Going Home (Oneshot)

6bN1M

GOING HOME

By

PSEUDONYMOUS

Main cast: 2AM’s Seulong || Support cast: 4Minute’s Gayoon || Genre: Family & Life || Rating: G || Length: Oneshoot || Disclaimer: Inspired by Mitch Albom’s “For One More Day” & some of my personal experiences

§

“I hope you never hear those words. Your mom. She died.”

§

Sore itu, aku sedang berdiri di depan pintu rumahku dengan kemeja kerja yang kusut dan dasi yang melonggar di kerah, memandangi istriku setengah menyeret putriku, Insoo, ke jalanan menuju taksi yang terparkir di depan rumah. Insoo mengulurkan tangannya kearahku dan memanggil-manggil, “Ayah! Ayah!” dengan suara parau. Matanya basah oleh air mata. Dia merengek, memohon, dan berteriak histeris kepada Gayoon, meminta istriku menurunkannya dan membiarkannya bersamaku. Tapi keadaan telah benar-benar berubah dan aku tidak benar-benar yakin apakah bisa mengubahnya seperti dulu.

Melihat Gayoon dan Insoo pergi, membuat hatiku hancur. Tapi tidak banyak yang bisa kulakukan selain berdiri di sana dan memerhatikan bekas sepatu Insoo yang menjejak di halaman rumah. Rasa akan penyesalan mengerubungiku seperti kawanan lebah pengganggu dan membuat seluruh tubuhku perih akan sengatannya. Pundakku jatuh terkulai dengan segenap rasa putus asa. Aku menoleh ke dalam rumah dan menunduk ke lantai, memerhatikan selembar kertas berisi surat pemecatan diriku, lalu mendongak memandangi seluruh kekacauan di dalam rumah—piring-piring kotor yang menumpuk di atas bak cuci, atau meja makan yang belum dibereskan.

Bukan hanya kekacauan di dalam rumahku saja yang harus kuhadapi seorang diri sekarang. Tapi, bagaimana dengan kekacauan di dalam diriku? Bagaimana aku harus melaluinya?

§

Sembari mencuci piring dengan bunyi televisi menggaung dari ruang tengah ditambah percikan air dari keran yang terbuka, aku berpikir keras, merenungi hidupku belakangan ini. Dan setelah kuingat-ingat lagi, aku sadar betapa kacaunya hidupku. Dalam beberapa bulan belakangan ini, aku sudah menjalani pekerjaan yang berbeda-beda. Mulai dari guru Bahasa Inggris di sekolah dasar, seorang pegawai bank, karyawan di perusahaan percetakan, dan salesman. Semua berakhir dengan sama menyedihkannya, ketika aku yang begitu bodohnya dikhianati oleh teman-teman kantorku untuk melakukan “perampokan” dana kantor.

Lalu, sebuah surat pemecatan melayang ke atas meja kerjaku dan akhirnya sampai di tangan Gayoon. Aku menjelaskan semuanya, berusaha membuatnya tetap memercayai tanggung jawabku sebagai seorang suami dan juga ayah, tapi Gayoon nampak sama putus asanya dengan diriku ketika aku justru mengharapkan sebuah dukungan dan kepercayaan darinya. Ketika aku sedang menggosok-gosok bagian bawah piring, pikiranku tidak benar-benar di sana. Bahkan ketika aku mengulurkan tangan untuk meraih pisau di dasar tumpukan bak cuci, aku juga tidak berada di sana. Pikiranku melayang, sampai akhirnya sebuah dering telepon mengejutkanku dan ujung pisau mengiris ujung jempolku.

Aku mengangkat jempolku yang mengeluarkan darah dan menoleh kearah telepon di ruang telepon. Pikiranku kalut, antara memutuskan ingin membersihkan jempolku atau mengangkat telepon. Aku mendecak, lalu berlari mengangkat telepon, berharap itu adalah Gayoon.

“Halo?”

“Ayah?”

Itu Insoo. “Sayang?” Aku menyahut dengan suara kesakitan dan memerhatikan darah yang terus mengairi jempol dan mengalir ke lantai. Setetes demi setetes.

“Aku sedang di rumah Nenek sekarang,” kata Insoo. “Apakah Ayah baik-baik saja? Apakah Ayah sudah makan malam? Aku merindukan Ayah.”

Aku tidak bisa menjawab. Jantungku berpacu dengan waktu dan aku tidak bisa melepaskan pandanganku dari darah yang terus menetes ke lantai dengan cepat dan perlahan berubah menjadi kubangan darah. Pikiranku yang sedang kacau tidak mampu menyadarkan ingatan terkecilku bahwa begitu takutnya aku melihat darah. Aku mulai kesulitan bernapas dan merasa lututku gemetar.

“Ayah? Apakah Ayah baik-baik saja?”

Suara Insoo terdengar menggema di ujung telepon seolah dia sedang berbicara melalui mic dan pengeras suara. Aku pangling dengan keadaan sekitarku dan akhirnya jatuh ke lantai. Mataku mengerjap-ngerjap penuh fantasi, sementara gagang telepon terjatuh bersisian dengan wajahku. Sebelum jatuh tak sadarkan diri, aku masih bisa mendengar Insoo memanggilku, “Ayah! Ayah!”.

§

“Bisa bantu aku?”

Seulong mengangkat alis kearah ibunya. “Apa?”

“Ini..” ibunya mendorong sebaskom penuh lobak putih dan sebilah pisau. “Bantu Ibu untuk menyelesaikannya.”

Seulong memicing kearah lobak putih dan pisau secara bergantian. “Untuk apa ini?”

“Sebentar lagi musim gugur akan datang dan ada pesta panen minggu depan di balai desa. Aku disuruh membuat kimchi untuk mereka, tapi aku tidak bisa menyelesaikannya seorang diri. Aku masih harus mengurus sawi-sawinya, sementara kau memotong-motong lobak ini.”

Seulong melonjak mundur. “Tapi aku kan belum bilang setuju.”

“Ayolah. Ibu mohon, bantu sekali ini saja,” pinta ibunya.

Seulong diam sebentar, lalu berkata, “Berjanjilah padaku kau akan mengizinkanku untuk membeli buku baru minggu ini jika aku membantumu.”

Ibunya mengerutkan alis, terlihat agak keberatan. Seulong cemas, tapi tidak terlalu. Toh, jika ibunya tidak memenuhi keinginannya, pesta panen itu tidak akan jadi tanpa lobak ini. “Baiklah,” kata ibunya. Ibunya mendorong baskom dan pisau itu kearah Seulong. “Potong berbentuk batang korek api. Tapi jangan terlalu tipis dan jangan terlalu tebal.”

“Iya, iya,” sahut Seulong, lelah. “Ibu pikir aku sebodoh apa.”

Sementara ibunya telah menghilang ke teras, Seulong duduk di bangku kecil di dapur, memotong lobak dengan wajah cemberut. Agak tidak adil memang, walau sudah dijanjikan sebuah buku baru, dia tidak bisa melaksanakan tugas itu dengan sedikit perasaan ikhlas. Tangannya bergerak asal, memotong lobak di atas papan iris hingga terdengar bunyi “Ptak! Ptak!” dengan keras. Lalu, pada potongan lobak terakhir, pisaunya tergelincir dan mengenai ujung jempol kirinya. Seulong meringis dan memencet ujungnya hingga darahnya mengucur keluar dengan deras, menjatuhi potongan lobak di bawahnya.

Lobak putih kini berubah menjadi lobak dengan titik-titik merah di atasnya. Seulong menarik napas, memicing kearah jempolnya. Dia berlari dengan panik menuju bak cuci dan mengucurkan air keran di atas jarinya. Air membentuk sungai merah kecil yang masuk ke dalam pipa pembuangan, tapi darahnya tidak juga mau berhenti sementara jari Seulong terus berdenyut penuh kesakitan. Putus asa dan tidak tahu harus berbuat apa, Seulong berteriak, memanggil ibunya.

“Bu! Ibu!”

“Ada apa?” Ibunya menyahut dari teras. Terdengar sibuk.

“Bu, cepat kemari!” lirih Seulong.

Menyadari ada yang tidak beres, ibunya berlari menuju dapur dan melihat Seulong telah berlutut di depan bak cuci dengan posisi tangan masih di dalam bak. Ibunya melongok ke dalam bak dan melihat bercak darah. Dia cepat-cepat menutup keran dan bersimpuh di sebelah Seulong yang terlihat pucat.

“Seulong?” Dia menepuk pipi putranya. Seulong hanya menggumam dan wanita itu sadar keadaan sudah memburuk. “Ayo, biar Ibu angkat tubuhmu.”

Wanita itu menyelipkan kedua tangannya di bawah ketiak Seulong dan memapah tubuh putranya yang berumur lima belas tahun menuju meja makan. Dia kemudian berlari lagi mencari kotak obat di dalam kamar dan kembali dengan cepat. Seulong menutup matanya, tidak mampu memandangi darah di jempolnya, walau dia masih bisa merasakan darah itu masih mengaliri tangannya dan denyut sakitnya masih terasa.

Ibunya membongkar kotak obat dan mengeluarkan plester obat. “Tahan sebentar yah.”

Seulong hanya mengeluarkan suara lirih sementara ibunya mengerjakan tangannya. Berikutnya, plester obat sudah menutupi luka irisan di jempolnya dan dia merasa lebih baik setelahnya.

“Sudah,” kata ibunya.

Seulong memberanikan diri membuka mata dan melihat lukanya sudah tertutup. Ibunya membereskan isi kotak obat dan masih bersimpuh di hadapannya. “Bagaimana perasaanmu? Mau Ibu ambilkan minum?”

Seulong tidak mengatakan apa-apa, tapi tahu-tahu ibunya sudah berdiri dan membawakan gelas berisi air putih untuknya. Masih dengan wajah pucat, Seulong meneguk air putihnya hingga tegukan terakhir dan menghela napas. Ibunya memandanginya dengan sorot mengiba dan tersenyum.

“Kau ini laki-laki tapi takut dengan darah,” ujar ibunya. “Jika dengan melihat darah saja kau takut dan hampir pingsan, bagaimana kau bisa menghadapi ketakutanmu sendiri untuk menghadapi kematianku nanti.”

§

Aku terbangun dengan keringat membasahi dahi dan punggungku. Aku membuka mata dan melihat sekelilingku. Ini kamarku. Aku berada di kamarku dan tertidur di sana. Ini aneh. Siapa yang membopongku ke kamar tidur? Dan.. Tanganku kini sudah terbalut plester obat. Siapa yang melakukannya? Apakah itu Gayoon? Dadaku meledak oleh rasa penasaran. Aku beranjak dari tempat tidurku dan mendengar suara televisi dan keran yang masih menyala. Jelas ada seseorang selain diriku di rumah ini.

“Gayoon?”

Aku menyentuh kuseng pintu kamarku dan memicing kearah dapur. Ada sosok perempuan sedang membelakangiku, menghadap bak cuci. Dia mencuci seluruh piring. Rasanya aku mengenal orang itu. Rambutnya berwarna kelabu dan dia mengenakan sweater hijau dan blus bermotif bunga-bunga. Perasaan familiar itu agak menggangguku. Aku mengenal orang itu, tapi tidak bisa menebak siapa dirinya. Jelas itu bukan Gayoon. Wanita itu sedikit lebih pendek dari sosok Gayoon yang kutahu.

“Gayoon?” Aku berbisik lagi, walau sudah tahu itu bukan istriku.

Wanita itu telah selesai dengan cucian piringnya dan menutup keran air. Dia melepas sarung tangan plastik yang menutupi tangan hingga lengannya dan aku mengintip dari balik bahunya. Aku agak terkejut mendapati kulit tangannya telah keriput dimakan usia. Napasku tercekat dan suaranya terdengar jelas. Wanita itu menyadari keberadaanku dan membalikkan tubuh. Dia tersenyum kearahku.

“Sudah bangun rupanya.”

“I-ibu?”

Aku menahan napas. Itu ibuku, tapi dia seharusnya berada di pemakaman kota, bukan di dapurku.

§

Seulong menjinjit di antara pelayat dan isak sendu keluarga Jung. Dia tidak bisa melihat peti mayatnya, tapi dia bisa melihat Jinwoon bersimpuh di tepi makam mendiang ibunya bersama kakak-kakak tertuanya, meratapi kepergian ibu mereka tanpa daya. Seluruh teman-teman sekolah mereka datang, ikut menyalurkan rasa simpati. Tapi Seulong adalah satu-satunya orang dengan acting terburuk di antara mereka. Dia tidak bisa ikut menangis atau menundukkan kepala dan memasang wajah sedih atau cemberut.

Bukan bermaksud arogan, tapi Seulong hanya merasa hampa dan tidak mengerti, mengapa dia bisa berada di sini. Begitu satu per satu pelayat mulai meninggalkan makam, Seulong dan keluarga Jung masih bertahan di sana. Kakak-kakak Jinwoon mulai setengah menarik adik bungsu mereka untuk menjauh dari makam sang Ibu. Seulong mengawasi pemandangan itu dengan alis berkerut, sembari mengandai-andai, apa jadinya jika dia yang berada di posisi Jinwoon dan harus kehilangan sang Ibu?

§

“Bagaimana perasaanmu? Sudah lebih baik?”

Aku tidak menjawab pertanyaan ibuku. Mulutku jatuh menganga. Mataku mengerjap-ngerjap. Apa aku bermimpi? Tapi, jika benar ini memang mimpi, rasanya ini terlalu nyata. Aku ingat ibuku sudah meninggal sejak enam tahun yang lalu dan dia masih sama seperti terakhir kali aku melihatnya enam tahun yang lalu, sebelum beliau meninggal. Bedanya, dia terlihat lebih segar dan sehat sekarang. Seolah rasa nyeri di lutut yang biasa dikeluhkannya atau rasa pegal di pinggangnya tidak pernah ada.

“Seulong? Apa kau dengar Ibu?”

“A-apa?” sahutku terbata.

Ibu berjalan mengitari meja makan dan menarik salah satu kursi. “Duduklah.”

Aku hanya memandangi wajah ibuku, berusaha memahami segala kekonyolan ini.

Ibu menarik tanganku dan mendorong pundakku untuk duduk di kursi. “Kau ini kaku sekali, sih,” kekehnya.

“Mengapa Ibu ada di sini?” tanyaku dan entah mengapa, pertanyaanku itu terdengar agak konyol. Memangnya apa yang salah dengan seorang Ibu yang berada di rumah putranya? Ya, memang tidak aneh kecuali jika ibumu sudah me—

“Kau sudah makan malam?”

“Apa?”

Ibuku berjalan menghampiri lemari gantung di atas bak cuci dan membukanya. “Coba kulihat, apa ada yang bisa dimakan di sini.”

“Bu, semua bahan makanan ada di lemari es,” kataku. “Gayoon menaruh semuanya di situ.”

“Oh yah!” Ibuku berseru dan tertawa. “Maafkan aku. Aku hidup di zaman dulu, di mana lemari es masih hanya berupa lemari gantung.”

Aku memandanginya membungkuk di lemari es, lalu mengeluarkan kotak plastik berisi kimchi dan beberapa potong garlic ham ke atas pantry. Sementara dia mulai mengolah bahan-bahan tadi, aku terus menatap punggungnya tanpa berkedip. Aku gemetar di depan meja makan, lalu mengusap dahiku. Aku mulai berpikir, apakah karena segala kekacauan yang terjadi akhir-akhir ini, penglihatanku juga ikut mengacau.

“Di mana Insoo dan Gayoon?” tanya ibuku.

Aku bisa merasakan telapak tanganku mendingin. “Mereka..”

Ibuku membalikkan tubuh dan mengantarkan sepiring garlic ham yang telah diasapi ke atas meja. “Ke mana mereka?”

“Mereka sedang keluar.”

Ibuku berkacak pinggang dan mengerutkan alis. “Pada jam seperti ini?”

“Ke rumah orangtua Gayoon,” sambungku, pahit.

Aku bisa merasakan kekecewaan dari sorot mata ibuku. Tapi dia tidak menyinggung lagi soal Insoo dan Gayoon, dan hanya meneruskan mengeluarkan kimchi ke dalam wadah yang lebih kecil dan menyendokkan nasi ke dalam mangkuk.

“Makanlah.”

Aku memandangi irisan-irisan garlic ham di atas piring, semangkuk kimchi dan nasi hangat. Perutku memang kosong, tapi aku tidak bisa makan jika belum menemukan jawaban pasti akan seluruh kegilaan ini.

“Bu..”

“Kau butuh sesuatu yang lain?”

Aku menggeleng sedih. “Tapi Ibu tidak seharusnya berada di sini.”

Ibuku mendesah. “Lalu, menurutmu, aku seharusnya berada di mana?”

Di makam Ibu. Hatiku yang menjawab karena aku tidak sanggup mengucapkannya. Aku terlalu takut, jika aku sampai mengucapkannya, ibuku akan berubah menjadi asap dan menghilang—seperti yang sering kulihat di film-film ketika seseorang tidak seharusnya mengucapkan sesuatu yang sangat sensitive atau membahayakan sekelilingnya.

Ibuku tersenyum seolah tahu apa yang kumaksudkan, lalu mengulurkan tangan untuk menggenggam tanganku. “Aku datang ke sini karena merasa kau memang sedang membutuhkan bantuanku.”

§

Mereka semua berada di ruang tengah kediaman keluarga Lim. Seulong dan ibunya duduk bersama di sofa panjang berwarna abu-abu, sementara Guru Lee, Taecyeon dan Chansung, duduk di kursi kayu tua, saling berhadapan. Tidak ada senyuman, tidak ada teh hangat untuk para tamu, hanya wajah cemberut dan alis berkerut di kedua kubu masing-masing. Taecyeon dan Chansung menatap sinis kearah Seulong yang bersembunyi di balik lengan sweater putih ibunya yang kebesaran.

“Menurut laporan Taecyeon dan Chansung, anak Anda telah meneror mereka sepanjang malam melalui telepon,” ujar Guru Lee. “Benar begitu, bukan, Taecyeon, Chansung?”

Kedua anak itu mengangguk. “Benar,” timpal Chansung, “Seulong menghubungiku semalam dan dia mengancamku akan memukuliku sepulang sekolah dan menyembunyikan tasku.”

Ibu Seulong menunduk kearah anaknya. “Apakah benar begitu, Seulong?”

Seulong menggeleng lemah dan semakin menyusut di balik lengan ibunya.

“Anakku mengatakan dia tidak melakukannya,” kata ibunya.

“Mana ada maling yang mau mengaku!” sungut Taecyeon.

“Kalau begitu, berikan aku bukti bahwa anakku memang melakukannya,” ujar Ibu Seulong, “dan aku juga akan mencetak daftar nomor telepon yang dihubungi melalui telepon rumah kami untuk memberi bukti, apakah Seulong memang menelepon kalian atau tidak.”

“Tenang dulu, Nyonya Lim, tenanglah,” ujar Guru Lee. “Tidak perlu menggunakan emosi.”

“Dia hanya membela anaknya!” seru Taecyeon. “Ibu yang membela anaknya yang salah itu tidak benar!”

Ibu Seulong sontak berdiri dan membentak kearah Taecyeon, “Jaga mulutmu, Anak Muda!” Dia berbalik lagi kearah Guru Lee dan melanjutkan, “Jangan menganggapku salah, Guru Lee. Aku adalah orangtua yang bijak. Jika anakku salah, maka aku akan menghukumnya dengan setimpal. Tapi, aku mengenal baik putraku dan aku yakin dia tidak pernah meneror kedua anak muda ini. Dan ketika anakku tidak bersalah dan terancam, aku sebagai ibunya, akan membelanya!”

§

Seusai merapikan piring sisa makan malamku, ibuku melirik ke ruang tengah dan menyeringai kearahku. “Apa kau punya koleksi Louis Armstrong?”

Aku ikut menoleh ke ruang tengah dan memerhatikan pemutar DVD yang diselimuti debu di bawah meja televisi. Aku lupa sejak kapan kami menggunakan pemutar DVD. Mungkin sekitar enam tahun yang lalu. Sejak ibuku meninggal dan tepat di hari pernikahanku dengan Gayoon yang keempat—aku ingat berdansa dengan Gayoon di tengah lagu romantis yang mengambang di udara dan dua gelas sampanye.

“Aku rasa aku masih menyimpannya,” kataku. Aku menyimpan lagu Louis Armstrong ‘What A Wonderful World’ karena ibuku menyukainya. Dia biasa memutarnya saat aku masih kecil dan meletakkan tape­-nya dan memainkan lagunya keras-keras di dapur ketika memasak makan malam. Bahkan beberapa kali, aku memergokinya sedang berdansa dengan bayangan mendiang ayahku di depan kompor yang menyala.

“Ayo, berdansa!” seru ibuku.

Ibuku menuntunku ke ruang tengah dengan langkah riang dan tidak sabar. Aku membungkuk di depan pemutar DVD dan mulai memutar lagu Louis Armstrong. Beberapa detik kemudian, suara berat dan serak pria itu terdengar melantun dengan indah. Ibuku berdiri di hadapanku dan terkikik-kikik geli, lalu menatapku penuh harap. Aku tersenyum dan wajah ibuku agak mengingatkanku pada wajah Gayoon ketika dia mengharapkanku mengajaknya berdansa pada pesta prom SMU kami.

Aku membungkuk kearah ibuku dan mengulurkan tangan kearahnya. Ibuku menyambut uluran tanganku dan kami berdua merapat, lalu mulai berdansa. Kami berdansa dalam langkah ringan dan ritme yang indah. Aku meraba punggung ibuku dan terasa hangat. Dia mendongak dan tersenyum kearahku.

“Kau tahu,” kata ibuku, “aku sangat merindukan berdansa dengan ayahmu.”

Aku hanya membalas senyumannya dan mengangguk. “Aku tahu.”

“Tapi, ketika pesta dansa, ayahmu tidak pernah mau mengajakku berdansa,” lirih ibuku.

“Kenapa?”

“Katanya, dia terlalu malu untuk berdansa.”

§

Mobil Ford model tahun 1990 itu menepi di depan pagar sekolah. Itu hari pertama Seulong di sekolah menengah umum dan dia amat bersemangat. Akan ada banyak hal-hal baru yang akan dialami Seulong di bangku SMU. Bangku dan meja baru, seragam baru, teman-teman baru, pelajaran-pelajaran baru, atau mungkin pacar baru. Seulong melepas seat belt-nya dan memerhatikan keluar jendela. Sekelompok gadis berjalan di depan sana, hendak masuk ke dalam sekolah.

“Kau tidak melupakan sesuatu, kan, Seulong?”

“Iya.”

“Jangan lupa makan siang,” ujar ibunya.

“Aku tahu.”

“Ibu akan menjemputmu pukul dua siang nanti.”

“Iya, aku tahu,” gerutu Seulong, tidak juga berpaling dari gadis-gadis itu.

“Kalau begitu, cepat turun sebelum kau terlambat.”

“Iya, iya.”

Seulong menyampirkan tasnya ke bahu dan membuka pintu.

“Seulong!” Ibunya berseru.

Seulong menoleh. “Ada apa lagi?”

“Berikan ibumu ciuman.”

Seulong mengerutkan alis. Sekelompok gadis itu mendekat kearahnya dan memandangi Seulong dengan curiga, sementara ibunya masih menunggu di dalam mobil. Gadis-gadis itu melirik Seulong dan ibunya secara bergantian dan saling berbisik, lalu terkikik dengan mencemooh. Wajah Seulong berubah merah padam. Begitu gadis-gadis itu pergi, Seulong mendengus kearah ibunya.

“Sudahlah!” teriaknya marah. “Aku tidak mau memberi Ibu ciuman.”

Ibunya merengut sedih. “Ada apa? Apa yang salah?”

“Ibu tidak lihat gadis-gadis tadi? Apa kata mereka jika aku terlihat sedang mencium ibuku?”

§

Ibu menuangkan sampanye ke dalam gelasku dan kami meneguknya bersama, sembari duduk di sofa, masih dengan lagu Louis Armstrong berdendang di telinga. Kami kelelahan berdansa dan diam di sana dengan gelas di tangan masing-masing. Aku mendengar desah napas ibuku dan masih tidak percaya bahwa dia masih bernapas di sebelahku sekarang.

Ibuku memutar-mutar gelasnya dan memerhatikannya dengan mata menyipit. “Apakah ini gelas milik Gayoon?”

Aku mengangkat alis. “Hm?”

“Kalian sering merayakan hari pernikahan kalian dengan berdansa dan minum sampanye, kan?”

Aku mengangguk.

“Jadi,” ibuku mendesah dan meletakkan gelasnya di atas meja, “bagaimana sekarang? Apakah kau tidak berniat ingin melakukan apa-apa?”

Telapak tanganku dingin lagi. Aku merasa agak kecewa, kenapa ibuku harus merusak suasana menyenangkan ini dengan pertanyaan semacam itu. “Maksud Ibu? Apakah Ibu akan pergi?”

“Memangnya kau ingin Ibu tinggal?”

“Te-tentu saja.”

“Hm..” Ibuku memerhatikan seisi rumah, mendongak ke langit-langit, dan bergumam panjang. Dia tampak seperti seorang calon pembeli rumah dan sedang menimbang-nimbang, apakah dia cocok tinggal di rumah kecil seperti ini atau tidak. “Entahlah,” kata ibuku seraya mengangkat bahu. “Bagaimana dengan Insoo dan Gayoon jika aku tinggal di sini? Apakah mereka tidak akan terganggu?”

“Mereka tidak akan ada di sini, Bu.”

“Apakah itu artinya kau memang tidak akan melakukan apa-apa terhadap mereka?”

Aku membisu.

“Kau akan membiarkan pekerjaan, istri dan anakmu pergi begitu saja?”

“Ya, asalkan Ibu tetap tinggal.” Entah mengapa, ketika mengucapkan kalimat itu, aku merasa menjadi seorang Seulong yang berumur sembilan tahun dan sedang merengek. Aku terdengar manja, tapi aku tidak peduli.

“Jangan seperti itu, Sayang,” kata ibuku lembut.

“Aku tidak menginginkan siapapun selain Ibu!” tukasku. Nada suaraku meninggi. “Lihat apa yang terjadi sekarang padaku! Aku mengacaukan hidupku dan menghancurkanya sedemikian rupa, tapi Gayoon tidak ada di sini untuk menyelamatkanku. Hanya Ibu yang ada, walau aku sadar, bahkan sebenarnya Ibu sudah tidak ada!”

Aku terengah-engah, lelah karena berteriak. Ibuku hanya diam dan menatapku dengan sedih. Dan terbawa oleh emosi yang meluap-luap di atas kepalaku, aku pun mulai menangis.

“Aku mohon, Bu, jangan pergi. Aku membutuhkanmu,” isakku.

§

“Jangan mendekat!” seru Seulong.

“Seulong..” Ibunya bergumam di belakang punggungnya. “Jangan dengarkan ayahmu, Sayang. Dia hanya sedang kehilangan kontrol dirinya. Dia tidak benar-benar serius dengan ucapannya.”

Seulong mengusap ingus dan air matanya dan menangis lebih kencang. “Tidak. Ayah tidak menginginkanku. Tidak ada orang yang menginginkanku di dunia ini.”

“Ibu menginginkanmu, Sayang. Begitu juga dengan ayahmu. Kemarilah.”

Ibunya melangkah perlahan kearahnya. Seulong duduk di atas beton atap apartemen dan sesekali dengan hati-hati merunduk ke bawah, memerhatikan jalanan yang mengilat oleh air hujan dan kendaraan-kendaraan yang melintas di bawah sana.

“Seulong,” ibunya memanggil dengan lembut. Suaranya terdengar cemas dan agak putus asa. “Ayolah, Sayang. Jangan bertindak gegabah. Ibu dan Ayah membutuhkanmu.”

Seulong melirik tangan ibunya yang meregang dan terulur kearahnya. Dia mulai luluh ketika melihat setetes air mata ibunya yang jatuh ke lantai atap.

“Ayo, Sayang. Pegang tangan Ibu.”

Seulong mengulurkan tangan dan melompat turun, lalu menghambur ke dalam pelukan ibunya. Mereka berdua menangis dan ibunya terus menciumi rambut, dahi, pipi Seulong terus-menerus. Dan perkataan ibunya memang benar. Seulong tidak pernah tahu bahwa kedua orangtuanya—terutama sang Ibu—begitu merindukan dirinya setelah tiga tahun pernikahan dan tidak juga dikaruniai seorang anak. Anak-anak selalu mengingat diri mereka sebagai sebuah beban, bukan sebagai jawaban doa orangtua mereka. Tapi, setelah kejadian ini berlalu dan ketika anak-anak melupakan hal itu, semoga mereka ingat bahwa ada seorang Ibu yang sangat menginginkan mereka.

§

“Aku sudah pergi,” kata ibuku, “dan itulah kenyataan yang harus kau terima.”

Aku menggeleng dan mengusap air mataku. “Ya, tapi Ibu sudah kembali sekarang.”

“Bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku hanya datang untuk membantumu?”

Aku memejamkan mata dan memijat dahiku. Aku merasa dibodohi dan dikhianati. Mengapa ibuku harus datang jika dia harus pergi lagi?

“Karena seperti itulah kehidupan, Seulong,” kata ibuku, seolah bisa mendengar kegundahan hatiku. “Hidup ini seperti sebuah playlist. Terkadang, kau perlu membuang beberapa lagu, untuk membiarkan lagu baru masuk ke dalam playlist-mu. Tapi, kau tidak pernah kehilangan lagu-lagu lama itu, karena ketika kau mengingat-ingatnya lagi, akan ada kenangan di setiap nadanya yang akan membuatmu bahagia. Dan lagipula,” dia menggeser bokongnya untuk lebih dekat kearahku, “aku juga tidak pernah pergi, karena aku akan selalu ada di sini.”

Ibuku menunjuk dadaku dan tersenyum. Aku menghela napas panjang, lalu memeluk ibuku. Wangi tubuhnya masih persis sama dan betapa aku merindukan wangi tubuhnya. Aku melepaskan pelukanku pada tubuh ibuku dan memerhatikan seisi rumah. Terakhir kali aku melihat rumah ini begitu kacau. Namun, tidak ada lagi piring-piring kotor di bak cuci, atau pakaian kotor di lantai. Ibuku memang benar-benar datang untuk membantuku.

“Tinggal satu lagi,” kata ibuku.

“Apa?”

“Tinggal satu hal lagi yang perlu kubereskan sebelum aku benar-benar pergi.”

“Apa itu?” tanyaku dengan hati berdebar.

Ibuku mengucapkan sesuatu. Bibirnya bergerak, tapi tidak mengeluarkan suara.

“Ibu bilang apa?” tanyaku.

Dia menggerakkan bibirnya lagi, tapi tidak terdengar apa-apa.

“Bu?”

“Seulong!”

“Bu?”

“SEULONG!”

Dan gelap.

§

“Seulong!”

“Ayah!”

“Seulong!”

Aku membuka mata dengan kalap dan dadaku naik-turun dengan cepat. Lampu-lampu terang di atas kepala dan bau steril yang menyesakkan sudah memberi jawaban jelas bahwa aku sedang berada di rumah sakit. Anehnya, aku tidak ingat bagaimana aku bisa sampai di sini dan ke mana ibuku pergi. Lalu, sebuah tangan kecil menggenggam tangan kiriku dan membuatku sadar. Aku menelengkan kepalaku ke kiri dan melihat Insoo berdiri di sisi ranjang dan menatapku khawatir.

“Insoo?”

“Apa Ayah baik-baik saja?”

Aku hanya mengerjap-ngerjapkan mata dan tidak sanggup mengatakan apa-apa lagi, selain menarik tubuh putriku ke dalam dekapanku dan menangis. Lalu, tangan lainnya menyentuh pundakku dengan lembut dari arah belakang. Aku menoleh dan melihat Gayoon berdiri di sana dengan mata merah. Dia menghambur ke dalam dadaku dan menangis di sana.

“Aku kira kau akan mati, Seulong!” isaknya. “Demi Tuhan, kami sangat mengkhawatirkanmu.”

Aku memeluk istri dan anakku dengan penuh perasaan lega. Aku tidak mau kehilangan mereka dengan penyesalan di belakangnya, sama seperti apa yang kualami bersama ibuku ketika aku terlalu banyak mengabaikannya. Aku sadar bahwa aku terlalu banyak menyia-nyiakan waktu ketika seharusnya saat itu aku sedang bersama Ibu, tapi justru tidak melakukannya.

Aku sering mengatakan padaku ibuku agar dia tidak terlalu banyak bekerja agar tidak membuat badannya terlalu letih, tapi dia bilang itu kewajiban. Dan ketika sebuah penyakit jantung ringan menyerangnya setelah itu, aku khawatir jika dia akan meninggal dalam waktu dekat karena keadaannya yang mencemaskan. Anehnya, walau aku merasa begitu takut jika suatu saat ibuku akan pergi, aku tidak pernah tergerak untuk sekadar membantunya, meringankan pekerjaannya membersihkan halaman, atau memotong sayur di dapur. Kekhawatiranku hanya kesemuan belaka, sampai akhirnya ibuku meninggal enam tahun silam.

Setelah ibuku mengalami serangan jantung ringan, walau diiringi dengan kecemasan, aku juga diam-diam mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian ibuku suatu saat. Aku bahkan berjanji tidak akan menangis di pemakamannya nanti, toh, tapi aku menangis juga. Kau tidak akan pernah tahu persis, bagaimana rasanya ketika seseorang berkata, “Ibumu, dia meninggal”. Kalimat itu terdengar seperti sebuah bola besar, yang mencoba masuk ke telingamu, tapi terlalu besar dan perlahan-lahan menghancurkan gendang telinganmu untuk memaksa masuk ke dalam, lalu menghancurkan otakmu.

Namun, aku harap kau tidak akan pernah mendengarkan kalimat itu. Setidaknya, jangan dalam waktu dekat.

the end.

14 thoughts on “Going Home (Oneshot)

  1. Rasanya pengen nangis baca ini :””
    Ini ceritanya ada selipan flashback bukan? Soalnya di hp ga keliatan bedanya italic sama yg biasa hehe._.
    Duh gak tau mau komentar apa, pokoknya kereeen! Gaya bahasanya apalagi, cukup menginspirasi hehe.
    Ditunggu next FF ya! 😀

  2. TT…sedihh..jadi inget mama…
    aku juga kadang suka gitu ke mama..ngeliat dia cemas kepayahan sendiri ngurus rumah sampe sakit..tapi ga pernah hari itu juga ngebantuin .___. ugh ngerasa kesindir hahahaha…
    #anak malas jangan ditiru~ u,u

    Haisshh jadi ngebayangin engga2 nih….tapi hari itu pasti dateng sih…iyaaa tapi jangan sekarang2 >< gak mauuu…

  3. huhuhu 😦
    sedih sekali :'(( pas baca inget Ibu yang beberapa minggu lalu operasi
    bener2 bisa ngerasain posisi seulong
    ga ada yang bisa jelasin rasanya kalo ga ngerasain sendiri
    ya bener banget sbg anak mesti tahu ibunya kepayahan ngurus ini-itu tetep aja hati ga tergerak ngebantuin
    kereeen+mengaharukan

  4. epik banget ini critanya, terharu skaligus sedih bacanya..ngebayangin gmn klo berada di posisi seulong~~~ omigot2..i dont want it ><

  5. Adduuhh Ong >.< aduhh mas gantengku… Oke selalu sukses membayangkan Ong berwajah sendu…. Wajah galau yg ganteeng! Moral valuenya jebaaaA banget kak .-. Ibu…. Itu segalanya! Sedih juga jadi Ong… Tapi… Badan gede takut darah huahahaha
    Dan entah kenapa temennya Ong pada yg golongan kekaar semua -.- Jinwoon Taec sama Chan huahahaha. Aduh selalu komen hal gapenting. /rusak.suasana

  6. Adduuhh Ong >.< aduhh mas gantengku… Oke selalu sukses membayangkan Ong berwajah sendu…. Wajah galau yg ganteeng! Moral valuenya kenaaaa banget kak .-. Ibu…. Itu segalanya! Sedih juga jadi Ong… Tapi… Badan gede takut darah huahahaha
    Dan entah kenapa temennya Ong pada yg golongan kekaar semua -.- Jinwoon Taec sama Chan huahahaha. Aduh selalu komen hal gapenting. /rusak.suasana

  7. A VERY NICE FANFICTION!!! Walaupun aku gak sampe nangis sih nangisnya tapi arti dan hikmahnya boleh banget buat diambil! Jantung udh berdesir terus pas disebut gakmau membantu ibu karena aku sering banget kayak gitu *curhat ceritanya* oke to the point: FF daebak keren life learning banget. Keep writing and wait for next fanfiction!

  8. Great fiction! I cried like crazy just now. Seulong reminds me of myself who never express my true feeling to my mother. This is a total epic! Thanks for making such a beautiful and sweet story. I hope, I will not hear “Ibumu, dia meninggal” soon. I hope all of us here, we have a chance to show our mother that we are her proud child for her. Best Indonesian fic I’ve ever read!

  9. bagusss bgt nih ceritanya, jujur ya min mnurutku sbnrnya inti ceritanya ga bgtu berat, mksdku yaaa kayak cerita sehari2 gtu deh, tpi pendeskripsian (?)ceritanya yg bagus bgt 😀 daebaak~
    aku bacanya mau nangis tpi gjd mulu, soalnya pas aku lg baca ini, d blkngku ada ibuku lg ntn tv, aku ngerasa malu aja kalo ketauan nangis tiba2 xD
    crtnya simple tapi menginspirasi bgt, crtnya bkin aku jadi harus bisa lbh nurut sama ibu 🙂
    buat authornya, keep writing thor aku suka diksi yg d pke sma authornya *walau sbnrnya aku gatau banyak tntang diksi, hehe* tpi aku suka bacanya ^^~

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s