[FF Freelance] Speechless (Ficlet)

speechless

Speechless by Tannew

Cast: Nichkhun B. Horvejkul & Tiffany Hwang | Genre: Romance | Rating: PG-13 | Length: Ficlet | Disclaimer: Inspired by Speechless, Lady Gaga’s lovely song.

Enjoy juseyo♥

===

“Jadi apa yang ingin kau bicarakan, Khun?”

Tenggorokan Nichkhun tercekat. Dia benar-benar tidak bisa mengeluarkan segala sesuatu yang telah ia persiapan dengan baik di rumah. Ia menggigit bibirnya kencang, mungkin hingga sedikit luka dan mengeluarkan darah. Tangannya gemetaran dan dengan kaku ia menggaruk bagian tengkuknya.

“A-aku..”

Tiffany menunggu apa yang akan Nichkhun katakan dengan santai. Ia bahkan tersenyum lebar dengan mata berbinar. Masalah-masalah di kampusnya terasa hilang ditelan jutaan malaikat, ia hanya dapat tersenyum menatap pemuda tampan turunan Thailand itu tidak nyaman di kursinya sendiri, seperti ada baja panas di sana.

Tangan-tangan jam dinding di café itu bergerak dengan teratur. Detik demi detik, menit demi menit, menunggu tanpa kepastian. Pemuda yang menjadi peran utama dalam konflik batin dan logika ini tidak dapat membuka suara sedikitpun. Ia melihat pancaran kecerahan di wajah Tiffany dan itu membuat keberaniannya sebagai laki-laki kian melemah.

Jantung Nichkhun berdetak cepat. Bagaimana bisa ia menjadi pemuda tidak tahu malu macam ini? Ia menarik kelopak matanya dan berkedip sekian kali. Ini tidak akan menyelesaikan apapun. Berdiam diri seperti orang tolol tidak akan membuat segalanya menjadi lebih baik.

Akhirnya, Nichkhun menarik oksigen untuk mengisi paru-parunya dan memerintahkan jantungnya untuk tidak berdetak dengan kecepatan tidak normal. Ia meyakini keputusan yang ia buat, dan ia yakin untuk tidak menunda-nundanya lagi.

Sekarang, gumam Nichkhun.

“Tiffany,” ujar Nichkhun sambil menggenggam tangan Tiffany. “a-aku, aku ingin kita mengakhiri semua ini.”

Dunia serasa terhenti sejenak setelah Nichkhun selesai berbicara. Aura di antara mereka kian menegang. Dengan segenap keberaniannya, Nichkhun menatap kedua mata Tiffany yang terbuka lebar. Nichkhun paham segala kesedihan yang terpancar dari mata terindah yang pernah ia tahu setelah mata ibunya. Dan Nichkhun mengutuk dirinya sendiri karena mata itu kini memancarkan kesedihan karena dirinya.

Tiffany masih terdiam dan perlahan kepalanya tertunduk. Ia membendung gejolak emosi dan air mata. Dua tahun bersama hanya waktu yang terbuang sia-sia. Segala mimpi indah dan rencana-rencana hidup semati mereka terasa bagai sampah dan omong kosong sekarang. Setelah meneguhkan hatinya, Tiffany mendongak dan menatap balik Nichkhun dengan mata yang tenang, seperti gejolak batin terkutuk itu tidak pernah ada.

“Tiffany, aku tidak bermaksud kejam, tapi..” Nichkhun menghela napasnya dan mengeratkan genggamannya, “aku sudah kehilangan perasaanku padamu sejak lama.”

Ini lebih menyakitkan dari apapun di hidupnya. Perlahan namun pasti, Tiffany menarik tangannya dari genggaman Nichkhun dan mengelus perlahan punggung tangan bekas genggaman itu. Genggaman hangat tadi berubah seketika menjadi dingin dan menusuk, juga penuh dusta. “sejak kapan tepatnya?”

“Sejak…”  Nichkhun menatap cangkir kopinya dengan tatapan menyesal, “..peringatan hari jadi kita yang ke satu tahun.”

Nichkhun menatap Tiffany dengan ragu. Namun ternyata wanita itu justru tertawa kecil dan menggigit bibir bawahnya. “aku tidak menyangka kau begitu kuat, Nichkhun-ssi.”

Nichkhun mengernyit, “M-maksudmu?”

“Betapa kuatnya kau bertahan sekian lama, menghadapi egoku yang semakin meninggi setiap harinya. Dan betapa busuknya pernyataan cintamu beberapa hari yang lalu. Dan betapa manisnya kebohongan ini.” Tiffany semakin kuat menahan air matanya.

“Aku mengerti semuanya, Nichkhun. Aku mengerti betapa bosannya batinmu menunggu untuk mengatakan semua ini. Terima kasih sebesar-besarnya untuk tidak melanjutkan sandiwaramu yang menyedihkan. Aku sangat mengapresiasinya.”

Nichkhun kembali mencaci maki mulut, otak dan hatinya. “bukan begitu maksud…”

“Aku mulai mengerti semuanya sekarang. Semuanya terlihat begitu jelas dan sederhana,” Tiffany mengedarkan pandangannya ke seluruh isi café untuk menahan air mata yang sudah menggantung di pelupuk mata, “Aku mengerti mengapa kau menjalin hubungan rahasia dengan teman sekampusmu, Im Yoona.”

Batin Nichkhun tertohok sedemikian keras. Bagaimana ia tahu?

“Aku juga mengerti mengapa kau sering pergi mencari wanita-wanita malam di klub setiap hari Sabtu. Aku mengerti mengapa kau selalu membatalkan janji untuk bertemu denganku dengan alasan mengerjakan skripsi yang pada kenyataannya sudah kau serahkan pada dosen pembimbingmu. Aku mengerti mengapa nada suaramu di telepon selalu tidak bersemangat, dan beberapa kali kau menolak panggilanku. Itu semua karena perasaanmu telah raib, bukan? Namun satu yang tidak aku mengerti, Khun.” kini Tiffany menyerah pada dirinya sendiri, ia melampiaskan pada air mata yang mulai turun sedikit demi sedikit membasahi make upnya. “Mengapa…mengapa kau berubah dari sesosok malaikat menjadi…bajingan?”

Kini ia benar-benar menyalahkan dirinya sendiri. Nichkhun menerima cercaan Tiffany yang dibarengi fakta, karena itulah kenyataannya. Ia mabuk setiap malam Sabtu, bercinta dengan wanita-wanita malam yang kecentilan, menyatakan cinta pada Im Yoona, gadis impian lelaki seisi kampus, membatalkan janji-janjinya dengan dusta yang ia buat, beberapa kali mereject telepon dari Tiffany dan berubah menjadi bajingan. Tapi ia terlanjur muak dengan sandiwaranya sendiri, Nichkhun sudah mencapai titik lelahnya.

“Angkat kepalamu itu.” ujar Tiffany dengan tegas. “tatap aku, Nichkhun Buck Horvejkul!”

Dengan kaku Nichkhun mengangkat wajahnya dan menatap Tiffany lembut. “Aku minta maaf. Aku minta maaf padamu, Tiffany. Aku tidak pantas memilikimu lebih lama lagi. Aku muak, bukan kepadamu, tapi pada kebohonganku. Semua ini menjadi lebih menyakitkan daripada yang aku kira. Dan…”

“Cukup.” Tiffany menelan air liurnya. “aku harap kita tidak akan pernah bertemu lagi.”

Mata Nichkhun melebar dan tangannya berusaha menggapai punggung tangan Tiffany. “T-tidak, dengarkan dulu..”

“Aku berharap dapat mengulang dua tahun lalu dan memberikan hatiku untuk orang lain yang bisa menjaganya lebih baik. Dua tahun ini menjadi sia-sia dan penuh dusta, Nichkhun. Mungkin bila kau mengatakannya lebih awal, tidak akan lebih sakit dari ini. Tapi kurasa ini memang yang terbaik untuk kita berdua. Keputusanmu tepat sekali.”

“Doaku setiap harinya pada Tuhan sepertinya dikabulkan. Kau menyadari semuanya, bahwa perasaanmu padaku tidak ada. Atau mungkin tidak pernah ada?”

Diiringi tawa menyakitkan, Tiffany menepis tangan Nichkhun kasar, “Di sini, di café tempat kita pertama kali bertemu dan memutuskan untuk menulis kisah dusta bersama, tak pernah kusangka akan menjadi tempat kita mengucapkan selamat tinggal.”

“Aku hanya berharap kau tidak menyesal dan berbahagialah.”

Tiffany menautkan tasnya di pundak kanan, lalu melangkah cepat keluar dari café. Meninggalkan Nichkhun yang masih terpaku dan penuh penyesalan, terdiam di tempat duduknya. Ia memang tolol, memutuskan untuk lepas dari ikatannya dengan Tiffany. Perasaan menyesal itu kian memuncah sekarang. Perlahan, perasaan kehilangan juga datang beriringan. Dan kini dirinya dikuasai oleh suasana yang tidak menentu.

Detik itu Nichkhun memperhatikan kesendirian cangkir kopi Tiffany yang hanya diminum setengahnya. Bila Tiffany menginap di rumah Nichkhun, ia akan menyodorkan dua cangkir hangat yang akan mereka nikmati berdua pada pagi hari. Ia sangat menyukai kopi, dan karena itu Tiffany dan Nichkhun dapat berjumpa di sini.

Nichkhun bersumpah ia harusnya merasa senang terbebas dari belenggu sandiwaranya, namun justru ia merasakan gejolak diri untuk menarik Tiffany kembali ke sisinya. Ia berani bersumpah perasaan itu bagaikan keluar dari persembunyian. Perasaan cintanya pada Tiffany yang menghilang begitu saja sekian lama, kini muncul di saat semuanya telah terjadi.

Ia menolehkan kepalanya ke arah luar jendela. Tiffany masih di pinggir jalan sembari menyeka air matanya. Nichkhun menyipitkan matanya. Sebuah mobil hitam pekat berhenti tepat di depan Tiffany. Dengan wajah yang cerah, Tiffany menyambut seseorang yang keluar dari mobil itu. Mereka juga berciuman singkat, lalu Tiffany masuk ke mobil.

Tunggu. Mereka berciuman?

“Brengsek.”

Tanpa aba-aba Nichkhun berlari keluar café dan berusaha mengejar mobil itu. Ia terus berlari dan berlari tanpa peduli butiran-butiran salju yang turun dari langit menerpanya.

“Tiffany! Ya! Tiffany Hwang!”

Nichkhun berteriak seperti orang gila di pinggir trotoar. Kecepatan larinya terus ia pacu demi mengejar mobil itu. Ia tidak memperdulikan pejalan-pejalan kaki yang melihatnya dengan tatapan heran. Ia terus berlari demi sesuatu yang telah ia lepaskan untuk pergi.

Mobil itu seperti menyadari keberadaan Nichkhun, memacu kecepatannya lebih kencang. Nichkhun menyerah, ia terduduk di trotoar beku di Kota Seoul. Ia menangisi dirinya sendiri yang terlampau menyedihkan. Caci maki dan umpatan pada perasaan cintanya untuk Tiffany ia lontarkan sambil terus menangis.

Tiba-tiba ponselnya bergetar dan meronta-ronta untuk diangkat. Dari Tiffany, gumam Nichkhun sembari menekan tombol hijau berlambangkan gagang telepon dengan cepat. “Tiffany-ah! Tiffany! Maafkan aku, kumohon dengar…”

“Nichkhun,” ujar Tiffany di seberang telepon. “manusia memang selalu menyesali apa yang pernah menjadi milik mereka. Semoga, kau tidak pernah melakukan ini lagi pada siapapun. Cukup padaku.”

“Tiffany…” terdengar suara Nichkhun yang bergetar hebat, “kumohon kembali…”

“Tidak. Selamat tinggal.”

=the end=

 

 

A/N:

Q : Heh ente siapa maen nongol di readfanfiction?

A : Doh bang ane Tannew, yang ngarang Cleansing Cream T_T

 

Q : Oh ente! Ente kenapa gak ngepos Junho Side Story hah?!

A : Ampun bang, ane banyak tugas. Terus gegara kagak nulis-nulis jadi ilang idenya-_-

 

Q : Elah. Ini ngapa ceritanya kagak jelas? Doh.

A : Maklum bang, ane amatiran. Dapet ide di kamar mandi pula.

 

Q : Idih ente malu-maluin. Nah ntu yang nyium si Tipani siape?

A : Ntu kan si Nikun selingkuh di belakang Tipani, nah si Tipani kek mau bales dendam gitu

 

Q : Oh begono! Ntu ngapa panjangnya vinyet?

A : Elah bang jangan kampungan! Vignette, soalnya ane gak pernah liat ff vignette bang e_e

 

Q : Terus judulnya ngapa speechless?

A : Oh ntu gegara akhirnya mereka berdua speechless. Tiffany speechless pas di putusin, Nichkhun speechless pas ada yang nyium Tiffany._.

 

Okedah. Comment ditunggu eak<3 salam kecup dariku.

42 thoughts on “[FF Freelance] Speechless (Ficlet)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s