Unwanted Marriage [Part 1]

unwanted marriage

Author : erlyRine

Main Cast :

  • Hwang Chansung ‘2PM’
  • Choi Jinri / Sulli ‘f(x)’

Support Cast :

  • Son Naeun ‘A Pink’
  • Lee Taemin ‘SHINee’

Genre : Romance, life

Length : Chapter

Rating : PG-15

Disclaimer :

Ide cerita milik saya sepenuhnya yang terinspirasi dari berbagai drama yang pernah saya lihat sebelumnya.

***

Gadis itu mengayuh sepedanya dengan santai untuk mengantarkan pesanan ayam goreng. Ya, gadis itu berasal dari keluarga yang tidak kaya namun masih memiliki sebuah toko ayam yang menjadi warisan keluarganya satu-satunya. Meskipun demikian, ia masih merasa bahagia karena memiliki kedua orang tua yang lengkap dan ia masih dapat dilahirkan di dunia ini dengan sempurna.

Gadis itu memberhentikan sepedanya tepat di depan sebuah toko kecil yang menjual berbagai kebutuhan rumah yang terletak di persimpangan jalan. Ia turun dari sepedanya lalu memarkirnya di depan toko tersebut. Tak lupa juga ia mengambil sekotak ayam goreng yang menjadi tujuannya datang ke toko itu. “Ahjussi, ini adalah ayam goreng yang kau pesan,” katanya sambil tersenyum manis hingga membuat kedua kelopak matanya membentuk bulan sabit.

“Oh, Jinri ah,” jawab Ahjussi itu sambil menurunkan koran pagi yang ia baca dan menatap gadis yang ada dihadapannya ini. Ahjussi itu menerima sekotak ayam goreng itu sambil memberikan 2 lembar uang sepuluh ribu won.

Gadis itu menerima uang itu dan membungkuk sambil mengatakan “Gamsahamnida ahjussi.” Setelah selesai melakukan pekerjaannya, ia memutuskan untuk pulang ke rumahnya dan kembali membantu orang tuanya bila tiba-tiba ia dibutuhkan.

***

Namja itu terlihat menghadapi yeoja di depannya yang tengah menangis dengan santainya. Tidak ada sedikitpun perasaan bersalah yang timbul di dalam hatinya. Ia terus menganggap bahwa bila kau memutuskan untuk mencintai seseorang berarti kau telah bersiap untuk sakit hati. Jadi, wajar saja bila ia terlihat santai.

“Kenapa hubungan kita harus berakhir? Aku tidak mau,”  kata gadis itu dengan terbata-bata sambil menghapus air matanya dengan tisu yang ada di depan meja mereka.

Namja itu menggelengkan kepalanya sambil memberikan yeoja itu beberapa lembar tisu dan berkata “Kau tidak menarik lagi,”

Gadis itu mendongakkan kepalanya menatap namja yang di hadapannya ini “Kenapa? Aku telah memberikan ciuman pertamaku untukmu,” jawab yeoja itu.

“Aku harus menjalani hidupku yang baru sebagai seorang Star dan itu artinya aku tidak boleh berhubungan dengan orang biasa sepertimu karena itu pasti akan menurunkan derajatku. Mengerti?” terangnya pada yeoja itu dengan panjang lebar. Sesungguhnya ia sudah cukup muak melihat yeoja yang ada dihadapannya ini –yang hanya mau berpacaran dengannya karena identitas bukan karena cinta–. Ia paling benci bila harus berhadapan dengan orang-orang yang demikian.

***

Ketika melewati sebuah cafe, dari kaca jendela Jinri tidak sengaja melihat seorang gadis yang menangis tersendu-sendu sedangkan namja dihadapannya yang memakai topi hanya melipatkan kedua tangannya dan menatap gadis itu dengan santai. Namja itu terlalu egois, pikirnya.

Ia terus mengayuh sepedanya sampai akhirnya ia sampai di depan rumahnya. Ia memarkirkan sepedanya di luar rumahnya dan memasuki rumahnya dengan ceria. Namun ketika ia memasuki rumahnya, suasana rumahnya hening yang dapat terdengar dengan jelas adalah volume suara televisi yang semakin dibesarkan. Ia menghampiri ibunya yang terlihat sedang menonton televisi dengan seriusnya tanpa melepaskan pandangan mereka sekalipun dari sana seakan-akan ada sesuatu yang mereka tunggu dari siaran televisi itu. “Jinri, kaukah itu?” tanya eommanya yang masih tidak mau mengalihkan pandangannya sesentipun dari televisi.

Ia menganggukkan kepalanya lalu mengikuti tindakan eommanya yang menonton televisi dengan serius. Saat ia mengetahui apa yang ditonton oleh eommanya, ia menggelengkan kepalanya. Lagi-lagi acara We Got Married, gumamnya.

Ia menjauhkan dirinya dari eommanya lalu berlari menuju ke dapur untuk mengambil segelas air mineral dingin dari dalam kulkas. Baru saja ia meneguk segelas air mineral itu, eommanya menjerit dengan histeris sehingga membuatnya menyemburkan air itu keluar dari mulutnya dan dengan segera berlari menghampiri eommanya. “Apa yang terjadi?,” tanyanya dengan panik.

Eommanya segera berlari menghampirinya lalu memeluknya dengan erat. Ia terkejut dengan sikap eommanya itu dan melirik ke arah appanya, appanya hanya tersenyum padanya sambil mengangkat bahunya dan kembali pada pekerjaannya.

“Jinri, kau terpilih,” seru eommanya dengan bahagia.

Jinri tidak mengerti maksud dari eommanya. Ia menatap eommanya dengan pandangan yang seakan-akan meminta penjelasan dari eommanya.

Eommanya melepaskan pelukannya dan memegang pundaknya Jinri lalu menarik nafas yang dalam dan berkata dengan lambat “Dengar eomma baik-baik yah nak, eomma mengirimkan data dirimu untuk mengikuti We Got Married dan kau tahu nak, dirimu terpilih,”

Jinri berdiri menegang menatap eommanya. Ia tidak tau ia harus bereaksi seperti apa. Ia tidak menyangka bahwa eommanya akan mengirimnya untuk mengikuti acara yang sama sekali menurutnya tidak memberikan keuntungan apapun.

Eomma tahu, kau pasti sangat shock sekarang. Eomma bisa mengerti akan hal itu karena eomma juga merasakan hal yang demikian,” jawab eommanya ketika melihat reaksi Jinri yang terdiam.

Lama Jinri berdiri dalam posisi terdiam sampai pada akhirnya ia menatap eommanya dan berseru ke arahnya “Eomma, apa yang kau lakukan?!”

Eommanya tersentak kaget. “Eomeo, mengagetkanku saja,” jawab eommanya sambil mengelus dadanya yang terkejut tadi karena perbuatan anak gadisnya itu.

Shireo, aku tidak mau mengikuti acara yang demikian,” jawabnya sambil beranjak pergi meninggalkan eommanya dan masuk ke dalam kamarnya.

Eommanya mengikutinya dari belakang sambil berkata “Apa kau yakin? Ini adalah kesempatan langka dan kau tahu, semua yeoja sangat ingin mengikuti acara ini dan eomma berharap kau mau mengikutinya. Ini semua demi keluarga kita, kita akan mendapatkan uang banyak bila kau mau mengikutinya,”

***

Jinri merebahkan tubuhnya di atas kasurnya dengan perasaan kesal. Berkali-kali ia terlihat memukul kasur tempat tidurnya untuk melampiaskan rasa kesalnya. Bagaimana bisa eommanya mengirimkan data dirinya untuk mengikuti acara itu tanpa sepengetahuannya.

Pantas saja, akhir-akhir ini ia sering melihat eommanya menonton acara We Got Married, ternyata dibalik itu semua ada sebuah tujuan yang terselubungi. Tiap bulan, acara We Got Married itu, akan mencari satu rakyat biasa yang dianggap memenuhi kriteria untuk dipasangkan dengan seorang aktor dan mereka akan menjalani aktivitas mereka layaknya sepasang suami istri, tinggal serumah, tidur satu ranjang, makan bersama, dan sebagainya. Semua aktivitas mereka akan disorot oleh kamera.

Jinri mengerutkan dahinya, ia tidak ingin mengikuti acara seperti itu bahkan tidak pernah berpikir untuk mengikuti acara seperti itu. Ia tidak ingin menjalani sebuah pernikahan pura-pura, belum lagi ditambah dengan ia tidak tau siapa aktor yang akan dipasangkan dengannya.

***

Chansung memasuki apartemennya dengan hati-hati. Ia tidak lupa melirik kesana kemari dan berharap tidak ada wartawan yang mengikutinya. Setelah ia yakin bahwa keadaan benar-benar aman, barulah ia bisa berjalan dengan tenang.

Ia memasukkan beberapa kode untuk membuka pintu rumahnya. Ketika pintu terbuka, ia dapat melihat managernya berada di dalam rumahnya dengan menyilangkan kedua tangannya di dadanya. Dari sorot matanya, Chansung dapat membaca bahwa managernya saat ini tengah marah besar.

“Dari mana saja kau?”  seru managernya itu kepadanya.

“Oo, Noona, tenanglah, aku hanya pergi untuk menyelesaikan masalahku,” jawab Chansung santai sambil menepuk pundak managernya itu.

Managernya itu –Choi Sooyoung— menatapnya dengan saksama seakan-akan ia dapat menemukan jawaban dari raut wajah Chansung. “Kau bertemu lagi dengan Yura?” tanyanya yang berniat untuk menyelidikinya.

Yang ditanya hanya menganggukkan kepalanya dan berkata “Aku hanya pergi untuk memperjelas hubungan kami bahwa aku dan dia tidak ada apa-apa lagi,”

Sooyoung menggelengkan kepalanya dengan pasrah dan berkata “kau tidak tau bagaimana besarnya dunia pers? Mereka bisa mengikutimu kemana-mana. Bagaimana kalau seandainya kau tertangkap sedang pergi berdua dengan seorang gadis?”

Chansung menghela nafasnya. Ia tahu benar apa yang ditakutkan oleh managernya itu. Ia memang baru memulai kariernya sebagai seorang aktor dan sebagai seorang aktor pendatang baru, ai tidak boleh terlibat skandal maupun berita apapun. “Tenanglah noona, tidak ada pers yang mengikutiku tadi, aku sudah memastikannya 100%,” terangnya sambil tersenyum manis.

“Kenapa kau bisa begitu yakin? Bisa saja gadis itu menyebarkan berita bahwa kau berpacaran dengannya dan kau bahkan pernah berciuman dengannya,” terang Sooyoung.

Chansung sedikit kaget ketika mengetahui bahwa Sooyoung telah mengetahui tentang dirinya yang berciuman dengan Yura, namun sebisa mungkin ia bersikap tenang sehingga ia juga dapat menenangkan Sooyoung “Memang benar, tapi kupastikan hal itu tidak akan terjadi. Aku tidak pernah mengambil foto dengan dirinya jadi mana ada pers yang mau mempercayainya bila ia tidak punya bukti, bukan begitu? “

“Kuharap itu benar. Kau harus ingat akan kontrakmu dengan JYP Entertainment, tidak terlibat skandal apapun selama 3 tahun,” terang Sooyoung padanya. “Persiapkan dirimu esok hari, ingat mulai besok kau akan mengikuti acara We Got Married dan pasanganmu adalah rakyat biasa dan kau harus tahu, kau tidak boleh melakukan hal-hal yang membahayakan dirimu sendiri,” tambahnya.

Chansung mengangguk tanda paham lalu berjalan pergi meninggalkan Sooyoung yang sedang menelepon seseorang.

***

Malam itu, meski sedikit kesal dengan sikap eommanya, Jinri masih mau berjalan ke ruang makan untuk makan malam bersama. Ia menarik sebuah kursi yang ada disebelah eommanya dan duduk disana.

Oh, Jinri, bagaimana apa kau sudah mempertimbangkannya?” tanya eommanya dengan semangat.

Dari raut wajah eommanya yang terlihat bersemangat, ia dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya eommanya lebih bersemangat untuk mengikuti acaraseperti itu dibanding dengan dirinya. “Kenapa tidak eomma saja yang pergi untuk mengikuti acara seperti itu?” gerutunya kesal.

Eommanya melirik sekilas ke arah appanya yang menatapnya tajam dan tersenyum ke arah Jinri “Eomma sudah tua, kalaupun eomma muda, eomma pasti akan mengikuti acara itu,” jawab eommanya sambil tersenyum tersipu malu.

Jinri menatap eommanya sambil menggelengkan kepalanya “baiklah, aku pasrah,” jawabnya sambil menyuapi mulutnya dengan sesendok nasi putih.

“Jadi kau mau mengikutinya? Ayolah nak, bila kau mengikutinya kita akan mendapat banyak uang yang bisa digunakan untuk memperluas toko ayam kita,” tanya eommanya yang mulai tersenyum-senyum sendiri membayangkan toko ayam mereka yang besar dan indah.

Jinri melirik sejenak ke arah appanya yang sudah tua dan terlihat lelah. Ia tahu bahwa dari kecil hingga besar, appa dan eommanya berusaha keras untuk membiayainya. Meskipun mereka tidak kaya mereka tetap berkecukupan. Tetapi, hidup seperti ini juga tidaklah baik, appanya sudah terlalu tua bila harus terus-menerus membiayainya. Ia tahu bahwa ia yang seharusnya memperbaiki keadaan ekonomi keluarga mereka. Akhirnya, dengan berat hati ia menganggukkan kepalanya.

Eommanya tidak dapat menyembunyikan kesenangannya ketika melihat Jinri menganggukkan kepalanya. Bagaimana tidak, impiannya akhirnya terkabul, hidup sebagai orang kaya. “Baiklah , tidurlah yang nyenyak hari ini, besok eomma akan mengantarmu ke studio untuk bertemu pasanganmu,” katanya eommanya dan bangkit dari duduknya dan menyisakan Jinri dan appanya.

“Jinri, apa kau bahagia?” tanya appanya yang sepertinya mengerti bahwa anaknya tidak terlalu bahagia untuk mengikuti acara demikian.

Jinri duduk disebelah appanya sambil menggenggam tangan appanya dan berkata “Ne, aku bahagia,” jawabnya dengan senyuman yang dipaksakan. Sebisa mungkin, ia ingin membahagiakan kedua orang tuanya.

“Bila kau tidak ingin, maka kau tidak perlu melakukannya. Lagipula kita masih berkecukupan,” jawab appanya sambil mengelus rambut Jinri dengan lembut.

Jinri hanya menggelengkan kepalanya lalu memeluk appanya dengan hangat.

***

Setelah selesai mencuci wajahnya, Eomma Jinri masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Hari ini ia pastikan bahwa ia akan tertidur nyenyak karena akhirnya keinginannya terkabul, ia akan mendapat banyak uang dan anaknya akan menikah dengan seorang aktor meski hanya pernikahan pura-pura, namun ia yakin bahwa itu pasti akan mengubah nasib keluarga mereka.

“Apa kau tidak merasa keterlaluan?” tanya appa Jinri yang sedang duduk di atas sebuah kursi kayu tua yang ada di dalam kamar sambil melepaskan kacamatanya dan menatap istrinya.

“Keterlaluan? Maksudmu?” tanya Eomma Jinri sambil merapikan tempat tidurnya agar ia bisa tidur dengan pulas malam ini.

Appa Jinri menghela nafasnya sambil berkata “Kau sudah seperti ibu-ibu yang ada di dalam drama yang biasa kau tonton, tega menjual anaknya karena uang,”

Eomma Jinri tersentak kaget, ia tidak percaya bahwa suaminya sendiri berpikiran demikian tetang dirinya. “Yeobo, apa yang kau katakan? Mana bisa kau samakan diriku dengan mereka,” gerutunya kesal.

“Kau mengirim anakmu untuk mengikuti acara tanpa sepengetahuannya dan dia tidak ingin mengikutinya namun kau memaksanya. Apa itu tidak sama?” jawab appa Jinri yang bangkit dari duduknya dan merebahkan dirinya ke atas kasur untuk tidur. Ia lebih memilih untuk tidur daripada melanjutkan pembicaraannya dengan istrinya, ia berharap bahwa istrinya akan mencerna perkataannya dengan baik.

***

Suara kicauan burung gereja membangunkan Jinri dari tidurnya. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan melakukan sedikit olahraga untuk meregangkan ototnya yang terasa kaku. Setelah merasa sedikit lebih baik, ia masuk ke dalam kamar mandi.

Ia mengenakan gaun dengan motif bunga-bunga dibawahnya sambil berjalan menuju ke meja riasnya dan memoleskan sedikit make up ke wajahnya sehingga membuat wajahnya terlihat cerah.

***

Sudah hampir jam 8 dan Chansung belum juga bangun dari tidurnya. Sooyoung masuk ek dalam kamar Chansung tanpa sedikit pun rasa ragu, ia sudah terbiasa masuk ke dalam kamar Chansung karena ia sudah menganggap Chansung sebagai adiknya. “Bangun!,” serunya sambil menarik selimut yang menutupi tubuh Chansung.

Chansung masih terlihat enggan untuk beranjak dari tempat tidurnya, ia menarik kembali selimut yang kini ada di tangan Sooyoung dan kembali tertidur.

Sooyoung menggelengkan kepalanya melihat sifat Chansung yang selalu susah untuk dibangunkan. “Ya, kau punya jadwal untuk ke studio hari ini menemui pasanganmu dalam acara We Got Married,” seru Sooyoung.

“Apa dia cantik?” tanya Chansung yang masih enggan beranjak dari tempat tidurnya.

Molla, karena itu bangunlah. Kita akan pergi untuk melihatnya,” jawab Sooyoung dan berjalan keluar dari kamar Chansung membiarkannya untuk membersihkan dan mempersiapkan dirinya.

***

Pagi itu, sebelum Jinri turun ke bawah, Eommanya menyempatkan dirinya untuk membahas perkataan suaminya semalam. “Apakah dia akan bahagia bila aku membatalkannya untuk mengikuti acara ini?” tanyanya degan hati-hati sambil meletakkan secangkir kopi ke atas meja tepat di depan appa Jinri yang sedang membaca koran.

“Entahlah, tanyakan saja padanya. Kebahagiaan tidak dapat kita dapatkan hanya dengan uang. Ingat kebahagiaan anak kita lebih penting,” terang appanya sambil melipat koran yang ia baca dan menyeduh secangkir kopi itu dengan perlahan-lahan.

“Apa kau sudah siap anakku?” tanya eomma Jinri ketika melihat anaknya yang keluar dari dalam kamarnya dengan membawa sebuah koper yang berisikan pakaian dan peralatan yang ia butuhkan nantinya.

Jinri hanya mengangguk sambil menyeret kopernya. Tak lupa ia menghampiri appanya dan memeluknya. Mungkin ini akan menjadi pelukan terakhirnya buat appanya sebelum ia pergi untuk waktu yang kira-kira cukup lama. Setelah ia merasa sudah cukup puas, ia mengikuti eommanya yang berjalan keluar dari rumah mereka untuk mencari taksi.

***

Berulang kali, Sooyoung terus melirik ke arah jam tangan yang dikenakannya. Sudah hampir 1 jam dan Chansung belum juga keluar dari dalam kamarnya.Karena sudah terlalu lama, ia kembali masuk ke dalam kamar Chansung dan betapa terkejutnya dirinya saat ia memasuki kamar Chansung.

Ya, kenapa kamarmu berantakan sekali?,” tanya  Sooyoung yang berjalan melewati beberapa tumpukan pakaian yang berserakan di lantai.

Oo, Noona, kau tiba di waktu yang tepat,” jawab Chansung yang tersenyum saat melihat kedatangan Sooyoung. Ia mengambil sebuah kemeja dengan rompi berwarna putih lalu menujukkannya pada Sooyoung “Eottae? Apa ini bagus?” tambahnya lagi.

“Jadi kau menyerakkan bajumu hanya untuk mencari pakaian apa yang seharusnya kau pakai? Oh Tuhan, ini membuatku gila,” jawab Sooyoung frustasi.

Chansung hanya menatap Sooyoung yang terlihat frustasi dengan sikapnya sambil tersenyum. Entah mengapa, hari ini dia sangat ingin memakai pakaian yang terbaik ketika nantinya ia akan bertemu dengan calon istri virtualnya.

“Baiklah, itu yang terbaik,” jawab Sooyoung sambil memunguti beberapa pakaian Chansung dan melipatnya lalu memasukkannya dan menyusunnya dengan rapi di dalam lemari. “Cepatlah sedikit, kita sudah hampir terlambat,” tambahnya sambil menolehkan kepalanya untuk menatap Chansung yang tengah memakaikan parfum ke seluruh tubuhnya.

TBC***

18 thoughts on “Unwanted Marriage [Part 1]

  1. kok kyk mirip kehidupn reality show ya??
    tp penasarn jg,
    part 1 menarik, lg asyik” baca mlah tbc,
    thor, partny d pnjgn lg donk ceritany..
    d tnggu next part,
    jgn lama ya,
    gomawo 😀

  2. Dari judulnya aku kira mereka dijodohkan atau pernikahan kontrak gtu nantinya eh gak nyangka kalau ternyata acara we got marriage hoho.. Seru thor.. Penasaran sama kehidupan mereka nantinya.. Smpe saat ini aku blum tau gmna karakter Chansung.. Abis dia mutusin cewek krn karier tpi cewek itu jg matrealistis siihh.. Akhh molla.. Yg penting nextnya aku tunggu hehe.. Hwaiting ne 🙂

  3. hehh XD
    Ini dua orang kalo jadi pasangan gimana coba modelnya XD
    ehm ada typo dikit unn, ” ek dalam kamar Chansung” — ke dalam kamar Chansung
    terus pemakaian semacam -ah -ya itu disesuain huruf terakhir wkt pembacaan namanya, kaya Jinri, itu kalo dibaca kan ya “jinri” berarti huruf terakhirnya huruf hidup, itu artinya pake -ya, kalo huruf akhirnya huruf mati semacam “Chaerin” itu akhirannya baru -ah 😀

  4. Chingu sy snang udh post part 1x wlpn di part ini smua kata2x rt” sm dgn di teaser.. Kpn post part 2x ya?? Wah chansung br ktmu istri virtual aja udh kyk gt gmn klo realx ya..

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s