[6] Cigarettes – End

Cigarettes by bluemallows

Main Cast: 2PM’s Lee Junho & Miss A’s Bae Suzy || Support Cast: 2PM’s Jang Wooyoung || Rating: PG-17 || Length: Chaptered || Genre: Romance, Life || Disclaimer: Inspired by Andrea Hirata’s Sang Pemimpi, Ilana Tan’s Autumn in Paris, and Agnes Davonar’s Aku Membenci Cintamu || Credit Poster: Art Factory

0,5 | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 6,5

//

Rasanya canggung, saat kembali memasuki tempat hiburan malam itu lewat pintu depan. Ini adalah kali kedua gadis itu masuk lewat pintu depan untuk masuk ke dalam club milik ayahnya. Tidak ada seorang pun yang mempedulikan gadis itu, satu pun tidak. Ia berjalan mendekati bar  dan duduk di atas kursi tinggi.

“Ingin minum apa?” Tanya seorang pemuda yang tiba-tiba menghampiri Suzy. Mata Suzy bergerak dari atas hingga bawah untuk mengamati penampilan pemuda yang ada di hadapannya.  “Jang Wooyoung? Aku tidak ingin minum.”

Seulas senyum terukir pada wajahnya. “Kau pasti mencari Junho?”

Gadis itu tidak menjawab. Dan memang tidak ada jawaban yang dibutuhkan, karena Wooyoung sudah tahu jawabannya lewat sorot mata yang mewakili jawaban ‘Ya’. Pemuda itu menarik lengan Junho dan mengarahkannya pada Suzy. Kedua sudut bibir Junho tertarik secara otomatis dan ia melangkah keluar dari bar. Kedua tangan Junho menyentuh jemari milik Suzy, dan menggenggamnya erat.

“Apa tidak lebih baik kalian naik ke atas?” Usul Wooyoung.

Junho mengerling ke arah Suzy, dan gadis itu mengangguk. Mereka mengendap memasuki pintu tua yang jarang dimasuki lagi, tidak seperti dulu. Seolah menembus lorong waktu yang membawa mereka ke atas atap, dan melihat semuanya dengan jelas.

//

“Aku akan kembali ke Amerika dua minggu lagi,” Ujar Suzy. “Masih ada empat semester lagi yang belum kuselesaikan.”

Junho mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa berkomentar. Ia berbaring seraya memandang ke atas lautan bintang-bintang. “Di Amerika aku tidak bisa menyaksikan pemandangan seperti ini. Terlalu banyak lampu-lampu jalan.” Tidak ada respon dari Junho lagi, ia hanya diam sambil tersenyum. “Hei? Kenapa diam saja?”

Tawa melompat dari mulut Junho. “Aku tidak tahu, terlalu banyak hal yang ingin kusampaikan padamu, sampai-sampai aku tidak bisa mengatakannya satu per satu.”

“Besok kita bisa bertemu lagi, kan? Bagaimana kalau kau ceritakan satu hal, yang paling ingin kau sampaikan?”

Pemuda itu mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa saat. “Kalau bisa, aku ingin menceritakan semuanya dalam sekali bicara. Aku bahkan rela jika harus berada semalaman sampai subuh di sini.”

Suzy ikut tersenyum simpul. “Tapi aku tidak rela. Ayolah, coba ceritakan satu untuk pemanasan. Aku tidak puas jika kau hanya meneleponku setiap malam natal, atau saat aku liburan musim panas.” Ia mengeluarkan lollipop dari tas selempangnya dan mengulurkannya pada Junho.

//

Junho melirik ke arah Suzy yang sibuk mengaduk-aduk isi tas selempang berwarna putih bersih miliknya itu. Sesekali ia mengeluarkan sobekan-sobekan kertas lusuh, lalu membuangnya. Hingga akhirnya ia mengeluarkan dua batang lollipop warna-warni miliknya. Ia menerima sebatang lollipop dari tangan Suzy dengan senang hati. Jemarinya membuka plastik transparan yang membungkus lollipop yang ada ditangannya.

“Kau tahu? Saat ulang tahunku yang ke dua puluh delapan, Chansung mengajakku makan malam bersama.”

Gadis jelita itu menyibakkan rambut panjang yang menutupi telinganya dan mengerutkan dahinya. “Apa? Hwang Chansung mengajakmu makan malam? Yang benar saja!”

Junho tertawa disela-sela ia mengigit lollipop miliknya. “Tapi itulah kenyataannya. Ia juga mengajak Wooyoung untuk ikut.”

“Apa yang dikatakannya?”

“Memberiku ucapan selamat ulang tahun, makan malam, lalu pulang. Oh ya, juga peringatan tahun kelima aku dan Wooyoung bekerja pada club milikmu ini.”

Suzy mengangguk-angguk. “Kau tidak bosan menjadi seorang bartender selama lima tahun?”

Gelengan kepala Junho sudah menjadi jawaban yang cukup, sebenarnya. “Aku menyukai pekerjaan ini, dan benda-benda disekitarku saat aku bekerja.”

“Tapi benda-benda itu tidak baik untuk ini.” Ujar Suzy sambil menyentuh lembut dada kiri Junho.

Pemuda itu tertawa kecil. “Kau ini, mentang-mentang sudah kuliah kedokteran, bisa sok tahu seperti ini.” Telunjuk kanannya menyentil pelan hidung Suzy.  Keduanya terjebak dalam suasana hening dan sibuk dengan lollipop masing-masing.

“Lantai dua sampai empat masih tidak digunakan untuk apapun?”

“Sebenarnya tidak. Tapi, karena sudah banyak orang yang tahu soal tangga di balik tirai itu, maka banyak yang menggunakan ruangan-ruangan kosong di lantai dua sampai empat untuk melakukan yang aneh-aneh di dalamnya.” Papar Junho. “Kadang-kadang, pria yang masuk sendirian malam ini, bisa saja keluar bersama seorang gadis besok malam.”

Suzy memandang ke atas langit yang dipenuhi awan berwarna putih keabu-abuan. “Ayahku sempat beberapa kali menelepon dan pernah mengatakan bahwa bisnisnya bertambah sukses. Aku sendiri tidak menyangka ia akan meneleponku, dengan nada suara sebahagia itu.”

“Meski aku tidak pernah berbicara dengan ayahmu selama aku bekerja di sini, tapi sering aku mendengarnya marah-marah di sini, terutama saat marah pada Chansung. Dia tidak pernah berubah.” Junho mendesah panjang seraya mengedarkan pandangan pada sekitarnya. “Selalu berpakaian rapi, alis yang tebal, dan dagu berbentuk kotak yang khas.”

Suzy tersenyum, sambil membayangkan wajah ayahnya dalam benaknya. “Ngomong-ngomong, kenapa aku tidak menemukan Taecyeon tadi? Dia keluar?”

“Begitulah. Ia keluar setelah menikah. Lalu digantikan disc jockey yang baru, Kim Minjun.”

“Siapa yang lebih tampan? Lee Junho atau Kim Minjun?” Gurau Suzy sambil mencubit pelan pipi Junho.

Senyum masam yang tidak pantas tergambar pada wajahnya yang tampak jauh lebih muda dari pada usianya itu terukir tipis. “Tentu saja Lee Junho yang selalu menjadi nomor satu.” Ia bangkit, diikuti Suzy. Ditariknya dagu gadis itu lembut, dan mengecup bibir lembab milik gadis itu sekilas.

//

Suara nyaring Suzy terdengar dengan gamblang diujung telepon. “Kau akan kembali besok lusa kan?” Ia menyandarkan lengan kirinya pada tembok kaca boks telepon umum sambil jemarinya menarik-narik kecil kabel telepon yang dihubungkan pada gagang telepon di tangan kanannya.

“Dua minggu berlalu cepat sekali ya?” Junho mengangguk samar—meski yakin Suzy tidak dapat melihatnya. “Kau tidak akan menyesal jika tidak bertemu denganku sore ini?” Terdengar suara tawa samar gadis dari gagang telepon warna biru tua yang catnya usdah mengelupas itu. “Halo? Bagaimana? Nanti jam empat, okay?”

Suzy hanya mengiyakan. Ia tak dapat melakukan hal-hal selain belajar di Amerika. Diletakkannya kembali gagang telepon pada tempatnya dan mengedarkan padangan ke setiap sudut kamarnya yang sedikit berantakan. Matanya melirik ke arah tumpukan buku yang ada dalam kopernya, lalu menghela nafas panjang. Direbahkannya tubuh miliknya di atas kasur yang dilapisi seprai warna putih bersih.

Matanya terpejam rapat, merasakan hembusan angin yang menerobos masuk lewat jendela kamarnya yang sengaja dibuka lebar. Samar-samar siluet wajah Lee Junho muncul dalam benaknya, mempengaruhi kedua sudut bibir Suzy untuk membuat lengkungan ke atas.

//

“Besok aku akan tinggal di apartemen ayahku. Belum tentu aku bisa bertemu denganmu lagi—sampai musim panas tahun depan, atau dua tahun depan.” Ucap gadis itu sambil menggigit cotton candy yang ada dalam genggaman jemari kanannya.

Junho menarik sedikit permen kapas yang dipegang erat oleh Suzy dan bersiap memasukkannya ke dalam mulutnya. “Lama sekali kau akan kembali.” Ia memasukkan segumpal permen kapas berwarna merah muda ke dalam mulutnya.

“Memangnya kenapa kalau aku datang dua tahun lagi kenapa?” Tanya Suzy. Ia mengambil selangkah maju, antrian bianglala sore itu sudah mulai berkurang, dan mereka sudah berada di barisan cukup depan.

Dengan susah payah—karena permen kapas di mulutnya—Junho berkata pelan. “Awku mewrinduwkanmu”

“Apa? Telan dulu permen kapasmu. Aku tidak dapat mendengar apa yang kau katakan barusan.”

Junho menyengir polos dan menggeleng-gelengkan kepalanya “Aku tidak mengatakan apa-apa.” Suzy memberengut dan mencubit lengan kanan Junho yang terbalut jaket warna putih yang sudah kusam.  Bianglala berwarna-warni itu terus berputar, menunggu orang-orang menaikinya. Dan orang-orang pun menunggu Bianglala itu berhenti beberapa menit untuk menaik-turunkan ‘penumpang’ baru.

“Suzy-ya, sepertinya aku lupa menceritakan sesuatu.”

Kedua alis gadis jelita itu terangkat beberapa saat, dan turun kembali. “Bukankah beberapa hari yang lalu kau sudah bilang bahwa ceritamu sudah selesai, ya?” Ia menapakkan kaki masuk ke dalam bianglala, disusul Junho.

“Aku melupakan cerita yang satu ini. Yang.. mungkin paling penting diantara semua yang kuceritakan?”

Jemari kiri dan kanan Suzy bertaut. “Bagaimana? Ayo ceritakan. Aku penasaran.”

Manik mata Junho menerobos kaca pelindung bianglala itu, menuju langit cerah tak berawan. Sesekali ia menggigit bibir bawahnya dan meremas-remas jemarinya sendiri. Keningnya yang berminyak berkerut cukup dalam. Ditelan air liurnya dengan susah payah, dan jakunnya naik-turun beberapa kali.

“Coba ceritakan.” Ujar gadis yang wajahnya sedang dihiasi senyuman manis.

Junho berusaha memberikan senyum untuk mengurangi rasa takut pada dirinya sendiri. “Jadi, beberapa waktu yang lalu–sudah lama–aku sempat pergi ke dokter spesialis jantung.”

Kalimat pertama baru selesai diucapkan, dan lengkungan bibir pada wajah Suzy perlahan luntur, digantikan dengan renyitan dahinya. Tangan besar pemuda itu merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebotol kecil yang berisi pil-pil mungil. “Dia memberiku ini,” Ia mengulurkannya pada Suzy. “Aku membawa ini kemana pun aku pergi, dosisnya tiga kali sehari.”

Suzy meraih botol itu dan melihatnya dengan seksama. Ia memutar botol itu, tidak ada keterangan obat sama sekali. “Apa ini?”

“Semacam vitamin, kata dokter. Untuk jantungku yang lemah.” Jawab Junho, memberi penekanan yang lebih pada dua kata terakhir.

Arah pandang mata Suzy beralih pada Junho yang duduk di hadapannya. “Memangnya jantungmu separah apa? Bukannya tidak pernah kambuh lagi, ya?”

Mendadak pemuda itu tertawa hambar. “Kau tidak tahu kalau jantungku sering mengalami serangan ringan dua tahun terakhir ini? Wooyoung tahu semuanya. Dokter juga sudah mengatakan jika jantungku semakin lemah, denyutnya terdengar jauh.”

Suzy menggigit bibirnya. Telapak tangannya yang berkeringat meremas besi tempat ia duduk. Siapa yang dapat mengira, Junho yang terlihat sehat-sehat saja, ternyata memiliki penyakit jantung yang terus menghantuinya? Gadis itu bahkan tidak tahu jika pemuda di hadapannya itu sering mengalami serangan jantung kecil.  “Vitamin itu tidak membantu sama sekali, menurutku. Malah justru menimbulkan lebih banyak serangan dari biasanya,” Junho menyenderkan tubuhnya pada bangku tempat ia duduk dan mendesah panjang. “Itu, salah satu alasan kenapa aku menyesal saat mendengar kau akan pulang tahun depan, atau dua tahun yang akan datang.”

Mulut Suzy terkunci rapat, entah siapa yang menguncinya. Ia hanya bisa diam, dan mendengarkan Junho berbicara.

“Tenanglah, paling tidak aku sudah mengumpulkan potongan-potongan mozaik milikku yang hilang.” Ucapnya tenang, dan datar. “Lagi pula, kupikir aku sudah bahagia, dan bisa jadi antrianku menuju kematian masih jauh.”

Tidak tahan lagi, akhirnya Suzy membuka mulutnya. “Tapi.. Bagaimana jika.. Bagaimana ji-”

Junho cepat-cepat meletakkan telunjuknya di atas bibir Suzy. “Sshh. Jangan katakan apapun. Kau yang membuatku menjadi seorang yang seperti ini, kan? Apa kau tega membuatku kembali seperti semula ketika akan melompat dari lantai empat?”
Hening. Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir Suzy. Mereka hanya berebut-rebutan oksigen yang ada dalam bianglala itu, udara yang keluar masuk dari jendela kecil bianglala itu mungkin tidak cukup untuk suasana seperti ini. Tangan Junho meraih milik gadis itu dan membimbingnya pada dada kirinya.

“Kau dapat merasakan detak jantungku?” Hanya ada anggukan kecil sebagai jawaban. “Meskipun rasanya jauh, tapi tetap ada. Meskipun harapan itu kecil, tapi akan tetap ada.”

Isakan pertama melonjak paksa keluar dari mulut Suzy, gadis itu tak dapat menahannya lagi. Butiran kristal gadis itu terus meleleh, membasahi pipinya. “Jangan menangis. Jangan menangis, Suzy-ya.”

Tidak ada satu katapun yang dihiraukan gadis itu. Dan Junho melingkarkan tangannya pada tubuh Suzy, memeluk gadis itu erat, menanangkan perasaan gadis itu, meyakinkan bahwa masih ada harapan–sekecil apapun.

//

Suzy menekan bel apartemen Junho dan Wooyoung sekali lagi, lalu mengetuk pintu dari kayu yang sudah dipoles menjadi berwarna putih kusam. Pintu tidak kunjung dibuka. “Junho, Wooyoung, cepatlah buka pintu. Aku tidak ingin membeku di luar sini.” Gumam gadis itu sambil memeluk tubuhnya sendiri. Matanya sesekali melirik ke arah penghangat ruangan yang ada dalam lorong panjang apartemen itu, tetapi rasanya tidak ada pengaruh bagi tubuhnya. Ia tetap merasa kedinginan. Bola matanya beralih pada nomor yang tertera di dekat pintu apartemen itu, nomor 782. Ia yakin benar bahwa itu adalah apartemen yang benar. Untuk ketiga kalinya, ia menekan tombol bel.

“Siapa itu?”

Gadis cantik itu tersenyum tipis. Artinya masih ada orang di dalam. “Ini aku, Bae Suzy. Tolong bukakan pintu untukku.” Gagang pintu itu bergerak, dan terbuka. Muncul seorang pria dengan kaos singlet dan celana momon kedodoran berwarna hitam pekat.

“Kau rupanya. Di luar pasti dingin? Ayo masuk.”

Sambutan hangat dari Wooyoung cukup membuatnya merasa nyaman. Ia masuk dan duduk di sofa ruang tengah, satu-satunya sofa yang ada dalam apartemen kecil itu. Aroma rokok dan wine langsung masuk secara paksa ke dalam lubang hidung Suzy. “Selamat Natal.” Ucapnya sambil menjabat tangan Wooyoung. “Kau juga.”

Pemuda itu melangkah gontai menuju wastafel dan menyikat giginya, seolah tidak memperdulikan ada Suzy yang mengamatinya sejak tadi. “Kwau mwau kowpi?” Tanyanya tanpa melepaskan gagang sikat gigi dari dalam mulutnya.

“Tidak, terima kasih.” Sahut Suzy singkat. Kepala gadis itu melirik ke kiri, dan ke kanan. Matanya berhenti saat menjumpai foto yang dibingkai dengan kayu, foto Wooyoung dan Junho saat berada di bar. “Di mana Junho? Sedang pergi ke Ilsan?”

Wooyoung mengeringkan mulutnya dengan punggung tangan kirinya dan duduk di atas kursi meja makan. “Tidak, dia tidur.”

“Ini sudah jam sebelas siang, dan dia masih tidur?” Tanya Suzy sambil mengangkat kedua alisnya.

Pemuda itu berdahem beberapa kali dan menelan ludahnya. “Dia tidur dan tidak akan pernah bangun lagi.”

//

Dia tidur dan tidak akan pernah bangun lagi. Satu kalimat yang seharusnya sudah menjelaskan semuanya, tetapi tidak bagi Suzy. Kalimat itu masih kurang, sangat kurang. Masih ada pertanyaan-pertanyaan yang belum dikeluarkan dari mulutnya. Apa yang terjadi? Kapan semua itu berlangsung? Kenapa secepat ini? Bagaimana kronologis kejadian ini? Kenapa bisa terjadi?

Wooyoung mengerutkan bibirnya. Sedikit rasa menyesal menyelubungi hatinya, mungkin terlalu cepat jika ia membiarkan Suzy mengetahui hal ini. Terlalu cepat, dan ini bukanlah waktu yang tepat—sama sekali bukan. Matanya menangkap gadis itu menundukkan kepalanya dalam, meski wajahnya tertutup rambut panjang, tetapi ia yakin—seratus persen—gadis itu sedang menangis. “Maaf, aku memberitahumu terlalu cepat.”

Gadis itu kembali mengangkat kepalanya secepat kilat. Ajaib, ia tidak menitikkan setetes air mata pun. “Tidak apa-apa. Terima kasih sudah memberitahuku, Wooyoung.”

Wooyoung menangguk, meski ia tahu ‘Tidak apa-apa’ adalah kata-kata yang terlontar secara otomatis. “Kau tahu, Junho adalah seorang laki-laki yang hebat. Kemauannya sangat keras, mengalahkan semua orang yang pernah kukenal sebelumnya. Ia berhenti merokok, berhenti minum minuman keras, dan mengganti kehidupannya. Seolah membuka lembar baru.”

Suzy menghela nafas, sambil menatap Wooyoung. Tidak ada tanda-tanda ia akan menangis sebentar lagi.

“Berulang kali ia mengalami serangan demi serangan sepanjang tahun-tahun terakhir ini. Ia berhasil menyembunyikannya dariku saat tahun-tahun awal, tetapi tidak pada hari ulang tahunnya yang ke-dua puluh tujuh. Pertama kali saat ia terlihat lemah dan tidak berdaya.” Papar Wooyoung, ia merasa air matanya mengalir di pipinya. “Pernah suatu kali, ia bangun saat subuh dan mengatakan bahwa ia benci penyakitnya. Mengumpat kedua orang tuanya, mengapa mereka harus melahirkan seorang Lee Junho. Memaki-maki dirinya sendiri, benar-benar seperti anak kecil. Tapi aku tahu, itu sungguh manusiawi.”

Suzy mengangguk. Ia dapat membayangkan ketika Junho mengatakan hal-hal itu pada Wooyoung. Ia mengerti, dan paham sepenuhnya.

“Sampai pada musim panas tahun ini, ia mengalami serangan saat sedang pergi menemaniku membeli rokok. Itu serangan paling mengerikan yang pernah kusaksikan. Aku menemaninya di rumah sakit—mungkin selama satu jam—dan monitor yang menunjukkan detak jantungnya hanya menunjukkan garis lurus. Tidak berubah sampai semua perawat melepasnya dari tubuh Junho.” Pemuda itu menangis dan menangis. Ia sungguh terlihat lemah dihadapan gadis yang sama sekali tidak menangis. Punggung tangannya menghapus sisa-sisa air mata yang ada dalam pelupuknya dan tangannya meraih sebuah kertas yang tersimpan di dalam laci yang dikunci.

Wooyoung memegang kertas itu. Ia mengalihkan pandangannya pada Suzy, jika dilihat dengan seksama, mata gadis itu berkaca-kaca. Ekspersi wajahnya tak dapat menyembunyikan kesedihan sama sekali. “Junho, ia ingin aku memberikan ini padamu.”

Uluran kertas itu diterima oleh Suzy. Menarik dan membuang nafas dilakukan gadis itu sebelum membaca torehan tinta warna hitam yang ada di atas kertas pucat itu. Gadis itu tahu apa yang ditulis Junho, jelas-jelas tahu. Ia yang menyuruh Junho menuliskan itu. Ia membekap mulut dengan tangannya sendiri, membaca baris-baris tulisan yang sudah disalin ulang oleh Junho itu. Setetes air mata membasahi pipinya. Dua tetes, tiga, empat, dan seterusnya. Tangisan gadis manis itu pecah ketika membaca akhir dari kertas itu.

Suzy merasa tubuhnya gemetar. Ia menangis begitu keras. Wooyoung juga menangis. Mereka tenggelam dalam suasana yang mengharu biru pada satu ruangan. Gadis itu membenamkan wajahnya di dada Wooyoung dan menangis bersamanya.

Jangan merasa bersalah jika membuatku menangis. Hari ini saja aku akan menangis seperti ini. Kau boleh lihat sendiri nanti, aku akan kembali tertawa, tersenyum, belajar, dan aku akan menjadi dokter yang hebat. Aku janji. Aku janji, Lee Junho..

//

Sekali ujung rokok yang masih menyala terkena percik air, selamanya tidak akan bisa menyala lagi. Rokok akan habis pada waktunya sendiri, hiduplah sesuai dengan pilihanmu sendiri—mematikan rokok yang masih menyala dengan air, atau membiarkan rokok itu mati dengan alami.

fin.

A/N: Tsaaahhh! Akhirnya part 6 dipublish juga~ Tapi masih ada epilog-nya, dan bakal saya password juga. Saya cuma kasih clue buat passwordnya ya, bisa dicari sendiri kok :p

Password Epilog: minuman yang diberikan Junho ke Taecyeon (Part 4)

46 thoughts on “[6] Cigarettes – End

  1. Well, aku suka sama FF ini :’)
    meski FF ini sad ending, aku suka cara berceritanya yang urut *ngelirik FF sendiri* dan semenjak aku baca part 1 sampe part ini aku cukup ngerasa terkecoh karena ceritanya ga sesuai yg kuduga. dlu aku sempet mikir Suzy itu makhluk dunia fantasi -_-
    Itu quote terakhir dr ‘Autumn in Paris’ kan?
    Keep Writing ya🙂

    • Thanks ya, temenku juga ada yang ngira kalo Suzy itu hantu hehe.
      Jujur, pertama kali baca komentar ini saya bingung, soalnya ngga ngerasa ngasih password (meski akhirnya inget ini author tetap yg nulis Evening Sun kan? Hehe)
      Sebelumnya maaf ya, kalo bagi saya pribadi, author tetap juga harus komentar di setiap part seperti reader lainnya. Bukan cuma komentar di satu part, lalu tiba-tiba nongol di part terakhir. Tolong kerja samanya ya=]

  2. thor thank pw’a ya…
    yah cerita ‘a sad ending..
    tp aku ska sma ff ne krna alur’a susah di tbak n bda ma ff laen…
    aku tggu epilog’a ya thor

  3. aku ngga tau kenapa, aku tuh udah tau akhir autumn in paris
    tapi aku tetep dagdigdug baca ending yang ini

    walaupun punya kesamaan alurnya, tapi authornya hebat bisa ngemas ceritanya sedemikian rupa sampe yang baca ngerasa baru tau sama cerita itu

  4. Akhirnya baca endingnya, makasiiih atas PW nya🙂

    Ceritanya bagus banget, sedih ngebayangin junho kaya gitu, pasti sakit tapi dia tetap berusaha kuat n tegar menghadapi semuanya.

    “Meskipun harapan itu kecil tapi akan tetap ada”. »» Good!!!. Ada makna yg dapat dipetik dari cerita ini…

  5. Knp junho cerita nya harus mati,kasihaaan bangwet…Walaupun akhir nya sad ending..tp menurut ku cerita nya baguuus bangeet..aku jd ikut” mau nangiss…alur nya juga tersusun dgn baik n susah di tebak..

  6. wah akhirnya junho meninggal jg…
    sedih bgt, apalgi meninggalnya gak ada suzynya….

    wuih keren bgt ni ff, suka deh…
    btw maaf ya br baca, meskipun sdh d kasih pwnya sdh lama, abis aku sibuk bgt..

  7. huft … udah end, end nya juga sad😥 sayang banget junho harus meninggal TT, Apalgi ga ada suzy waktu itu. la min nanti suzy sama siapa?ama woo ya min hehhehh #plak
    keren min critanya tiap part bikin pensaran mau baca prt selnjutnya dan mian min baru bca pdhl udh ngasih pw lama banget ^^v

  8. wuuuaaaaa . . . . berkaca2 deh aku. . . .
    asli keren bgt. . terharu biru. . .#plak lebay. .
    knpa junhoppa pergi tanpa suzy di sampingnya .. hiks hiks. . .
    daebak . . .

  9. Dari ff yg byk aq baca ff nya junho endingnya slalu junho mati, klo gag dya ngalah always sad ending… Pengen baca ending ff nya suzy sma junho yg happy ending (request klo ada yamg tau judulnya)

  10. Gilaaa FF nyaa sadiis bangetttt.. Sad ending T.T
    bener bener ngga bisa ditebak ceritanyaa..
    Huahh keren thor, Daebaaakkk..
    Ditunggu cerita JunZy lainnyaa.. Tp jngn sad end lagi yaaaa, hhee

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s