[FF Freelance] Blind in Love (Part 2)

blind in love

Title : Blind In Love (Chapter 2) || Author : Eugenia Kim || Tumblr : ksunmi1248 || Rate : PG-17 || Length : 5494 words || Genre : Romance || Cast’s : Kim Taeyeon [GG], Kim Jongwoon [SJ], Tiffany Hwang [GG], Cho Kyuhyun [SJ], Kim  Hyoyeon [GG], Lee Hyukjae [SJ] || Disclaimer : Terinspirasi dari berbagai lagu, novel, drama dan ff lain. || Previous part: Part 1

Seberapa pun besar usaha yang kau lakukan untuk menghindari takdir,

 tapi jika takdir itu sudah datang kepadamu,

satu-satunya hal yang bisa kau lakukan adalah merimanya.”

 

Mata Taeyeon tak bisa berhenti mengamati brosur-brosur yang tersusun rapi di salah satu rak yang terdapat di koridor rumah sakit itu. Sesekali tangannya akan mengambil salah satu brosur, lalu membolak-balikan brosur itu dengan tangan kanannya dan membaca apa yang tertulis di brosur itu sambil  menyeruput jus nanas yang sedari tadi ia pegang dengan tangan kirinya.

“Ultrasonografi.” Gumamnya, membaca judul dari brosur ke sekian yang diambilnya. Baru saja Taeyeon akan melanjutkan kegiatan membacanya, tiba-tiba suara nyaring khas dari ponselnya terdengar. Dengan segera ia merogoh tasnya lalu mencari ponselnnya lalu menggeser slide ponselnya untuk menjawab panggilan tersebut.

“Taeyeon-ssi.”Ucap seseorang di telepon, yang ternyata Victoria.

“Ah, Victoria-ssi, kau dimana?”

“Aku sudah di ruang tunggu, kau dimana? Aku mendapat nomor antrian keberapa? Tanya Victoria bertubi-tubi.

“Memang sekarang sudah nomor berapa? Kau mendapat giwqliran nomor 32. Aku baru saja membeli minum, aku haus.”

“Oh begitu, sekarang baru nomor 28 sih, tapi sebaiknya kau kesini, aku risih harus menunggu sendiri. Lagipula yang kudengar, untuk nomor 29 dan seterusnya, akan diserahkan pada dokter pengganti, karena dokter yang harusnya menanganiku ada urusan mendadak. Oleh karena itu kita harus menunggu lebih lama”

“Oh begitu, baiklah, aku kesana sekarang. Anye-”

“Taeyeon-ssi!” Baru saja Taeyeon akan mengakhiri panggilannya, tiba-tiba Victoria memanggilnya dengan setengah berteriak. Hal ini kontan membuat Taeyeon, menempelkan ponselnya ketelinganya lagi. “Wae, Victoria-yah?”

“Jangan lupa nomor antrian dan testpacknya.” Ucap Victoria singkat lalu mengakhiri panggilan tersebut.

‘Liat itu, dia benar-benar tukang perintah.’

Sepanjang jalan kembali ke ruang tunggu poliklinik kandungan, Taeyeon tak henti-hentinya mengutuki sifat Bossy Victoria. Bahkan tak jarang gelas jus nanas yang ia pegang di tangan kirinya jadi sasarannya untuk menumpahkan kemarahannya. Tak heran bentuk gelas plastik itu mulai memenyok.  Tiba-tiba dirasakannya getaran kecil disertai dentingan di tangan kanannya. Getaran itu berasal dari Ponsel Taeyeon yang menandakan ada pesan masuk di ponsel itu. Dengan suasana hati yang masih cukup buruk, Taeyeon pun menggeser slide ponselnya dan membaca pesan itu.

From : Changmin Oppa

Kau dimana Taeyeon-ah?

Maaf sudah lama aku tak menghubungimu, aku terlalu sibuk.

Kau sudah makan?

Sebuah pesan kecil, namun entah kenapa begitu ajaib bagi Taeyeon. Dalam sekejap, moodnya yang sedari tadi buruk langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Bahkan pesan itu mampu membuat senyum Taeyeon merekah.  Dan tanpa basa-basi, Taeyeon langsung membalas pesan dari Changmin, kekasihnya.

To : Changmin Oppa

Tak apa oppa, aku masih mengantar temanku ke klinik.

Aku sudah makan, kau sendiri?

Aku merindukanmu oppa….

Tak lama kemudian, pesan dari Changmin kembali masuk. Dengan sigap Taeyeon langsung membukanya dan membacanya.

From : Changmin Oppa

Aku merindukanmu juga Taeyeon-ah

jika aku tak sibuk, mari kita berkencan.

Saranghae.

To : Changmin Oppa

Saranghae Oppa ^^

Taeyeon menatap pesan dari Changmin untuk beberapa saat. Bisa dikatakan, ia terlalu terbuai oleh pesan dari namjanya itu. Bahkan saking terbuainya, ia berjalan sembari melamun, tanpa memperhatikan jalan yang ia lalui, hingga..

Kreeeek….

Di persimpangan koridor, tubuh Taeyeon tak sengaja bertabrakan dengan seorang pria yang datang dari arah berlawanan. Akibat dari tabrakan itu gelas plastik berisi jus nanas yang dipegang Taeyeon, tepat bertabrakan dengan perut pria itu. Hal ini menyebabkan gelas itu mendapat tekanan hingga penyok dan membuat isi gelas itu meluap mengenai kemeja putih pria yang tak lain dan tak bukan adalah dokter Kim Jongwoon. Bahkan jus nanas itu tak hanya menempel di bagian perut, melainkan bagian dada.  Tak hanya itu, tabrakan kecil itu juga mengakibatkan tas yang sedari tadi dijinjing Taeyeon terlepas dari lengannya dan jatuh hingga menyebabkan isi tas itu berserakan di lantai koridor.

“Mi-mi-miah-ha-hae…” Ucap Taeyeon terbata-bata namun tak mendapat respon apapun dari pria itu. Bahkan pria itu hanya menunjukkan ekspresi datar yang sulit ditebak oleh Taeyeon.

“Jeongmal mianhae” gadis itu meminta maaf lagi dan bermaksud membersihkan ampas-ampas jus nanas yang menempel di baju pria itu. Namun baru saja gadis itu berusahan meraih kemeja pria itu, tangannya sudah ditahan oleh tangan kokoh pria itu.

“Gwenchana.” Balas Jongwoon singkat, masih dengan wajahnya yang datar. “Lain kali berhati-hatilah.” Tambah Jongwoon lagi, lalu melangkah meninggalkan Taeyeon yang masih memandang pria itu dengan perasaan tak enak. Namun, baru beberapa langkah pria itu berjalan, tiba-tiba ia merasakan kakinya menginjak sesuatu. Langsung saja di angkatnya kakinya sehingga ia bisa melihat benda yang ia injak itu. Alangkah terkejutnya Jongwoon ketika mengetahui benda yang ia injak itu, merupakan benda di luar dugaan Jongwoon. Sebuah Testpack. Dengan 2 garis merah pada indikatornya. Tanpa berpikir panjang, Jongwoon langsung mengambil benda itu, dan membalikkan badannya. Dilihatnya gadis yang baru saja ditabraknya sedang memasukkan isi tasnya yang berserakan sambil celingukan seperti mencari sesuatu.

“Mencari ini?” Tanya Jongwoon sembari menjulurkan testpack itu ke depan wajah Taeyeon yang masih berjongkok memasukkan barang-barangnya.

Melihat benda yang sedari tadi dicarinya berada di depan wajahnya, Taeyeon langsung berdiri menghadap Jongwoon. “Ne, aku mencari ini, Go-”

Baru saja Taeyeon akan mengambil benda itu dari tangan Jongwoon, pria itu sudah menarik tangannya sehingga Taeyeon tak jadi mendapatkan Testpack itu. “Apa kau yakin ini milikmu?” Tanya Jongwoon lagi.

“Ne, itu punyaku. Cepat kembalikan, aku sudah ditunggu.”

Tiba-tiba Jongwoon menyadari sesuatu. ‘Jika testpack ini memang miliknya… Dasar gadis gila, tanpa rasa bersalah ia malah meminum jus nanas, apa ia tidak tahu nanas itu berpotensi menggurkan janin di dalam kandungan’

“Ya! Cepat kembalikan!” Pinta Taeyeon lagi, kali ini dengan dengan nada menuntut.

Bukannya menjawab pertanyaan Taeyeon, Jongwoon malah balik bertanya. “Apa kau berniat menggugurkan janinmu nyonya?”

“MWO?”

“Kau berniat mengugurkan janinmu kan?”

“Apa maksudmu tuan?” Pekik Taeyeon.

“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu nona. Apa maksudmu meminum jus nanas, jelas-jelas nanas itu tidak baik untuk janin, dan jelas-jelas testpack ini menunjukkan kalau kau sedang hamil. Jadi apa maksudmu melakukan semua ini, hah?” Dengkik Jongwoon.

Taeyeon yang emosinya kembali tersulutkan balik mendengkik Jongwoon. “Ya! Apa kau gila? Baru pertama kali kita bertemu kau sudah menanyaiku berbagai macam hal dan mendengkikku dengan alasan yang tak jelas. Aku tahu, kau marah padaku gara-gara jus nanasku tak sengaja menodai bajumu itu. Tapi bukan berarti kau bisa seenaknya menuangkan kekesalanmu dengan menuduhku yang tidak-tidak!!”

“Aku tidak menuduhmu tanpa alasan yang jelas. Aku berbicara berdasarkan bukti. Kau mengatakan bahwa testpack ini adalah milikmu dan jelas-jelas testpack ini menunjukkan kalau kau itu positif hamil. Tapi kau seenaknya meminum jus nanas, yang jelas-jelas berpotensi menggurkan kandungan.” Ceramah pria itu sambil sebelah tangannya di masukkan ke saku celana dan sebelah tangannya sibuk bergerak-gerak, seperti seorang guru yang sedang berceramah pada muridnya.

Mendengar penjelasan Jongwoon, Taeyeon menyadari satu kesalahannya. ‘Kenapa tadi aku mengatakan kalau testpack ini milikku, dasar kau bodoh Kim Taeyeon.’ Umpat Taeyeon pada dirinya sendiri.

Taeyeon memang sudah terlanjur malu. Namun emosinya masih menguasai dirinya, sehingga ia kembali membalas ceramah pria itu.

“Ya! Itu urusanku, aku hamil atau tidak, aku minum jus nanas atau apalah, atau mau kuapakan janin yang entah ada atau tidak di rahimku ini. Itu sama sekali bukan urusanmu Tuan!” Bentak Taeyeon dengan menekankan kata ‘bukan urusanmu’ pada akhir kalimatnya itu. “Cepat, kembalikan Testpack itu!” Pekik Taeyeon lagi.

Pria itu tersenyum sinis, namun dia meraih tangan Taeyeon dan meletakkan Testpack itu di atas telapak tangan Taeyeon dan melipat jari-jari Taeyeon. Sehingga Testpack itu kini berada dalam kepalannya. Lalu Jongwoon berbisik di telinga Taeyeon. “Kau tahu, meskipun janin yang kau peroleh berasal dari hubungan terlarang, kau tak harus malu lantas menggugurkannya. Malah kau harus mempertahankannya.” Ucap Jongwoon kini dengan nada yang melembut namun tetap terkesan menyindir.

‘Apa pria bermaksud mengatakan bahwa aku mencoba merendahkanku denga menuduku menggugurkan janin hasil hubungan terlarang? Dasar pria brengsek.’

Taeyeon yang sudah tak bisa menahan kemarahannya lantas pergi meninggalkan Jongwoon yang masih mematung di tempatnya. Namun baru beberapa langkah gadis itu berjalan, gadis itu membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya kembali ke hadapan Jongwoon. Ketika sudah berada tepat dihadapan Jongwoon, Taeyeon langsung merogoh tasnya seperti mencari sesuatu.

“Aku bukan orang yang tidak bertanggung jawab. Aku juga tidak suka masalah kecil seperti ini harus dibesar-besarkan menjadi masalah yang tak jelas kebenarannya.” Jelas Taeyeon sambil merogoh tasnya dengan perasaan jengkel. Setelah mendapatkan benda yang ia cari, ia langsung melemparkan benda dari tasnya itu ke wajah Jongwoon, yaitu beberapa lembar uang won. “Percayalah, noda jus itu bisa hilang dengan mudah. Kau bisa mencucinya sendiri di rumah. Tapi aku yakin, manusia sepertimu tidak akan mau repot-repot mencuci bajunya sendiri. Jadi sebagai gantinya, aku memberimu ongkos binatu. Uang itu aku rasa sudah cukup untuk membawa kemeja mahalmu ke binatu. Dan mulai sekarang, janganlah menyimpulkan sesuatu seenakmu tanpa kau tahu kebenarannya terlebih jika hal itu hanya untuk melampiaskan kekesalanmu akan hal-hal kecil seperti ini, Tuan!” Omel Taeyeon panjang lebar lalu berlalu meninggalkan Jongwoon yang masih melongo tak percaya.

*****

Dari awal Taeyeon kembali dari membeli minuman hingga sampai saat ini, Victoria tidak berani membuka mulutnya untuk sekedar menanyakan apa yang terjadi pada gadis itu. Taeyeon hanya terdiam menekuk lututnya sambil memasang ekspresi wajah yang menurut Victoria sangat tidak mengenakkan. Bahkan saat giliran Victoria untuk periksa tiba, gadis itu hanya mengikuti Victoria dari belakang dan masuk kedalam ruang praktik dengan masih memasang wajah cemberut.

Saat memasuki ruang praktek, betapa terkejutnya Taeyeon melihat sosok yang duduk di belakang meja sambil menulis sesuatu. Menyadari pasiennya telah memasuki ruang praktek, Jongwoon menyelesaikan aktifitas menulisnya dan mengangkat wajahnya dari kertas tempat ia menulis. Seketika matanya bertemu dengan gadis itu, gadis yang menumpahkan jus nanas diatas kemejanya. Awalnya ia sempat terdiam, tapi tak lama kemudian ia tersadar dan menyambut pasiennya lalu mempersilakan pasiennya dan pendamping pasiennya duduk. Setelah kedua orang itu duduk, seorang suster meletakkan sebuah map yang berisi rekaman medis pasien itu. Sebuah seringaian terbentuk di wajah Jongwoon ketika ia membaca rekaman medis itu.

‘Lihat saja, seberapa besar pun ia membantah tentang kehamilannya, tapi takdir berpihak padaku dan skak mat! Pembantahan apalagi yang akan ia katakan’

“Jadi, apa ada keluhan dengan kandunganmu nona Song?” Tanya Jongwoon sembari menatap Taeyeon dengan sinis, seolah-olah Taeyeon lah nyonya Song yang ia maksud. Sementara Taeyeon yang menyadari pertanyaan Jongwoon ditujukkan kepadanya hanya menundukkan kepalanya dan menggigit bibirnya geram.

“Sebenarnya ini kali pertamanya aku datang dengan perut hamil.” Ucap seseorang di sebelah Taeyeon, Victoria. Seketika raut wajah Jongwoon nampak terkejut dan menatap kedua gadis itu tak percaya. “Bahkan aku membawa testpack milikku dokter, memang sebenarnya ini tidak perlu, tapi jujur saja aku takut hasil testpack ini meragukan jadi, anggap saja ini sebagai pembanding.” Ucap Victoria dengan bangga sambil menunjukkan testpacknya yang berisi 2 garis merah, sama dengan  yang Jongwoon lihat tadi.

“Kalau begitu, silahkan anda berbaring dulu nyonya.”

Jongwoon yang sudah tidak bisa menahan malunya memilih untuk menghindari Taeyeon dan mulai memeriksa Victoria. Sementara Taeyeon yang masih duduk menundukan kepalanya, sibuk mengumpat dalam hatinya sambil sesekali meremas tangannya.

‘Sepertinya kiamat sudah akan datang. Baru saja aku bersumpah tidak ingin melihat pria arogan dan brengsek ini, dalam beberapa menit takdir malah membuatku bertemu pria ini lagi. Tak kusangka ia adalah seorang dokter. Aku yakin, tidak ada pasien yang akan datang kedua kalinya jika mengetahui tabiat asli pria sialan ini.’

Tiba-tiba mata Taeyeon tidak sengaja melirik nama di jas putih Jongwoon. ‘Oh, namanya Kim Jongwoon.’

Setelah pemeriksaan selesai, baik Victoria  maupun Jongwoon kembali ke kursi masing-masing. “Selamat nyonya Song, Anda telah hamil 8 minggu. Sebaiknya anda menjaga kondisi tubuh anda dan kurangi kegiatan yang mudah menyebabkan lelah. Pastikan kau juga meminum vitamin dan susu untuk menjaga kandunganmu agar tetap sehat. Saya sarankan anda rajin kontrol ke dokter untuk mengetahui kondisi kandungan anda.” Ucap Jongwoon sambil tersenyum kepada Victoria. Setelah menyelesaikan kalimatnya, Jongwoon melirik Taeyeon sekilas. Didapatinya gadis itu masih memasang wajah datar yang sulit ditebak oleh Jongwoon.

“Kalau begitu, kami pamit dulu dokter.” Pamit Victoria memecahkan lamunan Jongwoon sambil memasang senyum terbaiknya. “Annyeong dokter.” Pamit Victoria lagi.” Pamitnya lagi lalu berdiri meninggalkan ruangan Jongwoon. Jongwoon yang sedari tadi masih memendam rasa tak enak kepada Taeyeon hanya memamandang gadis yang mengekor pada Victoria itu.

*****

“Bukankah dia sangat tampan Taeyeonie? Sudah dokter tampan pula.” Puji Victoria ketila mereke berjalan menuju lobby rumah sakit.

‘Tampan? Astaga apa matamu itu rusak Victoria-ssi? Sempurna? Tak bisakah hati nuranimu bekerja lebih baik lagi.’

“Menurutmu begitu? Menurutku biasa saja.” Respon Taeyeon cuek.

“Hey, responmu cuek sekali, apa sebenarnya kau jatuh hati pada dokter itu, tapi malu mengakuinya.” Goda Victoria yang hanya dibalas dengan tatapan risih oleh Taeyeon. “Tapi bukankah menyenangkan memiliki seorang dokter, dokter kandungan pula. Dengan begitu, akan ada yang selalu memperhatikanmu ketika hamil.” Tambah Victoria lagi kali ini sambil membayangkan sesuatu dipikirannya.

Taeyeon yang sudah terlalu risih dengan ucapan Victoria seperti mendapatkan penyelamat ketika ponselnya berbunyi menyebabkan Victoria berhenti membicarakan pria itu. “Yeobseyo.”

“Taeyeon-ah. Kau dimana?”

“Kyuhyun Oppa! Aku dirumah sakit Seoul, mengantar temanku memeriksakan kandungannya.”

“Rumah sakit Seoul? Benarkah? Aku sedang di dekat Rumah Sakit Seoul, apa mau kujemput?l” Tawar Kyuhyun.

“Ani Oppa, itu tidak perlu, lagipula aku masih bisa pulang naik bus.”

“Andwae! Aku akan menjemputmu sekarang. Lebih baik kau menunggu di lobby, araso?”

Taeyeon yang sudah sangat mengenal sikap Kyuhyun yang tidak menerima penolakan pada setiap tawarannya hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, “Arata, Arata.”

“Kekasihmu ya?” Tanya Victoria ketika Taeyeon mengakhiri sambungan teleponnya dengan Kyuhyun.

“Kekasih?” Ulang Taeyeon menaikkan sebelah alisnya.

“Yang menelepon itu kekasihmu kan?” Tanya Victoria lagi.

“Bukan, itu sunbaeku, kekasihku sedang tugas di Taiwan beberepa bulan terakhir.” Jawabnya dengan senyum kecut.

“Ooh begitu, maafkan aku, aku tak bermaksud.” Sesal Victoria.

“Gwenchana, memang begitu. Oh iya, aku tak jadi menumpang dengamu sampai halte, Sunbaeku akan menjemputku kesini.”

“Ah begitu, baiklah. Terimakasih ya sudah mengantarku.” Ucap Victoria sambil tersenyum tulus.

Lima belas menit berlalu setelah Victoria pergi meninggalkannya di lobby. Taeyeon duduk bersandar pada salah satu sofa sambil mendengarkan lagu dari ponselnya melalui headset. Sesekali ia akan memejamkan matanya menikmati setiap melodi yang mengalir ke telinganya. Awalnya memang terasa sangat menenangkan, namun semua itu terasa menyebalkan bagi Taeyeon ketika bayang-bayang masalah yang baru saja dilewatinya kembali muncul dalam benaknya. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa ia dituduh sebagai ibu hamil yang tak berkeprimanusiaan sementara berciuman dengan pria saja ia tak pernah. Benar-benar omong kosong.

“Sudah lama menungguku?” Suara berat khas itu menyadarkan Taeyeon dari lamunannya.

“Oppa!” Gadis itu langsung berdiri dan menghadap pria itu. “Anio, hanya 15 menit.”

“Kau lapar? Atau setidaknya apa kau sedang ingin camilan?” Tanya Kyuhyun ketika mereka menuju basement parkir rumah sakit itu.

“Bagaimana jika patbingsoo? Aku sudah 2 bulan tidak makan patbingsoo.” Pinta Taeyeon dengan berseri-seri.

“Jinja? Kalau begitu, ayo kita mencari Patbingsoo.” Tawar kyuhyun. “Kali ini giliranku menraktir.” Lanjut Kyuhyun dengan bisikan di telinga Taeyeon.

“Taeyeonie, sepertinya aku lupa akan satu hal.” Ucap Kyuhyun lalu mencari-cari sesuatu di tas kerjanya. Saat ini mereka sedang berada di sebuah cafe menikmati makanan kesukaan Taeyeon, Patbingsoo.

“Sesuatu? Apa itu?” Tanya Taeyeon sambil memberi jeda antara patbingsoo yang baru ia telan dengan patbingsoo yang akan ia suapi ke mulutnya.

“Ini.” Kyuhyun menyodorkan Taeyeon sebuah map kertas. Taeyeon yang sudah penasaran dengan isi map tersebut lantas membukanya.

“Apa ini?” Tanya Taeyeon sembari menaikan sebelah alisnya saat membuka lembar demi lembar kertas di dalam map itu.

“Tadi Hyoyeon memintaku untuk pergi ke gedung Sunghwa Musical Company untuk mengambil itu.”

“Formulir dan persyaratan Audisi?” Tanya Taeyeon memastikan.

“Ya seperti itulah…”

“Aku tau aku tak bisa menolaknya kan Oppa? Biarkan aku membawanya dulu, nanti jika aku sudah membaca persyaratannya, mengisi formulir dan melampirkan kelengkapan lainnya, aku akan memberikannya padamu.” Nampak rasa berat hati dari ekspresi wajah Taeyeon. Tapi bagaimanapun juga Taeyeon benar, ia tak mungkin bisa menolaknya, terlebih ia sudah terikat janji dengan Hyoyeon.

*****

Malam itu, jam praktik Jongwoon telah usai. Tak terasa sudah hampir satu minggu Jongwoon bekerja di Rumah Sakit Seoul. Selama bekerja di rumah sakkit itu, Jongwoon sengaja meminta izin dari rumah sakit untuk tidak mengambil jaga malam di rumah sakit. Agar ia bisa menjaga Taewoon dirumah.

Sebelum pulang ke rumahnya, ia menyempatkan untuk mampir ke rumah orang tuanya yang juga tempat tinggal Hyoyeon, Hyukjae serta Hyoeun untuk menjemput putranya, Kim Taewoon.

“Tumben kau mampir.” Tanya Ayah jongwoon yang sedang membaca buku ketika melihat Jongwoon memasuki ruang tamu.

“Beberapa hari kemarin aku masih sibuk mengurus hal ini hal itu, jadi anggap saja hari ini adalah hari pertama aku bisa bernafas lega karena urusanku sudah selesai dan hari-hari selanjutnya bisa berjalan normal.” Jelas Jongwoon sambil menyenderkan kepalanya di sofa dan memejamkan mata.

“Ngomong-ngomong, kau naik apa kesini?

“Bukankah ayah memberikanku mobil ketika aku pulang? Pak Jung yang mengantarkanku dengan mobil yang ayah berikan. Sebelum aku pindah kemari, Pak Jung dan keluarganya sudah pulang lebih dulu dibandingkanku.”

“Ah iya ayah lupa, Kau sudah makan?” Tanya ayahnya lagi.

“Belum, dan sebenarnya aku sangat lapar.”

“Kalau begitu pergilah ke dapur, tadi ibumu memasak bulgogi untuk makan malam, dan ayah rasa bulgoginya belum habis. Lagipula, Hyoeun dan Taewoon sepertinya belum selesai makan.”

“Begitukah? Kalau begitu aku ke dapur dulu.” Ucap Jongwoon lalu berdiri meninggalkan ayahnya yang masih tetap membaca buku. Jika ia boleh jujur, sebenarnya beberapa hari ini ia merasa sangat lelah. Begitu banyak urusan yang harus ia selesaikan dan menurutnya itu sangat melelahkan.  Tak jarang ia mengacak-acakan rambutnya sendiri untuk sekedar meredam stress. Namun stressnya sedikit teralihkan ketika matanya menatap sebuah bingkai foto besar yang tergantung di dinding yang membatasi ruang tamu dengan dapur dan ruang makan. Dalam foto itu terdapat ayah dan ibunya, Hyoyeon dan Hyukjae yang waktu itu masih berstatus sepasang kekasih, dan tentunya dirinya dan Sooyung yang berdiri di tengah menggunakan pakaian pengantin. Tentu dia sangat mengingat foto itu, foto pernikahannya dengan Choi Sooyoung. Sekilas senyum kecil terukir di bibir Jongwoon.

‘Aku merindukan masa-masa itu, Sooyoungie’

“Daddy!” Seru bocah laki-laki dari dalam ruang makan. Mendengar seruan bocah itu Jongwoon lantas menolehkan kepalanya dan tersenyum hangat. “Kalian sudah selesai makan?” Tanya Jongwoon kepada dua bocah yang ada di ruang makan ketika memasuki ruang makan itu lalu mengusap kepala kedua bocah itu. Kedua bocah itu hanya mengangguk sambil tersenyum lalu pergi meninggalkan dapur.

“Jongwoon-ah? Sejak kapan kau datang? Sudah makan?” Tanya seorang wanita paruh baya yang sedang mencuci piring di sudut ruangan.

“Ibu, aku merindukanmu.”Ucapnya sambil memeluk ibuya dari belakang.

“Benarkah? Sepertinya ibu agak meragukannya.” Jawab Ibunya sambil tetap asyik mencuci piring.

“Ibu meragukanku?” Tanya Jongwoon sambil memiringkan kepalanya sambil tersenyum jahil.

“Ya, ibu meragukanmu. Coba kau pikir, mana ada seorang anak yang merindukan ibunya tapi tidak pernah mengunjungi ibunya.” Jelas ibunya sambil memasang ekspresi sebal.

“Yaaa, ibuku sayang, aku kan setiap hari sudah menelepon, dan sekarang aku sudah datang dan memelukmu. Jadi jangan meragukanku lagi, ara?” Rayu Jongwoon sambil mengedip-ngedipkan mata sipitnya.

“Jujur saja, ibu sedikit jijik mendengar rayuanmu, lebih baik sekarang kau makan atau bulgoginya aku masukan ke kulkas sekarang juga!” Ancam Nyonya Kim.

“Hahaha, ibu benar-benar lucu.” Ucap Jongwoon sambil tertawa dan  Mencium sekilas pipi ibunya lalu duduk di meja makan menikmati masakan ibunya.

“Kau ingin sup sayur, Jongwoon-ah?” Tawar ibunya ketika sudah menyelesaikan aktifitas menyuci piringnya.

“Tentu.” Jawab Jongwoon singkat sambil menganggukkan kepalanya. Ibu Jongwoon pun dengan segera mengambil sebuah mangkok dan menuangkan sendok demi sendok sup yang terletak di atas kompor. “Ini, makanlah.” Ucap ibunya dengan lembut sambil meletakkan semangkok sup di hadapan Jongwoon dan duduk di seberang Jongwoon memperhatikan pria yang sedang menyantap masakannya dengan lahap.

“Kau pasti sangat rindu masakan korea ya?” Tanya Nyonya Kim lagi.

“Hm?” Respon Jongwoon yang masih mengunyah makanannya. “Jujur saja selama di Amerika aku agak jarang makan masakan Korea. Selain karena tak punya waktu untuk membuatnya, menurutku makanan korea itu cukup sulit dibuat.” Jawabnya ketika makanan dimulutnya sudah ditelan.

“Bukankah setiap ibu berkunjung ibu selalu membawakan kimchi dan makanan lainnya?”

Mendengar pertanyaan ibunya Jongwoon pun tersenyum. “Bagaimanapun juga, Kimchi dan makanan yang ibu bawakan jika dimakan terus pasti habis. Kimchi dan makanan yang ibu bawa bisa untuk persediaan makan selama sebulan. Sedangkan ibu berkunjung setiap 6 bulan sekali, jadi hanya 1 bulan pertama saja kami makan nasi dengan kimchi dan makanan lainnya yang ibu bawakan, 5 bulan selanjutnya kami kembali membeli makanan diluar atau memasak makanan yang cukup mudah dibuat. Oh iya, Stephanie cukup sering datang menjengukku, bahkan dia juga sering mengajariku memasak baik masakan korea ataupun barat.”

Mendengar penjelasan Jongwoon, Nyonya Kim menganggukkan kepalanya tanda mengerti. “Kalu begitu, mulai sekarang sempat-sempatkan dirimu untuk pulang, setidaknya untuk makan bersama. Lagipula sepertinya Taewoon senang bisa bermain dan belajar bersama Hyoeun disini.” Pinta nyonya kim sambil memancarkan senyum hangatnya.

“A-ra-ta.” Balas Jongwoon sambil tersenyum dan menampakkan mata sipitnya. “Oh iya, Hyoyeon dan Hyuk kemana bu? Dari tadi mereka tak terlihat.”

“Mereka pergi ke acara resepsi pernikahan teman mereka. Katanya sambil meghabiskan malam minggu berdua.” Jelas Nyonya Kim sambil terkekeh.

“Pasangan yang sangat romantis.” Komentar Jongwoon sambil terkekeh juga.

“Apa kau tak berniat seperti mereka?” Tanya Nyonya Kim kali ini dengan raut wajah yang serius.

“Maksud Ibu?”

“Jujur ibu tak keberatan jika kau menikah lagi.”

“Menikah? Jongwoon melotot tak percaya. “Mengapa tiba-tiba ibu membicarakan hal seperti itu.” Tanyanya salah tingkah sambil membuang muka dan menyuapkan sesuap nasi ke mulutnya.

“Kau tak kasihan dengan Taewoon? Mungkin sekarang kau merasa ia baik-baik saja, tapi suatu saat di masa-masa pertumbuhannya ia akan memerlukan perhatian dan kasih sayang seorang ibu.”

Jongwoon yang mendengarkan penjelasan sang ibu hanya mengehela nafas panjang. “Jujur bu, aku belum memikirkan sampai sejauh itu.”

Mendengar penjelasan Jongwoon Nyonya Kim pun tersenyum kecil sambil menepuk pelan bahu Jongwoon. “Apapun yang kau putuskan, ibu tetap menghargainya, Jongwoon-ah”

*****

Taeyeon merapatkan jaketnya dan masuk ke dalam gedung Yeonjae Dance Club. Gedung itu masih sangatlah sepi, wajar saja saat itu adalah hari minggu dan jam di dinding dekat resepsionis menunjukkan pukul 8.00 pagi. Gadis itu pun hanya bisa melangkahkan kakinya dan terus bergumam ‘apakah aku terlalu pagi?’ Namun ketika kakinya berhenti di depan sebuah pintu lalu membukanya, ternyata dugaannya salah. Orang yang memiliki janji dengannya sudah berada di ruangan itu bahkan sudah selesai melakukan stretching.

“Kemana saja kau? Aku sudah memintamu untuk datang pukul setengah delapan.” Ucap Hyoyeon sambil tetap melakukan stretching.

“Ya! Hari ini adalah hari minggu. Tapi kau malah seenaknya memintaku untuk datang sepagi ini untuk latihan. Menyebalkan.” Pekik Taeyeon kesal.

Hyoyeon yang sudah selesai dengan stretchingnya meregangkan otot-ototnya sejenak lalu menatap Taeyeon tajam. “Ganti bajumu! Kita latihan sekarang.”

Pada akhirnya Taeyeon tetap mengikuti latihan dengan bimbingan Hyoyeon. Hyoyeon mengajarinya berbagai macam gerakan yang ia yakini dapat menghantarkan Taeyeon menuju kesuksesan dalam audisi ini. Sekitar 2 jam berlalu, merekapun memutuskan untuk beristirahat. Taeyeon dan Hyoyeon duduk bersandar pada dinding sambil meluruskan kaki mereka. Taeyeon pun menegak sebotol besar air putih untuk menggantikan cairan tubuhnya yang keluar akibat latihan tersebut. Saking terburu-burunya ia meminum airnya, air yang ada di dalam mulutnya mengalir melalui sudut bibirnya dan bersatu dengan keringat yang terus bercucuran.

“Hei! Bisakah kau tak tergesa-gesa seperti itu? Bahkan sudah berapa tetes air yang mengalir dari sudut bibirmu.” Tegur Hyoyeon sambil mengusap sekitaran mulut Taeyeon dengan Tissue.

Setelah meneguk tetes terakhir dari botolnya, Taeyeon mengusap mulutnya dengan punggung tangannya dan menatap Hyoyeon dengan tatapan aneh. “Lihat dirimu. Tadi kau begitu menyeramkan bagaikan seorang instruktor militer yang menangkap basah muridnya yang datang terlambat. Tapi sekarang kau berubah menjadi seorang gadis dengan sifat keibuannya. Menyebalkan.”

Mendengar jawaban Taeyeon, Hyoyeon hanya tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Jujur saja, aku sedikit kesal sejak tadi pagi. Makanya moodku sudah buruk sejak tadi pagi.”

“Buruk?” Ulang Taeyeon. “Apa kau bertengkar dengan Hyuk Oppa?” Tanya Taeyeon antusias.

“Bukan. Tapi dengan Kakak sepupuku. Eh bukan, maksudku Kakak angkatku.” Balas Hyoyeon dengan senyuman kecut tersungging di bibirnya.

“Kakak sepupu? Kakak angkat? Aku tak pernah tau kalau kau memiliki kakak angkat.” Tanya Taeyeon lagi.

“Kau sendiri tahu kan orang tuaku sekarang ini bukan lah orang tua kandungku?” Hyoyeon balik bertanya pada gadis itu.Taeyeon yang semakin antusias dengan cerita Hyoyeon merapatkan posisi duduknya ke hadapan Hyoyeon. “Iya kau pernah bercerita, lalu?”

“Mereka adalah Paman dan bibiku, dan kakak sepupuku yang baru datang dari New York itu adalah anak mereka, jadi-”

Belum selesai Hyoyeon menjelaskan Taeyeon sudah memotongnya, “Dia sepupumu sekaligus kakak angkatmu, begitu?” Tebak Taeyeon sambil mengelus-eluskan dagunya.

“Ya, tepat sekali.” Serunya sambil mengarahkan kedua telunjuknya ke Taeyeon.

Taeyeon terdiam sejenak sambil mengangguk-anggukan kepalanya namun kembali menerjang Hyoyeon dengan pertanyaan.  “Jadi apa yang membuatmu bertengkar dengan sepupumu itu?”

Hyoyeon menghela nafas panjang sebelum memulai penjelasannya kepada Taeyeon. “Kau tahu? Dia adalah manusia paling cerewet di dunia ini. Coba kau bayangkan, baru tadi malam aku pergi dengan Hyuk ke acara resepsi pernikahan teman Hyuk, pada pagi buta dia sudah mengetuk-ngetuk pintu kamarku , memintaku untuk mengantarnya pulang. Tidakkah dia itu gila?”

Taeyeon yang mendengarkan penjelasan Hyoyeon pun tersenyum kecil, “Setidaknya kau bisa dengan mudah bertemu kakakmu. Aku saja bertemu Kangin Oppa hanya setiap 2 tahun sekali. Huuh, kadang aku merindukannya.”

*****

Jongwoon dan Taewoon yang sejak pagi buta sudah diantar Hyoyeon pulang ke apartmen mereka setelah menghabiskan malam di rumah orang tua Jongwoon memilih untuk melanjutkan istirahat mereka untuk beberapa saat. Di sofa yang terletak di ruang tengah apartment itu, Jongwoon terlelap dengan posisi duduk bersandar, sementara Taewoon tertidur dengan posisi meringkuk. Namun dentingan bel memaksa Jongwoon untuk membuka matanya dan menyudahkan kegiatan tidurnya.

‘Siapa orang yang tega datang berkunjung di hari minggu pagi seperti ini?’ Gumamnya dengan kesal sambil berjalan ke pintu masuk. Ketika ia membuka pintu alangkah terkejutnya ia melihat sosok yang berdiri sambil membawa tas kertas tersenyum dengan manisnya.

“Aku pasti mengganggumu?” Tebak gadis yang berdiri di hadapan Jongwoon.

“Tidak, masuklah Steph.” Sangkal Jongwoon lalu kembali masuk ke dalam apartmennya. Tiffany yang berada dibelakangnya ikut berjalan masuk kedalam setelah menutup pintu apartmen itu.

“Kau baru bangun oppa?” Tanya Tiffany ketika melihat Jongwoon menghempaskan punggungnya. “Lalu kenapa Taewoon tidur disini?” Tanya Tiffany lagi.

“Aku baru pulang. Semalam aku menginap di rumah orang tuaku.” Jelas Jongwoon sambil tetap memejamkan matanya.Mendengarkan penjelasan Jongwoon Tiffany hanya membulatkan mulutnya. Tak lama berselang, gadis itu kembali membuka pembicaraan.

“Aku yakin kau lapar, aku membawa sarapan pagi untuk kalian, lebih baik aku kke dapur sekarang.” Ucap Tiffany lalu pergi meninggalkan kedua pria itu ke dapur.

“Good Morning Taewoonie!” Seru Tiffany ketika Taewoon memasuki dapur dengan wajah yang masih setengah mengantuk. “Ayo duduk, sarapannya sudah siap.” Ajaknya sambil meletakkan piring-piring berisi makanan di atas meja makan.

“Auntie? Sejak kapan Auntie datang?” Tanya bocah itu sambil mengucek matanya.

“Sekitar 20 menit yang lalu. O ya Daddymu belum bangun ya?”

Belum sempat Taewoon menjawab, sebuah suara berat sudah mendahuluinya, “Tentu saja aku sudah bangun.” Jawab Jongwoon yang baru saja memasuki dapur. Sepertinya pria itu tidak melanjutkan tidurnya lagi ketika Tiffany datang, melainkan pergi ke kamar mandi membersihkan badannya. Alhasil, wajahnya nampak segar dan pakaiannya pun rapi.

“Wah, kau habis mandi ya Oppa?” Kau harum sekali.” Puji gadis itu sambil tersenyum manis.

“Karena badanku gerah, jadi aku memilih untuk mandi. Jawabnya singkat. “Ngomong-ngomong kau membawa banyak sekali makanan, ini semua kau yang membuatnya.” Herannya ketika melihat meja makan yang sudah tertata rapi dengan beberapa makanan seperti salad buah, Pancake Pisang dan Sandwich.

“Tentu saja aku yang membuatnya. Tunggu apalagi, ayo kita sarapan.”

Selama mereka sarapan, yang terdengar hanya bunyi sendok, garpu, dan pisau yang beradu dengan piring dan bunyi lembaran koran yang dibuka satu demi satu oleh Jongwoon.

“Semua makanan yang kau bawa rasanya enak, Steph.” Puji Jongwoon yang langsung membuat mata Tiffany berseri.

“Jinja?” Tanya Tiffany dengan malu-malu. “Menurutmu bagaimana rasanya Taewoonie?” Ujarnya pada Taewoon.

“I think it’s delicious.” Puji Taewoon sambil memberikkan kedua jempolnya untuk Tiffany.

“Kau akan menjadi istri yang baik untuk suamimu nanti Steph.” Jongwoon kembali mengutarakan komentarnya, dan kali ini berhasil membuat pipo Tiffany bersemu merah.

“L-lebih b-baik, aku mengupas buahnya sekarang.” Tiffany mengalihkan pembicaraan karena tak kuasa menahan malu dan mulai mengupas buah-buahan yang ia bawa.Sementara di meja makan, Jongwoon dan Taewoon yang masih asyik dengan makanannya.

“Besok Daddy yang akan menjemputmu ya. Jadi jangan pulang bersama Hyoeun lagi, araso?”

“Benarkah daddy?” Tanya bocah itu riang.

“Tentu saja, tapi jika daddy agak telat, maukah kau menunggu sebentar?”

“Tentu saja asalkan daddy yang menjemputku.” Jawabnya masih dengan tersenyum riang.

“Jadi, setelah satu minggu bersekolah disana, apa kau senang? Bagaimana pelajarannya? Apakah kau bisa mengikutinya?” Tanya Jongwoon betubi-tubi pada anaknya tersebut.

“Tidak terlalu menyenangkan. Pelajarannya semua menggunakan bahasa korea yang belum aku mengerti, dan tentu saja itu sangatlah susah.” Keluh bocah itu sambil menusuk pancakenya dengan kesal.

“Bagaimana dengan gurunya? Apakah gurunya baik dan bagus dalam mengajar?” Tanyanya lagi.

Bocah itu nampak berpikir sejenak. “Sepertinya guru seniku sangat menyenangkan. Lagipula teman-temanku banyak senang belajar dengan Ms. Kim saat jam istirahat.

“Kau juga sukka belajar dengannya?”

“Aku juga ingin, tapi biasanya aku tidak pernah mendapat giliran.” Ucap Taewoon sebal.

*****

“Baik, sampai disini pelajaran hari ini. Jangan lupa kerjakan PR kalian dan minggu depan kita akan ulangan.” Ujar seorang guru dengan kaca mata tebal yang menghiaso matanya saat menutup pelajaran hari itu. Setelah guru itu keluar dari ruangan kelas, murid-murid langsung sibuk memasukkan buku-buku mereka dan langsung berlarian keluar kelas menunggu jemputan. Satu demi satu anak-anak disekolah itu pulang dan keadaan sekolah berangsur-angsur sepi.

Sudah sekitar satu jam Kim Taewooon menunggu kedatangan Ayahnya, tapi ayahnya belum juga muncul. Meskipun perutnya mulai lapar karena terlalu lama menunggu, bocah itu masih gigih menunggu kedatangan sang Ayah di pintu gerbang sekolah. Tiba-tiba sebuah tangan menggapai bahu bocah itu yang sukses membuat Taewoon bergidik membalikkan badannya.

“Hanya Taewoon yang belum dijemput. Mengapa sendirian menunggu disini?” Tanya suara lembut sang pemilik tangan, Kim Taeyeon. “Tumben tidak pulang bersama Hyoeun?” Tanyanya lagi.

“Daddy yang akan menjemputku, Songsaenim.” Ujarnya sambil memamerkan senyumnya meskipun agak dipaksakan.

Kruuuuuk

Suara perut Taewoon suskses membuat sang empunya malu dan menundukkan kepalanya karena malu. Sementara Taeyeon hanya tersenyum simpul.

“Tidak baik berjemur dan menahan lapar. Bagaimana jika menunggu di perpustakaan saja? Kebetulan Songsaenim belum menutup perpustakaannya.” Tawar Taeyeon sambil menyodorkan tangannya untuk mengajak Taewoon.

‘Mungki daddy tidak akan marah jika aku menunggu di perpustakaan sekolah.’ Pikir bocah itu lalu menerima ajakan Taeyeon.

Tak jauh berbeda dengan kondisi halaman sekolah, suasana ruang perpustakaan itu sangatlah sepi. Jika biasanya ia akan melihat anak-anak yang duduk membaca buku, mengantri untuk mengembalikan atau meminjam buku, membuat tugas ataupun mengantri untuk menanyakan sooal-soal yang cukup sulit pada Taeyeon Songsaenim. Tapi sore itu, suasana perpustakaan benar-benar sepi. Taeyeon membimbing Taewoon untuk duduk di tempat dimana anak-anak biasa membaca buku ataupun membuat tugas mereka.

“Tunggu disini ya.” Pinta Taeyeon pada Taewoon yang dibalas anggukan oleh bocah itu. Taeyeon berjalan menuju kubikel yang berada di dekat pintu masuk perpustakaan yang merupakan tempatnya bekerja sehari-hari. Ya, Taeyeon adalah penjaga perpustakaan disamping pekerjaannya sebagai guru honorer di sekolah itu.

Ketika kembali ke meja tempat Taewoon duduk, dilihatnya bocah itu sedang asyik membaca sebuah buku.

“Buku apa yang Taewoon baca?” Tanya Taeyeon pada bocah itu sambil meletakkan tasnya dan duduk di sebelah Taewooon. Sementara Taewoon hanya mengangkat buku itu dan memperlihatkan sampul buku itu pada Taeyeon.

“Oh anatomi manusia.”Ujarnya sambil mengangguk-anggukan kepalanya. “Oh ya ini.” Serunya sambil membuka kotak bekalnya dan menyodorkannya pada Taewoon. “Songsaenim rasa, bekal songsaenim cukup untuk kita makan.”

Taewoon yang menatap isi kotak bekal tersebut kembali merasakan sesuatu yang menjadi-jadi di perutnya, yakni rasa lapar. Kotakk bekal Taeyeon berisi kimbab dan telor gulung yang sukses membuat Taewoon menahan air liurnya agar tak menetes.

“Ayo dimakan, tunggu apa lagi.” Ucap Taeyeon lagi.

Dengan ragu Taewoon mengambil sepotong kimbab dan melahapnya. Seketika raut wajah Taewoon yangs ejak tadi nampak lesu langsung berseri. “Kimbab buatan Songsaenim sangat enak.” Puji Taewoon.

Setelah menikmati kimbab dan telor gulung buatan Taeyeon. Taewoon memilih untuk mengitari perpustakaan untuk mencari buku yang ia rasa menarik. Sementara Taeyeon sibuk mengembalikan buku-buku yang tadi dikembalikan oleh murid-murid ke tempat yang semestinya.

Cukup lama Taewoon mengitari rak-rak buku di perpustakaan tersebut. Ia kembali merasakan bosan dan menengadahkan kepalanya, dengan harap ia bisa menemukan buku buku yang menarik di rak bagian atas. Sesuai dengan harapannya, matanya menemukan sebuah buku berwarna putih dengan tulisan ‘Eksperimen untuk Pemula’ pada bagian sampingnya. Karena rak yang sangat tinggi dan sulit untuk digapai Taewoon, ia pun berlari menuju kubikel dan meminta pertolongan Taeyeon.

“Songsaenim, bisa tolong aku mengambilkan sebuah buku?” Pintanya pada gurunya itu. Tanpa banyak komentar Taeyeon langsung mengikuti Taewoon ke rak buku yang dimaksud Taewoon.

“Ambilkan aku buku berwarna putih yang berjudul Eksperimen untuk Pemula.” Tunjuknya pada sebuah buku yang terletak di rak yang cukup tinggi. Taeyeon memandangi buku itu sejenak. Jika tanpa menggunakan bantuan, Taeyeon sadar badannya yang pendek tidak akan bisa meraih buku itu.

“Tunggu disini ya.” Ucap Taeyeon pada Taewoon sebelum meninggalkan bocah itu sebentar. Tak perlu belama-lama, gadis itu kembali dengan sebuah tangga kayu lipat di tangannya. Gadis itu langsung memposisikan tangga itu bersandar pada rak buku lalu mulai menaiki tangga itu.

“Buku yang putih itu kan?” Tanya Taeyeon lagi untuk memastikan dan ditanggapi dengan anggukan oleh Taewoon.

Jika ia boleh jujur, ada perasaan tidak enak ketika menaiki tangga itu. Entah mengapa ia merasa tangga itu terasa lebih rapuh dari biasanya. Dengan ragu, kakinya menapak satu demi satu anak tangga. Ketika wajahnya sudah berhadapan dengan rak buku tempat buku itu berada dengan berhati-hati ia mengambil buku itu.

‘Akhirnya aku mendapatkannya, sekarang tinggal turun dan aku akan terbebas dari rasa takutku ini.’

Dengan perlahan, kaki Taeyeon mulai menuruni anak tangga itu satu persatu-satu. Tepat pada anak tangga yang ketiga, tiba tiba anak tangga yang ia tapak patah dan membuat tangga itu kehilangan  keseimbangan. Hal itu menyebabkan kekagetan yang luar biasa pada dirinya dan spontan tangannya melepas pegangan pada tangga tersebut. Bersamaan dengan tangga yang akan jatuh, tubuhnya terdorong kebelakang. Taeyeon sudah tidak bisa berpikir dan hanya memejamkan matanya pasrah.

Diluar duagaan Taeyeon, sepasang tangan kekar menangkap kedua lengannya dan langsung menarik tubuh Taeyeon membelakangi tangga yang akan jatuh. Dan tanpa sempat menghindar tangga itu menimpa punggung pria yang masih memegang lengan Taeyeon dari belakang dan….

“ARRGHH”

Suara jeritan seorang pria sukses membuat Taeyeon yang sedari tadi memejamkan matanya kini membelalakkan matanya.

“Omo!”

TBC

19 thoughts on “[FF Freelance] Blind in Love (Part 2)

    • thanks chingu komennya, maaf ya typo masih bertebaran, waktu itu sudah tak sunting sih tapi kayaknya lupa tak save ._.

  1. ohh iya min aku boleh minta kode don’t lie to me yg part 9 ama end terus ama end foolery ama be my lady gak .
    aku udah komen ko .
    please iya 🙂

  2. Omo O.O !!!
    Psti Yesung oppa yg menangkap taeyeon eonnie kan chingu? -_-V *sok tau sya*
    Lnjut chingu ^o^
    Wah critanya bgus n seru 😉

  3. part 1 masih membingungkan pas pertama kali dibaca, tapi pas part 2 ini semua jadi jelas.
    dan nggak ada lagi kesalahan penulisan nama.
    semangat terus buat author, semoga part 2 selanjutnya semakin bagus

  4. Saya tertarik sama beberapa penokohan karakter minor seperti Victoria dan Hyoyeon disini. Pertama Victoria. Author sukses bikin saya ngomong “wow, ternyata vict bisa gitu juga ya,” tanpa deskripsi berlebihan, author sukses merubah pandangan saya tentang victoria yang goddess menjadi menyebalkan (khusus di ff ini ya:p)

    Hyoyeon. Saya liat disini dia agak menyebalkan gara2 memaksa Taeyeon soal audisi. Entah kenapa jadi kesal sendiri-_- Apalagi ketika Hyo marah2 saat Taeyeon datang tapi langsung merasa kasihan waktu membaca bagian ia ‘curhat’ soal sepupunya kkk.

    Oiya tiffany. Mungkin dia bakal jadi sosok yang menyebalkan disini, menurut saya:p
    Sorry comment kepanjangan dan kayaknya ga sesuai sama yg diharapkan, keep writing author!

  5. Like it! (again).
    Menurutku, Taeyeon nggak tau kalo Sooyoung menikah sama Sepupunya Hyo. Bener nggak sih?
    Mian kalo salah,,
    Tapi terlepas dari jalan ceritanya, Aku suka sama narasinya. Detail. Diksinya bagus. 🙂

  6. taewoon bisa bahasa korea padahal kan dia 7 tahun di amerika hahahaha daebak. gmn ya taeyeon eonni pas dia tau klo yg nolongnya kim jongwoon ayahnya taewoon ??? hmmmmm

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s