Simulation

fanfic kyuhyun

find it in wehearit.com

Cast : Cho Kyuhyun            Baek Su Min (OC)

Angst, Hurt, Friendzone

Hallo udah lama ngga ketemu reader di sini. Apa kabar? Aku publish fanfic yang pernah aku publish di wordpress ku sendiri. maaf bagi yang udah baca 🙂

Semangat!

+++

 

Jangan pernah percaya pada simulasi. Kau tahu? Ini sama saja membuang waktumu.

 

18 november 2016, 04:56 pm

Kyuhyun dan Haneul hanya menutup mulut mereka, tidak berniat sama sekali untuk berbicara. Masing-masing dari mereka hanya sibuk dengan kegiatannya. Kyuhyun dengan seriusnya berkutat dengan ponsel sementara Haneul terlihat asik mengaduk-ngaduk coffe-mint kesukaannya. Sesekali Haneul melirik ke arah Kyuhyun lalu terkekeh pelan. Apa ia baru menyadari kalau seorang pria di depannya kini terlihat begitu tampan?

“Ini aneh.” Kyuhyun membuka suaranya meskipun tangan dan pandangan matanya tidak beralih dari ponsel yang ia pegang. Keningnya terlihat berkerut samar dan sedikit membuat Haneul sedikit penasaran.

“Apa?” tanya Haneul, mencoba terdengar tidak begitu antusias kemudian meneguk coffe-mintnya tanpa berniat meminumnya melalui sedotan.

“Apa kau masih ingat dengan cafe chery? Aku dengar cafe itu sudah tutup.” Kini Kyuhyun mengalihkan pandangannya ke arah Haneul. Gadis itu hanya mengangguk seperti mengiyakan lalu meminum coffe-mintnya lagi.

“Tentu saja aku masih ingat. Cafe itu adalah tempat pertama kali kita bertemu, kan? Kau duduk di depan mejaku,” Haneul tertawa samar. Kyuhyun hanya mendengus mendengarnya.

Pria itu sedikit menampakkan senyuman seringainya. “Saat itu, aku berpikir mungkin aku pertama kalinya melihat seorang gadis yang meminum coffelate tanpa menggunakan sedotan. Mulutmu penuh dengan cream,” kata Kyuhyun merasa menang atas pernyataannya, berhasil membuat Haneul mendecak dan memincingkan matanya ke arah Kyuhyun.

“Ya, ya. Aku tahu. Saat itu juga kau memberi aku tisu milikmu, kan?”

Kyuhyun terlihat tertawa untuk menanggapi pertanyaan Haneul. Gadis itu terdiam, mengamati raut wajah Kyuhyun saat tertawa. Ah, kira-kira kapan ia akan melihat pria ini tertawa lagi?

“Ah, Kau ingat seminggu setelahnya kita berjumpa lagi di tempat yang sama, kan?” kata Kyuhyun dan pandangan pria itu terlihat menerawang, seperti mencoba memutar kembali memori lama yang ada di otaknya. Pria itu berdecak kecil ketika berhasil mengingat memori yang ia maksud.

“Dan kau dengan lancangnya mengatakan kau menyukaiku, kan?” balas Haneul sengit. Ia tertawa sinis ketika melihat raut wajah Kyuhyun yang tidak bersahabat. Ia yakin sekali kalau pria di depannya ini ingin mengelak tetapi tidak bisa.

“Tetapi kau menerima aku saat itu. Kau bilang aku menjijikan tapi kau tetap memberi nomor ponselmu, benar?”

“Ah! Itu karena aku kasihan padamu, tau tidak? Kau terlihat begitu picisan saat itu dan aku tidak mau mempermalukanmu di depan orang lain. kau harus berterima kasih padaku!” seru Haneul gemas. Ia kembali meminum caffe-mint kesukaannya. Ia memandang ke arah Kyuhyun yang terlihat kembali sibuk dengan ponselnya, entah apa yang ia lakukan dengan benda mati itu.

“Kyuhyun~a, cafe chery itu.. kapan tempat itu tutup?”

Pria itu mendongak untuk melihat ke arah Haneul sekilas lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah ponsel. “Mungkin beberapa bulan yang lalu,” jawab Kyuhyun tak acuh.

Haneul hanya mengangguk dan sedikit berpikir. Cafe chery adalah tempat pertama kalinya Haneul dan Kyuhyun bertemu lima tahun yang lalu, saat mereka masih berada di universitas. Haneul sedikit terkekeh mengingatnya. Ia masih ingat dengan jelas ketika tiba-tiba Kyuhyun dengan beraninya duduk di depannya dan mengatakan kalau pria itu mencintainya. Haneul benar-benar merasa aneh saat itu, tetapi ia tetap memberikan nomor ponselnya agar pria itu bisa menghubunginya lebih lanjut. Entahlah, Haneul hanya merasa pria yang saat itu menyatakan perasaannya, bahkan Haneul belum mengetahui kalau nama pria itu adalah Kyuhyun, adalah orang yang baik.

“Kyuhyun~a, kau ingat? Cafe itu tempat pertama kali kita berkencan, kan?” Haneul sedikit tertawa di akhir ucapannya, seperti menyadari kebodohannya sendiri untuk berbicara seperti itu.

Kyuhyun sedikit tersentak ketika mendengar pertanyaan Haneul lalu menutup mulutnya dengan telapak tangan untuk menyembunyikan tawanya. “Yak! Apa yang kau katakan? Kenapa kau selalu mengingat cafe itu? aku sudah mengajakmu ke banyak tempat untuk berkencan, tetapi kau selalu mengingat cafe itu. Sia-sia sekali aku membawamu ketempat romantis dulu.”

“Bukan begitu. Hanya saja…” Haneul menginterupsi ucapannya sendiri ketika melihat Kyuhyun memincingkan matanya. “Ish! Kau!” seru Haneul sambil memukul bahu Kyuhyun lumayan keras.

“Lihat! Kau bahkan sama sekali tidak berubah! Kau suka memukuliku!” balas Kyuhyun tak mau kalah. Keduanya terlihat menajamkan pandangan matanya kemudian tertawa.

“Haneul~a, kau tidak tahu betapa aku merindukanmu, kan? Apa pergi ke California selama hampir delapan bulan telah membuatmu lupa padaku?” pertanyaan Kyuhyun terdengar begitu melankolis dan semakin merasa melankolis ketika pandangan pria itu menancap menuju mata Haneul, mengacuhkan ponselnya yang sedari tadi ia pegang. Berbeda dengan Kyuhyun, Haneul malah sedikit merinding mendengarnya.

Haneul menyentil kening Kyuhyun dan membuat pria itu mengaduh sambil mengusap keningnya sendiri. “Kau sudah gila? Aku hanya pergi delapan bulan dan setiap hari aku menghubungimu. Aku sampai bosan mengirimimu email setiap harinya.”

“Lihat! Aku sekarang yakin kalau kekerasan adalah hal utama yang membuatmu tidak layak di pasaran. Berapa banyak pria yang mau dekat-dekat denganmu, selain aku?”

“Ya. Aku akui hanya pria bernama Kyuhyun-lah yang mau berlama-lama denganku. Kalau begitu, terima kasih Kyuhyunku yang tampan, hm?” goda Haneul sambil menggerak-gerakkan alisnya keatas dan ke bawah.

Haneul tertawa ketika melihat Kyuhyun memberikan pandangan tak percayanya kepada Haneul kemudian beralih pada ponselnya lagi. Ah, gadis itu ingat betapa sedihnya perpisahan dirinya dan Kyuhyun di bandara saat pria itu mengantar Haneul untuk sekolah musim panas di California tahun lalu. Pria itu tidak menangis tapi terlihat salah tingkah di semua perlakuannya, membuat Haneul khawatir untuk meninggalkan pria itu. Haneul juga masih ingat betapa marahnya Kyuhyun ketika hampir dua hari Haneul tidak membalas email dari pria itu. Ingatan-ingatan seperti ini selalu membuatnya tertawa.

“Haneul~a, kau sudah siapkan gaun untuk pesta pernikahan nanti?” Kyuhyun mendongak ke arah Haneul dan membuat gadis itu sedikit terkejut, ditambah pertanyaan dari pria itu sendiri.

“Oo..sudah. Kau sudah siapkan tuxedo terbaikmu? Aku tidak mau datang ke pernikahan kalau melihat dirimu yang jelek. Tidak ada seorang gadis manapun yang mau menikah dengan pria itdak tampan,” kata Haneul dengan raut wajah mengejek.

“Cih! Percaya diri sekali kau!”

“Kyuhyun~a, dari tadi kau selalu sibuk dengan ponselmu. Kau sedang melihat apa?” tanya Haneul lalu memajukan tubuhnya mendekat ke arah Kyuhyun, mencoba mengintip apa yang sedang Kyuhyun lihat.

Pria itu menegakkan tubuhnya lalu menaruh ponselnya di atas meja, mempersilahkan Haneul untuk melihat yang ada pada layar ponsel itu. “Ini. Kau suka cincin ini? cincin pernikahan. Bagus tidak?” tanya Kyuhyun sedikit ragu.

“Bagaimana mungkin kau belum mempersiapkan cincin pernikahan? Aku tidak suka ini!” kata Hnaeul sambil menunjuk selah satu gambar cincin di layar ponsel Kyuhyun.

“Kalau cincin yang ini? aku pikir ini sangat simpel,” tanya Kyuhyun lagi. Pria itu memperbesar gambar cincin yang dia maksud agar Haneul bisa melihatnya dengan jelas.

“Hm. Oke. Aku suka,” kata Haneul puas. Kyuhyun nampak tersenyum lalu mengangguk yakin.

“Kalau begitu, Hyura pasti juga suka.”

Oh? Tunggu. Haneul mengernyitkan dahinya lalu memutar otaknya dengan cepat. Mengulang memorinya yang terdahulu. Ah, ya, Hyura. Gadis itu tunangan Kyuhyun.

Dia ingat. Ada beberapa peristiwa yang seharusnya tidak dia abaikan. Pertama kali ia bertemu dengan Kyuhyun di cafe chery kemudian seminggu setelahnya mereka resmi sebagai sepasang kekasih. Setahun setelahnya mereka berpisah dan lebih memilih untuk menjadi sahabat. Dua tahun setelahnya Kyuhyun mengatakan kalau ia sudah memiliki seorang kekasih bernama Hyura. Bagian sangat penting yang Haneul hampir lupakan adalah Kyuhyun memang selalu mengiriminya email saat ia pergi sekolah musim panas di California, tapi pria itu lebih banyak membicarakan tentang bagaimana memperlakukan Hyura dengan sangat baik. Haneul ingat, ia sedang menutupi kenyataan yang sebenarnya. Ia hanya ingat kalau Kyuhyun selalu mengirimi email bukan isi dari email tersebut.

Haneul juga ingat kalau Kyuhyun sudah mengatakan akan menikah dengan Hyura ketika dirinya masih di California. Akan tetapi, Haneul sudah mencoba dengan sangat baik simulasi untuk membuat hatinya tidak begitu sakit ketika mendengarnya langsung dari Kyuhyun.

Gadis itu mendesis. Persetan dengan simulasi. Semua yang terjadi tidak sama dengan apa yang sudah ia simulasikan. Ia sudah mencoba untuk menahan tangisnya sekuat mungkin, tetapi nyatanya matanya sudah bergenang sekarang. Tepat setelah pria itu mengatakan nama Hyura.

“Haneul~a, kau tidak apa-apa?” Kyuhyun terlihat kaget ketika melihat air mata Haneul yang menetes. Pria itu menyerahkan tisu pada gadis itu.

“Aku tidak baik-baik saja, kau tahu?” kata Haneul sedikit parau. Tidak bisa menyembunyikan suatu rasa yang sudah ia simulasikan sebaik mungkin. rasa sakit pada hatinya.

“Aku tidak tahu. Apa aku…”

“Aku tidak baik-baik saja karena kau sudah akan menikah dan aku bahkan tidak memiliki kekasih. Apa aku harus ke upacara pernikahanmu dengan status single? Apa kau tidak kasihan padaku?”

Ah, Haneul memang tidak mempraktikan apa yang telah ia simulasikan. Paling tidak, gadis itu bisa berbohong saat ini.

“Haneul~a, kau adalah sahabatku. Jangan menangis. Kau bisa datang ke rumahku dan Hyura,” kata pria itu lagi.

Haneul terdiam seketika. Rumah Kyuhyun dan Hyura?

Haneul terdiam. Tertunduk. Mendongak lalu tersenyum dan menghilangkan bekas airmatanya.

“Ya. Mungkin aku akan bermain ke rumah kalian.”

“Jadi, apa aku harus pergi membeli cincin itu sekarang?” tanya Kyuhyun merujuk pada cincin yang baru saja mereka lihat di ponsel pria itu. Haneul mengangguk meyakinkan.

“Pergilah.”

“Aku akan menghubungimu nanti,” Kyuhyun beranjak dari duduknya, menepuk pundak Haneul sekilas lalu pergi keluar cafe.

Haneul, gadis itu terdiam. Menunduk tetapi tidak mendongak untuk tersenyum. Gadis itu tetap menunduk dan menangis.

Ini salah, ia sudah menyimulasikan kalau dia tidak akan pernah menangis. Ya, setidaknya tidak di hadapan seorang pria yang begitu ia cintai, Cho Kyuhyun. Seseorang yang tidak akan pernah memperjuangkan cintanya pada Haneul. Pria yang merelakan Haneul ketika Ayah dari gadis itu tidak menyetujui hubungannya dengan Kyuhyun. Ketidaksetujuan dari Ayah Haneul yang tidak beralasan.

Cho Kyuhyun, dia langsung saja melepas Haneul dan mengatakan kalau hanya perpisahanlah yang bisa menyelasaikan masalah dengan Ayah Haneul. Pria itu juga mengatakan kalau ini adalah yang terbaik untuk masing-masing dari mereka. Semenjak itu pula Haneul tidak memperjuangkan cintanya pada Kyuhyun.

Bukankah terlihat begitu sia-sia, kalau Haneul, dirinya sendiri memperjuangkan cintanya untuk orang lain tapi ia tidak bisa merasakan perjuangan dari seseorang yang ia cintai?

Sia-sia. Lebih baik pergi, kan?

Kalau seperti ini, apakah lebih baik kalau dirinya kembali lagi ke California?

The End.

6 thoughts on “Simulation

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s