Stay With One Love (Part 10)

page

TITLE             : Stay With One Love part X (sequel Forever Love With You)

AUTHOR       : Keyindra_clouds

MAIN CAST  :Yesung Super Junior, Yuri SNSD, Choi Siwon Super Junior, Im Yoona SNSD, Victoria song

GENRE          : Romance, Sad, Angst, Comedy, marriage life.

LENGHT        :  Chapter Series

 

Annyeong…..author GAJE balik lagi dengan FF abal – abal and amatiran ini….hehe..mian baru bisa ngepost. #plak. Dilempar buku ama readers.

Gak usah ngebacod and cingcong lagi ya. Langsung cap cuz aja!!.

#mian Typo berserakan dimana – mana

#author Cuma sampai segini idenya. *ide lagi buntu, diperes terus*

#aku butuh banyak comment bwt semangat ngelanjutin FF ini. (entahlah FF ini sampe kapan akan kelar). #Intinya dikit lagi End.

#don’t Bashing couple!.

Yang kemaren ngasih comment…thank you so much..selamat membaca gratiss…

#aurhor gak jadi protect….karena author mencintai readers-readers tercintaku..#heleh bahasa apaan ntu?#.

########

Yuri terduduk gelisah diruang tunggu sebuah kamar VVIP rumah sakit. Sudah sekitar satu jam yang lalu Jong Woon tak keluar dari ruangan itu hanya untuk memberi sedikit kabar tentang bagaimana keadaan Victoria setelah ia ditemukan pingsan dengan hidung Yang berdarah.

Krieett..suara pintu ruangan pun terbuka. Yuri lekas melihat taatkala Jong Woon dengan tampang sedikit lesu keluar dari ruangan itu.

“bagaimana keadaanya oppa?.” tanya Yuri panik.

Jong Woon menghela napasnya sejenak dan menghembuskannya. “saat ini ia belum sadarkan diri juga. Kanker darah yang ia derita hampir memasuki stadium 4, entahlah saat ini aku bingung apa yang harus kulakukan. Sampai saat ini aku belum bisa menemukan pendonor yang cocok untuknya.”

Seketika itu Yuri terdiam menunduk, ia meremas kedua ujung sweater yang dikenakannya. “mianhae. Aku tak bisa pendonor untuk Victoria karena darah kami berdua tak cocok.” Ucap Yuri menyesal. Sedikit ada kelegaan dalam hati Yuri ketika ia bisa menerima keadaan Victoria sebagai kakak kandungnya, meskipun tak sepenuhnya.

“kau tak perlu merasa bersalah. Justru aku bangga padamu karena kau bisa menerima Victoria. Aku tahu tak mudah melakukan ini semua.” Tandas Jong Woon. Ia membelai rambut panjang Yuri dan berjongkok menatap lekat istri-nya itu. Sedetik kemudian ia menarik Yuri dalam pelukannya, mencoba menenangkan kegundahan yang kini tengah melanda Yuri.

“bolehkah aku menjenguknya sebentar oppa?.” pinta Yuri lirih dan Jong Woon pun mengangguk tersenyum menyetujuinya.

Yuri berjalan pelan memasuki ruangan Victoria, disampingnya ada Jong Woon yang menemani. Ia menatap nanar dan pilu saat melihat Victoria terbaring lemah dengan beberapa selang dan alat medis yang menemaninya.

“apa yang harus kulakukan sekarang?!.” Lirih Yuri.

“kau tahu aku begitu membencimu tapi aku tak bisa Qianie. bagaimanapun juga kau adalah kakak perempuanku, anak dari umma yang selama ini ia cari. Kita sedarah Qianie!.” ucapan itu terlontar begitu saja keluar dari mulut Yuri. Ia menangis pilu melihat kondisi Victoria yang tergeletak lemah tak berdaya seperti ini.

“Yuri-ya..” panggil Jong Woon. Yuri semakin menangis pilu meihat apa yang kini ada didepan matanya.

Kembali Jong Woon menarik Yuri dalam pelukannya dan mencoba menenangkannya. “kau percaya rencana Tuhan?. Tuhan tak akan memberikan cobaan yang berat melebihi batas kemampuan umat-nya. percayalah semua akan indah bila sampai tiba waktunya.” Lekas Jong Woon mencium dahi Yuri lembut berusaha meredakan tangisnya.

“kajja kita pulang, kau terlihat pucat hari ini. dan juga kau tahu pasti mereka berdua tak bisa tidur tanpa adanya salah satu dari kita.”

“lalu siapa yang akan menjaga Victoria jika ia tersadar?.”

“gwenchana. Dokter yang menangani Victoria bukan aku satu-satunya. Masih ada 2 dokter lagi yang bisa merawatnya. Kajja kita pulang. Aku takut jika Jung ahjumma tak bisa mengatasi mereka berdua.”

Baru berjalan beberapa langkah ponsel Yuri bergetar menandakan sebuah panggilan masuk.

“yeoboseo.”

“Ummaaa..” terdengar suara dua anak kecil yang sedang berteriak memanggil namanya. Spontan Yuri sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya.

“wae?.” Tanya Jong Woon yang heran.

“ne Chagi. Kalian belum tidur?.”

“aniyo umma. when appa…umma get back home?.

“molla.” Ucap Yuri yang sengaja menggoda.

“UMMMAAA….”teriak mereka sekali lagi.  “sepertinya kita harus segera pulang, kau benar jika Jung Ahjumma tak bisa mengatasinya sendiri.” Ucap Yuri pada Jong Woon yang diiringi kekeh-an pelan dari Jong Woon.

######

Malam semakin larut, dingin-nya salju yang menusuk tulang tak dihiraukan oleh seorang namja berbadan tinggi dan yeoja kecil yang kini tengah duduk disebuah bangku taman di tengah kota. Tiga jam sudah mereka berdua menunggu orang yang sangat mereka harapkan dan rindukan.

“Charie-aa. Apa kau kedinginan chagi?.”

“aniyo Daddy. Kapan Mommy akan datang?. aku yakin pasti Mommy akan datang.” dalam hati Charie gelisah sendiri. Ini tak seperti yang dibayangkannya. Sang umma pasti akan datang ia yakin itu. Kalau ia tak datang pasti memberi kabar melalui pesan singkat, setidaknya itu yang dilakukan Mommy-nya ketika akan menjemput Charie pulang sekolah.

“jika Mommy tak datang juga dalam waktu setengah jam lagi. Kita pulang, dan besok Daddy akan menemui Mommy!.”

“arraseo Dad!.”

Setengah jam pun berlalu dengan cepat. Charie masih gelisah dengan kedatangan sang Mommy yang tak urung datang juga. Sebenarnya apa yang terjadi pada Mommy?. Batin Charie.

“Charie-aa. Mommy-mu… ia tak akan datang. Mianhae Charie. Ini semua salah Daddy, hingga kau tak bisa bertemu dengan Mommy.” Ucap Channgmin yang mencoba memeluk putrinya itu agar membuatnya tenang.

“Dad, You shall not make yourselves feel guilty (jangan membuat dirimu merasa bersalah)!.” Jawab Charie yang mencoba menenangkan Changmin.

“Mommy adalah orang baik. Pasti Mommy mau memaafkan daddy.” Changmin tersenyum menanggapi putri kecilnya itu. Ia yakin sutu saat Victoria pasti akan memaafkannya.

“kajja kita pulang. Besok kau harus sekolah.”

“okay dad. Tapi aku mau daddy menggendongku.” Rengek Charie yang mengeluarkan aegyo-nya.

*****

Yoona terbangun seketika saat ia mendengar suara tangisan bayi yang menggema. Ia tahu jika kini Jaeseumin tengah terbangun karena sesuatu. Dirasaknnya seseorang memluknya erat saat ia tertidur.

“omona. Siwon!. Choi Siwon!.” kaget Yoona.

Siwon mengerjapkan matanya dan mulai terbangun menyesuaikan kondisi disekitarnya. “wae?. Bukankah ini rumahku juga. Wajar saja aku tidur denganmu, kau kan istriku?.”

“mwo?. Sejak kapan aku menjadi istrimu. Menikahiku saja belum!.” Tukas Yoona kesal.

“lepaskan aku dari pelukanmu ini. kau sangat berat!.”

“shirreo. Aku takut jika kau akan pergi lagi!.”

Yoona menghembuskan napas sesaat. “oh, ayolah!. Jaeseumin sedang menangis, dia membutuhkanku.”

“ne..ne..ne..” ucap Siwon mengalah.

Akhirnya mereka berdua berjalan menuju box bayi disebuah kamar bernuansa soft purple yang didesain khusus sebagai kamar bayi. Yoona melihat Jaeseumin sejenak dan menatap lekat bayi yang tengah menangis itu.

“Jaeseumin chagi. Diamlah. Ini sudah malam, kau haus chagi?.”

“sudah cepat beri dia susu!.” Perintah Siwon.

“disini?.”

“ya sudah lebih baik kita ke kamar saja!.”

Segera Yoona merebahkan dirinya dan kemudian mengikat rambut panjangnya keatas dan mulai menyusui-nya. Jaeseumin sepertinya sangat kehausan, terbukti ia menghisap sangat kuat. Sejenak Yoona mengelus lembut dahi Jaeseumin yang hampir tertidur kembali sambil menutupi dadanya dengan selimut yang telah dipakai Jaeseumin. Sementara Siwon memandang lekat Yoona dengan posisi tertidur menghadapnya.

“jangan memandangku seperti itu oppa!.”

“ne, wae?. Tenang saja aku tak akan memakanmu (?) malam ini chagiya.” Ucap Siwon yang menggoda Yoona.

“jangan menggodaku!. Aku risih dengan tatapanmu yang seperti itu.” Elak Yoona.

“arraseo.” Siwon pun mengecup kening Yoona dan kening Jaeseumin sekilas dan bergantian. Lalu memeluk keduanya hangat.

Beberapa menit kemudian…..

Jaeseumin yang sudah kenyang pun mulai tertidur kembali. Yoona merapikan bajunya sambil terduduk dan tersenyum melihat putri-nya yang tertidur pulas.

“kau sudah tidur oppa?.”

“hmm..” jawab Siwon sekenanya.

“tetaplah seperti ini. Aku ingin memeluk kalian berdua. Aku mencintai kalian berdua.” Yoona tersenyum atas perubahan sikap Siwon. Terlalu pahit memang saat ia mengenang masa lalu saat Siwon tak pernah menganggapnya, percuma saja ia mengenang masa lalu yang ada hanya luka yang menyakitkan. Sekarang Siwon telah berubah ia bisa mencintai dan menerima dirinya. Bahkan sekarang ia sangat menyayangi Jaeseumin. Yoona pun menerima pelukan hangat Siwon dan tertidur damai menuju alam mimpinya.

*****

“Kim Jae Woon…Kim Nam Young..apa kalian berdua tidak mengantuk?. Kau tahu ini sudah jam 10 malam. Bukankah seharusnya kalian sudah tertidur?.” Sang pengasuh yang sedari tadi menunggui mereka berdua mulai terlihat bosan dan mengantuk karena yang dilakukan dua bocah kecil itu hanya memenuhi buku bergambarnya itu dengan warna yang beragam dari sekotak crayon.

“aniyo. We waiting appa…umma.” jawab mereka berdua.

“oh. Ne..” balas sang pengasuh sekenanya.

“ahjumma..come heeal (here) please?.” Jae Woon menepuk pelan bantal disebelahnya dan menyuruh sang pengasuh untuk tidur. Sudah 4 botol susu yang telah mereka berdua habiskan namun entah mengapa mata mereka berdua masih belum mau untuk diajak kompromi untuk tertidur.

Sang pengasuh pun menuruti keinginan mereka berdua dan berbaring disebelah mereka. “ahjumma. Did you know if appa and umma love we very much..”

“ne.”

“oh. One molle (more) ahjumma. Appa…umma will give me little baby dongsaeng.” Nam Young mengerucut kesal karena tak ada respon dari sang pengasuh. Diliriknya sebentar dan ternyata sang pengasuh tengah tertidur disampingnya.

“opp..pa. ahjumma is sleeping.”

“jinja?. Kajja,  kita nyanyikan.” Perintah sang kakak.

Mereka berdua pun mulai me-nina-bobo-kan sang pengasuh yang seharusnya sang pengasuhlah yang menina bobokan mereka berdua. Bukan malah sebaliknya!.

Twinkle twinkle little star, How I wonder what you are, Up above the world so high,Like a diamond in the sky,Star light, Star bright,The first star I see tonight,……

“Ungie (Youngie). I’m hungly (hungry).”

“i wanna bottle oppa.”

Jae Woon pun segera menarik kembarannya keluar dari kamar setelah memastikan sang pengasuh tidur dengan lelapnya. Baru berjalan beberapa langkah menuju dapur. Mereka berdua dikagetkan oleh dua orang yang baru saja memasuki rumah.

“appa..umma..”

“apa yang kalian lakukan malam-malam seperti ini. dimana Jung ahjumma?.”

“Euhmm. She is sleeping. We put ahjumma in the bed (kami tadi menidurkannya).

“mwo?.” Koor Jong Woon dan Yuri kompak.

“Kenapa malah jadi terbalik seperti ini. seharusnya mereka berdua yang tertidur bukan Jung ahjumma.” Runtuk Yuri dalam hati.

“benar kan kataku?. Jung ahjumma tak bisa mengatasi mereka berdua.” Ujar Jong Woon yang diikuti anggukan oleh Yuri.

*****

Yuri memasuki kamar tidurnya dan mendapati Jong Woon tengah tertidur membelakanginya. Disibaknya selimut lalu ia mulai merebahkan dirinya membelakangi Jong Woon pula. Dirasaknnya tangan Jong Woon mulai memeluk pinggangnya erat. Ia tahu jika Jong Woon belumlah tertidur.

“oppa. gantilah pakaianmu dulu. Aku tak suka kau tidur dengan pakaian seperti ini!. dan apa lagi bau parfummu itu membuatku mual saja!.” pinta Yuri yang masih menyadari jika Jong Woon masih mengenakan kemeja kerjanya.

“gantikan pakaianku.” Rajuk Jong Woon.

“shirreo. Kau bisa ganti sendiri.” Tolak Yuri.

Jong Woon berdecak kesal saat Yuri memberikan tatapan death glare-nya, dengan terpaksa ia berjalan menuju lemari dan mengambil kaos sebagai gantinya.

“Ya!. Apa yang kau lakukan Kim Jong Woon?!. Kenapa melakukannya disini?.”

“wae?. Apa salahnya aku membuka baju disini?!. Apa kau mau kita melakukannya lagi malam ini?.” goda Jong Woon.

“yak!. Dasar Pervert!.” Yuri pun segera menutup matanya karena kesal melihat tingkah Jong Woon yang selalu menggodanya.

“Yuri-ya” panggil Jong Woon lembut.

“hhmm…jangan bilang kau menginginkan bercinta malam ini. Aku sedang tidak mood untuk melakukannya.” Tolak Yuri tegas.

“mwo?. Kenapa kau tahu isi pikiranku?.”

“karena otak mesum-mu itu selalu bekerja jika berkaitan dengan bercinta.”

“baiklah kalu begitu. Peluk aku. Aku tak bisa tidur. Jae Woon saja kau peluk saat ia akan tertidur!.” Yuri menghela napas kemudian ia memeluk Jong Woon yang merengek sedari tadi.

“baby Kim. Kajja kita tidur, arrachi?.” yuri pun segera mengelus kepala Jong Woon lembut.

“yak!. Aku bukan Jae Woon anakmu!.” Jong Woon kembali berdecak kesal karena Yuri menganggapnya sebagai anak bayi.

“kalau dia anakku, apa dia bukan anakmu juga?.” Balas Yuri tak kalah sinis. “siapa yang membuatnya?. Tentu saja kau juga mendapat andil dalam membuatnya!.”

“lalu kau?. Bukankah kau juga menikmati acara pembuatan-nya!.” balas Jong Woon tak mau kalah.

“mwo?. Aisshh…aku mau tidur. Dasar ahjussi mesum!.”

“Chagiya..aku punya pertanyaan. Dan kau harus menjawabnya?.” Tawar Jong Woon yang kembali membuka pertanyaan sambil memeluknya dari belakang.

“hmm…terserah kau saja. Jika bisa akan ku jawab. Kalau tidak jadikan PR untukmu.” Jawab Yuri sekena-nya.

“kau mau menggodaku Kim Yuri?.” ujar Jong Woon seduktif.”

“maksudmu?.” Tanya Yuri heran.

“kau bilang jika kau tak mau bercinta?. Tapi kenapa kau menggodaku dengan tidak memakai bra saat tidur?.”

Mata Yuri melotot sempurna ia mendorong tubuh Jong Woon menjauhinya, lekas ditariknya selimut itu hingga mencapai dadanya. “YAAA!. Apa yang kau lakukan Kim Jong Woon!.” Teriak Yuri panik saat Jong Woon mulai meraba-raba punggungnya.

“aigoo…ternyata kau ini!.” ucap Jong Woon gemas. “kau bilang kau tak mau bercinta, tapi tubuhmu tak mau menolaknya.

“minggir kau!.” Sinis Yuri yang langsung beranjak berjalan menuju lemari pakaian.

Slettt…kembali Jong Woon berulah. Kali ini ia menggendong tubuh Yuri. Sementara Yuri mencoba meronta dengan menendang-nendangkan kakinya ke udara.

“turunkan aku oppa..” ronta Yuri.

“tenang saja. Aku tak akan menyerangmu malam ini.” jelas Jong Woon yang merebahkan Yuri diatas ranjang mereka.

“aku tak percaya padamu?.” Jawab Yuri acuh.

“aku serius.” Lanjut Jong Woon.

“kalau begitu jangan memelukku.” Ancam Yuri.

“tapi aku tak bisa tidur jika tak memelukmu.” Jong Woon tersenyum penuh arti saat melihat Yuri diam mengizinkannya.

*****

Perlahan namun pasti Jong Woon mulai menciumi leher istrinya itu yang berlanjut menuju atas sampai berhenti tepat didepan bibir Yuri. pelan-pelan ia mendekatkan bibirnya dan dikecupnya lembut bibir sang istri.  Sementara tanganya tak mau berhenti mengelus perut rata sang istri.

“oppa..” Yuri membesarkan matanya saat ia merasakan tangan Jong Woon naik keatas dan meraba-raba dadanya. Spontan Yuri mencoba menahan tangan Jong Woon untuk berhenti melanjutkan aktivitasnya.  Tapi Jong Woon hanya tersenyum penuh arti menatap lekat bola mata Yuri.

“Yuri-ya. Kenapa aku merasakan sekarang dadamu semakin besar?.” Tanya Jong Woon polos.

“dasar pervert!. kenapa menanyakan hal seperti itu. Jika bertambah besar, semua itu karena ulahmu!.”

“berarti aku hebat dalam melakukan hal itu.” Jong Woon menyunggingkan senyum mengerikan.

PLAAKKK…

Sebuah buku berhasil mendarat di kepala Jong Woon karena ulah Yuri.

“appo..kenapa kau memukulku?. Kenapa sekarang kau jadi lebih suka emosi dan sensitive ?. Apa kau sedang telat datang bulan?.”

“apa bulan ini kau sudah datang bulan?.” Lanjutnya kembali asal berbicara.

“apa yang kau bicarakan Kim Jong Woon!.” Murka Yuri kembali.

“ya mungkin saja. Dan siapa tahu kau sedang hamil. Ciri orang hamil adalah suka emosi dan dadanya membesar?.” Jawab Jong Woon sekenanya lalu mulai memejamkan matanya.

Yuri terhenyak sejenak saat Jong Woon berbicara tentang ‘hamil’. Benarkah dirinya kini tengah mengandung lagi?. Ia tak tahu persis omongan Jong Woon itu nyata atau hanya candaan belaka. Dilihatnya kalender yang berada diatas nakas.

“jeongmal?. Benarkah ini semua. I’m late?.”

Kemudian ia mengelus perut ratanya, benarkah disini ada malaikat kecil yang tengah berkembang dalam rahimnya?.

*****

Cahaya matahari pagi di musim dingin menembus celah jendela bergorden berwarna soft cream itu. Bias cahayanya mengenai seorang yang sedang terlelap di atas ranjang yang berada tepat di sebelah jendela. Sepertinya tubuh seorang namja yang terbaring di ranjang itu masih enggan beranjak dari tidurnya. Dia malah membenamkan tubuhnya lebih dalam lagi ke dalam selimut yang hangat karena cuaca diluar terlalu dingin.

Tapi sebuah suara riuh seakan menggannggu tidurnya dan berusaha untuk membangunkan dirinya. “appa..appa..wake up!.” Jong Woon mengerjapkan matanya sejenak saat melihat seorang namja dan yeoja kecil tengah membangunkan tidurnya yang indah.

“hmmm…ne?. wae chagi?.”

“sampai kapan kau akan tertidur Kim Jong Woon!.” Yuri menatap kesal Jong Woon, Ia melipat tangan didadanya. Sejak satu jam yang lalu sulit untuk dibangunkan.

“appa..appa..illeona (irreona).” Rajuk mereka berdua.

“pppooppo.” Ucap Jong Woon menunjuk pipi kanan-nya.

~Chu..

“gomawo chagi..”

“appa.. when baby dongsaeng is coming?.” Kembali Jong Woon menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal, bingung harus menjawab apa.

Mereka berdua sakan tak puas dengan jawaban sang appa yang tak menjawab juga. Ia akhirnya menoleh pada sang umma yang tengah berdiri menunduk dengan muka sedikit merona kemerahan. Kemudian ia duduk disamping kedua malikat kecilnya dan mengelus kepalanya pelan. “chagi, punya dongsaeng itu tak semudah itu. Eomma harus mengandung dulu. Dan itu lama, Saeng bukan mainan Chagi, tapi seorang adik kecil yang harus disayangi. Arraseo?.”

“ne. Umma.” ucap mereka berdua mengangguk. “kajja, kalian makan dulu. Nanti eomma menyusul.”

“allaight (allright) umma. but we’ll get baby dongsaeng umma?.”

“maybe yes.”

“promise umma?.”

“ne..promise babe.”

 

Beberapa saat kemudian….

Jong Woon berjalan keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan hanya handuk yang melilit bagian bawah tubuhnya. Ia menyeringai kecil saat melihat Yuri yang memandang cengo akan keberadaanya.

“merasa tergoda nyonya Kim?.” Yuri tersentak kaget mendengar Jong Woon berkata seperti itu dan melihat Jong Woon dalam keadaan topless.

“sayang-nya tidak Kim Jong Woon-sshi.”

“jinja?.” Jong Woon pun semakin mendekat dan memperpendek jarak diantara mereka berdua.

“oh. Jangan katakan jika kau masih malu denganku. bukankah kau sudah melihat semuanya?.” kekeh  Jong Woon yang spontan membuat tubuh Yuri menegang.

“eeuuh..mm..ann..niyo..”

“kalau begitu beri aku morning kiss!.” Goda Jong Woon.

Jong Woon memojokkan tubuh Yuri dan langsung mencium bibirnya, Yuri mencoba berontak namun ciuman Jong Woon yang seolah candu yang memabukkan tubuhnya yang mengakibatkan ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menikmatinya. Perlahan Jong Woon melepas ciuman mereka, dengan jarak yang sangat dekat membuat keduanya merasakan nafas mereka yang tersenggal satu sama lain.

“oppa…apa kau serius ingin memberikan dongsaeng untuk mereka berdua?.” Tanya Yuri serius setelah kembali mengatur napas-nya.

“tentu saja jika kau menyetujuinya.”

Kemudian Yuri merogoh saku celana pendeknya dan mengeluarkan sebuah benda panjang kecil. Senyum berkembang dibibir Yuri saat Jong Woon menerima benda mungil itu dan melihat secara seksama.

“Dua garis?.” Ucap Jong Woon tak percaya.

“ne..semalam aku tak bisa tidur karena memikirkan perkataanmu yang mengatakan jika aku hamil. Aku baru sadar jika aku sudah telat selama 6 minggu. Dan tadi pagi tak sengaja aku menguji-nya.”

“Yuri-ya..chagi..kau benar-benar..?.” Jong Woon buru-buru memeluk istrinya itu mendekap yeojanya sangat erat.

“saranghae..jeongmal saranghe..kau akan memberikan kembali satu malaikat kecil untukku.” Lanjut Jong Woon.

“nado oppa.” Yuri menatap sekilas Jong Woon dan mengelus lembut pipinya yang akhirnya membuat Jong Woon kembali memeluknya dan mencium sekilas bibir Yuri.

*****

Warna putih atap sebuah ruangan menyambut penglihatan Victoria yang mulai tersadar akan kondisinya saat ini. kepalanya terasa pening saat ia berusaha untuk menegakkan dirinya. Bayangan –nya kembali pada saat malam itu. Ia teringat jelas jika Charie menunggunya disebuah taman.

“omona!. Nona Song.” Seorang dokter tak sengaja melihat Victoria kini tengah tersadar.

“dimana aku?.” Tanya Victoria tak mengerti.

“sebentar nona. Saya akan memeriksa anda dulu.”

Beberapa menit kemudian setelah pemeriksaan selesai. Victoria memandang cemas langit –langit rumah sakit. Sekarang yang ada dipikirannya hanya bagaimana keadaan Charie. Diambilnya sebuah ponsel berwarna putih pekat dan mengaktifkannya kembali.

116 panggilan dan 40 pesan pendek masuk kedalam ponselnya. 100 panggilan sendiri dari Charie dan sisanya dari Changmin. Victoria tersadar seketika, 3 hari sudah ia terbaring tak sadarkan diri akibat penyakit yang kambuh kembali.

Dengan berani Victoria mencoba menghubungi Charie. Ditunggunya beberapa detik agar sambungan telepon-nya segera terhubung dengan nomor Charie.

“yeoboseo..Charie-aa.”

“Mommy..mom?. kenapa mommy baru menghubungiku?.”

“mianhae Charie-aa.Mommy tak bisa menepati janji Mommy untuk bertemu denganmu dan Daddy.”

“mom..”

“kau pantas membenci mommy-mu ini Charie..”isak Victoria yang mulai menangis.

“mom..jeball. jangan menangis. Mommy bilang jika mommy selalu ada untuk Charie. Charie tahu itu mom. Maafkanlah Daddy!.”

Kontan Victoria kembali menangis. Ia menangisi hidup-nya kini. Charie, anak semata wayang-nya yang baru berusia tujuh tahun mengerti bagaimana keadaanya dengan Changmin.

“Mom. Jangan benci Daddy. Charie, yang salah karena meminta Mommy bertemu dengan daddy.” Isak Charie yang mulai terdengar oleh Victoria.

“charie-aa. Dengarkan Mommy. Mommy tak pernah membenci daddy. Charie ada karena Mommy dan daddy saling mencintai.”

“Mom, besok akan ada acara penutupan disekolah. Apakah Mommy bisa melihatku.”

“ne..tentu saja Chagi. Mianhae, Mommy selalu mengecewakan Charie.”

“Chariee..Shim Charie..kajja kita membeli hadiah natal dan menghias pohon natal.” Teriak sang appa dari luar kamar.

“okay dad!.” Balas Charie.

“see you mom. Love you more.” Ucap Charie mengakhiri telepon-nya.

“Charie..Shim Charie. Mianhae, Mommy selalu mengecewakanmu.” Isak Victoria menelungkupkan kepala pada kedua lutut-nya setelah mengakhiri teleponnya dari seberang. Apakah dirinya harus kembali bersama Changmin demi Charie?. Satu keinginan Victoria, melihat Charie tersenyum bahagia.

*****

“aigoo..Kwon Yuri. kenapa kau bernafsu sekali untuk makan akhir-akhir ini.”

“Apa terjadi sesuatu padamu?.” Selidik Yoona.

“ne?..”

“kau harus diet!. Berapa berat badamu saat ini!.”

“49 kg. Tapi aku selalu merasa kelaparan. Lebih baik aku makan saja daripada berdiet Jong Woon oppa bisa mengurungku dirumah seperti tahanan.”

“mwo?. Maksudmu?.”

“aku sedang hamil Yoong.” Ucap Yuri keluar begitu saja dari mulutnya. Kau pikir nafsu orang hamil saat makan apa tak bertambah?.”

“jinja?. Berarti Kim Twins akan segera memiliki Dongsaeng?. Aigoo..kalian ini cepat sekali memberikan dongsaeng pada mereka. Padahal mereka baru saja berusia 3 tahun.”

“bagaimana aku tak hamil lagi. Secara mereka berdua bersekutu dengan Jong Woon yang kerjanya setiap hari merengek meminta dibuatkan dongsaeng. Sedangkan Jong Woon selalu menerkamku secara tiba-tiba setiap malam.” runtuk Yuri dalam hati.

“sudahlah jangan dibahas masalah itu!. Sekarang kita bahas masalah pernikahanmu. Apa yang kurang?.”

“semuanya hampir 80% selesai. Tapi aku masih membutuhkan dua orang anak. satu sebagai pengiringku dan satu sebagai pemegang cincin pernikahan kami. Kau punya ide?.”

“euhmm..mungkin kau bisa menyewa dua orang anak kecil dimana begitu?.”

“tapi mana ada tempat persewaan anak?.”

“ada. Kau bisa menyewa kedua anakku. Jika kau menginginkannya.” Jawab Yuri jahil.

“if you want, you can borrow it briefly.” Lanjut Yuri sekali lagi, kali ini sedikit lebih keras sedikit untuk menggoda mereka berdua.

“how much will i have to pay?.”

“whatever..”

“umma….” teriak mereka yang mungkin mendengarnya.

“alle(are) you going to sell us umma?.” tanya Nam Young polos.

“ne. Your umma will sell us with ahjumma.” Imbuh Yoona yang ikut menggoda mereka berdua.

“huuuaa…oppa…appa…huaa..huaa…” spontan Nam Young yang mengerti arah pembicaraan mereka langsung menangis keras.

Sementara Yuri dan Yoona tertawa terbahak melihat kedua bocah itu menangis saa ditaku-takuti jika mereka akan dijual.

“Umma….i hate You..i’ll report with appa..”

“IM YOONA…KWON YURI…” teriak Siwon yang baru saja masuk dan mendapati dua yeoja itu tengah tertawa diatas tangisan kedua anak Yuri.”

“ne..oppa. kau sudah pulang?.” Tanya Yoona yang menghampiri Siwon.

“cepat bawa pulang kedua anakmu itu Yuri. kau tahu pasti Jaeseumin akan menangis jika mendengar suara tangisan sekeras itu.”

“ne. Arraseo. Choi Siwon!.” ucap Yuri yang masih menahan tawa lalu berjalan mendekati mereka berdua.

~Chu..dikecupnya singkat bibi Siwon agar berhenti mengomel. “sudahlah. Kami hanya menggodanya saja.” lerai Yoona menampilkan wajah manisnya.

“chagi kajja kita pulang. Appa sudah menunggu dirumah.” Perintah Yuri.

“shilleoo.” Teriak mereka berdua sekali lagi.

*****

Entah sejak dua jam yang lalu Jae Woon dan Nan Young mengurung diri mereka di dalam kamar. Yang mereka lakukan hanya berteriak – teriak tak jelas perihal tentang menjual.

“ungie (Youngie). you know if oppa is very cute and handsome?.” Ucap Jae Woon yang masih mengerucutkan bibirnya dan duduk bersila diatas ranjang. (ini anak narsis amat -_-)

“ ne oppa. wae umma wanna sell us. Umma is bad!.” Tandas Nam Young.

Tokk..tokk..tok.. sebuah ketukan pintu berhasil membangunkan mereka.

“chagi..apa kalian masih marah pada umma. Just kidding chagi. Umma hanya bercanda?.” Teriak Yuri dari luar.

“i hate umma. dlonnt (don’t) touch me again umma!.” teriak Jae Woon dari dalam kamar.

“huh.” Yuri meniup poni-nya keatas dan mencoba bersabar. “jika kalian lapar, botol susu dan cemilan kalian ada diatas meja!.” Teriak Yuri kembali.

“kami tidak lapal(lapar) umma.” koor mereka berdua kompak.

“Sebentar lagi kalian pasti akan mencari kekasih kalian. Umma tahu jika kalian tak bisa jauh dengan botol susu.” Umpat Yuri dalam hati penuh kemenangan.

 

Beberapa saat kemudian….

“oppa. i’m Hungly (hungry).” Rengek Nam Young yang dibalas anggukan oleh Jae Woon.

“ne. Kajja kita kelual (keluar).

Jae Woon mengamati sekelilingnya setelah keadaan benar-benar aman, mereka berdua mengendap-endap mencari botol susu kesayangan mereka. “sstt..”perintah Jae Woon pada sang adik.

“shut up!.”

Hap…diambilnya dua botol susu itu diatas meja. Lalu tak lupa mengambil semua cemilan yang tersedia. Mereka berlari secepat mungkin agar tak ketahuan sang umma yang tengah memergoki mereka.

“kajja oppa..”

Akhirnya mereka berdua berhasil memasuki kamar setelah berkutat dengan acara pengambilan botol susu dari sang umma. tapi baru beberapa saat setelah itu, terdengar derap langkah yang mungkin mereka bisa tebak.

“omo umma!!..oppa.” pekik Nam Young yang teburu-buru masuk kekamar!.”

*****

Hueeekkkk….hueekk…Yuri segera beranjak dari ranjangnya dan meuntahkan isi perutnya itu kedalam wastafel. Tiba-tiba ia merasakan perutnya diaduk-aduk seperti ingin mengeluarkan sesuatu.

“Hueek..” kembali Yuri mengeluarkan isi perutnya. Ia mencoba berpikir kembali, apa ia terlalu banyak mengkonsumsi Jeruk dimusim dingin ini?. Jinja?. Kenapa hamil harus terkena morning sickness seperti ini?. gerutu Yuri dalam hati.

“hueekk…hueekk…”kali ini hanya cairan bening yang keluar.”

“Yuri-ya..” panggil Jong Woon yang mendengar suara orang muntah dari dalam kamar mandi. Lekas ia menyusul Yuri dan memijat tengkuknya perlahan.

“tenanglah. Aku tahu jika Morning Sickness tak mengenakkan.”

“gwenchana aku tak apa-apa.” Seketika itu Jong Woon mengangkat tubuh Yuri dan membaringkannya diatas ranjang. Kemudian memberikannya minum. lalu mengistirahatkannya sejenak.

Sejenak Jong Woon berada diatas rangjang bersampingan dengan Yuri dan membelai lembut rambut Yuri penuh kasih yang kini besandar didada-nya.

“oppa. bagaimana keadaan Victoria hari ini?.” tanya Yuri memecah keheningan.

“dia sudah tersadar. Namun kanker-nya semakin parah. Belum ada pendonor hingga saat ini.”

“sepertinya aku harus memberitahukan-nya pada eomma. Mungkin inilah cara terbaik!.” Desis Yuri pelan.

“kau serius?.”

“mungkin Inilah yang terbaik oppa.”

Kembali Yuri menenggelamkan kepalanya pada bahu Jong Woon mencoba untuk mencari ketenangan.

“kenapa rumah sepi?. Apa Jung ahjumma mengajak mereka bedua pergi?.”

“aniyo. Mereka sedang mengurung diri dikamar. Karena sesuatu?.”

“anything?.”

“molla.”

Keduanya pun berjalan kembali menuju kamar Jae Woon dan Nam Young. Diketuknya pelan pintu kamar mereka berdua, namun tak ada respon yang menjawabnya. Jong Woon tak hilang akal ia pun mengambil kunci cadangan didalam laci.

Cckrekk…dibukanya pintu kamar dan mempertontonkan adegan dua orang anak kecil tengah terlelap menggenggam botol susu mereka. Yuri menyeringai kecil saat melihat-nya.

“benarkan kalian tak bisa jauh dari botol susu?.” Ucap Yuri penuh kemenangan.

Perlahan mereka terbangun karena tengah merasakan ada seseorang didekat mereka. “appa..”

“Umma!!…” teriak mereka berdua.

“wae?. Kalian berteriak?.” Heran Jong Woon.

“hikss..hiks..umma will sell us with Yoona Ahjumma.”

“MWO?.” Jong Woon membulatkan matanya sedangkan Yuri seketika itu tertawa terbahak keras kembali mendengar yeoja kecil-nya itu dengan polosnya berkata ia akan dijual. Mana ada umma yang menjual anaknya sendiri.

“hahaha…”

“is not amusing umma!.” tatap Jae Woon kesal.

“ne..ne..did you know if umma and Yoona ahjumma just kidding?.”

“jinja umma?.”

“Yoona ahjumma meminta bantuan kalian untuk menjadi pengiring pengantin nanti!. Apa kalian mau?.”

“ne. Umma.” koor mereka kompak.

“Yuri-ya. Apa kau sudah memberitahu pada mereka berdua?. Perihal..”

“Jae Woon oppa..Youngie Chagi. Benar-benar menginginkan dongsaeng?. Jeongmal?.”

“ne. Umma. I wanna saeng is neomu kyeopta.”

Tangan Yuri memegang tangan kecil mereka berdua dan mengarahkan-nya tepat menyentuh perut datarnya itu.

“sebentar lagi dongsaeng kalian akan hadir. Kalian harus menjadi kakak yang baik untuk-nya. arra?.”

“Saeng kalian berada disini.” Kata Yuri sekali lagi. Seulas senyum tulus diperuntukan Yuri untuk mereka berdua.

“Love you molle (more) umma. gomawo umma.”

“love you too babe. Cheomaneyo chagi.”

—TBC—

Sekian dulu…author minta maaf karena kependekan bikinnya…

Oke author disini akan ngoceh sedikit…satu. mianhae author bakal hiatus sementara karena mau fokus ke UAS Kuliah mungkin sekitar akhir januari awal februari baru bisa aktif lagi.

Kedua…kemarin ada comment yang cenderung ngebash tokoh karakter ini lalu author delete…oke author hargai ke-nge-fans-an kalian pada salah satu idola (author gak sebut nama). Tapi tolong hargai karya kami. Author disini hanya sekedar menyalurkan ide, g lebih.. jadi sekali lagi jangan ngebash couple.

GamsHa…..

75 thoughts on “Stay With One Love (Part 10)

  1. kim twins neomu neomu kyeopta, akhirnya yuri eonni hamil, permintaan kim twins terpenuhi deh, usaha jong woon oppa membuahkan hasil, vic smoga cpat sembuh ne, 🙂

  2. Kocak bgt yoona n yuri ngegodain si kembar hehee.skrg siwon lbh proktektif bgt sama yoona n putrinya. Project membuat dongsaeng berhasil…yesung n sikembar senang bgt. Lanjut lagi aha bacanya.

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s