One Simple, Winter Wish

One Simple Winter Wish

Title: One Simple, Winter Wish

Author: brokenpetals [Minrin1004]

Main Cast: 

  • Choi Seung hyun (Bigbang’s T.O.P)
  • Ahn Min Rin (OC)

Rate: PG 13

Length: Oneshot… or ficlet? (2,536 words)

Genre: Fluffy angst, romance

Poster: Minrin1004

Disclaimer: Annyeong~ saya author baru disini dan ini post pertama saya sebagai author tetap^^ . The storyline is purely-originally made by me and the casts are belong to God the Almighty, dan berhubung saya masih baru, kritik dan saran dari para reader sekalian sangat diharapkan lhooo. Terima kasih mau mampir^^

One Simple, Winter Wish

Min Rin’s POV

Aku menyeret kakiku malas menerobos tumpukan salju tipis di atas trotoar. Musim dingin, sejujurnya ini adalah hari yang paling kunanti selama setahun penuh. Melihat salju seputih kapas turun menyelimuti kota Seoul, dengan hembusan angin dingin yang bertiup bergesekan dengan rambutku, apa ada lagi yang lebih indah?

“Selamat datang, meja untuk berapa orang?” sapa seorang namja berkemeja putih pelayan coffee shop yang kudatangi.

Aku hanya mengangguk kecil sebagai jawaban, “Aku bersama temanku.”

Aku menyusuri cafe yang tidak terlalu ramai itu, tak butuh waktu lama sampai aku menemukan spot sempurna untukku dan dia duduk mengobrol.

“Yoboseyo?”

“Oppa, eodi isseoyo?”

“Kau, kau sudah sampai?”

“Ne, aku sudah disini.”

“Oh, geurae, aku akan tiba disana dalam beberapa saat.”

*Beep*

Kusesap caramel macchiato hangat pesananku yang baru saja datang, “Selamat menikmati,” ucapnya lagi.

Masih sambil memutar cangkir digenggamanku, entah angin apa yang membuat perkataan Appa kembali berputar di kepalaku,

“Menikah dengannya segera atau kau kunikahi dengan anak kolegaku.”

Cepat-cepat kuhalau bayangan yang akhir-akhir ini sering sekali hinggap dalam benakku. Memang benar, kurasa kami sudah cukup dewasa untuk membuat sebuah keluarga, tapi entah alasan apa yang membuatnya selalu menghindar jika pembicaraan kami mengarah kesana.

“Aku sudah semakin tua dan aku ingin melihat seperti apa cucuku sebelum aku mati.”

Genggamanku mengerat pada ujung cangkir itu. Tak mengertikah dunia bahwa mengatakan hal semacam ini kepada namja adalah hal yang memalukan?

“Tapi kami butuh waktu..”

“Waktu yang mana lagi? Apa 2 tahun waktuku tak cukup bagimu? Aku hanya ingin dia meyakiniku bahwa ia bersungguh-sungguh terhadapmu!”

Mata terpejamku benar-benar menggambarkan kejadian kala itu, baru pertama kali aku melihat Appa semarah itu. Urat-urat yang selalu terlihat tenang itu timbul di garis keriput wajahnya, menunjukkan ekspresi yang membuatku semakin tertekan. Dan ya, kali ini aku harus benar-benar bicara dengannya.

Cafe ini sudah lumayan ramai, tapi tak satupun diantara mereka adalah namja itu. Kopi yang mendingin ini sebagai bukti bahwa sudah lebih dari satu jam aku duduk disini, bergulat dengan bayangan Appa yang entah kenapa selalu memberiku tekanan tersendiri.

Kulirik ponselku yang sedari tadi tak memberi tanda apapun. Lagi, dia begini lagi. Terakhir kali aku mengajaknya bertemu untuk membicarakan ini dan dia seperti ini juga, menghilang begitu saja.

Lucu sekali, nada sambungnya kini membawaku kepada pesan suara yang ditinggalkannya.

“Tinggalkan pesanmu setelah bunyi *beep*”

*Beep*

Berat, bahkan untuk menghela nafaspun begitu berat bagiku kali ini, “Kau tidak datang lagi? Baik, kalau begitu jangan datang lagi.”

*Click*

…Namja itu,

Tanganku yang semula lemas itu mengepal dan bergetar hebat. Nafasku yang menderu tak lagi dapat kukendalikan. Baik, jika itu maumu, kali ini aku tidak akan mengejarmu lagi.

Aku memutar liontin biru pemberian Seunghyun saat dia menyatakan perasaannya padaku 2 tahun lalu. Benar, aku masih ingat jelas bagaimana senyumnya kala itu, senyum yang membuatku jatuh berkali-kali pada namja yang kali ini mungkin harus aku lepaskan.

“Aku pulang..”

“Dimana dia?”

“Bisakah kita tidak membahasnya sekarang?” jawabku tanpa menoleh sedikitpun. Hanya selangkah lagi sampai aku mencapai kenop pintu itu dan,

“Apa tuan Choi Seunghyun-mu itu mau menantangku?”

*Brakk* kubanting pelan pintu putih kamarku. Entah kemana perginya tenaga yang selama ini menopang berat tubuhku, membuatku merosot menyender di pintu itu. Tak bisakah sekali saja dunia berada dalam kendaliku? Sekali saja?

Aku melempar ponselku sampai berantakan. Sungguh aku tak sanggup lagi menahan tangis yang sedari tadi mendesak keluar. Sakit, sakit sekali rasanya untuk mengetahui bahwa aku kelelahan sendirian, lelah untuk mempertahankan hubungan yang dulu kami bangun berdua, apa baginya ini tidak ada artinya?

-o-

Author’s POV

Salju tipis yang turun sore itu seakan menghibur hati yeoja yang menangis dalam diam di ruangan biru pastel miliknya. Dan di tempat lain, entah sudah yang keberapa kalinya Seunghyun mencoba menghubungi yeoja berparas lembut miliknya itu.

“Kumohon, Ahn Min Rin, kumohon…” ucapnya memohon di line telepon yang tidak aktif itu.

Kepalannya mengerat di setir mobil di hadapannya,

“Jika saja aku datang lebih cepat..”

-o-

Isakan itu masih samar-samar terdengar dari sudut ruangan itu, kepalanya yang terasa berat itu kini terkulai lemah di pangkuan ibunya.

“Jika saja aku punya pilihan, aku tidak akan memilih orang sepertimu, namja pengecut!”

Tangan lembut yang menyisir rambut anaknya itu berhenti pada pipinya, mengusapnya lembut seakan mencoba menyalurkan sebagian kehangatan dari sosoknya.

“Pernikahan bukanlah hal yang bisa kau putuskan dengan sekali berpikir, Min Rin-ah..”

“Itu berarti dia bahkan tidak pernah memikirkannya untukku!”

“Berhentilah menangis dan bicaralah sebagai orang dewasa..”

“Bicara? Aku menunggunya di cafe itu lebih dari satu jam, dan dia tidak datang, apa aku harus menunggunya lagi? Aku lelah..”

Nafasnya terasa berat kali ini, membayangkan sosok namja itu, yang selalu ia kagumi, yang kali ini menyakitinya sampai ke dasar hatinya.

“Kumohon maafkan Appa-mu..”

“Maaf?”

“Kita akan bertemu keluarga Cho besok malam,”

Tubuhnya yang lemas itu bangkit dari rebahnya, memandang berharap pada ibunya yang tertunduk lesu,

“U-untuk apa?” ucap Min Rin serak.

“Tentang pernikahanmu..”

-o-

Ketukan pintu utama rumah itu membawa Ahn Min Soo kehadapan namja Choi yang terlihat sedikit berantakan dengan kemeja putihnya.

“Ada apa lagi?”

“A-aku, aku ingin bertemu Ahn Min Rin sebentar saja.. bolehkah?”

“Cish,— ” jawab ayah Min Rin dengan senyum terpahitnya.

—untuk apa lagi? Membuatnya menunggumu seperti orang bodoh?”

“Joesonghaeyo, ahjussi. Aku tak pernah bermaksud—”

“Bermaksud apa? Menyakitinya? Omong kosong apa yang akan kau lancarkan?”

“A-aku..”

Namja yang terlihat melemas itu terduduk dihadapan ayah Min Rin, masih dengan tekadnya, namja itu menurunkan kepalanya dan bersujud hormat di kaki Min Soo.

“Maafkan aku atas segala perbuatanku. Aku memang bersalah, aku mengakuinya, sekarang, jika tuan menyuruhku untuk pergi menjauh dari Ahn Min Rin, aku bersedia. Tapi kumohon, sekali lagi saja, berikan aku kesempatan untuk bertemu dengannya malam ini.”

Tatapan tajam Min Soo menjurus lurus kearah kepala yang tertunduk di kakinya, menelisik jika saja ada satu kebohongan yang bisa ia temukan.

Tidak, namja itu bersungguh-sungguh. Dan dia memang harus bersungguh-sungguh, karena satu kesalahan saja, tak akan ada yang tahu hal apa yang akan menimpanya karena telah berurusan dengan keluarga Ahn itu.

Min Soo yang semula berdiri kokoh itu akhirnya berjongkok membangunkan namja yang tertunduk di kakinya,

“Choi Seunghyun, lihat aku tepat di mataku.”

Dengan ragu dua mata itu menuju mata tua Min Soo yang sedang menatapnya serius,

“Katakan apa tujuanmu datang kesini.”

“Aku, aku ingin menyatakan padanya sekali lagi, bahwa aku telah jatuh cinta padanya dari detik pertama kami bertemu, sampai sekarang aku berdiri untuk meminta persetujuan ayahnya agar aku bisa menikahinya.”

Wajah tua itu terlihat mendingin, menampilkan sosok seorang ayah yang akan melakukan apapun untuk melindungi putrinya,

“Maafkan aku, Seunghyun-ssi. Tapi kau sudah melewatkannya, kesempatan yang kuberikan berkali-kali untukmu menyatakannya. Aku tahu kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu, tapi kau terlambat.”

Seunghyun terlihat terkejut dengan ucapan Min Soo yang tajam itu. Sambil memandangi pintu tertutup dihadapannya, ia mengetuknya berkali-kali, berharap ada satu lagi jawaban yang bisa ia terima.

Tubuh itu merosot di tembok putih teras kediaman keluarga Ahn, di tengah dinginnya suhu luar musim dingin Seoul, dia meratapi kebodohan yang ia lakukan hari ini.

Karena jika saja dia menemukannya lebih cepat, jika saja siang tadi dia tidak melupakan cincin itu, pasti yeoja yang kini sedang terisak di kamarnya itu sudah menjadi miliknya.

Ya, namja itu datang, tapi kebodohannya membuatnya melupakan cincin itu, cincin yang sudah ia persiapkan entah sejak kapan, membuatnya berbalik ke apartemennya untuk membawanya pada gadis yang akan diikatnya.

Tubuh kedinginan Seunghyun masih menunggu di depan pintu putih rumah besar itu, masih dengan kotak cincin berwarna biru tua yang digenggamnya erat.

“Keluarlah, Ahn Min Rin, kumohon keluarlah..” mohonnya dalam diam.

“Kau pulanglah, ini tak akan ada gunanya,” ucap sebuah suara di balik pintu yang tertutup rapat.

-o-

Hari dingin tanggal 24 Desember itu telah berlalu menampilkan langit petang Seoul yang merah keemasan. Mata besar Min Rin yang sehari lalu banjir itu kini terpoles oleh make up tipis yang mempercantiknya. Rambutnya yang ia gulung rapi menampilkan leher putih yang dihias oleh liontin bermata biru pemberian Seunghyun.

Dua tangannya menggenggam satu sama lain sambil mengucap doa,

“Tuhan, di malam natal yang suci ini aku memohon, bawa namja itu kehadapanku, bawa hatinya padaku hari ini,”

Satu lagi bulir air mata yeoja itu yang diperuntukkan untuk dia, namja bernama Choi Seunghyun. Sungguh tak ada lagi yang bisa ia lakukan jika Ayahnya sudah memegang kendali. Ya, malam ini ia akan bertemu keluarga Cho yang sudah dijanjikan Ayahnya sebelumnya.

Ia meraih handphone yang sedikit pecah itu dan merapikannya, ada puluhan panggilan tak terjawab dan pesan singkat dari namja itu. Dan lagi, air mata itu keluar membasahi pipinya yang polos.

“From: Seunghyun Oppa

Min Rin-ah kumohon, temui aku di taman kota pagi ini. Aku akan menunggumu sampai kau datang.”

“Dan aku tidak akan datang..” gumamnya sendu.

-o-

Seunghyun’s POV

*Beep, beep, beep, beep*

Rentetan nada yang nyaris sama itu menggema di telingaku, memenuhi sudut-sudut akalku yang kini tak lagi bisa diajak kompromi. Sudah kuketahui akhirnya, yang kulakukan ini tak akan membawamu kesini, atau setidaknya membawaku padamu.

Puluhan, ratusan pesan suara kutinggalkan disana berharap jika saja kau mau lagi peduli. Entah apa yang merasukiku sampai sosokmu begitu mengakar di dalam diriku, menyerap setiap fokus dan semangatku, menginterupsi segala kegiatan otakku.

Lengkungan senyum itu, tak bisakah Tuhan memberiku sekali lagi kesempatan untuk mendapatkannya darimu?

*Beep, beep, beep, beep*

Tak ada yang berubah, aku tahu sampai kapanpun nada sambung itu tak akan lagi membawaku pada suaramu. Entah itu sosokmu atau hanya kebiasaanku yang selalu menyangkut dirimu yang menjatuhkanku sedalam ini, tapi satu yang pasti bahwa dirimulah yang selalu jadi alasannya, dan sesal ini benar-benar tidak ada gunanya.

Kacau, keadaanku memang kacau sekali. Sejak pagi aku menunggunya disini, di taman yang dingin ini. Tak peduli lagi dengan suhu yang menusukku sampai ke tulang, biar, biarlah aku akan menunggumu sampai kau datang.

Aku tahu, dia akan menemui keluarga Cho itu malam ini. Tapi Tuhan, bisakah aku bertemu dengannya sekali lagi? Walau ia akan membenciku seumur hidupnya tapi kumohon biarkan aku mengatakan isi hatiku yang sebenarnya, bahwa aku mencintainya, mencintainya dengan seluruh otot dan daging yang menempel di tulang-tulangku.

Inikah sakitnya menunggu? Inikah yang kau rasakan saat kau menungguku? Sesakit inikah?

Sekali lagi aku tak peduli, bahwa pagi telah menjadi petang dan petang telah berganti malam aku akan tetap disini, di bangku taman ini, menunggunya apapun yang terjadi.

Aku tahu melakukan perjodohan itu bukanlah yang kau mau, jadi bisakah aku mendapat pedulimu sekali lagi saja, Ahn Min Rin?

-o-

Author’s POV

“Kau sudah siap?” ucap ibu Min Rin lembut.

Anggukan tanda setuju itu melengkungkan senyum wanita paruh baya yang menatap putrinya khawatir.

“Tapi bisakah aku keluar sebentar?”

“Tentu saja, kami akan menunggumu.”

Dan disana, diujung taman itu Min Rin menatap ragu namja yang duduk tertunduk di bangku taman yang berselimut salju tipis. Dengan keberanian yang tersisa ia menghampiri namja itu dan duduk tepat disampingnya.

“M-min Rin-ah—” ucap namja itu terbata.

Gadis itu tak punya niatan sama sekali untuk menatap mata menuntut namja disampingnya. Lalu hening, tak ada satu suarapun yang dikeluarkan dari keduanya, seakan dunia lupa bahwa dua orang itu adalah orang yang saling mencinta.

Satu, dua, tiga menit berlalu, masih dalam diam mereka berdua tersiksa oleh suasana membunuh ini. Tidak, yeoja itu tidak cukup kuat menahannya, membuatnya bangkit dari duduknya dan berniat untuk pergi meninggalkan namja yang kali ini kesusahan bahkan hanya untuk membuka suara.

Tangan besar namja itu mengikat kuat lengan mungil milik Min Rin, dekapan hangatnya dari belakang membuat yeoja itu kembali terisak.

“Jangan pergi, Ahn Min Rin..”

“..apa aku punya pilihan?” jawabnya serak.

“Tetaplah bersamaku, tetaplah jadi milikku”

Yeoja itu memejamkan matanya, merasakan hangatnya lengan besar yang melingkar di pinggang dan lehernya.

“Seharusnya kau datang, seharusnya kau menemuiku, seharusnya kau menjelaskannya pada ayahku, seharusnya kau—”

Namja itu berlutut dihadapannya, dengan kemeja putih yang ia kenakan kemarin saat ia berniat untuk menemui yeoja itu, ia membuka kotak biru kecil berisi sebuah cincin yang tak pernah sekalipun lepas dari genggamannya sejak kemarin. Takut, namja itu terlalu takut untuk melepasnya, takut jika ia kehilangan cincin itu lagi, takut jika ia membuat yeoja itu menunggunya lagi.

“Ahn Min Rin, narang gyeorhonhae jullae?” (Ahn Min Rin, will you marry me?)

Beku, yeoja itu membeku di tempatnya berdiri, tak punya kuasa untuk mengendalikan entah perasaan apa yang membanjiri dirinya. Karena sekarang, namja itu, namja bersenyum tipis itu melamarnya tepat di malam natal. Dengan semua riuh rendah orang-orang yang sedang merayakannya, dengan semua lampu-lampu yang menghiasi taman itu. Disana, namja berkemeja putih yang begitu lusuh, meminta izinnya untuk bisa menikahinya.

“Jadilah teman hidupku, Ahn Min Rin, jadilah ibu dari anak-anakku, jadilah pengantin tercantikku.”

Diraihnya tangan bergetar gadis itu, maksudnya untuk menyematkan cincin itu di jari manis Min Rin terhenti saat telapak itu menghindar.

“W-waeyo?”

“Bangunlah, Seunghyun-ssi.” Ucapnya serak.

Tangan kurus gadis itu merapikan lipatan kemeja putih dipundak namja itu, air matanya yang mengalir kontras sekali dengan senyum tipis di bibirnya.

“Kau namja yang kukagumi, dan kau pikir apa yang kau lakukan untuk menungguku datang di taman yang sedingin ini? Apa itu terdengar romantis bagimu? Ish, tidak, itu adalah tindakan bodoh—”

Yeoja itu menghapus jejak air mata yang mengalir deras di pipinya. Tanpa isakan, tanpa emosi, hanya aliran air mata disela bicaranya.

“Demi bumi dan langit aku benar-benar mencintaimu, Ahn Min Rin.”

Masih dengan mengusap pundak namja itu, matanya yang sejak tadi entah berfokus kemana kini memberanikan diri untuk menatap dua bola mata indah milik Seunghyun.

“Aku tahu.. tapi jika aku bilang ini sudah tak sama, apa yang akan kau lakukan?”

“A-apa maksudmu…”

“Kau sudah tahu dari jauh-jauh hari bahwa Ayahku akan menikahiku dengan putra keluarga Cho dan kau, kau tidak melakukan apapun..”

“A-aku—”

“Biarkan aku menyelesaikan bicaraku, Oppa.”

Ditatapnya mata basah Min Rin yang terlihat begitu sakit, tak tahukah dia bahwa namja itu juga kesakitan?

“Sekarang adalah harinya, hari dimana kesempatanmu berakhir, dimana Ayahku tak lagi mau tahu alasanmu. Karena sekeras apapun aku menentang, aku tak akan bisa melawannya, dan aku tak mau melawannya..”

Bibir itu terhenti sejenak, menghirup oksigen sebanyak banyaknya. Sesak, memang menyesakkan, mereka berdua dicekik rasa takut, takut akan kemungkinan terburuk jika keduanya terpisah.

“Aku akan menemui keluarga Cho hari ini..”

“T-tapi—”

“Jaga dirimu baik-baik, Oppa.” Sambungnya sambil menahan air matanya.

Senyum itu, senyum termanisnya timbul begitu saja saat tubuh itu berputar meninggalkan Seunghyun yang membeku menggenggam cincin yang ditolaknya. Namja yang lusuh dan kedinginan itu mematung memandangi punggung Min Rin yang bergerak menjauh,

“Aku akan buktikan bahwa aku bisa mengalahkan tuan Cho kebanggaan Ayahmu, Rinnie-ah.” Ucap namja itu dengan suara berat khasnya.

Yeoja itu menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadapnya. Sekali lagi, senyum yang selalu menjadi sumber kekuatan namja itu kini melengkung indah di wajah manisnya.

“Aku akan menunggumu,” jawabnya di sela senyumnya.

Min Rin berjalan menjauh dari Seunghyun yang terlihat masih dalam sikap berdirinya. Kini ia yakin yang ia lakukan itu benar, karena ia kini tahu bahwa namja itu benar mencintainya, karena ia ingin sekali saja merasakan bagaimana bahagianya saat dia yang kau cinta mengerahkan seluruh yang ia punya untuk memilikimu, ia ingin sekali saja, merasakan dada yang sesak karena perasaan bernama cinta yang memenuhi seluruh bilik dan serambi di jantungnya.

Kata-kata yeoja itu mengembalikan seluruh kepercayaan dirinya, bahwa pemilik senyum termanis itu bersedia untuk menunggunya, tak peduli bagaimana takdir mengatur permainannya, dia tahu pada akhirnya Ahn Min Rin hanya akan berakhir dalam pelukannya.

Matahari terbenam yang keemasan menyorot tumpukan salju yang membuat kilauan indah di sudut taman itu, mengantar Min Rin menjauh dari namja tinggi yang tak melepaskan sedikitpun pandangannya dari punggungnya.

Di ujung lelahnya, namja itu menunduk menatap cincin putih digenggamannya,

“Aku berjanji aku tidak akan kalah,

Selamat natal, Ahn Min Rin.”

-the end-

Gimana? Ancur? Ya maklumi saja lah yaaaa *plak 

Tapi once again, thank you, thank you, thank you for reading^^

13 thoughts on “One Simple, Winter Wish

  1. Thor, alurny kcepatan tp, it menurt saia #readergataudiri
    okesip troublemaker is in da house ya!!! Wkekeke. . . Si serigala hyunseung kan thor?
    Oke, lnjut2 :33

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s