Dreadful Scandal [Part 5]

Dreadful Scandal

Title : Dreadful Scandal

Author : RettaVIP

Length : Chapter

Rating : T

Genre : Romance, Drama

Main Character : G-Dragon (Bigbang) & CL (2NE1)

Side Character : The rest of Bigbang and 2NE1 members & the whole YG Family members

Previous Chapter : Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4

CL’s POV

“TIDAKKKKK!!!”

Aku berteriak sekuat tenaga. Aku tidak percaya, semua ini pasti omong kosong. Jiyong tidak mungkin pergi meninggalkanku, tidak sebelum aku mengatakan aku memaafkannya. Jiyong tidak mungkin selemah itu. Dia adalah pria yang kuat. Tanpa memedulikan keadaan sekitarku, aku berlari ke arah pintu ruang ICU, berniat untuk membukanya dengan paksa dan melihat keadaan Jiyong dengan mata kepalaku sendiri.

Selangkah sebelum aku mencapai pegangan pintu, TOP memelukku dengan erat, menahanku dari keinginanku untuk masuk ke dalam ruang ICU. Aku meronta-ronta dan berusaha menggapai pegangan pintu. TOP tidak melepaskanku. Sedikitpun ia tidak melonggarkan pelukannya. Tangisanku meledak, aku berteriak-teriak seperti orang kesetanan.

Jiyong Oppa tidak mungkin pergi. Jiyong Oppa tidak boleh pergi.   

Aku terus mengulang kata-kata itu di benakku. Membohongi diriku sendiri untuk percaya Jiyong masih hidup. Aku memukul-mukul tubuh TOP membabi buta dengan harapan TOP akan melepaskan pelukannya dan membiarkanku masuk untuk bertemu Jiyong. Tatapan mata TOP akhirnya bertemu denganku. Dia menatap mataku lekat-lekat. Aku bisa melihat pancaran kesedihan dari matanya, aku tidak mengerti kesedihan apa itu. Aku menghentikan tindakan melawanku sementara dan membiarkan TOP memelukku. TOP menghapus air mataku dengan lengan bajunya, yang sama saja dengan sia-sia karena air mataku tetap jatuh kembali setelah dikeringkan.

“Pergilah.” bisik TOP lembut pada telingaku.

TOP melepaskan pelukannya. Aku berlari dengan liar menuju ruang ICU. Semua tatapan mata para perawat menuju padaku, aku tidak peduli. Aku menepis semua tangan-tangan yang berusaha menahanku masuk. Aku tidak akan berhenti, tidak sebelum aku bertemu Jiyong.

Dari mataku yang buram karena air mata, aku dapat melihatnya. Di sanalah dia, terbaring tak bernapas di atas kasur, dikelilingi oleh orang-orang berbaju hijau. Mataku mencari-cari sekitar, mencari alat pendeteksi denyut jantung. Putus sudah harapanku ketika aku melihat angka 0 terpampang besar-besar di layarnya. Benarkah Jiyong akan begini saja meninggalkanku? Tanpa mengatakan apa-apa? Lututku mendadak menjadi lemas. Aku jatuh berlutut. Badanku bersandar pada dinding, pandanganku menerawang. Semua ini, tidak mungkin. Aku hanya terdiam dan menyaksikan kepanikan yang ada di depanku.

“Bawa alat pemacu jantung. Cepat.” teriak seorang dokter.

Seorang perawat berlari-lari mendorong sebuah alat yang disebut sebagai pemacu jantung tersebut. Alat itu bertenagakan listrik, mungkin listrik itu yang akan digunakan untuk memacu jantung agar kembali bekerja.

“Kekuatan penuh. 1..2..3.” teriak dokter sambil menekankan alat pemacu jantung itu pada dada Jiyong. Tubuh Jiyong tersentak. Alat pendeteksi denyut jantung menunjukkan reaksi. Kemudian reaksi itu menghilang selang beberapa detik.

“Sekali lagi. 1..2..3.” teriak dokter semakin panik. Mereka melakukan hal yang sama berulang kali, berusaha untuk membangkitkan Jiyong kembali sebelum semuanya terlambat. Aku menundukkan kepala, tidak berani untuk melihat, ataupun menerima kenyataan pahit.

Jiyong Oppa. Tolong, jangan pergi.

Pip………Pip……….Pip………..Pip……….

Apa itu? Suara apa itu? Apa aku salah dengar? Bukankah itu suara denyut jantung? Kepalaku terangkat perlahan-lahan. Pandanganku terarah pada alat pendeteksi langsung secara otomatis. Alat itu menunjukkan angka 20, 30, 40, dan terus meningkat. Apa aku tidak salah lihat? Suara tawa dan sorak sorai kegembiraan mulai terdengar dari dalam ruangan ICU. Angka itu menetap ketika sampai 60, dan tetap 60 untuk beberapa menit setelahnya. Jiyong….bernapas? Jiyong bernapas!

JIYONG OPPA HIDUPP!!!!

Aku bangkit berdiri dengan penuh semangat. Tenagaku serasa berkumpul kembali. Dengan senyum lebar sampai ke pipi, aku berlari keluar dari ruangan ICU, siap untuk memberitakan kabar gembira ini pada semua orang.

“Jiyong Oppa hidup! Jiyong Oppa hidup!” Aku meneriakkan kata-kata itu berulang kali. Aku memeluk TOP yang sedari tadi masih mematung, berdiri di depan pintu ICU.

TOP memandangku dengan bingung. Taeyang, Seungri, dan Daesung bangkit dari tempat duduk mereka dan melihat ke arahku.

“Dokter berhasil menyelamatkannya. Jiyong Oppa hidup!” ulangku sekali lagi.

Tepat pada saat itu, dokter keluar dari ruang ICU. “Kami berhasil menyelamatkan pasien Kwon Jiyong. Denyut jantungnya mencapai 60 detak per menit. Suhunya sekarang mencapai 18 derajat celcius dan terus meningkat. Bila keadaannya terus membaik, maka kemungkinan tercepat, dia sadar besok pagi, tapi bisa juga lebih lama, tergantung keadaannya. Kami akan memantau keadaannya lebih dulu, memastikan keadaannya tidak akan drop secara tiba-tiba seperti tadi lagi. Permisi.” Dokter kembali masuk ke dalam ruang ICU.

TOP menjerit senang diikuti Seungri, Daesung, dan Taeyang. Mereka berempat memelukku secara bersamaan. Aku bisa merasakan kebahagiaan mereka. Aku juga senang, sangat senang. Akhirnya, aku dapat bertemu Jiyong sekali lagi.

Cepatlah sadar Jiyong Oppa, masih banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu.

Mereka berempat mengajakku ke kantin untuk makan, mengingat kami sedari pagi belum makan apapun karena khawatir akan Jiyong. Sekarang setelah keadaan Jiyong membaik, rasa lapar pun mendatangi kami. Kami berlima berjalan dengan riang menuju kantin rumah sakit. Aku sangat senang, aku belum pernah merasa sesenang ini seumur hidupku.

Tiba-tiba TOP menanyakan, “Kenapa Jiyong menjadi seperti ini? Chaerin, kamu yang terakhir kali bertemu dengannya kan?”

Ini dia. Akhirnya saat ini datang. Saat yang paling kutakuti. Kenyataan tentang aku yang menyebabkan Jiyong seperti ini sebentar lagi akan terbongkar. Mereka semua akan membenciku, pasti. Aku menguatkan diriku, berusaha menerima kalau nanti mereka akan menyalahkanku dan membenciku. Aku sedikit menyayangkan persahabatanku dengan mereka, terutama TOP, dia adalah orang yang baik. Tapi, aku tak dapat melakukan hal lain. Aku tidak bisa kabur dari kenyataan ini.

“Semua ini, salahku.” kataku pelan. Aku menundukkan kepala, aku tidak berani menatap wajah mereka semua. Aku bisa merasakan kebingungan yang terpancar dari mata mereka, bertanya-tanya kenapa semua ini menjadi salahku seorang.

Aku menceritakan semuanya kepada mereka. Semuanya, dari awal usaha Jiyong minta maaf kepadaku di dorm 2NE1, ketika aku menamparnya karena tidak mau mendengar penjelasannya, ketika Jiyong berdiri di balkon depan kamarku di tengah hujan badai dan aku tidak membukakan pintu baginya, meninggalkan dia begitu saja dan pergi tidur. Sampai ketika aku menemukan dia keesokan paginya terkapar tidak sadar di balkon dengan keadaan basah kuyup, bibir biru, dan kulit pucat pasi. Aku juga menambahkan ketika aku membawanya masuk ke dalam kamarku, menghangatkannya, dan saat aku menyadari keadaan Jiyong tidak membaik, aku memanggil TOP, lalu kami ke rumah sakit.

Mereka semua terdiam setelah mendengarkan ceritaku. Di antara kaget dan tidak percaya. Mereka saling menatap satu sama lain, mencoba mencerna cerita mengerikan yang aku sampaikan. Sepertinya mereka tidak percaya bahwa aku bisa setega itu pada Jiyong. Aku juga menyesal, kenapa aku bersikap kekanak-kanakan seperti itu. Betapa bodohnya aku.

Seungri tiba-tiba berdiri, memecah kesunyian di antara kami. Kami serentak menoleh ke arahnya. “Kau tega sekali Chaerin. Kau kejam. Kalau telat sedikit saja bisa-bisa Jiyong Hyung meninggal. Kau hampir membunuhnya. Kau….” Seungri tidak menyelesaikan kata-katanya. Ia berlari meninggalkan kantin rumah sakit. Daesung dan Taeyang mengikutinya, berusaha untuk menenangkannya.

Aku tahu hal ini pasti terjadi. Aku menundukkan kepalaku kembali. Tiba-tiba TOP menggenggam tanganku di bawah meja. Aku menoleh padanya dengan kaget. Dia masih di sini? Dia tidak meninggalkanku?

“Jangan pikirkan Seungri. Dia memang begitu. Cintanya kepada Jiyong sangat besar, melebihi sayang kepada saudaranya sendiri. Jadi maklumilah, dia yang paling terpukul dengan kejadian ini. Dia butuh waktu untuk menenangkan diri. Aku yakin dia pasti memaafkanmu nanti.” TOP tersenyum padaku.

Aku terharu, TOP membelaku. Ketika semua orang meninggalkanku, dia tetap berada di sini, dia percaya padaku. Aku memeluknya, tanda terima kasih. TOP memang benar-benar bisa diandalkan. Perasaan nyaman selalu ada setiap kali berada di dekatnya.

“Ayo kita kembali ke ruang tunggu. Jangan takut, ada aku di sebelahmu.” kata TOP lembut sambil mengelus kepalaku.

“Terima kasih Oppa.” Aku tersenyum lemah dan mengikutinya kembali ke ruang tunggu.

Di dalam ruang tunggu ternyata sudah semakin ramai, selain 3 member Bigbang, ada member 2NE1 lainnya, Yang Hyunsuk, dan beberapa dancer YG. TOP merangkul pundakku, berusaha untuk menguatkanku. Aku merasakan usahanya dan mengambil napas panjang. Aku siap menghadapi semua ini.

Yang Hyunsuk berdiri begitu melihatku dan bertanya, “Benarkah semua yang dikatakan Seungri?”

Aku mengangguk pelan dan tidak mengangkat wajahku kembali.

“Aku kecewa padamu Chaerin. Jangan berani-berani kamu mengulang perbuatan kekanak-kanakanmu ini lain kali. Untunglah Jiyong sekarang sudah membaik.” Yang Hyunsuk lalu duduk kembali.

“Maaf.” kataku padanya. Aku tidak dapat memikirkan kata-kata lain untuk kuucapkan. Memang benar semuanya ini salahku. Aku hanya dapat menerima tuduhan-tuduhan orang-orang yang menunjukkan kesalahanku.

Aku mengambil duduk di samping Dara. TOP mengambil duduk di sebelah Taeyang. Kita berpisah . Aku melihat TOP mengatakan beberapa patah kata kepada Seungri dan Seungri membalasnya dengan wajah emosi. Mereka pasti sedang membicarakan aku. Aku menunduk kembali. Aku malu akan perbuatanku.

“Chaerin, semangatlah. Kami yakin ini semua bukan sepenuhnya salahmu. Kami dapat mengerti perasaanmu. Jangan merasa sendirian, Chaerin, ingatlah kami bertiga selalu ada di pihakmu.” kata Dara berusaha menyemangatiku dan dia berhasil. Kepercayaan diriku bangkit kembali setelah ia mengatakan hal itu. Setidaknya aku tahu, 2NE1 dan TOP berada di pihakku.

“Terima kasih Dara Unni, terima kasih Bom Unni, terima kasih Minzy, aku cinta kalian semua.” Aku memeluk mereka semua dengan haru. Mereka memelukku kembali dan tertawa riang. Aku tersenyum lega. Aku menyadari, aku sayang sekali dengan gadis-gadis yang baik hati ini. Aku melirik ke arah TOP, dia juga tersenyum kepadaku. Aku membalas senyumannya. Mereka semua telah membuat perasaanku membaik.

“Keadaan pasien Kwon Jiyong sudah stabil. Kalian dapat menjenguknya secara bergiliran. Saya akan istirahat untuk makan terlebih dahulu. Permisi.” kata dokter seraya berjalan pergi dari ruang tunggu ICU ke arah kantin rumah sakit.

Aku bangkit berdiri dengan segera dan mempercepat langkah ke arah pintu ruang ICU. Aku tidak sabar untuk melihat Jiyong lagi. Tetapi, tangan Seungri menghentikanku ketika aku hendak membuka pintu ruang ICU. Mata sinisnya menatapku dengan penuh dengki. Dengan penuh rasa bersalah aku mundur selangkah dan mengalah, membiarkannya masuk ke dalam ruang ICU. Aku kemudian kembali ke tempat dudukmu.

“Sabar ya Chaerin. Nanti dia juga akan memaafkanmu seiring berjalannya waktu.” kata Bom sambil menepuk-nepuk pundakku. Aku menghela napas, andai saja Seungri dapat lebih cepat memaafkanku. Seungri menjadi musuh, aku tidak pernah membayangkan bagaimana jadinya.

Beberapa menit berlalu, Seungri keluar dari ruang ICU. Wajahnya kusut, berantakan, seperti orang stress berat. Tentu saja, pasti berat sekali baginya, melihat Hyung yang paling disayanginya terbaring tidak berdaya di atas ranjang ICU. Aku berdiri dari tempat dudukku, hendak menemui Jiyong. Sebelumnya, aku menoleh kepada TOP, dia mengangguk singkat kepadaku, dan aku berjalan memasuki ruang ICU.

Suasana begitu hening, hanya terdengar suara alat pendeteksi denyut jantung yang menandakan kecepatan denyut jantung Jiyong. Udaranya begitu panas, kemudian aku teringat perkataan dokter yang meletakkan pemanas ruangan dengan kepanasan maksimal dalam ruang ICU ini. Aku melihat ke arah alat pendeteksi suhu badan Jiyong. Layarnya menunjukkan angka 25 derajat celcius. Keadaan Jiyong semakin membaik, dan cepat sekali perkembangannya. Aku tersenyum lega. Aku melihat ke arah Jiyong, yang terbaring di atas kasur. Dia sangat menyedihkan. Bibirnya masih biru, kulitnya juga masih pucat. Persis seperti terakhir kali aku melihatnya. Aku memegang pergelangan tangannya, dingin sekali. Sama seperti terakhir kali aku memegangnya. Berarti Jiyong masih belum membaik, ia hanya semakin memburuk tadi dan sekarang kembali seperti semula ketika aku menemukannya terkapar di balkon.

“Jiyong Oppa. Maaf. Aku tidak mengerti aku harus bagaimana untuk minta maaf kepadamu. Aku telah melakukan hal yang sangat salah, sangat bodoh, dan aku hampir membunuhmu. Bagaimana kau bisa memaafkan orang yang hampir saja membunuhmu? Bodoh sekali aku memintamu untuk memaafkanku.”

Air mataku mengalir kembali. Melihatnya secara langsung benar-benar membuatku terpukul, rasa bersalahku muncul kembali setelah tersembunyi beberapa saat.

“Tentang pernyataan cintamu, aku benar-benar tidak berhak mendapatkan cintamu, aku tidak pantas. Orang seperti aku, jahat seperti aku. tidak berhak mendapatkan cinta dari orang sepertimu, orang yang tidak bersalah. Saat kau bangun nanti, aku harap kau dapat melupakan cintamu padaku. Aku tidak berhak mendapatkannya, meski kau tahu, aku…sedikit memiliki perasaan kepadamu. Dan bila aku tidak bersikap bodoh seperti kemarin, mungkin sekarang, mungkin kita sudah menjadi pasangan kekasih yang bahagia, pasangan kekasih sungguhan, dan bukan pura-pura seperti yang sudah direncanakan. Sayangnya, aku menghancurkan semuanya.”

Aku menangis dan menyesali perbuatanku beberapa saat di sebelah ranjang Jiyong. Dengan memegang tangannya yang dingin, mengelus pipinya yang membeku, aku semakin merasa bersalah. Terakhir kali, sebelum aku keluar dari ruangan, aku mencium keningnya, lalu aku…..mencium bibirnya.

“Kali ini, aku yang mencuri ciumanmu, sekarang kita impas.”

Aku tersenyum lemah, menghapus air mataku dan keluar dari ruang ICU. TOP telah menungguku untuk giliran menjenguk Jiyong selanjutnya. Aku kembali ke tempat dudukku, merenungkan kesalahanku selama beberapa saat hingga aku tidak sadar semuanya telah mendapat giliran untuk menjenguk Jiyong dan semuanya sebentar lagi akan pulang.

“Chaerin, ayo kita pulang.” kata TOP ketika melihatku sendirian di ruang tunggu ICU sementara yang lainnya sudah keluar, berjalan untuk pulang.

“Lalu siapa yang akan menjaga Jiyong Oppa? Biar aku saja yang menjaganya.” kataku dengan tegas. TOP akhirnya menyerah, dia akhirnya memutuskan untuk menemaniku menunggu Jiyong sampai besok pagi. Sekarang tinggal kami berdua menunggu di ruang tunggu ICU.

“Chaerin, bolehkah aku melihat surat Jiyong untukmu?” tanya TOP.

Aku mengangguk dan memberikan surat itu padanya. Surat itu sudah lapuk dan memudar akibat terkena hujan badai kemarin. TOP membacanya dengan seksama. Setelah beberapa saat, ia mengembalikan surat itu padaku. Aku memasukkannya kembali ke dalam kantongku.

“Jiyong benar-benar mencintaimu ya? Aku tidak menyadari cintanya begitu besar kepadamu.” kata TOP.

“Aku juga tidak tahu Oppa. Aku menyadarinya ketika melihat surat itu. Aku langsung menyadari semua ketulusannya dan semua cintanya kepadaku. Sayangnya semua itu sudah terlambat. Aku menemukan surat itu keesokan paginya.” Mataku berkaca-kaca kembali, aku mengusapnya cepat-cepat, tidak ingin TOP melihatnya.

“Sudahlah, menangislah sepuasmu, tidak usah ditahan. Di sini tidak ada orang.” TOP menepuk pundaknya beberapa kali, memberi tanda kalau ia meminjamkan pundaknya untuk aku menangis.

Aku menyandarkan kepalaku ke pundaknya dan menangis tersedu-sedu. Semua perasaan sedihku yang tertahan akhirnya dapat kukeluarkan, semuanya yang kutahan sejak tadi pagi. Perasaanku begitu kacau. Setelah aku merasa lega, aku tidur di pundak TOP.

Keesokan paginya, kami berdua terbangun karena alarm ruang ICU berbunyi. Kami berdiri dengan kaget, penuh perasaan ingin tahu akan apa yang terjadi pada Jiyong. Para perawat terlihat berlari-lari di koridor untuk mengunjungi ruang ICU. Kali ini apa yang terjadi pada Jiyong?

“Pasien Kwon Jiyong telah sadar. Panggil dokter.” teriak seorang perawat.

Benarkah itu? Mataku berbinar-binar, aku semakin tidak sabar untuk bertemu dengannya. Setelah dokter masuk, aku mengikuti di belakang dengan TOP. Aku berhambur lari ke arah Jiyong dan memeluknya dengan senang. Air mata bahagiaku berlinang.

Tetapi kemudian, tanpa diduga, Jiyong mendorong tubuhku. Aku kaget, begitu juga TOP. Pandangan mata Jiyong saat melihatku, lain dari biasanya. Aku mundur beberapa langkah. Apa yang terjadi pada Jiyong? Jangan-jangan…

Jiyong menatap mataku lekat-lekat, “Siapa kamu?”

***

Part 5  nya sudah keluar akhirnya setelah sekian lama haha. Jiyong nya aku buat hidup lagi nih, mengikuti permintaan para readers hehehehe :p Semoga kalian suka dengan part yang ini 😀

P.S : jangan lupa kasih comment ya, supaya aku bisa perbaiki kalo ada yang kurang :)

19 thoughts on “Dreadful Scandal [Part 5]

    • gak cuma di bbf aja sih yang crita lupa-lupa gitu, haha. banyakk bangett wkwk. yah soalnya habis nge search di google, hypothermia berakibat amnesia, ya sudahh hahaha 😀

  1. OMG… Jiyong amnesia sama Chaerin?? -__,- Sabar ya Chae… Makin lama makin seru nih kayaknya. Ditunggu ya thor lanjutannya.. ^^

  2. Yaa chingu knp itu?? GD oppa knp?? Lupa ingatan kah krn pngaruh demamx?? Yah chaerin paboya.. Tuh jd di lupa deh.. Gengsi kadang buat qta menyesal tp apa daya.. Haiz.. Bgmn tuh lnjtnx.. Cpt di post y chingu part 6x..

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s