[FF Freelance] That Ahjussi (Part 2)

that ahjussi poster

Judul: That Ahjussi… (Chapter 2)

Author: Yul

Length: Chaptered

Genre: Romance, Life, Drama, little bit Comedy

Main Cast: Park Bom (2NE1), Choi Seunghyun a.k.a TOP (Big Bang).

Support Cast: Shin Bongsun, Park Jiyeon (a.k.a Gummy), Yoon Doojoon (B2ST), Kwon Jiyong (Big Bang), Sandara Park (2NE1).

Disclaimer: FF ini murni hasil jerih payah saya (?) dan didedikasikan untuk pembaca FF terutama SpringTempo shipper ^^. Plagiat not allowed! Read & leave comment are very welcome. Happy reading ^^~

NB: Disini usia TOP lebih tua 2 tahun dari usia Bom, usia mereka juga dirubah demi kenyamanan (?) Oiya, maaf part dua-nya lebih pendek dari part 1. Lagi musim UAS sih, idenya terbatas (?) Buat yang gak suka sama drama, author saranin jangan baca soalnya FF ini bergenre drama. Yaaa, kalian tau kan genre drama kayak gimana? XD

Previous part: Part 1

CHAPTER II

“Dia kekasihku sekarang. Pergilah,” ujar Seunghyun kemudian. Tangan kanannya yang tadinya akan ia gunakan untuk mengambil kertas-kertas sketsa kotor sekarang ia lingkarkan pada pinggang Bom. Begitu juga tangan kirinya. Ia memeluk Bom sekarang. “Jangan menolak,” bisik Seunghyun pada Bom. Bom merapatkan wajahnya pada dada bidang Seunghyun. Isak tangisnya mulai terdengar. Tangan kanan Seunghyun pindah membelai lembut kepala Bom. Doojoon terkesiap melihat pemandangan di depannya.

“Ya! Lepaskan tanganmu dari Bommie-ku!” ujar Doojoon keras. Bongsun masih berusaha menahan tubuh Doojoon yang jelas lebih tinggi dan besar darinya. “Wae? Kau tak suka?” pancing Seunghyun. Ia penasaran dengan apa yang terjadi saat ini.

“Aku bilang lepaskan!” teriak Doojoon. Beberapa pegawai yang melintas saling menatap heran bahkan ada yang berbisik. Bongsun memperkuat pertahanannya sementara tangis Bom semakin memecah. “Sudah kubilang aku kekasihnya,” lanjut Seunghyun sambil memperat pelukannya pada tubuh Bom. “Braaaak!” Doojoon memukul pintu ruang kerja Bom keras sambil menatap Seunghyun tajam, sangat tajam. Tak lama kemudian Doojoon bergegas pergi meninggalkan Tibbit Gallery’s.

***

Hari sudah gelap. Jam menunjukkan pukul 7. Hampir semua pegawai yang bekerja di Tibbit Gallery’s sudah pulang kecuali yang masih lembur. Mereka bekerja sampai pukul 11 malam biasanya. Dan sekarang Bom, Seunghyun dan Bongsun berkumpul di ruangan manajer. Mereka saling duduk berhadapan di sofa yang membentuk lingkaran dengan meja bundar di tengahnya. Ada hal yang perlu mereka bincangkan. Tentang masalah kantor? Sepertinya bukan.

“Jadi bagaimana?” Seunghyun membuka pembicaraan karena memang ia yang paling tidak mengerti kejadian tadi. Bongsun menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ia rasa ia-lah yang harus menceritakannya dari awal melihat Bom yang masih terdiam sambil sesekali menyeka matanya dengan tissue. Sudah banyak lembaran tissue yang basah oleh air mata Bom karena ia sudah sejak tadi menangis di ruangan Bongsun.

“Pria yang datang tadi bernama Yoon Doojoon. Dia mantan kekasih Bom,” ujar Bongsun. Seunghyun menunggu penjelasan selanjutnya.

“Mereka pernah berhubungan hampir 3 tahun. Dan saat masa-masa yang berat menimpa Bom, ia meninggalkan Bom begitu saja tanpa alasan yang jelas. Bahkan mengkhianatinya.” Suara isakan Bom kembali terdengar. Bongsun menatap Bom untuk meminta izin apakah ia harus melanjutkan ceritanya atau tidak. Bom hanya mengangguk seolah berkata ‘jangan pedulikan aku’.

“Masa-masa terberat? Boleh kutahu apa itu?” tanya Seunghyun.

“Kedua orang tua Bom mengalami kecelakaan pesawat saat kembali ke Korea dari Jepang. Mungkin kau ingat kecelakaan pesawat 2 tahun lalu yang sempat dihebohkan. Di pesawat itulah kedua orang tua Bom berada.” Seunghyun memanggut-manggutkan kepalanya.

“Lalu, apa jasad mereka ditemukan?” tanya Seunghyun mengingat kecelakaan pesawat waktu itu ada sebagian jasad penumpang yang tidak ditemukan.

“Beruntunganya jasad mereka ditemukan.”

“Lalu?”

Bongsun mengernyitkan dahinya tanda ia tidak mengerti.

“Lalu kenapa pria tadi Yoon Doojoon meninggalkan Bom di saat seperti itu bahkan mengkhianatinya?”

“Entahlah. Tepat dua hari setelah berita kecelakaan pesawat itu, Doojoon menemui Bom dan memutuskan hubungan mereka begitu saja. Ia juga bilang akan menikah dengan gadis lain saat itu.”

Choi Seunghyun terkesima sesaat. Rasa iba yang dalam menghinggapi hatinya seketika. Rasa prihatin mulai menjalar di pikirannya. Ia menatap Bom yang sudah berhenti menangis di hadapannya. Seberat itukah cobaan yang harus ia hadapi?

“Dan setelah hari itu ia tidak pernah menampakkan dirinya lagi. Ada yang bilang Doojoon pergi ke Amerika untuk mengurusi acara pernikahannya. Dan setelah dua tahun, kau bisa lihat tadi bagaimana Doojoon itu.”

Sepertinya Bongsun sudah selesai menceritakan garis besarnya.

“Lalu kalian ini adik kakak?” tanya Seunghyun lagi.

“Kau ini, jangan bercanda. Mana mungkin aku kakaknya. Kau tidak lihat muka kami sangat berbeda?” jawab Bongsun tertawa. “Sudah kuduga,” ujar Seunghyun dan langsung dibalas dengan delikan oleh Bongsun.

“Bom dan aku memang dekat sejak kecil. Bahkan orang tua Bom-lah yang mengurusku sejak kecil. Aku di adopsi mereka dari panti asuhan sejak umur 12 tahun. Itulah kenapa aku dan Bom terlihat sangat akrab,” lanjut Bongsun. Seunghyun mengangguk perlahan tanda mengerti. Astaga, ternyata kalian berdua benar-benar wanita yang malang.

“Sepertinya aku sudah menceritakannya cukup jelas. Baiklah, kau bisa pulang sekarang kalau kau mau. Sudah lewat satu jam dari waktu pulang,” kata Bongsun sambil melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 8 lewat. Choi Seunghyun mengangguk tetapi masih duduk di posisinya.

Bongsun menggerser duduknya merapat ke arah Bom. Ia mengelus punggung Bom dan sesekali menepuk-nepuknya pelan. “Neo gwenchana?” tanya Bongsun. Bom mengangguk mencoba tersenyum. “Tapi berbicara soal Doojoon, aku masih tidak mengerti kenapa ia kembali lagi mencarimu. Apa kau berhutang sesuatu padanya?” gumam Bongsun.

“Tidak perlu ditanya lagi. Semua pasangan yang meninggalkan pasangannya memang begitu. Jika bukan pihak yang meninggalkan yang menghampirimu kembali, kemungkinan kaulah yang menghampiri Doojoon-mu itu,” sela Seunghyun. Bom langsung menoleh ke arah Seunghyun dengan tatapan tajam.

“Apa? Aku hanya mengeluarkan pendapat berdasarkan novel atau film yang kubaca,” ujar Seunghyun enteng. “Pantas saja pemikiranmu pasaran seperti itu,” cibir Bom. Seunghyun mengangkat kedua bahunya dan mengangkat kedua alisnya seolah berkata ‘terserah apa katamu’. Bom mengerlingkan matanya sebal.

“Hei kalian ini bertengkar lagi. Apa tidak bosan? Ya, Bommie cepat kau bereskan tissue-mu. Mana sapu tangan kesayanganmu yang biasa kau gunakan?” Bongsun melerai. “Tanyakan pada Ahjussi itu kenapa aku tidak menyeka air mataku dengan sapu tangan kesayanganku,” ujar Bom sambil mendelik. Bongsun menoleh ke arah Seunghyun.

“Apa?” tanya Seunghyun pura-pura tidak tahu. “Sudahlah aku tidak akan bertanya lebih lanjut jika ada kaitannya mengenai hubungan kalian berdua. Bukannya tadi sudah kuminta kau pulang?”  kata Bongsun. “Kalau aku pulang bagaimana dengan dia?” tanya Seunghyun sambil menunjuk ke arah Bom.

“Memangnya aku kenapa?” tanya Bom.

“Bukankah kau juga ingin pulang? Kau mau menunggu manajer selesai? Waktu lembur masih lama berakhir.”

“Benar apa kata Seunghyun. Aku harus mengontrol pegawai lain yang lembur. Banyak berkas yang harus kuurus juga. Kau mau menungguku? Sebaiknya kau istirahat duluan. Aigoo, lihat wajahmu sekarang. Cantikmu berkurang,” Bongsun menyetujui ucapan Seunghyun.

“Baiklah,” ujar Bom lalu bangkit dari duduknya disusul dengan Bongsun. “Hati-hati diperjalanan,” pesan Bongsun lalu memeluk Bom. “Jangan lupa kabari aku jika kau sudah sampai di apartemen,” lanjut Bongsun lagi. Bom mengangguk lalu melepaskan pelukannya. “Annyeong haseyo eonni,” pamit Bom sambil melambaikan tangannya lalu berjalan keluar ruangan. “Selamat malam, Manajer,” pamit Seunghyun sambil setengah membungkuk lalu keluar dari ruangan.

Bom dan Seunghyun kembali ke ruangan mereka. Bom menatap ke arah kertas-kertas sketsa kotor yang berserakan di atas meja. Ia mendesah pelan lalu mengambil tas tangan simpel berwarna hitamnya. Ia tidak berniat membereskan apapun sekarang. “Aku pulang duluan,” ujar Bom tanpa menunggu jawaban dari Seunghyun lalu bergegas pergi dari ruangan.

Bom berjalan sambil menikmati angin malam yang menyapu lembut wajahnya. Memang sedikit dingin tapi setidaknya bisa membawa pergi perasaan tidak enak yang sejak tadi menghinggapinya. Angin bisa memberikan hawa kebaikan dan bisa juga membuang hawa buruk. Setidaknya itulah yang ia pahami dari orang tuanya. Seseorang menepuk pundaknya pelan membuatnya berhenti. Choi Seunghyun ternyata. Seunghyun berdiri di samping Bom. “Ayo jalan bersama. Kuantar kau sampai apartemenmu. Apartemenmu dekat dari sini kan?” ujar Seunghyun.

Bom masih diam menatap Seunghyun. Apalagi yang akan ia lakukan padaku? Tidak puaskah ia dari pertama bertemu membuatku kesal? “Ayo jalan. Masih ada yang harus kita bincangkan sepertinya,” kata Seunghyun lagi. “Lagi?” tanya Bom malas.

“Ne. Bukankah aku mengaku sebagai kekasihmu di depan pria yang mencarimu tadi? Bagaimana kelanjutannya?” tanya Seunghyun. “Bagaimana apanya? Lupakan saja apa yang kau katakan padanya tadi,” jawab Bom tak acuh. “Mana bisa seperti itu,” Seunghyun menolak ucapan Bom. “Lalu apa maksudmu?” tanya Bom lagi. Seunghyun menarik napas panjang.

“Biarkan aku menjadi kekasihmu jika Yoon Doojoon datang mencarimu lagi,” ujar Seunghyun kemudian. Bom terdiam sejenak memikirkan kata-kata Seunghyun barusan. “Aku yakin Doojoon-mu itu pasti akan datang mencarimu lagi. Yah, tapi itu terserah padamu,” sambung Seunghyun lagi. “Sepertinya usulmu boleh juga Ahjussi,” ucap Bom kemudian. Aku harus berjaga-jaga. Siapa tahu ucapan ahjussi berotak pasaran itu benar. Mungkin saja Doojoon mencariku di lain waktu.

“Usulku memang selalu bagus. Tidak cukup sekali bagi pasangan yang meninggalkan pasangannya untuk kembali mencarinya. Itu yang kutangkap dari novel yang terakhir kubaca,” ujar Seunghyun bangga. “Ternyata otakmu benar-benar pasaran Ahjussi,” ujar Bom lalu kembali berjalan.

Bom dan Seunghyun berdiri di depan bangunan tinggi yang megah. Ya, mereka sudah sampai di gedung apartemen Bom. “Aku sudah sampai. Kau bisa pulang,” ujar Bom. “Kau tidak mau kuantarkan sampai depan pintu?” tanya Seunghyun. Bom memicingkan matanya, menatap curiga pada Seunghyun. Untuk apa? “Mungkin saja Doojoon-mu itu sedang menunggumu tepat di depan pintu,” kata Seunghyun seolah bisa membaca pikiran Bom. Bom menghela napas. “Baiklah,” kata Bom kemudian.

Lantai 7, kamar nomor 704. Itulah kamar Bom. Kedua manusia yang sejak tadi jalan bersama sudah sampai di depan pintu. Bom langsung memencet beberapa kombinasi angka. Ia masuk setelah pintu terbuka dan bersiap menutup pintunya kembali.

“Hei, kau tidak mengucapkan terima kasih padaku?” tanya Seunghyun. “Mwo? Untuk apa?” Bom mengernyitkan kening mulusnya. “Aku sudah mengantarmu sampai depan pintu kamarmu,” jawab Seunghyun. “Aku tidak memintanya, kau sendiri yang ingin mengantarku,” balas Bom. “Baiklah, berterima kasihlah untuk hal lain,” ujar Seunghyun. “Apa? Atas pemberian black coffee darimu? Atau kau yang sudah menginjak sapu tangan kesayanganku?” tanya Bom ketus. Seunghyun menarik napas panjang.

“Berterima kasihlah karena aku sudah melindungimu dari Doojoon-mu tadi,” kata Seunghyun. Bom terdiam. Wajahnya menyiratkan ia malas dengan percakapan mengenai Doojoon. “Kau minta maaf dulu padaku atas apa yang kau lakukan tadi,” ujar Bom. Seunghyun tertawa tak percaya. “Hei, bukan aku yang menabrakmu tadi pagi. Soal kopi hitam itu aku juga tidak tahu kau tidak suka makanan atau minuman yang pahit,” tolak Seunghyun. “Baiklah. Terima kasih. Sudah kan? Cepat pergi dari sini,” ujar Bom jengah akhirnya. Ia menutup pintu cepat. Seunghyun yang masih berdiri di depan pintu hanya membuka mulutnya tak percaya. Lalu berjalan meninggalkan apartemen sambil sesekali menggerutu.

***

Matahari sudah menampakkan sinarnya. Tetapi Bom masih tertidur bebas di kasur spring bed ukuran king size-nya. Ponselnya berbunyi sejak tadi. Bongsun menelponnya. Tapi percuma, karena ponselnya tertimbun bantal dan selimut di kasur sehingga meredam suara deringannya. Gaya tidur Bom memang urakan. Ia tidak pernah bisa tidur dengan posisi diam, selalu bergerak kemana-mana. Tak jarang ia jatuh dari ranjang karena kebiasaannya tersebut.

Tanpa sengaja tangan Bom menggeser ponselnya hingga jatuh ke lantai. Nada dering ponselnya yang terdengar nyaring membuat Bom terbangun. Ia mengerutkan keningnya sebal. “Siapa yang menelepon jam segini?” gumam Bom tak jelas masih dengan posisi tidurnya. Akhirnya Bom bangun karena ponselnya tidak berhenti berdering.

“Yeoboseyo?” sahut Bom malas ketika menjawab teleponnya. “YA PARK BOMMIE!” sebuah suara meneriakkan namanya ujung sana. Bom menjauhkan ponselnya dari telinga. “Oh, Bongsun eonni,” ujarnya setelah melihat nama penelepon lalu kembali mendekatkan ponsel ke telinganya. “Wae eonni?” tanya Bom tak bersalah. “Mwo? Kau tidak tahu jam berapa sekarang?” tanya Bongsun tak percaya dari seberang. Bom mencari jam dinding yang ia letakkan di sembarang tempat. Ketemu. Jam menunjukkan pukul 8.

“Omo eonni! Sekarang sudah pukul delapan!” Bom histeris sendiri lalu berlari menyingkap gorden kamarnya. Seketika itu juga cahaya matahari masuk ke dalam kamar tidurnya yang tidak terlalu rapi. “Cepat berangkat ke kantor. Kau belum menyerahkan hasil desainmu. Tugasmu menumpuk,” ujar Bongsun. “Ne eonni, aku segera kesana!” Percakapan pun berakhir.

Bom panik sendiri karena tidak tahu apa yang harus ia lakukan lebih dahulu. “Eottoke?” teriaknya. Ia mengacak-acak rambutnya. Rambutnya yang memang sudah berantakan ketika ia tidur semakin berantakan. Masih dengan pakaian tidurnya –celana hot pans serta baju tanpa lengan- Bom berlari kesana kemari menyiapkan pakaian untuk berangkat ke kantor.

“Ting tong,” suara bel menghentikan kegiatan Bom sejenak. Mungkin service room. Biarkan saja. Bom kembali menyiapkan pakaiannya. Bel berbunyi lagi. Kali ini berkali-kali. Entah tamu yang memencetnya kesal karena pintu tak kunjung di buka atau karena ia memang tidak bisa menggunakan bel. “Ya nuguya?” teriak Bom. Bom bahkan lupa harus menghamipiri interface dan menekan tombol jika ingin mengetahui dan berbicara dengan tamunya. Bel masih terus berbunyi. Bom terpaksa berlari ke arah pintu dan membuka lebar pintunya terburu-buru.

Mata Bom membelalak saat tahu siapa yang datang. Orang yang sangat tidak ia harapkan lagi kehadirannya. Siapa lagi kalau bukan Yoon Doojoon. Doojoon juga terkesiap saat melihat Bom dengan rambut berantakan juga dengan hot pants berwarna merah jambu dan kaos tanpa lengan dengan warna senada. Raut wajah Doojoon kemudian berubah menjadi khawatir. “Boomie…” ujarnya. Bom yang masih kaget tidak bisa melakukan apapun selain memalingkan wajahnya agar tidak bersitatap dengan Doojoon. Tubuhnya kaku. Bahkan tangannya bergetar hebat. “Aku bisa menjelaskan semuanya,” ujar Doojoon lagi.

-to be continued-

Gimana part duanya? Kependekan ya? Jangan lupa tinggalin komen yaa. Ditunggu part tiganya~ ^^

62 thoughts on “[FF Freelance] That Ahjussi (Part 2)

  1. Jahat banget thor si doojoon itu.. TOP oppa gentle banget, makin sukaa>< emang itu sifatnya TOP daebak author

  2. “Pantas saja pemikiranmu
    pasaran seperti itu,” cibir Bom.
    Nyahaha demi apa bang TOP dikatain begitu…*di deathglare
    hmmm masih penasaran sama alasannya doojon,tapi sebel juga cz keliatan plin plan dianya.

    lanjuuuut 🙂

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s