[FF Freelance] That Ahjussi (Part 5)

that ahjussi poster

Judul: That Ahjussi… (Chapter 5)

Author: Yul

Length: Chaptered

Genre: Romance, Life, Drama, little bit Comedy

Main Cast: Park Bom (2NE1), Choi Seunghyun a.k.a TOP (Big Bang).

Support Cast: Shin Bongsun, Park Jiyeon (a.k.a Gummy), Yoon Doojoon (B2ST), Kwon Jiyong (Big Bang), Sandara Park (2NE1).

Disclaimer: First of all, BIG SORRY yaaa author lama gak negpost part ini >.< Lumayan sibuk belakangan ini, miaaaan >.< FF ini murni hasil jerih payah saya (?) dan didedikasikan untuk pembaca FF terutama SpringTempo shipper. Plagiat not allowed. Read & leave comment are very welcome. Happy reading ^^~

NB: Disini usia TOP lebih tua 2 tahun dari usia Bom, usia mereka juga dirubah demi kenyamanan (?)

Previous part: Part 1, Part 2, Part 3, Part 4

Chapter V

Di kamar Seunghyun.

Setelah meletakkan nampan di meja lampu yang tak jauh dari ranjang, Bom membenarkan posisi tidur Seunghyun. Setelah menaikkan sebelah kaki Seunghyun ke kasur, Bom berniat untuk menggeser tubuh Seunghyun ke tengah ranjang. Berjaga-jaga agar Seunghyun tidak terjatuh seperti dirinya saat tidur.

“Aaaaaaaaaah,” Bom sedikit berteriak saat mendorong tubuh Seunghyun ke tengah ranjang.

“Ya, apa yang kau lakukan?” tanya Seunghyun kaget.

“Ke tengah sedikit bisa tidak? Nah, sedikit lagi.” Kata Bom setelah Seunghyun berusaha dengan susah payah menggeser tubuhnya ke tengah ranjang. Merasa masih kurang ke tengah, Bom lalu berpindah dari sebelah kiri ranjang ke sisi sebelah kanan. Bom naik ke atas ranjang untuk menarik tubuh Seunghyun agar lebih ke tengah.

“Apa yang kau lakukan? Sakit!” ringis Seunghyun saat Bom mulai menarik tubuhnya agar lebih ke tengah.

“Sedikit lagi, lebih ke tengah. Aaaaaaaa!” Bom berusaha keras menarik tubuh Seunghyun. “Aaaaaaaaah!” teriak Bom saat dirinya tak sengaja jatuh menimpa tubuh Seunghyun.

“Yaa! Kau berat sekali!” teriak Seunghyun saat tubuh Bom menindih tubuhnya.

Seketika itu juga pintu kamar Seunghyun terbuka lebar. Nyonya Choi dan Minhyun ternyata. Nyonya Choi kaget bukan main melihat posisi Seunghyun dan Bom. Sedangkan Minhyun langsung menutup matanya. Mata Bom membulat sedangkan tangannya membekap mulutnya yang terbuka lebar. Mati aku!

“Eom, eom, eomma kenapa kau ada di sini?” tanya Seunghyun panik diikuti Bom yang langsung bangun membenarkan posisinya.

“OMO!” teriak Nyonya Choi terperanjat.

Seunghyun dan Bom langsung memejamkan mata mereka, bersiap mendengar omelan dari Nyonya Choi. “Ya, Minhyuna, ayo kita pergi dari sini,” ujar Nyonya Choi terburu sambil mengajak pergi anak gadisnya. Seunghyun dan Bom menghela napas pasrah. Mereka pasti akan mendapat ceramah gratis dari Nyonya Choi.

***

Seunghyun dan Bom duduk berdampingan di sofa ruang tengah. Tangan Bom memainkan ujung baju handuk yang ia kenakan. Di seberang mereka duduk Nyonya Choi dan Minhyun dengan wajah yang sulit digambarkan.

“Eottae?” Nyonya Choi membuka suara. Ia terlihat tidak sabar.

“Eottae? Apa maksud eomma?”

“Bagaimana ‘kegiatan’ kalian tadi? Lancar?”

Bom mengerutkan dahinya. Ia tak mengerti.

“Kalian sedang berusaha membuat bayi kan?” tanya Nyonya Choi lagi, lebih antusias.

Bom membelalakkan matanya. “Bayi?”

“Eomma, kami tidak melakukan apapun tadi!” tegas Seunghyun.

“Eeeeiih, tidak mungkin kalian tidak melakukan apapun tadi. Eomma sudah melihatnya tadi.”

“Lagipula mana mungkin hal seperti itu bisa dihindari kalau kalian tinggal dalam satu atap. Eomma sangat mengerti,” tambah Nyonya Choi sambil tersipu.

Bom tidak habis pikir. Untuk pertama kalinya Bom melihat reaksi orang tua yang sangat aneh –menurutnya- ketika tahu anak laki-lakinya tidur dengan wanita sebelum mereka menikah. Jika eomma Bom masih hidup mungkin ia akan sangat marah dan kecewa saat ini. Astaga, ada apa dengan ibu Ahjussi ini?

“Eomma, kita tidak tinggal satu atap…”

“Eeeiiih, kau tidak bisa membohongi eomma. Mengapa kekasihmu hanya mengenakan pakaian tidur kalau kalian tidak tinggal satu atap? Eomma tahu anak jaman sekarang. Lagipula eomma mendukung kalian!” ujar Nyonya Choi memotong ucapan Seunghyun dengan bersemangat.

“Ani eomma, itu tidak seperti yang eomma bicarakan!” ujar Seunghyun sedikit kesal karena eommanya tidak mendengarkan perkataannya sejak tadi.

“Lalu kapan kalian akan menikah?” tanya Nyonya Choi bersemangat tanpa mengindahkan sanggahan anaknya. Wajahnya lebih berseri sekarang.

“Eomma!” Seunghyun pasrah. Ibunya memang begitu, suka menyimpulkan sesuatu tanpa mempedulikan apa yang orang katakan.

“Ne Oppa! Kapan kau akan menikahi Bommie eonni? Pesta pernikahan kalian pasti akan mewah! Aku akan mengundang semua teman-temanku!” sahut Minhyun lebih excited.

Wajah Bom pias. Ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi Nyonya Choi dan Minhyun dengan pemikiran mereka yang aneh. “Eommoni…” ujar Bom pelan. “Wae geurae Bommie-ah?” tanya Nyonya Choi sambil mencondongkan tubuhnya pada Bom. “Apa kau tidak enak badan?” tanya Nyonya Choi lagi. Bom menggeleng. “Ya Choi Seunghyun! Apa yang kau lakukan pada Bommie? Apa kau terlalu berlebihan tadi? Kau tidak lihat kekasihmu sampai lelah seperti ini?” omel Nyonya Choi.

Seunghyun mengernyitkan alisnya, mulutnya terbuka. Apa-apaan ini? “Ani eomma!” sanggah Bom tegas. Nyonya Choi menautkan kedua alisnya, menunggu pernyataan Bom selanjutnya.

“Sebenarnya kami…” Bom diam sejenak. Ia ragu harus jujur atau tidak, mengatakan semuanya dari awal kalau ia hanya ‘memperalat’ Seunghyun untuk menghadapi Doojoon atau melanjutkan kesalahpahaman yang terjadi. Bom tahu ia akan meruntuhkan kebahagian Nyonya Choi saat itu juga jika ia mengatakan yang sebenarnya. Tapi ia tidak ingin melanjutkan kebohongan yang semakin lama bertambah besar.

Seunghyun melirik ke arah Bom dengan perasaan was-was. Ya Park Bom! Kau ingin mengatakan semuanya di hadapan ibuku? Jangan bercanda!

“Sebenarnya kami…” ujar Bom lagi. Ia memejamkan matanya. Mencari sebuah keyakinan atas tindakan yang harus ia lakukan. Sementara Nyonya Choi dan Minhyun dengan sabar menunggu apa yang akan Bom utarakan.

Seunghyun memandang tak percaya ke arah Bom –meski tahu Bom sedang memejamkan matanya. Seunghyun mengkhawatirkan sesuatu. Selain ibunya yang sudah pasti akan kecewa berat terhadapnya, ia mengkhawatirkan Choi Sanghyun, ayahnya. Ayahnya sangat tegas padanya, terutama soal wanita.

“Sebenarnya kami…” Bom kembali terdiam. Dengan cepat Seunghyun menendang pelan kaki Bom. Bom melirik ke arah Seunghyun. Dengan kilat Seunghyun melemparkan pandangan tolong-jangan-katakan-yang-sebenarnya-sekarang sambil mengerutkan keningnya. Bom kembali memfokuskan pandangannya pada Nyonya Choi. Ya Park Bom! Jangan bercanda! Seunghyun belum siap menerima murka dari ayahnya jika ia mengetahui hal ini.

“Sebenarnya… Kami memang berencana untuk menikah, tapi tidak dalam waktu dekat,” ujar Bom akhirnya. Nyonya Choi menghela napas pasrah. Kadar keceriaan di wajahnya berkurang drastis, begitu juga dengan Minhyun. Bayangan pesta meriah serta gaun indah yang sejak tadi mengelilingi kepalanya lenyap begitu saja. Sementara Seunghyun membulatkan mulutnya tak percaya. Park Bom! Kau mengatakan hal yang tepat! Dengan cepat raut wajah Seunghyun berubah.

“Bommie-ah, tidak bisakah kalian menikah dalam waktu dekat?” tanya Nyonya Choi sedikit membujuk. Sepertinya Nyonya Choi tidak sabar untuk memiliki menantu. Atau mungkin cucu?

“Itu…” Bom kehilangan akal. Dengan cepat Seunghyun merangkul Bom. “Ehem!” Ia melebarkan senyumnya. “Eomma, kami sangat sibuk berkeja belakangan ini. Eomma tahu sendiri aku belum lama pindah ke perusahaan yang baru. Bommie sendiri juga sangat sibuk sekarang. Kami rasa waktunya tidak tepat,” ujar Seunghyun semangat.

“Betul kan, chagiya?” tanya Seunghyun sambil menoleh ke arah Bom dengan senyum termanisnya. Bom membulatkan matanya.  Apa? Chagiya? Ya Ahjussi! Kau ingin mati? Bom memicingkan matanya tajam saat menatap Seunghyun. Seunghyun mengurangi garis senyum di bibirnya. Lesung pipinya yang tadinya terlihat jelas kini sedikit menghilang.

“Ne eommoni, kami masih sangat sibuk sekarang ini,” ujar Bom berpura-pura tersenyum. Tangannya semakin erat memainkan ujung baju handuknya. Nyonya Choi semakin kecewa. “Tapi kami akan segera memberi kabar jika rencana pernikahan kami sudah matang,” kata Seunghyun meyakinkan ibunya. Kali ini Bom menginjak kaki Seunghyun. Ya Ahjussi, apa maksudmu?

Seunghyun menebar senyumnya lagi. Kali ini tangannya yang menganggur menggenggam kedua tangan Bom. “Sudah pasti kita akan memberi kabar jika rencana pernikahannya sudah siap kan?” tanya Seunghyun lembut. Bom merasa perutnya tiba-tiba mual saat Seunghyun bertingkah aneh. Ahjussi, kau sangat menjijikkan saat ini!

“Baiklah kalau seperti itu, Minhyun-ah, ayo kita pulang.” Nyonya Choi berdiri dengan wajah masam. Minhyun ikut berdiri dengan wajah masam. “Oppa macam apa kau ini?” cibir Minhyun. Seunghyun dan Bom ikut berdiri. “Eomma,” panggil Seunghyun. Nyonya Choi pura-pura tidak mendengar lalu berjalan menuju pintu.

Seunghyun menghamipiri ibunya. Ia memeluk ibunya dari belakang. “Eomma, jangan terlalu kecewa seperti ini,” ujar Seunghyun. “Eomma tidak kecewa,” sahut Nyonya Choi tegas. Seunghyun tersenyum. “Itu tandanya eomma kecewa,” timpal Seunghyun. Bom yang masih berdiri di antara sofa dan meja menatap anak dan ibu tersebut dengan tatapan iri. Aku juga ingin dipeluk!

Seunghyun melepaskan pelukannya dan memutar tubuh Nyonya Choi hingga mereka saling berhadapan. “Eomma, kami berjanji akan segera memberi kabar. Eomma tenang saja,” ujar Seunghyun. Nyonya Choi menghela napasnya. Ia tahu ia tidak bisa memaksakan kehendaknya meskipun pada anaknya sendiri. Apalagi jika menyangkut dengan pernikahan.

“Bommie-ah, kemari,” panggil Nyonya Choi kemudian. Bom yang sibuk bersungut tersadar dari lamunannya lalu menghampiri Nyonya Choi. Dengan tatapan penuh arti, Nyonya Choi menarik Bom dalam pelukannya. Nyonya Choi mengusap punggung Bom lembut. “Bommie-ah, betapa beruntungnya Seunghyun memiliki kekasih sepertimu,” ujar Nyonya Choi.

Seunghyun yang berdiri dekat Nyonya Choi hanya tersenyum sambil menunduk. Sudah pasti aku sangat beruntung jika benar-benar memiliki kekasih sepertinya, eomma! Selera eomma memang sama denganku, selalu bagus! “Tapi lebih beruntung lagi jika kau bisa menjadi bagian dari keluarga kami,” sambung Nyonya Choi.

Bom terpaku mendengar ucapan Nyonya Choi. Perlahan Nyonya Choi mengeratkan pelukannya. “Kami semua menyangangimu,” kata Nyonya Choi setengah berbisik. Mata Bom berkaca-kaca. Sudah lama ia tidak mendapatkan pelukan dari seorang ibu. Perlahan tangan Bom melingkar pada pinggang Nyonya Choi. Entah kenapa Bom merasa ia sedang memeluk ibunya sekarang. Air mata mengalir di pipi Bom.

Seunghyun terpaku sejenak melihat Bom menangis lalu memeluk kedua wanita yang ia cintai di hadapannya. “Eomma… Bommie-ah… Aku senang memiliki dua wanita hebat seperti kalian,” ujar Seunghyun. Minhyun yang masih berdiri di dekat sofa berdehem. “Ya Minhyun-ah, kemari kau,” panggil Seunghyun. Mereka berempat berpelukan cukup lama.

Bom menghapus air matanya setelah mereka selesai berpelukan. Nyonya Choi ikut mengusap pipi Bom. “Eomma tunggu kabar bahagia dari kalian berdua,” kata Nyonya Choi sambil merapikan bajunya. “Ne eommoni,” janji Bom.

Seunghyun dan Bom mengantar Nyonya Choi dan Minhyun sampai depan lift. Setelah pintu lift yang membawa Nyonya Choi dan Minhyun tertutup, Seunghyun membalikkan tubuhnya untuk kembali ke apartemennya. Ia menghentikan langkahnya karena Bom masih berdiri di depan lift.

“Ya Park Bom, apa yang kau lakukan?” tanya Seunghyun. Bom menoleh dengan raut wajah yang menyedihkan. “Bagaimana ini Ahjussi?,” tanya Bom. Wajahnya menyiratkan ia akan menangis lagi. “Ck, jangan menangis. Cepat ikut aku. Tidak mungkin kita membahas hal ini di depan lift.” Seunghyun kembali berjalan lagi. Pikiran mereka sama-sama kacau saat ini. Akhirnya Bom mengikuti langkah Seunghyun.

***

“Jadi bagaimana ini?” tanya Bom cemas. Seunghyun membungkus tubuhnya dengan selimut setelah duduk di samping Bom. “Bagaimana apanya?” Seunghyun balik bertanya sambil memejamkan matanya. Pusing menjalar di kepalanya tiba-tiba. “Bagaimana ini? Kita tidak mungkin menikah!” ujar Bom masih dengan wajah cemasnya.

“Kalau begitu kita harus pura-pura bertengkar jika bertemu dengan eomma lagi. Mungkin salah satu dari kita harus pura-pura berselingkuh,” sahut Seunghyun pelan sambil memijit pelipisnya. “Eoh? Bertengkar? Berselingkuh?” Bom berpikir sejenak. “Apa eommamu tidak kecewa jika kita bertengkar atau berselingkuh lalu berpisah begitu saja?” tanya Bom lagi.

“Tentu saja semua keluargaku akan kecewa terutama ibuku.”

Bom diam. Pikirannya dipenuhi keraguan sekarang. Ia harus meluruskan kesalahpahaman yang terjadi juga kebohongan yang sudah ia ciptakan. Tapi hati kecilnya tidak bisa menerima jika ia harus mengecewakan orang lain terutama  Nyonya Choi. Pelukan yang Bom rasakan tadi masih terasa hangat di tubuhnya.

“Aaaaaaah~! Bagaimana ini?” tanya Bom gusar.

“Ya Park Bom, kau benar-benar tidak ingin menikah denganku?” tanya Seunghyun tiba-tiba. “Ya! Mwoya!” Bom langsung menjauhkan dirinya dari Seunghyun. “Aku serius. Apa kau tidak tertarik padaku? Aku baik, tampan, kaya, pintar. Aku ini mendekati sempurna,” ujar Seunghyun penuh percaya diri. “Tapi kau tua, Ahjussi,” balas Bom sambil mendelikkan matanya. “Kata siapa? Aku hanya dua tahun lebih tua di atasmu. Ini jarak usia yang cocok bagi pasangan suami istri,” ujar Seunghyun membantah ucapan Bom.

“Mwo? Kau hanya dua tahun lebih tua di atasku? Kukira kau benar-benar sudah Ahjussi,” kata Bom agak terkejut. “Seharusnya kau memanggilku Oppa. Nah, eottae? Apakah kau tidak tertarik untuk menikah denganku?” tanya Seunghyun lagi. “Tidak, tidak!” tolak Bom.

“Wae? Kenapa kau tidak tertarik padaku?”

“Ya Ahjussi! Berhenti menanyakan pertanyaan seperti itu!” Bom bergidik ngeri.

“Coba kau pilih salah satu, menikah denganku atau mengaku selingkuh pada orang tuaku?”

Bom merenggut sebal. “Mana bisa seperti itu! Pilihanmu tidak ada yang menguntungkanku.”

“Menikah denganku tidak merugikanmu.”

Bom bergumam sendirian sambil memajukan bibirnya. “Baiklah, aku akan mengaku selingkuh dengan pria lain,” ujar Bom kemudian. Ia berusaha memantapkan hatinya. Lagipula aku bisa minta tolong pada Jiyong untuk berpura-pura menjadi selingkuhanku sementara.

“Lucu sekali. Menggunakan pria lain sebagai kekasih palsu di hadapan kekasih palsumu sendiri,” gumam Seunghyun.

“Kalau begitu aku pergi,” ujar Bom lalu berdiri merapikan baju handuknya.

“Kau tidak ingin mengganti pakaianmu? Sudah ramai orang di luar sana.” Seunghyun bangkit menuju kamarnya lalu keluar sambil menyodorkan jaket hitam berlambang fleur de lis pada Bom. “Gunakan ini. Setidaknya ini lebih baik dari pada baju handuk bermotif hati milikmu.” Bom melepas baju handuk dan menggantinya dengan jaket pinjaman Seunghyun.

“Oh iya, bagaimana dengan 2 minggu lagi? Bukankah sahabatmu menikah? Kau ingin kutemani datang ke sana?” tanya Seunghyun. “Sudah pasti kau harus menemaniku ke sana,” jawab Bom sambil menaikkan resleting jaket hitam yang kebesaran di tubuhnya. “Baiklah, sampai jumpa dua minggu lagi,” pamit Bom lagi. Senghyun mengantar kepergian Bom dengan senyum dan lambaian tangan –yang tentu saja tidak Bom acuhkan.

***

Hari demi hari sudah berlalu. Bom dan Seunghyun kembali kerja seperti biasa di Tibbit Gallery’s. Bom lebih banyak meluangkan waktu di luar karena harus mengurusi rapat di kantor pusat. Begitu juga Seunghyun, ia banyak menghabiskan waktunya di beberapa kantor cabang lain untuk membantu membetulkan beberapa soft desain yang akan di ajukan ke beberapa perusahaan.

Tiga hari sebelum hari pernikahan Jiyeon, malamnya di apartemen Bom.

“Yeoboseyo?” tanya Bom.

“Ini aku, Seunghyun. Apa kabarmu?” sapa Seunghyun di telepon.

“Oh, kau Ahjussi. Aku baik-baik saja. Kau sendiri?”

“Aku juga baik-baik saja. Oya, bagaimana persiapanmu dengan pria selingkuhanmu? Apakah kau sudah menyiapkan semuanya? Senin depan orang tuaku akan mengunjungiku. Mengunjungi kita berdua kurasa.”

“Mwo? Kenapa sangat terburu-buru? Besok aku baru akan menemui temanku untuk meminta tolong padanya.”

“Mungkin kau bisa mampir ke apartemenku setelah menemui temanmu. Kita belum menyiapkan akting dan dialog untuk menghadapi orang tuaku. Itu kalau kau tidak keberatan,” usul Seunghyun. Bom diam sejenak.

“Ne, akan kuusahakan. Sampai jumpa besok.”

“Ne, selamat malam.”

***

Jumat siang di Bronze Café.

Jiyong tertawa keras saat Bom menceritakan sebab kenapa ia meminta Jiyong menjadi pria selingkuhannya. Jiyong dan Bom memang dekat. Sejak kecil mereka satu sekolah, bahkan rumah mereka bersebelahan. Hanya saja saat lulus kuliah Jiyong pindah rumah, begitu juga Bom. Beberapa pengunjung kafe menoleh ke arah mereka karena terganggu dengan tawa Jiyong yang cukup menganggu.

“Ya, Bommie. Kenapa kau bisa masuk ke dalam masalah seperti ini?” tanya Kwon Jiyong tak habis pikir sambil menyeka air mata yang mengalir akibat tawa berlebihannya.

“Mana kutahu. Itu tidak penting. Yang penting kau mau membantuku kan, eoh?” tanya Bom.

“Ne, ne. Aku akan membantumu. Ahahaha, aku hanya masih tidak habis pikir denganmu,” Jiyong kembali tertawa. “Jiyong-ah, tolong jangan tertawa lagi. Kau membuatku ingin menangis,” pinta Bom sebal. Jiyong menaik-turunkan kedua tangannya, memberi tanda kalau ia sudah selesai menertawakan Bom.

“Jadi, kapan aku harus membantumu?” tanya Jiyong mulai serius. “Entahlah, kedua orang tua Seunghyun akan datang hari Senin. Aku akan bertanya dulu padanya. Kukabari kau nanti.” Jiyong mengangguk paham. “Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu,” kata Bom lalu berdiri. Bom memeluk Jiyong sebagai tanda terima kasih. “Kau benar-benar temanku. Aku mengandalkanmu,” ujar Bom. Jiyong menepuk bahu Bom. “Tentu saja aku akan membantumu sebisaku. Kita ini sudah seperti saudara,” kata Jiyong lalu melepaskan pelukannya.

***

Malam hari, sebelum hari pernikahan Jiyeon di apartemen Seunghyun.

Dengan sedikit perasaan ragu –entah karena apa- Seunghyun memutuskan menelpon Bom menjelang tidur.

“Yeoboseyo?” sapa Bom.

Bukannya langsung membalas sapaan Bom, Seunghyun hanyut dengan lamunannya. Entah kenapa saat mendengar suara Bom ditelepon, jantung Seunghyun selalu berdetak tidak normal. Ah, suaranya yang lembut dan lucu.

“Ya Ahjussi, kalau kau tidak bicara akan kututup sekarang,” ujar Bom lagi.

Seunghyun tersadar dari lamunannya. “Eoh? Ah, annyeong. Kau sedang apa?” tanya Seunghyun.

“Tentu saja sedang bersiap ingin tidur. Aku heran kenapa kau selalu menelponku saat aku ingin tidur? Apa kau tidak tahu ini jam orang untuk beristirahat?” tanya Bom lagi.

Gadis ini, selalu saja berbicara seperti ini. Apa ia benar-benar tidak tahu kalau aku selalu ingin mendengar suaranya sebelum tidur? “Kau tidak lelah selalu berbicara seperti ini jika aku meneleponmu?” tanya Seunghyun.

“Cepat, apa yang ingin kau sampaikan?” ujar Bom lagi, agak malas.

“Ya Park Bom, apa kau benar-benar tidak tahu kenapa aku selalu menelponmu saat jam segini?” tanya Seunghyun lagi.

“Mana kutahu,” cibir Bom dari seberang.

“Sudah kuduga, orang sepertimu tidak akan menyadari hal seperti ini. Seharusnya kau tahu kalau kau menyukai, menyayangi atau bahkan mencintai seseorang, maka kau akan selalu ingin mendengar suara orang tersebut sebelum kau tidur.”

“Ahjussi, jangan bercanda lagi.”

“Baiklah. Besok akan kujemput kau pukul 6,” ujar Seunghyun.

“Ne. Kututup sekarang,” suara Bom sudah agak menghilang lalu nada telpon terputus.

Seunghyun menghela napasnya. Ia membenarkan posisi tidurnya. Matanya yang tajam memandang ke arah langit-langit kamarnya. Tapi pikirannya jauh menelusuri sesuatu. Bagaimana jika besok semuanya berakhir begitu saja? Perasaan Seunghyun diliputi rasa takut. Ia mencoba memejamkan matanya, menepis semua kemungkinan terburuk yang akan terjadi besok.

***

Bom mematut diri di cermin cukup lama. Tubuhnya dibalut dengan gaun warna peach yang terbuka bagian atasnya sehingga menampakkan bahu dan punggungnya yang indah. Gaun yang menutupi sampai sebatas paha di lengkapi dengan beberapa mutiara agar terkesan elegan pada beberapa tempat. Bom juga sudah memoles wajahnya dengan make up natural seperti biasa. Rambutnya ia ikat ke belakang agak menyamping sehingga buntut rambutnya menutupi bahu kirinya. Poninya ia miringkan.

Bom memandangi ponselnya beberapa kali. Sudah jam enam lewat lima belas. Apa yang Ahjussi itu lakukan? Ini pernikahan sahabatnya, ia tidak ingin datang terlambat. Sebenarnya Jiyeon menawarkan Bom untuk menjadi wanita pengiring dihari pernikahannya, tapi karena orang tua Jiyeon dan Seungri memutuskan rencana yang berbeda maka Bom terpaksa mengurungkan niatnya menampingi Jiyeon nanti.

Bom berjalan mondar-mandir di depan pintu kamarnya. Apa mugkin Ahjussi itu sakit seperti waktu itu? Tidak mungkin, suaranya tadi malam sehat seperti biasanya. Bom memikirkan alasan lain kenapa Seunghyun belum juga datang menjemputnya. Tiba-tiba otak Bom memerintahkan pikirannya untuk memikirkan alasan kenapa Seunghyun selalu menelpon disaat menjelang tidur.

Kalau menyukai, menyayangi atau bahkan mencintai seseorang, maka kau akan selalu ingin mendengar suara orang tersebut sebelum kau tidur. Bom diam sejenak. Aku selalu ingin mendengar suara eomma, appa dan Doojoon Oppa ketika aku sedang jauh dari mereka karena aku menyayangi dan mencintai mereka. Bom mengerutkan keningnya. Omo! Apa mungkin Ahjussi itu seperti itu? Apa dia ingin mendengar suaraku sebelum ia tidur karena ia menyayangi atau bahkan mencintaiku? Bom buru-buru menepis pikirannya tentang Seunghyun. Tidak mungkin Ahjussi itu seperti itu. Ia selalu mengatakan sesuatu meski tidak terlalu penting saat menelponku.

Tunggu, kalau bukan hal yang tidak terlalu penting kenapa tidak mengirimiku pesan saja? Atau menelponku di waktu lain? Bom memukul pelan dahinya sendiri. Park Bom, jangan berpikir macam-macam. Tidak mungkin ia menyukaimu! Bom menganggukkan kepalanya. Kalau ia tidak  menyukaiku, apa aku yang menyukainya?

Tanpa sadar Bom menampar pipinya lalu meringis sendiri. Lagi-lagi otaknya membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Bom berusaha menyadarkan dirinya dengan menarik napas dan menghembuskannya perlahan secara bergantian.

“Ting tong,” suara bel menghentikan aktifitas ‘penenangan pikiran’ Bom. Ia bergegas membukakan pintu. Seunghyun terkesiap seketika saat melihat penampilan Bom. Jantung Seunghyun berdetak lebih cepat. Park Bom, kau yang terbaik malam ini! Merasa diperhatikan Bom berdehem. Seunghyun tersadar dari lamunannya. “Selamat malam Bommie-ah,” ujar Seunghyun lalu tersenyum manis. Kali ini Bom merasa hatinya seperti di setrum saat Seunghyun memberikan senyum termanisnya.

“Kau kenapa?” tanya Seunghyun heran saat Bom menundukkan kepalanya. Ahjussi bodoh! Untuk apa kau menyapaku sambil tersenyum manis seperti tadi? Kau tidak lihat wajahku memerah sekarang? Seunghyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Apa aku terlalu berlebihan tadi? “Kaja,” ujar Seunghyun lembut sambil mengulurkan tangannya. Dengan cepat Bom mengunci pintu apartemennya lalu berjalan meninggalkan Seunghyun yang masih terpaku di depan apartemennya.

-to be continued-

Gimana chapter 5-nya??? Jangan lupa komen yaa, author usahain chapter 6-nya dipost lebih cepet ^^

62 thoughts on “[FF Freelance] That Ahjussi (Part 5)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s