(EVERYTHING HAPPEN) UNDER THE MOON ~ PART 1

Title                 : (Everything Happen) Under The Moon ~ Part 1

 

Author             : Bee678

 

Rating             : PG-15

 

Length             : Chapter

 

Genre              : Romance, Fantasy

 

Cast                 : Kim Myung Soo (L), Park Jiyeon, Nam Woohyun, Kim Jaejoong, Lee Jieun,

 

Choi Sulli, Jung Yunho, Choi Siwon

 

Disclaimer       : 100% original buatan author kecuali castnya..Say No to tukang fotokopi (Plagiat!!) aku udah pernah post ini di WP lain..semoga suka ^^

 

Jiyeon POV

 

Setelah berjam-jam kuhabiskan untuk menempuh perjalanan dari Incheon, akhirnya aku tiba juga di tempat tujuanku. Aku berhenti di depan pagar besi raksasa yang ditengahnya terukir huruf  ‘LS’. Tanpa ragu, kudorong salah satu sisi pagar itu lalu berjalan melewatinya. Bahuku merosot sejadinya saat kulihat jalan berbatu panjang, yang seakan tidak berujung sudah menantiku. Aku menghela nafas pasrah sebelum akhirnya menarik koperku dan berjalan menelusuri jalan tersebut.

 

Di sepanjang jalan aku hanya menemukan pohon-pohon pinus yang berjajar rapi di kedua sisinya. Saat sudah berjalan cukup jauh, akhirnya aku dapat melihat sebuah bangunan di depan sana yang sukses membuatku tertegun. Mataku membulat dan mulutku menganga saat kudapati gedung tua nan megah yang kental dengan gaya Eropa tahun 1920-an, berdiri kokoh dihadapanku. Di kanan kirinya, masing-masing terdapat sebuah gedung yang tingginya lebih pendek 3 lantai dari gedung yang ada di tengah. Dan sejauh mataku memandang, hanya ada warna hijau menyegarkan yang berasal dari rumput tempat gedung-gedung itu berpijak. Kupikir tempat seperti ini hanya ada di Film Harry Potter, tapi ternyata di pinggiran Kota Seoul pun ada.

 

Setelah puas memandangi gedung bertuliskan Luna Senior High School di bagian atas pintunya ini, kulangkahkan kembali kakiku memasuki bagunan tersebut menuju kantor kepala sekolah. Sekali lagi mataku dibuat tak berkedip saat melihat interior gedung ini. Semuanya nampak klasik dan elegan. Kuakui aku menyukai sekolah ini secara fisik. Tapi tetap saja, aku masih tidak terima karena harus pindah ke sekolah ini dengan alasan yang tidak jelas. Mengingat hal itu, perutku tiba-tiba terasa mual karena menahan emosi.

 

Kuhentakan sebelah kakiku sambl mendengus kesal. Kulemparkan pandanganku ke segala penjuru koridor tempat ini, mencari-cari ruang kepala sekolah.

 

“Apa di sini tidak ada orang yang bisa kutanyai?” aku menggerutu sambil tetap celingukan.

 

“Apa yang kau lakukan di sana?” suara seseorang berhasil membuatku terlonjak kaget bahkan aku sampai terjungkal karena menabrak koperku sendiri. “Omo! Maafkan aku kalau aku membuatmu terkejut. Aku tidak bermaksud melakukannya.” kata namja itu lagi sambil membantuku berdiri.

 

“Kamsahamnida!” kataku sambil menganggukan kepalaku. Namja itu tersenyum. “Ehmm..maaf, aku sedang mencari kantor kepala sekolah, tapi sepertinya aku tersesat.” ujarku kemudian lalu mengigit ujung bawah bibirku sendiri. Kulihat namja di hadapanku ini mengerutkan keningnya lalu menatapku dan koper di sebelahku secara bergantian.

 

“Kau murid baru itu?” tanya namja itu ragu. Kuanggukan kepalaku sebagai jawaban pertanyaannya. Detik berikutnya namja ini langsung memelukku, membuat mataku membulat seketika. “Jiyeon-ah, aku sudah lama menunggumu!” ujar namja ini sebelum aku sempat mengeluarkan protesku. “Ternyata kau sudah sebesar ini. Kau cantik sekali!” lanjutnya sambil melepaskan pelukannya lalu mencubit pipiku.

 

Mwoya? Apa-apaan namja ini? Berani-beraninya memelukku seperti tadi, umpatku dalam hati.

 

Namja di hadapanku ini terus menatapku sambil memamerkan senyumannya. Hal itu lama-kelamaan membuatku risih.

 

“Jadi, bisakah anda memberi tahu saya di mana ruangan kepala sekolah?” tanyaku akhirnya karena sudah tidak tahan dengan sikap namja yang menurutku tidak sopan.

 

“Ah, iya benar! Ayo, mari ikut aku!”

 

“Ehm, tidak perlu repot-repot mengantarku! Cukup beri tahu saya jalannya saja.” tolakku cepat. Aku sudah tidak mau berlama-lama bersama orang ini. Namja itu menggeleng.

 

“Tidak apa! Kebetulan aku juga mau ke sana.” jawabnya. Kupaksakan seulas senyum di wajahku lalu mengangguk pasrah.

 

Kami pun beranjak dari tempat ini menuju kantor kepala sekolah yang letaknya berada di ujung lorong. Selama menelusuri koridor, namja itu tidak henti-hentinya berceloteh. Aku hanya bisa memajang senyumanku selama ia berbicara.

 

Aku menghela nafas lega saat berhenti di depan sebuah pintu kayu besar yang di sisi kanan temboknya tertulis ‘Ruang Kepala Sekolah’. Namja ini membuka pintu di depan kami lalu mempersilakan aku masuk.

 

“Duduklah dulu!” katanya setelah menutup kembali pintu besar itu. Aku mengangguk lalu melakukan apa yang dikatakannya, duduk di sofa mewah yang berada di tengah ruangan ini.

 

Kulayangkan kembali mataku mengitari setiap sudut tempat ini. Selain sofa bercorak yang sedang kududuki, ruangan ini dilengkapi dengan karpet sutra yang walaupun hanya dilihat saja, sudah cukup bagiku untuk mengetahui kalau karpet itu sangat lembut. Lemari-lemari kaca besar yang di dalamnya tersimpan rapi buku-buku setebal kamus, berjajar di samping pintu masuk. Meja kerja dengan ukiran khas barat terletak di depan jendela raksasa yang tertutup gorden merah dengan ornamen emas di ujungnya. Hanya satu yang kurang di ruangan ini, aku sama sekali tidak melihat orang lain selain diriku dan…Tunggu! Kenapa namja ini masih di sini? Ia baru saja menyodorkan secangkir teh ke arahku. Aku menatap bingung namja yang sekarang sedang meneguk teh miliknya sendiri dan duduk santai di depanku.

 

“Apakah ada sesuatu di wajahku?” tanya namja itu sambil meletakkan cangkirnya ke atas meja.

 

Aku baru sadar ternyata sejak tadi mataku tidak lepas darinya. Aku buru-buru menggeleng. Kuraih cangkir tehku lalu meneguknya. Sedetik kemudian aku berteriak karena kurasakan lidah dan bibirku terbakar akibat meminum teh yang sangat panas.

 

“Gwenchanha? Kau ini bagaimana! Mengapa tidak hati-hati?” ujar namja ini langsung melompat ke sampingku dan memegang bahuku. Kugerakan bahuku secara perlahan agar namja itu melepaskan tangannya dari sana.

 

“Aku tidak apa-apa. Tapi ngomong-ngomong, kapan aku bisa bertemu dengan kepala sekolah?” tanyaku sambil sedikit menggeser posisi dudukku agar berjarak dengan orang ini.

 

“Kau sudah bertemu dengannya sekarang.” katanya sambil menatapku dengan mata berbinar-binar. Keningku berkerut, tidak memahami maksud ucapannya. Namja ini tersenyum sambil membuka lebar kedua tangannya. Mataku membulat seketika saat akhirnya kusadari arti perkataannya.

 

“Kau?” ujarku spontan dengan bahasa informal. Aku buru-buru menggeleng dan mengoreksi kata-kataku sebelum dianggap tidak sopan. “Maksudku, anda? Anda kepala sekolahnya?” tanyaku tidak percaya.

 

“Ne.” katanya sambil mengangguk-anggukan kepalanya yakin. “Aku Kim Jaejoong, kepala sekolah Luna Senior High School.” Aku segera berpaling ke lain arah.

 

“Ini tidak mungkin! Mana mungkin namja ini seorang kelapa sekolah?” gumamku pelan pada diriku sendiri sambil sesekali melirik ke arah namja yang mengaku sebagai kepala sekolah  itu. “Appa bilang, kepala sekolah di sini adalah temannya. Seharusya umur dan perawakannya tidak berebeda jauh dengan Appaku. Tapi namja ini…..” Kuhentikan monologku lalu kualihkan perhatianku sekali lagi pada namja di sampingku ini.

 

Kulitnya putih, hidungnya mancung, bentuk matanya bagus, tinggi, tampan, dan yang pasti ia sangat terlihat muda. Tidak mungkin orang ini teman Appa. Dia lebih cocok menjadi Oppaku dari pada menjadi teman ayahku.

 

“Jeogiyo, apakah kau teman Appaku?” tanyaku ragu.

 

“Ne.” jawabnya.

 

“Tidak mungkin! Bagaimana Appa bisa memiliki teman yang usianya terpaut jauh?” gumamku sambil kembali menggelengkan kepalaku.

 

“Apa aku terlihat semuda itu di matamu?” tanya Tuan Kim.

 

“Eh?”

 

“Aku bahkan lebih tua dari Appamu.”

 

“EH??!!” seruku kaget disusul suara tawa Tuan Kim.

 

Aku masih menatap namja ini tidak percaya. Detik berikutnya Tuan Kim beranjak dari sampingku menuju meja kerjanya. Ia mengambil beberapa tumpukan buku di atas mejanya lalu kembali berjalan mendekatiku.

 

“Itu buku-buku pelajaranmu.” katanya tanpa menghilangkan senyuman di wajahnya.

 

Mataku lagi-lagi melebar melihat tumpukan buku-buku tebal di depanku. Kuraih buku yang paling atas, membuka-buka halamannya sekilas, kemudian memeriksa buku lainnya. Kutelan air liurku dengan susah payah. Mwoya, semua buku ini menggunakan Bahasa Inggris! Bagaimana mungkin aku bisa mengerti, keluhku sambil menyandarkan punggungku ke sandaran sofa.

 

“Dan ini jadwal kelasmu.” tambah Tuan Kim-mungkin mulai sekarang aku harus memanggilnya Kim Gyojang-nim (kepala sekolah)-sambil menyodorkan secarik kertas.

 

Tok..tok..tok..suara ketukan pintu membuatku tidak jadi membaca jadwal pelajaranku tadi. Selanjutnya terdengar suara pintu terbuka disusul kemunculan seorang yeoja mungil yang berjalan ke arah Kim Gyojang-nim.

 

Seragam yang bagus, pikirku sambil memperhatikan pakaian yeoja yang sekarang berdiri dihadapan Kim Gyojang-nim. Rok berampel dipadu dengan blazer yang berwarna sama-putih dan kemeja hitam di dalamnya.

 

“Ada apa anda memanggilku, Gyojang-nim?” suara yeoja itu membuatku mengalihkan pandanganku dari pakaiannya ke wajahnya. Yeoja itu imut dengan rambut yang dikepang ke samping.

 

“IU-yah, tolong antarkan Jiyeon ke kamarnya dan kalau kau tidak sibuk, tolong temani dia mengitari sekolah ini.” ujar Kim Gyojang-nim. Yeoja itu mengangguk lalu menoleh ke arahku sambil tersenyum.

 

“Mari kuantar!” kata yeoja itu lagi. Aku buru-buru berdiri dan mencoba mengangkat buku-buku yang baru saja diberikan Kim Gyojang padaku dengan sebelah tangan. “Biar aku bantu!” yeoja itu kembali menawarkan dirinya untuk membantuku. Ia mengambil sebagian buku ditanganku. “Kalau begitu, kami permisi, Gyojang-nim!” yeoja tadi membungkuk. Kuikuti gerakannya dan tiba-tiba Kim Gyoyang-nim kembali memelukku.

 

“Bersenang-senanglah di sini, Jiyeon-ah!” katanya lalu melepaskan pelukannya. Aku tersenyum canggung tanpa bisa menolak pelukannya. “IU-yah, jaga Jiyeon baik-baik!” katanya sambil mengarahkan matanya pada yeoja yang namanya di panggil tadi. Namun kali ini ekspresi wajah Kim Gyojang-nim terlihat serius. Yeoja itu sekali mengangguk lalu mengajakku meninggalkan ruangan kepala sekolah ini.

 

“Jeogiyo…” panggilku setelah berada di luar ruangan besar tadi. Yeoja di depanku menghentikan langkanya lalu menoleh ke arahku sambil tersenyum. Aku terdiam sesaat, terpesona dengan kecantikannya, “Annyeonghasaeyo, Park Jiyeon Imnida!” kataku akhirnya sambil mengangguk bersemangat hingga keningku membentur buku-buku tebal yang kubawa. Yeoja itu tertawa melihat tingkah konyolku ini.

 

“Annyeong! Na neun Lee Jieun imnida.” ujar yeoja ini sambil mengulurkan tangannya. Kulepaskan tanganku dari pegangan koper lalu menyambut uluran tangannya.

 

“Tapi, tadi Gyojang-nim memanggilmu…”

 

“IU.” sela yeoja itu sebelum aku menyelesaikan kalimatku. Aku mengangguk sambil menatapnya heran. “Itu nicknameku di sekolah. Nanti saat kau mendapatkan kartu pelajarmu, kau juga akan menerima nicknamemu.” katanya sambil kembali melangkah. Aku buru-buru menarik koperku lagi dan mensejajarkan langkahku dengan yoeja ini.

 

“Mwo? Mengapa harus ada nickname segala?” tanyaku bingung. Yeoja ini mengangkat bahunya sebelum menjawabku.

 

“Molla. Itu semua ide Gyojang-nim.” katanya.

 

“Oh.” gumamku dengan kening berkerut. Aku semakin tidak paham dengan pemikiran kepala sekolahku itu. Aku menghela nafas sebelum kembali berucap, “Kalau begitu, aku harus memanggilmu apa?”

 

“Terserah. Sesukamu saja.” katanya sambil melirikku sekilas. Aku mengangguk-anggkukan kepalaku.

 

“Ngomong-ngomong, apa sifat Gyojang-nim memang seperti itu?” tanyaku ragu. Jieun kembali menoleh padaku. Alisnya bersatu, tidak mengerti dengan maksud ucapanku. “Itu..hmm..bagaimana ya aku mengatakannya? Hmm…seperti suka memeluk muridnya?” ujarku hati-hati.

 

“Oh. Iya, Kim Gyojang-nim memang ramah dan sangat bersahabat.” jawabnya lalu tersenyum ke arahku. Mwo? Ramah? Sangat bersahabat? Kupikir dia malah terbilang cukup aneh dan sedikit genit, batinku. “Tapi dia juga bisa tegas dan mengerikan saat marah.” sambung Jieun dengan ekspresi meyakinkan. Aku hanya ber-oh-ria.

 

Kuikuti Jieun menaiki anak tangga berlapis marmer menuju 4 lantai di atasnya. Cukup sulit bagiku melakukannya karena harus membawa koper besar bersamaku.  Selama menelusuri bagunan ini,  Jieun mengenalkan hampir semua ruangan yang kami lewati. Ia juga tidak lupa menceritakan sekilas mengenai sejarah sekolah ini yang ternyata sudah berumur 80 tahun.

 

Gedung sekolah ini sangat luas. Banyak sekali ruang-ruang kelas dan di setiap lantainya dilengkapi dengan sebuah aula pertemuan besar yang dihiasi lampu-lampu cantik yang mewah. Dinding bangunan yang didominasi dengan warna cokelat, ornament-ornamen klasik, lampu-lampu berwana kuning yang digantung di kanan-kiri koridor, atap gedung yang berbentuk kubah, dan jendela-jendela besar di salah satu sisinya, membuatku merasa seperti berada di Eropa abad 19.

 

“Sebelah kiri adalah jalan menuju asrama putera, sedangkan asrama puteri ada di sebelah kanan gedung sekolah. Kau lihat kan tadi sebelum masuk ke sini, dua bangunan yang berada di samping gedung utama sekolah?” ujar Jieun begitu aku melangkahkan kakiku di anak tangga terakhir lantai 5. Aku mengangguk.

 

Jieun tersenyum lalu berbelok ke sebelah kanan sementara aku masih mengatur nafasku yang agak terengah-engah. Kuperbaiki posisi buku-buku berat di tanganku sebelum kembali mengikuti yeoja itu. Kami melewati lorong panjang berbatu menyerupai jembatan yang menggabungkan gedung sekolah dan dua gedung disampingnya. Aku menghentikan langkahku sebentar dan melayangkan pandanganku ke halaman sekolah yang terlihat jelas dari tempatku berdiri.

 

“Biasanya lapangan itu dijadikan sebagai tempat pertandingan antar kelas atau bahkan kadang dipakai untuk pertandingan persahabatan antar sekolah.” jelas Jieun yang melihatku terkagum-kagum dengan pemandangan di bawah sana.

 

“Jinja? Pertandingan apa itu? Olah raga?” tanyaku bersemangat. Yeoja di sampingku ini terlihat salah tingkah. Ia menggaruk kepalanya dengan telunjuknya sendiri.

 

“Ya..semacam itu.” katanya kemudian lalu tersenyum canggung. Aku menatapnya heran sesaat tapi kemudian kualihkan kembali perhatianku pada lapangan hijau yang luas di bawahku.  “Ayo, kita pergi dari sini!” ajak Jieun. Aku mengangguk lalu kembali mengikuti langkah yeoja itu.

 

“Oh, iya Jieun-shi…”

 

“Kau tidak perlu bersikap formal denganku. Kita ini seumur.” potong yeoja itu. Aku berpikir sebentar lalu menganggukkan kepalaku. “Ada apa?”

 

“Oh, aniyo. Aku hanya ingin bertanya, apakah saat ini sedang ada kelas? Sejak aku tiba di sini aku belum melihat murid-murid lain.”

 

“Mereka ada di asrama masing-masing. Mungkin masih tidur.” jawab Jieun santai.

 

“Mwo? Siang-siang seperti ini? Ani, bahkan ini sudah hampir pkl. 03.00.” seruku sedikit terkejut.

 

“Ne. Hal itu tidak aneh di sekolah ini. Lagipula kelas kita juga baru mulai malam hari.”

 

“MWO?” ujarku setengah berteriak membuat Jieun mengerenyit.

 

“Chingu-yah, kurasa ekspresimu itu terlalu berlebihan.” kata Jieun.

 

“Tadi kau bilang apa? Kelas kita dimulai malam hari?” tanyaku sambil menatap yeoja itu tak berkedip. Jieun mengangguk pelan sambil balas menatapku heran. Kutundukan kepalaku lemas.

 

“Apakah kau tidak mengetahuinya?” tanya Jieun kubalas dengan menggeleng lemah.  “Kau sudah mendapatkan jadwal pelajaranmu?” tanya yeoja itu lagi. Kali ini aku mengangguk lalu dengan enggan kurogoh kantong celanaku, mengeluarkan kertas yang sebelumnya diberikan oleh kelapa sekolah. Kubuka lipatan kertas tadi dan membaca isinya. Mataku membulat melihatnya.

 

“MWO? Setiap hari kelas dimulai dari pkl. 07.00 – 00.00 bahkan hari kamis kelas berakhir jam 2 subuh? Ini gila!” seruku tidak percaya. “Sekolah macam apa ini? Aku bisa-bisa tertidur pulas di kelas nanti!” gumamku pelan sambil kembali menundukkan kepalaku lemas. Kurasakan yeoja di depanku ini mendekatiku lalu mengelus-elus pundakku.

 

“Tenang saja, Jiyeon-ah, lama-kelamaan juga kau akan terbiasa dengan sekolah ini.” katanya. Aku menghela nafas pasrah. “O, sepertinya kita sekelas!” katanya lagi. Aku menoleh kearahnya. Yeoja itu tengah membaca kertas jadwal pelajaranku.

 

“Jinja?” ulangku. Jieun mengangguk yakin sambil tersenyum. “Syukurlah!” kataku sedikit lega lalu membalas senyumannya.

 

“Uri kajja!” ajak Jieun sambil menggerakan kelapanya. Aku mengangguk dan kami pun kembali berjalan hingga berhenti di sebuah ruangan. “Ini kamar kita, silakan masuk!” ujar Jieun setelah membuka pintu di hadapannya.

 

Kulangkahkan kakiku memasuki ruangan ini. Dua tempat tidur, dua meja belajar, dua lemari pakaian yang terbuat dari kayu mahogany dan satu kamar mandi yang terletak di dekat pintu. Sebuah jendela berukuran sedang ditutupi gorden biru tua terletak di antara kedua ranjang. Ruangan ini tidak terlalu besar tapi ini lebih bagus dari kamarku sendiri.

 

“Itu tempat tidurmu.” ujar Jieun setelah meletakkan buku-buku yang dipeganngya ke atas meja lalu menunjuk ke arah ranjang yang menempel ke tembok. Aku mengangguk lalu menarik koperku ke dekat tempat tidurku. “Dan ini lemarimu!” tambah Jieun sambil berdiri di depan sebuah lemari. “Mau kubantu membereskan barang-barangmu?” Jieun menawarkan diri. Aku mengangguk lalu mulai membongkar koperku.

 

Hampir satu jam kuhabiskan untuk memindahkan isi koperku ke dalam lemari, menata meja belajarku, dan mengganti seprai tempat tidurku dengan seprai bergambar pororo kesuakaanku. Kurebahkan tubuhku ke atas kasur setelah semua pekerjaan itu berakhir.

 

“Jieun-ah, gomawo!” kataku sambil membalikkan tubuhku ke posisi telungkup agar dapat melihat teman sekamarku ini.

 

“Cheonmaneyo!” balasnya sambil tersenyum. “Jiyeon-ah, sebaiknya kau istirahat sekarang agar nanti lebih segar saat pelajaran.” sambung Jieun.

 

“Tapi aku tidak terbiasa tidur siang.”

 

“Coba saja! Daripada kau ketiduran saat kelas nanti.” kupikirkan saran Jieun itu lalu akhirnya mengangguk. Kuperbaiki posisi tidurku kemudian memejamkan mataku, mencoba untuk tidur.

 

Aku terusik oleh suara berisik yang terdengar semakin jelas di telingaku. Kukerjap-kerjapkan mataku lalu sesekali menggosoknya dengan sebelah tanganku. Mataku menatap langit-langit ruangan ini dan detik berikutnya kukerutkan keningku.

 

“Kau bilang kau tidak terbiasa tidur siang? Tapi tidurmu pulas sekali bahkan kau sampai mengeluarkan air liurmu.” kudengar suara seorang yeoja yang sukses membuatku sadar sepenuhnya. Aku bangun dari tidurku sambil memegang kedua ujung bibirku dengan tanganku.

 

“Jinja? Biasanya aku tidak seperti itu.” kataku panik. Jieun tertawa.

 

“Ani. Aku hanya bercanda.” Aku langsung mengerucutkan bibirku. Kurenggangkan tubuhku sambil menguap. “Kau cepatlah bersiap-siap! Satu jam lagi kelas akan mulai.” ujar Jieun. Aku mengangguk lalu beranjak dari tempat tidurku menuju lemari pakaian untuk mengambil handuk. “Ini seragammu.” kata Jieun lagi saat aku hendak masuk ke kamar mandi.

 

“Gomawo!” balasku sambil tersenyum.

 

Setengah jam kemudian aku sudah rapi dengan mengenakan seragam baruku. Kumasukkan buku-buku ke dalam tas ranselku sesuai dengan yang tercatat di jadwal pelajaranku. Tepat pkl 06.45 aku dan Jieun meninggalkan kamar kami menuju lantai dua gedung sekolah.

 

Untuk pertama kalinya aku melihat murid-murid sekolah ini. Dan yang membuatku takjub, menurutku semua murid di sini terlihat bersinar. Muka mereka yang pucat memancarkan kecantikan dan ketampanan mereka masing-masing. Perawakan mereka sedikit berbeda dengan orang-orang yang biasa kutemui. Sempurna, kupikir itu kata yang cocok untuk menggambarkan bagaimana rupawannya mereka.

 

“Jieun-ah!” panggil seorang yeoja. Aku dan Jieun langsung menoleh ke sumber suara. Kulihat seorang yeoja manis berlari ke arah kami. Tubuhnya tinggi, kurus, dengan rambut cokelat panjang yang dibiarkannya terurai. Dia tersenyum pada Jieun sebentar lalu menatapku.

 

“Kau murid baru itu?” tanya yeoja tersebut. Aku mengangguk.

 

“Park Jiyeon imnida.”

 

“Hi! I’m Choi Jinri. Tapi aku lebih terbiasa dipanggil Sulli.” katanya ramah. Aku tersenyum. Sepertinya tidak akan begitu sulit bagiku untuk bergaul dengan orang-orang di sekolah ini.

 

Kami bertiga kembali berjalan menuruni anak tangga di depan kami. Tiba-tiba langkahku terhenti dan mataku melebar saat tidak sengaja melihat pemandangan aneh yang menurutku sangat tidak pantas. Seorang namja nampak sedang mencium leher yeoja di pelukannya.

 

“Ige mwoya, bagaimana mungkin dia melakukan hal seperti itu di sekolah, bahkan di tempat seramai ini. Apa mereka tidak malu?” gumamku dan detik berikutnya aku dibuat terkejut oleh sebuah buku yang melayang dan mendarat tepat di kepala namja tadi.

 

“Yaa! Pergilah! Kau membuat teman baruku tidak nyaman!” bentak yeoja di sampingku. Aku menoleh ke arahnya. Entahlah, mungkin hanya perasaanku, tapi sepertinya tadi kulihat bola mata yeoja bernama Sulli ini berkilat dan dan berubah warna.

 

Hahahahah..apa yang kupikirkan? Itu hal yang tidak mungkin. Mungkin suasana sekolah ini membuatku berimajinasi terlalu berlebihan, pikirku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku. Kulihat namja tadi mendengus sambil menatap sinis ke arah Sulli.

 

Kami pun melanjutkan perjalanan kami, menelusui koridor panjang lantai 2 lalu berbelok di ujung lorong ini hingga tiba di sebuah ruang kelas. Sulli dan Jieun langsung masuk ke dalam ruangan tersebut sedangkan aku masih berdiri terpaku di depan pintu.

 

Berbeda dangan kelasku yang dulu, ruangan ini dua kali lipat lebih besar. Meja kayu panjang berjajar rapi di setiap undakan. Ada lorong kecil untuk berjalan di sisi kanan, kiri, dan bagian tengah ruangan ini. Jendela kaca seperti yang sering kujumpai di gereja menutup hampir seluruh sisi kanan dinding kelas. Di depan kelas, terdapat podium kecil yang berjarak tidak terlalu jauh dari papan tulis hitam di belakangnya.

 

“Apakah kau akan berdiri terus di depan pintu? Kau menghalangi orang yang mau masuk ke kelas ini.” terdengar suara seorang namja yang menyadarkanku dari lamunanku.

 

Aku sedikit tersentak. Kuputar tubuhku ke arah suara dan detik berikutnya kurasakan tubuhku membentur tubuh namja yang berdiri tepat di belakangku. Aku kehilangan keseimbanganku hingga akhirinya bokongku mendarat keras di lantai yang dingin. Aku meringis sambil mengelus bokongku sendiri. Namja itu menghela nafasnya lalu berjalan melewatiku tanpa berniat membantuku berdiri. Aku hendak memanggilnya namun tiba-tiba sebuah tangan terulur ke arahku. Kutatap tangan itu sesaat kemudian kuarahkan mataku pada pemiliknya.

 

Saat ini dihadapanku sudah ada seorang namja yang tengah tersenyum manis ke arahku. Ia mencondongkan sedikit tubunya agar jarak di antara kami tidak terlalu jauh. Dengan ragu kusambut tanganya dan kemudian ia membantuku berdiri.

 

“Gwenchanha?” tanya namja itu ramah. Aku mengangguk tanpa mengalihkan pandanganku darinya. “Yaa, Kim Myung Soo!” teriak namja itu kemudian sambil mengarahkan matanya ke dalam kelasku. Kuikuti arah pandanganya dan kemudian mataku menangkap sesosok namja yang sedang menaiki undakan, menoleh ke arah kami. “Bisakah kau tidak sedingin itu? Kau memberikan kesan pertama yang buruk pada yeoja ini.” sambung namja di sampingku. Namja yang namanya baru dipanggil itu menatapku sekilas sebelum mengeluarkan suaranya.

 

“Siapa suruh dia menghalangi jalan.” ujarnya datar lalu beranjak menuju mejanya sendiri. Kutatap namja itu tajam. Jawabannya barusan membuatku dongkol.

 

“Jangan kau masukan ke hati sikapnya itu. Mulai sekarang kau harus membiasakan diri menghadapinya. Selamat belajar, Park Jiyeon!” kata namja di sampingku lalu menepuk pelan puncak kepalaku sebelum akhirnya meninggalkan kelas ini.

 

Aku tertegun menatap punggungnya yang semakin menghilang dari pandanganku. Kurasakan pipiku memanas.

 

“Mau sampai kapan kau memandanginya?” tanya seseorang.

 

“Eh?” gumamku sambil menoleh pada yeoja di sampingku. Jieun dan Sulli menatapku sambil tersenyum penuh arti.

 

“Namanya Nam Woohyun. Namja terpopular kedua di sini. Dia terkenal dengan sebutan bolmae (charming), karena menurut orang-orang di sini, semakin kau melihatnya, kau akan semakin menyadari ketampanannya.” kata Sulli sambil mengarahkan matanya ke ujung koridor. “Dia murid kelas Half Moon.” tambah Sulli.

 

“Half Moon?” kuulang perkataannya. Sulli mengangguk.

 

“Itu tingkatan kelas di sini. Dari pada menggunakan angka, Gyojang-nim lebih memilih menamainya menggunakan siklus bulan. Yang paling rendah di sebut Lunar Eclipse, kelas kita sekarang, selanjutnya Half moon, dan yang kelas terakhir adalah Full Moon.” jelas Jieun.

 

“Sudah kuduga, kepala sekolah itu orang yang luar biasa.” gumamku sambil menggeleng pelan. “Tunggu! kalau tidak salah tadi dia menyebut namaku. Tapi dari mana dia mengetahuinya?”

 

“Satu sekolah ini juga tahu tentang kedatanganmu.” jawab Sulli.

 

“Jeongmalyo? Kenapa bisa seperti itu? Oh, aku tahu, pasti karena jarang ada murid pindahan ke sekolah ini, apalagi aku pindah di pertengahan semester.” ujarku tanpa henti.

 

“Hah?” ujar Jieun dan Sulli berbarengan lalu tertawa canggung sambil menganggukan kepalanya.

 

Tentu saja siapa juga yang mau bersekolah di tempat aneh seperti ini. Aku benar-benar bingung dengan cara berpikir Appa. BIsa-bisanya dia memindahkanku ke sekolah seperti ini, yang baru akan memulai pelajarannya saat orang normal seharunya tertidur, pikirku.

 

“Kembali pada namja tadi, jadi menurut kalian dia tampan?” tanyaku disusul anggukan kepala kedua yeoja disampingku.

 

“Tapi bukan tipeku.” tambah Jieun.

 

“Na do.” timpal Sulli. Aku mengangguk-angkukan kepalaku.

 

“Oh iya, tadi kalian bilang dia namja terpopular kedua? Kalau begitu siapa yang pertama?”

 

“Yang tadi bertabrakan denganmu.” jawab Jieun santai membuat mulutku menganga tidak percaya.

 

“Kalian mau mengobrol sampai kapan?” tanya seorang namja. Jieun dan Sulli langsung membungkukkan tubuhnya saat melihat namja berkaca mata berdiri di depan kami. Aku yang tidak mengerti apa-apa memilih untuk mengikuti kedua teman baruku ini. “Kalian kembalilah ke tempat duduk kalian masing-masing.” sambungnya pada Jieun dan Sulli. Kedua yeoja ini mengangguk lalu menuruti perintah namja tersebut. “Kau Park Jiyeon, murid baru itu?” tanyanya. Aku mengangguk. “Aku wali kelasmu, Jung Yunho, dan kau boleh memanggilku U-know saem kalau mau.” Aku kembali mengangguk tanpa dapat berkata-kata. Untuk kesekian kalinya aku menjumpai manusia tampan di sekolah ini. “Masuklah! Kita akan mulai pelajaran ini.” katanya lalu berjalan mendahuluiku. Kuikuti langkahnya dan berhenti di samping podiumnya. Murid-murid di dalam kelas langsung kembali ke tempat duduk mereka masing-masing saat namja ini memasuki kelas.  “Kalian sudah tahu kan kalau kita kedatangan murid baru? Dia akan segera memperkenalkan dirinya!” ujar U-know saem lalu menoleh ke arahku sambil mengangguk.

 

“Annyeonghasaeyo! Jo neun Park Jiyeon imnida. Bangapseumnida!” sapaku lalu membungkukkan badan. Tiba-tiba perasaan yang kurasakan sebelumnya muncul lagi. Aku merasa semua orang di kelas ini menatapku dengan sorot mata yang menyeramkan seperti yang dilakukan Sulli tadi.  Semoga saja itu hanya disebabkan oleh rasa gugupku sebagai murid baru, yang terlalu berlebihan

 

“Kau duduklah di sana!” ujar U-know saem sambil menunjuk ke bangku kosong diantara Jieun dan…Mwo? Namja yang menabrakku tadi?

 

***

 

Author POV

 

“Apa kau yakin dia akan aman di sini?” tanya seorang namja berkemeja hitam dan luarnya dilapisi oleh seragam dokter sambil menatap serius lawan bicaranya.

 

“Tidak terlalu. Tapi setidaknya dengan dia berada di sekolah ini, kita bisa mengawasi dan menjaganya langsung.” jawab namja lain yang duduk di balik meja kerjanya.

 

“Tapi, Jaejong-ah, apakah kita harus menutupi semuanya dari anak itu?” tanya namja yang merupakan dokter sekolah ini.

 

“Untuk saat ini sebaiknya kita tetap merahasiakan semuanya dari anak itu.” jawab Jaejoong. Namja di depannya hanya mengangguk dalam diam. “Siwon-ah, aku sangat bergantung pada kalian semua untuk menjaga anak itu.” sambungnya sambil menatap lurus namja bernama Siwon itu. “ Aku tidak mau apa yang dialami ibunya terjadi lagi padanya. Kalau itu sampai terjadi, aku tidak akan tinggal diam.” tambah Jaejoong sambil menautkan jemarinya di depan bibirnya. Bola matanya berkilat dan tiba-tiba berubah menjadi hijau.

 

“Aku mengerti. Kau tenang saja, Jaejoong-ah! Bila perlu, kami semua akan mengorbankan nyawa kami untuk anak itu. “ ujar Siwon.

 

“Gomapda!” jawab Jaejoong dan bola matanya kembali normal. “Gundae, berhentilah memanggil namaku! Kau ini sangat tidak sopan! Bagaimana kalau murid-murid dengar?” protes kepala sekolah itu.

 

To Be Continued

 

Tolong komentarnyaaa..semakin banyak aku semakin semangat..hahahaha..kalo mau kasih masukan apa lagi seneng banget..^^

 

11 thoughts on “(EVERYTHING HAPPEN) UNDER THE MOON ~ PART 1

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s