[FF Freelance] Call Me Maybe (Oneshot)

Judul                      : Call Me Maybe

Nama Author        : Meiliyanapark

Rating FF              : PG-15

Length.                  : One shoot

Genre                    : Friendship, angst, romance

Main Cast              : Im Yoona and Lee Donghae

Support Cast         : Jung Jessica and Kwon Yuri

Disclaimer: All cast dan diri saya sendiri adalah milik tuhan, akan tetapi  ide cerita ini adalah murni karya saya, Saya membuat FF ini karena terinspirasi dengan lagu Carly Rae Jepsen yang Call Me Maybe, tapi sekali lagi saya ingatkan Ide ceritanya murni dari saya sendiri. Saya harap semoga alurnya memuaskan^^

Oh,Iya sebenarnya FF ini saya pernah post di : http://meiliyanapark.wordpress.com  . Jadi kalau memang pingin  kenal lebih dekat dengan saya, bisa mampir kok^^. Ya udeh daritadi saya banyak bacot xD . langsung cekidot aja ya \(^0^)/

***

Hey, I just met you,
And this is crazy,
But here’s my number,
So call me, maybe?

***

“Huwaaaah, SEOUL!! BOGOSHIPOYO!!.” Pekik seorang Yeoja yang berada di pintu kedatangan Domestik di bandara Incheon. Ia sangat bahagia, libur kuliah musim seminya ini, dapat ia nikmati sebulan di negara kelahirannnya Seoul.

Ia pun segera bergegas mencari sebuah taxi untuk mengantarkannya ke rumahnya. Di sepanjang perjalanan, matanya tak berhenti menatapi semua perubahan drastis di kota seoul yang semakin maju. Banyak bangunan-bangunan baru di ibukota Korea selatan itu.

***

“Hae! Tulislah permintaan mu, biar aku yang mengagantungkannya di sini.” Ucap seorang Yeoja kepada namja Chingunya, mereka berdua kini sedang asyik menikmati pemandangan dari puncak gunung namsan dan hendak membuat harapan di sebuah tempat yang biasanya di sebut “Gembok Cinta.”. Ya, seperti pada umumnya sebuah gembok biasa di gunakan untuk mengunci sesuatu benda itu mau tertutup dan tidak akan bisa di buka, jika gembok tersebut tidak memiliki kunci. Namun di tempat bernama Gembok Cinta tersebut, di percaya untuk menyatukan dua insan untuk selalu bersama hingga akhir hayat menjemput mereka.

“Kenapa tidak kamu saja yang menulisnya? Kamu kan wanita, aku menurutimu saja, Jess.” Balas namja tersebut sembari mengusap kepala yeoja chingunya itu.

“Kau saja, kali ini aku yang mengalah hehehe.” Kekeh yeoja itu sembari memberikan gembok dan sebuah spidol ke namja chingunya.

“Kau ini, dasar.” Namja itu mengalah dan meraih gembok beserta spidol tersebut. Ia mulai menuliskan sesuatu di gembok itu, yeoja chingunya sesekali melirik kearah tulisan namja itu, tapi tak berhasil karena namja itu sengaja menutupi tulisannya, agar yeoja chingunya membacanya saat tulisannya sudah selesai.

“Yah, Donghae! Ppali beritahu Aku!.” Cetus yeoja chingunya cemberut sembari melipat kedua tangannya di dadanya.

“Chammkkaman, aku akan beritahu kalau sudah selesai. Nah selesai.” Namja yang bernama Donghae tersebut menyerahkan gembok tersebut kepada Yeoja chingunya atau biasa di panggil dengan sebutan Jessica.

JESSICA ♥ DONGHAE. MENIKAH TAHUN DEPAN DAN MENDAPATKAN 5 ANAK ◡≦. I LOVE U

Semburat merah tergambar di wajah Jessica, Jessica dapat merasakan hawa panas di wajahnya. Sedangkan Donghae, Ia hanya terkekeh ringan melihat ekspressi Yeoja Chingunya itu.

***

“Eomma!.” Pekik Yeoja itu begitu turun dari taxi sembari menggeret koper miliknya.

“OMO! Yoona? Kau kah itu?.” Kejut wanita setengah baya itu bingung. Wanita itu lalu mendekati kearah anak perempuannya, Ia tidak tahu jika anak gadisnya itu akan pulang dari Amerika.

“Ne, ini benar Aku, eomma.” Timpal gadis bernama Yoona yang sudah menitikkan air mata penuh keharuan, Ia pun memeluk Eomma yang sudah lama tidak Ia temui.

“Aigoo! Anak ini, kenapa tidak Kau kabari Kami, jika Kau ingin datang?.” Sang Eomma juga membalas pelukan anaknya sembari mengelus pelan pundak belakang anak gadisnya itu.

“Aku ingin memberi surprise, eomma.” Sahut Yoona melepaskan pelukannya.

“Aissssh! Kelakuanmu tidak berubah, walau anak Eomma yang satu ini bertambah cantik hihihi.” Goda Eommanya jahil.

“Hehehe, tentu saja, aku kan anak Eomma.” Tukas Yoona tersenyum lebar.

“Aigoo!.” Eomma Yoona menepuk kepala Yoona.

***

Yoona kini sudah terbaring lelah di atas ranjangnya yang sudah lama tidak Ia tiduri. Ia rindu dengan semua yang terdapat di dalam kamarnya. Bahkan, aroma ruang tidurnya pun Ia rindui juga.

“Sudah 5 tahun rupanya…” Gumamnya sendiri sembari menerawang kosong isi kamarnya, tanpa terasa, rasa kantuk mulai menyerangnya. Perlahan Ia pun mulai menutup pelan kelopak matanya dan terlarut di alam mimpinya.

***

Seberkas cahaya yang menusuk mata Yoona, berhasil membuat mata indah itu terbuka perlahan. Yeoja manis itu sesekali menguap dan merenggangkan tubuhnya yang lelah setelah tidur semalam. Ia mendudukkan tubuhnya pada sandaran di ranjangnya. Secarik garis tipis tertarik di sudut bibirnya, hari ini adalah hari pertama liburannya di seoul dan tentu saja, Ia tidak ingin hari pertamanya sia-sia tanpa ada aktivitas.

Yoona pun bergegas bangkit dari tempat tidurnya dan berlalu menuju kamar mandi. Setelah selesai membersihkan dirinya, Ia pun memilah pakaian yang akan ia pakai hari ini. Dengan t-shirt putih yang di padukan dengan hot pants dengan syal, juga sepatu flat converse berwarna merah putih . Yoona  tampil  simple tapi tetap bergaya.

Seusai mengurus penampilannya, Yoona beralih menuju dapur untuk mendapatkan sarapan paginya.

“Yoona, Eomma sudah memasakan Pancake kesukaanmu.” Titah Eomma Yoona Menuangkan sirup rasa anggur di atas pancake Yoona.

“Omo, Gomawo, eomma.” Seru Yoona sembari memeluk Eommanya dari belakang.

“Aigoo, 5 tahun di Amerika Kau belum berubah rupanya haha.” Kekeh Eomma Yoona melepaskan pelukan anaknya itu.

Yoona hanya tersenyum lebar dan beranjak duduk di meja makan, tepat disamping Appanya.

“Anyeong, Appa! Kau tidak merindukan anak perempuanmu ini?.” Canda Yoona sembari mengecup singkat pipi Appanya itu.

“Omo! Tentu saja Aku merindukanmu.” Appa Yoona mengusap kasar kepala Yoona.

“Yak! Appo.” Gerutu Yoona sembari mengelus kepalanya. “Errr~ Appa..” Tambahnya lagi sembari menengadahkan tangannya ke arah sang Appa.

“Eisss… Ne arraseo.” Sahut appa mengerti. Ia kemudian mengambil sesuatu dari saku celananya, yang ternyata adalah sebuah Dompet. Lalu merogoh beberapa uang dari dalamnya. “Apa ini cukup?.” Lanjutnya memberikan uang itu ke Yoona.

“Emm. Gomawo appa.” Yoona meraih uang tersebut dan melenggang pergi.

Melihat kelakuan anak perempuannya itu, Appa Yoona hanya bisa menggeleng pelan dengan tatapan datar.

***

Tak henti-hentinya Yoona memandangi item-item dari pintu transparan di Mall. Sembari mengemil Ice Cream cokelatnya Ia berjalan menyusuri mall tersebut, sesekali Ia juga mengambil selca dirinya sendiri . Senyuman selalu merekah dari bibirnya.

Penelusurannya sampai di toko buku, Yoona berjalan menuju rak-rak yang berisikan novel-novel romantis. 1..2..3.. Ia terus memilih novel yang akan Ia beli, tanpa terasa Ia sudah membawa selusin novel. “Uuhh..Berat..” Selorohnya sambil membawa novel-novel itu ke kasir.

Bruk!!!

Tumpukan novel yang akan Yoona beli, berhasil berceceran di lantai beserta novel-novel milik orang lain yang menabraknya tadi.

“Omo! Cheosohamnida…” Ucap seorang namja tinggi, sembari menunduk berulang kali kearahnya sebelum namja tersebut berlutut mencoba memunguti novel-novel milik Yoona dan miliknya yang berserakan.

“Ahh gwenchana.” Ujar Yoona kemudian, lalu membantu namja tersebut meraih novel-novelnya.

“Ini..” Namja tersebut mengembalikan novel Yoona yang baru saja ia pungut sambil tersenyum ramah. “Gomawo.” Imbuh Yoona yang tak kalah ramah.

“Cheonmaneyo.” Tuntas namja tersebut, lalu berlalu menuju kasir untuk membayar novel-novel yang di belinya.

Yoona hanya berdiri terpaku menatapi punggung namja barusan yang kian lama kian menjauh. Entah mengapa jantungnya berdetak sangat kencang sekali, pipinya pun tak luput memerah dengan sendirinya.

“Dia tampan sekali..” Gumamnya sendiri, lalu melangkahkan kakinya ke meja kasir.

***

“Hei, novel ini bukan milikku. Tapi, sepertinya punyaku juga kurang 1. Apa jangan-jangan tertukar dengan namja tadi?.” Yoona mengecek kembali novel-novel yang baru di belinya, yang rupanya salah satu novel miliknya tertukar dengan namja tampan tadi.

“Eisssh! Padahal novel itu ceritanya paling bagus.” Dengusnya kemudian.

***

“Ya! Donghae, sepertinya aku tidak memesan novel ini?.” Tanya Jessica bingung kepada Donghae yang duduk di sampingnya.

“Mwo?.” Donghae segera meraih novel yang dimaksud Jessica. Ia kemudian teringat, kalau tadi Dia baru saja tidak sengaja menabrak seorang Yeoja di toko buku. Mungkin saja novel itu milik Yeoja tadi. “Ahhh, aku ingin membeli 1 untukku saja.” Kilah Donghae dengan senyuman paksa.

“Geure… Tumben sekali Kau mau membaca novel? Biasanya di bandingkan harus membaca novel, Kau lebih memilih mengerjakan soal matematika yang sangat susah itu.” Ungkap jessica sembari menyenderkan kepalanya di bahu Donghae.

“Waeyo? Ada yang salah?.”

“Ani, Kau lucu. Hae-ah!.” Tawa Jessica.

***

“YURI!!!!.” Yoona berteriak kencang saat berhasil mendapatkan Chingunya itu sudah bersiap-siap membuka pintu sebuah Restaurant, atau bisa dibilang Yeoja bernama Yuri itu bekerja di sana.

Yuri mengerjabkan kedua matanya, Dia juga mengusap matanya. Ia tidak percaya sahabat semasa waktu dia SMP itu tiba-tiba sudah berada di hadapannya, setelah Yeoja itu datang kepadanya 5 tahun yang lalu untuk meminta ijin kepadanya untuk melanjutkan studinya di Amerika.

“Ya! Yoona? Kaukah itu?.” Yuri memekik keras tidak percaya sembari berjalan menghampiri Yoona.

“Geurae, ini aku Yuri-ah!.” Teriak Yoona berlari kearah Yuri. Mereka pun saling berpelukan, Isak haru antara kedua sahabat yang telah lama tidak berjumpa itu pun tumpah seketika.

“Yoona, Jeongmal bogoshippoyo..” Ungkap Yuri sambil mengelus kepala Yuri.

“Nado.” Sahut Yoona tersenyum haru. “Yuri, aku di seoul hanya sebulan. Sekarang aku sudah seminggu disini. Aku ingin merasakan pekerjaan sebagai pegawai restaurant, bolehkah?.” Imbuh Yoona.

“Mmmm, entahlah, tapi kuyakin sajangnim tidak akan berberat hati menerimamu, karena kebetulan disini kami juga kekurangan orang.” Jelas Yuri menarik tangan Yoona masuk ke dalam restaurant yang dimana adalah tempat kerja Yuri.

Keduanya pun memasuki ruangan kerja Atasan Yuri. Di dapatinya Atasan Yuri yang sedang asyik memainkan laptopnya, membelakangi keduanya.

“Anyeonghaseo sajangnim. Aku membawa teman ku kesini. Dia mau melamar kerja di sini hanya untuk 3 minggu. Apa boleh?.” Tanya Yuri sopan.

Atasan Yuri pun segera membalikkan kursi kerjanya ke arah Yuri beserta Yoona. Di kemejanya terdapat name tag bertuliskan Lee Donghae. “Hmmm?.” Ucap namja itu menaikkan sebelah alisnya.

Yoona terperangah ketika menyadari bahwa namja di hadapannya itu tidak asing lagi dengannya, ah! Benar orang didepannya itu adalah Namja yang tidak sengaja menabraknya di Toko Buku.

“Waeyo? Ppali! jawab Donghae sajangnim menunggu jawaban darimu!.” Yuri mengguncang tubuh Yoona yang sedari tadi hanya mematung.

“Nde?.” Ucap Yoona yang baru tersadar. “Ah, cheosohamnida. Bisa kau ulangi lagi?.” Lanjutnya kemudian.

“Eishhh! Makanya jangan melamun!.” Gerutu Donghae memasangkan kecamata minus di matanya. ” Apa Kau mau aku tempatkan sebagai pelayan disini, karena direstaurantku sedang kekurangan pelayan.” Ulang Donghae menatap manik mata indah milik Yoona.

“Ne!. Saya siap sajangnim, kebetulan aku tidak bisa memasak hehehe.”

“Baiklah, besok kau mulai bekerja. Cuma 3 minggu kan?.”

“Ne sajangnim, soalnya aku diSeoul sedang libur kuliah.” Jelas Yoona.

“Emm, arraseo. Baiklah, Kau bisa pergi sekarang.”

“Gamsahabnida sajangnim.” Yoona menunduk ke arah Donghae dan segera keluar dari ruangan kerja Donghae.

“Otte?.” Tanya Yuri yang sudah menunggu Yoona lama di depan pintu ruangan  Donghae.

“Aku diterima!.Yuri-ah!” Pekik Yoona melompat girang. Yang diikuti dengan histeris bahagia dari Yuri, karena dapat bekerja bersama sahabat karibnya itu.

***

Jessica duduk dengan jenuh, menunggu Donghae yang sedang sibuk mengajari pegawai restaurant barunya. Rencana awalnya, Jessica ingin mengajak Donghae berkencan dengannya ke suatu tempat Ice Skating, karena sekarang musim salju sudah menghampiri Seoul. Tapi Ia tahan, Ia tidak bisa begitu saja mengajak kekasih hatinya itu untuk kencan bersamanya, egois memang ada dalam hatinya. Namun Jessica menahan rasa egoisnya, Ia tidak mau Donghae harus menghentikan aktivitas mengurus restaurantnya, hanya untuk kesenangan dirinya semata.

“Permisi, ini Aku buatkan Green Tea. Cuaca sangat dingin, aku harap ini dapat menghangatkan tubuhmu.” Yuri menaruh secangkir Green Tea di meja tempat Jessica menunggu Donghae.

“Ahh, gomawo.” Sahut Jessica ramah.

“Tidak usah sungkan, baiklah aku kembali kebelakang dulu.” Tukas Yuri berlalu menuju dapur.

“Hmmm… Yuri-Ssi! Yuri-ssi!.” Panggil Jessica saat Yuri hendak masuk ke dalam dapur.

“Ada apa?.” Yuri kembali berjalan menuju meja Jessica. “Siapa nama pegawai baru itu?.” Jessica menunjuk tepat kearah seorang pegawai perempuan yang sedang berada di samping Donghae, terlihat wanita itu nampaknya sedang diajari Donghae untuk melayani para pelanggan.

“Oh dia. Namanya Yoona, Dia adalah teman dekatku dari Kami masih kecil. Dia bekerja disini hanya untuk 3 minggu.” Jelas Yuri.

“3 minggu? Untuk apa Dia bekerja disini Kalau hanya untuk 3 Minggu.” Tanya Jessica yang mulai ingin tahu untuk mengetahui tentang Sosok bernama Yoona itu.

“Simple saja, untuk mencari pengalaman tepatnya. Dia di seoul selama 3 Minggu hanya untuk liburan kuliahnya yang berada di Amerika.”

“Ohh, begitu rupanya. Ya sudah Kau bisa melanjutkan kembali aktivitasmu.”

Ada perasaan cemburu di hati Jessica, melihat Donghae bersama pegawai barunya. Yah, walau bagaimanapun Donghae juga kekasihnya, itu merupakan hal biasa yang terjadi pada setiap insan baik lelaki maupun wanita.

***

“HYA! Bukan seperti itu cara membawa nampan yang benar, lihat sudah berapa piring dan gelas yang sudah Kau pecahkan.” Ketus Donghae saat melihat Yoona memegang nampan makanan yang salah. “Cheosohamnida, Sajangnim.” Yoona membungkukkan badannya berulang kali.

Yoona mengulangi kembali kesalahannya, kali ini kemampuannya sudah mulai membaik. “Eitss, Jangan meletakkan jarimu seperti itu.” Donghae membenarkan jari tangan Yoona yang salah ketika memegang nampan.

Tak dapat Yoona pungkiri, Ia merasa jantungnya berdebar kencang, Saat tangan Donghae menyentuh jari jemarinya. Yoona menunduk sedikit untuk menghindari tatapan Donghae yang diarahkan kepadanya.

“Yak! Im Yoona, Fokuslah! Lihat caraku, bagaimana Kau mau bisa jika tidak memperhatikan.” Tegur Donghae yang merasa Dirinya tidak diperhatikan Yoona.

“Ahhh, Mianhae.” Ucap Yoona malu, lalu kembali memperhatikan Donghae.

2 minggu Yoona bekerja di restaurant milik Donghae. Yoona juga sudah semakin lihai, cara melayani pelanggan, mengantarkan pesanan ke meja-meja, dan pengetahuannya tentang memasaknya kian bertambah. 1 hal penting yang harus diketahui, Hubungan Yoona dan Donghae juga semakin dekat.

“Yoona, bisakah Kau tolong Aku mengiris bawang, hari ini restaurant penuh dengan pelanggan.” Pinta Yuri yang sedang sibuk memanggang daging.

“Baiklah.” Yoona pun yang berada di samping Yuri, membantu Yuri  mengiris bawang-bawang yang ada di hadapannya.

Sedikitnya jumlah pekerja yang ada di Restaurant Donghae harus membuat beberapa pelayan di restaurant itu bekerja Ekstra, terutama saat pelanggan sedang ramai saat hari itu. “Tuk!..Tuk!..Tuk..” Suara ketukan pisau yang berhantukan dengan nampan terdengar sangat buru-buru. “Auhh!.” Raung Yoona saat melihat setetes darah mengalir dari jari jempolnya. Yoona tidak sengaja mengiris jempolnya saat sedang mengiris bawang.

“Omo! Jarimu berdarah!. Ottoke!” Yuri terkejut mendapati jari sahabatnya yang tidak sengaja teriris pisau itu.

“Gwenchana, aku baik-baik saja.” Kilah Yoona menenangkan.

“Bagaimana bisa Kau bilang baik-baik saja? Itu luka yang tidak kecil Yoong. Sudahlah biar Aku yang mengiris saja. Kau gantikan Seohyun sebagai kasir.”

“Ada apa ribut-ribut, Kalian tidak lihat pelanggan di luar sana yang meminta di sediain makanan segera!.” Donghae tiba-tiba datang dari balik pintu kerjanya.

“Mianhae Sajangnim.” Ucap Yuri dan Yoona bersamaan. Keduanya pun dengan gelagapan melanjutkan aktivitasnya kembali. Yoona sedikit merintih saat getah dari bawang tidak sengaja mengenai lukanya.

“Im Yoona-ssi! Kau tidak lihat tanganmu itu sedang terluka, Kau ke ruanganku segera.” Dengus Donghae melangkah menuju keruangan kerjanya, lalu disusul Yoona di belakangnya.

“Kau duduklah disana.” Ucap Donghae sedang sibuk mencari sesuatu. “Ternyata disini.” Donghae meraih sebuah kotak P3K dan menghampiri Yoona yang merintih kesakitan akibat luka irisannya tadi.

“Tahan ya, sakitnya tidak lama.” Donghae duduk disamping Yoona dan mengobati luka di jempol Yoona. Dengan hati-hati Donghae menuangkan antiseptik ke luka Yoona dan membalutnya dengan plester.

Lagi-lagi Yoona dapat merasakan jantungnya berdegub kencang dan keringat yang mengucur dari tubuhnya. Yoona memberanikan dirinya untuk menatap wajah lelaki dihadapannya itu. Ia dapat melihat manik kecoklatan dari mata namja itu, sangat indah.

“Nah, selesai.” Ucap Donghae saat sudah selesai mengobati luka Yoona. Disaat bersamaan, mata mereka bertemu dan membuat keduanya salah tingkah. Yoona dan Donghae terdiam, mereka bingung akan membicarakan topik apa.

“Errr… Baiklah Sajangnim. Mungkin lebih baik Aku akan kembali bekerja.” Yoona berjalan menuju pintu ruangan Donghae. Langkahnya terhenti saat ada sesuatu yang menahan tangannya, ya didapatinya Donghae sedang mencengkram lengannya.

“Lebih baik hari ini Kau libur saja. Aku tidak ingin lukamu semakin parah.”

“Aniyo, gwenchana.” Yoona melepas cengkraman Donghae dan keluar dari ruangan Donghae.

“Biar Aku yang memotong sayuran itu.” Yoona menghampiri Yuri yang sedang konsentrasi memotong sayuran. “Eh? Kau baru saja terluka. Lebih baik jangan deh.” Jawab Yuri khawatir

“Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.”

“Jangan Yuri, biar aku saja.” Cetus Donghae begitu memasuki dapur. Donghae menggulung tangan kemejanya dan membuka kancing atas kemejanya.

“Aigoo, tidak usah biar Aku saja.” Ucap Yuri sedikit terbata.

“Tidak perlu, Kau urus saja pelanggan didepan, biarkan Aku dan Yoona yang didapur memasak hidangannya.” Donghae mendorong keluar tubuh Yuri yang masih berhamburan dengan bumbu-bumbu masakan yang mengenai bajunya.

“Baiklah, Yoona-ssi tugasmu kali ini merebus sayuran-sayuran itu dan mencuci buah-buahan yang ada disana.” Perintah Donghae membagi tugas. “Untuk saat ini Aku menjauhimu dari tugas-tugas yang dapat membahayakan dirimu, arraseo?.” Tambahnya.

“Ne, Arraseo.” Ucap Yoona terpaksa, dengan wajak murung Ia pun mengerjakan apa yang diperintahkan bosnya itu.

“Hei, Im Yoona! Kalau pekerjaan Kita selesai, Aku akan mentraktirmu kopi, bagaimana?.” Saran Donghae tersenyum lebar.

“Jeongmal? Baiklah.” Ucap Yoona riang, Ia pun dengan penuh semangat mengerjakan tugas-tugas yang dilimpahkan Donghae padanya.

Donghae yang sedari tadi memperhatikan Yoona hanya tersenyum kecil melihat pegawai wanitanya itu, ada sisi menarik dari yeoja itu.

Kring…Kring…Kring

“Yeoboseyo.” Sapa Donghae pada orang dibalik handphonenya.

“Yeoboseyo. Hae-ah! Malam ini apa Kau sibuk?.” Sahut orang dihandphone itu.

“Mianhae, hari ini pelanggan sangat banyak berdatangan. Kebetulan sekali, Jessica,apa Kau mau membantuku bekerja di dapur?.”

“Iya, Aku sudah berada di depan restaurantmu, Aku akan segera ke dapur, Kau tunggulah.”

“Ne.” Ucap Donghae lalu mematikan percakapannya di telepon, Ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya kembali sembari tersenyum kecil.

Yoona yang posisinya tidak jauh dari Donghae dapat mendengar dengan jelas pembicaraan yang dilakukan Donghae dengan seseorang yang bernama Jessica itu. Ia nampak tidak fokus dengan pekerjaannya

Tak berselang lama, orang yang dimaksud pun datang. Penampilannya santai, tapi sangat penuh style. Yeoja itu sangat keren. “Hae!.” Gadis itu memanggil Donghae begitu mendapati sosok Donghae yang sedang sibuk bekerja.

“Kau datang juga, kajja bantu Aku.” Ajak Donghae tersenyum lebar. Jessica pun dengan senang hati membantu sang pujaan hati, walaupun kali ini kencannya ditunda lagi, Ia tidak menyesalinya. Baginya jika bersama Donghae itu sudah membuatnya bahagia.

Entah mengapa kali ini ada perasaan aneh yang menjerat tubuh Yoona, Ia tahu gadis di samping Donghae itu adalah orang baik, namun Ia tidak suka jika Yeoja itu bersama Donghae.

“Puaaah! Akhirnya selesai juga.” Donghae merenggangkan tubuhnya saat melihat jam tutup sudah tiba dan pelanggan yang sudah tidak ada lagi. “Huaah, akhirnya!.” Pekik jessica, lalu menyederkan tubuhnya ke badan Donghae yang duduk di sampingnya.

“Sajangnim, aku mau membantu Yuri dulu menyusun Meja, permisi.” Ucap Yoona sopan.

“Iya, tapi hati-hati , lihat luka di tanganmu yang belum sembuh total.” Titah Donghae. “Ne.” Tuntas Yoona singkat lalu beranjak membantu Yuri.

Didapatinya Yuri yang sedang ketiduran disalah satu meja makan. Mungkin ia kelelahan melayani pelanggan dari siang dan meja-meja yang sudah rapi.

“Yul, bangunlah. Apa ada pekerjaan yang bisa kubantu? ” Yoona mengguncang lembut tubuh yuri yang sedang terlelap. “Omo! Aku ketiduran. Hmmmm, Kau bisa membantuku membawa piring ini.” Yuri menyerahkan sebuah piring kotor yang masih ketinggalan di meja makan.

Yoona meraih piring tersebut dan membawanya ke dapur. Sesampai di dapur ada pemandangan yang sangat mengejutkannya, Ia melihat Donghae sedang mengecup bibir Jessica, yeoja keren tadi. Disikapi bak di sambar petir, kali ini hatinya tersayat luka, yang rasanya lebih sakit dari luka irisannya tadi pagi.

Prang!!!!

Piring yang berada di dalam genggaman Yoona, melayang bebas jatuh ke tanah. Yoona menahan tangisnya, walau wajahnya sudah memerah, karena tidak tahan. Ia mencoba memunguti satu persatu pecahan beling itu dengan cepat-cepat, yang ada dipikirannya sekarang adalah Ia ingin jauh-jauh dari tempat itu.

Donghae dan Jessica segera menghentikan aktivitas mereka, saat mendengar sesuatu yang jatuh. Mereka melihat Yoona sedang memunguti pecahan beling tadi. Raut kesedihan terlukis jelas pada sosok yang kini sangat lemah itu.

“Cheosohamnida Sajangnim.” Ucap Yoona yang terdengar seperti menahan tangis, Ia pun segera pulang begitu tugasnya sudah selesai. Donghae menaikkan sebelah alisnya, melihat tingkah pegawai barunya itu.

“Ada apa dengan dirinya?.” Donghae menggumam sendiri dalam hati.

 

***

Yoona melangkah lemah menuju ke rumahnya. Tatapannya hampa dengan raut datar terpapar di wajahnya.

“Yoong, wae?.” Tanya Yuri yang merasa dengan chingunya itu.

“Aku rasa aku mencintai Donghae Sajangnim.” Ungkap Yoona apa adanya.

Yuri membulatkan matanya mendengar ucapan yang terlontar bebas dari bibir gadis bernama Yoona itu. “Mwo?! Tapi Donghae Sajangnim sudah memiliki Yeoja chingu, Jes..”

“Ya, Aku tahu gadis itu namanya Jessica. Aku sudah melihat mereka berciuman di depan mataku.” Seloroh Yoona menerawang kosong, Ia bahkan tidak memperhatikan tiang listrik yang akan bertabrakan dengan dirinya.

Siut…

Yuri menarik lengan Yoona yang saat ini sedang tidak enak hati. “Yoong, kuatlah! Aku tidak mau hanya karena seorang namja Kau jadi menyakiti dirimu sendiri!.” Bentak Yuri.

Tetesan air mata jatuh dari kedua mata Yoona. Ia merasa ucapan Yuri kali ini lebih membuatnya sakit, di banding saat mereka berkelahi dulu.

Yuri sangat mengerti perasaan Yoona kali ini. Saat ini Yoona sangat membutuhkan senderan dirinya yang sedang rapuh. Yuri pun mendudukkan tubuh lemah Yoona di halte bus dan menyenderkannya ke tubuh Yuri yang juga duduk di sampinya. “Uljima Yoong, ingat saat Aku menangis saat melihat Yesung Oppa bersama Sooyoung? Saat itu Kau menghiburku dengan mengatakan masih banyak lelaki di luar sana. Ucapanmu benar Aku bertemu dengan Siwon Oppa yang jauh lebih baik dari Yesung Oppa.” Kenang Yuri mengusap pelan kepala Yoona.

“Biarlah Aku menangis untuk malam ini saja. Aku ingin meluapkan perasaan ku semuanya.” Isak Yoona .

***

Donghae merasa ada yang tidak beres pada Yoona setelah kejadian malam itu. Tiba-tiba saja Yoona memutuskan pekerjaannya, padahal waktu kerjanya belum mencapai 3 minggu.

“Yuri, tinggal berapa hari lagi Yoona berangkat ke Amerika?.” Tanya Donghae pada Yuri yang sedang asyik menyiapkan hidangan pada pelanggan.

“Hemmm, besok sepertinya dia sudah berangkat.” Sahut Yuri bahagia.

“Errr~… Apa Kau tahu alasan mengapa Yoona memutuskan pekerjaannya tiba-tiba?. Dia tidak penah mau menjelaskannya secara detail saat aku menanyakan tentang itu.”

“Mollayo. Baiklah sajangnim Aku mau mengantarkan makanan ini kepada Yeoja cantik yang duduk disana.” Yuri menunjuk ke arah seorang yeoja berkacamata yang sosoknya tidak asing lagi di penglihatan Donghae.

Donghae menyipitkan matanya untuk memastikan yeoja itu apa benar Yoona. Ya dugaanya tidak salah lagi, yeoja itu adalah Im Yoona.

“Biar Aku yang mengantarkan hidangan ini kepada yeoja itu.” Donghae meraih nampan makanan yang ada di tangan Yuri, Ia pun segera berjalan mendekati meja yeoja tersebut. Sedangkan Yuri hanya  tersenyum kecil melihat kelakuan bosnya itu.

“Ini pesanan anda, agashi.”

Yoona membulatkan matanya saat melihat sosok Donghae berdiri di hadapannya. Padahal tadi Ia meminta Yuri untuk merahasiakan dirinya dari Donghae, dasar gadis usil!.

“Gomawo.” Ucap Yoona singkat. Ia melepaskan kacamata hitamnya, karena Donghae sudah mengetahui dirinya.

“Jelaskan kepadaku, mengapa Kau memutuskan pekerjaanmu tiba-tiba?.” Donghae tiba-tiba saja duduk tepat disamping Yoona yang sedang menyantap steak pesanannya.

“Ku mohon jangan bertingkah seperti itu kepada pelanggan.” Sungut Yoona sarkastik dan dingin.

“Baiklah Aku akan menunggumu hingga selesai makan.” Timpal Donghae menatap intens Yoona.

“Hentikan, Lee Donghae-Ssi! Bagaimana Aku akan menyantap makananku jika Kau terus menatap ku begitu!.”

Untuk kesekian kalinya lelaki itu menerima nada kasar dari gadis yang selama ini ia kenal sopan dan lembut itu. Donghae menarik dirinya menjauhi Yoona. Ia menatap tubuh jenjang Yoona dari kejauhan.

“Yuri-ah, berapa semuanya.” Ucap Yoona yang sudah berdiri di depan meja kasir. “Yul, jangan terima uangnya apapun itu.” Celetuk Donghae tiba-tiba.

“Baiklah, kalau begitu aku akan menaruhnya disini.” Yoona meletakkan uang 100ribu Won di meja kasir. Ia tidak peduli mau diterima ataupun tidak, Yoona pun melenggang pergi dari tempat yang membuatnya jengah.

Donghae tidak mau tinggal diam, Ia mengejar sosok Yoona yang sudah berada di luar restaurantnya. Donghae mencengkram kuat tangan kurus Yoona, menahan langkah Yoona yang hendak beranjak.

“Jelaskan padaku dulu!.” Sergahnya.

“Aku lelah Donghae-ssi.” Ucap Yoona dingin lalu melepaskan cekalan Donghae dan kembali berjalan pergi menuju mobil miliknya.

Donghae tidak ingin melepaskan kesempatannya, Ia memanggil Taemin, sepupunya yang menjadi tukang kebun di restaurannya.

“Taemin, Aku pinjam mobilmu!.” Donghae segera meraih kunci mobil Taemin yang tergantung di pojok jendela restaurant dan segera menyetir mobil itu, mengekori mobil Yoona. “Naikkan Gajiku, Hyung!.” Teriak Taemin dari kejauhan yang tidak diindahkan Donghae.

***

Yoona mengarahkan stir mobilnya menuju ke sebuah tempat yang saat itu sedang mengadakan festival permainan. Setelah memarkirkan mobilnya Ia pun masuk ke dalam festival tersebut. Ia juga mencoba jajanan yang di jajakan di tempat itu.

Seorang anak lelaki menarik dress Yoona.”Noona, bisakah Kau mengambil boneka yang ada di sana untukku.” Ia menunjuk ke sebuah arena permainan.

“Omo, kemana orang tuamu, sayang?.” Yoona berjongkok untuk menjajarkan tingginya dengan bocah lelaki itu. “Mereka disana.” Tunjuk bocah itu ke arah seorang Wanita yang berjualan bunga gula di festival itu, wajah wanita itu nampak pucat, membuat Yoona tidak tega menolak permintaan bocah lelaki itu.

“Baiklah…” Yoona pun menggandeng tangan bocak kecil itu ke tempat permainan tersebut.

“Permisi Ahjussi, aku ingin bermain game ini.” Ucap Yoona Sopan, lalu sedikit menunduk ke bawah untuk berbicara dengan anak laki-laki itu. ” Adik kecil, kau mau boneka yang mana?.” Tanyanya.

“Yang itu!…” Anak lelaki itu menunjuk ke arah sebuah boneka beruang besar yang berwarna coklat yang dipajang di pojok arena permainan.

“Hmm, Baiklah.” Yoona memberikan uang senilai 3rb won kepada Ahjussi pemilik permainan. “Agasshi, Kau hanya memiliki 3 kesempatan untuk menembak balon air itu supaya tepat.” Ahjussi itu memberika sebuah pistol yang didalamnya sudah diisi dengan peluru mainan.

Yoona mencoba untuk konsentrasi agar mengenai sasaran yang tepat.

Dor!
Tembakan pertama tidak berhasil mengenai balon itu.

Dor!
Tembakan Kedua peluru berhasil mengenai balon air tersebut, hanya saja balon itu tidak pecah.

Kesempatan terakhir membuat Yoona mulai mengambil ancang-ancang. Ia tidak mau uang 3rb Won-nya terpakai sia-sia.

“Sini, berikan padaku.” Sosok Lee Donghae tiba-tiba saja muncul di belakang Yoona. Donghae merampas pistol mainan yang ada di tangan Yoona.

Dor!
Dalam satu tembakan saja Donghae berhasil memecahkan balon berisikan air tersebut. Sehingga, Yoona dapat memenangkan hadiah boneka beruang untuk diberikan kepada bocah lelaki itu.

“Tada!!!.” Ucap Yoona riang sembari menyerahkan boneka tersebut kepada bocah lelaki itu.

“Woaaah, Gamsahabnida, Noona. Hyung Kau sung keren!.” Anak itu mengacungkan jempol,lalu menarik tangan Yoona dan Donghae berlari menuju ke arah Eommanya yang nampak kelelahan.

“Eomma. Noona dan Hyung mendapatkan ini untukku.” Jelas bocah itu. “Aigoo, gomawo.” Balas sang Eomma .

“Ahh, tidak usah begitu.” Jawab Yoona sungkan sembari tersenyum ke arah Eomma dari bocah lelaki itu.

***

Yoona merasa risih, ketika Donghae terus berjalan di sampingnya dengan santai. “Hya! Buat apa Kau terus mengikutiku?.” Tanya Yoona gusar.

“Mengikutimu? Eii. Yak! Kau ini percaya diri sekali. Memangnya yang mau pergi ke festival ini kamu saja. Aku juga butuh refreshing.” Kilah Donghae acuh.

Yoona mendengus kesal, kemanapun Ia melangkah, Donghae selalu saja mengikutinya.
“Hei! Yoona. Ayo Kita menonton pesta kembang api di sana.” Donghae menarik paksa tangan Yoona menuju tempat dimana pesta kembang api adalah acara yang sangat dinantikan pengunjung saat ke Festival tersebut.

Duar! Duar!

Perpaduan warna dan motif yang indah pada kembang api itu mampu menghipnotis setiap pengunjung yang menontonnya, termasuk Yoona dan Donghae. Keduanya tidak mengedipkan matanya.

Usai menonton pesta kembang api, keduanya pun tidak berhenti menelusuri berbagai macam hiburan di festival tersebut. Hingga akhirnya mereka berdua memutuskan untuk mencoba permainan Kincir Angin sebagai penutup kunjungan keduanya di Festival.

***

Yoona dan Donghae menepikan mobil mereka di pinggiran sungai Han. Keduanya pun duduk di Pinggir Sungai Han sembari menikmati kehangatan Hot Chocolate dan membiarkan Kedua kaki mereka merasakan aliran sungai Han yang hening.

“Bisa Kau jelaskan kepadaku lagi. Mengapa Kau berhenti dari pekerjaanmu tiba-tiba. Padahal masa kerjamu belum mencapai jangka 3 minggu.” Lee Donghae memberanikan dirinya untuk membuka topik pembicaraan.

“Ada sesuatu yang tidak dapat Ku jelaskan, ini menyangkut tentang perasaan.” Jawab Yoona tersenyum menerawang jauh ke arah sungai han.

“Perasaan? Perasaan apa?.” Tanya Donghae menatap Yoona ingin tahu. “Entahlah, cinta dan sakit mungkin.” Yoona tersenyum kembali sembari membalas tatapan Donghae.

“Hmmm, Aku rasa malam ini sudah cukup. Aku harus berkemas untuk besok. Anyeong! Senang sekali aku bisa bertemu dengan orang sepertimu.” Pamit Yoona lalu mencoba berdiri dari duduknya.

Siut~

Donghae berhasil menangkap tubuh mungil Yoona yang hampir terpeleset jatuh ke dalam aliran sungai Han.

Yoona terkejut untuk kesekian kalinya, Kini tubuhnya sedang berada di dada bidang Donghae, Ia dapat merasakan deguban kencang dari jantung Donghae, ya rasa yang sama dengan yang Ia rasakan kini.

“Kau tidak apa-apakan? Kau hampir membuat dirimu celaka akibat kecerobohanmu sendiri.” Donghae mengguncang pelan tubuh Yoona. “Ani, gwenchanayo. Gomawo.” Balas Yoona menyunggingkan senyuman dari bibir mungilnya.

“Hei, chamkkaman.” Donghae beralih ke sesuatu yang berada di bibir Yoona. Ternyata, noda itu adalah bekas Coklat yang Yoona minum tadi. Donghae mengusapnya lembut dengan jarinya. Tanpa Ia sadari jarak wajah mereka yang sangat berdekatan.

Ada sesuatu yang aneh dari tubuh Donghae, saat manik matanya bertemu dengan dengan mata kecoklatan Yoona. Perlahan-lahan ia mendekatkan wajahnya, ke wajah Yoona. Yoona juga tidak menjauhi wajahnya dari Donghae, Ia hanya diam dan menutup matanya.

Chu~

Donghae mengecup lembut bibir Yoona. Sentuhan lembut di bibir Yoona, tak membuat Yoona menolak perlakuan Donghae kepadanya. Ia malah membalas ciuman dari Donghae dan melingkarkan kedua tangannya di leher Donghae.

Donghae melepaskan kecupannya dari Yoona. Keduanya sama-sama terkejut dengan apa yang mereka lakukan tadi. “Maaf, Aku harus pergi.” Yoona melenggang pergi menuju mobilnya dengan terburu-buru.

Donghae masih terpaku di tempat mengingat kejadian memalukan yang membuat dirinya tersenyum bahagia juga. “Dia tidak menolaknya?.” Gumam Donghae yang tanpa henti terus menyentuh bibirnya.

Di lain tempat berbeda dengan Yoona yang malah semakin merasa sakit di dalam dadanya. “Untuk apa dia menciumku Jika dia masih menjadi milik Jessica. Im Yoona, Kau gadis yang bodoh!.” Umpatnya sambil terus meneteskan air mata dari kedua matanya.

“Aku yakin Dia hanya mempermainkanku.”

***

Seorang gadis yang memakai Dress selutut dengan high heels  menggeret kopernya dengan cepat dibandara Incheon untuk mendapatkan penerbangannya ke New York.

“Ini tiketnya.” Ucapnya saat menyerahkan tiket pesawatnya kepada salah seorang petugas bandara.

Karena dirasanya semua sudah cukup Yoona pun melangkah menuju ruang tunggu. Ia duduk di salah satu bangku sembari menikmati Hot Cappuchino yang sempat Ia beli di luar tadi.

Ehem..Ehem

Deheman batuk dari seseorang yang duduk di belakang Yoona. Membuat Yoona menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah asal suara tersebut.

Yoona terperangah saat mendapati sosok yang berdehem tadi adalah seseorang bernama Donghae .

“Kau mengikutiku?.” Yoona menaikkan sebelah alisnya.

“Ani, Aku hanya ingin menyampaikan salam perpisahan.” Ucap Donghae melepaskan kacamatanya. “Kau suka padaku kan?.”

“Mwo?! Mengapa Kau menanyakan hal seperti itu, bukankah Kau ingin menyampaikan salam perpisahan?.” Yoona mendengus dengan ucapan melantur Donghae.

“Terserahmu lah, Sekarang aku butuh jawabanmu. Ya atau tidak?.” Tanya Donghae sekali lagi.

“Err~ sepertinya pesawat keberangkatanku akan segera lepas landas. Aku pergi ya.” Yoona mengalihkan pembicaraan sambil berjalan menuju pesawat yang akan Ia tumpangi.

“Eits! Tidak semudah itu pergi dariku, nona Im.” Donghae mengambil tas dari tangan Yoona.

“Hya! Kembalikan!.” Sungut Yoona sambil mencoba meraih tas-nya yang di ambil Donghae.

“Jawab Aku dulu.”

“Baiklah. Iya, Aku menyukaimu Lee Donghae-ssi, dari pertama kali kita bertemu di toko buku. Apa itu sudah membuatmu puas?.” Jelas Yoona yang membuat Donghae membulatkan matanya. Yoona segera mengambil tas miliknya dan meraih sebuah pulpen beserta kertas dari dalam tasnya, lalu Ia menulis sebuah kata di kertas itu.

“Call Me, maybe.” Yoona mengedipkan sebelah matanya sembari tersenyum miris dan memberikan kertas tadi yang ternyata adalah nomor teleponnya.

Yoona pun segera pergi menuju pesawat keberangkatannya. Ia tidak memperdulikan Donghae yang kini hanya menatap dirinya tanpa mencegahnya untuk tidak pergi dari Seoul. Tak terasa bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipi mereka.

Entah atas dasar alasan apa Donghae menangis. Yoona atau Jessica. Yang jelas Ia sangat bingung dengan perasaan yang sedang mengerubunginya kini. Ia merasa dirinya sedang terjebak diantara perasaan yang sangat membingungkan baginya.

Puas ataupun sedih, yang jelas Yoona tidak dapat menjelaskannya. Perasaan yang selalu membuatnya merasa gila. Setelah penuturannya yang Ia ucapkan kepada Donghae tadi, membuat Yoona sedikit merasa lebih baik, akan tetapi kenyataan bahwa Donghae masih menjadi milik Jessica, membuat Yoona merasa ragu.

-The End-

Fuahhh! Akhirnya selesai juga xD . Mianhae kalau banyak typo dan ceritanya yang aneh. Jangan lupa kunjungi http://meiliyanapark.wordpress.com . Gamsahabnida^^

8 thoughts on “[FF Freelance] Call Me Maybe (Oneshot)

  1. kalo endingnya seperti ini author hrs tanggung jwb bwt bikin squelnya….karena sayang klo ff bagus gini ceritanya hrs ngambang 🙂

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s