On Rainy Days [Oneshot]

Uee_on rainy days

Tittle                      : On Rainy Days

Genre                   : SadRomance

Cast                       : Lee Hyuk Jae, Kim Yoojin

1997, Musim Hujan

Semua murid berhamburan keluar kelas seketika bel tanda pulang berbunyi, tak ada satu pun yang mengeluh walau hujan kembali turun dengan deras. Karena kali ini mereka akan terbebas dari hari-hari ujian setelah siang tadi ujian akhir dinyatakan selesai. Ini merupakan hari dimana murid-murid akan merayakan kebebasan mereka selama tambahana kelas malam. Namun, di kelas 2-C belum kosong masih tertinggal satu murid perempuan yang duduk di bangkunya. Ia duduk di bangku yang berada di pojok belakang, memang bukan kemauannya tapi ia tak bisa berpindah.

“Semuanya akan baik-baik saja, Kim Yoojin,” ujar murid tersebut sambil menatap hujan melalui jendela kelasnya.

“Semua akan berlalu. Kau hanya perlu kuat Kim Yoojin,” bisiknya pelan sambil mencengkeram rok seragamnya yang kotor terkena bubuk putih.

Lalu murid perempuan yang bernama Kim Yoojin itu bangkit dari duduknya, mengambil tas sekolahnya dan pelan-pelan berjalan meninggalkan kelasnya. Selalu akan seperti ini, tak ada teman, tak ada orang, hidupnya sudah hampa sejak setahun yang lalu. Ia sudah tak mengenal lagi yang namanya bahagia, tersenyum dan juga menangis karena semua itu baginya hanya klise hidup yang sudah capek ia lakukan.

“…sepertinya dia kena jebakan lagi. Hahaha.. bagaimana bisa dia masih betah bersekolah disini…”

“… jangan berteman dengan anak pelacur. Kau tahu sekolah ini adalah sekolah elit , masih berani dia memperlihatkan wajahnya….”

“… huh. Aku ingin sekali menamparnya…”

“…kasihan sekali…”

Kim Yoojin berjalan di lorong sekolah, semua anak memang memandangnya rendah dan kasihan. Ia tidak mau keluar dari sekolah ini karena ia yakin ibunya akan kembali ke rumah dan menjemputnya di sekolah.

Tes tes tes

Yoojin memandang langit yang tengah menangis seperti menangisi keadaannya sekarang.

“……………….”

Bug

Yoojin merasakan punggungnya ditabrak namun ia tetap diam saja.

“….kau sengaja bukan menabraknya tadi?”

“…. aku akan selalu menabraknya dengan sengaja. Dia memang cantik sayangnya hanya seorang pelacur yang ingin masuk ke lingkungan elit.”

“….kata-katamu sangat jahat!”

“…..aku tidak peduli…”

Kim Yoojin masih berdiri, ia ingin mengeluarkan payungnya tapi entah mengapa tangannya sudah tak bisa digerakkan. Dan akhirnya ia mulai berjalan di tengah derasnya hujan. Tanpa peduli dengan apa yang diteriakkan murid-murid lainnya di belakangnya.

Kim Yoojin. Umur 15 tahun. Anak seorang pelacur. Murid berprestasi dan mendapatkan beasiswa. Tak lama ini julukannya adalah seoranng pelacur. Ibunya kabur dari rumah meninggalkannya demi uang. Ia tak punya Ayah karena Ibunya tak pernah mau peduli siapa Ayahnya. Hidup tenang dan bahagia direnggut begitu saja hanya karena seorang guru hampir memperkosanya di gudang sekolah. Dan insiden mengerikan itu membuatnya dibenci satu sekolah.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

Seorang murid laki-laki berseragam rapi tengah berjalan megendap-ngendap di taman belakang sekolah. Dimana tempat paling aman untuk kabur di tengah-tengah jam pelajaran seperti ini. Ia sudah ahli melakukan hal ini sejak lama dan ia sama sekali tidak peduli dengan semua pelajaran sekolah yang membuatnya pusing. Ia tidak suka pelajaran matematika dan sains melainkan sejarah, tapi tetap saja Ayahnya mengingkannya belajar di kelas Sains. Dan itu membuatnya jengah.

“Lee Hyuk Jae. Dimana Lee Hyuk Jae? Ada yang melihatnya?” tanya seorang guru sastra.

“Dia belum masuk sejak istirahat!”

“Dia bolos lagi?”

Semua anak di kelas 2 diam saja, memang bukan hal yang baru bagi seorang Hyuk Jae untuk membolos. Statusnya sebagai anak kaya sekaligus pemilik sekolah menjadikannya jarang dihukum bahkan kadang para guru hanya membiarkannya saja.

“Baiklah kita mulai saja pelajarannya.”

HUP. Akhirnya pelariannya berhasil lagi. Hyuk Jae menatap puas pagar tinggi yang baru saja ia lewati dengan mudah.

“Begitu mudahnya, para guru mungkin tidak akan pernah menjaga tempat ini,” ujar Hyuk Jae tertawa meremehkan.

Namun saat ia melanjutkan perjalanannya menuju tempat persembunyiannya selama ini. Seorang laki-laki dewasa menghalangi jalannya. Ia menengadah dan ia melihat suruhan Ayahnya menghadang jalannya. Hyuk Jae menyadari ini bukan keadaan yang baik.

“Tuan ingin bertemu dengan anda.”

“AYAH! Ayah datang menjengukku?”

“Mari saya antar anda ke asrama.”

Lee Hyuk Jae tidak menyangkal bahwa ia terlalu gembira mendengar Ayahnya yang datang menjenguknya. Sudah lama sejak ia bertemu dengan Ayahnya sebelum laki-laki baya itu sibuk dengan urusan kontruksi di Thailand. Namun, wajah bahagia Hyuk Jae sirna saat melihat orang yang menyambutnya di depan pintu asramanya. Seorang perempuan muda, cantik, dan ia tahu persis siapa perempuan itu.

“Kau tambah tinggi Hyuk sayang~ Aku sangat senang kau baik-baik saja.”

“Eoh.”

Hyuk Jae menyambut pelukan Ibu tirinya dengan malas. “Aku ingin bertemu Ayah.”

“Dia ada didalam. Kau pasti sudah merindukan kami, maaf membuatmu harus tinggal di asrama Hyuk.”

Hyuk Jae tak mau mendengar basa-basi lagi, ia segera masuk ke ruangan dimana Ayahnya menunggunya. Hyuk Jae merapikan seragamnya, rambut dan juga mencium bau badannya. Ia tidak ingin menemui Ayahnya dalam keadaan buruk dan bau, karena ia tahu Ayahnya lebih senang melihatnya terlihat sempurna.

“Ayah….”

Laki-laki baya itu membalikkan badannya dan tersenyum lebar saat melihat anak laki-lakinya tumbuh menjadi anak dewasa. “Kau terlihat sangat mirip Ayahmu, Lee Hyuk Jae.”

“Bagaimana keadaan Ayah? Mengapa tiba-tiba datang kemari, aku sangat senang melihat Ayah disini.”

Hyuk Jae ingin sekali memeluk Ayahnya tapi ia tahu ada batasan dimana ia harus menghormati Ayahnya. Dan Hyuk Jae belajar berhenti melakukan tindakan seperti anak kecil.

“Baik dan Ayah sangat senang melihatmu nak. Aku dengar beberapa kali ini kau mendapatkan nilai sempurna untuk mata pelajaran. Ayah makin bangga padamu.”

“Aku juga senang jika Ayah bisa memujiku seperti ini.”

Tiba-tiba tangan Ayahnya terangkat dan menyentuh wajah Hyuk Jae. Mengelusnya dengan pelan dengan tatapan lembut dan itu membuat Hyuk Jae sadar bahawa ada yang salah dengan keadaan Ayahnya. Ia sangat tahu Ayahnya jarang meperlihatkan wajah sedih seperti ini.

“Ayah….”

“Kau tahu Ayah sudah jahat terhadap dua orang di dunia ini dan kadang untuk melupakan kesalahan besar itu Ayah harus mimpi buruk setiap malam. Hyuk Jae, Ayah sangat sayang padamu.”

“… Ayah tidak bisa percaya kepada siapapun kecuali padamu. Kau anak satu-satunya yang bisa Ayah banggakan.”

Hyuk Jae makin takut dengan situasi sekarang tiba-tiba membuatnya tidak nyaman. Ia tahu semua yang Ayahnya perjuangkan saat ini adalah untuk kebahagiannya dan ada waktu dimana ia juga harus bertukar posisi dengan Ayahnya. Saat perceraian kedua orang tuanya, ia juga tahu Ayahnya tidak bahagia.

“Kau akan pulang ke Seoul dan tinggal bersama kami.”

“Benarkah?! Ayah tidak bohong, bukan?!”

“Tidak nak.”

“Yeaiiiii…!”

“Dengar dulu Hyuk….” Hyuk Jae menatap Ayahnya lagi setelah berseru senang.

“Ibumu meninggal dan kita akan mengantar abunya.”

Abu?

Hyuk Jae menatap Ayahnya tak pervaya. Apa yang barusan ia dengar. Bukan, bukan, Ibunya….

Ibunya tidak mungkin meninggal. Apa yang dikatakan Ayahnya bukan soal kematian. Ia masih punya Ibu yang tinggal di Daegu. Ia masih anak seorang perempuan yang meninggalkan keluarganya dua tahun yang lalu bukan.

“Ibumu mengidap kanker hati dan baru meninggal pagi tadi. Kita tak punya waktu disini lebih lama Hyuk.”

Kedua kaki Hyuk Jae lemas, tangannya bergetar hebat. Ia tidak mau mendengar berita itu lagi.

“I-ibu… tidak… Ibu tidak mungkin…..”

Itulah pertama kalinya ia menangis setelah menginjak usia remajanya. Sebuah rasa kehilangan yang amat sangat menyakitkan.

Lee Hyuk Jae. Umur 15 tahun. Anak tunggal dari pengusaha kaya raya. Kehilangan orang yang sangat ia sayangi di masa remajanya. Dan pertama kalinya ia menyalahkan hidupnya. Ia tidak seharusnya menyalahkan dan membenci Ibunya yang meninggalaknnya dua tahun lalu. Karena sekarang saat ia ingin memberitahu wanita itu bahwa ia sangat menyayanginya, Ibunya telah meninggalkannya dunia ini selamanya.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

Hyuk Jae bangun dari tidurnya, ia tak bisa membohongi dirinya yang berusaha tegar. Ia bangkit dari kasurnya dan diam-diam keluar rumah. Udara setelah hujan memang sangat dingin apalagi angin yang masih bercampur dengan sisa-sisa butiran hujan. Sambil mendengungkan nyinyian yang ia sering dengar dari Ibunya dulu ia menyusuri jalanan sekitar rumahnya, membuatnya mengingat beberapa kenangan kecilnya bersama Ibunya. Ia berharap akan terus menjaga kenangan indah itu bersama wajah Ibunya dalam hati.

Krek krek…. krek krek

Hyuk Jae terdiam di tempatnya. Jalanan memang sepi namun ia tidak menyangka akan mendengar suara semistis ini.

“Oh.. Tuhan lindungilah aku,” doanya sebelum akhirnya kembali mendengar suara gesekan yang makin terdengar jelas. Hyuk Jae melanjutkan jalannya dan saat ia sampai disebuah taman kecil di tengah distriknya, tidak terasa ia mengembuskan nafas leganya.

“Seperti dugaanku, bukan hantu,” ujar Hyuk Jae pada dirinya sendiri. Ia melihat seorang anak perempuan yang seumuran dengannya tengah duduk di salah satu ayunan di taman itu. Dan bunyi gesekan itu berasal darisana. Pelan-pelan Hyuk Jae berjalan mendekat dan akhirnya duduk di samping ayunan yang kosong.

“Hah! Aku tidak menyangka akan ada anak perempuan sendirian duduk disini.”

Entah mengapa Hyuk Jae tidak merasakan ketakutan atau apapun saat anak perempuan itu menatapnya kaget.

“Dan kau terlalu berani keluar tengah malam begini sendirian. Kau tidak takut Ibumu marah?”

Yoojin tidak tahu harus bagaimana bersikap, ia terlalu terkejut melihat ada anak laki-laki yang berbicara dengannya. Dengan nada biasa saja bahkan menatap kearah matanya. Ia segera berdiri dan berjalan menjauh namun…

“Jangan pergi.”

Yoojin berhenti seketika.

“Aku tidak ada niat untuk mengganggumu,” ujar Hyuk Jae. Yoojin mundur pelan dan menoleh kearah anak laki-laki tersebut sebentar. Merasa aneh dengan apa yang baru saja dialaminya.

“Kau tinggal di distrik ini? Kalau begitu kita bertetangga.”

“……………..”

“Ini sangat menarik bukan…hihiii…. Aku mendapat seorang teman.” Yoojin menatap anak laki-laki tersebut, baru kali ini ada laki-laki yang tertawa hanya karena ucapannya sendiri bahkan anak laki-laki tertawa seperti melihatnya.

Sebenarnya Hyuk Jae penasaran dengan perempuan ini. Keluar sendirian di malam hari ke taman, dengan masih memakai seragam sekolah lengkap. Hyuk Jae berusaha mengintip nama yang terpampang di pin sekolahnya.

[Kim Yoojin]

“Aku Lee Hyuk Jae. Umur15 tahun.”

Yoojin makin tidak mengerti apa maksud laki-laki ini. Menyebutkan namanya serta umur, padahal ia tidak ingin berkenalan atau apapun.

“hmmmm ini sangat aneh. Jangan-jangan kau….” Hyuk Jae bangkit dari ayunan dan berdiri di hadapan Yoojin. “….. apakah kau tuli?”

Yoojin menggeleng. “Terus mengapa kau diam saja daritadi?”

“A-apa kau tidak tahu aku?” akhirnya perempuan itu bicara, ujar Hyuk Jae dalam hati.

“heh?”

“Tadi kau mengatakan tinggal di distrik ini bukan.”

“Lalu apakah aku harus tahu siapa dirimu? Kau orang terkenal? Kau ada di tivi? Atau kau seorang artis? Siapa dirimu? Aku benar-benar tidak tahu, kau sangat aneh.”

“Kau juga aneh,” ujar Yoojin pelan.

Kali ini Yoojin tidak ingin lebih lama lagi di taman. Sudah waktunya untuk kembali ke rumah sebelum ada orang yang melihatnya di luar rumah dan bersama seorang anak laki-laki.

Lee..Hyuk Jae mungkin itu namanya kalau aku tidak salah dengar. Aku harus pergi. Harus.

Yoojin berjalan menjauh dan meninggalkan taman tersebut. Hyuk Jae yang makin penasaran dengan apa yang dimaksud anak perempuan itu, tampak bengong ditinggal begitu saja.

“Ya! Seragam merah!”

Yoojin tidak mau berhenti lagi, ia ingin segera sampai rumah sebelum…

“Kim Yoojin.”

Deg

Yoojin berhenti.

“Kim Yoojin….Kim Yoojin…!”

Suara anak laki-laki itu terdengar jelas di telinganya, seperti sebuah panggilan asing baginya tapi begitu membuat hatinya terpanggil untuk menoleh. Setelah sekian lama tidak ada yang memanggilnya dengna nama panjangnya. Yoojin masih diam di posisinya. Sampai akhirnya tiba-tiba hujan turun. Yoojin membalikkan badannya dan melihat laki-laki itu membuka jaketnya dan mengangkatnya sehingga kepalanya terlindungi dari hujan.

“Kau akan pergi kemana? Hei.. Kim Yoojin!” teriak Hyuk Jae.

Yoojin kembali lagi meninggalkan Hyuk Jae dan berlari kearah rumahnya.

“Benar-benar perempuan yang aneh. Ahhh… dingin sekali.” Hyuk Jae segera menepi dan mencari tempat teduh. Tak ada pilihan lain selain menunggu hujan reda jika ingin pulang tanpa basah kuyup.

Di lain tempat, Yoojin terus berari menembus hujan yang deras. Ia tak menyadari bahwa seragamnya telah basah kuyup tak terkecuali rambut panjangnya. Yoojin segera masuk ke rumah dan mencari tas sekolahnya. Ia terlihat buru-buru seperti dikejar waktu, saat menemukan tas segera ia buka. Diambilnya sebuah payung dari tasnya dan kembali keluar rumah menuju jalanan taman tersebut.

Hyuk Jae masih menunggu hujan reda dan sepertinya akan butuh waktu lama jika melihat betapa derasnya hujan saat ini. Tak lama ia mendengar derap langkah menuju kearahnya dan ia kaget melihat anak perempuan aneh itu datang kembali menemuinya. Hyuk juga melihat payung yang ada di tangan perempuan itu.

“Kau gunakan ini untuk pulang ke rumah,” ujar Yoojin sambil menyerahkan payungnya ke Hyuk Jae.

Hyuk masih tetap melihat ke arah perempuan di hadapannya tak percaya.

“Gunakan payung ini dan pulanglah ke rumah. Kau tidak akan kebasahan.”

“Kau.. basah kuyup.”

“Tidak apa-apa. Aku sudah terlanjur basah kuyup dan aku tidak takut basah hanya karena hujan seperti ini. Ambillah.”

Hyuk Jae melihat kearah tangan Yoojin yang terulur dimana payung itu diberikan kepadanya. Tanpa bertanya lagi Hyuk Jae menerimanya.

“Besok aku kesini dan mengembalikan payung ini padamu.”

“Kau.. aku akan kesini lagi? Besok?”

“Aku pasti mengembalikkan payung ini dan untuk bertemu denganmu aku hanya tahu taman ini.”

Hyuk Jae tersenyum begitu juga dengan Yoojin walaupun senyum perempuan itu hanya sekilas. Tapi yang pasti keduanya merasa senang, karena mereka bisa bertemu dan mengenal nama satu sama lain.

“Terima kasih chingu,” ujar Hyuk Jae, ia membuka payung dan mulai berjalan meninggalkan taman tersebut. Ia berbalik lalu melambaikan tangannya ke Yoojin dan perempuan itu membalas lambaian tersebut dengan senyum.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

2012, Seoul

Hujan. Sepagi ini masih saja hujan rintik turun dan membuat butiran-butiran seperti embun di  daun pohon dan jendela kamarnya. Seperti dulu saat ia menikmati setiap hujan yang turun, mengamatinya dari jendela kamar. Sama seperti dulu saat ia bertemu dengan laki-laki bernama Lee Hyuk Jae. Dan sama seperti dulu saat laki-laki itu meninggalkannya di tengah hujan yang deras dan tak pernah kembali. Semua ingatan dan kenangan masa lalunya tak ingin ia lupakan karena seberat apapun itu ia berterima kasih karena takdir sudah membuatnya bertemu dengan seorang laki-laki cinta pertamanya, Lee Hyuk Jae. Ia tidak akan pernah menyesal sedikit pun.

“Yoojin-ah! Sarapan sudah siap. Kau tidak turun sekarang?!”

“Aku akan turun sebentar lagi. Tunggu aku.”

Tak ada yang berubah dalam hidupku, hanya sebagian kecil dari kepingan hidupku yang berubah dan itu sudah membuatku bahagia. Bertemu dengan orang yang begitu menyayangiku dan hidup bersama mereka membuatku merasa terlahir kembali menjadi diri yang baru. Kim Yoojin bukan anak seorang pelacur lagi. Dan berlalunya tahun ke tahun membuatku mengerti bahwa sebuah penantian akan berujung pada sebuah hasil yang tak pernah kita sangka.

“Kau memakai baju yang sama lagi?”

“Bukan. Ini baju yang berbeda. Aku membeli banyak warna. Oppa! Apakah aku cantik?”

“Hem. Tentu. Kim Yoojin selalu cantik setiap pagi.”

“Sebaiknya kau memuji istrimu dibandingkan dia.”

“Hooo.. ada yang cemburu rupanya.”

“Sudahlah. Kita sarapan sebelum semuanya terlambat bekerja.”

“Siap.”

Mereka bertiga menikmati sarapan seperti biasanya. Setelah begitu banyak hal  yang terjadi akhirnya Yoojin memutuskan untuk tinggal bersama seseorang yang sudah dianggapnya sebagai kakak dan sampai saat ini mereka hidup bersama. Yoojin tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berubah setelah Hyuk Jae meninggalkannya. Ia menatap rintikan hujan dari jendela dapur.

“Kau masih menunggunya?” tanya Nana di tengah sarapan mereka. “Kau masih menunggunya bukan? Lee Hyuk Jae? Anak laki-laki yang sering kau khayalkan.”

Yoojin hanya tersenyum. Ia tidak ingin menyangkal, sudah 15 tahun berlalu tapi ia masih menunggu. Padahal tak ada janji diantara mereka untuk saling menunggu. Dirinya yang mengambil keputusan karena ia sangat ingin melihat anak laki-laki itu lagi.

“Aku akan pulang telat jadi jangan meneleponku terus.”

“Kencan dengan Jo Woon?”

“Hanya merayakan pesta kecil karena dirinya sudah menjadi dokter tetap di rumah sakit.”

“Baguslah. Entah kapan lagi aku harus menunggu pernikahanmu Yoojin. Aku akan meminta Jo Woon untuk segera melamarmu!”

“Eonni, aku tidak suka kau memaksa Jo Woon.”

Ting tong

“Jo Woon sudah menjemputku. Aku duluan. Daaah…”

“Anak itu sampai kapan akan terus berusaha terlihat ceria saat hujan seperti ini,” keluh Nana.

“Setidaknya ia mencoba untuk bahagia daripada terus bersedih. Kita juga tidak bisa membantu apapun.”

“Aku berharap Lee Hyuk Jae tidak akan pernah menampakkan batang hidungnya didepan Yoojin. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika mereka bertemu.”

“Tenanglah, kita harus percaya Yoojin.” Suami Nana beranjak kesebelah istrinya dan mulai menggenggam tangan istrinya dengan kuat. Seperti memberi kekuatan untuk tetap kuat seperti biasanya.

“Jo Woon sudah cukup bagi Yoojin. Aku hanya ingin anak itu bahagia dan tersenyum dari hati.”

Sebenarnya Yoojin belum keluar dari rumah, ia masih didalam, diambang pintu rumah yang setengah ia buka. Ia mendengar semuanya dan ia tahu bahwa ia sudah melukai hati kakaknya walaupun ia terus berusaha untuk menjadi Kim Yoojin yang ceria.

“Haruskah aku tidak berharap bertemu denganmu Lee Hyuk Jae…” ujar Yoojin pada dirinya sendiri.

Haruskah aku melupakan semua kisah kita saat berumur 15 tahun. 4 musim kita lewati bersama dan saat musim hujan terakhir kali turun kau meninggalkanku tanpa memberitahu alasannya. Meninggalkan orang yang dulu pernah ingin kau ajak keliling dunia bersama.

“Kau baik-baik saja?”

Aku akan memikirkan ulang lagi. Bukankah aku yang memutuskan untuk menunggu mengapa aku sempat goyah…

“Mianhae Woonie~..”

“Eh? Kau minta maaf padaku?”

“Ahhh.. tidak. Tidak. Aku hanya bercanda. Kajja! Aku tidak mau kau terlambat masuk kerja hanya karena pacar pemalasmu ini. Hihiiii……….”

“Kim Yoojin, sebentar.”

Jo Woon tahu benar kekasihnya adalah orang yang gampang sekali menutupi kesedihan dan masalah tapi dihadapannya topeng itu pecah karena laki-laki itu tahu persis apa yang sedang Yoojin pikirkan. Hujan. Ya. Pagi ini hujan rintik tapi tetap saja hujan. Dan ia sangat tahu apa arti hujan bagi Yoojin.

“Kalau kau tidak sehat, kita bisa batalkan makan malamnya.”

“Oh… Kau tidak boleh bicara seperti itu. Dengar Jo Woon… aku akan baik-baik saja jadi malam ini kau jangan khawatir, aku akan datang dan kita berpesta bersama.”

“Baik. Aku percaya padamu tunangan cantikku.”

“Tunangan? Heiiii, kita belum di tahapan itu.”

Jo Woon mengegeleng, ia menunjuk kearah jari manis Yoojin yang sudah terpasang sebuah cincin disana. “Aku melihatnya Kim Yoojin. Kau memakai cincin pemberianku.”

“Ahh.. kau melihatnya. Baiklah.apakah sekarang kita bisa berangkat?”

“Tentu saja putri.”

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

 Hujan kembali deras dan tanpa pernah tahu kapan berhentinya. Di sebuah meja yang penuh dengan berbagai kertas, pena warna, dan beberapa pernak-pernik untuk menjahit. Seorang perempuan yang tidak lain adalah Yoojin tengah menikmati tidurnya yang nyenyak, entah mengapa jika musim hujan tiba ia akan begitu senang, tiba-tiba merasa sendiran dan setelah menangis ia akan tertidur. Ia bukan tidak mau mengerti keadaannya tapi Yoojin tidak ingin mengakui jika ia masih menunggu kedatangan Hyuk Jae dengan hatinya yang masih sakit. Hyuk Jae akan menemukannya dan mereka berdua akan bertemu kembali. Kapan itu akan terjadi, Yoojin tidak bisa memastikan tapi entah mengapa perasannya sangat kuat bahwa ia akan segera bertemu dengan Lee Hyuk Jae.

1998, Musim Hujan

“Kim Yoojin,” panggil Hyuk Jae. Dan perempuan itu menoleh saat teman sebelahnya memanggilnya. Sejak Hyuk Jae bersekolah di sekolahnya, Yoojin tidak bisa menutupi rasa senangnya walaupun ia juga merasa takut jika nantinya akan terjadi hal yang buruk.

Yoojin masih menoleh kearah Hyuk Jae tanpa bicara. Guru matematika mereka sedang mengajar jadi sebaiknya mereka berdua tidak membuat keributan.

“Ingin pergi denganku malam ini? Ada sesuatu yang ingin aku katakan,” ujar Hyuk Jae lirih sambil sesekali melirik keberadaan guru matematikanya.

Yoojin menggeleng tanpa ragu-ragu. Ia tidak ingin teman-temannya membully Hyuk Jae seperti yang terjadi dengan dirinya.

“Kau tidak mau?”

Yoojin kembali menggeleng.

SREKK tiba-tiba Hyuk Jae bangkit dari bangkunya. Terkejut Yoojin dengan tindakan Hyuk Jae, ia mencoba memberi sinyal kepada Hyuk Jae untuk segera duduk.

“Murid Lee, apa yang kau lakukan? Kau ingin mengerjakan soal kedepan?”

“Guru, aku ingin ijin sebentar. Bolehkah aku membawa murid Kim Yoojin juga bersamaku?”

“A-apa maksudmu murid Lee?”

Kelas mulai ribut dan beberapa murid langsung bersiul, beberapa memandang kearah Yoojin dengan pandangan sengit. Semenjak Hyuk Jae pindah ke sekolahnya, banyak sekali perempuan yang ingin berteman dekat dengannya. Dan mereka kaget saat tahu Hyuk Jae mengenal Yoojin.

“Murid Lee… jika kau ada urusan dengan Kim Yoojin kalian bisa bicara setelah pelajaran ini selesai.”

Hyuk Jae melihat kearah jam dinding kelasnya. “Tinggal 2 menit lagi. Saya ijin untuk keluar kelas lebih dulu. Saya permisi sonsaengnim.” Hyuk Jae memberi hormat kepadanya guru matematika dari bangkunya dan menarik tangan Yoojin.

Yoojin berusaha melepaskan genggaman tangan Hyuk Jae di lengannya namun, laki-laki itu terlalu erat memegang lengannya. Hingga akhirnya mereka berdua sampai di atap sekolah yang pintunya tidak terkunci. Karena jam makan siang jadi beberapa murid tidak mungkin ke atap sekolah.

Sebelum Yoojin berteriak marah, Hyuk Jae tersenyum lebar kearahnya.

Dia tersenyum. Senyuman yang lebar dan berhasil membuatnya terhipnotis.

“Mianhae, pasti sakit sekali lenganmu. Mianhae Kim Yoojin.”

“Kau ingin kita berdua dihukum bersama? Aku akan kembali ke kelas dan minta maaf ke sonsaengnim.”

“Tunggu.”

Yoojin menoleh. “Aku sudah mengatakan bahwa kita tidak bisa menjadi teman. Kalau kau sangat mengingkannya, jangan lakukan ini di sekolah.”

“Karena Kim Yoojin adalah anak seorang pelacur. Karena kau takut jika aku akan dibenci satu sekolah.”

Yoojin memandang Hyuk Jae tajam. “K-Kau… bagaimana bisa membaca pikiranku?”

Hyuk Jae tertawa mendengar pertanyaan dari perempuan dihadapannya ini. Ia sungguh merasa perempaun yang berdiri didepannya adalah perempuan yang polos dan imut.

“Aku bisa membaca pikiranmu dengan jelas. Kau tidak bisa mengelak karena aku pasti akan tahu apa yang sedang kau pikirkan.”

Yoojin terdiam dan ia tersadar bahwa omongan Hyuk Jae hanyalah bualan agar ia terjebak.

“Kim Yoojin jadilah temanku? Aku tidak begitu tahu tentang daerah Seoul dan aku butuh seorang teman untuk memberitahuku beberapa hal disini.”

“Aku tidak mau.”

“Kau adalah orang pertama yang membantuku.”

“Aku bukan orang baik dan jangan lagi menggangguku.”

Yoojin berbalik dan mulai melangkahkan kakinya kearah pintu.

“Hari ini ulang tahunku dan aku ingin merayakannya bersama temanku. Aku ingin mengajakmu pergi malam ini karena….”

“Aku tidak akan datang. Aku ke kelas, jangan terlalu lama disini. Jika guru melihatmu di atap kau akan kena hukuman.” Yoojin meninggalkan Hyuk Jae di atap.

2012, Musim Hujan

“Yoojin-ah.. bangun hei! Kau ingin tidur sampai kapan?”

Yoojin terbangun dan saat melihat siapa yang membangunkannya ia tersenyum tanpa dosa. Nana, kakak Yoojin hanya geleng-geleng menemukan adiknya yang begitu mudah tertidur. Namun, saat tahu pipi adiknya basah ia terlihat terkejut.

“Wae?”

“A-aah… tidak apa-apa. Cuci mukamu dan segera makan.”

Yoojin mengangguk, ia berjalan kearah kamar mandi yang berada satu tempat dengan ruang kerjanya. Sedangkan Nana duduk di kursi kerja Yoojin sambil melihat beberapa sketsa rancangan beberapa gaun pengantin.

“Kau ada janji dengan klienmu sore nanti?” tanya Nana saat melihat memo kecil tertempel di kalender meja kerja Yoojin.

“Gaun yang aku pajang di dekat meja. Seorang gadis menyuruhku untuk membuatkan sebuah gaun yang simple tapi manis.”

“Waahhh, kau memang berbakat Yoojin. Ini sangat indah.”

“Kuharap gadis itu akan sama ekspresinya sepertimu.”

“Gadis? Sepertinya bukan orang yang biasa kau tangani.”

Yoojin mengangguk. Mengakui bahwa kliennya satu ini memang agak berbeda, dari segi umur dan beberapa kali ia bertemu, Yoojin yakin bahwa gadis itu terlalu muda untuk menikah tahun ini.

“Kalau kakak penasaran, bagaimana kalau kau menemaniku bertemu dengan nona Yoo.”

“Bukan ide jelek. Aku juga penasaran seeprti apa gadis yang kau bicarakan.”

Yoojin tersenyum. Ia mengambil makanan yang dibawa kakaknya, dan menikmatinya dengan senang. Selama ini ia berterima kasih karena kakaknya karena sangat tahu tentang apa yang diinginkannya dan tidak pernah memaksanya melakukan sesutau. Kecuali, satu hal, kakaknya sangat ingin ia segera melupakan masa lalunya, melupakan semua kenangannya bersama Lee Hyuk Jae.

“Aku berharap hujan akan berhenti dan tidak akan melihat wajah yang selalu ingin menangis.” Nana berkata lirih sambil memandang hujan deras lewat jendela kantor adiknya. Yoojin yang sempat mendengar dengan jelas, hanya diam sambil menghabiskan makan siangnya.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

Sedari tadi Nana tidak nyaman, hatinya terlalu resah setelah kejadian barusan di restoran. Ia tidak pernah menyangka akan terjadi juga kejadian yang ia takutkan. Walaupun Yoojin bersikap seperti biasanya, tapi ia bisa melihat dengan jelas bahwa adiknya hanya mencoba untuk menahan. Mencoba bersikap biasa namun dimata Nana malah terlihat kaku dan ia tidak tahan melihatnya.

“Kau menghancurkan semuanya.”

Nana diam saja, ia tetap fokus di jalanan. Sebelumnya ia sudah mengirimi pesan ke Jo Woon bahwa Yoojin tidak akan bisa merayakan pesta mereka berdua di restoran. Nana lebih tahu bahwa hati perempuan itu sedang gundah, walau Yoojin tidak menunjukkan padanya.

“Jangan bersikap bahwa kau baik-baik saja. Aku kesal melihatmu tersenyum sedangkan laki-laki itu menatapmu terus menerus. Mengapa dia harus menampakkan diri sekarang?”

“Ada yang salah? Lee Hyuk Jae menampakkan dirnya bukan sesuatu yang disengaja. Ini semua waktu dan Tuhan sudah mengaturnya.”

“Aku tidak percaya kau akan baik-baik saja. Menangislah.”

“Antar aku ke rumah sakit kak, aku ingin bertemu Jo Woon.”

“Tidak sekarang.”

“Eonni!”

Nana memakirkan mobilnya di tepi jalan. Ia menatap Yoojin lama dan kedua mata adiknya tidak bisa berbohong. Mata itu sudah kelabu sejak pertama Yoojin menatap Lee Hyuk Jae di restoran tadi.

Klien Yoojin yang bernama Yoo Sung Eun ternyata menemui mereka dengan ditemani pengantin laki-lakinya. Mereka tampak serasi yang satu seperti tuanputri dengan wajah cantik karena umurnya yang masih muda, dan seorang laki-laki yang tinggi tampan, terlihat bahwa keduanya sudah mantap untuk membina rumah tangga. Dari sudut pandang Nana, laki-laki itu sedikit membuatnya khawatir saat melihat wajah Yoojin. Dan ternyata saat perkenalan, semua kekhawatirannya terjadi juga.

Laki-laki calon suami klien Yoojin adalah Lee Hyuk Jae. Laki-laki yang selama ini ditunggu kemunculannya selama 15 tahun oleh Yoojin. Laki-laki yang setiap hujan turun, Yoojin akan terus memikirkan kenangan bersamanya.

“Dia terlihat kaget dan aku sangat senang melihatnya sehat. Apalagi ia tidak akan lama lagi menikah. Aku iri melihatnya hidup bahagia.”

“Kau ingin melakukan apa? Bertemu dengan laki-laki itu dan mengatakan semua tentang penantianmu selama 15 tahun.”

Yoojin tidak suka dengan kata-kata kakaknya. Ia tahu Nana tidak menyukai Hyuk Jae sejak pertama kali ia menceritakan semua pada kakaknya tapi apa kakaknya tidak merasa kasihan padanya. Bertemu dengan laki-laki yang dinantikannya selama 15 tahun kembali, membuatnya sedikit goyah. Ya. Yoojin goyah akan pendiriannya, selama ini ia belajar untuk tidak melibatkan sesuatu yang berhubungan dengan masa lalunya menggunakan hati. Tapi setelah tahu Lee Hyuk Jae kembali dihadapannya, melihat wajah yang masih sama seperti 15 tahun lalu, membuat hati Yoojin sakit. Entah mengapa ia bisa menahan matanya untuk tidak menangis saat itu.

“Sakit.”

“Aku tidak pernah berpikir akan sesakit ini.” Yoojin memegangi dadanya, merasakan hatinya yang sakit.

Nana menoleh kearah Yoojin.  Ia tahu dirinya jahat tapi melihat adiknya menderita bukan keingannya. Kemunculan Lee Hyuk Jae tidak akan pernah mengubah apapun, hati Yoojin masih sama dengna 15 tahun lalu. Adanya Jo Woon juga bukanlah alasan dimana Yoojin sudah mulai melupakan masa lalunya.

“Menangislah. Aku akan menemanimu.”

Yoojin mulai menangis seseunggukan. Nana dengan pelan mengelus punggung adiknya, sambil menenangkan Yoojin.

“Kau ingin bertemu dengannya?” tanya Nana.

Yoojin menggeleng.

“Kau tidak penasaran dengan jawabannya? Kau masih ingin mengetahuinya bukan?”

“Apa ada yang berubah jika aku tahu jawabannya?” tanya Yoojin balik ke kakaknya.

Nana menyadari bahwa Yoojin tidak menangis karena pertemuan dengan Lee Hyuk Jae, melainkan menangisi takdir mereka. Kehidupan 15 tahun sudah mengubah semuanya, selama itu Yoojin dan Hyuk Jae sudah berubah mejadi dewasa dan telah menentukan tujuan hidup mereka masing-masing. Kenyataan bahwa tidak ada lagi alasan mereka untuk bernostalgia dan membicarakan masa lalu. Semuanya, semua kenangan saat umur 15 tahun itu harus mereka lupakan. Jika tidak ingin meukai orang yang ada sekitar mereka, orang yang sudah menerima mereka dengan keterbatasan hati.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

Based of Korean drama I Miss You

Note: beberapa waktu aku lihat drakor I Miss You dan sedikit kecewa dengan ending yang happy. Kadang ngga setuju juga setiap cerita harus happy ending, genre awalnya adalah mellow~ setidaknya endingnya sad atau ngga angst (itu sih pendapat sendiri ya). Dan sebenarnya ini bukan akhir ceritanya, aku masih memproses kelanjutannya dengan sudut cerita Lee Hyuk Jae. Semoga bisa cepat selesai dan aku post J terima kasih yang udah baca ….

13 thoughts on “On Rainy Days [Oneshot]

  1. Awalnya emang mirip bgt ma imissu, bener tuh udah nangis2 awal2 episode masa endnya happy dgn mudah… Aq sbenernya suka yg sad2#gaknanya…. Uee kasian bgt, Gpp lah kan ada sganteng joowon#plak… Aq bakal menantikan eunhyuk version nyaaa… Menarik ini,bisa dilanjutin lagi kyknya dibikin chap gt…:pНﻉ°°Нﻉ°°:p … Ok lanjut!!

  2. Daebak thor!!!Feel nya jg ketangkep,mirip sama drama I miss you,tapi ga sepenuhnya jga sih tapi aku kurang tau end nya kalo drama I miss you saal nya aku nonton drama I miss you blum ampe selesai#sapa yg nanya

    🙂

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s