[1] Cigarettes

Cigarettes by bluemallows

Main Cast: 2PM’s Lee Junho & Miss A’s Bae Suzy || Support Cast: 2PM’s Jang Wooyoung || Length: Chaptered || Rating: PG-17 || Genre: Romance, Life, Alternate Universe || Disclaimer: Inspired by Agnes Davonar’s Aku Membenci Cintamu, Andrea Hirata’s Sang Pemimpi, and Ilana Tan’s Autumn In Paris. || Credit Poster: Art Factory 

0,5 | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 6,5

“Menurutmu, apa yang terjadi jika kau lompat?”—Junho

“Entahlah, aku belum pernah mencobanya. Dan terlalu bodoh jika aku mencobanya.”—Suzy

 

//

Langit kelam.

Jalanan sepi.

Jauh berbeda dengan sisi jalan di belakang, sangat ramai, penuh dengan mobil-mobil mewah, dan lampu yang bersinar terang pada tengah malam yang dingin seperti ini.

Pemuda itu memandang ke arah sisi jalan yang sepi dari atap gedung itu, hanya ada tanah lapang yang cukup luas. Ia mengatur nafasnya yang tidak beraturan sama sekali.

Tarik, buang, tarik, buang.

Peluh mulai menetes dari dahinya, tangannya penuh keringat dingin. Untuk sementara ini, ia mengambil satu langkah maju, guna mengintip ke bawah tanah lapang yang telah melambai-lambai padanya.  Ia menghisap batang rokoknya, lalu membuangnya. Batang terakhir yang sudah dihabiskan olehnya malam itu, atau mungkin selamanya. Jemarinya mencengkeram erat dada kirinya dan ia menganggukkan kepala, meyakinkan niatnya yang sudah bulat.

Selangkah lagi ia maju, menuju ujung atap gedung lantai empat. Ia menutup matanya rapat-rapat. Ia dapat merasakan hembusan angin yang meniupnya perlahan. Membuatnya gemetaran dari ujung rambut hingga kakinya.

“Kelihatannya mengasyikkan, ya?”

Pemuda itu menghentikan langkahnya, dan membuka matanya. “Siapa itu?”

“Aku, di sini.” Sahut suara itu. Sedikit menggema. Pemuda itu menatap tajam sumber suara itu, seorang gadis berambut panjang, dengan mata cokelat sedang berdiri di belakang kanannya.

“Nampaknya akan mengasyikkan jika melihat pemandangan yang akan terjadi, ya?” Ucap gadis itu, nada mengejek tersirat dalam tiap-tiap suku kata yang telah keluar dari bibirnya.

Junho mengerenyit, “Mak-maksudmu?”

“Kau ingin…” Gadis itu memperagakan gerakan melompat ke bawah. “Iya kan?”

“Memang apa urusanmu? Kau bukan ibuku, dan bukan siapa-siapa.”

Junho kembali fokus pada tujuannya di atas atap tempat hiburan malam itu. Ia kembali menutup matanya rapat, dan maju selangkah lagi. Berusaha tidak menghiraukan gadis asing itu, yang seharusnya tidak berada di atas atap.

“Kelihatannya masih ada tiga atau empat langkah lagi di depanmu,” Suara itu menggema lagi. “Dengan senang hati aku akan menghitung ‘satu-dua-tiga’ hingga kau terjun bebas ke bawah sana.”

Pemuda dua puluh enam tahun itu mendesah panjang. “Baiklah, terserah.” Pemuda itu kian memantapkan hatinya, dan maju selangkah lagi, menuju ujung atap gedung itu dan bersiap mendengar hitungan dari gadis asing itu.

“Satu,”

“Dua,”

“Ti-”

Sekonyong-konyong Junho membuka matanya lebar-lebar, “Tunggu! Tunggu! Jangan teruskan!”

Seringai muncul di wajah gadis itu. “Kau, takut ya?”

Pemuda itu menggeleng ragu-ragu, “Kalau aku melompat, bagaimana rasanya jika sudah jatuh di bawah? Sakit?”

Gadis itu mengangkat bahunya. “Entahlah, aku belum pernah mencobanya. Dan terlalu bodoh jika aku mencobanya.”

“Ck, dasar.” Gumam Junho sambil kembali menutup matanya.

Hembusan nafas keras dapat dirasakan oleh punggung Junho yang hanya terbalut t-shirt tipis. “Aku tidak bisa menjawabnya, tapi mau mendengarkan aku sebentar?”

Tidak ada balasan suara yang terlontar dari bibir Junho. “Ya, siapa tahu akan mengubah pikiranmu.”
Okay, okay. Akan aku dengarkan.” Ucap Junho, ia menyerah pada gadis asing itu.

Gadis itu mengisyaratkan Junho untuk duduk di atas pembatas ujung atap itu. “Menurutmu, apa yang terjadi jika kau lompat?”

“Hmm, semuanya akan menjadi gelap, dan aku mati? Lalu semuanya selesai?” Jawabnya ragu.

“Bagaimana, jika kau tidak langsung mati?” Matanya makin dalam menatap Junho yang merenyit. “Maksudku, kau tidak mati, dan tidak juga hidup. Berada ditengah-tengah keduanya.”

“Jika hal itu terjadi padamu, bisa dijamin, kau akan menyesal jika melompat. Kau tidak ingin menyelesaikan hidupmu dengan cara seperti itu kan?”

Junho berdiri, dan menepuk-nepuk pantatnya yang kotor terkena debu. “Lalu? Kau pikir itu akan menghalangiku untuk tetap melompat, gadis asing?” Ia membalikkan badannya dan bersiap melompat.

Tiba-tiba perempuan itu menyeringai dan mendorong tubuh besar Junho hingga nyaris terjungkal. Sosok perempuan itu lebih mirip iblis sekarang. Tangannya mencengkeram kuat kerah baju Junho, membuat tangan pemuda itu mengawang-awang bebas di udara. Junho dapat melihat tanah lapang di bawahnya dengan amat gamblang. Sekuat tenaga ia mencoba untuk berteriak minta tolong, akan tetapi suaranya seolah tercekat sampai tenggorokannya.
“Apa yang kau lakukan, hah?!” Gertak Junho, berusaha mengembalikan posisi semula, namun gagal dan selalu gagal. Ia sudah diskak-mati oleh gadis asing sekaligus aneh itu, antara hidup atau mati. “Kau sudah gila?!”

“Hidup, hanya sekali. Tidak akan ada kali kedua. Kau tau itu, Lee Junho?” Gadis itu mencengkeram erat kaos warna putih Junho. Jika ia mengendurkan cengkeramannya sedikit saja, Junho akan terhempas jatuh ke bawah. “Setidaknya, hargailah kehidupanmu malam ini.”

Gadis itu menendang salah satu kaki Junho dengan keras. Hingga melewati garis batas atap itu. Kaki kanannya mengawang-awang bebas di udara. Semuanya tergantung pada tangan gadis itu sekarang, akan tetapi, gerakan gadis itu masih tergantung pada jawaban Junho sendiri.

Nafas Junho tidak teratur, ia terengah-engah dan detak jantungnya berdetak sangat kencang. “Dari mana kau tahu namaku?”

“Bodoh. Itu pertanyaan tidak penting di saat seperti ini. Kau meninggalkan name tag milikmu saat melemparnya tadi.”

Mereka berdua terdiam cukup lama, ditemani cahaya bulan purnama. Junho tak kunjung menjawab. “Jadi, sekarang aku harus bagaimana? Melepas cengkeramanku, atau menarikmu?”

Junho diam. Ia menimang-nimang jawaban yang harus ia berikan. Keinginannya hanya menutup mata selamanya, pergi dari dunia yang kejam. “Kalau kau melepas aku, aku akan pergi ke surga, kan?”

“Ck, siapa bilang?”

Gadis itu tidak menarik Junho sedikit pun. Tangannya juga berkeringat, jangan sampai ia melepaskan Junho sebelum keputusan Junho sudah bulat. “Masih ada kemungkinan jika kau masuk surga, sih. Tapi tidak menutup kemungkinan kau akan dibakar api neraka.”

Nafas Junho masih tersengal. Ia merasa nyawanya berada di tangan gadis asing, yang maksudnya entah ingin menyelamatkannya, atau.. Membunuhnya.

“Cepat putuskan. Atau, aku tidak akan kuat menarikmu lagi. Lalu kau akan jatuh terhempas ke tanah. Itu keinginanmu.”

“B-baiklah! Tarik aku!” Pekik Junho, memecah keheningan.

Sejenak perempuan itu mengumpulkan tenaganya, dan menarik Junho perlahan. Menjauhkannya dari ujung atap. Menjauhkannya dari maut. Seringai penuh kemenangan terpancar jelas untuk Junho.

Gadis asing tak dikenal itu  kembali mengisyaratkan pada Junho untuk duduk. “Bagaimana rasanya? Kau masih ingin lompat?”

Junho tidak menjawab, ia merasa tak perlu menjawabnya. Bibirnya masih bergetar dan terkunci rapat. Tangan perempuan itu merogoh tas ransel warna hitam di sampingnya, dan mengeluarkan dua kaleng soft drink.

“Untukmu, minumlah.”

//

Junho mengamati gerak-gerik gadis yang mengaduk-aduk isi tasnya. Jangan-jangan ia akan mengeluarkan pisau lipat, lalu membunuh Junho. Atau bisa saja memberikan sejumlah uang pada Junho.

Akan tetapi dua kaleng soft drink berwarna merah itu keluar dari tas ransel warna hitam pekat itu. Tangan gadis itu mengulurkan satu kaleng kepada Junho. Masih dengan gemetaran, pemuda itu meraihnya.

“Untukmu, minumlah.”

Gadis itu meneguk habis sekaleng soft drink miliknya dalam sekali minum. Kaleng itu masih terasa dingin di tangan Junho, mungkin gadis itu baru membelinya dari mini market. Ia melempar-lempar kecil kaleng itu, tanpa membuka segelnya.

“Ini milikmu.” Nametag milik Junho melayang mengenai perutnya. “Tidak kusangka, pekerja di sini juga memakai name tag.”

Junho membuka segel kaleng itu. “Memangnya kau bukan pekerja disini? Pekerja baru, maksudku.”

“Dibayar pun aku tidak akan sudi bekerja di tempat semacam ini.” Ucapnya sinis. Penuh dengan nada mengejek.

“Lalu untuk apa kau ke sini tengah malam seperti ini?”

Gadis itu menatap Junho yang meneguk perlahan soft drink darinya. “Rahasia. Aku akan memberitahumu kapan-kapan.”

Junho berdecak pelan. “Kalau begitu, siapa namamu? Bukankah tidak adil jika kau tahu namaku, sedangkan aku tidak tahu namamu?”

“Suzy. Panggil aku Suzy.”

Kepala Junho mengangguk-angguk. Ia bangkit berdiri. “Baiklah, aku harus kembali bekerja. Terima kasih  untuk soft drink-nya, Suzy.”

Gadis itu mengadah ke atas langit. “Kau bisa menjumpaiku besok malam di sini.” Junho menengok ke arah gadis itu. “Yah, kalau kau mau.”

//

“Kemana saja kau pergi, huh?”

Junho diam saja sambil tersenyum masam. Ia kembali memasang name tag-nya dan duduk di balik bar. Melayani pengunjung yang meminta-minta minuman keras, meraung-raung tidak jelas. Jelas ia sudah terbiasa dengan pemandangan seperti ini sejak dua tahun lalu, sejak pertama kali ia bekerja sebagai bartender.

“Junho! Tambahkan segelas lagi untukku!” Seorang pria paruh baya dengan suara serak membanting gelas kaca mungil persis di hadapan Junho. Dengan cekatan pemuda itu meraih botol gin dan menuangkannya di dalam gelas pria itu.

“Hei, kemana saja kau? Kau belum menjawabku. Aku kewalahan mengurus semua orang mabuk malam ini.” Desak Wooyoung, sang bartender ulung yang bekerja sedikit lebih cepat dari pada Junho di tempat itu.

Mata mungil Junho mengerling pada Wooyoung. “Nanti akan aku ceritakan. Tapi saat sudah mulai sepi.”

Untuk sesaat Wooyoung mengamati arloji miliknya. “Hm, mungkin sepuluh menit lagi ya? Ini sudah jam 1.38. Pasti mereka semua akan kembali sebentar lagi.”

Junho yang tengah membuka segel botol besar minuman yang mengandung kadar alkohol cukup tinggi mengangguk samar. “Ayolah, Junho! Cepatlah sedikit!”

“Ya, ini gelas terakhir nyonya. Saya tidak ingin nyonya mabuk di sini.”

Nyonya muda itu menatap Junho, “Oh? Jadi saya terlihat mabuk, ya?” Ia sedikit menantang Junho.

Wooyoung mencegah tangan kanan Junho yang hampir menuangkan segelas champhange lagi. “Sudah, dia sudah cukup mabuk.” Sergahnya, sebelum nyonya muda itu bertambah mabuk. Tidak akan ada yang bertanggung jawab membawanya pulang.

Jarum jam merangkak mendekati angka dua—pagi. Dan para pengunjung satu per satu mulai meninggalkan tempat itu. Sebentar lagi gedung tua yang hanya digunakan lantai pertamanya itu akan ditutup. Taecyeon sang disc jockey, mengambil ranselnya dan melambaikan tangan pada Junho dan Wooyoung.

Junho menangkap lap meja dari Wooyoung dengan cekatan. Ia mengelap meja berbentuk huruf U yang melingkarinya, penuh dengan cipratan minuman dengan kadar alkohol oleh orang-orang tadi.

“Kau boleh ambil yang terakhir.” Ucap Wooyoung sambil mengadahkan sekotak rokok dengan satu puntung terakhir di dalamnya. Tanpa menjawab, Junho langsung meraihnya lalu disulutnya ujung rokok itu.

“Pergi kemana saja kau? Apa yang kau lakukan?”

Junho hanya memandang Wooyoung beberapa saat, lalu tersenyum sinis. Ia melanjutkan mengelap meja panjang itu.

“Jangan-jangan, kau menyewa seorang ga-”

Pemuda itu menatap tajam Wooyoung, ia tahu apa yang akan dikatakan oleh rekan kerja sekaligus sahabatnya,“Tidak akan!”

Wooyoung tertawa tanpa beban. “Ya, ya. Aku tahu kau tidak mungkin melakukannya. Jadi, apa yang kau lakukan?”

Kain lap itu terlipat dengan rapi di tangan Junho. “Ya, jadi aku pergi ke atas atap.”

Tatapan dalam Wooyoung segera mengadah pada Junho. Seolah bertanya “Untuk apa kau ke sana malam-malam?”.Tetapi bibirnya masih jelas terkunci rapat. Perlahan ia mulai membuka mulutnya, “Jangan bilang kau akan..” Lalu ia membuat gerakan lompat seperti yang dilakukan Suzy tadi.

“Aku tidak mengatakannya, kau sudah lebih dulu memperagakannya.”

Tidak ada yang berbicara satu sama lain. Hanya hembusan nafas yang terdengar di antara dua pemuda yang—nyaris—dewasa itu. Wooyoung masih terperangah kaget, dan Junho masih tersenyum sinis, dan kini ia berusaha menyembunyikan ekspresi terkejut itu, dan menggantinya dengan senyuman hambar. Ia tidak ingin terlihat terlalu kekanak-kanakan.

Okay, Aku tidak peduli. Yang penting kau masih bisa menghisap rokok di hadapanku sekarang.”

Junho menata gelas-gelas dan botol-botol pada tempatnya seperti semula. Itu adalah pekerjaan yang paling menyenangkan baginya, meski bagi orang lain itu merupakan pekerjaan super membosankan. “Kalau kau bertanya hingga disini saja. Berarti kau melewatkan bagian paling seru.”

Spontan Wooyoung menengok ke arah Junho. “Ayolah, beritahu aku.” Ucapnya sambil mendekati Junho dan tersenyum penuh harap. Puppy eyes miliknya tidak dapat menghalangi Junho untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

“Kau tahu, kenapa aku masih tetap berada disini? Seharusnya, aku mati, kan?”

Wooyoung mengangguk. “Cepat lanjutkan saja.”

“Tadi, aku bertemu dengan seorang gadis. Dia menanya-nanyaiku hal-hal tidak penting. Lalu tiba-tiba ia mendorongku hingga nyaris jatuh—aku benar-benar tidak mengerti maksudnya—kemudian ia memintaku untuk menjawab ‘Menarikku, atau melepasku’. Setelah berpikir, aku memilih ia menarikku saja. Ia memberiku sekaleng soft drink lalu aku turun lagi. Yah, entah kenapa aku merasa dihipnotis oleh sorot mata dan perkataan gadis itu—ia benar-benar menarik sekali.”

Raut wajah Wooyoung yang tadinya jenaka tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat menjadi raut muka serius. “Apa? Jadi kau bertemu seorang gadis yang menyelamatkan hidupmu. Begitu?”

“Ya, mungkin.”

“B-bagaimana ciri-cirinya? Katakan padaku, Junho­-ya!” Desak Wooyoung seraya mengguncang pundak Junho pelan. Dahinya berkerut, nampak ingin tahu, bersemangat, dan juga ketakutan. Semuanya berpadu pada wajah Wooyoung.

Junho melirik ke atas,  berusaha memutar memorinya dan mengingat sosok gadis asing yang ia temui tadi. “Rambutnya panjang dan berwarna hitam dengan sedikit corak cokelat,” Ia memperagakan rambut panjang hingga ke punggungnya. “Matanya lebih besar dari aku, dan juga berwarna cokelat.” Telunjuk dan ibu jari Junho membesarkan kedua matanya lebar-lebar.

“Jangan.. Jangan bilang, gadis itu bernama.. Suzy?!” Wooyoung mirip gemetaran sekarang. Junho dapat melihat peluh membasahi dahinya. “Ya, namanya memang Suzy. Kenapa? Kau mengenalnya juga?”

Kepala pemuda dua puluh tujuh tahun itu menggeleng lemah. “K-kau.. Bertemu, dengannya?”. Tanpa menunggu apa-apa, Junho mengangguk pasti.  Ia tidak akan mengira respon Wooyoung akan seaneh itu terhadapnya.

Tubuh Wooyoung yang duduk di kursi beroda itu merosot. Ekspresi bersemangat dan antusiasnya perlahan luntur, dan hanya tinggal ekspresi ketakutan yang tertinggal.

“Hey, hyung? Apa yang salah?”

“Ga-gadis itu.. Dia..” Ia gemetaran. Perasaan takut menyelimuti diri Wooyoung sepenuhnya.

To be continued.

116 thoughts on “[1] Cigarettes

  1. wahh.. seru!!! knp junho mau bunuh diri yaa?? trus knp si wooyoung kayak yg kaget gitu begitu tau gadis itu suzy? jangan2 suzy itu hantu dehh.. hahahha.. penasaraaan.. lanjuuut part 2..

  2. Halo, aku kembali berkomentar XD
    Banyak pertanyaan menari-nari /apalah ini/ di otak aku. Kaya apa penyebab Junho pengen bunuh diri? Trus kenapa reaksi Wooyoung janggal begitu? Dan ada apa memangnya sama Suzy? Penasaran >,< Tapi mendingan aku berangkat ke chapter selanjutnya aja supaya semuanya terbongkar.
    By the way, ini seru XD

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s