24 (Ficlet)

24

24

by

PSEUDONYMOUS

Main cast: 2PM’s Junho & f(x)’s Krystal || Genre: Family & Life || Length: Ficlet || Rating: G || Disclaimer: Inspired by Daniel Gottlib’s “Letters to Sam”, Paulo Coelho’s “Like The Flowing River” & “The Grave of The Fireflies (1988)”

“Be grateful for whoever comes,

because each has been sent

as a guide from beyond.”

—Rumi

25 Januari 1990.

Seperti kebanyakan orangtua lainnya, mereka menantikan kelahiran anak pertama mereka dengan hati yang berdebar akan rasa gairah kebahagiaan dan juga kecemasan. Semuanya selalu berjalan dengan baik diawal. Sang calon ibu menjerit girang, lalu melompat di atas pelukan suami dan mereka berputar di tengah udara panas dan gelegak air mendidih di dapur, gembira akan kabar kehamilan sang calon ibu. Sembari menunggu kelahiran sang buah hati, sepasang suami-istri itu mengerahkan kemampuan terbaik mereka untuk memerhatikan pertumbuhan anak pertama mereka, mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kehadirannya, dan sebagai bonus, mereka bisa saling berbagi sebuah perasaan khusus yang dialami oleh calon orangtua—membayangkan keluarga kecil mereka yang utuh, berjalan-jalan di taman kota dengan ice cream di genggaman masing-masing. Rencana-rencana seperti itu selalu menggelitik perasaan mereka untuk semakin mendesak waktu agar berjalan lebih cepat.

Namun, agaknya rencana-rencana itu, satu demi satu, mulai dihapuskan dan harapan itu muali berubah.

Ketika anak mereka berumur kurang dari dua tahun, mereka menemukan bahwa putra pertama mereka menunjukkan gejala autisme, gangguan otak yang secara radikal mengubah cara orang memahami dan menanggapi dunia serta hal-hal lain di luar dirinya. Hati orangtua mana yang tidak hancur, mendapati putra pertama mereka, harapan terbesar mereka, akan hidup dalam lingkaran kelumpuhan otak. Sepasang suami-istri itu menangis sepanjang hari. Mereka mulai bertanya-tanya dan terjebak dalam sebuah keraguan yang besar, karena ketika seorang anak mengidap autisme, masa depannya menjadi buram dan tidak jelas. Segala sesuatunya akan menjadi lebih sulit dan rumit.

Mereka tidak sanggup memikirkan hal ini, tetapi mereka tahu, suatu hari nanti, mereka akan mendengar seseorang berkata, “Dia autis”. Kalau hal itu terjadi, mereka khawatir, anak mereka akan menyadari bahwa ketika orang melihatnya, mereka tidak melihat seorang Junho. Mereka melihat sebuah diagnosis. Sebuah masalah. Sebuah pengelompokan. Bukan seorang manusia.

“Junho!”

Dia berbalik. Rambut cokelatnya melambai tertiup angin, menutupi sebagian alisnya. Begitu melihatku, dia tersenyum hingga matanya bersembunyi di balik garis matanya yang melengkung dengan indah. “Soojung!”

Junho suka sekali bermain di halaman rumah, berjongkok di antara semak-semak, mencari anak jangkrik, lalu memasukkannya ke dalam kantung plastik transparan yang digantung di sisi pinggangnya. Begitu matahari tenggelam, dia akan masuk ke rumah dan mengangkat kantung plastiknya tinggi-tinggi, memamerkan hasil tangkapannya dengan penuh rasa bangga di hadapan kami.

Aku memicing kearah Junho, memerhatikan pipi kanannya menggembung kecil. “Junho!” Aku memanggilnya lagi. Dia berbalik dan mengangkat alisnya. Memang benar, ada sesuatu di dalam mulutnya. Kalap dan panik, aku berlari menghampirinya, berjongkok di sebelahnya. “Buka mulutmu!” seruku.

Junho menggeleng sedih. “Tidak mau.”

“Junho, buka sekarang,” pintaku dengan suara lembut.

Junho menatapku sedih, agak tidak tega. Dia membuka mulutnya perlahan dan aku mencondongkan tubuhku ke depan untuk mengintip ke dalam sana. Sebuah kelereng berdiam di sudut mulut Junho, bersembunyi di antara gerahamnya. “Muntahkan itu sekarang,” bujukku. “kelereng bukan makanan.”

Junho menggeleng lagi. Dia menarik keluar sebuah kaleng berbentuk kotak dari dalam bajunya dan berkata, “Ini permen.”

Aku mengambil kaleng itu dan memerhatikannya sekilas. Ini adalah kaleng permen yang kubelikan untuk Junho di hari jadinya tahun lalu. Dia masih menyimpan kalengnya walau isinya telah habis. “Tapi yang di dalam mulutmu itu bukan permen,” ujarku pada Junho. “muntahkan itu sekarang.”

Dia menatapku dengan garis mata menurun. Sedih.

“Aku mohon, Junho,” pintaku. “itu bukan permen.”

Junho akhirnya mendorong kelereng itu dengan lidahnya, keluar dari mulutnya. Kelereng itu jatuh menggelinding di atas tanah dan terselimut oleh debu. Kami saling berpandangan cukup lama sampai Junho akhirnya mengulum senyum dan memelukku, lalu berteriak, “Soojung! Soojung!”

Aku sedang duduk di meja makan, tertunduk bersama buku Matematika, saat ibuku datang dari dapur bersama Junho dan semangkuk kimchi ramyeon. Junho bertepuk girang dan duduk berhadapan denganku, bersama jatah makan malamnya. Asap mengepul di atas mangkuk, tapi Junho dengan nekad mencubit salah satu mie dengan jarinya dan pada akhirnya dia menjerit kesakitan.

“Jangan disentuh seperti itu,” kata ibuku. “itu masih panas. Biar ibu ambilkan sumpit untukmu.”

Begitu ibuku menghilang ke dapur, aku memerhatikan Junho. Matanya melotot lebar, memerhatikan kimchi ramyeon-nya lamat-lamat, seolah dia sedang mencari, siapa yang sudah menyakiti jari tangannya tadi. Tidak lama kemudian, ibuku kembali membawa dua batang sumpit dan memberikannya pada Junho, lalu menghilang lagi di dapur.

Alih-alih melanjutkan tugas sekolahku, aku justru terjebak bersama pikiran rumitku tentang Junho. Aku mengerutkan alis seiring dengan rasa gemas yang naik ke tenggorokanku ketika melihat Junho mengatur sumpitnya di antara jari-jarinya yang panjang, besar, dan maskulin. Junho mencoba menangkap ramyeon-nya dengan sumpit, tapi selalu gagal. Wajah Junho mulai memerah dan alisnya mengerut. Junho terus mencoba dan pada akhirnya selalu gagal. Pada saat itu, aku merasa sangat ingin membantunya dan ingin berkata, “Begini cara melakukannya”, tapi aku tidak melakukannya karena aku ingin memberinya kesempatan untuk menolong dirinya sendiri.

Aku terlarut dalam renunganku akan perbedaan yang dimiliki Junho dan diriku. Aku yang kini berumur tujuh belas tahun, menganggap Matematika sebagai sebuah masalah yang rumit dan sulit kupecahkan. Tapi, untuk seorang Junho, pemuda berumur dua puluh tiga tahun, hanya sepasang sumpit dan ramyeon akan menjadi hal yang begitu sulit untuknya.

Setelah berulang-ulang kali mencoba menjepit lembar-lembar ramyeon-nya dengan sumpit, Junho tetap gagal. Matanya mulai berkaca-kaca dan sepertinya dia ingin menangis. Pemandangan itu agak mengingatkanku pada cerita ibuku ketika Junho beranjak empat tahun. Kedua orangtuaku berusaha keras untuk menjauhkan Junho dari “empeng”-nya, tapi Junho mengamuk, menangis, meraung-raung, serta memukul lantai ketika dia tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. Dia menangis sepanjang hari dan berkata bahwa dia tidak ingin kehilangan “empeng”-nya. Dia lebih memilih menjadi seorang anak berumur tiga tahun daripada beranjak empat tahun dan harus kehilangan “empeng”-nya. Ketika menceritakan hal itu, aku bisa memahami perasaan kedua orangtuaku, kesulitan yang harus mereka hadapi akan rasa tidak tega melihat Junho yang frustasi akan hal-hal kecil seperti itu.

“Biar kubantu,” ujarku, akhirnya. Junho memerhatikanku berdiri dari tempat dudukku dan aku berdiri di sisi tubuhnya. “begini caranya.” Aku mengarahkan tanganku, menginstruksikan cara yang benar dalam memegang sumpit dan bagaimana harus menjepit ramyeon-nya dengan benar.

Aku melihatnya mengangguk-angguk dan tersenyum.

“Bagaimana? Kau yakin bisa melakukannya?” tanyaku.

“Bisa,” sahutnya penuh yakin.

Aku mundur selangkah dan memberinya kesempatan lagi untuk mencoba. Dia memeragakan cara yang kujelaskan dengan penuh detail, persis seperti yang kuajarkan dan akhirnya berhasil. Dia mendongak kearahku dan berseru, “Soojung! Soojung!”

Aku balas tersenyum dan mengangguk. “Kau berhasil, Junho.”

25 Januari 2013

Pada tengah malam, aku terbangun mendengar derit pintu kamar mandi yang terbuka. Aku mengintip dari balik selimut dan menunduk ke ranjang di bawah. Junho tidak ada di sana dan sudah jelas, dialah yang masuk ke kamar mandi. Kenyataan itu agak mengejutkanku hingga aku tidak bisa tidur kembali sebelum bisa memastikan dan melihat Junho keluar dari sana. Sejurus kemudian, pintu kamar mandi terbuka kembali dan cahaya terangnya menyeruak ke dalam kamar kami yang gelap.

“Junho?” Aku memanggil dengan mata memicing. “Junho, kaukah itu?”

“Soojung.”

Aku mendengar suaranya, lalu meraba-raba dinding untuk mencari tombol saklar. Seketika, kamar kami terlihat terang dan menyilaukan. Junho berdiri tidak jauh dari depan kamar mandi dan menyeringai kearahku.

“Junho?” gumamku.

“Soojung,” ulangnya. “aku sudah buang air kecil.”

“Apa?”

“Aku buang air kecil.”

Dia menunduk ke bawah dan menunjukkan celana abu-abunya yang terpasang rapi di atas pinggangnya, tanpa bercak basah sama sekali. Aku mendongak kearah jam dinding yang berdetak di atas kepala dan menyadari saat itu sudah pukul satu pagi. Junho berumur dua puluh empat tahun dan dia tidak lagi buang air di celana, tidak lagi merengek dan membangunkanku untuk buang air kecil, dan dengan bangga mengatakan bahwa dia bisa buang air sendiri.

Aku tersenyum pada Junho dan merangkak turun dari ranjangku, lalu memeluknya erat. Dia balas memelukku, agak kencang di bagian pinggang hingga menggelitik perutku. Aku tertawa dan dia juga tertawa. Ketika aku menjalani peristiwa-peristiwa yang kualami saat ini bersama Junho, menyadari apa yang sedang terjadi saat ini, aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Banyak dari mereka yang menderita karena mencoba menjalani kehidupan yang pernah mereka miliki atau kehidupan yang mereka dambakan. Junho mengingatkanku hari itu bahwa hidup terasa sangat manis ketika kita menjalani kehidupan yang kita miliki.

Junho kini sudah berumur dua puluh empat tahun dan aku mulai memikirkan sesuatu. Tujuh belas tahun telah berlalu dan aku sudah memikirkannya selama itu, merenungkannya apakah ini akan menjadi waktu yang tepat untuk memberi Junho sebuah hadiah yang seharusnya sudah dia terima sejak aku lahir, bukan sebuah kaleng berisi permen dengan berbagai rasa buah-buahan yang biasa kuberi padanya di hari ulangtahunnya. Aku ingin memberi Junho hadiah ini agar dia merasa spesial.

Aku menggenggam tangan Junho dan tersenyum. “Oppa,” panggilku lembut dan seketika hatiku berdesir kencang saat memanggil Junho dengan ‘Oppa’ untuk pertama kalinya. Bisa kulihat mata Junho mengerjap-ngerjap penuh hasrat. “sebaiknya kita tidur kembali,” lanjutku.

Junho mengangguk dan dia terlihat senang dengan kado yang kuberikan—sebutan ‘Oppa’. Dia juga tampak bangga menjadi ‘pemuda’ berumur dua puluh empat tahun, bukan sebagai ‘anak’ berumur dua puluh empat tahun. Aku mengantarkannya ke atas ranjang dan menyapu kepalanya, lalu berbisik di telinganya, “Selamat ulang tahun, Junho Oppa..”

—the end.

39 thoughts on “24 (Ficlet)

  1. Aku ga tau ada ff ini..tadi pas lagi liat2 baru nemu
    baguss loh,keren,aku ngerti gimana susahnya harus hidup sama anak yg puya kelainan autisme, memang ga gampang..dan ff ini keren banget 🙂

  2. Oh jd Soojung itu adiknya ya??Haha pdhl marganya beda~ tp okelah
    Bagus ffnya ada life-learning nya jg hehe

    Sippo! Keep writing n fighting ne!!^^

  3. ff ini keren bangett.. mendeskripsikan seorang junho yg autis gak mudah loh.. tp sosok itu kebayang bgt dlm imajinasi aq.. wiih.. authornya keren bgt ini.. good jooob..ngasih karakter yg berbeda dr seorang lee junho..

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s