Dreadful Scandal [Part 7]

Dreadful Scandal

Title : Dreadful Scandal

Author : RettaVIP

Length : Chapter

Rating : T

Genre : Romance, Drama

Main Character : G-Dragon (Bigbang) & CL (2NE1)

Side Character : The rest of Bigbang and 2NE1 members & the whole YG Family members

Previous Chapter : Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6

CL’s POV

“Lalu kita harus bagaimana?” Aku mendengar suara TOP samar-samar di tengah tidurku.

“Para wartawan sudah menunggu di luar. Apa yang harus kita katakan?” Suara Daesung kali ini membangunkanku. Aku menggeliat pelan dan pergelangan tanganku menyentuh tubuh seseorang. Oh iya, kemarin aku tertidur dengan bersandar pada tubuh TOP. Aku membuka mataku pelan-pelan, mataku terasa sangat berat. Kurasa aku memang butuh tidur yang nyenyak di ranjang yang empuk. Tapi kusingkirkan pikiran itu jauh-jauh setelah menyadari bahwa aku di sini demi Jiyong.

Mataku telah terbuka lebar dan terlihat olehku para anggota Bigbang sudah berkumpul di depanku. Wajah mereka terlihat panik. Mereka semua sedang menatap TOP dengan mata penuh tanda tanya. Aku pun menjadi bertanya-tanya.

“Kau sudah bangun, Chaerin?” tanya Taeyang.

“Kurasa begitu,” kataku sambil menguap lebar, “apa yang terjadi Oppa? Mengapa kalian semua kelihatan panik?”

“Begini Chaerin,” kata TOP memulai, “para wartawan mulai bertanya-tanya tentang Jiyong. Sepertinya berita Jiyong masuk rumah sakit mulai terdengar oleh umum. Aku juga tidak tahu mengapa bisa tersebar. Sekarang mereka semua sudah menunggu di depan rumah sakit dan mengancam akan menerobos masuk apabila tidak ada jawaban.”

Oh tidak, ini benar-benar gawat. Aku menundukkan kepalaku, memejamkan kepala, berusaha memikirkan jalan keluar.

“Chaerin, yang kutakutkan adalah apabila mereka bertanya pada Jiyong tentang hubungannya denganmu. Jiyong tidak mengetahui apa-apa tentang hal itu. Bisa-bisa skandal itu membesar kembali dan kali ini karir kita tidak akan terselamatkan.” Daesung menjelaskan panjang lebar. Wajahnya serius sekali. Aku jarang melihatnya begini, biasanya ia selalu yang paling ceria di antara mereka, ia selalu tersenyum setiap saat. Sekarang, jangankan tersenyum, raut wajah saja tidak tenang.

“Bagaimana kalau kita memberitahu Jiyong Oppa semuanya? Tentang skandal itu,” tanyaku ragu-ragu.

“Chaerin, apa kau tidak ingat? Dia saja tidak ingin bertemu denganmu. Bagaimana kita akan menjelaskan semuanya? Skandal itu bisa menyakitinya karena akan membawa kembali kenangan,” kata TOP.

“Lalu kita harus bagaimana lagi? Tidak ada jalan lain Oppa. Kalian saja beritahu dia pelan-pelan, aku akan menunggu di luar.”

TOP tidak membalas perkataanku, melainkan dia memejamkan mata untuk berpikir. Anggota Bigbang yang lainnya menatap wajahnya dengan tegang, menanti apa kira-kira jawabannya, begitu juga aku.

“Sepertinya, tidak ada jalan lain. Baiklah kami akan mengusahakan untuk mengatakan padanya perlahan-lahan. Aku akan menyembunyikan beberapa hal yang tidak perlu ia ketahui sekarang, hanya yang perlu untuk menjawab para wartawan. Terutama, tentang kau yang tidak memaafkannya dan menyebabkan dia…terkena bencana ini. Aku tidak yakin dengan rencana ini. Sedikit..berbahaya.” TOP menundukkan kepalanya.

Benar sekali. Yang membuat Jiyong trauma adalah aku seorang, perlakuan jahatku padanya. Mungkin kalau Jiyong tidak mengingat perbuatan jahatku, hubungan kita dapat kembali seperti dulu. Ah, apa yang telah kupikirkan. Baik atau buruk, Jiyong harus mengingat semuanya.

“Sudahlah, Hyung. Kita harus mencobanya. Kita benar-benar tidak punya pilihan lain. Lagipula, Jiyong cepat atau lambat akan mengingat Chaerin. Kita hanya membantu mempercepat. Tidak ada yang salah,” timpal Taeyang.

“Baiklah, baiklah. Ayo kita kunjungi dia,” kata TOP pada Bigbang lalu menoleh padaku, “kau tunggu di sini saja. Lebih baik apabila kau mencari tahu tentang para wartawan di bawah, cari tahu berapa lama lagi mereka akan menerobos masuk sehingga kami tahu batas waktu kami.”

Mereka memasuki ruang ICU bersamaan. Sesuai permintaan TOP, aku berlari ke lantai paling bawah dan menuju lobby rumah sakit. Aku berlari sekuat tenaga, secepat mungkin untuk mencapai lobby sebelum terlambat.

Keadaan di lobby sangat kacau. Aku dapat melihat anggota staff YG berlari kesana kemari untuk menahan wartawan. Yang Hyun Suk berada di luar, ia berusaha mencegah para wartawan itu masuk dengan memberitakan berita YG yang lainnya, selain Jiyong. Dengan segera aku melangkahkan kakiku ke arah Yang Hyun Suk.

“Yang Hyun Suk-ssi, mereka sekarang sedang memberitahu Jiyong Oppa tentang skandal itu. Jadi tolong bertahanlah sebentar lagi sampai mereka selesai memberitahu Jiyong Oppa. Setelah itu kita akan membiarkan Jiyong Oppa menjawabnya sendiri,” bisikku terburu-buru pada Yang Hyun Suk. Ia mengangguk cepat. Aku berlari kembali ke dalam rumah sakit dan menuju ke ruang ICU.

Langkahku terhenti saat tepat berada di depan pintu ruang ICU. Teringat padaku kata-kata Jiyong kemarin yang melarangku untuk melihatnya. Dengan terpaksa aku hanya mengetuk pintu ruang ICU tersebut.

TOP kemudian keluar dari ruangan dan menghampiriku. “Ada apa, Chaerin?” tanya TOP penasaran.

“Aku sudah memberitahu Yang Hyun Suk-ssi tentang apa yang kalian lakukan. Dia sekarang sedang memberikan waktu lebih untuk kalian memberitahu Jiyong Oppa. Lebih baik kalian cepat, karena kurasa Yang Hyun Suk-ssi tidak bisa bertahan lama, para wartawan begitu liar,” jawabku panik.

TOP mengangguk dan masuk kembali ke dalam ruang ICU. Aku hanya berjalan berputar-puta dengan panik di depan ruang ICU. Aku tidak dapat bernapas dengan normal, ototku begitu tegang, jantungku berdebar kencang. Semuanya terjadi begitu cepat.

Suara apakah itu? Aku mendengar derapan kencang sepatu-sepatu di lantai rumah sakit. Begitu banyak suara sepatu dan derapan itu semakin kencang, aku dapat merasakan bangunan ini bergetar. Perasaanku semakin memburuk. Hal terburuk telah terjadi.

Dengan langkah cepat aku berjalan masuk ke dalam ruang ICU, aku tidak peduli dengan perkataan Jiyong lagi, keadaan ini sungguh sangat gawat. Aku membuka pintu dengan paksa dan pintu itu terbuka lebar. Terlihat olehku lima pasang mata yang memandangku dengan tatapan bingung. Aku berusaha mengatur napasku.

“Mereka..sudah..datang,” kataku terpatah-patah.

GD’s POV

Terdengar sentakan pintu ruang ICU yang begitu kencang di tengah-tengah tidurku yang sangat nyenyak. Siapakah itu yang berani mengganggu tidurku? Aku mendengar suara lain, derap langkah kaki yang mendekat padaku. Aku berusaha membuka mataku yang sedari tadi terpejam rapat. Aku mengerjapkan mataku dengan cepat akibat silaunya cahaya lampu kamarku.

Bigbang, memberku, mereka sedang berjalan ke arahku. Wajah mereka sangat serius. Sepertinya ada hal penting yang ingin mereka bicarakan denganku. Aku membangkitkan diriku untuk duduk dengan susah payah. Tubuhku benar-benar sangat berat, seperti bukan hanya aku yang memiliki kekuasaan penuh atasnya.

“Ada apa?” tanyaku kemudian.

“Kami perlu memberitahumu sesuatu. Tolong simak baik-baik. Ini penting,” kata TOP dengan wajah serius. Baiklah, sepertinya hal ini benar-benar darurat. Aku mengangguk padanya dengan cepat.

“Apa yang kau ingat tentang skandal?” lanjut TOP.

Kali ini aku tidak berusaha untuk membobol pertahanan otakku karena tahu hal itu akan menyakitiku, sehingga aku hanya memeriksa kenangan yang sudah ada saja, yang tidak terdapat di belakang tembok pelindung itu. Aku menggeleng pelan. Memang sama sekali tidak ada kenangan tentang skandal di luar tembok pelindung.

TOP menghela napas dengan berat seperti orang yang memiliki beban hidup yang sangat banyak. “Baiklah, sepertinya aku harus memberitahukan semuanya kepadamu.”

TOP mengeluarkan sebuah koran dari belakang tubuhnya, yang telah ia sembunyikan dari pandanganku. Koran itu sepertinya sudah lama. Apa yang telah kulakukan? Mengapa ada fotoku mencium seseorang? Dan seseorang itu adalah….Chaerin? Benarkah itu Chaerin?

Aku merampas koran itu dari tangan TOP. Rasa penasaran menghantuiku. Mengapa aku sama sekali tidak mengingat kejadian ini? Aku membaca isi koran itu, berusaha mencerna isinya.

Keheningan mencekam setelah aku membaca habis isi berita utama koran itu. Mereka memperhatikan aku, menatap mataku lekat-lekat, ingin tahu akan pendapatku setelah itu. Aku tidak percaya akan isi berita itu. Mungkinkah aku memperlakukan wanita seperti itu?

“Apa kau yakin berita di koran ini benar, Hyung? Sepenuhnya benar?” tanyaku tidak yakin.

TOP mengangguk untuk meyakinkanku. “Benar. Tepatnya saat itu kau sedang mabuk, jadi…kau melakukan hal itu di luar kesadaranmu. Maka dari itu, untuk menghindari nama baik Bigbang dan 2NE1 tercemar karena skandal itu, Yang Hyun Suk-ssi memutuskan bahwa kalian berdua harus pura-pura berpacaran, sampai skandal itu memudar.”

Aku mendengarkan dengan seksama. Semua ini terlalu tiba-tiba. Untung saja, aku telah menutup ingatanku tentang Chaerin, sehingga aku tidak akan kesakitan lagi saat melihatnya karena aku menolak untuk mengingatnya.

“Baiklah. Aku akan berpura-pura,” jawabku akhirnya.

“Sebenarnya, para wartawan yang penasaran tentang keadaanmu sedang berada di perjalanan ke sini,” kata TOP sambil menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.

“Tenang saja, Hyung. Aku bisa menjawab pertanyaannya. Percayalah padaku.”

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Sepertinya itu Chaerin, karena Chaerin daritadi berada di luar kamar. Kasihan sekali dia, setelah ini aku akan menyuruhnya masuk saja.

“Tunggu sebentar, sepertinya itu Chaerin,” kata TOP sambil berlari-lari keluar ruang ICU.

TOP meninggalkan kami berempat di dalam ruang ICU, dengan keadaan canggung. Aku berusaha mengajak mereka bicara, “Bagaimana hubunganku dengan Chaerin dulu?”

“Kau sangat dekat dengan Chaerin. Kurasa dari antara semua anggota 2NE1, kau paling dekat dengan Chaerin. Kalian seperti pasangan kekasih saat itu, sebelum kejadian itu menimpa kalian,” kata Taeyang yang kemudian menunduk ke bawah, merasa hal ini bukan sesuatu yang harus ia beritahu kepadaku.

“Lalu apa kalian tahu mengapa hanya Chaerin yang kulupakan? Trauma apa yang ia berikan kepadaku dulu?” tanyaku yang masih penasaran, berusaha mengerok sebanyak-banyaknya dari mereka tanpa aku harus membuka ingatanku sendiri.

Mereka terdiam dan saling memandang satu sama lain saat aku menanyakan hal itu. Mulut mereka membisu, wajah mereka menegang. Akhirnya Daesung membuka pembicaraan, “Maaf Hyung, sepertinya kau harus menemukan sendiri alasannya, kami bukan orang yang pantas untuk memberitahu Hyung tentang hal itu.”

Aku mengangguk dengan kecewa. Aku ingin sekali mengetahuinya, tapi mereka semua tidak ada yang ingin memberitahuku, mungkin aku memang harus mengingatnya sendiri. Sebenarnya, aku sangat penasaran, apa sih yang membuat aku melupakannya?

TOP masuk ke dalam ruang ICU kembali, “Siap-siap Jiyong. Mereka sebentar lagi akan masuk.”

Aku meminum beberapa teguk air putih untuk menjernihkan tenggorokanku dan menghilangkan ketegangan. Mereka berempat mengambil tempat duduk di sofa dan dengan sabar menanti kedatangan para wartawan.

“Lebih baik kau merahasiakan tentang kau melupakan Chaerin terlebih dahulu. Sekarang bukan saat yang tepat untuk mereka mengetahui tentang hal itu,” kata TOP padaku. Aku mengangguk untuk menyetujuinya.

Kemudian pintu ruang ICU terbuka lebar dan langkah cepat Chaerin terdengar. Dia terengah-engah dan dengan wajah ketakutan berkata, “Mereka..sudah..datang.”

CL’s POV

Aku berusaha menenangkan diriku dan mengatur nafas yang sedari tadi masih tidak stabil. TOP menyuruhku untuk duduk di sebelahnya, di sofa ujung ruang ICU.

“Tenang saja. Serahkan semuanya pada Jiyong. Aku percaya kepadanya. Kamu juga harus percaya padanya,” kata TOP sambil menepuk-nepuk kepalaku, berusaha menenangkanku.

Aku menghela nafas panjang dan mengangguk pelan. Sejujurnya, aku tidak tenang. Entah mengapa, rasa bersalahku tidak bisa hilang. Aku menatap Jiyong yang sekarang sedang duduk tenang di kasurnya. Sejak kapankah aku mulai merasa seperti ini? Perasaan ingin melindungi Jiyong? Apakah ini hanya bagian dari keinginan untuk menebus kesalahan? Entahlah. Tanpa kusadari, Jiyong sudah menjadi bagian yang penting di hatiku.

Beberapa wartawan mulai menerobos masuk dan mengerubungi Jiyong dengan antusias. Mereka semua membawa mikrofon dan alat perekam. Dalam waktu sebentar saja ruang ICU sudah berubah total menjadi ruang press conference. Paparazzi mengambil foto di sembarang tempat, sampai-sampai wajahku dan anggota Bigbang lainnya ikut terambil gambarnya.

“Jiyong-ssi, mengapa anda bisa berada di ruang ICU? Apakah sakit anda parah?” tanya seorang wartawan sambil menyodorkan mikrofon ke arah mulut Jiyong.

“Tidak, hanya saja hypothermia, penyakitku, butuh perawatan intensif, karena perlu dijaga suhunya. Sekarang seperti yang bisa kalian lihat, aku baik-baik saja,” jawab Jiyong dengan tenang, sepertinya aku tak perlu mengkhawatirkannya.

“Apa alasan mengapa penyakit ini tidak diberitakan secara umum?”

“Tentu saja karena aku tidak ingin membuat para fans khawatir.”

“Baru-baru ini, kalian berdua menjadi topik pembicaraan panas para fans, sejak diumumkannya hubungan kalian berdua. Bagaimana tanggapan kalian dengan pacaran di depan publik?”

Jiyong mengisyaratkan dengan tangan agar aku segera menghampirinya. TOP menepuk pundakku dan tersenyum padaku, menyemangatiku. Aku membalas senyumannya dan menghampiri Jiyong dengan jantung berdebar-debar.

Begitu aku duduk di ranjang Jiyong, tiba-tiba Jiyong merangkulku dan menarikku ke dekatnya. Aku berusaha keras menyembunyikan wajahku yang memerah, tetapi sepertinya percuma.

“Kami tidak mempermasalahkan hal itu, selama para fans tidak mengganggu kencan kami berdua. Benar kan, Chagiya?” kata Jiyong lembut lalu mengecup pipiku.

Chagiya? Sejak kapan dia punya panggilan sayang kepadaku? Ya ampun, bisa-bisa aku meleleh di tempat karena manisnya perlakuannya padaku. Aku mengangguk pelan dengan malu-malu. Sesaat kemudian aku teringat bahwa semua ini hanyalah pura-pura. Entah mengapa hatiku menjadi sedih sekali, nyeri rasanya. Mengapa perasaanku menjadi begini? Apakah aku benar-benar sudah menaruh hati pada Jiyong

Setelah bertanya beberapa hal yang tidak penting, para wartawan keluar dari ruangan, sepertinya sudah puas akan jawaban Jiyong. Jujur saja, akting Jiyong hebat sekali, tidak terlihat kalau ia sedang menderita amnesia. Jiyong sekarang akan dipindah ke ruang biasa, karena suhu tubuhnya sudah normal dan tidak perlu perawatan intensif lagi.

“Chaerin, aku ingin bicara berdua denganmu,” kata Jiyong saat kita berada di ruangan baru Jiyong. Anggota Bigbang yang lainnya otomatis keluar dari ruangan tanpa disuruh. Aku mengambil kursi dan meletakkannya di sebelah ranjang Jiyong. Aku duduk diam dengan tegang, penasaran akan apa yang akan disampaikannya padaku.

“Begini Chaerin,” kata Jiyong memulai, aku mendengarkannya dengan seksama, “semoga kau tidak salah paham dulu. Perlakuanku tadi kepadamu hanya sebatas pura-pura, tidak lebih. Maaf bila kau merasa tidak nyaman. Aku tidak bermaksud apa-apa padamu.”

Aku menahan air mataku dengan susah payah. Sakit, pedih di hati. Aku mengangguk pelan, membisu, tidak ingin berbicara, aku takut tangisanku pecah.

“Jujur saja, aku tidak punya perasaan apa-apa padamu. Jadi tolong mengertilah, jangan dimasukkan ke dalam hati perlakuanku tadi. Bila kau jatuh cinta padaku nanti aku jadi bingung,” kata Jiyong lalu tertawa.

Aku tertawa canggung, air mataku menetes. Aku menghapusnya cepat-cepat dan menunduk untuk menyembunyikan wajahku.

Jiyong sepertinya menyadari air mataku yang sempat menetes, “Chaerin? Mengapa kau menangis?” Jiyong meraih daguku dan mengangkatnya ke atas, ingin melihat wajahku. Aku menepis tangannya dengan keras dan menunduk kembali.

“Aku tidak apa-apa, aku tidak menangis. Hanya kemasukan debu,” kataku lalu mengangkat wajahku ke atas, memaksakan senyuman, “sebentar ya, aku ingin membersihkan wajahku dulu, sepertinya kotor sekali sampai-sampai ada debu masuk mataku.”

Aku berdiri dengan tergesa-gesa lalu membalikkan badanku. Air mataku menetes dengan deras. Kali ini aku tidak bisa mengendalikannya. Perkataannya tadi menusuk terlalu dalam, sakit sekali.

“Chaerin,” panggil Jiyong. Aku menghentikan langkahku.

Gidarilkke. Jangan lama-lama ya,” kata Jiyong sambil tertawa.

Aku mengangguk dan mengisyaratkan tanda jempol ke arah belakang agar Jiyong bisa melihatnya. Tangisanku semakin deras mendengarnya berkata begitu. Aku berjalan dengan cepat ke dalam toilet. Begitu menutup pintu aku menangis meraung-raung, karena jika di dalam tidak akan ada yang mendengar.

Apa yang terjadi padaku? Mengapa begitu dia mengatakan dia tidak memiliki perasaan apa-apa kepadaku, aku langsung tidak dapat menahan tangisanku? Apakah mungkin hal yang paling kutakutkan terjadi?

Kurasa aku benar-benar jatuh cinta pada Jiyong Oppa.

 

Akhirnya aku ngepost part 7 juga hahaha:D kebanyakan liburan jadi gak sempet bikin :p semoga kalian suka 😀 CL akhirnya ngaku loh dia suka sama GD, wah aku sendiri sampe keseruan wkwk.

P.S : jangan lupa kasih comment ya, supaya aku bisa perbaiki kalo ada yang kurang :)

 

14 thoughts on “Dreadful Scandal [Part 7]

  1. Mungkin krn keasikan baca jd brasa pendek part 7 ini. Hehhehe
    Kasian ya cl unni 😦 tp, jiyong oppa aktingnya hebat.
    Gak sabar nunggu part 8 taun depan.
    Fighting thor…..!!! (ง’̀⌣’́)ง

  2. Jiyoung ilang ingatan tp rumor kocaknya msh ada hehe. Jiyoung lp ingatanya jgn lama2 ya tp gpp dech. Kapan nieh konflik cinta segitiga antara jiyong-CL-top. Dtunggu ya lanjutannya

  3. Wah akhrx post jg part 7x.. Bagus makin seru nih chingu.. Mdh”an part 8 udh mulai pnurunan konflik ya.. Wkwkwk.. Klo msh mncul konflikx brb gantung diri dah.. “̮ wk°wk (′▽`) wk°wk “̮ emang author peduli #PLAQ#
    Chingu cpt post y part 8x.. Gomawo udh bkn ff yg bagus buat reader (´⌣`ʃƪ)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s