KyuRin Tale: Evil Day 2

kyurin-tale

Author : Iefabings

Cast :

  • Cho Kyuhyun (SJ)
  • Song Hyerin (oc)

Other cast :

  • Song Eunchae, Song Harin, Song Eunhye (oc)
  • Luhan EXO
  • Super Junior
  • Kyuhyun’s mom
  • ELF *berbahagialah ELF menjadi bagian dari ff ini*
  • Dan seseorang yang tidak muncul tadi cukup penting(?)

Genre : Romance, comedy, family

P.S : Saengil Chukkahamnida nae yeobo Kyuhyun si pangeran evil mumumu :* Aaaaa senangnya bisa menyelesaikan ff ini sebagai kado ulang tahun untuk suami tercintah *tendang* saya yakin readers sekalian juga seperti saya, mengucapkan doa yang baik-baik untuk Kyuhyun. Keep evil ya suamikuuuuh *peluk cium Kyuhyun* Terima kasih lagi untuk Tirsza eonnie yang membantu saya post. Sangat ingin ini tepat dipost pada tanggal 3 biar lebih berasa kadonya. Walau ff ini sangat jauh dari kata bagus u.u yah, ini saya bikin agak ngebut. Banyak konsep yang terpikirkan tapi pada akhirnya saya bikin cerita yang sesimple ini -_- aaaaah, inspirasi makin mahal aja didapat. Maaf jika ff ini terasa hambar._.v Bisa jadi ini adalah edisi terakhir(?) karena saya melihat peminat ff ini mulai menipis ya terbukti dari jumlah komentar yang semakin berkurang. Dan kalau pun tetap saya buat lanjutannya bisa jadi hanya akan saya tulis untuk diri saya sendiri T^T Aih, mulai ngelantur. Selamat membaca^^

o(^o^)o

Kyuhyun pov

Aku dan Hyerin baru saja berbaikan. Heum pasti kalian bingung kapan kami bertengkarnya kan? Hanya sebentar memang, ini terjadi sekitar seminggu yang lalu. Sialnya aku yang pertama marah padanya tapi malah aku yang meminta maaf duluan. Aish, sungguh memalukan. Jadi itu semua berawal saat dia tertangkap basah atau entahlah itu bisa dikatakan tertangkap basah atau tidak.

<flashback>

Aku baru tiba di Korea dari serangkaian promo yang melelahkan selama di Cina. Super Junior M akhirnya comeback dan itu artinya aku harus bolak balik Cina-Korea untuk melakukan promo. Selama di Cina ya tentu saja nyaris tak ada waktu untuk berkomunikasi dengan Hyerin. Tapi kan biasanya Hyerin akan mengirim pesan singkat untuk sekedar menanyakan kabar. Lalu aku membalasnya setelah jadwalku seharian selesai atau bahkan ku telpon. Tapi sungguh aneh setiap jadwalku berakhir dan melihat ponsel, aku pasti mendapati beberapa notifikasi tapi tak ada satu pun dari Hyerin. Penasaran, aku pun mengirim pesan duluan. Dan gagal. Hari pertama tak ada respon. Hari kedua tetap tak ada. Hari ketiga ada balasan tapi tepat keesokan harinya. Lalu selanjutnya dia merespon tapi dengan balasan yang sangat singkat. Saat ku tanya kenapa dia membalas begitu singkat padahal biasanya dia yang banyak bicara. Dan jawabannya “Kau bodoh? Namanya juga pesan singkat, tentu saja balasannya singkat” sungguh miris.

Jadi tak masalah kan kalau hari ini aku bergegas menemuinya di apartemen Song? Aku sudah begitu bersemangat membalas perbuatannya padaku. Berani sekali mempermainkan perasa Cho Kyuhyun eoh? Dia tidak tahu rupanya berhadapan dengan siapa. Diam dan jangan mentertawakanku karena ya, memang benar. Aku begini karena aku merindukan Hyerin. -_-

“Kyuhyun oppa yang datang,” kata Eunchae saat aku tiba di apartemen mereka.

“Hai Kyu. Mencari Hyerin?” tanya Harin.

“Berniat membunuhnya, lebih tepat,” jawabku singkat.

“Wooo, terjadi sesuatu? Hyerin tidak ada. Sayang sekali aku ingin melihat prosesi pembunuhan Hyerin oleh Cho Kyuhyun,” ucap Harin.

“Astaga. Kemana anak itu?”

“Sepertinya ke Kona Beans aku samar-samar mendengar suaranya saat menelpon tadi.”

“Menemui ibuku? Baguslah.”

“Sepertinya bukan untuk itu. Entahlah akhir-akhir ini dia suka keluar menemui sesorang. Aku tidak tahu pasti orangnya. Tapi sepertinya dia seorang penyanyi juga. Pernah sekali aku mendengar Hyerin bertanya dia sudah selesai manggung atau belum.”

Deg.

Orang lain? Penyanyi? Apa dia dekat dengan sesorang selama aku tak ada? Apa dia selingkuh? Aish, pikiranku….

“Kalau begitu aku susul dia ke sana saja. Annyeong,” tanpa menunggu lebih lama lagi aku segera bergegas keluar dan Kona Beans adalah tujuan utamaku.

“Ne, hati-hati,” itu adalah kalimat terakhir yang masih bisa ku dengar dari Harin sementara aku sudah melesat keluar.

Ini gila. Aku jadi punya firasat buruk. Harus ku pastikan bahwa namja itu tidak lebih baik dariku. Eh, tapikan… hum mungkin aku berpikir terlalu jauh. Bukankah Harin tidak mengatakan gendernya? Dia hanya bilang seseorang, bukan seorang namja. Bisa jadi yang Hyerin temui sekarang adalah seorang yeoja. Bukankah dia menyukai rookie grup? Hello Venus kalau tidak salah. Hahaha, mungkin dia bertemu dengannya sebagai seorang fans. Astaga harusnya aku tidak perlu kacau begini. Memangnya namja mana yang mau pada yeoja eksentrik macam dia? Hanya aku -_-

Akhirnya ku kurangi kecepatan mobilku karena sungguh tadi aku menyetir dengan kecepatan di atas rata-rata. Terkadang firasat itu bisa mempengaruhi hasrat menyetir(?) kita. Tak berapa lama aku tiba di Kona Beans. Dengan ketenangan yang luar biasa aku turun dan melangkah masuk. Kebetulan eomma juga sedang berada di sana. Dia yang melihatku tampak kaget dan aneh tapi segera menghampiriku.

“Kenapa tidak bilang mau ke sini?”

“Harus membuat janji dulu? Lagi pula aku sama sekali tak berniat datang kalau bukan karena si hantu kurus pemarah itu. Mana dia?” tanyaku to the point.

“Aigoo datang ke sini bukan untuk bertemu eomma?” godanya.

“Tidak juga, eomma. Ah sudahlah dia ada dimana?”

“Bagaimana kau tahu dia ada di sini?”

“Eomma….”

“Ne arasseo arasseo. Pulang dari Cina kau jadi pemarah ya. Dia ada di pojok sana, kau lihat? Dekat jendela yang bersama seorang namja,” tunjuk eomma pada tempat duduk di ujung dekat jendela kaca. Ya, aku melihat Hyerin di sana tampak bercakap-cakap dengan seorang namja sambil tertawa senang. Eh? Namja?

“Benar itu seorang namja?”

“Astaga kau menderita gangguan tidak bisa membedakan gender manusia? Walau hanya kelihatan dari belakang pun kita bisa tahu dia seorang namja.”

“Kenapa eomma biarkan?”

“Kenapa harus ku larang?”

“Mwo? Jadi eomma senang putranya diselingkuhi?” protesku emosi.

“Kenapa kau jadi emosi pada eomma?”

Benar. Kenapa aku emosi pada eomma. Yang harus ku habisi adalah Hyerin. Jadi karena ini dia begitu cuek padaku selama aku di Cina. Dia selingkuh oh, bagus sekali. Dan ini akan sangat melelahkan setelah aku pulang dari serangkaian jadwal yang padat di Cina dan jadwal berikutnya masih menumpuk di depan mata aku harus menangkap hidup-hidup pacarku yang ketahuan selingkuh.

“Mati kau, Song Hyerin,” geramku.

“Eh, kau bilang apa tadi? Selingkuh? Eh sebenarnya…”

“Aku akan menghabisinya, eomma. Lihat saja.”

“Yak, Kyuhyun-ah….”

Mianhae, eomma. Aku harus menjadi anak bandel yang tidak menghiraukan panggilan eommanya dulu untuk hari ini. *eomma Kyu : dari dulu udah bandel -_-* Aku benar-benar harus menuntaskan masalah ini dulu. Dia yeoja kurus yang dengan seenaknya membuatku merindukannya sekarang memperlakukanku seperti ini hingga aku harus menangkap basah dia tengah bersama orang lain. Bodoh.

Aku berjalan tidak santai ke arah mereka. Sangat tidak santai. Lalu aku semakin dekat dan dekat, namja itu mulai terlihat lebih jelas. Tapi Hyerin? Sama sekali tidak menyadari keberadaanku dan bahwa aku tengah menuju meja mereka. Begitu rupanya. Pesona namja ini membuatnya lupa pada keadaan di sekitarnya. Memangnya dia namja sesempurna apa hingga mengalihkan dunia Hyerin dariku?

Tep.

Berhasil. Aku berhasil meraih pundak namja sial yang mengalihkan dunia Hyerin ini. Ku cengkeram dengan kuat penuh perasaan(?) dan emosi. Hyerin akhirnya sadar dan melihatku. Sumpah demi apapun aku tidak suka raut wajahnya sekarang. Dia tampak terkejut setengah mati seperti pencuri yang tertangkap basah selagi asyik menguras harta orang(?). Aku tahu dia memang sudah tak setia, tapi aku masih berharap ini hanyalah salah paham. Dari sudut yang jauh di hatiku *eaaaak* aku berharap ini bukan seperti dugaanku. Tapi melihat wajahnya yang kaget, ketakutan dan serba salah begitu aku jadi emosi dan mencengkeram pundak namja itu lebih kuat. Dengan kasar ku hadapkan namja itu padaku agar aku bisa melihat wajahnya.

“Mworago?”

“Hyung… sudah pulang dari Cina? Annyeong.”

Jderrrrr!

Demi kerang lautnya Spongebob aku ingin dunia mengalami gempa luar biasa hingga bisa memusnahkan Hyerin dan namja ini. Ah tidak. Namja ini saja sudah cukup. Astaga kenapa aku jadi berpikiran sadis seperti ini. Salahkan Hyerin. Yang terpenting sekarang adalah namja yang membuatku emosi ini, yang mengalihkan dunia Hyerin dariku, ternyata adalah….

L U H A N

“Sejak kapan kau tiba?” tanya Hyerin semakin gugup. Mati kau mati mati mati mati mati!!!!

“Kau terkejut?”

“Tentu saja, kau tidak menghubungiku lebih dulu dan tiba-tiba muncul di hadapanku seperti hantu tentu saja aku terkejut.”

“Karena tertangkap basah?”

“Tertangkap basah apa?”

“Astaga.”

“Astaga apanya?”

“Jelas-jelas kau sedang selingkuh. Jadi selama aku di Cina kau mengabaikan pesanku, tidak menelpon, bersikap acuh, semua karena ini? Kau bahkan selingkuh di depan mata eomma,” raungku tidak karuan.

“Yak, pelankan bicaramu ini tempat umum. Kau semacam yeoja cerewet yang mengomeli namjanya yang tertangkap basah selingkuh dengan temannya,” balas Hyerin tak kalah emosi.

“Siapa yang yeoja siapa namja eoh? Tapi memang keadaan itu benar kan? Kau jelas selingkuh dengan bocah ini.”

“Heum… apa ada yang salah? Aku tidak memahami pembicaraan kalian,” sela Luhan. Aku dan Hyerin diam, tapi masih bertatapan. “Apa aku salah bicara?”

“Kau jelas salah paham, Cho Setan,” timpal Hyerin.

“Salah paham apa? Aku sudah tahu semuanya dari Harin.”

“Tahu apa? Dia bilang apa?”

“Bahwa kau seringkali menemui seseorang yang ternyata Luhan ini. Berani sekali kau seperti ini selama aku tidak ada,” cecarku tanpa henti. Aku murka.

“Dia bilang menemui kan? Bukan selingkuh,” sanggah Hyerin. Masih bisa membantah juga hantu ini.

“Sama saja. Menemui namja lain.”

“Oh… sepertinya aku berada di posisi yang tidak tepat ya,” ucap Luhan.

“Diamlah,” seruku dan Hyerin bersamaan. Luhan pun tutup mulut.

“Kau benar-benar salah paham, Cho Setan.”

“Semua sudah jelas seperti ini, Song Hantu.”

“Ya sudah kalau memang tidak percaya,” putusnya lalu menyambar tas dan berlalu dari hadapanku.

“Aigoo aigoo aigoo kau mau kemana eoh?” aku mengejarnya tapi sepertinya dia benar-benar marah dan tidak mendengarkanku.

“Hyerin-ah, kenapa buru-buru?” tanya eomma sambil berusaha mencegahnya.

“Mianhae eommeonim. Tanyakan saja pada setan jahat itu,” sungut Hyerin lalu keluar dari Kona Beans.

“Geurae, kau pulang sana dan kita tidak usah bertemu,” teriakku dari pintu Kona Beans. Ku pikir dia akan berubah pikiran lalu berbalik dan minta maaf. Tapi ternyata tidak. Dia malah terus pergi. Aish hantu ini membuatku semakin kesal saja.

“Hyung, mianhae. Tapi sepertinya kau memang salah paham,” ucap Luhan hati-hati. “Aku baru saja tiba di Kona Beans dan melihat Hyerin sedang ngobrol bersama Kangin dan Yesung hyung lalu aku bergabung dengan mereka. Tapi rupanya Kangin dan Yesung hyung ada urusan jadi mereka pergi duluan. Jadi aku dan Hyerin terus ngobrol….”

“Dasar bodoh. Kenapa tidak bilang dari tadi?” umpatku semakin emosi.

“Eh itu kan… tadi hyung tidak mengizinkan aku bicara…”

“Harusnya kau berusaha walau tidak ku izinkan. Kalau begini kan jadi aku yang salah,” rutukku.

“Memang sejak awal kau yang salah main terobos dan marah-marah tanpa bertanya dulu. Setidaknya tadi kau dengarkan eomma sebelum menemuinya,” sambung eomma.

“Mana ku tahu jadi begini. Ah, kalian semua membuatku gila,” ku acak rambutku sendiri dengan frustasinya. Tadi aku yang marah-marah kenapa sekarang keadaan jadi berbalik. Jadi aku yang harus meminta maaf pada Hyerin, begitu? Aish, menyebalkan!

<flashback end>

Dan begitulah. Dia benar-benar marah sampai mengabaikan semua panggilan dan pesan dariku hingga aku harus membawa es krim berukuran jumbo dan menyanyikan lagu untuknya hanya demi satu kata, “dimaafkan” lalu dia dengan entengnya menutup pintu apartemen tanpa mengajakku masuk untuk menghabiskan es krim itu bersama. Baboya! Hyerin baboya! Hyerin Song Hantu kurus sadis menjengkelkan. Aish, dia tak tahu apa aku ingin menemaninya walau hanya menonton dia menghabiskan es krim itu sendiri. Tidak sadarkah dia sudah berapa hari kita tidak menghabiskan waktu bersama? Babo! Hyerin babo! Walau sebenarnya aku yang bodoh karena merindukan hantu kurus sadis jahat itu T^T

“Yeoboseo,” sahutku malas saat eomma meneleponku.

‘Aigoo semalas itukah kalau yang sedang menelpon adalah Hyerin?’

“Jangan sebut hantu itu.”

‘Arasseo, arasseo. Jadi kau mau apa di hari ulang tahunmu?’

“Ulang tahun?” aku tidak sadar ini bulan Januari kan? Sudah tanggal berapa? Aigoo tiga hari lagi ulang tahunku. “Benar ya, aku hampir lupa ulang tahun sendiri.”

‘Kau sesibuk itu sampai lupa pada dirimu sendiri?’

“Memang sangat sibuk. Terserah eomma saja, hadiah tidak penting,” jawabku singkat.

‘Geurae, jaga kesehatanmu.’

“Ne,” ucapku sebelum telpon terputus.

Ulang tahun. Hmmm, akan jadi momen ultah pertama sejak aku kencan dengan Hyerin. Tapi menjadi momen ultah kedua sejak aku mengenalnya. Hahaha, ingat setahun yang lalu saat dia dengan bodohnya didandani semacam hantu perempuan lalu mengendap masuk ke kamarku dan menakut-nakutiku. Hahaha, cuku berhasil sih walau akhirnya aku mengenali dia. Lucu bukan? Dia mau saja didandani seperti itu oleh hyungdeul. Aku mengerti mereka merencanakan itu karena tahu aku menyukai Hyerin >_<

Masih ingat rasa bersalahnya malam itu karena tidak menyiapkan kado apa-apa. Dan aku dengan cerobohnya mengakui bahwa dia adalah kado yang paling istimewa bagiku. Babo -_- untung saja dia bodoh jadi tidak segera memahami ucapanku. Lalu di malam perayaan ulang tahunku bersama teman-teman yang lain, dia dengan kurang percaya dirinya memberikan boneka yang sepertinya miniatur diriku. Benar juga, boneka itu.

Segera ku buka lemari tempat menyimpan ‘boneka evil’ kado dari Hyerin. Masih bagus karena memang aku menyimpannya baik-baik. Tapi aku baru sadar boneka ini belum punya pasangan. Ah, mungkin aku harus meminta Shinbi noona membuatkan miniatur gadis kecil untuk menjadi pasangan boneka evil ini. Jadi evil couple doll? Hahaha, sungguh menggemaskan.

“Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Sungmin yang tanpa ku sadari sudah masuk kamar dari tadi. Kini dia tengah tiduran di tempat tidurnya.

“Hanya mengingat momen tahun lalu,” jawabku jujur. “Ah hyung, bisa kan kau meminta Shinbi noona membuatkan boneka untuk menjadi pasangan boneka evil ini?”

“Kau minta saja sendiri. Siapa yang butuh?” sahut Sungmin malas-malas.

“Asataga pada magnae yang akan berulang tahun bersikap seperti itu? Ck, ck, ck. Kau bahkan mungkin tidak ingat sebentar lagi aku ulang tahun.”

“Ingat, walau sebenarnya tidak perlu diingat,” ledeknya.

“Yak, hyung,” ku lempar bantal tepat ke wajahnya.

“Yak, pada hyungmu berteriak dan melempar bantal? Tidak sopan,” dia balas melempariku tapi berhasil ku tangkap.

“Anggap saja sebagai hadiah ulang tahun. Yayaya, katakana padanya untuk membuatkanku pasangan boneka ini.”

“Arasseo arasseo, tapi jangan minta kado lagi. Cukup itu saja.”

“Itu kan dari Shinbi noona. Darimu tetap harus minta. Hahaha.”

“Cih, aku kan sudah memberi kado dengan meminta Shinbi membuatkan untukmu.”

“Terserah saja. Aku pasti akan mendapat kado dari lainnya,” ucapku riang.

Aku kan magnae, hyungdeul pasti akan memberikan kado istimewa untukku. Mengingat tahun lalu seluruh kakak beradik Song juga memberiku kado, wah, pasti tahun ini aku juga dapat kado banyak. Lalala, ini tahun yang menyenangkan~

o(^o^)o

February 3rd 2013

“Kelihatan senang sekali,” sindir Donghae hyung saat aku sudah berpenampilan rapi dan dengan wajah cerah keluar kamar.

“Kalian tidak lupa ini hari apa kan?”

“Ulang tahunmu,” jawabnya singkat.

“Nah, jadi?”

“Jadi apa?” astaga dia malah bertanya. Eh tunggu. Dari tadi pagi aku belum mendapat ucapan selamat dari seorang pun. Aneh.

“Kau ingat ini ulang tahunku kan? Lalu kenapa tidak ada yang mengucapkan saengil chukkae?”

“Ah benar juga. Saengil chukkahamnida,” ucapnya sambil tertawa riang, tapi terdengar begitu datar.

“Ucapan macam apa itu?”

“Masih untung aku ucapi selamat,” dia malah mengetukkan remote TV pada keningku. Sialan.

“Harusnya diucapkan dengan tulus. Dengan kue, lilin, dan kado. Tapi ini apa? Mana hyungdeul?”

“Sudah pergi. Ada waktu luang sebentar pasti mereka manfaatkan dengan baik kan? Kau sendiri mau kemana?” tanyanya.

“Apartemen Song,” jawabku singkat.

“Serapi itu? Aku tidak yakin.”

“Lalu kenapa masih bertanya? Jelas-jelas aku akan mengajak Hyerin kencan. Setidaknya ada hal manis yang ku dapatkan darinya di hari ulang tahunku ini,” ucapku dengan sedikit sindiran.

“Cih, selamat kencan, kalau begitu. Semoga harimu menyenangkan ya,” kata Donghae hyung yang entah mengapa menurutku terkesan sebagai doa yang buruk.

“Kenapa di telingaku terdengar ‘semoga hari buruk menantimu’ ya?”

“Periksakan telingamu kalau begitu.”

“……………. Aku pergi,” dari pada semakin emosi lebih baik aku segera menemui Hyerin. Ah sampai lupa sudah berapa menit ku sia-siakan untuk meladeni Donghae hyung. Waktuku bersama Hyerin jadi berkurang kan.

Ku nyalakan bel apartemen Song. Suara Eunhye terdengar dari dalam mengizinkan aku masuk.

“Mencari Hyerin kan?” tanya Harin langsung. Sepertinya mereka sudah benar-benar hafal kebiasaanku.

Ku putar bola mataku sambil menjawab, “Ye.”

“Tidak adaaaaa,” jawabnya mendekati konteks ledekan. Kemana lagi anak itu?

“Eodiga?”

“Sepertinya ada janji dengan seseorang lagi kali ini benar-benar mencurigakan,” dia semakin merendahkan suaranya agar terdengar lebih dramatis.

“Aku tidak akan tertipu lagi kali ini. Katakan dia dimana,” ucapku datar.

“Aish, tidak seru,” dia mengerucutkan bibirnya. “Telepon saja dia. Kau tidak punya pulsa?”

“Dasar,” umpatku lirih. Ku rogoh ponsel dari dalam saku dan segera menghubungi hantu kurus itu. Berani sekali keluar tanpa mengajakku. Apa dia tidak ingat ini hari apa?

‘Wae geurae? Aku sedang menemui orang penting,’ jawabnya ketus dari sana.

“Wae geurae apanya? Kenapa pergi tidak memberi tahuku lebih dulu?”

‘Memangnya kau siapa? Kenapa aku harus melapor padamu tiap mau pergi?’ lihat balasannya. Astaga pernahkah dia berbicara manis padaku? Yah, memang pernah tapi hanya di saat tertentu.

“Bukan karena aku siapa tapi karena ini hari apa. Kau melupakannya? Ha, bagus!”

‘Aku ingat. Hari ulang tahunmu kan?’ tanyanya enteng. Ya Tuhan, benarkah hari ulang tahunku setidak penting itu? Cukup hyungdeul saja yang mengabaikannya, kenapa dia juga? Aku lebih memilih dia dan mereka semua lupa saja dari pada seperti ini keadaannya. Ingat, tapi tidak menunjukkan perhatian apa-apa.

“I…ya… memang….”

‘Lalu apa? Aku kan tidak lupa,’ kata Hyerin masih dengan entengnya.

Ingin sekali aku berteriak “Yak, kau ini yeoja macam apa di hari ulang tahun namjanya bahkan tidak mengucapkan Saengil Chukkae dan sekarang malah menemui orang lain! Jangan buat aku berpikiran kau kembali selingkuh! Dasar Hantu kurus menyebalkan!!!!”

“Ehm, ani… sepertinya kau lupa mengucapkan sesuatu,” bagus, hanya itu yang keluar dari mulutku. Terkesan begitu miris dan pasrah. Hft.

‘Ah ne, saengil chukkae, Kyuhyun-ah. Wish you all the best.”

Kretek <///3

Yah, memang dia mengucapkan kalimat yang indah. Tapi caranya mengucapkannya sama sekali tidak indah dan tidak terdengar indah di telingaku. Seperti dipaksakan bahkan tidak ikhlas. Sama sekali tidak terdengar ketulusan dari sana. Apa ini hukuman dari Tuhan untukku? Hingga aku harus diacuhkan oleh semua orang di hari ulang tahunku. Tapi apa salahku? Apa dosaku? *eaaaaak cut sinetron gagal.

“Ne, gamsahamnida,” jawabku lemas.

‘Ada lagi?’

Kretek </////3

Sudah cukup dengan ketidaktulusan yang menyakitkan jangan ditambah dengan kalimat yang terkesan begitu terpaksa menerima teleponku. Aku ingin mengajakmu kencan, Hyerin. Sebagai hadiah ulang tahun untukku. Walau hanya jalan-jalan sebentar, aku akan sangat senang jika bisa melewatinya denganmu. *eaaaak lagi ftv gagal.

“Aniya, kau lanjutkan saja pertemuannya dengan orang itu,” jawabku benar-benar dengan nada miris.

‘Nah, bagus. Aku memang sedang tidak ingin diganggu sekarang. Bye,’ sekian.

Kretek <///3

Sempurna sekali ulang tahunku. Selain diacuhkan, diabaikan, ditiadakan, apalagi? Dianggap tak ada? Atau lebih tepatnya mereka semua menganggap tanggal 3 Februari itu tak ada? Mungkin harusnya memang diskip saja dan langsung tanggal 4 saja. Setidaknya aku tidak perlu merasa diabaikan seperti ini. Sangat tidak enak.

“Sudah tahu dimana dia?” tanya Harin.

“Ani,” jawabku lemas.

“Mwo? Memangnya kau bicara apa saja? Dasar bodoh,” katanya.

“Ne, aku memang bodoh. Terima kasih sudah mengingatkanku. Aku pulang,” pamitku dengan lemas. Aku bahkan tidak punya tenaga untuk membela diri saat Harin mengataiku bodoh. Entah kenapa aku tiba-tiba merasa lelah dan mengantuk. Mungkin aku lebih baik tidur hingga acara nanti sore. Ya, walau aku tidak melakukan apa pun pagi ini aku merasa begitu lelah. Aku pun meninggalkan apartemen Song dengan Harin yang tampak heran dengan perubahan sikapku yang tiba-tiba.

o(^o^)o

Aku terbangun saat hari sudah gelap. Aku benar-benar tidur rupanya. Di hari ulang tahunku yang berharga. Sungguh luar biasa. Kepalaku terasa berat mungkin karena terlalu lama tidur. Sebenarnya aku tidak se’kebo’ itu hingga tertidur seharian. Mungkin aku ‘benar-benar’ tidur hanya 2 jam pada sorenya. Seharian aku hanya berbaring, memejamkan mataku, berguling-guling tanpa tujuan, dan berpura-pura tidur pulas saat ada yang memasuki kamarku. Aku sadar saat Sungmin masuk dan seperti tergesa mencari sesuatu dari laci meja riasnya. Juga saat Donghae hyung memanggilku untuk keluar makan siang dan aku hanya menjawab dengan gumaman tidak jelas seolah aku benar-benar tidur pulas.

Kryuuuuuk.

Hem, benar sekali aku belum makan siang dan ini sudah pukul 6 sore jelas saja aku kelaparan. Sekalian saja makan malam. Tapi aku malas makan bersama hyungdeul yang mengacuhkan hari ulang tahunku. Pesan antar saja mungkin, atau makan di luar sekalian. Bukankah ada kedai jjangmyeon di dekat sini, aku tinggal jalan kaki. Cih, siapa yang butuh mereka.

“Baru bangun? Hebat sekali tidur seharian,” tegur Sungmin saat mendapatiku tengah duduk di sisi tempat tidur.

“Eoh,” jawabku singkat.

“Sebentar lagi makan malam siap. Kau harus makan karena tadi melewatkan makan siang,” lanjutnya.

“Eoh,” jawabku lagi.

“Yak, begitu jawabanmu pada hyung? Sungguh tidak sopan. Ck, ck, ck,” kata Sungmin.

Belum sadar juga? Sudah tahu aku sedang badmood karena kalian semua. Masih saja bersikap seolah tak terjadi apa-apa.

“Aku mau mandi,” dengan malas ku pakai handuk untuk menutupi kepalaku bermaksud menghindari kontak dengannya. Malas. Aku beri kalian kesempatan hingga makan malam. Benarkah kalian tidak peduli ulang tahunku?

Kira-kira setengah jam kemudian aku keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan pikiran yang sedikit lebih fresh. Mengikuti perintah Sungmin, aku pun keluar dan menuju tempat makan. Yah selain untuk menurut sebenarnya aku juga penasaran mereka sungguh tidak menyiapkan apa pun untuk ulang tahunku atau tidak. Sekali pun itu hanya makan malam dengan kue sederhana dan tanpa kado, tak masalah. Aku paham kepadatan jadwal kami memang tidak memungkinkan untuk merayakannya besar-besaran. Mereka berniat memberikan sesuatu saja aku akan sangat senang.

Dan tahukah apa yang ku dapati di meja makan? Heung, hanya daging, sup, nasi, yah menu biasa yang ada di sana setiap hari. Bahkan kelihatannya lebih sederhana. Astaga, apa aku salah lihat tanggal? Apa ini benar tanggal 3 Februari? Tahun lalu mereka sampai rela tidak tidur untuk memberi kejutan pada tengah malam, lalu kejutan kedua saat Super Show 4, lalu pesta bersama teman-teman sepulang dari Super Show. Lihat kan, bahkan 3 kali perayaan. Sekarang apa? Bahkan aku tidak berselera melihat makanan ini.

“Mianhae, karena Kangin dan Yesung hyung belum sempat belanja dan persediaan bahan makanan benar-benar menipis jadi malam ini hanya bisa makan ini,” ucap Ryeowook hyung yang sepertinya memahami arti tatapan mirisku ke arah meja makan.

“Aku akan makan di luar,” kataku singkat lalu berbalik meninggalkan ruang makan.

“Mwo? makanan ini cukup untuk kita semua kenapa harus makan di luar?” cegah Ryeowook hyung.

“Yak, Kyu kau sungguh tidak sopan. Ryeowook sudah memasakkan semua ini dan kau memilih makan di luar?” panggil Yesung hyung.

“Malas saja makan bersama. Aku ingin sendiri saat ini,” sahutku datar dan terus pergi.

“Aigoo, dia kekanakan sekali. Sadar tidak sudah berapa usianya? Ck, ck, ck,” sindir Kangin hyung saat ku lewati di ruang TV.

Aku tidak merespon. Biar saja aku dibilang kekanakan. Mereka sendiri yang tidak paham. Aku benci mereka.

“Kau mau kemana?”

Langkahku terhenti. Aku sudah keluar dorm dan terpaksa berhenti karena teguran dari suara yang begitu ku kenal. Hyerin?

“Bukan urusanmu,” jawabku ketus.

“Cih, aku tidak mengurus, tapi bertanya.”

“Kau sama saja,” aku kembali melangkah menuju lift.

“Benar-benar akan pergi?” Hyerin menjejeri langkahku dengan berlari kecil karena jelas kakiku lebih panjang. Sepertinya dia bermaksud mencegahku. Apa dia ingin memberikan sesuatu? Sudah ku duga Hyerin tidak mungkin setidak peduli hyungdeul. Seperti yang pernah dia katakan, dia mencintaiku bukan? Mana mungkin membiarkan ulang tahun kekasihnya berlalu tanpa melakukan hal yang istimewa.

“Kau bisa lihat sendiri aku masih berjalan kan?” aku masih pura-pura bersikap dingin dan tidak peduli. Ah, sepertinya ini akan sangat menyenangkan.

“Kalau begitu aku minta tolong belikan lilin ya. Kau pasti melewati mini market di dekat kedai jjangmyeon kan?”

Kretek <///3

Jadi dia mengejarku untuk memintaku membeli lilin? Astaga, dosa apa yang ku perbuat hingga diperlakukan seperti ini. Eh, tapi siapa tahu saja lilin itu untuk kue ulang tahunku.

“Lilin apa?” tanyaku memastikan.

“Lilin besar-besar, tapi tidak terlalu besar juga. Beli yang harganya paling murah ya. Hanya persediaan kalau listrik tiba-tiba mati. Akhir-akhir ini cuaca buruk dan apartemen ini sepertinya mulai bermasalah. Lift sering macet siapa tahu listrik juga mati nantinya kan?”

Jlebbb.

Sama sekali tidak ada tanda-tanda persiapan untuk kue ulang tahun. Lilin murah yang ukurannya besar sangat tidak mungkin digunakan untuk kue ulang tahun. Baiklah, sepertinya Hyerin bahkan lebih sadis dari hyungdeul.

“Aratta, nanti akan ku antar ke apartemenmu sehabis makan,” jawabku lesu. Dia sama sekali tidak mencerminkan rasa bersalah, tidak enak karena menyuruhku membeli lilin, initinya raut wajahnya biasa saja dan malah terlihat menyebalkan bagiku.

“Tidak perlu, kau berikan saja pada Donghae oppa ya. Gomawo, Kyuhyun-ah. Kau memang baik,” dia mencubit kedua pipiku sekilas lalu berbalik kembali ke apartemennya setelah menyerahkan beberapa lembar uang padaku.

Aku? Ya mau bagaimana lagi? Hanya bisa melanjutkan langkahku menuju lift tanpa tenaga. Semacam pesuruh saja nasibku sekarang. Bedanya aku tidak mendapat bayaran dari orang yang menyuruhku. Miris :”

To : Song Hantu

Kau pikir hanya kau yang bisa mengatakan ini? Aku membencimu! SANGAT MEMBENCIMU, SONG HYERIN!

Lalu kirim. Sekarang aku juga bisa marah. Tidak hanya marah, tapi murka. Tidak hanya pada Hyerin, tapi semua orang yang mempermainkanku di tanggal 3 ini. Aku tidak tahu apa tujuan mereka dan apa pun tujuannya, sekali pun ini adalah rencana untuk memberiku kejutan, aku tidak akan memaafkan mereka. Aku akan tetap marah.

o(^o^)o

Aku menggeliat kegelian. Telingaku terasa geli dan mendapat tiupan berkali-kali. Tapi aku terlalu malas untuk sekedar membuka mata dan mencari tahu apa yang membuatku geli hingga tidurku terganggu. Jadi cuek saja dan terus tidur, itu yang ku lakukan.

“Yak, Cho Kyuhyun, bangun,” suara bisikan. Tepat di telingaku yang sedara tadi ditiupnya. Oh, jadi seorang manusia yang menggangguku. Maaf saja, khusus hari ini dan besok aku sedang tidak berselera menghadapi manusia karena seharian ini aku pun diabaikan.

“Heung,” gumamku tak jelas agar siapapun yang sedang menggangguku sekarang tahu aku sedang tertidur pulas dan tidak ingin diganggu.

“Harus bangun, sudah tinggal setengah jam lagi. Kajja,” bisiknya lagi. Aigoo, sebenarnya manusia ini mau apa? Aku pun berbalik dan sedikit demi sedikit membuka mataku. Mengerjapkannya beberapa kali memastikan penglihatanku tidak salah.

“Hyerin?”

“Iya, baguslah kau cepat sadar. Ppali ireonaaaa,” dia menarik tanganku dengan sedikit manja. Cih, baru sekitar 3 jam yang lalu dia memperlakukanku seperti pesuruhnya. Kenapa sekarang dia bersikap sok manja pada namjachingunya?

“Wae geurae? Aku sungguh mengantuk,” sahutku malas walau akhirnya bangun dan duduk menghadapnya. Aku janji akan mengacuhkan manusia kan bukannya hantu. Bukankah Hyerin adalah hantu? Jadi tidak masuk hitungan. *plak*

“Ada sesuatu yang ingin ku berikan,” sungguh aneh karena ucapannya benar-benar lembut dan penuh perhatian. Dia bahkan merapikan rambutku yang berantakan. Dia tidak sedang kesurupan kan? Aku jadi merinding.

“Kau habis kecelakaan atau kerasukan roh?” timpalku.

“Aigoo kasar sekali pertanyaanmu,” dia mempoutkan bibirnya sok imut. Ck.

“Sebenarnya ini ada apa eoh? Kau membuatku merinding dengan sikap yang seperti ini.”

“Makanya banguuun. Nanti kau akan mengerti,” ucap Hyerin sambil terus berusaha menarikku bangun.

“Kenapa aku harus mau?”

“Hahaha, kau marah padaku ya?” lagi-lagi dia bersikap sok imut dengan mencubit kedua pipiku. Aku ingin muntah, Hyerin. Sungguh.

“Cepat minum obat atau aku benar-benar muntah sekarang,” tegasku.

“Aish, kau membuang waktuku. Lihat, sudah tinggal sepuluh menit lagi,” dia menatap jam weker di nakas dengan putus asa. “Terpaksa ku lakukan di sini,” tambahnya.

“Melakukan apa?” tanyaku datar.

Chu~

Eh? A… apa ini? Jantungku, wajahku, suhu tubuhku….

“Saengil chukkahamnida, Kyuhyun-ah. Maaf mempermainkanmu seharian ini. Atau sebenarnya sudah dari kemarin? Aku hanya ingin memberikan sesuatu yang berbeda untuk namjaku.”

Ini bukan mimpi kan? Aku benar-benar sadar kan sekarang? Aku tidak habis minum anggur kan? Karena ini terlalu menakjubkan untuk sekedar ku bayangkan. Tak bisa ku putuskan nyata atau tidaknya. Hyerin baru saja mencium pipiku tanpa rasa gengsi dan mengucapkan selamat ulang tahun dengan tulus. Hyerin benar-benar… melakukannya.

“Yak, kenapa diam saja? Lihat, hari ulang tahunmu hampir habis,” dia meraih jam weker dan memperlihatkannya di depan mataku. Masih 1 jam lagi hingga tengah malam. Artinya bersisa 1 jam lagi untuk bisa merayakan ulang tahunku di hari yang tepat(?)

“Hanya… terlalu mustahil…”

“Sssst, jangan buat usahaku sia-sia. Aku sudah berusaha keras bersikap manis seperti ini agar kau benar-benar mendapatkan hal yang indah di hari ulang tahunmu walau hanya 1 jam. Eunhyuk oppa sebenarnya berencana membuatku melakukan ini seharian selama tanggal 3 tapi akhirnya dia mengerti aku tidak akan bisa. Jadi rencana diubah menjadi 1 jam saja. Arasseo? Jadi tolong hargai usaha kerasku ini,” terangnya.

Aku diam, hanya menatapnya. Mendengarkan setiap penjelasannya yang menurutku sungguh luar biasa. Hanya untuk 1 jam ini? Ayolah, sekali pun hanya sepuluh menit pun aku sudah merasa begitu bahagia.

“Gomawo,” ucapku lirih.

“Simpan itu untuk nanti. Perjalananmu baru saja dimulai. Ayo ikut aku,” ajaknya lagi.

Masih penuh tanya aku mengikutinya. Hantu ini selalu melakukan hal yang bisa membuat suasana hatiku berubah dalam sekejap. Padahal aku sudah bertekad akan marah terus padanya dan hyungdeul karena kelakuan mereka seharian ini. Walau aku tidak tahu bahwa itu benar-benar direncanakan, aku sudah bersumpah pada diriku sendiri akan tetap marah dan mengacuhkan mereka jika memang benar itu hanya pura-pura. Tapi rupanya aku melanggar sumpahku sendiri. Dan itu semua karena hantu kurus yang ku cintai ini. Hyerin.

“Cha, kita sampai,” ucapnya lega saat kami tiba di depan pintu rooftop.

“Kau tidak sedang merancang sesuatu agar kita bisa berduaan kan?” godaku.

“Tentu tidak, chagiya,” sekali lagi dia mencubit kedua pipiku. Chagiya? Pffft harusnya ku rekam tadi saat dia mengucapkannya karena sumpah demi tinggi badan Dora yang tak juga bertambah, itu terdengar sangat menggelikan.

“Aku menyukai hadiahmu, Hyerin. Sungguh. Aku tidak butuh kado lagi dengan sikapmu yang semanis ini,” ucapku bersungguh-sungguh namun berusaha menahan tawa.

“Diamlah, chagiya. Ini hanya untuk satu jam karena saat jarum jam menunjuk angka 12, aku akan kembali menjadi diriku sendiri dan ku pastikan kau tidak akan pernah melihatku seperti ini lagi. Arasseo?”

“Ne, ne, arasseo, chagiya. Pffffft,” ledekku lagi. Pasti dia begitu ingin cepat tengah malam.

“Sebaikanya kita segara membuka pintunya,” dia mengalihkan pembicaraan dengan wajah yang sudah memerah saking malunya. “Tapi tutup matamu ya,” pintanya.

“Untuk apa?”

“Namanya juga kejutan. Kau tidak pernah nonton film ya? Setiap memberikan kejutan, pasti harus tutup mata dulu,” Hyerin mulai merajuk. Aku tahu dia sudah tidak sabar.

“Geurae,” ku tutup mataku dan setelahnya, ku rasakan kedua tangannya meraih lenganku agar bisa membimbingku berjalan.

“Nah, ayo jalan pelan-pelan saja,” perintahnya.

Aku tersenyum selama kakiku melangkah. Aku tak peduli kejutan apa nanti yang akan ia berikan dan seburuk apa pun itu ku rasa aku akan tetap tersenyum seperti ini.

“Sekarang, ucapkan harapanmu,” kata Hyerin.

“Hah? Harusnya kan ada kue dan biarkan mataku terbuka dulu,” protesku karena saat ini kedua tangannya sedang menutupi mataku rapat-rapat agar aku tidak membuka mata.

“Prosedurnya berubah khusus hari ini. Aku ingin mendengar harapanmu dulu baru memperbolehkanmu melihat dunia,” desaknya.

“Semacam malaikat maut saja.”

“Ayoooo.”

“Ne… akan ku lakukan,” aku pun menyerah. “Waktu yang ku habiskan sejak aku lahir hingga sekarang entah itu suka atau pun duka, bagiku sudah menjadi anugerah. Bersama hyungdeul, Super Junior, ELF yang mencintai kami, dan bersama kalian yang menyayangiku, juga dirimu,” aku berhenti sesaat. Memastikan Hyerin mengerti. “Itu semua adalah momen yang luar biasa. Dan apa menurutmu aku masih harus meminta lagi? Jika memang harus, maka aku akan meminta Tuhan membiarkan anugerah ini bertahan lebih lama. Ku mohon biarkan aku tetap dikelilingi kehangatan dari kalian semua yang menyayangiku.”

Lalu hening. Harapanku sudah selesai. Mungkin saat ini Hyerin tengah tersenyum sepertiku. Entah mengapa aku bisa merasakan aura senyuman hangat entah dari mana.

“Sudah?” tanya Hyerin.

“Sudah dari tadi, Hyerin.”

“Geurae, sekarang kau bisa membuka matamu.”

Hyerin melepas tangannya dari mataku, dan aku pun membuka kelopak mataku perlahan. Dan yang ku lihat adalah….

“Saengil chukkahamnida… saengil chukkahamnida… saranghaeyo Kyuhyunnie… saengil chukkahamnida….”

Suara tepukan meriah dan lilin-lilin yang menyala sebagai sumber cahaya di rooftop malam itu sungguh membuatku enggan untuk berhenti tersenyum. Dan lihat juga lautan lightstick berwarna biru safir yang menyala di depanku sekarang. Yah, memang tidak sebanyak saat kami melakukan konser, tapi mataku sudah cukup menangkap kilauan penuh cinta itu dari mereka.

“ELF?”

“Ne, kadoku hebat kan? Aku tahu kau sudah punya semuanya. Dan menurutku membawa mereka dan memberikan cinta mereka sebagai kado untukmu, pasti menjadi kado yang akan selalu kau ingat,” jawab Hyerin.

“Tapi bagaimana kau melakukannya?”

“Kau lupa ya? Kau juga memiliki kami,” sahut Donghae hyung yang kemudian muncul bersama hyungdeul lainnya.

“Lebih baik kado seperti ini kan? Tidak perlu mengeluarkan biaya mahal dan barang bermerk. Aku yakin kau sangat bahagia hingga ingin menangis,” kata Sungmin hyung.

“Maaf saja aku tidak cengeng,” candaku. Sebenarnya itu benar. Aku terlalu bahagia hingga bisa menangis kapan saja.

“Saengil chukkae Kyuhyun oppaaaa,” seru para ELF dan membuat love sign bersamaan. “Saranghaeyo.”

“Nado… neomu saranghaeyo,” jawabku agak keras agar mereka semua bisa mendengarnya.

Dan selanjutnya, hyungdeul memelukku bergantian dan mengucapkan saengil chukkae diiringi doa yang baik walau ada sebagian yang terdengar konyol. Aku tentu tidak bisa memeluk Hyerin di sini walau sangat sangat ingin melakukannya. Ya Tuhan, aku mencintai yeoja ini.

“Jadi lilinnya untuk ini ya?”

“Memang iya. Aku tertawa keras saat menerima pesan darimu. Membenciku? Apa sekarang masih benci?”

“Ne, masih.”

“Mwo? Aku sudah memberikan kado seindah ini masih membenciku?” lihat, wajah kecewanya terlihat begitu lucu.

“Ne, kenapa kau menyuruhku membeli lilin murahan? Harusnya aku mendapat yang berkualitas.”

“Budgetku terbatas. Bayangkan saja betapa sulitnya aku mengundang ELF ke tempat ini pada tengah malam. Itu penuh perjuangan tahu,” sungutnya.

“Hahaha, tidak ikhlas?”

“Bukan begitu….”

“Gomawo… saranghae,” potongku segera.

Blush. Pipinya memerah. Ingin sekali ku tenggelamkan segera dalam dekapanku kalau saja tidak ada ELF di sini.

“Sekarang, ucapkan terima kasih dan rasa cintamu pada mereka,” Hyerin mendorongku agak maju.

“A… aku tidak bisa yang seperti itu,” kataku gugup.

“Yak, kau ini bagaimana? Mereka sudah bersedia datang dengan suka rela begini dan kau bahkan tidak sudi mengucapkan terima kasih?”

“Bukan begitu aish… hanya saja….”

“Tidak perlu memaksakan diri, oppa. Nyanyikan saja lagu untuk kami,” kata salah satu ELF yang hadir di sana.

“Benar, oppa. Ayo menyanyi untuk kami,” dan serentak semua mulai berdemo agar Kyuhyun menyanyi.

“Geurae, ini sebenarnya illegal karena aku melakukannya secara gratis. Tapi berhubung kalian sudah rela datang untuk merayakan ulang tahunku, maka aku dengan ikhlas tampil tanpa dibayar. Tapi tidak sendirian,” sahutku menenangkan mereka. “Aku akan bernyanyi bersama mereka ini. Kalian senang kan? Show Super Junior secara gratis, live, di depan mata kalian.”

“Y… yak, kenapa jadi bawa-bawa kami?” protes Shindong hyung.

“Kau nyanyi ya nyanyi saja sendiri,” sahut Yesung hyung.

“Ayolah, kalian tidak ingin mengecewakan ELF kan?”

“Cih, dasar licik,” timpal Eunhyuk hyung. Aku tertawa penuh kemenangan.

Mereka pun tampak antusias menantikan penampilan live Super Junior dengan lightstick di tangan. Sebelum siap dengan formasi kami, aku sempat mengerling Hyerin yang ikut berdiri berbaur dengan ELF di hadapan kami lengkap dengan lightsticknya juga. Dengan keberadaan dia di sana, lightstick dan ratusan lilin itu jadi semakin berkilau menurutku. *eaaaaak FTV

This song is dedicated to the world’s biggest fan club

The “ELF”, my girls, my angels.

 

We, met for the first time years ago then fell in love at first sight

Baby, no matter where I go, you stand by my side just like my shadow

From time to time, there are just so many things to prove our love

Even when I’m sick, even when I collapse, she’s the only one remaining by my side

 

Baby baby baby baby baby, let us never break up

Oh my lady lady lady lady lady, I really love you

Shawty shawty shawty shawty shawty, it’s only you, the one that I’ve chosen

Even my tears, even my little smiles.. Do you know?

They all come from you

 

That you’ve got old already because I make you worry so much, don’t say such things

No matter how I look at it, to me there’s no one in this world that is as beautiful as you are (don’t say such things either)

I don’t know why you keep staying with me. Also, I’m sorry because I fall short to you

Just believe me. I, I will do well

 

*Baby baby baby baby baby, let us never break up

Oh my lady lady lady lady lady, I really love you

Shawty shawty shawty shawty shawty, it’s only you, the one that I chose

Even my tears, even my little smiles.. Do you know?

They all come from you

 

Even when the words ‘I have no one but you’ sound all so cheeky, how do I show you my heart?

Even though there are times when we fight, when we say we hate each other to death, doesn’t your heart know already?

 

The days of mere beauty, with the mere good things that you and I, we two used to see together, eat together, hear together, cry together, laugh together

Thank you for standing by me, believing in me so that I wouldn’t collapse, really thank you

 

Baby baby baby baby baby, let us never break up

Oh my lady lady lady lady lady, I really love you

Shawty shawty shawty shawty shawty, it’s only you, the one that I chose

Even my tears, even my little smiles.. Do you know?

They all come from you

Deul gomapgo… saranghanda

(Super Junior – From U lyrics translate)

 

Terima kasih Hyerin. Kau tak hanya memberikan kado yang indah di hari ulang tahunku. Kau baru saja memberiku dunia. Aku mencintaimu.

o(^o^)o

Pagi ini terasa lebih hangat. Hyerin dan Eunchae ikut sarapan bersama di dorm. Sebenarnya tidak bisa disebut sarapan karena kami makan bersama kira-kira pukul 10 lewat. Itu karena kami berpesta sampai pagi dan tentu saja begitu mengantuk hingga bangun kesiangan. Rupanya bahan makanan tidak benar-benar menipis, hanya disembunyikan agar aku tidak curiga. Dan sebenarnya saat aku pergi untuk makan di luar, mereka mengeluarkan menu yang ‘sebenarnya’ dan makan dengan puas. Sial.

“Yang paling lucu adalah saat dia harus susah payah minta maaf padaku karena salah paham terhadap Luhan,” Hyerin membuat seisi ruang makan tertawa. “Makanya jangan asal tuduh. Tapi aku juga bersyukur saat itu Luhan secara kebetulan ke Kona Beans dan bergabung dengan kita.”

“DIamlah, Hyerin kita sedang makan,” timpalku. Biar bagaimana pun aku tidak mau jadi bahan tertawaan mereka. “Kau juga sangat konyol bersikap sok imut semalam. Konyol,” tekanku.

“Setidaknya aku tidak bodoh sepertimu, Kyuhyun. Hahahaha.”

Sial. Aku semacam badut yang menghibur mereka saja. Semua menertawakanku.

“Dan sikap kekanakannya hanya karena kami tidak memberikan ucapan selamat ulang tahun. Aigoo,” kata Kangin hyung.

Aku hanya bisa mendengus dan terus makan dengan lahap. Anggap saja aku tidak mendengar ocehan mereka semua.

Ting tong *plak suara bel ceritanya*

“Ada tamu? Mungkinkah manager hyung?” kata Ryeowook hyung.

“Biar aku saja yang buka,” Shindong hyung beranjak dari duduknya.

“Eunchae mau tambah lagi? Kami masih punya banyak daging,” ucap Sungmin hyung yang sedari tadi sibuk dengan Eunchae. Dia begitu menyukai anak kecil kenapa tidak menikah saja dengan Shinbi noona dan segera punya anak.

“Kyuhyun-ah, kiriman untukmu,” seru Shindong hyung sekembalinya ke dapur.

“Hadiah? Dari fans?” tanyaku.

“Mungkin. Jauh sekali dari Cina,” jawabnya.

“Biar aku yang bukaaaa,” pekik Sungmin bersemangat.

“Yak, itu hadiahku,” aku segera bangkit dan merebut kado itu sebelum Sungmin membukanya.

“Eh, ini memonya,” Hyerin memungut memo yang terjatuh lalu membacanya.

 

Kyuhyun chagiya, masih ingat aku kan? Tak terasa sudah setahun ya. Aku berharap bisa menghabiskan waktu denganmu lagi. Ku harap kelinci itu bisa mengingatkanmu kembali. Oh ya, aku berencana ke Korea dalam waktu dekat ini. Sesuai keinginanmu dulu. Nan jinja joahaeyo, nae yeobo.

With love,

Lou Yi Xiao

Lalu hening. Hyerin tampak diam saja lalu meletakkan memo itu di atas meja. Ku lirik boneka pasangan kelinci dari dalam kotak. Jika kalian sudah menonton We Got Married China edisi special Valentine tahun lalu pasti sangat mengenali boneka ini. Dan aku tak menyangka bahwa Lou Yi Xiao benar-benar ingat hari ulang tahunku. Tapi itu bukanlah hal penting sekarang. Karena yang menjadi menarik adalah perubahan ekspresi wajah Hyerin. Lebih-lebih saat hyungdeul mulai mengompori.

“Wah, ini hadiah dari istrimu ya, Kyu.”

“Lucu sekali, pajang di kamar ya.”

“Sepertinya dia serius dengan ucapannya menyukaimu. Dia ingat ulang tahunmu.”

“Sudah mengirim hadiah, dia bilang akan ke Korea. Ini menakjubkan.”

“Bukankah memang setahun yang lalu Kyuhyun yang memintanya ke Korea jika ada waktu? Ingat, saat part terakhir We Got Married?”

“Ehem, aku… aku pulang dulu ya. Kajja, Eunchae,” celetuk Hyerin di antara kegaduhan hyungdeul yang memanas-manasi kami.

“Kenapa terburu-buru?” cegahku. Sengaja memang, ini akan sangat menyenangkan melihat wajah muram Hyerin setelah membaca memo itu. Hahaha.

“Ani, kau bersenang-senang saja dengan hadiah dari ‘istrimu’,” jawabnya dengan tekan di kata istri.

Hahaha, kau tahu? Hukum karma memang berlaku. Sekarang giliranku, Hyerin.

o(^o^)o

P.P.S : Bagaimana rasanya? Gak ada pasti u.u Iyaaah maaf jika banyak kesalahan di sana-sini, dan ide cerita terlalu biasa T^T mohon review seikhlasnya. Pake cap kaki ddangkoma juga boleh. See you next part (kalau ada)

27 thoughts on “KyuRin Tale: Evil Day 2

  1. whoaaaaa nbaru nemu niegh blog..
    emmm awalnya bingung ngurutin partnya.. tpi akhirnya bisa juga setelah liat tanggal postingnya trus di kasiin label degh..
    mian baru koment di part ini..
    pokoknya suka suka suka banget,
    aq smpe cenge2san bacanya…
    emm tpi dah baca And i love U juga,,,
    wah law yang itu aq mewek liat pengorbanannya kyu.. penhen jadi hyerin…
    *yambung gk tugh komentnya*

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s