Serial Murder Case [File 1]

Serial Murder Case

Title : Serial Murder Case | Author : RettaVIP | Art : Artfactory ‘s almahonggi99 | Rating : Teen | Genre : Action, Mystery, Thriller, Romance | Length : Chapters | Main Cast : Taecyeon (2PM), Suzy (Miss A), T.O.P (Bigbang) | Supporting Cast : Other Kpop Idols | Disclaimer : Inspired from Detective Conan

“Tenang saja. Ada aku di sini, aku tidak akan membiarkannya membunuhmu.”

“Berlarilah. Jika aku menangkapmu, aku akan membunuhmu.”

Previous File : Teaser

###

2013

Mapo Police Station, Hongdae, Seoul.

Taecyeon menghempaskan tubuhnya di atas kursi roda kesukaannya. Ia menatap meja kerjanya dengan malas. Terdapat tumpukan-tumpukan file yang menanti dirinya di sana. Pekerjaannya ini, sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk bernafas. Ia mengerang dengan keras—cukup keras hingga orang-orang di sebelahnya dapat mendengarnya.

Yahh! Taecyeon-ah, lihat wajahmu! Kusut sekali,” kata Junho yang melongokkan wajahnya ke meja kerja Taecyeon yang berada di sebelahnya. Wajahnya yang ceria sangat kontras dengan wajah Taecyeon yang lelah.

“Junho-ya, apa kau tidak capek? Baru saja satu kasus kita selesaikan, mengapa mendadak segunung kasus menghampiri kita?” ucapnya sambil menatap tumpukan file di depannya dengan lesu. Kepalanya terkulai di atas meja kerja, menindih sebagian foto-foto bukti beberapa kasus.

Dengan panik Junho menarik kepala Taecyeon, menyelamatkan foto-foto yang tersegel plastik itu, dan meletakkan kepala Taecyeon kembali di atas meja. Dia tidak memedulikan erangan kesakitan Taecyeon saat ia menarik rambutnya dengan kasar.

Yahh! Ini barang penting, mana bisa kautindih seperti itu? Bagaimana kalau buktinya ada yang rusak? Bisa-bisa kita dipecat,” seru Junho panik, masih memeluk foto-foto itu dengan hati-hati.

Taecyeon mendengus kesal karena perlakuan kasar temannya sekaligus rekan kerjanya itu. Ia mendongak dan menatap langit-langit kantor polisi tempat kerjanya. Pekerjaan yang dipilihnya ini memang berat, tetapi dia harus menjalankannya. Menjadi detektif kepolisian memang bukanlah cita-citanya. Namun demi menemukan pembunuh kedua orangtuanya, ia memutuskan untuk menjadi detektif dan membalaskan dendam mereka.

Sama halnya dengan Junho. Meski sebelumnya dia adalah anak yatim piatu, seorang ibu yang baik hati telah mengadopsinya menjadi anak keduanya lima tahun lalu. Suami ibunya, telah dibunuh secara misterius, juga pada lima tahun lalu, sebelum Junho diadopsi. Walau Junho tidak pernah bertemu muka dengan ayah angkatnya itu, ia ingin membalas budi ibu angkatnya dengan mencari pembunuh misterius itu.

Secara garis besar, tujuan Taecyeon dan Junho sama, yaitu mencari pembunuh orangtuanya. Maka dari itu, mereka sekarang menjadi teman dekat dan sekaligus rekan kerja sebagai detektif kepolisian bagian pembunuhan.

Akhir-akhir ini, kasus pembunuhan semakin banyak, membuat mereka semakin sibuk dan tidak ada kesempatan untuk menggali misteri lima tahun yang lalu. Semua ini membuat mereka semakin depresi, tetapi tidak ada sedikit pun keinginan untuk menyerah, meski sudah lima tahun berlalu sejak terjadinya tragedi itu.

Junho menatap pigura foto yang ia letakkan di atas meja kerjanya dengan muram, layaknya menyesali sesuatu. Untuk beberapa menit ia terus memandangi foto ibu, kakak perempuan, dan dirinya itu. Karena Junho mendadak terdiam, Taecyeon pun menjadi penasaran. Ia mengintip meja kerja Junho.

Aigoo, cantik sekali kakak perempuanmu itu,” decak Taecyeon kagum. Matanya terpaku pada pigura itu.

Mendengar perkataan Taecyeon, Junho menoleh cepat dan mendorong kepala Taecyeon menjauh. “Hentikan pikiranmu itu! Aku tidak akan mengenalkanmu padanya!” seru Junho sambil membalikkan pigura foto itu.

Taecyeon terkekeh geli. “Tenang saja, aku tidak ingin berhubungan dengan gadis yang lebih tua.”

Sebenarnya, ia sedikit iri dengan Junho yang memiliki keluarga. Sedangkan Taecyeon, kedua orangtuanya meninggal secara misterius dan ia terlahir sebagai anak tunggal, sehingga sekarang ia sebatang kara. Bekerja hanya untuk menghidupi diri sendiri. Andai saja ia memiliki saudara, maka ia dapat hidup bersama dengan saudaranya itu dan menghidupinya. Pasti akan menyenangkan, pikirnya.

Kemudian, kedatangan Minjun bersama seorang gadis membuyarkan lamunannya.

“Detektif Ok!” Minjun—dengan sapaan Kepala Detektif Kim—berlari menghampiri Taecyeon—yang lebih akrab dipanggil Detektif Ok—dengan wajah panik. Gadis itu mengikuti di belakangnya, dengan mata bengkak—seperti habis menangis seharian. Taecyeon memiringkan kepalanya, bingung dengan keributan yang terjadi di pagi hari yang indah ini.

“Ada apa, Kepala Detektif Kim?” tanya Taecyeon penasaran. Ia mengusahakan untuk tersenyum, tetapi kemudian melenyapkan senyum itu setelah melihat keseriusan pada wajah Minjun. Sama halnya dengan gadis di belakangnya, wajah menyedihkannya membuat Taecyeon merasa tidak enak untuk tersenyum di hadapannya.

Minjun melambai-lambaikan secarik kertas putih yang telah ditulisi dan setangkai bunga mawar. Keduanya telah tersegel rapat di dalam plastik bening—sebagai pertanda bukti telah diamankan. “Kedua benda ini ditemukan oleh gadis ini di depan rumahnya tadi pagi. Sepertinya ini merupakan ancaman.” Minjun melihat ke arah gadis itu berulang kali. Gadis itu selalu membuang muka tiap kali Minjun melihatnya.

“Kuserahkan kasus ini padamu, Detektif Ok. Selidiki apa maksud dari semua ini bersama Detektif Lee. Dan, jaga gadis ini baik-baik,” lanjut Minjun. Ia menepuk-nepuk bahu Taecyeon, menyerahkan plastik itu dengan tangan satunya.

Taecyeon menerima plastik itu, tetapi pandangan matanya tetap terarah pada gadis itu. Gadis itu menundukkan kepalanya, seperti tidak ingin diperhatikan.

Siapakah gadis itu? tanya Taecyeon dalam hati. Mengapa aku merasa pernah melihatnya di suatu tempat?

Junho baru saja kembali dari kantin—membawa sebaki penuh makanan—ketika ia melihat gadis yang dibawa oleh Minjun itu. Spontan ia membeku dan menjatuhkan baki serta semua isinya, memandang lurus gadis itu dengan matanya yang membelalak. “Noona?” panggilnya di tengah-tengah keterkejutannya.

Noona? Jadi dia ini kakak perempuan Junho? pikir Taecyeon. Pantas saja aku merasa pernah melihatnya. Dia gadis yang ada di foto itu.

“Detektif Lee, jadi kau mengenal gadis ini?” tanya Minjun dengan nada tidak percaya kepada Junho, yang ia sebut sebagai Detektif Lee itu.

Junho sama sekali tidak menghiraukan perkataan Minjun. Ia berhambur memeluk gadis itu sambil menitikkan air mata. Tangisan gadis itu juga pecah ketika dipeluk oleh adik laki-lakinya.

“Suzy Noona, mengapa kau tidak mengatakan apa-apa padaku? Mengapa hal ini harus terjadi padamu, Noona-ya?” seru Junho di sela-sela tangisannya.

“Maafkan aku, Junho-ya. Aku juga tidak mengerti mengapa mereka mengincarku. Aku tidak pernah melakukan kejahatan kepada siapapun,” seru Suzy yang menangis semakin keras. Junho pun mendekapnya lebih erat lagi.

Sementara itu, Minjun berjalan mendekati Taecyeon yang masih menatap mereka berdua dengan penasaran. “Karena kasus ini menyangkut keluarga Detektif Lee, maka aku akan menjadikan kasus ini prioritas kalian. Jadi intinya, kalian tidak usah mengerjakan kasus lain, cukup satu kasus ini saja. Nanti berikan padaku file-file kasus di yang kutugaskan padamu sebelumnya, aku akan memberikannya pada tim detektif lain. Semoga berhasil,” bisik Minjun pada Taecyeon. Kemudian ia berjalan pergi meninggalkan mereka.

Sambil menunggu Junho dan Suzy menenangkan diri, Taecyeon melihat bungkusan plastik yang tadi diberikan Minjun padanya—yang hampir saja ia lupakan karena berita mengejutkan tentang Junho dan Suzy.

Kau akan menebus dosamu. Dosa yang kau buat lima tahun lalu. Berlarilah. Jika aku menangkapmu, aku akan membunuhmu.

P.S : Darah sudah menetes, dahan terkuat pun tidak akan mampu menahanku.

Beast

Taecyeon membaca tulisan di secarik kertas itu sambil bergidik ngeri. Ada-ada saja pembunuh jaman sekarang, batinnya. Untuk apa memberi surat sebelum membunuh? Baru pertama kali aku menemui pembunuh seperti ini. P.S? Isinya teka-teki kah itu? Aku sama sekali tidak berminat untuk memecahkannya. Beast? Nama samaran yang aneh.

Pandangan Taecyeon terarah ke setangkai mawar merah yang juga berada di dalam kantung plastik itu. Lucu juga penjahat ini, pikir Taecyeon sambil memainkan mawar itu di antara jemarinya. Tapi, untuk apa memberi mawar?

“Bagaimana, Taecyeon-ah? Kau menemukan sesuatu?” tanya Junho saat menyadari Taecyeon sedang memerhatikan barang bukti tersebut.

Taecyeon hanya menggeleng pelan. Ia sama sekali tidak mengerti apa maksud dari mawar dan teka-teki itu. Pembunuh ini pasti merencanakan sesuatu, tapi apa? Taecyeon tidak bisa menduganya sedikit pun.

###

“Perkenalkan, namaku Ok Taecyeon. Kau bisa memanggilku Taecyeon saja atau seperti yang lainnya di kantor ini memanggilku Detektif Ok.” Taecyeon tersenyum dan mengulurkan tangannya.

“Bae Suzy,” sahut Suzy singkat. Ia masih menundukkan kepalanya dan badannya gemetar. Tangannya pun tidak membalas uluran tangan Taecyeon. Sepertinya ia benar-benar terpukul dengan kejadian yang menimpanya. Dari sudut mana pun, ia terlihat ketakutan—sangat ketakutan.

Taecyeon menarik tangannya kembali dengan canggung. “Maafkan aku, bila pertemuan pertama kita berada di tempat dan keadaan yang seperti ini,” kata Taecyeon berusaha mencairkan suasana. Kemudian ia mendongak, menatap langit-langit ruang interogasi. Siapa pun pasti akan ketakutan bila dibawa ke ruangan ini, apalagi gadis polos sepertinya, pikirnya.

Ruangan ini sempit, mungkin hanya seukuran ruangan bagian dalam pos satpam. Seluruh ruangan ini dicat hitam, menampilkan sosok yang menyeramkan. Tidak terdapat apa-apa di dalam ruangan ini, hanya sebuah meja, dua buah kursi yang saling berhadapan di antara meja, sebuah lampu tergantung di atas meja, daftar hukuman pidana dan perdata beserta sanksinya pada pigura yang tergantung di dinding, dan tiang bendera Korea di sudut ruangan. Di setiap sudut langit-langit ruangan, terdapat speaker dan kamera untuk merekam proses interogasi.

Taecyeon melirik ke kaca di belakangnya. Ia yakin seratus persen bahwa Junho pasti ada di balik kaca satu arah itu, memerhatikan setiap gerak-gerik mereka berdua. Lebih baik ia berhati-hati dalam mewawancarai Suzy, jangan sampai ia melukai hati Suzy di depan adiknya sendiri.

Ia berdeham untuk menarik perhatian Suzy. “Maaf, tapi apa nama ‘beast’ mengingatkanmu pada sesuatu?”

Suzy menggeleng keras. Dari wajahnya yang polos itu, Taecyeon dapat mengetahui bahwa gadis ini tidak berbohong. Tanpa bertanya dua kali, Taecyeon mengangguk pertanda memercayai perkataannya.

“Lalu, apa mawar ini memiliki arti tersendiri buatmu?” Taecyeon beralih ke pertanyaan selanjutnya. Otaknya berpikir keras, berusaha memecahkan masalah ini.

“Mawar adalah bunga kesukaanku,” jawab Suzy dengan suara bergetar. Badannya menggigil, meski suhu ruangan ini sudah sangat hangat. Perlahan, Taecyeon mulai merasa iba padanya—yang mengalami semua ini.

Tangan Taecyeon meraba-raba masuk ke saku jasnya , mencari buku catatan kecil miliknya—yang selalu ia bawa sewaktu bekerja. Ia menorehkan tulisan kecil-kecil di halaman kosong buku itu ‘Mawar = bunga kesukaan’. Ketika ia hendak mengembalikan buku itu ke dalam kantongnya, ia teringat akan teka-teki yang ditinggalkan penjahat itu. Teka-teki yang ia anggap tidak penting itu mulai mengganggu pikirannya.

Darah sudah menetes, dahan terkuat pun tidak akan mampu menahanku.

“Baiklah, bisakah kau menceritakan apa yang terjadi lima tahun lalu?” tanya Taecyeon penasaran.

Suzy hanya menunduk terdiam. Keragu-raguan menampakkan diri di wajahnya. Entah mengapa, Taecyeon bisa merasakan ketegangan itu darinya. Aneh.

“Tidak apa-apa, santai saja. Tolong ceritakan, peristiwa itu mungkin akan membawa kita ke penjahat yang telah mengganggu hidupmu. Tenang saja, aku tidak akan membiarkannya mengganggumu.” Tanpa sadar Taecyeon menggenggam kedua tangannya yang terpaut di atas meja. Kedua tangan itu dingin—dingin sekali.

Suzy menarik tangannya dengan tiba-tiba, menjauh dari tangan Taecyeon. Sepertinya ia tidak menyukainya. Tanpa memandang wajah Taecyeon, ia mulai membuka mulutnya.

2008

Rose Cruise.

“Wah, ayahmu hebat sekali! Cruise ini benar-benar mewah!” seru Wooyoung dengan kagum saat melihat-lihat isi kapal pesiar milik temannya, Suzy.

“Tentu saja, ayahku adalah ayah yang terbaik,” kata Suzy bangga.

Ketujuh remaja itu sedang berkeliling melihat-lihat Rose Cruise, Cruise yang ayah Suzy berikan untuk hadiah ulang tahunnya yang ketujuh belas beberapa hari lalu. Hari ini, Suzy mengundang keenam teman dekatnya untuk merayakan ulang tahunnya di atas Cruise baru miliknya itu.

Cruise itu memiliki lima lantai, lengkap dengan dua puluh lima kamarnya. Cruise itu juga memiliki ballroom yang sangat besar, beserta restoran dan bar di dalamnya. Dekorasinya mewah, perabotannya juga terlihat mahal. Ayah Suzy benar-benar menghabiskan uangnya untuk menghadiahkan kapal pesiar ini untuk Suzy, yang ia namai sesuai dengan bunga favorit anaknya itu, Rose Cruise.

Keenam sahabatnya itu—Minzy, Wooyoung, Nichkhun, TOP, Seungri, Daesung—kelihatannya sedang asyik menjelajahi kamar-kamar tempat mereka menginap di dalam cruise ini.

Kamar-kamar itu sangat luas, setara dengan kamar president suite hotel bintang lima. Setiap kamar memiliki fasilitas TV LCD layar lebar yang menancap di dinding, komputer merk terbaru lengkap dengan wifi gratis, sebuah ranjang king size, sofa luas untuk empat orang, dapur kecil, meja makan untuk empat orang, kulkas yang dipenuhi oleh minuman kaleng dan buah, dan jendela yang besar untuk melihat pemandangan laut.

Mereka melonjak-lonjak histeris saat memasuki kamar mereka masing-masing untuk meletakkan barang bawaan mereka. Butuh waktu yang sangat lama bagi mereka untuk beranjak pergi dari kamar mewah itu. Suzy dengan sabar menanti mereka sambil tertawa sendiri.

“Suzy, sungguh hebat, bukan main kerennya kapal ini. Serasa tinggal di hotel bintang lima!” seru Seungri sambil mengacungkan jempolnya dan menggeleng-gelengkan kepala berulang kali.

Suzy hanya mengedipkan sebelah matanya pada Seungri, pertanda ia menyetujui pernyataan itu. “Kalian mau melihat ballroom kapal ini? Kamar-kamar ini sama sekali tidak sebanding dengan ballroom yang luar biasa itu,” kata Suzy meyakinkan mereka.

Tanpa ditanya dua kali, mereka mengangguk serempak dengan mata berbinar-binar. “Tunjukkan pada kami.” Daesung berbicara dengan tegas seakan-akan dia mewakili mereka semua. Memang sewaktu di sekolah Daesung adalah ketua kelas, tetapi nampaknya kebiasaan mereka berada di bawah pimpinan Daesung sama sekali tidak menghilang. Mereka tetap menghormati dan membiarkan Daesung memilih yang terbaik untuk mereka. Tingkat kepercayaan mereka sangat tinggi kepada Daesung, si ketua kelas favorit itu.

Dengan segera, Suzy menunjukkan jalan menuju ballroom tanpa berbasa-basi lagi. Sementara mereka semua mengagumi dekorasi interior dari kapal itu, TOP nampaknya sama sekali tidak menikmati pemandangannya. Wajahnya terlihat serius dan memandang lurus ke depan. Sama halnya dengan Nichkhun, wajahnya tampak gelisah. Seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, entah apa itu, Suzy tidak mengerti. Setelah memandangi mereka berdua cukup lama sambil bertanya-tanya dalam hati, Suzy mengangkat kedua bahunya dan melanjutkan perjalanan ke ballroom.

Dua orang yang misterius, pikirnya dalam hati.

2013

Mapo Police Station, Hongdae, Seoul.

“Taecyeon-ah,” seru Junho panik ketika membuka kenop pintu ruang interogasi. Ia terengah-engah dan gelisah. Tanpa menunggu ijin dari Taecyeon, ia langsung melangkahkan kaki ke dalam ruang interogasi, menyebabkan Suzy terpaksa menghentikan ceritanya.

Taecyeon berdiri spontan, wajahnya berkerut tidak senang. Ia merasa terganggu dengan kedatangan Junho yang memotong cerita penting dari Suzy. Masa lalu Suzy dapat menjadi kunci penting untuk memecahkan misteri dalam kasus satu-satunya yang sedang ia tangani saat ini.

“Ada apa lagi, Junho-ya? Tidak dapatkah kau melihat aku sedang bekerja?” omelnya kesal. Taecyeon memasukkan buku catatan kecilnya ke dalam kantong jas miliknya dengan kasar. Pandangan matanya berapi, mungkin dia akan membunuh Junho apabila dia mengatakan sesuatu yang tidak penting, apalagi setelah dia mengganggu pekerjaannya.

“Pembunuh itu telah beraksi,” kata Junho singkat dengan mata terbelalak.

Suzy menutup mulutnya dengan kedua tangannya, membekap seluruh kekagetannya dengan sepasang tangan yang mungil. Kakinya mendadak lemas, tidak heran ia terjatuh dari kursi tanpa ada yang mendorongnya. Pandangannya mulai buram, matanya berkaca-kaca. Seluruh ketakutannya kini menjadi kenyataan. Ancaman itu, bukan hanya candaan belaka. Ancaman itu, serius.

Taecyeon menopang Suzy untuk membantunya berdiri. Suzy masih belum pulih dari kekagetannya. Taecyeon memandangnya yang gemetar itu dengan prihatin. Nasib gadis ini terlalu malang, pikirnya.

“Noona, mungkin akan sangat tidak nyaman untukmu, tetapi bisakah kau mengikuti kami ke lokasi pembunuhan?  Mungkin saja orang yang dibunuh itu adalah orang yang kau kenali,” kata Junho dengan cemas, tetapi ia tetap harus menjalankan kewajibannya sebagai detektif, meski kasus ini berhubungan dengan kakaknya. Sebenarnya, Junho sangat tidak tega memerlakukan kakaknya seperti ini, namun apa boleh buat.

Suzy mengangguk pelan. Air matanya menetes perlahan-lahan. Junho mengusap air mata itu dengan tangannya. “Sabar, Noona. Kami akan memecahkan misteri ini dan menangkap pelakunya secepat mungkin,” kata Junho meyakinkan. Taecyeon juga mengepalkan tinjunya ke atas, siap untuk memberi pelajaran terhadap siapapun yang melakukan hal ini.

Suzy tersenyum lemah. Ia lega bahwa detektif yang menangani masalahnya adalah kedua detektif ini. Ia percaya mereka berdua tidak akan membuatnya celaka. Kenyataan ini membuatnya sedikit lebih nyaman.

“Permisi, apakah ini kantor polisi Mapo?” tanya seseorang yang tergesa-gesa memasuki kantor polisi. Kakinya berjinjit-jinjit dan ia meregangkan lehernya ke atas—mencari-cari seseorang.

Chagiya,” seru Suzy setelah ia menengadahkan kepala untuk melihat siapa yang datang.

Chagiya? Pacarnya? tanya Taecyeon dalam hati.

“Oh iya, perkenalkan. Dia adalah pacarku, Choi Seunghyun, tapi orang-orang memanggilnya TOP.” Suzy memperkenalkan TOP pada kedua detektif itu. Mereka pun saling berjabat tangan dan memperkenalkan diri masing-masing.

TOP? Dia orang yang ada di cerita Suzy! Orang ini ada sangkut pautnya dengan peristiwa lima tahun lalu? Si lelaki misterius. Taecyeon mengingat-ingat kembali cerita Suzy.

“Maafkan aku, tetapi apakah kau tidak keberatan untuk pergi bersama kami ke lokasi terjadinya pembunuhan?” Taecyeon menanyakan hal itu begitu saja dan mendapatkan Junho menyikutnya dengan sangat keras. Taecyeon mengernyit menahan sakit dan memberi isyarat dengan matanya bahwa ia akan menjelaskan nanti.

“Baiklah aku ikut, untuk menemani pacarku,” kata TOP sambil merangkul Suzy yang tersipu malu. Keberadaan TOP di sisinya sungguh membuatnya senang.

###

“TOP ada hubungannya dengan peristiwa lima tahun lalu. Apa kau tidak ingat dengan cerita Suzy tadi?” bisik Taecyeon begitu mereka tiba di lokasi pembunuhan.

Junho mendadak menjentikkan jarinya. Sebuah memori melintas di kepalanya. “Taecyeon-ah, kau cerdas sekali,” kata Junho sambil merangkul pundak Taecyeon.

Taecyeon mendesis jengkel dan mencampakkan tangan Junho dari pundaknya. Ia memimpin jalan menuju tempat para forensik yang sudah mendahului mereka. Taecyeon menoleh ke belakang, ia melihat Suzy dan TOP yang masih lengket. Setidaknya, TOP membantu menenangkan Suzy, pikirnya lega.

Mereka sampai di halaman belakang rumah korban itu. Semua pot bunga dan tanaman-tanaman tertata rapi di sana. Pemilik rumah ini kelihatannya adalah seorang pecinta kebun. Di tengah halaman itu terdapat pohon besar yang tua. Tim forensik terlihat berdiri mengelilingi pohon itu. Bagian paling menakutkannya adalah, di salah satu dahan pohon itu, tergantung tubuh korban yang sudah tidak bernyawa. Mayat itu dibiarkan tergantung begitu saja, sama sekali belum diutik. Cairan darah terus menetes dari mulutnya. Matanya tertutup, untuk selamanya.

Suzy terkesiap. Ia menatap mayat itu untuk beberapa saat. Seketika tangisnya pecah, kakiya bergetar hebat, dan ia jatuh berlutut. Ia berteriak frustasi.

“Kau mengenalnya?” tanya Taecyeon yang penasaran terhadap reaksi Suzy yang luar biasa. Sebenarnya percuma saja Taecyeon menanyainya, Suzy sama sekali tidak bisa memperhatikan sekelilingnya lagi. Di pandangannya hanya ada orang yang tidak bernafas itu.

Bagaikan menjawab pertanyaannya. Suzy berulang kali berteriak dengan lantang.

“Minzy-ya! Minzy-ya! MINZY-YA!”

To be continued…

###

Maafkan ya apabila hasilnya kurang memuaskan, karena masih part pertama, sama sekali belum ada yang seru dari cerita ini >.< yang selanjutnya dijamin pasti lebih seru 😀 yang ini sih masih pembuka aja hehe. Mohon dimaklumi kalau agak aneh, ini pertama kalinya aku buat cerita tentang detektif, masih belajar :p Meski begitu, beri comment ya, apapun itu pasti aku hargain 😀

53 thoughts on “Serial Murder Case [File 1]

  1. Top sama suzy pacaran? sedikit kaget dan nggak cocok menurut aku hahaha tapi ini kan author yg bikin aku gak bisa ikut campur hiihi, agak curiga nih thor sama TOP, nickhun juga!

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s