Dreadful Scandal [Part 6]

Dreadful Scandal

Title : Dreadful Scandal

Author : RettaVIP

Length : Chapter

Rating : T

Genre : Romance, Drama

Main Character : G-Dragon (Bigbang) & CL (2NE1)

Side Character : The rest of Bigbang and 2NE1 members & the whole YG Family members

Previous Chapter : Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5

Jiyong’s POV

“Siapa kamu?” Aku menatap gadis itu, bingung dan sama sekali tidak mengerti mengapa dia berada di sini. Wajahnya, asing. Aku tak mengenalnya. Entahlah, kepalaku sakit sekali. Mengapa aku merasa seharusnya aku mengenalnya?

Aku melihat TOP berada di sebelahnya, dia menatapku dengan heran, tak percaya. Dia menoleh pada gadis di sebelahnya, yang sekarang sedang mencucurkan air mata—aku tak tahu mengapa dia tiba-tiba menangis—memeluk TOP dengan erat.

“Jiyong?” TOP memanggilku dengan nada tidak pasti.

“TOP Hyung, siapa dia?” tanyaku penasaran.

“Kau benar-benar tidak mengingatnya?”

Aku menatap gadis yang sedang menangis itu kembali. Aku memutar otakku keras-keras, membongkar semua isi otakku, berusaha mengingatnya. Sia-sia, aku tidak mengingatnya sama sekali. Aku juga tidak tahu mengapa aku bisa berada di sini, di rumah sakit. Sakit apakah aku?

Aku menggeleng keras. “Hyung, mengapa aku bisa berada di sini?” tanyaku padanya.

Gadis itu melepaskan diri dari TOP dan berlari keluar ruangan. Wajahnya terlihat begitu terpukul dan frustasi setelah menerima kenyataan aku tak mengingatnya. Siapakah dia sebenarnya? Dan apa hubungannya denganku?

“Jiyong, apa kau ingat tentang 2NE1?” tanya TOP lagi tanpa menjawabku. Wajahnya terlihat serius.

Aku memejamkan mata, memutar kembali otakku. Otakku sepertinya menghalangiku agar aku tidak melihat lebih dalam. Aku memaksakan diri dan menembus tembok pertahanan di otakku. Aku melihat seorang gadis sedang mengobati lukaku, Sandara? Di sebelahnya ada pula Park Bom, dan Minzy. Hanya mereka bertiga kah yang disebut dengan 2NE1? Tiba-tiba kepalaku sakit sekali. Otakk berusaha mengusirku agar aku tidak melihat terlalu dalam. Aku tidak tahu apa yang dilindungi oleh otakku yang tak boleh kulihat. Kepalaku mendenging hebat setiap kali aku berusaha mengingatnya lagi. Aku berteriak kesakitan dan aku memegang kepalaku, menekannya keras-keras, berusaha menahan sakitnya.

TOP khawatir melihat keadaanku dan menghampiriku dengan terburu-buru. “Jiyong! Tidak usah dipaksakan. Tidak apa-apa bila kau tidak ingat.” seru TOP panik.

“2NE1. Sandara Park, Minzy, Park Bom?” Aku menyebutkan satu-satu nama mereka, menahan sakit yang diberikan kepalaku setiap kali aku berusaha membuka ingatanku.

“Lalu, siapa lagi? 2NE1 beranggotakan empat orang.”

“Maaf Hyung. Aku tidak mengingatnya. Aku hanya mengingat tiga gadis itu.”

Kepalaku mendenging keras sekali, sangat menyakitkan. Aku tak dapat menahannya lagi. Aku berteriak kesakitan, berusaha mengusir perasaan sakit itu dari dalam diriku. TOP melihatku dengan khawatir, kemudian dia berlari keluar dari ruangan, meninggalkan aku sendiri di kamar. Aku sendirian, berjuang melawan perasaan sakit di kepalaku. Aku memukul-mukul kepalaku berulang kali. Sakit itu tidak kunjung hilang. Aku memejamkan mataku, menenangkan pikiran. Sedikit air mata menetes dari pelupuk mataku akibat usahaku menahan tangis. Apa yang terjadi pada diriku? Sakit apakah aku?

CL’s POV

Aku berlari sekencang-kencangnya dari ruangan itu, menutup mulutku dengan tangan. Aku tak memedulikan sekitarku yang menatapku dengan heran. Semua yang sedang duduk di ruang tunggu serentak berdiri ketika melihatku keluar dari ruang ICU. Dara menghampiriku begitu melihat aku sedang menangis heboh. Ia memelukku dengan penuh sayang, berusaha menenangkanku. Minzy dan Park Bom juga menyusulnya.

“Chaerin, ada apa? Tenangkan dirimu dulu. Apa yang terjadi dengan Jiyong?” tanyanya khawatir.

“Jiyong Oppa…Jiyong Oppa tidak mengenaliku.” teriakku histeris di sela-sela tangisanku.

Tepat di saat itulah TOP keluar dari ruangan ICU. Aku membalikkan badan untuk melihatnya. Wajahnya terlihat panik. Dia berjalan dengan terburu-buru. Yang lain tergesa-gesa mengerumuninya. Aku menatapnya dengan pandangan penasaran.

“Jiyong..Dia mengingat semuanya kecuali Chaerin.” kata TOP sambil memandangku. Semua orang berbalik untuk memandangku.

Aku benar-benar tidak percaya. Mengapa hanya aku yang tidak ia ingat? Mengapa semuanya menjadi seperti ini? Aku membungkam mulutku dengan tangan. Air mataku mengalir deras. Kakiku lemas dan aku jatuh berlutut. Tenagaku seakan diserap oleh keterkejutanku. Mulutku hanya membuka tutup tanpa mengeluarkan suara. Mengapa hanya aku? Di saat banyak sekali hal yang ingin kukatakan kepadanya?

Seperti menjawab pertanyaanku, dokter keluar dari ruang ICU seusai memeriksa Jiyong. “Menurut yang kudengar dari pasien Jiyong, dia tidak bisa mengingat seseorang. Apakah benar orang tersebut telah membuatnya trauma? Sesuatu yang membuatnya sama sekali tidak ingin mengingatnya?” tanya dokter pada kami semua.

Mereka semua mengalihkan pandangan ke arahku, dengan pandangan menuduh. Aku menyalahkan diriku sendiri. Betapa bodohnya aku. Penyesalanku seperti tiada akhir. Jiyong amnesia karena aku. Dia tidak ingin mengingatku. Aku, orang jahat yang hampir saja membunuhnya.

“Tenang saja, suatu saat dia akan mengingatnya kembali walau agak susah. Berusahalah.” kata dokter sambil menepuk pundakku.

Aku tersenyum kecut. Padahal, di saat aku mulai mengerti dia, mulai mengetahui perasaannya, dia malah tidak mengingatku. Padahal, aku mulai…menaruh hati padanya. Aku mengusap air mataku yang tidak berhenti mengalir. Kenyataan ini terlalu pahit. Jiyong..tidak akan bersikap sama kepadaku seperti dulu.

“Bolehkah..aku menemani Jiyong Oppa untuk malam ini?” kataku dengan susah payah.

Mereka memandangku kembali, membisu, saling menatap satu sama lain. Akhirnya Yang Hyunsuk membuka suara, “Baiklah. Aku mengerti kau ingin membuat Jiyong mengingatmu kembali, tetapi tolong, jangan paksakan hal itu kepada Jiyong kalau dia memang tidak ingin mengingatmu.”

Aku menelan liurku dengan sedikit tertahan. Kata-kata Yang Hyunsuk barusan benar-benar menusukku. Bagaimana kalau Jiyong memang sesungguhnya tidak ingin mengingatku? Mana mungkin aku akan memaksanya untuk mengingatku? Aku akan membuatnya semakin menderita. Aku terdiam, memikirkan perkataannya.

“Tidak akan. Bila dia tidak mau mengingatku, aku tidak akan memaksanya. Alasanku ingin menjaganya malam ini bukan karena aku ingin dia mengingatku, tetapi…aku memang ingin menjaganya, tidak ada alasan khusus untuk itu.” Aku menyuarakan isi hatiku dengan lantang, berusaha untuk menguatkan diriku agar aku tidak goyah.

Yang Hyunsuk mengangguk, “Baiklah, terserah padamu saja.” Ia lalu menoleh pada yang lainnya, “Mari kita pulang, kita serahkan saja pada Chaerin.”

Tiba-tiba TOP membalas, “Aku di sini saja. Aku akan menemani Chaerin untuk menjaga Jiyong.”

Aku menoleh padanya dan menatapnya dengan pandangan heran. Mengapa dia ingin menemaniku? “Tidak usah Oppa, aku tidak apa-apa.” kataku sambil menggeleng padanya.

“Tidak. Aku khawatir padamu. Aku akan berada di sini.”

“Kurasa aku tidak akan bisa mengubah pendirianmu yang begitu kuat. Baiklah, selamat malam.” kata Yang Hyunsuk lalu meninggalkan kami bersama dengan yang lainnya.

Dara, Bom, dan Minzy menatapku dengan pandangan khawatir. Aku mengangguk pada mereka, mengisyaratkan bahwa aku tidak apa-apa, aku bisa menjaga diriku. Sekarang, tinggal kami berdua di ruang tunggu ICU. Kami menatap satu sama lain.

“Aku akan membantumu Chaerin. Pelan-pelan kita akan membuat Jiyong mengingatmu kembali. Aku yakin dia pasti akan mengingatmu.” kata TOP di tengah keheningan.

Aku banyak berhutang budi pada TOP. Dia telah menolongku berkali-kali, membuat perasaanku nyaman berkali-kali, kebaikannya padaku sungguh tulus, dan aku merasa dia adalah pahlawanku. Orang yang bisa kuandalkan.

Aku menguatkan hati dan aku masuk ke dalam ruangan Jiyong, TOP mengikuti di belakangku. Aku membuka pintu pelan-pelan, agar tidak mengagetkan Jiyong. Dia di sana, duduk sendirian di ranjangnya, sedang melamun, sepertinya memikirkan sesuatu. Perlahan aku menghampirinya. Dia menoleh, menyadari keberadaanku.

“Hyung, kau belum menjawabku. Apa yang terjadi padaku? Mengapa aku tidak bisa mengingatnya?” tanya Jiyong pada TOP.

“Kau kena hypothermia. Suhumu tubuhmu sempat menjadi sangat rendah, di bawah 20 derajat celcius, dan kau kehilangan kesadaran. Dan tentang kau tidak bisa mengingatnya, kau menderita amnesia akibat efek samping hypotermia.” jelas TOP panjang lebar.

Jiyong mengangguk pertanda mengerti kemudian lanjut bertanya, “Tetapi, mengapa hanya dia? Aku mengingat semuanya selain dia.”

“Menurut dokter, dia adalah kenangan yang tidak ingin kau ingat. Otakmu mengunci kenangan tentang dia rapat-rapat, karena itu hanya dia yang tidak bisa kau ingat.”

Jiyong menatapku dari atas sampai bawah, “Siapa namamu? Bisakah kau memberitahuku lagi?”

“Aku Lee Chaerin. Panggil Chaerin saja cukup.” Aku memperkenalkan diriku, persis seperti yang aku lakukan dulu pertama kali saat bertemu dengannya.

Jiyong’s POV

Bagaikan petir menyambar kepalaku, bayangan tentang kata-kata perkenalan Chaerin mulai terulang di benakku, gambaran tentangnya dulu samar-samar mulai keluar, saat dia memperkenalkan dirinya pertama kali padaku. Gambaran itu begitu tidak jelas, muncul hilang begitu cepat, dan memberikan sakit yang begitu hebat kepada kepalaku. Aku memukul-mukul kepalaku dan berteriak sekencang-kencangnya, berusaha mengusir rasa sakit itu. Otakku sekali lagi menentangku karena aku berhasil membobol pertahanannya sedikit akibat Chaerin mengulang perkataannya seperti dulu.

Semakin aku menentang perbuatan otakku, kepalaku mendenging semakin heboh. Bayangan tentang aku dan Chaerin duduk di cafe saat kami saling memperkenalkan diri memudar diiringi dengan sakit di kepalaku yang semakin menjadi. Aku berteriak kesakitan, menggeliat seperti orang kejang-kejang, hingga akhirnya aku terjatuh dari ranjang. Aku benar-benar tidak tahan, sakitnya mengerikan. Susah payah aku mengangkat kepalaku, berusaha untuk bangkit berdiri.

Gadis itu, Chaerin menghampiriku, wajahnya terlihat panik saat melihatku. Tetapi, di saat pandanganku bertemu dengannya. Otakku melakukan perlawanannya, seperti takut aku akan mengingat tentang Chaerin. Sakit itu datang kembali dan dua kali lipat lebih parah.

“Jiyong Oppa, apa kau tidak apa-apa?” seru Chaerin panik, ia menggenggam tanganku yang masih memegang kepalaku.

Aku menepisnya dengan keras, karena saat dia memegang tanganku, kepalaku semakin sakit. “Pergi kau, pergilah. Jangan dekati aku!” seruku panik karena setiap aku melihatnya kepalaku serasa hendak meledak. Aku berusaha mengusirnya dari pandanganku, sebelum otakku benar-benar meledak.

Chaerin masih terus memegangiku dengan keras kepala dan air mata bercucuran tanpa memedulikan perkataanku. Kali ini meneguhkan diriku dan mendorongnya keras-keras sampai ia terjerembab.

“Pergi kau! Jangan temui aku lagi!” usirku pergi, berharap dia mengerti bahwa keberadaannya membuat kepalaku sakit kian menjadi. TOP mengerti maksudku dan menggendong Chaerin, membawanya pergi jauh-jauh dariku, keluar dari ruang ICU. Aku menggeliat kesakitan di lantai, berusaha menghilangkan rasa sakit yang masih tersisa. Penyiksaan itu kuat sekali, seperti menggerogoti diriku pelan-pelan. Apa yang pernah Chaerin perbuat padaku sehingga seluruh tubuhku menolak untuk mengingat dirinya? Sekejam apakah perbuatannya?

Aku memanjat ranjang rumah sakit perlahan-lahan. Sisa rasa sakit masih bertengger kuat pada diriku. Aku berbaring sambil bernafas terengah-engah. Penyakit ini benar-benar menghabiskan sebagian besar tenagaku. Setelah beberapa saat sendirian, tubuhku mulai kembali seperti semula. Aku dapat bernafas dengan normal, tidak ada rasa sakit yang tersisa. TOP kemudian memasuki kamarku kembali, kali ini tanpa Chaerin.

“Jiyong, kau sudah tidak apa-apa?” tanya TOP khawatir.

“Tidak apa-apa Hyung. Bagaimana dengan Chaerin?” tanyaku, teringat pada Chaerin yang tadi kuusir.

“Dia sedih bukan main karena kau usir. Sekarang dia sedang menangis di ruang tunggu. Bertemu dengannya….benar-benar menyakitkan?”

“Setiap kali aku melihatnya, tubuhku selalu menentangku. Saat dia berbicara tadi, aku berhasil melihat sedikit tentang masa laluku, tetapi hanya sekilas dan sangat tidak jelas. Kepalaku memberikan rasa sakit yang luar biasa saat aku membuka kenanganku. Apa yang tepatnya telah ia perbuat sehingga diriku sama sekali tidak mau mengingatnya?” tanyaku penasaran.

TOP tidak menjawab. Dia berpikir lama dan melihat sekeliling dengan gelisah sebelum akhirnya mengatakan, “Lebih baik kautemukan sendiri jawabannya. Kurasa lebih baik jika kau mengetahuinya sendiri.”

“Tetapi Hyung, melihat kembali ke masa lalu sama dengan menyiksaku.”

“Kau harus bisa. Aku yakin kau pasti bisa melawan dirimu dan mengembalikan ingatanmu. Jangan sampai amnesia ini menaklukan dirimu.”

Aku berpikir beberapa saat. Mengingat perasaan sakit yang diberikan otakku—mengerikan—aku tak ingin mengalaminya kembali. Tapi TOP benar, aku tidak akan bisa pulih kalau aku tidak mau melawan amnesia ini. Mungkin, aku akan mencoba perlahan-lahan.

“Kau sudah mengatakan kepada Chaerin? Alasan mengapa aku mengusirnya?” tanyaku.

“Belum, kau katakan saja sendiri.” kata TOP, berusaha membuatku bertemu  dengan Chaerin kembali, tapi aku tahu, aku tidak siap untuk itu. Terlalu menyakitkan.

“Kau tahu aku tak bisa bertemu dengannya sekarang Hyung.”

“Biarkan saja dia. Nanti kau beritahu sendiri kalau kau sudah siap untuk bertemu dengannya. Aku akan menemaninya. Bilang saja padaku kalau kau ingin bertemu dengannya.”

TOP keluar dari ruanganku, meninggalkan aku yang bingung. Mengapa TOP memaksaku untuk bertemu dengannya? Mengingatnya perlahan-lahan bukan masalah kan? Aku memejamkan mataku, memikirkan semuanya. Segala hal berputar di kepalaku. Aku mengikuti otakku. Untuk sementara, aku akan mengunci kenanganku tentang Chaerin agar aku tidak mengalami kesulitan saat bertemu dengannya. Aku tidak akan berusaha untuk mengingatnya saat ini. Aku hanya perlu menjelaskan beberapa hal kepadanya. Aku menghembuskan nafas dengan berat. Aku harus siap.

CL’s POV

Hatiku hancur berkeping-keping. Jiyong melihatku seperti aku ini seorang monster. Tatapan wajahnya yang takut akan aku, gerak gerik badannya yang mengusirku, teriakannya yang panik setiap kali aku maju selangkah mendekatinya. Aku tidak akan pernah bisa melupakan semua itu.

Aku merasa, tidak ada harapan. Jiyong tidak akan pernah bisa mengingatku lagi. Jiyong tidak akan pernah kembali seperti dulu lagi. Mengingat itu, air mataku mengalir lagi. Aku tidak tahu hari ini berapa liter air mata yang telah kucucurkan. Sahabatku yang sangat mencintaiku, sudah menghilang dan tak akan kembali lagi. Baiklah aku tidak akan memaksanya untuk mengingatku lagi, aku tidak akan memaksanya untuk bertemu denganku lagi. Kalau melihatku saja sudah tak ingin, mana mungkin aku membuatnya mengingatku kembali.

Duduk sendirian di ruang ICU, ditemani cahaya dan hembusan AC, aku merasa sendirian. Sudah berapa lama aku tidak tertawa. Entahlah, perasaan bahagia telah lama pergi jauh dariku. Tinggallah aku, seorang diri, tak mempunyai harapan. Aku tidak tahu, bisakah aku menemukan kebahagiaanku kembali?

TOP keluar dari ruang ICU dan duduk di sampingku, tanpa mengatakan sepatah kata pun. Kami berdiam bisu untuk waktu yang lama. Aku berusaha membuka suaraku untuk bertanya-tanya tentang Jiyong, tetapi sesuatu menahanku. Akhirnya aku menyerah dan duduk diam, memandang langit-langit ruang tunggu yang putih bersih.

“Kau tidak ingin tidur? Sudah larut malam.” tanya TOP pada akhirnya.

Aku menggelengkan kepalaku. “Aku tidak ingin tidur Oppa. Aku yakin aku tidak akan bisa tidur dengan perasaan kacau seperti ini.” kataku pasrah.

TOP memiringkan kepalaku dengan lembut dan menyandarkannya pada bahunya. Aku bisa merasakan kehangatannya mengalir ke dalam tubuhku. “Beristirahatlah. Hari ini adalah hari yang sangat berat untukmu.” katanya sambil mengelus kepalaku.

Aku memejamkan mataku dan berusaha untuk tertidur. Bayangan Jiyong terus muncul di kepalaku, aku berusaha mengusirnya. Bayangan tersebut kemudian menghilang ketika TOP mengecup keningku dan berkata “Selamat malam.” padaku.

Terima kasih TOP Oppa.

Maaf ya yang part ini agak lama keluarnya, ide lagi buntu hehehe 😀 tapi akhirnya aku berhasil ngepost setelah beberapa lama. Kehidupan Chaerin semakin susah ya? Kasian si Jiyong gak ngerti apa-apa. Hehehe. Semoga kalian suka 😀

P.S : jangan lupa kasih comment ya, supaya aku bisa perbaiki kalo ada yang kurang :)

18 thoughts on “Dreadful Scandal [Part 6]

  1. TOP suka sama Chaerin? Hmmmm (TT__TT) Ntar giliran Jiyong udah sadar dari amesianya, Chaerin berpaling ke TOP lagi ㅠ.ㅠ *okay, ini sotoy akut* Lanjut ya min, penasaran sama Jiyongnyaaa.. ^^

  2. Jiyong oppa sembuh ya thor, trus jadian Sama cl eonni.
    Kali ini jadian bneran dong thor..jgn scandal.
    Chaerin unni fighting!

  3. Ha? Berasa pendek banget thor part ini… Kasian ni si chaerin, berasa nntn BBF lgi, moga gak ada cwek lain yg kyk di BBF itu,
    thor part selnjutnya akhirnya jgn gntung gni dong-,- ini mau dibuat brpa part thor?

    • oh iya? maaf deh, ntar selanjutnya dipanjangin 😀 nggak kok, kalo ada cewe lainnya ntar sama dong sama BBF? wkwk :p kalo gak dibuat gantung ntar gak seru :p belum tau ya, gak bisa ngebayangin jadinya berapa part, baru ada kerangka ceritanya doang hehe 🙂

  4. Chingu ffx bagus.. Senang bcax.. Tp itu top sbnrx knp?? Apa dy sk sm chaerin jg y?? Rasax cm dy yg bnr” phtian banget pd chaerin.. Apa jgn” dy sk pd chaerin?? Tp smoga ga y spy nnti ga ada yg sakit hati..chingu kpn part 7x di post y?? Udh drtd gw mau comment tp signal bbnya busuk nih (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)

    • hahahaha:D cari tau di lanjutannya aja ya #bikinpenasaran wkwkwk :p makasihh ya udah suka ffku 😀 blom tau sih, masih belum buat lanjutannya, secepatnya aku buat trus aku post 😀 makasih commentnya ya 😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s