[FF Freelance] Blind in Love (Part 1)

blind in love

Title : Blind In Love (Chapter 1) || Author : Eugenia Kim || Tumblr : ksunmi1248 || Rate : PG-15 || Length : 5450 words || Genre : Romance || Cast’s : Kim Taeyeon [GG], Kim Jongwoon [SJ], Tiffany Hwang [GG], Cho Kyuhyun [SJ], Kim  Hyoyeon [GG], Lee Hyukjae [SJ] || Disclaimer : Terinspirasi dari berbagai lagu, novel, drama dan ff lain.

 

“Destiny is not a matter of chance, but a matter of choice. It is not a thing to be waited for, It is a thing to be achieved.”

 

“Taeng…Taeng….Kim Taeyeon!!!”

Taeyeon tersentak dan mengangkat wajahnya menghadap Hyoyeon yang tengah duduk di hadapannya. “Apa?”

“Apa yang kau lamunkan?” Tanya Hyoyeon dengan tatapan menyelidik.

“Tidak..Tidak ada.” sahut Taeyeon dan meminum Lemon Tea-nya yang sudah terasa hambar akibat dari es yang sudah mencair.

Tidaklah sulit untuk seorang Kim Hyoyeon membuktikan bahwa gadis yang ada di depannya ini sama sekali tak menyimak ucapannya, “Jadi apa kau mengerti dengan apa yang kujelaskan, Kim Taeyeon?”

Tepat sasaran. Pertanyaan Hyoyeon itu seketika membuat Taeyeon menautkan kedua alisnya, “Memang Eonni bicara apa tadi?”

“Sudah kuduga kau tak menyimakku, dengarkan aku Taeyeon-ah… Aku berniat mengirimu untuk audisi musikal lagi. Kudengar kelompok musikal Sunghwa sedang mempersiapkan pementasan musikal Swan Lake. Mereka mengadakan audisi untuk pemeran Odette-nya.” Taeyeon yang mendengarkan penjelasan Hyoyeon hanya menganggukkan kepalanya dan membulatkan mulutnya.

Sejenak Hyoyeon berpikir, lalu ia pun melanjutkan kalimatnya, “Sepertinya kau tidak tertarik.”

“Apa?”

“Aisssh, apa kau mau mengikuti audisi?!” Sepertinya Hyoyeon sudah kehilangan kesabaran. Dia pun mencondongkan kepalanya mendekat ke Taeyeon yang ada di depannya dan berbisik “Ini bisa memberikanmu jalan untuk menjadi artis musikal.”

“Entahlah, aku belum berpikir kesitu.”

“Ya! Haruskah kau memberiku respon yang seperti itu Taeyeonie? Aku hanya ingin mengarahkan kau ke jalan yang lebih baik, kau bisa menari dengan sangat baik, dan suaramu! Suaramu itu sangat indah, masa kau hanya akan menyia-nyiakan semua itu dengan tetap menjadi guru kesenian di sekolah dasar dan guru tari di sekolah kursus menari.” Hyoyeon mengomel panjang lebar menanggapi balasan Taeyeon yang hanya sekenanya. Sungguh kadang ia tak habis pikir dengan tingkah laku sahabatnya ini.

“Taeyeonie, ayolah aku mohon..”

Kenapa wanita ini sangat suka merepotkanku dengan segala keinginannya yang aneh-aneh.

“Tolong” kali ini Hyoyeon sudah menangkupkan kedua telapak tangannya dan memasang muka memelas.

“Tid-“

“Aku mohon Taeyeoniiiie!!!!!!”

Taeyeon yang mulai merasa kesal sekaligus iba pada temannya ini pun akhirnya menyerah, “Baiklah, aku akan mengikuti audisi ini, tapi hanya audisi! Ingat hanya audisi, setelahnya aku akan mengambil keputusanku sendiri, kau puas Hyo-ah?!”

Hyoyeon yang mendengarkan jawaban Taeyeon dengan seksama langsung berdiri dan memeluk Taeyeon yang ada di seberang meja. “Jinja!? Aaa aku menyayangimu Taeyeonie!!!”

“Lepaskan aku sekarang Kim Hyoyeon-ssi, atau aku akan membatalkan audisi itu.” Taeyeon yang berada di pelukan Hyoyeon berusaha melepaskan pelukan Hyoyeon yang membuatnya kehilangan napas.

_____

“YA! Lee Hyuk Jae! Akhirnya kau menjawab teleponku. Kemana saja kau sampai-sampai tak pernah menjawab telepon dariku?

Belum sempat Hyukjae mengatakan “Halo” kata-kata itu sudah begitu saja menerjangnya. Merasa kenal dengan suara yang menerjangnya saat itu, Hyukjae terkekeh dan berkata, “Segitu rindunyakah kau padaku Hyung? Bahkan kau tak memberiku kesempatan untuk sekedar mengatakan Halo. Aku curiga, kau bukannya menyembuhkan penyakit pasien-pasienmu itu Hyung, melainkan membuatnya semakin terkulai lemas akibat suaramu itu.”

Kim Jongwoon – pria yang dipanggil Hyung oleh Hyukjae itu hanya tertawa hambar , “Lucu sekali gurauanmu Lee Hyukjae.”

Jongwoon berdiri menghadap kaca jendela besar di salah satu rumah sakit di Kota New York sambil sebelah tangannya menggenggam ponselnya dan yang lain dimasukkan ke saku celananya. Matanya sibuk memerhatikan hiru pikuk jalanan di bawah sana. Pemandangan yang sudah sangat biasa dilihat oleh Kim Jongwoon 7 tahun terakhir, namun Jongwoon tetap menyukainya.

“Jadi, apa sebenarnya tujuanmu meneleponku Dr.Kim?” Tanya Hyukjae memecah keheningan.

“Bulan depan, tepat 2 hari sebelum hari peringatan kematian istriku aku akan pulang bersama Taewoon, Hyuk-ah. Lalu..”

“Lalu?”

“Sepertinya aku dan Taewoon akan menetap di Seoul untuk seterusnya.”

“Kau yakin Hyung?” Tanya Hyukjae memastikan.

Jongwoon mendesah berat, sebenarnya ia masih ragu dengan keputusannya ini. Tapi bagaimanapun juga, ia tidak mau hidup dengan dihantui rasa trauma yang begitu membekas di hati serta pikirannya. Perlahan tapi pasti, Jongwoon menjawab pertanyaan Hyukjae, “Hyuk, aku tidak bisa hidup seperti ini terus. Rasanya seperti aku kabur dari masalah-masalah yang kuhadapi. Lagipula aku harus mulai mengenalkan Taewoon dengan kehidupan ibunya.” Jawabnya diakhiri dengan kekehan kecil.

“Jadi, aku yakin kau tak akan berusaaha meneleponku sampai berkali-kali jika kau tak meminta sesuatu dariku, jadi apa sesuatu yang kau maksud saat ini Hyung”

“Carikan aku apartment Hyuk-ah, kalau bisa yang tidak terlalu jauh dari rumah sakit. Ah, aku ingat aku sempat meminta Hyoyeon untuk mencarikan sekolah untuk Taewoon, kau bisa membantu juga kan Hyuk?” pinta Jongwoon panjang lebar.

“Heh.. Kim Jongwoon, aku tahu kau adalah sepupu dari istriku, tapi tak bisakah kau membantuku untuk mengurangi bebanku? Bukan malah menambah bebanku seperti ini.” Sahut Hyukjae dengan keluhannya.

“Sebegitu sibuknyakah dirimu Hyuk? Ah, pantas saja kau tak pernah menjawab teleponku.” Sangka Jongwoon.

Hyukjae yang tak ingin berdebat dengan iparnya ini mendesah berat, “Hyung, kelompok musikalku sedang mempersiapkan pementasan baru, kami punya jadwal latihan yang  cukup pa-“

Belum selesai Hyukjae menjelaskan, Jongwoon menyelanya, “Hyuk-ah, maaf aku tutup dulu, sepertinya aku harus memeriksa pasien sekarang, nanti aku meneleponmu lagi, annyeong.”

Geez, benar-benar menyebalkan kau Kim Jongwoon.” Omel Hyukjae pada ponselnya. Usai menerima telepon dari Jongwoon, Hyukjae langsung menghempaskan tubuhnya ke atas sofa yang terletak di ruangan kerjanya itu. Ia memutuskan untuk mengistirahatkan pikirannya itu  sejenak dengan memejamkan matanya, tapi itu tidak berlangsung lama sampai ia mendengar pintu ruangannya itu diketuk. Dengan malas dan terpaksa, Hyukjae pun menjawab ketukan pintu itu tanpa merubah posisi badannya , “Masuklah!”

Begitu pintu dibuka, seorang wanita dengan gaya berpakaian yang sangat modis masuk ke ruangan itu lalu menutup pintu itu pelan. Melihat orang yang dicari masih tegap pada pendiriannya untuk beristirahat, wanita itu pun berinisiatif untuk menyapa pria itu duluan. “Sepertinya aku mengganggumu Yeobo?”

“Ah, Hyoyeon-ah, aku sangat lelah dan kalut. Duduklah sini,” jawab Hyukjae setelah membuka matanya dan memperbaiki posisi duduknya menjadi bersandar. Tak lupa ia menunjuk sisi sofanya yang kosong ketika menawari istrinya itu untuk duduk dan meletakkan lengannya di sandaran sofa yang ia tawarkan untuk istrinya itu.

“Kau darimana?” Tanya Hyukjae ketika Hyoyeon sudah duduk disampingnya bersandar pada lengan Hyukjae.

“Karena kebetulan tadi Taeyeon tak ada jadwal mengajar di sekolah, jadi aku pergi minum kopi di cafe biasa bersamanya lalu aku menyeretnya ke Sunghwa Musical Company. Setelah itu aku menjemput Hyoeun dan mengantarnya pulang.” Jelas Hyoyeon sambil menyandarkan kepalanya di lengan Hyukjae.

“Sunghwa Musical Company? Untuk apa kau menyeretnya ke sana?” Hyukjae bertanya dengan ekspresi bingung.

“Untuk membuatnya terlihat setelah sekian lama terhempas.”

*****

Ruang latihan itu sudah sepi sejak satu jam yang lalu. Hampir semua lampu di ruangan itu sudah dimatikan, kecuali lampu yang berada di sudut ruangan. Lampu itu sedang menyorotkan cahanya ke tubuh seorang gadis yang masih berusaha menguasai gerakan tari yang menurutnya cukup sulit. Berulang kali gadis itu mencoba memerhatikan gerakannya melalui bayangan cermin di ruang latihan itu. Tapi tetap saja, ia merasa gerakannya terlalu aneh dan tidak pantas.

“Taeyeon-ah, kau belum pulang?”

Taeyeon menolehkan wajahnya ke asal suara dan mendapati salah seorang sahabat terbaiknya, Cho Kyuhyun. Pria itu sedang bersender di pintu ruang latihan sambil melipat tangannya di depan dada.  “Sejak kapan Oppa disitu? Aku masih ingin latihan Oppa, Oppa sendiri?”

“Aku ingin mengajakmu pulang bersama.” Balas pria bernama Kyuhyun itu.

“Entahlah, sepertinya aku belum ingin pulang oppa.”

“Apa Changmin akan menjemputmu?

“Entahlah.” Jawab Taeyeon singkat sambil menaikkan  bahunya.

“Wae?” Tanya Kyuhyun lagi. “Ayolah Taengoo kita pulang, lagi pula hampir semua orang di kantor sudah pulang ke rumah mereka, tak terkecuali, Hyukjae Hyung dan Hyoyeon Noona.”

“Huuh,” keluh gadis itu. “Aku tak percaya Hyoyeon Eonnie memintaku untuk mengikuti audisi di Sunghwa Musical Company. Gerakannya terlalu susah dan ” ucap gadis itu terpotong.

“Dan?” Tanya Kyuhyun meminta tambahan penjelasan.

“Merepotkan.”

“Sudahlah, biarkan saja, lagipula sepertinya audisi ini akan jadi pengalaman bagus untukmu, jadi percaya diri saja.” Ucap Kyuhyun mencoba menghibur dengan ekspresi datarnya, tapi gadis itu hanya balas menghela nafas panjang.

Tak lama setelah itu, Kyuhyun kembali membuka pembicaraan, “Oh iya, tadi Hyoyeon mengatakan padaku, bahwa sepupunya yang tinggal di New York akan pulang ke Korea, dan rencananya, keponakannya akan di sekolahkan di tempat yang sama dengan Hyoeun, sekolah tempatmu mengajar.”

“…..”

“Dan dia memintamu untuk mengurus kepindahan keponakannya itu Taeyeon-ah.”

‘Sebenarnya apa mau wanita itu. Sudah cukup aku merasa kesal karena harus, mengikuti audisi, sekarang ia malah memberikanku tugas lain’.

“Benar-benar orang itu. Lebih baik aku pulang, aku lelah!” Ucap Taeyeon dengan nada kesal dan malas lalu keluar dari ruang latihan.

“Hey! Taengoo, tunggu aku!” Teriak Kyuhyun lalu berlari mengejar Taeyeon.

_____

 

1 bulan kemudian

Siang itu lalu lintas di sekitar Bandara Incheon dapat terbilang sangat padat. Mobil yang satu dengan mobil yang lain tak mau kalah saling bersahutan dengan bunyi dari klakson mobil masing-masing. Begitu pula dengan seorang gadis cantik dengan senyum menawan yang sedang berada di dalam sedan putihnya. Sedari tadi ia tak bosan bosan untuk sekedar menengok ke kanan atau pun ke kiri hanya untuk sekedar mencari celah untuk membebaskan mobilnya dari padatnya jalan pada siang itu. Tapi, sudah dapat dipastikan hasilnya nihil. Baik, sekarang dia sudah terlalu gusar. Sekitar lima belas menit lagi, orang yang akan ia jemput di bandara akan mendarat. Tapi sepertinya tidak ada tanda-tanda bahwa kemacetan pada siang itu akan segera usai. Dan hal yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah mengetuk-ngetukan jari- jari lentiknya dengan gemas sembari berharap akan segera terbebas dari kemacetan.

‘Oppa tunggu aku,’ ucap gadis itu di dalam hatinya. Tak lama setelah itu, ponselnya mengeluarkan bunyi nyaring yang khas menandakan ada panggilan yang masuk. Diraihnya ponselnya yang ia letakkan di atas dashboard, lalu ia pun menggeser layar sentuh ponselnya itu tanpa membaca nama penelepon.

“Yeobseyo!” Jawab gadis itu dengan ketus.

“Steph, ada yang salah denganmu?” Ucap seseorang di seberang. Merasa mengenalli suara sang penelepon, gadis itu langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya lalu coba membaca nama penelepon di layar ponselnya. “Nomor korea,” gumam gadis itu.

“Oppa, ini kau?!” Tanya gadis itu memastikan.

“Baru dua hari yang lalu aku meneleponmu, dan sekarang kau melupakan suaraku, sunggguh miris,  Steph.”

Gadis yang dipanggil  steph itu memilih untuk mengabaikan pertanyaan lawan bicaranya dan menerjang sang penelepon dengan pertanyaan lain, “Kau sudah landing Oppa?”

“Hmm, baru saja. Tapi aku masih mengurus visa dan bagasi, kau dimana?”

“Errrrr,” gadis itu kembali celingukan sendiri, “Oppa! Ini tak sepenuhnya salahku, kau datang lebih awal, dan aku terjebak kemacetan, jadi sebaiknya kau menungguku, arasso!” Jelas gadis itu membela diri.

“Ck, tapi kau harus siap menerima hukuman Stephanie Hwang.”

 

Stephanie, atau yang biasa dipanggil Tiffany, langsung berlari ke dalam airport setelah memakirkan mobilnya di areal parkir airport. Sesampainya di areal kedatangan luar negeri, ia langsung mengedarkan pandangannya. “Kemana manusia itu?” Gumamnya setengah mengomel. Merasa lelah setelah berlari cukup jauh, Tiffany pun membungkukan badannya dan meletakkan kedua tangannya diatas pahanya untuk menopang badanya. Matanya  menatap susunan keramik di lantai airport sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Tapi pemandangan itu tak berlangsung lama sampai sebotol air mineral menghalangi tatapannya ke lantai. Gadis itu langsung mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang telah menyodorkan air mineral itu padanya.

“O-Oppa..” Ucap gadis itu terbata.

“Aku selalu mengatakan padamu untuk tidak memaksakan diri Steph.”

“…..”

“Kau tak haus?”

Mendengar pertanyaan pria itu, Tiffany hanya tersenyum memamerkan eyesmilenya. “Hey, minumlah! Aku sengaja membelikannya untukmu.” Paksa pria itu.

Sepertinya Tiffany memang sangat hobi mengabaikan ucapan pria itu, malah kali ini ia lebih memilih untuk berdiri dan menatap pria itu dengan tatapan menantang namun tetap dengan ekspresi matanya yang manis.

“Auntie..” Ucap seorang anak kecil yang sedari tadi bersembunyi di balik kaki ayahnya.

Tiffany yang menyadari keberadaan anak kecil itu langsung berseru, “Taewoon-ah! Seru Tiffany sambil merentangkan tangannya. Anak kecil yang dipanggil Taewoon itu langsung berlari berhambur memeluk Tiffany. “Miss You, Auntie!” Ucap Taewoon yang masih berada dalam pelukan Tiffany.

“Miss You too, Taewoonie.” Balas Tiffany sambil mengelus punggung dan kepala Taewoon.

“Ehem, sepertinya aku hanya dijadikan obyek terabaikan disini.” Sindir sang ayah, yang tak lain dan tak bukan, Kim Jongwoon.

Tiffany yang menyadari sindiran Jongwoon, langsung melepaskan pelukannya dengan Taewoon. “Ayo, lebih baik aku antar kalian ke apartment baru kalian.” Ajaknya sambil tersenyum jahil dan memamerkan sebuah kunci apartment di depan wajah Jongwoon. Jongwoon pun langsung berjalan dengan merangkul pundak Tiffany di sebelah kanan dan menggandeng tangan Taewoon di sebelah kirinya.

 

“Jadi apa rencanamu besok, Oppa?” Tanya Tiffany ketika Jongwoon meletakkan dua mug berisikan cokelat panas di atas meja di hadapan Tiffany.

“Mungkin besok aku ingin berbelanja keperluan rumah,” Jawab Jongwoon sambil mendudukkan dirinya berhadapan dengan Tiffany, sementara Tiffany hanya balas dengaan anggukan.”Terimakasih sudah membantuku merapikan apartmen baruku Steph.” Tambah Jongwooon lagi.

Kembali gadis itu hanya membalas dengan senyuman dan meraih mug cokelat panas yang ada di depannya. Seketika aroma khas cokelat menggelitik hidung Tiffany. Tiffany menyesapnya sedikit dan merasakan kehangatan yang mengalir di tubuhnya. “Jadi apa aku harus mengantarmu untuk membeli keperluan Oppa?”

Pria itu nampak berpikir. “Sepertinya aku jadi merepotimu terus Steph?”

“Oppa, kita ini kan bersahabat, aku bisa mengantarmu. Aku tau kau masih trauma.” Tawar Tiffany.

“Sepertinya aku harus mulai belajar mengemudi lagi, Steph. Aku tak mau terus bergantung kepadamu atau transportasi umum,  dan sepertinya aku juga harus mengurus kartu kependudukanku. Jadi, aku tak akan terus merepotimu. Ah iya, bagaimana? Kapan aku bisa mulai praktik di rumah sakit tempat kau bekerja?”

“Ah aku lupa!” Seru Tiffany sambil menepuk keningnya. “Kata dokter Choi, sepertinya senin ini kau bisa mengadakan pertemuan dengannya.” Dan Jongwoon hanya mengangguk paham. “Lalu, bagaimana dengan Taewoonie? Apa kau sudah mencarikannya sekolah?”

“Aku sudah menyerahkan semuanya kepada Hyoyeon.” Jawab Jongwoon sekenanya lalu berdiam sejenak. “Dua hari lagi aku akan pergi ke pemakaman Sooyoung. Aku ingin menunjukkan kepada Taewoon tempat ibunya beristirahat.”

Tiffany meletakkan mug yang sedari tadi ia pegang kemudian meraih tangan Jongwoon dan menggenggamnya, “Oppa, kau sudah sampai tahap sejauh ini, jangaan biarkan dirimu kembali terjebak dalam kesedihan dan trauma yang mendalam. Aku yakin Tuhan pasti sedang merencanakan sesuatu yang indah setelah kau kehilangan Sooyoung Eonni, kau hanya perlu bersabar dan berusaha, oppa.”

Jongwoon yang melihat tingkah sahabatnya itu mengulas senyum kecil dan mengangguk sebisanya.

‘Dan kuharap kau mendapatkan kebahagiaan itu bersamaku, opaa…’ Ucap Tiffany dalam hati.

 

*****

 

Taeyeon melangkah dengan pasti menuju sebuah area pemakaman. Ia sudah hafal betul jalan yang harus dilewatinya untuk sampai ke pemakanan itu. Jalan menuju ke area pemakaman itu cukup menanjak, jadi tentu diperlukan tenaga ekstra untuk melewatinya. Tangan kanan gadis itu menggenggam sebuah buket bunga mawar putih, dan satunya menjinjing sebuah keranjang piknik. Selama perjalanan, tak jarang ia mengganti posisi buket bunga yang ia bawa dengan menjepitnya dengan lengan tangan kirinya yang memegang keranjang piknik. Itu dikarenakan tangan kanannya  harus menjaga rambutnya agar tidak tertiup angin dan menghalangi pandangannya.

Begitu sampai di depan pusara yang ia tuju, Ia langsung membersihkan pusara tersebut. Tak lupa setelah itu ia meletakkan buket bunga mawar putih yang ia bawa dan barang-barang dari dalam keranjang pikniknya, persembahan berupa buah-buahan, kimbap dan anggur beras, makanan favorit sang pemilik pusara. Setelah semua dianggap sempurna, Taeyeon langsung melakukan sikap hormat khas warga Korea dan mulai berdoa dengan khusyuk. Usai menghaturkan doa, Taeyeon mengutarakan perasaannya kepada pusara itu.

“Sooyung Eonni, bagaimana kabarmu? Tak terasa 7 tahun telah berlalu setelah kepergianmu. Meskipun aku dan kau hanya hanya berteman selama 8 bulan, tapi jujur sangat sulit untuk merelakan semuanya meskipun 7 tahun telah berlalu. Aku ingat betul bagaimana kau menemukanku, lalu menjagaku dan merawatku. Kau menganggapku sebagai adikmu sendiri. Bahkan kau membantuku  melanjutkan hidupku melalui Hyoyeon Eonni. Aku harap suatu hari nanti kau memberikanku jalan, untuk menebus semua yang telah kau lakukan kepadaku eonni. Kau tahu Eonni, disini aku sangat merindukanmu. Bahkan sampai saat ini aku masih berpikir tentang dirimu dan anakmu yang waktu itu kau kandung. Jika sekarang anak itu ada di dunia ini, pasti dia sudah tumbuh dewasa. Jika dia perempuan dia pasti secantik dirimu. Jika saja aku bisa bertemu dengan anakmu itu, aku pasti akan menjaganya untukmu eonni.”

Begitulah ungkapan perasaan Taeyeon kepada pusara seseorang yang ia panggil Sooyoung. Tanpa ia sadari, air mata sudah mengalir cukup deras dari kelopak matanya. Bahkan ia sempat memeluk pusara itu. Tak mau larut dalam kesedihan untuk waktu yang lebih lama lagi, Taeyeon langsung berdiri dan bergegas meninggalkan pusara itu.

“Sooyoung eonni…. Mungkin sekian untuk hari ini. Aku berjanji akan lebih sering mengunjungimu. Aku pulang dulu eonni.” Pamitnya disusul dengan membungkukan badan sembilan puluh derajat ke hadapan pusara itu.

 

Kesunyian mendominasi sepanjang perjalanan mobil itu. Tak ada yang membuka pembicaraan. Orang-orang di dalam mobil itu asyik dengan kegiatan masing-masing. Tiffany, yang duduk dibelakang kemudi lebih memiliih berkonsentrasi pada kemudinya. Kim Jongwoon yang duduk di sebelahnya hanya melemparkan pandangan kosongnya ke luar mobil sambil bersenandung kecil mengikuti irama yang mengalun dari radio yang ada di dalam mobil. Sementara Kim Taewoon asyik dengan buku science yang mirip seperti komik untuk anak-anak. Sesampainya di tempat yang mereka tuju, mereka semua langsung turun dari mobil putih itu. Tak lupa Jongwoon membuka bagasi untuk mengambil barang-barang bawaannya.

Selama berjalan kaki menuju pusara yang ia tuju, ketiga orang itu masih diam dan tak ada yang mengeluarkan suara. Untuk Jongwoon pribadi, ia terlalu sedih mengingat hari itu adalah peringatan 7 tahun istrinya meninggalkannya. Pikirannya terlalu sibuk bergulat antara percaya dan tak percaya dengan kejadian yang telah terjadi, ditambah, ia masih diselimuti perasaan bersalah atas meninggalnya istrinya itu. Namun pergulatan pikirannya itu tak berlangsung lama sampai ia berpapasan dengan seorang wanita. Wanita itu sangat asing untuk Jongwoon, tapi entah kenapa ia merasakan sesuatu saat berpapasan dengan gadis itu.

‘Pasti gadis itu juga kehilangan orang yang ia sayangi dan memperingatinya hari ini sama halnya denganku.’ Gumam Jongwoon dalam hati. Cukup lama ia melamun sampai ia tak sadar kalau mereka sudah sampai di tempat tujuan.

“Jongwoon Oppa!” Seru Tiffany yang berhasil memecahkan lamunan Jongwoon dan membuat pria itu menoleh ke hadapan gadis itu. “Wae?”

“Sepertinya seseorang sudah mengunjungi pusara Sooyoung Eonni, lihat!” Jelas Tiffany sambil menujuk pusara Sooyoung yang sudah bersih dan terhias dengan sebuket bunga mawar putih dan persembahan-persembahan lainnya. Hal itu kontan membuat Jongwoon menjadi bingung, karena tak banyak yang tau akan kesukaan Sooyoung seperti halnya bunga mawar putih, kimbap, dan anggur beras, bahkan Jongwoon yakin Hyoyeon pun selaku sahabat Sooyoung tak mengetahuinya.

“Siapa yang me-” ucapan Jongwoon terhenti ketika otaknya mengingat sesuatu. Dalam sekejap gadis yang tadi ia temui dalam perjalanan menuju pusara memenuhi otaknya. ‘Apa mungkin gadis itu? Tapi siapa gadis itu?’ Tanyanya dalam hati. Tak lama setelah itu, Jongwoon pun mengomandoi Tiffany dan Taewoon untuk meletakkan barang bawaan mereka. Mereka bertiga pun mulai sibuk menata buket bunga yang mereka bawa serta persembahan yang mereka haturkan. Tak jauh berbeda dengan yang dilakukan Taeyeon tadi, mereka bertiga juga melakukan penghormatan dan berdoa dengan khusyuk. Tiffany yang menyadari bahwa Jongwoon memerlukan waktu sendiri untuk saat ini, langsung mengajak Taewoon untuk menjauh sejenak, meninggalkan Jongwoon dengan pusara istri tercintam

“Yeobo-ya… Apa kabarmu? Sebelumnya aku ingin minta maaf kepadamu, karena setelah bertahun-tahun kau beristirahat disini, baru hari ini aku bisa mengunjungimu bersama Taewoon, putra kita. Kau tahu yeobo, aku sangat merindukanmu, begitu pula dengan Taewoon. Tak jarang ia bertanya padaku, seperti apa ibunya dan apa kesukaan ibunya. Semua itu membuatku…. Semakin merindukanmu yeobo.” Tak terasa dengan terucapnya kata demi kata dari mulut Jongwoon, air mata mulai berjatuhan dari mata sipitnya. Bahu pria itu bergetar semakin keras sejalan dengan air matanya yang jatuh semakin banyak.

Tiffany yang sedari tadi menyaksikan pemandangan itu tak bisa tinggal diam. Ia langsung mendekati pria itu dan memeluk punggung sahabatnya itu, berusaha memberikan kehangatan. “O-oppa, jangan menangis lagi eo? Kau harus kuat. Adah aku dan Taewoon bersamamu.” Gadis itu hanya bisa berkata sekenanya sambil menahan dirinya untuk tidak ikut menangis.

 

*****

 

“Kim Taewoon, Ireona!!!”

“…..”

“Taewoonnie, Come on, Wake up. Or, You’ll be late.” Jongwoon, yang mulai gemas dengan anak laki-laki semata wayangnya ini pun mulai menyeret kaki kaki kecil putranya itu.

“Aaa, Huehiii (Daddy)…” Ucap Bocah itu sambil menguap. “Sheeel… Shefiii Huehi ( Still Sleepy Daddy).” Bocah itu kembali menguap dan bukannya beranjak bangun dari tempat tidur, ia malah  memeluk bantal guling dengan semakin erat dan kembali memejamkan mata.

Jongwoon yang sudah kehabisan cara untuk membangunkan putranya itu pun memikirkan strategi lain. “Apa Taewoon yakin tidak ingin mandi dan berangkat ke sekolah? Hyoyeon imo akan menjemputmu bersama Hyoeun-ah loo.”

Mendengar penjelasan Jongwoon, Taewoon langsung bangkit dan memasang wajah mengintimidasi, “Jadi Daddy tak akan mengantarku sekolah?!”

“Errr…” Jongwoon pun tak bisa berkutik lalu menghembuskan nafas panjang “Mianhae Taewoonie, daddy harus ke rumah sakit pagi ini, mungkin besok daddy akan mengantarmu, kamu jangan marah ya…”

Jawaban Jongwoon hanya membuat Taewoon mendengus kesal, tapi setidaknya ia berhasil membuat bocah itu bangun dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi meski,

BRAAAAK

Pintu kamar mandi dibanting oleh bocah itu.

 

“Taewoonie, jebal, jangan marah lagi chagi.” Jongwoon yang sedang menikmati sarapannya menatap putranya yang duduk di hadapannya.

“…..”

Ting Tong… Ting Tong…

“Sepertinya Hyoyeon imo sudah datang, cepat habiskan sarapanmu, jangan biarkan Hyoyeon imo menunggu lebih lama.” Jelas Jongwoon kemudian beranjak membuka pintu apartmentnya.

“Jongwoon Oppaaaaa!!!!” Teriak Hyoyeon langsung berhambur memeluk kakaknya itu ketika Jongwoon membuka pintu apartmentnya.

Jongwoon yang risih dipeluk adik sepupunya itu berusaha menarik sepupunya itu dari tubuhnya. “YAA, YAAAK, apa yang kau lakukan Kim Hyoyeon!?!?! Jangan sampai tetangga sebelah mengecapku sebagai penghuni baru yang aneh!”

Hyoyeon yang pada akhirnya melepaskan pelukan kakakknya langsung memasang tatapan mengintimidasi. “Jangan mentang-mentang Hyuk sudah mencarikan kau apartment, kau dengan seenaknyaa tak pulang – pulang ke rumah, Dokter Kim Jongwoon.” Serunya panjang lebar dengan jitakan yang mendarat sempurna di kening Jongwoon pada akhir kalimatnya.

“Jadi kemana keponakanku yang lebih tampan dari ayahnya itu, Taewoon-ah…”

“Ne Auntie, I’m here.” Sahut Taewoon dari ruang makan. Hyoyeon yang mendengar jawaban Taewoon langsung berjalan menuju ruang makan meninggalkan Hyoeun dan Jongwoon di depan pintu.

“Jadi,…..” Jongwoon yang hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah sepupunya itu langsung membuka pembicaraan dengan gadis kecil di sebelahnya.

“Jadi apakah ibumu selalu menelantarkanmu jika ia sedang asyik dengan sesuatu, Lee Hyoeun?” Tanya Jongwoon dengan ekspresi herannya. Sementara Hyoeun hanya terkekeh kecil.

*****

 

“Nona Kim Taeyeon.”

Panggil seorang wanita paruh baya yang saat ini sedang berdiri di hadapan Taeyeon. Taeyeon yang menyadari siapa yang memanggil namanya langsung bangkit dari kursinya. “Ah Nyonya Kwon” jawab Taeyeon sambil membungkukkan badanya sembilan puluh derajat. “Apa Nyonya Kwon ada perlu denganku?”

Wanita yang dipanggil Nyonya Kwon itu memancarkan senyum hangatnya. “Ada yang mencarimu, kalau tidak salah dia temanmu,pemilik Klub sekaligus kursus tari Yeonjae. Saat ini mereka sedang menunggumu di lobby sekolah. Jelas wanita anggun itu.

“Ah benarkah? Baiklah kalau begitu saya permisi dulu Nyonya Park.” Ucap Taeyeon. Segera ia mengambil cardigannya yang ia tanggalkan di kursi kerjanya lalu berlari melewati koridor sekolah itu sambil berusaha mengenakan cardigannya itu. Sesampainya di lobby, matanya langsung menangkap sesuatu, seorang wanita yang tak lain dan tak bukan pemilik Klub Tari Yeonjae, Kim Hyoyeon, Lee Hyoeun, dan seorang anak laki-laki yang kira-kira seumuran dengan Hyoeun yang nampak asing di mata Taeyeon.

‘Siapa anak itu?’

“Taeyeon-ah!” Seru Hyoyeon memecahkan lamunan Taeyeon sambil melambai-lambaikan tangannya sementara Taeyeon hanya tersenyum sambil berjalan mendekati ketiga orang itu.

“Dia keponakanku yang baru pulang dari New York, yang aku bilang akan bersekolah disini.” Jelas Hyoyeon sambil mengelus kepala anak itu. “Taewoon-ah, ayo beri salam!”

“Annyeong Haseyo, Kim Taewoon Imnida.” Salam Taewoon dengan aksen amerikanya. Taeyeon yang berdiri dihadapannya hanya mengerutkan kening.

“Sepertinya aksen amerikanya sangat kental ya, apa dia lancar berbahasa korea Hyo-ah?”

“Dia lahir dan tinggal di New York selama 7 tahun,” terang Hyoyeon. Beberapa detik kemudia ia mendekati Taeyeon dan berbisik pelan di telinga Taeyeon, “Ini kali pertamanya ia pulang  Korea.”

Mendengar penjelasan Hyoyeon, Taeyeon hanya bisa mengangguk sambil membulatkan bibirnya.

“Kalau begitu, lebih baik kau pulang sekaranag Hyo-ah, sebentar lagi bel masuk kelas akan berdering. Tenang saja serahkan mereka berdua padaku.” Ujarnya dengan kedipan pada mata kirinya di akhir kalimat.

“Sepertinya aku di usir, ara, ara! Aku pulang sekarang.” Balas Hyoyeon sambil memasang ekspresi pura pura kesal.

“Hyoeun-ah, eomma pulang ya, jadi lah anak yang baik, ara? Dan Taewonnie, fighting! Semangat, rajin belajar ya, ara? Auntie akan menjemput nanti siang.” Pamit Hyoyeon pada putri dan keponakannya itu. Sementara kedua bocah itu hanya tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepalanya. ”

 

“Anyyeong Haseyo. Choneun Kim Taewoon imnida. Bangaseupnida.”

Kim Taewoon berdiri dengan penuh percaya diri di depan kelas  meperkenalkan dirinya. Pagi itu kelas Taewoon dan Hyoeun sedang mendapat giliran pelajaran kesenian yang diajar oleh Kim Taeyeon. Murid-murid di kelas itu menyambut Taewoon dengan penuh sukacita. Bahkan tak jarang diantara mereka ada yang mengacungkan tangan agar mendapat giliran menanyai Taewoon.

“Kau pindahan darimana?” Tanya seorang anak perempuan yang duduk di bangku paling depan.

“New York.” Jawab Taewoon singkat. Seketika kelas itu menjadi semakin riuh.

“Apakah New York menyenangkan? Aku lihat di TV sepertinyaa New York sangatlah indah.” Sambung seeorang murid bertubuh gemuk yang duduk di pojok belakang. Hal ini langsung mendapat anggukan setuju dari teman-temannya.

“Menurutku New York cukup indah, tapi tenang saja, Seoul tidak kalah indah dengan New York.” Jawab Taewoon.

“Baik, perkenalan pagi ini cukup sampai disini. Sekarang Kim Taewoon, kau boleh duduk dibelakang Hyoeun, tepatnya dengan Kyungsan.” Ujar Taeyeon menyudahi sesi perkenalan dan tanya jawab yang membuat murid-murid nampak sedikit kecewa.

“Ne Songsaenim.”

 

*****

 

“Steph!” Panggil seorang pria bersamaan dengan pintu ruang praktik Tiffany yang terbuka. Tiffany merupakan dokter spesialis anak di rumah sakit itu.

“Oppa! Masuklah.” Tiffany yang sedari tadi asyik pada iPad-nya pun memilih menyudahi kegiatannya dan mengalihkan perhatiannya kepada Jongwoon. “Jadi bagaimana interviewmu dengan Dokter Choi?”

“Baik. Dan ia bilang iya akan menghubungiku jika aku sudah bisa mulai bekerja di rumah sakit ini.” Jelas Jongwoon.

“Ooh, begitu.” Respon Tiffany sambil mengangguk-anggukan kepalanya.

“Emmm, jadi apa saja pekerjaan seorang dokter anak bernama Stephanie Hwang. Apakah dokter yang satu ini hanya menghabiskan waktu dengan bermain iPad?” Goda Jongwoon setelah masuk kedalam ruangan itu dan duduk di hadapan Tiffany sambil memasang wajah menyindir.

“Jadi kau sedang menyindirku, Dokter Kim Jongwoon?” Balas Tiffany sambil menaikkan sebelah alisnya seolah menantang Jongwoon.

“Ya! Kau ini lucu sekali Steph,” Ujar Jongwoon sambil mengacak pelan rambut Tiffany.

“Ya! Kau tau tidak, aku ada giliran Praktik 1 jam lagi, tapi kau malah merusak rambutku.” Keluh Tiffany.

Jongwoon yang memperhatikan wajah kesal Tiffany pun menanggapi ucapan Tiffany dengan memasang wajah pura-pura bersalah, “Mian, apa perlu aku sisirkan?” Tanya Jongwoon jahil.

Mendengar penawaran jahil Jongwoon, Tiffany memajukan sedikit kepalanya ke depan wajah Jongwoon, “Anii, aku akan lebih senang segelas Green Tea Latte ketimbang disisiri olehmu yang tak jelas akan jadi apa.” Sahut Tiffany setengah berbisik.

Jongwoon menaikkan sebelah alisnya, “Aigoo, sejak kapan kau berubah menjadi selicik ini Nona Steph?” Goda Jongwoon sambil mencubit gemas pipi Tiffany.

“Ya! Kau kira pipiku ini plastisin yang bisa kau remas, bentuk lalu kau hancurkan lagi sesuka hati.”

Jongwoon yang melihaat ekspresi Tiffaany berusaha menahan tawanya lalu memasang wajah pura-pura menyesal. “Aigoo, ternyata gadis ini marah. Ara, sepertinya segelas Green Tea Latte akan mengembalikan moodnya.”

“Jeongmal?” Seru Tiffany dengan penuh antusias. “Kaja, sebelum kau berubah pikiran Dokter Kim Jongwoon.” Seru Tiffany sambil beranjak dari kursinya lalu menarik tangan Jongwoon untuk ikut beranjak dari tempat duduknya.

 

*****

 

“Guru Kim?”

Suara panggilan yang lebih mirip bisikan itu membuat Taeyeon yang asik menyantap makan siangnya mendongakkan kepalanya. Orang yang memanggilnya, Victoria,  sedang berdiri sambil menopang tubuhnya dengan kedua tanganya yang ia letakan di atas meja Taeyeon.

“Wae?” Respon Taeyeon datar.

“Apa kau sibuk? Kau mengajar sampai jam berapa?”

Taeyeon mengernyit bingung. “Memang kau memerlukan aku untuk apa?”

“Jawab dulu pertanyaanku!” Mohon Victoria.

“Setelah ini aku tidak ada jadwal mengajar. Aku juga tidak sibuk. Sekarang jawab pertaanyaanku, kau mau apa?” Jelasnya sambil tetap terfokus pada makan siangnya.

“Emm… Sebenarnya aku ingin…. Minta.. tolong.” Jawab Victoria sedikit terbata.

Taeyeon kembali mendongakkan kepalanya dan menatap Victoria dengan bingung. “Minta tolong apa?”

“Temani aku check kehamilan ya.” Pinta Yoona dengan wajah memelas.

‘Orang ini jika ada maunya saja memasang wajah bodoh seperti itu. Apa dia ditelantarkan suaminya? Kalaupun iya, pantas saja nenek sihir seperti dia dicampakkan.’

“Memangnya kemana suamimu?” Tanya Taeyeon dengan nada yang malas.

“Zhoumi pulang ke Cina untuk mengurus perusahaan induk.”

‘Cih, lihat dirinya, jika sudah menyangkut suaminya, ia akan mengatakan 1001 hal untuk membanggakan suaminya itu sekalipun ia ditelantarkan habis-habisan oleh suami tercintanya itu. Dasar Norak!”

“Aku mohon guru Kim.” Pinta Victoria sembari mencakupkan kedua tangannya di depan dada.

“En-entahlah, sepertinya aku sibuk.” Jawab Taeyeon dingin.

Mendengar jawaban Taeyeon, Victoria nampak sedikit kecewa. “Aku mohon Guru Kim, temani aku ya.” Pintanya lagi sambil menyatukan kedua telapak  tangannya di depan dada.

“Ah, a-”

“Ayolah Taeyeon-ssi, sebentar saja…” Mohon Victoria dengan wajah memelas yang membuat Taeyeon nampak muak melihatnya. “Aku berjanji a-”

“Arata.” Taeyeon yang sudah terlalu muak melihat wajah Victoria akhirnya mengiyakan permintaan gadis berperawakan tinggi itu.

 

“Taeyeon-ssi.” Panggil Victoria ketika mereka menginjakkan kaki mereka di gedung Seoul Hospital.

“Hmm?” Jawab Taeyeon sambil menolehkan kepalanya ke Victoria yang berada di sebelah kanannya.

“Sepertinya aku harus ke toilet, tolong daftarkan aku di bagian kandungan ya.” Ucapnya sambil merogoh tasnya, seperti mencari sesuatu.

“Hah? Apa tidak apa-apa jika aku yang mendaftarkannya?” Respon Taeyeon sambil memasang ekspresi ‘heh’ pada Victoria.

“Gwenchana, ini kartu anggotaku dan testpack-ku, aku sudah pernah check kehamilan disini sebelumnya, meskipun yang sebelumnya aku belum positif hamil. Jadi rekaman medisku pasti sudah ada, tenang saja Taeyeonnie.” Jelas Victoria sembari menyodorkan sebuah kartu yang dapat dipastikan merupakan kartu keanggotaan pasien di rumah sakit itu dan sebuah testpack dengan dua garis merah. “Maaf merepotkanmu ya Taeyeon,ah.” Ucapnya Victoria sambil tersenyum. Yang menurut Taeyeon, senyuman itu adalah senyuman yang sedikit, aneh.

“Tapi, mengapa kau harus membawa benda ini kemari Victoria-ssi?” Tanya Taeyeon bingung sambil menunjuk ke testpack yang baru saja dipegang oleh Victoria.

“Sebelumnya, beberapa aku cek kesini, aku mengalami gejala-gejala yang dialami oleh ibu hamil, hanya saja aku tidak melakukan test terlebih dahulu. Setelah aku ke rumah sakit, dokter itu mengatakan aku hanya masuk angin atau sakit-sakit ringan lainnya. Oleh karena itu, aku ingin menunjukkan kalau kali ini aku positif hamil.” Jelas Victoria dengan penih berbinar-binar.

“T-tapi, kenapa harus a-“

“Sudah dulu ya Taeyeon-ssi, aku sudah tidak tahan ingin ke toilet.” Potong Victoria lalu bergegas pergi ke toilet.

‘Geez, sudah kuduga dia mengajakku agar ada yang ia peralat. Dan betapa bodohnya dia, membawa hal-hal yang tak perlu seperti testpack ketempat seperti ini. Apa dia bermaksud mengumumkan kehamilannya pada setiap orang sambil menunjukkan testpack-nya? Menjijikkan!’

 

Meskipun dengan perasaan kesal, Taeyeon tetap melangkahkan kakinya ke bagian kandungan rumah sakit itu untuk mendaftarkan Victoria. Setelah mendaftarkan nama Victoria, Taeyeon pun memilih untuk duduk di kursi yang disediakan bagi para pasien yang menunggu giliran periksanya.

“20.” Ujarnya membaca nomor antrian yang terpampang di dekat resepsionis. Lalu dialihkannya pandangannya ke nomor antrian yang ia bawa,

“32.” Ujarnya lagi. Melihat nomor antrian yang cukup jauh membuat Taeyeon memikirkan sesuatu. Di sekitarnya, ibu-ibu hamil dengan variasi umur yang beragam sedang menunggu antrian sama halnya seperti Taeyeon. Tiba-tiba sesuatu menarik pandangan Taeyeon. Seorang ibu hamil tua, sedang duduk bersandar di bahu suaminya. Pria itu mendekap ibu hamil itu sambil mengelus perut buncit istrinya itu.

‘Alangkah bahagianya ibu itu. Suaminya senantiasa menemaninya untuk melihat perkembangan buah hati mereka. Semoga bayi itu lahir dengan selamat. Entah bagaimana kesepian yang di rasakan Victoria jika aku tega membiarkannya pergi kontrol seorang diri. Terlebih jika harus melihat pemandangan seperti itu. Pasti rasanya miris’.

Beberapa saat berlalu, Victoria belum juga datang. Hal ini kontan membuat Taeyeon merasa miris sendiri melihat pemandangan bahagia suami istri bahagia itu. Dilirikkannya matanya kke arah nomor antrian.

’22, Mungkin Victoria tidak akan keberatan jika aku membeli minuman  sambil menunggu antrian.’ Ujarnya dalam hati sambil beranjak pergi meninggalkkan ruang tunggu itu.

 

*****

“Dokter Kim Jongwoon!”

Suara panggilan seorang suster yang sedang berlari dari kejauhan membuat Jongwoon yang sedari tadi asyik mengobrol dengan Tiffany menolehkan kepalanya. “Wae?”

“Apakah dokter bisa menggantikan Dokter Park untuk hari ini? Tadi saya melihat ada beberapa pasien yang masih menunggu giliran periksa dengan Dokter Park, tapi berhubung beliau ada masalah, hal itu membuatnya harus segera pulang. Dan tadi kepala bagian kandungan rumah sakit ini meminta saya untuk menghubungi anda.” Jelas suster itu sambil mengatur nafasnya yang masih belum teratur akibat berlari.

“Benarkah? Berarti aku bisa mulai bekerja hari ini?” Tanya Jongwoon memastikan dengan wajah berbinar.

“Nde dokter.”

“Ara, aku akan menggantikannya.” Jawab Jongwoon dengan wajah berbinar lalu berpaling menghadap Tiffany yang sedari tadi duduk di hadapannya. “Steph, sepertinya, -”

“Jangan banyak berbasa-basi Dokter Kim, pasienmu menunggu.” Jawab Tiffany sambil mengerlingkan sebelah matanya.

Tanpa mau menunggu lebih lama lagi, Jongwoon langsung menuju ruang praktik dokter Park. Saat ini hatinya berlomba tak kalah cepat dengan langkah kakinya. Aneh mungkin jika seorang dokter yang sudah biasa menangani pasien seperti Jongwoon merasakan yang namanya gugup. Tapi baginya, itu merupakan hal yang wajar, karena ini pertama kalinya ia melaksanakan praktik di korea setelah 7 tahun. Namun tiba-tiba kegugupan itu hilang, ketika…

Kreeeek

Di persimpangan koridor, tubuh Jongwoon tak sengaja bertabrakan dengan seorang gadis yang datang dari arah berlawanan sambil membawa gelas plastik berisi jus nanas. Ketika Jongwoon bertabrakan dengan gadis itu, gelas yang dipegang sang gadis, tepat bertabrakan dengan perut Jongwoon. Hal ini menyebabkan gelas itu mendapat tekanan hingga penyok dan membuat isi gelas itu meluap mengenai kemeja putih Jongwoon.

“Mi-mi-miah-ha-hae…” Ucap gadis itu terbata-bata.

TBC

19 thoughts on “[FF Freelance] Blind in Love (Part 1)

  1. OMG…DAEEEBAKKKK..
    critanya seru bikin penasaran bwt ep2 slnjutnya.
    jd critany tu Soo istri Jongwoon yang ud mninggak akibat kecelakaan truz hub ma taeyeon apa?.
    truz yng tiffany tu suka ma jongwoon tp jongwoon g suka kan?.
    semoga taeyeon bisa meneruskan jd sosok ibu bet taewoon..

    ditunggu klnjutannya chingu…

  2. wah. daebak.!!
    awal perjumpaan yg lurg bgus seprtiny antra taeyeon dgn jongwoon oppa,
    hehehe, hub.ny taeyeon dgn soo eonni apa ya?
    jd pensarn,
    d tunggu klnjtnny 😀

  3. Masih ada beberapa typo, salah satu contohnya ada di bagian victoria memohon pada taeyeon untuk menemaninya ke dokter. Kalimat pinta Yoona seharusnya adalah pinta Victoria.

    Untuk saat ini cerita masih miserius dan belum tertebak ke arah mana jalan ceritanya, jadi belum bisa berspekulasi sih hihihi. Ada satu yg cukup bikin saya senyum senyum, nama anak jomgwoon&sooyoung adalah taewoon, taeyeon-jongwoon. Seperti sudah ditakdirkan(?) Atau jangan2 ini adalah kunci? Lol belum berani berspekulasi dulu, yg jelas ditunggu chapter selanjunya;)

    • Itu nama Taewoon tu ada maksudnya, jadi ditunggu saja okeee;;)
      Lha yang yoona tu masih ya? Padahal kayaknya waktu aku sunting udh tak apus x_x maaf, thanks ketelitiannya 😀
      Di tunggu aja part selanjutnya 😉

      • ohh…baru tahu kalo readers setianya stay with one love ternyata author FF ini….hehehe…
        bagus bnget critanya…tp msh misterius…
        keep fighting chingu bwt ep2 slanjutnya….

  4. Like it! Kayaknya bakal jadi cerita yg amat sangat seruu.. 😀
    ijin baca sampai akhir ya, Chingu^^..
    Semoga lastpartnya nggak diprotect.. 🙂
    Gomawo^^

  5. baru baca skrg setelah keluar 13 part. penasaran baca part selanjutnya, pasti seru, suka bgt sm cast”nya. fighting thor !!! 🙂

  6. Bru baca padahal sdh End heheheh ,,,,,,,jongwoon tu dokter kandungan ya????hahahahahah ga kbayang,,,,,,,,lanjut to part 2………

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s