[FF Freelance] I Wish I Were You (Part 8)

Tittle

I Wish I Were You

Author

Hyukkie44bee

Main Cast

Lee Hyuk Jae (a.k.a Hyukkie – HaJe)

Lee Seung Hyun (a.k.a Seungri)

Park Gyuri

Lee Cae Rin

Genre

Romance

Length

{8/10} Prediction only.

Rate

NC 17+

Previous part: Part 1, Part 2, Part 3, Part 4, Part 5, Part 6, Part 7

Nagasaki – Jepang

05.00 p.m

“oppa!!”

“diamm!!! Jangan katakan jika kau ingin mengakhiri semua ini begitu saja!!”

“oppa dengarkan penjelasanku dulu!!”

“Shin Min Ah!! Tutup mulutmu dan duduklah!” Jae Joong membentak Min Ah untuk yang kesekian kalinya sore itu. “kau!! bisakah kau memikirkannya lagi? Aku mohon!” pinta Jae Joong saat dia menyadari bahwa kekerasan tak akan menyelesaikan masalah mereka.

“maafkan aku oppa! A-aku tidak bisa….”

Plaaakkkkk——

Kim Jae Joong menampar pipi Min Ah keras. Laki-laki itu sudah hilang kesabaran dan akal sehatnya, sehingga ia tega menyakiti kekasihnya sendiri.

“kau melupakan semua janjimu padaku haaaa!!!!! Kau bilang akan setia bersamaku selamanya Shin Min Ah!!!”

“aku tidak melupakan janji itu Oppa!”

“lalu apa maksudmu dengan semua ini!! Ini yang kau maksud dengan setia!!”

“kita bahkan sudah menjadi sepasang kekasih selama bertahun-tahun oppa! Dan kau tega menamparku hanya demi masalah sekecil ini!”

“kecil!!! Kecil katamu!!” Jae Joong menarik baju yang dikenakan Min Ah, membuat pemiliknya terhuyung hampir jatuh ke lantai. “mereka sudah menghancurkan perusahaan kita! Apa kau lupa haaa!!!!!”

“dan kita juga berusaha menghancurkan perusahaan mereka! Lalu apa bedanya kita dengan mereka haaa!!!!! Katakan!!! Katakan oppa!!” Min Ah menangis sejadi-jadinya. Selama 5 tahun mereka berhubungan, Jae Joong tak pernah sekalipun menyakitinya. Namun tidak hari itu, Min Ah merasa sudah tidak mengenali siapa yang ada di hadapannya sekarang.

“tapi kita membangun perusahaan itu dengan susah payah chagiya! Kita bahkan berencana menikah setelah kita bisa memajukan perusahaan kita.!”

“oppa, mereka juga sama seperti kita. Mereka juga membangun perusahaan mereka dengan susah payah. Mereka membangun banyak perusahaan untuk menolong orang-orang yang kesusahan, mere–!”

“apa menurutmu kita tidak seperti itu haa!!! Kita tidak menolong orang lain? Begitu maksudmu?!!”

“mungkin!”

Plaakkkkk—satu tamparan lagi diterima Min Ah tanpa ampun.

“setelah 1 tahun aku menjadi sekretaris pribadi Seungri, aku menemukan banyak hal yang selama ini tak pernah kita lakukan pada perusahaan kita. Arti perusahaan menurut sudut pandang Seungri sangat berbeda dengan sudut pandang picik kita, oppa.”

“lalu apa yang kau dapatkan dari dia? Apa? Katakan padaku!”

“kesetiaan, kepercayaan, dan kasih sayang! Jangan pikir Seungri adalah anak bodoh karna aku masih dibiarkan terus berada di sisinya selama ini. Seungri hanya berusaha mempercayaiku, percaya bahwa suatu saat nanti aku akan berubah menjadi sejalan dengannya!”

“dan sekarang kau sudah benar-benar berubah! Kau bukan lagi Shin Min Ah yang aku kenal!”

“itu benar oppa. Aku mengakui itu!! mulai sekarang aku tidak mau lagi berurusan dengan penggelapan uang dan segala macam tetek bengek yang menyangkut perusahaan Seungri dan acara balas dendam-mu oppa. Aku ingin hidup damai sekarang!!”

Min Ah menyeka air mata yang tak dapat lagi tertahan di sudut matanya. Hatinya hancur, mendengar sumpah serapah yang keluar dari mulut orang yang paling ia cintai selama ini. Tak pernah ia duga pertemuan dengan Hyuk Jae dan Gyuri tiga hari yang lalu langsung membuat jalan pikiran Min Ah berubah haluan. Rasa bersalah itu memang sudah lama Min Ah rasakan, tapi setelah pertemuan itu, hati Min Ah merasa mantap, dia ingin berubah. Min Ah sadar betul, apa yang telah ia lakukan selama ini adalah kebodohan besar yang harus segera ia akhiri.

“katakan padaku chagiya! Apa yang telah merubahmu menjadi seperti ini. Perjuangan kita tinggal satu langkah lagi, dan tiba-tiba kau menyerah begitu saja. Katakan padaku, apa ada orang yang menyakitimu selama ini?”

“oppa!!” teriak Min Ah.

“aku mohon jangan seperti ini. Sadarlah! Ingat tujuan awal kita! Ingan perj—-“

“oppa!!! Oppa, aku mohon jangan seperti ini! Sadarlah!! Kita telah berbuat dosa! Tiga hari yang lalu aku bertemu dengan dua orang yang kita cari selama ini di taman kota Nagasaki.”

Min Ah berjeda sesaat, dia arahkan pandangan matanya pada sosok Jae Joong yang juga sedang menatap ke arahnya, tajam.

“dua orang itu adalah Lee Hyuk Jae, kakak Seungri, dan Park Gyuri, orang yang baru-baru ini disebut ‘nuna’ oleh Seungri. Kedua orang ini begitu baik dan ramah pada setiap orang yang berlalu-lalang di hadapan mereka saat itu. Park Gyuri dengan ramahnya membantu seorang nenek menyebrangi jalan raya, padahal dari tadi banyak orang yang mengacuhkannya. Lee Hyuk Jae, laki-laki perfectionist itu bahkan tak marah saat coat coklat mewahnya kotor terkena lumpur yang sengaja dilemparkan anak-anak yang sedang bermain di sekitarnya. Dia juga tak marah saat ada seorang anak laki-laki dengan jail memainkan kursi roda yang sedang diduduki-nya hingga membuatnya hampir tersungkur jatuh ke tanah… oppa….”

Jae Joong tak lagi memandang tajam ke arah Min Ah, dia berbalik arah memunggungi satu-satunya wanita yang sedang berkotbah di ruangannya itu.

“Oppa, saat itu tiba-tiba saja aku teringat dengan Seungri, laki-laki muda yang kau sebut sebagai penghancur perusahaan kita juga memiliki sifat yang sama dengan kakaknya. Dia selalu berusaha menghargai orang yang ada di sekitarnya, melindungi semua pekerja yang ada di perusahaannya, dan dia juga tak segan memberikan hartanya untuk kepentingan orang lain yang lebih membutuhkan darinya.”

“hentikan!”

“cukup lama aku berpikir setelah aku mengamati gerak-gerik kedua orang itu di taman kota, oppa. Aku sadar jika aku salah!”

“hentikan!! Hentikan Shin Min Ah!!” teriak Jae Joong untuk kesekian kalinya. Hanya saja teriakan itu turut disertai suara pecahan kaca saat Jae Jong melempar botol bir ke arah Min Ah. Beruntung Min Ah dapat menghindari lemparan kilat Jae Joong padanya.

“aku benci mendengar ceramahmu, Shin Min Ah! Kau, sebaiknya keluar dari ruanganku sebelum aku membunuhmu dengan tanganku sendiri!” hati Min Ah mencelos, laki-laki yang dia cintai selama 5 tahun ini bahkan dengan mudah mengeluarkan kata ‘membunuh’ dihadapannya. Sakit, bagai ratusan anak panah menancap di hatinya, Min Ah tak sanggup lagi mengeluarkan suara dari pita suaranya. Hanya suara isakan tangis yang terdengar miris yang terus keluar dari mulut Min Ah.

“Seung Yoon-ah! Seret wanita jalang ini keluar dari sini!”

Hanya sekali memberi perintah, Kang Seung Yoon benar-benar menyeret tubuh Min Ah dengan paksa. Sesekali Min Ah meronta untuk diberi kesempatan melanjutkan penjelasannya. Pemikiran Min Ah tentang keluarga Lee masih belum sepenuhnya tersampaikan pada Jae Joong. Min Ah merutuki dirinya sendiri karna apa yang ia lakukan memang terlalu cepat. Seharusnya dia memikirkan cara yang lebih halus pada Jae Joong agar kekasihnya itu dapat memahami maksud dari pembicaraan Min Ah. Namun bak pepatah, penyesalan selalu datang di akhir. Dan inilah yang Min Ah rasakan sekarang. Ia tak tau lagi, apakah dia masih diberi kesempatan untuk menjelaskan pemikirannya atau tidak. Min Ah hanya pasrah, saat Seung Yoon terus saja menyeret tubuhnya keluar dari kantor Jae Joong.

“apa dia sudah keluar?” tanya Jae Joong pada Seung Yoon saat dia mendengar suara pintu yang baru saja tertutup.

“sudah tuan!”

“Yoon-ah! Tak ada waktu lagi yang kita punya. Lakukan plan B sebelum Min Ah menggagalkan semuanya.!!”

“baik tuan, saya berjanji akan melakukannya dengan baik!” jawab Seung Yoon sebelum akhirnya dia menghilang di balik pintu ruangan pribadi Jae Joong.

“Lee Cae Rin, Lee Hyuk Jae, Park Gyuri..” Jae Joong mengeluarkan 3 lembar foto dari lacinya. “siapa orang yang paling kau sayangi, Lee Seung Hyun!!!” Jae Joong tersenyum smirk seraya membakar salah satu foto dari tiga foto yang ia keluarkan dari lacinya.

–o0o

Autrodomo Enzo e Dino Ferrari – Italia

10.00 a.m

Hoya, Alfonso, dan beberapa anak buah Hoya lainnya sedang melakukan persiapan terakhir sebelum Ferrari mereka siap untuk melakukan sesi Warming up Lap. Keanny masih sibuk berbincang-bincang dengan Presdir Ferrari yang sengaja hadir hari itu. Suasana pit terasa lebih panas dibandingkan hari-hari sebelumnya. Hilir mudik seluruh crew membuat pelipis Hyuk Jae semakin pening di siang itu.

“cha!! Selesai!! Jangan terlalu memaksa, saat sakitnya benar-benar tak dapat ditahan segeralah kembali ke pit! arasso!!” Joon menyuntikkan obat penghilang rasa sakit ke area kaki Hyuk Jae sebelum dia membalutnya dengan plester biru yang mempunyai kasiat menahan sakit juga. “jangan cengengesan!”

“Joon-ah! Aku bosan mendengar kalimat yang sama yang selalu kau ucapkan sejak tiga hari yang lalu itu!” jawab Hyuk Jae sambil tersenyum nakal.

“dengarkan aku! Tidak semua orang sama bodohnya denganmu! Pasienku yang lain hanya perlu mendengar satu kali instruksi dariku dan semuanya akan berjalan dengan baik. Tapi tidak denganmu, aku harus mengulanginya sampai sepuluh kali baru kau mau mengerti!”

“tapi kau sudah mengulanginya lebih dari 18 kali Joon! hampir dua kali lipat dari prediksimu! Hahahha,,,,,,,”

“itu artinya kau benar-benar bodoh! Sangat sangat bodoh!!”

“aigoooo….. jangan bersikap seperti itu Joon. hari ini aku hanya akan melakukan yang terbaik yang aku bisa, tadi malam presdir menemuiku, Beliau hanya minta aku finish diposisi yang tak begitu memalukan bagi Ferrari dan itu cukup.”

“aku tidak yakin kau bisa finish di posisi bagus dengan kondisi kakimu seperti ini!”

“aku tidak akan memaksamu untuk mempercayaiku, karna kau memang tak pernah mengijinkan dirimu untuk mempercayaiku. Dan aku sama sekali tidak keberatan Hwang Joon Ki!”

“baiklah! Tidak ada gunanya berdebat denganmu! Mau aku bantu berjalan ke Starting Grit?”

“tidak! Terimakasih! Jane dan Gyuri ada di luar, mereka pasti akan khawatir jika melihatku seperti ini. Banyak pers juga diluar… Huffthh… ini memalukan!”

“ayolah… banyak pers yang akhirnya berhasil mendapatkan informasi tentang kesehatanmu. Aku pikir ini justru menguntungkanmu. Setidaknya public Italia tidak akan kecewa jika Ferrari tak dapat naik podium hari ini..”

“heemmmhhhh… kau benar Joon. Mereka tidak perlu mengkhawatirkan jalanan race hari ini. Aku yakin semuanya akan berjalan dengan baik. Eumm.. ngomong-ngomong di mana Seungri? Dari tadi aku tidak melihatnya?”

“20 menit lagi race akan dimulai, dia pasti sudah duduk manis di bangku penonton sekarang. Aku tidak habis pikir, kita sudah melewati separuh dari total seri musim ini, dan adik bodohmu itu sama sekali tak pernah menemanimu di starting grit..”

“dari dulu dia selalu terlihat tidak nyaman jika berada di area balap, dia sudah berusaha keras untuk terus berada di sisiku selama ini.. Well, Joon, aku pergi dulu, tolong panggilkan Hoya dan Ken, suruh mereka menemaniku di starting grit.”

Joon hanya mengangguk sebelum Hyuk Jae meninggalkannya sendirian di dalam ruangan pribadi Hyuk Jae. Dia melihat kaki kanan Hyuk Jae yang masih terseok saat digunakan berjalan oleh pemiliknya. Cideranya memang tak parah, namun setelah 1 minggu kaki itu terus dipaksa menekan gas Ferrarinya, hal itu membuat cidera kakinya tak kunjung sembuh dan membutuhkan perhatian lebih ekstra dari pemiliknya.

“Joon Ki!!” teriak Keanny dari kejauhan.

“Ken, Hyukkie memintaku untuk mencarimu, dia ingin kau menemaninya di starting grit.”

“a-aku ingin menananyakan sesuatu padamu, apa kakinya baik-baik saja jika tetap dipaksakan menjalani race hari ini?”

“aku tidak tau Ken, tapi menurutku kali ini kita harus mempercayainya. Dia sudah cukup dewasa untuk menjaga kesehatannya sendiri. Tenanglah!! Jangan terlalu khawatir, dia bukan anak kecil lagi!”

“kami tidak pernah menganggapnya dewasa Joon. selama ini aku dan Jane terbiasa melayaninya. Memberikan apa pun yang dia butuhkan, aku tau dia seperti apa Joon.!”

“aku juga tau tentangnya Ken. Kami berteman sejak kami masih kecil Ken! Dia sudah seperti saudara kandungku..”

“manusia bisa berubah dalam hitungan hari Joon, dan kau bahkan tak pernah berkomunikasi dengannya selama 5 tahun lebih, dia pasti tak seperti HaJe yang kau kenal!”

“apa yang kau katakan mungkin saja benar. Tapi mulai dari sekarang, aku akan mencoba mempercayainya. Setidaknya sosok Hyukkie kecil yang dulu aku kenal memang pantas untuk diberi predikat bocah yang dapat dipercaya.”

“sudahlah.. HaJe pasti menungguku di sana, aku pergi dulu. Kau harus mempersiapkan semuanya Joon. Setidaknya berjaga-jaga itu lebih baik jika dibandingkan dengan dengan diam saja bukan?!”

“itu tidak akan terjadi Ken!!”

“terserah!!” Ken meninggalkan Joon di dalam pit dengan perasaan hampanya. Apakah mungkin dia bisa mempercayai Hyuk Jae seperti yang diminta Joon. anak angkatnya itu bahkan masih sering minta dilayani saat jam makannya tiba. Keanny, tidak ingin kehilangan anak laki-lakinya untuk yang kedua kalinya. Dan sekarang seorang Joon Ki memintanya untuk mempercayai Hyuk Jae sebagai sosok laki-laki dewasa? Sulit dipercaya!

–o0o

Milan

10.00 a.m

“angkat!! Angkat!! Akhhhhh….”  Seungri berkali-kali memukuli kepalanya sendiri. Sudah 59 kali panggilan dari Seungri yang tak satupun diangkat oleh Cae Rin. Gadis itu, dikabarkan menghilang setelah 30 menit perjalanannya dari bandara menuju Autrodomo Enzo e Dino Ferrari. Handphone nya tak dapat dihubungi setelah panggilan terakhir Seungri saat dirinya masih berada di bandara. Seungri panic tak karuan. Gadisnya hilang, sedangkan ditempat lain kakaknya sedang berjuang menjalani race yang dia yakini cukup berat bagi kondisi kakaknya sekarang ini.

“Hyung, berapa jumlah anak buah yang dibawa Cae Rin ke sini?” tanya Seungri pada Max.

“hanya 4 orang. Kau tau sendiri, nona Cae Rin paling tidak suka dibuntuti banyak orang, dan—“

“arghhhhhh!!! Siallll!!!”

Seungri mengacak-acak rambutnya kasar, matanya sudah memerah dan berair. Tak pernah dia duga bom waktunya meledak di waktu yang tak tepat seperti ini.

“yohboseo!!” Woon menjawab panggilan dari Seungri cepat. Hanya Max dan lima anak buahnya saja yang menemani Seungri mencari Cae Rin, sedangkan Woon ditugaskan berjaga-jaga di area kakaknya berada bersama dengan lima orang anak buah lainnya.

“suruh Hoya Hyung meneliti ulang mesin yang akan dikendarai kakakku, pastikan semuanya baik-baik saja. Awasi orang-orang yang ada di sekitarnya juga. Beri tau Joon hyung dan nuna untuk terus waspada. Yang paling penting adalah mobil kakakku, aku mohon jangan biarkan sesuatu apapun terjadi padanya!!”

“saya mengerti, jangan khawatir Seungri-ya.. tenanglah!”

“aku mempercayaimu Woon! Hubungi Hatori hyung juga, suruh dia bersiap-siap jika sewaktu-waktu peperangan harus dimulai.!!”

“baiklah!!”

Seungri terus meremas handphone yang ada di genggamannya. Keringat dingin mulai bercucuran di sekujur tubuhnya. Panasnya Italia, dan panasnya suasana hatinya membuatnya tak nyaman dalam duduknya. Hatinya terus gelisah, takut akan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin terjadi. Takut, Cae Rin terluka dan takut jikalau Ferrari merah itu tiba-tiba saja hanya tinggal nama. Terus duduk di bangku penonton atau melanjutkan langkah pencarian bagaikan buah simalakama yang tak mampu Seungri pilih. Namun akhirnya Seungri memilih untuk mengikuti kata hatinya. Mengikuti suara jeritan hatinya yang terus memanggil gadis yang sangat ia cintai itu.

“Hyung, kemana kita harus pergi?” menangis. Mata panda hitam itu akhirnya meneteskan air mata. Inikah jawaban dari mimpi-mimpi buruknya selama beberapa hari ini? Begitu pikir Seungri.

“tenanglah! Bukankah nona selalu menggunakan GPS di kalungnya?  jadi mungkin kita bisa segera melakukan sesuatu untuk menolongnya!”

“tapi GPS yang biasa dipakai Cae Rin sama sekali tak dapat dilacak. Ada apa ini sebenarnya Hyung?”

“jangan menangis! Lakukanlah sesuatu! Menangis sama sekali tak menyelesaikan masalah! Apa kau tau itu!”

“Max—Hyung—kenapa seperti ini!!! Arrrggghhhhhhh!!!” Seungri membanting alat pelacak yang ia genggam. Alat itu tak lagi canggih seperti biasanya. Tak lagi dapat diandalkan seperti seharusnya. Seungri marah pada dirinya sendiri. Hatinya terus mengutuk kebodohan yang telah ia lakukan. Sedikit keteledorannya membuat lubang buaya itu semakin besar.

Max, masih berkonsentrasi mencerna keadaan tersebut dengan hati-hati. Arah pandangannya masih focus pada jalan-jalan yang mereka lewati. Buggati hitam yang sudah dimodifikasi Seungri itu terus menelusuri jalan-jalan sepi Italia, diikuti sedan hitam yang dikendarai para anak buah Max yang terus mengekor dibelakangnya.

“lihat itu!!”

Max menunjuk layar pelacak yang tersambung di mobil mereka. Sebuah titik yang berwarna merah tiba-tiba saja muncul dan bergerak menuju arah Napoli.

“itu pasti nona Cae Rin, aku menyuruhnya memakai GPS cadangan yang dipasang di antingnya. Mungkin sekarang dia dalam keadaan yang lebih aman, jadi dia bisa segera mengaktifkan GPS cadangannya.”

“cepat injak gasmu hyung!!! Jangan buang-buang waktu lagi!”

Buggati itu terus melaju cepat ke arah titik merah itu berada. Beruntung sinyal dari GPS itu terpancar dengan baik sehingga bisa ditangkap oleh alat yang terpasang di Buggati Seungri.

“kita ada di Napoli sekarang!”

“sial! Siapa dia sebenarnya? Dia tau betul kita tidak memiliki orang yang bisa diandalkan di sini!”

Seungri semakin khawatir. Dia berusaha lebih menenangkan dirinya. Berusaha lebih berkonsentrasi mencari jalan keluar dari masalah mereka hari itu. Seungri mulai bekerja dengan Handphone-nya, dia mencari tau kabar terbaru yang sedang terjadi di circuit tempat kakaknya berada. Max masih melaju dengan kecepatan sedangnya sambil menyusun rencana dengan Seungri. Mereka tidak memiliki cukup kekuatan yang dapat membantu mereka jika peperangan harus terjadi di Italia, itu sebabnya Max dan Seungri berusaha semaksimal mungkin merencanakan strategi penyerangan mereka.

Setelah informasi terbaru mengenai jalannya balapan tak kunjung ia dapatkan, Seungri memilih untuk mempersiapkan alat tempurnya. Sebuah pistol dan pisau lipat tajam sudah ia siapkan dibalik jaket hitamnya. Max masih berkonstrasi dengan kemudinya, dia tak perlu mempersiapkan alat apapun karna memang pistol dan belati kecil tersebut tak pernah absen dari pinggangnya.

“Hyung.. sepertinya ini tempatnya. Matikan mesinnya, kita jalan kaki saja!”

–o0o

Autrodomo Enzo e Dino Ferrari – Italia

10.20 a.m

Senyum lebar itu kembali dipertontonkan oleh Hyuk Jae. Senyum yang sudah hampir punah itu akhirnya bisa disaksikan kembali oleh Hoya dan Joon yang sedang berada di sampingnya. Tak hanya Hoya dan Joon yang menemani Hyuk Jae di starting grit pagi itu, Keanny dan Woon tentu saja tak absen dari perkumpulan para lelaki tampan di tempat mobil-mobil F1 berbaris sebelum pertempuran mereka dimulai.

“Woon-ah, jangan mondar-mandir seperti itu. Peranmu sebagai umbrella boy benar-benar buruk, aku menyesal menggantikan Gyuri denganmu hari ini, kau bahkan membiarkan aku kepanasan di sini.!” Celetuk Hyuk Jae, memecahkan pandangan kosong dan langkah ringan kecil Woon. “dan kau! Hoya-ya, apa yang kau lakukan dengan mobilku? 20 menit terakhir ini kau bahkan sudah memeriksa lebih dari 3 kali lipat dari biasanya. Tenang saja, Ferrariku pasti akan mengantarku naik podium lagi hari ini!”

Ocehan bodoh Hyuk Jae itu sontak langsung mendapat hadiah pukulan kecil dikepalanya dari Keanny. Anak bodohnya itu ternyata masih terobsesi dengan podium hari itu. obsesi yang menurut Keanny sangat sia-sia untuk terus dikobarkan.

“apa katamu anak bodoh!! Jadi kau masih menginginkan kakimu putus hari ini? Haaa!!!!!”

“hahahhhhaa…. Ken! Ada apa denganmu? Aku baru menyadari sekarang, harusnya kau juga mengangkat Seungri menjadi anak angkatmu juga, sifat kalian itu sama! Terlalu berlebihan!”

“apa yang kau anggap berlebihan??!! Dasar bodoh! Lakukan saja semuanya dengan aman, presdir sudah mengatakan semuanya padaku, Beliau hanya minta kau finish dengan aman. Hari ini kau tak perlu memaksakan diri menghadiahi podium bagi kami! Apa kau ingat itu!”

“……….” Hyuk Jae terdiam. Tak berapa lama kemudian dia tersenyum. Betapa bahagianya dia mempunyai ayah angkat seperti Keanny. Ayah yang selalu mengkhawatirkan anaknya, ayah yang selalu berusaha memahami apa yang diinginkan anaknya. “Dad.. peluk aku! Hari ini aku pasti bisa melakukan yang terbaik untukmu. Aku berjanji!”

Woon, hampir tak kuasa menahan air matanya saat menyaksikan kehangatan yang dipancarkan dari setiap perlakuan Keanny pada Hyuk Jae, saat dia melihat betapa Hyuk Jae selalu berusaha membuat orang yang ada disekitarnya merasa nyaman. Woon menahan gejolak rasa cemasnya pada tuan mudanya yang sedang berjuang untuk menyelamatkan gadisnya di tempat lain. Kedua kakak beradik Lee ini ternyata sudah menjerat hati Woon. Rasa tak nyaman yang dulu sempat ia rasakan diawal pertemuannya dengan kedua orang Lee itu tiba-tiba saja berganti menjadi rasa ingin selalu melindungi. Terus melindungi hingga mungkin nyawanya harus jadi pengganti.

“Ken, sudahlah! Race akan segera dimulai, biarkan anak bodoh ini berpikir sendirian, jika dia memang masih menyayangi kita, dia tidak akan melakukan hal-hal bodoh seperti yang dari tadi dia katakan. Tapi, jika dia memang sudah tidak menyayangi kita, maka kita tidak boleh memaksanya, biarkan saja dia melakukan apa yang dia mau!”

“Joon-ah!! Aigoo… sepertinya kau yang sudah tak menyayangiku! Atau kau juga ingin kupeluk? Kemarilah…”

“tcihhh….!” Joon hanya mencibir sambil berlalu meninggalkan Hyuk Jae yang sudah duduk dalam kemudinya. Tak berselang lama Keanny dan Hoya mengikutinya dari belakang. Namun tidak dengan Woon. Sepertinya dia bingung bagaimana cara melangkahkan kakinya seperti biasanya.

“Woon-ah, katakan pada Seungri aku baik-baik saja. Aku memang tidak tau menau tentang apa yang sedang terjadi sekarang. Aku juga tidak bisa melakukan apa-apa untuknya. Tapi aku berjanji aku akan baik-baik saja, jadi simpan saja tenagamu untuk menyambutku di garis finish nanti. Arasso!!”

Woon mengangguk mantap. Kata-kata yang diucapkan Hyuk Jae sedikit melegakan relung hatinya. Paling tidak dia tau, hyung barunya itu akan berusaha untuk menjaga dirinya, demi Seungri dan yang lainnya.

–o0o

Napoli

11.05 a.m

“dengarkan aku! Kita tidak boleh memisahkan diri  satu sama lain. Kita ber-enam harus terus waspada terhadap musuh-musuh kita, jangan sampai kalian lengah. Kita harus melindungi Tuan Muda dan juga nona apapun yang terjadi dengan kita! Mengerti!”

Lima orang anak buah yang dibawa Max mendengarkan setiap instruksi yang diberikan Max dengan penuh perhatian. Mereka ber-tujuh harus lebih berhati-hati mengingat kekuatan mereka terbatas, dan lagi karna Italia bukan daerah yang mereka kenal dengan baik, maka tingkat kewaspadaan harus mereka tingkatkan.

Tujuh orang laki-laki itu kemudian memasuki sebuah gedung tinggi bercat coklat tua. Bangunan tak berpenghuni itu terletak ditengah-tengah perumahan setengah jadi yang belum rampung pengerjaannya. Anehnya tak ada satupun pekerja yang bekerja menyelesaikan bangunan belum jadi hari itu. Gedung coklat itu tampaknya akan dijadikan pabrik tekstil mengingat banyak mesin pemintal benang di sana yang masih terlihat baik untuk digunakan, di sudut-sudut ruangannya ada beberapa tumpuk kursi plastic yang juga masih terlihat dalam keadaan baik.

Mereka terus berjalan menaiki tangga menuju lantai dua. Karna tak ada tanda-tanda keberadaan manusia di sana mereka memutuskan untuk menaiki tangga menuju lantai berikutnya. Max berjalan paling depan, di belakang Max ada Dae Wan, anak buah kepercayaannya, disusul Seungri dan 4 orang anak buah lainnya berjalan mengendap-endap memasuki ruangan gelap itu.

“hati-hati di sini banyak besi-besi berkarat yang dibiarkan berserakan di lantai dan di dinding yang belum jadi. .” intruksi Max yang diiringi anggukan dari orang-orang dibelakangnya.

“Max,.. tunggu, apa kau dengar suara itu?”

Sayup-sayup suara desahan dari seorang wanita yang dikenali Seungri dengan baik itu tiba-tiba saja merusak konsentrasinya. Keenam orang laki-laki itu kontan menajamkan pendengaran mereka masing-masing, berusaha mencari keberadaan suara yang baru saja diungkapkan Tuan Muda mereka.

“aku mendengarnya lagi! Sepertinya dari arah sana!!”

Seungri berlari dengan cukup kencang menuju lantai empat. Dia baru saja menangkap isakan yang diiringi dengan jeritan kecil dari lantai di atas kepalanya. Hal itu tentu saja membuat Seungri tak dapat menahan diri untuk segera mencari tau dari mana asal suara itu berada. Sesampainya di lantai empat, mereka menemukan sebuah ruangan besar yang terpisahkan oleh dinding kaca. Di dalam sana ada seorang gadis yang sedang diikat di kursi seraya meronta karna ada seorang laki-laki yang berusaha menyiksanya. Di samping gadis itu ada seorang laki-laki yang tak lain adalah anak buah Cae Rin yang sudah tak dapat dikenali lagi. Wajahnya dipenuhi luka dan darah, baju yang ia kenakan sudah robek tak karuan.

Seungri ingin sekali segera berlari ke dalam ruangan itu untuk melepas ikatan yang melilit tubuh Cae Rin. Namun usahanya tentu saja tak semudah yang ia inginkan. Sepuluh orang laki-laki berperawakan kekar menanti mereka di hadapan pintu trasparan itu. Tangan Seungri mengepal kaku, dia siap melayangkan pukulan pada deretan laki-laki yang sudah menyakiti wanitanya. Pertempuran tak dapan terelakkan lagi, 7 orang laki-laki itu melawan 10 laki-laki kekar lainnya. Max melawan dua orang sekaligus, begitu juga dengan Seungri. 6 orang lainnya berhadapan dengan 5 anak buah Seungri di ruangan yang sama.

Pukulan demi pukulan saling mereka layangkan ke lawan mereka masing-masing. Bagi Seungri dan Max, 2 lawan yang mereka hadapi tidaklah begitu sulit untuk ditakhlukan. Sekalipun tubuh mereka jauh lebih kekar dibandingkan tubuh Seungri dan Max, namun jurus-jurus yang dikuasai Seungri dan Max jauh lebih hebat dibandingkan mereka, sehingga tak butuh waktu lama untuk segera mengakhiri pertarungan tak seimbang itu. Setelah menyelesaikan urusannya dengan 2 orang tukang pukul itu, Seungri mengambil sebilah kayu yang ia gunakan untuk memecahkan kaca pembatas ruangan yang ditempati Cae Rin di dalamnya.

Seungri terharu melihat keadaan gadisnya. Gadis ningrat itu sama sekali tak menunjukkan rasa ketakutan sedikitpun di wajahnya, hanya saja, mata indahnya tak luput dari rasa khawatir tentang kemungkinan yang akan terjadi setelah ini. Cae Rin tak dapat berteriak karna mulutnya tertutupi lakban hitam, tangannya diikat dibelakang kursi, begitu juga dengan kedua kakinya. Cae Rin sedikit menyesal karna dia tak dapat ikut menghajar orang-orang yang telah membuat Seungri mengkhawatirkannya.

“Cae Rin-ah!!” teriak Seungri saat dia berhasil memecahkan kaca pembatas itu. Seungri tersenyum kecut saat dia mendapati 5 orang laki-laki berbaju hitam yang keluar dari tempat persembunyiannya dengan sebatang kayu di masing-masing tangan mereka. Cae Rin meronta saat salah satu dari mereka menjambak kasar rambut pirangnya.

“lepaskan dia brengsek!!” Cae Rin terlihat meringis kesakitan saat si penjahat itu justru semakin menguatkan tarikannya dan bukan menuruti perintah dari Seungri.

“kubilang berhenti!! Arrgghhhhhh!!!”

Marah, tentu saja. Mana mungkin seorang laki-laki membiarkan wanitanya disakiti laki-laki lain. Seungri meluapkan emosinya dengan melayangkan pukulan-pukulan keras pada penjahat yang menghampirinya. Tak lama setelah itu Max dan dua anak buahnya turut membantu Seungri melawan lima penjahat itu. Max lagi-lagi medapat jatah dua penjahat, sedangkan dua anak buahnya mendapat bagian sama yaitu satu orang melawan satu penjahat. Seungri yang kalut dengan amarahnya membabi buta melawan penjahat-penjahat yang berusaha menghadangnya saat akan mendekati Cae Rin. Semua orang sibuk dengan dunianya masing-masing. Melawan penjahat yang menurut mereka pantas mendapat hukuman setimpal dengan perbuatan mereka. Hanya Cae Rin yang merasa bodoh karna tak dapat berbuat apa-apa dikursinya. Mata Cae Rin membulat saat tiba-tiba dia melihat seseorang yang sedang mengangkat sebuah kursi kayu yang akan segera dilayangkannya ke arah kepala Seungri.

“Tuan Muda awasssss!!!!!!!”

Brakkkkk——

–o0o

Autrodomo Enzo e Dino Ferrari

12.10 p.m

Gyuri dan Jinnie saling berpegangan tangan. Pandangan mereka tak pernah luput dari layar LCD besar yang ada di dinding pit. Hoya sangat berkonsentrasi mengamati setiap pergerakan mobil rakitannya. Round pamungkas akan berakhir 4 laps lagi. Ferrari yang ditunggangi Hyuk Jae masih ada di posisi 5 sementara. Tak ada yang salah dengan mesinnya, namun entah mengapa pergerakan Ferrari semakin lama justru semakin melambat. Keanny masih dalam posisinya mematung di atas motor matic-nya. Selama pagelaran race ini dimulai, Keanny sama sekali tak melihat LCD yang merekam setiap pergerakan anaknya. Keanny mungkin lupa bagaimana cara menenangkan dirinya seperti biasanya. Woon mungkin melakukan kesalahan saat dia memutuskan untuk menceritakan tragedy hilangnya Cae Rin di bandara pagi tadi secara lengkap dan gamblang pada Keanny, Hoya, dan Joon. Takut terjadi apa-apa pada anaknya, jantung Keanny tak dapat berdetak seperti biasanya, keringat dingin terus bercucuran di sekujur tubuhnya. Perasaannya tak tenang, pikirannya tak karuan. Keanny tak tahan lagi menanti detik-detik berakhirnya race hari itu.

Para penonton masih setia memberi dukungan mereka saat Ferrari berhasil menyalip Lotus-Renoult. Hyuk Jae ada di posisi ke-4 sekarang, posisinya belum cukup aman jika dibandingkan pencapaian seri-seri sebelumnya. Setidaknya di 2 laps terakhir itu dia harus berusaha menyalip satu lagi mobil di depannya. Tapi sepertinya ini tidak mudah Mc Laren-Marcedes cukup tangguh musim ini, rekor balapnya membaik dari tahun sebelumnya. Kecepatan mesin mereka bisa mencapai satu setengah kali lebih cepat dari Ferrari Hyuk Jae saat di track lurus, beruntung mereka masih terlampau lemah di tikungan, sehingga kelemahan itu bisa dimanfaatkan team-team lainnya untuk mengalahkan mereka, termasuk Ferrari.

Hyuk Jae meringis saat menit-menit menjelang berakhirnya race. Kakinya sempat kejang di 3 laps terakhir menjelang finish. Rasa sakit itu tak kunjung mereda padahal dia bertekat naik podium hari ini. Hyuk Jae terus menggeber Ferrarinya, dia melawan rasa sakit yang ia rasakan dengan terus menginjak gas mobilnya. Sedikit perjuangan lagi dia mungkin bisa mengalahkan Mc Laren-Marcedes di depannya yang juga menempel Force India-Marcedes mobil yang ada di posisi ke 2 sekarang. Sedikit beruntung memang, karna track Autrodomo Enzo e Dino Ferrari sebenarnya lebih di dominasi tikungan dari pada track lurus. Namun tetap saja, race kali ini terasa begitu berat bagi kaki Hyuk Jae. Dia harus terus menjalankan mobilnya dalam keadaan kaki yang terus bergetar kejang. Semakin lama getaran itu berubah menjadi rasa sakit yang tak dapat lagi dilukiskan kata. ‘Sedikit lagi’ begitu ucap Hyuk Jae berkali-kali pada dirinya sendiri. Dan benar saja, setelah penantiannya yang cukup lama, di beberapa tikungan akhir sebelum finish Ferrari Hyuk Jae mulai menunjukkan tajinya, bahwa Ferrari memang ‘putra’ Italia. Para penonton bersorak-sorai saat mata mereka menjadi saksi Ferrari Hyuk Jae yang berhasil mempecundangi Mc Laren-Marcedes dan Force India-Marcedes sekaligus di tikungan.

“bagus!!” teriak Hoya puas. Tangannya terus mengepal di samping tubuhnya. Sama seperti lainnya, Hoya tentu saja juga merasakan ketegangan yang dirasakan orang-orang di sekitarnya. “bertahan, bertahan,….arrggghhhh!!!” Hoya terus mendumal saat Mc Laren-Marcedes justru berbalik menyerang Force India-Marcedes yang sekarang sudah berganti tempat di posisi ke 4 sementara.

“brengsek, apa Webber (Mark Webber, rider Mc Laren-Marcedes) benar-benar sudah bosan hidup haaa!!!” teriak Joon.

“Sial, sudah dua kali dia melakukan hal itu saat akan menyalip lawannya! Webber benar-benar tidak punya otak! Dia bisa mencelakai rider yang disalibnya!!” Tentu saja Hoya dan Joon mendumal, bagaimana tidak, Mc Laren-Marcedes berada tepat di belakang Ferrari sekarang, itu artinya dia punya kans besar untuk menyalib Ferrari di hadapannya.

Tinggal dua tikungan dan satu track lurus lagi maka race kali ini akan berakhir. Red Bull Racing-Renoult berada di posisi aman yaitu di posisi pertama. Di posisi ke dua ada Ferrari Hyuk Jae yang hanya terpaut sepersekian detik dengan Mc Laren-Marcedes. Semua penonton sudah bangkit dari kursinya, menunggu detik-detik menuju garis finish. Mata mereka tiba-tiba terbelalak, telinga mereka seperti akan pecah saat melihat kejadian mengerikan beberapa meter sebelum finish.

Booooommmmmmm——-

Wibber yang mengendarai Mc Laren-Marcedes sepertinya lepas control saat melewati tikungan terakhirnya. Control rem yang ia lakukan sepertinya meleset dari perhitungan, sehingga menyebabkan mobil di belakangnya yang tak lain adalah Force India-Marcedes ikut mengerem mendadak. Kecelakaan mobil mewah F1 itu pun tak dapat dihindari lagi. Kedua mobil itu menabrak dinding pembatas circuit bersamaan sebelum akhirnya terbalik berkali-kali hingga melewati garis finish. Sialnya lagi putaran mobil api itu berguling begitu cepat hingga menabrak mobil bagian belakang Ferrari Hyuk Jae. Kecelakaan beruntun di sekitar garis finish itu menjadi penutup race di Italia hari itu. Woon, Joon, Hoya, dan Keanny berlari ke arah Ferrari merah yang sudah tak lagi bergerak di samping area race setelah berhasil melewati garis finish. Beruntung hanya kab bagian belakang mobil saja yang sedikit terbakar akibat tersulut api dari Force India-Marcedes yang menabraknya. Namun sayang, hingga keempat orang laki-laki hebat itu datang, sang rider belum juga keluar dari kemudinya.

Woon, Joon, Hoya, dan Keanny tak datang sendirian, dibelakang mereka ada 6 orang dengan sebuah tandu di tangan mereka, bersiap-siap melakukan pertolongan pertama jika memang dibutuhkan.

“Hyung!! Hyung!!!” teriak Woon cemas. Keanny, Hoya, dan Woon berusaha mengeluarkan Hyuk Jae dari mobilnya, sedangkan Joon sudah menyiapkan alat-alat pertolongan pertamanya.

“Hyukkie-ya!! Dengarkan aku!!! Apa kau bisa mendengar suaraku??” Joon berteriak saat mereka bertiga membaringkan tubuh Hyuk Jae di atas pasir. “bangun!! Katakan!! Katakan apa yang kau rasakan!!” Joon menepuk-nepuk pipi Hyuk Jae pelan.

Laki-laki yang biasa disapa Hyukkie itu belum sepenuhnya kehilangan kesadaran. Dia hanya merasa pita suaranya tiba-tiba saja sulit memproduksi kata-kata. Dia juga merasa matanya terlalu berat jika dipaksakan untuk terbuka.

“Kau mendengarku?? Bangunlah!!” imbuh Keanny yang membuat suasana pinggir circuit panas itu menjadi semakin panas.

“arrrgghhhh!!” hanya suara rintihan itu yang berhasil lolos dari bibir keringnya. “arrrgghhh! J-jjnnnn, k-kakiku!” keluh Hyuk Jae, sambil memegangi kakinya, berharap Joon bisa segera menghilangkan rasa sakitnya.

“Ken,. Bisakah kau menyusul kami ke rumah sakit bersama Gyuri dan Jinnie? Kita harus segera membawanya ke rumah sakit. Dan kau, Hoya-ya, kau harus menyelesaikan tugasmu terlebih dulu di sini, dan Woon, segera siapkan pengamanan menuju rumah sakit, Mengerti?”

“t-tapi Joon…”

“aku yang akan menemaninya di ambulance. Dia juga sepertinya kesulitan bernafas, terlalu banyak orang di dalam mobil akan memperburuk keadaannya!”

“baiklah ayo kita lakukan sekarang!” teriak Woon segera. Benar, tak ada waktu bersantai bagi mereka sekarang. Woon harus tetap tenang dan focus pada tugasnya.

Area circuit begitu ramai dengan beberapa mobil ambulance yang terparkir rapi di sekitar tempat kejadian mengerikan itu terjadi. Petugas pemadam kebakaran masih sibuk meredakan si jago merah yang sudah hampir melahab habis Force India-Marcedes dan Mc Laren-Marcedes yang terbakar di sana. Para petugas penyelamat sudah berhasil mengevakuasi Webber dan Roseberg (Nico Roseberg, rider Force India-Marcedes) yang sempat terjebak di dalam mobil mereka masing-masing.

Satu mobil ambulance sudah berjalan menjauh meninggalkan area circuit, mobil itu tak lain adalah ambulance yang dinaiki Joon dan Hyuk Jae. Tak berselang lama Keanny dengan Lamborginhi-nya menyusul di belakang ambulance. Ada Jinnie dan Gyuri yang tampak cemas di dalamnya. Kedua wanita yang begitu mencintai Hyuk Jae dengan status mereka masing-masing itu sudah tak dapat menahan emosi yang berusaha mereka jaga selama jalannya race. Berkali-kali Keanny membentak Gyuri agar dia tak dekat-dekat Hyuk Jae hari itu hanya karna alasan kedekatan mereka akan merusak konsentrasi Hyuk Jae. Sedangkan Jinnie yang juga mendapat perlakuan yang tak jauh berbeda dengan Gyuri merasa bahwa suaminya sudah bersikap egois karna ia bahkan sama sekali tak diijinkan untuk sekedar mendekat di radius 10 meter dari keberadaan Hyuk Jae. Dan sekarang, keadaan semakin menegang karna dua orang wanita itu begitu mengkhawatirkan laki-laki yang ada di dalam ambulance yang ada di depan mobil mereka itu.

Lima belas menit berselang namun Sedan hitam Woon sama sekali belum terlihat. Bukankah tak begitu sulit bagi Woon untuk mengumpulkan keseluruhan anak buahnya yang jumlahnya tak lebih dari 5 orang itu. Entah apa yang terjadi, namun Joon tiba-tiba saja merasa khawatir saat dia tak dapat menagkap bayangan mobil Woon yang seharusnya membuntuti ambulance yang sedang ditumpanginya.

“Bersabarlah!” pinta Joon, saat dia menggunting paksa baju balap yang Hyuk Jae kenakan. “aishhh.. kemana sebenarnya Woon bodoh itu!! tckkkk…” gerutu Joon sambil memakaikan pakaian tipis pada tubuh Hyuk Jae.

“J-Joon-ah!”

“apa? Katakan!!”

“a-aku tidak apa-a-apa! K-kaki-ku m-mungkin hanya k-kram!”

“aku tau, ini mungkin hanya kram biasa. Sudahlah! Tidur saja, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit!” kata Joon sambil menyeka peluh yang bercucuran di kening Hyuk Jae.

“eum…. hey!! Stop!! Stop!!” Joon menggedor-gedor kaca pembatas ruang penumpang dan pengemudi ambulance itu. Ambulance mereka sudah melewati rumah sakit beberapa menit yang lalu, namun si pengemudi tak menghentikan ambulance itu di tempat seharusnya. Joon juga baru menyadari Lamborginhi hitam Keanny yang semula ada di belakang ambulance-nya sudah digantikan dengan deretan Van hitam yang menutupi pengemudi lainnya. “stop!! Stoppp!! Brengsek!!”

Bingung. Mungkin hanya itu kata yang paling tepat menggambarkan suasana hati Joon saat ini. ‘aku bahkan sama sekali tak menguasai ilmu bela diri’ begitu pikir Joon. Dia tau, dirinya dan juga sahabatnya yang sudah setengah sadar itu ada dalam posisi bahaya. Memikirkan jalan keluar dengan keras, bagi Joon itu sama sekali tak ada artinya. Joon baru menyadari bahwa dengan bodohnya dia bahkan lupa tak menyertakan Handphone di sakunya. Pasrah. Joon hanya bisa berdoa, semoga Woon segera menemukannya.

–o0o

Napoli

12.10 p.m

Cae Rin-ah.. kau tidak apa-apa?” Seungri langsung memeluk Cae Rin saat dia berhasil melepaskan semua ikatan yang melilit tubuh kekasihnya itu.

“Mereka tidak berbuat apa-apa padaku, kita harus segera pergi dari sini!”

“Maaf, aku tidak bisa melindungimu” ucap Seungri lirih, kedua tangannya meraba halus kedua pipi Cae Rin. Pipi putih merona yang biasanya terlihat indah itu sudah berubah warna menjadi sedikit kebiruan. Bentuk tirusnya pun terlihat mengembung karna bengkak. Ujung pelipisnya tak luput dari darah akibat benturan yang ia dapat saat dia berusaha melawan begundal-begundal yang berusaha menyiksanya. “Maafkan aku”

“aku tidak apa-apa. Katakan padaku apa yang terjadi dengan Hyukkie oppa? Apa dia baik-baik saja?” Seungri hanya menggeleng. “oppa, mereka tidak mengincarmu, mereka juga tidak menginginkan perusahaan kita, mereka, masih menginginkannya. Mereka ingin mengambilnya dari kita…..”

“………………..” Seungri tak menjawab. Dia sudah menduga, alasan dibalik kekacauan perusahaannya selama ini. Balas dendam akibat kebangkrutan, bukanlah alasan yang cukup kuat untuk dijadikan dasar balas dendam. Pasti ada alasan lain yang lebih menarik dibandingkan hanya sekedar balas dendam.

“oppa…” Cae Rin menangis. “Hyukkie oppa, mungkin dia……..” Seungri membantu Cae Rin berdiri, memutuskan perkataan Cae Rin terhadapnya.

“aku tau….” Jawab Seungri singkat.

Max dan anak buahnya sudah berhasil melumpuhkan semua penjahat, termasuk pria kekar bermata satu yang hampir melemparkan sebuah kursi ketubuh Seungri. Beruntung Dae Wan  berhasil meloloskan satu peluru tepat di kepala begundal tersebut sebelum kursi kayu itu menimpa tubuh Seungri. Tak mau buang-buang waktu, Max dan anak-anak buahnya segera meninggalkan tempat itu.

“kita benar-benar kecolongan, bagaimana mungkin Cae Rin dikawal tiga orang penjahat menuju kemari?!!! Arrggghhhhhhh!” Frustasi. Tentu saja, Max yang dikenal Seungri adalah orang yang selalu teliti saat berurusan dengan anak-anak buahnya ternyata bisa kebobolan. Sekarang mereka bahkan bisa kecolongan dengan hadirnya tiga penjahat dari empat orang pengawal Cae Rin dari Korea ke Italia.

“sudahlah.. yang penting sekarang oppa sudah menyelamatkan nyawaku. Gomawo. Gomawo Max, kau juga selalu menjagaku. Kejadian ini diluar kendali kita, mereka pasti sudah menyiapkan ini semua sejak jauh-jauh hari. Sekarang yang terpenting adalah kita harus segera menemui Hyukkie oppa. Pastikan dia baik-baik saja.”

“Hyung, apa Woon sudah menjawab panggilanmu?” tanya Seungri disela-sela aktivitasnya mengotak-atik handphonenya.

“belum.. Keanny, Gyuri, dan Hoya juga tidak dapat dihubungi”

“arrrrgghhhhhh!!! Brengsek!!!” Seungri melempar handphone-nya karna tak ada satupun orang yang menjawab panggilannya. “brengsek!! Mereka merusak jaringan mobil kita juga!” Seungri baru sadar, mengapa ia tidak menyalakan tv yang ada di mobilnya. Namun sayang, saat dia berusaha menekan-nekan tombol untuk menyalakan tv-nya. Ternyata terlambat, semua alat-alat yang tertancap di mobilnya rusak. Beruntung mereka masih bisa menjalankan mobil itu untuk segera pergi menuju circuit.

–o0o

Autrodomo Enzo e Dino Ferrari

01.45 p.m

Ruangan berukuran 20m x 10m itu tak lagi menyerupai pit Ferrari. Penghuninya sama sekali tak menyerupai para crew yang biasanya sedang sibuk menyiapkan pesta setelah perayaan podium. Keanny, Jinnie, Hoya, bahkan Gyuri juga ada di sana. Tapi dimana Woon, Joon, dan kakaknya? Begitu pikir Seungri. Perasaannya mulai tak enak saat dia menyadari mata merah Jinnie yang dihiasi cairan bening yang terus mengalir deras dari mata indahnya. Gyuri duduk di kursi kecil dimana biasanya Hyuk Jae menceritakan kendala-kendala dari mesin Ferrarinya setelah melakukan uji coba. Dia duduk sambil memeluk coat hijau tua milik Hyuk Jae. Gyuri tidak menangis, tapi pandangannya kosong, sama sekali tak dapat di tebak apa yang sedang dia pikirkan. Sedangkan Keanny sibuk dengan handphone-nya. Dia terus mondar-mandir ke sana ke mari tak jelas. Hoya hanya diam, tak tau apa yang harus ia lakukan.

“nuna….” Sapa Seungri.

“…………..” Gyuri tak menjawab. Ia bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan mendekati Seungri. “Italia.. cuaca di sini sangat aneh. Tadi siang panasnya sangat mengganggu kulitku, dan sekarang tiba-tiba hujan. Seungri-ya.. Hyungmu lupa tidak memakai Coat-nya. Dia pasti kedinginan, cepat cari dia, berikan ini padanya.” Ucap Gyuri, nglantur. Tangannya mengulurkan Coat Hyuk Jae yang ia peluk erat sedari tadi. Seungri menerima coat itu dari tangan Gyuri. Lalu Seungri memeluk erat Gyuri, wanita yang sudah ia anggap sebagai kakak perempuannya sendiri.

“eumm… Aku dan Max akan mencarinya. Nuna dan Cae Rin tetaplah di sini, kami akan segera kembali, arasso?” Gyuri menggeleng di pelukan Seungri. Di balik punggung Seungri, Cae Rin menangis, dia tau pasti apa yang Gyuri rasakan kala itu. Tak dapat dilukiskan dengan kata apapun, semuanya terlalu rumit untuk di jelaskan.

“aku ikut!” pinta Gyuri. “aku bisa melindungi diriku sendiri!”

“……………….” Cukup lama Seungri terdiam, menimang-nimang keputusan apa yang harus segera ia buat. “tidak!”

“aku mohon! Ijinkan aku menemanimu!” pinta Gyuri memelas.

Seungri akhirnya mengangguk, percuma saja baginya untuk berkata tidak, Dia justru akan membuang-buang waktu saja di sana.

“Hyung, kita ke Genoa sekarang!” perintah Seungri pada Max. Cae Rin menceritakan apa yang ia dengar selama ia dalam penculikan. Cae Rin tak sengaja mendengar dua orang penculiknya menyebut kata ‘Genoa’ sebagai tempat eksekusi terakhir misi mereka. “dan, Ken, aku tidak melarangmu untuk ikut, tapi demi keamanan, lebih baik kalian tetap di sini. Kami tak memiliki banyak kekuatan untuk melindungi kalian. Tolong segera hubungi polisi, suruh mereka segera menyusul kami di Genoa.!”

Cukup lama Keanny terdiam, menimbang-nimbang permintaan Seungri. Dia ingin ikut, tapi perkataan Seungri ada benarnya. Ia dan Jane mungkin akan merepotkan Seungri jika memaksakan diri mengikutinya.

“aku butuh mobil, berikan kuncimu padaku!” pinta Seungri pada Keanny. Dengan berat hati Keanny menyerahkan dua kunci Lamborginhi dan Audi hitamnya pada Seungri. “thanks!”

Seungri membungkuk hormat pada laki-laki yang sudah dianggap ayah oleh kakaknya. Segera setelah itu, Seungri, Max, Cae Rin, Gyuri, dan lima anak buahnya segera menuju mobil milik Keanny untuk menuju Genoa, tempat dimana Cae Rin meyakininya sebagai tempat penyekapan Oppanya.

–o0o

Genoa       

03.00 p.m

Di sudut ruangan pengap itu ada seorang laki-laki yang sedang tak sadarkan diri. Dalam tidurnya, dia tampak gelisah, entah apa yang sedang ada di dalam kepalanya. Tangan dan kakinya diikat di belakang punggungnya, sedangkan mulunya ditutupi dengan kain hitam, membuatnya tak dapat berbicara. Tubuhnya masih utuh, tak ada luka sedikitpun, hanya saja mungkin sekarang dia sedang merasa kedinginan karna sudah dua jam lamanya ia dibiarkan berbaring di lantai lembab dingin itu. Joon, laki-laki yang terlihat sedikit mengigil kedinginan itu tersadar dari tidurnya setelah dia merasakan guyuran air dingin menimpa tubuhnya. Tak langsung bangun, dia memilih untuk berpura-pura tidur sambil mendengarkan bunyi-bunyian yang terdengar di telinganya. Dia ingin tau apa yang sedang terjadi sebenarnya. Tapi dia juga takut untuk membuka matanya.

“Lee Hyuk Jae! Anak tertua dari pebisnis terkenal Lee Seung Jo, akhirnya aku melihatmu dengan kedua mataku sendiri! Hahahahhahhaha………!” ucap seorang pria setengah baya yang berdiri di hadapan Hyuk Jae sekarang. Jemarinya mengapit cerutu Coffe Late seharga $275 yang terus mengepulkan asapnya itu.

“kau mirip sekali dengan ayahmu! Hahahaha….!” Lagi-lagi suara tawa mengerikan itu diperdengarkan. “ini aneh! Tapi kau sama sekali tidak mirip dengan adik tengilmu itu, Lee Hyuk Jae!”

“arrrrgghhhhh!!” keluh Hyuk Jae, jemari penuh deretan cincin akik itu menampar pipi Hyuk Jae. “apa maumu haa!! Aku tidak mengenalmu!!!”

“aigooo… Saya minta maaf Lee Hyuk Jae—oopss—maksud saya, Tuan Muda, karna saya sudah berlaku tidak sopan terhadap Anda! Perkenalkan, nama saya Kim Tae Pyung, sahabat karib ayah Anda! Hahahhahahahha…..” mengerikan, sungguh, begitu pikir Joon saat telinganya mendengarkan setiap suara yang dikeluarkan laki-laki yang mengaku bernama Kim Tae Pyung itu.

“France! Siram lagi laki-laki itu supaya dia cepat bangun! Enak saja dia tidur nyenyak di sana, apa dia tidak tau sahabatnya ini sedang membutuhkan bantuan?! Hahahhahahaha…..!!!”

Benar saja, laki-laki yang dipanggil France itu membawa dua ember penuh air dingin untuk diguyurkan ke tubuh Joon. Dengan entengnya satu ember air itu membasahi tubuh Joon hingga Joon gelagapan kedinginan.

“hentikan! Jangan sakiti dia! Jika kau punya masalah denganku, lakukan saja itu semua padaku! Biarkan dia pergi! Brengsek!!”

“ck ck ck…!!! France, Tuan Muda Lee ini sepertinya membutuhkan air juga untuk menyegarkan tubuhnya! Setelah tadi ia kelelahan melawan sahabat-sahabat kita, dia pasti haus sekarang! Berikan air itu padanya!!” perintah Tae Pyung. Joon yang sudah membuka matanya tak dapat berbuat apa-apa, kaki dan tangannya diikat, begitu juga mulutnya, ia tak dapat memohon ataupun berteriak.

Byurrrrrrr –

Satu ember air yang harusnya jadi milik Joon diterima Hyuk Jae tanpa balas. Hyuk Jae sudah tak berniat lagi melawan perlakuan mereka padanya. Diawal Hyuk Jae dan Joon di bawa ke ruangan itu, Hyuk Jae yang terbebas dari ikatan sempat mencoba melawan penjahat-penjahat itu dengan sisa-sisa tenaganya. Namun sayang, mereka justru berbalik menyiksanya tanpa ampun, hingga dia kehilangan tenaganya bahkan hanya untuk melangkah menghampiri Joon yang tergeletak beberapa meter di dekatnya.

“apa sekarang Anda merasa lebih baik Tuan Muda?”

“…………………..” Hyuk Jae bergeming. Dia tutup rapat-rapat matanya, tak mau melihat wajah laki-laki mengerikan dihadapannya. “akkhhhhh!!” Erang Hyuk Jae saat Kim Tae Pyung menjambak kasar rambutnya.

“jawab pertanyaanku Tuan Muda. Bukankah ayah Anda selalu mengajarkan sifat-sifat terpuji pada Anda? Kenapa Anda berlaku tidak sopan terhadap saya?” tutur Tae Pyung lagi. Tak berselang lama, terdengar suara pintu dibuka. Dua orang laki-laki berjas rapi masuk ke dalam  ruangan lembab kumuh itu.

“waww… semuanya sudah berkumpul. Tuan Muda, perkenalkan! Mereka adalah saudara-saudara saya, Kim Jae Joong, dan Jimmy Tan. Apakah Anda mengenal salah satu dari mereka?”

“ …………………” Hyuk Jae tak menjawab. Kedua matanya terbuaka, mengamati kedua laki-laki itu dari ujung kaki hingga ujung kepala. Diperhatikannya lekat kedua wajah laki-laki asing yang baru diperkenalkan padanya itu. Namun sayang, dia sama sekali tak mengenal mereka.

“tck tck tck…. Tuan Muda, mengapa banyak sekali hal yang tidak kau ketahui? Hemmmmm?” sambung Kim Tae Pyung.

“Tapi aku yakin, dia pasti tau apa yang kita mau Kak!” lanjut Jae Joong sinis.

“benar, cepat tanyakan padanya, jangan buang-buang waktu lagi, segera tanyakan dan habisi dia. Aku muak melihat laki-laki bermarga Lee ini muncul di layar TV lagi!” ucap Jimmy Tan pada kedua saudaranya itu.

“……………………..” tak langsung menjawab, Tae Pyung justru bermain-main dengan cerutunya terlebih dahulu, menghisapnya, kemudian mengepulkan asap dengan berbagai bentuk dari mulutnya ke arah muka Hyuk Jae. “jangan tergesa-gesa saudaraku, biarkan Tuan Muda Lee ini bernafas dulu, dia pasti kelelahan karna anak-anak buahmu menjemputnya secara paksa di jalan. Harusnya kita memberikan service yang lebih baik dari ini padanya. Maafkan aku Tuan Muda, atas semua kecerobohanku!” manis namun pedas. Begitulah rasa setiap kata yang keluar dari mulutnya. Wajah tampan yang sarat dengan kasih sayang itu ternyata hanya tipuan belaka. Kim Tae Pyung, pembunuh ulung itu manuia yang tak sepantasnya mendapatkan ampunan dari siapapun yang telah disakitinya.

“owwhhh.. benarkah? Apakah kami melakukan kesalahan Tuan Muda?” Goda Jae Joong.

“tcihhhhhhh!!” ucap Hyuk Jae sambil menyemburkan air liur pada Jae Joong yang duduk tepat di hadapanya. “katakan saja apa maumu! Jangan berbelit-belit!” Tantang Hyuk Jae. Sikapnya itu tentu saja membuat Jae Joong marah, dia bersiap melayangkan bogem mentah di muka lebam Hyuk Jae. Beruntung Hyuk Jae tak mendapatkan pukulan di wajahnya untuk yang kesekian kalinya itu karna Kim Tae Pyung menahan tangan Jae Joong.

“bersabarlah!” pinta Tae Pyung. “Tuan Muda, kami berjanji akan membebaskanmu asal dengan satu syarat!”

“…………………” Hyuk Jae tak menjawab. Persyaratan macam apa yang akan diajukan Tae Pyung padanya. Jika Hyuk Jae salah mengambil tindakan, alih-alih bebas, dia justru akan menyeret Joon ke dalam bahaya juga bersamanya.

“ayolah.. ini mudah! Kau hanya tinggal menjawab pertanyaanku dan semuanya selesai! Kau dan temanmu bisa meninggalkan tempat ini dengan aman!”

“baiklah! T-tapi.. biarkan temanku pergi dulu dari sini!” Hyuk Jae melihat Joon menggelengkan kepalanya, tak mau pergi dari sana tanpa Hyuk Jae bersamanya tentunya. “aku mohon” pinta Hyuk Jae lirih.

“kalian bisa pergi bersama setelah kau menjawab pertanyaanku, jangan berjuang sendirian Tuan Muda. Ayolah…..!” Ucap Jimmy santai.

“apa yang dikatakan Jimmy benar, kau tidak mungkin bisa pergi dari sini sendirian dengan kondisimu seperti itu Tuan Muda!” Tambah Jae Joong. “jangan memperumit masalah, jawab saja pertanyaan dari kakakku, setelah itu kalian bisa pergi kemanapun yang kalian mau?”

Bingung, Hyuk Jae menimbang-nimbang langkah yang harus dia ambil setelah ini. Terus memohon agar Joon dibebaskan tapi tak mendapatkan hasil. Jika dia melawan ataupun diam, dia khawatir 3 bersaudara itu akan menyiksa Joon setelahnya, tentu saja Hyuk Jae tak mau melihatnya.

“baiklah! Katakan, apa?” ketiga orang itu tersenyum puas mendengar jawaban pasrah dari Hyuk Jae.

“Tuan Muda, katakan pada kami dimana Emas peninggalan ayah Anda disimpan!” Terkejut. Pertanyaan macam apa yang sebenarnya diajukan Jimmy Tan. Emas? Hyuk Jae sama sekali tak mengetahuinya. “katakan Tuan Muda!”

“a-aku tidak tau?” jawab Hyuk Jae jujur.

“Tuan Muda, Anda sudah berjanji pada kami untuk berkata jujur bukan?”

“a-aku tidak berbohong, a-aku benar-benar tidak tau apa yang kalian bicarakan!”

“Kau!!” Geram, Tae Pyung  mencekik leher Hyuk Jae kasar lalu membantingnya ke lantai. “katakana saja Tuan Muda! Jangan bermain-main dengan nyawamu!”

“lakukan saja! Aku memang tidak tau menau tentang emas yang kau maksud!”

“jangan bercanda Tuan Muda! Semua rekan bisnis ayah Anda juga tau jika ayah Anda meninggalkan warisan emas sebelum dia meninggal kepada ke dua anaknya, itu artinya kau dan Seungri yang mendapatkan emas itu kan!!!”

“aku tidak tau!” Jawah Hyuk Jae lagi yang akhirnya mendapat hadiah sebuah tendangan di perutnya oleh Kim Tae Pyung. Di sudut ruangan itu Joon menggeliat berusaha melepaskan ikatannya. Percumah. Tentu saja, ikatan di tangan dan kakinya bukan cuma sekedar tali yang melilitnya, namun juga borgol besi kuat yang membuatnya tak dapat berkutik selain memutuskan lengannya jika dia ingin melepaskan diri.

“katakana saja Tuan Muda, jangan ber—-“

Brakkkkkkk…

Pintu kayu itu akhirnya terbuka paksa setelah Woon berhasil mendobraknya dengan susah payah. Kedua tangan Woon berlumuran darah, akibat terkena cipratan darah anak buah Tae Pyung yang berhasil dibunuhnya. Lengan kanannya masih menggenggam belati tajam pencabut nyawa banyak orang hari itu. Namun sayang, aksi heroic Woon tak berlangsung lama, dua orang anak buah Tae Pyung sudah siap mengapit tubuh lemas Woon. Tak ada seorang pun yang membantu Woon kala itu, karna kelima anak buahnya sudah tewas saat mereka berenam memaksa masuk bertempur dengan kekuatan seadanya yang mereka punya.

“Woon-ah!!” ucap Hyuk Jae lirih.

“Hyung….” Kedua lutut Woon merhimpitan dengan lantai lembab ruangan itu. Kedua orang penjahat itu berhasil melumpuhkan aksi Woon yang cukup sulit diredam kala itu.

“hahahhaaha…. Kita kedatangan satu ajudan siap mati Keluarga Lee rupanya! Kim Dong Woon! apa permainan hari ini cukup menyenangkan? Hemmm?” Ejek Jae Joong. Ketiga bersaudara ini cukup lama mengawasi tindak tanduk keluarga Lee. Tak heran jika mereka tau beberapa orang yang berhubungan erat dengan Keluarga Lee. Tidak semuanya mereka tau memang, namun pengetahuan mereka cukup luas karna mereka mempunyai Min Ah. Kekasih Jae Joong yang tak lain adalah sekretaris pribadi Seungri.

“Tuan Muda, apa kau lihat dia? Tikus kecilmu itu mencari tuannya hingga ke mari? Kasihan sekali dia! Lihatlah…!” ucap Tae Pyung sambil mengepulkan cerutunya yang tak kunjung habis. “katakan segera, atau kau ingin dia menjadi mainan kami hari ini!”

“jangan mengatakan apapun Hyung! Aku tidak apa-apa!!” teriak Woon dari kejauhan. Sungguh, Hyuk Jae menyesal mendengar teriakan Woon itu. Hyuk Jae tak mungkin mengatakan apapun karna memang dia tak tau apa-apa mengenai Emas itu, tapi setidaknya Hyuk Jae bisa berbohong untuk menyelamatkan mereka dari sana. Tapi tindakan Woon justru akan lebih mempersulit keadaan mereka sekarang.

“bunuh saja aku!” ucap Hyuk Jae penuh penekanan.

“HYUNG!!”

“tidak peduli apa yang kau lakukan padaku, Aku, memang tidak tau menau mengenai Emas yang kalian bicarakan. Jadi lakukan saja apa yang kalian mau! Bunuh aku jika itu bisa memuaskan nafsumu! Kim Tae Pyung!!”

Woon menangis, mendengar pengakuan Hyuk Jae. Bagaimana mungkin kalimat itu terucap dari mulut Hyuk Jae. Bagaimana mungkin Hyuk Jae tidak mengetahui Emas yang menjadi pembicaraan banyak orang di dunia bisnis sejak satu setengah tahun lalu itu.

“arrrrrrggghhhhhhh!!!!!! Keparattt!!!” Kim Tae Pyung menggebrak meja yang ia duduki. “jadi sia-sia saja aku membawamu kemari haaaaaaaaaaaa!!!!”

Hyuk Jae tersenyum kecut. “kau memang bodoh Tuan! Menangkap ikan dengan tangan kotormu itu bisa merugikan dirimu sendiri!” sindir Hyuk Jae.

“diammmmm!!!!”  Kim Tae Pyung siap melayangkan kursi kayu dengan kedua tangannya. “kauuu…!!!”

“hentikan!!!!!” Teriak Seungri. Woon tersenyum melihat kedatangan Seungri dan yang lainnya. Sedikit lega, Woon berharap akan selamat hari itu. “hentikan atau aku melakukan ini…!!!” Seungri menyeret wanita yang sedari tadi diapit oleh kedua anak buah Seungri. Di pelipis gadis itu tertempel dengan indah ujung pistol milik Seungri. Dengan percaya diri Seungri melakukan itu di hadapan Jae Joong dan kedua saudaranya.

“oppa!!” panggil Min Ah parau.

“Shin Min Ah!!”

“lepaskan kakakku atau aku bunuh gadis ini!!” Seungri sudah siap menarik pelatuk pistolnya.

“Tuan Muda Seungri, lakukan apapun yang kau mau! Gadis itu sudah tidak berguna lagi bagi kami” ucap Jimmy Tan.

“Hyung! Apa maksudmu! Dia kekasihku!!!” ucap Jae Joong tak terima.

“Jae Joong-ah! Gadis bodohmu itu sudah tidak berguna lagi untuk kita! Jadi jangan berbuat macam-macam dengannya! Mengerti!” sedikit tak terima gadisnya diperlakukan seperti itu, namun apa boleh buat. Jae Joong harus menuruti semua perintah kedua kakaknya itu.

“sepertinya hari ini akan sangat menarik Tuan Muda! Mari kita lakukan bersama-sama!” Tae Pyung meyeret tubuh Hyuk Jae yang sempat terhalang meja. Dia seret tubuh pucat itu hingga Seungri dan kawanannya dapat melihat dengan jelas bagaimana keadaan kakak mereka sekarang. Beruntung Cae Rin dan Gyuri mau menuruti perintah Seungri untuk tetap tinggal di mobil, sehingga mereka berdua tak perlu ikut menyaksikan setiap kejadian pilu yang mungkin akan terjadi hari itu.

“Hyung!” Seungri tak kuasa menahan amarahnya. Andai saja dia sudah kehilangan sisi kemanusiawiannya, dia pasti sudah menghabisi gadis yang ada ditangannya untuk melampiaskan segala amarahnya.

“hahahhaha…! Aku tidak akan melakukan apa-apa Tuan Muda jika Anda mau bekerja sama dengan kami tentunya!”

“apa maumu haaa!!!” Seungri melepas Min Ah yang ada ditangannya ke arah Max.

“katakan, di mana Emas itu!”

“aku tidak tau!”

“oohhh… benarkah?!” jawab Tae Pyung. “Joong-ah!” Jae Joong mengangguk kemudian beranjak dari tempatnya dengan sebilah menjalin ditangannya. Dipukulnya punggung Hyuk Jae berkali-kali dengan menjalin itu. Menimbulkan suara seperti sekarung beras yang jatuh ke lantai. Sangat tidak enak di dengar.

“arrrkhhhhh!!” Sebisa mungkin Hyuk Jae tak berteriak saat Jae Joong menginjak kaki kanannya. Tapi usahanya gagal, suara desahan itu tetap lolos dari bibir merahnya. Dalam keadaan seperti itu Hyuk Jae masih memikirkan perasaan Seungri yang pasti sakit melihatnya disiksa seperti itu.

“Tuan Muda, kau masih ingin melihatnya lagi?” Jae Joong menginjak kaki Hyuk Jae lagi sambil memukulkan menjalinnya untuk yang kesekian kalinya.

“h-hentikan, aku mohon!” Seungri berlutut di hadapan Kim Tae Pyung. Memohon agar kakaknya tak disiksa lagi dihadapan kedua matanya.

“tentu saja Tuan Muda, aku akan menghentikannya jika Anda mau mengatakan dimana Emas itu berada!”

“Emas itu ada di————“

“angkat tangan!!!!” Menakjubkan. Keanny datang tepat pada waktunya bersama ratusan polisi berbaju hitam lengkap dengan senjata di tangan mereka. Semua anak buah Kim Tae Pyung sudah berhasil diamankan oleh para polisi itu. Hanya tersisa tiga bersaudara gila harta itu yang masih berdiri ketakutan di dalam ruangan sana.

Dorrr———–

Suara itu, tiba-tiba menghentikan hiruk pikuk para polisi yang sedang mengamankan kawanan 3 bersaudara itu. Besi panas itu berhasil lolos dari pistol yang dibawa Jae Joong. Beberapa polisi segera berlari meringkus Kim Tae Pyung dan Jimmy Tan yang sempat mematung, terkejut dengan apa yang dilakukan adiknya. Seungri berjalan gontai ke arah kakaknya yang sudah bersimbah darah, tubuhnya dipenuhi luka, terlihat dari baju tipis yang ia kenakan karna sudah berubah warna menjadi merah. Seungri memeluk erat tubuh Hyuk Jae sambil menangis keras. Suara tangis yang sulit diartikan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Keanny ikut bersujud lemas di dekat Seungri yang sedang memeluk anak kesayangannya itu.

“Hyung!! Bertahanlah!!” Hyuk Jae mengangguk dalam pelukan Seungri. “apa ini sangat sakit?” tanya Seungri saat dia menahan kepala Hyuk Jae yang sudah berlumuran darah.

“s-sakit s-sekali!” jawab Hyuk Jae lirih. Diusapnya pipi merah Seungri dengan ibu jarinya, Hyuk Jae, berusaha sekuat tenaga terus tersenyum di hadapan semua orang yang sangat mencintainya. “d-dad…” ucap Hyuk Jae lirih. “d-don’t w-worry! I-I’m ok!” Keanny akhirnya menangis. Dia genggam erat kedua tangan putranya. Ini seperti mimpi buruk yang tak berujung bagi Keanny. Selama ini ia dan istrinya bahkan tak membiarkan satu ekor nyamuk pun menggigit permukaan kulit putranya. Tapi sekarang. Keanny seperti dihadapkan dengan deretan cerita drama yang begitu memilukan. Setiap cerita yang ia lihat sungguh menyayat hati dan pikirannya. Sakit. Teramat sakit jika harus diteruskan.

“arrrrrrghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!” Suara teriakan Seungri menggema ke seluruh penjuru ruangan. Keanny hanya dapat menagis di samping anaknya sebelum tangan kekar Max mengangkat paksa tubuh Hyuk Jae dari pelukan Seungri untuk segara dilarikan ke rumah sakit yang dapat menolong nyawanya segera, sebelum terlambat…..

~TBC~

 HUAAAAAHAHAHHAHAHHAHAHHAH…..

Sik asik sik asik…. Udah chapter 8 nih..

Bentar lagi kelarr…

Horayyy… horayyy…

Gimana? Chapter ini menyenangkan  banget yah ? TT_____TT

Aku… aku… hikkssss…..

Udah ah… aku mo ke kamar mandi dulu yah.. mo nangis di pelukan Aa’ TOP..

Hahahhaha,,,*plaaakkkkkkkkkkkkkk

Don’t forget to leave me your comment, ok!

Tengcuuuu….. byee……

*bow

38 thoughts on “[FF Freelance] I Wish I Were You (Part 8)

  1. kyaaa…….akhirnya ff yg selalu aq tunggu muncul jg walaupun lewat tengah malem ff ini baru muncul jadi aq komen dulu ya….bacanya nyusul cz dah ngantuk bgt sih,hahaha….ssstttt tp aq dah sedikit baca jg sih 😉 gpp kan

    thor,dipart sblmnya kan hyuk jae lg di hospital,bagian itu di skip ya?krn aq lgsg nemu hyukjae diarena balap di Itali..bakal ada penjelasannya kan??hehehe…mian blm tuntas bacanya 🙂

  2. ga tahan nunggu sampe pagi akhirnya aq baca tuntas…aaarrgghhhhhhh……nyesek aq bacanya dan hyukjae harus selamat….lanjuttttt…..

    • hahahhaa….
      orang baca cuma 15 menit kelar kan..
      jadi kalo dah publish langsung baca ajha..

      makasiii..
      kamu komentator pertamaku,
      udah gt bela-belain baca ampek pagi lagi..
      jd terharu..
      *tissue mana tissue..!!!

  3. daebaaaaakk!! part ini keren bgt. aq suka. wlau kcewa gk ad haje-gyuri momentnya. hehe, ttep.

    tp bner2 puas bgt deh, yg slma ini jd prtnyaan akhrny smw kbuka d part ini.

    eh btw, ap kbarny tuh hsil tes kshatan hyuk yg kmrn? kok gk ad dbhas ya?

    Oy thor, ini ud nympe klimaksny blum ya? ap stlh ini msh ad konflik lg? mauny sih, udah aj. part2 trakhr dbkin yg happy2 aj lg. Ok thor?!

  4. astaga akhir’a kejadian juga apa yg d’pikirin sama Riri ckckckkckckckk ,, Hyukjae pasti sembuh kan ,, nah trus Hyukjae sebener’a sakit apa ???? emas ??? bongkahan emas gitu ??? Riri tau tapi Hyukjae ngga tau aarrggggg stress jadi’a ,, next part jgn lama2 ya

  5. fiuuuhhhh~ akhirnya. selama baca ff ini saya nahan napas saking tegangnya T^T
    keren banget part ini. ciyus deh. tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
    pas Min Ah keluar dari tmptnya Jae Joong kirain dia bakalan tobat, kepengaruh sama kata-katanya Min Ah, gataunya malah plan B.

    semoga Hyuk sembuh ya~ ditunggu next partnyaaaa 😉

  6. authornya gila!
    dari awal sampek part 8
    smuanya berat banget.
    gak ada adem-adem na!

    jangan suka nyiksa thor…
    nt dimarahin Tuhan baru tau rasa.!
    jleppppp!!!

  7. jaejoong-ah omo .__. thriller nya dapet thor!
    thor, itu maksudnya ‘lubang buaya’ makin besar apaan? kok buaya thor? .-.
    Yang pas di ambulance itu ada thriller nya tapi lucu juga, si joon mikir dia gabisa bela diri sama hapenya pake ketinggalan, koplak ah~
    itu kim tae pyung si hyun bin?, omo -__-”
    hyukjae lagi yang jadi pesakitan thor, yaampun udah jadi apa yak badan hyukkie sekarang kerjaannya sakit mulu… #savehyukkiefromauthor ^o^v
    nextnext part juseyooo~

    • jaejoong..
      hahhaha… dia korban kengawuran author..
      maaf ya Jaejoong-ssi..

      Joon kan emank koplak, hemm…
      Kim Tae Pyung? ya iya lah Hyun Bin..
      ni kalo temenku baca pasti marah, cs 2 suaminya aku masukin di FF ini tanpa ijin (tae pyung ma Riri) hihihihi

      Hyukkie, sehat, kuat, segar, bugar..
      soalnya tiap malam sebelum tidur selalu minum cucu..
      tenang ajhaaa..
      hoho..

  8. Keren banget thor !! Daebaaaakkk !! Kerasa lagi baca script film yang udah di tunggu2 rilis’a 😀
    Semua feel yg di masuki sama author ke crita ini bener2 kerasa banget, bener jadi terhanyut deh klau baca cerita ini 🙂
    Keep writing yah thor, Hwaiting !! ^^
    Next chap, ditunggu 🙂 #janganlama2thor 😀

    • hati- hati kalo sampe kehanyut ntar aku gak bisa nolong..
      hahahhahha…

      next chap aku janji bulan depan yah… ^^

  9. . Wohoa daebak.!! ini chapter yang aku tunggu, makin Lentik aja tuh jemari penuh akik buat nuLis. cieh cieeeehhh *toweL2 Kyu…..#abaikan
    . ihiy, tegang yah sodara-sodara setanah air dan rawa.. keren tuh Bee, Seungri emosinya cethar menggeLegar, Hyuk Jae K.O dengan Lancar, romance nya antri duLu kaLi yah.?? hehe
    . Eitzz!! Seung Yoon dah cameo aja nih, ik.ik.ik
    . O’ouw Haje, hoLd on pLease….. *puppy eyes smbL peLuk Yoseop #apadah haha

    . Chukkae chukkae buat Authornya, jangan cuma 10 parts yah…tambah angka noL 1 Lagi Lah *nawar
    . weLL, dah kepanjangan komenx kea kereta bawah tanah. Udahan ah daripada keburu ditabok Authorx, hehe Next part make it sooner, I’LL b waiting for,. HWAITING.!!
    \(^o^)/

    • jemari gua emang lentik dari sononya..
      hahahha…*peluk Hyukkie

      apanya yang tegang eon?? haeemmmm..
      perlu di garis bawahi..
      my Hyuk Jae gak K.O sodara-sodara..
      tuh luat, dia masi sibuk nyuci baju anak gua di belakang..
      (+__+)

      chapternya jangan 10?
      trus maunya berapa? hahaha..
      tenang, ntar gak bakalan cuma 10 kok.
      kan ada epilog nya..
      hahahha..
      anggap aja tuh bonus..

      well… dimohon untuk sabar menunggu chapter selanjutnya yah….
      bulan depan pasti sudah bisa dinikmati kok ^^

      mu mu mu …..

  10. astagaaaaa. sesek napas baca part ini. gilaaaa sadis banget. buruan thor lanjut next chap nya!! udah penasaran bangettttt rawrrrrrr ;A;

  11. Halu Bee…^^ Lagi lengang nih jadi baca aja FF-nya. Kkkk~
    First of all, maapin onn ya, Onn baru baca part ini. Tapi… ada tapinya^^
    ceritanya unik. penuh intrik. Bahasa yang kamu juga rapi dan sederhana. Mungkin karna aku gak begitu suka FF romance jadi konflik disini yang bikin aku tertarik. Pertahanin kedua poin itu ya bebeh 😀
    Oke, nanti aku capcus ke part pertama dulu biar rada nyambung dikit bacanya. Good night semuanyaaa 😀

    • widiw…
      ternyata beneran di baca..
      hahahahhahaha…
      makasi komennya..
      tapi eonn..
      yang bikin aku heran kok selama ini gak ada yang protes mengenai alur ceritanya yah??
      hehehe..
      secara aku ngerasa kadang ni cerita pergerakannya lambat baget gt..
      gimana eonn???

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s