Wedding Dress [Chapter 3]

Wedding Dress

Title : Wedding Dress | Author : RettaVIP | Art : Artfactory ‘s almahonggi99 | Genre : Sad Romance, Drama, Songfic (Wedding Dress by Taeyang) | Rating : T | Length : Chapter | Cast : Lee Jieun (IU), Jang Wooyoung (2PM), & Taeyang (Bigbang) | Disclaimer : Inspired by Taeyang’s Wedding Dress

Chapter 1 | Chapter 2

###

Wooyoung mematikan ponselnya dengan putus asa. Junho memandanginya dengan perasaan iba—temannya sedang sedih. Dengan ragu-ragu akhirnya Junho memberanikan diri untuk bertanya, “Wooyoung-ah, ada apa?”

“Nanti malam temani aku ke bar. Aku ingin minum,” kata Wooyoung datar.

Yahh! Wooyoung-ah, apa yang terjadi pada dirimu?” seru Junho tidak sabar.

“Tidak ada apa-apa,” dusta Wooyoung. Ia masih tetap terfokus pada gambarannya—gambaran gaun pengantin yang sama sekali bukan pekerjaannya. Junho merampas kertas sketsa yang sedang digambar Wooyoung dan membanting kertas itu di meja.

“Berhentilah! Ikut denganku sekarang.” Junho menarik tangan Wooyoung dengan paksa.

Wooyoung dengan pasrah mengikuti arah Junho menariknya. Ia benar-benar tidak bisa berpikir saat itu. Semuanya terasa gelap.

Setiba di mobil Junho, terjadi keheningan di antara mereka. Junho yang biasanya periang, kali ini membungkam mulutnya. Wooyoung hanya memandang keluar jendela dengan tatapan kosong. Perjalanan terasa begitu panjang.

“Sekarang ceritakan, apa yang terjadi padamu?” tanya Junho pada akhirnya. Nadanya datar. Sepertinya kali ini ia benar-benar serius.

Wooyoung masih membisu. Sama sekali tidak berniat untuk membicarakan hal ini.

“Wooyoung-ah, kau tahu kau bisa mempercayaiku. Aku akan membantumu.” Junho masih berusaha untuk membuat Wooyoung berbicara tentang masalahnya, dan usahanya berhasil.

“Aku menyukai Jieun,” kata Wooyoung singkat.

“Jieun? Lee Jieun—temanmu pada masa kecil itu? Yang fotonya kau pajang di meja kerja?”

“Benar.”

“Lalu ada masalah apa?”

“Ada tetangga yang pindah di sebelah rumah kita. Sepertinya, ia berusaha merebut Jieun dariku. Entahlah. Selama ini Jieun hanya dekat denganku. Rasanya aneh sekali bila ada pria lain yang menggantikanku.” Wooyoung menundukkan kepalanya, mengepalkan tinju, memukulkannya ke pahanya.

Tiba-tiba saja Junho tertawa terbahak-bahak. Wooyoung menatapnya dengan bingung. Dengan tidak sabar ia menunggu Junho menyelesaikan tawanya. Wajahnya penuh dengan tanda tanya.

“Ya ampun, Wooyoung-ah. Kau cemburu?” Junho melanjutkan tawanya. “Kukira ada sesuatu hal yang sangat penting.”

“Tentu saja ini penting, bodoh. Aku berencana untuk melamarnya,” seru Wooyoung emosi.

Junho membesarkan matanya saat mendengar hal itu. “Apa? Memangnya kau sudah menjadi pacarnya?”

“Belum.”

“Bagaimana mungkin kau hendak melamar orang yang bukan pacarmu? Mana mungkin dia mau?” Junho mulai merasa temannya ini sinting.

“Aku tidak tahu. Aku hanya merasa, aku harus melamarnya secepat mungkin, sebelum orang lain mendahuluiku.” Wooyoung menundukkan kepalanya sekali lagi.

“Memang kau yakin dia pasti menerimamu?” Junho menanti jawaban temannya dengan penasaran.

“Entahlah. Aku akan mencoba. Sebelum semuanya terlambat.” Wajahnya kembali murung. Ia menatap keluar jendela, salju mulai turun. “Junho-yah, salju!” seru Wooyoung kaget.

Junho sontak menengadah ke atas, berusaha melihat ke langit yang menjatuhkan butiran-butiran berwarna putih. “Yahh! Kita belum menyelesaikan pekerjaan kita! Matilah kita besok!” teriak Junho panik.

“Sudahlah, jangan pikirkan hal itu dulu. Kau menemaniku ke bar tidak malam ini? Aku ingin melepas stress.”

“Baiklah, baiklah. Aku akan menemanimu.”

###

Jack Daniels satu botol,” pesan Wooyoung pada bartender, lalu ia berbalik menatap Junho yang ada di sebelahnya, “kau pesan apa Junho-yah?”

Champagne untuk aku,” pesan Junho pada bartender.

Musik berdebum dengan kencang. Lampu berkelap-kelip tiada henti. Lantai dansa telah penuh sesak dengan para remaja yang bersenang-senang, membuat selera Junho dan Wooyoung untuk menari hilang begitu saja. Disk Jockey berulang kali mengganti lagu—mengundang teriakan senang dari seisi diskotik itu. Junho dan Wooyoung hanya membisu menatap keramaian di hadapan mereka, sambil sesekali meneguk minuman yang mereka pesan.

Si bartender—teman Junho dan Wooyoung, Chansung—menatap mereka berdua dengan tatapan bertanya-tanya. Akhirnya ia tidak menguasai perasaan ingin tahunya dan menepuk bahu Junho. “Yahh! Ada apa dengan kalian? Tidak seperti biasanya kalian tidak bersemangat di dalam diskotik,” kata Chansung.

“Teman kita—Wooyoung—sedang patah hati. Aku ke sini hanya menemaninya minum,” kata Junho, melirik si Wooyoung dengan pandangan meminta sahutan.

Wooyoung kembali menenggak isi gelasnya. Tak terasa, isi botol minumannya telah habis. “Chansung-ah, tambah satu botol lagi,” gumamnya pelan. Kepalanya mulai terasa berat, tetapi ia tetap memaksakan dirinya.

“Wah, Wooyoung-ah. Sebelumnya kau tidak pernah minum lebih dari satu botol. Apakah kau yakin?” tanya Chansung tidak percaya.

“Sudahlah, cepat!”

Chansung mengambil sebuat botol Jack Daniels lagi dengan ragu-ragu. Ia meletakkan botol itu di depan Wooyoung. Dengan segera Wooyoung membuka tutupnya dan menenggak isinya hingga tinggal separuh. Junho dan Chansung menatap teman mereka itu dengan khawatir.

Ketika Wooyoung hendak menenggak isi botol itu lagi, Junho menghentikannya. “Wooyoung-ah! Hentikan! Jangan minum lagi!” serunya marah.

Wooyoung menepis tangan Junho dengan kasar hingga Junho terjungkal dari kursinya. Tanpa memedulikan teriakan amarah dari Chansung, Wooyoung menghabiskan isi botol keduanya. Sepertinya Wooyoung sudah mencapai batasnya.Tubuhnya mulai limbung. Ia terhuyung-huyung meletakkan botol itu di atas meja.

“Chansung-ah, satu lagi, boleh?” tanya Wooyoung sambil terkikik sendiri. Tanda-tanda kemabukan sudah mulai muncul darinya. Chansung menatap Wooyoung sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Tidak, sudah cukup, Wooyoung-ah. Kau sudah mabuk,” kata Chansung dengan tegas.

“Ayolah, satu lagi,” pinta Wooyoung dengan wajah memelas. Tubuhnya sedikit condong ke samping—kehilangan keseimbangan—ia terjungkal dari kursinya sendiri. Seperti orang sinting, Wooyoung menertawakan dirinya sendiri. Junho membantunya untuk berdiri. Orang-orang sekitar mulai melihat Wooyoung dengan pandangan tidak enak.

“Junho-yah, lebih baik bawa dia pulang, sebelum dia membuat kekacauan di sini,” kata Chansung panik. Junho mengangguk cepat dan memapah Wooyoung—yang masih tertawa sendiri—menuju keluar dari bar.

Tidak sengaja—Wooyoung menoleh ke arah panggung lantai dansa. Ia berteriak heboh dan menghentikan langkahnya, membuat Junho kesusahan memapahnya. Chansung dengan segera datang membantu, tetapi Wooyoung semakin memberontak. Ia meronta-ronta seperti orang kesetanan.

“Jieun-ah! Jieun-ah!” Wooyoung terus meneriakkan nama Jieun tanpa henti.

“Jieun di rumah. Ayo kita pulang,” bujuk Junho, berharap Wooyoung akan menjadi lebih tenang.

“Tidak! Tidak! Jieun di sana,” seru Wooyoung sambil menunjuk-nunjuk ke arah panggung.

Junho dan Chansung serempak menoleh ke arah panggung. Mata mereka membelalak. Mereka saling menatap satu sama lain dengan ketakutan. Hal ini benar-benar tak diduga. Mereka tidak mempercayai apa yang telah mereka lihat. Dua sosok yang sangat familiar tengah menari dengan liar di atas panggung—Taeyang dan Jieun.

Wooyoung berteriak semakin histeris, hingga Junho dan Chansung tidak mempunyai jalan lain selain membiarkannya menuju Jieun. Ia berlari menuju ke atas panggung secepat kilat. Taeyang dan Jieun menghentikan tariannya begitu melihat Wooyoung dengan liar naik ke atas panggung. Tanpa mengatakan apa-apa, Wooyoung menarik lengan Jieun dengan kasar—membawanya turun dari panggung.

“Wooyoung-ah! Sakit! Lepaskan aku!” seru Jieun marah. Ia menepis tangan Wooyoung dengan keras.

Junho dan Chansung terlihat berlari dari pintu masuk bar, menuju ke arah Wooyoung berada—berusaha mencegah Wooyoung melakukan hal yang gila. Sayangnya mereka sedikit terlambat, Wooyoung memeluk Jieun dengan paksa. Jieun meronta-ronta ingin melepaskan diri, tetapi Wooyoung malah memeluknya semakin erat.

Melihat rona kemarahan Jieun, Junho berteriak, “Tunggu! Wooyoung-ah—”

Terlambat, Jieun telah menamparnya dengan sekuat tenaga.

“—sedang mabuk,” lanjut Junho, yang sebenarnya percuma.

Chansung hanya melongo melihat kejadian itu. Ia menutup mulutnya dengan tangan, tidak mengerti harus berbuat apa. Junho juga berulang kali melihat Chansung dan Wooyoung secara bergantian. Keadaan seperti ini membuatnya gugup. Temannya—Wooyoung—hanya mematung di tempat, memandang Jieun dengan penuh arti. Tanpa berubah ekspresi, air mata Wooyoung mengalir dengan derasnya. Air mukanya dingin, kaku. Dengan langkah berat, Wooyoung berbalik badan, melangkah pergi.

Jieun yang terkejut melihat sahabatnya itu menangis, berusaha menghentikan langkah Wooyoung dengan mencengkeram pergelangan tangannya. Ia tidak percaya—sebelumnya Wooyoung belum pernah bertingkah begini di hadapannya. Apalagi memeluknya dengan paksa—Wooyoung tidak pernah memeluknya tiba-tiba seperti ini sebelumnya. Saking kagetnya, ia tidak mendengar kata-kata Junho yang mengatakan ia mabuk. Jieun masih terlarut dalam pemikirannya sendiri.

Wooyoung menoleh sekilas, menatap Jieun beberapa detik, lalu menghempaskan tangan Jieun begitu saja, meninggalkan ekspresi tidak percaya pada Jieun. Junho dengan cepat merangkul Wooyoung dan membawanya pergi, keluar dari diskotik.

“Jieun-ssi? Maaf atas keributan yang telah diperbuat teman kami. Jangan dimasukkan ke dalam hati ya? Orang mabuk memang tidak dapat berpikir dengan benar.” Chansung membungkuk hormat dan berlalu pergi membantu Junho memapah Wooyoung.

Mabuk? Wooyoung tidak pernah pulang mabuk sebelumnya. pikir Jieun khawatir. Ia menoleh pada Taeyang yang sedari tadi berdiri di sebelahnya. “Taeyang-ie, antar aku ke rumah Wooyoung sekarang juga.”

“Tapi, Jieun-ah—” Taeyang berusaha menolak ide tersebut.

“Antar aku sekarang!” ulang Jieun, kali ini terdapat penekanan pada nadanya. Matanya yang berkaca-kaca membuat Taeyang terdiam.

###

Wooyoung berjalan terhuyung-huyung menuju ke pintu depan rumahnya. Sekali ia terjatuh karena tersandung tanjakan batu di halaman depan rumahnya. Tangannya merogoh-rogoh kantong dengan heboh demi mencari sebuah kunci. Ia merasa kepalanya semakin berat, kakinya pun tidak dapat menahan berat badannya lagi. Untuk kesekian kalinya ia terjatuh lagi.

Kuncinya terpental jauh dari jangkauan tangannya. Wooyoung mengumpat kesal. Tangannya menggapai-gapai dengan susah payah, berusaha meraih kunci itu. Di tengah kekesalannya, tangan lain menggantikannya mengambil kunci itu. Wooyoung menengadah untuk melihat siapa yang berdiri di hadapannya.

“Wooyoung-ah, kau tidak apa-apa?” tanya Jieun khawatir. Dengan hati-hati, ia memegang bahu Wooyoung.

Setelah melihat wanita yang berdiri di depannya, Wooyoung mendorongnya jauh-jauh. “Pergi kau! Aku tidak ingin melihatmu!”

Jieun masih mempertahankan posisinya berdiri. “Wooyoung-ah, jangan begini.” Air mata Jieun menetes. Hatinya teriris melihat Wooyoung yang bertingkah demikian. Ia mengabaikan Wooyoung yang mengusir-usirnya pergi, tetapi justru berusaha mendekap Wooyoung dalam pelukannya. Ia berjongkok untuk menyamakan tinggi dengan Wooyoung yang terduduk di lantai.

Usahanya tidak sia-sia, Wooyoung berhasil ia dekap, meski masih memberontak. “Wooyoung-ah, maafkan aku. Maafkan aku,” seru Jieun berkali-kali. Jieun menguatkan pelukannya, sampai akhirnya pemuda itu menyerah.

Di luar dugaannya, Wooyoung menangis histeris dalam pelukan Jieun. Meski Jieun tahu Wooyoung sedang mabuk, entah kenapa ia dapat merasakan kesedihan Wooyoung. Semuanya terasa sangat nyata. Tetapi, karena ketidakpekaan Jieun, ia masih belum mengetahui apa sebab Wooyoung sedih.

“Wooyoung-ah, berhentilah menangis. Ada apa denganmu? Ceritakan semuanya padaku.” kata Jieun. Wooyoung masih menangis sesenggukan. Tidak tega dengan apa yang ia lihat, Jieun ikut menangis bersama Wooyoung.

Wajah mereka berdua saling berdekatan. Semakin dekat dan semakin dekat. Mereka dapat merasakan nafas satu sama lain. Perlahan, Wooyoung memajukan wajahnya, melihat Jieun lebih dekat. Jieun memejamkan matanya. Selang beberapa detik, bibir mereka bertemu. Jieun tidak mendorong maupun menolak ciuman itu, tetapi ia membalasnya. Ciuman itu terasa sangat pedih dan menyakitkan. Seakan-akan Jieun dapat merasakan kesedihan yang dialami Wooyoung sekarang.

Tepat ketika mereka melepaskan kecupan itu, kepala Wooyoung terkulai ke belakang dan mendarat di lantai dengan keras. Matanya terpejam. Wooyoung telah kehilangan kesadarannya. Jieun berkali-kali menggoncang-goncangkan tubuh Wooyoung untuk mengembalikan kesadarannya, tapi Wooyoung tidak kunjung sadar.

Dengan tangan gemetaran, Jieun meraih ponselnya dan menekan beberapa tombol. Saking paniknya, dia menjatuhkan ponselnya. Jieun mengutuk ponsel itu—frustasi.

“Taeyang-ie? Tolong bantu aku. Wooyoung—Wooyoung tidak sadarkan diri.”

###

“Bagaimana dengan keadaan Wooyoung, Dok?” tanya Jieun panik begitu dokter keluar dari kamar rawat Wooyoung.

“Tidak apa-apa, Wooyoung hanya kecapaian. Dia sudah sadar. Kalian bisa menjenguknya,” kata dokter menenangkan mereka.

Jieun dan Taeyang bergegas masuk ke dalam ruang rawat. Di sanalah terbaring Wooyoung, wajahnya terlihat sangat lelah. Matanya bengkak sehabis menangis semalam. Ia terlihat menyedihkan.

“Taeyang-ie, lebih baik kamu menunggu di luar. Aku ingin berbicara sesuatu dengan Wooyoung,” bisik Jieun pelan. Taeyang mengangguk cepat dan berjalan keluar dari kamar.

“Wooyoung-ah,” panggil Jieun lembut.

Wooyoung membuang muka, tidak berbicara apa-apa. Jieun tidak menyerah.

“Wooyoung-ah, mengapa kau marah denganku?” tanya Jieun lagi dengan sabar. Ia duduk di pinggir kasur Wooyoung. Kali ini Wooyoung membalikkan badannya.

“Wooyoung-ah, tolong beritahu aku,” kata Jieun pasrah.

“Untuk apa kau ingin tahu?” tanya Wooyoung pelan pada akhirnya.

“Karena aku temanmu.”

“Bukan, kau sudah punya pengganti diriku.”

“Taeyang? Yahh! Meski dia temanku, tapi bukan berarti dia menggantikanmu. Kau juga temanku. Kalian berdua adalah temanku.” Jieun mulai merasa jawaban Wooyoung tidak masuk akal. Ia mulai memikirkan cara untuk mengatasi ini. “Aku tak mau bila harus memilih di antara kalian. Bagaimana kalau mulai sekarang kita menghabiskan waktu bersama saja? Bertiga? Dengan begini kita dapat tetap menjadi teman dekat seperti dulu.”

Tapi, semuanya sudah berbeda bila ada dia. Kau tak tahu, aku ingin hanya berdua denganmu. Maafkan bila aku terlalu egois. Maafkan bila aku ingin memilikimu seorang diri. Dia berpikir dalam hati. Wooyoung memandang Jieun dengan sedih. Haruskah ia melepaskan Jieun? Tapi ia sudah terlalu cinta dengannya. Entahlah, hidup serasa begitu susah baginya.

###

“Junho-yah, haruskah aku melepaskan Jieun?” tanya Wooyoung pada suatu hari di toko. Matanya memandangi design gaun pengantinnya yang sudah selesai dengan muram.

Junho menghentikan pekerjaannya sebentar, menoleh ke arah temannya itu. “Tidak tahu. Kau sayang padanya tidak? Rela membiarkannya pergi tidak?”

Wooyoung menggeleng keras. “Tapi apa yang harus aku lakukan? Dia tak mau memilih di antara aku dan Taeyang.”

“Jangan membuat dia memilih. Sini, ikut aku.” Junho menarik lengan Wooyoung, membawanya masuk ke dalam mobilnya.

“Junho-yah, ini jam kerja, kau mau membawaku ke mana?” tanya Wooyoung ketika mereka berdua sudah berada di dalam mobil. Ia menatap Junho dengan pandangan menagih penjelasan. “Lama-lama kita bisa dipecat.”

“Sudahlah, percaya padaku.” Junho mengedipkan matanya pada Wooyoung, membuat Wooyoung semakin penasaran.

Selama perjalanan Wooyoung hanya menatap keluar jendela, memperhatikan setiap toko yang dilewati untuk membunuh perasaan ingin tahu yang menghantuinya. Junho masih saja menyanyikan lagu-lagu di radio dengan semangat.

“Pilihlah cincin yang kau suka,” kata Junho tiba-tiba saat mereka berhenti di depan sebuah toko. Toko itu adalah toko perhiasan.

Wooyoung membelalakkan matanya. “Junho-yah, jangan bilang kau menyuruhku untuk melamarnya sekarang?”

“Tentu saja. Kapan lagi? Kau mau melihat Taeyang merebut Jieun? Tidak kan? Lebih baik lamar saja dulu sebelum terlambat. Aku yakin dia tidak akan menolakmu. Aku hanya memberitahu salah satu cara untuk mendapatkannya, tanpa membuat dia memilih salah satu di antara kalian. Bagaimana? Aku pintar bukan?” Junho mengebas-ngebaskan jasnya—memuji dirinya sendiri. Ia tersenyum nakal, seperti sehabis memikirkan ide licik.

“Apa? Kau gila? Secepat ini?” Wooyoung masih tidak mempercayai perkataan Junho. Idenya terlalu sinting.

“Mau kapan lagi? Tentu saja sekarang. Kalian berdua sudah cukup umur untuk menikah. Umur dua puluh lima adalah umur yang ideal untuk menikah. Sudahlah, coba saja.”

Wooyoung menatap etalase toko itu dengan ragu-ragu. Karena tidak sabar, akhirnya Junho mendorong Wooyoung untuk masuk ke dalam toko itu. Penjaga toko membungkuk sembilan puluh derajat untuk menyambut mereka. Wooyoung dan Junho membungkuk dengan canggung.

“Permisi, kami ingin melihat cincin,” kata Junho sambil menunjukkan senyum manisnya.

“Untuk melamar gadis? Ini model cincin terbaru yang ada di toko ini,” kata penjaga toko itu sambil menunjukkan sebuah cincin yang sangat indah, menarik perhatian. “Nama cincin ini ‘Solar’. Di badan cincin ini terdapat corak matahari. Sesuai artinya, solar berarti matahari.”

Sekali melihat cincin itu, Wooyoung langsung tertarik. Jieun sangat menyukai matahari. Ia menetapkan hati begitu memegang cincin tersebut. Ia melirik sekilas ke arah Junho. Junho mengangguk.

“Aku beli yang ini.”

###

“Junho-yah, pasang channel radio yang menyiarkan ‘Love Line’ dong,” pinta Wooyoung saat mereka berada di mobil.

“Ah, kau ini. Selalu saja mendengarkan acara yang tidak jelas itu,” keluh Junho. Ia memutar radionya dengan enggan, mencari channel yang menyiarkan ‘Love Line’—acara yang dibawakan oleh Jieun.

“Kembali di acara ‘Love Line’ bersama saya, IU. Kalian pasti penasaran dengan guest kita hari ini bukan?” Suara Jieun menggema dari radio itu. Wooyoung mendengarkan radio itu sambil tersenyum senang. Sedangkan Junho hanya menunjukkan ketidaktertarikannya pada acara itu. Ia mendesah pelan—masih menatap lurus ke depan.

“Dan guest kita hari ini adalah—Taeyang-ssi. Wah, sangat tidak diduga anda akan muncul di acara ini.” Terdengar nada kaget dalam suara Jieun.

Senyum di wajah Wooyoung menghilang seketika. Ia tampak murung. Junho spontan menoleh ke arah Wooyoung dan mematikan radio itu. Raut wajahnya mendadak panik dan penuh dengan perasaan bersalah.

“Wooyoung-ah, kau tidak apa-apa?” tanya Junho khawatir. Ia sebenarnya sedikit merasa iba pada temannya itu. Nasibnya sedikit…kurang beruntung.

Tidak ada jawaban dari Wooyoung. Ia hanya ingin segera pulang dan bertemu Jieun sebelum ia berubah pikiran.

###

Wooyoung hanya termenung, diam. Ia menatap langit dengan pandangan kosong, seakan-akan matahari yang sedari dulu berada di sana tidak ada lagi. Saat-saat melihat matahari terbenam yang romantis sekarang sudah hilang sepenuhnya baginya. Sedangkan Taeyang dan Jieun—tepat berada di sebelah Wooyoung–menikmati matahari terbenam itu dengan wajah berseri-seri. Kali ini, Wooyoung merasa tersingkirkan. Mata Jieun hanya melihat Taeyang—ia mengetahuinya. Ia tak tahu harus berbuat apa, padahal ia tahu pasti, cincin itu sedang duduk dengan manis di saku celananya.

Haruskah aku melamarnya sekarang? pikir Wooyoung ragu-ragu. Keberanian yang sebelumnya membara di dalam diri Wooyoung, sekarang lenyap tak bersisa. Keragu-raguan dan ketidakpastian menaunginya.

Ia memandang sosok gadis itu dalam-dalam. Cantik. Dialah satu-satunya orang yang ia inginkan untuk menjadi pasangan hidupnya. Cintanya pada gadis ini sudah tidak terbatas.

Akhirnya ia memutuskan untuk melamarnya, demi wanita yang ia sayang. Ia mencengkeram kotak cincin yang berada di kantongnya dengan erat. Setelah mengumpulkan segenap keberanian, ia mengeluarkan kotak cincin itu. Sayang sekali, mimpi buruk telah menghadangnya.

“Jieun-ah, maukah kau menikah denganku?”

###

Di chapter berikutnya, cerita ini akan tamat 😀 Maaf bagi yang kecewa atau tidak suka pada endingnya, tapi memang aku lagi pingin buat cerita yang seperti ini :p bagi yang ngerasa ceritanya pendek juga maaf. >.< kalo dipanjang-panjangin takutnya bertele-tele. Mohon maklumi curhat author #dilemparsandal haha:D tolong dikasi comment ya, sbg tnd menghargai kerja keras authornya, trimakasih 😀

19 thoughts on “Wedding Dress [Chapter 3]

  1. Wooyoung klo lg galau badai sampe mabuk begitu.
    Itu mimpi buruk yg dimaksud jgn2 jieun Sama taeyang uda gk disampingnya, ato jgn2 mreka berdua ciuman??? *sotoy*

    Ditunggu last chapternya chingu. Fighting (ง’̀⌣’́)ง

  2. Huhuhu, kasian wooyoung. Klo di lagu wedding dress khn taeyangnya juga patah hati. Jangan2, ini wooyoung juga patah hati. Hxhxhxhx

  3. aaah, kenapa di potong nya harus di kalimat yg bkin penasaran authooor??? Hikksss, oppa ku kasian niiih
    ..tegz tau autnor niii 😥

  4. author jahat…kenapa harus tbc dibagian itu??bikin aku nangis aja nih hiks..
    pokoknya end part nya jangan lama2. dan harus happy ending..

  5. Sedihhhhh… 😥
    kasian wooyoung oppa nyaa..
    Cinta nya ama iu berbalas ato bertepuk sebelah tangan yaa.??
    Keren thor.. 😀
    *acungin 4jempol tuk author

  6. Yaah kayaknya si jieun milih taeyang yah…huh kasian wooyoung nya…kayaknya keduluan ma taeyang ngelamar jieun…
    Cukup bagus ko thor cerita nya,n ga kependekan..soalnya kalo kepanjangan jadi bosen kita baca nya…

  7. awalnya agak hampir bosan karena alur ceritanya yang panjaaaang… tapi pas bagian WooYoung nya mabuk dan nangis di pelukan Jieun itu sedih bangeeeet… author dapet banget main kata” di situ dan buat atmosfer sedihnya. sedih banget jadi Woo Young. hiks

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s