk alasan yang bisa diterima secara sukarela oleh akal sehatnya.

Raja Seokjong tidak pernah benar-benar menginginkan sesuatu dalam hidupnya, karena bagi Raja Seokjong, tidak pernah sekalipun dirinya memiliki kehidupan. Namun begitu dia menatap wajah gadis tersebut untuk pertama kalinya, Raja Seokjong merasa bahwa dirinya harus hidup, bahwa gadis itulah hidupnya. Dan Raja Seokjong yakin bahwa dia harus mendapatkan hidupnya, bagaimanapun caranya.

“Woon ah….”

***

Kim Jong-woon yakin bahwa Lee Dong-hae akan semakin membenci dirinya jika pria itu tahu mengenai apa yang akan dilakukannya saat ini. Namun Kim Jong-woon tidak memiliki pilihan, setiap apa yang terucap dari mulut Raja Seokjong adalah sebuah titah yang harus dilaksanakannya, tak peduli seberapa besarnya titah tersebut berlawanan dengan hatinya. Sebagai seorang ahli pedang, Kim Jong-woon telah lama tidak memakai hatinya dalam melakukan apapun. Dan untuk kali ini, dia pun tidak ingin melibatkan hatinya.

Tak perlu harus berusaha dengan keras untuk menyembunyikan tubuhnya, baju yang dikenakan oleh Kim Jong-woon saat ini sudah sangat cukup untuk membuat sosoknya tak terlihat dalam kegelapan malam. Seluruh tubuhnya terbungkus dalam baju warna gelap, kecuali kedua matanya. Kedua mata itu menatap dengan tajam ke arah sosok seorang gadis yang telah ditunggunya selama setengah jam terakhir, yang menjadi subjek dari titah yang diterimanya.

Kim Jong-woon membaca situasi yang kini dihadapinya. Dia hanya perlu menghabiskan beberapa detik untuk membuat kesadaran Baek Hyun-soo, gadis yang menjadi intaiannya, menghilang. Dia hanya perlu mendaratkan satu pukulan di salah satu persendian tubuhnya dan detik itu juga gadis itu akan terkulai lemas. Semua itu akan terjadi hanya dalam hitungan detik. Namun saat ini gadis itu sedang bersama orang lain, bersama pembantu perempuannya. Mereka berjalan beriringan menapaki jalan setapak menuju rumahnya setelah sebelumnya bertemu dengan Lee Dong-hae.

Kim Jong-woon kembali membaca situasi, dan kini dirinya yakin bahwa dia tidak akan mampu menyelasikan semuanya dalam hitungan detik, melainkan menit, dalam lima menit. Pertama yang akan dilakukannya adalah melumpuhkan kesadaran Baek Hyun-soo, kedua kembali melakukan hal yang sama pada pembantu perempuan gadis itu. Setelah itu semuanya akan selesai, Kim Jong-woon akan membawa gadis bernama Baek Hyun-soo itu pergi.

Sementara itu, tak sadar dengan sepasang mata tajam yang terus mengintainya, Baek Hyun-soo mengayunkan kakinya dengan luapan bahagia yang hampir membuat dadanya sesak. Beberapa saat yang lalu Lee Dong-hae, calon suaminya memberikan sebuah kotak yang entah berisi apa padanya. Pemuda itu menyerahkan kotak tersebut diiringi oleh sebuah ucapan yang berhasil membuat jutaan kupu-kupu terbang di dalam perut Hyun-soo.

Kau harus memakainya saat pernikahan kita

Kalimat yang terlontar dari mulut Dong-hae itu masih terdengar jelas di telinga Hyun-soo, membuat gadis itu tak bisa berhenti menyunggingkan senyum di wajahnya. Tawaran Soo-ji untuk membawakan kotak tersebut tak sedikitpun digubrisnya, kotak itu tetap berada dalam dekapannya. Langkah kaki Hyun-soo tampak tak sabar hingga dia berjalan tak seanggun biasanya, gadis itu berharap untuk segera sampai di rumahnya dan membuka kotak tersebut.

Agasshi, pelankan langkahmu sedikit, aku tidak bisa menyusulmu,” Soo-ji berucap di sela-sela nafasnya yang memburu, kelelahan karena berjalan dengan terlalu cepat. Meskipun dia sudah berusaha dengan keras untuk mengimbangi langkah Hyun-soo, tetap saja dirinya tertinggal cukup jauh.

Hyun-soo menghentikan langkahnya, dia membalikkan tubuhnya untuk menatap Soo-ji, gadis itu tersenyum sekilas begitu melihat kondisi Soo-ji yang tampak menyedihkan. Gadis itu ingin membuka mulutnya, meminta Soo-ji untuk mempercepat langkah kakinya agar mereka segera sampai di rumah, namun Hyun-soo tidak pernah bisa membuka mulutnya karena sebuah pukulan yang diterimanya di bagian lehernya membuat gadis itu kehilangan kesadaran dan semua yang dilihatnya berubah menjadi gelap.

***

Ketika Hyun-soo akhirnya membuka mata, hal pertama yang disadarinya adalah bahwa dirinya terbaring di tempat asing, bukan di kamar miliknya atau di salah satu ruangan rumah keluarganya. Rasa sakit akibat pukulan di lehernya masih terasa nyata, membuat kepala gadis itu ikut terasa pusing. Dialihkannya tatapan kedua matanya ke sekeliling ruangan, menyisir setiap sudutnya. Ruangan tersebut hanya diterangi cahaya sebatang lilin, membuatnya tampak suram.

Kening Hyun-soo berkerut begitu matanya kini mulai menatap barang-barang yang ada di dalam ruangan tersebut. Ratusan lukisan yang tergantung, kotak-kotak berisi batangan emas, permata, dan batu giok yang terbuka, guci dan keramik-keramik antik, serta patung Budha tembaga peninggalah Dinasti Shilla menghiasi ruangan tersebut, membuat Hyun-soo semakin merasa heran.

Berada di tempat yang asing dan sunyi membuat Hyun-soo dengan cepat mampu mencerna keadaan. Gadis itu dengan cepat bangkit, berniat untuk melarikan diri dari tempat tersebut, langkah kakinya baru terayun sekali, namun sebuah suara bernada berat menghentikan langkah keduanya, membuat gadis itu dengan cepat mengalihkan wajahnya ke arah asal suara tersebut.

“Jangan pernah berani melangkah keluar dari garis yang kubuat!”

Suara itu berasal dari arah yang juga gelap, sama seperti tempat Hyun-soo berdiri. Gadis itu tidak dapat melihat dengan jelas garis seperti apa yang dimaksud oleh pemilik suara berat tersebut. Beberapa detik kemudian seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan sebuah lilin di tangannya muncul dari kegelapan, membuat Hyun-soo tercekat hanya dengan menatap pakaian yang dikenakannya. Orang tersebut mengenakan gonryongpo[13] warna merah dengan hiasan emblem naga bercakar lima yang mempertegas posisinya sebagai seorang Raja Joseon.

“Jangan pernah berani melangkah keluar dari garis yang kubuat,” suaranya kembali terdengar begitu jaraknya dengan Hyun-soo hanya terhalang satu meter.

Hyun-soo masih tidak bisa mengeluarkan kata-kata, gadis itu masih tidak bisa memahami maksud perkataan Raja Seokjong.

“Kau lihat garis itu?” Kini jari telunjuk Raja Seokjong terarah pada lingkaran yang dibuatnya ketika Hyun-soo masih tertidur. Dua lingkaran yang mengelilingi Hyun-soo, memenjaranya. Masih sambil terdiam, Hyun-soo mengikuti arah telunjuk Raja Seokjong, dan matanya dengan cepat membulat begitu dia menyadari apa yang kini terekam dalam lensa matanya.

Lingkaran itu berjumlah dua buah. Lingkaran pertama atau lingkaran luar terbuat dari batangan emas, ukurannya lebih besar. Dan lingkaran kedua atau lingkaran dalam terbuat dari batu-batu permata berukuran kecil yang ukurannya juga lebih kecil daripada ukuran lingkaran pertama. Celah kosong dalam lingkaran tersebut masing-masing ditaburi oleh bubuk halus berwarna putih yang Hyun-soo yakini sebagai sagu. Kedua lingkaran tersebut memantulkan sinar begitu cahaya lilin yang digenggam oleh Raja Seokjong mengenai mereka. Mulut Hyun-soo semakin tercekat begitu dirinya melihat sendiri kedua lingkaran tersebut, Hyun-soo terlalu terkejut untuk berbicara.

“Mulai saat ini, kau akan terus berada di dalam lingkaran tersebut. Aku sudah membuatnya dengan sangat sempurna, dan aku akan tahu dengan sangat pasti jika bongkahan emas dan kepingan permata tersebut bergeser dari tempatnya semula. Dan sagu yang kutaburkan akan menjadi bukti tentang pembangkanganmu,” Raja Seokjong mengucapkannya dengan nada tenang, seolah apa yang diucapkannya adalah sesuatu yang remeh.

Hyun-soo semakin merasa putus asa, perlahan airmata mulai membasahi kedua pipinya. Gadis itu benar-benar tidak paham dengan apa yang saat ini sedang terjadi.

“Sepatu ini pasti sangat cocok di kakimu agasshi. Pakailah!”

Raja Seokjong melemparkan sepasang sepatu dari kotak yang diberikan Dong-hae pada Hyun-soo, dia melemparnya ke dalam lingkaran kedua. Hyun-soo tetap bergeming, menolak untuk melakukan titah Raja Seokjong yang terkenal kejam tersebut. Gadis itu melayangkan tatapan penuh rasa benci ke arahnya. Raja Seokjong tersenyum sinis untuk membalas tatapan benci tersebut, dengan gerakan pelan dia meletakan lilin dan berjalan masuk ke dalam lingkaran kedua.

Saat jarak keduanya hanya tinggal helaan nafas, Hyun-soo ingin berlari untuk menghindari sosok Raja Seokjong, namun tangan kekar Raja Seokjong justru lebih dulu meraih lengan Hyun-soo, membuatnya agar tetap berada di dalam lingkaran kedua. Hyun-soo terdiam, airmata yang berasal dari rasa takut yang dimilikinya itu kembali mengalir. Raja Seokjong menatap Hyun-soo dengan lekat, sedetik kemudian dia telah duduk berjongkok di depan Hyun-soo, diraihnya sepasang sepatu warna biru dengan hiasan bunga krisan kuning yang tergeletak di sampingnya, lalu dengan gerakan yang amat sangat lembut dipasangkannya kedua sepatu tersebut di kaki Hyun-soo, membuat Hyun-soo harus menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan sebuah isakan.

Setelah sepatu tersebut terpasang sempurna di kedua kaki Hyun-soo, Raja Seokjong kembali berjalan keluar dari dalam lingkaran tersebut, meraih lilin yang tergeletak di lantai Byeol-go dan memadamkan lilin tersebut sebelum akhirnya pergi meninggalkan Hyun-soo seorang diri dalam kegelapan.

***

Dong-hae sudah menyisir setiap sudut Hanyang untuk menemukan Hyun-soo, namun usahanya selalu berujung sia-sia, tak sedikitpun pria itu mendapat petunjuk mengenai keberadaan Hyun-soo serta orang yang menculiknya. Dua minggu sudah dihabiskan oleh pria itu untuk menyisir seluruh pelosok Hanyang. Dong-hae dan keluarag Baek sudah sangat putus asa, mereka tidak tahu lagi harus mencari Hyun-soo kemana, para pegawai keluarga Baek yang menetap di pulau Jeju pun tidak bisa menemukan Hyun-soo di pulau tersebut, begitu juga para pegawai yang bekerja di daerah lainnya, jawaban mereka serupa, bahwa sosok Hyun-soo tak dapat ditemukan.

Penculikan Hyun-soo berujung pada sebuah titik dimana Dong-hae merasa tak lagi mampu mengerjakan semua hal dengan benar. Pria itu tak lagi mau membuat sepatu dan hanya menghabiskan waktunya berdiam diri di tempat Hyun-soo menghilang, berharap gadis itu akan kembali muncul di hadapannya. Seperti sore ini, Dong-hae duduk termenung di bawah salah satu pohon yang memagari jalan setapak yang dilalui Hyun-soo malam itu.

Sudah hampir lima jam Dong-hae berada di tempat tersebut tanpa melakukan apapun, hanya termenung dan menatap kosong jalan setapak di hadapannya. Jalanan tersebut mengabur oleh airmata yang mengalir di kedua pipinya.

“Dong-hae Doryeonim…..”

Sebuah teriakan milik Lee Hyuk-jae, pegawai laki-laki Dong-hae berhasil memecah kesunyian tempat tersebut. Pria kurus itu dengan cepat berlari ke arah Dong-hae yang kini telah berdiri, menatap Lee Hyuk-jae dengan raut heran.

Doryeonim, aku baru saja menemukan surat ini di pintu masuk Shin, surat ini untukmu,” ditengah nafasnya yang memburu, Lee Hyuk-jae berucap sambil menyerahkan surat yang dibawanya pada Dong-hae.

“Surat? Siapa yang memberikan surat ini?” Dong-hae meraih surat tersebut dengan cepat.

“Aku tidak tahu Doryeonim, surat tersebut di tancapkan di pintu masuk Shin dengan sebuah panah,” Lee Hyuk-jae menjelaskan.

Begitu mendengar penjelasan Lee Hyuk-jae, dengan cepat Dong-hae membuka surat tersebut, merasa semakin penasaran. Begitu surat tersebut terbuka, Dong-hae mendapati sebuah peta istana tergambar di atas kertas putih tersebut. Peta itu digambar dengan tangan, tulisan yang menjadi penanda nama setiap bangunan dan lokasi istana pun ditulis dengan tulisan tangan. Sebuah gambar bangunan bernama Byeol-go ditandai dengan lingkaran merah. Peta tersebut juga menjelaskan tentang jalan-jalan rahasia yang bisa digunakan untuk jalan masuk tanpa harus menghadapi para prajurit istana.

Dong-hae menatap peta tersebut dengan mata membulat dan kening berkerut. Dibaliknya kertas tersebut, berharap dia bisa menemukan petunjuk tentang siapa yang telah mengirimkan surat tersebut padanya. Namun tak ada satu hal pun yang bisa memberinya petunjuk. Setelah mengetahui isi surat tersebut, Dong-hae berlari dengan cepat menuju rumah keluarga Baek. Sementara itu, setelah Dong-hae dan Lee Hyuk-jae menghilang, Kim Jong-woon pun menampakkan dirinya setelah dia bersembunyi sambil mengamati sosok Dong-hae.

“Berhati-hatilah Dong-hae ya.”

***

 Three Weeks Later

Hyun-soo mendekap kedua lututnya begitu telinganya menangkap bunyi pintu yang terbuka. Gadis itu membenamkan wajahnya, tak ingin menatap sosok Raja Seokjong yang akan kembali duduk tak jauh dari tempat Hyun-soo duduk. Gadis itu tahu apa yang selanjutnya akan terjadi setelah mereka sama-sama berada di dalam ruangan tersebut. Raja Seokjong akan menyalakan sebuah lilin, lalu selama sulsi dia akan terdiam sambil terus menatap Hyun-soo dengan lekat.

Namun kali ini Raja Seokjong tidak melakukannya, pria yang masih terlihat muda itu justru mulai mengeluarkan sebuah kalimat yang mampu membuat Hyun-soo mengangkat wajahnya untuk menatap sosok Raja Seokjong.

“Mereka menyebutku boneka politik faksi Barat,” Raja Seokjong memulai monolognya. Suaranya terdengar pelan dan penuh kepedihan.

“Apa politik selalu sedemikian mengerikan? Mereka menurunkan Pangeran Gwanghae dan mengasingkannya ke pulau Jeju,” Raja Seokjong memberi jeda.

“Apa salahnya jika seorang Raja terlahir dari rahim seorang selir? Pangeran Gwanghae bahkan seorang politisi handal dan mampu memimpin Joseon dengan bijak.”

Hyun-soo selalu terdiam, gadis itu hanya menatap Raja Seokjong lekat.

“Apa kau tahu bagaimana rasanya hidup sebagai boneka?”

Kini kedua mata mereka bertemu, Hyun-soo dapat melihat dengan jelas kepedihan di dalam kedua bola mata hitam Raja Seokjong.

“Mereka memberiku gelar Seokjong. ­Seok, batu. Keras, kuat. Tapi nyatanya aku lemah, amat sangat lemah hingga tidak memiliki sedikitpun kekuatan untuk menentukan hidupku sendiri,” sebuah senyum sini tergurat di bibirnya. Hyun-soo merasa gumpalan airmata menyeruak keluar dari matanya, membentuk kubangan yang siap menetes di kedua pipinya. Untuk alasan yang tak bisa dia pahami, gadis itu menangis.

“Orang-orang istana tidak pernah peduli dengan apa yang dirasakan Raja mereka. Mereka hanya sibuk membicarakan kegemaran aneh Raja mereka yang selalu mengumpulkan barang-barang berharga tanpa pernah benar-benar tahu alasan kenapa aku melakukannya,” Raja Seokjong kembali tersenyum sinis.

“Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk Joseon, menjauhkan barang-barang berharga dari jangkauan tangan orang-orang yang menggerakan hidupku.”

Hyun-soo tercekat mendengarnya, untuk pertama kalinya gadis itu tahu seberapa besarnya kepedihan yang dirasakan oleh Raja Seokjong. Hyun-soo menggigit bibir bawahnya, tak ingin mengeluarkan sebuah isakan.

Raja Seokjong bangkit begitu disadarinya bahwa lilin yang tadi dinyalakannya kini hampir habis terbakar, menandakan bahwa dirinya harus segera meninggalkan tempat tersebut. Hyun-soo mengikuti gerakan Raja Seokjong dnegan kedua matanya.

Sebelum meninggalkan tempat tersebut, Raja Seokjong berdiri selama beberapa detik, pria itu menarik nafas dalam lalu menatap Hyun-soo lekat dan berucap.

“Tidakkah kau melihat jalinan benang yang terikat sempurna di setiap persendian tubuhku? Benang yang sengaja mereka ikatkan padaku, yang menggerakkan tubuhku. Seperti itulah aku hidup.”

***

Setelah mempelajari peta yang dikirimkan padanya selama tiga minggu terakhir, Dong-hae yakin bahwa persiapannya sudah sedemikian matang. Para pegawai keluarga Baek sudah membantunya untuk menggali sebuah lubang di luar tembok istana tengah malam sebelumnya. Menurut peta yang didapatkannya, Dong-hae bisa masuk ke dalam istana tanpa harus berhadapan dengan para prajurit yang jumlahnya ribuan itu dengan jalan memasuki terowongan yang nantinya akan membawa Dong-hae ke taman istana.

Disamping taman istana terdapat sebuah tanah kosong yang dulu adalah sebuah kolam yang dipenuhi oleh bunga teratai. Dan akibat perang beberapa tahun yang membuat beberapa bangunan istana rusak dan kolam tersebut mengering, kolam tersebut pun akhirnya kini hanya berupa lahan kosong dengan jembatan Wolgun di atasnya.

Seseorang yang mengirimkan peta tersebut juga memerintahkan untuk menggali lubang di bawah batu pilar yang berada di samping paviliun Gwanbong yang nantinya akan juga akan menjadi jalan masuk ke istana. Baek Dong-un juga sudah membayar salah satu prajurit istana dengan satu kotak emas untuk melakukan hal tersebut dan mempermudah Dong-hae untuk masuk ke dalam istana dan mengambil Hyun-soo kembali.

Awalnya Dong-hae bersikeras untuk melakukan semuanya seorang diri, namun Baek Dong-un mencemaskan Dong-hae, pria paruh baya itu pun meminta semua warga untuk ikut berjaga-jaga di luar tembok istana dan meminta sebagian yang lain, yang memiliki kemampuan beladiri untuk ikut menemani Dong-hae menyelinap ke dalam istana.

Dan sesuai dengan rancana, saat chuksi[14]tiba Dong-hae sudah berada di dalam istana, dia berhasil menyelinap ke atas bangunan yang diyakininya sebagai Byeol-go tanpa ada seorang prajurit yang menyadari keberadaannya. Meskipun Dong-hae telah menghabiskan waktunya untuk terus membuat sepatu, namun kemampuan beladiri yang dimilikinya selama ini bisa disandingkan dengan kemampuan beladiri Kim Jong-woon. Mereka berdua belajar ilmu beladiri dari orang yang sama.

Kini Dong-hae sudah sepenuhnya berada di dalam Byeol-go, pria bermata teduh itu dengan hati-hati berjalan tanpa suara, berusaha menemukan sosok Hyun-soo di tengah kegelapan Byeol-go.  Langkahnya terhenti ketika telinganya menangkap sebuah isakan halus di tengah ruangan. Dengan gerakan hati-hati yang sama Dong-hae berjalan mendekati suara tersebut.

Sementara itu Hyun-soo yang bisa mendengar langkah pelan milik seseorang yang mendekatinya, dengan cepat gadis itu memeluk kedua kakinya, merasa amat sangat ketakutan. Terlebih lagi saat disadarinya sebuah tangan yang mencengkram erat bahunya. Hyun-soo hampir menjerit, jika tangan lain tak dengan cepat membekap mulutnya.

“Hyun-soo ya, aku Dong-hae.”

Suara berupa bisikan tersebut membuat rasa takut Hyun-soo menguap. Suara yang dikenalnya dengan amat sangat baik itu membuat Hyun-soo bisa bernafas dengan lega. Kini semua syaraf tubuhnya yang menegang seketika melemas karena perasaan lega.

“Kita harus segera meninggalkan tempat ini. Ikuti aku,” suara bisikan Dong-hae kembali terdengar di tengah kegelapan. Tangan kekarnya menggenggam tangan kecil Hyun-soo. Keduanya lalu melangkah dengan pelan, melarikan diri dari tempat tersebut.

Sepuluh menit kemudian keduanya sudah berada di taman istana, menyelinap dengan amat sangat hati-hati, berusaha tetap tak terlihat dari jangkauan mata para prajurit istana. Dong-hae merasa sangat lega, setelah ini mereka hanya perlu menyelinap menuju paviliun Gwanbong untuk masuk ke dalam terowongan dan setelah itu mereka sudah akan berada di luar istana, berkumpul kembali dengan keluarga mereka. Semuanya hanya butuh tiga puluh menit lagi.

Namun begitu mereka ingin menyelinap menuju lubang yang telah tergali di samping paviliun Gwanbong, kedua kaki mereka seketika terhenti begitu mata mereka menangkap sosok Raja Seokjong telah berdiri di ujung jembatan Wolgun bersama Kim Jong-woon. Meskipun tak ada satu orang prajuritpun yang mendampingi Raja Seokjong saat ini, namun tetap saat begitu melihat pemandangan tersebut, Donghae yakin mereka tetap dalam keadaan yang berbahaya, pria itu semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Hyun-soo.

“Kita bertemu lagi anak muda,” Raja Seokjong membuka suara, memecah ketegangan yang menyelimuti Dong-hae dan Hyun-soo.

“Sepatu buatanmu sangat kuat, aku merasa nyaman mengenakannya,” kini Raja Seokjong menatap jipshin yang melekat di kedua kakinya. Dia memang selalu mengenakan sepatu yang didapatkannya dari Dong-hae.

Dong-hae dan Hyun-soo terdiam, mereka menatap lekat sosok Raja Seokjong.

“Prajurit istana menemukan lubang di bawah pilar batu di samping paviliun Gwanbong satu jam yang lalu, dan aku menjadi penasaran hingga akhirnya memutuskan datang. Aku tidak menyangka bahwa kaulah orang yang harus temui,” Raja Seokjong kembali melanjutkan ucapannya.

“Jika kau ingin keluar, seharusnya kau mengatakan hal itu padaku agasshi,” kini kedua mata Raja Seokjong terfokus pada kedua mata Hyun-soo, menatapnya dengan lekat. Dan Hyun-soo merasa semakin tertegun begitu mendapati kedua bola mata Raja Seokjong masih menyimpan raut kepedihan yang sedemikian nyata.

“Aku dengar kalian akan menikah,” Raja Seokjong terdiam sejenak, mengatur nada suaranya.

“Orang-orang berkata bahwa bahkan jipshin sekalipun memiliki pasangan. Jadi aku rasa aku juga akan mendapatkan pasangan suatu saat nanti, bukan begitu Woon ah?” Raja Seokjong tersenyum pelan.

“Keluarlah melalui pintu timur istana, Woon ah akan menunjukkan jalannya untuk kalian berdua,” Raja Seokjong mengucapkan kalimat tersebut dengan tenang, segaris senyum tipis tergurat di wajahnya.

Dong-hae dan Hyun-soo semakin tercengang begitu mendengar ucapan Raja Seokjong, mereka berdua tak sedikitpun memahami sikap Raya yang dikenal sangat kejam tersebut, terutama Dong-hae.

Kim Jong-woon mulai melangkahkan kakinya ke arah Dong-hae dan Hyun-soo berdiri, sementara itu Raja Seokjong tetap menatap mereka berdua.

“Ikuti aku,” Kim Jong-woon berucap pelan. Pria itu lalu mulai berjalan ke arah taman istana. Meskipun Dong-hae merasa bingung, pria itu tidak ingin menyia-nyiakan waktu, dia harus segera membawa Hyun-soo keluar dari dalam istana. Ditariknya lengan Hyun-soo, mengajak gadis itu untuk segera bergegas, namun langkah Dong-hae terhenti saat mendengar Hyun-soo mengeluarkan suara, begitu pula dengan Kim Jong-woon.

“Mengapa Jeonha harus mengurungku di dalam Byeol-go?”

Suara Hyun-soo terdengar bergetar, mata gadis itu menatap lekat Raja Seokjong. Airmatanya mengalir sempurna membasahi kedua pipinya.

“Hyun-soo ya…” Dong-hae berguman pelan.

Raja Seokjong mendesah sesaat, menghembuskan nafas, berharap semua beban yang membuat dadanya sesak menghilang bersama nafas yang dihembuskannya. Kedua matanya tak lepas dari kedua mata Hyun-soo, balas menatap gadis tersebut.

“Saat kau merasa seolah mati, lalu tiba-tiba kau menemukan hidupmu, apa kau akan tetap mengabaikannya begitu saja?”

Hyun-soo tercekat dengan semua kata yang meluncur dari mulut Raja Seokjong. Dong-hae yang berada di samping Hyun-soo menatap nanar ke arah Raja Seokjong.

“Woon ah, bawa mereka pergi,” titah itu terdengar nyata di telinga Kim Jong-woon, dia kembali melangkahkan kakinya untuk menunjukkan jalan keluar pada Dong-hae dan Hyun-soo.

“Hyun-soo ya oso kaja,” Dong-hae menarik lengan Hyun-soo, namun gadis itu tetap bergeming. Membuat Kim Jong-woon kembali menghentikan langkahnya.

Semua mata kini tertuju pada Baek Hyun-soo. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, airmatanya mengalir tanpa henti membasahi kedua pipinya. Dong-hae tidak mengerti kenapa gadis itu bisa bersikap seperti itu.

Baek Hyun-soo menarik nafas sesaat, pelan dia melepaskan kedua kakinya dari sepatu biru yang dipakainya dari Dong-hae. Gadis itu kini berdiri dengan hanya mengenakan beoseon. Raja Seokjong dan Dong-hae mengerutkan kening mereka.

Sepatu yang sengaja dibuat oleh Dong-hae untuk Hyun-soo itu kini sudah berada di dalam genggaman kedua tangan Hyun-soo.

“Dong-hae orabeoni, maafkan aku. Takdir kita harus berhenti di sini,” saat mengucapkan kalimat tersebut, Hyun-soo berusaha membuat suaranya terdengar normal, gadis itu menatap lekat kedua mata Dong-hae, meminta pria itu untuk melepaskannya.

“Hyun-soo ya….” Dong-hae tak mampu berucap lebih selain menggumankan nama gadis yang dicintainya tersebut.

Choesonghamnida,” Hyun-soo berucap pelan, gadis itu lalu menyerahkan sepatu tersebut pada Dong-hae. Dan setelah kedua tangan Dong-hae menggenggam erat sepatu tersebut, Hyun-soo berjalan dengan langkah pelan menuju tempat Raja Seokjong berdiri. Gadis itu mengarahkan tatapannya pada kedua bola mata Raja Seokjong, sebuah senyum tipis tergurat di wajahnya.

Kim Jong-woon menyentuh pundak Dong-hae dan menarik pria itu untuk segera meninggalkan tempat tersebut. Saat itulah Dong-hae merasa hatinya amat sangat sakit.

Agasshi…” Raja Seokjong berguman begitu Hyun-soo berdiri hanya di hadapannya, mata orang nomor satu seantero Joseon itu berkaca-kaca.

“Hyun-soo, Baek Hyun-soo irahaomnida Jeonha,” Hyun-soo menyebutkan nama lengkapnya sambil tersenyum. Raja Seokjong masih terdiam.

“Sekarang Jeonha sudah menemukan kehidupan, sudah saatnya Jeonha memutuskan jalinan benang yang terikat di setiap persendian tubuh Jeonha. Jadilah Raja Joseon yang bijak, dan hamba akan selalu berada di sisi Jeonha untuk membantu memutuskan jalinan benang tersebut,” Hyun-soo mengucapkan semua kalimatnya dengan penuh ketulusan sambil tak henti melayangkan tatapan yakin pada Raja Seokjong. Dan, begitu mendengar rentetan kalimat tersebut, serta sorot yakin yang terpancar dari kedua bola mata Hyun-soo, Raja Seokjong tahun bahwa dia akan mampu memutuskan jalinan benang tersebut dan memiliki kehidupan sendiri untuk pertama kalinya. Raja Seokjong mampu menajdi Raja yang bijak.

***

 Hanyang, Hong-hwa Harbour, 1630, 7th Years of Seokjong Reign

Pemuda bermata teduh itu, Lee Dong-hae, mengalihkan tatapannya untuk menyisir setiap sudut Hanyang melalui kedua matanya, berniat menyimpan ingatan Hanyang untuk terakhir kalinya. Pemuda bermata teduh itu berdiri di atas kapal yang akan membawanya meninggalkan Hanyang menuju pulau Jeju.

Keluarga Lee memutuskan untuk kembali menetap di pulau Jeju karena keinginan kakek Dong-hae. Pria paruh baya berusia tujuh puluh dua tahun itu ingin menghabiskan saat terakhirnya di tanah kelahirannya. Dia sudah terlebih dahulu tiba di pulau Jeju tiga bulan yang lalu.

Dong-hae memang merasa sakit hati, walau bagaimanapun juga Hyun-soo adalah gadis yang amat sangat dicintainya. Namun luka itu juga kini sudah sepenuhnya sembuh, tak berbekas. Melihat Hyun-soo menjadi istri seorang Raja Seokjong yang bijak membuat Dong-hae merasa tak perlu lagi mencemaskan gadis tersebut. Yang ingin dilakukan oleh pria itu hanyalah merawat kakeknya.

“Apa kau Lee Dong-hae? Pemuda yang dikenal sebagai pembuat sepatu nomor satu seantero Joseon?”

Dong-hae mengalihkan tatapannya, kini dari tempatnya berdiri kedua mata Dong-hae menangkap sosok seorang gadis yang menatapnya dengan tatapan meremehkan. Rambut gadis itu tidak tertata rapi dengan daenggimeori[15] sebagimana umumnya gadis Joseon. Rambut sebahunya dibiarkan tergerai.

Ye,” Dong-hae menjawab singkat. Begitu mendengar jawaban Dong-hae, gadis itu dengan cepat berjalan naik ke atas perahu, berdiri di samping Dong-hae.

Belum berhenti rasa terkejut menghilang dari diri Dong-hae, gadis itu sudah berjalan ke ujung perahu dan melepaskan ikatan tali yang mengikat perahu dengan ujung dermaga, membuat perahu yang mereka naiki mulai berjalan di atas air. Membuat Dong-hae semakin tercengang. Gadis itu bahkan tak memberinya waktu sedikitpun untuk mengucapkan sepatah kata, dia tak berhenti membuat Dong-hae terkejut.

Awalnya Dong-hae berniat untuk sekedar memberi gadis itu tumpangan hingga pulau Jeju dan setelah itu dia akan membiarkan gadis itu pergi. Namun begitu gadis itu kembali membuka suaranya sambil menatap lekat kedua bola mata Dong-hae, Dong-hae pun merasa yakin bahwa dia telah menemukan sebelah jipshinnya yang hilang.

“Namaku So-ra, Jang So-ra. Mulai saat ini berhenti membuat sepatu untuk orang lain dan buatlah sepatu yang hanya akan cocok untuk kakiku. Apa kau mengerti?”

END

Dedicated to my dear friend, KeNamGiL eonni. Thanks for everything. I love you my whole life :-*

PS: Sorry for ruining Dong-hae’s life with So-ra’s existence. Just life happily ever after with your King Seokjong and leave that damn hot shoe-maker to me :-p

 

 


[1] Yoon Seon-do (1587-1671) penulis puisi Joseon

[2] Maafkan hamba Yang Mulia

[3] Shin dalam bahasa Korea memiliki dua arti, yaitu Dewa dan Sepatu. Keluarga Lee menggunakan kata tersebut untuk menamai bangunan yang menjadi kedai sekaligus tempat membuat sepatu dengan maksud menamai tempat tersebut sebagai Dewa Sepatu.

[4] Sepatu sejenis boot yang biasa digunakan oleh para pengawal atau prajurit istana.

[5] Setelah hanbok yang biasa digunakan oleh para sarjana/bangsawan saat berpergian.

[6] Topi dengan hiasan manik-manik atau tali yang biasa digunakan saat berpergian.

[7] Atasan hanbok sejenis jogeori yang lebih panjang dan biasa digunakan sebagai penutup kepala oleh para wanita Joseon saat berpergian ke luar rumah.

[8] Jenis sepatu yang terbuat dari kayu, lebih sering digunakan saat musim hujan untuk melindungi kaki dari lumpur dan air hujan.

[9] Sebutan untuk Provinsi Gangwon-do pada periode Joseon.

[10] Sebutan yang digunakan untuk sepasang cincin.

[11] Bangunan di dalam istana yang digunakan untuk menyimpan barang-barang berharga milik Raja.

[12] Ukuran waktu yang digunakan pada periode Joseon, pukul 7-9 malam.

[13] Pakaian harian Raja berwarna merah atau biru, dihiasi emblem bergambar nada dengan lima cakar.

[14] Ukuran waktu yang dipakai saat periode Joseon, pukul 1-3 pagi

[15] Gaya rambut yang dipakai oleh gadis Joseon, terkuncir dengan ikatan pita bernama daenggi

13 thoughts on “[FF Freelance] The King’s Property (Oneshot)

  1. iya, Sora’s existence emang merusak tatanan banget LOL

    eniwei, lepas dari itu, it’s beyond my expectation. Ini pertama kalinya aku baca sebuah ff yang bersetting jaman joseon, setelah dibikin bosen setengah mati sama Dr. Jin dan diangkat kembali sama kisahnya the Moon that Embrace the Sun yang memberikan harapan bahwa nggak semua drama setting baheula itu membosankan, kisah ini memberi kesegaran tersendiri buat dunia per-fanfic-an. hehehe ..
    bagian favoritku adalah obrolan pertama si raja bersama Hyunsoo tentang ‘boneka politik’ itu, in somewhat way ini sangat dalam dan sangat menarik, ceritanya nggak hanya romance tapi juga banyak intrik politik dan sastra yang cerdas.
    Sora, you jjang!! ^^

    • Huaaah komen dri kamu beneran bangkitin semangat di tengah kegalauan dan kepenatan ngegarap skripsi..

      Thank you dear atas waktu luang yang mau kamu sisihin buat baca dan komen di FF saya…

      Thank you! You too, jjang ^_^

  2. Semua yang ada ga da cacatnya sedikitpun. Semua kata tertata rapi, mengalir, berbobot dan bener2 bikin reader ga bosan. Sebagai reader fanfict, ini pertama kalinya aku membaca fanfict dengan tema jaman joseon. Kupikir cerita-cerita jadoel korea itu cuma asyik kalo diangkat di layar tipi. And seriously, Sora ssi prove that Its wrong. The King’s Of Property ini keren gila 😀 top banget author..
    bagian yang paling kusuka waktu author ngegambarin hasosok donghae bermata teduh yang ditekankan berkali-kali. Itu bener2 menarik buat aku yang juga cinta sama bang ikan 😀
    Dan endingnya, Raja Seokjong akhirnya bisa bersatu dengan Hyunsoo. Bener2 so sweet dan menggetarkan hati bgt. Semuanya tertata rapi dan ga meninggalkan jejak yang membingungkan
    Daebak thor, good job !!

    • Thanks God akhirnya niatan aku berhasail dan terkabul…

      Jujur ajah, sebagai seorang yang suka drama kolosal bersetting Joseon, aku pengen banget dari dulu bikin FF tertema ini, cuma baru sekarang2 aku berani nulis setelah dapetin cukup info soal hal2 berbau Joseon…

      Selain itu, seperti kebanyakan orang yg doyan banget sama FF genre fantasy, aku juga pen orang2 mulai suka sama FF genre sageuk karena sageuk itu gak melulu negbosenin…

      Thanks dear for your precious comment 🙂

  3. Waduh. Enggak nyangka banget bisa dapet fanfic yang ngambil nilai historik gini. Ini bagus, thor. Keren banget. Jujur, aku tertarik baca ini gara2 gambar sepatu di atas. Enggak tau kenapa gambar itu catch my attention. :p
    Sempet ngerasa kasihan juga sama Donghae karena kekasihnya yang lebih milih si Raja. Tapi disisi yang lain juga seneng banget ngeliat si Hyunsoo sama si Raja.
    Emosinya ngena banget. Apalagi pas si Raja curhat sama Hyunsoo. Fanfic ini bener2 bikin gambaran lain tentang Cho Kyuhyun yang selama ini di anggap evil dan yaahh.. gitulah.
    Keren 100%! Ditunggu karyanya lagi, author! 🙂

    • You know? Aku emang sengaja pake sepatu itu buat jadi cover karena 2 alesan. Pertama aku gak bisa edit2 foto dan uah cukup putus asa gak nemuin foto Kyu ato Hae yg pake Hanbok. Selain itu aku juga gak nemu ulzzang atu apapun itu yg bisa aku jadiin model buat sosok Hyun-soo… Kedua, sama kayak kamu, sepatu itu menarik banget, jadi karena di FF juga banyak ngebahas sepatu aku akhirnya mutusin buat pake gambar itu…

      Hehehe seneng bisa nyuguhin FF dengan karakter Kyu yg beda, berarti Kyu cocok kan jadi karakter apa ajah, dan gak melulu evil…

      Thank you *bow*

  4. entah knpa aku akhir” ini suka sma ff yg bertema Joseon .
    aku suka bnget sma cerita nya .
    coba d bkin Series pasti seru konflik nya . eheheh~

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s