Wedding Dress [Chapter 4-END]

Wedding Dress

Title : Wedding Dress | Author : RettaVIP | Art : Artfactory ‘s almahonggi99 | Genre : Sad Romance, Drama, Songfic (Wedding Dress by Taeyang) | Rating : T | Length : Chapter | Cast : Lee Jieun (IU), Jang Wooyoung (2PM), & Taeyang (Bigbang) | Disclaimer : Inspired by Taeyang’s Wedding Dress

Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3

LAST CHAPTER

###

Wooyoung menatap selembar undangan yang berada di genggamannya dengan muram. Matanya sembab—entah setelah berapa kali menangis, ia tak mengingatnya. Kepalanya terkulai di atas tutup piano grand-nya yang berwarna hitam mengkilap. Entah sudah berapa lama ia duduk di hadapan piano itu, ia tak mengingatnya.

Piano itu…penuh dengan kenangan. Saat-saat terindahnya dengan Jieun—satu-satunya wanita yang ia cintai dari usianya yang masih sepuluh tahun. Cinta pertamanya—wanita yang pertama kali mengajarinya tentang cinta, tentang rasa cemburu, dan tentang bagaimana sakitnya patah hati. Ironisnya, semua dilakukan oleh wanita yang sama—Lee Jieun. Dan lebih parah lagi, wanita itu bahkan tidak mengetahui apa yang telah ia perbuat padanya.

Flashback

“Wooyoung-ah.” Suara indah itu memanggilnya dengan lembut.

Wooyoung menoleh sekilas ke arah Jieun di tengah permainan pianonya. “Apa, Jieun-ah?” katanya tanpa menghentikan permainan pianonya.

“Kau bisa membuat lagu tidak? Aku ingin sekali mendapat hadiah lagu yang didedikasikan khusus untukku. Rasanya keren sekali, diberi lagu yang ditujukan untukku.” Jieun mendongakkan kepalanya ke langit-langit, tersenyum-senyum sendiri sambil membayangkan sesuatu.

Wooyoung tersenyum menatap tingkah sahabatnya itu. “Iya deh, aku janji. Aku akan membuatkan lagu untukmu. Maaf kalau tidak enak, aku masih amatiran.” Wooyoung nyengir lebar.

Jieun mengaitkan kelingkingnya pada Wooyoung sambil menunjukkan senyum termanisnya.

Flashback end

Wooyoung menggelengkan kepalanya keras-keras untuk membuyarkan semua kenangan yang terulang di kepalanya. Ia mulai merasa dirinya tidak waras. Semua hal di sekitarnya, apapun yang dia lakukan, akan mengingatkannya tentang Jieun. Jieun dan lagi-lagi Jieun, wanita spesial yang telah menempati tempat yang istimewa di hatinya.

Ia menghembuskan nafasnya dengan berat, seperti ada beban berat di kepalanya yang harus ia tanggung. Matanya terarah pada kertas yang terpampang di depannya—kertas notasi balok. Dengan hatinya yang kacau seperti ini, ia tidak yakin dapat menciptakan sebuah melodi yang indah, namun apa boleh buat, janji harus ditepati.

Dengan berat hati, kesepuluh jarinya itu menyentuh tuts-tuts piano kembali, meraba-raba nada selanjutnya yang cocok, dan menulisnya di atas kertas notasi balok tersebut. Di pucuk atas kertas itu, dapat terlihat tulisan Wooyoung yang besar-besar berbunyi ‘Wedding Dress’ didedikasikan untuk Lee Jieun.

###

Sudah berapa hari ini Wooyoung tidak bertemu dengan Jieun, lebih tepatnya ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak menemuinya. Hampir setiap saat ia menghabiskan waktu bersama Junho dan Chansung—teman terdekatnya. Mereka berdualah yang setia menyemangati Wooyoung di saat-saat tersedihnya ini. Sedangkan Taeyang dan Jieun—yang tidak tahu menahu tentang perasaan Wooyoung—menikmati saat-saat bersama mereka sebelum menikah. Menikah—benar, beberapa hari lagi mereka akan menikah.

“Wooyoung-ah, kau tidak apa-apa? Kau yakin akan datang ke pernikahan mereka? Apa kau kuat?” tanya Junho prihatin. Ia merasa kasihan terhadap temannya itu. Cintanya selama lima belas tahun, dicuri orang dengan begitu saja. Junho sangat ingin menanamkan tinju terbaiknya di wajah Taeyang yang selalu tersenyum tanpa merasa bersalah itu.

“Bagaimana lagi? Dia menyuruhku datang,” kata Wooyoung dengan wajah datar. Sejak menyaksikan kejadian Taeyang melamar Jieun di depan matanya, Wooyoung tidak pernah tersenyum lagi. Peristiwa itu benar-benar memukulnya. Melihat wanita yang sangat dicintai menerima lamaran orang lain di depan matanya sangat menyakitkan.

“Kau ini, sampai kapan kau mau sakit hati terus seperti sekarang?” tanya Chansung tidak sabar. Ia tidak tahan melihat sikap Wooyoung yang selalu menyimpan perasaannya sendiri. Penderitaannya terlalu banyak. “Setidaknya, nyatakanlah perasaanmu padanya. Apa kau berniat akan menyembunyikan perasaan ini selamanya?”

Wooyoung mengangguk kaku. Ia mengambil gelasnya yang telah berisi vodka dan menenggak isinya sampai habis. Hampir setiap hari ia minum di bar tempat Chansung bekerja. Junho tidak punya pilihan lain selain menemaninya dan menjaganya agar tidak sampai mabuk lagi. Kondisi Wooyoung saat ini, sangat memprihatinkan.

Aish! Kau ini, diperdaya oleh cinta. Sudahlah, nyatakan saja. Yang penting Jieun mengetahui perasaanmu selama ini.” Junho menjadi emosi melihat temannya yang tidak berdaya itu.

“Tapi, aku tidak mau memberatkan pikiran Jieun dengan masalahku sendiri,” kata Wooyoung lemah. Dengan lesu ia memutar gelasnya, melihat pantulan cahaya yang ditunjukkan oleh badan gelas kaca itu.

“Anak ini sudah gila.” Chansung menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak percaya. “Apa yang Jieun perbuat padamu? Kau tidak seperti kau yang dulu lagi. Biasanya kau ceria, sekarang? Kau bahkan tidak mengerti lagi caranya tersenyum.”

“Oh ya, gaun pernikahan yang kau buat sejak lama itu, apa benar untuk Jieun?” Junho mengangkat nada suaranya, seperti baru teringat sesuatu.

Sekali lagi Wooyoung mengangguk lemah. “Aku ingin dia memakainya di hari pernikahannya. Aku ingin melihatnya memakai gaun buatanku. Pasti cantik sekali.” Wooyoung tersenyum lemah.

Spontan Chansung dan Junho menjitak kepala Wooyoung dengan gemas. Mereka mengumpat berulang kali. Wooyoung terkesiap melihat tingkah mereka. Ia memandang mereka dengan tatapan heran—tidak menyadari apa yang ia katakan yang membuat mereka jengkel.

Junho mengacak-acak rambutnya sendiri dengan frustasi. Ia mengerang keras—cukup keras sehingga dapat didengar oleh orang-orang di sebelahnya. Jalan pikir Wooyoung benar-benar tidak bisa dipahami olehnya. “Astaga, lama-lama aku bisa gila menghadapimu. Kurasa kau sudah terhipnotis olehnya.”

Chansung memegang bagian atas kepalanya dengan kedua tangannya. Wajahnya terlihat depresi. Kemudian dia mengangkat tangannya ke atas, tanda menyerah. “Terserah kau saja, Wooyoung-ah. Aku tidak tahu aku harus bilang apalagi.” Chansung lalu mengambilkan sebuah botol bir untuk pelanggan yang lainnya.

“Mengapa kalian tidak mengerti? Aku hanya ingin melihatnya bahagia,” kata Wooyoung pelan. Matanya terpaku pada gelas di depannya yang belum diisi ulang.

“Iya aku tahu, tetapi bukan begini caranya. Ini sama saja dengan kau menyiksa dirimu sendiri. Nasibmu begitu mengenaskan.” Junho mendecakkan lidahnya. Ia merasa prihatin terhadap temannya yang satu itu.

“Kau datang kan? Ke pernikahan Jieun maksudku.”

“Pasti. Aku tidak mungkin membiarkanmu sendirian di sana. Aku dan Chansung akan menemanimu ke sana. Kita adalah temanmu. Ingat itu.” Junho menepuk bahu Wooyoung, berusaha menyemangatinya. Wooyoung hanya tersenyum lemah.

Getaran hebat itu menyentakkan tubuh Wooyoung yang mulai melemah akibat alkohol. Dengan susah payah ia meraba-raba seluruh kantongnya, mencari sumber dari getaran itu. Ia menemukan ponsel yang terselip di sakunya beberapa saat kemudian. Matanya menatap tajam ke arah layar ponselnya yang menyala terang. Ia berusaha membaca nama yang tertera di situ sambil menyipitkan mata karena silau.

Jieun.

Gerakannya terhenti untuk sesaat. Ia bergeming menatap layar ponsel tersebut. Jieun—sudah berapa lama sejak terakhir ia menemui gadis itu? Berapa lama ia tak mendengar suaranya? Berapa lama ia berusaha menghindar darinya? Mengapa dia tiba-tiba menghubunginya seperti ini?

Junho tak kuasa menahan rasa ingin tahunya. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke samping, memicingkan mata—menatap lurus ke layar ponsel Wooyoung. Dengan sekali coba, ia berhasil mengetahui siapa yang menghubunginya. Tentu saja, Wooyoung tidak memberi emoticon hati kepada kontak-kontak lain di ponselnya kecuali Jieun.

“Angkat saja,” kata Junho tenang. Ia tahu Wooyoung gelisah antara harus menjawab atau tidak. Ia mengerti betul perasaan temannya itu. Menghindari Jieun adalah satu-satunya hal yang ia lakukan saat ini. Dan tiba-tiba saja orang yang dihindari mendekat. Wajar saja Wooyoung bimbang.

Wooyoung mengangkat kepalanya dengan sedikit sentakan. Ia menoleh ke arah Junho. Wajahnya menyiratkan kebingungan. Ponsel itu masih bergetar heboh di genggamannya—meraung-raung ingin segera dijawab.

“Sudahlah, percaya padaku. Siapa tahu itu penting,” dusta Junho. Sebenarnya ia ingin—setidaknya—Wooyoung sedikit berbahagia dengan menjawab ponsel itu. Ia tahu, selama ini Wooyoung sengsara, memendam kerinduannya pada Jieun. Kali ini—mungkin untuk terakhir kalinya—Jieun meneleponnya sebagai teman dekatnya, bukan sebagai istri orang lain.

Dengan ragu-ragu Wooyoung menekan tombol pada ponsel itu dan mendekatkannya pada telinganya. Ditunggunya beberapa lama, tetapi hanya keheningan belaka. Ketika mendadak ia mendengar suara yang sangat dikenalinya, ia cepat-cepat mengurungkan niatnya untuk memutus hubungan telepon itu.

Yoboseyo?” Suara familiar itu mengulangi kata-katanya.

Wooyoung hanya diam terpaku. Suara ini—ia sangat rindu pada suara ini. Suara indah yang sangat ia sukai.

“Wooyoung-ah?” Di seberang sana Jieun memanggil nama Wooyoung untuk memastikan ia tidak salah sambung setelah Wooyoung tidak berbicara sama sekali untuk beberapa saat.

Ah, ne Jieun-ah, wae yo?” tanya Wooyoung sedikit tergagap. Sejujurnya ia tersentak kaget begitu Jieun memanggil namanya. Sudah lama sekali ia tidak mendengar Jieun menyuarakan namanya.

“Di mana kau? Pulanglah ke rumah. Aku tunggu di danau. Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

“Baiklah. Tunggu sebentar. Aku ke sana.” Wooyoung menutup teleponnya terlebih dahulu. Ia terlihat terburu-buru. Junho menatapnya dengan kebingungan. Sebelum beranjak pergi, Wooyoung menoleh kepada Junho, “Junho-yah, aku pergi dulu. Besok aku bayar hutangku. Sampai ketemu besok.” Wooyoung melambai seadanya dan melaju keluar dari bar. Junho hanya menggeleng-gelengkan kepala saat melihatnya. Temannya memang sedang dimabuk cinta.

###

Dari kejauhan dapat dilihatnya, rambut gadis itu yang melambai tertiup angin, postur tubuhnya yang sangat sempurna meski hanya dilihat dari belakang. Gadis idaman yang tak mungkin bisa diraihnya. Ia sedikit sedih saat memikirkan hal itu, tetapi ia sudah merelakannya. Ia takkan memaksakan cinta. Ia tahu, ia bukan untuknya. Ia menyeka air mata yang menggantung di pelupuk mata, yang memaksa untuk bebas. Setelah berusaha keras untuk menciptakan seulas senyum, ia siap untuk menemuinya.

“Jieun-ah, ada apa?” tanya Wooyoung santai. Lebih tepatnya, ia memaksakan diri untuk terlihat santai, seperti tidak ada masalah apa-apa. Ia memosisikan dirinya di sebelah Jieun. Sehabis menghela nafas panjang, ia duduk di situ.

“Tidak apa-apa, aku rindu denganmu.” Jieun tersenyum sambil memandangi langit malam menjelang subuh itu.

Wooyoung memalingkan wajah cepat-cepat, berusaha meredakan panas yang tiba-tiba menjalari wajahnya. Ia dapat merasakan wajahnya memerah. Ini pertama kalinya Jieun mengatakan ia rindu padanya.

“Aku juga. Aku juga rindu padamu,” kata Wooyoung lembut. Kata-kata ini memiliki makna yang sangat dalam bagi Wooyoung. Sayangnya, Jieun tidak pernah menganggapnya begitu.

“Kau tahu? Waktu berjalan cepat sekali. Mengingat setiap waktu kita bersama dulu, sepertinya hari-hari itu baru kemarin saja kita lalui. Tiba-tiba sekarang kita akan menempuh jalan kita masing-masing. Baru saja aku menyadari, aku belum pernah melewati satu hari pun tanpa bertemu denganmu sampai beberapa minggu lalu setelah Taeyang melamarku. Rasanya sepi sekali. Seperti ada yang kurang.” Jieun berhenti sebentar untuk mendongak ke atas.

Wooyoung dengan cermat mendengarkan setiap kata yang Jieun katakan sambil berusaha keras menahan sakit di hatinya. Beberapa kali ia menghantamkan tinju ke dadanya yang berdenyut hebat. Semuanya sia-sia, sakit itu semakin menjadi.

“Aku tidak tahu apakah kita dapat berteman baik seperti dulu setelah aku menikah atau tidak,” lanjut Jieun.

Tidak. Suara hati Wooyoung berteriak dengan keras.

“Ah, sebenarnya aku sangat menginginkan kita bertiga dapat berteman dengan baik meski aku sudah menikah.”

Aku sudah mengambil keputusan akan menjauh dari hidupmu.

“Taeyang-ie akan kusuruh membeli rumah di sekitar sini agar kita tetap dapat bertemu tiap hari.”

Aku yang akan pergi dari sini.

“Aku benar-benar ingin menjadi teman terbaikmu.”

Sedangkan aku benar-benar mencintaimu, tidak mungkin hal itu akan terjadi.

“Meski aku akan menikah, aku tetap akan meluangkan waktu dengan temanku. Jadi, jangan tinggalkan aku begitu saja seperti sebelum-sebelum ini. Merana sekali tidak bisa bertemu denganmu.”

Benarkah begitu? Maaf, aku sudah menetapkan hati. Aku tidak bisa menjadi temanmu.

“Wooyoung-ah, terimakasih.”

“Untuk apa?” Wooyoung akhirnya bersuara setelah bergumul dengan pikirannya untuk beberapa saat.

“Semuanya—semua yang telah kau lakukan untukku dari kecil. Aku bahagia mempunyai teman sepertimu.” Jieun mendekatkan dirinya ke tubuh Wooyoung dan memeluknya dengan erat. Mengakibatkan sentakan tak terduga dari refleks Wooyoung. Tapi Jieun tidak mempermasalahkan hal itu. Maklum, Wooyoung trauma terhadap pelukannya, mengingat insiden pada saat di diskotik dulu.

“Sama-sama, terimakasih juga karena kau mau menjadi temanku dan memberiku kenangan-kenangan indah. Aku tidak akan melupakanmu.” Wooyoung membelai kepala Jieun lembut di dalam pelukannya. Cinta itu…masih ada.

Tanpa diduga, Jieun terisak pelan. Wooyoung melonggarkan pelukannya sedikit untuk melihat wajah Jieun. Dengan sigap Jieun menariknya lagi ke dalam pelukannya.

“Jangan dilepas,” katanya di tengah tangisannya, “biarkan begini untuk saat ini.” Jieun memeluk sekuat tenaga dan tidak ada tanda sedikit pun ingin melepasnya. Wooyoung akhirnya menyerah. Ia membiarkan Jieun memeluknya. Setengah mati ia bertahan diri, menimbun semua sakit hati, menyembunyikan semua kenyataan di dalam lubuk hatinya. Ia sendiri tak mengerti sampai kapan ia akan bertahan.

“Wooyoung-ah, mungkin aku serakah. Tapi aku menginginkan kalian berdua hadir dalam kehidupanku. Katakan padaku, apakah hal itu tidak mungkin?” tanya Jieun setelah tangisannya sedikit reda. Ia mendongak ke atas, berusaha menatap wajah Wooyoung yang lebih tinggi darinya.

Sekali lagi Wooyoung tidak menjawab. Dia hanya diam saja memperhatikan gadis dalam pelukannya termenung, lalu menerawang ke segala arah untuk berpikir. Sepertinya hal ini membebani pikirannya.

“Wooyoung-ah, cium aku,” kata Jieun tanpa beban. Ia mendongakkan wajahnya sekali lagi. Menatap Wooyoung yang tidak percaya akan pendengarannya. “Cium aku. Seperti saat itu, di depan rumahmu.”

Mata Wooyoung terbelalak mendengar lanjutan dari perkataan Jieun yang menandakan dia tidak sedang bermain-main. “Jieun-ah, a-apa kau tahu kau a-akan menikah de-dengan orang lain? Ma-mana boleh kau memintaku menciummu?” tanyanya tergagap.

“Mengapa tidak boleh? Kau termasuk salah satu dari orang yang kusayang. Apa salahnya mencium orang yang disayang?” bantah Jieun tidak terima.

“Tapi, apa Taeyang tidak marah bila mengetahui hal ini?” elak Wooyoung.

“Tentu saja aku tidak akan memberitahunya. Tolong, sekali ini saja. Untuk terakhir kalinya, anggap saja ini ciuman perpisahan kita,” pinta Jieun memohon. Ia mengeluarkan jurus wajah memelasnya yang ia tahu pasti bahwa Wooyoung tidak bisa menolaknya lagi. Entah kenapa, ia ingin sekali mencium lelaki di depannya itu sebelum ia pergi bersama lelaki lain. Lelaki di depannya ini yang telah menemaninya sampai sekarang. Lelaki yang bersama dengannya tumbuh dewasa.

Wooyoung terlihat ragu-ragu. Tanda-tanda ketidakpastian bermunculan di wajahnya. Jieun dapat melihatnya. Tanpa menunggu aba-aba lagi, Jieun menarik wajah pria itu mendekat padanya dan mempertemukan bibir mereka dengan lembut. Sentakan pelan dari tubuh Wooyoung dapat Jieun rasakan, kemudian sentakan itu memudar dan mereka berdua menikmatinya. Ciuman terakhir mereka.

Ciuman ini menyedihkan, menyakitkan. Daripada ciuman perpisahan, ciuman ini lebih mirip seperti ciuman pelampiasan penderitaan. Rasanya begitu menyesakkan. Wooyoung tak dapat menahan perasaannya lagi. Air matanya mengalir perlahan dari ujung matanya. Tangannya mencengkeram baju di bagian depan dadanya. Sakit—denyutan ini lagi, denyutan memedihkan. Semua perasaannya berkumpul menjadi satu. Semuanya bercampur aduk di benaknya, mengungkit semua kenangan buruk yang dialaminya. Hidup ini…sungguh amatlah tega kepadanya. Ketidakadilan ini…terlalu berat untuk diterima.

Tak kuat menahan rasa sakit itu lagi, Wooyoung menarik diri dari ciuman itu—menjauhkan diri dari tubuh Jieun. Ia menunduk, tidak berani menatap wajah Jieun dengan matanya yang berair. “Maaf,” katanya singkat.

Dengan langkah berat, Wooyoung beranjak pergi dari tempatnya duduk dan berjalan kembali ke dalam rumahnya. Berulang kali ia mengatakan kepada dirinya sendiri dalam hati, Jangan menoleh ke belakang! Jangan menoleh ke belakang! Pada akhirnya, ia pun mengalah pada tubuhnya yang mengerahkan seluruh tenaga untuk membalikkan badan, meski hanya sebentar. Ia dapat melihat gadis itu duduk di sana, menatap indahnya rembulan di malam hari. Tak terasa, air matanya meleleh turun melalui pipinya.

Selamat tinggal, Jieun-ah. Jagalah dirimu.

###

“Wooyoung-ah, sudah siap?” Suara Junho yang menyakitkan telinga dapat terdengar jernih di pagi hari yang menyedihkan ini—menyedihkan bagi Wooyoung. Langkahnya yang tidak sabar menghantam lantai rumah dengan keras.

“Sebentar, tunggulah di mobil saja bersama Chansung, nanti aku susul.” Wooyoung membenahi letak dasi kupu-kupunya. Tampilannya sangat menarik hari ini. Setelan jas yang hitam rapi membalut dirinya dengan indah. Dengan cekatan ia mengambil sebuah arsip yang sudah ia siapkan. Hampir saja ia melupakan surat yang telah dibuatnya kemarin malam, untung saja ia cepat mengingatnya kembali sebelum tertinggal.

Bunyi klakson mobil memekakkan telinga seluruh penghuni rumah, pertanda kesabaran si penunggu sudah habis. Tidak ingin membuat mereka menunggu lebih lama lagi, Wooyoung berlari-lari kecil memasuki mobil.

“Persiapkanlah hatimu, Wooyoung-ah. Kita akan menemanimu pulang begitu kau sudah tidak tahan lagi,” kata Chansung khawatir.

Wooyoung mengangkat jempolnya dan mengangguk. Tentu saja, ia telah memantapkan hari sejak lama demi menyambut datangnya hari ini.

###

“Wooyoung-ah, Chansung-ah, Junho-yah, kalian sudah datang? Terimakasih, kehadiran kalian membuatku senang,” seru Taeyang dengan ceria di ruang tunggu belakang gereja. Mereka saling bersalam-salaman dan berpelukan, mengucapkan selamat kepada Taeyang atas pernikahannya. “Carilah tempat duduk di depan, sepertinya sebentar lagi akan penuh. Kita akan segera memulai acaranya.”

Taeyang menepuk bahu Wooyoung pelan, Wooyoung membalasnya. Ia merasa, pria di depannya ini beruntung sekali dapat memiliki Jieun sepenuhnya. Sejujurnya, ia iri padanya. Tetapi apa boleh buat, takdir berkata lain.

Setelah bercakap-cakap sejenak dengan Taeyang, mereka bertiga hendak pergi untuk mencari tempat duduk ketika Wooyoung melihat Jieun di balik pintu di seberang ruang tunggu Taeyang. Seketika Wooyoung menghentikan langkahnya untuk melihat wanita cantik yang dibalut gaun pengantin buatannya. Luar biasa cantik sekali. Sekali melihat Wooyoung terpesona. Butuh beberapa menit sebelum ia sadar kembali bahwa Jieun memakai gaun pengantin itu bukan untuknya, melainkan untuk Taeyang. Mengenaskan sekali.

Wooyoung, Chansung, dan Junho mengambil tempat duduk paling depan. Walkie-talkie sudah berada dalam genggaman Wooyoung. Wooyoung melihat jam tangannya berulang kali sampai akhirnya walkie-talkie yang ditunggunya sedari tadi mengeluarkan suara.

“Wooyoung-ssi, segera mulai acaranya!” perintah suara dari walkie-talkie itu.

Wooyoung beranjak berdiri sambil membawa arsipnya. Ia mengarahkan kakinya menuju piano grand hitam di pinggir altar gereja. Setelah menghembuskan nafas panjang dan mengangkat seluruh beban berat di hatinya, ia meletakkan kesepuluh jemarinya di atas tuts-tuts piano. Sekali lagi menarik nafas, ia memainkan melodi lagu pernikahan yang sangat disukai Jieun.

Hidup ini begitu ironis. Satu-satunya orang yang tidak ingin pernikahan ini terlaksana, justru adalah orang yang akan memulai acara pernikahan ini. Ketika dentingan piano Wooyoung terdengar, di saat itu juga para pengantin akan berjalan memasuki gereja. Jieun dan Taeyang berjalan tepat di depan matanya—bergandengan tangan, sebagai calon suami dan istri.

Air mata Wooyoung menetes untuk sekian kalinya di atas tuts piano. Ia mendongakkan kepalanya untuk melihat pasangan itu berjalan di atas karpet merah dengan indahnya, ditaburi bunga-bunga, dihiasi senyum menawan dari keduanya. Matanya terpaku pada Jieun.

Cukup hanya ini saja, melihatmu meraih kebahagiaan bersamanya. Semua ini sudah cukup bagiku. Wooyoung tersenyum pahit.

Junho memerhatikannya dari kejauhan dengan perasaan iba. Ia ingin menonjok Taeyang sekeras-kerasnya. Untung saja dia mengurungkan niat itu cepat-cepat.

Pemberkatan pernikahan itu berlangsung seperti biasa. Dengan sumpah yang mereka katakan secara langsung di depan orang banyak, menukar cincin, dan mencium satu sama lain. Hati Wooyoung bagaikan tertusuk-tusuk pisau ratusan kali. Ditancapkan dan dicabut berulang kali. Kepedihan semakin mendalam. Ia melangkah menjauh, menjauh, dan menjauh sampai akhirnya keluar dari gedung suci itu.

###

“Jieun-ah, Wooyoung meninggalkan surat ini untukmu,” kata Taeyang ketika mereka berdua sudah sampai di rumah setelah acara pernikahan di gereja.

Jieun merampas surat itu dari tangan Wooyoung dengan gesit dan membawanya ke kamar, berniat membacanya sendirian. Ia penasaran mengapa Wooyoung pergi sebelum berpamitan atau berbicara apapun padanya. Ia membuka amplop surat itu. Di dalamnya terdapat sebuah foto, selembar kertas, dan selembar CD.

Entah mengapa, ia menitikkan air mata ketika melihat foto itu. Foto itu adalah foto mereka berdua yang diambil saat lima belas tahun yang lalu. Foto itu diambil di danau dekat rumah mereka. Mereka berdua tersenyum ke kamera dengan Wooyoung merangkul pundak Jieun. Mereka membelakangi matahari. Matahari itu…setengah lingkaran. Foto itu diambil saat matahari terbenam. Jieun membalik selembar foto itu, di belakangnya terdapat tulisan.

“Sesuatu yang ingin kuabadikan.”

Air matanya menetes sekali lagi. Jieun merasa rindu dengan saat-saat itu dulu, bersama Wooyoung. Kemudian rasa penasarannya kambuh, secepat kilat ia mengambil selembar kertas itu dan membaca isinya.

“Jieun-ah, saat kau membaca surat ini, pasti saat itu aku sudah tidak berada di Korea lagi. Maafkan aku. Sebelumnya aku tidak mengatakan apa-apa padamu. Aku ingin merahasiakan kepergianku ini, agar kau tidak perlu mengucapkan salam perpisahan denganku. Aku tahu kau tidak menyukai itu.

Tenang saja, aku pasti jaga diri. Aku sekarang berada di Jepang bersama Junho dan Chansung. Tidak perlu mengontakku, aku sudah membuang ponselku yang lama. Lebih baik kita tidak usah saling menghubungi lagi. Begini lebih baik…

Aku iri dengan Taeyang, dia sangat beruntung memiliki istri seperti kamu.

Alasanku menjaga jarak denganmu, karena kau tak bisa memiliki kami berdua sekaligus—aku dan Taeyang. Memang, kau tak perlu memilih di antara kami berdua, karena aku bukanlah pilihan untukmu.

Yang terakhir, aku ingin mengaku sesuatu kepadamu. Maaf aku telah menyimpannya selama ini, tetapi sejak lima belas tahun yang lalu, aku sudah jatuh cinta kepadamu. Aku menyukai semuanya darimu.

Terimakasih atas kebaikanmu selama ini, terimakasih karena kau sudah memberiku kenangan yang sangat indah. Terimakasih. Semoga kau hidup bahagia dengan Taeyang. Semuanya cukup, melihatmu meraih kebahagiaan bersamanya sudah cukup untukku.

Selamat tinggal.

Aku mencintaimu. Wooyoung.

P.S : Aku sudah membuatkan lagu untukmu. Hadiah perpisahan dariku.”

Jieun menangis tersedu-sedu. Ia mulai histeris. Betapa bodohnya ia tidak menyadari semua hal itu. Benar-benar tidak peka. Dan sekarang semuanya sudah terlambat, dia tidak akan pernah bertemu Wooyoung lagi untuk selamanya. Ia menyesal, sayang penyesalan ini tidak berarti.

Dengan tangan gemetaran, ia menyetel CD yang diberikan Wooyoung padanya. Ia sudah tidak bisa berpikir lagi, pikirannya kosong dan terisi hanya dengan kenangan Wooyoung.

Alunan piano itu mulai mengalir lembut. Ia dapat mendengar suara Wooyoung yang merdu dari situ. Matanya terpaku pada kotak tempat CD itu berada. Tulisan “Wedding Dress” dari Wooyoung untuk Jieun tertera di atas sampul kotak itu.

Beberapa orang mengatakan, semuanya belum berakhir sampai pada akhirnya
Kurasa, sekarang inilah akhir dari kita berdua

Ada sesuatu yang harus kukatakan sebelum aku membiarkanmu pergi

Dengarkan aku

Ketika kau bertengkar dengannya

Kadang-kadang kau menangis
Dan merasa sedih dan biru
Aku merasa penuh harapan
Hatiku menderita diam-diam
Hanya sedikit senyum darimu
Dapat membuatku merasa bahagia kembali
Untuk menjagamu agar kau tidak mengetahui perasaanku padamu

Karena kemudian kita akan berpisah
Aku menahan nafasku, menggigit bibirku
Oh, tolong tinggalkan dia dan kembalilah padaku

Jieun, tolong jangan raih tangannya
Karena kau seharusnya adalah gadisku
Aku telah menunggumu sangat lama

Tolong lihat aku sekarang

Ketika musik itu dimulai
Kamu akan bersumpah untuk menghabiskan
Seluruh sisa hidupmu bersamanya
Aku telah berdoa setiap malam
Agar hari ini tidak akan pernah datang

 

Gaun pengantin yang kau pakai
Bukan aku yang ada di sebelahmu

Oh, gaun pengantin yang kau pakai Oh, tidak


Kau tidak akan pernah tahu bagaimana perasaanku padamu

Dan aku sangat membencimu
Kadang-kadang aku berharap agar kau tidak bahagia


Sekarang aku tidak punya air mata lagi untuk menangis
Ketika aku sendirian, aku berbicara padamu seakan kau di sini

Aku merasa tidak tenang setiap malam
Mungkin selama ini aku telah mengetahui bahwa semua ini akan terjadi
Aku menutup mataku dan bermimpi tentang mimpi yang tidak akan pernah berakhir
Tolong tinggalkan dia dan kembalilah padaku

Jieun, tolong jangan raih tangannya
Karena kau seharusnya adalah gadisku
Aku telah menunggumu sangat lama

Tolong lihat aku sekarang

Ketika musik itu dimulai
Kamu akan bersumpah untuk menghabiskan
Seluruh sisa hidupmu bersamanya
Aku telah berdoa setiap malam
Agar hari ini tidak akan pernah datang

 

Gaun pengantin yang kau pakai
Bukan aku yang ada di sebelahmu

Oh, gaun pengantin yang kau pakai Oh, tidak


Tolong, berbahagialah dengannya
Sehingga aku dapat melupakanmu
Tolong lupakan seberapa berantakannya penampilanku saat itu
Ini mungkin akan menjadi sangat-sangat susah untukku
Dalam waktu yang sangat panjang

Lagu itu berakhir begitu saja. Singkat, tetapi penuh arti dan mendalam. Jieun tidak dapat menghentikan air matanya sekarang. Seperti orang sinting, dia memutar kembali lagu itu, sekali lagi, dan sekali lagi. Semuanya tidak akan kembali seperti dulu. Kini dia benar-benar harus mengucapkan selamat tinggal pada Wooyoung.

###

Wooyoung menatap cincin yang diambilnya dari saku celananya. Cincin yang tadinya akan digunakan untuk melamar Jieun, kini tidak ada gunanya.

“Wooyoung-ah, ayo bersiap-siap. Kita akan berangkat ke pernikahan Jieun sebentar lagi. Aku tunggu di dalam,” seru Junho dari kejauhan.

Wooyoung menatap danau itu kembali. Danau penuh kenangan mereka berdua. Dan danau itulah yang akan menyimpan kenangan mereka selamanya. Dengan sekali ayunan mantap, Wooyoung melemparkan cincin itu sejauh-jauhnya ke tengah danau.

“Selamat tinggal Jieun-ah. Aku akan merindukanmu.”

###

THE END

Akhirnya, Wedding Dress tamat nih! #HOREEE!!

Pertama-tama aku mau bilang terimakasih dulu buat yang udah baca dari chapter 1 sampai sekarang dan super duper terimakasih bagi yang tetap kasih comment. Aku benar-benar senang dengan comment kalian. Sebagai hadiah spesial chapter terakhir, semua comment kalian di postingan ini akan kubalas, jadi bertanyalah sepuasnya dan beri pendapat apa pun itu 😀

Bagi yang sudah lihat teaser Serial Murder Case yang aku post waktu itu, mulai sekarang aku bakal ngerjain ff itu #HORELAGIII!!

Sekali lagi, terimakasih bagi readers yang setia dan rajin memberi comment, didoakan semuanya sukses !!

P.S : lagu itu emang aku terjemahin dari lagu wedding dress-nya Taeyang, keren kan liriknya :p

37 thoughts on “Wedding Dress [Chapter 4-END]

  1. Thor, nangis gue ini nangis 😥
    kasihan wooyoung /pukpuk/
    ff nya syedih 😥
    tapi keren thor, feel nya dapet ..
    bikin ff iu lg yak 😀

  2. aku bru nemu ff nie. sorry thor bru komen d chap terakhir.
    aku cmu mau blang ffnya keren banget..
    oh iya thor, aku smpe nangis loh. bahkan smbil ketik komentar airmatax ga mau brhenti…
    pokoknya keren banget

  3. Keren! Beda dari ff lain ny.. wooyoung dsni hrus sedih sendiri.. huhuhuhu
    Nggak bisa nangis krn pagi2 bacanya… sorry..
    tp feel ny dpt untuk sad nya..
    Lnjutkan ! Coba nulis novel deh Retta VIP (author) ^^

  4. mimin kamu adalah author pertama yg bikin aku nangis setelah baca ff nya.
    sebelumnya ga prnh netesin air mata tiap baca ff genre sad.
    berasa bgt nyeseknya..
    mimin sukses bikin banjir dibantal aku :”(

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s