[FF Freelance] I Wish I Were You (Part 9)

Tittle

I Wish I Were You

Author

Hyukkie44bee

Main Cast

Lee Hyuk Jae (a.k.a Hyukkie – HaJe)

Lee Seung Hyun (a.k.a Seungri)

Park Gyuri

Genre

Romance

Length

{9/10} Prediction only.

Rate

PG 17+

Note

This chapter is dedicated for HyukRi couple.

Previous part: Part 1, Part 2, Part 3, Part 4, Part 5, Part 6, Part 7, Part 8

Happy Reading 😀

15 July 2012

Golden House – Seoul

09.00 a.m

“ini…. minumlah…!”

“terimakasih…!”

“dari mana saja kau? Hemm?”

“banyak hal yang harus aku selesaikan nuna, maaf merepotkanmu…” Gyuri menggeleng, dia sediakan satu piring toast dengan selai coklat almond kesukaan Seungri. “a-aku— merasa harus bertanggung jawab atas meninggalnya Min Ah..”

“semua orang tau itu bukan salahmu!”

“tapi tetap saja, gara-gara aku, dia, harus mati ditangan kekasihnya sendiri…” Gyuri merapatkan posisi duduknya di dekat Seungri, dia belai halus punggung Seungri, sedikit memberikan dukungan dan kasih sayang padanya.

“kau tidak merindukan kakakmu?”

“tidak …” jawab Seungri sambil menikmati champagne-nya.

“benarkah?” Gyuri tersenyum mengejek. “setiap hari dia menunggumu. Walaupun dia sama sekali tak menyebut namamu, aku tau, dia sangat meridukanmu!” kali ini giliran Seungri yang tersenyum, tapi bukan senyuman nakal seperti biasanya, senyum Seungri kala itu masih menyisakan gurat penyesalan yang teramat dalam atas kepergian Min Ah yang merelakan nyawanya demi melindungi Seungri tentunya.

“nuna-ya… terimakasih atas cinta yang kau berikan untuk keluarga kami. Untukku dan untuk kakakku…” Gyuri tak menjawab ucapan terimakasih Seungri, pandangan matanya masih terfokus pada Hyuk Jae dan Cae Rin yang sedang duduk berdua di taman. Keduanya tampak sangat bahagia, ceria, tertawa bersama.

“Seungri-ya.. aku ingin tau, mengapa semua laki-laki di sekitar keluarga Lee begitu memuja Lee Hyuk Jae? Begitu juga denganmu? Mengapa kau, terlihat terlalu menyayangi kakakmu?”  Gyuri ingin tau, alasan apa yang dilontarkan Seungri padanya. Dia tau betul, kasih sayang tentu saja tidak ada batasnya, tapi Gyuri merasa ada rahasia besar yang berusaha mereka tutupi darinya.

“jangan bilang nuna merasa cemburu pada kami karna kami terlalu dekat dengannya!!” Seungri tertawa. Keras. Seperti biasanya. Gyuri hanya tersenyum menanggapi reaksi dari Seungri, dia semakin yakin ada hal lain yang disembunyikan oleh Seungri padanya.

“aku serius..”

“kami semua berteman, saling menyayangi sesama teman bukankah itu wajar? Dan aku, nuna tanya mengapa aku begitu mencintai laki-laki yang sedang menggoda kekasihku itu?” Seungri mengarahkan pandangannya pada dua sosok yang begitu Seungri kenal yang sedang bercanda gurau di taman lantai bawah rumahnya itu. “aku adiknya, dan dia kakakku, tentu saja aku harus menyayanginya…!”

“benarkah?” Seungri mengangguk cepat. “kau-belum mempercayaiku sepenuhnya rupanya?” Gyuri menghela nafas panjang. Dia sibakkan poni tipis barunya yang sedikit membuatnya risi.

“nuna-ya!” Seungri meneguk habis champagne yang ada di genggamannya. Sedikit lama Seungri berfikir, tapi ia tau, hari itu adalah saat yang tepat menyampaikan sepenggal kisah hidupnya pada Gyuri, wanita yang ia harapkan bisa menjadi pendamping terbaik untuk kakaknya. “dia, Lee Hyuk Jae, adalah penyelamatku. If I have a chance to reborn in this world, I wish I were him…” Seungri menyandarkan punggungnya pada kepala sofa yang ia duduki. “eomma dan kakakku, mereka berdua menyayangiku tulus, tanpa melihat dari mana asalku..”

“maksudmu?” Semakin bingung, Gyuri berusaha mencerna dengan baik kalimat-demi kalimat yang diucapkan Seungri.

“aku bukan anak kandung keluarga Lee. Aku bukan adik Lee Hyuk Jae.” Kedua mata Gyuri terbelalak, ‘bukan anak kandung’ lalu siapa Seungri sebenarnya?

“aku anak dari Jang Eun Hye, cinta pertama appa dari Lee Hyuk Jae. Saat aku masih bayi, appa kandungku menyiksa ibuku, kemudian meninggalkan kami berdua sendirian. Suatu hari eommaku pergi mencari Lee appa, eomma meminta pada Lee appa agar mau merawatku. Tak berselang lama setelah itu, eommaku meninggal karna penyakit yang telah lama di deritanya.” Penjelasan Seungri terhenti, suaranya melemah, Seungri menahan tangis dalam dada penatnya. Gyuri meremas jemari Seungri, merasa bersalah membuat laki-laki periang ini harus menceritakan kenangan pahit masa lalunya.

“aku dirawat dengan baik oleh keluarga Lee, bahkan nama Lee Seung Hyun yang aku sandang sekarang, adalah nama dari eomma baruku, yang tak lain adalah ibu kandung dari Lee Hyuk Jae. Baik eomma, appa, dan juga kakak, mereka semua menyayangiku, bahkan sangat menyayangiku.  Terkadang aku merasa mereka terlalu berlebihan padaku. Semakin lama, appa cenderung lebih memanjakanku dari pada kakak yang notabene adalah anak kandungnya. Kakak lebih sering diacuhkan, lebih sering tak dianggap keberadaannya. Tapi begitulah kakakku, dia tidak pernah mengeluh, dia bahkan tak pernah membalas apapun terhadapku.”

“kau beruntung Seungri-ya..”

“benar. Kau sangat benar nuna.” Seungri menghela nafas panjang. “Nuna pernah melihat tubuh kakakku kan? Luka-luka di punggungnya adalah perbuatan appa. Saat ulang tahunku yang ke 8, kakak mengajakku bermain bersama, tanpa sengaja aku terserempet mobil sepulang bermain bola di lapangan. Aku tidak apa-apa sebenarnya, hanya lecet dan sedikit memar, tapi Appa sangat marah, beliau menghajar kakak tanpa ampun…” Seungri memejamkan matanya, seolah tak ingin mengingat kejadian itu kembali. “bukan hanya itu, aku pernah terjatuh saat pulang sekolah, itu semua adalah salahku, tapi kakakku yang mendapat hukuman. Appa menghajar kakak hingga kepalanya terbentur dinding, sangat keras, kakak sempat pingsan karnanya. Itu sebabnya penglihatan kakak sedikit kabur, dia terpaksa mengenakan kaca mata sejak kecil gara-gara aku..” setetes air mata jatuh di pipi Seungri. Walaupun kedua matanya masih terpejam, namun akhirnya air mata itu tetap lolos dari sarangnya juga.

“jangan diteruskan. Cukup. Aku sudah cukup mendengar semuanya.. maafkan aku karna terus memaksamu menceritakan semuanya padaku. Maafkan aku…”

“aku baik-baik saja nuna!” Seungri buru-buru menghapus air matanya. “ ini memang sudah saatnya nuna mengetahui semuanya… “

Cukup lama Gyuri berfikir. Haruskah dia memaksa Seungri menceritakan apa yang ingin dia ketahui dari keluarga Lee? Ataukah dia  simpan saja rasa ingin tau itu?

“jadi….sejak kapan kau mengetahui kebenaran ini?” akhirnya pertanyaan inilah yang Gyuri pilih untuk diajukan pada Seungri.

“diulang tahunku yang ke 13, aku mendengar perdebatan antara appaku dan beberapa paman-pamanku. Mereka terus membicarakan mengenai ahli waris perusahaan. Karna aku penasaran, aku berusaha mendekat ke arah mereka. Belum sempat aku mendekat, salah satu diantara mereka menyebutkan bahwa aku ‘bukanlah anak kandung’ dari keluarga Lee. Itu sebabnya aku tak pantas menjadi salah satu dari ahli waris kekayaan keluarga Lee, begitulah kata mereka..”

“lalu… apa yang kau lakukan?”

“aku mengintip mereka… di dalam sana ada eomma dan kakak. Aku sempat marah karna merasa dibohongi. Tapi diwaktu yang bersamaan aku juga bersyukur, selama ini aku memiliki eomma dan kakak yang begitu baik padaku. Mereka terus merawatku dengan baik padahal sudah jelas aku bukan bagian dari mereka…”

“eum… Seungri-ya. Maaf aku lancang.. lalu, mengenai warisan itu?”

Seungri tersenyum kecut. “emas?” tanya Seungri yang langsung di jawab sebuah anggukan oleh Gyuri. “saat kakak pergi, appa sepertinya baru menyadari, betapa seorang Lee Hyuk Jae, anak kandung dari wanita luar biasa yang dinikahinya secara terpaksa itu, adalah orang yang sangat berharga untuknya. Setelah satu tahun kepergian kakak, eomma meninggal karna sakit jantung, dan aku membantu bekerja di perusahaan appa. Tampaknya appa sudah merasa bahwa beliau akan segera pergi untuk selamanya sebelum meminta maaf pada kakak, jadi appa meninggalkan peninggalan emas itu untuk kakak sebagai ucapan maaf darinya.”

“mereka bilang kau sudah mengambil bagian emas milik kakakmu itu?”

Seungri tersenyum lagi mendengar ucapan nuna-nya. “aku-juga mendapatkan emas itu nuna. Setelah satu minggu kepergian appa, pengacara pribadi appa memberikan dua buah amplop padaku. Satu amplop bertuliskan namaku, dan satu lagi nama kakakku. Butuh waktu dua minggu untuk memecahkan maksud dari teka-teki peninggalan appa untukku. Dan—ternyata peninggalan appa untukku adalah setumpuk emas.”

“setumpuk emas?” tanya Gyuri tak percaya.

“ehemm” Seungri mengangguk mengiyakan. “ aku tidak menghitung jumlah pastinya berapa, yang aku tau, aku menemukan tumpukan emas setinggi satu meter dengan panjang lima meter dan lebar tiga meter itu di ruang bawah tanah di perushaan tekstil pertama appa di Busan.”

“waw….” Gyuri masih tak percaya. Apakah benar keluarga Lee sekaya itu? “lalu…?”

“aku membaginya menjadi beberapa bagian. Yang pertama untuk Hatori hyung. Dia teman senasib kakakku, jadi aku mempercayakan sebagian besar emasku untuk mendirikan beberapa perushaan dan hotel di Jepang. Yang kedua untuk Jin Ki hyung, dia temanku dan teman kakakku dari panti asuhan, aku memberikan sebagian emasku untuk mengolah restaurant dan beberapa panti asuhan yang tersebar di beberapa kota di Korea. Sebagian lagi, aku berikan pada Louis hyung untuk pengembangan pabrik susu di New Zeland. Dan yang terakhir, untuk Min Woo, dia orang kepercayaan keluarga kami. Min Woo memusatkan kinerjanya di Korea.”

“lalu… Joon?”

“Joon Hyung, dia sahabat karib kakakku. Setelah kakak pergi, dia sama sekali tak mau terlibat dalam urusan keluargaku lagi. Tapi aku sudah mempersiapkan beberapa rumah sakit untuk dia urus kelak…”

“kau bertindak cukup dewasa Seungri-ya.. anak seusiamu mungkin akan menghabiskan semuanya untuk bersenang-senang dari pada untuk itu semua..”

“mungkin saja nuna.. tapi aku sudah cukup puas dengan uang yang aku miliki. Aku bisa mandi uang setiap hari, dan aku tidak membutuhkannya lagi. Orang-orang di sekitar hyung-nyung ku lah yang lebih membutuhkan..” jawab Seungri jujur.

“jadi benar kata mereka, perushaan yang kau pimpin maju pesat, itu semua karna kerja keras dan niat tulusmu..”

“lebih dari itu nuna, emas itu, tentu berpengaruh cukup besar dalam hal ini, begitu banyak hal yang bisa aku dapat dari emas itu. itu sebabnya banyak orang mulai mengincar kakakku.. mereka tidak tau jumlah emas yang ditinggalkan appa untuk kakak, tapi mereka yakin emas itu cukup untuk menghidupi diri mereka dan keluarga mereka hingga tujuh turunan tanpa harus bekerja keras mencari uang”

“tidak dapat dipercaya…” mulut Gyuri menganga mendengar paparan dari Seungri. Seungri tertawa keras melihat expresi takjub yang tak henti-hentinya dipertontonkan Gyuri.

“nuna..” Seungri memukul pelan lengan atas Gyuri, membuat  Gyuri segera menutup mulutnya yang sempat terbuka beberapa detik lamanya.

“eumm… lalu bagaimana dengan kakakmu? Mengapa ia sama sekali tak mengetahui keberadaan emas itu?”

“tentu saja dia tidak tau. Kakak tidak ada di Korea saat ayah meninggal, begitu juga saat penyerahan wasiat itu berlangsung, jadi tidak heran jika dia tidak tau apa-apa tentang emas itu..!”

“kakakmu, dia, tidak menghadiri pemakaman ayahmu?” Seungri menggeleng. “lalu ibumu?” Seungri menggeleng lagi.

“saat ibu meninggal, kakak juga sedang sakit. Dari informasi yang aku dapat, kakak sempat di rawat di New York setelah kecelakaan di Laguna Seca. Dia sempat tidak membalap selama 7 bulan lamanya. Dan, ayah.. mungkin, kakak belum bisa melupakan kejadian yang menimpa Nara nuna, jadi, dia memutuskan untuk tidak pulang……”

“eummm… aku rasa ceritamu cukup sampai di sini saja. Sana!! Temui kakakmu!” Gyuri mengakhiri sesi wawancaranya dengan Seungri, bagian cerita mengenai Nara tampaknya kurang pantas jika harus Seungri pula yang menceritakan padanya. Mungkin suatu saat nanti, jika waktunya tiba, Gyuri akan mendapatkan jawaban langsung dari mulut kekasihnya, Lee Hyuk Jae.

“dia baik-baik saja kan?” Gyuri mengangguk.

“Semangat yang dimiliki kakakmu untuk menjalani hidup melesat jauh lebih tinggi pasca vonis yang dijatuhkan Joon untuknya. Tapi, setelah lima belas hari menjadi anak penurut, akhirnya dia bosan. Tadi pagi Cae Rin mengajak kakakmu pergi ke Gereja bersama. Mereka tampak senang sekarang.”

“benarkah? Kakakku menuruti Joon hyung dengan baik rupanya!!”

“dia hanya tidur, berbaring, dan menonton tv. Aku bahkan lelah hanya dengan melihat dan menemaninya, tapi anehnya kali ini dia bersabar. Tak ada keluhan sedikitpun darinya. Mungkin dia benar-benar ingin segera sembuh mengingat race selanjutnya akan di gelar 3 minggu lagi. Seingatku poinnya hanya terpaut 5 angka dari rider posisi pertama. Kakakmu punya kesempatan besar menjadi juara dunia lagi musim ini..” jawab Gyuri semangat.

“nuna.. tidak khawatir dengan kakak?” tanya Seungri tanpa melihat ke arah Gyuri.

“sedikit..”

“nuna tidak takut?” lanjut Seungri dengan nada datarnya.

“entahlah… aku hanya berpikir positif. Mati sekarang ataupun nanti itu sama saja. Tidak ada yang salah dengan profesi yang dipilih kakakmu, kita hanya perlu menjalaninya dengan baik dan berdoa. Bukankah begitu?”

“,………………..” Seungri hanya diam. Tak sepenuhnya percaya bahwa setelah kejadian mengerikan itu, Gyuri, wanita yang diyakini Seungri sangat mencintai kakaknya itu masih mengijinkan laki-lakinya menjalani hari-hari pertaruhan nyawa di arena circuit. Sulit dipercaya.

“baiklah.. aku harus pergi. Cepat temui kakakmu… oke!!”

Gyuri meninggalkan Seungri sendirian di atas balkon rumah mewah mereka. Ya. Setelah kejadian mengerikan itu, hati Hyuk Jae tiba-tiba saja luluh. Ia bersedia kembali pulang untuk tinggal di rumah mewah mereka yang terletak di pinggiran kota Seoul. Dari jauh Seungri mengamati gerak-gerik kakaknya yang sedang tertawa lepas bersama Cae Rin kekasihnya. Benarkah pemandangan yang sedang ia lihat itu adalah sebuah kenyataan? Atau setelah ini, Seungri akan terperanjat bangun dari tidur malamnya? Membingungkan.

–o-o

At Night

Hyuk Jae’s Private Room

07.00 p.m

Tok tok ~

“masuklah….!!”

Seungri masuk dengan sebuah tray di tangannya. Ada sebuah soup bowl dan segelas susu berkalsium tinggi di atasnya. Beberapa macam buah segar sudah ditata dengan cantik di atas soucer kecil di sebelah barisan soup spoon dan fruit fork di sana. Hyuk Jae tersenyum kecil melihat kedatangan Seungri malam itu. Bagaimanapun juga, dia sangat merindukan adiknya karna setelah kejadian mengerikan itu, Seungri tak pernah muncul di hadapannya bahkan setelah ia membuka mata untuk pertama kalinya. Hanya ada Gyuri dan Jinnie yang terlihat begitu lelah setelah belasan jam menunggu kesadaran Hyuk Jae yang berjuang sendirian menghadapi masa-masa kritisnya.

“Makanlah dulu…” ucap Seungri hangat saat dia meletakkan tray yang ia bawa di atas meja kecil di samping tempat tidur Hyuk Jae. Kemudian Hyuk Jae meletakkan majalah yang ia baca dan kaca mata minusnya di samping tempat tidurnya. “perlu aku suapi?” Hyuk Jae menggeleng sambil tersenyum.

“terimakasih, tapi aku bisa sendiri..” jawabnya singkat. Tangannya meraih soup bowl yang disodorkan Seungri. Masih hangat dan terlihat enak. Walau menu itu adalah menu yang sama yang ia makan selama kurang lebih 15 hari lamanya, tapi Hyuk Jae tak pernah protes.

“apa itu enak?” tanya Seungri saat dia melihat kakaknya terlihat sangat menikmati soup aneka sayur tanpa bumbu lain selain bawang merah dan bawang putih yang ia makan. Hambar, tak ada rasanya.

“enak…” jawab Hyuk Jae saat dia berhasil menelan separuh dari soupnya malam itu.

“nuna bahkan tak memasukkan garam dan penyedap rasa sedikitpun di dalamnya..”

“tapi ini cukup enak, kau mau coba?”

“tidak, terima kasih” jawab Seungri segera. “ini minumlah…” Seungri menyodorkan gelas berisi susu itu kepada Hyuk Jae saat dia lihat soup bowl yang ada di genggaman tangan Hyuk Jae sudah tak berisi. “lalu buahnya?”

“tidak, aku sudah kenyang..”

“baiklah….”

“………. “ tepat setelah Hyuk Jae meletakkan gelas berisi separuh dari susu yang ia minum, keheningan tiba-tiba menyeruak di dalam kamar Hyuk Jae. Seungri diam, begitu juga dengan Hyuk Jae. Entahlah, mengapa keduanya merasa begitu canggung memulai pembicaraan mereka. Sampai akhirnya Seungri bangkit dari duduknya beralih ke arah kaki Hyuk Jae. Dia naik ke atas ranjang kemudian membuka selimut yang menutupi kedua kaki Hyuk Jae.

“kenapa masih dibungkus gips setebal ini?” tanya Seungri dengan wajah sedihnya.

“tidak biasanya kau tidak mengetahui apa yang terjadi selama ini….” Ejek Hyuk Jae. Tentu saja dia bersikap seperti itu, pasalnya, menurut sepengetahuannya Seungri tidak pernah melewatkan sedikitpun informasi tentangnya selama ini semenjak Hyuk Jae kembali ke Korea beberapa bulan yang lalu.

“jadi kau tidak mau menceritakannya padaku?”

“dr. Blaire menanam sebuah platina di kakiku, tentu saja kakiku harus di bungkus gips sialan ini lagi dalam waktu yang cukup lama…hufftthhhh”

“dr. Blaire?” Hyuk Jae mengangguk. “Jadi bukan Joon hyung yang melakukan oprasi ini?” Hyuk Jae menggeleng.

“aku tidak akan merelakan kakiku untuk jadi objek percobaan Joon lagi. Sudah cukup dengan perbuatan konyolnya melubangi panggulku, itu sangat sakit. Dan aku tidak mau mengulanginya lagi..!!” jawab Hyuk Jae dengan ekspresi ngerinya.

“setidaknya, setelah melakukan Bone Marrow Test semuanya jadi jelas kan? Tidak ada penyakit apapun di tubuhmu, pengaruh obat penenang itu sekitar 15% meracuni system motorikmu, itu sebabnya kau sering sakit kepala saat pikiranmu kosong atau memikirkan sesuatu yang terlalu berat. Tapi itu bisa dikatakan aman selama kau tidak mengkonsumsinya lagi…”

Benar. Hari itu, Joon membaca kertas hasil tes darah Hyuk Jae dengan perasaan haru biru. Sedikit berlebihan memang, karna Joon pikir, dia harus merawat temannya sendiri yang mungkin terkena penyakit parah seperti leukemia atau kanker lainnya. Joon merasa sangat bersyukur, hingga tak tau harus mengekspresikannya dengan cara apa. Hasil tes itu menyatakan bahwa Hyuk Jae bebas dari kanker, tumor, atau penyakit-penyakit berbahaya lainnya. Satu-satunya hal yang membuat susunan darahnya tak beraturan adalah akibat pencemaran obat-obatan penenang yang dikonsumsi Hyuk Jae. Ditambah lagi tes darah yang dilakukan Joon saat di Madrid dilakukan tanpa melalui prosedur yang tepat. Itu sebabnya pihak rumah sakit memberikan laporan yang salah pada Joon.

“tckkk… lagi-lagi semua orang membela Joon. kau tidak tau rasanya saat panggulku dibor… aishhh… aku tidak mau mengingatnya lagi!”

“sudahlah… jangan berlebihan, yang penting semuanya baik-baik saja, itu cukup bagiku. Aku tidak ingin kehilangan siapapun lagi, sudah cukup aku merasakan kesepian selama ini….”

“Seungri-ya…” Hyuk Jae menatap wajah adiknya sendu. Sementara Seungri terus menatap kaki kanan Hyuk Jae yang masih terbungkus gips tebal yang sekarang ada di pangkuannya.

“hyung,, tidakkah kau kasihan dengan kakimu ini? Nuna bilang, tiga minggu lagi kau sudah harus menjalani race kesebelasmu musim ini?”

“aku akan melewatkan race tiga minggu yang akan datang. Aku akan mulai balapan lagi di race kedua belas…”

“hyung…..”

“jangan khawatir, aku baik-baik saja….”

“…………….” Seungri tak menjawab. Dia letakkan kembali kaki bergips itu di tempatnya, tak lupa ia menutup kembali kaki itu dengan selimut yang sempat ia singkirkan sembarangan di atas ranjang. Perlahan Seungri berpindah posisinya dari duduk menjadi tidur di samping Hyuk Jae. Dia letakkan kepalanya di pangkuan Hyuk Jae yang sedang duduk dengan menempelkan punggungnya di kepala ranjang.

“Hyung… sekali saja, turutilah permintaanku.. aku mohon..!!” pinta Seungri memelas. Tangan Hyuk Jae mengelus lembut kepala Seungri. Menunjukkan bahwa Hyuk Jae sangat mencintai adik satu-satunya itu.

“musim depan aku akan melakukannya, untukmu dan untuk Gyuri. Tapi untuk saat ini, ijinkan aku melakukan semuanya untukku sendiri. Jangan memohon apapun yang terlalu berat padaku, aku tak mau mengecewakan siapapun saat aku tak dapat memenuhi permintaan itu.”

“aku mendengar semuanya dengan jelas. Dan aku akan mengingat dan menagihnya suatu saat nanti…”

“aku berjanji…!!”

“gomawo, hyung..” keduanya tersenyum, merasakan kehangatan kasih sayang yang dipancarkan oleh diri mereka masing-masing. Bagi mereka, sebenarnya tak pernah ada kata anak kandung dan anak angkat. Keduanya merasa, bahwa mereka sudah ditakdirkan bersama dalam ikatan saudara, tak ada sedikitpun niatan mereka untuk mencegah atau menghancurkannya.

“giliranku,.. aku ingin minta sesuatu darimu…”

“apa?” Seungri memutar kepalanya ke arah Hyuk Jae.

“siapkan tempat indah untukku dan untuk nunamu. Undang semua saudara dan sahabat kita. Aku ingin semuanya merasakan kebahagiaan yang aku rasakan..”

Seungri segera bangkit dari posisinya kemudian ia peluk erat kakak terbaiknya. Seungri tersenyum bahagia dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut kakaknya. “baik….aku akan menyiapkan semuanya dengan baik..” jawab Seungri antusias. Hyuk Jae langsung menyambutnya dengan balasan pelukan dan senyuman lebar yang tergambar jelas di bibirnya.

–o-o

25 July 2012

Cheongsando – Lee’s Private Villa

08.00 a.m

Tak biasanya dua pria muda Lee ini bangun pagi jika mereka tidak ada jadwal ke Gereja. Tapi tidak pagi itu, mereka berdua sudah menginjakkan kaki mereka di villa pribadi milik keluarga mereka yang tak lain adalah tempat dimana ayah dan ibu mereka dimakamkan. Mereka hanya pergi berdua, tanpa pengawalan dari siapapun, Max ataupun Woon. Hari itu, mereka hanya ingin menghabiskan waktu berdua saja. Mengenang masa-masa indah mereka.

Seungri dengan wajah bahagianya terus mendorong kakaknya yang sedang duduk di kursi rodanya dengan penuh semangat. Begitu juga dengan Hyuk Jae, walaupun dia agak risi dengan perlakuan berlebihan Seungri terhadapnya, tapi Hyuk Jae tak dapat berbuat apa-apa selain menurut. Bahkan kaki ekstra yang biasa ia pakai untuk berjalan sengaja ditinggal begitu saja di dalam mobil oleh Seungri dengan alasan akan sangat merepotkan jika harus melihat kakaknya berjalan terseok-seok dengan kaki besinya.

“kenapa kau membangun kuil di tempat sejauh ini, aishhh… pasti butuh waktu yang sangat lama jika aku harus berjalan kaki sendiri ke mari!”

“tentu saja, itu sebabnya aku lebih suka mendorong kursi rodamu dari pada harus menunggumu berjalan menuju kemari, bisa dipastikan aku harus menunggumu seharian untuk sampai di sini.!”

“tapi tetap saja, memang seharusnya aku berjalan kaki sendiri kemari, ibu pasti sedih melihatku seperti ini!” jawab Hyuk Jae parau, dia tau, sekalipun ibunya sudah tak ada lagi di sisinya, namun dia selalu merasa ibunya akan selalu mengkhawatirkannya, dimanapun ia berada.

“ibu tidak akan sedih, dia sudah terbiasa melihatmu dengan keadaan menyedihkan seperti ini…!”

“yak…. Kau pikir aku mau seperti ini haaa….!”

“hanya kau yang dapat menjawab pertanyaan itu!” jawab Seungri santai. Dia masih mendorong kursi roda Hyuk Jae. Beban yang harus didorong Seungri mungkin sedikit bertambah berat kala itu. Karna, dipangkuan Hyuk Jae ada dua buket besar bunga lili dan dua pot anggrek tanah, bunga-bunga kesukaan ibu mereka. Seungri juga harus membawa beberapa buah dan makanan yang sudah dikemas dipunggungnya.

“harusnya Max atau Woon ikut serta bersama kita, paling tidak mereka bisa menggantikanmu mendorongku!” Hyuk Jae dapat merasakan jika adik kecilnya sudah merasa lelah, karna dia merasa laju kursi rodanya yang mulai melambat. “kita bisa istirahat dulu jika kau mau!”

“yak.. kenapa hari ini kau cerewet sekali haa!!!”

“kenapa kau marah? Aku, hanya mencoba memperhatikanmu! Dasar tidak tau diri!”

“kau hanya perlu menutup mulutmu Lee Hyuk Jae! Itu sudah cukup!”

“baiklah, Tuan Muda Lee!!” ejek Hyuk Jae.

Setelah dua puluh menit berlalu, sampailah mereka di sebuah kuil kecil tempat peristirahatan terakhir kedua orang tua mereka. Kuil itu begitu indah, karna banyak bunga-bunga liar terpelihara ditanam di sana. Di sekeliling kuil juga tampak bersih dan asri karna ada orang yang memang bertanggung jawab merawatnya.

Seungri membantu Hyuk Jae berdiri dengan meletakkan lengan kakaknya dibahunya, dia berjalan pelan agar kakaknya dapat mengikuti ritme langkahnya.

“are you ok?” tanya Seungri saat melihat ekspresi kaku Hyuk Jae. Dia tau, setelah pergi dalam waktu yang cukup lama, Hyuk Jae pasti masih merasa tak biasa dengan keadaan seperti ini.

Hyuk Jae hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Seungri. Lengan kirinya bertengger di bahu Seungri, sedangkan tangan kanannya menggenggam seikat bunga lili yang ia bawa tadi. Seungri membantu kakaknya duduk di sebuah bangku yang sudah di siapkan penjaga kuil untuk mereka.  “letakkan bunganya di sini!” perintah Seungri sambil meletakkan vas bunga bening yang sudah berisi air.  Tangan Seungri tampak sangat terampil menata makanan dan buah-buahan yang ia bawa di sebuah piring sesaji.

Tak lama setelah itu, mereka hanyut dalam keheningan. Keduanya sama-sama memanjatkan doa terbaik untuk kedua orang tua mereka. Seungri memejamkan kedua matanya agar dia dapat berdoa dengan kusyuk. Sedangkan Hyuk Jae, tak dapat mengistirahatkan kedua matanya untuk tidak mengamati setiap inci dari kuil yang baru saja ia masuki itu.

Kuil kecil itu tidak tampak seperti kuil kebanyakan. Kuil itu, bisa dikatakan hampir menyerupai rumah singgah kecil sederhana. Dinding kuil tersebut dipenuhi foto-foto keluarga mereka. Foto ayah mereka, mulai dari bayi hingga tua. Begitu juga dengan ibu dan juga Seungri, peristiwa-peristiwa penting di kehidupan mereka juga terabadikan pada foto-foto yang tergantung di dinding kuil tersebut.

“ada apa?” tanya Seungri yang hanya di jawab sebuah gelengan oleh Hyuk Jae. “kau pasti heran, mengapa hanya foto-fotomu saja yang berbeda kan?”

“……………………” lagi-lagi pertanyaan retoris itu keluar dari mulut Seungri.

“kuil ini dibangun satu minggu setelah ayah pergi. Aku dan Cae Rin yang menata semua interior di kuil ini, termasuk foto-foto itu. Cae Rin bilang padaku, hidupmu terlalu tidak indah untuk diabadikan ke dalam sebuah foto, dia sama sekali tak ingin melihatmu bersedih walaupun hanya dalam foto. Jadi, aku memutuskan untuk menggantung semua fotomu saat tersenyum. Walau senyummu itu menjijikkan, tapi itu lebih baik karna setelah aku menggantungnya Cae Rin terlihat sangat bahagia karnanya.”

“kau ini!! Aishhh…!”

“kenapa? Memang senyummu menjijikkan! Semua orang tau itu!”

“huffftthhhhhhhh…. Baiklah. Aku menyerah!” Seungri tersenyum senang.

“ssstttttt! Diamlah, aku harus menyapa ayah dan ibu dulu!” Hyuk Jae mengangguk tak mengerti. “ayah, ibu… “ sapa Seungri dengan nada ceria yang jelas sekali dibuat-buat. “Aku datang. Lihatlah siapa yang ada di sini! Kalian belum lupa kan siapa dia?” ucap Seungri yang langsung mendapat hadiah senyuman getir di bibir Hyuk Jae. “kakak datang untuk menjenguk ayah dan ibu. Apa ayah dan ibu senang?” Seungri menyunggingkan senyumnya, sebisa mungkin Seungri tak menjatuhkan air mata harunya kala itu. “yak.. Hyung! Katakan sesuatu pada mereka!”

“……………..” bingung, Hyuk Jae tak tau harus mengatakan apa pada abu ayah dan ibu-nya.

“ibu, ayah.. maaf, aku pikir kaka—-“

“ibu….” Ucap Hyuk Jae lirih. “ayah…. Maaf!” Hyuk Jae menangis. Ada rasa sesak di dada Hyuk Jae saat dia ingin mengeluarkan kata. Rasa sakit dan rindu yang Hyuk Jae rasakan bercampur jadi satu. Ia yakin, tak ada rasa kebencian di hatinya, tapi,.. entah mengapa mulut itu terasa begitu kelu saat ingin mengeluarkan kata sapaan untuk ayah dan ibu-nya. Dua orang yang juga sangat penting di kehidupannya tentunya.

Kedua mata Seungri mulai berkaca-kaca.  Dia bangkit dari kursinya kemudian menghadiahi sebuah pelukan hangat untuk kakaknya.

“hyung…! Gomawo!” Hyuk Jae mengusap lembut punggung Seungri. “kau tau, selama kau pergi aku merasa sangat sepi. Itu sangat menakutkan”

“eumm.. aku juga merasa begitu. Maafkan aku, karna aku tak meninggalkanmu sendirian waktu itu”

“setelah ini, aku mohon, jangan pergi lagi!”

“tidak akan!”

“janji!” Hyuk Jae hanya mengangguk. “ayah dan ibu pasti sangat senang kita berdua datang ke sini. Mereka sangat merindukanmu!”

“eumm.. aku tau!”

“baiklah.. sudah cukup untuk hari ini!” Seungri mengusap sungai kecil di pipi Hyuk Jae dengan ibu jarinya.  “Lain kali kita akan datang lagi ke sini!” Hyuk Jae hanya diam. Dia pasrah saat Seungri berusaha membantunya untuk duduk kembali di kursi rodanya, walau sesungguhnya hati kecilnya menginginkan untuk tetap tinggal di sana. Dia butuh waktu, mungkin datang sendiri ke sana, akan jauh lebih baik.

–o-o

Lee’s Private Villa

10.00 a.m

Hembusan bayu Ceongsando di pagi itu terasa begitu segar saat menyusup lembut di permukaan kulit Seungri. Lama sekali setelah kepergian kakaknya ia tak merasakan perasaan bahagia seperti ini. Bahkan udara yang ia hirup pagi itu terasa berbeda, mungkin hanya oksigen kualitas terbaik tanpa gesekan dengan komposisi udara lain saja yang berhasil masuk ke dalam hidungnya. Aneh. Tapi hanya saat dia bersama kakaknya lah, dia bisa merasa senyaman ini.

“cepat makanlah!” seru Seungri saat dia melihat makanan yang tersaji di atas piring kakaknya masih utuh tak berkurang secuilpun.

“kau yakin, aku bisa makan makanan ini?”

“kau sendiri yang bilang padaku, jangan sampai menyisakan makanan, itu tidak baik. Jadi, sekarang cepat makanlah, ahjuma sudah bersusah payah membuatkan makanan ini untuk kita.” Benar. Pagi itu, setelah mereka meninggalkan kuil, Seungri memutuskan untuk singgah sebentar di villa mereka untuk menikmati makan pagi mereka di sana. Kim ahjuma sangat bersemangat memasak makanan untuk dua bersaudara Lee itu. “ini enak, makanlah!”

“aku tidak yakin bisa makan makanan ini! Aku tidak makan daging, tidak makan makanan mengandung garam, penyedap rasa dan gula, aku juga tidak makan makanan yang pe—“

“Joon hyung bilang tidak masalah, kau bisa makan makanan seperti ini lagi!” belum sempat Hyuk Jae menyelesaikan ucapannya, Seungri sudah memotong penjelasan dari Hyuk Jae. “ kalau begitu mulailah dengan ini!” Seungri mengganti piring makan Hyuk Jae yang berisi daging bakar yang dilumuri saus pedas itu dengan toast rasa strawberry kesukaan kakaknya. Daging bakar yang dilumuri saus pedas itu memang makanan yang sama sekali tak cocok disajikan untuk makan pagi. Tapi, Hyuk Jae muda dan Seungri kecil biasa makan makanan ini saat mereka sering berkunjung ke villa itu dulu. “makanlah…!”

Sedikit ragu Hyuk Jae memasukkan potongan-potongan kecil dari toast yang ada di piringnya. Ada rasa khawatir untuk menyantapnya karna pencernaanya memang sempat terganggu pasca tragedy yang sempat ia alami beberapa waktu yang lalu itu. Beberapa makanan memang sudah tak lagi cocok dengan lidah dan pencernaannya, sepertinya Hyuk Jae sudah mulai terbiasa makan sayur tanpa bumbu seperti yang ia makan satu bulan terakhir ini.

“enak kan?” tanya Seungri ceria. Hyuk Jae hanya tersenyum sambil terus mengunyah toast yang ada di mulutnya hingga lembut.

“setelah ini, kita akan pergi ke mana?”

“memangnya kau ingin ke mana? Akan ku antarkan ke manapun yang kau mau!”

“terserah kau saja!” Seungri kembali melanjutkan menyantap makanannya setelah beberapa saat dia memperhatikan kakaknya yang terlihat begitu menikmati sarapan paginya. Sangat lucu, melihat Hyuk Jae menikmati toast yang biasanya jadi makanan favoritnya setiap pagi.

–o-o

on the Way

11.30 a.m

“kemudikan mobilmu dengan benar, jangan main-main seperti itu Tuan Muda Lee!!!” Seungri hanya nyengir kuda saat mendapat teguran dari kakaknya karna dia memang sedang mengemudikan mobilnya sambil memainkan handphone di tangannya. “ada apa denganmu?”

“memangnya kenapa?”

“kenapa senyum-senyum sendiri?”

“nuna mencari kita berdua, lihatlah pesan yang dia kirim!” Seungri menyerahkan handphone digenggamannya pada Hyuk Jae. “Sepertinya dia marah sekali padamu karna kau tak minta ijin dulu padanya!”

“yak…!! Bukankah kau sendiri yang mengatakan padaku jika kau sudah minta ijin pada nunamu! Aishhh…!!”

“heii…. Reaksimu itu terlalu berlebihan, kita hanya pergi mengunjungi ayah dan ibu, bukannya pergi bersenang-senang! Kenapa kau begitu takut dengan nuna hemm?!! Hahahaha…..!”

“Gyuri akan sangat menakutkan jika marah padaku! Lihat saja kau jika dia sampai marah denganku!”

“itu tidak akan pernah terjadi! Percayalah! Nuna itu baik hati dan POLOS! Kita bisa sedikit bermain-main nanti!” keduanya tertawa jika mengingat kejahilan-kejahilan mereka pada Gyuri. Nuna baru Seungri itu benar-benar terlampau POLOS atau lebih tepatnya bodoh, karna dia selalu saja masuk perangkap yang dibuat Hyuk Jae dan Seungri.

“kalau begitu nanti kau urus dia!”

“tidak, aku tidak pandai sepertimu!”

“aku?” Seungri mengangguk.”memangnya aku seperti apa?”

“kau.. seperti U—L—A—R !!”

“ucapanmu itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan topic yang kita bahas Seungri-ya!!”

“kalau begitu diamlah! Kau bisa tidur jika mengantuk! Masih ada waktu dua jam untuk waktu tidur siangmu! Aku malas menyetir sambil mendengarkan suara cemprengmu!!”

“eumm.. tapi aku tidak mengantuk. Kita bisa istirahat bersama di suatu tempat jika kau lelah…!” Hyuk Jae, tentu saja tak akan tega meninggalkan Seungri sendirian. Membiarkan dia mengemudikan mobilnya tanpa teman, dia pasti lelah, dia pasti jengah. Kedua kelopak matanya memang sudah memaksa ingin segera diistirahatkan, tapi, Hyuk Jae memilih untuk meraih cemilan yang sudah disiapkan Seungri untuknya. Menikmatinya sedikit demi sedikit.

“Hyung,….”

“apa?”

“berhentilah menganggapku seperti anak kecil! Aku bukan Seungri kecil lagi!”

Hyuk Jae terkekeh lirih. “aku tidak menganggapmu seperti itu!”

“tapi kau selalu memperlakukanku dengan cara kekanak-kanakan seperti tadi! Aku tidak suka!”

Kali ini Hyuk Jae tertawa cukup keras. “kau bilang kau bukan anak kecil? Tapi lihat dirimu, kau bahkan menganggap perhatian sepeleku sebagai perhatian besar. Dan.. oh.. lihatlah caramu memelas padaku. Kau terus saja merengek agar tidak dianggap sebagai anak kecil.. itu L-U-C-U Seungri-ya! LUCU!! Hahahhaha…”

“yaaa…!! Hyung! A-aku tidak lucu!”

“mwooo?? Hahahahaha…..!!”

“yaakkk……!!”

“baiklah, kau memang tidak lucu Seungri-ya! Kau, imut.. sangat imut!”

“yak..  Lee Hyuk Jae!”

“hahahha……!” keduanya begitu menikmati kebersamaan mereka. Bualan-bualan lucu Seungri, dan celotehan nakal Hyuk Jae. Keduanya sama-sama merindukan kebersamaan mereka.

–o-o-

Hamyang-Gun

01.40 p.m

“appa……………..!” Min Ji berteriak riang sambil berlari ke arah Seungri yang baru saja keluar dari mobilnya.

“emmmm…. Aku sangat sangat sangat merindukanmu putriku!”

“aku juga sangat sangat sangat merindukan appa! Apa appa baik-baik saja?”

“eum… appa baik-baik saja!”

Hyuk Jae tersenyum di dalam mobilnya. Sedikit merasa lucu saat gadis kecil itu memanggil Seungri dengan sebutan ‘appa’. Dia, juga ingin segera menyandang gelar itu, secepatnya.

“Min Ji-ya, putri appa yang satu ini benar-benar cantik. Apakah appa terlihat semakin tampan?” Min Ji mengangguk, mengiyakan pertanyaan appa-nya. “kalau begitu beri appa sebuah ciuman,…” pinta Seungri manja. Min Ji yang dimintai permintaan manja Seungri segera mendaratkan sebuah ciuman di kening Seungri. Lama. Min Ji sangat menikmati ciuman spesialnya yang hanya akan dia berikan untuk Seungri, appa-nya.

“ck ck ck…. Yak! Seungri-ya! Cepat turunkan aku dari sini!”

“oooo” mulut Min Ji melingkar sempurna membentuk huruf ‘O’. “ Hyuk Jae Oppa ada di sini juga!!” Min Jin meringsat turun dari gendongan Seungri kemudian segera berlari menghampiri Hyuk Jae di dalam mobilnya. “oppa!!”

“kau merindukanku juga? Heummm?” Min Ji membuka pintu mobil yang dinaiki Hyuk Jae kemudian segera memeluknya erat.

“ini seperti mimpi!”

“bo..?!!”

“oppa datang bersama appaku.. ini seperti mimpi! Hihihihiihihi….” Hyuk Jae bingung dengan ucapan yang baru saja dilontarkan Min Ji. Seungri yang mendapat tatapan bingung Hyuk Jae hanya tersenyum kecut sambil berlalu menuju bagasi mobilnya.

“Min Ji-ya, jangan ganggu oppa-mu dulu, pergilah, beri tau Jin Ki oppa jika appa sudah sampai di sini!” Seungri mengacak lembut pucuk kepala Min Ji. Gadis itu tampak bertanya-tanya saat dia mendapati appa-nya membawa dua buah tongkat besi di tangannya. Tapi Min Ji mengurungkan niatnya untuk bertanya, dia segera berlari menuju ke tempat di mana Jin Ki berada.

“sejak kapan gadis kecil itu memanggilmu appa?”

“entahlah, semua anak di sini memanggilku dengan sebutan appa. Hanya Min Ji lah yang memanggilku dengan sebutan oppa. Mungkin dia juga ingin seperti teman-temannya, mendapatkan appa baru sepertiku yang tampan dan..Eum… lucu! Itu baguskan?”

Hyuk Jae tertawa keras saat mendengar penilaian Seungri terhadap dirinya sendiri. Seungri menyebut dirinya ‘lucu’. Padahal tidak lebih dari dua jam yang lalu dua Tuan Muda Lee itu masih memperdebatkan masalah image Seungri sebagai seorang pemuda ‘lucu’.

“hentikan! Jangan tertawa lagi! Ini tongkatmu.. kajja!”

Keduanya memasuki panti asuhan bersamaan, Seungri dengan kantung-kantung coklatnya, sedangkan Hyuk Jae dengan kedua tongkat besinya. Mereka berjalan diiringi sinar yang terus berbinar di wajah tampan mereka. Terlihat di dalam sana Jin Ki sedang sibuk dengan piring-piring makanan di tangannya. Beberapa biarawati setengah baya turut sibuk berlalu lalang silih berganti dengan barang yang sama di tangan mereka.

Ada yang sedikit berbeda di sana. Terlihat hanya beberapa anak saja yang bermain di arena tempat tinggal mereka. Tak ada kelompok laki-laki nakal yang biasanya sedang asyik memainkan bola kaki mereka di siang hari seperti biasanya, tak ada pula tiga gadis berkepang yang gemar sekali memainkan boneka Barbie mereka, tak ada pula kelompok-kelompok yang biasanya sibuk dengan alat music atau buku-buku di tangan mereka.

“Jin Ki hyung.. kenapa hari ini sangat sepi?” tanya Seungri.

Jin Ki terlihat mengehentikan aktifitasnya sesaat. “anak-anak pergi berkemah tadi pagi, mereka akan kembali besok lusa”

“pantas saja hari ini terasa sepi,..”

“tidak semua anak ikut, ada beberapa anak yang kurang enak badan dan yang punya kegiatan lain di sekolah mereka masing-masing tetap tinggal di sini bersamaku hari ini.” Jelas Jin Ki lalu dia kembali melanjutkan aktifitasnya yang sempat ia hentikan sesaat.

“Hyuk Jae oppa! Kemarilah!” Min Ji melambaikan tangan mungilnya pada Hyuk Jae agar laki-laki yang dia sapa oppa itu segera duduk di kursi di sampingnya. “kemarilah! Jin Ki oppa sudah menyiapkan banyak makanan untuk kita!” Hyuk Jae tersenyum sambil berjalan menuju tempat di mana Min Ji berada.

“kenapa kau tidak ikut teman-temanmu berkemah? Apa kau sakit?” tanya Hyuk Jae.

“aku mendengar percakapan Jin Ki oppa saat dia sedang melephone. Dia bilang appa akan datang hari ini, jadi aku putuskan untuk tidak ikut berkemah…”

“waaahhh.. jadi kau tidak ikut bersenang-senang dengan temanmu karna ingin bertemu denganku? Bertemu dengan appa-mu!” Min Ji menganngguk. Sedangkan Seungri langsung tertawa keras karna dia merasa bangga ada anak yang merelakan waktu bersenang-senangnya demi bertemu dengannya.

“tckkk… bagaimana mungkin laki-laki kekanak-kanakan sepertimu dipanggil appa! Hemmm…!”

“yak…!! Apa maksudmu!!”

Melihat pertengkaran dua bersaudara Lee itu membuat Min Ji tertawa kecil. Bahkan anak seusia Min Ji pun merasa lucu melihat pertengkaran dua bocah yang sudah tak lagi muda itu.

“appa! Jangan marah lagi kepada oppa! Nanti jika oppa pergi lagi, appa pasti akan menangis lagi!”

Sedetik setelah mulut Min Ji terkatup, Hyuk Jae menghentikan aksinya menggelitiki punggung Seungri, begitu juga dengan Seungri. Keduanya tiba-tiba saja kehilangan selera bertengkar mereka. Jin Ki yang menyadari suasana canggung itu segera berusaha mencairkan suasana dengan memanggil anak-anak yang tersisa di panti asuhan itu untuk segera bergabung makan siang bersama mereka.

“yak… Min Ji-ya, panggil teman-temanmu sekarang, makan siang kita sudah terlambat satu jam hari ini, jangan sampai perut kalian sakit. Cepat… segera panggil!” Min Ji yang baru saja mengutarakan sebuah kebenaran itu segera berlari mencari teman-temannya.

Tak lama setelah itu kurang lebih delapan belas anak kecil mulai berlarian di area ruang makan mereka. Beberapa diantaranya sudah berjajar membuat antrian untuk mendapatkan jatah makan siang mereka. Sebagian lagi masih asyik dengan mainan di tangan mereka. Acara makan siang mereka berlangsung dengan meriah dan hangat. Anak-anak segera membersihkan alat-alat makan mereka masing-masing setelah acara makan siang mereka selesai, kebiasaan disiplin yang sudah mulai ditanamkan Jin Ki sejak mereka kecil.

Anak-anak riang itu sudah kembali pada aktifitas mereka masing-masing setelah perut mereka kenyang. Para biarawati yang tinggal di panti asuhan itu masih sibuk membersihkan sisa-sisa kotoran di ruang makan mereka. Seungri yang berperan sebagai supir pribadi dadakan hari itu sudah memejamkan matanya rapat, lelah, itu yang dia rasakan.

Hyuk Jae tersenyum melihat ekspresi agresif Seungri saat tidur. Mulutnya sedikit terbuka, sedangkan kedua kakinya terulur hingga ke lantai karna sofa yang ia tiduri terlampau kecil untuk digunakan sebagai alas tidur.

“oppa!!”

“sssstttttttt!!” Hyuk Jae menempelkan jari telunjuknya di atas bibir merahnya saat Min Ji menarik baju yang ia kenakan, takut, suara gaduh Min Ji akan mengganggu tidur siang Seungri.

“maaf!” ucap Min Ji polos. “ayo bermain denganku oppa!”

“main apa?”

“ayolah.. oppa ikut saja!” Min Ji memberi aba-aba agar Hyuk Jae mau mengikutinya ke arah rumah kecil di pinggir kolam renang. Tempat yang sudah tak asing bagi Hyuk Jae. “duduklah di sini!” pinta Min Ji. Hyuk Jae mengikuti perintah Min Ji untuk duduk di atas single bed yang sengaja digelar di lantai.

“kau mau bermain mobil-mobilan?” Min Ji menggelengkan kepalanya. Kedua tangannya masih sibuk mencai-cari sesuatu di dalam almari. “lalu?”

“ini dia!!” Min Ji kegirangan saat dia menemukan apa yang dia cari. “oppa! Bacakan cerita ini untukku!”

“eum… membaca cerita?” Min Ji mengangguk. “baiklah… kemarilah!”

Min Ji duduk di pangkuan Hyuk Jae tenang. Hyuk Jae membacakan sebuah dongeng terkenal yang sudah Min Ji dengar ratusan kali, namun tak ada rasa bosan di hatinya saat mendengar cerita yang sama secara berulang-ulang. Kepala gadis cilik itu dia tempelkan di dada Hyuk Jae, cerita yang sama dengan versi Lee Hyuk Jae tampaknya membuat Min Ji mengantuk. Belum genap separuh dari cerita yang Hyuk Jae baca, sudah sukses mengantarnya ke alam mimpi.

“dan suatu hari matahari bangun terlambat karna datangnya awan-awan hitam yang nakal…” Hyuk Jae menghentikan ceritanya saat dia mendengar dengkuran kecil dari tenggorokan Min Ji. “gadis manis, kau bisa mendengkur juga rupanya!” Hyuk Jae mengusap kepala Min Ji lembut sambil terkekeh pelan. Tiba-tiba kepala Hyuk Jae reflek menoleh kea rah suara hentakan kaki berasal. “sssssssssssstttttttttttttttt!!!”

Jin Ki mengangguk. Dia angkat pelan-pelan tubuh mungil Min Ji dari pangkuan Hyuk Jae. “maaf merepotkanmu. Tunggu di sini sebentar, aku akan memindahkan Min Ji ke kamarnya dulu!” Hyuk Jae hanya mengangguk mendengar perintah Jin Ki

Tak ada yang Hyuk Jae lakukan selama menunggu Jin Ki kembali. Dia hanya memperhatikan sekeliling tempat di mana dia berada. Tata ruang kamar tersebut memang sudah banyak berubah. Ranjang gantung milik Hyuk Jae kecil sudah digantikan dengan sebuah single bed yang dibiarkan tergeletak di lantai. Wallpaper kamar tersebut tak lagi bergambar aneka buah dan binatang, melainkan warna merah dan hijau terang polos yang sengaja digabungkan tak beraturan. Mainan-mainan kecil Hyuk Jae kecil sudah digantikan dengan buku-buku pelajaran anak-anak. Tak ada lagi boneka panda raksasa dengan Barbie-nya di sudut ruangan. Yang ada hanyalah almari kaca berisi piala dan medali penghargaan yang di dapat anak-anak panti dari berbagai kejuaraan.

“maaf, kau harus menunggu lama!” Jin Ki datang dengan dua kotak susu strawberry di tangannya.

“eum.. apa Seungri sudah bangun?”

“sebentar lagi dia akan ke sini!” Hyuk Jae merebahkan dirinya di atas single bed yang ia duduki setelah meneguk susu strawberry-nya. “jangan tidur dulu, ada hal yang harus kita bicarakan!”

“panggil dia sekarang! Aku sudah lelah!”

Hyuk Jae menghela nafas panjang, hari itu untuk yang kedua kalinya dia dibuat menunggu. Mata sipitnya sudah hampir tertutup jika saja Jin Ki tak berteriak karna Seungri yang berlari sangat kencang hampir saja terpeleset ke dalam kolam renang di hadapan mereka.

“tckk…. Kenapa lama sekali ha!!!” gerutu Hyuk Jae.

“maafkan aku, tadi aku sempat kebingungan karna lupa menaruh benda ini di mana. Ini!” Seungri menyerahkan sebuah amplop coklat pada Hyuk Jae. “bukalah!”

Hyuk Jae hanya tersenyum saat melihat isi dari amplop coklat tersebut. “jadi apa yang dikatakan Kim Tae Pyung itu benar?” Hyuk Jae dan Jin Ki mengangguk bersamaan. “kau juga tau Jin Ki-ya!” Jin Ki kembali mengangguk.

“semua orang tau kecuali kau!” tambah Seungri.

“sama sepertimu, ayahmu memberikan wasiat itu untuk Seungri juga. Aku, Hatori, Louis, dan Min Woo mendapatkan bagian juga!” Jin Ki mencoba menjelaskan.

“kenapa punyaku tidak kau ambil sekalian?”

“itu bukan milikku, aku tidak akan mengambil barang milik orang lain, terlebih itu milikmu!” jawab Seungri tegas. Dia posisikan duduk di lantai sebelah Hyuk Jae berada.

“ambil saja! Aku tidak memerlukannya!” Hyuk Jae melempar amplop coklat berisi surat wasiat dari ayahnya kepada Seungri. “kau bisa menggunakannya untuk hal-hal yang lebih penting!”

“aku tidak butuh emasmu! Uangku sudah sangat banyak tanpa harus menerima emas darimu!”

“hahahahha….. setidaknya kau tau cara menggunakan emas-emas itu dengan benar Seungri-ya. Dan aku tak punya rencana apapun jika benar-benar mendapatkan emas-emas itu.”

“kau ini baik atau bodoh!” potong Jin Ki. “jika kau tidak butuh, kau bisa memberikannya untuk Gyuri dan anak-anakmu nanti. Kau pikir pekerjaanmu itu bisa menghsilkan banyak uang sebanyak emas yang kau dapatkan haaa!!”

“hemmmhh…!!” Hyuk Jae kembali merebahkan diri di atas single bed-nya. “bangunkan aku jam 7 malam nanti, kita kembali ke Seoul malam ini!” Jin Ki hanya melongo karna Hyuk Jae sama sekali tak memberi tanggapan atas gertakannya, sedangkan Seungri bangkit dan menyelimuti tubuh kakaknya sebelum meninggalkan Hyuk Jae tidur di kamar kecil itu sendirian.

–o-o-

2 September 2012

Sepang International Circuit – K.L – Malaysia  

04.05 p.m

Gemuruh penonton menyambut ketiga rider pemenang race di sore itu begitu membahana. Hyuk Jae, laki-laki yang begitu dicintai Gyuri berhasil meraih posisi pertama di race kedua belas musim ini. Senang. Tentu saja begitu terlihat jelas di raut muka Gyuri. Tak henti-hentinya dia bersyukur, kekasih yang sudah melamarnya itu masih diberi keselamatan hingga ia bisa memijakkan kakinya kembali di podium. Suasana selebrasi di podium sangat meriah terlebih ada suara nyaring Louis di sana. Tak seperti biasanya, Louis memutuskan terbang ke Malaysia untuk menyaksikan secara langsung jalannya balapan. Tak puas hanya menonton di tv atau hanya mendengar kisah berbumbu dari para sahabat serta rekan bisnisnya, Louis juga ingin merasakan seperti apa sebenarnya atmosfir dari jalannya balapan F1 secara langsung.

“tutup mulutmu bodoh! Suaramu memalukan!”

“apa maumu? Aku tidak mendengar ada orang yang tak menyukai suaraku! Lagipula, suaramu juga tak kalah keras sedari tadi Joon-ah! Jadi jaga mulutmu sendiri sebelum menjaga mulut orang lain!!!”

“tcih… tidak tau malu!!”

“oppa!!!” kali ini teriakan Cae Rin lah yang memecahkan pertengkaran klasik Joon dan Louis. “suara kalian berdua sama-sama memalukan. Jadi hentikan pertengkaran kalian segera, sebelum Hyukkie oppa melempar botol wine-nya ke arah kepala kalian!!”

“maaf!!” jawab Joon dan Louis bersamaan.

–o-o

04.45 p.m

“terimakasih” Gyuri mempererat dekapan kedua lengannya di leher Hyuk Jae. “terimakasih karna oppa masih kembali ke sisiku dengan selamat.”

“tentu saja! Aku harus berada di dekatmu, begitu juga dengan kau. Tidak ada yang bisa memisahkan kita, bahkan kematian sekalipun” bisik Hyuk Jae di telinga kanan Gyuri.

“akan ku ingat kata-katamu ini oppa… perlu kau tau, aku adalah wanita yang selalu menuntut janji dari setiap janji yang diucapkan terhadapku.”

“apa yang akan kau lakukan padaku jika aku tak menepati janjiku?”

“itu tidak akan mungkin terjadi. Oppa pasti akan menepati janji ini. Jika oppa lupa aku akan mengingatkannya, jika oppa khilaf aku yang akan menggantikannya.”

Keduanya saling berpelukan erat, tak peduli banyak orang yang sedang memperhatikan romantic scrip mereka.

“eum.. basah. Ganti bajumu dulu, jangan memelukku lagi sebelum oppa mengenakan pakaian kering, arasso!” Hyuk Jae hanya terkikik mendengar ancaman Gyuri. Bukankah tadi Gyuri dulu yang memeluknya? Menggelikan!

–o-o

At Hotel

07.00 p.m

“hoammm… aku mengantuk!!”

“mandilah dulu baru tidur!!” perintah Gyuri. Setelah pesta kecil mereka berakhir, Hyuk Jae dan Gyuri memutuskan kembali ke hotel. Beruntung tak ada Louis dan Joon yang biasanya membuntuti mereka kemanapun mereka pergi. Louis dan Joon terserang penyakit shopaholic dadakan saat melihat deretan baju unik yang seolah-olah melambai-lambai memanggil mereka untuk segera dibeli.

“eumm… besok saja. Aku benar-benar mengantuk!”

Gyuri tak mendengarkan keluhan Hyuk Jae. Dia segera pergi ke dalam kamar mandi dan menyiapkan air hangat di dalam bath up.

“ayo bangun!! Badanmu bau dan lengket! Jika tidak mandi, besok pagi saat bangun tidur badanmu pasti akan pegal oppa!!” Gyuri menggerak-gerakkan bahu Hyuk Jae karna tak mendapatkan jawaban apapun darinya. “oppa…..!!! aaaa…..!!!”

Gyuri berteriak karna tiba-tiba saja Hyuk Jae bangun dari tidurnya kemudian menggendong Gyuri di depan dadanya. Hyuk Jae menjeburkan Gyuri ke dalam bath up yang sudah terisi penuh air hangat yang sebenarnya Gyuri siapkan untuknya.

“temani aku mandi juga..”

“tck…!!” Gyuri mendercak kesal. Tak biasanya Hyuk Jae melawan perintahnya, apalagi hanya karna masalah sepele seperti ‘mandi’. Hyuk Jae sudah melepas semua pakaian bagian atasnya. Dia ikut menghanyutkan dirinya sendiri ke dalam bath up besar yang sudah berpenghuni itu. “oppa… kita tidak boleh melakukan ini….” Gyuri menggeleng-gelengkan kepalanya. Malu. Tentu saja. Mereka belum terikat status pernikahan, itu sebabnya Gyuri merasa bersalah pada dirinya sendiri karna sejujurnya hati Gyuri merasa tergelitik ingin menemani Hyuk Jae mandi malam itu.

Hyuk Jae tak menjawab keluhan Gyuri. Dia justru mempersempit jarak diantara dirinya dan Gyuri. Dia tarik Gyuri ke dalam pelukannya.

“jangan khawatir, kita tidak akan melakukan apapun malam ini. Otakku masih waras. Kau hanya perlu menggosok punggungku, tidak lebih.”

Seperti terhipnotis, Gyuri mengangguk setuju. Gyuri melepas pelukan Hyuk Jae, dia putar tubuh kekasihnya itu sehingga membelakanginya. Dia raih bath foam dan shower puff yang sudah tertata cantik di samping bath up. Perlahan-lahan Gyuri gosok punggung putih susu Hyuk Jae.

Air dingin yang di guyurkan Gyuri di atas kepala Hyuk Jae sepertinya membawa Hyuk Jae kembali ke dunia nyata. Setelah beberapa menit lamanya Hyuk Jae menikmati sentuhan demi sentuhan yang diberikan Gyuri padanya, Hyuk Jae baru sadar, bahwa Gyuri sedah selesai menjajahi seluruh tubuh bagian atasnya dan hampir selesai dengan pekerjaanya membersihkan kepala Hyuk Jae tentunya.

“aku bisa melakukannya sendiri. Keluarlah, ganti pakaianmu dulu..” pinta Hyuk Jae.

“baiklah…” Gyuri menurut, segera dia bangkit dari posisinya kemudian keluar meninggalkan Hyuk Jae sendirian menikmati acara mandi malamnya yang begitu berbeda dari biasanya.

Di dalam ruangan tidur Hyuk Jae, Gyuri terlihat sibuk mengobrak-abrik pakaian milik Hyuk Jae. Tapi Gyuri tak menemukan pakaian yang pas untuk ia kenakan.

“aishhhh… Kenapa semua pakaian santainya tak berlengan?”

Pada akhirnya, Gyuri memilih menggunakan kemeja merah Hyuk Jae yang rencananya akan Hyuk Jae kenakan saat dia menghadiri pertemuan dengan para pemegang saham Ferrari esok hari.

“kenapa masih di sini?” tanya Hyuk Jae dengan nada terkejutnya.

“Cae Rin dan Seungri masih belum kembali dari acara belanja mereka. Aku tunggu di sini saja boleh kan?!!”

“tentu saja boleh, t-tapi aku mengantuk….”

“aku tidak melarangmu untuk tidur..!!”

“aishhh… aku tau, tapi aku tidak mungkin membiarkanmu sendirian menunggu Cae Rin kembali, sementara aku tidur sendirian..”

“kalau begitu aku juga akan tidur….!!” Jawab Gyuri asal.

“tckkk… tapi kasurnya sempit, lihat saja!! Kau tidak bermaksud memintaku tidur di atas sofa kan?” Gyuri menggeleng. “lalu..”

“aku dan oppa tidak terlalu besar kan? Kasur ini pasti cukup untuk kita tiduri bersama..!!”

Hyuk Jae menelan ludahnya. Dia lihat Gyuri yang begitu tampak cantik dengan kemeja merah miliknya. Lagi-lagi Gyuri dengan beraninya memamerkan kulit paha putihnya di hadapan Hyuk Jae. Membuatnya begidik, menahan hawa nafsunya sendiri.

“kemarilah….” Pinta Hyuk Jae.

Tentu saja, dengan segera Gyuri menghampiri Hyuk Jae, dengan bath towl ditangannya. Gyuri hafal betul, Hyuk Jae tak pernah becus mengurus dirinya sendiri. Bahkan untuk mengeringkan rambutnya sendiri pun, Hyuk Jae harus minta bantuan orang lain.

“siapa yang melakukan hal semacam ini padamu sebelumnya oppa?” tanya Gyuri, disela-sela kegiatannya mengeringkan rambut basah Hyuk Jae.

“tidak ada, aku selalu tidur dengan rambut basah…”

“aishhh.. pantas saja rambutmu rontok, kau tidak pernah merawatnya dengan baik! Kenapa tidak minta bantuan Jinnie?”

“aku tidak tinggal bersama Jinnie. Jadi tidak mungkin aku meminta Jinnie jauh-jauh datang ke apartemenku hanya untuk mengeringakan rambut. Itu kekanak-kanakan!”

“lalu, yang sekarang aku lakukan? bukankah ini juga kekanak-kanakan?”

“ini berbeda.. Jinnie ibuku, dan kau kekasihku. Sudah sepantasnya kau melakukan ini untukku!” jawabnya mantap.

“waw… aku benar-benar harus mendengarkan semua nasehat Seungri padaku rupanya. Sekarang aku tau, kakak Seungri ini memang benar-benar seorang perayu handal.. ck..ck..ck…”

“jangan sok suci, aku tau semua gadis sangat suka dengan pria-pria gombal sepertiku. Dan aku yankin itu juga berlaku untukmu!”

“maaf tuan Lee, tapi aku sama sekali tak tertarik….!!!” Goda Gyuri. Dengan jahil Hyuk Jae melempar handuk yang digunakan Gyuri untuk mengeringkan rambutnya dengan kasar. Dia tarik tubuh Gyuri hingga kepelukannya. Gyuri menutup matanya, menikmati desiran angin yang menyentuh kulitnya yang tak lain berasal dari hidung mancung Hyuk Jae. “jangan macam-macam denganku tuan Lee!!!”

Hyuk Jae terkekeh. Gyuri, gadis polos ini sepertinya sudah tercemari hati dan pikirannya oleh Hyuk Jae. Sikapnya jauh berbanding terbalik dengan sifat aslinya saat Hyuk Jae pertama kali bertemu dengannya dulu. Gadis ini tak lagi polos, tak juga lugu seperti dulu. Namun satu hal yang perlu semua orang ketahui, bahwa Gyuri lah yang memilih jalan ini. Gyuri lah yang menginginkan perubahan ini menjalari seluruh pori hidupnya.

Hyuk Jae membaringkan tubuh Gyuri yang semula ada di gendongannya di atas ranjang. Hyuk Jae sendiri segera meringsat mensejajarkan kepalanya dengan kepala Gyuri yang sudah ada di posisi paling nyaman di tempat tidurnya.

“oppa…”

“Heummm….?”

“apa yang membuatmu menyukaiku?”

“aku tidak tau? Selama ini aku berusaha mencari tau, tapi tak pernah ketemu..”

“aku dengar, senyumku mirip dengan seseorang yang pernah kau kenal, a-apa, karna itu kau menyukaiku?”

Hyuk Jae yang semula sudah memejamkan matanya merasa sedikit terkejut mendengar pernyataan yang dilontarkan Gyuri.

“entahlah…”

“oppa… aku sama sekali tidak keberatan jika itu alasannya. Aku tetap bahagia bisa berada di sisimu, sekalipun alasan utamamu mendekatiku bukan karna aku, melainkan karna aku mirip dengan orang lain yang pernah ada di sisimu ta—!”

“Gyuri-ya….! Aku tulus mencintaimu. Sekalipun aku tidak tau alasannya mengapa, tapi aku yakin, cinta ini bukan pengaruh dari efek kemiripan kalian. Ada ruang kusus yang aku sediakan untukmu di hatiku, begitu juga dengan dia..”

“jadi itu benar. Kami memang mirip? Begitukah oppa?”

“eumm…. Sedikit…..”

“oppa…”

“euummm….”

“bolehkah aku mengetahui sesuatu tentang Nara?”

“……………………” Hyuk Jae terdiam, menimbang-nimbang jawaban apa yang harus diucapkan terhadapnya kala itu. ‘ya’ atau ‘tidak’. Keduanya sama-sama beresiko.

“baiklah, mungkin ini bukan waktu yang tepat” lanjut Gyuri lirih.

Hyuk Jae membuka matanya lebar-lebar. Dia hembuskan nafas panjangnya, sedikit terasa berat dari pada saat dia bernafas seperti biasanya.

“apa, yang ingin kau ketahui?”

“………………” kali ini, giliran Gyuri yang bingung. Haruskah dia menuruti nafsunya untuk mengetahui sedikit kisah tentang Nara. Akankah perbuatannya itu menguntungkan baginya, atau justru pertanyaanya itu akan menyakiti Hyuk Jae, kekasihnya sendiri?

“katakanlah… aku akan menjawabnya….!”

Setelah beberapa lama, Gyuri memutuskan untuk mengajukan satu pertanyaan pada Hyuk Jae. Dia harap pertanyaannya itu, tak menyakiti hati siapapun, dirinya dan tentu saja Hyuk Jae. “eummm—b-bagaimana Nara bisa me….”

“appaku melakukannya dengan tangannya sendiri!” Hyuk Jae menarik Gyuri ke dalam pelukannya. Tiba-tiba saja Hyuk Jae merasa kedinginan walau penghangat ruangan di sana sudah dinyalakan. “appaku tidak menyetujui hubungan kami….”

“………………” Gyuri tak menanyakan apapun pada kekasihnya, dia hanya menegadahkan kepalanya. Dia tatap lekat kedua mata Hyuk Jae yang sedang tertutup itu.

“Nara.. dia, hidup sebatang kara. Hampir sama denganmu. Kami bertemu di sebuah tavern  saat aku diundang temanku untuk merayakan pesta kecil mereka di sana. Semenjak pertemuan itu hubungan kami terus berlanjut hingga appa mengetahui asal usul Nara dari orang kepercayaannya dan bukan dari mulutku sendiri..”

“oppa… eum…. andai Lee aboji masih hidup, mungkin dia juga tidak akan menyetujui hubungan kita karna aku juga pernah bekerja di tempat yang hampir sama seperti Nara.. iya kan?”

“alasan appa membenci Nara terlalu rumit untuk dijelaskan. Ini semua bukan hanya karna Nara pernah bekerja di sebuah tavern atau tidak, bukan juga karna dia berasal dari golongan bawah dan bukan dari golongan atas seperti kami.. ini karna….” Gyuri mengeratkan pelukannya pada Hyuk Jae. Dia sembunyikan kepalanya pada dada Hyuk Jae. Gyuri mencoba mengartikan deguban jantung Hyuk Jae yang mulai berdebar cepat tak karuan.

“jangan.. jangan diceritakan oppa… kau tak perlu menceritakan semuanya. Aku percaya.. aku percaya kau mencintaiku apa adanya dan bukan karna yang lainnya. Oppa… tidak perlu menceritakan apapun padaku.. oppa…”

“sayang.. aku berniat menjalani hubungan serius diantara kita. Kau sudah menceritakan semua tentang kehidupanmu padaku, sekarang giliranku menceritakan apa yang memang seharusnya kau ketahui tentangku….”

“oppa…” keduanya terdiam. Gyuri masih bergeming di dalam pelukan Hyuk Jae. Sedangkan Hyuk Jae sedang menyusun kata yang akan dia ucapkan pada Gyuri. Kata sederhana macam apa yang bisa ia susun sehingga kisah pelik dibalik carut marutnya hubungan keluarga Lee itu bisa tersampaikan dengan baik pada Gyuri tanpa harus menimbulkan arti lain setelahnya.

“appa dan eommaku menikah atas dasar perjodohan.” Kalimat pembuka yang Hyuk Jae ucapkan setelah sekian menit mereka terdiam. “eomma sepertinya  sangat mencintai appaku, tapi tidak sebaliknya.. hubungan mereka berjalan dingin hingga mereka mendapatkan aku. Anak kandung tunggal keluarga Lee yang sangat dinantikan oleh seluruh keluarga kami, tapi tidak dengan appaku.”

Hyuk Jae menghembuskan nafas panjang, berjeda sesaat. “suatu hari, ada seorang perempuan dengan seorang bayi laki-laki digendongannya datang ke rumah kami. Appa terlihat terkejut, tapi setelahnya appa tampak bahagia. Wanita cantik namun terlihat begitu malang itu tak lain adalah cinta pertama appa yang tak dapat digantikan oleh siapapun. Termasuk eomma dan aku. Wanita itu bilang, dia baru saja disiksa suaminya sebelum dia dan anak laki-lakinya ditinggalkan begitu saja di jalan raya. Wanita itu meninggalkan bayinya di rumah kami sebelum akhirnya dia pergi entah kemana. Eomma dan aku sangat bahagia,.. Eomma tau, beliau tidak akan mungkin hamil lagi karna appa tak akan pernah mau menyentuhnya jika tidak karna terpaksa. Jadi, kehadiran bayi itu membawa kebahagiaan bagi kami..”

“bayi laki-laki itu….” Hyuk Jae mengangguk. Gyuri dapat merasakan pergerakan dagu Hyuk Jae yang sengaja ia tempelkan di pucuk kepala Gyuri.

“Eomma merawat bayi itu dengan penuh kasih sayang. Aku juga sangat menikmati peran baruku sebagai seorang kakak. Hari berlalu begitu cepat, hingga bayi itu tumbuh menjadi dewasa”

“Seungri menceritakan sebagian dari kisah ini padaku satu bulan yang lalu. Dia bilang, Lee aboji lebih mencintainya dari pada mencintaimu..”

Hyuk Jae tersenyum getir. “mungkin itu benar. Tapi setidaknya aku bersyukur, masih ada eomma, Seungri, Joon, Hatori, Jin Ki, dan Louis yang selalu setia padaku. Mereka semua teman terbaikku..”

“lalu.. bagaimana hubunganmu dengan Nara…?”

“kami berpacaran kurang lebih selama dua tahun. Hari itu, aku memutuskan ingin memperkenalkannya pada appa dan eomma secara resmi…  tapi rupanya appa, sudah menunggu kedatangan kami di dalam ruangan pribadinya. Ada eomma dan beberapa pengawal di sana. Perasaanku sedikit tak enak tapi aku tetap memaksakan semuanya.. Tak lama terjadi beberapa perdebatan kecil diantara kami, appa.. menembakkan sebuah peluru tepat di jantung gadis tak berdosa itu…” ucapan Hyuk Jae tercakat. Nafasnya sedikit tak beraturan karna bercampur dengan tangisan. Gyuri menaikkan posisi tubuhnya hingga sejajar kembali dengan kepala Hyuk Jae. Dia usap air mata Hyuk Jae dengan ibu jarinya. Gyuri tersenyum, sebelum dia lekatkan bibirnya dengan bibir Hyuk Jae. Gadis itu bisa merasakan getaran yang timbul di bibir Hyuk Jae akibat tangisan yang belum mereda.

“Gyul… d-dia, N-Nara.. adalah kakak perempuan Seungri.” Mata Gyuri membulat. Apa ini? Kakak Seungri? Cerita macam apa sebenarnya yang coba diutarakan Hyuk Jae padanya. Terdengar tarikan nafas panjang yang sedang dilakukan Hyuk Jae. Laki-laki itu sedang berusaha keras menenangkan dirinya. “dia se-ayah tapi tak se-ibu dengan Seungri. Sekalipun darah yang mengalir di tubuh Seungri dan Nara sama, tapi mereka berdua lahir dari Rahim yang berbeda. Appa, terlalu buta dengan amarahnya. Sebab, karna ibu Nara lah, ayah Seungri tega menelantarkan Seungri dan ibunya, yang tak lain adalah wanita yang sangat dicintai appa…”

“oppa…..” Hyuk Jae memejamkan matanya, namun air matanya masih mengalir deras di pipinya. Gyuri menarik kepala Hyuk Jae ke dadanya. Dia belai lembut kepala Hyuk Jae, mencoba memberi kekuatan padanya. Sesekali dia ciumi pucuk kepala laki-laki yang begitu ia cintai itu.

“jangan menanyakan apapun tentang masalah ini pada Seungri. Dia, sama sekali tidak tau siapa Nara sebenarnya. Dia juga tidak tau, kejadian apa yang sebenarnya terjadi di ruangan pribadi appa. Aku, ingin mengubur semuanya dalam-dalam. Cukup kau dan aku yang tau… aku mohon..!”

“aku tau oppa. Terimakasih. Terimakasih, karna oppa mempercayaiku untuk mengetahui bagian dari hidupmu. Terimakasih, karna oppa mau berbagi kisah indah dan pelik oppa padaku. Terimakasih..”

Gyuri ikut menangis haru. Entah perasaan apa yang Gyuri raskan. Haruskah ia senang, karna pada akhirnya dia tau kisah dibalik carut marutnya hubungan keluarga kekasihnya. Atau sedih, karna dia tau betapa kekasihnya sangat amat mencintai wanita yang biasa disapa Nara itu. Baru pertama kalinya semenjak perkenalan mereka Hyuk Jae menangis di hadapannya karna seorang wanita. Wanita yang begitu dicintainya, yang tak lain adalah Jang Nara. Sahabat kecil Gyuri.

“dengarkan aku. Memang benar, aku mencintai Nara, sampai kapan pun, dia tetap ada di sini….” Ucap Hyuk Jae sambil meletakkan telapak tangannya di dadanya. “tapi, sekarang.. kau, ada di sini dan di sini…” lanjut Hyuk Jae dengan menunjuk kepala dan juga dadanya. “tak ada orang yang boleh menyentuhmu selain aku, tak ada orang yang boleh memiliki kenangan indah sekecil apapun tentangmu selain aku, tak ada orang lain yang boleh memilikimu selain aku, tidak ada…!!!” ucap Hyuk Jae mantap yang diikuti suara tangisan keras Gyuri.

“Gyul… maukah kau menjadi satu-satunya tujuan hidupku, pilihanku, pelabuhan terakhir hidupku?”

Gyuri mengusap air matanya sendiri. Wajah sendu Gyuri berganti dengan senyuman lebar di bibirnya. Tiba-tiba Gyuri merasakan bunga-bunga bermekaran di hatinya. Kupu-kupu beterbangan di jantungnya. Benarkah apa yang baru saja ia dengar? Benarkah Hyuk Jae baru saja mengutarakan isi hati yang sejujurnya padanya? Gyuri mengangguk antusias setelah tangisnya reda.

“I do.., oppa!”

~TBC~

Hyuk Jae Riri Hyuk Jae Gyuri Hyuk Jae Riri Hyuk Jae Gyuri

Hyuk Jae Riri Hyuk Jae Gyuri Hyuk Jae Riri Hyuk Jae Gyuri

Hyuk Jae Riri Hyuk Jae Gyuri Hyuk Jae Riri Hyuk Jae Gyuri

Hyuk Jae Riri Hyuk Jae Gyuri Hyuk Jae Riri Hyuk Jae Gyuri

Hyuk Jae Riri Hyuk Jae Gyuri Hyuk Jae Riri Hyuk Jae Gyuri

Hyuk Jae Riri Hyuk Jae Gyuri Hyuk Jae Riri Hyuk Jae Gyuri

Hyuk Jae Riri Hyuk Jae Gyuri Hyuk Jae Riri Hyuk Jae Gyuri

Hyuk Jae Riri Hyuk Jae Gyuri Hyuk Jae Riri Hyuk Jae Gyuri

Hyuk Jae Riri Hyuk Jae Gyuri Hyuk Jae Riri Hyuk Jae Gyuri

Hyuk Jae Riri Hyuk Jae Gyuri Hyuk Jae Riri Hyuk Jae Gyuri

❤ ❤ ❤

Halo semuanya..

Aku datang lagi lebih awal dari prediksi aku sebelumnya.

Ternyata part ini selesai lebih awal dan aku post lebih awal juga.

Bulan depan aku ada kegiatan KKN di desa terpencil.

Takutnya gak sempet nge-post ni chapter, jadi aku post sekarang deh…

Semoga kalian suka ya ma part ini… hihihiihihi…..

Gimana? Bisa ketebak gak ending-nya bakalan kaya apa?

Soal di chapter 8 udah aku kasi kuncinya tuh di chapter ini.. ^^

Buat Yachi Yamashina yang udah request, HyukRi datang lagi loo…

Semoga puas dengan chapter ini ^^ Hihihihihii……..

Well, cukup sekian prakata dari saya, ada kurang lebihnya mohon maaf.

Wasalam 😀

*deep bow

24 thoughts on “[FF Freelance] I Wish I Were You (Part 9)

  1. akhiirrrnya ff yg tiap hari aq nantikan#jiaaaa
    fatang juga,aq iseng komen dulu ah,baca baru sedikit..hehehehe
    ternyata seungri anak angkat ya,tp hyuk jae sayang bgt sama seungri 🙂
    aq mau lanjut baca dulu ya,ntar klo dah selesai baru lanjut lagi 😉

  2. part berikutnya pasti lama 😦

    KKNnya jgn lama2 ntr post diwarnet ajah thor…kekeke

    ditunggu part berikutnya yaaawwww…. 🙂

  3. *Oooo,, jadi itu kisah dibalik kata2 “ I wish I were you..” aigooo hyuk,, aq makin cinta..
    *omo, tumpukan emas utk hyukjae sbnyak apa lg, segede rumah kali ya?? Ckckck
    *huuhh, syukur lah hyuk gk kena sakit yg parah2.
    *haru bgt wktu hyuk certain smw masa lalunya k gyuri sambil pelukan n nangis2an itu loh.. jd dlu hyuk cintany sama Nara y kakaknya seungri. parahny Nara dibnuh sm appanya sndiri. Aigoo, tenang hyuk ud ad gyuri skrg.
    * LOVE LOVE LOVE HYUKJAE-GYURI,, muahh..muahh…. tggu apa lg cpetan nikah sana…!!
    *part ending dislesein sblum brgkt kkn yh thor…yayaya!

    • *ada banyak kisah di balik tu kalimat.. hehehe
      *tumpukan emasnya gak banyak kok… cuma sebiji jagung :p
      *aku kan dah bilang Hyuk Jae baik-baik aja.. sehat walafiat
      *love love love you toooooo

  4. puassssssssssssssssss ,, Hyukjae ngga sakit parah hore !!!!! Gyuri d’lamar horeeeeeeeeeeee ,, tapi ngga hore bangget author mau KKN d’desa terpencil yg ngga ada listrik sama air bersih *lebehhhhhhhhhhhh*

  5. kok appanya hyukjae tega bgt ya….dan ternyata hasil pemeriksaan hyukjae ternyata ga ada penyakitnya ya…cuma reaksi joon aja nih yg bikin readers kalang kabut #jutakJoon
    wuaaaahhhhhh….jd ga sabar nunggu part berikutnya,,,, 😀

  6. Akhirnya, setelah nunggu sekian lama.

    oohh jadi ‘I Wish I were You’ ini ceritanya kata-katanya si Seungri. Keren banget part ini, terungkap semua cerita-ceritanya. Tapi mereka ga pada tau ya kalo Nara itu temennya Gyuri?

    Ditunggu next partnya~~~ part 10 dibanyakin HyukRi momentnya yaa >\\\< mihihhihihi

  7. suka banget sama part ini ❤ aku kalo baca ff ini suka terharu bahkan sampe nangis:') hyukri!! ah lope lope<3 hyukjae gyuri cocok ih heu. tapi aku masih kurang mudeng siapa jang nara sebenernya._. overall, daebak! ㅋㅋ

  8. jadi thor berhubung judulnya I wish i were you, jadi FF ini dari sudut pandang seungri gitu? kan dia bilang i wish i were him (hyukjae) 😀
    wooooh pantes hubungan riri sama hyukjae ‘deket’ gitu ya, ternyata itu alasannya… o.O
    terus thor pas gyuri nanya2 sama seungri itu ada kesan dipaksain,jadi penulisannya kaya gak ngalir thor, gak kaya gaya nulis author biasanya, ini agak kaku(?)

    yeee hyukjae gak sakit yeee *\^o^/* #tumpengan

    “entahlah, semua anak di sini memanggilku dengan sebutan appa. Hanya Min Ji lah yang memanggilku dengan sebutan oppa….” ini typo ya thor? kebalik gitu kan soalnya terusannya Ri bilang, minji bangga punya appa keren kaya dia..ya ga? apa aku yg salah nangkep? .-.

    fact2 yg diungkap di sini sinetron abis XD, tapi dirangkai dengan baik jadi gak keliatan negatif2 nya kaya yg di sinetron2 itu lo thooor 😉

    wuaaa authooor makasih HYukRiri nya full banget kali ini, bromance nya lucuuu, jadi keingetan pas sbs gayo daejun kemaren Ri sama Hyuk duduk sebelahan >o<, langsung keinget FF ini, gyaaa Ri nya ganteng disitu Hyuk nya rambut merah, cool ^^

    semoga sukses KKN nyaaaa, keep writing thoor ditunggu nextnext part nyaaa ^0^9

    • iya nih..
      aku sebenernya juga ngerasa kalo part ini kesan maksanya kentel banget.
      Gyuri orang yang terlihat suka ngorek urusan orang lain..
      hahahaha..
      hemmmhh.. tp mo gimana lg.
      tugas Gyuri di part ini emang buat jawab semua pertanyaan kalian kan?
      hehehehe..

      soal,
      “entahlah, semua anak di sini memanggilku dengan sebutan appa. Hanya Min Ji lah yang memanggilku dengan sebutan oppa….”
      nah itu ceritanya semua anak2 panti kan ma Riri emank disuruh
      manggil Appa gt ceritanya. tp Min Ji aja yg gak mau,
      Riri jg heran knp tiba2 Min Ji manggil dia Appa pas ada kakaknya (HyukJae) gt….

      kamu baru nyadar kalo ini emank sinetron Fiction ????
      =___+

      iya betul..
      video gayo daejun yg itu emank jd inspirasi banget.
      mana mereka keliatan bener2 akrab lagi.
      aku suka suka suka bangetttttttt

      makasi ya doanya.
      KKN HARUS sukses,,,,
      semoga lancar2 ajah.. jd malemnya bisa lanjutin nulis ni cerita.
      hahahhaaha..
      pay^^

  9. sukaaaa banget, ketemu kemarin, langsung dibaca habis dan baru koment di part terakhir…. maaf ya……., btw di tunggu lanjutannya ya….. gomawo

  10. Aigo, permasalahan keluarganya itu rumit banget ya. Tiap orang saling berkaitan satu sama lain.

    Yuhuuuu, Gyuri dilamar tuh. Chukkae..

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s